• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN DAMPAK SOSIAL IMPLEMENTASI PROGRAM TENAGA KERJA INKLUSIF BAGI PENYANDANG DISABILITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN DAMPAK SOSIAL IMPLEMENTASI PROGRAM TENAGA KERJA INKLUSIF BAGI PENYANDANG DISABILITAS"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

LAPORAN

DAMPAK SOSIAL IMPLEMENTASI PROGRAM TENAGA KERJA INKLUSIF BAGI PENYANDANG DISABILITAS

Peneliti:

Ikawati, dkk

BADAN PENDIDIKAN PENELITIAN DAN PENYULUHAN SOSIAL BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PELAYANAN

KESEJAHTERAAN SOSIAL YOGYAKARTA TAHUN 2020

(3)

ii Perpustakaan Nasional RI Data Katalog dalam Terbitan (KDT)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas, Ikawati,dkk. Cetakan-1 Yogyakarta, B2P3KS Press.xvii+116, 16 x 24 cm

ISBN :………….

Konsultan:

Dwi Harsono,Ph.D.

Penulis:

1. Ikawati

2. Tateki Yoga Tursilarini 3. Soetji Andari

4. Ani Mardiyati 5. Listyawati

6. Andayani Listyawati 7. Tri Wahyu Budiningsih 8. Marlite Ahdiana

9. Kurnia Nur Fitriana 10. Nopita Sitompul 11. Alvira Pranata Lay Out:

Tim B2P3KS Press Diterbitkan:

B2P3KS PRESS

Jl. Kesejahteraan Sosial No. 1 Nitipuran Yogyakarta Tlpn. 0274 377265, 373530. Fax. 0274 373530 Email: [email protected]

Anggota IKAPI DIY Copy Right @2020 Penulis

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Rught Reserved

(4)

iii

PENGANTAR KEPALA

Berkat karunia Tuhan Yang Maha Esa tim telah dapat menyelesaikan penelitian tahun 2020 dengan judul “Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas”. Melalui penelitian ini diketahui implementasi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan menurut ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja); diketahui peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas; diketahui tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas; diketahui tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja; dan diketahui dampak sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja.

Amanah UUD 1945, pasal 27 ayat 2 yakni Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Setiap orang berhak untuk memperoleh pekerjaan yang layak tanpa terkecuali penyandang disabilitas. Upaya pemerintah memberdayakan penyandang disabilitas melalui proses rehabilitasi yang diarahkan untuk memfungsikan kembali dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial, agar dapat melaksanakan keberfungsian sosial secara wajar sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan pengalaman untuk berinteraksi. UU Nomor 8 Tahun 2016 mewajibkan perusahaan swasta untuk memperkerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerjanya. Dalam kenyataan penyandang disabilitas sering terpinggirkan karena fisik dan mentalnya, sehingga harus mendapatkan perhatian semua instansi pemerintah, swasta. Dasar terebut, maka penelitian ini dilakukan, dengan hasil temuan implementasi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan menurut ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja), telah sesuai dengan undang-undang tersebut; peran pemerintah telah aktif dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas;

ada kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas; ada kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja; dan ada dampak sosial secara positif yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja baik dari fisik, sosial, ekonomi, dan psikis.

Yogyakarta, Desember 2020 Kepala B2P3KS

Dr. Oetami Dewi

(5)

iv

PENGANTAR PENERBIT

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan hidayahnya, B2P3KS Press telah menerbitkan buku hasil penelitian berjudul Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas. Buku ini ditulis oleh Ikawati ,dkk sebagai Tim Peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Yogyakarta.

Semoga buku ini dapat bermanfaat, selamat membaca dan diucapkan terima kasih kepada peneliti maupun pihak-pihak yang telah membantu hingga terbitnya buku ini.

Yogyakarta, Desember 2020

B2P3KS Press

(6)

v

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan pada implementasi proram tenaga kerja Inklusif bagi penyandang disabilitas, peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas, tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja dan dampak sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan metode mixmethod. Lokasi penelitian secara purposive, maka ditentukan Kabupaten Bantul dan Sleman. Sasaran subyek penelitian ditentukan berdasarkan purposive, maka ditentukan 40 penyangdang disabilitas dan key informan/stakeholder 20 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan angket melalui google form dan wawancara (spot check ). Analisis data digunakan kualitatif (hasil spot cek) dan kuantitatif (program Excel dengan rumus persentasi). Hasil temuan, implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas menurut ketentuan UU No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, Ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja penyandang disabilitas) pada kategori sangat sesuai, meliputi: aspek pertama rekruitmen pada kategori sesuai, namun demikian dalam rekruitmen masih ada kendala antara lain: rekruitmen tenaga kerja penyandang disabilitas dalam perusahaan belum semua terpenuhi kuota 1 persen dari jumlah total karyawan; rekruitmen penyandang disabilitas dilakukan melalui informasi dari teman dan keluarga yang sudah bekerja di perusahaan, belum secara khusus tidak diumumkan secara formal; proses rekruitmen belum melalui konsultasi dengan penyedia jasa tenaga kerja, karena minimnya informai perusahaan dalam mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas yang kompeten; rekruitmen belum mempertimbangkan pendamping yang sesuai dengan ragam kedisabilitasan. Aspek kedua, yaitu seleksi berada pada kategori sesuai, namun demikian masih ada kendala yaitu perusahaan belum mempertimbangkan semua kompetensi pada penyandang disabilitas seperti kecakapan, pengalaman kerja, keterampilan, pendidikan, dan ragam disabilitas. Aspek ketiga penempatan kerja berada pada kategori sangat sesuai, namun demikian masih ada kendala seperti belum semua memiliki kontrak kerja, akses lingkungan kerja belum semua dapat diakses oleh ragam disabilitas yang ada. Aspek pelaksanaan kerja yaitu pada kategori sangat sesuai, namun masih ada kendala dalam hal pemberian pelatihan kerja belum semua penyandang disabilitas mau memanfaatkannya; belum semua perusahaan memberikan penghargaan bagi penyandang disabilitas yang berprestasi; masih adanya upah/gaji di bawah upah minimal kabupaten (UMK); belum semua perusahaan menyediakan asuransi

(7)

vi keselamatan kerja; dan dalam pelaksanaan kerja perusahaan belum semua menerapkan kuota 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah karyawan yang ada. Peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas berada pada kategori aktif, meliputi: aspek pertama menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016 pada kategori aktif (sudah ada/terbit perda di dua kabupaten tersebut). Aspek kedua sosialiasi UU No 8 Tahun 2016 pada kategori kurang aktif, sehingga berpengaruh rendahnya pengusaha/perusahaan memenuhi kewajiban kuota memperkerjakan 1 persen dari jumlah karyawan, berdampak pemberian sanksi bagi pengusaha/perusahaan yang belum menerapkan kuota 1 peren. Aspek ketiga aksesibilitas untuk penyandang disabilitas pada kategori sangat aktif, namun demikian aksesibilitas penyandang disabilitas dengan ragam disabilitas belum disediakan. Aspek keempat pelatihan untuk penyandang disabilitas yaitu pada kategori sangat aktif, namun demikian ada penyandang disabilitas yang tidak mau memanfaatkan pelatihan tersebut. Tingkat kepuasan perusahaan/lembaga pemerintahan terhadap kinerja penyandang disabilitas berada pada kategori puas, meliputi: aspek pertama persyaratan aksesibilitas berada pada kategori kurang puas, karena pengusaha merasa kesulitan mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas yang sesuia dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, penyediaaan akses layanan umum, ruang kerja dan lingkungan perusahaan belum mempertimbangkan aksesibilitas bagi ragam disabilitas. Aspek kedua prosedur berada pada kategori kurang puas, karena kelengkapan dokumen yang ada pada penyandang disabilitas masih kurang (seperti KTP, ijasah) atau banyak tidak terpenuhi. Aspek ketiga waktu berada pada kategori puas, walaupun waktu yang dikerjakan oleh penyandang disabilitas agak lebih lama dari non penyandang disabilitas, tetapi hasilnya tidak kalah bahkan lebih baik dari non penyandang disabilitas. Aspek keempat biaya berada pada kategori puas, karena perusahaan tidak mengeluarkan biaya, seperti penyediaan aksesibilitas publik, mobilitas kerja, karena yang diterima sebagai tenaga kerja di perusahaan belum mewakili semua ragam disabilitas. Aspek kelima produk layanan berada pada kategori kurang puas, masih adanya produk layanan yang dihasilkan penyandang disabilitas yang belum memuaskan pengusaha. Aspek keenam kompetensi penyandang disabilitas berada pada kategori puas, namun demikian perusahaan, melihat kompetensi sebagian besar masih berdasar keterampilan saja, belum melihat tingkat pendidikan, pengalaman kerja. Aspek ketujuh perilaku pelaksana pada kategori puas, namun demikian penyandang disabilitas kurang mempunyai kreativitas, kerja lebih senang yang monoton, dan kurang berani memberikan masukan kepada pengusaha, agar pengusaha dapat memperbaiki kekurangan. Aspek kedelapan maklumat pelayanan berada pada kategori puas, namun

(8)

vii demikian Standar Operasional Prosedur (SOP) kerja sudah ada dan dijalankan dengan baik oleh tenaga kerja penyandang disabilitas, hanya saja belum terpampang dengan jelas. Aspek kesembilan penanganan pengaduan saran dan masukan berada pada kategori puas, namun banyak penyandang disabilitas yang enggan memberikan masukan. Tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga perusahaan/pemerintahan yang telah memberikan kesempatan kerja pada kategori puas, meliputi: aspek pertama persyaratan aksesibilitas berada pada kategori puas, karena penyandang disabilitas tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi menjadi tenaga kerja, yaitu melalui informasi dari teman, atau keluarga yang sudah bekerja. Aspek prosedur berada pada kategori puas, namun demikian prosedur mencari kerja tidak secara khusus, tetapi umum bersama dengan orang-orang yang non disabilitas. Aspek waktu berada pada kategori puas, karena perusahaan memberikan upah sesuai atau tepat waktu. Aspek biaya berada pada kategori puas, karena upah yang diberikan telah sesuai dengan beban kerja, walaupun masih ada yang belum sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Aspek kedua produk layanan berada pada kategori kurang puas, namun belum semua perusahaan memberikan penghargaan bagi penyandang disabilitas yang mempunyai prestasi kerja melalui disekolahkan, diklat, dinaikkan jabatannya/mutasi kearah yang lebih baik. Aspek kompetensi pelaksana berada pada kategori puas, penyandang disabilitas merasa kompetensi pelaksana (pimpinan, HRD, rekan, mitra) profesional. Aspek perilaku pelaksana pada kategori puas, penyandang disabilitas merasa nyaman, tidak ada diskriminasi, disiplin, serta kondusif, sehingga penyandang disabilitas dapat bekerja dengan baik. Aspek maklumat pelayanan berada pada kategori puas, perusahaan telah memberikan informasi secara lisan dengan jelas sesuai pedoman. Aspek penanganan pengaduan saran dan masukan berada pada kategori puas, perusahaan telah memberikan kebebasan pada penyandang disabilitas untuk mengadu, memberi saran, serta masukan kepada perusahaan.

Dampak sosial yang dirasakan penyandang disabilitas setelah bekerja pada kategori sangat baik, meliputi: aspek pertama fisik pada kategori sangat baik, setelah bekerja yaitu adanya BPJS untuk jaminan kesehatan sendiri dan keluarganya, meningkatnya kondisi kesehatannya, terpenuhi kebutuhan makan, sandang dan papan. Aspek kedua sosial berada pada kategori sangat baik, setelah bekerja meningkatnya relasi sosial baik lingkungan kerja, keluarga dan lingkungan tempat tinggal; meningkatnya keterampilan sosial baik dengan keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat; meningkatnya kemandirian secara mobilitas; meningkatnya peran sosialnya di masyarakat, di lingkungan kerja dan tempat tinggalnya. Aspek ketiga ekonomi berada pada kategori kurang baik, sebagian penyandang disabilitas memiliki upah dibawah Upah Minimum Kabupaten (UMK), sehingga berdampak belum dapat mencukupi

(9)

viii kebutuhan sehari-hari keluarganya, serta belum mampu menabung. Aspek keempat psikis berada pada kategori sangat baik, setelah bekerja berdampak pada meningkatnya kepercayaan diri, terjaminnya masa depan, meningkatnya aktualisasi diri/adanya penghargaan dari orang lain. Rekomendasi dari hasil penelitian, pertama untuk pengampu kebijakan, Kementerian Sosial c.q Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas, menugaskan penyuluh sosial/Pendamping Penyandang Disabilitas (PPD) dan atau Tenaga Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (TKSPD) dengan ragam disabilitas dalam mendampingi keluarga dan penyandang disabilitas agar memiliki kemandirian kerja di sektor formal. Pemerintah Daerah, support regulasi UU No 8 Tahun 2016 dalam bentuk Peraturan Gubernur dan Peraturan Daerah. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menyosialisasikan UU No 8 Tahun 2016 pada lembaga pemerintahan/perusahaan yang memberikan peluang kerja bagi penyandang disabilitas dengan memperhatikan segala aksesibilitas sesuai dengan ragam disabilitas penyandang disabilitas. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan reward dalam bentuk bantuan pengadaan aksesibilitas dan atau konsesi/pengurangan pajak, mempermudah perijinan kepada perusahaan yang berprestasi dalam ketenagakerjaan/memperkerjakan/merekrut tenaga kerja penyandang disabilitas sesuai dengan yang diharuskan (kouta 1 persen atau 2 persen).

Kemenaker/Kemensos dan stakeholder menyusun JOB FRIENDLY bagi ragam disabilitas berbasis kompetensi. Disnakertrans Prov/Kab/Kota meningkatkan peran dan fungsi jabatan fungsional Pengawas dan Pengantar Kerja (fungsi sosialisasi dan advokasi) berdasar ragam disabilitas. Kolaborasi Disnakertrans dan Dinsos Prov/Kab/Kota dalam peningkatan dan pengembangan SDM Peksos/Pensos/PPD/TKSPD dengan Pengawas/Pengantar Kerja (mitra/pendamping kerja) melalui Bimtek Ketenagakerjaan Penyandang Disabilitas.

Pemerintah/Pemerintah Daerah/Perusahaan dan stakeholder berkolaborasi atau kerjasama untuk penyusunan Kurikulum Kerja berbasis Kompetensi bagi Penyandang Disabilitas Dalam Rangka Persiapan Kerja pada Perusahaannya. Lembaga pemerintahan/perusahaan perlu peningkatan pada (1) aspek rekrutmen dan seleksi yang berpedoman pada UU No 8 Tahun 2016, (2) memperhatikan kompetensi penyandang disabilitas (tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan keterampilan), (3) meningkatkan perilaku pelaksana (stakeholder) berpihak pada penyandang disabilitas, (4) kejelasan informasi pelayanan dalam lembaga pemerintahan/perusahaan, (5) aspek penanganan pengaduan saran dan masukan, aspek kemudahan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, kejelasan prosedur perekrutan, (6) memperjelas persyaratan aksesibilitas meliputi: kemudahan persyaratan menjadi tenaga kerja di perusahaan/lembaga pemerintahan dan aksesibilitas di lingkungan kerja (perusahaan/lembaga pemerintahan), (7) mempermudah penyandang disabilitas dalam

(10)

ix mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintahan, (8) memberikan perhatian dan reward/penghargaan bagi tenaga kerja penyandang disabilitas yang memiliki kinerja yang baik, (9) menambah jaringan sosial terkait lembaga penyedia tenaga kerja penyandang disabilitas.

(11)

x DAFTAR ISI

Pengantar Kepala ...iii

Abstrak ...iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Pertanyaan Penelitian... 7

D. Tujuan Penelitian .………...………... 8

E. Pengguna Penelitian .………...………. 8

BAB II KAJIAN TEORI A. Dampak Sosial ... 9

B. Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja ... 9

C. Hak Asasi Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja ... 15

D. Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas ... 19

E. Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas ... 20

F. Teori Kepuasan Terhadap Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas ... 26

G. Teori Sikap ... 27

BAB III METODE EVALUASI A. Jenis dan Pendekatan Penelitian………... 29

B. Pelaksana Penelitian ………...………. 29

C. Sasaran Penelitian ………..………... 30

D. Komponen yang Diteliti………...……… 31

E. Teknik Pengumpulan Data ………...……… 31

F. Teknik Analisis Data……….. 34

G. Uji Coba ... 36

H. Validitas dan Reliabilitas ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Profil Penyandang Disabilitas …...……. 38

1. Persebaran Perusahaan/Lembaga Pemerintahan yang Mempekerjakan Penyandang Disabilitas ...…...………... 38

2. Deskripsi Penyandang Disabilitas... 39

(12)

xi B. Relialisasi Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandnag

Disabilitas ... ... 50

1. Kondisi Keberadaan Penyandang Disabilitas di Suatu Perusahaan... 50

2. Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandnag Disabilitas ………...…... 52

3. Peran Pemerintah Daerah Menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016 ... 64

4. Kepuasan Perusahaan/Lembaga Pemerintahan Terhadap Kinerja Penyandang Disabilitas ... 70

5. Kepuasan Penyandang Disabilitas Terhadap Perusahaan/Lembaga Pemerintahan... 77

6. Dampak Sosial yang Dirasakan Oleh Penyandang Disabilitas Setelah Bekerja ... 87

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan………... 95

B. Rekomendasi………... 100

C. Daftar Pustaka ... 102

D. Lampiran ... 108

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Sasaran Penelitian 31

Tabel 2 Teknik, Sasaran Subjek dan Objek Penelitian 32

Tabel 3 Blue Print Instrumen Angket 33

Tabele 4 Kategori Penilaian 35

Tabele 5 Persebaran Perusahaan/Lembaga Pemerintah yang mempekerjakan Penyandang Disabilitas

39

Tabele 6 Keberadaan Penyandang Disabilitas di suatu perusahaan 51

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Jumlah Populasi Disabilitas di Indonesia 2

Gambar 2 Jumlah Populasi Disabilitas Berdasarkan Usia 3

Gambar 3 Jumlah Populasi Disabilitas Berdasarkan Pendidikan 4 Gambar 4 Jenis Kelamin Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas 40 Gambar 5 Jenis Kelamin Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas per wilayah 41

Gambar 6 Usia Penyandang Disabilitas 41

Gambar 7 Usia Penyandang Disabilitas per wilayah 43

Gambar 8 Ragam Disabilitas 44

Gambar 9 Status Perkawinan Tenaga Kerja Disabilitas 46

Gambar 10 Jenis Pekerjaan Penyandang Disabilitas 47

Gambar 11 Pendapatan perbulan Penyandang Disabilitas 50

Gambar 12 Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

53

Gambar 13 Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas per wilayah

55

Gambar 14 Peran Pemerintah terhadap Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

64

Gambar 15 Peran Pemerintah terhadap Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas per wilayah

66

Gambar 16 Tingkat Kepuasan Stakeholder 72

Gambar 17 Tingkat Kepuasan Stakeholder per wilayah 73

Gambar 18 Kepuasan Penyandang Disabilitas terhadap perusahaan/Lembaga 78 Gambar 19 Kepuasan Penyandang Disabilitas terhadap perusahaan/Lembaga per

wilayah

80

Gambar 20 Dampak Sosial Penyandang Disabilitas setelah Bekerja 89 Gambar 21 Komparasi Dampak Sosial Penyandang Sosial Kabupaten Bantul dan

Sleman

90

(15)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bekerja adalah kewajiban dan dambaan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk juga para penyandang disabilitas. Permasalahan tentang ketenagakerjaan banyak dialami oleh banyak wilayah. Adapun permasalahan tersebut seperti kesempatan kerja yang rendah, pendidikan rendah, persebaran tenaga kerja yang tidak merata, meningkatnya pengangguran dan khususnya kesempatan kerja untuk penyandang disabilitas yang masih rendah. Banyak faktor penyebab utama dari permasalahan tersebut antara lain ketersediaan kesempatan kerja dengan jumlah angkatan kerja yang ada, rendahnya kesempatan kerja tersebut mengakibatkan semakin tingginya jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Bekerja merupakan hak bagi setiap orang tak terkecuali penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas merupakan bagian dalam masyarakat yang berhak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan tingkat disabilitasnya, yaitu diperkuat dalam pasal 67 UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menegaskan bahwa pengusaha yang memperkerjakan penyandang disabilitas wajib memberikan perlindungan sesuai tingkat disabilitasnya. Meskipun sudah diatur dalam UU, hak penyandang disabilitas sampai sekarang masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi oleh perusahaan saat merekrut dan bahkan di tempat kerja. Salah satu kelompok penyandang masalah kesejahteraan sosial yang sering mengalami diskriminasi, ketersisihan dan keterlantaran adalah kelompok disabilitas.

Penyandang disabilitas ditinjau dari aspek historis, kondisi alam di Indonesia yang rawan bencana, rentan konflik, tingkat kemiskinan, tingkat kecelakaan yang tinggi, serta pelayanan kesehatan yang kurang optimal, sehingga berakibat pada rendahnya tingkat kesehatan masyarakat, kondisi ini yang dapat memicu munculnya jumlah penyandang disabilitas. Gempa yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2006, menyebabkan perkembangan populasi penyandang disabilitas di DIY sebelum dan pasca gempa mengalami peningkatan drastis. Tahun 2004 jumlah penyandang disabilitas tercatat 17.272 orang setelah gempa meningkat memjadi 24.225 orang ( Ikawati , 2016).

Penyandang disabilitas kondisinya beragam, ada yang mengalami disabilitas fisik, disabilitas mental, dan gabungan disabilitas fisik dan mental. Kondisi penyandang disabilitas berdampak pada kemampuan untuk berpartisipasi di tengah masyarakat, sehingga memerlukan dukungan dan bantuan orang lain (ILO, 2006). Penyandang disabilitas juga menghadapi kesulitan yang lebih besar dibandingkan masyarakat non disabilitas seperti

(16)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 2

hambatan dalam mengakses layanan umum, pendidikan, kesehatan, ataupun dalam hal ketenagakerjaan.

Gambar 1. Jumlah Populasi Disabilitas di Indonesia

Bagan di atas dapat dimaknai bahwa jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tahun 2018, ada sebanyak 37.138.518 jiwa (14,06 % dari jumlah penduduk Indonesia). Data di atas dapat dimaknai bahwa dengan 37.138.518 jiwa (14,06 % dari penduduk Indonesia) adalah penyandang disabilitas, maka apabila di usia angkatan kerja, sesuai dengan UU No. 8 Tahun 2016, seharusnya terserap dalam dunia kerja, tetapi kenyataan di masyarakat masih banyak kesulitan mendapatkan pekerjaan terutama di sektor formal.

Gambar 2. Jumlah Populasi Disabilitas Berdasarkan Usia

Bagan di atas dapat diartikan bahwa dari jumlah penyandang disabilitas tersebut, yang berusia 2-6 tahun ada sebanyak 1.459.957 jiwa (3,93 %); berusia 7-8 tahun ada sebanyak 1.760.985 jiwa (4,74 %); berusia 19-59 tahun ada 18.461.870 jiwa (49,71 %), dan usia yang

> 60 tahun ada sebanyak 15.455.706 jiwa (41,62 %). Penyandang disabilitas yang berusia 19-59 tahun ada dalam usia produktif artinya mereka mempunyai potensi kesempatan kerja yaitu ada 18.461.870 (49,71 %). Lebih lanjut usia produktif juga dapat diartikan bahwa

(17)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 3

apabila penyandang disabilitas bekerja, maka akan dapat berperan di perusahaan, serta dapat meningkatkan potensi dalam pengembangan kariernya.

Gambar 3. Jumlah Populasi Disabilitas Berdasarkan Pendidikan

Pada bagan di atas dapat dimaknai bahwa dari jumlah penyandang disabilitas tersebut bila ditinjau dari tingkat pendidikan, ternayata ada 8.322.742 jiwa (22,41%) yang mempunyai tingkat pendidikan SMP, SMA, dan PT. Apabila dikaitkan dengan gambar 2 di atas dengan tingkat pendidikan SMP, SMA dan PT, tentunya mereka ada pada usia yang produktif yaitu ada sebanyak 18.461.870 jiwa (19-59 tahun), dan hanya ada sebanyak 8.322.742 jiwa (22,41

%) yang diprediksi dapat mempunyai kesempatan kerja.

Disabilitas seharusnya tidak menjadi halangan untuk memperoleh pekerjaan, karena pasal 53 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 2016 mewajibkan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mempekerjakan paling sedikit 2 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Pasal 53 ayat (2) UU Nomor 8 Tahun 2016 mewajibkan perusahaan swasta untuk memperkerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerjanya. Dalam kenyataan, ketentuan tersebut tidak berjalan, penyandang disabilitas sering terpinggirkan karena fisik dan mentalnya, oleh karena itu harus mendapatkan perhatian dari semua instansi pemerintah, swasta sehingga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi.

Jumlah tenaga kerja penyandang disabilitas di perusahaan formal BUMN dan swasta terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan tahun 2019, jumlah tenaga kerja disabilitas tahun 2017 adalah 4.286 orang. Jumlah tersebut menyumbang 0,90 persen dari total jumlah tenaga kerja di Indonesia. Sementara pada tahun 2018 terjadi kenaikan yang membuat jumlah bertambah menjadi 4.537 orang atau, 0,96 persen dari total jumlah tenaga kerja di Indonesia. Angkanya memang meningkat, namun jumlah tenaga kerja disabilitas

(18)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 4

tersebut belum memenuhi target kuota tenaga kerja disabilitas sebesar 2 persen untuk BUMN/BUMD dan kuota 1 persen untuk perusahaan swasta. Ketentuan mengenai kuota tenaga kerja penyandang disabilitas tersebut diatur dalam Undang-Undang RI No.8 Pasal 53 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas ditinjau dari aspek sosiologis, kondisi penyandang disabilitas selama ini sering menjadi alasan dilakukannya praktik diskriminasi dan ketidak adilan yang mengakibatkan rasa ketidakberdayaan, rendah diri, rentan, terbelakang, dan sebagian hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini disebabkan karena sebagian masyarakat masih melihat secara fisik disabilitas tanpa memperdulikan potensi yang lain yang dimiliki. Stigma, labeling negatif dan diskriminatif terhadap disabilitas menyebabkan mereka kesulitan mengembangkan potensi secara maksimal, sehingga kurang dapat mendayagunakan diri dan cenderung dependent pada orang lain. Kondisi tersebut mendorong mereka menjadi individu yang tidak atau kurang berdaya dalam menjalani aktivitas kehidupan sosial sehingga mengalami kesulitan dalam memperjuangkan keberfungsian sosial.

Penyandang disabilitas ditinjau dari aspek filosofis, segala keterbatasan yang terdapat dalam diri penyandang disabilitas merupakan bentuk keragaman manusia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai warga negara Indonesia kedudukan, hak, kewajiban dan peran penyandang disabilitas sama dengan warga negara lain (Amanah UUD 1945, pasal 27 ayat 2):Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Jadi setiap orang berhak untuk memperoleh pekerjaan yang layak tanpa terkecuali penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk bekerja dan mendapatkan imbalan dari kerja kerasnya. Upaya pemerintah dalam memberdayakan penyandang disabilitas adalah melalui proses rehabilitasi yang diarahkan untuk memfungsikan kembali dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial, agar dapat melaksanakan keberfungsian sosial secara wajar sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan pengalaman untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan berintegrasi dalam masyarakat.

Penyandang disabilitas ditinjau dari aspek yuridis formal, penyandang disabilitas berhak untuk bekerja ketentuan ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Adapun Pasal 53 ayat satu dalam Undang-undang Penyandang Disabilitas menyebutkan pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan paling sedikit 2 persen difabel dari jumlah pegawai atau pekerja. Ayat kedua berbunyi, perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Sementara Pasal 145 Undang-undang penyandang disabilitas tersebut memuat sanksi pidana dan denda bagi mereka yang

(19)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 5

menghalangi dan/atau melarang penyandang disabilitas untuk mendapatkan hak untuk bekerja. Ancaman pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta.

Hasil temuan ILO (International Labour Organization) (Pamungkas Satya Putra, 2018), menunjukkan jika penyandang disabilitas dilibatkan dalam proses pembangunan, maka berpotensi memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 3-7 persen. Oleh karena itu sangat diperlukan upaya serius melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas penyandang disabilitas, agar mampu berpotensi di sektor formal maupun informal. Keberadaan penyandang disabilitas di dunia kerja belum semua ”diakui”, bahkan tidak jarang dari mereka tidak mendapatkan kesempatan kerja di pemerintah dan perusahaan-perusahaan, karena keadaan fisiknya.

Penyandang disabilitas sering menghadapi kesulitan dalam memperoleh pelatihan keterampilan dan pada saat mereka mencari pekerjaan. Selama ini stigma masyarakat dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas sangat jelas, lebih-lebih dalam hal pekerjaan, karena dianggap penyandang disabilitas tidak bisa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan standar kelompok non disabilitas, maka tidak heran jika banyak perusahaan yang masih ragu dengan kemampuan dan hasil kerja para penyandang disabilitas. Jumlah penganggur yang banyak saat ini, memperparah masalah penyandang disabilitas harus memperebutkan peluang dengan mereka yang secara fisik berbeda dengan penyandang disabilitas. Dalam era globalisasi, persaingan kerja semakin meningkat memaksa setiap orang untuk menguasai keahlian dan kemampuan tertentu untuk mendapatkan suatu pekerjaan, termasuk juga bagi para penyandang disabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas”.

B. Fokus Penelitian

Kegiatan penelitian Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Tahun 2020 mengacu pada UU No 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Kegiatan penelitian ini difokuskan pada implementasi proram tenaga kerja Inklusif bagi penyandang disabilitas, peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas, tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja dan dampak sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja

(20)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 6

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana implementasi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan menurut ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja)?

2. Bagaimana peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas?

3. Bagaimana tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas?

4. Bagaimanakah tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja?

5. Dampak sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja?

D. Tujuan Penelitian

1. Diketahui realisasi implementasi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan menurut ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja)

2. Diketahui peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas

3. Diketahui tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas

4. Diketahui tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja

5. Diketahui dampak sosial yang disarakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja?

E. Pengguna Hasil Penelitian

Hasil penelitian Dampak Sosial Implemetasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas akan digunakan unit teknis untuk mengambil kebijakan lebih lanjut terkait program. Hasil penelitian ini juga digunakan sebagai salah satu indikator dalam pencapaian kinerja Kementerian Sosial RI dalam penanangan penyandang disabilitas.

(21)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 7

BAB II KAJIAN TEORI A. Dampak Sosial

Dampak (impacts) adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, lingkungan, atau kepentingan umum lainnya yang dimulai oleh capaian kenerja indikator dalam suatu kegiatan (Dicktus, 2013). Dampak dalam kajian ini dikaitkan dengan sosial, maksudnya sejauh mana suatu program atau even dapat mempengaruhi lingkungan sosial. Dampak sosial program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas mengurai bagaimana pelaksanaan program tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisisosial yang diakibatkan.

Sebagai contoh, bagaimana dampak dari pelaksanaan penempatan kerja bagi penyandang disabiltas, apakah dapat menimbulkan hal yang positif bagi kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan bagi penyandang itu sendiri, dan sebaliknya bagaimana bagi lingkungan pada umumnya. Dampak (impacts) adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, dan lingkungan.

B. Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja 1) Pengertian Penyandang Disabilitas

Disabilitas diartikan beragam oleh berbagai pihak antara lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penyandang diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu (Moeliono, 1989). Sedangkan disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan. Echols dan Shadily, 1976), difabel juga merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris different people are merupakan manusia itu berbeda dan able yang berarti dapat, bisa, sanggup.

Pendapat WHO (1980) ada tiga definisi berkaitan dengan kecacatan, yaitu impairment, disability, dan handicap. Impairment adalah kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi psikologis, fisiologis atau anatomis. Disability adalah suatu keterbatasan atau kehilangan kemampuan (sebagai akibat impairment) untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara atau dalam batas-batas yang dipandang normal bagi seorang manusia.

Penyandang Disabilitas menurut UU Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 1 adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami

(22)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 8

hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Sebagaimana pengertian disabilas tersebut di atas dapat diartikan bahwa pendapat tersebut hampir menunjukkan hal yang sama seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, mental dan gabungan dari keduanya. Meskipun demikian UU Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 1 tersebut lebih dirinci jenisnya sehingga memudahkan dalam penangananya. Hal ini dikarenakan jenis disabilitas beragam sehingga akan lebih efektip dan efisien dalam penanganannya.

2) Jenis Disabilitas

Disabilitas terdapat berbagai jenis, seperti dikemukakan oleh para ahli dan dalam undang undang dibuat oleh pemerintah dari tahun ke tahun mengalami perkembangan.

Menurut Reefani (2013:17), penyandang disabilitas dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a) Disabilitas mental

Disabilitas mental atau kelainan mental terdiri dari: Mental Tinggi, sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan tanggungjawab terhadap tugas;

Mental Rendah; Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus; Berkesulitan Belajar Spesifik.

Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh.

b) Disabilitas fisik

Disabilitas Fisik atau kelainan fisik terdiri dari:Kelainan tubuh (Tuna daksa), tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh; Kelainan Indera Penglihatan (Tuna netra), tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision; Kelainan pendengaran (tunarungu), tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara;

(23)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 9

Kelainan wicara (tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain.

Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan bicara.

c) Tunaganda (disabilitas ganda)

Tunaganda atau penderita cacat lebih dari satu kecacatan (cacat fisik dan mental) merupakan mereka yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan, misalnya penyandang tuna netra dengan tuna rungu sekaligus, penyandang tuna daksa disertai dengan tuna grahita atau bahkan sekaligus.

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Penyandang Disabilitas dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

1) Cacat Fisik

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain: a) cacat kaki, b) cacat punggung, c) cacat tangan, d) cacat jari, e) cacat leher, f) cacat netra, g) cacat rungu, h) cacat wicara, i) cacat raba (rasa), j) cacat pembawaan. Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarti rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Cacat tubuh dapat digolongkan sebagai berikut:Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit, disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang.Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung; celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi; paraplegia.

2) Cacat Mental

Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: a) retardasi mental, b) gangguan psikiatrik fungsional, c) alkoholisme, d) gangguan mental organik dan epilepsi.

3) Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental

Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus. Apabila yang cacat adalah keduanya maka akan sangat mengganggu penyandang cacatnya.

(24)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 10

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Jenis disibilitas meliputi:

a) Penyandang disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegi, celebral palsy (CP), akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil.

b) Penyandang disabilitas intelektual adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan down syndrom.

c) Penyandang disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku, antara lain: a. psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian; dan b. disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif.

d) Penyandang disabilitas sensorik adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

e) Penyandang disabilitas ganda atau multi adalah penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, antara lain disabilitas runguwicara dan disabilitas netra-tuli, dalam jangka waktu lama (jangka waktu paling singkat enam bulan dan/atau bersifat permanen).

Jenis penyandang disabilitas tersebut di atas menurut Reefani maupun undang- undang memiliki makna yang tidak jauh berbeda yaitu: penyandang disabilitas fisik, mental, dan penyandang disabilitas ganda atau multi. Terkait Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, jenisnya lebih spesifik hal ini dimaksudkan untuk lebih optimal dalam memberikan pelayanan.

Kondisi disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan intelektual atau sensorik, pemerintah telah mengeluarkan perlindungan dan hak yang di lindungi oleh undang-undang, dengan demikian mereka akan lebih berdaya mandiri dan percaya diri.

Penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan kesempatan serta peran yang sama dalam segala aspek kehidupan maupun penghidupan. Penyandang disabilitas memiliki hak fundamental layaknya manusia pada umumnya. Penyadang disabilitas memperoleh perlakuan khusus dimasudkan sebagai upaya perlindungan dari kerentanan terhadap berbagai pelanggaran HAM. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas, pasal 1 menyebutkan tujuan konvensi ini adalah untuk memajukan, melindungi dan menjamin penikmatan penuh dan setara

(25)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 11

semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental oleh semua penyandang disabilitas, dan untuk meningkatkan penghormatan atas martabat yang melekat pada mereka. Penyandang disabilitas termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama.

Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) mendefinisikan disabilitas sebagai hasil interaksi antara penyandang ketunaan dengan hambatan sikap dan hambatan lingkungan yang menghambat partisipasi mereka secara penuh dan efektif dengan orang-orang lain di dalam masyarakat atas dasar kesetaraan. Pengertian dari CRPD tersebut mengindikasikan bahwa disabilitas bukan merupakan suatu hambatan bagi orang yang memiliki kelainan fisik untuk melakukan berbagai aktifitas seperti layaknya orang normal. Hanya saja mereka memiliki cara yang berbeda dalam melakukan aktifitas tersebut.

Di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 31 disebutkan bahwa setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau luar negeri. Pengakuan tersebut telah dikuatkan secara hukum melalui Undang-Undang no 8 Tahun 2013 tentang Penyandang Disabilitas, yang menyebutkan bahwa (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% penyadang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja (2) Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Demikian juga dari hasil penelitian Purinami dan kawan-kawan (2018) menyebutkan penyandang disabilitas bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun lebih dari itu penyandang disabilitas terjun di dalam lingkungan sosial dapat meningkatkan jaringan sosial, keterampilan sosial, kemandirian dan menjalankan berbagai peran sosial. Dengan demikian tenaga kerja disabilitas dapat menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain, sehingga tidak lagi dipandang sebagai beban bagi keluarga maupun masyarakat.

C. Hak Asasi Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja

Manusia hendaknya mampu menjadi human, artinya mempunyai rasa empati dan rasa kemanusiaan pada sesama. Hakikatnya manusia memiliki prinsip, nilai dan perasaan kemanusiaan.Manusia diciptakan memiliki akal budi yang dapat diwujudkan dalam perilaku dan mengandung rasa kemanusiaan dalam keseharian.Dalam konsep

(26)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 12

kewarganegaraan disebut hak azasi mengajarkan untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia tanpa perbedaan. Sebagai mana manusia pada umumnya, penyandang disabilitas juga mempunyai hak untuk diperlakukan sama sebagai warga masyarakat pada umumnya. Kenyataan di lapangan memperlihatkan, bahwa penyandang disabilitas terkadang diperlakukan tidak sama atau diskriminasi sehingga terkadang menjadi kelompok khusus atau termaginalkan. Atas dasar itu pemerintah membuat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Dalam undang-undang tersebut menjelaskan tentang pengertian dari penyandang disabilitas, yaitu setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/ atau sensorik dalam jangka waktu lama yang berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpatisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasar kesamaan hak.Secara garis besar penyandang disabilitas mempunyai hak bebas dari diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, bahkan eksploitasi. Konvensi hak penyandang disabilitas (Convebsion on the Rights of Persons with Disabilities) merupakan perjanjian multilateral yang melindungi hak dan martabat para penyandang disabilitas,tahun 2011 dan diundangkan melalui Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011.

Konvensi ini menjadi salah satu bukti, bahwa Negara melindungi, mempromosikan dan menjamin pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dan memastikan mereka setara dengan manusia lainnya di mata hukum. Perjanjian tersebut membantu menyebarkan pandangan, bahwa penyandang disabilitas adalah anggota masyarakat yang setara dengan anggota lainnya. (Wikipedia. Konvensi mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas di akses 13 Februari 2020). Beberapa hak penyandang disabilitas yang hendaknya dipenuhi, meliputi 1) Persamaan dan non diskriminasi; setiap penyandang disabilitas berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama atau kesetaraan dengan seluruh umat manusia dihadapan dan di bawah hokum. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan manfaat hukum yang setara. Sebagaimana diketahui, bahwa diskriminasi merupakan tindakan tidak adil dan tidak seimbang untuk membedakan terhadap perorangan atau kelompok.

Oleh sebab itu, segala bentuk diskriminasi bagi disabilitas harus dilarang dan menjamin penyandang disabilitas memiliki hak dan perlindungan hukum setara. 2) Aksesibilitas; merupakan kemudahan yang disediakan Negara bagi semua warganya termasuk penyandang disabilitas. Kemudahan yang dimaksud untuk mewujudkan kesamaan dan kesempatan setara terhadap fasilitas dan layanan public lainnya. Hak aksesibilitas dimaksudkan agar penyandang disabilitas mampu hidup mandiri dan berpartisipasi secara penuh dalam semua bidang kehidupan. Apabila hal tersebut tidak

(27)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 13

terpenuhi berarti sama halnya dengan memenjarakan, mengasingkan, bahkan menutup hak-hak mereka. Berkait dengan permasalahan dimaksud diperlukan sarana dan upaya yang memadai, terpadu atau inklusif, dan berkesinambungan sehingga penyandang mampu mandiri dan sejahtera. 3) Hak untuk hidup. Hak yang dimaksud merupakan prinsip moral yang didasarkan pada keyakinan, bahwa manusia memiliki hak untuk hidup. Hak hidup yang harus dipenuhi Negara bagi penyandang disabilitas meliputi atas penghormatan integritas, tidak dirampas nyawanya, mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang menjamin kelangsungan hidupnya, bebas dari penelantaran, pemasungan, pengurungan, dan pengucilan, bebas dari ancaman dan berbagai bentuk eksploitasi, dan bebas dari ancaman dan berbagai bentuk eksploitasi, dan bebas dari penyiksaan, perlakuan dan penghukuman lain yang kejam, dan merendahkan martabat manusia. 4) Peningkatan kesadaran; Kurangnya pengetahuan dan sosialisasi masyarakat menyebabkan disabilitas masih dipandang sebelah mata, seperti sulitnya aksesibilitas penerimaan pekerjaan, pendidikan, bahkan fasilitas umum. Oleh karena itu, Negara wajib memberikan hak peningkatan kesadaran kepada masyarakat melalui penerapan kebijakan efektif dan sesuai dimasyarakat. Peningkatan kesadaran terhadap disabilitas bertujuan memelihara penghormatan hak dan martabat penyandang disabilitas. 5) Kebebasan dari eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan; hakikatnya setiap penyandang disabilitas memerlukan perlindungan secara hokum dan berpartisipasi dalam semua tahap proses dan prosedur hukum dasar kesetaraan dengan orang lain. Negara harus mencegah semua bentuk eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan dengan menjamin bantuan dan dukungan keluarga. Penekanannya Negara harus mengambil langkah positif agar hak kebebasan dari eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan penyandang disabilitas terpenuhi melalui peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang efektif (Athalah Muti, 2018).

Berkait dengan hak penyandang disabilitas pada aspek kesempatan mendapatkan pekerjaan kondisi empiris memperlihatkan, bahwa belum semua penyandang mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Sehingga cenderung tidak proporsional. Pada dasarnya telah ada perundangan yang mengatur terhadap hak-hak penyandang disabilitas yang termaktub dalam UU Nomor 8 tahun 2016 khususnya berkaitan dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan baik di sektor formal dan non- formal. Sebagian besar lembaga atau perusahaan belum menerima karyawan disabilitas dengan berbagai alasan.Oleh karena itu, dilakukan kajian tentang kesempatan mendapatkan pekerjaan ditinjau dari hak penyandang disabilitas.

(28)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 14

Hak asasi manusia bersifat universal yang berarti melampaui batas-batas negeri, kebangsaan, ditujukan pada setiap manusia baik misikin maupun kaya, berasal dari suku agama ras tertentu, memiliki agama tertentu. Disabilitas menurut WHO adalah “dynamic interaction between health condition and enviromental and personal factors.” (The International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF), 2007). Ini berarti disabilitas tidak saja terkait dengan kondisi kesehatan individual saja, tetapi juga bagaimana lingkungan mempengaruhi orang yang kondisi kesehatannya memang sudah berbeda dari orang umum. Ini berarti termasuk struktur dan fungsi anggota tubuh seseorang, aktivitas mereka, keterlibatan mereka di berbagai aspek kehidupan, dan faktor- faktor dalam lingkungan yang mempengaruhi pengalaman-pengalaman yang membuat mereka masuk menjadi kategori disabilitas.

Rioux & Carvert (2003:2) mengklaim berdasarkan klasifikasi Internasional orang dengan disabilitas tidak lagi di pandang sebagai orang yang bermasalah, akan tetapi lingkungannya yang bermasalah dalam menyediakan kesamaan akses dan menjadi inklusif bagi setiap orang di masyarakatnya. Hal ini menjelaskan bahwa setiap penyandang disabilitas diberikan kesempatan dan hak yang sama dalam mengakses pekerjaan sesuai dengan kompetensi dan bakat yang dimiliki.

Keterbatasan yang dimilki oleh penyandang disabilitas masih menjadi kendala bagi perusahaan untuk menjadikanya sebagai karyawan. Dengan demikian penyandang disabilitas menjadi terganggu dalam memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Dengan bekerja penyandang disabilitas dapat dengan sepenuhnya terjun di dalam lingkungan sosial dengan meningkatkan jaringan sosial, keterampilan sosial, kemandirian dan menjalankan berbagai peran sosial.

D. Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas

Pengertian inclusion menurut Miller dan Katz (2002) adalah rasa memiliki, merasa dihormati, dihargai untuk setiap keunikan yang dimiliki seseorang, merasa mendapat dukungan dan komitmen dari orang lain/lingkungan sehingga seseorang dapat memaksimalkan kapasitasnya. Inklusi melibatkan setiap individu dalam organisasi dan menempatnya sebagai misi organisasi. Pergeseran budaya ini menciptakan organisasi dengan kinerja, motivasi dan semangat yang lebih tinggi. Menurut Menteri Ketenagakerjaan ( Muhammad Hanif Dhakiri) Inklusif adalah keberpihakan kepada yang lemah, yakni pendidikan dan pelatihan untuk semua yang artinya lebih banyak kesempatan yang sama untuk meningkatkan tingkat kompetensi kapan saja dan dimana saja. Menurut

(29)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 15

Studi Ilmu Inklusif adalah memposisikan diri ke dalam posisi yang sama dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan permasalahan, dengan kata lain kata inklusif bertujuan untuk menyamaratakan semua orang dan mau berusaha untuk mengerti sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Inklusif adalah penyamarataan kapasitas diri dalam setiap keunikan yang dimilki seseorang untuk mendapatkan kesempatan yang sama di dalam dunia kerja. (dalam hal ini bagi penyandang disabilitas).

Tenaga kerja inklusif adalah suatu program tenaga kerja yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu dalam meningkatkan kapasitas diri tidak terkecuali penyandang disabilitas. Sesuai dengan pandangan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (2019) menyatakan bahwa tenaga kerja disabilitas masih memiliki kompetensi kerja yang layak untuk dapat dikembangkan menjadi kemampuan nyata sehingga mampu bersaing di dalam bursa kerja. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 yang menyebutkan setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Realisasi dari pernyataan di atas pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan mengusung sebuah Program bagi penyandang Disabilitas. Program yang dimakuskan adalah program tenaga kerja inklusif bagi Disabilitas, adapun tujuan program yaitu untuk memberikan kesempatan yang sama bagi disbilitas dalam mengembangkan potensi dan bakat diri untuk penghidupan yang layak dan terjaminnya keberfungsian sosial penyandang disabilitas.

E. Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas

Implementasi menurut dari pernyataan Grindle (1980:7) bahwa implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan disalurkan untuk mencapai sasaran. Jika pemahaman ini diarahkan pada lokus dan fokus (perubahan) dimana kebijakan diterapkan akan sejalan dengan pandangan Van Meter dan van Horn yang dikutip oleh Parsons (1995: 461) dan Wibawa, dkk, (1994:15) bahwa implementasi kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh (organisasi) pemerintah dan swasta baik secara individu maupun secara kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan.

Deskripsi tentang konsep implementasi dikemukakan oleh Lane bahwa implementasi sebagai konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni implementasi

(30)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 16

merupakan persamaan fungsi dari maksud, output dan outcome. Berdasarkan deskripsi tersebut, formula implementasi merupakan fungsi yang terdiri dari maksud dan tujuan, hasil sebagai produk, dan hasil dari akibat. Selanjutnya, implementasi merupakan persamaan fungsi dari kebijakan, formator, implementor, inisiator, dan waktu (Sabatier, 1986: 21-48). Penekanan utama kedua fungsi ini adalah kepada kebijakan itu sendiri, kemudian hasil yang dicapai dan dilaksanakan oleh implementor dalam kurun waktu tertentu. Implementasi kebijakan menghubungkan antara tujuan kebijakan dan realisasinya dengan hasil kegiatan pemerintah. Ini sesuai dengan pandangan Van Meter dan van Horn (Grindle, 1980:6) bahwa tugas implementasi adalah membangun jaringan yang memungkinkan tujuan kebijakan publik direalisasikan melalui aktivitas instansi pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan.

Studi implementasi kebijakan dibagi ke dalam tiga generasi dengan fokus kajin dan para penganjurnya. Generasi pertama diwakili oleh studi Pressman dan Wildavsky yang terfokus pada bagaimana keputusan otoritas tunggal dilaksanakan atau tidak dilaksanakan.

Hasilnya memberi pengakuan sifat atau kakikat implementasi yang kompleks. Generasi kedua terfokus pada deteminan keberhasilan implementasi kebijakan. Model konseptual model proses implementasi dikembangkan dan diuji pada berbagai area yang berbeda. Dua pendekatan yang mendominasi adalah pendekatan top-down dan pendekatan topdown.

Studi yang representatif pada masa ini dibuat oleh Carl Van Horn dan Donald Van Meter serta Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier. Generasi ketiga terfokus pada sintesis dan pengembangan pendekatan implementasi kebijakan dengan lokus (secara multilevel) dan focus yang lebih kompleks sebagai proses dinamis. (Ann O’M Bowman dalam Rabin, 2005).

Implementasi kebijakan diperlukan mengacu pada pandangan para pakar bahwa setiap kebijakan yang telah dibuat harus diimplementasikan. Oleh karena itu, implementasi kebijakan diperlukan karena berbagai alasan atau perspektif. Berdasarkan perspektif masalah kebijakan, sebagaimana yang diperkenalkan oleh Edwards III (1984: 9- 10), implementasi kebijakan diperlukan karena adanya masalah kebijakan yang perlu diatasi dan dipecahkan. Edwards III memperkenalkan pendekatan masalah implementasi dengan mempertanyakan faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat keberhasilan implementasi kebijakan. Berdasarkan pertanyaan retoris tersebut dirumuskan empat faktor sebagai sumber masalah sekaligus prakondisi bagi keberhasilan proses implementasi, yakni komunikasi, sumber daya, sikap birokrasi atau pelaksana, dan struktur organisasi termasuk tata aliran kerja birokrasi. Empat faktor tersebut merupakan

(31)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 17

kriteria yang perlu ada dalam implementasi suatu kebijakan. T. B. Smith mengakui bahwa ketika kebijakan telah dibuat, kebijakan tersebut harus diimplementasikan dan hasilnya sedapat mungkin sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pembuat kebijakan (Nakamura dan Smallwood, 1980: 2). Bahwa suatu kebijakan memiliki tujuan yang jelas sebagai wujud orientasi nilai kebijakan. Tujuan implementasi kebijakan diformulasi ke dalam program aksi dan proyek tertentu yang dirancang dan dibiayai. Program dilaksanakan sesuai dengan rencana. Implementasi kebijakan atau program secara garis besar dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasi. Keseluruhan implementasi kebijakan dievaluasi dengan cara mengukur luaran program berdasarkan tujuan kebijakan.

Luaran program dilihat melalui dampaknya terhadap sasaran yang dituju baik individu dan kelompok maupun masyarakat. Luaran implementasi kebijakan adalah perubahan dan diterimanya perubahan oleh kelompok sasaran (Haidar Akib, 2010).

Alasan lain yang mendasari perlunya implementasi kebijakan dapat dipahami dari pernyataan Grindle (1980: 10) dan Quade (1984: 310) yang mengharapkan agar dapat ditunjukkan konfigurasi dan sinergi dari tiga variabel yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan, yakni hubungan segi tiga variabel kebijakan, organisasi, dan lingkungan kebijakan. Harapan itu perlu diwujudkan agar melalui pemilihan kebijakan yang tepat masyarakat dapat berpartisipasi dalam memberikan kontribusi yang optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Selanjutnya, ketika sudah ditemukan kebijakan yang terpilih perlu diwadahi oleh organisasi pelaksana, karena di dalam organisasi terdapat kewenangan dan berbagai jenis sumber daya yang mendukung pelaksanaan kebijakan atau program. Sedangkan penciptaan situasi dan kondisi lingkungan kebijakan diperlukan agar dapat memberikan pengaruh, meskipun pengaruhnya seringkali bersifat positif atau negatif. Oleh karena itu, diasumsikan bahwa jika lingkungan berpandangan positif terhadap suatu kebijakan maka akan menghasilkan dukungan positif sehingga lingkungan berpengaruh terhadap kesuksesan implementasi kebijakan. Sebaliknya, jika lingkungan berpandangan negatif maka akan terjadi benturan sikap sehingga proses implementasi terancam akan gagal. Lebih daripada ketiga aspek tersebut perlu pula dipertahankan kepatuhan kelompok sasaran kebijakan sebagai hasil langsung dari implementasi kebijakan yang menentukan efeknya terhadap masyarakat. Implementasi kebijakan di-perlukan untuk melihat kepatuhan kelompok sasaran kebijakan. Oleh karena itu, dilihat dari perspektif perilaku, kepatuhan kelompok sasaran merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan. Pemahaman ini sejalan dengan pandangan Ripley dan Franklin (1986: 12) bahwa untuk mendukung keberhasilan

(32)

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 18

implementasi kebijakan perlu didasarkan pada tiga aspek, yaitu: 1) tingkat kepatuhan birokrasi terhadap birokrasi di atasnya atau tingkatan birokrasi, sebagaimana diatur dalam undang-undang, 2) adanya kelancaran rutinitas dan tidak adanya masalah; serta 3) pelaksanaan dan dampak (manfaat) yang dikehendaki dari semua program terarah.

Menurut Goggin et al (1990: 20-21, 31-40), proses implementasi kebijakan sebagai upaya transfer informasi atau pesan dari institusi yang lebih tinggi ke institusi yang lebih rendah dapat diukur keberhasilan kinerjanya berdasarkan variabel: 1) dorongan dan paksaan pada tingkat federal, 2) kapasitas pusat/negara, dan 3) dorongan dan paksaan pada tingkat pusat dan daerah. Variabel dorongan dan paksaan pada tingkat pusat ditentukan oleh legitimasi dan kredibilitas, yaitu semakin sahih kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat di mata daerah maka semakin besar kredibilitasnya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, untuk mengukur kekuatan isi atau subtansi dan pesan kebijakan dapat dilihat melalui: a) besarnya dana yang dialokasikan, dengan asumsi bahwa semakin besar dana yang dialokasikan, semakin serius kebijakan tersebut dilaksanakan, dan b) bentuk kebijakan yang memuat antara lain, kejelasan kebijakan, konsistensi pelaksanaan, frekuensi pelaksanaan dan diterimanya pesan secara benar. Sementara itu, untuk mengetahui variabel kapasitas pusat atau kapasitas organisasi dapat dilihat melalui seberapa jauh organisasi pelaksana kebijakan mampu memanfaatkan kewenangan yang dimiliki, bagaimana hubungan antara pelaksana dengan struktur birokrasi yang ada, dan bagaimana mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang tersedia dalam organisasi dan dalam masyarakat. Implementasi kebijakan diperlukan karena pada tahap itulah dapat dilihat

“kesesuaian” berbagai faktor determinan keberhasilan implementasi kebijakan atau program. Alasan tersebut sejalan dengan pernyataan Korten dan Syahrir (1980) bahwa keefektifan kebijakan atau program tergantung pada tingkat kesesuaian antara program dengan pemanfaat, kesesuaian program dengan organisasi pelaksana dan kesesuaian program kelompok pemanfaat dengan organisasi pelaksana. Selain alasan tersebut, implementasi kebijakan diperlukan untuk melihat adanya hubungan antara implementasi kebijakan dengan faktor-faktor lain. Hal ini sekaligus membuktikan asumsi teoritis Van Meter dan Van Horn (lihat dalam Grindle, 1980: 6) bahwa terdapat variabel bebas yang saling berkaitan sekaligus menghubungkan antara kebijakan dengan prestasi kerja.

Variabel yang dimaksud oleh keduanya meliputi: 1) ukuran dan tujuan kebijakan, 2) sumber kebijakan, 3) ciri atau sifat badan/instansi pelaksana, 4) komunikasi antar organisasi terkait dan komunikasi kegiatan yang dilaksanakan, 5) sikap pelaksana, dan 6) lingkungan ekonomi, sosial dan politik.

Gambar

Gambar 1. Jumlah Populasi Disabilitas di Indonesia
Gambar 3. Jumlah Populasi Disabilitas Berdasarkan Pendidikan
Tabel 2. Teknik, Sasaran Subjek dan Objek Penelitian
Gambar 5. Jenis Kelamin Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas Per Wilayah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mewujudkan hak penyandang disabilitas untuk bekerja adalah

Penyandang disabilitas tubuh juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, diantaranya adalah berhak memperoleh pekerjaan sesuai dengan

Hasilnya implementasi rencana program Rehabilitasi Sosial bagi penyandang disabilitas netra di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang sudah berjalan dengan baik akan

Sementara pernyataan yang berada pada kategori baik yaitu, penyandang disabilitas memperoleh kesempatan kerja sesuai dengan keterampilannya, menerima perlakuan

Hasilnya implementasi rencana program Rehabilitasi Sosial bagi penyandang disabilitas netra di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang sudah berjalan dengan baik akan

Sebagai upaya perlindungan disabilitas pemerintah membentuk program Asistensi Sosial bagi Penyandang Disabilitas Berat (ASPDB) yang merupakan bentuk pertanggungjawaban

Program ini juga bertujuan untuk memberdayakan penyandang disabilitas khususnya tuna rungu dan tuna daksa yang masih dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar karena dianggap

Dijelaskan sebelumnya dalam latar belakang, bahwa implementasi pemberian bantuan sosial bagi penyandang disabilitas yang ada di Kota Pekanbaru diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 18