BAB IV HASIL PENELITIAN
3. Peran Pemerintah Daerah Menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016
Keselamatan kerja, hasil spot check membuktikan perusahaan/lembaga pemerintah yang mempekerjakan disabilitas sebagian kecil belum ada asuransi jaminan tersebut. Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “J” (12-08-2020), menyatakan:
”Karyawan kami belum terdaftar dalam jaminan asuransi karena keterbatasan pendapatan keuangan dari yayasan.”
Penerapan UU No 8 Tahun 2016 pasal 53 ayat 1, dan 2, hasil spot check membuktikan perusahaan/lembaga pemerintah yang mempekerjakan disabilitas sudah menerapkan tetapi ada beberapa yang belum memenuhi quota 1%. Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “Y” (12-08-2020), menyatakan:
”Belum semua perusahaan di Kabupaten Bantul menerapkan aturan 1%
mempekerjakan disabilitas, namun tetap mempekerjakan disabilitas walapun tidak memenuhi kriteria tersebut.”
3. Peran Pemerintah Daerah Menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016
Menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016, dalam penelitian ini menyoroti tentang peran pemerintah terhadap impelemntasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas yang digambarkan sebagai berikut.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 46 Gambar 14. Peran Pemerintah Terhadap Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi
Penyandang Disabilitas
Berdasarkan gambar di atas secara keseluruhan menurut stakeholder yang mempekerjakan tenaga kerja disabilitas baik di lembaga pemerintah/perusahaan Kabupaten Sleman maupun Kabupaten Bantul menyebutkan bahwa peran pemerintah terhadap implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas pada kategori aktif yaitu sebesar 85,00%, dimana aspek pertama yaitu menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016 pada kategori aktif yaitu sebesar 82,50%, kedua aspek sosialisasi UU No 8 Tahun 2016 pada kategori kurang aktif yaitu sebesar 61,67%, ketiga aspek aksesibilitas untuk penyandang disabilitas pada kategori sangat aktif yaitu 96,00%, keempat aspek pelatihan pada kategori sangat aktif yaitu sebesar 91,25%. Peran pemerintah terhadap implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas yang ada di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dijelaskan dalam gambar berikut ini.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 47 Gambar 15. Peran Pemerintah Terhadap Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi
Penyandang Disabilitas Per Wilyah
Data peran pemerintah terhadap implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas menurut stakeholder yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas di Kabupaten Bantul secara keseluruhan pada kategori aktif yaitu sebesar 83,75%, yang meliputi aspek menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016 pada kategori aktif yaitu sebesar 82,50%, kedua aspek sosialisasi UU No 8 Tahun 2016 pada kategori kurang aktif yaitu sebesar 63,33%, ketiga aspek aksesibilitas untuk penyandang disabilitas pada kategori sangat aktif yaitu 94,00%, dan terakhir, keempat aspek pelatihan pada kategori sangat aktif yaitu sebesar 87,50%. Demikian juga dengan pendapat stakeholder yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman menyebutkan bahwa peran pemerintah dalam pelaksanaan program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas secara keseluruhan pada kategori sangat aktif yaitu sebesar 86,25% yang meliputi aspek pertama, yaitu menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016 pada kategori aktif yaitu sebesar 82,50%, kedua aspek sosialisasi UU No 8 Tahun 2016 pada kategori kurang aktif yaitu sebesar 60,00%, ketiga aspek aksesibilitas untuk penyandang disabilitas pada kategori sangat aktif yaitu 98,00%, keempat aspek pelatihan pada kategori sangat aktif yaitu sebesar 95,00%. Data menurut Stakeholder di Kabupaten Sleman didukung dengan hasil wawancara yang dilakukan pada 3 lembaga/perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas yang menyebutkan regulasi UU No 8 Tahun 2016 telah di tindak lanjuti melalui PERDA Kabupaten Sleman, namun yang menjadi kendala menurut stakeholder adalah terkait sosialisasi UU No 8 Tahun 2016 Pasal
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 48
53 Ayat 1 yang mewajibkan pemerintah, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik daerah atau BUMD untuk mempekerjakan paling sedikit 2%
penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.
Pasal 53 ayat 2 yang mewajibkan perusahaan swasta untuk mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerjanya, belum berjalan sesuai yang diharapkan. Ditambah dengan pernyataan stakeholder dengan inisial “SR”
(14-08-2020) yang menyebutkan bahwa:
“Untuk pengadaan aksesibilitas bagi tenaga kerja penyandang disabilitas belum tersedia sesuai dengan kecacatan penyandang disabilitas dikarenakan tenaga kerja penyandang disabilitas yang direkrut lembaga pemerintah/perusahaaan cenderung pada ragam disabilitas tuna daksa dan tuna wicara - rungu, yang mana ragam disabilitas ini dianggap tidak terlalu membutuhkan aksesibilitas seperti yang dibutuhkan penyandang disabilitas dengan disabilitas berat“.
Terkait dengan aspek pelatihan untuk penyandang disabilitas, menurut stakeholder
“S” (13-08-20):
“Pemerintah daerah memfasilitasi tenaga kerja penyandang disabilitas dengan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai sarana dan prasarana untuk mendapatkan keterampilan kerja dan keahlian di bidangnya masing-masing.”
Hasil spot check diperoleh, aspek pertama menindaklanjuti UU No 8 Tahun 2016: Kab. Bantul dan Kab. Sleman peran pemerintah daerah menunjukkan aktif.
Hasil spot check menunjukkan sudah adanya Perda di Kabupaten Sleman →No 1 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Kabupaten Bantul →No 11 Tahun 2015 tentang pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas; dengan kutipan stakeholder Kabupaten Sleman inisial “SR” (13-08-2020), menyatakan:
”UU No 8 tahun 2016 sudah ditindaklanjuti melalui Perda No 1 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.”
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “SR” (12-08-2020), menyatakan:
”Telah menindaklanjuti UU No 8 tahun 2016 melalui No 11 Tahun 2015 tentang pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.”
Adanya sanksi yang tidak menerapkan UU, hasil spot check membuktikan perusahaan/lembaga pemerintah yang mempekerjakan disabilitas menyebutkan belum ada sanksi bagi perusahaan/lembaga pemerintah yang tidak mempekerjakan tenaga kerja disabilitas. Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Sleman inisial “A” (13-08-2020), menyatakan:
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 49
”Disnaker tidak memiliki kewenangan dalam memberikan sanksi kepada perusahan yang tidak mempekerjakan penyandang disabilitas.”
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “Y” (12-08-2020), menyatakan:
”Belum ada sanksi yang dikeluarkan dinas tenaga kerja Kabupaten Bantul yang tidak mempekerjakan penyandang disabilitas.”
Aspek kedua sosialisasi: Kab. Bantul dan Kab. Sleman peran pemerintah daerah menunjukkan kurang aktif, yaitu terkait keberadaan pelaksanaan sosialisasi ke perusahaan, masyarakat, dan keluarga. Hasil spot check menunjukkan sosialisasi kurang aktif, karena hanya dilakukan pada waktu ada penempatan kerja di perusahaan saja oleh pihak terkait itu saja secara umum bukan khusus penempatan kerja penyandang disabilitas, sedangkan di keluarga dan masyarakat tidak pernah ada sosialisasi. Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Sleman inisial “S” (13-08-2020), menyatakan:
”Sosialisasi kita masih kurang hanya kita lakukan ada penempatan kerja perusahaan tertentu oleh pihak terkait itu saja secara umum bukan khusus penempatan kerja penyandang disabilitas, sedangkan di keluarga dan masyarakat tidak pernah ada sosialisasi .”
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “Y” (10-08-2020), menyatakan:
”Belum ada sosialisasi secara langsung yang dilakukan oleh pemerintah daerah tentang penempatan tenaga kerja inklusif.”
Aspek ketiga aksesibilitas penyandang disabilitas: Kab. Bantul dan Kab. Sleman peran pemerintah daerah menunjukkan sangat aktif, yaitu terkait keberadaan aksesibilitas untuk layanan publik, lingkungan kerja, ruang kerja, sarpras dan adanya informasi yang memadai. Hasil spot check, menjelaskan telah memadai hanya saja karena tenaga kerja penyandang disabilitas adalah sebagian besar adalah penyandang disabilitas daksa ringan, artinya pihak perusahaan tidak harus menyediakan aksesibilitas, karena menganggap tenaga kerja disabilitas bisa menggunakan fasilitas yang ada seperti non disabilitas. Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Sleman inisial “A” (13-08-2020), menyatakan:
”Memang memadai hanya saja karena tenaga kerja penyandang disabilitas adalah sebagian besar adalah penyandang disabilitas daksa yang ringan, artinya pihak perusahaan tidak harus menyediakan aksesibiltas, karena mereka bisa menggunakan seperti orang umumnya.”
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “W” (12-08-2020), menyatakan:
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 50
”Belum ada aksesibilitas di perusahaan ini karena penyandang disabilitas dengan jenis kecacatannya ringan sehingga tidak memerlukan aksesibilitas khusus.”
Aspek keempat pelatihan: Kab. Bantul dan Kab. Sleman peran pemerintah daerah menunjukkan sangat aktif, yaitu terkait memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, meningkatkan kompetensi, pengembangan diri disesuaikan dengan pekerjaan penyandang disabilitas. Dari hasil spot check membuktikan Pemda sudah memberikan kesempatan tersebut, hanya saja dari pihak penyandang disabilitas tidak mau menggunakan kesempatan, mereka merasa sudah nyaman di pekerjaannya, dan ada ketakutan kalau dipindah ditempat pekerjaan yang baru mereka tidak dapat beradaptasi.
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Sleman inisial “A” (13-08-2020), menyatakan:
”Pemda sudah memberikan kesempatan tersebut, hanya saja dari pihak penyandang disabilitas tidak mau menggunakannya kesempatan, mereka merasa sudah nyaman di pekerjaannya, dan ada ketakutan kalau dipindah ditempat pekerjaan yang baru mereka tidak dapat beradaptasi”
Hal ini sesuai dengan kutipan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “W” (12-08-2020), menyatakan:
”Kita memberi pelatihan langsung bagi tenaga kerja yang baru sesuai dengan spesifikasi keterampilan penyandang disabilitas.”
4. Kepuasan Perusahaan/Lembaga Pemerintahan tehadap Kinerja Penyandang Disabilitas →persyaratan aksesibilitas, prosedur, waktu, biaya, produk layanan, kompetensi penyandang disabilitas, perilaku pelaksana, maklumat pelayanan, dan penangan pengaduan saran, dan masukan.
Berikut ini akan disajikan data tentang kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja penyandang disabilitas.
Gambar 16. Tingkat Kepuasan Stakeholder
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 51
Data kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja penyandang disabilitas baik di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yang digambarkan seperti di atas menunjukkan secara keseluruhan pada kategori puas yaitu sebesar 72,29%, yang meliputi pertama, aspek persyaratan aksesibilitas yang terdiri dari aksesibilitas perusahaan/lembaga pemerintah untuk mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas, penyediaan akses layanan umum di lingkungan perusahaan/lembaga pemerintah, (ruang kerja), pada kategori kurang puas yaitu sebesar 69,38%.
Kedua, aspek prosedur terdiri dari kejelasan prosedur (tata cara/tahapan) dalam mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintah dan kelengkapan dokumen tenaga kerja disabilitas pada kategori kurang puas yaitu sebesar 68,13%.
Ketiga, aspek waktu yang berkaitan dengan ketepatan waktu tenaga kerja penyandang disabilitas dalam melaksanakan kerja pada kategori puas yaitu sebesar 76,25%.
Keempat aspek biaya yang meliputi biaya yang dikeluarkan pihak lembaga pemerintah/perusahaan sesuai dengan kinerja penyandang disabilitas berada pada kategori puas yaitu sebesar 76,25%,
Kelima yaitu aspek produk layanan terkait dengan tingkat kepuasan kinerja penyandang disabilitas terhadap output dan kualitas produk perusahaan/lembaga pemerintah pada kategori kurang puas yaitu sebesar 70,00%.
Keenam yaitu aspek kompetensi penyandang disabilitas terkait tingkat pendidikan, keterampilan, rasa bertanggungjawab, sikap loyal terhadap perusahaan yaitu pada kategori puas yaitu sebesar 71,88%.
Ketujuh, aspek perilaku pelaksana yang meliputi keberanian, kemandirian, rasa percaya diri, kreatif dan inisiatif penyandang disabilitas pada kategori puas yaitu 74,38%.
Kedelapan, aspek maklumat pelayanan terkait pemberitahuan (maklumat), informasi yang jelas, terpasang dan dilaksanakan sesuai dengan standar pedoman kerja yang berlaku, pada kategori puas yaitu sebesar 76,25%.
Kesembilan, aspek penanganan pengaduan saran dan masukan terkait mengenai respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan, saran dan masukan dari tenaga kerja penyandang disabilitas yaitu pada kategori puas sebesar 72,50%. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan disajikan data tentang kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja penyandang disabilitas baik di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 52 Gambar 17. Tingkat Kepuasan Stakeholder Per Wilayah
Data kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja penyandang disabilitas baik di Kabupaten Bantul yang digambarkan seperti di atas menunjukkan secara keseluruhan pada kategori puas yaitu sebesar 73,47%, yang meliputi pertama, aspek persyaratan aksesibilitas yang terdiri dari aksesibilitas perusahaan/lembaga pemerintah untuk mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas, penyediaan akses layanan umum di lingkungan perusahaan/lembaga pemerintah (ruang kerja), pada kategori puas yaitu sebesar 72,50%.
Kedua aspek prosedur terdiri dari kejelasan prosedur (tata cara/tahapan) dalam mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintah dan kelengkapan dokumen tenaga kerja disabilitas pada kategori kurang puas yaitu sebesar 70,00%.
Ketiga aspek waktu yang berkaitan dengan ketepatan waktu tenaga kerja penyandang disabilitas dalam melaksanakan kerja pada kategori puas yaitu sebesar 77,50%.
Keempat aspek biaya yang meliputi biaya yang dikeluarkan pihak lembaga pemerintah/perusahaan sesuai dengan kinerja penyandang disabilitas berada pada kategori puas yaitu sebesar 80,00%.
Kelima yaitu aspek produk layanan terkait dengan tingkat kepuasan kinerja penyandang disabilitas terhadap output dan kualitas produk perusahaan/lembaga pemerintahan pada kategori puas yaitu sebesar 73,75%.
Keenam yaitu aspek kompetensi penyandang disabilitas terkait tingkat pendidikan, keterampilan, rasa bertanggungjawab, sikap loyal terhadap perusahaan yaitu pada kategori kurang puas yaitu sebesar 70,63%.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 53
Ketujuh, aspek perilaku pelaksana yang meliputi keberanian, kemandirian, rasa percaya diri, kreatif dan inisiatif penyandang disabilitas pada kategori puas yaitu 74,38%.
Kedelapan, aspek maklumat pelayanan terkait pemberitahuan (maklumat), informasi yang jelas, terpasang dan dilaksanakan sesuai dengan standar pedoman kerja yang berlaku, pada kategori puas yaitu sebesar 77,50%.
Kesembilan, aspek penanganan pengaduan saran dan masukan terkait mengenai respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan, saran dan masukan dari tenaga kerja penyandang disabilitas yaitu pada kategori puas sebesar 75,00%.
Data kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja penyandang disabilitas baik di Kabupaten Sleman yang digambarkan seperti di atas menunjukkan secara keseluruhan pada kategori puas yaitu sebesar 71,11%, yang meliputi pertama, aspek persyaratan aksesibilitas yang terdiri dari aksesibilitas perusahaan/lembaga pemerintah untuk mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas, penyediaan akses layanan umum di lingkungan perusahaan/lembaga pemerintah (ruang kerja), pada kategori kurang puas yaitu sebesar 66,25%.
Kedua aspek prosedur terdiri dari kejelasan prosedur (tata cara/tahapan) dalam mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintah dan kelengkapan dokumen tenaga kerja disabilitas pada kategori kurang puas yaitu sebesar 66,25%.
Ketiga aspek waktu yang berkaitan dengan ketepatan waktu tenaga kerja penyandang disabilitas dalam melaksanakan kerja pada kategori puas yaitu sebesar 75,00%.
Keempat aspek biaya yang meliputi biaya yang dikeluarkan pihak lembaga pemerintah/perusahaan sesuai dengan kinerja penyandang disabilitas berada pada kategori puas yaitu sebesar 72,50%.
Kelima yaitu aspek produk layanan terkait dengan tingkat kepuasan kinerja penyandang disabilitas terhadap output dan kualitas produk perusahaan/lembaga pemerintah pada kategori kurang puas yaitu sebesar 66,25%.
Keenam yaitu aspek kompetensi penyandang disabilitas terkait tingkat pendidikan, keterampilan, rasa bertanggungjawab, sikap loyal terhadap perusahaan yaitu pada kategori puas yaitu sebesar 73,13%.
Ketujuh, aspek perilaku pelaksana yang meliputi keberanian, kemandirian, rasa percaya diri, kreatif dan inisiatif penyandang disabilitas pada kategori puas yaitu 74,38%.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 54
Kedelapan, aspek maklumat pelayanan terkait pemberitahuan (maklumat), informasi yang jelas, terpasang dan dilaksanakan sesuai dengan standar pedoman kerja yang berlaku, pada kategori puas yaitu sebesar 75,00%.
Kesembilan, aspek penanganan pengaduan saran dan masukan terkait mengenai respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan, saran dan masukan dari tenaga kerja penyandang disabilitas yaitu pada kategori kurang puas sebesar 70,00%.
Data di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah terhadap kinerja tenaga kerja penyandang disabilitas lebih puas perusahaan/lembaga pemerintah di Kabupaten Bantul (73,47%) dibandingkan dengan perusahaan/lembaga pemerintah di Kabupaten Sleman (71,11%). Walaupun secara keseluruhan tingkat kepuasan perusahaan/lembaga pemerintah di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul pada kategori puas, namun ada 4 aspek yang terdiri dari aspek pertama persayaratan aksesibilitas, prosedur, produk layanan, dan aspek penanganan pengaduan saran dan masukan di Kabupaten Sleman pada kategori kurang puas. Sedangkan tingkat kepuasan perusahan/lembaga pemerintah di Kabupaten Bantul yang pada kategori kurang puas yaitu hanya pada aspek prosedur.
Hasil spot chek menunjukkan bahwa di Kabupaten Sleman stakeholder kurang puas untuk aspek pertama yaitu persyaratan aksesibilitas yang terdiri dari aksesibilitas perusahaan/lembaga pemerintah untuk mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas, beberapa stakeholder Kabupaten Sleman dengan inisial “I” (13-08-20), menyatakan
“Perusahaan kami ada kesulitan mendapatkan tenaga kerja penyandang disabilitas yang sesuai dengan kriteria perusahaan serta kemana harus menanyakan untuk mendapatkannya”.
Sedangkan penyediaan akses layanan umum di lingkungan perusahaan/lembaga pemerintah (ruang kerja), narasumber stakeholder Kabupaten Sleman dengan inisial “G”
(13-08-20), menyatakan:
“Sementara ini kami belum memberikan akses secara khusus bagi penyandang disabilitas, karena karyawan yang bekerja di perusahaan mayoritas penyandang disabilitas dalam kategori ringan/tuna daksa, dan mereka masih bisa mengakses layanan umum seperti karyawan lain yang non disabilitas”.
Aspek prosedur baik di Kabupaten Sleman maupun Kabupaten Bantul kurang puas terkait dengan kejelasan prosedur (tata cara/tahapan) dalam mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintah dan kelengkapan dokumen tenaga kerja disabilitas. Di lapangan narasumber stakeholder Kabupaten Sleman dengan inisial “R” (14-08-20), menyatakan bahwa:
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 55
”Kami mendapakan pekerja dari penyandang disabilitas tidak khusus bentuk lowongan kerja untuk penyandang disabilitas, tetapi mereka dibawa oleh teman yang sudah bekerja sebelumnya. Ada juga yang menyatakan Lowongan kerja telah dilakukan baik melalui job fair, media sosial, media cetak, tetapi tidak menyebutkan yang dibutuhkan ada penyandang disabilitasnya.... yaa kebetulan ada yang mendaftar penyandang disabilitasnya dan di test lolos...”.
Berbeda dengan pernyataan stakeholder Kabupaten Bantul dengan inisial “N” (10-08-20), menyatakan bahwa:
“Ada kesulitan dalam mencari tenaga kerja disabilitas sesuai dengan kompetensi yang dibutuhan perusahaan karena keterbatasan jaringan.”
Aspek produk layanan di Kabupaten Sleman terkait dengan tingkat kepuasan kinerja penyandang disabilitas terhadap output dan kualitas produk. Dari hasil spot chek narasumber stakeholder Kabupaten Sleman dengan inisial “I” (13-08-20); “F” (13-08-20), dan “G” (13-08-20), menyatakan puas:
“Tenaga kerja disabilitas lebih baik dari non disabilitas, karena mereka lebih fokus”.
Ada juga yang menyatakan: “ mereka lebih tekun, karena kesempatan bekerja hanya sekali, sehingga mereka menggunakan dengan baik”.
Aspek penanganan pengaduan saran dan masukan di Kabupaten Sleman terkait mengenai respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan, saran dan masukan dari hasil spot chek dengan narasumber stakeholder Kabupaten Sleman inisial “G” (13-08-20), dirasa kurang puas, yang menyebutkan bahwa:
“Selama ini penyandang disabilitas jarang menyampaikan pengaduan, saran dan masukan, karena itu kita tidak tahu apa yang harus kita tindak lanjuti, padahal kita selalu terbuka untuk itu...”.
5. Kepuasan penyandang disabilitas terhadap program tenaga kerja inklusif
→persyaratan aksesibilitas, prosedur, waktu, biaya, produk layanan, kompetensi penyandang disabilitas, perilaku pelaksana, maklumat pelayanan, dan penangan pengaduan saran, dan masukan.
Berikut ini akan disajikan data tentang kepuasan tenaga kerja penyandang disabilitas terhadap program tenaga kerja inklusif yang dilaksanakan di perusahaan/lembaga pemerintah di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 56 Gambar 18. Kepuasan Penyandang Disabilitas Terhadap Perusahaan/Lembaga Pemerintahan
Data tentang kepuasan tenaga kerja penyandang disabilitas terhadap program tenaga kerja inklusif yang dilaksanakan di perusahaan/lembaga pemerintah di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman yang digambarkan seperti di atas menunjukkan secara keseluruhan pada kategori puas yaitu sebesar 78,27%, yang meliputi pertama, aspek persyaratan aksesibilitas yang terdiri dari kemudahan persyaratan menjadi tenaga kerja di perusahaan/lembaga pemerintah dan aksesibilitas di lingkungan kerja, pada kategori puas yaitu sebesar 75,31%. Kedua aspek prosedur terdiri dari kejelasan prosedur (tata cara/tahapan) dalam mengakses pekerjaan di perusahaan/lembaga pemerintah pada kategori puas yaitu sebesar 76,88%. Ketiga aspek waktu yang berkaitan dengan ketetapatan waktu perusahaan/lembaga pemerintah dalam memberikan upah beban kerja, pada kategori puas yaitu sebesar 80,63%, keempat aspek biaya yang meliputi pengadaan biaya aksesibilitas untuk penyandang disabilitas, dan kesesuaian upah yang diberikan perusahaan/lembaga pemerintah sesuai dengan beban kerja, berada pada kategori puas yaitu sebesar 73,75%, kelima yaitu aspek produk layanan terkait dengan kinerja tenaga kerja penyandang disabilitas dihargai/apresiasi oleh perusahaan/lembaga pemerintah pada kategori puas yaitu sebesar 79,38%, keenam yaitu aspek kompetensi pelaksana (perusahaan/lembaga pemerintah) yang meliputi tingkat profesional HRD/TU, atasan/Dirut dalam menjalankan tugas, dan mengarahkan serta membina, kompetensi rekan kerja dan mitra kerja dalam melaksanakan pekerjaan pada kategori puas yaitu sebesar 80,31%, ketujuh, aspek perilaku pelaksana yang meliputi kedisiplinan dan perilaku adil perusahaan/lembaga pemerintah dalam melaksanakan tugas pada kategori puas yaitu sebesar 80,94%. Kedelapan, aspek maklumat pelayanan terkait pemberitahuan (maklumat), informasi yang jelas, terpasang dan dilaksanakan sesuai dengan standar pedoman kerja yang berlaku, pada kategori puas yaitu sebesar 78,75%. Kesembilan, aspek
Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 57
penanganan pengaduan, saran dan masukan terkait ketersediaan fasilitas pengaduan saran dan masukan, pemberian kebebasan dalam menyampaikan pendapat pengaduan, saran dan masukan dan respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan saran dan masukan pada kategori puas yaitu sebesar 77,92%. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan disajikan data tentang kepuasan tenaga kerja penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintah baik di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
penanganan pengaduan, saran dan masukan terkait ketersediaan fasilitas pengaduan saran dan masukan, pemberian kebebasan dalam menyampaikan pendapat pengaduan, saran dan masukan dan respon dan tindak lanjut dalam penyampaian pengaduan saran dan masukan pada kategori puas yaitu sebesar 77,92%. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan disajikan data tentang kepuasan tenaga kerja penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintah baik di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.