• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

G. Teori Sikap

Sikap atau attitude merupakan sesuatu hal yang dapat dinilai dari seseorang. Dari sikap seseorang dapat dinilai baik atau buruk, dewasa atau kanak-kanak, sehingga sikap menjadi salah satu alasan seseorang mau bersosialisasi dengan yang lain. Sikap seseorang akan dapat disenangi dan dibenci oleh orang lain. Sehingga, sikap dapat dikatakan suatu keadaan dalam diri manusia yang menggerakkannya untuk berbuat dalam aktivitas sosialnya dengan perasaan tertentu juga dalam hal menanggapi suatu obyek tertentu yang ada dalam lingkungan sekitar. Eagly dan Chaicken (Ratna Djuita dkk, 2009: 121) menyebutkan sikap dapat merefleksikan sebuah fondasi yang terpenting dan awal dari pemikiran sosial. Krech dan Crutchfield (Michael Ardyanto, 2009:137) mengemukakan sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai beberapa aspek dunia individu. Atkinson dkk (Nurdjannah Taufiq, 2008: 371) menyebutkan sikap meliputi rasa suka dan tidak suka;

mendekati atau menghindari situasi, benda, orang, kelompok; dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya, termasuk gagasan abstrak, dan kebijakan sosial. Selaras dengan difenisi di atas Thomas (Abu Ahmadi, 2009: 149) membatasi sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata atau yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan suatu keadaan dalam diri manusia yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata atau yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan metode mixmethod (kuantitatif dan kualitatif) bertujuan untuk mengetahui implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, dilihat dari peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas, tingkat kepuasan pemerintah/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintah dan dampak sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja. Pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh data yang komprehensif.

B. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian tentang “Dampak Sosial Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas,” seyogianya sebelum masa pandemi, akan dilakukan di sepuluh (10) provinsi, mengingat pada waktu pelaksanaan terkendala akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Menyebabkan berbagai kebijakan mengalami perubahan termasuk dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan ini. Perubahan kebijakan tersebut berdampak pada pelaksanaan penelitian yaitu di Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi Kabupaten Sleman dan Bantul . Untuk menghindari berbagai dampak penularan pandemi Covid-19, maka metode penelitian juga mengalami perubahan agar aman terhadap penularan Covid-19 tersebut salah satunya dengan menggunakan google form, enumerator, dan spot check.

Pelaksanaan penelitian dampak sosial implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas dilaksanakan mulai bulan Juli-Agustus tahun 2020. Mengambil dua lokasi sampel ditentukan secara teknik purposive sampling, dengan pertimbangan lokasi dimana Pemerintah Daerah dan Perusahaan telah menerapkan UU yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Dasar tersebut, maka ditentukan 2 (dua) lokasi penelitian yaitu:

Provinsi DIY (Kabupaten Sleman) sebanyak 30 orang dan Provinsi DIY (Kabupaten Bantul) sebanyak 30 orang, demikian jumlah responden penelitian sebanyak 60 orang.

C. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian dampak sosial implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas menggunakan teknik penarikan sampel representatif dari populasi

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 23

(Riduan dan Kuncoro, 2012). Apabila subjek kurang dari 100 maka lebih baik diambil semua, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar (>100) dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto, 2006). Karena dalam penelitian ini populasi berjumlah 153 orang, distribusi data jumlah sampel penyandang disabilitas yang bekerja di perusahaan/lembaga pemerintahan sesuai dengan rumus diatas yang mengambil prosedur antara 20%-25% maka jumlah sampel (n) minimal ditemukan sebanyak 38,25 orang penyandang disabilitas yang kemudian dibulatkan menjadi 40 orang.

Jumlah tersebut telah memenuhi jumlah sampel penyandang disabilitas.

Sasaran penelitian, subyek penelitian ditentukan berdasarkan purposive sampling dengan pertimbangan subyek penelitian ditentukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya yaitu para pekerja penyandang disabilitas yang bekerja baik di pemerintah dan perusahaan swasta, serta key informan yang dipandang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang tema penelitian, serta dapat memberikan informasi yang akurat dan valid atau dapat dipercaya, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan teknik tersebut maka ditentukan subyek penelitian sebagai berikut:

Tabel 1. Sasaran Penelitian

No Sasaran Penelitian Jumlah

1. Pekerja Penyandang disabilitas 40 Orang

2. Key Informan, Pengelola Perusahaan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Pemda, Bapedda, PU, BLK, APINDO, dan lembaga yang konsen memberdayakan penyandang disabilitas

20 Orang

Total 60 Orang

D. Komponen yang Diteliti

1. Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

2. Peran Pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas.

3. Tingkat kepuasan lembaga pemerintah/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas.

4. Tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja.

5. Dampak sosial yang dirasakan penyandang disabilitas setelah bekerja.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah penggunaan media online dengan google form yang dapat diakses melalui bit.ly/STKEHOLDER_QUES (untuk responden stakeholder) dan bit.ly/PD_QUES (untuk responden penyandang disabilitas).

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 24

Selain angket, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara yang dilakukan langsung oleh peneliti ketika melakukan spot check di lapangan (untuk panduan pertanyaan mengacu pada lima rumusan masalah penelitian meliputi bagaimana implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, peran pemerintah terhadap program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, tingkat kepuasaan perusahaan/lembaga pemerintahan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintahan, aksesibilitas dan dampak sosial yang dialami tenaga kerja penyandang disabilitas). Studi dokumenter digunakan untuk memperoleh data-data sekunder, baik yang dilaporkan oleh lembaga resmi maupun laporan yang dibuat oleh pihak lain yang relevan/menunjang dengan tujuan penelitian. Adapun rincianya sebagai berikut:

Tabel 2. Teknik, Sasaran Subjek dan Objek Penelitian

No Teknik Sasaran Subjek Sasaran Objek

▪ Implementasi program tenaga kerja inklusif dan kendalanya

▪ Peran pemda

▪ Tingkat kepuasan dari lembaga

pemerintah/perusahaan terhadap tenaga kerja disabilitas

▪ Tingkat kepuasan penyandang disabiltas terhadap lembaga pemerintah/perusahaan

▪ Dampak Sosial yang dirasakan penyandang disabilitas setelah bekerja

2. Dokumentasi Peneliti ▪ Data relevan dengan penelitian Blue print instrumen angket dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 3. Blue Print Instrumen Angket Peran Pemerintah daerah Menindaklanjuti UU no 8 tahun 2016

Sosialisasi UU no 8 tahun 2016

Aksesibilitas untuk penyandang disabilitas

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 25

(1) Meningkatkan jaringan sosial (2) Keterampilan sosial

Proses analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Proses analisis data bentuk kualitatif dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif menurut Milles dan Huberman, (1994) analisis data pada penelitian kualitatif meliputi tahap sebagai berikut: Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemisahan, perhatian pada penyerdehanaan, pengabsratakan dan transformasikan data kasar yang uncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan kemudian dituangkan dalam laporan yang lengkap dan terinci.

Data kualitatif didapatkan melalui wawancara dengan spot check dari tim peneliti di lapangan. Penyajian data, adalah suatu usaha untuk menyusun sekumpulan informasi yang telah diperoleh di lapangan, untuk kemudian data tersebut disajikan secara jelas dan sistematis sehingga akan memudahkan dalam pengambilan kesimpulan. Penarikan kesimpulan dan verifikasi, pada tahap ini peneliti berusaha memahami, menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, dan akhirnya setelah data terkumpul akan diperoleh suatu kesimpulan.

Data penelitian dalam bentuk angka (kuantitatif) akan diolah secara manual dan komputasi dengan menggunakan bantuan program Excel. Data penilaian angket Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas, terdiri dari angket implementasi program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, peran pemerintah terhadap program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, tingkat kepuasaan

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 26

perusahaan/lembaga pemerintahan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintahan, observasi aksesibilitas dan dampak sosial yang dialami tenaga kerja penyandang disabilitas dianalisis secara statistik deskriptif dengan program Excel menggunakan rumus presentase sebagai berikut:

Nilai perolehan =

Tabel 4. Kategori Penilaian

Nilai (%) Kategori Penilaian

≤55 TS/TA/TP Tidak Sesuai/Tidak Aktif/Tidak Puas 56-70 KS/KA/KP Kurang Sesuai/Kurang Aktif/ Kurang Puas

71- 85 S/A/P Sesuai/Aktif/Puas

86 – 100 SS/SA/SP Sangat Sesuai/Sangat Aktif/Sangat Puas

Nilai perhitungan persentase (%) kemudian dikonversi dalam bentuk kata dan kalimat yang kemudian diberi makna (interpretative) dengan cara mereduksi data (pemilihan, pemusatan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar) sesuai dengan tujuan penelitian untuk mendeskripsikan Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas, kepuasan perusahaan/lembaga pemerintahan terhadap kinerja penyandang disabilitas, tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap perusahaan/lembaga pemerintahan, dan mendeskripsikan dampak sosial penyandang disabilitas. Dengan demikian proses analisis data mengalir sejak tahap awal hingga penarikan kesimpulan, penarikan kesimpulan dan verifikasi, pada tahap ini peneliti berusaha memahami, menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, dan akhirnya setelah data terkumpul akan diperoleh suatu kesimpulan.

G. Uji Coba

Uji coba dilakukan dengan uji coba terpakai dengan mengambil data uji coba sebanyak 30 responden penyandang disabilitas dari dua lokasi yaitu Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

H. Validitas dan Reliabilitas

Angket yang dibuat terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan uji realibilitas. Nilai validitas untuk melihat validitas instrumen yang digunakan. Uji validitas menggunakan shoftware SPSS 20. Untuk membuktikan sejauh mana instrumen dampak sosial implementasi program tenaga kerja inkluisf bagi penyandang disabilitas dapat mengukur konsep dari materi yang menjadi acuan dalam penyusunan instrumen. Nilai validitas dapat dilihat dari Corrected Item Total Correlation ≥ 0,30 (Saifudin Azwar tahun 2012: 163-164) maka butir dinyatakan valid. Berdasarkan hasil analisis data validitas butir, maka butir yang diterima adalah butir

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 27

yang memilki kriteria nilai validitas ≥ 0,30. Adapun rentang nilai validitas item satu hingga item ketujuhbelas adalah 0.302 – 0.940. Sehingga dari 17 butir semua butir diterima, tidak ada butir yang gugur (Lampiran 1)

Selanjutnya estimasi realibilitas instrumen kuesioner menggunakan formula penghitungan reliabilitas metode koefisien Alpha Cronbach, dengan kriteria indeks keandalan yang dikatakan baik menurut Djemari Mardhapi minimum 0,70 (2012) (terlampir). Estimasi realibilitas instrumen dengan menggunakan formula Alpha Cronbach ditunjukkan hasil sebesar 0,96 (Alpha > 0,7) artinya instrumen kepuasan penyandang disabilitas terhadap perusahaan atau lembaga pemerintahan dikatakan reliabel.

Hal ini menjelaskan instrumen Dampak sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas telah valid dan reliabel dan dapat dikatakan layak untuk digunakan sebagai instrumen yang baku.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 28

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Profil Penyandang Disabilitas

1. Persebaran Perusahaan/Lembaga Pemerintahan yang Mempekerjakan Penyandang Disabilitas

Lokasi penelitian ada di dua tempat yaitu Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Adapun perusahaan yang dilibatkan dalam penelitian ada sebanyak 14 perusahaan/lembaga pemerintahan.

Tabel 5. Persebaran Perusahaan/Lembaga Pemerintahan yang Memperkerjakan Penyandang Disabilitas

No Nama Perusahaan Kabupaten Jumlah Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas

Berikut ini akan disajikan data jenis kelamin penyandang disabilitas di dua lokasi penelitian yang tersebar di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Data penyandang disabilitas sebagai subjek penelitian untuk masing-masing lokasi 20 orang, total keseluruhan 40 orang.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 29 Gambar 4. Jenis Kelamin Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas Secara Keseluruhan (N=40

orang)

Berdasarkan data di atas dapat diinformasikan bahwa jenis kelamin penyandang disabilitas secara keseluruhan di dua lokasi (40 orang) didominasi berjenis kelamin perempuan dari pada jenis kelamin laki-laki. Jenis kelamin laki-laki yaitu 48,8% atau sebanyak 18 orang, jenis kelamin perempuan 51,2% atau sebanyak 22 orang. Di bawah ini disajikan data jenis kelamin penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Gambar 5. Jenis Kelamin Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas Per Wilayah

Berdasarkan gambar di atas diinformasikan bahwa secara keseluruhan jumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Bantul didominasi jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 14 orang atau 70,00% sedangkan penyandang disabilitas berjenis kelamin laki-laki ada sebanyak 6 orang atau 30,00%. Berbeda dengan jumlah penyandang disabilitas secara keseluruhan di Kabupaten Sleman yaitu didominasi jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 12 orang atau 60,00%, dan penyandang disabilitas berjenis kelamin perempuan sebanyak 8 orang atau 40,00%. Hal ini menjelaskan bahwa tenaga kerja penyandang disabilitas lebih didominasi berjenis kelamin perempuan, karena

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 30

perempuan lebih rajin, ulet, tekun dalam bekerja, sehingga mereka dalam hal ini perempuan lebih punya peluang besar mendapatkan pekerjaan terutama membatik, dan garmen/konveksi. Tenaga kerja laki-laki terutama banyak dalam bidang kerajinan, alat kesehatan, serta sarung tangan.

b. Usia

Di bawah ini akan disajikan gambaran keseluruhan tenaga kerja penyandang disabilitas yang tersebar di 14 perusahaan/lembaga pemerintah baik Kabupaten Sleman maupun Kabupaten Bantul yang turut berpartisipasi dalam penelitian.

Gambar 6. Usia Penyandang Disbilitas

Dari gambar di atas di informasikan bahwa usia tenaga kerja penyandang disabilitas secara keseluruhan di dua lokasi yaitu (Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul) berusia pada rentang usia 31-41 tahun atau 21 orang sekitar 52,50%, kedua pada rentang usia 20-30 tahun sebanyak 11 orang atau 27,50%, dan sisanya pada rentang usia 42-52 tahun sebanyak 6 orang atau 15,00% dan pada rentang usia ≤ 19 tahun sebanyak 2 orang atau 5,00%. Jika dilihat dari rentang usia tenaga kerja penyandang disabilitas di atas dapat dikatakan bahwa tenaga kerja disabilitas di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul merupakan tenaga kerja penyandang disabiltas pada kategori usia produktif, artinya mereka mempunyai peran meningkatkan produktivitas perusahaan. Sesuai dengan aturan ketenagakerjaan usia mereka adalah usia angkatan kerja jadi mereka pada usia bekerja.

Di bawah ini akan dijelaskan usia tenaga kerja disabilitas secara terperinci dari masing-masing Kabupaten lokasi penelitian.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 31 Gambar 7. Usia Penyandang Disbilitas Per Wilayah

Dari gambar di atas disajikan data usia tenaga kerja penyandang disabilitas Kabupaten Bantul yaitu usia tenaga kerja penyandang disabilitas dominan pada rentang 20-30 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau 40,00 %, pada rentang usia 31-41 tahun sebanyak 8 orang atau (40,00%). Sisanya pada rentang usia 42-52 tahun sebanyak 2 orang atau 10.00%, dan pada rentang usia ≤ 19 tahun yaitu sebanyak 2 orang atau 10,00%. Untuk usia tenaga kerja penyandang disabilitas Kabupaten Sleman dari data diperoleh hanya ada pada dua rentang usia yaitu pada rentang usia 20-30 tahun sebanyak 10 orang atau 50,00% dan pada usia 31-41 tahun sebanyak 10 orang atau 50,00%. Melihat rentang usia tenaga kerja penyandang disabilitas baik di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman menjelaskan usia tenaga kerja penyandang disabilitas yang bekerja di Pemerintahan/perusahaan dominan pada usia produktif yaitu pada rentang usia 20-31 tahun dan usia 31-41 tahun, artinya mereka masuk dalam usia angkatan kerja. Pada usia produktif ini diharapkan penyandang disabilitas dapat berperan di perusahaan tempat mereka bekerja melalui peningkatan potensi, dan pengembangan karir.

c. Ragam Disabilitas

Di bawah ini disajikan data ragam disabilitas tenaga kerja penyandang disabilitas yang dihimpun dari 14 perusahaan/lembaga pemerintah.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 32 Gambar 8. Ragam Disabilitas

Gambar di atas memberikan informasi tentang ragam disabilitas tenaga kerja penyandang disabilitas di lembaga pemerintah/perusahaan dua lokasi (Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul), terbanyak tenaga kerja penyandang disabilitas diserap dengan disabilitas tuna daksa yaitu sebanyak 15 orang atau 37,50%, kedua dengan disabilitas polio sebanyak 7 orang atau 17,50%, ketiga dengan disabilitas tuna rungu + wicara sebanyak 6 orang atau 15, 00%, keempat dengan disabilitas tuna rungu sebanyak 4 orang atau 10,00%, kelima dengan disabilitas mata juling dan tuna netra dengan masing-masing sebanyak 3 orang atau 7,50% dan yang terakhir disabilitas gagu sebanyak 2 orang atau 5,00%.

Data yang dihimpun menjelaskan bahwa pihak pemberi kerja dalam hal ini lembaga pemerintahan/perusahaan lebih banyak menyerap tenaga kerja penyandang disabilitas dengan disabilitas tuna daksa, polio, tuna rungu-wicara (ruwi). Dari hasil wawancara dengan stakeholder Kabupaten Sleman berinisial “F”(13-08-2020) yang menyatakan bahwa:

“Pengguna tenaga kerja penyandang disabilitas dengan disabilitas tuna daksa dan tuna rungu-wicara dianggap lebih fokus dalam bekerja.”

dan stakeholder Kabupaten Sleman yang berinisial “I” (13-08-2020) menyatakan:

“Sebagian tenaga kerja disabilitas kita adalah tuna daksa, maka tidak membutuhkan aksesibilitas yang komplit, karena lembaga perusahaan/pemerintahan tidak terbebani dalam penyediaan aksesibilitas bagi tenaga kerja penyandang disabilitas.”

Senada dengan pernyataan stakeholder Kabupaten Bantul yang berinisial “N”

(10-08-2020), menyatakan:

“Tenaga kerja disabilitas ruwi (rungu wicara) lebih fokus bekerja karena tidak terpengaruh dengan obrolan teman.”

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 33

dan pernyataan stakeholder Kabupaten Bantul inisial “W” (11-08-2020), menyatakan:

Tenaga kerja disabilitas jenis gagu lebih ulet,rajin dan memiliki semangat untuk bekerja.”

Data tersebut dapat dimaknai bahwa keanekaragaman khususnya terkait kondisi fisik seseorang menjadi pertimbangan pemilik dunia usaha dan atau penyedia lapangan keja dalam memilih tenaga kerja yang mereka gunakan. Bila dikaitkan dengan sebagian besar penyandang disabilitas adalah tuna daksa, dan mereka tidak harus terbebani penyediaan aksesibilitas/pembangunan fisik insfrastruktur untuk penyandang disabilitas, karena sebagian mereka masih bisa memakai aksesibilitas yang ada seperti yang digunakan non disabilitas. Hal tersebut dapat juga diartikan bahwa apabila perusahaan harus menyediakan aksesibilitas untuk penyandang disabilitas yang baru, belum tentu dapat disediakan.

d. Status Perkawinan

Status perkawinan tenaga kerja penyandang disabilitas yang dapat disajikan sebagai berikut

Gambar 9. Status Perkawinan Penyandang Disabilitas

Dari data di atas dapat dijabarkan status perkawinan tenaga kerja penyandang disabilitas secara keseluruhan baik di Kabupaten Sleman maupun di Kabupaten Bantul berstatus menikah yaitu sebanyak 26 orang atau 61,00% dan tenaga kerja penyandang disabilitas yang tidak menikah sebanyak 14 orang atau 39,00%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja penyandang disabilitas yang bekerja di lembaga pemerintahan/perusahaan baik di Kabupaten Sleman maupun di Kabupaten Bantul yang telah menikah tentunya akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan keluarga, karena penghasilan mereka dapat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Diperkuat dengan

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 34

hasil wawancara salah satu penyandang disabilitas Kabupaten Sleman berinisial “S”

(14-08-2020), yang menyatakan:

“Dengan bekerja saya mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak bahkan saya bisa menabung....”

Demikian juga penyandang disabilitas di Kabupaten Bantul berinisial “P” (10-08-2020), menyampaikan:

“Saya sangat puas bisa bekerja di perusahaan ini karena saya bisa diberikan kesempatan untuk bisa bekerja dan membantu keuangan keluarga.”

e. Jenis Pekerjaan

Berikut ini akan disajikan gambaran jenis pekerjaan tenaga kerja penyandang disabilitas di dua lokasi penelitian (Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul).

Gambar 10. Jenis Pekerjaan Penyandang Disabilitas

Gambar di atas menjelaskan bahwa jenis pekerjaan tenaga kerja penyandang disabilitas di dua lokasi penelitian yang tersebar secara keseluruhan lebih banyak pada bidang operator yaitu sebanyak 24 orang atau 60,00%, kedua pada bidang karyawan swasta yaitu sebanyak 10 orang atau 25,00% dan sisanya tersebar masing-masing 2,50% yaitu pada bidang satu orang sebagai kepala unit, satu orang sebagai tenaga ahli komputer, satu orang sebagai supervisior, satu orang sebagai sekretaris, satu orang sebagai admin, dan satu orang sebagai buruh pabrik. Jika melihat data di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja penyandang disabilitas yang tersebar di lembaga pemerintah/perusahaan di dua lokasi penelitian (Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul) bergerak pada bidang teknis. Jika dikaitkan dengan ragam disabilitas tenaga kerja penyandang disabilitas yang diketahui adalah lebih banyak tuna daksa dan tuna rungu+wicara sesuai dengan jenis pekerjaan yang di tawarkan di lembaga atau

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 35

perusahaan. Data di atas dapat dimaknai bahwa penyandang disabilitas diberi kesempatan untuk mengembangkan karir terbukti ada yang menduduki jabatan yang penting, antara lain sekretaris, tenaga ahli, kepala unit. Kesimpulannya perusahaan tidak melakukan diskriminasi atau membedakan dalam hal peningkatan karirnya.

Penyandang disabilitas memang mempunyai keterbatasan, tetapi mereka mempunyai potensi yang tidak kalah dengan yang non disabilitas. Kesimpulan tersebut diperkuat dengan beberapa pernyataan dari para stakeholder Kabupaten Sleman berinisial “R”

(14-08-2020), yang menyatakan :

“Kami memberikan kesempatan dan dukungan pada karyawan yang mau sekolah lagi, atau kursus atau pelatihan untuk peningkatan keterampilannya...

bahkan...ada yang sudah kita sekolahkan S2 di Australia.”

Pernyataan dari stakeholder Kabupaten Sleman berinisial “A” (13-08-2020), yang menyatakan bahwa:

“Perusahaan kami setiap tahun dapat teguran dari auditor tentang penyerapan tenaga kerja disabilitas yang belum memenuhi quota..”.

Pernyataan stakeholder Kabupaten Sleman berinisial “G” yang menyatakan:

”Kami puas dengan kerja penyandang disabilitas, apalagi yang RUI/tunarungu

”Kami puas dengan kerja penyandang disabilitas, apalagi yang RUI/tunarungu