• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Tujuan Penelitian

1. Diketahui realisasi implementasi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan menurut ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 (Pasal 53, ayat 1 dan 2 serta yang terkait dengan kesempatan kerja)

2. Diketahui peran pemerintah dalam memberikan hak terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan terutama dalam penyediaan aksesibilitas

3. Diketahui tingkat kepuasan lembaga pemerintahan/perusahaan terhadap kinerja penyandang disabilitas

4. Diketahui tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap lembaga pemerintahan/perusahaan yang telah memberi kesempatan kerja

5. Diketahui dampak sosial yang disarakan oleh penyandang disabilitas setelah bekerja?

E. Pengguna Hasil Penelitian

Hasil penelitian Dampak Sosial Implemetasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas akan digunakan unit teknis untuk mengambil kebijakan lebih lanjut terkait program. Hasil penelitian ini juga digunakan sebagai salah satu indikator dalam pencapaian kinerja Kementerian Sosial RI dalam penanangan penyandang disabilitas.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 7

BAB II KAJIAN TEORI A. Dampak Sosial

Dampak (impacts) adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, lingkungan, atau kepentingan umum lainnya yang dimulai oleh capaian kenerja indikator dalam suatu kegiatan (Dicktus, 2013). Dampak dalam kajian ini dikaitkan dengan sosial, maksudnya sejauh mana suatu program atau even dapat mempengaruhi lingkungan sosial. Dampak sosial program tenaga kerja inklusif bagi penyandang disabilitas mengurai bagaimana pelaksanaan program tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisisosial yang diakibatkan.

Sebagai contoh, bagaimana dampak dari pelaksanaan penempatan kerja bagi penyandang disabiltas, apakah dapat menimbulkan hal yang positif bagi kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan bagi penyandang itu sendiri, dan sebaliknya bagaimana bagi lingkungan pada umumnya. Dampak (impacts) adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, dan lingkungan.

B. Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja 1) Pengertian Penyandang Disabilitas

Disabilitas diartikan beragam oleh berbagai pihak antara lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penyandang diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu (Moeliono, 1989). Sedangkan disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan. Echols dan Shadily, 1976), difabel juga merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris different people are merupakan manusia itu berbeda dan able yang berarti dapat, bisa, sanggup.

Pendapat WHO (1980) ada tiga definisi berkaitan dengan kecacatan, yaitu impairment, disability, dan handicap. Impairment adalah kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi psikologis, fisiologis atau anatomis. Disability adalah suatu keterbatasan atau kehilangan kemampuan (sebagai akibat impairment) untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara atau dalam batas-batas yang dipandang normal bagi seorang manusia.

Penyandang Disabilitas menurut UU Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 1 adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 8

hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Sebagaimana pengertian disabilas tersebut di atas dapat diartikan bahwa pendapat tersebut hampir menunjukkan hal yang sama seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, mental dan gabungan dari keduanya. Meskipun demikian UU Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 1 tersebut lebih dirinci jenisnya sehingga memudahkan dalam penangananya. Hal ini dikarenakan jenis disabilitas beragam sehingga akan lebih efektip dan efisien dalam penanganannya.

2) Jenis Disabilitas

Disabilitas terdapat berbagai jenis, seperti dikemukakan oleh para ahli dan dalam undang undang dibuat oleh pemerintah dari tahun ke tahun mengalami perkembangan.

Menurut Reefani (2013:17), penyandang disabilitas dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a) Disabilitas mental

Disabilitas mental atau kelainan mental terdiri dari: Mental Tinggi, sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan tanggungjawab terhadap tugas;

Mental Rendah; Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus; Berkesulitan Belajar Spesifik.

Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh.

b) Disabilitas fisik

Disabilitas Fisik atau kelainan fisik terdiri dari:Kelainan tubuh (Tuna daksa), tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh; Kelainan Indera Penglihatan (Tuna netra), tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision; Kelainan pendengaran (tunarungu), tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara;

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 9

Kelainan wicara (tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain.

Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan bicara.

c) Tunaganda (disabilitas ganda)

Tunaganda atau penderita cacat lebih dari satu kecacatan (cacat fisik dan mental) merupakan mereka yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan, misalnya penyandang tuna netra dengan tuna rungu sekaligus, penyandang tuna daksa disertai dengan tuna grahita atau bahkan sekaligus.

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Penyandang Disabilitas dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

1) Cacat Fisik

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain: a) cacat kaki, b) cacat punggung, c) cacat tangan, d) cacat jari, e) cacat leher, f) cacat netra, g) cacat rungu, h) cacat wicara, i) cacat raba (rasa), j) cacat pembawaan. Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarti rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Cacat tubuh dapat digolongkan sebagai berikut:Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit, disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang.Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung; celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi; paraplegia.

2) Cacat Mental

Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: a) retardasi mental, b) gangguan psikiatrik fungsional, c) alkoholisme, d) gangguan mental organik dan epilepsi.

3) Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental

Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus. Apabila yang cacat adalah keduanya maka akan sangat mengganggu penyandang cacatnya.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 10

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Jenis disibilitas meliputi:

a) Penyandang disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegi, celebral palsy (CP), akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil.

b) Penyandang disabilitas intelektual adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan down syndrom.

c) Penyandang disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku, antara lain: a. psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian; dan b. disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif.

d) Penyandang disabilitas sensorik adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

e) Penyandang disabilitas ganda atau multi adalah penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, antara lain disabilitas runguwicara dan disabilitas netra-tuli, dalam jangka waktu lama (jangka waktu paling singkat enam bulan dan/atau bersifat permanen).

Jenis penyandang disabilitas tersebut di atas menurut Reefani maupun undang-undang memiliki makna yang tidak jauh berbeda yaitu: penyandang disabilitas fisik, mental, dan penyandang disabilitas ganda atau multi. Terkait Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, jenisnya lebih spesifik hal ini dimaksudkan untuk lebih optimal dalam memberikan pelayanan.

Kondisi disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan intelektual atau sensorik, pemerintah telah mengeluarkan perlindungan dan hak yang di lindungi oleh undang-undang, dengan demikian mereka akan lebih berdaya mandiri dan percaya diri.

Penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan kesempatan serta peran yang sama dalam segala aspek kehidupan maupun penghidupan. Penyandang disabilitas memiliki hak fundamental layaknya manusia pada umumnya. Penyadang disabilitas memperoleh perlakuan khusus dimasudkan sebagai upaya perlindungan dari kerentanan terhadap berbagai pelanggaran HAM. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas, pasal 1 menyebutkan tujuan konvensi ini adalah untuk memajukan, melindungi dan menjamin penikmatan penuh dan setara

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 11

semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental oleh semua penyandang disabilitas, dan untuk meningkatkan penghormatan atas martabat yang melekat pada mereka. Penyandang disabilitas termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama.

Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) mendefinisikan disabilitas sebagai hasil interaksi antara penyandang ketunaan dengan hambatan sikap dan hambatan lingkungan yang menghambat partisipasi mereka secara penuh dan efektif dengan orang-orang lain di dalam masyarakat atas dasar kesetaraan. Pengertian dari CRPD tersebut mengindikasikan bahwa disabilitas bukan merupakan suatu hambatan bagi orang yang memiliki kelainan fisik untuk melakukan berbagai aktifitas seperti layaknya orang normal. Hanya saja mereka memiliki cara yang berbeda dalam melakukan aktifitas tersebut.

Di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 31 disebutkan bahwa setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau luar negeri. Pengakuan tersebut telah dikuatkan secara hukum melalui Undang-Undang no 8 Tahun 2013 tentang Penyandang Disabilitas, yang menyebutkan bahwa (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% penyadang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja (2) Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Demikian juga dari hasil penelitian Purinami dan kawan-kawan (2018) menyebutkan penyandang disabilitas bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun lebih dari itu penyandang disabilitas terjun di dalam lingkungan sosial dapat meningkatkan jaringan sosial, keterampilan sosial, kemandirian dan menjalankan berbagai peran sosial. Dengan demikian tenaga kerja disabilitas dapat menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain, sehingga tidak lagi dipandang sebagai beban bagi keluarga maupun masyarakat.

C. Hak Asasi Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja

Manusia hendaknya mampu menjadi human, artinya mempunyai rasa empati dan rasa kemanusiaan pada sesama. Hakikatnya manusia memiliki prinsip, nilai dan perasaan kemanusiaan.Manusia diciptakan memiliki akal budi yang dapat diwujudkan dalam perilaku dan mengandung rasa kemanusiaan dalam keseharian.Dalam konsep

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 12

kewarganegaraan disebut hak azasi mengajarkan untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia tanpa perbedaan. Sebagai mana manusia pada umumnya, penyandang disabilitas juga mempunyai hak untuk diperlakukan sama sebagai warga masyarakat pada umumnya. Kenyataan di lapangan memperlihatkan, bahwa penyandang disabilitas terkadang diperlakukan tidak sama atau diskriminasi sehingga terkadang menjadi kelompok khusus atau termaginalkan. Atas dasar itu pemerintah membuat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Dalam undang-undang tersebut menjelaskan tentang pengertian dari penyandang disabilitas, yaitu setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/ atau sensorik dalam jangka waktu lama yang berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpatisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasar kesamaan hak.Secara garis besar penyandang disabilitas mempunyai hak bebas dari diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, bahkan eksploitasi. Konvensi hak penyandang disabilitas (Convebsion on the Rights of Persons with Disabilities) merupakan perjanjian multilateral yang melindungi hak dan martabat para penyandang disabilitas,tahun 2011 dan diundangkan melalui Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011.

Konvensi ini menjadi salah satu bukti, bahwa Negara melindungi, mempromosikan dan menjamin pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dan memastikan mereka setara dengan manusia lainnya di mata hukum. Perjanjian tersebut membantu menyebarkan pandangan, bahwa penyandang disabilitas adalah anggota masyarakat yang setara dengan anggota lainnya. (Wikipedia. Konvensi mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas di akses 13 Februari 2020). Beberapa hak penyandang disabilitas yang hendaknya dipenuhi, meliputi 1) Persamaan dan non diskriminasi; setiap penyandang disabilitas berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama atau kesetaraan dengan seluruh umat manusia dihadapan dan di bawah hokum. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan manfaat hukum yang setara. Sebagaimana diketahui, bahwa diskriminasi merupakan tindakan tidak adil dan tidak seimbang untuk membedakan terhadap perorangan atau kelompok.

Oleh sebab itu, segala bentuk diskriminasi bagi disabilitas harus dilarang dan menjamin penyandang disabilitas memiliki hak dan perlindungan hukum setara. 2) Aksesibilitas; merupakan kemudahan yang disediakan Negara bagi semua warganya termasuk penyandang disabilitas. Kemudahan yang dimaksud untuk mewujudkan kesamaan dan kesempatan setara terhadap fasilitas dan layanan public lainnya. Hak aksesibilitas dimaksudkan agar penyandang disabilitas mampu hidup mandiri dan berpartisipasi secara penuh dalam semua bidang kehidupan. Apabila hal tersebut tidak

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 13

terpenuhi berarti sama halnya dengan memenjarakan, mengasingkan, bahkan menutup hak-hak mereka. Berkait dengan permasalahan dimaksud diperlukan sarana dan upaya yang memadai, terpadu atau inklusif, dan berkesinambungan sehingga penyandang mampu mandiri dan sejahtera. 3) Hak untuk hidup. Hak yang dimaksud merupakan prinsip moral yang didasarkan pada keyakinan, bahwa manusia memiliki hak untuk hidup. Hak hidup yang harus dipenuhi Negara bagi penyandang disabilitas meliputi atas penghormatan integritas, tidak dirampas nyawanya, mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang menjamin kelangsungan hidupnya, bebas dari penelantaran, pemasungan, pengurungan, dan pengucilan, bebas dari ancaman dan berbagai bentuk eksploitasi, dan bebas dari ancaman dan berbagai bentuk eksploitasi, dan bebas dari penyiksaan, perlakuan dan penghukuman lain yang kejam, dan merendahkan martabat manusia. 4) Peningkatan kesadaran; Kurangnya pengetahuan dan sosialisasi masyarakat menyebabkan disabilitas masih dipandang sebelah mata, seperti sulitnya aksesibilitas penerimaan pekerjaan, pendidikan, bahkan fasilitas umum. Oleh karena itu, Negara wajib memberikan hak peningkatan kesadaran kepada masyarakat melalui penerapan kebijakan efektif dan sesuai dimasyarakat. Peningkatan kesadaran terhadap disabilitas bertujuan memelihara penghormatan hak dan martabat penyandang disabilitas. 5) Kebebasan dari eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan; hakikatnya setiap penyandang disabilitas memerlukan perlindungan secara hokum dan berpartisipasi dalam semua tahap proses dan prosedur hukum dasar kesetaraan dengan orang lain. Negara harus mencegah semua bentuk eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan dengan menjamin bantuan dan dukungan keluarga. Penekanannya Negara harus mengambil langkah positif agar hak kebebasan dari eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan penyandang disabilitas terpenuhi melalui peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang efektif (Athalah Muti, 2018).

Berkait dengan hak penyandang disabilitas pada aspek kesempatan mendapatkan pekerjaan kondisi empiris memperlihatkan, bahwa belum semua penyandang mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Sehingga cenderung tidak proporsional. Pada dasarnya telah ada perundangan yang mengatur terhadap hak-hak penyandang disabilitas yang termaktub dalam UU Nomor 8 tahun 2016 khususnya berkaitan dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan baik di sektor formal dan non-formal. Sebagian besar lembaga atau perusahaan belum menerima karyawan disabilitas dengan berbagai alasan.Oleh karena itu, dilakukan kajian tentang kesempatan mendapatkan pekerjaan ditinjau dari hak penyandang disabilitas.

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 14

Hak asasi manusia bersifat universal yang berarti melampaui batas-batas negeri, kebangsaan, ditujukan pada setiap manusia baik misikin maupun kaya, berasal dari suku agama ras tertentu, memiliki agama tertentu. Disabilitas menurut WHO adalah “dynamic interaction between health condition and enviromental and personal factors.” (The International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF), 2007). Ini berarti disabilitas tidak saja terkait dengan kondisi kesehatan individual saja, tetapi juga bagaimana lingkungan mempengaruhi orang yang kondisi kesehatannya memang sudah berbeda dari orang umum. Ini berarti termasuk struktur dan fungsi anggota tubuh seseorang, aktivitas mereka, keterlibatan mereka di berbagai aspek kehidupan, dan faktor-faktor dalam lingkungan yang mempengaruhi pengalaman-pengalaman yang membuat mereka masuk menjadi kategori disabilitas.

Rioux & Carvert (2003:2) mengklaim berdasarkan klasifikasi Internasional orang dengan disabilitas tidak lagi di pandang sebagai orang yang bermasalah, akan tetapi lingkungannya yang bermasalah dalam menyediakan kesamaan akses dan menjadi inklusif bagi setiap orang di masyarakatnya. Hal ini menjelaskan bahwa setiap penyandang disabilitas diberikan kesempatan dan hak yang sama dalam mengakses pekerjaan sesuai dengan kompetensi dan bakat yang dimiliki.

Keterbatasan yang dimilki oleh penyandang disabilitas masih menjadi kendala bagi perusahaan untuk menjadikanya sebagai karyawan. Dengan demikian penyandang disabilitas menjadi terganggu dalam memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Dengan bekerja penyandang disabilitas dapat dengan sepenuhnya terjun di dalam lingkungan sosial dengan meningkatkan jaringan sosial, keterampilan sosial, kemandirian dan menjalankan berbagai peran sosial.

D. Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas

Pengertian inclusion menurut Miller dan Katz (2002) adalah rasa memiliki, merasa dihormati, dihargai untuk setiap keunikan yang dimiliki seseorang, merasa mendapat dukungan dan komitmen dari orang lain/lingkungan sehingga seseorang dapat memaksimalkan kapasitasnya. Inklusi melibatkan setiap individu dalam organisasi dan menempatnya sebagai misi organisasi. Pergeseran budaya ini menciptakan organisasi dengan kinerja, motivasi dan semangat yang lebih tinggi. Menurut Menteri Ketenagakerjaan ( Muhammad Hanif Dhakiri) Inklusif adalah keberpihakan kepada yang lemah, yakni pendidikan dan pelatihan untuk semua yang artinya lebih banyak kesempatan yang sama untuk meningkatkan tingkat kompetensi kapan saja dan dimana saja. Menurut

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 15

Studi Ilmu Inklusif adalah memposisikan diri ke dalam posisi yang sama dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan permasalahan, dengan kata lain kata inklusif bertujuan untuk menyamaratakan semua orang dan mau berusaha untuk mengerti sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Inklusif adalah penyamarataan kapasitas diri dalam setiap keunikan yang dimilki seseorang untuk mendapatkan kesempatan yang sama di dalam dunia kerja. (dalam hal ini bagi penyandang disabilitas).

Tenaga kerja inklusif adalah suatu program tenaga kerja yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu dalam meningkatkan kapasitas diri tidak terkecuali penyandang disabilitas. Sesuai dengan pandangan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (2019) menyatakan bahwa tenaga kerja disabilitas masih memiliki kompetensi kerja yang layak untuk dapat dikembangkan menjadi kemampuan nyata sehingga mampu bersaing di dalam bursa kerja. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 yang menyebutkan setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Realisasi dari pernyataan di atas pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan mengusung sebuah Program bagi penyandang Disabilitas. Program yang dimakuskan adalah program tenaga kerja inklusif bagi Disabilitas, adapun tujuan program yaitu untuk memberikan kesempatan yang sama bagi disbilitas dalam mengembangkan potensi dan bakat diri untuk penghidupan yang layak dan terjaminnya keberfungsian sosial penyandang disabilitas.

E. Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Disabilitas

Implementasi menurut dari pernyataan Grindle (1980:7) bahwa implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan disalurkan untuk mencapai sasaran. Jika pemahaman ini diarahkan pada lokus dan fokus (perubahan) dimana kebijakan diterapkan akan sejalan dengan pandangan Van Meter dan van Horn yang dikutip oleh Parsons (1995: 461) dan Wibawa, dkk, (1994:15) bahwa implementasi kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh (organisasi) pemerintah dan swasta baik secara individu maupun secara kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan.

Deskripsi tentang konsep implementasi dikemukakan oleh Lane bahwa implementasi sebagai konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni implementasi

Dampak Sosial Implementasi Program Tenaga Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Page 16

merupakan persamaan fungsi dari maksud, output dan outcome. Berdasarkan deskripsi tersebut, formula implementasi merupakan fungsi yang terdiri dari maksud dan tujuan,

merupakan persamaan fungsi dari maksud, output dan outcome. Berdasarkan deskripsi tersebut, formula implementasi merupakan fungsi yang terdiri dari maksud dan tujuan,