• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Proyek

Proyek dengan sumber daya yang terbatas serta dapat selesai pada durasi tertentu tanpa mengabaikan sasaran dari proyek dengan kesepakatan yang ada adalah merupakan tujuan proyek sendiri yang mana berupa kegiatan sendiri baik dalam bentuk bangunan atau infrastruktur (Gazalba,2005). Menurut Husen (2009), agar proyek bekerja secara optimal, perlu meminimalisir terjadinya penyimpangan dengan standar proyek konstruksi yang wajib dicapai. Baik dalam batasan kurun waktu, biaya, mutu dan keselamatan kerja. Bagi sasaran proyek penting adanya empat batasan yang dijadikan acuan, yang sering kali diasosiasikan untuk penyelenggaraan proyek. Man (manusia), material (bahan bangunan), machine (peralatan), method (metode pelaksanaan), money (uang), information (informasi) dan time (waktu) merupakan sesuatu yang diperlukan oleh proyek atau faktor proyek.

Sering terjadi pembengkakan pada biaya serta adanya keterlambatan pada durasi proyek. Akan tetapi, agar sesuai dengan target awal mutu konstruksi juga tidak jauh dari penjagaannya. Pihak yang berhubungan terhadap dilaksanakan proyek konstruksi seperti pemilik, perencana (konsultan), pelaksana kontraktor, pengawas (konsultan), penyandang dana, pemerintah (regulasi), pemakai bangunan dan masyarakat (Soeharto,1999).

2.1.1. Manajemen Proyek

Dari awal sampai selesainya proyek merupakan manajemen proyek yang terdiri dari semua perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta koordinasi suatu proyek, yang mana tujuan dari manajemen proyek adalah guna sebagai jaminan dilaksanakan sebuah proyek secara tepat waktu,biaya, dan mutu (Ervianto, 2004).

Menurut Widiasanti dan Lenggogeni (2013) melalui aplikasi dan tahapan proses manajemen proyek dilaksanakan initiating, planning, executing, monitoring dan controlling serta terakhir closing dalam seluruh proses proyek tersebut. Terdapat

(2)

kendala-kendala yang membatasi setiap melaksanakan suatu proyek yang mana bersifat saling berkaitan dan mempengaruhi. Hal tersebut sering disebut dengan segitiga project constraint yaitu terdiri dari biaya, waktu dan mutu. Dalam menentukan kualitas suatu proyek, perlu adanya keseimbangan ketiga konstrain tersebut.

2.2. Pengendalian Proyek

Menurut Soeharto (1999:228) pengendalian merupakan usaha agar dapat menjadikan acuan yang sesuai dengan target pada proyek dengan menggunakan sistem, membandingkan penerapan dengan standar, menganalisa penyimpangan standar dengan pelaksanaannya dengan peluang yang ada, mendesain sistem informasi, kemudian melakukan tahap perbaikan agar bermanfaat dengan efektif dan efisien yang mana diperlukan melalui resource agar mencapai suatu tujuan.

Untuk merealisasikan setiap tahap memiliki kinerja yang sangat baik dalam keberlangsungan ruang lingkup proyek dilakukan prosedur pengendalian. Membuat perencanaan dengan fungsi sebagai acuan bagi pelaksanaan aktivitas pekerjaan.

Patokan implementasi merupakan patokan yang di lakukan pada proyek yang berkaitan, mencangkup spesifikasi anggaran, jadwal dan teknik.

2.2.1. Langkah Operasional Pengendalian Proyek

Menurut Dipohusodo (1996) dalam bukunya memberikan gambaran langkah-langkah operasional pengendalian proyek, sebagaimana disajikan pada Gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Langkah-langkah Proses Pengendalian Kinerja (Sumber : Dipohusodo,1996)

(3)

2.3. Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Hal yang wajib dilaksanakan sebelum dilakukan nya poyek konstruksi adalah menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB). Menurut Siswanto dan Salim (2019), Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan banyaknya biaya yang diperlukan untuk upah maupun bahan pada sebuah pekerjaan proyek konstruksi.

Pada RAB berisikan data volume, harga satuan, serta total harga dari berbagai macam jenis material dan upah tenaga yang dibutuhkan dalam melaksanakan suatu proyek. Yang mana RAB memuat real cost dari proyek yang sedang berjalan dengan fungsi dijadikan sebagai parameter melaksanakan suatu pekerjaan.

Kemudian ditentukan biaya borongan untuk dilelang yang didapat dari real cost ini.

RAB adalah total dari RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan) dan keuntungannya.

Biaya langsung (direct cost) dan Biaya tidak langsung (indirect cost) merupakan bagian dari RAP. Biaya yang wajib ada dan sekalipun tidak dapat lepas dari proyek serta biaya yang berhubungan dengan konstruksi tidak secara langsung merupakan biaya tidak langsung yang mana meliputi biaya-biaya overhead seperti pengawasan, administrasi, konsultan, bunga dan biaya lainnya/biaya tak terduga.

Sedangkan biaya yang bersifat normal adalah biaya langsung yang meliputi biaya upah, material, alat. Pada biaya langsung menggunakan metode dengan durasi normal sehingga mengurangkan waktu akan adanya pertambahan biaya dari kegiatan proyek. Oleh karena itu, biaya akan lebih banyak untuk durasi waktu yang dibebankan (imposed duration date) dibandingkan biaya untuk durasi waktu yang normal (Husen, 2009). Untuk mencapai suatu tujuan proyek konstruksi dibutuhkannya kegiatan pengendalian biaya. Dalam hal ini, pada masing-masing daerah akan berbeda-beda anggaran biaya pada bangunannya, yang disebabkan karena perbedaan harga satuan bahan dan upah tenaga kerja (Husen, 2009).

2.4. Durasi Kegiatan Proyek

Durasi kegiatan proyek merupakan dari waktu awal hingga berakhirnya suatu proyek. Ketepatan dalam asumsi waktu kegiatan banyak bergantung dari pihak dengan asumsi durasi kegiatan yang dibuat (Siswonto,dkk, 2019). Durasi kegiatan proyek terbagi menjadi sebagai berikut :

(4)

a. Durasi Kegiatan Normal

Dalam melakukan penyelesaian suatu kegiatan sesuai dengan sumber daya dan keahlian yang ada terhadap penyelesaian kegiatan dengan produktifitas pada kerja normal, yang mana merupakan definisi dari durasi kegiatan normal dengan adanya jangka waktu yang dibutuhkan. Faktor- faktor yang harus diperhatikan dalam durasi kegiatan normal proyek adalah sebagai berikut:

a) Macam-macam kegiatan

Penanganan pada setiap kegiatan dilakukan tersendiri karena memiliki karakteristik tersendiri pada kegiatannya. Dengan kata lain, Semakin susah menanganinya, maka semakin banyak waktu yang diperlukan.

b) Metode yang dipakai

Metode pelaksanaan yang dipakai menjadi acuan dengan menyesuaikan penggunaan sumber daya baik tenaga kerja, material, dan peralatan.

Dalam hal ini, dapat dihasilkannya durasi kegiatan yang berbeda dengan menggunakan metode pelaksanaan yang berbeda juga.

c) Situasi dan kondisi di lapangan proyek

Tujuannya agar saat di lapangan dapat mengetahui kemudahan serta hambatannya. Seperti kondisi medan yang lebih tinggi yang akan mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan kegiatan atau medan yang berat dan terpencil.

d) Lokasi sumber daya proyek

Suatu kegiatan akan berjalan dengan lancar, jika lokasi proyek dan sumber daya nya berada semakin, sehingga pelaksanaan proyek akan lebih cepat dengan lancarnya kegiatan yang dilakukan.

e) Faktor cuaca

Penyelesaian suatu kegiatan proyek akan melambat jika cuaca dan iklim yang tidak baik atau buruk, karena faktor dari cuaca sangat mempengaruhi pada prestasi kerja.

f) Dana yang tersedia

(5)

Apabila masuknya dana ke dalam perusahan tertahan, akan mengakibatkan pengerjaan proyek akan lebih lama dari rencana dan memiliki dampak terhadap arus material atau bahan yang masuk.

g) Jenis dan volume pekerjaan yang akan dilaksanakan

Dari syarat-syarat pemilik proyek dan data perencanaan, volume dapat diperhitungkan yang mana durasi pekerjaan yang lama dimaksudkan untuk volume pekerjaan yang lebih besar.

h) Kondisi sosial politik

Berdasarkan bidang tenaga kerja sesuai peraturan pemerintah.

i) Pihak pelaksana proyek yang memilik sumber daya

Meninjau faktor apa saja yang berpengaruh pada produktifitas tenaga kerja, yaitu terdiri dari : Kondisi lingkungan, kualitas dan kuantitas tenaga kerja, Jam kerja serta efisiensinya.

b. Percepatan Durasi Kegiatan (Crashed)

Proyek konstruksi diharuskan memiliki jadwal kegiatan yang terbilang lebih singkat. Alasannya adalah sebagai berikut::

1. Dari keseluruhan pada proyek, bisa dilakukan pengurangan biaya dan dapat dilakukan peningkatan jumlah pekerja tanpa harus menambahkan sumber daya dengan adanya jadwal kegiatan yang lebih cepat atau singkat.

2. Sangat mempengaruhi profit yang akan didapat dari pelaksanaan proyek dan keuntungan lainnya dapat segera dipakai dengan adanya jadwal kegiatan yang cepat dan singkat. Sehingga durai pelaksanaan penyelesaian proyek berjalan dengan cepat.

3. Terkhusus pada konsultan dan kontraktor dapat meningkatkan kemungkinan memenangkan tender jika jadwal kegiatan lebih cepat dan singkat.

Durasi kegiatan dilakukan perencanaan berdasarkan durasi yang ada (sumber daya normal) yang mana dilakukan saat merencanakan proyek, Ada beberapa yang bisa dilakukan jikalau suatu hari dilakukan percepatan suatu proyek karena alasan tertentu, yaitu sebagai berikut:

(6)

1) Perubahan dari logika pekerjaan a. Kegiatan seri dijadikan parallel b. Kegiatan seri dijadikan overlap 2) Menambahkan produktifitas sumber daya

Ada beberapa yang bisa dilakukan, yaitu sebagai berikut : a. Menambahkan jam kerja (lembur)

Menambahkan jam kerja yang dilaksanakan dengan cara melakukan penambahan jam kerja setiap hari, dengan jumlah tenaga kerja yang tetap. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 pasal 11 ayat a menyatakan bahwa untuk jam kerja lembur pertama, harus dibayar upah lembur sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah satu jam, sedangkan untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah lembur sebesar 2 (dua) kali upah satu jam.

b. Pembagian dalam giliran kerja

Pada bagian ini dibagi tenaga kerja berdasarkan shift pagi-sore dan shift sore-malam. Dengan system pembagian seperti ini, maka produktivitas sama.

c. Menambahkan tenaga kerja

Dalam menambahkan tenaga kerja yang lebih banyak, akan menurunkan produktifitas. Akan tetapi, dapat menambahkan produktifitas kerja juga dengan adanya penambahan yang optimal atau ideal. Dalam hal ini, ada berbagai jenis yang dapat menurunkan suatu produktifitas, yaitu: keahlian yang berbeda yang dimiliki tenaga kerja, sempitnya lahan untuk bekerja, serta sulitnya melakukan pengawasan

d. Penggunaan alat berat

Dengan penggunaan alat berat, sementara jumlah tenaga kerja manusia dikurangi merupakan maksud produktifitas kerja yang bertambah.

e. Pengubahan metode kerja pada lapangan

(7)

Apabila metode kerja pada saat ini menyebabkan keterlambatan dan tidak efisien maka dilakukan pengubahan metode kerja yang lebih efektif. Namun pengubahan metode yang lain mengakibatkan penggantian jadwal kerja proyek.

f. Konsentrasi pada kegiatan tertentu

Pada jalur kegiatan kritis dilakukan konsentrasi dengan melakukan percepatan melalui penambahan tenaga kerja ataupun metode yang lain.

g. Kombinasi dari opsional yang ada

Agar dapat menghasilkan suatu cara yang efektif dan efisien dalam pelaksanaannya, dilakukan suatu kombinasi alternatif yang ada dengan tujuan sumber daya mengalami peningkatan produktifitas.

. 2.5. Penjadwalan

Penjadwalan proyek merupakan bagian dari hasil dilakukannya perencanaan yang dapat memberitahukan tentang kemajuan proyek yang mencangkup kinerja material, peralatan, tenaga kerja, dan kinerja sumber daya serta progress waktu untuk dilakukannya penyelesaian proyek. Dalam hal ini, penjadwalan juga mampu memberikan informasi tentang jadwal rencana (Husen,2009). Dapat terciptanya korelasi antar masing-masing kegiatan pekerjaan dalam suatu proyek dengan cara melakukan penentuan kapan setiap kegiatan akan dimulai, ditunda dan diselesaikan.

Dengan dilakukannya penjadwalan dalam suatu proyek bisa diketahui waktu kegiatan dimulai, ditunda, atau diselesaikan, sehingga sumber daya yang tersedia dapat digunakan dengan efisien. Dalam proyek, diperlukan penjadwalan pada kegiatan dengan tujuan suatu proyek dapat berjalan lancar secara efektif dan efisien. Maka dari itu pihak pelaksana akan membuat jadwal kegiatan (time schedule). Dalam hal ini dapat memudahkan dan meringankan pimpinan proyek dalam mengkoordinasi elemen pekerjaan sehingga diperoleh efisiensi dan keefektifan kerja yang tinggi (Soeharto, 1999).

(8)

Berpikir secara dalam untuk mengatur jadwal sebuah proyek dengan persoalan yang ada. Membuat susuan pada macam-macam tugas serta dilakukannya pengujian jalur-jalur yang masuk akal yang nantinya akan menghasilkan suatu kegiatan yang runtut dan jenis kegiatan yang masuk akal dengan rangkaian waktu yang efektif dituliskan (Luthan, 2017). Dengan berbagai permasalahan yang ada menjadi acuan penjadwalan selama dilakukannya proses pengendalian proyek.

Untuk didapatkan penjadwalan yang realistis agar sasaran dan tujuan tercapai, penetapan durasi dilakukan dengan monitoring dan updating. Penjadwalan memiliki tujuan antara lain :

a. Masalah perumusan proyek dipermudah.

b. Dilakukan penentuan metode atau cara yang tepat.

c. Agar lebih terorganisir diharapakn kelancaran dalam pelaksanaan.

d. Mendapatkan hasil yang optimal.

Dalam proyek konstruksi, penjadwalan juga memiliki fungsi sebagai penentuan durasi dalam menyelesaikan suatu proyek, setiap aktivitas pekerjaan di proyek ditentukan waktu pelaksanaan, jalur kritis ditentukan, memilih kegiatan- kegiatan yang tidak bisa terlambat atau tertunda pelaksanaannya, progress pelaksanaan dapat ditentukan serta kemajuannya, sebagai parameter untuk menghitung cash flow proyek, sebagai acuan untuk penjadwalan sumber daya proyek, seperti tenaga kerja, material, dan peralatan, serta sebagai alat proyek.

Berikut data-data yang dibutuhkan untuk penjadwalan yaitu : a. Pelaksanaan pada proyek konstruksi

b. Metode pelaksanaan.

c. Membuat list perkiraan waktu yang dibutuhkan dan seluruh aktivitas kegiatan yang telah dilakukan terhadap proyek tersebut.

d. Pelaksanaan kegiatan dibuat rangkaian.

e. Korelasi pada pelaksanaan kegiatan satu dan lainnya (Luthan, 2017).

Proyek konstruksi banyak terjadi perubahan-perubahan pada saat pelaksanaannya, maka dari itu harus diperhatikan beberapa faktor dalam membuat suatu jadwal proyek yang efisiensi dan efektif, yaitu :

(9)

a) Dapat dipertanggungjawabkan pada jadwal secara teknis (technically feasible).

b) Berdasarkan kegiatan proyek terdahulu dapat menyusun perkiraan yang akurat yang mana terdiri dari perkiraan waktu, sumber daya, dan biayanya.

c) Sesuai sumber daya.

d) Penggunaan sumber daya yang serupa pada penjadwalan proyek.

e) Perubahan bersifat fleksibel, seperti spesiffikasi proyek yang berubah.

f) Harus detail dalam merinci dan digunakan sebagai alat untuk mengukur hasil yang akan dicapai dan sebagai pengendalian kemajuan proyek.

g) Bisa menyajikan kegiatan pokok kritis.

2.6. Kurva S

Setelah dilakukan perhitungan rencana anggaran biaya serta menganalisa harga satuan pekerja, selanjutnya dapat dikerjakan pembuatan kurva S. Kurva S seringkali pada proyek digunakan sebagai salah satu metode untuk merencanakan pengendalian biaya yang efektif. Penggambaran kurva S adalah bentuk visualisasi dari kemajuan perkerjaan dalam bentuk kumulatif yang disajikan dengan sumbu vertikal terhadap waktu pada sumbu horisontal yang mana kemajuan pekerjaan dalam kurva S diartikan sebagai prosentase bobot (Rani,2016).

Kemajuan proyek dapat diberikan informasi melalui Kurva S yang ada di proyek. Keterlambatan pada jadwal proyek dapat diketahui dengan dilakukan perbandingan kurva realisasi di lapangan dengan kurva rencana. Berikut merupakan penggambaran kurva S rencana dengan kombinasi Barchart yang ada disajikan pada Gambar 2.2.

(10)

Gambar 2.2 Kurva S atau Hannum Curve (Sumber: Husen,2011)

2.7. Network Planning

Network Planning atau yang disebut dengan Jaringan Kerja adalah korelasi dari keseluruhan kegiatan yang harus terpenuhi guna melengkapi suatu proyek yang mana berupa visualisasi diagram alir dari rangkaian yang ada. Menurut Rani (2016), dalam melaksanakan proyek digunakan Network Planning sebagai satu model, yang produknya mencangkup informasi tentang aktivitas yang ada dalam diagram jaringan kerja yang saling berkaitan. Network planning dapat disimpulkan sebagai gambaran dalam diagram network yang memperlihatkan korelasi antara masing- masing pekerjaan pada suatu perencanaan dan pengendalian proyek.

Sebelum masuk ke metode networking terdapat metode awal yang digunakan yaitu CPM (Critical Path Method) dan PDM (Precedence Diagram Method). Yang mana metode jalur kritis atau CPM (Critical Path Method) adalah bentuk jaringan yang menggambarkan model kegiatan proyek. Kegiatan yang dimaksud disimbol kan sebagai titik dan peristiwa yang menandakan awal atau akhir dari kegiatan disimbolkan sebagai busur atau garis antara titik. Sedangkan Metode preseden diagram (PDM) merupakan jaringan kerja yang termasuk klasifikasi AON (Syafriandi,dkk,2017). Kegiatan yang dirincikan dalam node yang berbentuk segiempat merupakan metode ini, sedangkan anak panah sebagai petunjuk korelasi keterkaitan antar masing-masing kegiatan yang berkaitan. Dalam

(11)

metode penjadwalan dengan PDM ini dapat menumpah-tindihkan suatu kegiatan tanpa memerlukan garis dummy yang rumit.

Dalam pembuatan network planning dan penentuan pada lintasan kritis aktivitas kegiatan proyek konstruksi dapat menggunakan Microsoft Office Project.

Agar dapat mengetahui lintasan kritis yang nantinya akan digunakan dalam menghitung penambahan biaya akibat dilakukannya percepatan (cost slope)yaitu, diawali dengan pengaturan pada calender selanjutnya input durasi dan prodessor pada masing-masing kegiatan(Syafriandi,dkk,2017).

Saat merencanakan dan membuat penjadwalam proyek terdapat istilah dalam microsoft project, yaitu:

a. Task adalah jenis elemen atau aktivitas pekerjaan dalam proyek.

b. Duration adalah kebutuhan waktu dalam dilakukan penyelesaian pada suatu pekerjaan, misalnya 2 jam, 4 hari, 5 bulan.

c. Start adalah dimulainya tanggal suatu pekerjaan.

d. Finish adalah diakhirinya tanggal pekerjaan.

e. Predecessor adalah korelasi keterkaitan suatu pekerjaan dengan pekerjaan yang lainnya.

f. Resources merupakan sumber daya baik seperti sumber daya manusia ataupun material yang ikut terlibat dalam proyek.

g. Cost biaya untuk menjalankan suatu proyek yang digunakan.

h. Gannt Chart merupakan tampilan hasil microsoft project yang disajikan pada grafik yang berbentuk batang horizontal 3 dimensi yang berasal dari hasil kerja dengan letak berada pada tampilan.

i. Pert Chart merupakan grafik pekerjaan yang berbentuk kotak atau sering disebut sebagai node. Akan menampilkan keterangan nama pekerjaan, start, finish, serta korelasi pekerjaan dalam node ini.

j. Baseline merupakan anggaran tetap proyek atau rancangan.

k. Tracking merupakan bagian microsoft project yang meninjau rencana awal dengan hasil kerja proyek waktu di lapangan.

(12)

2.7.1. Manfaat Network Planning

Menurut Handoko (2010) dikutip dalam Siswanto & Salim (2019) ada beberapa manfaat Network Planning, yakni sebagai berikut:

a. Perencanaan suatu proyek yang komplit

b. Schedulling dalam urutan yang efektif dan efisien pada pekerjaan- pekerjaan.

c. Mengadakan pembagian kerja dari tenaga kerja dan dana yang ada.

d. Schedulling ulang yang dilakukan dalam mencegah keterlambatan dan mengatasi hambatan.

e. Menentukan trade-off (kemungkinan pertukaran) antara waktu dan biaya.

f. Menentukan peluang penyelesaian suatu proyek.

Network planning dikatakan sebagai salah satu langkah untuk menyempurnakan metode bagan balok di dalam manajemen proyek. Hal ini dimaksudkan pada saat menyusun jadwal, dikarenakan memiliki pertanyaan- pertanyaan yang masih belum terjawab. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan padametode tersebut, seperti :

a. Berapa lama perkiraan kurun waktu penyelesaian proyek?

b. Kegiatan-kegiatan mana yang termasuk lintasan kritis dan apa korelasinya dengan penyelesaian proyek?

c. Apabila terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan proyek, apa yang berpengaruh terhadap keseluruhan sasaran jadwal penyelesaian proyek?

d. Membuat perkiraan jadwal yang paling efektif dari segi ekonomi e. Mengusahakan kestabilan seminimal mungkin dalam penggunaan

sumber dayanya (Herjanto, 2007).

2.7.2. Simbol-Simbol pada Network Planning

Dalam suatu diagram jaringan kerja diperlukannya penjelasan mengenai dasar korelasi antar simbol yang ada dengan tujuan agar dapat membaca dengan baik dan jelas (Rani, 2016). Berikut adalah Simbol-simbol nya:

(13)

a. Anak Panah (Arrow)/Kegiatan (Activity)

Anak panah menggambarkan suatu kegiatan (activity). Kegiatan yang mengikuti atau mendahului kegiatan dapat diketahui dengan arah anak panah yang menunjukkan arah kegiatan. Ada 3 macam anak panah :

: Kegiatan biasa disimbolkan dengan anak panah biasa

: Kegiatan kritis disimbolkan dengan anak panah bewarna merah.

: Kegiatan dummy disimbolkan dengan bentuk anak panah putus-putus. Jika dua kegiatan dimulai dan berakhir dari sampul yang sama maka hal tersebut penyebab terjadinya dummy. Yang mana tidak membutuhkan sumber daya ataupun waktu penyelesaian sebagai penghubung merupakan fungsi dari dummy.

b. Lingkaran kecil (node)/ peristiwa (event)

Pada umumnya ditandai dengan nomor kejadian atau kode angka yang merupakan suatu kejadian dengan definisi sebagai pertemuan dari permulaan atau akhir atau pertemuan dari beberapa kegiatan. Berikut merupakan beberapa nama yang dipakai dalam pengertian network planning, adalah sebagai berikut:

a. NMT : Network Management Technique

b. PERT : Program Evalution and Riview Technique c. CMD : Chart Method Diagram

d. CPA : Critical Path Analysis

(14)

e. PEP : Program Evalution Procedure f. CPM : Critical Path Method

2.8. Critical Path Method (CPM)

Waktu yang tidak tepat dalam suatu pekerjaan yang termasuk dalam pekerjaan kritis akan mengakibatkan suatu proyek mengalami keterlambatan sehingga memerlukan perhatian khusus yang dikarenakan mundurnya waktu selesai proyek (Rani, 2016). Pekerjaan yang termasuk non kritis menjadi pekerjaan yang kritis ditandai dengan kemungkinan relokasi sumber daya yang memiliki slack sama dengan nol (0), sehingga sangat perlu diperhatikan dalam hal ini. Yang merupakan perhitungan dengan cara tertentu dalam suatu network serta dapat menggunakan software adalah CPM. Dalam pengawasan, dilaksanakan serta direncanakannya sebuah proyek merupakan suatu yang bermanfaat jika menggunakan metode ini. Agar jadwal lebih mudah untuk dikelola yang mana pada umumnya jadwal pada proyek besar memiliki jadwal yang terbilang besar. Oleh karena itu, dilakukan penjadwalan dengan ukuran kecil, dengan menggunakan CPM secara sederhana.

Dewasa kini, jika hanya menghitung durasi pekerjaan dan ketergantungan pada penjadwalan saja tidak cukup. Suatu proyek yang memperhitungkan dalam penjadwalannya dengan faktor-faktor yang ada dan semakin bertambah merupakan penyebabnya. Waktu pada penjadwalan proyek merupakan salah satu faktornya.

Dengan demikian, untuk mengatasi permasalahn yang ada terdapat banyak perkembangan dalam metode-metode yaitu salah satunya metode lintasan kritis.

Lintasan kritis adalah penentu penyelesaian proyek yang berupa waktu atau durasi yang mana penting adanya dalam suatu pengelolaan proyek . Terjadinya penundaan suatu proyek selesai disebabkan karena adanya keterlambatan tugas yang termasuk pekerjaan lintasan kritis, karena pekerjaan non-kritis tidak dapat menunda selesaianya suatu proyek pada keterlambatan tugas pekerjaan.

Menurut Syafriandi,dkk (2017), dalam merencanakan serta mengawasi proyek merupakan suatu metode yang disebut CPM, yang mana menggunakan prinsip pembentukan jaringan yang sering digunakan dalam proyek diantara semua

(15)

metode lain yang serupa. Dengan metode CPM, total durasi yang diperlukan dalam penyelesaian berbagai tahap proyek dikatakan dan dipastikan tepat dan sesuai, demikian pula korelasi antara sumber yang dipakai dengan waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaian suatu proyek.

Dengan menambahkan sumber daya tenga kerja, alat, serta modal kegiatan tertentu, umur proyek diasumsikan dapat disingkat dengan menggunakan CPM.

Jika tidak ada ketentuan, pelaksanaan waktu kegiatan dipastikan berada pada kondisi "Normal", pada kondisi normal waktu pelaksanaan disebut waktu normal (Tn). Biaya melaksanakan suatu pekerjaan pada kondisi normal disebut biaya normal (Cn). Waktu normal dapat dikurangi dengan menambahkan tenaga kerja atau kerja lembur. Dalam hal ini, dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka adanya penambahan biaya juga. Waktu normal (Tn) biasanya merupakan kurun waktu yang panjang untuk suatu kegiatan sedangkan biaya normal (Cn) adalah biaya paling ekonomis (Syafriandi,dkk ,2017).

Gambar 2.3 Hubungan antara Biaya-Waktu pada Keadaan Normal (Sumber: Soeharto,1999)

(16)

Gambar 2.4 Hubungan antara Biaya-Waktu pada Keadaan Crash (Sumber: Soeharto,1999)

Gambar 2.5 Hubungan antara Biaya-Waktu pada Keadaan Normal dan Crash (Sumber: Soeharto,1999)

Kegiatan dikatakan Crashed, jika kegiatan dapat dilaksanakan cepat dengan seluruh sumber daya yang dimiliki proyek yang mana dikerahkan. Biaya terbesar dengan waktu yang cepat merupakan korelasi keterkaitan kondisi crashed. Dalam kondisi crashed waktu dilaksanakan kegiatannya disimbolkan (Tc), dan untuk biayanya (Cc). Dalam gambar yang menujukkan garis yang saling berhubungan dua titik disebut Cost Slope yang mana setiap masing-masing aktivitas memiliki cost- slope tersendiri.

Cc dan Cn merupakan biaya crash dan biaya normal (biaya crashed > biaya normal), Tn dan Tc merupakan waktu normal dan waktu crash (waktu normal >

waktu crashed) untuk kegiatan yang sama. Jika ada aktivitas pekerjaan yang

(17)

dilakukan percepatan, maka memiliki biaya yang besar perwaktunya yang ditunjukkan dengan kemiringan cost slope.

Kegiatan dapat dimulai setelah kegiatan sebelumnya sudah selesai (predecessor) dengan menggunakan asumsi dalam pengerjaannya. Dengan parameter kurva S proyek, dapat mengetahui data kegiatan predecessor. Dengan menggambarkan anak panah pada jaringan CPM, dapat menyusun korelasi keterkaitan antar kegiatan dan bentuk lingkaran sebagai aktivitas pekerjaan. Yang digunakan adalah persamaan sebagai berikut :

𝐸𝐸𝑇𝑗 = (𝐸𝐸𝑇𝑖 + 𝐷𝑖𝑗) 𝑚𝑎𝑥 ... (2.1) Dimana:

𝐸𝐸𝑇𝑖 : paling cepat waktu mulai dari event i 𝐸𝐸𝑇𝑗 : paling cepat waktu mulai dari event j

𝐷𝑖𝑗 : durasi dalam pelaksanaan kegiatan antara event i dan event j

Berikut langkah untuk perhitungan EET dengan menggunaka parameter pada Gambar 2.3:

1. Menentukan nomor aktivitas dari kiri ke kanan, yang dimulai dari kegiatan nomor 1 berurutan sampai dengan nomor yang maksimal.

2. Menentukan nilai EET i pada aktivitas nomor 1 (paling kiri) dengan angka awal yaitu nol.

3. Melakukan perhitungan nilai EET j aktivitas selanjutnya dengan memakai persamaan 2.1. Jika sebagain aktivitas termasuk dalam dummy yang dibatasi oleh aktivitas yang sama, maka nilai EET j diambil yang optimum.

Gambar 2.6 Critical Path Method (Sumber: Luthan dkk, 2017)

(18)

Dari hasil perhitungan maju, selanjutnya memasukkan pada kolom atas di dalam yang berbentuk lingkaran, dapat dilihat contoh pada Gambar 2.6. Dari menghitung mundur, didapat hasil yang nantinya diisi pada kolom bawahnya yang mana perhitungan mundur dimulai dari hari terakhir proyek dilaksanakan atau yang terletak pada ujung kanan. Menggunakan perhitungan LET dalam perhitungan mundur, yang mana LET merupakan akhir durasi kegiatan suatu proyek.

𝐿𝐸𝑇𝑖 = (𝐿𝐸𝑇𝑗 + 𝐷𝑖𝑗) 𝑚𝑖𝑛 ... (2.2) Dimana:

𝐿𝐸𝑇𝑖 : paling lambat waktu mulai dari event i 𝐿𝐸𝑇𝑗 : paling lambat waktu mulai dari event j

𝐷𝑖𝑗 : durasi dalam pelaksanaan kegiatan antara event i dan event j Langkah-langkah menghitung LET :

1. Menentukan kegiatan paling kanan atau terakhir untuk nilai LET sesuai dengan nilai EET.

2. Melakukan perhitungan nilai LET dari kanan ke kiri dengan persamaan 2.2 di atas.

3. Jika memiliki lebih dari satu aktivitas (termasuk dummy) maka memilih LET yang minimum.

Dalam metode CPM pada proyek ada yang disebut batas toleransi keterlambatan yang dikenal dengan istilah kurun waktu kegiatan (activity float), yang mana memiliki berbagai jenis, yaitu total float (TF), free float FF) dan independent float (IF).

a. Total Float adalah boleh ditundanya suatu aktivitas dengan jumlah waktu yang diperkenankan, tanpa mempengaruhi keseluruhan jadwal penyelesaian proyek (Soeharto, 1999). Nilai Total Float memiliki rumus sebagai berikut:

𝑇𝐹 = 𝐿𝐸𝑇𝑗− 𝐸𝐸𝑇𝑖 − 𝐷 ... (2.3) Dimana:

𝑇𝐹 : Total float

𝐸𝐸𝑇𝑖 : paling cepat waktu mulai dari event i

(19)

𝐿𝐸𝑇𝑗 : paling lambat waktu mulai dari event j 𝐷 : durasi dalam pelaksanaan aktivitas

b. Free float merupakan seluruh peristiwa yang terdapat pada jaringan kerja tidak mempengaruhi waktu mulai dari kegiatan berikutnya, sehingga dapat ditunda sesuai total waktu penyelesaian kegiatan proyek tersebut. (Soeharto, 1999). Rumus Free Float adalah :

𝐹𝐹 = 𝐸𝐸𝑇𝑗− 𝐸𝐸𝑇𝑖 − 𝐷 ... (2.4) Dimana:

𝐹𝐹 : Free float

𝐸𝐸𝑇𝑖 : paling cepat waktu mulai dari event i 𝐸𝐸𝑇𝑗 : paling cepat waktu mulai dari event j

𝐷 : durasi dalam pelaksanaan suatu aktivitas

c. Independent float adalah suatu kegiatan yang tidak berpengaruh pada keseluruhan penyelesaian proyek jika dilakukan pergeseran atau dijadwalkan kembali. (Soeharto, 1999).

𝐼𝐹 = 𝐸𝐸𝑇𝑗− 𝐷 − 𝐿𝐸𝑇𝑖 ... (2.5) Dimana:

𝐼𝐹 : Independent float

𝐸𝐸𝑇𝑗 : paling cepat waktu mulai dari event j 𝐷 : durasi dalam pelaksanaan aktivitas 𝐿𝐸𝑇𝑖 : paling lambat waktu mulai dari event i

2.9. Presedence Diagram Method (PDM)

Jaringan kerja yang berbentuk segi empat dalam node merupakan jenis jaringan kerja PDM, kemudian fungsi sebagai penunjuk korelasi antara masing- masing aktivitas yang berkaitan disimbolkan anak panah. Maka dari itu, PDM sering dikatakan sebagai AON (Activity On Node). PDM memiliki perhitungan yang pada umumnya terdiri dari 2 bagian, antara lain:

(20)

a) Forward Analysis (perhitungan ke depan) agar dapat ditentukan Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (FS).

b) Backward Analysis (perhitungan ke belakang) agar dapat ditentukan Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF).

Dalam diagram PDM bentuk nodenya adalah sebagai berikut:

Dimana:

𝐸𝑆 : Earliest Start 𝐸𝐹 : Earliest Finish 𝐿𝑆 : Latest Start 𝐿𝐹 : Latest Finish

Gambar 2.7 Diagram Presedence Diagram Method (PDM) (Sumber: Luthan dkk, 2017)

Beberapa jalur kritis ditandai dengan kegiatan yang mengalami diantaranya sebagai berikut :

a. Earliest Start (ES) = Latest Start (LS) b. Earliest Finish (EF) = Latest Finish (LF)

c. Latest Finish (LF) = Earliest Finish (EF) = Durasi

Sedangkan float pada Presedence Diagram Method (PDM) dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

a. Total Float (TF) = Min (LS-EF) b. Free Float (FF) = Min (ES-EF)

2.10. Mempercepat Waktu Penyelesaian Proyek

Untuk menyelesaikan proyek dengan durasi yang lebih singkat dari rencana jadwal yang telah ditentukan (crashing), perlu dilakukannya percepatan waktu

(21)

penyelesaian proyek. Crashing adalah aktivitas kegiatan yang berada pada lintasan kritis yang mana di pusatkan dalam melakukan pengujian dari seluruh aktivitas kegiatan suatu proyek, dengan melakukan suatu proses baik yang disengaja, sistematis, dan analitik (Ervianto, 2004).

Harus mengetahui terlebih dahuu lintasan kritis dalam suatu proyek sebelum melakukan crashing, dengan digunakannya bantuan network planning. Dengan memperlihatkan lintasan kritis bisa membantu dalam menentukan suatu kegiatan kritis yang mana nantinya akan dilakukannya crashing/ durasinya dipercepat.

Terdapat dua faktor dilakukan crashing yang dijadikan alasan dilakukannya percepatan. Pertama, perlu dilakukan pengerjaan sistem paling cepat agar mencapai target awal selesainya suatu proyek, yang disebabkan adanya keterlambatan. Faktor kedua, diharapkan selesai dengan segera serta waktu yang singkat karena merupakan perjanjian kontrak di awal.

2.10.1. Melaksanakan Percepatan Durasi

Dalam pelaksanaan suatu percepatan suatu aktivitas dapat dioptimumkan dengan percepatan durasi sebagai berikut.

a. Menambahkan Jam Kerja (lembur)

Dengan jumlah sumber daya yang sama, kerja lembur dapat dilakukan dengan menambahkan jam kerja tanpa adayan penambahan tenaga kerja.

Untuk meningkatkan produksi selama satu hari dengan tujuan penyelesaian proyek lebih cepat dilakukan dengan menambahkan jam kerja. Perlu diperhatikan seorang bekerja berapa lama jika ingin dilakukan penambahan jam kerja, karena dapat mengakibatkan produktivitas pekerja menurun jika pekerja terlalu lelah. Berikut dengan jumlah sumber daya yang tetap dan untuk penambahan kerja lembur memiliki nilai penurunan produktivias yang disajikan pada Gambar 2.8.

(22)

Gambar 2.8 Grafik indikasi menurunnya produktivitas karena kerja lembur (Sumber: Soeharto,1999)

b. Pelaksanaan Penambahan Tenaga Kerja

Penambahan tenaga kerja dapat diartikan dengan melakukan suatu kegiatan dengan tidak melakukan penambahan jam kerja. Akan tetapi, untuk setiap pekerjaan menambahkan jumlah pekerja untuk melakukan suatu kegiatan. Jumlah yang optimum dalam menambahkan tenaga kerja adalah tujuan dalam menaikkan suatu produktivitas pekerjaan, akan tetapi produktivitas akan menurun seiring dengan penambahan yang berlebihan dikarenakan berbagai jenis kondisi, seperti sulitnya dalam pengawasan dan sempitnya lahan untuk bekerja sehingga kurang leluasa pada suatu proyek.

c. Penambahan atau Pergantian Alat

Meningkatkan produktivitas daat dilakukan dengan menambahkan alat.

Namun, perlu diperhatikan juga ketersediaan lahan yang luas agar peralatan memiliki tempat yang sesuai dan juga akan ada peningkatan biaya langsung untuk mobilitas dan demobilitas pada alat serta dampaknya pada produktivitas yang dimiliki tenag kerja. Durasi proyek dapat dipersingkat dengan menggantikan alat yang mempunyai produktivitas yang lebih tinggi.

d. Penggunaan Metode Konstruksi yang Efektif

Kadar kemahiran untuk pelaksana sangat mempunyai korelasi yang kuat pada sistem kerja dan metode konstruksi yang digunakan serta tersedianya resource yang dibutuhkan. Metode konstrukstif yang efektif dan

(23)

efisien juga sesuai dalam mempersingkat waktu finishing aktivitas yang saling berkaitan (Fardila & Nur, 2020).

2.10.2. Hubungan Waktu dan Biaya

Berkurangnya durasi aktivitas kegiatan akan terjadi dengan dilakukannya percepatan proyek. Biaya langsung dan biaya tidak langsung jika dijumlahkan merupakan biaya total proyek yang dikeluarkan suatu proyek. Lamanya waktu dilaksanakannya proyek sangat menentukan banyaknya biaya total. Walaupun tidak dapat diperhitungan dengan suatu rumus, akan tetapi waktu dan kemajuan suatu proyek akan merubah kedua biaya tersebut. Namun, umumnya semakin lama durasi proyek berjalan, makin tinggi kumulatif biaya tidak langsung yang dibutuhkan (Soeharto, 1999). Hubungan biaya langsung, biaya tak langsung, serta biaya total ditunjukkan pada Gambar di bawah ini, dalam bentuk suatu grafik. Yang mana memperlihatkan bahwa biaya optimal didapat dengan menemukan total biaya proyek yang terkecil.

Gambar 2.9 Grafik hubungan biaya total, biaya tidak langsung, biaya langsung dan waktu

(Sumber: Soeharto,1999)

Biaya yang ditanggung akan jauh lebih besar jika menggunakan crash schedule, dibandingkan dengan biaya pada normal schedule. Akan dipilih kegiatan apa saja yang termasuk lintasan kritis dalam crash schedule dengan tingkat kemiringan terkecil untuk dilakukan percepatan pada pelaksanaannya.

(24)

Gambar 2.10 Grafik hubungan waktu-biaya normal dan dipersingkat untuk suatu kegiatan

(Sumber: Soeharto,1999)

Gambar di atas menunjukan suatu hubungan keterkaitan antara waktu dan biaya, Titik A memperlihatkan kondisi normal, sedangkan titik B memperlihatkan kondisi dipercepat. Kurva waktu biaya adalah garis yang menghubungkan titik-titik tersebut. Menurut Soeharto (1999), seandainya dapat mengetahui bentuk kurva waktu biaya suatu aktivitas kegiatan, maka slope dapat diketahui atau sudut kemiringannya, sehingga dapat memperhitungkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk memangkas waktu dalam satu hari. Dengan menambahkan biaya langsung (direct cost) guna mempercepat suatu aktivitas per satuan waktu disebut cost slope. Perumusan cost slope adalah sebagai berikut (Husen, 2017) :

𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑆𝑙𝑜𝑝𝑒 = 𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝑐𝑜𝑠𝑡−𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡

𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝑡𝑖𝑚𝑒−𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝑡𝑖𝑚𝑒 ... (2.6)

Dalam suatu jaringan kerja, memiliki dua nilai waktu yang menunjukkan masing-masing aktivitas saat dilakukan percepatan (Priyo dan Paridi, 2018) yaitu:

a. Normal Duration

Waktu yang diperlukan dalam sebuah proyek, tanpa dilakukannya penambahan biaya yang lain dengan sumber daya normal yang ada untuk melakukan penyelesaian suatu kegiatan.

b. Crash Duration

(25)

Waktu yang diperlukan suatu proyek dalam usaha mempersingkat waktu yang mana hasil analisa nya adalah durasinya lebih singkat dari durasi normal.

c. Normal Cost

Dalam waktu normal terdapat biaya yang dikeluarkan dengan penyelesaian proyek. Biaya ini diperkirakan pada waktu perencanaan serta penjadwalan sekaligus dilakukan saat menentukan waktu normal.

d. Crash Cost

Dalam jangka waktu sesuai besar durasi percepatannya dengan penggunaan biaya yang ada pada pelaksanaan aktivitas. Pekerjaan akan lebih cepat selesai karena terpacu dengan biaya ini. Biaya normal lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya crash yang menjadi lebih besar. Oleh karena itu, waktu yang lebih singkat dari waktu normal merupakan akibat terjadinya crash cost.

Dalam meningkatkan produktivitas kerja, dilakukan pelaksanaaan percepatan durasi proyek yang mengakibatkan terjadi peningkatan biaya langsung (direct cost).

2.11. Analisis Pertukaran Biaya dan Waktu (Time Cost Trade Off)

Untuk dilakukan percepatan durasi ada alasan yang dijadikan dasar dari sebuah proyek. Adanya penyebab yang mungkin terjadi karena alasan tidak terduga seperti halnya faktor cuaca, salah dalam merancang sejak awal, rusak nya mesin dan gagalnya suatu konstruksi. Akan tetapi, besarnya biaya yang muncul akibat dilakukannya pengurangan waktu proyek, terjadi peningkatan dibandingkan dengan biaya pada rencana awal. Namun, tetap diusahakan agar biaya yang bertambah seminimal mungkin dalam proses dilakukannya percepatan penyelesaian proyek. Aktivitas yang termasuk lintasan kritis merupakan aktivitas kegiatan yang dapat dilakukan penekanan waktu. Karena waktu penyelesaiyan proyek tidak berkurang jika dilakukan penekanan terhadap kegiatan yang tidak termasuk dalam lintasan kritis. Pada lintasan kritis, aktivitas pekerjaan yang memiliki cost slope yang rendah dilakukan lebih dahulu penekanannya. Langkah-

(26)

langkah dalam memangkas waktu penyelesaian proyek yaitu akan dijelaskan lebih rinci sebagai berikut:

a. Perhitungan durasi penyelesaian proyek serta dilakukan penentuan biaya normal pada setiap aktivitas kegiatan.

b. Dilakukan perhitungan crash duration pada setiap aktivitas pekerjaan.

c. Dilakukan perhitungan crash cost pada setiap aktivitas pekerjaan.

d. Memilih cost slope pada setiap elemen aktivitas pekerjaan.

e. Durasi kegiatan dipersingkat, yang dimulai dari aktivitas pekerjaan yang memiliki cost slope terendah dan termasuk dalam kegiatan kritis.

f. Dilakukan pemangkasan durasi lagi terhadap aktivitas kegiatan yang memiliki kombinasi biaya terendah slope jika jalur kritis terbentuk baru dalam hal perhitungan percepatan waktu proyek.

g. Dilakukan penekanan kembali dalam memangkas durasi hingga aktivitas kegiatan berada pada lintasan kritis yang telah jenuh.

h. Disajikan dalam Gambar dengan bentuk grafik hubungan biaya dan waktu pada sumbu horisontal yang mana menunjukkan durasi proyek dan sumbu vertikal menunjukkan biaya proyek.

i. Digambarkan pada grafik, hasil perhitungan biaya langsung dan tidak langsung pada proyek.

j. Dalam mencari total biaya selama kurun waktu yang diinginkan dapat menjumlahkan biaya langsung dan biaya tak langsung.

k. Periksa agar tercapainya durasi optimal dalam kurun waktu penyelesaian proyek dengan biaya terendah yang ada pada grafik biaya total (Soeharto, 1999).

Apabila durasi untuk menyelesaikan suatu proyek dengan percepatan, maka biaya proyek akan bertambah besar (Sulistyo dan Fikri, 2021). Dalam pelaksanaan suatu percepatan suatu aktivitas dapat dioptimumkan dengan percepatan durasi sebagai berikut :

1) Manambahkan Jam Kerja (Kerja Lembur)

Dengan jumlah sumber daya yang sama, kerja lembur dapat dilakukan dengan menambahkan jam kerja tanpa adayan

(27)

penambahan tenaga kerja. Untuk meningkatkan produksi selama satu hari dengan tujuan penyelesaian proyek lebih cepat dilakukan dengan menambahkan jam kerja. Perlu diperhatikan seorang bekerja berapa lama jika ingin dilakukan penambahan jam kerja, karena dapat mengakibatkan produktivitas pekerja menurun jika pekerja terlalu lelah.

2) Dilakukan Penambahan Tenaga Kerja

Penambahan tenaga kerja dapat diartikan dengan melakukan suatu kegiatan dengan tidak melakukan penambahan jam kerja. Akan tetapi, untuk setiap pekerjaan menambahkan jumlah pekerja untuk melakukan suatu kegiatan. Jumlah yang optimum dalam menambahkan tenaga kerja adalah tujuan dalam menaikkan suatu produktivitas pekerjaan, akan tetapi produktivitas akan menurun seiring dengan penambahan yang berlebihan dikarenakan berbagai jenis kondisi, seperti sulitnya dalam pengawasan dan sempitnya lahan untuk bekerja sehingga kurang leluasa pada suatu proyek.

3) Pergantian atau Penambahan Peralatan

Meningkatkan produktivitas daat dilakukan dengan menambahkan alat. Namun, perlu diperhatikan juga ketersediaan lahan yang luas agar peralatan memiliki tempat yang sesuai dan juga akan ada peningkatan biaya langsung untuk mobilitas dan demobilitas pada alat serta dampaknya pada produktivitas yang dimiliki tenag kerja.

Durasi proyek dapat dipersingkat dengan menggantikan alat yang mempunyai produktivitas yang lebih tinggi.

4) Pemilihan Sumber Daya Manusia yang Berkualiatas

Aktivitas akan lebih cepat selesai dengan cara memperkerjakan pekerja yang memiliki kualitas yang mana memliki produktivitas yang baik dan tinggi. Itu merupakan maksud dari memilih sumber daya manusia yang berkualitas.

5) Penggunaan Metode Konstruksi yang Efektif

(28)

Metode konstruksi berkaitan erat dengan sistem kerja dan tingkat penguasaan Kadar kemahiran untuk pelaksana sangat mempunyai korelasi yang kuat pada sistem kerja dan metode konstruksi yang digunakan serta tersedianya resource yang dibutuhkan. Metode konstrukstif yang efektif dan efisien juga sesuai dalam mempersingkat waktu finishing aktivitas yang saling berkaitan (Fardila & Nur, 2020).

sektor pekerja pagi dengan sore berbeda dengan sektor pekerja sore hingga malam hari dilakukan dengan cara giliran shift yang mana dilaksanakan secara kombinasi, contohnya penambahan tenaga kerja serta menambahkan jam kerja.

Adapun cara yang dilakukan secara terpisah misalkan, hanya dilakukan penambahan jam lembur saja seperti pada tugas akhir ini dengan batasan masalah yang difokuskan hanya dalam hal tersebut. Yang mana perhitungan dengan pertukaran waktu dan biaya (Time Cost Trade Off) memberikan opsinal terhadap perencana proyek. Dengan menambahkan biaya yang paling optimal dengan alokasi sumber daya yang diinginkan diperlukan tugas sumber daya yang diselesaikan agar efisien dan dapat menyusun perencanaan yang paling baik agar usaha mengoptimalkan waktu dan biaya pada penyelesaian suatu proyek, terlaksana dengan baik (Sulistyo dan Fikri, 2021).

Berdasarkan estimasi waktu yang wajar serta realistis sangan diharpkan saat menyusun sebuah schedule proyek konstruksi. Dengan melakukan perhitungan analisa time cost trade off merupakan suatu cara dilakukan percepatan durasi proyek. Suatu pekerjaan yang memiliki pengaruh pada penyelesaian waktu proyek dilakukan reduksi. Time Cost Trade Off merupakan cara melakukan pengujian pada proyek di setiap aktivitas pekerjaannya yang dipusatkan pada kegiatan. Kemudian dilakukan penekanan waktu dimulai pada aktivitas pekerjaan yang memiliki nilai cost slope terendah dan termasuk ke dalam lintasan kritis. Penekanan dilakukan terus menerus hingga mencapai kejenuhan pada aktivitas di lintasan kritis (Ervianto, 2004).

(29)

2.12. Microsoft Project

Menurut Luthan dan Syafriandi (2017) Microsoft Project digunakan pada sebuah proyek khususnya proyek konstruksi yang mana merupakan aplikasi program yang digunakan untuk pembuatan penjadwalan. Pada kegiatan manajemen sesuai dengan tujuan sebuah proyek, dalam hal ini proses kegiatan manajemen dapat merubah input menjadi output. Biaya, material atau bahan, alat/mesin merupakan hal yang termasuk ke dalam Input. Dalam mengambil sebuah keputusan perlu dipertimbangkan dengan informasi yang didapat agar selanjutnya diproses dan mendapatkan suatu hasil yang sangat maksimal, yang mana perlu adanya pengendalian, merencanakan serta pengkordiniran. PDM (Presedence Diagram Method), TCTO (Time Cost Trade Off), dan Gantt Chart merrupakan macam- macam metode yang terdapat pada suatu manajemen proyek. Oleh karena itu, dari ketiganya dapat digabungkan menggunakan aplikasi yaitu Microsoft Project.

Dalam aplikasi ini juga, mencatat serta melakukan pemantauan pada sumber daya (resource) baik berupa material, perlatan serta sumber daya manusia yang mana aplikasi Microsoft Project dapat membantu dengan maksimal selama proyek berjalan (Luthan dan Syafriandi, 2017).

Dalam Microsoft Project memiliki beberapa tujuan dalam melakukan penjadwalan yaitu, sebagai berikut:

1. Durasi pada pekerjaan proyek dapat diketahui.

2. Durasi dapat dijadikan durasi optimum.

3. Jadwal yang telah dibuat dapat dilakuakn pengendalian.

4. Macam-macam sumber daya (resources) yang dipakai dapat dialokasikan.

Tampilan layar pada program Microsoft Project mempunyai beberapa jenis, akan tetapi setiap membuka file baru yang mana dilakukan sebagai default, yang akan muncul pada tampilan layarnya adalah Gantt Chart View.

(30)

Gambar 2.11 Tampilan Gantt Chart View Microsoft Project (Sumber: Penulis)

1. Task

Task merupakan bentuk lembar kerja salah satu tampilan yang terdapat dalam Microsoft Project yang berupa rincian pekerjaan suatu proyek.

2. Duration

Untuk menyelesaikan suatu aktivitas pekerjaan yang ada, sangat dibutuhkan jangka waktu yang mana disebut duration

3. Start

Start adalah durasi kapan dimulainya suatu pekerjaan berdasarkan perencanaan jadwal pada proyek.

4. Finish

Finish dalam Microsoft Project merupakan tanggal akhir aktivitas pekerjaan, yang mana dalam pengisiannya terlaksana secara otomatis dari perhitungan tanggal mulai (start) dengan mengacu pada lamanya pekerjaan (duration).

5. Predecessor

Korelasi keterkaitan antara satu aktivitas pekerjaan dengan aktivitas pekerjaan lain disebut dengan predecessor. Terdapat 4 jenis korelasi keterkaitan yang ada pada Microsoft Project, yaitu :

(31)

a. FS (Finish to Start). Suatu aktivitas baru diperbolehkan mulai jika aktivitas yang lain selesai.

b. FF (Finish to Finish). Suatu aktivitas harus selesai bersamaan dengan selesainya aktivitas lain.

c. SS (Start to Start). Suatu aktivitas harus dimulai bersamaan dengan aktivitas lain.

d. SF (Start to Finish). Suatu aktivitas baru boleh diakhiri jika aktivitas lain dimulai.

Gambar 2.12 Hubungan keterkaitan antar pekerjaan (Sumber: Luthan dkk, 2017)

6. Resources

Yang dimaksud dengan resources adalah sumber daya, baik yang merupakan sumber daya manusia maupun material dalam aplikasi Microsoft Project.

7. Baseline

Baseline merupakan perencanaan jadwal ataupun biaya yang telah melakukan persetujuan dan telah ditetapkan.

8. Gantt Chart

Gantt Chart adalah bentuk tampilan dari Microsoft Project salah satu yang berupa batang-batang bentuk horisontal yang setiap aktivitas digambarkan beserta waktu durasinya.

9. Tracking

(32)

perencanaan yang dibuat oleh proyek dengan dilakukan pengisian data yang ada di lapangan merupakan definis dari Tracking.

2.12.1. Langkah-Langkah Mengolah Data Microsoft Project

Berikut ini merupakan langkah-langkah input data dalam Microsoft Project secara ringkas yaitu :

1. Menuliskan keterangan pekerjaan ke dalam kolom task name.

2. Mengatur jam kerja harian dengan memilih bar tools>change working time. Kemudian klik Work Weeks>Details. Pada kolom Select day(s), pilih hari yang akan diganti jam kerjanya, kemudian atur waktunya pada kolom set day(s) to these specific working times.

3. Mengatur hirarki kegiatan dengan cara memblok beberapa pekerjaan kemudian klik Project>Outline>Indent.

4. Menuliskan durasi tiap pekerjaan ke dalam kolom duration. Kemudian pada kolom predecessors , diatur hubungan antar pekerjaan sesuai dengan rencana proyek.

5. Menampilkan kegiatan kritis dengan cara pada bar gantt chart tools, klik format, kemudian pada kolom bar styles, beri tanda centang pada pilihan critical tasks. Akan terlihat kegiatan yang berbeda warna pada tampilan gantt chart. Dalam mode default, tampilan berwarna merah merupakan tampilan kegiatan yang berada pada lintasan kritis (Luthan dan Syafriandi, 2017).

Gambar

Gambar 2.1 Langkah-langkah Proses Pengendalian Kinerja  (Sumber : Dipohusodo,1996)
Gambar 2.2 Kurva S atau Hannum Curve   (Sumber: Husen,2011)
Gambar 2.3 Hubungan antara Biaya-Waktu pada Keadaan Normal   (Sumber: Soeharto,1999)
Gambar 2.4 Hubungan antara Biaya-Waktu pada Keadaan Crash  (Sumber: Soeharto,1999)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penjadwalan dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk menentukan aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek dalam urutan serta kerangka waktu

Pada pengukuran kerja secara langsung dimana setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dengan lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.. Pengukuran ini dapat

Pengukuran waktu kerja merupakan usaha untuk mengetahui berapa lama yang dibutuhkan operator dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan wajar dan dalam rancangan sistem

Waktu penyelesaian pekerjaan adalah durasi waktu yang ditempuh dalam menyelesaikan semua volume pekerjaan dengan kata lain bahwa waktu penyelesaian pekerjaan dalam penelitian ini

Sedangkan hambatan-hambatan pelaksanaan VE pada Industri Konstruksi di Amerika Utara adalah butuh waktu terutama untuk proyek kecil sehingga penghematan yang dilakukan

Penjadwalan proyek memiliki pengertian sebagai durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian aktivitas kerja yang ada dalam kegiatan

demikian secara umum proyek Rugi. Jika waktu pelaksanaan mundur/terlambat, sementara tidak ada rencana penambahan anggaran, maka mutu pekerjaan juga akan

Penjadwalan proyek memiliki pengertian sebagai durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian aktivitas kerja yang ada dalam kegiatan