• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rethinking Typology by Suwardana Winata

N/A
N/A
Validitayogi

Academic year: 2022

Membagikan "Rethinking Typology by Suwardana Winata"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Re-thinking Typology.

Ditulis oleh Ar. Suwardana Winata, IAI

Tipologi adalah ilmu yang sudah “lama” dalam dunia Arsitektur. Ilmu ini berkembang dari konsep pemikiran pada dunia biologi yaitu genealogy. Keduanya berusaha mengklasifikasikan sesuatu hanya genealogy kemudian membuat klasifikasi berdasarkan turunan (inherit), sedangkan tipologi mengklasifikasikan berdasarkan tipe-tipe tertentu. Tipe-tipe ini merupakan kumpulan dari berbagai dokumentsi di bangsa-bangsa Eropa yang pada waktu itu memiliki kebudayaan pembangunan (arsitektur) yang maju terutama di Italia. Antonie Laugier, Quatremère de Quincy, Jean Nicolas Louis Durand, Aldo Rossi, Rafael Moneo dan Anthony Vidler adalah tokoh-tokoh yang mengembangkan ide atau konseptual tipologi yang kemudian menjadi teori yang digunakan dalam pendidikan Arsitektur.

Typology tidak dapat dilepas dari tiga kata yang sering disebut dalam dunia arsitektur yaitu Archetype, Proto-type dan stereotype. Dalam perkembangan budaya manusia, arsitektur adalah karya yang selalu dieksperimentasikan agar dapat memenuhi kebutuhan manusia akan wadah beraktivitas.

Laugier memunculkan ide dari yang kenal saat ini yaitu rumah yang disebutkan sebagai primitive hut.

Bentuk dan pengertian dari Primitive hut ini menjadi sebuah archetype bagi rumah (bahkan sampai saat ini masih digunakan).Citra dari primitive hut ini terus direproduksi dan “di-copy” terus menerus dan secara massif, sehingga saat ini bila seorang anak diminta menggambar maka gambaran bentuk segitiga yang berada diatas sebuah bujursangkar dan memiliki pintu ditengah dan diapit oleh dua jendela merupakan archetype yang tertanam dibenak semua manusia, paling tidak dibenak anak-anak.

Archetype ini kemudian juga digunakan untuk signage yang menyatakan anda sedang melintasi kawasan perumahan yang dipasangkan dengan warna kuning dan dipasang dalam bentuk wajik yang merupakan pernyataan hati-hati. Archetype adalah hal yang paling dekat dengan manusia, karena tumbuh dan berkembang dengan kebudayaan manusia. Manusia sebelum “menemukan” archetype sebelumnya membuat berbagai percobaannya yang disimpulkan menjadi sesuatu yang disebut dengan prototype.

Protoype ini kemudian ketika dicoba berulang kali dan kemudian diterima oleh suatu masyarakat (society) berubah menjadi archetype atau bisa menjadi stereotype. Sepeda (bicycle1) adalah contoh dari prototype yang kemudian menjadi steretotype kendaraan beroda dua apapun penggeraknya.

Perkembangan ilmu tentang tipe atau dikenal dengan tipologi atau ilmu yang mempelajari hal- hal yang terkait dengan tipe, berkembang terus seiring dengan kebutuhan (kebudayaan) manusia.

Banyak percobaan arsitektur yang kemudian dinyatakan sebagai tipe misalnya ruko kependekkan dari Rumah dan toko. Ini adalah salah satu tipologi bangunan komersial yang berkembang dari kebutuhan masyarakat yang ingin berdekatan dengan sumber penghasilannya (toko) demi masalah efisiensi waktu dan jarak serta keamanan. Tipologi ruko ini kemudian berkembang dengan berbagai macam bentuknya yang meyesuaikan dengan konteks kejamanannya. Ruko ini kemudian menjadi tipe bangunan ditengah kota yang memiliki fungsi komersial dan juga rumah tinggal umumnya berbentuk deret dan memiliki jumlah lebih dari 2 maksimum 4 lantai dan dihuni oleh single family. Perkembanganya kemudian ruko itu

1 Bicycle terbentuk dari dua kata bi yang berarti dua dan cycle yang berarti memutar benda yang digerakkan dengan cara memutar kemudaian menjadi stereotype.. Ketika bicycle digerakkan mesin kemudian disebut dengan motorcycle, yang berarti perputaran (berpengerak )yang dilakukan oleh motor.

(2)

menjadi rukan kependekkan dari rumah dan kantor. Namun hal ini juga perlu dicermati dengan hati-hati karena terkadang penyebutan fungsi terkadang tidak mencerminkan atau membentuk tipe atau tipologi suatu bangunan misalnya condotel (condominium-hotel), kostel (kost -hotel), karena secara fungsional sebenarnya sama hanya metode manajemennya berbeda. Penggunaan istilah ini terjadi dikarenakan kecermatan para marketer atau developer dalam memancing konsumennya untuk berinvestasi kedalam proyeknya dan menyiasati fungsi yang ditetapkan oleh pemerintah didalam regulasi zonasi suatu wilayah.

Perkembangan lebih lanjut adalah dengan adanya disrupsi (disruption)2 pada kebudayaan manusia yang datang terus menerus sehingga arsitektur mau tidak mau harus mengalami revolusi (lagi).

Kemampanan (establishment) menjadi barang langka dan mungkin akan lenyap, digantikan dengan perubahan yang dinamis. Disrupsi karena pandemic adalah contoh yang paling terasakan yang menyebabkan manusia dseluruh dunia dipaksa untuk bekerja dari rumah, arti kata ruang kerja (2nd place) dan ruang istirahat (1st place) menjadi hilang batasnya (batasnya berupa wawktu dan aktifitas kerja). Pandemic mungkin dapat sementara, namun diruspi akibat teknologi informasi dapat mengubah cara oang hidup salah satunya belanja. Belanja yang selama ini dilakukan pada pasar dan pusat

perbelanjaan dengan berbagai bentuknya (plaza, mall, trade center), secara pasti berevolusi menjadi belanja online, yang membuat para arsitek dan developer harus melakukan intrepretasi ulang arsitektur pusat perbelanjaan. Perubahan ini pun mewabah juga kepada fungis-fungsi lain seperti kantor sewa, ruko, pasar bahkan rumah sakit. Tipologi yang diajukan Aldo rossi dan sebelumnya termasuk Moneo perlu direinterpretasi ulang atau mungkin harus dibongkar total. Third typology yang diajukan Vidler pun juga akan mengalami hal yang sama.

Bagaimana arsitektur dapat “Kembali” beradaptasi terhadap kebutuhan manusia. Akankah arsitektur tetap menjadi pusat dari kebudayaan. Perlukah sebuah identitas pada arsitektur? Atau mungkin pertanyaan yang lebih mendasar apakah bentuk, tetap menjadi hal terpenting dalam arsitektur? Pertanyaan ini seharusnya muncul ketika arsitektur yang selama ini mewadahi kegiatan manusia (concept of living) dan kemudian dimaterialisasikan menjadi benda tangible, kemudian dihadapkan dengan “kegiatan atau aktivitas” yang mungkin saja menyederhanakan (reduction) fungsi tertentu. Contoh yang mungkin sudah terlihat adalah direct selling melalui digital market -market placedimana fungsi mall atau pasar dapat sebagian digantikan oleh system digital, dimana untuk saat ini masih menggunakan visual dan testimoni dari pengguna lainnya. Fungsi visualisasi yang dulu digunakan oleh mall atau system pusat perbelanjaan analog, digantikan dengan system informasi yang berbasiskan smartphone atau laptop. Demikian juga dengan system perbankan yang dulunya harus dilakukan melalui bank (fisik) sekarang semua dapat dilakukan melalui smartphone dan aplikasi perbankan, sehingga akibatnya ukuran bank pun (dalam bentuk gedung /arsitektur) seharusnya mengecil. Revolusi IT yang saat ini mungkin tidak lagi akan menggunakan hukum moore 3lagi, akan terus berkembang yang akan semakin kompleks dengan adanya AI. Demikian pula dengan Teknik konstruksi yang semakin “robotic”,

2 Ide disrupsi ini muncul dari para ekonom terkait dengan dunia digital yang dapat mentrasnformasikan ekonomi analog dan memiliki dampak luas terhadap cara hidup masyarakat. Seperti ketika adanya listrik, dimana manusia pada jaman sebelum ada listrik hanya dapat bekerja sebelum matahari terbenam (masyarakt agraris), ketika listrik (lampu lsitrik) ditemukan kaa ekonomi waktu itu emngalami disrupsi,jam kerja yang lebih Panjang, penemuan- penemuan baru terbantukan dengan adanya lampu, kriminalitas berkurang dan sebagainya.

3 Hukum Moore diperkirakan akan berhenti diakhir 2020 karena keterbatasan kemampuan trasnsitor terhadap ketahanan panas yang akan mungkin akan digantikan oleh sisitem neural (brain chip atau neurotransistor)..

(3)

hal ini juga dikhwatirkan oleh para arsitek yang mungkin akan kehilangan pekerjaan karena robotic ini lah yang akan merancang via app4 yang dapat memprediksikan kebutuhan manusia.

Tipologi sebagai ilmu yang mengklasifikasikan melalui tipe arsitektur dengan sangat mengandalkan aktifitas dan visual serta morfologi sebagai akibat tindakkan manusia dalam

menterjemahkan konteks aktivitasnya. Hal ini dapat menjadi kegagalan (errornes) karena arsitektur tidaklah “mati” melainkan dinamis, mungkin secara fisik bisa disebut mati, namun hal ini tidaklah absolut seiring dengan pemikiran manusia yang dinamis. Hibriditas dapat saja terjadi sehingga

mengkreasikan tipologi yang mungkin tidak pernah ada. Harus diingat ruko adalah hibriditas dari rumah yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya pada awal keberadaan ruko5. Ruko samapi saat ini terus berkembang dengan mengadaptasikan berbagai kebutuhan dan kondisi masyarakat termasuk

pemerintahan. Perpajakan dan peraturan pembangunan membuat ruko berulang kali diinterperetasikan berkali-kali dengan berbagai pemodelan. Fleksibilitas penyewaan didalam satu unit adalah salah satu cara praktik disain yang menyiasati harga ruko yang sulit dijangkau, sehingga owner dari ruko tidak harus menyewakan keseluruhan ruko hanya kepada satu orang. Secara visual mungkin masih mencirikan ruko namun secara makna ada program baru yang harus diamsukkan yaitu system sirkulasi yang tidak saling menggangu tanpa harus mengkorbankan luas ruang yang berharga (valuable rental space).

Hibriditas tidak hanya terjadi pada arsitektur komersial saja. Arsitektur vernacular pun perlu mengalami re interpretasi tipologi bahkan arsitektur religi seperti masjid, gereja, synagog dan vihara misalnya. Arsitektur religi yang ada saat ini jgua perlu emngakomodir berbagai kegiatan para anggotanya bahkan masyarakatnya sehingga dapat lebih terbuka dan tidak menjadi eksklusif, sehingga masyarakat sekitar dapat menerima keberadaanya. Hal lain adalah perlunya retrofit, terutama pada bangunan yang mulai kehilangan fungsi asalnya, seperti pusat perbelanjaan, bangunan religi atau bangunan yang ditinggalkan oleh masyarakatnya, karena kondisi financial atau perubahan dinamika masyarakatnya.

Arsitek perlu secara strategis mengamati tidak hanya tentang masyarakat secara fisik namun juga secara intangible seperti nilai ekonomi, nilai politik, nilai social, gaya hidup dan sebagainya. Hal ini perlu

diakomodir sehingga dapat mengaktifkan kembali bangunan itu dan akan kembali menemukan jati dirinya .

Diskusi lebih lanjut.

Lebih jauh lagi, dengan berbagai perkembangan Digital Kognisi dan Digital Behavior, Arsitektur tidak lagi berhenti pada fisik yang divirtualkan (augmented reality, VR -oculus misalnya). Arsitetkur kelak akan diobakan terlebih dahulu pada dunia virtual dan kemudian baru di jadikan secara tangible kedalam kehidupan manusia (implant). Arsitektur didalam dunia tangible -fisik adalah sebuah komoditi demikain pula dalam dunia virtual. Dunia virtual -hyperealitas juga semakin serupa dengan dunia realitas (bitcoin, NFT6 -adalah uang digital yang liquid seperti uang biasa) yang dapat digunakan untuk membeli apapun didunia virtual dan dimaterialisasikan melalui apps menjadi uang kartal (currency), termasuk membeli

4 Apps atau software akan setara dengan brain ware, dengan kemampuan machine learning yang dulunya adalah learning machine, akan membuat system yang dipelajari dari behavior manusia yang terus menerus diadaptasikan.

5 Lihat pembentukkan awal arsitektur dunia, di batavia (Jakarta) baru ada ruko ketika terjadi kebijakkan pajak pemerintah waktu itu (awal abad 19). Ide rumah-toko (shophouses) ini dikembangkan dari rumah tionghoa (courtyard) – lihat penelitian Johanes Widodo dan setiadi sopandi tentang shop house. tipologi ruko awal hanyalah berlantai satu seperti didaerah Cirebon. Kemudian berkembang menjadi dua lantai dan terus berkembang

(menyesuaikan) seiring dengan peraturan pertanahan dan perpajakan yang berlaku

6 NFT – non fungible token – uang digital yang saat ini berlaku didalam dunia blockchain -dan gamers.

(4)

lahan dan property7. Teknologi visualisasi yang semakin cepat, detil dan mendekati kenyataan membuat berbagai kemungkinan yang dapat terjadi termasuk membangun Arsitektur dalam cyberspace8 atau yang dikenal dengan metaverse9. Hampir semua aspek dan properties dari arsitektur dapat dibangun dan dibuat di metaverse –(simulasi bisa dilakukan juga di metaverse) hal yang mungkin “belum” dapat dilakukan (sampai saat ini) perasaan berat -gravity dan bebauan- Aroma. Seluruh sensorik hampir dapat dimanipulasi terutama pengelihatan (hal yang pertama dimanipulasi). Penggunaan Metaverse mungkin akan menciptakan tipologi atau paling tidak menjadi alat bantu dalam membentuk tipologi baru (yang dalam dunia fisik tidakmungki dilakukan) dan memprediksi berbagai kemungkinan yang terjadi dengan adanya tipologi baru ini. Metaverse akan menjadi ajang percobaan berbagai simulasi dilakukan sebelum diaplikasikan kedalam dunia riil termasuk juga Arsitektur. -SW -2021-

Reference:

Antonie Laugier -Primitive Hut, Quatremère de Quincy An Essay on the Nature, the End, and the Means of Imitation in the Fine Arts, Jean Nicolas Louis Durand – A Science of Architecture, Aldo Rossi -the Architecture of the City, Rafael Moneo - On Typology dan Anthony Vidler- 3rd typology, Rem Koolhaas – Content. William Gibson -Neuromancer, Jon Radoff -9 Megatrends Shaping the Metaverse.

7 Lihat game Robolox, Simcity dan Minecraft

8 Cyberspace -Neuromancer William Gibson

9 Metaverse - Facebook founder Mark Zuckerberg.

Referensi

Dokumen terkait

Penderita ini diidagnosa dengan Preeklamsia berat, karena pada saat penderita datang untuk kontrol di poliklinik didapatkan tekanan darah 180/110 disertai dengan proteinuria +3, pada

Menurut Sofyandi, Manajemen sumber daya manusia adalah suatu strategi dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, leading and controlling, dalam

membentuk kemampuan berpikir kritis siswa melalui kegiatan pembelajaran di kelas, mengembangkan kapasitas individu menjadi warga negara yang baik (good citizens),

“Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang

Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi tingkat laba para pengusaha selain mempersiapkan usaha dan memperkirakan tingkat keberhasilan, wirausaha harus siap untuk

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis perlu mengkaji dan meneliti permasalahan sebagai berikut ; Bagaimana kewenangan Dinas Kelautan dan Perikanan

paling besar yakni 1188 mV dan rangkaian 10 paralel menghasilkan tegangan rata-rata paling besar yakni 98 mV dikarenakan pada Rangkaian seri mengalami penguatan

a. Sebuah gaya F  yang bervariasi terhadap waktu, bekerja pada sebuah benda bermassa 5 kg hingga menghasilkan momentum sebesar 80 kg.m/s dalam waktu 5 sekon. Peluru