BAB III
METODE PENELITIAN A. Latar Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian sastra. Data yang dihasilkan berupa wawancara terhadap narasumber mengenai cerita rakyat yang terdapat di kabupaten Kudus, sehingga penelitian ini berada di kabupaten Kudus. Data tersebut dianalisis untuk menemukan bentuk, fungsi, dan nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat serta relevansinya dengan pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian cerita rakyat ini memfokuskan enam kecamatan yang meliputi; (1) Kecamatan Bae, (2) Kecamatan Dawe, (3) Kecamatan Gebog, (4) Kecamatan Kaliwungu, (5) Kecamatan Kota, dan (6) Kecamatan Jati.
Objek penelitian pada enam kecamatan meliputi; (1) Ki Ageng Bendokerep dan Padepokan Jayakusuma di kecamatan Bae, (2) Watu Gajah, Kanjeng Sunan Kedu, dan Belik Pundung Sumber Joyo Gribig berada di kecamatan Gebog, (3) Raden Ayu Dewi Nawangsih, Cendono Cendani Sampyuh di kecamatan Dawe, (4) Ki Ageng Wotan, Sumur Gentong Jalatunda, Seni Barongan berada di kecamatan Jati, (5) Bendhe Macan Guguk di kecamatan Kaliwungu, dan (6) Raden Ayu Mlati di kecamatan Kota. Penelitian ini direncanakan selama enam bulan yaitu dimulai pada bulan Januari-Juni 2019.
Jadwal kegiatan penelitian di susun dalam tabel berikut.
31
Tabel 3. 1 Jadwal Kegiatan Penelitian
No Jenis Kegiatan Januari Februari Maret Agustus Oktober November 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Persiapan
Penelitian
a. Pengajuan
judul
b. Menyusun proposal penelitian
c. Seminar proposal dan revisi
d. Mengurus izin penelitian
2. Pelaksanaan
Penelitian a. Pengambilan
data
b. Pengolahan
data
3. Menulis Artikel 4. Menyusun
Laporan Tesis 3. Ujian Tesis
B. Bentuk dan Strategi Penelitian
Penelitian ini berjudul Bentuk, Fungsi, dan Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat yang ada di Kabupaten Kudus serta Relevansinya dengan Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama merupakan penelitian kualitatif. Strategi penelitian ini menggunakan etnografi. Menurut Cresswell (2012: 462) bahwa etnografi adalah salah satu strategi penelitian kualitatif yang di dalamnya peneliti menyelidiki suatu kelompok kebudayaan di lingkungan yang alamiah dalam periode waktu yang cukup lama dalam pengumpulan data utama, data observasi, dan data wawancara. Menurut Spradley (2007: 5) menjelaskan bahwa etnografi sebagai deskripsi atas suatu kebudayaan untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli.
Strategi penelitian ini bertujuan agar fokus penelitian hanya pada cerita rakyat yang ada di kabupaten Kudus. Alasan peneliti mengambil dua belas cerita rakyat tersebut agar bervariasi cerita rakyatnya dan cerita rakyat tersebut sudah disesuaikan dengan indikator-indikator yang berdekatan dengan sosio budaya dalam kehidupan sehari-hari.
C. Data dan Sumber Data Penelitian
Data pada penelitian ini berupa data kualitatif. Dalam penelitian ini, hasil data yang berupa wawancara pada informan terkait dengan penelitian ini yang kemudian hasil wawancara tersebut di transkripkan dalam tulisan yang disusun menjadi cerita. Data primer adalah data utama yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya data dari orang lain atau dokumen (Sugiyono, 2016: 62). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah (1) informasi yang diberikan oleh beberapa informan, (2) tempat dan benda- benda fisik, (3) dokumen. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah jurnal, buku-buku, dan internet. Teknik pengambilan sampel sumber data menggunakan purposive sampling. Sugiyono (2016: 52) mengungkapkan purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel berupa wawancara dan observasi kepada orang- orang yang dianggap tahu tentang penelitian ini. Hasil penelitian menggunakan
sample ini tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena pengambilan sampel tidak diambil secara random.
D. Teknik Pengumpulan Data
Konsep penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi kepada juru kunci cerita rakyat karena cerita rakyat ini merupakan sastra lisan. Wawancara yang dipakai adalah wawancara mendalam. Dalam wawancara mendalam peneliti memfokuskan wawancara tak terstruktur. Menurut Sutopo (2006: 68) wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa penelitian lebih menyerahkan sepenuhnya kepada yang diwawancarai, sehingga peneliti menyesuaikan keadaan lapangan namun tetap dalam topik penelitian yang dilakukan dan tidak keluar dari topik penelitian yang sudah ditentukan oleh peneliti.
Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi aktif. Observasi pasif adalah teknik observasi yang peneliti lakukan untuk mengamati dan menggali informasi mengenai perilaku dan kondisi lingkungan penelitian menurut kondisi yang sebenarnya (Sutopo, 2006: 78). Alasan peneliti menggunakan wawancara tak struktur agar dapat menyesuaikan kondisi dilapangan, namun wawancara tidak keluar jauh dari topik pembahasan.
Selain itu menggunakan wawancara tak struktur menambah informasi secara tidak langsung untuk menambah data penelitian. Peneliti menggunakan observasi pasif karena peneliti hanya sebagai mendatangi lokasi, tetapi sama sekali tidak berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, namun peneliti benar- benar hadir dalam konteksnya. Data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah teks cerita rakyat. Teks cerita rakyat sebelumnya berupa lisan dari hasil wawancara peneliti dengan informan yang kemudia ditranskripkan dalam tulisan dan disusun menjadi teks cerita rakyat. Sasaran dalam penelitian ini difokuskan dalam enam kecamatan. Dari enam kecamatan tersebut menghasilkan tujud desa antara lain (1) desa Karangbener, (2) desa Kandangmas, (3) desa Kedungsari, (4) desa Gribig, (5) desa Mlati Kidul, (6) desa Loram Wetan, dan (7) desa Kaliwungu. Cerita rakyat yang dikumpulkan dari tujuh desa ini berjumlah dua belas. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti mempunyai tahapan sebagai berikut:
1. Observasi Langsung
Menurut Sutopo (2006: 64) mengemukakan observasi dilakukan untuk mendapatkan data yang berupa peristiwa, lokasi dan benda serta dokumentasi gambar. Teknik observasi ini dilakukan agar peneliti dapat secara langsung mengamati dan mempelajari serta dapat menentukan jenis cerita yang akan diteliti melalui perekaman dan pencatatan. Peneliti disini sebagai partisipan langsung karena observasi langsung dengan mengunjungi lokasi yang memiliki cerita rakyat dan mengunjung kantor atau lembaga yang menyimpan arsip-arsip yang mendukung penelitian. Kegiatan observasi pada penelitian ini memerlukan catatan lapangan. Catatan lapangan adalah catatan yang tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif, (Moleong, 2014: 209).
2. Perekaman, Wawancara, dan Pencatatan
Perekaman dilakukan ketika diadakannya wawancara dengan narasumber atau informan di lokasi penelitian. Setelah itu, hasil rekaman ditranskripkan ke dalam bentuk tertulis, dimana hasil rekaman ini berupa cerita mengenai cerita rakyat di daerah tersebut. Saat dimulainya rekaman, peneliti melakukan pencatatan mengenai istilah-istilah penting yang digunakan informan, suasana bercerita dan sikap dalam bercerita yang dilakukan oleh informan. Wawancara yang direkam menggunakan alat perekam, ketika ditranskipkan secara penuh, merupakan sesuatu laporan perluasan yang paling penuh (Spradley, 2007: 10).
Selain perekaman juga dilakukan wawancara. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai cerita rakyat secara lengkap dan akurat yang berada dalam daerah yang dituju.
3. Analisis Dokumen
Analisis dilakukan terhadap dokumen yang berupa arsip-arsip yang berkaitan dengan cerita rakyat. Dokumen ini bisa memiliki beberapa beragam bentuk yang tertulis sederhana sampai yang lebih lengkap dan kompleks bahkan bisa berupa benda-benda lainnya sebagai peninggalan. Selain itu analisis dokumen dilakukan agar mendapatkan informasi-informasi yang dapat membantu peneliti dalam mengolah data. Dokumen yang dalam bentuk rekaman
ditranskipkan ke dalam catatan dan menghasilkan cerita rakyat. Cerita rakyat tersebut kemudian dengan berfokus pada fungsi yang ada dalam cerita rakyat dan nilai kearifan lokal.
Gambar 3. 2 Teknik Pengumpulan Data Penelitian Cerita Rakyat
Alasan peneliti menggunakan wawancara tak terstruktur dan observasi pasif Konsep
Penelitian
Data Penelitian
Sasaran Proses
Penelitian
Alat Bantu Penelitian
Fungsi Alat Bantu Penelitian
Hasil wawancara yang di
transkripkan dalam tulisan dan menjadi cerita rakyat
1. Alat Tulis 2. Alat Rekam Alasan peneliti
menggunakan wawancara tak struktur agar dapat
menyesuaikan kondisi dilapangan,
namun wawancara tidak keluar jauh dari
topik pembahasan.
1. Observasi 2. Perekama 3. Wawancara 4. Pencatatan 5. Analisis
Dokumen 1. Des Karangbener
2. Desa Kandangmas 3. Desa Kedungsari 4. Desa Gribig 5. Desa Mlati Kidul 6. Desa Loram
Wetan
7. Desa Kaliwungu
Untuk memperlancar
penelitian
Peneliti menggunakan observasi pasif karena peneliti hanya sebagai mendatangi lokasi, tetapi sama sekali tidak berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, namun peneliti benar-benar hadir dalam konteksnya 1. Wawancara
Tak
Terstruktur 2. Observasi
E. Validitas Data
Pengujian vaiditas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi. Moleong (2014: 178) memaparkan triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang berfungsi sebagai pembanding atau mengecek terhadap data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari data itu. Ada empat macam triangulasi, yaitu (1) sumber; (2) metode; (3) teori.
Teknik validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan tiga macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan data, yaitu: Triangulasi data/sumber cara ini mengarahkan peneliti agar mengumpulkan data wajib menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda.
Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber satu, bisa teruji kebenarannya apabila dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber lain yang berbeda. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Triangulasi teori dilakukan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas teori tentang cerita rakyat, kearifan lokal. Informan review dilakukan dengan mengkomunikasikan data penelitian yang diperoleh dengan informan yang telah memberikan informasi atau keterangan mengenai cerita rakyat. Dengan demikian, data-data yang terkumpul dalam penelitian ini benar-benar teruji derajat kebenarannya dan apabila ada perbedaan, peneliti bisa menyampaikan verifikasi kepada informan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah model interaktif (interactive model analysis). Analisis dalam penelitian kualitatif terdiri dari tiga komponen pokok yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan (Sutopo 2006: 94).
Proses teknik analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Reduksi data (date reduction). Reduksi data adalah merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, di cari tema dan polanya.
Pada nilai kearifan lokal cerita rakyat kabupaten Kudus, proses reduksi dilakukan dengan memusatkan perhatian pada penggolongan data “kasar” yang muncul dalam sumber data, catatan-catatan tertulis di lapangan dan membuang
yang tidak perlu untuk dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Proses ini berlangsung terus menerus selama penelitian.
2. Penyajian data (data display) merupakan, sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Pada nilai kearifan lokal cerita rakyat kabupaten Kudus, proses penyajian data, disusun berdasarkan data yang telah digolongkan dan dianalisis serta dapat dipahami sesuai tujuan penelitian. Penyajian data dalam penelitian ini berupa data yang dideskripsikan dan dijelaskan dengan kalimat logis.
3. Penarikan kesimpulan (conclusing drawing/verivication) merupakan kesimpulan yang diambil akan ditangani secara longgar dan tetap terbuka sehingg kesimpulan yang belum jelas, kemudian akan meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar dengan kokoh. Kesimpulan ini juga diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan maksud menguji kebenaran, kekokohan, dan kecocokannya yang merupakan validitasnya. Pada nilai kearifan lokal cerita rakyat kabupaten Kudus, proses penarikan kesimpulan/verifikasi dilakukan dengan menyimpulkan data temuan dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten dari sumber dan data penelitian terdahulu yang mendukung sesuai dengan rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal.
Gambar 3. 3 Teknik Analisis Data.
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Reduksi Data
Penarikan Kesimpula
n