i
REFLEKSI TEOLOGIS MENGENAI USAHA JEAN VANIER DAN KETERLIBATANNYA BERSAMA PARA DIFABEL
INTELEKTUAL DI KOMUNITAS L’ARCHE
Tesis:
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Magister Teologi
Oleh: Adrianus Bonifasius Riswanto NIM: 156312002
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA FAKULTAS TEOLOGI
PROGRAM STUDI MAGISTER TEOLOGI
2019
iv ABSTRAK
Hampir setiap saat kita selalu mendengar ataupun menyaksikan berita mengenai konflik, perang, dan kekerasan. Pribadi atau kelompok yang satu menunjukkan kekuasaan atas pribadi atau kelompok yang lain. Orang-orang cenderung hidup memisahkan diri dan terkotak-kotak. Dalam situasi seperti ini, Jean Vanier mengusahakan suatu cara hidup bersama mereka yang lemah dan tersingkirkan. Konkretnya, Vanier membentuk komunitas bersama para difabel (komunitas L’Arche).
Beberapa pertanyaan untuk mengarahkan penelitian tesis ini adalah:
1)Apakah keterlibatan dengan difabel dan secara khusus usaha Vanier ini menawarkan cara pandang baru dalam melihat dan memaknai permasalahan manusia zaman ini? 2)Bagaimana relasi pribadi manusia dengan Allah dapat diperkaya dan diperdalam lewat kebersamaan dengan para difabel? 3)Bagaimana kehadiran para difabel dan hidup bersama kita dengan mereka dapat memperkaya Gereja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dengan penelitian pustaka Jean Vanier dan diperkaya dengan gagasan-gagasan dari Hans S. Reinders dan Jon Sobrino.
Vanier mengungkapkan bahwa setiap pribadi pernah memiliki pengalaman luka dan kesendirian yang seringkali membuat manusia mengasingkan diri dan sesama. Akan tetapi, mereka juga memiliki kebutuhan untuk menjalin relasi dan membagikan karunia pada sesamanya. Di tengah situasi penderitaan dan konflik, kita dipanggil untuk membangun suatu dunia pertalian. Reinders meneguhkan gagasan Vanier dengan membangun pemahaman bahwa usaha membangun relasi dan persahabatan bukan ungkapan emosional semata, tapi suatu tindakan yang dapat dipahami dan dijalankan oleh semua orang.
Dengan gagasan Yesus sebagai Yang Berbelas Kasih, Vanier mengajak kita untuk membangun relasi mendalam dengan Yesus Kristus lewat kerentanan manusia. Sobrino mengungkapkan bahwa belas kasih adalah prinsip dasar tindakan Allah. Maka belas kasih ini hendaknya juga menjadi prinsip dasar tindakan kita. Belas kasih kita pertama-tama adalah tanggapan terhadap Allah yang memanggil kita untuk bekerjasama dalam karya penyelamatan-Nya di dunia ini.
Gagasan ini hendaknya mendorong Gereja untuk menjadi tempat pertalian, tempat di mana setiap orang dikasihi dan diterima dengan seluruh kerentanan dan ketakberdayaannya. Gereja harus sungguh berpijak pada tempat dan situasi tertentu. Konteks paling nyata bagi Gereja adalah penderitaan rakyat, maka Gereja harus hadir di tengah-tengah mereka yang menderita. Apa yang dilakukan Gereja ini adalah tanggapan terhadap panggilan Allah, sekaligus juga bentuk kemuridan mengikuti Allah.
v ABSTRACT
Almost every time, we always hear or watch news about conflict, war, and violence. One person or group shows power over another person or group.
Peoples tend to live separately and fragmented. In this situation, Jean Vanier offers the idea of living with those who are weak and excluded. Concretely, Vanier forms community with the disabled people (L’Arche community).
Some questions to direct this thesis research are: 1) Do involvement with disabled people and in particular, Vanier's works, offer a new perspective in seeing and understanding human problems today? 2) How can human relations with God be enriched and deepened through living together with the disabled people? 3) How can the presence of the disabled peole and living together with them enrich the Church? These questions will be answered by doing research of Vanier’s literature and complemented with the thought of Hans S. Reinders and Jon Sobrino.
Vanier says that each person has ever experienced pain and loneliness that often make them alienate themselves and others. However, they also have the need to establish relationships and share gifts to others. In the midst of suffering and conflict, we are called to establish a place of belonging. Reinders affirms Vanier's thought by elaborating an understanding that any efforts to establish relationship and friendship are not mere emotional expressions, but an action that can be understood and carried out by everyone.
With the thought of Jesus as the Compassionate One, Vanier invites us to establish an intimate relationship with Jesus Christ through human vulnerability.
Sobrino revealed that mercy is the basic principle of the activity of God's.
Therefore, mercy ought to be the basic principle of our activity. First of all, our mercy is a response to God who calls us to work together in His saving work in this world.
This thought should encourage the Church to become a place of belonging, a place where everyone is loved and accepted with all their vulnerability and helplessness. The church must be firmly grounded in certain places and situations.
The most obvious context for the Church is the suffering of the people, so the Church must be present in the midst of those who suffer. What the Church does is a response to God's vocation, as well as a form of discipleship to follow God.
vi
KATA PENGANTAR
Pengalaman perjumpaan dan hidup bersama dengan para difabel di Kamboja selama dua tahun merupakan pengalaman yang sungguh membentuk diri penulis; baik sebagai pribadi, maupun sebagai anggota religius Serikat Yesus.
Penulis tidak hanya belajar untuk semakin rendah hati dan murah hati, tapi juga untuk menerima kerapuhan dan kerentanan diri. Penulis menyadari bahwa kerentanan dimiliki tidak hanya oleh mereka yang difabel, tapi setiap pribadi termasuk penulis. Intuisi rohani penulis mengatakan bahwa pengalaman ini perlu direfleksikan secara teologis. Dalam proses penulisan tesis ini, penulis terinspirasi oleh Jean Vanier, baik gagasan yang dituangkan beliau dalam tulisan, maupun pilihan hidup untuk tinggal bersama para difabel. Akhirnya proses penulisan tesis ini menjadi proses penempaan diri dan latihan rohani bagi penulis untuk menemukan wajah Allah yang semakin kaya berkat perjumpaan dengan para difabel, dengan mereka yang lemah dan rentan.
Dalam proses penulisan tesis ini, penulis dibantu dan didukung oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penulis harus berterima kasih kepada:
1. Dr. Bernhard Kieser, SJ yang telah membimbing dengan setia, menginspirasi, dan mengetuk pintu kamar penulis.
2. Dr. V. Indra Tanuredja yang telah memberi masukan.
3. Dr. Fl. Hasto Rosariyanto, SJ atas kemurahan hatinya.
4. Para dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.
vii
5. Komunitas Kolese Santo Ignatius di mana penulis boleh mengalami hidup bersama selama tiga tahun terakhir.
6. Angkatan Novisiat Girisonta tahun 2005.
7. Jesuit Mission Cambodia yang mengutus penulis untuk hidup bersama dengan para difabel.
8. Rekan kerja, guru, dan murid-murid Banteay Prieb Vocational School for Disabled Persons, yang menumbuhkan pengalaman mencintai dan dicintai.
9. Sr. Martha Driscoll, OCSO atas kemurahan hatinya dalam berkisah dan meminjamkan pustaka.
10. Keluarga yang selalu mendukung dengan caranya masing-masing.
11. Rekan-rekan diskusi dan sharing yang selalu mendukung dan mendoakan:
Dionisia Gusda, Bernadeth Diaz, dan Stella Vania
12. Setiap orang yang terlibat dalam penyelesaian tesis ini baik secara langsung, maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam tulisan ini.
Oleh karena itu, penulis selalu terbuka untuk segala saran dan kritik yang berguna bagi tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat diterima dan memberi inspirasi bagi banyak orang untuk mau melakukan perjumpaan dan tinggal bersama mereka yang rentan.
Penulis
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING DAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN TENTANG KEASLIAN KARYA ... iii
HALAMAN ABSTRAK ... iv
HALAMAN PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
BAB I: PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Fokus dan Batasan ... 4
1.3. Duduk Perkara... 5
1.4. Tentang Istilah Difabel ... 5
1.5. Tujuan dan Kegunaan Penulisan ... 8
1.6. Metode Penelitian ... 11
1.7. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II: JEAN VANIER DAN L’ARCHE 2.1. Riwayat Hidup Jean Vanier ... 16
2.2. Kisah L’Arche: Keterlibatan Jean Vanier di antara Para Difabel ... 23
2.3. Unit L’Arche Sekarang Ini ... 32
2.4. Karya Literatur Jean Vanier: Laporan Terbitan ... 36
BAB III: GAGASAN MENGENAI MANUSIA 3.1. Latar Belakang Antropologi menurut Jean Vanier ... 48
3.1.1. Kerentanan Manusia ... 49
3.1.1.1. Vanier Memandang Dunia ... 49
3.1.1.2. Manusia yang Terluka ... 54
3.1.1.3. Manusia yang Mengalami Kesepian ... 55
ix
3.1.1.4. Manusia Membutuhkan Pertalian dan Damai ... 57
3.1.2. Dalam Hidup Bersama, Kerentanan Kita tidak Dikesampingkan . 59 3.1.3. Kita Membantu Mereka yang Rentan ... 64
3.1.4. Kita Tinggal Bersama Mereka yang Rentan ... 67
3.1.5. Dengan Kerentanan, Hidup Manusia Diperkaya ... 71
3.2. Latar Belakang Antropologi menurut Hans S. Reinders ... 75
3.2.1. Suatu Pertanyaan Antropologis: Apa Artinya menjadi Manusia? . 75 3.2.2. Pandangan Tradisional ... 76
3.2.2.1. Gerakan Hak Disabilitas (Disability-Rights Movement) .. 76
3.2.2.2. Pendekatan Budaya Disabilitas ... 80
3.2.2.3. Tradisi Gereja Katholik ... 81
3.2.3. Antropologi Teologis Trinitarian... 86
3.2.4. Karunia Persahabatan... 92
3.2.5. Membangun Persahabatan ... 96
3.2.6. Penutup... 99
BAB IV: GAGASAN MENGENAI KRISTUS DAN ALLAH 4.1. Spiritualitas Jean Vanier ... 104
4.1.1. Pengantar: Allah Memanggil Manusia di Tengah Dunia... 104
4.1.2. Menghidupi Sabda Bahagia ... 107
4.1.3. Manusia Membentuk Persekutuan ... 111
4.1.3.1 Telaah Biblis ... 111
4.1.3.2. Semangat Komunio dalam Dinamika Komunitas L’Arche ... 113
4.1.4. Spiritualitas Tinggal Dalam (µένω) ... 117
4.2. Allah sebagai “Yang Berbelas Kasih” menurut Jean Vanier... 122
4.2.1. Yesus yang Berbelas Kasih dalam Jesus, The Gift of Love ... 123
4.2.1.1. Belas Kasih Yesus adalah Belas Kasih Pengampunan .... 124
4.2.1.2. Belas Kasih Yesus Menentang Kejahatan dan Kemunafikan ... 126
x
4.2.1.3. Belas Kasih Yesus Membawa Semua Orang pada
Persekutuan ... 128
4.2.2. Orang Samaria yang Murah Hati ... 130
4.3. Kristologi terhadap yang Tertindas menurut Jon Sobrino ... 135
4.3.1. Sobrino dan Konteks Penderitaan Amerika Latin ... 136
4.3.2. Rakyat yang Tersalib (The Crucified Peoples) ... 142
4.3.3. Teologi sebagai Intellectus Amoris ... 144
4.3.4. Prinsip Belas Kasih dan Gereja Belas Kasih ... 147
4.3.5. Mengikuti Allah Menurunkan Rakyat Tersalib dari Salib ... 153
4.3.6. Aspek Sosial Belas Kasih... 156
BAB V: KESIMPULAN DAN PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 160
5.2. Keterlibatan Gereja bersama Para Difabel ... 169
5.3. Usulan Pastoral ... 174
5.4. Penutup ... 176
DAFTAR PUSTAKA ... 178
LAMPIRAN ... 187
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rencana penulisan tesis ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis tentang perjumpaan langsung dengan para difabel. Hal itu berlangsung dalam kurun waktu tahun 2011-2013 ketika penulis bertugas di Banteay Prieb, suatu sekolah kejuruan khusus difabel di Kamboja. Keterlibatan penulis adalah sebagai outreach worker dan pendamping pastoral untuk sekitar 100 murid difabel yang tinggal bersama di dalam kompleks sekolah.
Banteay Prieb hadir sebagai tanggapan atas tragedi penderitaan yang dialami sebagian besar penduduk Kamboja pada 40 tahun terakhir ini. Sekolah kejuruan ini didirikan oleh Jesuit Refugee Service (JRS) pada tahun 1991 untuk membantu banyak orang yang menjadi difabel akibat perang. Mereka tidak hanya mengalami kehancuran fisik (kehilangan anggota tubuh), tapi juga kehancuran martabat sebagai manusia akibat perang dan penderitaan. Maka Banteay Prieb tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tapi juga membantu mereka untuk sampai pada proses rekonsiliasi dan perdamaian dengan pembangunan hidup berkomunitas. Sesuai dengan namanya yang berarti “Panti
Merpati”, Banteay Prieb menjadi tempat dan sarana untuk memulihkan kemanusiaan tiap-tiap pribadi dan menyebarkan pesan perdamaian.
Penulis mengalami perjumpaan dengan para difabel di Banteay Prieb ini sebagai perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang terluka. Mereka terluka secara jasmani, psikis, dan rohani akibat perang. Dinamika hidup bersama selama setahun mampu mengubah para difabel ini. Penulis menyaksikan mereka berubah menjadi pribadi-pribadi yang murah senyum dan menerima kekurangan diri, pribadi-pribadi yang percaya diri untuk memulai hidup baru, pribadi-pribadi yang bermurah hati untuk menolong saudari-saudarinya, pribadi-pribadi yang bisa melepaskan diri dari masa lalu yang kelam demi menyongsong masa depan yang lebih cerah. Mereka mengalami pembebasan dan memperkaya hidup orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman penulis mendapatkan penegasannya dalam pribadi Jean Vanier; dalam tulisan-tulisannya maupun dalam karya-karyanya di antara para difabel. Ia mulai hidup dalam satu komunitas bersama para difabel dan dengan demikian, ia mengambil bagian dalam suka-duka hidup orang difabel. Rumah tangga bersama itu disebutnya “Bahtera”, yang dalam bahasa Perancis, L’Arche.
Di pelbagai tempat, orang mengikuti teladan Vanier dan memulai hidup dalam komunitas dengan para difabel. Sekarang ini, L’Arche merupakan jaringan seluas dunia.
Ide paling radikal dari Jean Vanier dan komunitas L’Arche adalah pemahaman akan komunitas itu sendiri. Gagasan Vanier tentang komunitas tidak dapat dipisahkan dari gagasannya mengenai manusia. Ia melihat bahwa setiap
pribadi memiliki karunia untuk dibagikan. Untuk bisa mengetahui karunianya, kita diajak untuk menatap kerapuhan diri. Saat di mana kita bisa menjadi diri sendiri, diri yang lemah dan rapuh ini, adalah saat pembebasan.
Komunitas sebagai tempat pembebasan dipahami bukan sebagai tempat di mana kita bisa membuang jauh-jauh kelemahan kita, tapi tempat di mana kita justru diajak untuk menerima kerapuhan diri. Kita tidak harus berbelas kasih pada diri sendiri, melainkan mengakui karunia dan kemampuan maupun kekurangan dan kelemahan diri sendiri, serta membiarkan diri ditolong orang lain. Komunitas yang membebaskan mampu menemukan dan mengembangkan karunia berbeda- beda yang dibawa oleh masing-masing anggotanya.
Penulis merasakan adanya pengalaman dasar yang sama dengan Jean Vanier dan juga menemukan banyak kebaruan yang memberikan pencerahan.
Gagasan Vanier ini kiranya memberi sumbangan besar bagi Gereja. Gereja kita dibangun oleh anggota-anggotanya dengan aneka karunia yang mereka miliki.
Gereja bukan hanya gambaran keindahan dan kesempurnaan, tapi juga kelemahan dan kerentanan manusia. Gereja harus menjadi tempat pertalian (belonging), tempat berbagi, tempat damai dan kebaikan, tempat di mana setiap orang dikasihi dan diterima dengan seluruh kerapuhan dan ketakberdayaannya.
Allah menciptakan manusia dengan segala keragaman dan perbedaannya.
Kita dipanggil dalam perbedaan supaya kita belajar mengasihi dan bekerjasama.
Kita dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Setiap orang dipanggil untuk membagikan karunianya; bahkan yang dipandang lemah oleh dunia, memiliki kekuatan (bdk 1Kor 12: 22). Para difabel hadir dalam Gereja karena mereka
adalah sesama kita, sama dengan mereka yang tidak difabel. Dalam kebersamaan itu, kita, difabel dan non-difabel, dapat mengalami kehadiran Allah.
1.2. Fokus dan Batasan
Walaupun penulisan tesis ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis di Kamboja, namun penulis tidak akan menyinggung sama sekali baik sejarah Kamboja maupun sekolah Banteay Prieb. Penulis akan berfokus pada gagasan Vanier dan karya L’Arche. Ada 4 karya Vanier yang akan menjadi sumber utama dari penulisan tesis ini:
Jean Vanier, Becoming Human (London: Darton, Longman & Todd, 1999), untuk gagasan antropologis Vanier.
Jean Vanier, Community and Growth (London: Darton, Longman & Todd, 1980), untuk gagasan mengenai komunitas
Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day (London:
SPCK, 2013), untuk spiritualitas Vanier.
Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus – Menghayati dan
Mendalami Injil Yohanes (Yogyakarta: Kanisius, 2009) untuk gagasan biblis Vanier
Keempat sumber tersebut dipilih karena bisa menjadi dasar untuk penulisan tesis ini dan juga untuk memahami secara umum gagasan Vanier.
1.3. Duduk Perkara
Studi ini bermaksud menjawab beberapa pokok permasalahan berikut ini:
1. Apakah keterlibatan dengan difabel dan secara khusus usaha Vanier ini menawarkan cara pandang baru dalam melihat dan memaknai permasalahan manusia zaman ini?
2. Bagaimana relasi pribadi manusia dengan Allah diperkaya dan diperdalam lewat kebersamaan dengan para difabel?
3. Bagaimana kehadiran para difabel dan hidup bersama kita dengan mereka dapat memperkaya Gereja dalam gagasan teologi dan kebijakan pastoralnya? Tidak hanya dalam pemahaman, tapi bagaimana hidup bersama ini memberi peluang menjadi umat beriman yang inklusif dalam kebersamaan?
1.4. Tentang Istilah Difabel
Ada banyak istilah yang digunakan untuk merujuk pada keadaan hidup orang difabel. Ada yang memahaminya sebagai “impairment”, “handicap”, ataupun “disabilitas”. Penulis mengamati bahwa kata “cacat” semakin jarang digunakan karena berkonotasi kasar. Menurut klasifikasi WHO pada tahun 1980,
“impairment” dimaknai sebagai “segala kehilangan atau kelainan struktur atau fungsi psikologis, fisiologis atau anatomis”. Memahami cacat sebagai
“impairment” berarti hanya memandang sebatas kerusakan tubuh. “Handicap”
dipahami sebagai “kerugian untuk individu tertentu, yang dihasilkan dari sebuah
gangguan atau cacat, yang membatasi atau mencegah pemenuhan peran (tergantung pada usia, jenis kelamin, sosial dan faktor budaya) bagi individu bersangkutan. Memahami cacat sebagai “handicap” berarti hanya melihatnya dalam pembedaan terbatas-tidak terbatas. “Disabilitas” adalah istilah yang paling sering digunakan secara umum. Istilah penyandang disabilitas muncul menjelang ratifikasi Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (UN Convention on The Rights of Person with Disability). Menjadi serapan dari kata Person with Disability (PWD), dipakailah kata Penyandang Disabilitas untuk menggantikan kata penyandang cacat yang secara resmi ada di UU no 19 tahun 2011. Disabilitas dipahami sebagai “segala keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara atau dalam kisaran dianggap normal bagi manusia.” Penggunaan istilah yang berbeda membawa konsekuensi pemahaman yang berbeda pula1.
Di Indonesia, kata yang sering digunakan adalah “difabel” dari “different ability” untuk menghaluskan kata “disabilitas” yang berasal dari kata “disable”
(=tidak mampu). Istilah tersebut hendak menunjukkan bahwa difabel itu bukan cacat atau kekurangan, tapi memiliki kemampuan yang berbeda, atau melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Kata “difabel” berkonotasi lebih positif dibandingkan kata “cacat” atau “disabled”. Kendalanya adalah penggunaan kata
“difabel” belum dipakai seluas kata “disabled”.
1 Bdk. Mimi Mariani Rusli, “Memahami Disabilitas: Media Persaudaraan Beriman Menuju Gereja Inklusif”, dalam Kerja: Wujud Bela Rasa Kristiani, (Jakarta: Konsorsium Pengembangan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi, 2013), 65-74.
“Difabel”2 tidak hanya sekadar eufemisme tapi ada perbedaan konseptual sebetulnya antara kata “difabel” dan “penyandang disabilitas”. “Difabel” mengacu pada diri si subjek yang memang memiliki kemampuan berbeda dibanding orang lain pada umumnya; sedangkan kata “penyandang disabilitas” (terjemahan dari kata Inggris, “Person with Disability”) mengacu terlebih dahulu pada lingkungan di luar subjek yang belum mampu menyesuaikan dirinya dengan itu. Ketika lingkungan di sekitar sudah akomodatif dan si subjek dapat berkegiatan tanpa halangan lagi, maka dia akan menjadi pribadi yang seutuhnya, tanpa embel-embel disabilitas lagi.
Dengan istilah difabel, masyarakat diajak untuk merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau tidak normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan, menjadi pemahaman sebagai manusia dengan kondisi fisik berbeda, yang mampu melakukan aktivitas dengan cara dan pencapaian yang berbeda pula. Dengan pemahaman baru itu, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang para difabel sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan ketidakmampuan. Kata “difabel” menjadi tanda penghargaan yang menekankan kekuatan semua individu dan memperkenankan perlakukan tertentu diberikan karena kebutuhan tiap individu dan bukan karena keterbatasannya.
2 Istilah “difabel”dan “people with different abilities” ini diperkenalkan oleh Judith LeBlanc, profesor emeritus Universitas Kansas, psikolog, guru, dan peneliti sistem pendidikan khusus, pada tahun 1998. Fokus perhatiannya adalah sistem pembelajaran berkaitan dengan mereka yang memiliki kemampuan berbeda. Ia menekankan bahwa setiap orang hendaknya mendapatkan pendidikan dan kesempatan untuk menjadi bebas, bahagia, dan produktif. Tersedia dari http://en.annsullivanperu.org/people-with-different-abilities/; diakses 23 April 2018.
Banyak istilah yang dipakai untuk menyebut para difabel. Bahasa ini terus berkembang seturut zaman dan budaya. Vanier sendiri menggunakan istilah “a
“person with an intellectual disability” (pribadi dengan disabilitas intelektual) untuk mengungkapkan bahwa mereka adalah benar-benar manusia yang adalah unik dan penting, dengan semua implikasinya. Penulis sendiri akan menyebutnya dengan “difabel” atau “difabel intelektual”. Di balik perubahan bahasa dan perbedaan istilah, sesungguhnya ada keinginan untuk menegaskan bahwa difabel intelektual pertama-tama dan terutama adalah pribadi, yang seharusnya dihormati dan diberi kesempatan untuk menggunakan karunianya3.
1.5. Tujuan dan Kegunaan Penulisan
Penulis melakukan penulisan ini pertama-tama dengan tujuan menyelesaikan studi Program Magister Teologi Universitas Sanata Dharma.
Selain itu, penulis memandang bahwa penulisan ini akan memberi sumbangan bagi Gereja dan masyarakat, di samping tujuan pribadi penulis. Perlu diakui bahwa Jean Vanier bukanlah seorang teolog dalam arti ketat ataupun seorang pengajar dengan karya tulis yang sistematis. Kekayaan dan kedalaman rohani yang terkandung dalam tulisan-tulisan Vanier berasal bukan dari gagasan spekulatif semata, melainkan dari pengalaman perjumpaan dan hidup bersama dengan para difabel.
3 Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day (London: SPCK, 2013), 15.
Oleh karena itu, sumbangan pertama yang sangat berguna adalah gagasan antropologis Jean Vanier. Vanier mengungkapkan bahwa setiap manusia memiliki pengalaman luka dan kesendirian yang seringkali membuat manusia mengasingkan diri dan sesama. Akan tetapi, setiap manusia juga memiliki kebutuhan untuk menjalin relasi dan membagikan karunia pada sesamanya.
Pandangan Vanier ini kiranya dapat memberi pencerahan bagi manusia zaman ini yang hidup di tengah konflik dan budaya kompetisi.
Gagasan Vanier ini diperkaya dengan kisah hidup para difabel di komunitas L’Arche, kisah orang-orang yang seringkali paling menderita dan terpinggirkan dalam masyarakat modern. Lewat kisah hidup mereka, kita akan menemukan bahwa mereka memiliki pengalaman luka dan kesendirian, tapi juga karunia dan kerinduan untuk menjalin relasi. Kisah-kisah ini menjadi kekayaan yang semakin menegaskan gagasan Vanier.
Penulis juga akan dibantu dengan kajian antropologi Hans Reinders mengenai apa artinya menjadi manusia dan apa yang membuat manusia sebagai manusia. Gagasan Reinders tidak terlepas dari pengalaman pribadi dan fokus perhatiannya pada para difabel. Beliau mengajukan gagasan bahwa apa yang menjadikan kita sungguh manusia bukanlah sesuatu yang intrinsik dalam diri kita seperti kemampuan menalar dan berkehendak, atau kemampuan menggunakan hak, atau kemampuan berelasi, melainkan kenyataan bahwa kita adalah tujuan kasih Allah. Reinders menulis dalam kerangka teologis.
Kedua, penulis melihat bahwa pustaka teologi keterlibatan dengan difabel terutama dalam Gereja Indonesia, masih sangat sedikit. Oleh karena itu, tulisan ini
bisa menambah kekayaan refleksi teologis Gereja. Vanier menawarkan kepada kita, suatu gagasan Kristologi yang membuat kita semakin peka untuk menangkap gambaran akan Allah dan kehadiran-Nya. Dengan gagasan Allah sebagai Yang Berbelas Kasih (The Compassionate One), Vanier mengajak kita untuk berelasi dengan Yesus Kristus secara lebih kaya dan mendalam lewat kerentanan manusia.
Vanier menggambarkan Yesus sebagai Orang Samaria yang Murah Hati (Luk 10:
25-37), seorang yang begitu tergerak oleh belas kasihan dan ingin membantu sesama.
Untuk mendalami gambaran ini, kita akan dibantu dengan telaah biblis yang menjadi dasar spiritualitas Vanier. Ada tiga gambaran biblis yang selalu muncul dalam banyak tulisan Vanier baik secara eksplisit maupun implisit: Sabda Bahagia, Perjamuan (Komunio), dan µένω (tinggal dalam). Tiga gambaran biblis ini tampak dalam pelayanan Yesus pada orang yang miskin dan lemah. Penulis juga menangkap bahwa tiga gambaran biblis ini juga menjadi cara Vanier berkarya di tengah para difabel sebagai ungkapan relasinya dengan Allah. Oleh karena itu, pembahasan tiga gambaran biblis ini secara mendalam juga bisa menjelaskan bagaimana orang beriman dapat mengalami Allah yang menghadirkan Diri.
Gambaran Allah yang berbelas kasih ini akan diperkaya dengan gagasan dari Jon Sobrino dalam The Principle of Mercy. Menurut Sobrino, Yesus adalah belas kasih Allah yang datang dalam bentuk nyata ke dunia ini, gambaran radikal Allah yang masuk ke dalam kekacauan manusia dan dosa. Sobrino melihat mukjizat Yesus pertama-tama sebagai tanda dan perwujudan nyata belas kasihnya
dan kemiskinan Yesus dengan solidaritas dan tindakan belas kasih-Nya terhadap orang miskin. Kemiskinan Yesus adalah bagian dari Diri Allah yang ingin dekat dengan mereka yang lemah dan tertindas.
Sobrino tidak hanya memperkaya gagasan Kristologi tapi juga eklesiologi.
Sobrino mengungkapkan pertama-tama bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi Orang Samaria yang Murah Hati dalam penderitaan dunia dan orang-orang yang tersalib. Kedua, orang-orang yang tersalib juga mampu membawa harapan dan keselamatan, menumbuhkan iman dan solidaritas. Dari pengalaman perjumpaan dengan para difabel dan juga kisah Jean Vanier bersama L’Arche, penulis menemukan bahwa para difabel adalah rakyat yang tersalib (the crucified peoples) yang menunjukkan cara hadir Gereja yang lebih asli, relevan, dan Kristiani untuk zaman ini.
Oleh karena itu, tulisan ini juga mampu memberi sumbangan bagi Gereja dalam merumuskan arah dasarnya terutama dalam aspek pelayanan sosial ekonominya. Selain itu, tulisan ini dapat menantang Gereja untuk berefleksi lebih dalam mengenai gagasan teologi dan kebijakan-kebijakannya, dalam membangun persekutuan yang peduli pada sesama, sekaligus memberi peluang dalam langkah- langkah pastoralnya yang nyata.
1.6. Metode Penelitian
Penulis akan menggunakan metode riset kepustakaan murni. Hal ini ditempuh terutama dengan penelitian pustaka Jean Vanier untuk menggali pandangannya mengenai manusia, komunitas, dan Yesus Kristus. Kisah-kisah
komunitas L’Arche akan memperkaya narasi dalam aspek-aspek seperti dimensi sejarah dan konteks sosialnya. Gagasan Jean Vanier ini akan diperbandingkan dengan gagasan teolog lain; baik teolog yang akrab dengan disabilitas seperti Hans Reinders, maupun teolog pembebasan yang memiliki konteks sosial yang berbeda seperti Jon Sobrino. Pemikir-pemikir lain kiranya juga mampu memperkaya dan memperdalam gagasan mengenai disabilitas dari berbagai perspektif selain teologi, seperti spiritualitas, psikologi, ilmu sosial.
1.7. Sistematika Penulisan
1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang 1.2. Fokus dan Batasan 1.3. Duduk Persoalan 1.4. Tentang Istilah Difabel
1.5. Tujuan dan Kegunaan Penulisan 1.6. Metode Penelitian
1.7. Sistematika Penulisan
2. Jean Vanier dan L’Arche 2.1. Riwayat Hidup Jean Vanier
2.2. Kisah L’Arche: Keterlibatan Jean Vanier di antara Para Difabel 2.3. Unit L’Arche Sekarang Ini
2.4. Karya Literatur Jean Vanier: Laporan Terbitan
3. Gagasan mengenai Manusia
3.1. Latar Belakang Antropologi menurut Jean Vanier 3.1.1. Kerentanan Manusia
3.1.1.1.Vanier Memandang Dunia 3.1.1.2. Manusia yang Terluka
3.1.1.3. Manusia yang Mengalami Kesepian
3.1.1.4. Manusia Membutuhkan Pertalian dan Damai
3.1.2. Dalam Hidup Bersama, Kerentanan Kita tidak Dikesampingkan 3.1.3. Kita Membantu Mereka yang Rentan
3.1.4. Kita Tinggal Bersama Mereka yang Rentan 3.1.5. Dengan Kerentanan, Hidup Manusia Diperkaya 3.2. Latar Belakang Antropologi menurut Hans S. Reinders
3.2.1. Suatu Pertanyaan Antropologis: Apa Artinya menjadi Manusia?
3.2.2. Pandangan Tradisional
3.2.2.1 Gerakan Hak Disabilitas (Disability-Rights Movement) 3.2.2.2. Pendekatan Budaya Disabilitas
3.2.2.3. Tradisi Gereja Katholik 3.2.3. Antropologi Teologis Trinitarian
3.2.4. Karunia Persahabatan 3.2.5. Membangun Persahabatan 3.2.6. Penutup
4. Gagasan mengenai Kristus dan Allah 4.1. Spiritualitas Jean Vanier
4.1.1. Pengantar: Allah Memanggil Manusia di Tengah Dunia 4.1.2. Menghidupi Sabda Bahagia
4.1.3. Manusia Membentuk Persekutuan 4.1.3.1. Telaah Biblis
4.1.3.2. Semangat Komunio dalam Dinamika Komunitas L’Arche 4.1.4. Spiritualitas Tinggal Dalam (µένω)
4.2. Allah sebagai “Yang Berbelas Kasih” menurut Jean Vanier 4.2.1. Yesus yang Berbelas Kasih dalam Jesus, The Gift of Love 4.2.1.1. Belas Kasih Yesus adalah Belas Kasih Pengampunan
4.2.1.2. Belas Kasih Yesus Menentang Kejahatan dan Kemunafikan 4.2.1.3. Belas Kasih Yesus Membawa Semua Orang pada Persekutuan 4.2.2. Orang Samaria yang Murah Hati
4.3. Kristologi terhadap yang Tertindas menurut Jon Sobrino 4.3.1. Sobrino dan Konteks Penderitaan Amerika Latin 4.3.2. Rakyat yang Tersalib (The Crucified Peoples) 4.3.3. Teologi sebagai Intellectus Amoris
4.3.4. Prinsip Belas Kasih dan Gereja Belas Kasih
4.3.5. Mengikuti Allah Menurunkan Rakyat Tersalib dari Salib 4.3.6. Aspek Sosial Belas Kasih
5. Kesimpulan dan Penutup 5.1. Kesimpulan
5.2. Keterlibatan Gereja bersama Para Difabel 5.3. Usulan Pastoral
5.4. Penutup
BAB II
JEAN VANIER DAN L’ARCHE
Pada bab 2 dari thesis ini, penulis akan menguraikan kisah hidup Jean Vanier dan komunitas L’Arche. Bab 2 ini dibagi dalam empat bagian. Pertama- tama adalah riwayat singkat Vanier. Selanjutnya, penulis akan masuk lebih dalam pada proses pencarian makna hidup yang dilakukan oleh Vanier. Proses pencarian ini akan mengantar Vanier pada perjumpaan dengan orang difabel. Bagian ketiga adalah mengenai komunitas L’Arche saat ini, bagaimana L’Arche dikembangkan seluas dunia. Pada akhir bab 2 ini, penulis akan menyertakan laporan terbitan karya literatur Jean Vanier.
2.1. Riwayat Hidup Jean Vanier
Jean Vanier adalah seorang filsuf dan teolog Katolik dari Kanada. Pada tahun 1964, ia merintis berdirinya L’Arche, suatu federasi komunitas untuk para difabel intelektual dan para asisten yang membantu mereka. Bersama dengan Marie-Hélène Mathieu, ia juga mendirikan Komunitas Faith and Light pada tahun 1971. Vanier dikenal tidak hanya lewat sepak terjangnya di L’Arche, tapi juga lewat tulisan-tulisan, retret-retret, dan ceramah-ceramahnya. Ia memperoleh gelar doktor dalam bidang Filsafat dari Institut Catholique de Paris pada tahun 1962 dan
mengajar filsafat di St. Michael’s College, Universitas Toronto pada kurun waktu Januari-Mei 1964. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi berbagai penghargaan seperti Companion of the Order of Canada1 (1986), Grand Officer of the National Order of Quebec2 (1992), French Legion of Honour3 (2003), Community of Christ International Peace Award4 (2003), Pacem in Terris Peace and Freedom Award5 (2013), dan Templeton Prize6 (2015).
Jean Vanier lahir pada 10 September 1928 di Geneva, Switzerland, dari pasangan Georges (1888-1967) dan Pauline Archer Vanier (1898-1991). Vanier adalah anak keempat dari lima bersaudara. Anak pertama, Thérèse, lahir pada 27 Februari 1923. Anak kedua, Georges (biasa dipanggil Byngsie7), lahir pada November 1925. Di kemudian hari, ia menjadi biarawan Cistercian dan mengambil nama Benedict. Anak ketiga, Bernard, lahir pada Maret 1927. Anak kelima, Michel, lahir pada Juli 1941.
Pengalaman hidup seorang Jean Vanier, semangat serta gagasannya, dapat digali dengan menelusuri keberakarannya pada sejarah keluarga Vanier. Jean Vanier bertumbuh dalam keluarga Katolik yang sangat religius. Pasangan Georges
1 Penghargaan tertinggi yang diberikan monarki Kanada untuk mereka yang berjasa bagi Kanada dan kemanusiaan.
2 Penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Quebec untuk warga Quebec atas pencapaian mereka.
3 Penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Perancis baik untuk militer maupun warga sipil.
4 Community of Christ International Peace Award diberikan setiap tahunnya untuk menghargai dan mendukung usaha para penggiat perdamaian dunia. Penghargaan ini diberikan oleh Gereja Community of Christ.
5 Penghargaan yang diberikan untuk menghormati pribadi-pribadi yang telah mengusahakan perdamaian dan keadilan dunia. Penghargaan ini diberikan setiap tahun untuk memperingati ensiklik Paus Yohanes XXIII Pacem in Terris.
6 Penghargaan tahunan yang diberikan oleh Templeton Foundation untuk teladan hidup yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal kerohanian. Penghargaan ini mendapat namanya dari seorang pengusaha dan filantropis Inggris bernama Sir John Marks Templeton (1912-2008).
7 Dinamakan seturut nama emban baptis Georges Vanier, Lord Julian Byng.
dan Pauline Vanier sangat memperhatikan aturan agama, memandang pentingnya Sakramen, serta menghormati para imam dan religius8. Mereka setia menghadiri Misa Kudus dan menyambut Komuni. Tiap hari, mereka akan menyisihkan waktu 30 menit untuk berdoa bersama di tengah kesibukan sebagai pejabat publik.
Mereka bahkan dinominasikan sebagai orang kudus karena kesalehan dan rasa kemanusiaannya yang tinggi9.
Georges Vanier lahir pada 23 April 1888 di Quebec, Kanada. Pada tahun 1911, ia mendapatkan gelar sarjana dalam bidang hukum dari Universitas Laval dan kemudian bergabung dalam Angkatan Bersenjata Kanada hingga awal tahun 1930-an. Ia kehilangan kaki kanannya di medan pertempuran Chérisy (Perancis) di tengah Perang Dunia I. Georges Vanier memulai karier sebagai diplomat ketika ditunjuk menjadi Sekretaris Komisi Tinggi Kanada di London pada tahun 1930.
Beberapa jabatan penting pernah diembannya seperti Utusan Raja untuk Perancis dan Duta Besar Kanada untuk Perancis. Pada 15 September 1959, ia diangkat oleh Ratu Elizabeth II menjadi Gubernur Jenderal Kanada menggantikan Vincent Massey. Jabatan ini diembannya sampai ia meninggal dunia pada 5 Maret 1967.
Pauline Archer lahir pada 28 Maret 1898. Ia memiliki kerinduan mendalam akan hidup doa dan sempat berpikir untuk menjalani hidup membiara.
Akan tetapi, perjumpaannya dengan Georges-Philéas Vanier mengubah niatnya dan mereka menikah pada 29 September 1921. Tahun-tahun pertama setelah
8 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, (New Jersey: Hidden Spring, 2006), 23.
9 Proses beatifikasi Georges dan Pauline Vanier didorong oleh Marcel Gervais, Uskup Agung Ottawa, bersamaan dengan keinginan Paus Yohanes Paulus II mengakui keutamaan hidup perkawinan. Mgr. Gervais juga melihat bahwa dalam hidup mereka, ada kesatuan antara hidup rohani yang mendalam dengan perwujudan nyata dalam usaha diplomasi. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 88.
kelahiran Jean Vanier menjadi masa-masa sulit bagi Pauline Vanier. Ia menderita depresi dan kecemasan oleh karena jarak antar kehamilan yang begitu dekat dan tuntutan posisi sosial sebagai istri seorang diplomat. Ada beberapa peristiwa yang memicu kecemasan ini. Bencana kebakaran yang melanda pondok keluarga Vanier pada tahun 1927 menimbulkan trauma bagi Pauline. Ia juga hampir keguguran mengandung Jean Vanier karena harus menempuh perjalanan jauh melintasi laut dari Kanada menuju Switzerland. Maka pada tahun-tahun awal ini, Jean Vanier lebih banyak diasuh oleh Nancy Thompson, pengasuhnya yang berkebangsaan Skotlandia.
Jean Vanier berasal dari keluarga terpandang, namun krisis dunia saat itu membuat hidupnya dan saudara-saudarinya dekat dengan kenyataan. Ayahnya pernah mengalami krisis keuangan karena kehilangan sebagian sahamnya, sehingga memaksa keluarga Vanier untuk tinggal di rumah yang lebih bersahaja10. Perang Dunia II juga membuat keluarga Vanier berulang kali harus mengungsi.
Situasi ini membuat Vanier dekat dengan realita penderitaan yang akan mengantarnya pada proses pencarian di kemudian hari.
Gambaran penderitaan itu begitu nyata ketika Vanier menemani ibunya yang membantu Palang Merah Kanada ke stasiun kereta api Gare d’Orsay, Paris.
Pada waktu itu, Januari 1945, Paris baru saja dibebaskan dari okupasi Nazi.
Vanier menyaksikan para penyintas yang berdatangan dari kamp Dachau, Buchenwald, Belsen, dan Auschwitz. Mereka turun dari kereta bagaikan kerangka, wajah mereka disiksa oleh rasa takut, sakit, dan penderitaan. Jatuhnya
10 Krisis keuangan ini sesungguhnya juga membawa perubahan positif, yakni memulihkan keseimbangan emosional Pauline Vanier.
bom atom di Hiroshima dan Nagasaki juga menjadi pengalaman yang mengerikan11. Dalam diri mereka, Vanier melihat penderitaan dan perendahan, kerapuhan dan ketiadaan harapan, juga kemampuan manusia untuk menghancurkan diri.
Pada tahun 1942, Vanier bergabung dengan Angkatan Laut Inggris. Ia mendaftarkan diri ke Dartmouth Naval College. Vanier menyadari bahwa salah satu momen penting dalam hidupnya adalah ketika ia minta izin pada ayahnya untuk masuk Angkatan Laut. Usianya pada saat itu masih sangat muda, 13 tahun.
Situasi sangat mencekam karena untuk sampai ke Inggris, Vanier harus berlayar melewati Samudera Atlantik yang dikuasai oleh U-Boat (kapal selam) Jerman.
Ayahnya sungguh menaruh kepercayaan pada dirinya sehingga Vanier menjadi semakin yakin dengan dirinya. “Aku percaya padamu. Jika ini yang ingin kamu lakukan, maka kamu harus melakukannya.” Pengalaman ini menjadi pengalaman penting dalam hidupnya mengenai arti kepercayaan.
Selama masa Perang Dunia II, Vanier menjalani pendidikan di akademi untuk menyiapkan diri menjadi perwira Angkatan Laut. Pada usia 17 tahun, ia terlibat dalam Perang Dunia II sebagai Angkatan Laut Inggris. Pada tahun 1947, ia menemani keluarga Kerajaan Inggris dalam perjalanan mereka ke Afrika Selatan sebagai kadet HMS Vanguard. Pada tahun 1949, ia bergabung dengan Angkatan Laut Kanada dan bertugas di kapal induk HMCS Magnificent.
Sebagai seorang tentara, Vanier terus memelihara hidup rohaninya sebagaimana ia dididik oleh orangtuanya. Setiap hari, ia selalu mendaraskan ofisi
11 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 24.
dan bila tidak ada halangan, ia juga menghadiri Ekaristi harian. Vanier juga setia melakukan bimbingan rohani dengan imam setempat. Di waktu senggang, ia memilih membaca karya-karya Thomas Merton12, terutama otobiografinya yang berjudul The Seven Storey Mountain. Karena Merton banyak bercerita tentang Catherine Doherty13 yang mendirikan Friendship House14 bagi orang miskin kulit hitam di Harlem, New York, Vanier juga mengunjungi rumah itu saat kapalnya berlabuh di New York.
Pada tahun 1950, Vanier mulai merasakan suatu panggilan rohani yang mendorong dirinya untuk mundur dari karier kemiliteran. Ia merasa bahwa Angkatan Laut bukanlah tempat yang tepat bagi dirinya. Ia mengalami kehausan rohani dan berusaha mencari makna hidup. Ia juga melihat kemungkinan dirinya untuk menjadi seorang imam.
I think that I might have felt that the naval officer’s life and the life of a Christian were in opposition ... granted it is much harder to live completely the message of Christ for people will persecute you, think you are mad. I felt that my place in the world was somewhere else ... I began to realise that my life has to develop along other lines ... We all have our place, our vocation – my vocation wasn’t in the Navy.15
12 Thomas Merton (1915-1968) adalah seorang rahib Trappist di Biara Gethsemani, Kentucky. Ia dilahirkan sebagai seorang Anglikan dan kemudian masuk ke dalam Gereja Katolik pada 16 November 1938, tepatnya ketika ia berusia 23 tahun. Ia juga dikenal sebagai penyair dan aktivis sosial.
13 Ekaterina Fyodorovna Kolyschkine de Hueck Doherty atau biasa dikenal sebagai Catherine Doherty (1896-1985) adalah seorang bangsawati (baroness) Rusia yang kemudian menetap di New York City sebagai aktivis sosial, penulis, dan pembicara publik. Dilahirkan sebagai seorang Orthodox Rusia, ia kemudian masuk ke dalam Gereja Katolik pada 27 November 1919. Di samping Friendship House, ia juga mendirikan Madonna House Apostolate, suatu komunitas untuk imam dan awam Katolik yang mau mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan kepada kaum miskin.
14 Friendship House adalah gerakan misionaris yang memperjuangkan kesetaraan ras. Gerakan ini didirikan pertama kali di Toronto pada tahun 1930.
15 Saya merasa bahwa hidup seorang Angkatan Laut dan hidup seorang Kristiani itu saling bertentangan ... memang jauh lebih sulit untuk menghidupi sepenuhnya pesan Kristus karena orang-orang akan menganiaya kamu, menyangka bahwa kamu gila. Saya merasa bahwa tempat saya di dunia adalah di lain tempat... Saya mulai menyadari bahwa hidup saya harus berkembang dengan jalan-jalan lain... Kita semua memiliki tempat kita, panggilan kita – panggilan saya
Oleh pembimbing rohaninya waktu itu, Hector Daly, SJ, ia disarankan untuk mengikuti retret Ignatian untuk melakukan discernment. Akhirnya, pada tahun 1950, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Angkatan Laut. Di kemudian hari dalam suatu wawancara, Vanier mengungkapkan bahwa keyakinan ini muncul bukan ditentukan oleh penalaran, melainkan ditentukan oleh hati. We feel or sense things. They are not planned. That is where the Spirit intervenes, inspiring us to do things that we had not planned16.
Sekeluarnya dari Angkatan Laut, Vanier berkorespondensi dengan tiga imam. Salah satunya adalah Thomas Philippe (Père Thomas), seorang imam Dominikan dari Perancis yang juga menjadi pembimbing rohani dari Pauline Vanier. Vanier bergabung dalam komunitas Eau Vive (Air Hidup) yang didirikan oleh Père Thomas17. Rupa-rupanya Père Thomas dan gerakan Eau Vive ini sungguh menyentuh hati Vanier hingga ia terlibat dalam gerak bersama18.
Pada bulan April 1952, Père Thomas dipanggil ke Roma karena tuduhan pengajarannya yang terlalu mistik dan kurang ortodoks. Ia tidak dizinkan kembali bukanlah di Angkatan Laut. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 29-30.
16 Kita merasakan sesuatu. Hal ini tidak direncanakan. Itulah saat di mana Roh campur tangan, mengilhami kita untuk melakukan sesuatu yang tidak kita rencanakan. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 30.
17 Eau Vive (harfiahnya, Air Kehidupan) adalah suatu pusat internasional di luar kota Paris untuk mahasiswa-i yang ingin mengetahui spiritualitas Gereja, untuk orang-orang awam yang ingin mengetahui secara lebih dan membawa pengetahuannya itu ke negara asal mereka. Père Thomas yakin bahwa untuk mendapatkan pengetahuan sejati filsafat dan teologi, seseorang hendaknya hidup dalam komunitas pendoa. Eau Vive adalah perkumpulan para intelektual dari berbagai latar belakang, namun berusaha hidup sebagaimana jemaat Kristen perdana. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 36.
18 Vanier menggambarkan perjumpaan pertamanya dengan Père Thomas adalah seperti perjumpaan Yesus dengan dua murid pertama. Yesus mengundang mereka untuk ‘datang dan lihatlah’ (Yoh 1: 39). Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 39. Vanier menulis: “Untuk menjadi seorang guru, kamu tinggal dengan guru hingga dia meneguhkan kamu dan mengutusmu menjadi guru yang pada saatnya mengumpulkan murid.
Inilah cara lain belajar: tinggal bersama guru.” Bdk. Jean Vanier, Community and Growth, (London: Darton, Longman & Todd, 1999), 95-96.
ke Eau Vive. Oleh karena itu, Vanier diminta oleh Père Thomas untuk menggantikannya sebagai Rektor Eau Vive. Sementara itu, Vanier sendiri telah diterima sebagai kandidat imam diosesan Quebec. Barangkali karena Vanier masih terlalu muda dan belum berpengalaman, ditambah dengan ketegangan yang muncul antara dirinya dan imam kapelan, maka Vanier dilepaskan dari tugas sebagai rektor pada tahun 1956. Eau Vive kemudian diambil alih oleh Dominikan.
Setelah dilepaskan dari tugas sebagai rektor, Vanier mengalami ketidakpastian mengenai masa depannya. Beberapa tahun setelahnya menjadi masa menimbang-nimbang dalam kesendirian. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti dari studi imamat dan pergi ke Roma untuk menjumpai Père Thomas19. Kisah selanjutnya adalah keterlibatan Vanier dengan para difabel.
2.2. Kisah L’Arche: Keterlibatan Jean Vanier di antara Para Difabel
Thomas Philippe, OP adalah bapa rohani yang sangat mempengaruhi hidup dan pemikiran Jean Vanier. “If people find that I am very free in my intellectual life, even in my interpretation of the Gospel of St John and in my development of an anthropology [...], it is because I was moulded by the thinking and methods of Père Thomas”20. Tidak hanya bertindak sebagai bapa rohani dari Jean dan Pauline Vanier, Père Thomas jugalah yang membawa Vanier pada perjumpaan langsung dengan orang-orang miskin.
19 Bdk. Michael W. Higgins, Jean Vanier: Logician of the Heart, (Collegeville: Liturgical Press, 2016), 22.
20 Jika orang melihat bahwa saya sangat bebas (terbuka) dalam hidup intelektual, bahkan dalam interpretasi pribadi mengenai Injil Yohanes dan perkembangan antropologi [...], hal itu karena saya dibentuk oleh gagasan dan metode Père Thomas. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 45.
Siapakah Thomas Philippe, OP atau biasa dipanggil Père Thomas ini? Père Thomas adalah seorang imam Dominikan yang dilahirkan pada 18 Maret 1905 di Cysoing, Perancis. Pendidikan menengah ditempuhnya di Kolese Saint-Joseph di Lille yang dikelola oleh para Yesuit. Pada usia 18 tahun, ia memutuskan untuk masuk Seminari diosesan di Issy-les-Moulineaux, Paris. Di Seminari, ia justru merasakan panggilan yang kuat untuk menjadi seorang Dominikan. Maka, setelah hanya dua bulan bertahan di Seminari diosesan, ia masuk biara Dominikan di Kain, Belgia. Thomas Philippe, OP ditahbiskan menjadi imam pada bulan Juli 1929 dalam usia yang masih sangat muda, yakni 24 tahun.
Pada tahun 1936, Père Thomas menempuh pendidikan di Roma dan sejak tahun 1942, ia mengajar di Universitas Angelicum, Roma. Pada tahun itu juga, ia ditugaskan oleh Takhta Suci untuk menjadi Visitator Apostolik untuk Biara dan Rumah Studi Dominikan di Saulchoir, Perancis. Secara khusus, ia diminta untuk memberhentikan Marie-Dominique Chenu, OP21 dari jabatannya sebagai rektor Le Saulchoir. Perutusannya ini menempatkan dirinya pada posisi sulit di tengah komunitasnya. Père Thomas dilepaskan dari tugas ini pada tahun 1947. Setelah dilepaskan dari tugas itu, Père Thomas mendirikan Eau Vive dan mendalami hidup mistik.
21 Marie-Dominique Chenu (1895-1990) mengeluarkan manifesto yang diberi judul Une Ecole de theologie: Le Saulchoir pada tahun 1937. Lewat manifestonya ini, Chenu mengungkapkan bahwa bahwa uraian sebuah teks dan doktrin begitu jelas terhubung dengan kesadaran akan lingkungan sekitar, dengan konteks. Wahyu itu sendiri ditempatkan dalam sisi-sisi manusiawi sesuai dengan zaman, tempat ia memanifestasikan dirinya pada manusia. Manifestonya ini kemudian dimasukkan oleh Takhta Suci dalam Daftar Buku-Buku Terlarang. Ia termasuk dalam kelompok “la nouvelle theologie” bersama dengan Henri de Lubac, Jean Danielou, Hans Urs von Balthasar, Yves Congar, dan Louis Bouyer.
Père Thomas sendiri banyak dipengaruhi oleh John Thompson22, seorang psikiater Kanada, yang memperkenalkan dia pada gagasan Carl Gustav Jung23, terutama mengenai gagasan komunio dan hubungan dasar antara ibu dan anak.
“Hubungan antara ibu dan anak sangat penting. Anak bukan makhluk yang egoistis tetapi sangat rapuh. Ada relasi yang luar biasa dengan ibu yang memenuhi anak dengan kasih, damai, dan persekutuan”24. Hanya melalui pengalaman anak akan cinta kasih ibu, maka ia mengenal kasih; sementara penderitaan datang dari pecahnya hubungan itu.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pada tahun 1952, Père Thomas dilepaskan dari tugasnya di Eau Vive dan dipanggil ke Roma untuk mempertanggungjawabkan ajarannya yang dipandang kurang ortodoks. Walaupun berjauhan, relasinya dengan Vanier tetap berjalan. Bahkan beberapa tahun setelah Eau Vive diambil alih oleh Dominikan, Vanier menyusul Père Thomas ke Roma.
Pada tahun 1962, Père Thomas menjadi kapelan di Val Fleuri, sebuah rumah sakit jiwa di desa kecil di Perancis bernama Trosly-Breuil. Ia mempunyai semakin banyak kontak dengan para difabel intelektual. Setahun kemudian, Vanier diajak untuk membantu. Awalnya Vanier tidak merasa kerasan, tapi ia
22 John Thompson (1906-1965) adalah seorang psikiater Kanada yang pernah tergabung dalam Royal Canadian Air Force pada masa Perang Dunia II. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Edinburgh dan Harvard. Pada tahun 1945, hidupnya berubah ketika menyaksikan secara langsung kekelaman kamp Bergen-Belsen. Berakhirnya Nazi tidak lantas mengakhiri penderitaan. Setelah perang, ia bekerja sebagai intelijen militer yang menyelidiki ilmuwan- ilmuwan Jerman, menyiapkan pengadilan militer, dan mengembangkan konsep kejahatan perang medis. Thompson kemudian mengabdikan diri di Eau Vive. Ia mengembangkan terapi berdasarkan persekutuan tubuh dan jiwa.
23 Carl Gustav Jung (1895-1961) adalah seorang psikiatris dan psikoanalis yang meletakkan dasar psikologi analitis.
24 Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, diterjemahkan dari Drawn into the Mystery of Jesus through the Gospel of John, oleh Mgr I.
Suharyo, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 9.
sangat terkesan dengan apa yang ditemukan oleh Père Thomas tentang keterbukaan para difabel kepada pengalaman kasih Yesus25. Pada akhir musim semi 1964, Vanier mengunjungi sejumlah pusat disabilitas, salah satunya adalah RS St. Jean les Deux Jumeaux. Di situ, Vanier menemukan sekitar 80 orang difabel hidup bersama dalam situasi kacau dan keras. Ketika melihat kondisi seperti itu, ia merasa terkejut sekaligus yakin bahwa “Yesus ingin ada sesuatu yang dilakukan.” Ia kemudian menyadari bahwa panggilannya adalah berada di tengah-tengah orang cacat mental yang ditolak dan dianggap rendah. Mereka adalah yang paling miskin dari semua orang miskin.
Pada bulan Agustus 1964, Vanier mendirikan L’Arche26 bersama Père Thomas di Trosly-Breuil, Perancis. Vanier menyewa sebuah rumah kecil untuk tinggal bersama Raphael Simi dan Philippe Seux, dua orang difabel intelektual, dan membentuk komunitas l’Arche pertama27.
Hari-hari pertama Vanier di L’Arche bersama dua orang sahabat, Raphaël Simi dan Philippe Seux, tidaklah mudah. Akan tetapi, pengalaman awal ini memberi isi pada teori-teorinya (mendagingkan) bahwa kebutuhan para difabel sama dengan kebutuhan manusia lainnya: untuk dicintai dan mencintai, untuk membuat pilihan dan mengembangkan kemampuannya.
25 Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, 9.
26 L’Arche adalah kata Perancis untuk ‘ark’ (bahtera) dan ‘arch’ (busur/lengkungan). Gagasan l’Arche diambil dari gambaran Bahtera Nuh yang melambangkan karya yang menyelamatkan semua fauna dan mengapung di atas air kehidupan. L’Arche juga adalah Bahtera Perjanjian:
Maria, Mater Misericordiae yang membentangkan tangannya untuk memeluk semua penderitaan dunia. Maka, bahtera adalah perjanjian pertama antara Allah dan manusia yang membawa visi yang menyambut orang-orang yang menderita. Ide lain adalah l’Arche sebagai ‘arch’ yang melambangkan jembatan yang menghubungkan manusia. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 67-68.
27 Pada perencanaan awal, ada tiga orang difabel yang disarankan untuk tinggal bersama. Akan tetapi, seorang yang bernama Dany dikembalikan ke Rumah Sakit setelah mengalami halusinasi dan kabur.
Latar belakang sebagai Angkatan Laut dan dosen membuat dirinya menjadi pribadi yang sangat logis, efisien, merasa lebih hebat, dan terbiasa memerintah. Dunia militer dan akademis juga menolak kelemahan. Raphael dan Philippe justru membawanya ke dalam dunia yang miskin, lemah, dan rapuh.
Vanier tidak hanya menemukan penderitaan dalam diri mereka, tapi juga keindahan, kelembutan, dan kemampuan berelasi. Vanier mulai menyadari bahwa dia sendiri diubah oleh mereka. Di balik kepandaian dan idealismenya, ternyata ia merupakan orang yang memiliki cacat dalam hatinya. Ia justru dipanggil untuk belajar dari mereka yang lemah, belajar mendengarkan dan berelasi, belajar bahwa mencintai seseorang berarti kerelaan meluangkan waktu bersama mereka28.
The first thing I discovered was the depth of their pain, the pain of having been a disappointment for their parents and others ...
They had been deeply wounded and humiliated by rejection, and by the lack of consideration shown them by those around them. Because of this, they sometimes became very angry, or escaped into a world of dreams. It was quite clear that they had a great need for friendship and trust, and to be able to express their needs to somebody who would really listen.29
Making friends with Raphaël and Philippe and living a covenant, a sacred bond, with them implied an enormous change in the way I approached life. My education had taught me to be quick and efficient, and to make my own decisions. I was, first and foremost, a man of action rather than a man who listened. In the navy, I had colleagues, but no real friends. Opening ourselves to friendship means becoming vulnerable, taking off our masks and letting down our barriers so we can accept people just as they are, with all their beauty and gifts as well as their weaknesses and inner wounds. It means weeping with them when they weep
28 Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, 11.
29 Hal pertama yang aku temukan adalah luka mereka yang begitu dalam, luka karena telah mengecewakan orang tua dan orang lain...Mereka begitu terluka dan direndahkan karena penolakan dan tidak dianggap oleh orang di sekitar mereka. Oleh karena itu, kadangkala mereka menjadi begitu marah atau melarikan diri ke dalam dunia mimpi. Menjadi jelas bahwa mereka memiliki kebutuhan akan persahabatan dan kepercayaan dan untuk mampu mengungkapkan kebutuhannya pada seseorang yang akan sungguh mendengarkan mereka. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 30.
and laughing when they laugh. I had created barriers around my heart to protect it from pain. In L’Arche, I was no longer climbing the ladder of human promotion and becoming more and more efficient and important. Instead I was “descending,” “wasting time”
with people with intellectual disabilities, so that together we could create communities, places of covenant and communion.30
Vanier tidak pernah bermaksud memulai suatu organisasi atau gerakan besar. Akan tetapi, pada 22 Maret 1965, Vanier diminta untuk mengambil alih Val Fleuri yang kehilangan seluruh stafnya yang mengundurkan diri. Ada sekitar 30 orang difabel yang dirawat di Val Fleuri. Mau tidak mau, Vanier masuk ke dalam dunia administrasi dan regulasi dan berurusan dengan pemerintah. Karyanya tidak lagi menjadi sekadar karya karismatis, tapi karya yang legal menurut negara.
Rumah besar tidak pernah masuk dalam visi Vanier. Dengan semakin banyak orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, Vanier harus membuka bengkel (workshop) untuk para difabel supaya mereka dapat mengembangkan diri. Ia menemukan bahwa mereka sangat berbakat dalam membuat mosaik, kerajinan tanah liat, menenun, dan berkebun.
Secara perlahan-lahan, gaya hidup di L’Arche dan Val Fleuri berubah.
Semakin banyak pihak dilibatkan untuk membantu, baik secara finansial, materi, maupun kehadiran nyata sebagai asisten di L’Arche. Permintaan juga semakin
30 Menjalin persahabatan dengan mereka dan hidup bersama mereka membutuhkan suatu perubahan besar. Aku dididik untuk bertindak cepat dan efisien, dan untuk membuat keputusan sendiri. Aku, pertama dan terutama, adalah pribadi yang bertindak daripada mendengarkan. Di Angkatan Laut, aku memiliki kolega, tapi bukan sahabat sejati. Membuka diri terhadap persahabatan berarti menjadi rentan, melucuti topeng-topeng kita, dan menurunkan sekat-sekat diri sehingga kita dapat menerima orang sebagaimana diri mereka, dengan seluruh keindahan dan karunia mereka, juga kelemahan dan luka-luka mereka. Hal itu berarti ikut menangis ketika mereka menangis dan tertawa ketika mereka tertawa. Aku telah membangun sekat yang membatasi hatiku, untuk melindunginya dari rasa sakit. Di L’Arche, aku tidak lagi mengejar promosi dan menjadi semakin efisien dan semakin penting. Sebaliknya, aku ‘berjalan turun’, ‘membuang waktu’ dengan mereka, sehingga kami bersama-sama dapat membangun komunitas, tempat perjanjian dan komunio. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 33.
meningkat baik dari para orangtua, departemen sosial, maupun institusi kejiwaan lain. Beberapa profesional datang mempraktikkan terapi-terapi baru. Salah satunya adalah dengan menciptakan lingkungan yang peka terhadap kebutuhan para difabel dan mendorong partisipasi aktif mereka.
Komunitas L’Arche akhirnya berkembang ke luar Perancis. Komunitas- komunitas ini lahir karena pengalaman berjumpa langsung dengan sosok Jean Vanier, baik dalam kesempatan retret maupun seminar, ataupun lewat pengalaman hidup bersama para difabel sebagai asisten. Dalam proses ini, mereka menghadapi tantangan sekaligus nilai-nilai baru. L’Arche didirikan juga di negara-negara Dunia Ketiga seperti Haiti, Honduras, dan India. Di situ, mereka harus menghadapi kenyataan bagaimana bertahan hidup tanpa sokongan dari pemerintah. Mereka sepenuhnya hidup dari donasi yang dikumpulkan sendiri;
entah dari luar negeri, atau dari usaha pertanian, maupun dari uang pensiun mereka. Mereka juga berjumpa dengan kenyataan kemiskinan yang menjadi akar penderitaan dan banyak dari para difabel hidup sungguh miskin. Vanier menyadari di balik kesulitan ini, ia diajak untuk belajar “bagaimana hidup miskin”.
To become poor not externally, but poor internally because I am possessed by the Spirit, transformed by it. [...] Unity must come between those who are entrenched in the world of wealth and human security and those who are in the world of poverty, but it can only come when the rich start to abandon their security to live the security of God and thus really draw near to the poor and the little ones.31
31 Menjadi miskin tidak hanya secara lahiriah, tapi juga miskin batiniah karena saya dikuasai oleh Roh Kudus, diubah oleh-Nya. [...] Kesatuan mesti terjadi antara mereka yang berakar dalam dunia kelimpahan dan perlindungan manusia dengan mereka yang berada dalam dunia kemiskinan. Hal ini hanya dapat terjadi ketika si kaya mau meninggalkan rasa aman untuk hidup dalam perlindungan Allah dan kemudian membawanya semakin dekat dengan mereka yang kecil dan miskin. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 114.
Tantangan lain juga adalah benturan budaya dan agama sebagaimana dialami komunitas L’Arche di Afrika dan Inggris. Mereka berjumpa dengan budaya non-Barat yang memiliki kekhasan rasa berbudayanya. Mereka berjumpa dengan agama non-Katolik, ataupun komunitas tidak lagi didominasi orang Katolik. Kegelisahan yang sering muncul adalah nilai manakah yang harus dihidupi. L’Arche tidak pernah ditentukan untuk menjadi ekumenis. Akan tetapi, dalam perjalanan waktu, Vanier semakin yakin bahwa L’Arche seharusnya tidak menjadi komunitas religius eksklusif maupun komunitas awam yang eksklusif Katolik.
Situasi dunia di mana terjadi banyak konflik menimbulkan penderitaan besar. Vanier memandang bahwa sekat-sekat bangsa dan agama harus dirobohkan karena semua orang mengalami penderitaan yang sama: keterpisahan, luka, dan kerusakan dalam dunia. Ada universalitas dalam panggilan untuk minum dari piala penderitaan32. Dalam situasi itu pulalah, Vanier melihat bahwa salah satu kerinduan terdalam manusia adalah hasrat akan perdamaian. Maka kita semua dipanggil untuk menjadi manusia pendamai (men and women of peace) di manapun33.
Karya Vanier tidak hanya terbatas pada dinamika komunitas di L’Arche tapi juga bergerak ke luar, terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan makna penting kehadiran para difabel intelektual. Seri retret “Faith and Sharing”34
32 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 156.
33 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 225.
34 “Faith and Sharing” adalah seri retret 8 hari yang mengajak pesertanya untuk hidup seturut semangat Sabda Bahagia dan mewartakan kabar gembira kepada orang miskin. Peserta diajak untuk menyadari dua gerak pribadi: gerak ke dalam untuk menemukan Allah yang tersembunyi