BAB IV: GAGASAN MENGENAI KRISTUS DAN ALLAH
4.3. Kristologi terhadap yang Tertindas menurut Jon Sobrino
4.3.6. Aspek Sosial Belas Kasih
Sobrino mengungkapkan bahwa belas kasih itu bersifat personal dan sekaligus sosial. Sebagai aspek personal, tiap pribadi Kristiani dipanggil untuk mewujudkan belas kasih Allah terhadap mereka yang lemah. Sobrino menekankan kebutuhan akan simpati sebagai titik awal tindakan belas kasih. Di zaman sekarang ini di mana yang kaya dan berkuasa memisahkan diri dari penderitaan orang miskin, kurangnya belas kasih terungkap dalam sikap masa bodo terhadap situasi dunia dan tidak mau terbuka terhadap sesama. Oleh karena itu, Sobrino menekankan kebutuhan akan simpati sebagai titik awal tindakan belas kasih.
Sebagai orang Kristiani, kita harus jujur terhadap realita, membuka diri terhadap kebenaran dunia dan penderitaan orang lain. “Just as with the Samaritan in the parable, in the presence of a crucified people, their hearts were moved and they were moved to mercy”165. Menolak untuk terbuka terhadap hal ini berarti tidak berbelas kasih, yang adalah tanda kedosaan dan penolakan terhadap Allah yang berbelas kasih pada orang tertindas166.
Aspek sosial dari belas kasih adalah bagaimana belas kasih itu menjadi efektif dan abadi, melampaui bantuan amal kasih yang hanya bersifat sementara.
164 Bdk. Jon Sobrino, “Spirituality and the Following of Jesus”, 701.
165 Sebagaimana orang Samaria dalam perumpamaan, di hadapan orang yang tersalib, hati mereka tergerak dan mereka digerakkan pada belas kasih. Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 175.
166 Bdk. Todd Walatka, “The Principle of Mercy: Jon Sobrino and the Catholic Theological Tradition”, 110.
Kepenuhan belas kasih harus dilihat dalam sifatnya yang membebaskan dan tidak hanya sekadar bermurah hati; belas kasih haruslah struktural dan bertahan lama.
Hidup dituntun oleh belas kasih berarti “working to eliminate the structural causes of poverty and to promote integral development of the poor, as well as small daily acts of solidarity in meeting the real needs we encounter”167.
Sobrino mengaitkan belas kasih dengan perlunya perubahan struktur. Kita perlu menyadari bahwa struktur sosial yang menindas ini, dibuat dan dilestarikan oleh manusia. Maka, menolak struktur tak berbelas kasihan yang mengakibatkan penderitaan adalah “a logical extension of an authentic love which responds with effectiveness to the suffering of one’s neighbor”168.
Sobrino menekankan belas kasih sebagai tanggapan terhadap kemiskinan dan penderitaan secara materi. Pandangan Sobrino mengenai keselamatan berpusat pada Kerajaan Allah dan karenanya mencakup juga aspek sosial politik Pandangan ini tentunya didasarkan pada perkembangan teologi pasca Konsili Vatikan II, Konferensi Medellin, dan Teologi Pembebasan. Gereja “menempuh perjalanan bersama dengan seluruh umat manusia, dan bersama dengan dunia mengalami nasib keduniaan yang sama” (GS 40). Poin dasarnya adalah Gereja ada dalam dan menjadi bagian dari dunia. Tentu saja tidak hanya sekadar menjadi bagian dari dunia, tapi Gereja menjadi tanda keselamatan. Pandangan positif mengenai relasi antara Gereja dan dunia ini terungkap dalam GS 42 bahwa
167 Berusaha menghapus penyebab struktural kemiskinan dan memajukan perkembangan integral orang miskin, serta tindakan solidaritas harian sederhana dalam memenuhi kebutuhan nyata yang kita jumpai (Evangelii Gaudium, 188).
168 Perpanjangan logis dari cinta sejati yang menanggapi penderitaan sesama secara efektif. Bdk.
Todd Walatka, “The Principle of Mercy: Jon Sobrino and the Catholic Theological Tradition”, 112.
“Gereja mengakui apapun yang serba baik dalam gerak pembangunan masyarakat zaman sekarang, terutama perkembangan menuju kesatuan, kemajuan sosialisasi yang sehat, dan solidaritas kewarganegaraan dan ekonomi.” Inilah dasar dari panggilan orang Kristiani untuk memenuhi tanggung jawab duniawinya (GS 43) dan berusaha mencari tatanan dunia yang lebih adil (GS 21). Fokus Sobrino pada belas kasih sebagai tanggapan terhadap kemiskinan dan penderitaan materi harus dipahami dalam konteks ini169.
Mengapa gagasan belas kasih Sobrino ini penting dalam menggerakkan Gereja dan menanggapi dunia saat ini? Pertama, tema belas kasih sendiri jarang disinggung dalam pustaka teologi dogmatik Gereja. Kedua, Sobrino tidak berusaha menambah ajaran Kristologi. Ia hanya menekankan prinsip belas kasih sebagai prinsip yang membentuk hidup dan perutusan Yesus. Ketiga, belas kasih harus dipandang sebagai hal yang mendasar dalam hidup Kristiani dan berulang kali Paus Fransiskus menyerukan tentang belas kasih ini. “He (Pope Francis) insists that personal and ecclesial praxis should be shaped by a merciful disposition which responds to the cry for justice; only in this way can it be an adequate reflection of and response to the mercy of God which fundamentally shapes Christ’s work and mission”170.
Sobrino menghubungkan kesucian dan belas kasih pribadi pada penderitaan orang miskin. Belas kasih tidak hanya menumbuhkan keutamaan
169 Bdk. Todd Walatka, “The Principle of Mercy: Jon Sobrino and the Catholic Theological Tradition”, 113.
170 Dia (Paus Fransiskus) menuntut bahwa praksis pribadi dan gerejawi seharusnya dibentuk oleh disposisi berbelas kasih yang menanggapi jeritan untuk keadilan; hanya dengan cara ini, praksis dapat menjadi refleksi yang memadai dan tanggapan terhadap belas kasih Allah yang pada dasarnya membentuk karya dan perutusan Kristus. Todd Walatka, “The Principle of Mercy: Jon Sobrino and the Catholic Theological Tradition”, 116.
pribadi dan memurnikan hasrat, tapi juga membentuk praksis personal dan Gerejani yang menanggapi jeritan demi keadilan. Hanya dengan cara ini, kita merefleksikan dan menanggapi secara penuh belas kasih Allah yang membentuk karya dan perutusan Yesus171.
171 Bdk. Todd Walatka, “The Principle of Mercy: Jon Sobrino and the Catholic Theological Tradition”, 115-117.
BAB V
KESIMPULAN DAN PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Pada bagian penutup ini, penulis akan merangkum apa yang telah disarikan dalam bab-bab sebelumnya. Penulis mengangkat kisah seorang bernama Jean Vanier dan keterlibatannya bersama para difabel intelektual di komunitas L’Arche. Berangkat dari pengalaman hidup bersama para difabel, Vanier mengungkapkan gambaran yang lebih kaya mengenai Allah dan manusia.
Bab 2 dari thesis ini berisikan biografi singkat dari Jean Vanier. Penulis mengungkapkan perjumpaan Vanier dengan para difabel. Setelah sekian tahun bergabung dalam Angkatan Laut, Vanier merasa bahwa Angkatan Laut bukanlah tempat yang tepat untuk dirinya. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari karier kemiliteran. Vanier mengalami suatu kehausan rohani dan berusaha mencari makna hidup. Lewat perjumpaan dengan Père Thomas Philippe, OP yang menjadi pembimbing rohaninya, Vanier menemukan bahwa dirinya dipanggil untuk hidup bersama para difabel yang ditolak dan dipandang rendah. Vanier merasa yakin bahwa Yesus memanggilnya untuk mengusahakan sesuatu. Inilah
cikal bakal dari komunitas L’Arche yang kini telah tersebar di 38 negara dan memiliki ribuan anggota difabel.
Bab 3 dari thesis ini berisikan gagasan Vanier mengenai manusia. Apakah keterlibatan dengan difabel dan secara khusus gagasan Vanier ini menawarkan cara pandang baru dalam melihat dan memaknai permasalahan manusia zaman ini? Vanier melihat bahwa sejarah dunia umat manusia adalah sejarah konflik;
pribadi atau kelompok yang satu menunjukkan kekuatan terhadap pribadi atau kelompok yang lain. Mereka yang berbeda dengan dirinya, entah itu suku bangsa, agama, ataupun kemampuannya, seringkali dilihat sebagai ancaman bagi dirinya.
Akibatnya, manusia cenderung hidup memisahkan diri dan terkotak-kotak.
Gambaran dunia ini berangkat dari bagaimana manusia memandang dirinya. Manusia berusaha supaya dirinya dipandang penting dan berarti.
Kelemahan yang ada dalam diri manusia harus disembunyikan. Ketika manusia berusaha menutupi kelemahannya dan menunjukkan keunggulannya, kekerasan terjadi. Kekerasan yang dilakukan oleh pribadi ini kemudian berkembang menjadi budaya yang menyingkirkan pribadi-pribadi yang miskin dan lemah. Vanier hendak mengangkat pengalaman luka yang ada dalam diri tiap manusia; tidak untuk ditolak, tapi untuk disadari dan diterima.
Di tengah situasi penderitaan dan konflik dunia, manusia dipanggil untuk membangun suatu dunia pertalian (belonging). Sesungguhnya pertalian, rasa aman, dan damai adalah apa yang dibutuhkan oleh manusia. Pertalian hendaknya dibangun di atas dasar kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari umat
manusia. “We may be rooted in a specific family and culture but we come to this earth to open up to others, to serve them and receive the gifts they bring to us”1.
Dunia pertalian yang diusahakan Vanier sangatlah sederhana: hidup bersama dengan mereka yang dipandang paling lemah dan rentan. Vanier tinggal serumah bersama para difabel, menjalin relasi hati ke hati dengan mereka. Vanier menemukan bahwa hidup manusia diperkaya dengan tinggal bersama para difabel.
Pertama-tama, hidup bersama para difabel mendorong kita untuk menggali semangat kasih melalui hal-hal sederhana. Kedua, hidup bersama para difabel mendorong kita untuk menerima kelemahan dan kerentanan diri. Ketiga, hidup bersama para difabel mengajarkan kita tentang arti penting mendengarkan.
Pandangan Vanier mengenai manusia sebagai yang rentan dan terluka, lahir dari perjumpaan langsung dengan pribadi difabel yang memang dipandang lemah dan rentan dalam masyarakat.
Dalam Receiving the Gift of Friendship, seorang Profesor Etika dan Disabilitas bernama Hans Reinders, meneguhkan Vanier. Reinders mencari pendasaran yang bisa menginklusikan para difabel ini. “It says that people with profound intellectual disabilities are people just like other people”2. Pernyataan ini mengantar Reinders pada pertanyaan mendasar: “Apa artinya menjadi manusia? Apa yang membuat manusia sebagai manusia?” “However, things begin to look different as soon as the question of what distinguishes people from other
1 Biarpun kita berakar dalam keluarga dan budaya tertentu, namun kita masuk ke dunia ini untuk membuka diri terhadap orang lain, untuk melayani mereka dan menanggapi karunia yang mereka bawa pada kita. Jean Vanier, Becoming Human, 36.
2 Dikatakan bahwa orang-orang dengan disabilitas intelektual berat adalah orang-orang sebagaimana yang lainnya. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 1.
living creatures arises”3. Apa yang menjadikan kita sungguh manusia adalah sesuatu di luar diri kita yaitu kenyataan bahwa kita adalah tujuan kasih Allah.
Allah menjalin persahabatan dengan semua manusia, apapun kemampuan dan disabilitasnya. Persahabatan harus dilakukan secara bebas, namun juga harus diterima sebagai karunia. Oleh karena kenyataan ini adalah karunia ilahi, maka harus dipandang sebagai tindakan rahmat dan diteruskan pada setiap orang dengan cuma-cuma. Di mata Allah, semua manusia menerima kebaikan kasih-Nya dan keterikatan pribadi dengan bangsa manusia dipenuhi melalui persahabatan.
Rahmat persahabatan dari Allah harus diteruskan kepada mereka yang menderita disabilitas intelektual, bahkan kalau tidak terjadi hubungan timbal balik. Menerima tanpa syarat mereka yang difabel adalah tanggapan terhadap belas kasih Allah. Bersahabat dengan difabel berarti kita belajar tidak hanya menjadi pemberi, tapi juga penerima persahabatan mereka dan Allah. Kiranya persahabatan yang dipahami Reinders adalah apa yang dihidupi oleh Vanier dengan tinggal bersama para difabel.
Reinders memperkaya Vanier dengan masuk dalam diskursus-diskursus yang tidak didalami oleh Vanier. Dalam tulisan-tulisannya, Vanier tidak menyinggung ataupun menggali disabilitas sebagai fenomena sosial. Vanier juga tidak berusaha mempengaruhi ataupun mengubah kebijakan publik berkaitan dengan disabilitas. Dengan masuk dalam diskursus-diskursus, Reinders menegaskan supaya kita tidak terjebak pada protokol dan hal-hal normatif belaka, melainkan masuk pada sikap dan gerak. Reinders meneguhkan gagasan Vanier
3 Namun, hal-hal mulai terlihat berbeda segera setelah muncul pertanyaan mengenai apa yang membedakan orang dari makhluk hidup lainnya muncul. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 1.
dengan membangun pemahaman bahwa usaha-usaha membangun persahabatan dengan para difabel bukan hanya ungkapan emosional hati, tapi suatu tindakan yang dapat dipahami dan dijalankan oleh semua orang.
Bab 4 dari thesis ini mengenai spiritualitas dan pandangan beriman Vanier. Lewat kebersamaan hidup dengan para difabel, relasi pribadi manusia dengan Allah diperkaya dan diperdalam. Dalam gagasan Vanier sangat jelas adanya relasi erat antara kerentanan dalam diri manusia dengan kehadiran Allah.
Kerentanan bisa dimaknai karena adanya relasi pribadi manusia dengan Allah.
Dengan mengingat kerentanannya, manusia bisa menemukan wajah Allah yang lebih kaya.
Bertolak dari apa yang diusahakan oleh Vanier dan L’Arche, kita memahami bahwa relasi pribadi manusia dengan Allah dapat diperkaya dalam dua hal. Pertama, manusia menanggapi panggilan Allah dengan hidup bersama mereka yang rentan. Kedua, gambaran Allah sebagai Yang Berbelas Kasih (The Compassionate One)4 dan hadir dalam kesejarahan dunia lewat pribadi Yesus Kristus. Dengan gagasan ini, manusia tidak hanya menemukan wajah Allah yang lebih kaya, tapi juga manusia sungguh merasa dekat dengan Allah.
Di tengah situasi kekerasan dan kebencian yang melingkupi dunia, Allah memanggil manusia untuk membangun dunia pertalian (belonging). Dunia pertalian dibangun dengan memasuki relasi hati ke hati. Manusia memperlakukan sesamanya dengan kasih dan berbelas kasih pada mereka yang lemah dan tertindas. Dengan jalan ini, manusia menjadikan dirinya rentan di hadapan
4 Bdk. Brian D. Berry, “Jesus and Virtue Ethics in the Spirituality of Jean Vanier”, 62.
sesamanya. Manusia menumbuhkan hatinya untuk menerima sesamanya dengan segala kerapuhannya, menemukan keindahan dalam diri mereka, hingga akhirnya mengalami kehadiran Allah dalam diri sesamanya. Di dalam relasi hati ke hati inilah, Allah dapat dialami5.
Relasi hati ke hati ini secara jelas diungkapkan dalam tiga gambaran biblis: Sabda Bahagia, Perjamuan Nikah, dan spiritualitas tinggal/ berada dalam (µένω). Kalau seseorang ingin menempuh relasi hati ke hati, maka pertama-tama ia harus menghidupi Sabda Bahagia. Hal itu berarti “live in a special way the mystery of the poverty and weakness of Jesus, who came to be with the poor and the weak”6. Relasi hati ke hati yang lebih dalam adalah mengadakan persekutuan dengan yang miskin dan lemah, duduk bersama dalam satu meja perjamuan.
Akhirnya, persekutuan itu diangkat sampai pada taraf persahabatan, “tinggal satu dalam yang lain” dengan yang miskin dan lemah. Vanier menggunakan tiga gambaran biblis ini untuk menjelaskan bagaimana orang beriman dapat mengalami Allah yang menghadirkan Diri.
Tahap-tahap relasi hati ke hati ini akan mengantar manusia pada relasi dengan Allah sendiri sebagai jawaban atas tawaran persahabatan dari Allah.
Manusia menghidupi relasi hati ke hati ini sebagai perwujudan mengikuti Yesus Kristus. Dengan menghidupi relasi hati ke hati ini lewat kebersamaan dengan yang miskin, lemah, dan difabel, relasi pribadi manusia dengan Allah diperkaya.
5 Bdk. Jean Vanier, Becoming Human, 87.
6 Hal itu berarti menghidupi misteri kemiskinan dan kelemahan Yesus, yang datang untuk bersama mereka yang miskin dan lemah. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 17.
Vanier memandang bahwa Yesus adalah pribadi yang juga membangun relasi hati ke hati dengan manusia yang miskin dan lemah. Dalam hidup-Nya di dunia, Yesus memaklumkan kabar gembira kepada yang miskin dan lemah. Tidak hanya memaklumkan, Yesus sendiri menjadi kabar gembira itu lewat karya dan penyembuhan-Nya. Yang mendasari tindakan Yesus itu adalah hati-Nya yang digerakkan oleh belas kasihan. Gambaran Allah sebagai Yang Berbelas Kasih hidup dalam Diri Yesus.
Sobrino memperkaya apa yang dikatakan Vanier lewat karyanya “The Principle of Mercy”. Belas kasih Yesus terhadap orang yang menderita - misalnya Yesus yang menyembuhkan orang sakit – bukan hanya sekadar reaksi terhadap penderitaan yang dijumpai. Bila dilihat dalam seluruh karya keselamatan Allah, belas kasih ini mendasari seluruh tindakan Allah sejak permulaan penciptaan.
Sobrino menegaskan bahwa belas kasih adalah suatu prinsip; suatu kasih spesifik yang ada sejak awal mula proses, tapi juga senantiasa hadir dan aktif di sepanjang proses, menghadirkannya dengan keterarahan tertentu dan membentuk unsur-unsur penyusunnya.
Di balik gagasan Sobrino ini adalah spiritualitas mengikuti Yesus (following of Jesus). Jika belas kasih adalah prinsip dasar tindakan Allah, maka belas kasih ini hendaknya juga menjadi prinsip yang menggerakkan kita, umat-Nya. Belas kasih kita pertama-tama adalah tanggapan terhadap Allah yang memanggil kita untuk bekerjasama dalam karya penyelamatan-Nya di dunia ini.
Dengan mengikuti Allah, maka belas kasih kita menjadi tanda kehadiran aktif Allah di dunia sebagaimana dahulu Yesus juga hadir di dunia dan menampakkan
wajah Allah yang berbelas kasih. Spiritualitas mengikuti Yesus menegaskan makna kehadiran kita di dunia dan belas kasih yang harus kita hadirkan dalam hidup.
Apa kaitan Sobrino dengan Vanier yang hendak saya angkat di sini?
Sobrino mengkritisi Vanier dengan menggali hal-hal yang sesungguhnya mengungkapkan banyak hal mengenai penderitaan difabel, tapi tidak disinggung oleh Vanier. Adanya pisau analisis lain seperti gagasan Sobrino ini, dapat membantu kita untuk memahami gagasan Vanier secara lebih sistematis.
Pertama, Vanier tidak mengungkapkan secara jelas mengapa ia ingin hidup bersama dengan para difabel. Vanier mengungkapkan bahwa Allah memanggilnya, “Yesus ingin ada sesuatu yang dilakukan terhadap para difabel.”
Apakah panggilan Vanier ini bisa diterapkan pada siapa saja? Bagaimana bila seseorang tidak merasa terpanggil ketika berhadapan dengan yang lemah dan miskin? Mengapa kita harus berbelas kasih pada yang lemah? Apakah perasaan kasihan kita dapat dipertanggungjawabkan secara rasional? Di sinilah Sobrino mengungkapkan bahwa hidup kita di dunia harus menjadi tanggapan terhadap panggilan Allah dan tanda kehadiran aktif Allah di dunia. Sobrino membantu kita dalam membangun pendasaran rasional dari apa yang diungkapkan dan dihidupi oleh Vanier dan L’Arche.
Kedua, Vanier tidak menguraikan hidupnya bersama orang difabel dalam suatu analisis sosial. Apa yang dipahami Vanier mengenai terjadinya konflik dan penderitaan adalah bahwa manusia tidak dapat menerima kelemahan dan kerapuhan dirinya. Kekerasan adalah usaha manusia untuk menyembunyikan
kelemahan dan kerapuhannya itu. Rupa-rupanya gagasan Vanier ini tidak begitu berbunyi dalam situasi penderitaan yang lebih global dan masif; sebagai contoh penderitaan yang dialami oleh rakyat Amerika Latin pada masa lahirnya Teologi Pembebasan. Di negara-negara miskin ataupun negara-negara yang sedang berkonflik, jelas bahwa penderitaan disebabkan oleh ketidakadilan. Vanier sendiri sudah menyinggung mengenai ketidakadilan, namun ia tidak masuk ke dalam masalah ketidakadilan dalam skala yang lebih masif di mana ketidakadilan ini tidak hanya disebabkan karena manusia yang tidak dapat menerima kerapuhan dirinya. Di negara-negara miskin ataupun negara-negara yang sedang berkonflik, gagasan antropologi Vanier yang begitu personal, tidak banyak berbunyi.
Sobrino melengkapi apa yang kurang dari gagasan Vanier, yakni aspek sosial politik dari ketidakadilan. Apa yang dilihat oleh Sobrino di negara-negara Amerika Latin adalah penderitaan rakyat yang disebabkan oleh ketidakadilan yang terstruktur dan terinstitusionalisasi. Ketidakadilan yang dialami oleh orang miskin dan lemah bukan hanya ketidakadilan seseorang terhadap pribadi lain, tapi ketidakadilan struktural. Apabila pengalaman rakyat miskin ini ditarik kepada pengalaman para difabel, maka kaum difabel adalah juga orang-orang tersalib yang disingkirkan dari struktur masyarakat. “Menurunkan rakyat tersalib dari salib” dalam hidup kaum difabel berarti mengusahakan supaya difabel dapat menjadi kelompok yang diakui dalam struktur masyarakat, diakui dalam kebersamaan. Oleh karena itu, dengan dibantu kacamata analisis Sobrino, kita memahami bahwa disabilitas juga merupakan masalah sosial politik dan bisa juga
menyangkut masalah ekonomi. Masalah disabilitas tidak hanya didekati secara personal dan spiritual, tapi juga secara sosial politik.
5.2. Keterlibatan Gereja bersama Para Difabel
Sobrino mengungkapkan bahwa Gereja yang sejati adalah Gereja “seperti halnya Yesus”; Gereja yang memiliki keserupaan dengan Yesus. Jika belas kasih adalah unsur yang paling membentuk bangunan hidup Yesus, maka belas kasih ini harus menjadi prinsip dasar hidup Gereja. “This principle of mercy is the basic principle of the activity of God and Jesus, and therefore ought to be that of the activity of the Church”7.
Apa yang dapat dibuat oleh Gereja? Dalam bahasa Vanier, Gereja harus menjadi tempat pertalian (belonging), tempat berbagi, tempat damai dan kebaikan, tempat di mana setiap orang dikasihi dan diterima dengan seluruh kerapuhan dan ketakberdayaannya8. Sobrino menambahkan bahwa Gereja ini harus sungguh berpijak pada tempat dan situasi tertentu. Konteks paling nyata bagi Gereja adalah penderitaan rakyat, maka Gereja harus hadir di tengah-tengah mereka yang menderita. Gereja harus keluar dari kenyamanan dirinya untuk hadir bersama mereka yang menderita. Ketika Gereja ke luar dari dirinya untuk hadir bersama mereka yang menderita, Gereja mendesentralkan dirinya dan mengikuti Yesus.
Apa yang dilakukan Gereja ini adalah bentuk tanggapan terhadap panggilan
7 Prinsip belaskasih ini adalah prinsip dasar dari kerja Allah dan Yesus, dan oleh karena itu seharusnya menjadi prinsip dasar kerja Gereja. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 16.
8 Bdk. Jean Vanier, Befriending the Stranger, 12.
Allah, sekaligus juga bentuk kemuridan mengikuti Allah yang juga berbelas kasih
Allah, sekaligus juga bentuk kemuridan mengikuti Allah yang juga berbelas kasih