BAB IV: GAGASAN MENGENAI KRISTUS DAN ALLAH
4.3. Kristologi terhadap yang Tertindas menurut Jon Sobrino
4.3.1. Sobrino dan Konteks Penderitaan Amerika Latin
Menurut Sobrino, Yesus adalah belas kasih Allah yang datang dalam bentuk nyata ke dunia ini, gambaran radikal Allah yang masuk ke dalam kekacauan manusia dan dosa. Kemiskinan Yesus adalah bagian dari Diri Allah yang ingin dekat dengan mereka yang lemah dan tertindas.
“Suffering is a perennial question for theology, to which theologians have attempted to give their various responses”103. Setiap teologi mesti menghadapi penderitaan, menentukan bentuk dasariah dari penderitaan, dan bertanya “Apa yang bisa dilakukan?” Perkembangan setiap teologi ditentukan oleh caranya menanggapi penderitaan. Di hadapan penderitaan, teologi harus memahami
103 Penderitaan adalah suatu pertanyaan abadi bagi teologi, di mana para teolog berusaha memberikan tanggapan yang beragam. Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, (New York:
Orbis Books, 1994), 28.
dirinya sebagai latihan intelektual yang tujuan utamanya adalah melenyapkan penderitaan semacam ini. Ringkasnya, “suffering in today’s world means primarily the sufferings of people who are being crucified, and the purpose of theology is to take these people down from the cross”104.
Teologi tidak pernah menjadi realita pertama. Teologi senantiasa didahului oleh realita pewahyuan dan iman. Sebelum seseorang dapat menteologisasi, pertama-tama ia harus berada pada tempat, konteks, atau locus tertentu.
Pemahaman seseorang akan tempat ini akan menentukan bagaimana ia memahami teologi dan apa yang dituntut dari tempat tersebut105. “This spatio-temporal context can make the text give something or other of itself, so that the fundamental question will be, what is the best context from which to read the texts about Jesus of Nazareth”106.
Bagi teologi pembebasan, teologi harus dilakukan dalam penderitaan dunia karena itulah dunia yang paling nyata. Teologi pembebasan menuntut bahwa tempatnya adalah kenyataan historis di mana kita dapat menemukan Kebenaran dan Yang Mutlak yang membawa janji keselamatan dan menuntut
104 Penderitaan dalam dunia saat ini berarti penderitaan orang-orang yang sedang disalibkan dan tujuan teologi adalah menurunkan mereka dari salib. Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 29.
105 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 30-31.
106 Konteks spatio-temporal ini dapat membuat teks memberikan sesuatu atau yang lain dari dirinya sendiri, sehingga pertanyaan mendasarnya adalah, apa konteks terbaik untuk membaca teks tentang Yesus dari Nazaret. Jon Sobrino, “Jesus of Galilee from the Salvadoran Context:
Compassion, Hope, and Following the Light of the Cross,” dalam Theological Studies 70 (2009), 439. Sebagai contoh, Sobrino mengangkat teks pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Dengan konteks Amerika Latin, teks ini mengungkapkan bahwa Allah mendengarkan jerit tangis umat yang diperbudak dan Allah membebaskan mereka. Bdk. Jon Sobrino, “Jesus of Galilee from the Salvadoran Context: Compassion, Hope, and Following the Light of the Cross,” 441.
tindakan dalam sejarah. Di Amerika Latin, kenyataan ini digambarkan sebagai
“meluapnya orang miskin” (irruption of the poor)107.
What gave birth to this theology (Liberation Theology), was the irruption of the poor and of God in the poor. [...] The poor irrupted in our world, and did so in a holistic manner. With them, God also irrupted. [...] Even in transcendence, the Divine remains faithful to history and is commited to a programme of goodness for creation. [...]
Transcendent glory and historical life are interconnected.108
Meluapnya orang miskin ini adalah kenyataan orang-orang zaman ini.
Kemiskinan dapat dipandang sebagai kenyataan utama dunia kita karena membawa penderitaan yang masif dan kejam. Kemiskinan yang membawa penderitaan dan mengakibatkan kematian memicu pertanyaan akan Allah atau Yang Tertinggi109. “Theology finds its place in a suffering world insofar as such a world is a mediation of the truth and absoluteness of God”110.
Berhadapan dengan penderitaan, reaksi manusia pertama-tama adalah belas kasih yang berusaha membantu orang keluar dari penderitaan tersebut.
Dalam terminologi sekarang, belas kasih menjadi pembebasan. Tanggapan terhadap penderitaan ini adalah sebuah opsi dan Teologi Pembebasan ikut serta dalam opsi tersebut111.
107 Di negara-negara Amerika Latin, negara ditata di mana para tuan tanah dan pebisnis adalah penguasa negara. Hadirnya masyarakat miskin yang ternyata mayoritas dialami sebagai irruption yang mengacaukan tatanan itu.
108 Apa yang melahirkan teologi ini (Teologi Pembebasan) adalah meluapnya orang miskin dan Allah dalam diri orang miskin. [...] Orang miskin meluap dalam dunia kita, dan melakukannya dengan cara yang holistik. Bersama mereka, Allah juga meluap. [...] Bahkan dalam transendensi, Yang Ilahi tetap setia pada sejarah dan berkomitmen pada rencana kebaikan untuk penciptaan. [...]
Kemuliaan transenden dan kehidupan historis saling berhubungan. Jon Sobrino, “The Root of Liberation Theology”, dalam Patrick Gnanapragasam dan Elisabeth Schüssler Fiorenza (eds.), Negotiating Borders: Theological Explorations in the Global Era, (Delhi: ISPCK, 2008), 625-626.
109 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 32-33.
110 Teologi menemukan tempatnya dalam dunia penderitaan sejauh dunia itu menjadi sebuah mediasi kebenaran dan kemutlakan Allah. Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 30.
111 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 37.
Allah dalam Diri-Nya digerakkan oleh belas kasih. Allah membebaskan umat Israel dari Mesir, bukan demi perjanjian di masa mendatang, tapi karena berbelas kasih ingin menanggapi penderitaan umat. Yesus menyembuhkan orang yang sakit semata karena belas kasih-Nya. Orang Samaria yang Murah Hati menolong karena belas kasihan dan bukan semata karena ingin menjalankan perintah Allah112.
Teologi Pembebasan menegaskan bahwa praksis berkaitan dengan teologi.
Pertama, praksis (pembebasan) dalam realita historisnya diperlukan untuk menyediakan cara mengetahui yang membebaskan. Seseorang mengetahui realita dengan lebih baik ketika ia tidak hanya memahami dan bertanggung jawab untuknya, tapi ketika ia bertindak di dalamnya. Dalam bahasa biblis, seseorang mengenal Allah ketika ia melakukan keadilan; seseorang tahu dengan mencintai;
seseorang menyadari apa artinya menjadi manusia ketika ia melayani manusia yang membutuhkan. Praksis adalah unsur yang diperlukan untuk menyusun pengetahuan113.
Teologi pembebasan memahami tujuannya sebagai pembebasan orang-orang yang tersalib di dalam tindakan historis dan tugas eklesial. Maka teologi pembebasan menggunakan logos terutama untuk membawa pembebasan realita.
Tujuan akhir teologi pembebasan adalah pembebasan dunia yang menderita, atau dengan kata lain, mengangkat belas kasihan yang ditimbulkan oleh rakyat yang tersalib sampai pada kepenuhan114. “The purpose of liberation theology, therefore, is that the Reign of God be realized in this world, and the specific role of the
112 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 37.
113 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 38.
114 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 38-39.
theological logos is to illuminate, promote, and direct the formation of this Reign”115.
Dalam memahami Allah sebagai objek primer, teolog pembebasan senantiasa melihat Allah dalam totalitas Kerajaan dan Allah harus dikontemplasikan dan dipraktikkan. Tujuan akhir teologi adalah memajukan dan menjadikan jelas relasi antara Allah dan kemanusiaan, supaya Allah dan kebenaran-Nya dikenal, supaya realita Allah terwujud nyata di dalam sejarah116.
Penekanan teologi pembebasan pada praksis dan pemahaman dirinya sebagai momen praksis tidak berakar pertama-tama pada diskusi teoretis mengenai apa itu teologi, tapi pada dua hal utama ini. Pertama, di hadapan dunia penderitaan, tanggapan pertama haruslah belas kasih yang berusaha menghilangkan penderitaan. Kedua, tanggapan ini harus hadir dalam setiap tindakan manusiawi, religius, dan Kristiani. “What always holds priority therefore, is the elimination of suffering from this world, which is a praxis to which every other activity will make its specific contribution”117.
Kita berbicara mengenai praksis pembebasan dari penderitaan masif yang memiliki akar struktural yang mendalam dan tidak adil. Oleh karena itu, praksis kita harus mengambil bentuk keadilan, dan teologi kita harus menemukan bentuk
115 Oleh karena itu, tujuan teologi pembebasan adalah mengejawantahkan Kerajaan Allah di dunia ini, dan peran khusus logos teologis adalah menerangi, memajukan, dan mengarahkan pendirian Kerajaan ini. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 39.
116 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 39.
117 Oleh karena itu, yang senantiasa menjadi prioritas adalah penghapusan penderitaan dari dunia ini, yang adalah praksis dari setiap kegiatan/tindakan yang membuat kontribusi khususnya. Bdk.
Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 39.
mediasi historis. Akar dari praksis ini adalah belas kasih, maka praksis ini haruslah berupa cinta kasih118.
Kita hidup dalam dunia penderitaan, yang penderitaannya berakar pada kemiskinan yang masif. Berhadapan dengan dunia semacam itu, tanggapan manusia pertama-tama dan terutama adalah berbelas kasih. Tanggapan ini adalah opsi yang mendahului tugas teologi. Menghadapi penderitaan yang masif dan terstruktur, tanggapan belas kasih haruslah merupakan tanggapan keadilan yang akan membawa pembebasan. Membebaskan orang hanya efektif kalau menghilangkan sebab penderitaan. Teologi pembebasan terbentuk ketika merefleksikan iman berwujud belas kasih demi keadilan sosial119.
Jika penderitaan yang membentuk kenyataan mendasar dunia kita diangkat sebagai keseluruhan, maka setiap teologi mestilah suatu teologi pembebasan.
Tentu teologi ini tidak mereplikasi teologi pembebasan Amerika Latin. Akan tetapi, objek dasarnya haruslah sama; yakni realita penderitaan yang menguasai dunia kita. Tiap teologi harus menanggapi penderitaan ini120.
Walaupun teologi ini dapat berbeda bentuk di masa mendatang, penegasan intinya tetaplah berlaku: Tempat paling diliputi kebenaran bagi teologi Kristiani untuk menyelesaikan tugasnya adalah penderitaan dunia dan dalam orang-orang yang tersalib, teologi menerima terangnya. Dalam orang-orang yang tersalib, teologi menemukan keselamatannya, arahnya yang tepat, dan keberanian menjalankan tugasnya. Mereka yang miskin mengevangelisasi kita. Evangelisasi ini dialami para teolog sejauh orang miskin memberi mereka kesempatan untuk
118 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 40.
119 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 45.
120 Bdk. Jon Sobrino, The Principle of Mercy, 45.
menyadari kenyataan dasar bagi teologi: iman dan harapan sejati, nilai Injili sejati, dan cinta kasih sejati121.