• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: KESIMPULAN DAN PENUTUP

5.2. Keterlibatan Gereja bersama Para Difabel

5.4. Penutup

BAB II

JEAN VANIER DAN L’ARCHE

Pada bab 2 dari thesis ini, penulis akan menguraikan kisah hidup Jean Vanier dan komunitas L’Arche. Bab 2 ini dibagi dalam empat bagian. Pertama-tama adalah riwayat singkat Vanier. Selanjutnya, penulis akan masuk lebih dalam pada proses pencarian makna hidup yang dilakukan oleh Vanier. Proses pencarian ini akan mengantar Vanier pada perjumpaan dengan orang difabel. Bagian ketiga adalah mengenai komunitas L’Arche saat ini, bagaimana L’Arche dikembangkan seluas dunia. Pada akhir bab 2 ini, penulis akan menyertakan laporan terbitan karya literatur Jean Vanier.

2.1. Riwayat Hidup Jean Vanier

Jean Vanier adalah seorang filsuf dan teolog Katolik dari Kanada. Pada tahun 1964, ia merintis berdirinya L’Arche, suatu federasi komunitas untuk para difabel intelektual dan para asisten yang membantu mereka. Bersama dengan Marie-Hélène Mathieu, ia juga mendirikan Komunitas Faith and Light pada tahun 1971. Vanier dikenal tidak hanya lewat sepak terjangnya di L’Arche, tapi juga lewat tulisan-tulisan, retret-retret, dan ceramah-ceramahnya. Ia memperoleh gelar doktor dalam bidang Filsafat dari Institut Catholique de Paris pada tahun 1962 dan

mengajar filsafat di St. Michael’s College, Universitas Toronto pada kurun waktu Januari-Mei 1964. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi berbagai penghargaan seperti Companion of the Order of Canada1 (1986), Grand Officer of the National Order of Quebec2 (1992), French Legion of Honour3 (2003), Community of Christ International Peace Award4 (2003), Pacem in Terris Peace and Freedom Award5 (2013), dan Templeton Prize6 (2015).

Jean Vanier lahir pada 10 September 1928 di Geneva, Switzerland, dari pasangan Georges (1888-1967) dan Pauline Archer Vanier (1898-1991). Vanier adalah anak keempat dari lima bersaudara. Anak pertama, Thérèse, lahir pada 27 Februari 1923. Anak kedua, Georges (biasa dipanggil Byngsie7), lahir pada November 1925. Di kemudian hari, ia menjadi biarawan Cistercian dan mengambil nama Benedict. Anak ketiga, Bernard, lahir pada Maret 1927. Anak kelima, Michel, lahir pada Juli 1941.

Pengalaman hidup seorang Jean Vanier, semangat serta gagasannya, dapat digali dengan menelusuri keberakarannya pada sejarah keluarga Vanier. Jean Vanier bertumbuh dalam keluarga Katolik yang sangat religius. Pasangan Georges

1 Penghargaan tertinggi yang diberikan monarki Kanada untuk mereka yang berjasa bagi Kanada dan kemanusiaan.

2 Penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Quebec untuk warga Quebec atas pencapaian mereka.

3 Penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Perancis baik untuk militer maupun warga sipil.

4 Community of Christ International Peace Award diberikan setiap tahunnya untuk menghargai dan mendukung usaha para penggiat perdamaian dunia. Penghargaan ini diberikan oleh Gereja Community of Christ.

5 Penghargaan yang diberikan untuk menghormati pribadi-pribadi yang telah mengusahakan perdamaian dan keadilan dunia. Penghargaan ini diberikan setiap tahun untuk memperingati ensiklik Paus Yohanes XXIII Pacem in Terris.

6 Penghargaan tahunan yang diberikan oleh Templeton Foundation untuk teladan hidup yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal kerohanian. Penghargaan ini mendapat namanya dari seorang pengusaha dan filantropis Inggris bernama Sir John Marks Templeton (1912-2008).

7 Dinamakan seturut nama emban baptis Georges Vanier, Lord Julian Byng.

dan Pauline Vanier sangat memperhatikan aturan agama, memandang pentingnya Sakramen, serta menghormati para imam dan religius8. Mereka setia menghadiri Misa Kudus dan menyambut Komuni. Tiap hari, mereka akan menyisihkan waktu 30 menit untuk berdoa bersama di tengah kesibukan sebagai pejabat publik.

Mereka bahkan dinominasikan sebagai orang kudus karena kesalehan dan rasa kemanusiaannya yang tinggi9.

Georges Vanier lahir pada 23 April 1888 di Quebec, Kanada. Pada tahun 1911, ia mendapatkan gelar sarjana dalam bidang hukum dari Universitas Laval dan kemudian bergabung dalam Angkatan Bersenjata Kanada hingga awal tahun 1930-an. Ia kehilangan kaki kanannya di medan pertempuran Chérisy (Perancis) di tengah Perang Dunia I. Georges Vanier memulai karier sebagai diplomat ketika ditunjuk menjadi Sekretaris Komisi Tinggi Kanada di London pada tahun 1930.

Beberapa jabatan penting pernah diembannya seperti Utusan Raja untuk Perancis dan Duta Besar Kanada untuk Perancis. Pada 15 September 1959, ia diangkat oleh Ratu Elizabeth II menjadi Gubernur Jenderal Kanada menggantikan Vincent Massey. Jabatan ini diembannya sampai ia meninggal dunia pada 5 Maret 1967.

Pauline Archer lahir pada 28 Maret 1898. Ia memiliki kerinduan mendalam akan hidup doa dan sempat berpikir untuk menjalani hidup membiara.

Akan tetapi, perjumpaannya dengan Georges-Philéas Vanier mengubah niatnya dan mereka menikah pada 29 September 1921. Tahun-tahun pertama setelah

8 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, (New Jersey: Hidden Spring, 2006), 23.

9 Proses beatifikasi Georges dan Pauline Vanier didorong oleh Marcel Gervais, Uskup Agung Ottawa, bersamaan dengan keinginan Paus Yohanes Paulus II mengakui keutamaan hidup perkawinan. Mgr. Gervais juga melihat bahwa dalam hidup mereka, ada kesatuan antara hidup rohani yang mendalam dengan perwujudan nyata dalam usaha diplomasi. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 88.

kelahiran Jean Vanier menjadi masa-masa sulit bagi Pauline Vanier. Ia menderita depresi dan kecemasan oleh karena jarak antar kehamilan yang begitu dekat dan tuntutan posisi sosial sebagai istri seorang diplomat. Ada beberapa peristiwa yang memicu kecemasan ini. Bencana kebakaran yang melanda pondok keluarga Vanier pada tahun 1927 menimbulkan trauma bagi Pauline. Ia juga hampir keguguran mengandung Jean Vanier karena harus menempuh perjalanan jauh melintasi laut dari Kanada menuju Switzerland. Maka pada tahun-tahun awal ini, Jean Vanier lebih banyak diasuh oleh Nancy Thompson, pengasuhnya yang berkebangsaan Skotlandia.

Jean Vanier berasal dari keluarga terpandang, namun krisis dunia saat itu membuat hidupnya dan saudara-saudarinya dekat dengan kenyataan. Ayahnya pernah mengalami krisis keuangan karena kehilangan sebagian sahamnya, sehingga memaksa keluarga Vanier untuk tinggal di rumah yang lebih bersahaja10. Perang Dunia II juga membuat keluarga Vanier berulang kali harus mengungsi.

Situasi ini membuat Vanier dekat dengan realita penderitaan yang akan mengantarnya pada proses pencarian di kemudian hari.

Gambaran penderitaan itu begitu nyata ketika Vanier menemani ibunya yang membantu Palang Merah Kanada ke stasiun kereta api Gare d’Orsay, Paris.

Pada waktu itu, Januari 1945, Paris baru saja dibebaskan dari okupasi Nazi.

Vanier menyaksikan para penyintas yang berdatangan dari kamp Dachau, Buchenwald, Belsen, dan Auschwitz. Mereka turun dari kereta bagaikan kerangka, wajah mereka disiksa oleh rasa takut, sakit, dan penderitaan. Jatuhnya

10 Krisis keuangan ini sesungguhnya juga membawa perubahan positif, yakni memulihkan keseimbangan emosional Pauline Vanier.

bom atom di Hiroshima dan Nagasaki juga menjadi pengalaman yang mengerikan11. Dalam diri mereka, Vanier melihat penderitaan dan perendahan, kerapuhan dan ketiadaan harapan, juga kemampuan manusia untuk menghancurkan diri.

Pada tahun 1942, Vanier bergabung dengan Angkatan Laut Inggris. Ia mendaftarkan diri ke Dartmouth Naval College. Vanier menyadari bahwa salah satu momen penting dalam hidupnya adalah ketika ia minta izin pada ayahnya untuk masuk Angkatan Laut. Usianya pada saat itu masih sangat muda, 13 tahun.

Situasi sangat mencekam karena untuk sampai ke Inggris, Vanier harus berlayar melewati Samudera Atlantik yang dikuasai oleh U-Boat (kapal selam) Jerman.

Ayahnya sungguh menaruh kepercayaan pada dirinya sehingga Vanier menjadi semakin yakin dengan dirinya. “Aku percaya padamu. Jika ini yang ingin kamu lakukan, maka kamu harus melakukannya.” Pengalaman ini menjadi pengalaman penting dalam hidupnya mengenai arti kepercayaan.

Selama masa Perang Dunia II, Vanier menjalani pendidikan di akademi untuk menyiapkan diri menjadi perwira Angkatan Laut. Pada usia 17 tahun, ia terlibat dalam Perang Dunia II sebagai Angkatan Laut Inggris. Pada tahun 1947, ia menemani keluarga Kerajaan Inggris dalam perjalanan mereka ke Afrika Selatan sebagai kadet HMS Vanguard. Pada tahun 1949, ia bergabung dengan Angkatan Laut Kanada dan bertugas di kapal induk HMCS Magnificent.

Sebagai seorang tentara, Vanier terus memelihara hidup rohaninya sebagaimana ia dididik oleh orangtuanya. Setiap hari, ia selalu mendaraskan ofisi

11 Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 24.

dan bila tidak ada halangan, ia juga menghadiri Ekaristi harian. Vanier juga setia melakukan bimbingan rohani dengan imam setempat. Di waktu senggang, ia memilih membaca karya-karya Thomas Merton12, terutama otobiografinya yang berjudul The Seven Storey Mountain. Karena Merton banyak bercerita tentang Catherine Doherty13 yang mendirikan Friendship House14 bagi orang miskin kulit hitam di Harlem, New York, Vanier juga mengunjungi rumah itu saat kapalnya berlabuh di New York.

Pada tahun 1950, Vanier mulai merasakan suatu panggilan rohani yang mendorong dirinya untuk mundur dari karier kemiliteran. Ia merasa bahwa Angkatan Laut bukanlah tempat yang tepat bagi dirinya. Ia mengalami kehausan rohani dan berusaha mencari makna hidup. Ia juga melihat kemungkinan dirinya untuk menjadi seorang imam.

I think that I might have felt that the naval officer’s life and the life of a Christian were in opposition ... granted it is much harder to live completely the message of Christ for people will persecute you, think you are mad. I felt that my place in the world was somewhere else ... I began to realise that my life has to develop along other lines ... We all have our place, our vocation – my vocation wasn’t in the Navy.15

12 Thomas Merton (1915-1968) adalah seorang rahib Trappist di Biara Gethsemani, Kentucky. Ia dilahirkan sebagai seorang Anglikan dan kemudian masuk ke dalam Gereja Katolik pada 16 November 1938, tepatnya ketika ia berusia 23 tahun. Ia juga dikenal sebagai penyair dan aktivis sosial.

13 Ekaterina Fyodorovna Kolyschkine de Hueck Doherty atau biasa dikenal sebagai Catherine Doherty (1896-1985) adalah seorang bangsawati (baroness) Rusia yang kemudian menetap di New York City sebagai aktivis sosial, penulis, dan pembicara publik. Dilahirkan sebagai seorang Orthodox Rusia, ia kemudian masuk ke dalam Gereja Katolik pada 27 November 1919. Di samping Friendship House, ia juga mendirikan Madonna House Apostolate, suatu komunitas untuk imam dan awam Katolik yang mau mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan kepada kaum miskin.

14 Friendship House adalah gerakan misionaris yang memperjuangkan kesetaraan ras. Gerakan ini didirikan pertama kali di Toronto pada tahun 1930.

15 Saya merasa bahwa hidup seorang Angkatan Laut dan hidup seorang Kristiani itu saling bertentangan ... memang jauh lebih sulit untuk menghidupi sepenuhnya pesan Kristus karena orang-orang akan menganiaya kamu, menyangka bahwa kamu gila. Saya merasa bahwa tempat saya di dunia adalah di lain tempat... Saya mulai menyadari bahwa hidup saya harus berkembang dengan jalan-jalan lain... Kita semua memiliki tempat kita, panggilan kita – panggilan saya

Oleh pembimbing rohaninya waktu itu, Hector Daly, SJ, ia disarankan untuk mengikuti retret Ignatian untuk melakukan discernment. Akhirnya, pada tahun 1950, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Angkatan Laut. Di kemudian hari dalam suatu wawancara, Vanier mengungkapkan bahwa keyakinan ini muncul bukan ditentukan oleh penalaran, melainkan ditentukan oleh hati. We feel or sense things. They are not planned. That is where the Spirit intervenes, inspiring us to do things that we had not planned16.

Sekeluarnya dari Angkatan Laut, Vanier berkorespondensi dengan tiga imam. Salah satunya adalah Thomas Philippe (Père Thomas), seorang imam Dominikan dari Perancis yang juga menjadi pembimbing rohani dari Pauline Vanier. Vanier bergabung dalam komunitas Eau Vive (Air Hidup) yang didirikan oleh Père Thomas17. Rupa-rupanya Père Thomas dan gerakan Eau Vive ini sungguh menyentuh hati Vanier hingga ia terlibat dalam gerak bersama18.

Pada bulan April 1952, Père Thomas dipanggil ke Roma karena tuduhan pengajarannya yang terlalu mistik dan kurang ortodoks. Ia tidak dizinkan kembali bukanlah di Angkatan Laut. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 29-30.

16 Kita merasakan sesuatu. Hal ini tidak direncanakan. Itulah saat di mana Roh campur tangan, mengilhami kita untuk melakukan sesuatu yang tidak kita rencanakan. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 30.

17 Eau Vive (harfiahnya, Air Kehidupan) adalah suatu pusat internasional di luar kota Paris untuk mahasiswa-i yang ingin mengetahui spiritualitas Gereja, untuk orang-orang awam yang ingin mengetahui secara lebih dan membawa pengetahuannya itu ke negara asal mereka. Père Thomas yakin bahwa untuk mendapatkan pengetahuan sejati filsafat dan teologi, seseorang hendaknya hidup dalam komunitas pendoa. Eau Vive adalah perkumpulan para intelektual dari berbagai latar belakang, namun berusaha hidup sebagaimana jemaat Kristen perdana. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 36.

18 Vanier menggambarkan perjumpaan pertamanya dengan Père Thomas adalah seperti perjumpaan Yesus dengan dua murid pertama. Yesus mengundang mereka untuk ‘datang dan lihatlah’ (Yoh 1: 39). Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 39. Vanier menulis: “Untuk menjadi seorang guru, kamu tinggal dengan guru hingga dia meneguhkan kamu dan mengutusmu menjadi guru yang pada saatnya mengumpulkan murid.

Inilah cara lain belajar: tinggal bersama guru.” Bdk. Jean Vanier, Community and Growth, (London: Darton, Longman & Todd, 1999), 95-96.

ke Eau Vive. Oleh karena itu, Vanier diminta oleh Père Thomas untuk menggantikannya sebagai Rektor Eau Vive. Sementara itu, Vanier sendiri telah diterima sebagai kandidat imam diosesan Quebec. Barangkali karena Vanier masih terlalu muda dan belum berpengalaman, ditambah dengan ketegangan yang muncul antara dirinya dan imam kapelan, maka Vanier dilepaskan dari tugas sebagai rektor pada tahun 1956. Eau Vive kemudian diambil alih oleh Dominikan.

Setelah dilepaskan dari tugas sebagai rektor, Vanier mengalami ketidakpastian mengenai masa depannya. Beberapa tahun setelahnya menjadi masa menimbang-nimbang dalam kesendirian. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti dari studi imamat dan pergi ke Roma untuk menjumpai Père Thomas19. Kisah selanjutnya adalah keterlibatan Vanier dengan para difabel.

2.2. Kisah L’Arche: Keterlibatan Jean Vanier di antara Para Difabel

Thomas Philippe, OP adalah bapa rohani yang sangat mempengaruhi hidup dan pemikiran Jean Vanier. “If people find that I am very free in my intellectual life, even in my interpretation of the Gospel of St John and in my development of an anthropology [...], it is because I was moulded by the thinking and methods of Père Thomas”20. Tidak hanya bertindak sebagai bapa rohani dari Jean dan Pauline Vanier, Père Thomas jugalah yang membawa Vanier pada perjumpaan langsung dengan orang-orang miskin.

19 Bdk. Michael W. Higgins, Jean Vanier: Logician of the Heart, (Collegeville: Liturgical Press, 2016), 22.

20 Jika orang melihat bahwa saya sangat bebas (terbuka) dalam hidup intelektual, bahkan dalam interpretasi pribadi mengenai Injil Yohanes dan perkembangan antropologi [...], hal itu karena saya dibentuk oleh gagasan dan metode Père Thomas. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 45.

Siapakah Thomas Philippe, OP atau biasa dipanggil Père Thomas ini? Père Thomas adalah seorang imam Dominikan yang dilahirkan pada 18 Maret 1905 di Cysoing, Perancis. Pendidikan menengah ditempuhnya di Kolese Saint-Joseph di Lille yang dikelola oleh para Yesuit. Pada usia 18 tahun, ia memutuskan untuk masuk Seminari diosesan di Issy-les-Moulineaux, Paris. Di Seminari, ia justru merasakan panggilan yang kuat untuk menjadi seorang Dominikan. Maka, setelah hanya dua bulan bertahan di Seminari diosesan, ia masuk biara Dominikan di Kain, Belgia. Thomas Philippe, OP ditahbiskan menjadi imam pada bulan Juli 1929 dalam usia yang masih sangat muda, yakni 24 tahun.

Pada tahun 1936, Père Thomas menempuh pendidikan di Roma dan sejak tahun 1942, ia mengajar di Universitas Angelicum, Roma. Pada tahun itu juga, ia ditugaskan oleh Takhta Suci untuk menjadi Visitator Apostolik untuk Biara dan Rumah Studi Dominikan di Saulchoir, Perancis. Secara khusus, ia diminta untuk memberhentikan Marie-Dominique Chenu, OP21 dari jabatannya sebagai rektor Le Saulchoir. Perutusannya ini menempatkan dirinya pada posisi sulit di tengah komunitasnya. Père Thomas dilepaskan dari tugas ini pada tahun 1947. Setelah dilepaskan dari tugas itu, Père Thomas mendirikan Eau Vive dan mendalami hidup mistik.

21 Marie-Dominique Chenu (1895-1990) mengeluarkan manifesto yang diberi judul Une Ecole de theologie: Le Saulchoir pada tahun 1937. Lewat manifestonya ini, Chenu mengungkapkan bahwa bahwa uraian sebuah teks dan doktrin begitu jelas terhubung dengan kesadaran akan lingkungan sekitar, dengan konteks. Wahyu itu sendiri ditempatkan dalam sisi-sisi manusiawi sesuai dengan zaman, tempat ia memanifestasikan dirinya pada manusia. Manifestonya ini kemudian dimasukkan oleh Takhta Suci dalam Daftar Buku-Buku Terlarang. Ia termasuk dalam kelompok “la nouvelle theologie” bersama dengan Henri de Lubac, Jean Danielou, Hans Urs von Balthasar, Yves Congar, dan Louis Bouyer.

Père Thomas sendiri banyak dipengaruhi oleh John Thompson22, seorang

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pada tahun 1952, Père Thomas dilepaskan dari tugasnya di Eau Vive dan dipanggil ke Roma untuk mempertanggungjawabkan ajarannya yang dipandang kurang ortodoks. Walaupun berjauhan, relasinya dengan Vanier tetap berjalan. Bahkan beberapa tahun setelah Eau Vive diambil alih oleh Dominikan, Vanier menyusul Père Thomas ke Roma.

Pada tahun 1962, Père Thomas menjadi kapelan di Val Fleuri, sebuah rumah sakit jiwa di desa kecil di Perancis bernama Trosly-Breuil. Ia mempunyai semakin banyak kontak dengan para difabel intelektual. Setahun kemudian, Vanier diajak untuk membantu. Awalnya Vanier tidak merasa kerasan, tapi ia

22 John Thompson (1906-1965) adalah seorang psikiater Kanada yang pernah tergabung dalam Royal Canadian Air Force pada masa Perang Dunia II. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Edinburgh dan Harvard. Pada tahun 1945, hidupnya berubah ketika menyaksikan secara langsung kekelaman kamp Bergen-Belsen. Berakhirnya Nazi tidak lantas mengakhiri penderitaan. Setelah perang, ia bekerja sebagai intelijen militer yang menyelidiki ilmuwan-ilmuwan Jerman, menyiapkan pengadilan militer, dan mengembangkan konsep kejahatan perang medis. Thompson kemudian mengabdikan diri di Eau Vive. Ia mengembangkan terapi berdasarkan persekutuan tubuh dan jiwa.

23 Carl Gustav Jung (1895-1961) adalah seorang psikiatris dan psikoanalis yang meletakkan dasar psikologi analitis.

24 Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, diterjemahkan dari Drawn into the Mystery of Jesus through the Gospel of John, oleh Mgr I.

Suharyo, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 9.

sangat terkesan dengan apa yang ditemukan oleh Père Thomas tentang keterbukaan para difabel kepada pengalaman kasih Yesus25. Pada akhir musim semi 1964, Vanier mengunjungi sejumlah pusat disabilitas, salah satunya adalah RS St. Jean les Deux Jumeaux. Di situ, Vanier menemukan sekitar 80 orang difabel hidup bersama dalam situasi kacau dan keras. Ketika melihat kondisi seperti itu, ia merasa terkejut sekaligus yakin bahwa “Yesus ingin ada sesuatu yang dilakukan.” Ia kemudian menyadari bahwa panggilannya adalah berada di tengah-tengah orang cacat mental yang ditolak dan dianggap rendah. Mereka adalah yang paling miskin dari semua orang miskin.

Pada bulan Agustus 1964, Vanier mendirikan L’Arche26 bersama Père Thomas di Trosly-Breuil, Perancis. Vanier menyewa sebuah rumah kecil untuk tinggal bersama Raphael Simi dan Philippe Seux, dua orang difabel intelektual, dan membentuk komunitas l’Arche pertama27.

Hari-hari pertama Vanier di L’Arche bersama dua orang sahabat, Raphaël Simi dan Philippe Seux, tidaklah mudah. Akan tetapi, pengalaman awal ini memberi isi pada teori-teorinya (mendagingkan) bahwa kebutuhan para difabel sama dengan kebutuhan manusia lainnya: untuk dicintai dan mencintai, untuk membuat pilihan dan mengembangkan kemampuannya.

25 Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, 9.

26 L’Arche adalah kata Perancis untuk ‘ark’ (bahtera) dan ‘arch’ (busur/lengkungan). Gagasan l’Arche diambil dari gambaran Bahtera Nuh yang melambangkan karya yang menyelamatkan semua fauna dan mengapung di atas air kehidupan. L’Arche juga adalah Bahtera Perjanjian:

Maria, Mater Misericordiae yang membentangkan tangannya untuk memeluk semua penderitaan dunia. Maka, bahtera adalah perjanjian pertama antara Allah dan manusia yang membawa visi yang menyambut orang-orang yang menderita. Ide lain adalah l’Arche sebagai ‘arch’ yang melambangkan jembatan yang menghubungkan manusia. Bdk. Kathryn Spink, The Miracle, The Message, The Story: Jean Vanier and L’Arche, 67-68.

27 Pada perencanaan awal, ada tiga orang difabel yang disarankan untuk tinggal bersama. Akan tetapi, seorang yang bernama Dany dikembalikan ke Rumah Sakit setelah mengalami halusinasi dan kabur.

Latar belakang sebagai Angkatan Laut dan dosen membuat dirinya menjadi pribadi yang sangat logis, efisien, merasa lebih hebat, dan terbiasa memerintah. Dunia militer dan akademis juga menolak kelemahan. Raphael dan Philippe justru membawanya ke dalam dunia yang miskin, lemah, dan rapuh.

Vanier tidak hanya menemukan penderitaan dalam diri mereka, tapi juga keindahan, kelembutan, dan kemampuan berelasi. Vanier mulai menyadari bahwa dia sendiri diubah oleh mereka. Di balik kepandaian dan idealismenya, ternyata ia merupakan orang yang memiliki cacat dalam hatinya. Ia justru dipanggil untuk

Vanier tidak hanya menemukan penderitaan dalam diri mereka, tapi juga keindahan, kelembutan, dan kemampuan berelasi. Vanier mulai menyadari bahwa dia sendiri diubah oleh mereka. Di balik kepandaian dan idealismenya, ternyata ia merupakan orang yang memiliki cacat dalam hatinya. Ia justru dipanggil untuk

Dokumen terkait