BAB III: GAGASAN MENGENAI MANUSIA
3.2. Latar Belakang Antropologi menurut Hans S. Reinders
3.2.6. Penutup
Lewat Receiving the Gift of Friendship, Reinders mengajukan gagasan mengenai persahabatan. Persahabatan tidak berasal dari kemampuan intrinsik diri, melainkan dari status kita bersama sebagai sahabat Allah. Gagasan mengenai persahabatan sejati harus mengakomodasi persahabatan di antara pribadi-pribadi, apapun kemampuan dan disabilitasnya.
Umum diterima bahwa konsep hidup baik mendapatkan maknanya dari konsepsi tujuan akhir, telos kita. Dari sudut pandang Kristiani, tujuan akhir ini bukanlah tahap akhir perkembangan potensi alami kita, melainkan persatuan kembali dengan Allah, yang dipahami sebagai persahabatan Allah dengan kita.
Rahmat Allah senantiasa mendahului tindakan kita154.
Bagi Reinders, memperjuangkan persahabatan lebih dari sekadar memperjuangkan kesamaan hak ataupun menciptakan ruang akses dan kebebasan bagi para difabel. Hal itu tentu saja penting. Akan tetapi dalam persahabatan,
152 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 349.
153 Bdk. Hans S. Reinders, “Transforming Friendship: An Essay in Honor of Jean Vanier”, dalam Journal of Disability & Religion 19 (2015), 362.
154 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 374-375.
manusia tidak hanya belajar untuk saling memberi, tapi juga saling menerima.
Manusia belajar untuk mengakui dan mengenali martabat dan nilai mereka yang berasal dari karunia Allah sendiri. Dengan belajar menerima karunia itu, manusia juga dapat memberikan karunia dirinya dalam semangat timbal balik.
Hal penting mengenai persahabatan bukanlah apa yang kita berikan, tapi apa yang orang lain lakukan dengan mengangkat kita sebagai sahabat. Stanley Hauerwas menegaskan hal ini.
Christians must not only see friends as gifts to one another, they must see their friendship itself as a gift. They can do this precisely because they understand themselves to be actors within a story authored not by them but by God. Our friendship is not made constant by an act of our own will, or even by our own virtue, but rather because we and others find ourselves through participation in a common activity that makes us faithful both to ourselves and the other.155
Ketidakmampuan untuk menanggapi tidak berarti pengeksklusian dari karunia ini. Tentu tanggapan itu penting, yakni kalau kita menanggapi dengan cinta yang bebas. Allah ingin tanggapan ini bersifat bebas dari rasa takut dan kecemasan ataupun karena ingin menghindari penghukuman156.
Manusia harus belajar percaya pada pengampunan Allah. Para difabel dapat menjadi guru kita dalam sikap percaya. Itulah karunia mereka. Mereka belajar percaya supaya dapat bertahan hidup. Kita perlu membongkar topeng
155 Orang Kristiani hendaknya tidak hanya melihat sahabat sebagai karunia satu sama lain, mereka harus melihat persahabatan itu sendiri sebagai karunia. Mereka dapat melakukan ini karena mereka memahami diri menjadi pelaku dalam kisah yang dituliskan oleh Allah. Persahabatan kita tetap bukan karena tindakan kehendak kita atau keutamaan kita, tapi karena kita dan orang lain menemukan diri melalui partisipasi dalam kegiatan bersama yang menjadikan kita setia, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Bdk. Stanley M. Hauerwas dan Charles Pinches, Christians among the Virtues: Theological Conversations with Anciet and Modern Ethics, (Notre Dame: The University of Notre Dame Press, 1997), 49.
156 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 375.
pencarian diri dan sikap superioritas. Hal ini hanya dapat dilakukan jika kita belajar mendengarkan dan melihat para difabel157.
“Ada bersama” berarti kita membiarkan para difabel mengambil peran mengarahkan komunitas. “Menemani/menjadi asisten” berarti mengosongkan diri karena tugasnya adalah mengikuti, lebih dari pada memimpin. Menemani menjadi pengalaman transformatif menerima dari si miskin. Persahabatan Allah dapat direfleksikan hanya ketika asisten tidak bertindak karena motivasi pencarian diri, tapi karena demi orang lain158.
Dalam relasi dengan Allah, seorang difabel tidak melakukan tindakan manusia apapun, namun hal ini sama sekali tidak mengatakan tiadanya kemungkinan Allah memiliki relasi dengannya. Iman akan kasih Allah adalah karunia Roh. Di mana karunia ini diterima, kasih membebaskan, memampukan kita untuk menyambut kehadiran difabel dalam hidup kita. Inilah jalan bagaimana difabel menyingkapkan karya Allah159.
157 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 375-376.
158 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 377.
159 Bdk. Hans S. Reinders, Receiving the Gift of Friendship, 377-378.
BAB IV
GAGASAN MENGENAI KRISTUS DAN ALLAH
Pada bab 3 dari thesis ini, kita sudah mengenal gambaran tentang dunia dan manusia yang ditangkap oleh Jean Vanier dan kemudian diperkaya dengan gagasan dari Hans S. Reinders. Vanier menjumpai penderitaan dan kesusahan dalam hidup banyak orang. Ia sendiri mengalami secara langsung Perang Dunia II dan akibat buruknya. Dunia yang dijumpai Vanier adalah dunia penuh konflik;
manusia berperang satu sama lain, pribadi atau kelompok yang satu menunjukkan kekuatan terhadap pribadi atau kelompok yang lain. Manusia cenderung hidup memisahkan diri.
Dalam hidupnya, manusia membutuhkan pertalian dan damai; baik antar pribadi, maupun dengan keluarga, kelompok, dan budaya. Untuk membangun pertalian, manusia harus menurunkan sekat-sekat yang membatasi dirinya dalam berjumpa dangan orang lain. Manusia harus bersikap terbuka dan percaya. Bagi Vanier, dengan membangun pertalian, manusia menjadi semakin manusia.
Berangkat dari situasi dunia dan pengalaman pribadi, Vanier memandang manusia sebagai makhluk yang rentan. Dalam kebersamaan hidupnya, kerentanan ini tidaklah disingkirkan. Vanier justru mengungkapkan bahwa manusia perlu mengalami hidup bersama mereka yang rentan. Perjumpaan Vanier dengan para difabel intelektual yang adalah pribadi yang sangat rentan, membawa dirinya pada
kesadaran ini. Dalam diri para difabel, Vanier menemukan pribadi-pribadi yang terluka dan mengalami kesepian akibat penolakan dan eksklusi. Vanier memandang bahwa mereka yang rentan ini bukan hanya sekadar objek belas kasih. Vanier yakin bahwa pengalaman luka dan kesepian dimiliki oleh setiap manusia. Kerentanan ini yang ada dalam setiap pribadi manusia, baik difabel maupun non-difabel, mampu memperkaya hidup manusia.
Pada bab 4 ini, penulis akan menggali gagasan Jean Vanier mengenai Kristus dan Allah. Kerentanan tidak hanya memperkaya hidup manusia. Dalam gagasan Vanier sangat jelas adanya relasi erat antara kerentanan dalam diri manusia dengan kehadiran Allah. Kerentanan bisa dimaknai karena adanya relasi pribadi manusia dengan Allah. Dengan mengingat kerentanannya, manusia bisa menemukan wajah Allah yang lebih kaya. Poin ini akan mengantar masuk pada gagasan eksplisit dari Vanier mengenai Kristus dan Allah.
Pertama-tama, penulis akan melakukan telaah Kitab Suci yang menjadi dasar spiritualitas Vanier. Ada tiga pokok yang selalu muncul secara eksplisit dalam tulisan Vanier, maupun secara implisit dalam karya pelayanannya:
1. Sabda Bahagia - "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah (Luk 6: 20).
2. Perjamuan (Komunio) - Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta (Luk 14: 13).
3. µένω (tinggal dalam) - Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya (Yoh 15: 10).
Tiga pokok ini tampak juga secara nyata dalam pelayanan Yesus pada orang yang miskin dan lemah. Tentu saja istilah difabel belum muncul pada zaman Yesus, namun mereka termasuk dalam kelompok orang miskin dan lemah dalam teks Injil. Vanier mempunyai gambaran bahwa berhadapan dengan yang miskin dan lemah, Yesus akan tergerak hatinya oleh belas kasihan dan ingin membantu sebagaimana Orang Samaria yang Murah Hati (Luk 10: 25-37). Bagi Vanier, Yesus Kristus adalah Yang Berbelas Kasih (The Compassionate One).
4.1. Spiritualitas Jean Vanier
4.1.1. Pengantar: Allah Memanggil Manusia di Tengah Dunia
Antropologi Vanier bercirikan inkarnasional. Gagasannya mengenai manusia sangat erat kaitannya dengan gagasannya mengenai Allah. Vanier mengaitkan identifikasi Yesus dengan orang miskin dan lemah pada pengalaman umum manusia akan kemiskinan dan kelemahan. Dengan menjumpai Yesus dalam orang miskin dan lemah di L’Arche, Vanier semakin yakin bahwa semua manusia pada dasarnya sama dan semua manusia itu suci. Menjadi manusia berarti “springs essentially from my experience of humanness and not directly
from my life of faith.”1. Inilah inti pemahaman Vanier akan kemanusiaan yang berkaitan erat dengan keilahian Yesus.
Vanier mengawali renungannya dalam Befriending the Stranger dengan suatu kontemplasi; Yesus sedang memandang dunia kita saat ini. Yesus datang ke dunia untuk membawa damai. Ia menarik semua orang untuk menjadi satu tubuh di mana setiap orang mendapatkan tempatnya. Akan tetapi, manusia telah mengubah dunia ini menjadi tempat persaingan, rivalitas, konflik, dan perang.
Kekerasan dan kebencian memenuhi dunia2. Kekerasan dan kebencian ini adalah ungkapan hati manusia yang terluka ketika merasa ditolak, disalahpahami, dan tidak dikasihi. Manusia bersikap keras karena mereka sesungguhnya begitu rapuh3.
Di tengah situasi kekerasan dan kebencian ini, Allah mengundang kita untuk membangun dunia pertalian (belonging), tempat di mana setiap orang dikasihi dan diterima dengan segala kerapuhan dan ketakberdayaannya4. Semakin kita sadar akan kekerasan yang memenuhi dunia ini, maka kita juga sadar akan panggilan Allah pada kita untuk menyambut mereka yang lemah dan tertindas.
Allah memanggil kita untuk bertumbuh dalam cinta kasih5.
Allah yang memanggil manusia adalah Allah yang hadir dalam hati tiap manusia. Persekutuan dengan Allah memberi kita kekuatan dan meneguhkan hasrat kita, memperkenankan kita melihat tiap pribadi dan seluruh alam semesta
1 Menjadi manusia berarti bertumbuh dari pengalaman ke-manusia-anku (humanness) dan dari hidup imanku. Bdk. Jean Vanier, Becoming Human, 2.
2 Bdk. Jean Vanier, Befriending the Stranger, (London: Darton, Longman & Todd, 2005), 9.
3 Bdk. Jean Vanier, Befriending the Stranger, 10.
4 Bdk. Jean Vanier, Befriending the Stranger, 12.
5 Bdk. Jean Vanier, Befriending the Stranger, 13.
sebagaimana Allah memandangnya6. Allah menyingkapkan betapa unik dan berharganya diri kita.
The heart, the metaphorical heart, the basis of all relationships, is what is deepest in each one of us [...] The heart is the place where we meet others, suffer, and rejoice with them. It is the place where we can identify and be in solidarity with them. The heart is the place of our
‘oneness’ with others.7
Kita harus menciptakan situasi di mana hati kita disuburkan, yakni dengan menjalin relasi hati ke hati, memperlakukan orang lain dengan kasih dan penuh hormat. Dengan cara ini, kita menjadi lebih peka terhadap orang lain8. Relasi hati ke hati memperkenankan kita untuk menjadi rentan bersama orang lain; untuk mendengarkan, memahami, dan melihat keindahan mereka. Hati memperkenankan kita untuk menerima orang lain sebagaimana diri mereka dan percaya bahwa mereka dapat bertumbuh. Hati ini adalah hati yang memanggil kita untuk bertumbuh, berkembang, dan menjadi manusia sepenuhnya. Hati ini adalah hati yang berbelas kasih karena melihat kehadiran Allah dalam diri orang lain9. Di dalam relasi hati ke hati inilah, Allah hadir.
Bagaimana manusia menghidupi relasi hati ke hati secara konkret? Injil mengungkapkan bahwa Yesus sendiri menghidupi relasi hati ke hati ini. Ia dekat dengan sesama manusia dan berbelas kasih pada yang miskin, lemah, dan tertindas. Relasi hati ke hati ini tidak hanya disabdakan, tapi juga diwujudkan
6 Bdk. Jean Vanier, Becoming Human, 132.
7 Hati, hati metaforis, dasar dari semua relasi, adalah yang terdalam dalam masing-masing dari kita [...] Hati adalah tempat di mana kita menjumpai yang lain, menderita dan bersukacita bersama mereka. Hati adalah tempat di mana kita dapat mengidentifikasi dan solider dengan mereka. Hati adalah tempat ke-satu-an kita dengan yang lain. Jean Vanier, Becoming Human, 85-86.
8 Bdk. Jean Vanier, Becoming Human, 87.
9 Bdk. Jean Vanier, Becoming Human, 88.
dalam tindakan, pilihan, dan keberpihakan Yesus. Manusia dapat belajar menghidupi “jalan hati” ini dengan menimba dari hidup Yesus sendiri.
4.1.2. Menghidupi Sabda Bahagia
Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah (Luk 6: 20).
Jean Vanier mengungkapkan bahwa komunitas L’Arche pertama yang dibentuk bersama dua orang difabel intelektual di Trosly-Breuil, sebuah desa kecil di Perancis, adalah tanggapan atas panggilan Allah untuk menghidupi Sabda Bahagia. "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6: 20). Hal ini terungkap jelas dalam Piagam L’Arche: “The first aim of L'Arche is to create communities inspired by the Beatitudes and the spirit of the Gospel”10.
Vanier melihat para difabel intelektual adalah orang-orang yang sangat miskin. Mereka miskin karena mereka diabaikan dan ditolak oleh masyarakat, kurang mendapatkan cinta kasih, persahabatan, dan komunitas. Mereka miskin karena mereka tidak kaya sebagaimana penilaian masyarakat umum: kebebasan, kesejahteraan, kemampuan fisik dan intelektual11. L’Arche dipanggil untuk “live
10 Tujuan pertama L’Arche adalah mendirikan komunitas yang diilhami oleh Sabda Bahagia dan semangat Injil. The Charter of L'Arche, 1993, Section III, p.1.
11 Bdk. Andrew Michael Courtright, “Community and Communion: A Comparative Analysis of Jean Vanier and Stanley Hauerwas on Theology and Disability”, 22.
in a special way the mystery of the poverty and weakness of Jesus, who came to be with the poor and the weak”12.
Vanier bukanlah seorang yang naif ataupun optimis buta yang menutup mata terhadap kenyataan pedih yang dialami para difabel. Ia justru berkeyakinan bahwa dengan relasi kasih dan penuh perhatian dalam komunitas, kepedihan mereka dapat ditransformasi menjadi sukacita. Luka-luka mereka akan disembuhkan13.
Allah hadir dalam kelemahan. Kelemahan itu suci karena pribadi Yesus yang datang ke dunia untuk hidup di antara orang kecil dan miskin. Yesus datang untuk membawa kabar baik kepada orang miskin. Sabda Nabi Yesaya diterapkan pada Diri-Nya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Luk 4: 18-19)14.
Pada masa Yesus, banyak orang yang miskin, tertindas, dan ditolak.
Penderita kusta yang disembuhkan Yesus tidak hanya menderita secara fisik;
mereka juga menderita akibat penolakan. Mereka dianggap sebagai yang "tak boleh disentuh"; yang berkontak dengan mereka menjadi tidak bersih. Penyakit mereka dipandang sebagai hukuman dari Allah. Orang-orang seperti ini terpenjara dalam gambaran diri yang rusak, penderitaan, dan rasa bersalah. Mereka tidak
12 Menghidupi misteri kemiskinan dan kelemahan Yesus, yang datang untuk bersama mereka yang miskin dan lemah. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 17.
13 Bdk. Andrew Michael Courtright, “Community and Communion: A Comparative Analysis of Jean Vanier and Stanley Hauerwas on Theology and Disability”, 23.
14 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 17-18.
punya masa depan dan harapan. Yesus datang untuk menyatakan kepada mereka bahwa mereka itu berharga dan dicintai oleh Allah. Itulah kabar gembira15.
Yesus datang ke dunia untuk mengumpulkan anak-anak Allah yang tercerai-berai (Yoh 11: 52). Ia membongkar tembok yang memisahkan yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang miskin. Yesus tidak mengutuk atau menghukum, melainkan mendamaikan mereka dan menyadarkan mereka sebagai satu tubuh16. Yesus ingin mengakhiri kebencian, prasangka, dan ketakutan yang menceraiberaikan manusia. Dalam dunia yang terbagi ini, Yesus ingin menciptakan tempat persatuan, rekonsiliasi, dan perdamaian, dengan mengundang yang kaya untuk berbagi dan membangkitkan harapan si miskin17.
Yesus ingin mengubah cara masyarakat diatur dengan menempuh jalan kerendahan hati dan komunio, dengan menjalin persahabatan dengan yang terluka18. Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak mencari kekuatan, tetapi mengambil tempat terendah dan melayani orang lain. Yesus menawarkan visi baru: Allah yang berbelas kasih, yang menjaga orang miskin dan memanggil yang kaya untuk berelasi dengan mereka19.
Yesus tidak hanya melayani orang miskin, tapi Ia mengidentifikasikan Diri dengan yang miskin, terbuang, lapar, dan menderita sakit. Yesus yang Mahakuasa memilih menjadi yang tidak berdaya. “The man of compassion becomes a man
15 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 18.
16 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 21.
17 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 27.
18 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 22.
19 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 23.
in need of compassion”20. Pertama-tama, Yesus menjadi kecil dan tidak berdaya supaya kita tidak takut dengan-Nya dan dapat masuk ke dalam relasi dari hati ke hati21.Ketika kita mencintai seseorang, kita akan menggunakan bahasanya untuk bisa dekat dengannya. Ketika mencintai anak-anak, kita akan menggunakan bahasa dan tindakan anak-anak. Demikianlah Allah berhubungan dengan kita.
Kedua, Yesus menjungkirbalikkan tatanan yang mapan. Ia mendesak orang-orang supaya tidak hanya berbuat baik kepada orang miskin, tapi menemukan Allah yang tersembunyi di dalam diri orang miskin. Ketiga, Yesus mengingatkan kita juga bahwa Ia mengidentifikasikan Diri dengan yang miskin dan lemah dalam diri kita. Setiap orang adalah suci, tidak peduli apa budaya, agama, disabilitas, atau kerapuhannya. Setiap orang diciptakan menurut citra Allah; masing-masing memiliki hati, kemampuan untuk mencintai dan dicintai22. Kita dipanggil untuk menjadi lebih terbuka dan percaya.
Melalui tindakan dan kerentanan-Nya, Yesus menyingkapkan kepada kita bahwa orang miskin dan lemah memiliki daya untuk menyembuhkan dan membebaskan orang. Dengan memberikan hati kita pada orang miskin dan membiarkan diri dibentuk oleh mereka, maka kita akan menerima kasih dari hati seorang miskin yang adalah cerminan dari hati Yesus yang miskin, dan dengan demikian, kita menjadi penuh23. "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan
20 Manusia belas kasih menjadi manusia yang membutuhkan belas kasih. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 25.
21 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 44.
22 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 45-46.
23 Bdk. Jean Vanier, “Blessed are the Poor”, dalam The Way (April 1985), 121.
Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku" (Mrk 9: 37)24.
Yang miskin menyingkapkan bagaimana hidup dengan penuh belas kasih.
Yang miskin menginjili kita dan menunjukkan jalan Sabda Bahagia. Transformasi terjadi dalam hati mereka yang tinggal bersama orang miskin, ketika mereka menemukan kemiskinan dirinya. Mereka menemukan bahwa kabar gembira diwartakan kepada mereka yang miskin25.
4.1.3. Manusia Membentuk Persekutuan
Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta (Luk 14: 13).
4.1.3.1. Telaah Biblis
Hal pertama yang dilakukan Yesus setelah memilih beberapa orang untuk menjadi murid-Nya adalah membawa para murid-Nya ke suatu pesta perjamuan nikah di Kana. Perjamuan nikah adalah saat di mana banyak orang berkumpul.
Perjamuan nikah juga merupakan realitas manusiawi yang indah karena yang dirayakan adalah kasih. Yesus pun juga bergembira di tengah-tengah orang-orang yang Ia kenal dan Ia cintai. Dengan membawa para murid ke perjamuan nikah, Yesus memasukkan mereka ke dalam kemanusiaan-Nya yang penuh26.
24 Anak kecil melambangkan semua orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, yang membutuhkan seseorang untuk bersama mereka dan membantu mereka. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 44.
25 Bdk. Jean Vanier, The Heart of L’Arche: Spirituality for Every Day, 50.
26 Bdk. Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus-Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, 74-75.
Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah seumpama pesta perjamuan. Banyak orang diundang tapi mereka menolak untuk hadir. Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan keberhasilan, pujian, dan kekuasaan.
Mereka merasa tidak mempunyai waktu. Tuan rumah menjadi sangat marah dan menyuruh hamba-hambanya untuk membawa “orang-orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh”. Orang-orang yang tersingkir memiliki waktu untuk hadir dalam perjamuan itu karena apa yang mereka rindukan bukanlah keberhasilan, pujian, dan kekuasaan. Yang mereka rindukan adalah kasih dan persekutuan27.
Yesus datang untuk membarui segala sesuatu, untuk mengubah kemanusiaan kita yang hancur menjadi kesatuan yang baru. Hal ini dinyatakan lewat tindakan Yesus mengubah air menjadi anggur. Dengan membawa para murid ke pesta perjamuan nikah, Yesus hendak menyatakan kepada para murid-Nya, kerinduan dan kebutuhan manusia untuk mencintai dan dicintai28. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai adalah kerinduan paling dalam yang ada dalam diri kita. Kita semua adalah pribadi-pribadi yang memiliki luka dan kerapuhan dalam relasi. Kita menginginkan persatuan kasih, tapi takut akan
Yesus datang untuk membarui segala sesuatu, untuk mengubah kemanusiaan kita yang hancur menjadi kesatuan yang baru. Hal ini dinyatakan lewat tindakan Yesus mengubah air menjadi anggur. Dengan membawa para murid ke pesta perjamuan nikah, Yesus hendak menyatakan kepada para murid-Nya, kerinduan dan kebutuhan manusia untuk mencintai dan dicintai28. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai adalah kerinduan paling dalam yang ada dalam diri kita. Kita semua adalah pribadi-pribadi yang memiliki luka dan kerapuhan dalam relasi. Kita menginginkan persatuan kasih, tapi takut akan