I - 1 LAPORAN AKHIR
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Program Penanggulangan kemiskinan dalam P2KP Perkotaan di Desa Panempan Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan telah mendorong tumbuhkan BKM/LKM yang mampu berpikir secara komprehensif dan mengelola berbagai sumber daya secara akuntabel dan transparan. Situasi ini memungkinkan P2KP Perkotaan Desa Panempan merintis suatu kegiatan yang memberi peluang kepada masyarakat untuk tidak saja menanggulangi kemiskinan secara lebih luas dan terpadu tetapi juga memberi peluang bagi masyarakat untuk menata kembali lingkungan hidup mereka dan menstrukturkan kembali tatanan sosial dan ekonomi mereka. Tahap terakhir program P2KP Perkotaan berorientasi untuk membangun transformasi menuju masyarakat madani melalui intervensi pembelajaran penataan lingkungan permukiman secara komprehensif berbasis komunitas.
Kegiatan PLPBK (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) atau ND (Neibourhood Development) mengajak masyarakat untuk merumuskan visi desa sesuai yang mereka harapkan, tatanan kehidupan dan penghidupan yang mereka kehendaki sesuai kebutuhannya, kemudian menuangkannya dalam tata ruang Desa Panempan yang akan menjadi ruang hidup mereka yang baru. Masyarakat juga belajar menentukan dan melakukan deliniasi kawasan-kawasan permukiman yang menjadi kantong kemiskinan yang perlu segera ditangani melalui PLPBK. Kawasan permukiman yang memiliki persoalan kemiskinan tertinggi selanjutnya ditetapkan sebagai kawasan prioritas untuk dilakukan penataan kembali, melalui proses penyadaran masyarakat dan sekaligus meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana kawasan tersebut yang mampu mendorong pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya warga miskin. Proses penataan kembali secara total atau membangun kembali kawasan permukiman yang menjadi kantong kemiskinan dengan memanfaatkan modal awal BLM PLPBK mengajak berbagai pihak untuk bekerja sama diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin didesa PLPBK menuju kesejahteraan.
Kemiskinan dan cara pandang masyarakat dalam melihat pentingnya upaya membangun bangsa yang madani menjadi hal penting dalam proses pembangunan masyarakat di segala bidang, peran serta masyarakat dalam melaksanakan pembangunan masih sangat dibutuhkan demi lancar dan suksesnya pembangunan, sehingga perlu kesadaran disemua lapisan masyarakat. Pembangunan wilayah dalam suatu kawasan permukiman menuju lingkungan yang bersih selaras dan sehat merupakan dambaan segenap masyarakat Indonesia, menjadi tanggung jawab bagi kita semua warga bangsa Indonesia untuk bersatu padu membangun lingkungan yang diidamkan, peran serta lapisan masyarakat menjadi kunci
I - 2 LAPORAN AKHIR
keberhasilan dalam program pembangun ini, pemerintah sebagai pengayom dan pelayan masyarakat menjadi partner yang harus selalu bekerjasama bersatu padu demi suksesnya program-program yang berbasis komunitas. Program PLP-BK merupakan peningkatan dari P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan) untuk tingkat kawasan / lingkungan permukiman dengan penekanan khusus pada penataan sarana lingkungan dan kualitas hunian yang direncanakan dan dibangun dengan pendekatan kolaboratif antara bottom upapproach (partisipasi masyarakat) dan top downapproach (partisipasi pemda dan stakeholders lainnya).
Sebagai program peningkatan dari P2KP, prinsip-prinsip dasar P2KP, pendekatan TRIDAYA dan good governance tetap dipertahankan keterpaduannya dengan tujuan mewujudkan pembangunan berbasis komunitas (community based development) yang berkelanjutan (sustainable). Untuk mewujudkan ”keberlanjutan” (sustainability) pembangunan permukiman seperti yang diharapkan, dibutuhkan tiga syarat utama, yaitu:
Perubahan perilaku (attitude)
Pengelolaan masyarakat sendiri (self community management)
Inovasi dan kreativitas masyarakat (enterpreneurship)
Desa Panempan sebagai salah satu Desa penerima Program Neighbourhood Development atau Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLP-BK) diharapkan telah memenuhi tiga syarat utama di atas, dikarenakan telah berproses dari masyarakat yang digolongkan tidak berdaya menjadi masyarakat yang mandiri (menuju madani) seperti saat ini. Dengan demikian, masyarakat Desa Panempan diharapkan telah melakukan latihan-latihan (exercises) perubahan prilaku / cara pandang ke arah yang lebih baik, berorganisasi, pemrograman dan perencanaan kegiatan dan yang terakhir adalah latihan melakukan channeling. Dengan modal sosial di atas, dalam program PLP-BK ini masyarakat Desa Panempan diajak untuk berencana membangun tatanan kehidupan berdasarkan visi masa depan yang dibangun bersama
Telah diketahui bersama bahwa sarat mutlak dana PLP-BK bisa masuk pada lokasi Desa Panempan adalah adanya nota kesepakatan pihak Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk memberikan dana sharing atau dana kolaborasi sebesar ”Lima Ratus Juta Rupiah” baik berupa fresh money atau berbentuk program, kesepakatan tersebut tertuang dalam MoU yang langsung ditandatangani oleh Kepala Daerah, Bapak Bupati sehingga diharap deliniasi kawasan prioritas pembangunan, dari sisi permasalahannya bisa tuntas menyeluruh.
Laporan akhir ini dimaksud untuk bahan evaluasi bersama, baik BKM/LKM desa, tim fasilitator P2KKP, dan tim teknis Kabupaten terhadap jalannya Penataan Lingkungan
I - 3 LAPORAN AKHIR
Permukiman Berbasis Komunitas yang kemudian disingkat PLPBK, dengan harapan kegiatan PLPBK ini tepat sasaran, kualitas fisik bangunan baik, dan dokumen perencanaan berupa Rencana Penataan Lingkungan Permukiman, disingkat RPLP maupun Rencana Tindak Penataan Lingkunga Permukiman, disingkat RTPLP dapat digunakan semaksimal mungkin untuk arah perkembangan desa kedepannya, dimana dalam dokumen tersebut telah disertai indikasi program selama lima tahun, berisi kebutuhan fisik bangunan yang dibutuhkan desa/kelurahan dalam memenuhi kebutuhan pembangunannya. Selain itu laporan ini diharap bisa menjadi laporan komplit kgiatan ”closing PLP-BK” penetapan tahun 2012.
1.2. TUJUAN
Maksud penyusunan dokumen ini adalah untuk membuat satu dokumen laporan akhir berisi gambaran lengkap penyelenggaraan kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat ( PLP-BK ), dengan tujuan :
a. Sebagai pertanggunjawaban dari semua proses pelaksanaan kegiatan PLPBK baik laporan proses, dokumentasi, maupun hal-hal yang dianggap penting.
b. Untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan hasil kegiatan PLPBK kepada pihak-pihak yang terkait
c. Sebagai bahan monitoring dan evaluasi program PLPBK
d. Sebagai bentuk motivasi keberlanjutan program PLPBK sebagai alih kelola kepada PEMDA setempat
1.3. METODOLOGI
Metode dalam laporan akhir adalah dengan teknik diskusi partisipatif, dengan melibatkan pihak BKM/LKM dan stakeholder terkait, melalui proses rembug sebagai bagian dari alur kegiatan laporan akhir PLPBK secara keseluruhan, kegiatan ini dimulai dengan tahap :
A. Rekam Jejak Proses Mendapatkan Program PLPBK,
Berisi Pengajuan minat dan persiapan daerah B. Proses Pelaksanaan PLPBK
Berisi gambaran proses tahapan terkait siklus sebagai sebuah proses pembelajaran, dari sosialisasi persiapan, perencanaan, pemasaran sosial, pembangunan dan keberlanjutan
C. Realisasi PLPBK
I - 4 LAPORAN AKHIR
Berisi pendanaan dan Hasil Kegiatan PLPBK D. Audit Kegiatan PLPBK
Menjelaskan tentang sumber pembiayaaan untuk audit, proses, serta rekomendasi hasil audit
E. Penapaian Indikator PLPBK
Menjelaskan tentang capaian indikator kinerja PLPBK (KPI merujuk pada pedoman PLPBK)
F. Pemantauan dan Evaluasi
Bagaimana mekanisme pemantauan dan evalauasi PLPBK dilakukan. Isu-isu strategis yang muncul serta penyelesaian masalah yang terjadi selama pelaksanaan PLPBK
G. Kendala-kendala
Menjelaskan kendala-kendala yang terjadi selama pelaksanaan PLPBK, yang selanjutnya akan menjadi masukan bagi keberlanjutan lokasi PLPBK
H. Rekomendasi
Rekomendasi bagi masyarakat maupun Pemerintah Daerah
1.4. Cakupan Wilayah
Ruang lingkup wilayah pada Penyusunan Laporan Akhir PLPBK adalah di kawasan perencanaan Desa Panempan, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan. Dimana secara geografis Desa Panempan terletak pada posisi. 113° 28 32.47’’– 70 8’3.36’’ Lintang Selatan (LS) dan 1130 29’ 6.91’’– 7°9’ 54.45’’ Bujur Timur (BT). Secara administratif Desa Panempan yang memiliki luas wilayah sebesar 75 Ha, dibagi menjadi 3 Dusun:
Dusun Taman (RW. 01) terdiri dari RT. 01 dan RT. 02 Dusun Cangkreng (RW. 02) terdiri dari RT. 01 dan RT. 02 Dusun Panyepen (RW. 03) terdiri dari RT. 01 dan RT. 02 dengan batas-batas administrasi :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kangenan
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ceguk
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Panglegur dan Laden
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Buddih
I - 5 LAPORAN AKHIR
Gambar 2.2: Peta Desa Panempan
I - 6 LAPORAN AKHIR
II - 1 LAPORAN AKHIR
BAB II
REKAM JEJAK PROSES MENDAPATKAN PROGRAM PLP-BK
Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) merupakan penataan lokasi‐lokasi yang memiliki persoalan lingkungan permukiman yang sangat kompleks serta merupakan stimulan bagi keberhasilan masyarakat di desa/kelurahan sasaran program P2KP yang telah mampu membangun lembaga masyarakat (BKM) di wilayahnya mencapai kualifikasi ”BKM Berdaya”. PLPBK juga dapat dipandang sebagai penghargaan serta terhadap keberhasilan pemerintah Kabupaten/Kota melalui SKPD‐nya dalam mendorong dan membina masyarakat untuk terus maju dengan merealisasikan berbagai kegiatan Kemitraan Penanggulangan Kemiskinan.
Pelaksanaan kegiatan PLPBK nantinya memerlukan kerja kolaborasi berbagai pihak yaitu, SKPD kabupaten/Kota, Perangkat desa, Kelompok Peduli dan Masyarakat. Keberhasilan kegiatan PLPBK hanya dapat diperoleh dengan adanya komitmen penuh berbagai pihak tersebut untuk mencapai tujuan‐tujuan kesejahteraan masyarakat.
2.1 PENGAJUAN MINAT PLP-BK
Mekanisme proses pengajuan PLPBK dimulai dari adanya informasi dari tim korkot 25 Wilayah Madura Raya terkait kegiatan perencanaan aplikatif desa yang memiliki permasalahan lingkungan yang komplek, dengan total anggaran dana biaya Rp.
1.000.000.000 (satu miliyar ). Sehingga Badan Keswadayaan Masyarakat, yang kemudian disebut BKM berlomba membuat proposal minat untuk mendapatkan dana bantuan tersebut.
Tim seleksi calon lokasi PLPBK terdiri dari Tim Seleksi Tingkat Pusat, Tim Seleksi Tingkat Provinsi dan Tim Seleksi Tingkat Kota, dengan rincian sebagai berikut:
2.1.1 Tim Seleksi Tingkat Pusat
Tim seleksi calon desa PLPBK Tingkat Pusat ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum.
Anggota Tim Seleksi Tingkat Pusat, mencakup:
1. PMU P2KP
2. Satker P2KP Pusat
3. Pejabat di Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Kementerian PU
Proses seleksi ini dibantu oleh Tim Konsultan Manajemen Pusat (KMP). Tugas Tim Seleksi Tingkat Pusat, meliputi :
II - 2 LAPORAN AKHIR
a. Mengajukan Surat Pemberitahuan/Pengumuman Kegiatan Seleksi Calon Lokasi PLPBK ke Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Kementerian PU.
b. Melakukan sosialisasi:
Internal melalui forum FGD, agar Tim Seleksi memiliki pemahaman yang sama dalam melakukan proses seleksi lokasi PLPBK.
Melakukan Sosialisasi proses seleksi lokasi PLPBK kepada Tim Seleksi PLPBK Tingkat Provinsi
c. Melakukan analisis data‐data hasil penilaian dari Tim Seleksi Provinsi d. Mengajukan Surat Permohonan PLPBK kepada Pihak Pemberi bantuan e. Mengajukan Surat Penetapan Lokasi desa PLPBK
f. Mendistribusikan Surat Keputusan dan Ketetapan Lokasi Kelurahan PLPBK kepada Tim Seleksi Provinsi
2.1.2 Tim Seleksi Tingkat Provinsi
Tim Seleksi Tingkat Provinsi ditetapkan melalui Surat Keputusan Ketua TKPKD Provinsi.
Tim Seleksi Tingkat Provinsi dibentuk setelah terbitnya Surat pemberitahuan / Pengumuman kegiatan Seleksi PLPBK dari Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Ditjen Cipta Karya.
Proses pembentukan tim seleksi tersebut difasilitasi oleh Satker PBL Provinsi . Anggota Tim Seleksi Tingkat Provinsi, sedikitnya adalah sebagai berikut:
1. Ketua dan atau Wakil Ketua TKPKD Provinsi 2. Bappeda Provinsi
3. Dinas Pekerjaan Umum 4. Ka. Satker PBL Provinsi
5. Personil Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Provinsi PNPM Perkotaan Sedangkan tugas seleksi tingkat provinsi adalah :
a. Memilih dan menetapkan Kota‐kota yang layak,
b. Melakukan sosialisasi kegiatan seleksi PLPBK ke Kota‐kota yang layak dan atau memenuhi kriteria, melalui forum pertemuan terbatas yang sekurangkurangnya dihadiri ketua TKPKD
c. Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dan keakuratan data‐data kesiapan pemerintah Kota, antara lain: Surat Komitmen Pemerintah Kota dan data‐data hasil penilaian kinerja Kota dan Kelurahan‐kelurahan berbasiskan data SIM PNPM Perkotaan. yang diusulkan oleh Tim Seleksi Tingkat Kota.
d. Melakukan penilaian proposal dan perangkingan calon kelurahan PLPBK.
II - 3 LAPORAN AKHIR
e. Mengajukan hasil evaluasi dan perangkingan calon kelurahan PLPBK kepada Tim Seleksi Tingkat Pusat
f. Melakukan sosialisasi Kelurahan‐kelurahan yang telah ditetapkan sebagai Kelurahan PLPBK kepada Tim Seleksi Tingkat Kota
2.1.3 Tim Seleksi Tingkat Kota
Tim Seleksi Tingkat Kota ditetapkan melalui Surat Keputusan Ketua TKPKD. Tim Seleksi Tingkat Kota dibentuk setelah terbitnya Surat pemberitahuan / Pengumuman kegiatan Seleksi PLPBK dari Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Ditjen Cipta Karya. Proses pembentukan tim seleksi tersebut difasilitasi oleh Satker PIP tingkat kota.
Tim Seleksi kegiatan PLPBK Tingkat Kota dibentuk setelah Tim Seleksi Tingkat Provinsi menerbitkan surat rekomendasi kota‐kota yang memenuhi syarat dan layak mengikuti proses seleksi PLPBK.
Anggota Tim Seleksi PLPBK Tingkat Kota, sekurang‐kurangnya, mencakup:
1. Ketua atau wakil ketua TKPKD 2. Bappeda
3. Dinas Pekerjaan Umum 4. Ka. Satker PIP Kota
5. Tim Korkot Kabupaten/Kota 6. Forum BKM Tingkat Kota Tugas Tim Seleksi Tingkat Kota, adalah:
a. Melakukan sosialisasi kegiatan seleksi PLPBK kepada BKM dan pihak kelurahan di wilayahnya, melalui forum rembug pada setiap Kelurahan atau Tim seleksi dapat melakukan sosialisasi ditingkat Kota dengan menghadirkan perwakilan dari BKM dan Kelurahan.
b. Melakukan Identifikasi/inventarisasi kelurahan‐kelurahan yang memenuhi syarat kriteria lokasi PLPBK serta telah dilengkapi data‐data yang sesuai data SIM PNPM Perkotaan (3 bulan terakhir),
c. Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dan keakuratan data‐data calon Kelurahan PLPBK yang akan diusulkan.
d. Melakukan penilaian dan perangkingan calon‐calon lokasi berdasarkan kriteria seleksi PLPBK
e. Menetapkan hasil perangkingan calon lokasi PLPBK.
II - 4 LAPORAN AKHIR
f. Mendampingi BKM dan Kelurahan calon lokasi PLPBK yang diusulkan, terkait penyusunan proposal minat dan sekaligus memastikan kelayakan kualitas Proposal tersebut, untuk diusulkan ke Tim Seleksi Tingkat Provinsi
g. Memastikan bahwa Surat Komitmen Pemerintah Kota untuk memenuhi kontribusi dalam bantuan teknik dan pendanaan, ditandatangani oleh Bupati /Walikota.
h. Mengajukan usulan lokasi PLPBK yang dilengkapi dengan Proposal minat dan dokumen prasyarat seleksi lokasi kepada Tim Seleksi Tingkat Provinsi
i. Melakukan sosialisasi kelurahan‐kelurahan di wilayahnya yang telah ditetapkan sebagai lokasi PLPBK, melalui forum pertemuan warga.
Tabel Proses Seleksi Penetapan Lokasi PLPBK
No Aktifitas Nasional/
Pusat
Provinsi Kabupaten/
Kota
Kelurahan/
Masyarakat 1 Tim Seleksi Nasional Menyusun dan
atau Menjustifikasi Long List Calon Peserta Kompetisi PLP-BK
2 Korkot/KMW bersama Pemerintah Daerah Menyusun Prioritas Kelurahan Potensial (berdasarkan data SIM) dan melakukan Klarifikasi kepada Tim Seleksi Nasional
3 Korkot/KMW mengirimkan data Kelurahan Potensial kepada Tim seleksi Provinsi.
4 Tim Seleksi Provinsi menyepakati kriteria/standar penilaian provinsi
TimSeleksi provinsi menyusun Ranking Kelurahan Potensial se Provinsi (long list Provinsi) berdasar data dari Korkot/KMW.
Tim Seleksi Provinsi mengirimkan data dan daftar long list provinsi kepada Tim Seleksi Nasional / PMU
Tim Seleksi Nasional memberikan masukan kepada PMU untuk menerbitkan Surat pemberitahuan kepada Bupati/Walikota terkait wilayah kelurahan yang memiliki peluang untuk mengikuti seleksi PLP- BK
5a Pemerintah Kota/ Kabupaten bersama dengan KMW/Korkot mendampingi masyarakat/kelurahan yang masuk dalam Long list provinsi untuk membuat Proposal Minat PLP- BK, serta memberikan Surat
Dukungan Pemerintah
II - 5 LAPORAN AKHIR
No Aktifitas Nasional/
Pusat
Provinsi Kabupaten/
Kota
Kelurahan/
Masyarakat
Kabupaten/Kota bagi kelurahan dimaksud untuk mengikuti seleksi PLP -BK
5b Kelurahan/Desa yang bersangkutan bersama dengan Pemda setempat mengirimkan Proposal dan Surat Dukungan PEMDA kepada Tim Seleksi Provinsi
6 Tim Seleksi Provinsi melakukan penilaian proposal minat PLPBK dengan melakukan penilaian administratif, memeriksa kelayakan proposal, dan kunjungan/verifikasi lapangan
7 Tim Seleksi provinsi menerbitkan Daftar Ranking hasil penilaian kelayakan calon lokasi penerima PLP-BK, dan mengirimkan daftar short list lokasi tersebut kepada Tim Seleksi Nasional
8 Tim Seleksi nasional Melakukan Klarifikasi terhadap short list yang disampaikan Tim Seleksi Provinsi
9 Tim Seleksi Nasional mengumumkan daftar pemenang seleksi lokasi PLPBK dan memberikan usulan kepada PMU untuk menerbitkan surat keputusan hasil seleksi nasional lokasi PLPBK .
Surat keputusan seleksi dari Direktur PBL dikirimkan kepada Pemerintah Kabupaten Kota yang bersangkutan dengantembusan kepada Tim Seleksi Provinsi dan Kelurahan terkait.
Kabupaten Pamekasan seperti halnya kabupaten lain yang berada di kabupaten Jawa Timur, yaitu memfasilitasi BKM atau LKM untuk mebuat proposal minat dari 18 desa / kelurahan dampingan. Dari total proposal tersebut hanya BKM/LKM yang memenuhi sarat untuk diseleksi pada tahapan seleksi selanjutnya.
Akhirnya penetapan lokasi PLPBK untuk wilayah Kabupaten Pamekasan, memperoleh tiga lokasi penetapan, dengan syarat dana sebesar satu milyar tersebut yang didanai oleh World Bank bisa diterima dengan persyaratan pemerintah daerah telah menyiapkan dana sharing sebesar 50 % atau sebesar Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) baik berupa fresh money ataupun program kegiatan, dimana perjanjian tersebut dibuatkan dafLog NPK ( Nota Perjanjian Kerjasama ) atau MoU yang ditandatangani oleh Bupati Achmad Syafii. Lokasi penetapan PLPBK tahun 2012 diberikan pada Kelurahan Gladak Anyar, Desa Panempan, dan Desa Nyalabuh daya Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan. Dimana hal tersebut
II - 6 LAPORAN AKHIR
melalui beberapa tahap seperti pada penjelasan sebelumnya, untuk memperjelas alur rekam jejak perolehan PLPBK dapat diperhatikan pada tabel berikut.
2.2 PERSIAPAN DAERAH
Inti pada tahapan ini dilakukan setelah adanya penetapan lokasi PLPBK diumumkan. Tahap persiapan dimulai dari sosialisasi ke berbagai media dengan penekanan pada lokakarya orientasi kegiatan secara berjenjang didaerah. Hal ini didukung dengan keterlibatan SKPD melalui pembentukan Tim Teknis Pemda Tingkat Kota/Kabupaten serta keterlibatan dalam Tim Inti PLPBK di tahap perencanaan, pemasaran dan pelaksanaan pembangunan.
Tim Teknis Pemda adalah tim kerja yang dibentuk oleh pemerintah daerah setempat, beranggotakan unsur-unsur dinas yang terkait dengan perencanaan pembangunan dan pengembangan ekonomi, lingkungan permukiman dan pemberdayaan masyarakat. Secara umum Tim Teknis berfungsi sebagai fasilitator, dinamisator, serta narasumber, yang mempertemukan antara pihak masyarakat (didukung oleh Tim Inti PLPBK) dengan pemerintah daerah.
Hal-hal yang perlu di fasilitasi dan di mediasi oleh Tim Teknis ini setidaknya adalah hal-hal yang terkait dengan kebijakan pemerintah daerah (RTRW kota/kabupaten, kebijakan investasi daerah dll), teknis penyusunan rencana masyarakat, serta kedudukan hasil-hasil kesepakatan masyarakat terhadap peraturan-peraturan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
Sedangkan Tim Inti PLPBK merupakan tim kerja yang dibentuk oleh masyarakat yang sekurang-kurangnya memenuhi unsur kelurahan/pemerintah desa, BKM/LKM, pemangku kepentingan dan atau kelompok peduli tingkat kelurahan/desa, serta perwakilan dari SKPD, yang berfungsi menjembatani kepentingan masyarakat kelurahan/desa dengan pemerintah daerah dan institusi swasta yang berkompeten (minimal masing- masing unsur diwakili oleh satu orang yang tetap selama pelaksanaan PLPBK).
Tim Inti PLPBK ini terdiri atas Tim Inti Perencanaan Partisi patif (TIPP) beranggotakan dari perwakilan masyarakat lokal, dan Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran (TAPP) merupakan konsultan individu yang dikontrak oleh BKM/LKM untuk merumuskan permasalah yang dianggap sebagai kendala dalam pembangunan Desa Panempan. Tim Inti tersebut akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan waktu pelaksanaan kegiatan oleh masyarakat. Setiap Tim Inti akan didukung oleh pokja-pokja yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap kegiatan.
II - 7 LAPORAN AKHIR
Tim Korkot 25 Madura Raya
Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran (TAPP) dan Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP)
III - 1 LAPORAN AKHIR
BAB III
PELAKSANAAN PLPBK
Kegiatan PLPBK yang juga disebut dengan Neighbourhood Development (ND) secara substansi merupakan implementasi konsep kemitraan dan “channeling” program pada skala yang lebih kecil, yakni skala kelurahan. Dengan demikian, melalui kegiatan ini diharapkan terjadi proses pembelajaran, pengembangan dan pelembagaan kemitraan sinergis antara masyarakat, pemerintah kelurahan, pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat.
Prosesnya lebih mengutamakan pada keswadayaan, kemandirian dan kerja keras untuk menggalang segenap potensi sumberdaya yang dimiliki bersama dan mengakses berbagai sumberdaya dari luar, dalam upaya mengembangkan lingkungan permukiman yang sehat, tertib, selaras, berjatidiri dan lestari menuju cita-cita masyarakat yang sejahtera.
PLPBK pada dasarnya merupakan bentuk stimulan bagi keberhasilan masyarakat di kelurahan atau desa sasaran yang mampu membangun lembaga masyarakat (BKM) di wilayahnya mencapai kualifikasi BKM Berdaya menuju Mandiri atau BKM Mandiri, serta telah/sedang melaksanakan kemitraan dengan pemda atau dengan pihak lain. Kegiatan ini tidak akan dilaksanakan oleh seluruh BKM di lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan, tetapi “dapat diakses” oleh BKM Berdaya Menuju Mandiri atau BKM Mandiri tersebut.
Kabupaten Pamekasan terdapat beberapa BKM yang memenuhi sarat, dengan demikian perlu dilakukan penyeleksian lanjutan (seperti yang telah dipaparkan pada bab 2), sehingga didapat keputasan pusat yang disetujui pendanaannya oleh world bank yaitu BKM Delta Desa Panempan dipercaya untuk melakukan progam tersebut. PLPBK terbilang baru untuk pemerintah daerah Kabupaten Pamekasan, dengan dana satu milyar yang sangat rentan penggunaannya, sehingga dibutuhkan kerjasama seluruh pihak untuk dapat mengawasi tahap demi tahap program PLPBK tersebut.
1.1. Sosialisai dan Persiapan
Masuknya program PLPBK di Kabupaten Pamekasan, merupakan prestasi yang perlu mendapat apresiasi dan dukungan semua pihak. Secara subtansi program, PLPBK tidak datang dengan sendiri, melainkan hasil kerja keras stakeholder di kabupaten/kota, mulai dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), warga, pemerintah kelurahan, konsultan, lembaga peduli dan pemerintah daerah. PLPBK diharapkan dapat mendukung meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, khususnya lingkungan permukiman. Implementasi harus
III - 2 LAPORAN AKHIR
dilakukan secara holistik dan terpadu antara pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan, yang akrab disebut sebagai pembangunan SEL.
Dalam upaya mencapai pembangunan permukiman yang berkelanjutan ditempuh dengan tiga jalur orientasi antara lain orientasi pada perubahan perilaku (attitude), orientasi pada pengelolaan oleh masyarakat sendiri (self community management), serta orientasi pada inovasi dan kreativitas masyarakat (enterpreneurship).
Dengan demikian, melalui PLPBK, masyarakat akan menyadari betapa pentingnya menjaga permukiman yang tertata dan selaras, sehingga terwujud masyarakat yang berbudaya sehat, bersih, tertib, kreatif dan inovatif dalam melakukan perencanaan, dan pengelolaan pembangunan lingkungan permukiman serta tata kelembagaan kelurahan yang efektif dan efisien dalam menerapkan tata kepemerintahan yang baik (good governance) tingkat kelurahan.
Dalam mengimplementasikan program terdapat empat tahapan pelaksanaan PLPBK, meliputi tahap persiapan, tahap perencanaan partisipatif, tahap pemasaran dan tahap pelaksanaan.
A. Tahap Persiapan
Tahapan persiapan adalah penetapan lokasi sasaran dan sosialisasi program melalui berbagai media dengan penekanan pada lokakarya orientasi program secara berjenjang dari tingkat nasional, provinsi dan daerah. Tahapan ini juga terkait dengan pengorganisasian kerja dan kelembagaan.
B. Tahap Perencanaan Partisipatif
Tahapan perencanaan partisipatif adalah membangun kolaborasi perencanaan, antara berbagai pihak (masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha/swasta ) dapat saling terbuka berbagi informasi, melakukan dialog dan konsultasi, dan bersepakat terhadap aturan perencanaan dan pembangunan. Para pemangku kepentingan tersebut kemudian berupaya menyusun berbagai pengaturan yang diperlukan, dan melembagakannya melalui organisasi masing-masing untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governace).
Konsistensi terhadap nilai-nilai luhur (value based development) menjadi pedoman.
Prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) menjadi tindakan.
Dan, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi sasaran.
Dalam pelaksanaan tahap perencanaan partisipatif terdapat beberapa agenda kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat, persiapan proses perencanaan partisipatif, perencanaan lingkungan makro
III - 3 LAPORAN AKHIR
yang termasuk penyusunan aturan bangunan setempat sebagai dasar perencanaan pengembangan permukiman kelurahan dan penataan bangunan serta lingkungan kawasan prioritas berbasis komunitas serta perencanaan lingkungan mikro yang tetuang dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
C. Tahap Pemasaran Kawasan Prioritas
Tahap pemasaran merupakan tindak lanjut perencanaan partisipatif. Tahap pemasaran ini melakukan proses pemasaran kawasan yang akan ditata kembali dan telah tersedia RTBL-nya kepada berbagai pihak seperti dinas/instansi pemerintah (sumber dana APBN/APBD) maupun lembaga/instansi non pemerintah seperti lembaga bisnis, sosial baik di tingkat nasional maupun multi nasional, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan atau kontribusi sepihak berupa “channeling” dari dinas muapun sektor dunia usaha.
D. Tahap Pelaksanaan Pembangunan
Tahap pelaksanaan pembagunan adalah proses pelaksanaan pembangunan fisik hasil perencanaan mikro (RTBL) sebagai bentuk penyelesaian permasalahan serta penggalian potensi yang dimiliki kelurahan. Proses ini pun dilakukan untuk menumbuh kembangkan kemampuan serta proses bekerja dan belajar masyarakat dalam pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan konstruksi.
Hadirnya PLPBK di Kabupaten Pamekasan merupakan penghargaan sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Menjalankan program dengan baik adalah upaya yang dilakukan, dan menjadikan kabupaten ini sebagai percontohan bagi kabupaten lainnya yang memperoleh program PLPBK juga.
Mensukseskan program ini berarti kita telah peduli dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari segi ekonominya, sekaligusmengatasi persoalan kemiskinan.
Harapannya, di tahun berikutnya, untuk Kabuapten Pamekasan dari Desa Panempan bisa berlanjut ke desa/kelurahan lain dapat mengakses program ini.
1.2. Perencanaan
Desa Panempan pada saat ini adalah sebagai salah satu pilot project PLP-BK di Kabupaten Pamekasan telah melalui berbagai proses, mulai proses persiapan hingga tahap perencanaan partisipatif. Dalam tahapan perencanaan partisipatif PLP-BK diharapkan dapat menghasilkan 3 dokumen perencanaan yaitu dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP), dokumen Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP), dan dokumen Aturan Bersama (AB).
Dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) merupakan dokumen yang berisi rencana penataan lingkungan Desa Panempan secara makro atau menyeluruh dan
III - 4 LAPORAN AKHIR
dalam dokumen RPLP tersebut berisi kawasan-kawasan yang diidentifikasi berdasarkan berbagai kriteria permasalahan dan potensi penataan dari kawasan-kawasan yang terdapat di Desa Panempan. Dari kawasan-kawasan tersebut maka dipilih satu kawasan prioritas berdasarkan kesepakatan masyarakat untuk disusun Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP)-nya. Dokumen RTPLP secara substansi mengatur kawasan prioritas dalam bentuk rencana detail. Sedangkan Aturan Bersama (AB) adalah aturan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembangunan lingkungan nantinya, yang mana Aturan Bersama ini disepakati berdasarkan keputusan bersama masyarakat.
Proses perancangan elemen fisik pada pembangunan sarana lingkungan dilakukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dan berdasarkan kebutuhan masing-masing pihak tersebut sehingga muncul berbagai keragaman bentuk fisik. Untuk memperoleh kualitas lingkungan yang sesuai dengan yang dikehendaki maka dilakukan pendekatan rancang bangun kawasan yang dalam lingkup tata kota dikenal sebagai rancang kota (urban design).
Penyusunan dokumen RTPLP pada program PLP-BK ini diharapkan mampu mengendalikan pembangunan dikawasan tersebut agar sesuai dengan tata bangunan dan lingkungan yang telah disepakati bersama oleh masyarakat dalam lingkungan itu sendiri.
Dengan demikian, agar program dapat berjalan berdasarkan pada tujuan yang jelas, baik target maupun sasarannya, maka dapat disusun program pembangunan baik jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang serta menentukan langkah–langkah pengendaliannya setelah melalui proses analisa atau penilaian dari segala aspek. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alur PLPBK
III - 5 LAPORAN AKHIR
Dalam proses perencanaan maka tahap-tahap yang harus ditempuh yaitu Refleksi Perkara Kritis, Pemetaan Swadaya, dan Penyusunan Produk dari program PLPBK, yaitu Rencana Penaataan Lingkungan Permukiman, Rencana Tindak Penataan Lingkungan dan Permukiman, sekaligus Aturan Bersama yang tentunya berisi kesepakatan warga Desa Panempan, terkait pemeliharaan dan oprasional dalam menjaga pembangunan fisik PLPBK.
Sebelum melanjutkan tahap perencanaan maka harus dipastikan bahwa TAPP sudah terpilih dan TIPP sudah disiapkan dan dilatih. Untuk BKM Delta, Desa Panempan, pembentukan dan pelatihan TIPP telah dibentuk, sebelum rekrutmen TAPP dilaksanakan, posisi koordinataor TIPP pada waktu PLPBK tahun 2012 adalah Bapak Suparto, Sedangkan TAPP Perencanaan pak Hari, sedangkang TAPP Pemasaran adalah Jayadi.
Pelatihan Penguatan Tim Inti Perencanan Partisipatif (TIPP) BKM Delta, Desa Panempan, Kecamatan Pamekasan,
Kabupaten Pamekasan
III - 6 LAPORAN AKHIR
A. Refleksi Perkara Kritis
Refleksi perkara kritis disini, memiliki tujuan untuk menyamakan persepsi dari definisi PAdat, KUmuh, MISkin atau yang dikenal dengan istilah PAKUMIS. Dimana setiap daerah pasti memiliki kriteria tersendiri dari definisi tersebut, untuk menyamakan hal tersebut maka dibuatlah agenda FGD RPK, untuk menyaring aspirasi dari tingkat basis, hingga tingkat kabupaten, yang didampingi tim teknis Kabupaten untuk meluruskan pemahan tersebut, berikut tahapan yang telah dilaksanakan untuk Refleksi Perkara Kritis (RPK)
1. Coaching Kelurahan/Desa, BKM, TIPP & Relawan
2. Serangkaian refleksi PAKUMIS di tingkat basis (Lingkungan/dusun)
3. Forum Konsultasi, Lokakarya & Penyepakatan tingkatKelurahan/Desa bersama Pokja/TimTeknis Pemda
4. Penyusunan Dokumen RPK
Gambar : bagan alur Refleksi Perkara Kritis Desa Panempan
Pembentukan Tim RPK
Pelatihan Tim RPK
Penyelenggaraan FGD RPK
Rembuk warga dan penyepakatan Kriteria Lingkungan Permukiman
PAKUMIS
Sosialisasi Hasil RPK
Tingkat Rukun Tetangga ( RT )
Tingkat Desa Panempan
Tingkat Kabupaten Rekrutmen Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran
(TAPP), Desa Panempan, Kec. Pamekasan, Kab.
Pamekasan
III - 7 LAPORAN AKHIR
Penyepakatan Hasil RPK tingkat Kelurahan dan Kabupaten
Pada bulan juni tahun 2013 dilakukan FGD penyepakatan RPK tingkat Kelurahan, yang dilakukan di sekolah SDN Gladak Anyar, yang dihadiri ketua 8 orang ketua RT, 4 orang ketua RW, tokoh masyarakat, dan warga. Acara yang dilakukan malam hari ini dilaksanakan mengenai Pembahasan Draft hasil kegiatan FGD RPK dan berdasarkan gambaran karakeristik lingkungan permukiman di masing-masing dusun yang ada di Desa Panempan, maka diperoleh kriteria atau tanda-tanda PAKUMIS. Adapun kriteria secara garis besar adalah sebagai berikut : PADAT
Tingkat Kepadatan Lingkungan Permukiman dengan ciri-ciri :
Kerapatan Antar Bangunan Tinggi.
Akses Sirkulasi Lingkungan Terbatas serta Buruk.
Jumlh penduduk lebih tinggi daripada ketersediaan lahan
Sirkulasi udara kurang
Tidak ada lahan kosong utk bermain
Gambar Situasi Penyepakatan FGD Tingkat Desa Panempan KUMUH
Tingkat Kekumuhan dengan ciri-ciri :
Jumlah (RTLH) Rumah Tidak Layak Huni tinggi dangan kondisi fisik (Dinding gedek; Atap ilalang & asbes; Lantai tanah; di bawah standar kesehatan & Keamanan; Tdk ada kamar mandi; dihuni >2 KK).
Sarana Persampahan Tidak Ada & Tidak Terorganisir.
Jaringan Sanitasi dan Pembuangan Air Limbah Tidak Ada.
Jaringan air hujan (selokan) tidak maksimal mengalirkan air.
Tidak memiliki Jamban untuk BAB, sehingga bergantung kesungai, Tidak Ada Kakus Umum & Jamban Keluarga Terbatas dengan pembuangan langsung ke kali (Tanpa Septictank).
Kesadaran masyarakat kurang akan lingkungan
MISKIN
Penghasilan dibawah Rp. 30.000/hari
III - 8 LAPORAN AKHIR
Tingkat Pendidikan terakhir Kepala Keluarga SMP
Tanggungan keluarga minimal 3 orang
Jenis bangunan rumah berdinding gedeg
Tidak memiliki fasilitas buang air besar
Lansia diatas umur 60 tahun, dan tidak bekerja
Pada dasarnya permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat maupun kondisi lingkungan permukiman yang ada di Desa Panempan pada umumnya sama. Namun berdasarkan kajian, terdapat beberapa kawasan yang memiliki masalah yang sifatnya kompleks dan penanganannya belum maksimal dan terintegral. Kawasan tersebut adalah di daerah RW 1, RW 2, dan RW 3 dimana kompleksitas permasalahan tertumpu pada daerah tersebut. Namun pada dasarnya opini tersebut bukan untuk mendahului dari kegiatan berikutnya berupa pemetaan swadaya masyarakat, dimana kegiatan tersebut akan memutuskan wilayah pengembangan kawsan prioritas pembangunan yang akan didanai oleh program PLP-BK
Berdasarkan hasil diskusi dengan warga melalui kegiatan FGD RPK ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal mengenai akar penyebab masalah PAKUMIS di wilayah Desa Panempan adalah sebagai berikut :
1. Lunturnya nilai-nilai kemanusiaan terutama mulai ditinggalkannya kegiatan-kegiatan gotong royong, rendahnya kepedulian antar sesama (terutama dampak yang berpengaruh dari aktifitas seseorang terhadap orang lain dan bahkan lingkungan sekitarnya).
2. Rendahnya kesadaran masyarakat, terutama mengenai kebersihan lingkungan permukiman dan kesehatan masyarakat sekitarnya.
3. Minimnya dan bahkan tidak adanya aturan bersama (awig-awig) serta regulasi dalam pengelolaan lingkungan permukiman masyarakat.
4. Minimnya lahan (dominasi lahan tambak garam) yang dapat diswadayakan masyarakat untuk membangun sarana dan prasarana lingkungan permukiman.
5. Kebijakan Pemerintah yang minim terhadap keterpihakan masyarakat miskin (propoor) ditandai dengan rendahnya kampanye dan penyuluhan-penyuluhan yang sifatnya berkelanjutan, terutama mengenai penanganan dan pengelolaan sampah, kebutuhan air bersih masyarakat serta kesehatan lingkungan lainnya.
B. Pemetaan Swadaya
Pemetaan Swadaya adalah suatu pendekatan partisipatif yang dilakukan masyarakat untuk menilai serta merumuskan sendiri berbagai persoalan yang dihadapi dan potensi yang dimilliki sehingga hasil dari identifikasi masalah dan potensi yang dimiliki, masyarakat dapat
III - 9 LAPORAN AKHIR
menentukan sendiri kebutuhan nyata (riil) untuk menanggulangi berbagai persoalan tersebut utamanya kemiskinan, dengan berbasis pada kekayaan informasi kualitatif yang bersifat lokal.
Tahapan atau siklus ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, setelah masyarakat menyamakan persepsi mengenai kawasan PAdat KUmuh MISkin, dilanjutkan pemetaan swadaya, dimana masyarakat yang diwakili tim Tenaga Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP) beserta Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran (TAPP) menerjemahkan apa yang telah disepakati dalam FGD RPK, dan sekaligus memetakan potensi dan permasalahan yang ada di Desa Panempan.
Dalam hal ini, semua penggalian informasi, analisa dan rumusan masalah dilakukan oleh masyarakat atau ”orang dalam”. Tenaga Ahli Pendamping Perencanaan hanya mengarahkan, membimbing, dan membantu merumuskan hasil, serta Fasilitator ”orang luar”
hanya memfasilitasi proses, bahkan jika memungkinkan fasilitasi juga dilakukan relawan yang merupakan unsurnya masyarakat.
Kegiatan Pemetaan Swadaya dalam PLP-BK selain sebagai pembelajaran dalam menggali persoalan atau menggali potensi dan masalah yang ada di Lingkungan wilayah dan kawasan desa, sehingga dapat menjadi dukungan untuk pengerjaan produk perencanaan tata ruang, juga mempunyai tujuan agar :
Masyarakat belajar memahami masalah-masalah kemiskinan dan potensi, baik sumberdaya manusia maupun kemampuan ekonomis, serta kemungkinan perkembangannya secara utuh;
Masyarakat belajar menyusun gambaran kondisi masyarakat dan wilayahnya saat ini serta gambaran yang diharapkan;
Masyarakat belajar melihat peluang untuk dapat menggali potensi dari masyarakat sendiri dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan dan kemiskinan dalam desa-nya;
III - 10 LAPORAN AKHIR
Masyarakat belajar untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya daripada tergantung pada bantuan atau sumber daya dari luar.
Gambar Pembentukan dan Coaching Pokja Pemetaan Swadaya
Pada dasarnya kegiatan PLPBK selalu menerapkan pendekatan humanis, kritis dan prinsip dialogis salah satu contohnya adalah FGD ( Focus Group Discussion ). Selain FGD metode yang digunakan adalah dengan cara berembug bersama Pembelajaran Orang Dewasa ( POD ) dan dengan wawancara secara langsung dan pendekatan alamiah ke tempat sasaran, juga dengan memperhatikan kebiasaan pola perilaku masyarakat.
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan Pemetaan Swadaya yang dilakukan oleh masyarakat adalah masyarakat mampu mengidentifikasi permasalahan dan potensi yang ada di wilayahnya, dengan demikian masyarakat dapat melihat gambaran kondisi permasalahan dan potensi wilayahnya secara keseluruhan.
Tahap Persiapan Pemetaan Swadaya
Tahap persiapan dilakukan dengan mengadakan pelatihan (coaching) Tim Inti Perencanaan Partisipatif, bersama relawan yang merupakan masyarakat Desa Panempan. Pada tahap persiapan ini TAPP telah menyediakan peta dasar citra dan peta dasar polosan tanpa warna dengan maksud untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan di lapangan.
III - 11 LAPORAN AKHIR
Peta diberikan pada masing-masing ketua RT sebagai ketua tim relawan, dengan harapan untuk mempermudah dalam proses lapangan, dikarenakan ketua RT adalah orang yang paham betul terhadap wilayahnya, peta citra diberikan untuk mengetahui gambaran Desa Panempan tampak atas.
Peta yang kedua adalah peta dasar yang telah dibagi setiap RT, untuk mempermudah pengisian. Dikolom legenda telah diberikan petunjuk pengisian.
Yang harus diisi oleh tim dalam pemetaan swadaya ini misalnya point pertama, jaringan jalan, maka yang harus dicatat yaitu, jenis jalan, lebar, jenis perkerasan, serta kondisi, untuk mengisinya tinggal memberi garis dengan bermain warna sesuai yang telah disepakati sebelumnya.
Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan di jadwalkan selama seminggu dari tanggal 1 sampai tanggal 7 juli 2013, namun realisasi hanya butuh waktu 3 hari, dari tanggal 4-7 juli 2013. Kegiatan ini merupakan pengaplikasian dilapangan apa yang telah masyarakat ketahui sebelumnya dalam pelatihan, kegiatan disini adalah kegiatan riil dilapangan, permasalahan dan potensi sekecil apapun terdata oleh masyarakat, ini merupakan proses pembelajaran bersama mengenai cita- cita dan harapan masyarakat kedepannya, ingin dibawa atau dikonsep seperti apa wajah baru Desa Panempan kedepannya, adalah benar-benar murni dari keinginan warga, namun tentunya tidak akan terlepas dari potensi yang dimiliki kawasan tersebut, berikut merupakan tabel pelaksanaan kegiatan dan gambar kegiatan Pemetaan Swadaya Desa Panempan.
Tahapan perencanaan bukan hanya berhenti pada hasil penentuan kawasan prioritas pembangunan, melainkan awal dari analisa permasalahan pada wilayah prioritas, setelah dilakukan observasi, dan wawancara maka diketahui bahwa permasalahan pada lokasi prioritas adalah :
Peningkatan kualitas jalan, dari jalan tanah menjadi rabat beton, dan paving,
Fisik bangunan saluran air sekunder wilayah perencanaan masih berupa non teknis atau tanah, selain itu juga memerlukan tutup plat beton saluran, dan juga gorong- gorong.
Bulum terkoneksinya saluran primer ke saluran sekunder dan saluran tersier, belum seluruhnya dipermukiman penduduk belum memiliki saluran tersier sendiri, sehingga terjadi genangan di saat musim penghujan
Sanitasi dan penyediaan air bersih, pembangunan MCK, sumur bor-pompa, tandon atas PVC 1100L
Perabot jalan, pembangunan pagar jembatan, pot bunga sebanyak 150 unit.
III - 12 LAPORAN AKHIR
Tidak memiliki area ruang terbuka hijau, sehingga kawasan terkesan sempit dan kurang berestetika
Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), semi permanen yang layak mendapatkan bantuan
Dari permasalahan tersebut maka dalam perencanaan skala prioritas telah dilakukan analisa SWOT, dimana prioritas pembangunan disusun berdasarkan analisa tersebut.
C. Pembuatan Maket Wilayah Desa Panempan
Pembuatan maket dirasa sangat berguna bagi masyarakat untuk memvisualkan daerahnya yaitu Desa Panempan. Adanya pembuatan maket TAPP bersama TIPP yang dianggap mewakili warga desa, diharap masyarakat mengetahui potensi dan kelemahan, lebih peka terhadap lingkungan, letak kantong-kantong kumuh, dan permasalah terkait lingkungan.
Definisi dari maket itu sendiri yaitu bentuk tiruan (gedung, kapal, pesawat terbang, dan sebagainya) dalam tiga dimensi dan skala kecil, biasanya dibuat dari kayu, kertas, tanah liat, dan sebagainya. Maket tersebut merupakan gambaran desa, dimana masyarakat dapat belajar, titik-titik permasalahan, seperti titik rawan genangan, titik rawan sanitasi, kantong permukiman miskin, jalur hijau, saluran air yang belum terkoneksi, maupun yang belum terdapat saluran air tersier, menuju saluran air sekunder. Sehingga masyarakat dapat memvisualkan dan cara penanggulanan terhadap suat permasalahan lingkungan desa Desa Panempan.
D. Pemasaran Sosial
Melihat dari karakteristik Desa Panempan berikut potensi dan permasalahan yang ada, Tim Pemasaran merekomendasikan beberapa bentuk-bentuk strategi pemasaran antara lain :
I. Sosialisasi Masal
Sosialisasi merupakan gerbang dalam rangkaian kegiatan PLP BK untuk menyampaikan hasil-hasil perencanaan yang telah dilakukan dan pemasaran yang akan dilaksanakan kepada khalayak umum, khususnya masyarakat Desa Panempan. Bentuk sosialisasi menggunakan alat bantu dan secara langsung kepada masyarakat baik berupa pamflet, leaflet, baliho, pameran, dan lain-lain.
III - 13 LAPORAN AKHIR
Dalam mengemas kegiatan sosialisasi massal oleh BKM “Delta” menggagas dan mengangkat tema Mensana Incorpore Sano didalam jiwa tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, sehingga dalm even itu dilakukan kegiatan Jalan Sehat Masal sebagai bentuk sosialisasi massal sekaligus sosialisasi kepada masyarakat agar lebih mengerti dan memahami maksud tujuan dari PLPBK.
Kegiatan Acara Sosialisasi Massal Desa Panempan Tahun 2016 II. Internet.
Internet merupakan salah satu media promosi yang cukup efektif untuk sekarang ini.
Bentuk-bentuk produk internet yang dapat di aplikasikan sebagai media pemasaran antara lain: website, blog, jejaring sosial. Pembuatan website dan blog lebih difungsikan sebagai database informasi kawasan prioritas yang akan dipasarkan. Sedangkan facebook merupakan jejaring sosial yang menjadi ujung tombak promosi melalui media internet yang lebih praktis dan luas.
III. Mengakses CSR
Perusahaan-perusahaan besar memiliki suatu program berupa CSR (Corporate Social Responsibility) yang memiliki kewajiban secara moral untuk upaya perbaikan lingkungan atau bersifat sosial (Charity) dan semata-mata demi perbaikan taraf hidup masyarakat disekitar perusahaan. Untuk mengakses CSR tersebut bisa melalui PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang merupakan divisi yang menggiatkan masyarakat untuk mampu berdaya dan bersaing melalui program pembinaan dan penyuluhan serta pelatihan sehingga
III - 14 LAPORAN AKHIR
masyarakat dapat mempunyai kemampuan untuk berdaya saing. Kegiatan ini berupa dana hibah ataupun program-program kemitraan lain.
IV. Channeling
Investor sangat diperlukan dalam merealisasikan baik pembangunan maupun pemasaran program PLPBK tersebut. Karena mengingat kekuatan dana yang dimiliki PNPM sangat terbatas, oleh karena itu perlu adanya sharing dana untuk mewujudkan sebuah kolam pemancingan yang baik. Investor yang masuk tidak dibatasi, baik secara perorangan ataupun berbadan hukum. Namun yang menjadi catatan adalah bagaimana pembuatan nota kesepahaman atau MoU antara investor dengan pihak-pihak terkait dengan kolam pemancingan tersebut.
IV - 1 LAPORAN AKHIR
BAB IV
REALISASI PLP BK
4.1 PENDANAAN PLP BK
Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas, merupakan program khusus untuk membenahi lingkungan yang memiliki permasalahan yang komplek, program ini merupakan program aplikatif, dimana setiap apa yang direncanakan, akan dilakukan pembangunan fisiknya, untuk dapat terpilih menjadi salah satu dari desa yang mendapatkan program tersebut, dengan dana pembangunan sebesar satu milyar, memang tidak mudah dimana wajib mengajukan proposal minat, juga harus melalui tahapan-tahapan seleksi, selain itu BKM atau LKM yang mengawal program tersebut, terkategori sebagai BKM/LKM yang mandiri.
Dana satu milyar tersebut merupakan dana dari world bank dimana terinci sebagai dana perencanaan sebesar seratus lima puluh juta rupiah dan dana pembangunan fisik sebesar delapan ratus lima puluh ribu rupiah. (terinci pada tabel berikut) selain dana tersebut terdapat pula dana sharing dari pemerintah daerah melalui MoU nota kesepakatan berupa fresh money atau program kegiatan sebesar lima puluh persen dari dana PLP BK.
Keterlibatan pemerintah dalam PLPBK diwujudkan melalui dukungan kebijakan dan anggaran. Untuk swasta dan kelompok peduli bisa terlibat melalui kerjasama guna mendukung pelaksanaan PLPBK. Wujudnya berupa bantuan teknis, pendanaan, hingga pengembangan kapasitas masyarakat. Masyarakat di lokasi PLPBK juga diberi ruang untuk berinovasi dan mengembangkan kreativitas yang sesuai dengan karakteristik masyarakat. Adapun Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran (TAPP) memfasilitasi seluruh proses pelaksanaan PLPBK.
Tabel Penggunaan Dana Perencanaan PLP-BK Tahun Penetapan 2012
No Kegiatan Penggunaan
Dana
Swadaya Masyarakat
1. Biaya TAPP 25.000.000,-
2. Biaya TAP 12.000.000,-
3. Biaya Peningkatan Kapasaitas Masyarakat
5.300.000,- 950.000,- 4. Biaya Dukungan Proses
Perencanaan
98.705.000,- 5.440.000,-
5. BOP 7.450.000,-
TOTAL 148.455.000,- 6.390.000,-
IV - 2 LAPORAN AKHIR
Dokumen hasil perencanaan “ Rencana Penataan Lingkungan Permukiman “ (RPLP) telah didapat deliniasi kawasan kumuh atau kawasan prioritas perencanaan, yang tertuang dalam dokumen “ Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman ” (RTPLP) telah membahas secara terstruktur perencanaan aplikatif pembangunan yang akan dibangun dalam indikasi program, pembangunan yang akan dibangun seperti pada tabel berikut :
Tabel dibawah menjelaskan bahwa program P2KKP ini, berbeda dengan program lain, ada dana swadaya yang dikeluarkan masyarakat, karena disadari bahwa dana tersebut merupakan dana stimulan, sisa kekurangan dana bersumber dari warga, bagi yang memiliki ekonomi lebih dapat menyumbang berupa uang, atau konsumsi, maupun berupa tenaga yang dimiliki. Tabel tersebut menjelaska dana terbesar digunakan untuk pembuatan plengsengan atau saluran air sekunder, dirasa sangat tepat untuk menghilangkan genangan yang menjadi permasalahan utama desa tersebut, perlu disiapkan saluran yang baik dan terkoneksi antara primer – sekunder – tersiernya. Besaran alokasi setiap kegiatan (rencana dan realisasi) LPJ kegiatan akan dilampirkan terpisah dengan dokumen akhir ini
IV - 3 LAPORAN AKHIR
Tabel Penggunaan Dana Pembangunan Fisik PLP-BK Tahun Penetapan 2012
NO NAMA KSM LOKASI JENIS PEMBANGUNAN
TANGGAL TEREALISASI
DANA BLM PLP-BK
DANA SWADAYA MASYARAKAT
JUMLAH PENGGUNAAN DANA 1 BINTANG I RT 2 RW 1,2 Drainase Lingkungan 14-Mar-2014 61.470.000 28.047.000 89.517.000
2 BINTANG II
RT 2 RW 1 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 24.870.000 15.434.000 40.304.000 RT 2 RW 2 MCK mandi+cuci+kakus 14-Mar-2014 42.000.000 6.241.000 48.241.000
3 BINTANG III
RT 2 RW 2 Drainase Lingkungan 14-Mar-2014 39.220.000 7.553.000 46.773.000 RT 2 RW 2 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 32.720.000 12.498.000 45.218.000
4 BINTANG IV
RT 2 RW 2 Drainase Lingkungan 14-Mar-2014 38.980.000 18.801.000 57.781.000 RT 2 RW 2 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 28.810.000 10.938.000 39.748.000
5 BINTANG V
RT 2 RW 2 MCK mandi+cuci+kakus 14-Mar-2014 42.000.000 6.241.000 48.241.000 RT 2 RW 2 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 16.950.000 146.000 17.096.000
6 BINTANG VI
RT 2 RW 2 Drainase Lingkungan 14-Mar-2014 20.960.000 9.060.000 30.020.000 RT 2 RW 3 MCK mandi+cuci+kakus 14-Mar-2014 42.000.000 6.241.000 48.241.000 RT 2 RW 1 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 7.970.000 14.530.000 22.500.000
7 BINTANG VII
RT 2 RW 3 Drainase Lingkungan 14-Mar-2014 23.945.000 7.956.000 31.901.000 RT 2 RW 3 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 46.285.000 9.073.000 55.358.000
8
BINTANG VIII
RT 2 RW 3 MCK mandi+cuci+kakus 14-Mar-2014 42.000.000 6.241.000 48.241.000 RT 2 RW 3 Jalan Paving Block 14-Mar-2014 36.540.000 22.688.000 59.228.000 9 BINTANG IX RT 2 RW 3 MCK mandi+cuci+kakus 14-Mar-2014 42.000.000 6.241.000 48.241.000
IV - 4 LAPORAN AKHIR
NO NAMA KSM LOKASI JENIS PEMBANGUNAN
TANGGAL
TEREALISASI DANA BLM PLP-BK
DANA SWADAYA MASYARAKAT
JUMLAH PENGGUNAAN DANA RT 2 RW 3 Septick Tank 14-Mar-2014 5.640.000 1.742.000 7.382.000 RT 2 RW 2 Septick Tank 14-Mar-2014 5.640.000 1.742.000 7.382.000 10 BINTANG X RT 1 RW 1,2 MCK mandi+cuci+kakus 31-May-2014 84.000.000 12.365.000 96.365.000
11 BINTANG XI
RT 2 RW 3 Jalur Hijau (penghijauan) 31-May-2014 92.130.000 10.050.000 102.180.000 RT 2 RW 2 Drainase Lingkungan 31-May-2014 32.830.000 15.300.000 48.130.000 RT 2 RW 2 Jalan Paving Block 31-May-2014 13.770.000 5.015.000 18.785.000 RT 2 RW 3 Tembok penahan 31-May-2014 14.775.000 1.375.000 16.150.000 RT 2 RW 2 Perbaikan perumahan 31-May-2014 12.495.000 3.385.000 15.880.000 12 BINTANG XII RT 1 RW 1 Jalan Paving Block 31-Mar-2015 1.545.000 1.331.000 2.876.000
TOTAL 851.545.000 240.234.000
IV - 5 LAPORAN AKHIR
4.2 HASIL KEGIATAN PLP BK
Hasil kegiatan dari program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas, terbagi menjadi tahap persiapan, tahap perencanaan, tahap pemasaran dan tahap pembangunan fisik.
4.2.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan disini dimulai dari sosialisasi tingkat Kabupaten, pembentukan tim teknis kabupaten untuk program PLPBK, Pembentukan TIPP, rekrutmen TAPP dan terakhir sosialisasi massal tingkat desa. Tahap persiapan disini bertujuan memperlancar kegiatan PLP BK, dari pengenalan program, hingga persiapan pemerintah daerah untuk membentuk tim teknis yang akan membantu secara teknis kegiatan program PLPBK dilapangan, dan puncak kegiatan persiapan adalah berupa sosialisasi massal tingkat Desa Panempan.
Gambar dibawah merupakan pembentukan dan sekaligus pelatihan Tim Inti Perencanaan dan Pemasaran, pada kegiatan tersebut dibahas pemilihan koordinator TIPP, apa itu TIPP, tugas dan kerjanya, sekaligus pelatihan dasar untuk bersama-sama dengan TAPP (Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran) dalam pengambilan keputusan merencanakan desanya sendiri menata lebih baik.
Gambar disamping penandatanganan kontrak kerjasama Tenaga Ahli Perencanaan dan Pemasaran, dimana untuk kabupaten Pemekasan sempat terjadi dua kali pergantian tenaga ahli pemasaran yang dilakukan, disebabkan tenaga ahli pemasaran yang pertama tidak memberikan progres yang diinginkan oleh BKM Delta
IV - 6 LAPORAN AKHIR
4.2.2 Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan program PLPBK untuk Desa Panempan, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, menghasilkan dokumen RPLP berisi pemaparan skala Desa Panempan, kedudukan Panempan dalam Kecamatan Pamekasan, merupakan desa penyangga bagi IKK desa kecamatan Pamekasan.
Dokumen RTPLP berisi penanganan kawasan prioritas pembangunan, dimana pada kawasan prioritas memerlukan peningkatan infrastruktur sarana-prasaranaseperti saluran drainase sekunder, saluran tersier, peningkatan jalan tanah ke jalan paving, serta jalur hijau berupa ruang terbuka hijau (RTH), dan dokumen terakhir adalah dokumen Aturan Bersama, dimana berisi aturan Oprasional dan Pemeliharaan, sehingga bangunan tersebut bukan indah saat baru dikerjakan, namun juga bertahan lama dengan adanya kelompok pemelihara dan oprasionalnya.
Dokumen tersebut dalam penyusunannya telah melalui forum konsultasi sampai dengan tahap kelima baik ditingkat desa, tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi, seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar Forum Konsultasi 2 dan 3 Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyrakat, di Aula PU. Cipta Karya dan Tata Ruang Pamekasan
IV - 7 LAPORAN AKHIR
4.2.3 Tahap Pemasaran
Proses pemasaran yang ada dalam program PLPBK sangat penting dalam melakukan proses transformasi sosial di masyarakat dimana tujuan akhir dari pemasaran tidak hanya dalam pembangunan fisik (profit oriented) tetapi juga pemasaran sosial yang bertujuan sebagai proses pembelajaran masyarakat dalam menjaring calon mitra (partnership) untuk memasarkan ide / gagasan dalam menata kawasan dan menciptakan lingkungan sehat, mandiri tanpa meninggalkan kaidah - kaidah dalam upaya penanggu langan kemiskinan.
Pemasaran sosial juga dimaksudkan untuk menata baik secara kelembagaan dilingkup desa dengan melakukan perbaikan sebuah organisasi / lembaga yang kuat, dipercaya, dan transparan sehingga akan melahirkan suatu kebijakan yang mampu tersepakati di tingkat masyarakat. Pada tahap pemasaran terdiri dari dua yaitu pemasaran internal dan ekternal,
Pemasaran Internal
Pemasaran internal merupakan upaya untuk melakukan perubahan perilaku dari dalam masyarakat untuk menciptakan tata lingkungan dan kehidupan yang lebih baik dalam upaya menjaring mitra potensial dalam tataaturan yang telah tersepakati di masyarakat dan desa guna mewujudkan harapan / impianmasyarakat .
Pemasaran Eksternal
Pemasaran eksternal adalah pemasaran yang memiliki titik berat diluar baik di lingkup SKPD, lembaga donor, peduli dan pendidikan, serta perusahaan melalui CSR baik secara cash money (uangtunai) maupun program yang telah disusun masyarakat. Kegiatan pemasaran yang dilakukan di Desa Panempan, Kabupaten Pamekasan seperti pada tabel berikut.
Tabel Kegiatan Pemasaran
Desa Panempan, Kec. Pamekasan, Kab. Pamekasan Tahun 2013
No Kegiatan Metode Sasaran OUPUT
Pemasaran Internal
1. Sosialisasi - FGD intern - Jalan Sehat
- KSM dng TIPP &TAPP - Masyarakat Desa Panempan - BKM Delta
- Pemerintah Desa Panempan
- Pemahaman serta kesadaran pentingnya pemecahan masalah social, pengembangan ekonomi kreatif, dan lingkungan yang ada di Desa Panempan
2. Musrenbang
Desa - FGD - Pemerintah Desa Panempan - BPD
- Pengawalan program-program hingga Musrenbang kabupaten
3. Pelatihan
- Workshop - Seminar - Training
- Industri kecil - Industri rumah tangga - Pengelola Kawasan
Prioritas
- Menciptakan tenaga kerja trampil yang lebih berkualitas
- Menciptakan SDM manajemen pengelolaan dan pemasaran yang handal
IV - 8 LAPORAN AKHIR
No Kegiatan Metode Sasaran OUPUT
PemasaranEkternal
1. Sosialisasi - Seminar
- TKPKD - SKPD - Tim Teknis
- Lembaga pendidikan - Lembaga donor
- Pemecahan masalah lingkungan, aksesibilitas dan pengembangan ekonomi kreatif Desa Panempan - Channeling program ekonomi dan lingkungan,
baik perencanaan dan pembangunan - Sharing dana pembangunan
2. Musrenbang Kabupaten - FGD
- Bappeda,
- Dinas Pekerjan Umum, - Dinas Koperasi, UKM,
Disperindag
- Badan Lingkungan Hidup
- Perbaikan dan pembangunan MCK Komunal - Perbaikan dan pembangunan jalan lingkungan - Perbaikan dan pembangungan selokan lingkungan
3. Event
- gathering, - bazaar, - festival, - pecan raya
- Masyarakat Umum - Seluruh SKPD - Investor
- Penggemar memancing
- Acara rutin dan terjadwal - Ajang promosi dan investasi.
- Sebagai bangkitan dan tarikan ekonomi local terhadap ekonomi sekitar dan wilayah
4. Internet
- Website - Blog - Facebook
- Browser, - Bloger, - Facebooker,
- Pengenalan terhadap kewilayahan berupa potensi wilayah dan produk-produkperencanaan - Pengenalan Produk dan Program unggulan - Database profil, perencanan, dan pemasaran
program dan produk.
5. Iklan - cetak,
- radio - masyarakat umum - mempublikasikan kawasan prioritas
- mempromosikan event yang akan dilaksanakan 6.
Selebaran, panduk, baliho
- pemasangan di tempat2 strategis
- pengguna jalan - masyarakat umum
- mempublikasikan kawasan prioritas
- mempromosikan event yang akan dilaksanakan 8. Lobby - pendekatan
personal - SKPD terkait
- mempercepat, memudahkan, danmerealisasikan program-program yang dibutuhkan untuk pemasaran,
9. CSR/PKBL - proposal - hibah
- BUMN, - BUMN, - Perusahaan.
- Dana CSR/PKBL
- Bantuan program dankemitraan
10. Channeling
- Pengemban ganKelomp ok Usaha Bersama
- Investor swasta - perorangan
- penanaman modal pembangunan - pemasarandanpengelolaan Catatan : Warna Hijau berarti perencanaan pemasaran yang terselenggara
4.2.4 Tahap Pembangunan
Tahap pembangunan disini akan menjelaskan secara visual hasil dari pembangunan dengan menggunakan dana PLPBK tersebut sebesar satu milyar untuk desa Kertasda yaitu :
Foto Progres Fisik Kegiatan PLP-BK
0% 50% 100%
KSM BINTANG 10
IV - 9 LAPORAN AKHIR
Foto Progres Fisik Kegiatan PLP-BK
0% 50% 100%
KSM BINTANG 11 - Jalan Paving
- Jalur Hijau
- RTLH
- Saluran Air