14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Pengertian Anak
1. Secara Terminologi
Anak-anak perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial yang paling rentan dan lemah, ironisnya anak-anak justru sering kali berada dalam posisi yang paling di rugikan, tidak memiliki haknya untuk bersuara,dan bahkan mereka juga sering menjadi korban tindak kekerasan dan pelanggaran terhadap hak- haknya sebagai anak.1
Usia seseorang merupakan salah satu tolak ukur dalam kajian hukum untuk menentukan kualifikasi pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya. Oleh karena itu, batasan dalam penelitian ini lebih berorientasi dan menitik beratkan pada batasan usia dalam memberikan pengertian tentang anak. Secara umun, pengertian anak mengalami perkembangan secara variatif.
Anak adalah seseorang yang telah dilahirkan dari sebuah perkawinan antara seorang laki- laki dan seorang perempuan dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh perempuan meskipun Wanita tersebut tidak menikah maka teteap dikatakan sebagai anaknya, anak juga merupakan cikal bakal lahirnya sebuah generasi yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional, seorang anak yang telah dilahirkan adalah asset bangsa, masa depan bangsa, dimasa yang akan datang ketika mereka sudah dewasa.2
Guna menghilangkan keragu-raguan tersebut, pemerintah Hindia Belanda memuat peraturan yang dimuat dalam Staatblad, No. 54, Tahun 1931, peraturan pemerintah tersebut
1 Arif Gosita. “ Masalah perlindungan Anak”. (Jakarta : Sinar Grafika, 1992). hal. 28.
2 Andy Lesmana, “Definisi Anak”, Kompasiana Beyond Blogging (Online). 2015. (http://www.kompasiana.com/. diakses 30 maret 2021).
antara lain menjelaskan bahwa untuk menghilangkan keragu-raguan, maka jika dipergunakan istilah anak di bawah umur terhadap bangsa Indonesia, adalah:
1) Mereka yang belum berumur 21 (dua puluh satu) tahundan sebelumnya belum pernah kawin;
2) Mereka yang telah kawin sebelum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan kemudian bercerai-berai dan tidak kembali lagi di bawah umur;
3) Yang dimaksud dengaan perkawinan bukanlah perkawinan anak-anak.
Dengan demikian, barang siapa yang memenuhi persyaratan diatas, maka dapat disebut anak dibawah umur atau secara mudah disebut anak-anak. Apabila mengacu pada aspek psikologis, pertumbuhan manusia mengalami fase-fase perkembangan kejiwaan, yang masing- masing ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Untuk menentukan kriteria seorang anak ditendukan atas dasar Batasan usia dan juga dapat diliohat dari pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang dialaminya.
Dalam hal fase-fase perkembangan, seorang anak mengalami tiga fase, yaitu:
1) Masa kanak-kanak, terbagi ke dalam:
a. Masa bayi, yaitu masa seorang anak dilahirkan sampai umur 2 tahun;
b. Masa kanak-kanak pertama, yaitu anak umur 2-5 tahun;
c. Masa kanak-kanak terakhir, yaitu antara umur 5-12 tahun.
2) Masa remaja, antara umur 13-20 tahun. Masa remaja adalah masa dimana perubahan cepat terjadi dalam segala bidang; pada tubuh dari luar dan dalam; perubahan perasaan, kecerdasan, sikap social, dan kepribadian.
3) Masa dewasa muda, antara umur 21-25 tahun. Pada masa dewasa muda ini pada umumnya masih data dikelompokkan kepada generasi muda. Walaupun dari segi perkembangan
4) jasmani dan kecerdasan telah betul-betul dewasa, pada kondisi ini anak sudah stabil.
Namun, dari segi kemantapan agama dan ideology masih dalam proses kemantapan. 3
Dalam pandangan yang umum, anak merupakan sebuah bentuk investasi yang menjadi penunjang keberhasilan-keberhasilan suatu bangsa dalam melaksanakan pembangunan.
Keberhasilan pembangunan seorang anak akan menentukan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang, serta menjadikan sebuah generasi yang akan menjadi penerus bangsa sehingga mereka harus dipersiapkan dan diarahkan sejak usia dini agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dalam jasmani, rohani, maju, mandiri serta sejahtera menjadi sumber daya yang berkualitas dan juga dapat menghadapi sebuah tantangan dimasa yang akan datang. Sebab karena itu upaya pembangunan anak harus dimulai sedini mungkin mulai dari kandungan hingga tahap-tahap tumbuh kembang selanjutnya.
Sementara itu, mengacu pada Konvensi PBB tentang Hak Anak (convention on the Right of the Child), maka definisi anak: “Anak berarti setiap manusia di bawah umur 18 tahun, kecuali
menurut undang-undang yang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai lebih awal”. Untuk itu, UU No.35 Tahun 2014 tentang perlindungan Anak memberikan definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Hadi Supeno mengungkapkan bahwa semestinya setelah lahir UU Perlindungan Anak yang dalam strata hukum dikategorikan sebagai lex specialist, semua ketentuan lainnya tentang definisi anak harus disesuaikan, termasuk kebijakan yang dilahirkan serta berkaitan dengan pemenuhan hak anak. 4
Menurut penulis dari penjelasan diatas adalah anak dapat dikatakan dewasa ketika ia sudah menginjak umur 18 tahun atau sudah mengalami masa pubernya dan dibawah umur 18 tahun
3 Marsaid. 2015. “ Perlindungan Hukum Anak Pidana Dalam Perspektif Hukum Islam ” . (Maqasid AsySyari’ah) (Palembang: NoerFikri). hlm. 57.
4 M. Nasir Djamil. 2013. “ Anak Bukan Untuk Dihukum “. (Sinar Grafika: Jakarta). hlm. 10.
maka anak itu belum dikatakan dewasa atau cakap dalam hukum dan harus mendapatkan sebuah perlindungan sejak ia masih didalam kandungan ibunya.
2. Menurut Peraturan Perundang-undangan
Pengertian kekerasan terhadap anak sebagaimana yang dimaksud dalam UU Perlindungan Anak Pasal 13 yaitu: “ Diskriminasi, Eksploitasi baik fisik maupun seksual, Penelantaran, Kekejaman, Kekerasan, dan Penganiayaan, Ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya.”
Kekerasan anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak. Jika kekerasan terhadap anak didalam rumah tangga dilakukan oleh orangtua, maka hal tersebut dapat disebut kekerasan dalam rumah tangga. Tindak kekerasan rumah tangga yang termasuk didalam tindakan kekerasan rumah tangga adalah memberikan penderitaan baik secara fisik maupun psikis diluar batas-batas tertentu terhadap orang lain yang berada didalam satu rumah, seperti terhadap pasangan hidup, anak, atau orangtua dan tindak kekerasan tersebut dilakukan didalam rumah.
Menurut penulis dari penjelasan diatas adalah semua hal yang dapat merugikan baik fisik maupun psikis didalam lingkup rumah tangga maka dapat dikategorikan sebagai kekerasan dalam lingkup rumah tangga sebagaimana yang penulis angkat dalam penulisan ini.
Definisi anak menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak menurut bahasa adalah keturunan kedua sebagai hasil antara hubungan pria dan wanita.
Pengertian anak menurut peraturan perundang-undangan dapat dilihat sebagai berikut : Pasal 6 huruf (q), Pasal 7 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 (LN Tahun 2003 No. 93), tentang pemilihan Presiden dan wakil Presiden adalah batas usia anak berhak untuk memilih berusia
17 (tujuh belas) tahun, hak dipilih sebagai presiden/wakil Presiden berusia sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) tahun;5
Dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, memberikan pengertian bahwa anak adalah seseorang yeng belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin;
Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud dengan anak ialah: anak adalah seseorang yang belum berusia 18(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan; 6
3. Menurut Para Ahli
Menurut Zakariya Ahmad Al Barry yang dikutip oleh Maidin Gultom, dewasa maksudnya adalah cukup umur untuk berketurunan dan muncul tanda laki-laki dewasa pada putra, muncul tanda -tanda wanita dewasa pada putri. Inilah dewasa yang wajar, yang biasanya belum ada sebelum anak putra berumur 12 tahun dan putri berumur 9 tahun. Apabila anak mengatakan bahwa ia dewasa, keterangannya dapat diterima karena dia sendiri yang mengalami. Apabila sudah melewati usia tersebut di atas tetapi belum nampak tanda-tanda yang menunjukan bahwa ia telah dewasa, harus ditunggu sampai ia berumur 15 tahun.7
Menurut penulis dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang dapat dikatakan dewasa jika ia sudah menikah dan mempunyai keturunan atau juga seorang yang sudah mengalami masa puber biasanya jika seorang laki-laki berada dalam usia 12 tahun dan
5 Bunadi Hidayat. “ Pemidanaan Anak di Bawah Umur”. (Bandung: PT. Alumni 2014). hlm .14.
6 Ahmad Fauzan. 2009. “ Peradilan Umum, Peradilan Khusus, dan Mahkamah Konstitusi “. (Kecana: Jakarta). hlm 96.
7 Maidin Gultom. “ Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia” . PT.
Refika Aditama. Bandung. 2010. hlm. 31.
perempuan usia 9 tahun tetapi jika belum mengalami puber makan ditunggu sampai umur 15 tahun.
Menurut R.A. Kosnan “Anak-anak yaitu manusia muda dalam umur muda dalam jiwa dan perjalanan hidupnya karena mudah terpengaruh untuk keadaan sekitarnya”. Oleh karna itu anak-anak perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial yang paling rentan dan lemah, ironisnya anak-anak justru sering kali ditempatkan dalam posisi yang paling di rugikan, tidak memiliki hak untuk bersuara, dan bahkan mereka sering menjadi korban tindak kekerasan dan pelanggaran terhadap hak-haknya.8 Menurut penulis dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang anak-anak mudah terpengaruh dari lingkungan yang ia tempatkan sehingga dalam hal ini orangtua harus benar dalam menjaga anak-anaknya.
B. Tinjauan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan terhadap anak ternyata masih terus terjadi. Setiap hari ratusan ribu bahkan jutaan anak Indonesia mencari nafkah di terik matahari, dikedinginan malam, atau di tempat- tempat yang berbahaya, ada anak yang disiksa orangtuanya atau orang yang memeliharanya akan tetapi yang dimaksud kekerasan dalam rumah tangga ialah sebagai berikut:
James Vander Zanden dalam bukunya Human Development (1989) menyebutkan definisi abuse (kekerasan / penyiksaan) sebagai serangan fisik (bisa menyebabkan luka) dan dilakukan dengan sengaja oleh orang yang seharusnya jadi care taker.
David A Wolfe dalam bukunya Child Abuse, mengatakan bahwa maltreatment terhadap anak bisa berbentuk physical abuse, emotional abuse,sexual abuse dan neglect (pengabaian).
8 R.A. Koesnan. “ Susunan Pidana dalam Negara Sosialis Indonesia”. (Bandung :Sumur, 2005) . hal. 113
Pengabaian dapat diartikan sebagai ketiadaan perhatian baik sosial,emosional dan fisik yang memadai, yang sudah selayaknya diterima oleh sanganak. Para psikiater yang terhimpun dalam Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di Inggris (1999) berpendapat, bahwa pengabaian terhadap anak juga merupakan sikap penyiksaan namun lebih bersifat pasif.9
Sementara itu Barker mendefinisikan kekerasan terhadap anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orang tua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak. Dalam hukum pidana yang berlaku di Indonesia dikenal adanya sejumlah alasan penghapus pidana, baik yang telah diatur dalam KUHPidana maupun alasan penghapus pidana di luar undang- undang, yaitu hanya dapat ditemukan dalam yurisprudensi (putusan pengadilan).
Anita lie dalam Suyanto menyatakan bahwa kekerasan adalah suatu perilaku yang disengaja oleh seorang individu pada individu lain dan memungkinkan menyebabkan kerugian fisik dan psikologi. Pengertian kekerasan terhadap anak-anak atau child abuse, Pada mulanya berasal dari dunia kedokteran sekitar tahun 1946. Sekarang istilah tersebut lebih dikenal dengan Child Abuse (kekerasan anak) The National Commiaaion Of Inquiry, kekerasan pada anak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh individu, institusi atau suatu proses yang secara langsung depan keselamatan dan kesehatan mereka kearah perkembangan kedewasaan.10
9 Jacinta F.Rini. 2008 . “ Penyiksaan dan Pengabaian Terhadap Anak”. (Https://www.e-psikologi.com, di akses 22 Juni 2021).
10 Ibid. “ Penyiksaan dan Pengabaian Terhadap Anak”.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat penulis simpulkan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya adalah sebuah peristiwa yang berdampak terhadap fisik, psikis, dan seksual yang sengaja dilakukan oleh orangtua kandungnya hal ini masuk dalam kekerasan dalam lingkup rumah tangga sebagaimana khususnya di Indonesia telah di atur Dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) yang berbunyi: “ Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.
C. Tinjauan Tentang Pentingnya Perlindungan Anak
Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu di berikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum. Hukum dapat difungsikan untuk mewujudkan perlindungan yang sifatnya tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melainkan juga prediktif dan antisipatif. Hukum dibutuhkan untuk mereka yang lemah dan belum kuat secara sosial, ekonomi dan politik untuk memperoleh keadilan sosial.11
Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya
11 Satjipto Raharjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, hlm.55.
hak-hak tersebut. ditujukan untuk memimimalisir, mencegah, merehabilitasi, dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah (child abused), eksploitasi dan penelantaran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental dan sosialnya.12
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa perlindungan hukum adalah memberikan sebuah keamanan bagi setiap orang atau setiap warga negara dan mendapatkan hak-hak nya sebagai manusia seutuhnya menjamin kelangsungan hidup manusia.
Pengertian perlindungan anak dapat juga dirumuskan sebagai :
a. Suatu perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat. Keadilan ini merupakan keadilan sosial, yang merupakan dasar utama perlindungan anak.
b. Suatu usaha bersama melindungi anak untuk melaksanakan hak dan kewajibannya secara manusiawi dan positif.
c. Suatu permasalah manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial. Menurut proporsi yang sebenarnya, secara dimensi perlindungan anak beraspek mental, fisik dan sosial, hal itu berarti bahwa pemahaman, pendekatan, dan penanganan anak dilakukan secara integratif, interdisipliner, intersektoral, dan interdepartemental.
d. Dapat merupakan suatu tindakan hukum (yuridis) yang dapat mempunyai akibat hukum yang harus diselesaikan degan berpedoman dan berdasarkan hukum. perlu adanya pengaturan berdasarkan hukum untuk mencegah dan menindak Pelaksanaan Perlindungan Anak yang menimbulkan penderitaan mental, fisik, dan sosial pada anak yang bersangkutan.
e. Merupakan suatu bidang pembangunan hukum nasional. Mengabaikan masalah perlindungan anak akan mengganggu pembangunan nasional serta kesejahteraan rakyat maupun anak. ikut serta dalam pembangunan nasional adalah hak dan kewajiban setiap warga negara.
f. Merupakan bidang peayanan sukarela yang luas lingkupnya dengan gaya baru (inovatif, inkonvensional).13
12 Phillipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya, PT. Bina Ilmu, hlm.25.
13 Arif Gosita, 1999, Aspek Hukum Perlindungan Anak dan Konvensi Hak-hak Anak, Jakarta Fakultas Hukum Taryma Negara, Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum No 4/Th.V/April 1999, hlm. 264-265.
Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek- subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Perlindungan hukum preventif perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya sebuah pelanggaran.
b. Perlindungan hukum represif yaitu Perlindungan yang merupakan perlkindungan akhir yaitu berupa sanksi seperti denda, penjara dan hukuman tambahan yang diberikan apabila tterjadi suatu pelanggaran.14
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa setiap pelanggaran harus ada perlindungan yang diberikan oleh aparat penegak hukum yang belum terjadi dapat dilakukan pencegahan dan yang sudah terjadi maka akan diberikabn sebuah sanksi.
D. Tinjauan Tentang Tindak Pidana Kekerasan Terhadap Anak
Pada hakekatnya, pengertian anak dan status kedudukan anak dalam hukum pidana meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Ketidakmampuan untuk pertanggungjawaban tindak pidana.
2. Pengembalian hak-hak anak dengan jalan membsubsitusikan hak-hak anak yang timbul dari lapangan hukum keperdataan, tata negara, dan hukum kekuasaan dengan maksud untuk mensejahterakan anak.
3. Rehabilitasi yaitu anak berhak untuk mendapat proses perbaikan mental spiritual akibat dari tindakan hukum pidana yang dilakukan oleh anak itu sendiri.
4. Hak-hak untuk menerima pelayanan dan asuhan.
5. Hak anak dalam proses hukum acara pidana. 15
Kitab Undang-undang Hukum Pidana tidak memberikan pengertian yang otentik tentang apa yang dimaksudkan dengan kekerasan. Hanya dalam pasal 89 disebutkan bahwa yang disamakan dengan melakukan kekerasan itu, membuat orang menjadi pingsan atau tidak berdaya
14 Ishaq, Dasar-dasar Ilmu Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 2009, hlm. 43.
15 Gomgom TP Siregar dan Irma Cesilia Syarifah Sihombing. “TINJAUAN YURIDIS TINDAK KEKERASAN ORANG TUA TERHADAP ANAK”. JURNAL RECTUM, Volume 2, Nomor 1, Januari 2020. Hlm.78.
lagi (lemah).Pada penjelasan pasal 89 KUHP dijelaskan bahwa :Melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dsb. Yang disamakan dengan kekerasan menurut pasal ini adalah membuat orang menjadi pingsan atau tidak berdaya.
Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun, dan seterusnya.
Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang berhubungan dengan stress dalam keluarga (family stress).Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau situasi tertentu.Tindak kekerasan terhadap anak merupakan permasalahan yang cukup kompleks, karena mempunyai dampak negatif yang serius, baik bagi korban maupun lingkungan sosialnya.16
Umumnya seseorang yang memiliki riwayat kekerasan masa lalu menganggap tin dakan kekerasan merupakan hal yang biasa sehingga cenderung untuk melakukan hal yang sama.
Mereka mengaggap bahwa kekerasan merupakan suatu cara untuk menyelesaikan masalah dan mengendalikan orang lain. Setiap orang yang pernah memiliki riwayat kekerasan masa lalu diharapkan bisa menghilang kan gambaran buruk masa lalunya sehingga tidak mencontoh perilaku kekerasan yang pernah dialami. Mampu mengendalikan diri dan menghindari kondisi–
16 Siswanto Sunarso, Wawasan Penegakan Hukum Di Indonesia, (Jakarta : Citra Aditya Bakti, 2005), hal 142.
kondisi yang dapat memicu emosi yang berujung kepada tindakan kekerasan. Jika diperlukan dapat meminta bantuan psikolog atau ahli kejiwaan untuk menghilangkan trauma buruk masa lalu. Upaya untuk memutus rantai KDRT orang tua harus menghilangkan unsur kekerasan dalam rumah tangga. Ekspos kekerasan dalam rumah tangga dapat menimbulkan berbagai persoalan permasalahan pada anak. Dalam jangka pendek seperti ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur keluarga, munculnya berbagai gangguan mental. Sedangkan dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan di masa depan, baik sebagai pelaku ataupun sebagai korban.
Pola asuh menentukan kejadian KDRT. Mereka meniru pola asuh yang didapatkannya sebagai model ketika mereka menjadi pasangan suami istri dan orang tua kelak Pola asuh dalam keluarga bisa memberikan sumbangan dalam membentuk kekerasan. Pola asuh yang paling mendukung untuk terjadinya kekerasan dalam rumah tangga kelak adalah pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter dalam penerapannya merupakan pola asuh yang keras, menekankan kedispilinan yang tinggi, pemaksaan kehendak orang tua kepada anak, selalu memberikan hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan. 17
Hal ini menjadikan anak memiliki sifat yang temperamental, tidak senang, tidak memiliki tujuan, penuh ketakutan, mudah stres, menarik diri, dan tidak percaya terhadap orang lain.
Banyak orang tua beranggapan pola asuh otoriter pada anak adalah hal wajar sebagai cara mendisiplinkan anak. Padahal anak yang mendapatkan perlakuan dan asuhan yang keras dan tanpa afeksi, akan mengakibatkan luka batin pada anak. Kurangnya kontrol dari orang tua, juga membuat anak-anak lebih rentan menjadi korban kekerasan. Misalnya, memberikan pengasuhan
17 Mery Ramadani dan Fitri Yuliani. “Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sebagai Salah Satu Isu Kesehatan Masyarakat Secara Global”. Vol. 9, No. 2, Hal.86.
sepenuhnya tanpa pengawasan kepada pembantu atau orang lain yang ternyata sering menyakiti anak. Masing-masing orang tua memiliki tata cara tersendiri dalam mengasuh anak-anak mereka.
Penting untuk memberikan pola asuh yang baik sejak dini sehingga membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bukan sebagai pelaku ataupun korban KDRT di masa mereka dewasa.18
E. Tinjauan Tentang Kedudukan Putusan Hakim 1. Tugas dan kewajiban Hakim
Hakim merupakan tempat terakhir bagi pencari keadilan dalam proses keadilan oleh sebab itu tugas hakim adalah sebagai salah satu elemen kekuasaan kehakiman yang menerima, memeriksa dan memutuskan perkara. Hakim dituntut untuk memberikan keadilan kepada para pencari keadilan.19
a) Fungsi dan Tugas Hakim
Didalam Pasal 1 ayat (8) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana disebutkan bahwa Hakim adalah pejabat yang diberikan wewenang oleh Undang-undang untuk mengadili. Dengan demikian fungsi seorang hakim adalah seorang yang diberi wewenang olehundang-undang untuk melakukan atau mengadili setiap perkara yang dilimpahkan kepada pengadilan.20
Dalam peradilan, tugas hakim adalah menetapkan apa yang ditentukan oleh hukum dalam suatu perkara. seperti yang diatur dalam pokok-pokok kekuasaan kehakiman tercantum pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.
18 Ibid. Hlm. 87.
19 Mujahid A. Latief, 2007, Kebijakan Reformasi Hukum: Suatu Rekomendasi (jilid II), Jakarta: Komisi Hukum Nasional RI, hlm. 283
20 Lilik Mulyadi, 2010,Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana: Teori, Praktik, Teknik Penyusunan dan Permasalahannya, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 120.
b) Hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara (mengadili), dengan alasan tidak ada aturan hukumnya atau aturan hukumnya kurang jelas. Oleh karena hakim itu dianggap mengetahui hukum (curialus novit). Jika aturan hukum kurang jelas maka ia harus menafsirkannya.21
2. Jenis-Jenis Putusan Hakim
Putusan hakim/pengadilan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu:
a) Putusan Akhir Dalam praktiknya
Putusan akhir adalah putusan yang dapat terjadi setelah majelis hakim memeriksa terdakwa yang hadir di persidangan sampai dengan pokok perkara selesai diperiksa.22
b) Putusan yang Bukan Putusan Akhir
Putusan bukan akhir adalah Putusan jenis ini mengacu pada ketentuan pasal 148, Pasal 156 ayat (1) KUHAP, yakni dalam hal setelah pelimpahan perkara dan apabila terdakwa dan atau penasihat hukumnya mengajukan keberatan/eksepsi terhadap surat dakwaan jaksa/penuntut umum.23
3. Asas-Asas Putusan Hakim
a) Asas putusan yang pertama adalah memuat dasar alasan yang jelas dan rinci. Menurut asas ini putusan yang dijatuhkan harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup,
b) Asas kedua, yaitu hakim wajib mengadili seluruh bagian dari gugatan dan atau permohonan.
c) Asas ketiga adalah hakim tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan, d) Asas keempat adalah putusan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.24
F. Teori Keadilan
21 Ibid. hlm .122.
22 Lilik Mulyadi, 2010, Seraut Wajah Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana Indonesia, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, hlm.131.
23 Ibid.hlm .136.
24 Mahmud Hadi Riyanto dan Ahmad Taujan Dzul Farhan. “ASAS-ASAS PUTUSAN HAKIM”.
https://badilag.mahkamahagung.go.id/ diakses pada 4 juli 2021.
Hans kelsen didalam bukunya yaitu general theory of law and state, berpendapat bahwa hukum adalah sebagai tatanan sosial yang dapat dinyatakan adil apabila dapat mengatur perbuatan manusia dengan cara yang memuaskan sehingga dapat menemukan kebahagiaan didalamnya. Pandangan hans kelsen ini bersifat positifisme, nila-nilai keadilan individu dapat diketahui engan aturan-aturan hukum yang mengakodimir nilai-nilai umum, namun tetap pemenuhan rasa keadilan dan kebahagiaan diperuntuk setiap individu.25
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendapat Hans Kelsen adalah hukum adalah tempat untuk mengatur perbuatan seseorang dan memecahkan sebuah permasalahan sehingga dapat menemukan suatu kebahagiaan didalamnya. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh filsuf amerika dikahir abad ke-20, yaitu John Rawls dimana berpendapat bahwa keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial, akan tetapi kebajikan bagi seluruh masyarakat tidak dapat mengesampingkan atau menggugat rasa keadilan dari setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keadilan adalah sebuah kebaikan bagi seluruh lapisan masyarakat tetapi rasa keadilan juga tidak dapat menggugat dari setiap orang yang sudah memperoleh keadilan tersebut.26
25 Hans Kelsen, 2011. “General Theory of Law and State”, Diterjemahkan oleh Rasisul Muttaqien, Bandung, Nusa Media. Hal. 9 dan 12.
26 Pan Mohamad Faiz, 2009. “Teori Keadilan John Rawls”, dalam Jurnal Konstitusi, Volume 6 Nomor1, Hal. 140.