4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Dalam penelitian ini, objek yang diteliti adalah hotel bintang 1 dan bintang 2 di kota Tanjung Selor, yaitu Crown Hotel, Kaltara Hotel, B&C Hotel, Platinum Hotel. Berikut adalah gambaran masing-masing hotel:
1. Crown Hotel
Crown Hotel mulai beroperasi pada tahun 2008, berlokasi di Jalan Kolonel Sutadji, Tanjung Selor. Crown Hotel memiliki 51 kamar dengan tipe President Suite, Junior Suite, Superior, Deluxe dan Standart. Kamar- kamar ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 420.000,00 – Rp 2.500.000,00.
Hotel ini memiliki 35 karyawan untuk operasional yang dimilikinya.
Hotel ini dipimpin oleh manager pria yaitu Bapak Siswandi.
2. Kaltara Hotel
Kaltara Hotel mulai beroperasi pada tahun 2013, berlokasi di Jalan Semangka, Tanjung Selor. Hotel ini memiliki 34 kamar dengan tipe Suite, Deluxe, Superior dan Standart. Kamar-kamar ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 300.000,00 – Rp 700.000,00.
Hotel ini memiliki 25 karyawan untuk operasional yang dimilikinya.
Hotel ini dipimpin oleh Ibu Desi Nior. Merupakan seorang manager wanita yang telah memimpin sejak Kaltara Hotel mulai beroperasi.
3. B&C Hotel
B&C Hotel mulai beroperasi pada tahun 2013, berlokasi di Jalan Haji Maskur, Tanjung Selor. B&C Hotel memiliki 15 kamar dengan tipe VVIP, VIP, dan Standart. Kamar-kamar ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 350.000,00 – Rp 1.500.000,00.
Hotel ini memiliki 15 karyawan untuk operasional yang dimilikinya.
Hotel ini dipimpin oleh manager pria, yaitu Bapak Deden Nurjaman.
4. Platinum Hotel
Platinum Hotel mulai beroperasi pada tahun 2014, berlokasi di Jalan Haji Maskur, Tanjung Selor. Platinum Hotel memiliki 17 kamar dengan tipe
29
Platinum Suite, Junior Suite, Deluxe, dan Superior. Kamar-kamar ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 399.000,00 – Rp 1.299.000,00.
Hotel ini memiliki 15 karyawan untuk operasional yang dimilikinya.
Hotel ini dipimpin oleh manager pria, yaitu Bapak Freddy Prasetyo.
4.2. Profil Responden
Responden dalam penelitian ini adalah karyawan – karyawan dari Crown Hotel, Kaltara Hotel, B&C Hotel, dan Platinum Hotel. Kuisioner disebarkan kepada responden yang berusia minimal 20 tahun, telah bekerja minimal 1 tahun dan merupakan karyawan tetap hotel. Kuisioner yang terkumpul dan valid adalah sebanyak 60 kuisioner. Berikut adalah deskripsi data profil responden berdasarkan:
Tabel 4.1
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Prosentase (%)
Laki-laki 30 50,0
Perempuan 30 50,0
Total 60 100
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas diketahui bahwa responden laki-laki pada penelitian ini ada sebanyak 30 orang (50%) dan responden perempuan juga sebanyak 30 orang (50%). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa karyawan – karyawan dari Crown Hotel, Kaltara Hotel, B&C Hotel, dan Platinum Hotel yang menjadi responden pada penelitian ini jenis kelaminnya merata.
Tabel 4.2
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Prosentase
20 – 30 Tahun 32 51,7
31 – 40 Tahun 20 35,0
> 40 Tahun 8 13,3
Total 60 100
Berdasarkan Tabel 4.2, mayoritas responden pada penelitian ini berusia antara 20 - 30 tahun, yaitu sebanyak 31 orang (51.7%). Responden dengan usia 31 – 40 tahun adalah sebanyak 21 orang (35%), responden dengan usia >40 tahun adalah sebanyak 8 orang (13.3%). Berdasarkan kondisi ini, dapat dikatakan bahwa mayoritas karyawan hotel-hotel bintang 1 sampai bintang 2 di Tanjung Selor adalah karyawan yang berusia 20 - 30 tahun.
Tabel 4.3
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Frekuensi Prosentase
1 – 3 Tahun 40 66,7
4 – 6 Tahun 15 25,0
> 7 Tahun 5 8,3
Total 60 100
Berdasarkan Tabel 4.3, mayoritas responden pada penelitian ini lama bekerja antara 1 – 3 tahun, yaitu sebanyak 40 orang (66.7%). Responden dengan lama bekerja 4 – 6 tahun adalah sebanyak 15 orang (25%), responden dengan lama bekerja >7 tahun adalah 5 orang (8.3%).
Tabel 4.4
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Status Pernikahan Status Frekuensi Prosentase
Belum Menikah 32 53,3
Menikah 25 41,7
Bercerai 3 5,0
Total 60 100
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebesar 53.3% responden berstatus belum menikah, 41.7% responden berstatus menikah, dan 5% responden berstatus bercerai.
31 Tabel 4.5
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Jumlah Prosentase (%)
SMP 8 13.3%
SMA 10 16.7%
Perguruan Tinggi (S1) 40 66.7%
Pasca Sarjana (S2) 2 3.3%
Total 60 100
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebesar 13.3% responden memiliki pendidikan terakhir SMP, 16.7% responden memiliki pendidikan terakhir SMA.
66.7% memiliki pendidikan terakhir perguruan tinggi (S1), dan 3.3% responden memiliki pendidikan terakhir pasca sarjana (S2).
Tabel 4.6
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Jabatan
Jabatan Frekuensi Prosentase
General Manager 2 3.3%
Asisten General Manager 6 10%
Manager 16 26.7%
Staff 36 60%
Total 60 100
Tabel 4.6, menunjukkan bahwa sebesar 3.3% responden memiliki jabatan sebagai general manager, 10% responden memiliki memiliki jabatan sebagai asisten general manager, 26.7% responden memiliki jabatan sebagai manager, dan 60% responden memiliki jabatan sebagai staff.
Tabel 4.7
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Penghasilan
Penghasilan Frekuensi Prosentase
< Rp 2.000.000,00 37 61.7%
Rp 2.000.000,00 – Rp 3.999.999,00 16 26.7%
Rp 4.000.000,00 – Rp 5.999.999,00 5 8.3%
> Rp 6.000.000,00 2 3.3%
Total 60 100
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa sebesar 61.7% responden mendapatkan penghasilan dibawah Rp 2.000.000,00, 26.7% responden mendapatkan penghasilan antara Rp 2.000.000,00 sampai Rp 3.999.999,00, 8.3% responden mendapatkan penghasilan antara Rp 4.000.000,00 sampai Rp 5.999.999,00, dan 3.3% responden mendapatkan penghasilan lebih dari Rp 6.000.000,00.
4.3. Analisa Data
4.3.1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Sebelum melakukan analisis data lebih lanjut, terlebih dulu perlu dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuisioner. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0.
4.3.1.1. Uji Validitas
Validitas menunjukkan suatu kemampuan pengukuran dari sebuah indikator untuk mengukur suatu konsep. Uji validitas dilakukan terhadap masing- masing item pertanyaan yang membentuk setiap indikator pada variabel penelitian. Untuk mengukur validitas kuesioner di dalam penelitian ini digunakan korelasi pearson dengan kriteria jika korelasi pearson antara masing-masing item pernyataan menghasilkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka item pernyataan tersebut dikatakan valid.Pengujian validitas dilakukan dengan bantuan program SPSS. Berikut adalah hasil dari pengujian validitas setiap item pada penelitian ini:
33 Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas Kuesioner Glass Ceiling Variabel Item
Pearson
Correlation Sig. Keterangan
Diri Sendiri
X1 0,796 0,000 Valid
X2 0,779 0,000 Valid
X3 0,720 0,000 Valid
Tingkat Pendidikan
X4 0,863 0,000 Valid
X5 0,895 0,000 Valid
Lingkungan Keluarga
X6 0,818 0,000 Valid
X7 0,781 0,000 Valid
X8 0,859 0,000 Valid
Kesehatan
X9 0,801 0,000 Valid
X10 0,744 0,000 Valid
X11 0,696 0,000 Valid
X12 0,530 0,000 Valid
Lingkungan Sosial
X13 0,814 0,000 Valid
X14 0,721 0,000 Valid
X15 0,726 0,000 Valid
Lingkungan Kerja
X16 0,640 0,000 Valid
X17 0,788 0,000 Valid
X18 0,760 0,000 Valid
X19 0,812 0,000 Valid
Berdasarkan Tabel 4.8 diatas dapat diketahui bahwa seluruh item pernyataan pada kuesioner glass ceiling yang terdiri dari variabel diri sendiri, tingkat pendidikan, lingkungan keluarga, kesehatan, lingkungan sosial, dan lingkungan kerja semuanya menghasilkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, sehingga dapat disimpulkan bahwa item-item pernyataan yang mengukur setiap variabel glass ceiling dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
4.3.1.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat diandalkan.
Untuk mengukur reliabilitas digunakan nilai cronbachalpha. Jika nilai cronbachalpha>0,600, maka item-item pertanyaan yang membentuk variabel penelitian dikatakan reliabel atau konsisten. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan bantuan program SPSS:
Tabel 4.9 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Glass
Ceiling Cronbach Alpha Keterangan
Diri Sendiri 0,624 Reliabel
Tingkat Pendidikan 0,703 Reliabel Lingkungan Keluarga 0,750 Reliabel
Kesehatan 0,649 Reliabel
Lingkungan Sosial 0,602 Reliabel Lingkungan Kerja 0,739 Reliabel
Tabel 4.9 diatas menunjukkan besarnya nilai cronbach’s alpha pada setiap variabel glass ceiling memiliki nilai lebih besar dari 0,60, dengan demikian item-item pertanyaan yang mengukursetiap variabel glass ceiling yang terdiri dari diri sendiri, tingkat pendidikan, lingkungan keluarga, kesehatan, lingkungan sosial, dan lingkungan kerja dinyatakan reliabel dan kuesioner penelitian dapat dikatakan sebagai alat ukur yang konsisten.
4.4. Analisis Deskripsi
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil penyebaran 60 kuesioner yang merupakan karyawan – karyawan dari Crown Hotel, Kaltara Hotel, B&C Hotel, dan Platinum Hotel. Pada bagian berikut akan dideskripsikan profil responden penelitian serta jawaban responden penelitian mengenai variabel- variabel penelitian.
35 4.4.1. Deskripsi Jawaban Responden
Pada bagian ini akan dijelaskan jawaban-jawaban responden mengenai variabel glass ceiling yang terdiri dari diri sendiri, tingkat pendidikan, lingkungan keluarga, kesehatan, lingkungan sosial, dan lingkungan kerja. Deskripsi jawaban dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata (mean) jawaban responden terhadap masing-masing pertanyaan dan secara keseluruhan. Untuk mengkategorikan rata- rata jawaban responden, peneliti menggunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =5 − 1
3 = 1,333
Dengan interval kelas 1,333 kemudian disusun kriteria rata-rata jawaban responden yang disajikan pada Tabel di bawah ini:
Tabel 4.10
Kategori Rata-Rata Jawaban Responden Interval Kategori
3,667 – 5,00 Baik
2,333 – 3,667 Cukup
1,0 – 2,333 Buruk
Dalam penelitian ini, setiap indikator atau variabel glass ceiling menyatakan pernyataan positif tentang wanita dalam mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling, sehingga dengan jawaban yang setuju atau sangat setuju menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita sangat mampu mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling dalam pencapaian jabatan puncak manajemen hotel.
Berdasarkan data diatas menjelaskan nilai mean yang tinggi atau baik menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita sangat mampu mengatasi atau menghadapi dengan baik masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling. Nilai mean yang cukup menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling.
Sedangkan nilai mean yang rendah atau buruk menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita tidak dapat atau tidak mampu mengatasi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling.
Adapun deskripsi jawaban responden mengenai variabel glass ceiling yang terdiri dari diri sendiri, tingkat pendidikan, lingkungan keluarga, kesehatan, lingkungan sosial, dan lingkungan kerjapada hotel-hotel di Tanjung Selor dapat dijelaskan sebagai berikut:
37 Tabel 4.11
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Diri Sendiri Item Keterangan
Skor Jawaban
Mean Kategori ST
S TS N S SS
X1
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak mampu mengatasi pekerjaan yang menggunakan
kekuatan fisik
6 10 25 15 4 3,017 Cukup
X2
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak memiliki intelektual cepat dan peka dalam
menyampaikan hospitality kepada
tamu maupun
karyawan dihotel
0 2 15 34 9 3,833 Baik
X3
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak memiliki sikap yang lebih tenang saat memberikan jalan keluar ketika ada masalah
0 1 26 25 8 3,667 Cukup
Diri Sendiri 3,506 Cukup
Berdasarkan pada data sebelumnya, Diri Sendiri merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu dari fisik wanita yang lebih lemah dari pria, intelektual wanita yang dianggap cenderung emosional, dan psikologis wanita yang dianggap lebih labil dalam menghadapi masalah.
Berdasarkan tabel diatas secara keseluruhan variabel diri sendiri menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,506 dengan kategori cukup, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup memiliki intelektual yang baik saat bekerja dan psikologis yang tenang atau stabil, serta mampu mengatasi masalah fisik dalam pekerjaan.
Tabel 4.12
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Tingkat Pendidikan
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kate gori STS TS N S SS
X4
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak, memiliki pengalaman dan tingkat pendidikan yang sesuai dengan pekerjaan di hotel
0 1 12 30 17 4,050 Baik
X5
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak, memiliki sikap profesional ketika bepergian dengan partner kerja pria
1 2 13 31 13 3,883 Baik
Tingkat Pendidikan 3,967 Baik
Berdasarkan pada data sebelumnya, Tingkat Pendidikan merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu pendidikan
39
wanita umumnya dianggap lebih rendah dari tingkat pendidikan pria dan wanita dianggap memiliki kesungkanan yang tinggi untuk bepergian dengan partner kerja pria.
Berdasarkan hasil tabel diatas secara keseluruhan variabel tingkat pendidikan menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,967 dengan kategori baik, menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita memiliki tingkat pendidikan yang sangat sesuai dengan kebutuhan hotel, dan wanita tidak sungkan bepergian dengan alasan kerja karena memiliki sikap profesional.
Tabel 4.13
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Lingkungan Keluarga
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kategori STS TS N S SS
X6
Saya menilai wanita dapat mengatasi masalah suami tradisional (suami yang menginginkan istrinya tinggal dirumah) dengan mengatur peran dan batasan-batasan
mengenai pembagian tugas dan wewenang wanita dirumah.
1 5 16 32 6 3,617 Cukup
X7
Saya menilai wanita mendapat dukungan dari orangtua untuk bekerja, sehingga tidak hanya dirumah mengurus rumah tangga
2 3 21 29 5 3,533 Cukup
Tabel 4.13
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Lingkungan Keluarga
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kategori
STS S N S SS
X8
Saya menilai wanita perlu turut bekerja sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga pada jaman sekarang yang semakin hari semakin meningkat
0 3 23 27 7 3,633 Cukup
Lingkungan Keluarga 3,594 Cukup
Berdasarkan pada data sebelumnya, Lingkungan Keluarga merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu suami tradisional dan orang tua menghambat karir wanita dalam bekerja. Kebutuhan keluarga yang semakin lama semakin tinggi mendukung wanita untuk bekerja.
Secara keseluruhan variabel lingkungan keluarga menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,594 dengan kategori cukup, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi masalah suami tradisional dengan mengatur peran dan batasan-batasan mengenai pembagian tugas dan wewenang wanita dirumah. Karyawan menilai wanita mendapat dukungan orang tua untuk bekerja dan karyawan menilai wanita perlu bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
41 Tabel 4.14
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Kesehatan
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kategori STS TS N S SS
X9
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak, bisa mengatasi masa-masa menstruasi dengan mengatur kesehatan dan jam kerjanya
3 8 24 24 1 3,200 Cukup
X10
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak dapat mengatasi masa- masa mengandung dengan mengatur jam kerja yang tepat, mengurangi stres dan mengatur cara kerjanya dengan cara yang lebih mudah
2 19 20 16 3 2,983 Cukup
X11
Saya menilai wanita dapat mengatasi masa-masa melahirkan karena memiliki hak cuti melahirkan
1 7 27 20 5 3,350 Cukup
X12
Saya menilai wanita dapat mengatasi masa-masa menyusui dengan adanya tempat khusus ASI yang bisa menyimpan ASI untuk bayi.
0 2 4 32 22 4,233 Baik
Kesehatan 3,442 Cukup
Berdasarkan pada data sebelumnya, Kesehatan merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu wanita menghadapi masalah kesehatan yang tidak dihadapi oleh pria, yang menyangkut fungsi biologisnya, yaitu menstruasi, melahirkan, menopause, dan menyusui.
Berdasarkan tabel diatas secara keseluruhan variabel kesehatan menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,442 dengan kategori cukup, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi masalah fungsi biologisnya, dan masalah biologis itu tidak menjadi kendala dalam pekerjaan.
43 Tabel 4.15
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Lingkungan Sosial
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kategori STS TS N S SS
X13
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak memiliki jadwal kerja yang sesuai dengan kebutuhan hotel
0 1 6 37 16 4,133 Baik
X14
Saya menilai wanita dapat mengatasi stereotipe (anggapan) yang mengatakan wanita kurang memiliki perilaku kepemimpinan yang diperlukan dalam posisi manajerial, dengan membuktikan skills dan intelektual yang dimiliki
0 2 15 34 9 3,833 Baik
X15
Saya menilai pandangan negatif masyarakat tentang wanita yang pulang malam sudah bukan masalah lagi, dimana melihat dari ketentuan perusahaan yang
menetapkan jam
operasional termalam untuk wanita yaitu sampai jam 23.00
2 3 24 27 4 3,467 Cukup
Lingkungan Sosial 3,811 Baik
Berdasarkan pada data sebelumnya, Lingkungan Sosial merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu jadwal kerja wanita yang hanya terbatas sampai jam 23.00. Kemudian stereotip yang mengatakan wanita kurang memiliki perilaku kepemimpinan yang diperlukan dalam posisi manajerial, serta wanita dipandang negatif ketika pulang malam dari pekerjaan.
Secara keseluruhan variabel lingkungan sosial menghasilkan nilai rata- rata sebesar 3,811 dengan kategori baik, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita sangat bisa mengatasi stereotip dan pandangan negatif masyarakat.
Karyawan menilai wanita sudah memiliki jadwal kerja yang sesuai dengan kebutuhan hotel, walaupun hanya sampai 23.00.
45 Tabel 4.16
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Lingkungan Kerja
Item Keterangan Skor Jawaban
Mean Kategori STS TS N S SS
X16
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak memiliki kemampuan yang sama dengan pria
0 4 14 40 2 3,667 Cukup
X17
Saya menilai wanita yang menduduki jabatan puncak telah beradaptasi dengan budaya organisasi yang maskulin dengan meniru gaya tradisional pria.
0 14 24 20 2 3,167 Cukup
X18
Saya menilai wanita dapat mengatasi long hour/jam kerja sampai larut malam karena pasti mendapatkan perlindungan sampai mereka tiba dirumah dengan aman dan selamat
0 4 31 21 4 3,417 Cukup
X19
Saya melihat wanita yang menduduki jabatan puncak yang mendapat mentoring bisa membantu mereka untuk memperoleh promosi yang lebih besar
0 2 8 40 10 3,967 Baik
Lingkungan Kerja 3,554 Cukup
Berdasarkan pada data sebelumnya, Lingkungan Kerja merupakan salah satu faktor atau indikator penyebab terjadinya glass ceiling, yaitu diskriminasi terhadap wanita, dimana dunia luar rumah tangga dikukuhkan sebagai milik pria.
Wanita juga dianggap tidak mampu mengikuti budaya organisasi perusahaan yang maskulin, serta harapan long hour sulit dipenuhi oleh wanita, terutama ketika harus pulang malam dan membutuhkan perlindungan sampai tiba di rumah dengan selamat. Wanita dianggap harus mendapatkan mentoring untuk bisa mendapatkan promosi.
Secara keseluruhan variabel lingkungan kerja menghasilkan nilai rata- rata sebesar 3,554 dengan kategori cukup, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita mendapatkan perlindungan walaupun long hour, dan mentoring memang membantu wanita dalam mendapatkan promosi, serta karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi masalah diskriminasi kerja, dan budaya organisasi yang maskulin dengan meniru atau beradaptasi dengan gaya tersebut.
Tabel 4.17
Mean Keseluruhan Glass Ceiling
Variabel Mean
Diri Sendiri 3,506
Tingkat Pendidikan 3,967 Lingkungan Keluarga 3,594
Kesehatan 3,442
Lingkungan Sosial 3,811 Lingkungan Kerja 3,554 Mean Glass Ceiling 3,645
Berdasarkan tabel diatas keseluruhan variabel glass ceiling menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,645 dengan kategori cukup, ini menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi atau menghadapi fenomena glass ceiling dalam pencapaian jabatan puncak manajemen hotel.
47 Gambar 4.1.
Mean Variable Glass Ceiling
Dari keseluruhan variabel glass ceiling yang memiliki nilai mean terendah adalah kesehatan dengan mean sebesar 3,442. Sedangkan mean yang tertinggi adalah tingkat pendidikan dengan mean sebesar 3,967.
4.5. Cross Tabulation
Analisis cross tab dilakukan dengan menyilangkan frekuensi dari dua variabel. Dalam penelitian ini, analisis crosstab dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara profil responden dengan penilaian glass ceiling. Jika analisis cross tab menghasilkan nilai signifikansi Chi-Square ≤ 0,05 (α=5%), maka disimpulkan ada keterkaitan antara profil responden dengan penilaian glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung Selor.
a. Crosstab Jenis Kelamin dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara jenis kelamin responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.17 di bawah:
Tabel 4.18.
Uji Chi-Square Jenis Kelamin dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara jenis kelamin responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,010, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 5%, sehingga disimpulkan terdapat keterkaitan antara jenis kelamin responden dengan penilainnya terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung Selor. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tabel crosstab di bawah:
Tabel 4.19. Crosstab Jenis Kelamin dan Glass Ceiling
Berdasarkan Tabel 4.18 diketahui bahwa dari jumlah responden pria, 66,7% diantaranya menilai glass ceiling cukup baik dan hanya 33,3%
diantaranya menilai glass ceiling baik. Sedangkan dari jumlah responden wanita, 33,3% diantaranya menilai glass ceiling cukup baik dan 66,7%
diantaranya menilai glass ceiling baik. Berdasarkan informasi tersebut mengindikasikan bahwa responden wanita memiliki penilaian bahwa wanita
Chi-Square Tests
6,667b 1 ,010
5,400 1 ,020
6,796 1 ,009
,019 ,010
6,556 1 ,010
60 Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Computed only for a 2x2 table a.
0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15,00.
b.
Crosstab
20 10 30
66,7% 33,3% 100,0%
10 20 30
33,3% 66,7% 100,0%
30 30 60
50,0% 50,0% 100,0%
Count
% within Jenis Kelamin Count
% within Jenis Kelamin Count
% within Jenis Kelamin Pria
Wanita Jenis Kelamin
Total
Cukup Baik
Glass Ceiling
Total
49
yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung Selor memiliki tingkat glass ceiling yang lebih tinggi, yaitu memiliki kinerja yang baik walaupun wanita, tingkat pendidikan sesuai, mendapatkan dukungan keluarga, bisa menjaga kesehatan, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitar dan lingkungan kerjanya.
b. Crosstab Umur dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara umur responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.19 di bawah:
Tabel 4.20. Uji Chi-Square Umur dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara umur responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,549, dimana nilai tersebut lebih besar dari 5%, sehingga disimpulkan tidak ada keterkaitan antara umur responden dengan penilainnya mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung.
c. Crosstab Lama Bekerja dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara lama bekerja responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.20 di bawah:
Chi-Square Tests
1,200a 2 ,549
1,207 2 ,547
1,164 1 ,281
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,00.
a.
Tabel 4.21. Uji Chi-Square Lama Bekerja dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara lama bekerja responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,079, dimana nilai tersebut lebih besar dari 5%, sehingga disimpulkan tidak ada keterkaitan antara lama bekerja responden dengan penilainnya mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel- hotel Tanjung.
d. Crosstab Status Pernikahan dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara status pernikahan responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.21 di bawah:
Tabel 4.22. Uji Chi-Square Status Perniakahan dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara status pernikahan responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,779, dimana nilai tersebut lebih besar dari 5%, sehingga disimpulkan tidak ada
Chi-Square Tests
5,067a 2 ,079
5,209 2 ,074
3,240 1 ,072
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,50.
a.
Chi-Square Tests
,498a 2 ,779
,505 2 ,777
,422 1 ,516
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,50.
a.
51
keterkaitan antara status pernikahan responden dengan penilainnya mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel- hotel Tanjung.
e. Crosstab Pendidikan dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara tingkat pendidikan responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.22 di bawah:
Tabel 4.23. Uji Chi-Square Pendidikan dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara pendidikan responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,001, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 5%, sehingga disimpulkan terdapat keterkaitan antara pendidikan responden dengan penilaiannya terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung.
Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tabel crosstab di bawah:
Tabel 4.24. Crosstab Pendidikan dan Glass Ceiling
Chi-Square Tests
15,551a 3 ,001
19,319 3 ,000
14,904 1 ,000
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
4 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,00.
a.
Crosstab
7 0 7
100,0% ,0% 100,0%
8 2 10
80,0% 20,0% 100,0%
15 26 41
36,6% 63,4% 100,0%
0 2 2
,0% 100,0% 100,0%
30 30 60
50,0% 50,0% 100,0%
Count
% within Pendidikan Count
% within Pendidikan Count
% within Pendidikan Count
% within Pendidikan Count
% within Pendidikan SMP
SMA
Perguruan Tinggi (S1)
Pasca Sarjana (S2) Pendidikan
Total
Cukup Baik Glass Ceiling
Total
Berdasarkan Tabel 4.23 diketahui bahwa dari jumlah responden yang berpendidikan SMP, semuanya menilai glass ceiling cukup baik dan tidak ada yang menilai glass ceiling baik, dari jumlah responden yang berpendidikan SMA, 80% menilai glass ceiling cukupbaik dan 20% menilai glass ceiling baik, dari jumlah responden yang berpendidikan S1, 36,6%
menilai glass ceiling cukupbaik dan 63,4% menilai glass ceiling baik, sedangkan dari jumlah responden yang berpendidikan S2, semuanya menilai glass ceiling baik dan tidak ada yang menilai glass ceiling cukup baik.
Berdasarkan informasi tersebut mengindikasikan terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka semakin baik pula penilaian mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung Selor. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka responden semakin menilai bahwa wanita yang menduduki jabatan puncak lebih memiliki kinerja yang baik, tingkat pendidikan sesuai, mendapatkan dukungan keluarga, bisa menjaga kesehatan, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitar dan lingkungan kerjanya.
f. Crosstab Jabatan dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara jabatan responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.24 di bawah:
Tabel 4.25. Uji Chi-Square Jabatan dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara jabatan responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di
Chi-Square Tests
22,667a 3 ,000
25,226 3 ,000
17,162 1 ,000
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
4 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,00.
a.
53
Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 5%, sehingga disimpulkan terdapat keterkaitan antara jabatan responden dengan penilainnya terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tabel crosstab di bawah:
Tabel 4.26. Crosstab Jabatan dan Glass Ceiling
Berdasarkan Tabel 4.25 diketahui bahwa dari responden yang memiliki jabatan general manager, semuanya menilai glass ceiling baik dan tidak ada yang menilai glass ceiling cukup baik atau buruk, dari jumlah responden memiliki jabatan asisten general manager, 16,7% menilai glass ceiling cukupbaik dan 83,3% menilai glass ceiling baik, dari jumlah responden yang memiliki jabatan sebagai manager, 12,5% menilai glass ceiling cukupbaik dan 87,5% menilai glass ceiling baik, sedangkan dari jumlah responden yang memiliki jabatan staff, 75% menilai glass ceiling cukup baik dan 25% menilai glass ceiling baik. Berdasarkan informasi tersebut mengindikasikan terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi jabatan responden maka semakin baik pula penilaian mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel TanjungSelor. Semakin tinggi jabatan, maka responden semakin menilai bahwa wanita yang menduduki jabatan puncak lebih memiliki kinerja yang baik, tingkat pendidikan sesuai, mendapatkan dukungan keluarga, bisa
Crosstab
0 2 2
,0% 100,0% 100,0%
1 5 6
16,7% 83,3% 100,0%
2 14 16
12,5% 87,5% 100,0%
27 9 36
75,0% 25,0% 100,0%
30 30 60
50,0% 50,0% 100,0%
Count
% within Jabatan Count
% within Jabatan Count
% within Jabatan Count
% within Jabatan Count
% within Jabatan General Manajer
Asisten General Manajer
Manajer
Staff Jabatan
Total
Cukup Baik
Glass Ceiling
Total
menjaga kesehatan, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitar dan lingkungan kerjanya.
g. Crosstab Penghasilan dengan Glass Ceiling
Hasil pengujian chi-square pada tabulasi silang (crosstab) antara penghasilan responden dan glass ceiling disajikan pada Tabel 4.26 di bawah:
Tabel 4.27. Uji Chi-Square Penghasilan dan Glass Ceiling
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) antara penghasilan responden dan glass ceiling wanita yang menduduki jabatan puncak pada hotel-hotel di Tanjung Selor menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 5%, sehingga disimpulkan terdapat keterkaitan antara penghasilan responden dengan penilainnya terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung.
Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tabel crosstab di bawah:
Tabel 4.28. Crosstab Penghasilan dan Glass Ceiling
Chi-Square Tests
20,611a 3 ,000
22,936 3 ,000
15,336 1 ,000
60 Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
4 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,00.
a.
Crosstab
27 10 37
73,0% 27,0% 100,0%
2 14 16
12,5% 87,5% 100,0%
1 4 5
20,0% 80,0% 100,0%
0 2 2
,0% 100,0% 100,0%
30 30 60
50,0% 50,0% 100,0%
Count
% within Penghasilan Count
% within Penghasilan
Count
% within Penghasilan Count
% within Penghasilan Count
% within Penghasilan
< Rp. 2.000.000
Rp. 2.000.000 - Rp. 3.999.999
Rp. 4.000.000 - Rp. 5.999.999
>= Rp. 6.000.000 Penghasilan
Total
Cukup Baik
Glass Ceiling
Total
55
Berdasarkan Tabel 4.27 diketahui bahwa dari responden yang memiliki penghasilan < Rp.2.000.000,-, 73% menilai glass ceiling cukup baik dan 27% menilai glass ceiling baik, dari jumlah responden yang memiliki penghasilan Rp.2.000.000,- s/d Rp.3.999.999,-, 12,5% menilai glass ceiling cukupbaik dan 87,5% menilai glass ceiling baik, dari jumlah responden yang memiliki penghasilan Rp.4.000.000,- s/d Rp.5.999.999,-, 20,0% menilai glass ceiling cukup baik dan 80,0% menilai glass ceiling baik, sedangkan dari jumlah responden yang memiliki penghasilan ≥ Rp.6.000.000,-, semuanya menilai glass ceiling baik dan tidak ada yang menilai glass ceiling cukup baik atau buruk. Berdasarkan informasi tersebut mengindikasikan terdapat kecenderungan bahwa semakin besar penghasilan responden maka semakin baik penilaian mereka terhadap glass ceiling pada wanita yang menduduki jabatan puncak di hotel-hotel Tanjung Selor.
Semakin besar penghasilan, maka responden semakin menilai bahwa wanita yang menduduki jabatan puncak lebih memiliki kinerja yang baik, tingkat pendidikan sesuai, mendapatkan dukungan keluarga, bisa menjaga kesehatan, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitar dan lingkungan kerjanya.
4.6. Pembahasan
Berdasarkan data sebelumnya setiap indikator atau variabel glass ceiling menyatakan pernyataan positif tentang wanita dalam mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling, sehingga dengan jawaban yang setuju atau sangat setuju menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita sangat mampu mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling dalam pencapaian jabatan puncak manajemen hotel. Nilai mean yang cukup menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling. Sedangkan nilai mean yang rendah atau buruk menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita tidak dapat atau tidak mampu mengatasi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling.
Nilai mean glass ceiling secara keseluruhan mendapatkan 3,645 termasuk dalam kategori cukup. Ini menunjukkan karyawan menilai wanita cukup memiliki intelektual yang baik, psikologis yang stabil, tingkat pendidikan yang sangat sesuai dengan kebutuhan hotel, memiliki sikap profesional, bisa mengatasi masalah keluarga, cukup bisa mengatasi kesehatan terkait fungsi biologisnya, bisa menghadapi permasalahan nilai-nilai atau pandangan sosial dimasyarakat, serta cukup mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja. Ini menunjukkan wanita cukup mampu mengatasi atau menghadapi masalah-masalah yang menyebabkan glass ceiling. Nilai ini didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Desi Nior. Responden mengatakan bahwa wanita memiliki kualitas kepemiminan yang tidak kalah dengan pria, terlebih dalam kedisiplinan dan detail sehingga wanita dapat menghadapi atau mendobrak glass ceiling.
Dua variabel terendah adalah variabel kesehatan dengan mean 3,442 dan variabel diri sendiri dengan mean 3,506. Variabel kesehatan menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup mampu mengatasi masalah fungsi biologisnya, dan masalah biologis itu tidak menjadi kendala dalam pekerjaan. Variabel diri sendiri menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita cukup memiliki intelektual yang baik saat bekerja dan psikologis yang tenang atau stabil, serta cukup mampu mengatasi masalah fisik dalam pekerjaan.
Dua variabel tertinggi adalah variabel tingkat pendidikan dengan mean 3,967 dan variabel lingkungan sosial dengan mean 3,811. Variabel tingkat pendidikan menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita memiliki tingkat pendidikan yang sangat sesuai dengan kebutuhan hotel, dan wanita tidak sungkan bepergian dengan alasan kerja karena memiliki sikap profesional. Ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yan Zhong yang menyatakan variabel pendidikan memiliki mean sebesar 3,91.
Variabel lingkungan sosial menunjukkan bahwa karyawan menilai wanita sangat bisa mengatasi stereotip dan pandangan negatif masyarakat, serta wanita sudah memiliki jadwal kerja yang sesuai dengan kebutuhan hotel, walaupun hanya sampai 23.00. Menjelaskan karyawan memiliki persepsi yang baik tentang lingkungan sosial ini. Persepsi karyawan yang baik ini didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan pada Bapak Merang Mentan. Responden
57
mengatakan tidak ada tradisi di kota Tanjung Selor yang menghambat wanita untuk berkarir. Secara global kota Tanjung Selor sangat terbuka dan modern terhadap wanita karir, bahkan kondisi lingkungannya mendukung untuk berkarir.
Ibu Desi Nior mengatakan faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya glass ceiling adalah terletak pada diri sendiri wanita dan budaya organisasi.
Bahwa wanita harus percaya diri dan memiliki ambisius untuk mencapai jabatan yang lebih tinggi. Budaya organisasi yang bersifat tertutup atau tradisional yaitu hanya dapat mempercayakan jabatan tinggi pada pria merupakan penghalang besar bagi wanita untuk maju. Hal ini berkaitan dengan variabel Lingkungan Sosial dengan mean 3,554, dimana karyawan menilai wanita mampu mengatasi diskriminasi kerja dan budaya organisasi maskulin yang menghambat karir wanita.
Penelitian yang dilakukan oleh Yan zhong dan Zoe Ho, sama-sama menyatakan bahwa variabel keluarga memiliki nilai tertinggi atau merupakan variabel yang memberikan persepsi yang baik tentang wanita dalam menghadapi permasalahan keluarga pada pencapaian jabatan puncak. Di penelitian ini variabel keluarga memiliki mean tertinggi ketiga yaitu 3,594, menunjukkan hasil yang sama, yaitu wanita dapat mengatasi permasalahan lingkungan keluarga dalam pencapaian jabatan puncak manajemen hotel.
Crosstab dilakukan antara tujuh jenis profil responden yaitu, jenis kelamin, umur, lama bekerja, status pernikahan, pendidikan, jabatan dan penghasilan, dengan glass ceiling. Profil responden jenis kelamin, pendidikan, jabatan, dan penghasilan memiliki keterkaitan dengan penilaian glass ceiling pada wanita dalam pencapaian jabatan puncak. Sedangkan profil responden lainnya yaitu umur, lama bekerja, dan status perkawinan tidak memiliki kaitan dengan penilain glass ceiling.