• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG ZAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG ZAKAT"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

18 1. Pengertian Zakat

1.1 Pengertian zakat secara etimologi (bahasa)

Secara etimologi atau bahasa zakat berasal dari kata zaka (bentuk masdar) yang memiliki arti berkah, tumbuh, bersih, suci dan baik (Muhammad Ali, 2006, 6)

Beberapa arti memang sangat sesuai dengan arti zakat yang sebenarnya. Dikatakan berkah karena zakat memiliki keberkahan pada harta seseorang. Dikatakan suci karena zakat dapat mensucikan pemilik harta dari sifat kikir, tamak dan rakus. Dikatakan tumbuh karena zakat akan melipatgandakan pahala bagi muzzaki dan membantu kesulitan mustahiq. Seseorang yang mengeluarkan zakat berarti dia telah membersihkan diri, jiwa dan hartanya. Dia telah membesihkan jiwanya dari sifata kikir dan membersihkan hartanya dari hak orang lain yang ada dalam hartanya itu. Orang yang berhak menerimapun akan bersih jiwanya dari penyakit dengki, iri terhadap orang yang mempunyai harta (Hasan, 2003, 1)

1.1.1 Menurut Sayyib Sabiq:

ةكبرلا و ة ر اهطل ا و ءامنلا وه و : ة اك زلا

Artinya: “Zakat menurut bahasa adalah: tumbuh, suci dan berkat”

1.1.2 Menurut Muhammad Ismail al-Khailani:

ة راهطلاو ء امنلا ينب ةك ترثم : ةغل ة اك زلا

Artinya: “Zakat menurut bahasa adalah: berserikat antara tumbuh dan suci”

(2)

1.1.3 Menurut Yusuf Qardawi:

ةكبرل ا :ةغل ةاك زلا حلاصلاو ةراهطلاو ءامنلاو

Artinya: “ Zakat menurut bahasa adalah berkah, suci dan tumbuh”.

1.1.4 Menurut Abdur Rahman Al-jaziri

ءامنلاو يرهطتلا هغللا فى

Artinya: “Zakat menurut bahasa adalah mensucikan dan tumbuh”

1.1.5 Menurut Ensiklopedia Hukum Islam Zakat adalah suci, berkembang, berkah, tumbuh, bersih dan baik

Berdasarkan pengertian zakat menurut bahasa (etimologi) yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat menurut bahasa artinya tumbuh, suci, berkah, dan bertambah kebaikan. Maksud suci disini adalah dengan mengeluarkan akan mensucikan jiwa muzakki (pembayar zakat) dari sifat bakhil, juga untuk membersihkan harta yang kotor karena bercampur dengan harta mustahik (penerima zakat). Sedangkan zakat diartikan dengan tumbuh dan berkat maksudnya adalah harta yang tinggal setelah dikeluarkan zakatnya akan tumbuh dan berkembang keberkatannya dan menjadi bersih dari campuran hak-hak orang lain.

1.2 Pengertian Zakat Menurut Istilah (Terminologi) 1.2.1 Menurut Sayyid Sabiq

قح نم ناسنلإا هجريخالم مسا :ةاك زلا ءارقفلا لىإ لىاعت الله

Artinya: “Zakat ialah sesuatu yang dikeluarkan oleh manusia dari hak allah ta’ala kepada orang miskin.”

(3)

1.2.2 Menurut Abdurahman Al-Jaziri

ةصوصمخ طئارشب ةقحتسلم صوصمخ لام كيلتم اع رشو Artinya: “Zakat menurut syara’ adalah: pemberian harta

tertentu kepada yang berhak dengan beberapa syarat- syarat tertentu”.

1.2.3 Yusuf Qardawi Menjelaskan

Zakat dari segi istilah fiqh adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak (Yusuf Qardhawi, 2006, 55)

1.2.4 Menurut Al Mawardi

ةفئاطل ةص وصمخ فاصوأ ىلع صوصمخ لام نم ءيش ذخلأ مسا :ةاكزلا Artinya: “Zakat adalah harta tertentu yang diberikan kepada

orang tertentu, menurut syarat-syarat tertentu pula”

1.2.5 Menurut Syaukani

يرغ هونح و يرقف لىإ باصنلا نم ءاطعا :ةاكزلا هيلإ فرصلا نم عنيم ىعرش عن ابم فصنم

Artinya: “Zakat adalah pemberian sebahagian harta yang sudah mencapai nisab kepada orang fakir dan lain-lainnya, tanpa ada halangan syarak yang melarang kita melakukannya” (Saleh, 2008, 157-158)

1.2.6 Menurut penulis zakat adalah “pemberian sebagian harta kepada orang-orang yang telah ditentukan dalam Al Qur’an apabila telah mencapai nisab” (Penulis)

Dari pengertian yang telah dikemukakan oleh Ulama diatas, dapat dikatakan bahwa zakat menurut istilah adalah suatu nama dari bagian harta tertentu yang diambil dari harta orang kaya dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya (Departemen Agama RI, 1999, 3) Zakat adalah seukuran atau sebahagian tertentu dari harta tertentu yang dikeluarkan oleh pemberi zakat (pemberi

(4)

zakat) kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahik) yang bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan harta orang yang merberi zakat tersebut.

1.3 Pengertian Zakat Produktif

Zakat menurut bahasa adalah kata dasar dari zakat yang artinya berkah, tumbuh dan subur, suci dan baik (Asy shidieqy, 2001, 273). Dalam kamus besar Indonesia pengertian zakat adalah jumlah harta terentu yang wajib dikeluarkan untuk orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan syara’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1990, 209).

Zakat produktif adalah dana zakat diberikan kepada seseorang atau sekelompok masyarakat untuk digunakan sebagai modal kerja (Raharjo, 1999, 45). Kata produktif dalam hal ini merupakan kata sifat dari kata produksi. Kata ini akan jelas maknanya apabila digabung dengan kata yang disifatinya. Dalam hal ini kata yang disifati adalah kata zakat, sehingga menjadi zakat produktif yang berart zakat dimana dalam penggunaan dan pemanfaatan harta zakat atau pendayagunaannya bersifat produktif lawan dari konsumtif. Zakat produktif didefenisikan sebagai zakat dalam bentuk harta atau dana zakat yang diberikan kepada mustahik yang tidak dihabiskan secara langsung untuk konsumsi keperluan tertentu, akan tetapi dikembangkan dan digunakan untuk membantu usaha mereka.

Sehingga dengan usaha tersebut mereka dapat memenuhi kebutuhannya (Asnaini, 2008, 63). Jadi zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada mustahik oleh muzzaki memiliki daya guna dan berkembang untuk ekonomi kebutuhannya (Yosi).

(5)

2. Landasan Hukum Zakat 2.1 Landasan Hukum Zakat

Zakat adalah termasuk salah satu rukun Islam yang lima yaitu merupakan rukun ketiga. Kewajiban zakat ini diwajibkan kepada muzzaki berdasarkan Nash baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah (hadist). Terbukti dengan banyaknya kata zakat tercantum dalam Al Qur’an tidak kurang dar tiga puluh ayat diantaranya dua puluh kali dirangkaian dengan kata shalat (Qardhawi,980,42).

Diantara dalil-dalil kewajiban zakat dari Al Qur’an yang menetapkan Hukum zakat dapat dikemukakan antara lain:

2.1.1 Firman Allah Surat At Taubah ayat 103:



































Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesung- guhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda.

Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

(6)

2.1.2 Firman Allah Surat Al Bayyinah ayat 5:



































Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

2.1.3 Firman Allah Surat Al Baqarah ayat 43:

















Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.

Yang dimaksud Ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama- sama orang-orang yang tunduk.

(7)

2.1.4 Firman Allah Surat Al Baqarah ayat 277:









































Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

2.1.5 Firman Allah Surat At Taubah ayat 11:





























Artinya: Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

2.1.6 Firman Allah Surat At Taubah ayat 5:

























(8)





















 









Artinya: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.

Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.

jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalanSesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Yang dimaksud dengan bulan Haram disini Ialah: masa 4 bulan yang diberi tangguh kepada kamu musyrikin itu, Yaitu mulai tanggal 10 Zulhijjah (hari turunnya ayat ini) sampai dengan 10 Rabi'ul akhir. Maksudnya: terjamin keamanan mereka.

2.2 Hadist Nabi Muhammad SAW

Al-Hadis merupakan sumber penuntutan kedua setelah al- Qur’an. Kaitannya dengan zakat, juga banyak hadis yang memerintahkannya atau menekankan tentang wajibnya zakat.

Sebagiamana halnya dalam al-Qur’an, dalam hadis juga tidak hanya munggunakan kalimat-kalimat yang secara langsung menyebutkan kata-kata zakat tetapi tidak sedikit yang juga menyebutkan kata-kata sedeqah.

Hadis secara tegas menyebutkan bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, diantaranya:

2.1.1 Hadist Nabi Muhammad tentang kewajiban zakat

مهئارقف لىإ دترف مهءاينغأ نم ذخؤت ملهومأ فى ةقدص مهيلع ضترفا دق الله نإ

Artinya: “Sesungguhnya allah telah mewajibkan zakat kepada mereka dari sebahagian harta mereka, yang diambil

(9)

dari orang-orang kaya dan diserahkan kepada kepada orang-orang miskin diantara mereka (Muttafaq ‘Alaih).

2.1.2 Sabda Rasulullah SAW

لاق : لاق رمع نبا نع اللهلاإ هلإلا نأ ةداهش :سخم ىلع ملاسلإا نيب :ملسو هيلع ىلص الله لوسر

)ىذومرت هاور( تيبلا جحو ,ناضمر موصو ,ةاكزلا ءاتيإو ,ةلاصلا ماقإو ,الله لوسر ادمح نأو Artinya: “Dari bin uma berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Islam itu ditegakkan di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa ia tidak ada Tuhan yang hak kecuali allah dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah, (2) mendirikanlah shalat lima waktu, (3) menunaikan zakat, (4) berpuasa di bulan Ramadhan, (5) mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, (HR. Tarmidzi) (Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Tsurah At-Tirmidzi, 1987, 5)

ينملسلما ءاينغأ ىلع ضرف الله نإ ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر لاق: لاق هنع الله يضر يلع نع الله ناو لاأ مهئاينغأ عنصيابملاإ اورعو اوعاجذإ ءارقفلا دهتج نلو مه ءارقف عسي يذلا ردقب ملهاومأ فى مهبس ايح )نيابرطلا هاور( اميلأ بااذع مهذعيو اديدش بااسح ةماميقلا موي Artinya: “Dari Ali ra berkata, bersabda rasulullah SAW,

sesungguhnya Allah SWT mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya kaum muslimin sejumlah yang dapat melapangi orang-orang miskin diantara mereka. Fakir miskin itu tiadalah akan menderita menghadapi kelaparan dan kesulitan sandang, kecuali karena perbuatan golongan orang yang kaya. Ingatlah Allah akan mengadili mereka pada hari kiamat nanti secara tegas dan menyiksa dengan pedih (HR Thabrani) (Sulaiman bin Ahmad Ayyub Abu al-Qasim at-Tabraniy, 1985, 275)

ملسو هيلع الله لوسر عسم هنأ يرانملأا ةشبك وبأ نيشدح لاق همأ يترخبلا بيأ يئ اطلا ديعس نع ةملظم دبع ملظ لاو هقدص نم دبع لام صثنام هوظزفحاف اثيدح مكثدحأو نهيلع مسقأ هثلاث لوقي لاإ اهيلع برصف )ىذومترلا هاور( رقف ببا شهيلع الله حتفلاإ ةلأسم ببا دبع حنف لاو أزع الله هداز

Artinya: Dari Sa’id Thairy Abu Bukhari bahwasanya berkata, menceritakan abu kabsyah alanmari, bahwasanya mendengat Rasulullah SAW bersabda: ada tiga perkara yang saya bersumpah benar-benar terjadi,

(10)

dan akan saya ceritakan kepadamu, maka ingatlah baik-baik, tidaklah akan berkurang harta hamba yang disebabkan zakat, dan tidak teraniaya seorang hamba yang diterimanya dengan hati sabar, kecuali allah akan menambah kemualiannya, serta tidak akan membuka seorang hamba pintu meminta, kecuali akan dibukakan baginya pintu kemiskinan (HR Turmudzi) (Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Tsurah, 1987, 562)

3. Rukun Zakat dan Syarat Wajib Zakat 3.1 Rukun Zakat

Yang dimaksud dengan rukun disini adalah unsur-unsur yang terdapat diantaranya: (Syarifuddin, 2003, 40)

3.3.1 Orang yang berzakat 3.3.2 Harta yang dizakatkan 3.3.3 Orang yang menerima zakat

3.2 Syarat-syarat Zakat

3.2.1 Syarat wajib zakat terdapat dua bagian yaitu:

3.2.1.1 Dari sifat orang yang mengeluarkan zakat

Menurut Hasbi As-Shiddiqi, orang yang disepakati wajib mengeluarkan zakat adalah orang Islam yang merdeka, telah sampai umur, berakal, memiliki nisab dan milik yang sempurna (Shadiqi, 1984, 13)

3.2.1.2 Dari sifat zakat harta yang dizakatkan

1. Harta itu sampai senisab. Syariat Islam telah menetapkan ukuran tertentu terhadap harta yang wajib dizakatkan yaitu: nisab, kalau harta tersebut belum sampai senisab maka, harta tersebut tidak wajib dizakatkan

2. Haul benda yang wajib dizakatkan artinya kepemilikanharta yang ada ditangan pemiliknya sudah berlalu masanya dua belas bulan Qamariyyah. Persyaratan

(11)

setahun itu hanya binatang ternak, uang, harta benda dagang yaitu yang dapat dimasukan kedalam istilah zakat modal tetapi, zakat pertanian,buah-buahan, madu, logam mulia, harta karun dan sejenisnya tidaklah disyaratkan satu tahun dan semua itu dapat dimasukan kedalam zakat pendapatan.

3. Milik sempurna maksudnya harta itu dimiliki oleh seseorang secara penuh dan tidak ada sangkut pautnya dengan hak orang lainn serta mampu mentasharufkan harta itu menurut kehendaknya sendiri.

Dari penjelasan diatas dipahami bahwa ketentuan dalam mengeluarkan zakat itu harus memenuhi beberapa rukun dan syarat diantaranya harta itu harus mencapai nisab yaitu 85 gram emas untuk zakat emas dan perak serta, barang dagangan wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 persen. Sedangkan untuk biji-bijian dikeluarkan zakatnya setiap kali panen apabila telah mencapai nisab yitu 10 persen apabila diari hujan dan 5 persen diari dengan irigasi.

Kemudian harta itu juga harus sudah mencapai haul yaitu jangka waktu harta itu sudah mencapai satu tahun untuk harta binatang ternak, uang dan barang dagangan sedangkan, untuk barang tambang dan biji-bijian tidak disyaratkan satu tahun. Dan harta itu juga merupakan milik yang sempurna tidak wajib zakat apabila ada harta orang lain (Qardhawi, 1987, 160-161)

4. Ibnu Rusyd menerangkan:

امتا اكلم باصنلا كلام لقاع غلبا رح ملسم لك ىلع انها اوقفتا ملهاف بتج نم ىلع امأ Artinya: Mengenai orang yang wajib zakat ulama telah

sepakat bahwa zakat ini wajib bagi setiap orang

(12)

Islam yang merdeka, berakal mempunyai harta yang cukup senisab dan yang dimiliki secara sempurna” ( Ibnu Rusyd Al Hafid, 178)

5. Mustafa Imarah menerangkan:

في لولحا يضمو ,كلالما ينعتو باصنلاو ماتلا كللماو ةي رلحاو ملس لإا :ابهوجو طورشو لولحا

Artinya: Dan disyari’atkan orang yang wajib zakat itu Islam, merdeka, memiliki harta secara sempurna, sampai senisab, jelas harta tersebut dan telah sampai setahun” (Mustafa Muhammad Imarah, 1994, 110)

6. Menurut Wahbah Al-Zuhaily syarat-syarat wajib zakat adalah:

لالما نوك ,لقعلاو غولبلا ,ملاسلإا ,ةيرلحا :تييأام بهف ,اهتيضرف يأ ةاكزلا بوجو طورش امأ وأ ماع يضم ,لاملل ماتلا كللما ,باصي ةميقب اردقموأ بااصن لالما نوك ,ةاك رنا هيف بتج امم ةيلصلأا تاجاح نع ةديازلا ,نيدلا مدع ,باصسلا كلم ىلع يرمق لوح نلاوح Artinya: Adapun syarat-syarat wajib zakat yakni

kepaduannya yaitu merdeka Islam, baliq, berakal, harta yang dikeluarkan adalah harta yang wajib dizakati, harta yang dizakati adalah harta yang sampai senisab atau senilai dengannya, harta yang dimiliki milik penuh, kepemilikkan harta telah sampai setahun menurut hitungan tahun komariah, harta tersebut bukan merupakan harta hasil hutang dan harta yang berlebihan kebutuhan pokok”

(Wahbah Al-Zuhaily, 1989, 735-738)

Dari keterangan para ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang yang wajib berzakat itu adalah orang-orang yang telah memenuhi syarat-syarat wajib zakat yaitu Islam, merdeka, balig dan berakal, milik sempurna, cukup senisab, sampai setahun, tidak ada hutang dan melebihi kebutuhan pokok.

(13)

Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan satu persatu secara berurutan, supaya lebih memudahkan dalam memahami keterangan-keterangan selanjutnya.

a. Islam

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa yang wajib dikenai zakat adalah orang kaya muslim, sedangkan non muslim tidak dikenai zakat. Di samping itu, zakat adalah salah satu rukun Islam yang hanya diwajibkan bagi orang Islam. Abu Bakar ia berkata:

...ينملسلما ىلع ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ضرف تيلا ةقدصلا ةضيرف هذه ......

)يراخبلا هاور(

Artinya: …Inilah sedekah yang diwajibkan Rasulullah SAW, atas orng-orang muslim…” (Abi

‘Abdillah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahin Bin Mughirah Bardazabah Al-Bukhary Al- Ja’fari, 257)

b. Merdeka

Menurut kesepakatan ulama zakat tidak wajib atas hamba sahaya, karena hamba sahaya tidak mempunyai hak milik. Tuannyalah yang memiliki apa yang ada di tangan hambanya. Begitu juga, mukhatib (hamba sahaya yang dijanjikan untuk dibebaskan tuannya dengan cara menebus dirinya) atau yang semisal dengan tidak wajib mengeluarkan zakat, karena kendatipun dia memiliki harta, hartanya tidak dimiliki secara utuh.

c. Milik Sempurna

Sesuatu belum sempurna dimiliki tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Milik sempurna artinya harta itu berada dibawah kontrol dan kekuasaan orang yang

(14)

wajib zakat atau berada ditangannya, tidak tersangkut di dalamnya hak orang lain, secara penuh ia dapat bertindak hukum dan menikmati manfaat harta itu.

Berdasarkan syarat ini maka seorang pedagang belum dikenai zakat apabila barang itu belum sampai ketangannya.(Yusuf Qardhawi, 128) Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hadid ayat 7

































Artinya: “Berimanlah kamu kepada Allah dan rasul- Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah Telah menjadikan kamu menguasainy. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar (Departemen Agama RI, 538) Memiliki suatu benda berarti menguasai dan hanya dia yang dapat menggunakannya. Pemilik secara hukum diberi hak atas ketentuan-ketentuan atau manfaat yang terdapat di dalam benda tersebut, selama tidak terdapat hal-hal yang tidak membolehkan. Dengan demikian suatu harta dapat dikatakan milik sempurna apabila pemilik berhak menggunakan dan mengambil manfaat yang mungkin diberikan oleh harta tersebut selama-lamanya atau sementara

(15)

d. Sampai senisab

Yang dimaksudkan dengan satu nisab adalah minimal jumlah harta yang wajib dizakatkan berdasarkan ketetapan syara’. Nisab yang ditetapkan syara’ untuk setiap jenis harta berbeda-beda. Sehingga hadist Nabi SAW:

فى لاو ةقدص قسوا ةسخم نم لقا اميف سيل لاق م.ص بينلا نع ىردلخا ديعس بىا نع فىلاو ةقدص دوذلا لبلاا نم ةيخم نم لقا هاور( .ةقدص قرولا نم قا وا سخم نم لقا

)يراخبلا . Artinya: “Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a, dari Nabi SAW,

sabdanya: “Tidak ada zakat bagi tanam- tanaman) yang kurang dari lima wasq, bagi unta yang kurang dari lima ekor dan bagi mata uang (perak) di bawah lima uqiyah”. (HR.

Bukhari)

Satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham, maka lima uqiyah adalah 200 dirham. Satu wasaq sama dengan 40 sha’, satu sha’ empat mud, satu mud satu kaupan dua tangan yang besar. Dengan demikian nisab harta yang wajib dizakatkan ditetapkan berdasarkan jenis harta tersebut. Tiap-tiap jenis harta nisabnya tidak sama. Untuk lebih jelasnya keterangan mengenai nisab ini akan dijelaskan satu persatu pada jenis harta yang terkena wajib zakat.

e. Sampai Setahun

Rasulullah SAW bersabda:

نع لويح تىح ,لام في ةاكزلا" لوقي ملسو هيلع الله ل وسر تعسم :تلق :ةشئاع نع ,ةرمع

)ىذمترلا هاور( "لولحا هيلع Artinya: Dari Ibn Umar ra. Berkata relah bersabda

Rasulullah SAW: barangsiapa yang

(16)

mengembangkan harta, tidak ada kewajiban zakat atasnya, hingga berlalu satu tahun.

Maksudnya adalah bahwa pemilik yang berada di tangan si pemilik sudah berlalu masanya dua belas bulan Qomariyah. Satu tahun merupakan satu kesatuan menurut pandangan pembuat syari’at, begitu juga menurut pandangan ahli perpajakan modern. Oleh karena itulah ketentuan setahun diberlakukan dalam zakat (Yusuf Qardhawi, 161)

Akan tetapi tidak semua harta yang dikenakan wajib zakat itu disyaratkan sampai setahun. Karena ada diantara harta kekayaan yang walaupun baru diperoleh hasilnya tetapi sudah wajib dizakatkan apabila cukup nisabnya, misalnya: tanam-tanaman dan logam yang ditemukan galian. Harta yang jumlahnya sampai senisab dan disyari’atkan pula cukup haul seperti emas, perak, uang kertas, hasil ternak dan hasil perdagangan.

f. Melebihi Kebutuhan Pokok

Persyaratan ini perlu ada, guna mcngatasi keengganan orang kaya membayar zakat, dengan alasan bahwa kekayaan yang la miIiki hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan setiap keinginan manusia tidaklah bisa disebat sebagai kebutuhan rutin.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 219:























(17)

















 















Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar]

dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir

Kata (“Afw”) dalam ayat tersebut mengandung pengertian telah melebihi kebutuhan pokok hidupnya dan keluarganya. Melebihi kebutuhan pokok ini maksudnya adalah bahwa harta kekayaan yang dimiliki seseorang sudah berlebih dari kebutuhan rutinnya sehari-hari. Kebutuhan rutin tersebut seperti makanan, pakaian, minuman, perumahan dan alat-alat kebutuhan kerja lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1, 256)

g. Berkembang

Ketentuan tentang kekayaan yang wajib dizakatkan adalah bahwa kekayaan itu dikembangkan dengan sengaja atau mempunyai potensi untuk berkembang. Pengertian berkembang adalah sifat kekayaan itu memberikan keuntungan, bunga, atau pendapatan, keuntungan investasi, ataupun pemasukan,

(18)

ataupun kekayaan itu berkembang sendiri artinya bertambah dan menghasilkan produksi (Yusuf Qardhawi, 135)

Persyaratan di atas sesuai dengan pengertian zakat yang kuat menurut bahasa adalah berkembang.

Karena sejumlah harta yang dikeluarkan dalam bentuk zakat, pada akhirnya akan mendapat berkat dan berkembang sesuai dengan janji Allah. Dan dengan ketentuan ini pula ada peluang bagi mustahik kepadanya, sehingga beban ekonomi yang dipikul mustahik zakat itu betul-betul terbantu

4. Tujuan Zakat

Zakat merupakan ibadah dalam bidang harta, mengandung hikmah dan tujuan besar dan mulia. Baik bagi Muzzaki (penerimanya) harta yangdizakatkan maupun masyarakat. Hikmah dan tujuan zakat 4.1 Sebagai perwujudan keimanan kepada Allah

4.2 Mensyukuri nikmat yang Allah berikan

4.3 Menumbuhkan perbuatan mulia dan rasa peduli yang tinggi

4.4 Menghilangkan sifat kikir, rakus dan materialitas, Menumbuhkan ketenangan sekaligus, membersihkan haarta dan mengembangkan harta

4.5 Karena zakat merupakan hak mustahik maka, zakat berfungsi untuk menolong, membantu, dan membina mereka yang membutuhkan terutama fakir miskin untuk hidup yang lebih baik. Zakat akan mendidik dan membiasakan orang menjadi pemurah dan tidak membiasakan hidup kikir.

4.6 Mengantipasi penyakit sosial ditengah masyarakat dan tindakan kriminal seperti pencurian yang ditimbulkan akibat kesenjangan sosial antara simiskin dan sikaya.

(19)

4.7 Mengembalikan jati diri manusia sebagai makhluk sosial (Qadir, 2011, 83-84)

Menurut Abdurrahman Qadir dalam bukunya: zakat dalam dimensi mahdah dan sosial bahwa hikmah zakat adalah:

4.1 Manifestasi rasa syukur atas nikmat Allah karena harta kekayaan yang diperoleh seseorang adalah atas karunianya dengan bersyukur harta dan nikmat itu akan berlipat ganda.

4.2 Melasanakan pertanggung jawaban sosial karena harta kekayaan yang diperoleh orang kaya tidak terlepas dari adanya andil dan bantuan orang lain baik langsung maupun tidak langsung.

4.3 Dengan mengeluarkan zakat golongan ekonomi lemah dan orang yang tidak mampu merasa terbantu. Dengan demikian akan menumbuhkan rasa persaudaraan dan kedamaian dalam masyarakat.

4.4 Mendidik dan membiasakan orang menjadi pemurah, menjauhkan sifat kikir dan bakhil.

4.5 Mengantisipasi dan ikut mengurangi kerawanan penyakit sosial seperti pencurian, perampokan dan berbagai tindakan kriminal yang ditimbulkan akibat kesenjangan sosial.

5. Macam-macam Zakat dan Pihak-Pihak yang Berhak Menerima Zakat 5.1 Macam-macam Zakat

5.1.1 Zakat Emas dan Perak

5.1.1.1 Dalil di Wajibkan Zakat Emas dan Perak

Berkaitan dengan zakat emas dan perak, Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 34-35

Ayat 34:

(20)































 



























Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesung-guhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang- halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih(Departemen Agama RI, 192).









































Artinya: Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah

(21)

sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu (Departemen Agama RI, 192)

Emas dan perak wajib dizakati walaupun dalam bentuk uang atau potongaan ketika telah mencapai nisab,mencapai satu tahun (haul), dan bersih dari utang serta kebutuhan- kebutuhan pokok.

5.1.1.2 Nisab Emas dan Kadar Wajib Zakatnya

Emas tidak wajib dizakati, kecuali jika telah mencapai dua puluh dinar. Jika emas telah mencapai dua puluh dinar dan haul, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% atau setengah dinar lebih dari dua puluh dinar juga wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

Ali r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

فصن اهيفف لولحا اهيلع لاحو ارانيد نورشع كل ناك اذإف ارانيد نورشع كل نوكي تىح ءيش كيلع سيل .لولحا هيلع لويح تىح ةاكز لام فى سيلو ,كلذ باسحبف داز امف رانيد Artinya: “Kau tidak wajib membayar zakat emas , kecuali ketika

kamu memiliki dua puluh dinar. Jika kamu telah memiliki dua puluh dinar dan sudah mencapai satu tahun, kamu wajib mengeluarkan setengah dinar.

Selebihnya juga dihitung seperti itu. Suatu harta tidak wajib dizakati, kecuali telah mencapai satu haul.

5.1.2 Zakat Perniagaan

5.1.2.1 Hukum Zakat Perniagaan

Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan fuqaha telah berpendapat bahwa barang-barang perniagaan wajib dizakati. Samurah Jundub berkata” Amma’ ba’du, sesungguhnya Nabi Muhammad memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan zakat dari harta yang kami persiapkan untuk jual beli.

(22)

Abu Dzar r.a meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

اهتقدص زبلا فىو اهتقدص رقبلا فىو اهتق دص منغلا فىو اهتقدص لبلإا فى

Artinya: “Unta wajib dizakati, kambing wajib dizakati, sapi wajib dizakati, dan bahan pakaian (yang diperjual- belikan) wajib dizakati.

Jika zakat perniagaan tidak wajib, semua orang kaya bisa saja melakukan perniagaan dengan uang-uang mereka dan berusaha agar uangnya yang sudah sampai nisab tidak memenuhi syarat haul (karena ditukarkan dengan barang).

Hal itu jelas menjadikan uang mereka tidak wajib dizakati.

Alasan utama yang logis mengenai masalah wajibnya zakat perniagaan adalah Allah swt mewajibkan orang-orang kaya agar mengeluarkan zakat harta mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir atau orang-orang yang sejenisnya dengan orang-orang fakir untuk memenuhi kemaslahatan umum. Disamping itu, juga untuk memberikan faedah terhadap orang-orang fakir dan semua pihak yang berhak menerima zakat, membantu negara dan umat dalam membangun kemaslahatan-kemaslahatan umum, menutup sarana kerusakan yang tercermin dalam terbatasnya harta dan kekayaan kepada segelintir orang. Hal itu yang disyaratkan dalam firman Allah Q.s Al-Hasyr ayat 7:

















































(23)

















 











Artinya: Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang- orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya (Departemen Agama RI,546).

5.1.2.2 Syarat Barang Perniagaan

Ibnu Qadamah didalam al-Mugni berkata, “suatu tidak menjadi barang pernigaan, kecuali dengan dua syarat.

Pertama, barang tersebut dimiliki seseoarng dengan tindakannya, misalnya membeli, menikah , khulu’, menerima hibah, wasiat dan ghanimah serta usaha-usaha lain yang halal. Hal itu tidak wajib dizakati dengan sekedar niat, sepert ibadah puasa. Tidak ada bedanya antara ia memiliki ia memiliki barang tersebut dengan suatu ganti (‘iwadh) atau tanpa ganti karena ia memiliki dengan tindakannya, seperti harta warisan.

Kedua, ketika memiliki barang tersebut, seseorang berniat untuk perniagaan. Jika ia idak berniat melakukan perniagaan ketika memilikinya, barang tersebut tidak bisa menjadi barang perniagaan, walaupun ia berniat untuk membakukan perniagaan setelah itu. Jika ia memilikinya karena warisan dan ia niat untuk menggunakannya didalam

(24)

perniagaan, barang tersebut tidak menjadi barang perniagaan karena hukum asal suatu barang adalah kepemilikan, sementara perniagaan adalah sesuatu yang baru. Karena itu, barang warisan tersebut tidak menjadi barang perniagaan hanya dengan sekedar niat dan tidak ada kewajiban zakat didalamnya.

5.1.2.3 Cara Menzakati Harta Perniagaan

Barang siapa yang memiliki harta perniagaan yang sudah mencapai nisab dan satu haul, maka ia menilainya pada akhir tahun dan mengeluarkan zakatnya senilai 2,5% dari keseluruhannya. Demikianlah cara pedagang mengeluarkan zakat perniagaannya. Barang perniagaan yang nilainya kurang dari nisab, kemudian perkembangan harga yang berkembang atau ia menjual dengan harga yang mencapai nisab, maka perhitungan haul dimulai ketika itu.

Hal itu merupakan pendapat Tsauri, Hanafiyah, Syafi’i.

Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnu Mundzir. Kemudian jika pertengahan haul barang tersebut kurang dari nisab dan mencapai nisab lagi pada akhir tahun, maka perhitungan haul tidak terputus menurut Abu Hanifah.

Menurut Hanabilah, jika pada pertengahan tahun barang tersebut berkurang dari nisab, kemudian pada akhir tahun mencapai nisab lagi, maka perhitungan tahun dimulai lagi keika akhir tahun tersebut. Adapun perhitungan waktu sebelumnya dianggap batal karena berkurangnya nisab tersebut pada pertengahan tahun (Sabiq Sayyid, 2013, 68- 75).

(25)

5.1.3 Zakat Pertanian 5.1.3.1 Pengertian

Zakat pertanian adalah suatu zakat yang dikenakan keatasmakanan asasi yang mengeyangkan keatassebuah negeri yang telah cukup nisab dan haunya. Hasil tanaman yang wajib dizakatkan adalah biji-bijian dari jenis makanan asasi yang mengeyangkan dan tahan lama jika disimpan seperti kurma, padi, jagung, dan gandum (Ali Hasan,53).

5.1.3.2 Hukum Zakat Pertanian

Sebagaimana firman Allah dalam Q.s Al Baqarah ayat 267:





























































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik- baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Departemen Agama RI, 45)

(26)

Sebagaimana firman Allah dalam Q.s Al An’am ayat 141:

































































Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin);

dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (Departemen Agama RI, 146).

5.1.3.3 Pendapat Para Ulama Fiqih Tentang Jenis Pertanian Para ahli fiqih tidak beselisih mengenai kewajiban zakat pertanian hanya saja mereka berselisih mengenai jenis pertanian yang wajib dizakati. Secara umum pendapat mereka adalah sebagai berikut:

1. Menurut pendapat Hasan Basri dan Sya’bi tidak ada kewajiban kecuali yang ada dalam nash yaitu gandum hintha, gandum sya’ir, jagung, kurma dan anggur. Selain yang telah disebutkan itu tidak ada zakatnya Syaukani menganggap mazhab ini adalah benar.

(27)

2. Menurut Abu Hanifah segala jenis hasil yang dikeluarkan bumi wajib dizakati, baik jenis sayuran maupunlainnya. Ia menyatakan bahwa pertanian tersebut dimaksudkan untuk mengelola tanah dan menurut kebiasaan memberikan hasil. Ia mengecualikan kayu bakar, buluh, rumput dan pohon yang tidak ada buahnya. Argumen yang ia pergunakan adalah keumuman sabda Rasulullah

رشعلا ءامسلا تقساميف

Artinya: “(Apa) tanaman yang mendapat siraman air hujan zakatnya adalah sepuluh persen.

3. Menurut Abu Yusuf dan Muhammad hasil pertanian wajib dizakati dengan syarat mampu bertahan satu tahun tanpa diberi pengawetan dan pengobatan. Hasil pertanian terebut baik yang sifatnya ditakar seperti biji-bijian maupun yang ditimbang seperti kapas dan gula. Jika hasil pertanian tersebut idak mampu bertahan setahun, seperti buah kerai, mentimun, semangka, melon, dan sejenisnya termasuk juga sayuran, maka tidak wajib dizakati.

4. Menurut Malik hasil pertanian yang wajib dizakati adalah yang tahan lama, kering, dan ditanam oleh manusia baik yang dapat dijadikan makanan pokok misalnya tanaman qirthi dan tanaman sesama. Tidak ada kewajiban zakat didalam sayuran dan buah-buahan seperti buah tin, delima dan apel.

5. Menurut Syafe’i hasil pertanian yang wajib dizakati adalah yang dapat dijadikan nakanan pokok, dapat disimpan dan dianam oleh manusia.

6. Ahmad berpendapat bahwa semua hasil pertanian yang terdiri dari biji-bijian maupun buah-buahan wajib dizakati dengan syarat dapat dikeringkan, dapat tahan lama, dapat

(28)

ditakar, dan hail tanaman manusia. Hasil pertanian tersebut baik berupa bahan makanan kacang, rempah- rempah seperti ketumbar dan merica.

5.1.3.4 Akar Perselisihan

Ibnu Rusyd berkata: “ akar perselisihan antara orang yang membatasi zakat didalam jenis-jenis hasil pertanian yang disepakati dan orang yang menanbahinya dengan hasil pertanian yang dapat disimpan serta dapat menjadi bahan makanan pokok adalah perselisahan mereka mengenai hubungan zakat dengan keempat bahan makanan yang wajib dizakati tersebut.

5.1.3.5 Nisab Zakat Pertanian

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tanaman dan tumbuh-tumbuhan tidak wajib dizakati, kecuali telah mencapai lima wasaq setelah dibersikan dari jerami dan kulitnya. Jika tidak dibersihkan dari jerami dan kulitnya nisabnya sepuluh wasaq.

1. Abu Hurairah r.a meriwayakan bahwa Rasulullah bersabda:

ةقدص قسوأ ةسخم نود اميف سيل

Artinya: ”Hasil pertanian yang kurang dari lima wasaq tidak wajib dizakati “

2. Abu Said al-Khudri r.a meriwayatkan Nabi bersabda:

ةقدص بح لاو رتم نم قسوأ ةسخم نود اميف سيل

Artinya: “Kurma dan biji-bijian yang kurang dari lima wasaq tidak wajib dizakati”. Disamping itu, zakat pertanian tidak disyaratkan haul, sehingga ia tidak perlu disyaratkan nisab. Disamping itu, hasil pertanian adalah harta yang wajib dizakati.

Oleh sebab itu, ia tidak dikenai zakat ketika sedikit, sebagaimana harta-harta zakat yang lain.

(29)

Adapun haul tidak disyaratkan di dalam zakat hasil pertanian karena hasil tersebut sempurna dengan dipanen, bukan dengan kelanggengannya. Haul disyaratkan didalam zakat selain hasil pertanian karena haul merupakan cara yang dipandang untuk mencapai kesempurnaan hasilnya.

Nisab disyaratkan didalamnya agar hasil tersebut mencapai batas yang memungkinkan untuk memberikan sebagiannya secara pantas kepada orang-orang fakir. Oleh sebab itu, didalam zakat pertanian juga disyaratkan.

Ditambah lagi zakat tidak wajib kecuali atas orang- orang kaya. Dan kekayaan tidak terwujud tanpa adanya nisab, sebagaimana harta-harta zakat yang lainnya.

Satu sha’ adalah sepertiga qadah (takaran), dengan demikian nisab hasil pertanian adalah lima puluh kailah (takaran Mesir).

5.1.3.6 Kadar Wajib Zakat

Kadar yang wajib dikeluarkan dari hasil pertanian karena zakat berbeda-beda sesuai dengan perbedaan cara penyiramannya. Suatu pertanian yang mendapat siraman air tanpa menggunakan alat, misalnya kincir air, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar sepuluh persen. Adapun pertanian yang mendapat siraman air dengan bantuan alat atau dengan air yang dibeli wajib dikeluarkan zakatnya sebesar lima persen.

Muadz r.a meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

.رشعلا فصن حضنلبا يقس اميفو رشعلا ليسلاو لعبلاو ءامسلا تقساميف

Artinya: “Tanaman yang mendapat air hujan, penyerapan akar, dan banjir ada zakatnya sebesar sepuluh persen dan tanaman yang mendapat air dari bantuan manusia ada zakatnya sebesar lima persen”.

(30)

Ibnu Umar r.a meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

فصن حضنلبا يقس اميفو رشعلا يارثع ناك وأ نويعلاو ءامسلا تقس اميف .رشعلا

Artinya: “Tanaman yang mendapatkan siaman air dari hujan, mata air, atau ‘atsari dikenai zakat sepuluh persen dan tanaman yang mendapat siraman air dari bantuan manusia dikenai zakat lima persen”.

Ibnu Hazm menuturkan bahwa Atha mengambil biaya dari hasil panen, kemudian jika sisanya masih mencapai nisab, ia menzakatinya. Jika sisanya tidak mencapai nisab ia tidak dkenakan zakat.

5.1.4 Zakat Hewan Ternak 5.1.4.1 Pengertian Zakat ternak

Zakat ternak adalah kewajiban seseorang terhadap harta yang berada dalam tanggungannya jika telah mencapai satu nisab. Kewajiban ini tidak berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk menunaikannya atau tidak, karena kemampuan ini adalah syarat untuk membayar zakat.

Yang dimaksud denga binatang ternak adalah unta, sapi, kambing yang mencakup kerbau (Ali Hasan, 53).

5.1.4.2 Dasar Hukum Zakat Ternak Qur’an Surat An-Nahl ayat 66:





































Artinya: Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar- benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami

(31)

memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya (Departemen Agama RI, 274)

5.1.4.3 Syarat zakat hewan ternak adalah:

1. Mencapai nisab 2. Mencapai haul

3. Digembalakan dirumput yang mubah didalam sebagian besar tahun (Sabiq Sayyid,2013,95).

5.1.4.4 Jenis-jenis Hewan Ternak yang Wajib di Zakati Dan Cara Penghitungannya

1. Zakat Unta

Unta tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali telah mencapai lima ekor. Jika jumlah unta telah mencapai lima ekor dan dia digembalakan serta telah mencapai satu tahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak satu ekor kambing. Jika mencapai sepuluh ekor unta, maka wajib dikeluarkan zakatnya dua ekor kambing. Demikian seterusnya, setiap bertambah lima, bertambah pula zakatnya sebanyak satu ekor kambing.

Jika jumlah unta mencapai 25 ekor, maka zakatnya adalah satu unta bintu makhadh (unta betina yang berumur satu tahun dan masuk dalam tahun kedua) atau ibnu labun (unta jantan yang umurnya dua tahun dn masuk dalam tahun ketiga).

Jika jumlah unta telah mencapai 36 ekor maka, zakatnya adalah satu ekor huqqa (unta yang umurnya dua tahun dan masuk dalam tahun ketiga)

(32)

Jika jumlah unta mencapai 46 ekor maka, zakatnya adalah satu ekor huqqah (unta yang umurnya tiga tahun dan masuk dalam tahun keempat).

Jika jumlah unta mencapai 61 ekor, maka zakatnya adalah jadz’ah (unta yang umurnya empat tahun dan masuk dalam tahun kelima)

Jika jumlah unta mencapai 76 ekor, maka zakanya adalah dua ekor unta labun.

Jika jumlah unta mencapai 91 sampai 120 ekor, maka zakatnya adalah dua huqqah. Jika jumlah masih bertambah, maka setiap empat puluh ekor zakatnya adalah bintu labun dan setiap lima puuh ekor zakatnya adalah huqqah

Nisab Unta Banyak zakat yang wajib dikeluarkan

Dari-sampai

5-9 Seekor kambing

10-14 2 ekor kambing 15-19 3 ekor kambing 20-24 4 ekor kambing

25-35 Seekor anak unta betina (berumur 1 tahun lebih) 36-45 Seekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih) 46-60 Seekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih) 61-75 Seekor anak unta betina (berumur 4 tahun lebih) 76-90 2 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih) 91-120 2 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)

(33)

2. Zakat Sapi

Sapi adalah jenis ternak yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hambanya, sangat banyak manfaatnya untuk kepentingan hidup manusia. Adapun nisab sapi dan kewajiban zakatnya yaitu setiap jumlah sapi mencapai 30 ekor, maka wajib dikeluarkan zakatnya berupa 1 ekor sapi jantan atau betina beumur genap satu tahun memasuki tahun kedua. Dinamakan tabi’ karena selalu mengikuti induknya ditempat gembala (Qardhawi Yusuf,2008,193).

Jika jumlah sapi mencapai 40 ekor, wajib dikeluarkan zakatnya berupa seekor sapi berumur genap 2 tahun dan memasuki tahn ke 3. Jika jumlah sapi melebihi 40 ekor, wajib dari setiap 30 ekor dikeluarkan zakatnya berupa sapi genap berumur 1 tahun yang memasuki tahun ke 2, dan dari setiap 40 ekor sapi atau satu ekor api berumur genap dua tahun yang memasuki tahun ketiga.

Musinnah berumur genap 2 tahun yang memasuki tahun ke 3 dinamakan demikian karena bartambah gigi serinya (Qardhawi Yusuf, 2008, 334).

3. Zakat kambing

Kambing tidak ada zakatnyanya, kecuali telah mencapai empat puluh ekor. Apabila jumlahnya telah mencapai empat puluh ekor dan haul, zakatnya adalah satu ekor kambing. Apabila jumlahnya telah mencapai 121 ekor kambing, zakatnya adalah dua ekor kambing. Apabila jumlahnya telah mencapai 201 sampai tiga ratus, zakatnya adalah tiga kambing. Setap bertambah seratus setelah itu, zakatnya bertambah satu ekor.

(34)

Dari Sampai Kadar kewajiban zakat 1 39 Tidak ada zakatnya 40 120 1 ekor kambing 121 200 2 ekor kambing 201 399 3 ekor kambing 400 499 4 ekor kambing

500 599 5 ekor kambing

5.2 Pihak-Pihak yang Berhak Menerima Zakat

Mustahik zakat maksudnya orang-orang yang berhak menerima zakat. Golongan yang berhak mendapatkan zakat pada tataran aplikasi yang dibatasi pada yang sudah disebutkan dalam Al Qur’an surat At taubah mengatakan bahwa yang berhak menerima zakat tercantum pada surat At-Taubah ayat 60: (Hasan, 2011, 73)















































Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Yang berhak menerima zakat Ialah: 1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup

(35)

penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat:

orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. (Departemen Agama, 196)

5.2.1 Orang Fakir

Al-fuqara’ adalah bentuk jamak dari kata al-faqir. Fakir adalah orang yang penghasilannya tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer) sesuai dengan kebiasaan masyarakat wilayah tertentu. Sedangkan fakir menurut jumhur ulama adalah orang yang tidak memiliki harta dan penghasilan yang halal, atau mempunyai harta yang kurang dari nisab zakat dan kondisinya lebih buruk dari pada orang miskin.

Ada beberapa defenisi fakir menurut ulama salaf dari empat mazhab, yaitu sebagai berikut :

1) Mazhab Syafi’i fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha atau harta yang kurang dari seperdua kecukupannya, dan tidak ada orang yang memberi belanjanya

(36)

2) Mazhab Hanafi fakir adalah orang yang mempunyai harta kurang dari senisab atau lebih, tetapi habis untuk memenuhi kebutuhannya

3) Mazhab Hambali fakir adalah orang yang tidak memiliki harta kurang dari seperdua keperluannya

4) Mazhab Maliki fakir adalah orang yang mempunyai harta, sedang hartanya tidak mencukupi untuk keperluannya dalam masa satu tahun, atau orang yang memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi kebutuhannya, maka diberi zakat sekedar mencukupi kebutuhannya (Zulhaily,2006,280)

5.2.2 Orang Miskin

Berbeda dengan orang fakir, orang miskin adalah orang yang tidak memiliki harta untuk memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan pokoknya,namun ia mampu berusaha untuk mencari nafkah. Hanya saja penghasilannya tidak mencukupi kehidupan- nya sendiri atau kehidupan keluarganya (Saleh, 2008, 160)

Jumhur Ulama sepakat bahwa fakir miskin itu sama saja dalam artian mereka sama-sama tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Secara faktual, orang miskin dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, disebut sail yaitu orang miskin yang memperlihatkan kemiskinannya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan bantuan atau memintanya secara langsung.

Sedangkan yang kedua adalah mahrum yaitu orang miskin yang tidak memperlihatkan kemiskinannya karena memiliki sifat menjaga diri. Kedua kategori miskin tersebut sama-sama tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, baik karena tidak ada lapangan pekerjaan maupun karena kualifikasi atau kemampuan yan dimilikinya.

Mereka juga tidak memiliki skil atau harta yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya bersama orang-orang yang

(37)

berada dalam tanggungannya. Ulama menetapkan kebutuhan pokok hanya pada tiga hal yakni pangan, sandang dan papan.

Pangan asal kenyang, sandang asal tertutupi dan papan asal bisa berlindung (Hasan,2011,74). Sementara menurut Sayyid Sabiq kebutuhan pokok meliputi pangan, sandang dan papan, kendaraan dan alat kerja (Sabiq, 2015, 324).

Kebutuhan pokok dalam konteks kekinian meliputi:

1) Pangan atau kebutuhan makan adalah hal yang suka tidak suka, mau tidak mau harus dipenuhi karena jika tidak akan menyebabkan sakit atau bahkan bisa meninggal. Pangan untuk saat ini adalah pangan dengan kandungan kalori dan protein yang memungkinkan pertumbuhan secara fisik secara wajar.

2) Sandang mulai muncul sejak peradaban ada awalnya sandang merupakan penutup badan untuk mengatasi angin, hujan, kesopanan, dan kesehatan. Kebutuhan akan sandang bervariasi tergantung tingkat sosial dan taste masing-masing orang.

3) Papan adalah tempat berteduh dari panas, hujan dan dahulu dari hewan liar. Papan yang dibutuhkan saat ini adalah papan yang dapat memenuhi kebutuhan berlindung dan tempat tinggal.

4) Kesehatan yang memungkinkan kesembuhan dari penyakit yang dideritanya

5) Pendidikan yang memungkinkan pihak yang bersangkutan mengembangkan potensinya dasar selaku manusia yakni kognitif , afektif dan psikomotor (Hasan, 2011, 75).

5.2.3 Amil Zakat (Panitia Zakat)

Amil zakat adalah orang yang ditunjuk oleh imam atau wakilnya (pemerintah) untuk mengumpulkan zakat dari orang- orang kaya. Termasuk amil zakat adalah para penjaga zakat, para

(38)

pengembala kambing zakat, dan para pencatat datanya. Syarat amil zakat adalah orang Islam dan ia tidak termasuk orang yang mengharamkan menerima zakat (Sabiq,2013,125).

Amil adalah para pekerja yang telah diserahi oleh penguasa atau penggantinya untuk mengurusi harta zakat. Mereka diberi zakat, walaupun orang kaya sebagai imbalan jerih payahnya dalam membantu kelancaran zakat, karena telah mencurahkan tenaganya untuk kepentingan orang-orang Islam (Hasan, 2011, 76).

5.2.4 Muallaf

Muallaf adalah orang yang hati perlu dilunakkan (dirangkul yang positif) untuk memeluk agama Islam atau dikukuhkan karena keislamannya yang lemah atau untuk mencegah tindakan buruknya terhadap kaum muslimin atau karena membentengi kaum muslimin.

Para pakar fiqih telah membagi kelompok muallaf menjadi muallaf muslim dan muallaf kafir. Muallaf muslim ada empat kelompok , antara lain sebagai berkut:

1) Para orang terhormat kaum muslimin yang memiliki para pengikut atau teman dari orang kafir. Dengan diberikannya zakat mereka, orang-orang kafir itu dapat diharapkan masuk Islam. Hal seperti Abu Bakar memberikan zakat Adi din Hatim dan Zabraqah bin Badr walaupun keIslamannya dua muslim ini baik. Keduanya adalah orang yang dihormati kaumnya.

2) Orang-orang muslim yang imanya lemah,tapi dihormati dan ditaati oleh kaumnya. Dengan diberikannya zakat kepada mereka, keimanan mereka diharapkan dapat menjadi kuat dan kukuh bserta mau saling menasehati untuk ikut jihad dijalan Allah dan lain sebagainya. Mereka adalah sebagian penduduk Mekah yang dibebaskan oleh Rasulullah pada penaklukan kota

(39)

Mekah. Diantara mereka adalah seperti orang-orang yang diberikan hadiahkan oleh Rasulullah dari harta rampasan perang. Diantara mereka ada yang munafik dan ada yang lemah imannya. Setelah Nabi memberikan hadiah yang banyak kepada mereka menjadi kukuh iman dan melaksanakan ajaran Islam dengan baik.

3) Kelompok muslimin yang berada di perbatasan negeri musuh.

Dengan diberikan zakat kepada mereka diharapkan mereka gigih dalam membentengi kaum muslimin ketika musuh menyerang Islam.

4) Kaum muslimin yang dibutuhkan untuk mengambil zakat dari orang-orang yang tidak mau membayarnya, kecuali melalui kekuatan dan pengaruh kaum muslimin tersebut. Sebetulnya ketika mereka tidak mau membayarkan zakat, pemerintah Islam berhak memerangi mereka. Akan tetapi, dengan cara tersebut kerugiannya lebih kecil dan kemaslahatannya lebih besar.

Adapun muallaf kafir ada dua kelompok antara lain sebagai berikut:

1) Orang yang diharapkan keimanannya dengan pemberian zakat kepadanya.

2) Orang yang dikhawatirkan melakukan tindakan buruk terhadap Islam (Sabiq, 2013, 67-68)

Muallaf dalam fiqh konvensional diberikan zakat sekedar untuk membujuk hatinya agar mantap imannya. Untuk konteks saat ini, bagian zakat untuk muallaf disediakan hanya saja bukan bertujuan agar seseorang masuk Islam.

Menurut Farid Masdar, dalam konteks saat ini sasarannya adalah:

Referensi

Dokumen terkait

bahwa atas pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Bupati Gunungkidul tentang petunjuk Pelaksanaan Peraturan

Menurut data dari Puskesmas Purbaratu pada tahun 2014, jumlah ibu hamil sebanyak 42 orang, dari jumlah tersebut ibu hamil trimester I yang mengalami hiperemesis gravidarum

pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dibagi menjadi

Tugas Mengidentifikasi tentang Jenis-jenis dan karakteristik tekstil Observasi Ceklist lembar pengamatan kegiatan eksperimen Portofolio Laporan tertulis kelompok Tes •

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah “Apakah dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative tipe Team Quiz dapat meningkatkan Motivasi dan

Analisis data dilakukan dengan menyusun data yang diperoleh dengan sistematis, kemudian dianalisa dan di berikan makna dan dari makna itulah ditari kesimpulan, Hasil

Dari aspek sedimentologi adalah ditemukan- nya lapisan breksi dengan fragmen batuan beku basal (Gambar 11), yang sama dengan lava bantal Watuadeg di bagian bawah

Empat huruf itu memang merupakan rahasia terbesar dikolong langit.” - TAMAT -.. *) Piauw adalah barang berharga jang dilindungi oleh perusahaan pengawal jang anggauta2nya terdiri