• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH FREE CASH FLOW, LIKUIDITAS DAN LEVERAGE TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR FOOD AND BEVERAGES TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH FREE CASH FLOW, LIKUIDITAS DAN LEVERAGE TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR FOOD AND BEVERAGES TAHUN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 739

PENGARUH FREE CASH FLOW, LIKUIDITAS DAN LEVERAGE TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR FOOD

AND BEVERAGES TAHUN 2016-2020.

Desi Novitasari1, Mohamad Husni2, Riyanthi Idayu3

1,2,3Universitas Bina Bangsa Serang, Banten

E-mail: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh free cash flow, profitabilitas, likuiditas dan leverage terhadap kebijakan dividen secara simulttan (bersama-sama) dan secara parsial. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif.

Teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan sumber datanya yaitu data sekunder, sumber data di dapat dari Bursa Efek Indonesia (BEI) www.idx.co.id. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 30 observasi pada 6 perusahaan dalam kurun waktu 5 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikasi uji t free cash flow 0,292 > 0,05 menyatakan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen, hasil uji t Likuiditas 0,404 > 0,05 menyatakan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen dan hasil uji t leverage 0,567 > 0,05 menyatakan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Secara bersama-sama nilai signifikasi hasl uji f free cash flow, likuiditas dan leverage 0,466 > 0,05 menyatakan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen secara simultan. Kesimpulan untuk penelitian ini diketahui bahwa variabel Free cash flow (X1), Likuiditas (X2), dan Laverage (X3) tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen (Y).

Kata Kunci: free cash flow, likuiditas, leverage, kebijakan dividen.

Abstract

This study aims to examine the effect of free cash flow, profitability, liquidity and leverage on dividend policy in a simulttan (together) and partially. This research is a research with a quantitative approach. Data collection techniques are carried out based on data sources, namely secondary data, data sources can be obtained from the Indonesia Stock Exchange (IDX) www.idx.co.id. The sampling method uses purposive sampling method. The number of samples in this study was 30 observations in 6 companies within a period of 5 years. The results of this study showed that the signification value of the t test free cash flow of 0.292 > 0.05 stated that it had no effect on dividend policy, the liquidity t test result of 0.404 > 0.05 stated that it had no effect on dividend policy and the result of the t leverage test 0.567 > 0.05 stated has no effect on dividend policy.

Jointly, the signification value of hasl test f free cash flow, liquidity and leverage of 0.466 > 0.05 stated that it had no effect on the dividend policy simultaneously. The conclusion for this study is that the variables Free cash flow (X1), Liquidity (X2), and Laverage (X3) have no effect on dividend policy (Y).

Keywords: free cash flow, liquidity, leverage, dividend policy.

(2)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 740

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis di indonesia yang semakin pesat mengakibatkan para pelaku bisnis harus senantiasa peka terhadap perubahan, kebutuhan manusia yang semakin hari semakin meningkat mengakibatkan perusahaan dituntut untuk terus dapat memenuhi apa yang dibutuhkan konsumennya. Akibat keinginan konsumen untuk mendapatkan produk dengan mutu yang lebih baik menyebabkan tiap perusahaan berlomba-lomba menghasilkan produk yang lebih unggul dari perusahaan lainnya. Persaingan yang terjadi harus dihadapi tiap perusahaan, mengharuskan pihak yang mengelola perusahaan yaitu manajemen untuk melakukan inovasi dan strategi bisnis agar terus dapat bersaing dengan keadaan pasar. Apa lagi dalam keadaan pandemi saat ini tiap perusahaan harus menghadapi tingginya persaingan mengakibatkan tiap perusahaan akan selalu ingin menjadikan posisi keuangannya agar tetap stabil atau menjadi lebih kuat, penambahan modal salah satu cara perusahaan untuk terus survive dengan keadaan perekonomian global dimasa sekarang, untuk itu perusahaan berusaha menarik banyak investor dalam kegiatan pendanaan perusahaan.

Pasar modal sebagai wadah untuk investor maupun calon investor guna melihat seberapa baiknya posisi keuangan suatu perusahaan atau bagaimana perusahaan itu dinilai akan menguntungkan dikemudian hari, menjadikan laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan sebagai acuan untuk para investor menilai perusahaan tersebut. Dengan keadaan yang saat ini menjadikan banyak investor yang harus benar-benar teliti untuk mananamkan modalnya atau berinvestasi dalam sebuah perusahaan.Manajemen memberikan dividen kepada pemegang saham mengacu pada beberapa hal yang diputuskan dalam kebijakan dividen. Menurut Husnan dan Tandelilin (1990) Kebijakan dividen menyangkut tentang berapa banyak bagian keuntungan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Perusahaan yang mengalami laba cenderung akan mengalokasikan laba tersebut dalam bentuk dividen. Keputusan tersebut mengacu pada beberapa aspek, khususnya menentukan rasio pembagian dividen yang dipertimbangkan paling menguntungkan bagi perusahaan. Sedangkan menurut Riyanto (2002) mendefinisikan kebijakan dividen bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang

(3)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 741

saham sebagai dividen atau untuk digunakan di dalam perusahaan, yang berarti laba tersebut harus ditahan di dalam perusahaan. Proksi yang digunakan dalam kebijakan dividen yang akan diteliti oleh peneliti menggunakan rumus Dividen Payout Ratio (DPR) merupakan besarnya persentase laba bersih setelah pajak yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham (Sudana, 2011:167).

White et al (2003) menyatakan free cash flow sebagai aliran kas diskresioner yang tersedia bagi perusahaan, free cash flow adalah kas dari aktivitas operasi dikurangi capital expenditures yang dibelanjakan perusahaan untuk memenuhi kapasitas produk si saat ini. Sebuah perusahaan dalam menjalankan aktifitas operasinya akan menimbulkan berbagai biaya, biaya tersebut akan mengurangi kas perusahaan sehingga dalam arus kas operasi perusahaan beban yang ditanggung perusahaan sangat berpengaruh terhadap tingkat laba perusahaan. Jika hasil dari pengurangan tersebut positif atau laba maka perusahaan mempunyai posisi keuangan yang baik.

Manajemen akan menggunakan hasil arus kas tersebut untuk diinvestasikan kembali atau untuk dibagikan sebagai dividen. Kebijakan dividen akan sangat dipengaruhi oleh perhitungan arus kas bebas perusahaan, untuk meredam konflik keagenan, perusahaan dapat menggunakan arus kas bebas untuk menambah jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.

Menurut Hanafi dan Halim (2018) menyatakan bahwa likuiditas mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya.

Semakin tinggi likuiditas perusahaan, maka seharusnya semakin tinggi pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Dengan kemampuan likuiditas perusahaan yang baik, manajemen akan berani untuk membagikan laba perusahaan sebagai dividen. Hal tersebut mempengaruhi kebijakan dividen yang dibuat manajemen, pasalnya dengan tingkat likuiditas yang rendah manajemen akan menahan kas perusahaan agar tidak keluar, alih-alih untuk dibagikan sebagai dividen. Karena tingkat likuiditas perusahaan menjadi tolak ukur manajemen apakah posisi keuangan perusahaan mampu untuk memenuhi hutang perusahaan, jika posisi keuangan kuat yang tercermin dengan tingkat likuiditas tinggi dari perusahaan, maka perusahaan tidak akan ragu membagikan dividen dengan jumlah yang besar kepada

(4)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 742

pemegang saham. Dalam penelitian ini proksi atau rumus penelitian yang digunakan untuk menghitung likuiditas adalah menggunakan Current Ratio merupakan kemapuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

Menurut Kasmir (2017:158) leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui berapa besar kemampuan perusahaan dalam membayarkan seluruh kewajibannya (baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang). Manajemen dalam kebijakan dividennya akan sangat dipengaruhi dengan besaran utang yang harus ditanggung oleh perusahaan, manajemen menganggap kewajiban perusahaan lebih penting dari pada aktifitas pendanaan lain, yang berpengaruh juga pada pembagian porsi dividen yang akan dibagikan perusahaan.

Rasio total utang terhadap ekuitas perusahaan yang tinggi mengakibatkan manajemen akan berusaha mengurangi utang dengan aliran kas internal perusahaan, yang menyebabkan aliran kas yang semestinya digunakan untuk pemabayaran dividen akan di simpan perusahaan untuk menutup hutang perusahaan, jadi semakin tinggi rasio tersebut mengakibatkan semakin kecilnya dividen yang dibagikan. Proksi yang digunakan dalam perhitungan laverage menggunakan rumus rasio Debt to Equity Ratio yang merupakan suatu ukuran untuk melihat perbandingan antara dana yang berasal dari modal atau ekuitas pemilik perusahaan dan utang dari kreditur.

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi menjadi salah satu teori yang sering digunakan dalam penelitian akuntansi karena keterkaitan yang mendasari topik permasalahan yang akan diteliti. Teori ini menyatakan masing-masing individu antara prinsipal dan agen termotivasi oleh utilitas mereka sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan (Scott, 2012). Teori ini menggambarkan hubungan antara prinsipal dan agen dalam suatu perusahaan, pemegang saham yang bertindak sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen yang ditugaskan serta diberikan wewenang oleh prinsipal untuk mengelola dan menjalankan perusahaan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pemegang saham. Hubungan antara kedua pihak harus terjalin dengan baik,

(5)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 743

dengan kepercayaan atas tugas yang telah diberikan oleh pemegang saham untuk menjalankan perusahaan, maka manajemen akan memiliki informasi yang lebih detail mengenai keadaan perusahaannya, berbanding terbalik dengan pemegang saham yang dalam hubungannya dengan perusahaan yang dimiliki hanya berpegang pada informasi yang diberikan manajemen, seperti laporan keuangan yang diterbitkan tiap periodenya. Pemisahan kepentingan antara agen dan prinsipal sangat beresiko menghadapi masalah yang disebut sebagai masalah agensi (agency problem). Asumsi bahwa agen adalah pihak yang lebih mengetahui informasi keadaan perusahaan yang sebenarnya dapat memotivasi agen untuk cenderung melakukan perilaku menyimpang.

Free Cash Flow

Free cash flow atau cash flow from assets bukanlah saldo kas pada neraca perusahaan, melainkan pada kas yang masih tersedia setelah perusahaan memperoleh kas dari kegiatan operasi menggunakannya untuk berbagai pengeluaran (Sukmawati, 2019). Free Cash Flow atau arus kas bebas didefinisikan sebagai kas yang tersisa setelah adanya pengurangan antara White et al (2003) menyatakan free cash flow sebagai aliran kas diskresioner yang tersedia bagi perusahaan, arus kas dari aktifitas operasi dengan penggunaan modal untuk memenuhi aktifitas produksi saat ini. Arus kas bebas sebagai kas yang dihasilkan oleh perusahaan setelah berbagai pengeluaran yang timbul yang menyebabkan kas keluar, jadi free cash flow menggambarkan berapa besaran uang tunai yang ada dalam perusahaan yang dapat digunakan perusahaan untuk pembayaran hutang, pembelanjaan modal dengan orientasi pertumbuhan dan pembayaran kepada pemegang saham baik dalam bentuk dividen. Ross at all (2000) mendefinisikan free cash flow sebagai kas perusahaan yang dapat didistribusikan kepada kreditur atau pemegang saham yang tidak digunakan untuk modal kerja (working capital) atau investasi pada aset tetap.

Menurut kieso (2007) free cash flow adalah jumlah dari discretionary cash flow yang dimiliki perusahaan untuk membeli tambahan investasi, hutang, membeli treasury stok atau atau penambahan sederhana atas likuiditas. Free Cash Flow (FCF) diukur dengan membagi FCF dengan Total Aset pada periode yang sama dengan tujuan agar lebih comparable bagi

(6)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 744

perusahaan, (Yaari 2016). Penggunaaan kas sisa tersebut dijadikan manajemen untuk mengambil keputusan perusahaan dalam kebijakan yang akan dijalankan perusahaan, kas sisa tersebut dapat juga mengurangi konflik yang timbul dari a gency problem. Salah satunya dengan memproyeksikan kebijakan dividen yang cenderung berpihak kepada pemegang saham. Free cash flow dapat diukur dengan menggunakan rumus:

Total assets Free cash flow = arus kas operasional – arus kas investasi Sumber: Lailatu Amanah & krisdariyansyah, 2020

Likuditas

Likuiditas diartikan sebagai kemampuan perusahaan melunasi seluruh kewajiban jangka pendeknya dan mendanai operasional usaha (Suharli, 2006). Perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya akan membutuhkan dana pinjaman atau hutang dari pihak lain, dibarengi juga dengan kemampuan perusahaan tersebut untuk memenuhi hutangnya tersebut.

Perusahaan yang memiliki tingkat likuiditas tinggi mengisyaratkan perusahaan tersebut mampu melunasi hutang jangka pendeknya dalam satu periode tersebut, hal tersebut selaras dengan baiknya posisi keuangan yang dialami perusahaan. Menurut kasmir (2017) Current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau hutang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan Hanafi dan Halim (2009) menyatakan bahwa likuiditas mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Semakin tinggi likuiditas perusahaan, maka seharusnya semakin tinggi pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Syamsudin (2002) mengatakan bahwa likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Perusahaan yang liquid cenderung akan melakukan pendanaan melalui pinjaman, karena perusahaan mampu membayar bunga dari pinajaman. Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung mellau sumber

(7)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 745

informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan utang lancar (Sofyan Syafri Harahap). Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek perusahaan. Likuiditas menjadi perhatian serius pada perusahaan karena likuiditas memainkan peranan penting dalam kesuksesan perusahaan (Owolabi, 2012).

Perusahaan yang memiliki likuiditas yang baik maka akan dianggap memiliki kinerja yang baik oleh investor.Hal ini akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.

Likuiditas dapat diukur dengan Current Ratio, yang merupakan rasio antara aktiva lancar dibagi utang lancar (Sartono, 2000:62). Menurut Hanafi (2014) Current Ratio (CR) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi utang jangka pendeknya (jatuh tempo kurang dari satu tahun). Perhitungan analisis rasio likuiditas digunakan manajemen sebagai acuan pemilihan keputusan kebijakan dividen karena tingkat likuiditas perusahaan mencerminkan berapa kas yang ada untuk pemenuhan hutang jangka pendeknya, jika tingkat rasio rendah menandakan kas yang dimiliki perusahaan juga rendah, yang akan mempengaruhi pembayaran dividen bagi pemegang saham. likuiditas dapat diukur dengan menggunakan rumus:

Curren Ratio = Aktiva lancar Utang Lancar

Sumber: Sofyan Syarif Harahap. 2013

Laverage

Menurut Riyanto (2002) menyatakan bahwa leverage merupakan perimbangan penggunaan hutang dengan modal sendiri dalam suatu perusahaan. Leverage adalah kemampuan manajemen di dalam meningkatkan kegiatan aktivitas operasional perusahaan dengan meningkatkan hutang. Untuk menjaga modal sendiri, manajemen perusahaan menggunakan pinjaman atau hutang pada pihak luar untuk dimanfaatkan sebagai cara mengekspansi kegiatan operasinya. Leverage merupakan rasio total hutang banding total ekuitas perusahaan, hasil

(8)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 746

perhitungan rasio tersebut dapat dijadikan manajemen untuk menilai resiko yang akan dihadapi perusahaan.

Laverage mengisyaratkan bagaimana perusahaan memenuhi kewajibannya dengan menggunakan hutang, yang mengakibatkan meningkatnya resiko yang selaras dengan peningkatan return yang diharapkan untuk perusahaan. Leverage adalah rasio yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukan oleh bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang, Kasmir (2012). Laverage atau solvabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan apabila perusahaan tersebut dilikuiditaskan, baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka Panjang (Munawir, S.2010). Laverage ada rasio yang menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun asset.

Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (equity). Perusahaan yang baik hanya memiliki komposisi modal yang lebih besar dari utang (sofyan syafri harahap,2017).

Laverage merupakan gambaran kemapuan suatu perusahaan dalam memenuhi dan menjaga kemampuannya untuk selalu mampu memenuhi kewajibannya dalam membayar hutang secara tepat waktu (irham fahmi, 2017). Laverage atau solvabilitas merupakan kemapuan suatu perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban-kewajiban jangka pendek maupun jangka Panjang apabila perusahaan suatu sat akan ditutup. Solvabilitas daphat pula diartikan perbandingan antara seluruh jumlah harta atau kekayaan dengan seluruh jumlah utang-utang perusahaan pada saat perusahaan itu dijual. Laverage adalah rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memenuhi semua kewajiban finansial jangka Panjang (Mia lasmi wardiyah, 2017). Leverage dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Total Equity

Debt To Equity Ratio = Total Debt

Sumber: Mia Lasmi Wardiyah, 2017

(9)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 747

Kebijakan Dividen

Menurut Irham Fahmi (2020) Kebijakan dividen adalah keputusan manajemen tentang besar kecilnya jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham. kebijakan dividen merupakan proporsi laba yang dibayarkan kepada pemegang saham, yang besaran pembagiannya bergantung oleh keputusan yang diambil perusahaan dengan berbagai aspek yang mempengaruhinya. Kebijakan dividen merupakan salah satu kebijakan yang harus diambil oleh manajemen untuk memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode akan dibagi semua atau sebagaian untuk dividen dan Sebagian lagi tidak dibagi dalam bentuk laba ditahan (Sutrisno, 2012). Kebijakan dividen merupakan aktivitas keuangan yang berkaitan dengan distribusi laba yang diperoleh oleh perusahaan. Hingga saat ini masih timbul pendapat bahwa kebijakan dividen ini merupakan bagian dari keputusan pendanaan.

Kebijakan dividen menyangkut keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan seharusnya dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk kas dividen dan pembelian kembali saham atau laba tersebut sebaiknya ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembelanjaan investasi di masa datang. kebijakan dividen dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

DPR = DPS (Dividend Per Share EPS (Eraning Per Share)

Sumber: Irham fahmi, 2020

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan penelitian ini merupakan penelitian asosiatif. Sugiyono (2014:56) menyatakan pendekatan kuantitatif yang berbentuk asosiatif dengan tipe kausal adalah jenis penelitian yang menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020.

(10)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 748

Populasi dalam penelitian ini sebanyak 36 (tiga puluh enam) perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2016 s/d 2020, sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6(enam) perusahaan, dalam penentuan sampel ini dengan mengunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan berbagai kriteria.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasrkan table diatas dapat dilihat besarnya Rsquarepada variabel dependen DPR adalah 0,92 hal ini berarti 92% variabel dependen DPR dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen yang terdiri dari Free cash flow (X1), Likuiditas (X2), dan Laverage (X3) dan sisanya (100% - 92%=8%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model penelitian ini.

ANOVAa

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 126680.986 3 42226.995 .877 .466b Residual 1251655.314 26 48140.589

Total 1378336.300 29 a. Dependent Variable: DPR

b. Predictors: (Constant), DER, FCF, CR

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .303a .092 -.013 219.40964

a. Predictors: (Constant), DER, FCF, CR b. Dependent Variable: DPR

(11)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 749

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Fhitung < Ftabel (0.877 < 1.70814) dengan nilai sig 0.46 > 0.05. Maka dapat disimpulkan H1 ditolak dan HO diterima, artinya maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel independen Free cash flow, Likuiditas, dan Laverage secara simultan tidak berpengaruh terhadap Kebijakan Dividen.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menenai pengaruh free cash flow, likuiditas, dan laverage terhadap kebijakan dividen maka dapat disimpulkan:1) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama ( Ha1) diketahui nilai signifikasi Free cash flow 0.292 > 0,05 dan nila t hitung - 1.075 < t table 1.705, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti Free Cash Flow tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Dan dengan demikian ketidakstabilan nilai pada rata-rata free cash flow pada perusahaan sub sektor food and beverages tahun 2016-2020 tidak mempengaruhi untuk pengambilan keputusan atas dividen yang dibagikan setiap tahunnya. 2) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua (Ha2) diketahui nilai signifikasi Likuiditas 0.404> 0.05 dan nila t hitung 0.849 < t table 1.705, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolakm yang berarti Likuiditas tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

Dan dengan demikian ketidakstabilan nilai pada rata-rata Current Ratio pada perusahaan sub sektor food and beverages tahun 2016-2020 tidak mempengaruhi untuk pengambilan keputusan atas dividen yang dibagikan setiap tahunnya. 3) Berdasarkan hasil pebgujian hipotesis ketiga (Ha3) diketahui nilai signifikasi Laverage 0.567 > 0,05 dan nila t hitung -0.112 < t table 1.705, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolakm yang berarti Laverage tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Dan dengan demikian ketidakstabilan nilai pada rata-rata Laverage pada perusahaan sub sektor food and beverages tahun 2016-2020 tidak mempengaruhi untuk pengambilan keputusan atas dividen yang dibagikan setiap tahunnya. 4) Berdasarkan hasil pengujian secara simultan (Uji F) variabel FCF, CR, dan DER secara simultan tidak berpengaruh terhadap DPR. Berdasarkan Hasil output SPSS tabel 4.8 dapat diketahui bahwa nilai Fhitung < Ftabel

(0.877 < 1.70814) dengan nilai sig 0.46 > 0.05. Maka dapat disimpulkan H1 ditolak dan HO

diterima. Berdasarkan cara pengambilan keputusan uji simultan dalam analisis regresi dapat

(12)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 750

disimpulkan bahwa variabel FCF(X1), CR(X2), dan DER(X3) jika diuji secara bersama-sama secara tidak berpengaruh signifikan terhadap DPR besarnya nilai koefisien determinasi yaitu 0,092 sam dengan 92% angka tersebut mengandung arti FCF, CR, dan DER tidak berpengaruh terhadap DPR, sedangkan sisanya (100% - 92% = 8%) dipengaruhi variabel lain diluar model regresi ini.

Dan demikian terhadap ketidak stabilan nilai dividen yang diterima para pemegang saham setiap tahunnya, tidak dipengaruhi oleh free cash flow, likuiditas, dan laverage.

DAFTAR PUSTAKA

Aa Ngurah Dharma Adi Putra Dan Putu Vivi Lestari, “Pengaruh Kebijakan Dividen, Likuiditas, Profitabilitas, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan”, E-Jurnal Manajemen Unud, Vol.5 No 7, 4044-4070, 2016.

Faradila Wily Rakasiwi, Ari Pranadity, Rita Andini, “Pengaruh EPS, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Laverage, Sales Growth, Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Pada Industri Makanana Dan Minuman Yang Terdaftar Di BEI Tahun 201- 2015”, Ekonomika Dan Bisnis Akuntansi Universitas Pandanaran Semarang, 2017 Hanafi dan halim, “Analisis Laporan Keuangan”, (Yogyakarta: UPP STIM YPKN), 2018, p.77 Hestanto, “ Teori keagenan (Agency Teory) “, https://www.hestanto.web.id/teori-keagenan-

agency-theory/ (diakses pada 20 Mei 2021 pukul 15.49 wib)

Ignatius Leonardus Lubis, Bonar M Sinaga, Dan Hendro Sasongko, “Pengaruh Profitabilits, Struktur Modal, Dan Liquiditas, Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen, Vol.3 No. 3, September 2017.

Imam Ghozali, “Aplikasi Analisis Multivaite dengan program IBM SPSS 23”, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2016), p.19

Irham fahmi, “analisis kinerja keuangan”, (Bandung: CV.alfabeta), 2017, p.87

Kasmir, “analisis laporan keuangan”, (Pt. Raja Grafindo Persada:depok), 2017, p.134 Kasnita Bawamenewi Dan Afriyeni, “Pengaruh Profitabilitas, Laverage, Dan Likuiditas

Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”, Jurnal Pundi, Vol.03, No. 01, Maret 2019

(13)

Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa Volume 2 Nomor 2 Juli 2022

DOI Issue: 10.46306/vls.v2i2

Doi Artikel : 10.46306/vls.v2i2.108 751

Kieso donal e, “Akuntansi intermediate”, (Jakarta:Erlangga), 2007, p.212

Komang Ayu Novita Sari Dan Luh Komang Sudjarni, “Pengaruh Likuiditas, Laverage, Pertumbuhan Perusahaan, Dan Profitabilitas Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI”, E-Jurnal Manajemen Unud, Vol.4, No.

10, 3346-3374, 2015.

Krisardiyansah; Lailatul Amanah, “pengaruh free cash flow, profitabilitas, liquditas, dan laverage terhadap kebijaan dividen “, jurnal ilmu dan riset akuntansi Volume 9 Nomor 7 Juli 2020.

Margono, S. “Metode penelitian Pendidikan”, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), p.118 Mufizatun Nurhayati, “Pofitabilitas, Loquiditas, Dan Ukuran Perusahaan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Dividen Dan Nilai Perusahaan Perusahaan Sektor Non Jasa”, Jurnal Keuangan Dan Bisnis, Vol.5, No.2, Juli 2013

Munawir, S, Analisis Laporan Keuangan Edisi Keempat, Cetakan Kelima Belas, (Yogayakarta:

Liberty, 2010), p.32

Ni Komang Ayu Purnama Sari Dan I Gusti Ayu Nyoman Budiasih, “Pengaruh Kepemilikan Managerial, Kepemilikan Institusional, Free Cash Flow, Dan Profitabilitas Pada Kebijakan Dividen”, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.15.3, 2439-2466, 2006.

Sofyan syafri harahap, analisis kritis atau laporan keuangan,( Jakarta: Pt Raja Grafindo Pesada), 2013, p, 301

Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D”, (Bandung: Alfabeta,2017), p.14

Sukmawati Sukamulja, “Analisis Laporan Keuangan Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Investasi “(Yogyakarta: ANDI, 2019) hal 166.

Sutrisno, 2012, Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: Ekonisia, hal 266

. .

Referensi

Dokumen terkait

Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras

Secara keseluruhannya, kajian menunjukkan, isu yang paling sensitif dalam konteks teologi menurut persepsi penganut agama ialah berkenaan penghinaan kitab suci dan amalan

Masukan email yang belum pernah guna untuk daftar Shopee sebelum ni kemudian dia akan bagi tahu email verification dah di hantar ke email yang anda masukan sila cek...

“ Pembagian Bagi Hasil Perikanan Pada Nelayan Perahu Slerek (Studi Kasus Pada Organisasi Penangkapan di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten

Dengan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah merupakan serangkaian prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai

Keberadaan Penyidik PPNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purbalingga selama ini berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Purbalingga Nomor 22 Tahun 2003 Tentang

SPT yang disampaikan merupakan bukti penetapan sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 Ayat (2) UU KUP yang berbunyi: “Jumlah Pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan

yang tinggi sehingga meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat, serta, (5) Memegang teguh etika professional. Perlunya pengembangan kompetensi di kantor Camat Bontang