• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. knowledge, role of teacher, shcool dental hygiene

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK. knowledge, role of teacher, shcool dental hygiene"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA PERAN GURU DALAM PROGRAM USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS) DENGAN PENGETAHUAN TERHADAP TINGKAT KARIES GIGI SISWA KELAS V DI SEKOLAH DASAR NEGERI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOREANG TAHUN 2015

Nama penulis : Nina Rosdiana

ABSTRAK

Karies pada anak usia sekolah terus mengalami peningkatan dengan prevalensinya 3,57. Puskesmas Soreang memiliki kegiatan penyuluhan 4,6 % dan sikat gigi masal 5,5 % yang dilakukan oleh Guru UKGS masih sangat kurang sehingga menyebabkan pengetahuan anak masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran guru dalam program usaha kesehatan gigi sekolah (ukgs) terhadap pengetahuan dan tingkat karies gigi siswa di sekolah dasar negeri wilayah kerja puskesmas soreang.

Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan cross sectional.

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proportionate random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 94 siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan kuisioner dan checklist pemeriksaan karies. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif (univariat) dan bivariat (uji Chi-Square (2). Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan bermakna antara peran guru terhadap pengetahuan dan tingkat karies gigi dengan p= 0,0001. Penelitian ini merekomendasikan kepada institusi kesehatan, institusi pendidikan, dan orang tua untuk meningkatkan muatan informasi terkait kesehatan gigi dan perawtan gigi pada anak usia sekolah sehingga dapat mencegah terjadinya karies.

Kata kunci : karies, pengetahuan, peran guru, usaha kesehatan gigi sekolah Kepustakaan : 42, 2002-2015

(2)

RELATIONSHIP BETWEEN THE ROLE OF TEACHER IN IMPLEMENTING THE SCHOOL DENTAL HYGIENE EFFORT (UKGS) WITH KOWLEDGE TOWARD LEVEL OF DENTAL CARIES IN PRIMARY SCHOOL OF WORKING PUBLIC

HEALTH CENTER SOREANG AREA IN 2015 ABSTRAK

Caries in a school-age children increase with prevalence 3,57 %. Public health center Soreang have education of dental activity is 4,6 and brushing teeth together is 5,5% conducted by teacher UKGS still poor, its causing children knowledge is still lacking. The purpose of this study was to determine the relationship between role of teacher in implementing shcool dental hygiene effort against oral health with knowledge toward caries of primary school age children in working public health center soreang area.

The study was an analytic with cross sectional design. propotionate random sampling is used as the sampling techniques with total sample is 94 student.

Techniques of data collection using questionnaire and checklist that includes caries. Analysis using descriptive analysis (univariate) and bivariate (Chi- Square (2).

The result of this study showed that there is a significant relationship betwen role role of teacher in implementing shcool dental hygiene effort against oral health knowledge and caries of primary school age children in working public health center soreang area.

The study recommends to health care institutions, educational institutions, and parent to enhance the information content related to dental health and dental care at school-age children to prevent the occurence of dental caries.

Key word : carries, knowledge, role of teacher, shcool dental hygiene effort

References : 42, 2002-2015

(3)

PENDAHULUAN

Karies merupakan penyakit mulut yang menyerang gigi dan lebih banyak dijumpai pada anak-anak. Karies ini baru disadari jika merasakan sakit yang parah pada giginya. Gigi adalah bagian yang tersembunyi yaitu di dalam mulut, namun gigi bisa rusak jika pemiliknya tidak pernah memperhatikan dan merawatnya (Hiranya, 2010).

Organisasi kesehatan dunia menetapkan Oral Health Global Indikator For Year 2015 yaitu nilai DMFT anak usia 12 tahun tidak boleh lebih dari 3.

Ketetapan ini dianut oleh Departemen Kesehatan dimana status kesehatan anak 12 tahun rerata DMFT = 1 dan prevalensi karies <50%. Hasil DMF-T dapat diambil dari anak sekolah dasar dilakukan pada siswa kelas V atau rata- rata berumur 11-12 tahun. Kelompok kelas ini merupakan kelompok anak yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena terjadi transisi pergantian gigi susu ke gigi tetap (kemenkes, 2013).

Upaya yang dilakukan untuk masalah kesehatan gigi anak di sekolah dasar adalah program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). UKGS dilingkungan Sekolah Dasar binaan puskesmas mempunyai sasaran yaitu semua anak sekolah pendidikan dasar yang berumur 6-14 tahun. Program UKGS ini bisa membebaskan anak sekolah dari penyakit gigi dan mulut.

Program ini merupakan kegiatan promotif, preventif dan kuratif sederhana yang dilakukan kepada siswa sekolah dasar (Kemenkes, 2012).

Hasil riskesdas 2013, usaha kesehatan gigi sekolah selama ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Prevalensi Karies gigi mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2013. Hasil Riskesdas ini adalah karies anak sekolah dasar atau umur ≥ 10 tahun dan ≥ 12 tahun memiliki prevalensi nasional penyakit gigi dan mulut sebesar 25,9 %. Indeks DMF-T Indonesia sebesar 4,6 yang berarti kerusakan gigi penduduk Indonesia 460 buah gigi per 100 orang. Index DMF-T meningkat seiring dengan bertambahnya umur yaitu sebesar 1,4 pada kelompok umur 12 tahun, kemudian 1,5 pada umur 15 tahun,

(4)

1,6 pada umur 18 tahun. Demikian pula pada umur 34-44 tahun, umur 45-54 tahun 55-63 tahun dan umur ≥ 65 tahun (Riskesdas 2013).

Penduduk umur ≥10 tahun sebagian besar (93,8%) menyikat gigi setiap hari. Sebagian besar penduduk juga menyikat gigi pada saat mandi sore, yaitu sebesar 79,7 persen. Kebiasaan benar menyikat gigi penduduk Indonesia hanya 2,3 persen. Penduduk umur ≥10 tahunmenyikat gigi setiap hari dan berperilaku benar menurut karakteristik. Menurut tempat tinggal, di perkotaan lebih banyak berperilaku menyikat gigi benar dibandingkan perdesaan. Laki-laki (2,0) lebih rendah dibandingkan perempuan (2,5) (Riskesdas, 2013).

Pelaksanaan UKGS tenaga yang dilibatkan yaitu puskesmas, dokter gigi, perawat gigi, petugas UKS, guru SD dan dokter kecil. Guru SD adalah orang yang menyampaikan pengetahuan dan kebiasaan baik untuk anak didiknya. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar seorang anak, seperti belajar tentang perawatan gigi. Guru membantu siswa belajar dengan melatih, menerangkan, ceramah, mengatur disiplin, menciptakan pengalaman, dan mengevaluasi kemampuan siswa (Nurkolis, 2010).

Pengetahuan didapatkan dengan adanya penyuluhan kesehatan gigi pada anak sekolah dasar umur 6 - 12 tahun. Penyuluhan sangat penting karena pada usia tersebut adalah masa kritis, baik bagi pertumbuhan gigi geliginya juga bagi perkembangan jiwanya sehingga memerlukan berbagai metode dan pendekatan untuk menghasilkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang sehat khususnya kesehatan gigi dan mulut (Herijulianti, 2001).

Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Anak masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan gigi karena kurangnya pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi dibanding orang dewasa.

(5)

PEMBAHASAN

1. Gambaran Peran Guru Sekolah Dasar

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap peran guru SD pada 94 responden menggambarkan bahwa sebanyak 48 responden (51,1%) memiliki penilaian peran guru yang kurang baik. Hasil analisa dari peneliti bahwa responden yang menilai peran guru SD yang kurang baik dikarenakan pada umumnya responden memiliki peran guru yang masih belum optimal terutama dalam hal memberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut, kurangnya perhatian pada kesehatan gigi dan mulut siswanya, kurangnya pengetahuan guru terhadap kesehatan gigi dan mulut, dan kurangnya pelatihan dari dinas kesehatan terhadap pentingnya guru memberikan pendidikan kesehatan gigi.

Peran guru yang kurang adalah dimana guru dengan jumlah nilai 258 yang tidak melakukan surat rujukan agar anak berobat ke dokter gigi. Peran guru yang baik adalah dimana guru dengan jumlah nilai 275 sudah melaksanakan kewajiban utamanya yaitu memberikan pendidikan atau pelajaran tentang kesehatan gigi dan mulut pada siswanya

Menurut Kemenkes 2012 peran utama guru dalam kegiatan UKGS adalah menanamkan kebiasaan hidup sehat dan bersih agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Peran guru dalam program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah membantu tenaga kesehatan dalam pengumpulan data/ screening, pendidikan kesehatan gigi dan

(6)

mulut pada siswa, pembinaan dokter kecil pada siswa, latihan menggosok gigi, dan rujukan bila menemukan murid dengan keluhan penyakit gigi dan mulut.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan didapatkannya penilaian peran guru yang baik oleh responden yaitu sebesar 51 responden (54,3%).

Peran guru dapat disimpulkan baik, namun jika dilihat dari persentase peran guru baik baru setengahnya perlu adanya perbaikan lagi. Peran guru tersebut dapat dilakukan perbaikan-perbaikan pada setiap segi program UKGS yang kurang baik dimana program ini dilakukan oleh guru SD. Peran guru yang kurang baik dan harus diperbaiki dalam diantaranya yaitu pada segi memberikan pertolongan pertama pada siswa yang mengalami sakit gigi di sekolah karena responden menjawab paling rendah yaitu dengan nilai 258, diadakannya program UKGS di setiap sekolah minimal kunjungan petugas kesehatan, dan perlu ditingkatkan pendidikan kesehatan gigi secara maksimal.

2. Gambaran Pengetahuan Siswa Tentang Kesehatan Gigi

Hasil penelitian tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan pada 94 responden menggambarkan bahwa sebanyak sebanyak 26 responden (27,7 %) memiliki penilaian pengetahuan yang kurang baik. Hasil analisa dimana responden meniliki pengetahuan kurang baik karena berdasarkan kuisioner penelitan banyak siswa yang menjawab bahwa kebanyakan mereka memeriksakan gigi jika sakit saja dan memiliki pengetahuan bahwa menyikat gigi cukup dilakukan pada saat mandi pagi dan

(7)

sore. Pengetahuan siswa yang paling tinggi adalah pengetahuan tentang gigi yang sehat adalah gigi yang yang bersih dan tidak berlubang.

Menurut Notoatmodjo 2010 pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar pertanyaan “what”, melainkan akan menjawab pertanyaan “why” dan ”how”. Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan siswa sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidaknya kebersihan gigi dan mulutnya.

Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu, salah satunya melalui proses pendidikan.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan didapatkannya penilaian peran guru yang baik oleh responden yaitu 51 responden (54,3%), maka perlu adanya pemerataan dan peningkatan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini karena peran guru yang baik baru mencapai setengahnya, belum sampai 75%. Pendidikan ini dilakukan agar pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut meningkat dan merata. Usaha yang dilakukan agar pengetahuan kesehatan gigi dan mulut merata tersebut yaitu dengan melakukan perbaikan- perbaikan pada setiap segi program UKGS yaitu tentang penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, penyuluhan tentang cara dan waktu menyikat gigi yang baik, benar dan tepat, serta tentang pentingnya pemeriksaan gigi oleh dokter gigi.

(8)

3. Gambaran Karies Gigi Siswa Sekolah Dasar

Berdasarkan hasil penelitian tentang karies yang telah dilakukan pada 94 responden menggambarkan bahwa sebanyak sebanyak 25 responden (26,6 %) memiliki penilaian karies yang sedang dengan jumlah kariesnya ≥ 3 dan 26 orang memiliki tingkat karies rendah. Hasil analisa dari peneliti responden yang menilai tingkat karies kategori sedang yaitu sebanyak 26,6 % dikarenakan pada umumnya responden memiliki pengetahuan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut masih belum optimal terutama dalam hal merawat gigi dalam mulut.

Program UKGS ini berpengaruh terhadap status karies siswa.

Berdasarkan penelitian ini adidapatkan prevalensi rata-rata karies siswa pada UKGS tahap III adalah 0,27 dengan kategori karies sangat rendah, UKGS tahap II memiliki prevalensi karies 0,91 dengan kategori sangat rendah dan untuk UKGS tahap I yaitu prevalensi 2,01 yaitu dengan kategori karies rendah.

Hasil tersebut membuktikan bahwa program UKGS pada masa sekolah dasar mempunyai peranan penting untuk menigkatkan pengetahuan dan menjaga kesehatan gigi dan mulut siswa.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan didapatkannya 43 responden (45,7%) memliki tingkat keparahan karies yang sangat rendah maka perlu adanya program kesehatan gigi. Kegiatan UKS/UKGS dapat melindungi siswa dari berbagai penyakit sehingga siswa bisa belajar lebih maksimal dan aktif dan dapat mempertahankan status kesehatan gigi dan mulut. Program UKGS

(9)

dapat menanamkan kesadaran, kemauan dan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut melalui suatu program kesehatan yang terencana dan teratur.

4. Hubungan Antara Peran Guru Terhadap Pengetahuan Siswa Tentang Kesehatan Gigi

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara peran guru SD terhadap tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa SD menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peran guru SD terhadap tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa SD di wilayah Puskesmas Soreang Kabupaten Bandung Tahun 2015 yaitu dengan hasil (pvalue = 0,000).

Hasil analisa peneliti bahwa dengan didapatkannya hubungan antara peran guru SD terhadap tingkat pengetahuan siswa SD hal ini dapat dikarenakan bahwa peranan yang dihasilkan oleh Guru SD berpengaruh terhadap pengetahuan yang didapatkan oleh siswa SD.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Gusmaneli (2012), dimana dari studi pustaka ini menunjukkan bahwa pendidikan dimasa depan berorientasi kepada keterlibatan dan partisipasi aktif siswa dalam setiap kegiatan belajar. Penerapan teknologi pendidikan membawa dampak positif terhadap peranan guru di masa depan, yang ditandai dengan berubahnya peranan guru pada masa globalisasi dari pemberi informasi yang utama dalam proses pembelajaran.

Hasil penelitian lainnya yaitu oleh Widiyanti (2014) yaitu peran guru mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya pengaruh signifikan dengan nilai signifikansi F sebesar

(10)

0,000 lebih rendah dari 0,05 menunjukkan Ha diterima, sehingga hipotesis yang menyatakan “ada pengaruh peran guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran alat ukur di SMK Ganesa Demak tahun pelajaran 2013/2014” dapat diterima.

5. Hubungan Pengetahuan siswa SD Terhadap Karies Gigi Siswa

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara pengetahuan siswa SD terhadap tingkat kariesmenunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan siswa SD terhadap tingkat karies siswa SDdi wilayah Puskesmas Soreang Kabupaten Bandung Tahun 2015 (pvalue = 0,000).

Hasil analisa peneliti bahwa dengan didapatkannya hubungan antara pengetahuan terhadap tingkat karies siswa SDhal ini dikarenakan bahwa pengetahuan yang dimiliki dan didapat oleh siswa SD berpengaruh terhadap tingkat karies siswa SD.

Pengetahuan yang didapatkan dari guru dapat merubah perilaku anak dalam memelihara kesehatan gigi dan mulutnya. Pengetahuan akan waktu menyikat gigi anak ini masih kurang karena anak masih banyak yang menyikat gigi pada waktu mandi pagi dan sore hari 56 orang. Hasil pengetahuan yang cukup 54,3% mengubah perilaku dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut kemudian dapat menghasilkan tingkat karies yang sangat rendah 45,7%, sehingga semakin tinggi pengetahuan seseorang karies gigi akan semakin rendah bahkan bisa bebas karies.

Hasil penelitian ini didukung pula oleh beberapa hasil penelitian terdahulu, diantarnya yaitu hasil penelitian yang diungkapkan oleh Ferry

(11)

(2014) penelitian yang dilakukan pada anak usia 10-12 tahun, didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap status kebersihan gigi dan mulut karena pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah (2013) didapatkan hasil adanya hubungan antara pengetahuan anak tentang karies gigi dengan kejadian karies gigi dengan P=0.046. Penelitian yang dilakukan oleh Dewanti (2012) dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan perilaku perawatan gigi pada anak usia sekolah dengan hasil (p=0.013).

Usia anak sekolah dasar mengalami pergantian gigi susu ke gigi tetap atau gigi permanen dan memerlukan perhatian khusus dalam perawatan gigi.

Pergantian gigi ini dapat menyebabkan gigi rentan terkena karies. Anak usia 11-12 tahun ini merupakan masa pertumbuhan sehingga mereka akan mengkonsumsi segala jenis makanan untuk memenuhi energi yang dibutuhkan.

Anak akan sering mengkonsumsi makanan manis dan lengket yang memiliki sifat kariogenik. Makanan tersebut baik untuk tubuhnya, namun makanan tersebut dapat berpotensi menyebabkan karies gigi. Karies dapat dicegah, untuk itu makan makanan yang manis dan lengket boleh saja dilakukan dengan syarat setelah makan yang manis setelah 30 menit segera berkumur atau sikat gigi

(12)

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian hubungan peran guru dengan pengetahuan, kemudian pengetahuan berpengaruh terhadap tingkat karies gigi pada anak sekolah dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Soreang tahun 2015, dapat disimpulkan:

Guru sekolah dasar memiliki peranan baik dengan persentase 54,3% yang artinya guru SD di wilayah kerja Puskesmas Soreang baru setengahnya melaksanakan kewajiban dalam kegiatan UKGS. Peran guru ini memiliki pengaruh terhadap pengetahuan siswa dimana sebanyak 54,3% memiliki pengetahuan cukup. Faktor pengetahuan ini memberikan hasil karies siswa yaitu sangat rendah 45,7% yang berarti setiap siswa memiliki paling banyak 1 gigi berlubang.

Peran guru sebagai variabel pendahulu dari hubungan pengetahuan terhadap karies didapatkan terdapat hubungan yang bermakna dari peran guru dengan pengetahuan terhadap karies. Peran guru terhadap pengetahuan memiliki hubungan bermakna dengan pengetahuan yaitu nilai p value 0,0001 dan nilai PR 16.298 berarti peran guru yang baik kemungkinan siswanya mendapatkan tingkat pengetahuan 16.298 kali lebih baik. Pengetahuan memiliki hubungan bermakna terhadap karies dimana memiliki nila p value 0,0001 karena dengan semakin baik pengetahuan semakin rendah tingkat karies gigi.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Alhamda, S., 2011, Berita Kedoktera Masyarakat, Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status Karies Gigi, 27(2), 108-115.

Amaniah, N., 2009, Hubungan Faktor Manajemen dan Tenaga Pelaksana UKGS dengan Cakupan Pelayanan UKGS serta Status Kesehatan Gigi dan Mulut Murid Sekolah Dasar Di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2009, Tesis, Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara,

Andryani, D., 2013, Hubungan Peran Orang Tua Dan Guru Dengan Prilaku Menyikat Gigi Murid Di Sd N 1 Perumnas Way Kandis Bandar Lampung. KTI, Tanjung Karang, Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang.

Annisa,A., 2014, Perbedaan Prevalensi Karies Dan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi Pada Murid Sekolah Dasar Usia 9-10 Tahun Yang Memiliki Ukgs Dengan Yang Tidak Memiliki Ukgs Di Kecamatan Kolaka Tahun 2014, Skripsi, Makasar, Universitas Hasanuddin.

Arikunto, S., 2010, Prosedur Penelitian, Yogyakarta: Rineka Cipta Budiman, 2011, Penelitian Kesehatan, Bandung: PT. Refika Aditama.

Cameron A & Widmer R., 2008, Handbook of Pediatric Dentistry, Australia: Mosby Elsevier.

Chemiawan E., 2004, Perbedaan prevalensi karies pada anak sekolah dasar dengan program UKGS dan tanpa UKGS, Laporan Penelitian, Bandung,

Universitas Padjadjaran Bandung.

Citrawahti, DM., 2010, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Pendidikan Kesehatan Melalui Pembelajaran Tematik Bertema Kesehatan di SD, 43(19), 247- 254

Dahlan, MS., 2009, Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan, Jakarta: Salemba Medika.

Dewanti, 2012, Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dengan Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Usia Sekolah Di SDN Pondok Cina 4 Depok Fakultas Ilmu Kesehatan, Skripsi, Jakarta, Univeristas Jakarta.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, 2013, Laporan Bulanan Pelaksanaan Kesehatan Gigi dan Mulut, Bandung: Dinkes Kabupaten Bandung

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan replikasi dari Widyasari (2015), yang meneliti pengaruh good corporate governance yang diukur dengan proporsi komisaris independen,

[r]

Berdasarkan Surat Penetapan Nomor : 08/PJK-TR_03/2014 tanggal 24 Juni 2014 bersama ini kami umumkan nama penyedia jasa pada Pengadaan Langsung Jasa Konsultansi :. Kegiatan :

Seksi Pengawasan, mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan pengendalian teknis pelaksanaan pekerjaan jalar/jembatan, pemanfaatan jalan sesuai dengan ketentuan

Prinsip umum yang digunakan pada proses kompresi citra digital adalah mengurangi duplikasi data di dalam citra sehingga memori yang dibutuhkan untuk

Sasaran ketiga yang diampu oleh Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul adalah meningkatnya kualitas dan kuantitas sumberdaya peternakan, dengan

Hal ini sama seperti orangtua yang memilih untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah berbasis islam yang umumnya memiliki harapan agar putra-putrinya kelak dapat menjadi