MODEL PEMBERDAYAAN REMAJA PUTRI DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI PRIMER
BERBASIS MODAL SOSIAL
DISERTASI
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar Doktor Program Studi Penyuluhan Pembangunan / Pemberdayaan Masyarakat
Minat Promosi Kesehatan
Oleh MASRUROH NIM T641708004
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2021
i
commit to user
commit to user
commit to user
commit to user
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan disertasi dengan judul ” Model Pemberdayaan Remaja Putri Dalam Upaya Pencegahan Pernikahan Dini Primer Berbasis Modal Sosial” dengan baik. Disertasi ini dapat terselesaikan, tidak lepas dari keterlibatan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis menyampaikan hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum, sebagai Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah membuka seluas luasnya untuk menempuh studi di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Prof. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd, sebagai wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan masukan untuk kesempurnaan disertasi ini.
3. Dr. Sapja Anantanyu, M.Si, sebagai Kepala Program Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ko Promotor II yang telah banyak memberikan bimbingan.
4. Prof. Dr. Soetrisno, Sp.OG (K), sebagai Promotor, yang banyak memberikan waktu untuk bimbingan dan selalu memotivasi pada penulis.
5. Prof. Dr. Mahendra Wijaya, MS, sebagai Ko Promotor I yang telah dengan sabar membimbing dan memberikan banyak masukan pada penulis.
6. Prof. Dr. AA Subiyanto, dr., M.Kes, sebagai perwakilan dari Program Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan masyarakat, yang telah banyak memberikan masukan-masukan untuk kesempurnaan disertasi ini.
7. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, Ns.,M.Kes, sebagai penguji dari dalam UNS atas masukan dan bimbingannya.
8. Prof. Moch. Hakimi, dr., Sp.OG (K)., Ph.D, sebagai penguji dari luar UNS atas masukan dan bimbingannya.
9. Pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul yang telah memberikan ijin penelitian pada penulis.
v commit to user
10. Kepala Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen beserta jajarannya, yang telah memberikan ijin dan memfasilitasi penulis untuk melakukan penelitian diwilayahnya.
11. Seluruh informan penelitian, terima kasih atas sambutan hangat, waktu dan kesediannya untuk memberikan informasi pada penulis.
12. Seluruh staf admisi sekolah pascasarjana UNS dan Program Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat
13. Keluarga tercinta yang telah banyak memberikan banyak motivasi.
14. Teman-teman satu angkatan Prodi S3 Penyuluhan Pembangunan/
Pemberdayaan Masyarakat.
15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang turut mendukung penulis selama menempuh pendidikan S3.
Penulis menyadari bahwa disertasi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan yang akan datang. Harapan penulis semoga penelitian ini bermanfaat.
Yogyakarta, April 2021
Penulis
vi commit to user
Masruroh, T641708004, Model Pemberdayaan Remaja Putri Dalam Upaya Pencegahan Pernikahan Dini Primer Berbasis Modal Sosial. Disertasi.
Prof.Dr.Soetrisno, dr., Sp.OG (K) (Promotor), Prof.Dr.Mahendra Wijaya, MS, (Co-Promotor), dan Dr.Sapja Anantanyu, SP., M.Si (Co-Promotor 2). Program Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
RINGKASAN
Di dunia diperkirakan tahun 2030 mencapai 15,1 juta perempuan yang akan menikah pada usia di bawah 18 tahun. Kejadian pernikahan dini di Indonesia pada tahun 2018 di perkirakan mencapai 1.220.900. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan kelima dari 10 Provinsi terendah di Indonesia dalam kejadian pernikahan dini. Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kota Yogyakarta dengan angka pernikahan dini mencapai 11,29%. Angka tersebut paling tinggi jika dibandingkan dengan empat kabupaten lainnya. Dampak buruk pernikahan dini, tidak hanya pada kesehatan fisik, namun berdampak juga pada kesehatan psikologis dan sosial. Penyebab pernikahan dini antara lain karena kurang pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, alasan ekonomi dan faktor budaya. Kasus pernikahan dini ini terjadi pada remaja usia tengah dan sedang menempuh pembelajaran di sekolah menengah pertama. Masa perkembangan membuat para remaja cenderung untuk mencoba hal-hal baru dan belum mampu mengendalikan emosi. Pencegahan pernikahan dini merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi modal yang baik untuk melakukan pencegahan pernikahan dini.
Tujuan penelitian ini, meliputi : (1) menganalisis dan membuktikan kondisi remaja putri yang mengalami pernikahan dini di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, (2) menganalisis dan membuktikan proses terjadinya pernikahan dini di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, (3) menganalisis dan membuktikan proses pemberdayaan siswa menengah pertama dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul, (4) menganalisis dan membuktikan peran Stakeholder di masyarakat meliputi tokoh agama, tokoh masyarakat, keluarga dan teman, dalam pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul, (5) menganalisis dan membuktikan peran Stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul (dinas pendidikan, pemuda dan olah raga, dinas kesehatan, kementerian agama) dalam pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul, (6) menganalisis dan membuktikan peran Stakeholder pemerintah dan Stakeholder di masyarakat pada bonding, bridging serta linking dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul, (7) menganalisis dan membuktikan kemitraan dari dinas pendidikan, pemuda dan olah raga, dinas kesehatan, kementerian agama dalam pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, (8) menganalisis dan membuktikan self management remaja putri untuk pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, (9) merumuskan model pemberdayaan remaja putri dalam upaya promosi kesehatan pencegahan pernikahan dini primer berbasis modal sosial
vii commit to user
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Kedua Kecamatan tersebut merupakan Kecamatan dengan rata-rata tertinggi angka pernikahan dini. Jenis penelitian Kualitatif dengan strategi studi kasus deskriptif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, focus group discussion (FGD), dan dokumentasi. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Informan kunci sebanyak 45 orang, informan utama 19 orang dan 35 orang sebagai informan pendukung. Jumlah total informan adalah 99 orang. Triangulasi menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode.
Analisis data dengan analisis interaktif Miles Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) karakteristik remaja putri yang mengalami pernikahan dini : tinggal bersama keluarga, status ekonomi menengah ke bawah, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kurang, sehingga menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. Motivasi para remaja yang mengalami pernikahan dini mempunyai pacar karena merasa diperhatikan, terpenuhi uang jajan, dan rasa cinta yang mendalam, (2) proses terjadinya pernikahan dini di mayoritas karena kehamilan yang tidak diinginkan, sebagai penyebab KTD pada remaja putri adalah peran teman, bonding orang tua dan perang keluarga kurang optimal, (3) peran sekolah dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer melalui peer counselor tetapi pelaksanaan peer counselor kurang optimal, meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi melalui guru mata pelajaran IPA dan guru BK serta kerjasama lintas sektoral, melibatkan wali murid / orang tua untuk memecahkan masalah siswa dengan melakukan home visit, kemudian dengan padatnya proses pembelajaran dan kegiatan ekrakurikuler wajib maupun pilihan, (4) peran Stakeholder di masyarakat dimulai dari peran orang tua dan teman. Hasil penelitian menemukan bahwa peran orang tua dan teman kurang optimal, karena bonding orang tua dengan para remaja putri yang mengalami pernikahan dini kurang. Kedekatan para pelaku pernikahan dini dengan teman sebaya juga kurang. Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam pencegahan pernikahan dini dengan memberikan himbauan, edukasi dan pembinaan untuk melakukan pendewasaan usia perkawinan, (5) peran Stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul dalam upaya pencegahan pernikahan dini dengan melakukan sosialisasi peraturan bupati Kabupaten Gunungkidul tentang pencegahan pernikahan dini, memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, memberikan advocacy pada remaja dengan kasus KTD dan menerbitkan kebijakan terkait pernikahan dini, (6) peran Stakeholder pemerintah dan Stakeholder di masyarakat pada social capital untuk mencegah pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul: bonding antara remaja dengan orang tua kurang optimal, peran teman sebaya sebagai bridging kurang optimal, bentuk peran Stakeholder sebagai linking dalam pencegahan pernikahan dini antara lain memberikan edukasi melalui organisasi remaja dan bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk memberikan advocacy serta diterbitkannya kebijakan terkait pernikahan dini, dari ketiga bentuk modal sosial tersebut yang paling dominan adalah bonding, (7) kemitraan yang dilakukan oleh dinas pendidikan pemuda dan olahraga, dinas kesehatan serta kementerian agama dengan melakukan penyuluhan secara bersama-sama, kegiatan-kegiatan yang lain masih
viii commit to user
terkotak dalam program masing-masing, (8) self management remaja putri yang masih aktif sekolah mempunyai pengelolaan diri yang cukup baik, dan memiliki perspektif diri yang positif, (9) rumusan model pemberdayaan remaja putri sebagai upaya promosi kesehatan untuk mencegah pernikahan dini primer merupakan model hasil kolaborasi antara: aspek teoritis dan aspek temuan. Aspek teoritis dapat dilihat bahwa modal sosial dalam bentuk bonding, bridging dan linking merupakan suatu kekuatan untuk mencegah terjadinya pernikahan dini primer. Aspek temuan sesuai dengan theory of reasoned action bahwa sangat diperlukan subjective norms dalam pencegahan pernikahan dini sebagai bagian dari bentuk linking untuk mewujudkan peningkatan pendewasaan usia perkawinan pada seluruh lapisan masyarakat atas dukungan pemerintah. Kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan membangun jejaring yang lebih luas dalam upaya promosi kesehatan melalui pemberdayaan masyarakat berupa posyandu remaja, BKR dan PIK R.
Kesimpulan: rumusan model pemberdayaan remaja putri dalam upaya promosi kesehatan pencegahan pernikahan dini primer berbasis modal sosial, dilakukan dengan mengoptimalkan peran orang tua, keluarga, teman dan guru di sekolah. Pencegahan pernikahan dini primer dapat dilakukan dengan kesadaran masyarakat untuk melakukan pendewasaan usia pernikahan. Keberhasilan pendewasaan usia pernikahan dapat dilakukan dengan manajemen diri yang baik dari para remaja putri serta dukungan kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat.
ix commit to user
Masruroh, T641708004, Youth Empowerment Model in Prevention of Early Marriage Based on Social Capital. Dissertation. Prof. Dr. Soetrisno, dr., Sp.OG (K) (Promotor), Prof. Dr. Mahendra Wijaya, MS, (Co-Promotor), and Dr. Sapja Anantanyu, SP., M.Si (Co-Promotor) 2). Study Program Development extension / Community Empowerment Postgraduate Program, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
SUMMARY
It is estimated that 15.1 million women in the world will marry under the age of 18 in 2030. The incidence of early marriage in Indonesia in 2018 is estimated to reach 1,220,900. Yogyakarta Special Region Province ranks fifth of the 10 provinces in Indonesia with the lowest incidence of early marriage.
Gunungkidul is one of the districts located in Yogyakarta with an early marriage rate of 11.29%. This rate is the highest compared to the other four districts. The negative impact of early marriage is not only on physical health, but also on psychological and social health. The causes of early marriage include lack of knowledge about reproductive health, economic reasons, and cultural factors. The case of early marriage occurs among middle adolescents studying in junior high school. The development period makes them tend to try new things and are inable to control emotions. Prevention of early marriage is a shared responsibility between the government and the society. Cooperation between the government and the society can be a good asset to prevent early marriage.
The objectives of this study include: (1) analyzing and proving the condition of young women experiencing early marriage in Gunungkidul Regency, (2) analyzing and proving the process of early marriage in Gunungkidul Regency, (3) analyzing and proving the process of empowering junior high school students in attempt to prevent primary early marriage in Gunungkidul Regency, (4) analyzing and proving the role of stakeholders in the society, including religious leaders, community leaders, family, and friends, in preventing primary early marriage in Gunungkidul Regency, (5) analyzing and proving the role of government stakeholders in Gunungkidul Regency (Education, Youth and Sports Office, Health Office, and Ministry of Religion) in the prevention of primary early marriage in Gunungkidul Regency, (6) analyzing and proving the role of government and community stakeholders in bonding, bridging, and linking in attempt to prevent primary early marriage in Gunungkidul Regency, (7) analyzing and proving the partnerships of Education, Youth and Sports Office, Health Office, and Ministry of Religion in preventing primary early marriage in Gunungkidul Regency, (8) analyzing and proving the self-management of young women for the prevention of primary early marriage in Gunungkidul Regency, (9) formulating a model of empowering young women in health promotion efforts for the prevention of primary early marriage based on social capital.
This research was conducted in Ponjong Subdistrict and Playen Subdistric, Gunungkidul Regency, Yogyakarta. These two areas are the subdistricts with the highest average rate of early marriage. The type of this research is qualitative with a descriptive case study strategy. Data collection was carried out using in-depth interviews, observation, Focus Group Discussion (FGD), and documentation. The informants were selected using purposive and snowball sampling technique. The
x commit to user
key informants were 45 people, the main informants were 19 people, and 35 people were supporting informants. The total number of informants was 99 people. The triangulation was source triangulation and method triangulation. The data analysis was conducted using interactive analysis by Miles Huberman.
The results of this study indicate that: (1) the characteristics of young women experiencing early marriage were living with family, in middle to lower economic status, and having lack of knowledge about reproductive health, which causes unwanted pregnancy. The motivations of young women experiencing early marriage were having boyfriends so that they felt cared for, pocket money fulfilled, and a deep sense of love; (2) the process of early marriage in majority was due to unwanted pregnancies. The causes unwanted pregnancies among young women were the role of friends, parents’ bonding, and less than optimal role of family; (3)the role of schools in attempt to prevent primary early marriage was through peer counselor, but the implementation of peer counselor was not optimal. There must be an increase knowledge of reproductive health through science teachers and counseling teachers as well as cross-sectoral cooperation, involving the student guardians/ parents to solve the student’s problems by conducting a home visit, and a dense learning process with compulsory and optional extracurricular activities; (4) the role of stakeholders in the society starting from the role of parents and friends. The results of the study found that the role of parents and friends was less than optimal because the bonding between parents and young women experiencing early marriages was lacking. The closeness of the perpetrators of early marriage with their peers was also lacking.
The role of religious and community leaders in preventing early marriage by providing advice, education, and guidance to mature the age of marriage; (5) the role of local government stakeholders in Gunungkidul Regency in attempt to prevent early marriage by disseminating the regulations of the Regent of Gunungkidul Regency regarding the prevention of early marriage, providing education on reproductive health, providing advocacy to adolescents with unwanted pregnancy cases, and issuing policies related to early marriage; (6) the role of government and community stakeholders on social capital to prevent primary early marriage in Gunungkidul Regency: bonding between adolescents and parents was less than optimal, the role of peers as bridging was less than optimal, and the role of stakeholders as linking in preventing early marriage were providing education through youth organizations, collaborating with local governments to provide advocacy, and issuing policies related to early marriage.
The most dominant of the three forms of social capital was bonding; (7) partnerships carried out Education, Youth and Sports Office, Health Office, and Ministry of Religion by conducting joint counselling and other activities that were still divided into their respective programs, (8) young women who were still active at school had fairly good self-management and a positive self-perspective, (9) the formulation of a model for empowering young women as health promotion efforts for the prevention primary early marriage was a model of collaboration between theoretical and finding aspects. From the theoretical aspect can be seen that social capital in the form of bonding, bridging, and linking is a force to prevent early marriage. The finding aspect is in accordance with the theory of
xi commit to user
reasoned action that it is necessary to have subjective norms in preventing early marriage as part of a form of linking to realize an increase in the maturity of the age of marriage in all levels of society with the support of the government.
Collaboration between the government and the society can be done by building a wider network in health promotion efforts through community empowerment like Posyandu Remaja (Integrated Youth Health Care Center), BKR (Youth Family Building) and PIK R (Youth Counselling and Information Center).
Conclusion: the formulation of a model for empowering young women in health promotion efforts to prevent primary early marriage based on social capital is carried out by optimizing the roles of parents, family, friends, and teachers at school. Prevention of primary early marriage can be done with public awareness to mature the age of marriage. The success of marriage maturity can be done with good self-management from young women and the support of awareness from all levels of society.
xii commit to user
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR. ... v
RINGKASAN. ... vii
SUMMARY. ... x
DAFTAR ISI. ... xiii
DAFTAR TABEL. ... xvi
DAFTAR GAMBAR. ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN. ... xviii
DAFTAR SINGKATAN. ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Kebaruan Penelitian ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 36
A. Landasan Teori ... 36
1. Pembangunan ... 36
2. Pemberdayaan masyarakat ... 40
3. Stakeholder ... 51
4. Peran ... 52
5. Sekolah ... 54
6. Pendidikan karakter ... 56
7. Self management ... 57
8. Promosi kesehatan ... 59
9. Model dan teori perilaku kesehatan ... 62
10. Motivasi perilaku ... 65
11. Remaja ... 67
12. Kesehatan reproduksi ... 68
13. Pernikahan dini ... 76
14. Keluarga ... 79
15. Modal sosial dan habitus ... 83
16. Kemitraan dan sinergitas ... 89
17. Pencegahan pernikahan dini di Kabupaten Gunungkidul ... 97
B. Kerangka Berfikir ... 102
C. Dimensi Penelitian ... 112
BAB III METODE PENELITIAN... 114
A. Desain Penelitian ... 114
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 115
C. Informan Penelitian ... 115
D. Jenis dan Sumber Data ... 118
xiii commit to user
E. Teknik Pengumpulan Data ... 121
F. Validasi Data ... 124
G. Pengolahan dan Analisis Data ... 125
H. Pertimbangan Etik ... 126
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 129
A. Hasil Penelitian ... 129
1. Profil daerah penelitian ... 129
a. Profil Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta... 129
b. Profil geografi, kependudukan dan sosial Kecamatan Ponjong ... 132
c. Profil geografi, kependudukan dan sosial Kecamatan Playen 134 2. Peran Stakeholder terhadap kebijakan pemerintah tentang pernikahan dini ... 137
3. Karakteristik remaja putri yang mengalami pernikahan dini di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 142
4. Gambaran kejadian pernikahan dini pada remaja putri di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 146
5. Peran sekolah menengah pertama dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer ... 149
6. Peran Stakeholder di masyarakat meliputi keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan teman dalam pencegahan pernikahan dini primer ... 159
7. Peran Stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul (dinas pendidikan, pemuda dan olahraga, dinas kesehatan dan kementerian agama) dalam pencegahan pernikahan dini primer .. 165
8. Peran Stakeholder masyarakat dan Stakeholder pemerintah daerah dalam proses sosial pada bonding, bridging dan linking untuk pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul ... 174
9. Kemitraan antara dinas pendidikan, pemuda dan olahraga, dinas kesehatan dan kementerian agama dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul ... 183
10. Self management sebagai salah satu bentuk solusi upaya pencegahan pernikahan dini primer ... 188
11. Pemberdayaan remaja dalam upaya promosi kesehatan pencegahan pernikahan dini primer berbasis modal sosial ... 193
B. Pembahasan ... 204
1. Karakteristik remaja putri yang mengalami pernikahan dini di Kecamatan Ponjong dan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 204
2. Gambaran kejadian pernikahan dini pada remaja putri di Kabupaten Gunungkidul ... 205
3. Proses pemberdayaan remaja di sekolah menengah pertama dan di masyarakat dalam upaya pencegahan pernikahan dini ... 209
xiv commit to user
4. Peran Stakeholder di masyarakat meliputi tokoh agama, tokoh masyarakat, keluarga dan teman, dalam pencegahan pernikahan
dini primer di Kabupaten Gunungkidul ... 219
5. Peran Stakeholder pemerintah daerah Gunungkidul (dinas pendidikan pemuda dan olahraga, dinas kesehatan, kementerian agama) dalam pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul ... 220
6. Peran Stakeholder pemerintah dan Stakeholders masyarakat pada bonding, bridging dan linking dalam pencegahan pernikahan dini primer ... 222
7. Kemitraan antara dinas pendidikan, pemuda dan olahraga, dinas kesehatan dan kementerian agama dalam upaya pencegahan pernikahan dini primer di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta .. 234
8. Self management sebagai salah satu bentuk solusi upaya pencegahan pernikahan dini primer ... 237
9. Model pemberdayaan remaja dalam upaya promosi kesehatan pencegahan pernikahan dini primer berbasis modal sosial Kabupaten Gunungkidul ... 238
C. Keterbatasan Penelitian ... 270
D. Novelty ... 271
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 272
A. Simpulan ... 272
B. Implikasi ... 278
C. Saran ... 281
DAFTAR PUSTAKA ... 285
LAMPIRAN ... 298
xv commit to user
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Jenis Data Penelitian ... 120 Tabel 4.1 Jumlah Dusun, RT dan RW di Kecamatan Ponjong ... 132 Tabel 4.2 Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kecamatan
Ponjong ... 133 Tabel 4.3 Jumlah Dusun, RT dan RW di Kecamatan Playen ... 135 Tabel 4.4 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan
Playen ... 136 Tabel 4.5 Matrik Kebijakan Pemerintah Tentang Perlindungan Anak
dan Pencegahan Pernikahan Dini ... 141 Tabel 4.6 Matrik Karakteristik 10 Remaja Putri yang Mengalami
Pernikahan Dini di Kecamatan Ponjong dan Playen ... 145 Tabel 4.7 Matrik Gambaran Terjadinya Pernikahan Dini pada Remaja
Putri di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 147 Tabel 4.8 Matrik Peran Sekolah Menengah Pertama dalam Upaya
Pencegahan Pernikahan Dini Primer di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 158 Tabel 4.9 Matrik Peran Stakeholder di Masyarakat dalam Upaya
Pencegahan Pernikahan Dini Primer di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ... 164 Tabel 4.10 Matrik Peran Stakeholder Pemerintah Daerah dalam
Pencegahan Pernikahan Dini Primer di Kabupaten Gunungkidul ... 173 Tabel 4.11 Matrik Peran Stakeholder di Masyarakat dan Stakeholder
Pemerintah Daerah dalam Proses Sosial Bonding, Bridging dan Linking dalam Upaya Pencegahan Pernikahan Dini
Primer di Kabupaten Gunungkidul ... 181 Tabel 4.12 Matrik Kemitraan Stakeholder Pemerintah Daerah Kabupaten
Gunungkidul (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan) dalam
Pencegahan Pernikahan Dini Primer ... 187 Tabel 4.13 Matrik Self Management Remaja Putri yang Mengalami
Pernikahan Dini di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen ... 190 Tabel 4.14 Matrik Self Management Remaja Putri Siswa Sekolah
Menengah Pertama di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen ... 192
xvi commit to user
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Diagram Komponen Karakter yang Baik (Lickona, 2016) .... 56 Gambar 2.2 Kerangka Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned
Action) (Sulaiman, 2016b) ... 65 Gambar 2.3 Contoh Model Kemitraan Kesehatan ... 94 Gambar 2.4 Kerangka Berfikir ... 108 Gambar 4.1 Rumah Salah Satu Remaja yang Mengalami Pernikahan
Diri ... 143 Gambar 4.2 Salah Satu Remaja yang Mengalami Pernikahan Diri ... 144 Gambar 4.3 Buku Nikah dan Akta Cerai Remaja Putri yang Mengalami
Pernikahan Dini ... 148 Gambar 4.4 Proses Belajar Mengajar dan Ruang BK sekolah Menengah
Pertama di Kecamatan Ponjong ... 154 Gambar 4.5 Kegiatan Olahraga dan Ekstrakurikuler Pramuka ... 156 Gambar 4.6 Kantor Kecamatan dan KUA Ponjong ... 165 Gambar 4.7 Bagan Temuan Upaya Pencegahan Pernikahan Dini di
Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen Gunungkidul .... 194 Gambar 4.8 Bagan Temuan Terjadinya Pernikahan Dini pada Remaja
Putri di Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Playen ... 206 Gambar 4.9 Rumusan Model Pemberdayaan Remaja Putri Dalam Upaya
Promosi Kesehatan Pencegahan Pernikahan Dini Primer Berbasis Modal Sosial ... 239
xvii commit to user
DAFTARLAMPIRAN
Lampiran 1 : Ethical Clearance ... 298
Lampiran 2 : Ijin penelitian ... 299
Lampiran 3 : Permohonan menjadi Informan dan Informed Consent ... 304
Lampiran 4 : Daftar nama informan penelitian ... 307
Lampiran 5 : Panduan wawancara ... 311
Lampiran 6 : Tabel Matrik Hasil Penelitian ... 321
Lampiran 7 : Focus Group Discussion ... 329
Lampiran 8 : Dokumentasi Penelitian ... 402
Lampiran 9 : Peta Kabupaten Gunungkidul ... 410
Lampiran 10 : Turnitin Disertasi ... 413
Lampiran 11 : Publikasi Jurnal dan Prosiding ... 415
Lampiran 12 : Turnitin Publikasi Jurnal ... 428
Lampiran 13 : Turnitin Publikasi Prosiding ... 438
xviii commit to user
DAFTAR SINGKATAN
AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome AKB : Angka Kematian Bayi
AKI : Angka Kematian Ibu BKR : Bina Keluarga Remaja
DHS : Demographic and Health Surveys
DP3AKBPMD : Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB, Pemberdayaan Masyarakat Desa
FFS : Farmers Field School FGD : Focus Group Discussion GenRe : Generasi Berencana
HIV : Human Immunodeficiency Virus
ICPD : International Conference on Population and Development ISO : International Standardization Organization
KB : Keluarga Berencana
KIE : Konseling Informasi dan Edukasi KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga KRR : Kesehatan Reproduksi Remaja KUA : Kantor Urusan Agama
MI : Madrasah Ibtidaiyah LSE : Life Skills Education
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals MTs : Madrasah Tsanawiyah
PCD : People Centered Development
PIK R : Pusat Informasi dan Koseling Remaja PKHS : Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat PKMD : Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa PKPR : Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja PLA : Participatory Learning and Action POD : Pendidikan Orang Dewasa
PRA : Participatory Rural Appraisal PTM : Penyakit Tidak Menular RRA : Rapid Rural Apprasial
SD : Sekolah Dasar
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia SDM : Sumber Daya Manusia
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SL : Sekolah Lapangan
STDs : Sexually Transmit Disease SWOT : Strenght, Weeknes, Opportunity
xix commit to user
TP PKK : Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga TRA : Theory of Reasoned Action
UKBM : Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat USC : University of Southern California
WHO : World Health Organization YIC : Youth Informaion Centres ISK : Inferksi Saluran Kemih IMS : Infeksi Menular Seksual OLS : Ordinary Least Square
xx commit to user