V-1 BAB V
ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL
Bab ini berisi tentang analisis dan interpretasi hasil penelitian. Pada tahap ini akan dilakukan analisis permasalahan prosedur budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka dan analisis Standar Prosedur Operasi Budidaya kumis kucing yang dihasilkan.
5.1 Analisis Permasalahan di Klaster Biofarmaka
Permasalahan kualitas hasil panen yang belum memenuhi standar pasar ekspor disebabkan oleh beberapa faktor. Kualitas yang belum dapat terpenuhi terkait proses budidaya adalah daun yang rusak, daun tidak berwarna hijau, dan daun mengandung zat kimia.
Faktor penyebab daun yang rusak disebabkan oleh faktor method, man, dan environment. Pada faktor method, Klaster belum memiliki prosedur pengendalian
OPT yang menyebabkan proses pengendalian hama yang menyerang tanaman belum dilakukan secara rutin oleh petani. Masalah ini diatasi dengan merancang SOP pengendalian OPT untuk dapat menyeragamkan prosedur pengendalian dan perlakuan yang tepat terhadap tanaman yang terjangkit hama penyakit. Pada faktor man, kurangnya koordinasi antar petani anggota Klaster menyebabkan setiap petani belum memiliki tingkat kesadaran yang sama akan pentingnya prosedur perawatan tanaman obat khususnya kumis kucing. Permasalahan ini dapat diatasi dengan melakukan penyuluhan secara berkala dan pemantauan terhadap prosedur kerja petani dengan melibatkan Dinas Pertanian agar petani lebih memahami pentingnya perawatan terhadap tanaman obat. Sehingga koordinasi antar anggota dapat terjalin dengan baik. Pada faktor environment, rusaknya daun diakibatkan karena proses pengumpulan hasil panen kumis kucing yang masih menggunakan karung. Permasalahan ini diatasi dengan perancangan SOP pemanenan.
Faktor penyebab daun tidak berwarna hijau disebabkan oleh faktor method.
pada faktor method, disebabkan karena belum adanya keseragaman dosis pupuk yang digunakan dan petani masih menggunakan pupuk anorganik atau pupuk
V-2
kimia. Permasalahan ini diatasi dengan perancangan SOP pemupukan yang memuat informasi terkait dosis dan jenis pupuk yang digunakan. Berdasarkan hasil diskusi sebagai usaha untuk mencapai tujuan sebagai pemasok bahan baku jamu di pasar ekspor disepakati bahwa pupuk yang digunakan 100% pupuk organik. Dalam jangka pendek, penggunaan pupuk kimia memang mampu mempercepat masa tanam karena kandungan haranya bisa diserap langsung oleh tanah. Namun di sisi lain dalam jangka panjang justru akan merusak kesuburan tanah.
Faktor penyebab daun mengandung zat kimia disebabkan oleh dua faktor yaitu, man dan method. Pada faktor man disebabkan rendahnya kesadaran petani akan bahaya penggunaan pestisida kimia pada tanaman obat. Menurut petani, penggunaan pestisida kimia cukup efektif dalam menanggulangi tumbuhnya gulma. Namun di sisi lain pestisida kimia pada tanaman obat akan mempengaruhi zat-zat yang terkandung di dalamnya dan dapat menyebabkan tidak terpenuhinya standar bahan baku di pasar ekspor. Pada faktor method, diketahui bahwa penggunaan pestisida kimia dapat merusak kandungan kimiawi dalam tanaman.
Pestisida yang digunakan oleh petani adalah pestisida untuk menyiangi gulma.
Kondisi tanaman penting untuk dipertimbangkan berkaitan dengan zat-zat yang terkandung di dalamnya dan dampaknya jika dikonsumsi oleh manusia.
Permasalahan ini diatasi dengan perancangan SOP perawatan tanaman kumis kucing.
Dalam perancangan SOP budidaya kumis kucing juga dilakukan perancangan formulir dari setiap kegiatan budidaya. Perancangan formulir ini digunakan untuk mencatat setiap proses kegiatan budidaya kumis kucing dan mempermudah proses pelacakan informasi terkait budidaya. Dengan adanya formulir ini akan mempermudah kontrol terhadap pelaksanaan SOP yang sudah disepakati oleh petani anggota Klaster.
5.2 Analisis Prosedur Budidaya Kumis Kucing di Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar
Proses budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka meliputi pemilihan bibit, penyemaian bibit, pengolahan tanah, pemupukan, penanaman,
V-3
pemeliharaan, pengendalian OPT, dan pemanenan. Selain mengamati proses budidaya kumis kucing yang dilakukan di Klaster Biofarmaka juga dilakukan studi pustaka mengenai prosedur budidaya kumis kucing melalui dokumen tertulis B2P2TO-OT dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Dari sumber tersebut ditemukan perbedaan pada beberapa tahapan kegiatan budidaya. Untuk mengetahui prosedur yang paling cocok dan dapat diimplementasikan di Klaster Biofarmaka, dilakukan kroscek dengan pihak petani.
Melalui proses kroscek tersebut diketahui bahwa tidak semua prosedur budidaya dari Kemenristekdikti dan B2P2TO-OT dapat diterapkan di Klaster Biofarmaka Karanganyar. Hal tersebut dapat dilihat pada proses pemilihan bibit, penyemaian bibit, pengolahan tanah, penanaman, pengendalian OPT, pemeliharaan, dan pemanenan.
Pada tahap pemilihan bibit yang dilakukan di B2P2TO-OT digunakan teknologi untuk mengetahui kemurnian bibit, mengetahui tingkat kadar air, dan pengujian terhadap kemampuan tumbuh bibit. Namun, teknologi tersebut dinilai kurang tepat untuk diimplementasikan di Klaster Biofarmaka Karanganyar karena terlalu kompleks untuk dilakukan oleh petani. Dikatakan demikian sebab petani tidak memiliki kemampuan mengenai berbagai uji dan peralatan laboratorium.
Oleh sebab itu, prosedur pemilihan bibit di Klaster Biofarmaka Karangayar mengadaptasi proses pemilihan bibit menurut Kemenristekdikti yaitu, pemilihan bibit secara manual dengan cara memilih bibit yang memenuhi syarat bibit yang baik secara fisik, yaitu bibit yang berasal dari tanaman yang sehat, tidak ada gulma, sudah cukup umur ditandai dengan batang yang sudah berkayu.
Pada tahap penyemaian bibit terdapat perbedaan antara Klaster Biofarmaka, Kemenristekdikti dan B2P2TO-OT. Penyemaian bibit di Klaster Biofarmaka menggunakan teknik penyemaian di dalam tanah sedangkan pada Kemenristekdikti penyemaian dilakukan di luar tanah yaitu penyemaian diluar media tumbuh. Penyemaian di luar tanah memberikan hasil pertumbuhan bibit yang seragam. Klaster Biofarmaka melakukan penyemaian dengan teknik penyemaian di dalam tanah karena hal tersebut dinilai lebih praktis oleh para petani meskipun hasil yang diperoleh tidak sebaik penyemaian di luar tanah.
V-4
Sedangkan perbedaan teknik penyemaian antara Klaster dan B2P2TO-OT adalah pengunaan polybag sebagai media penyemaian. Perbedaan juga terjadi pada teknik penyemaian yang dilakukan oleh petani Klaster, Kemenristekdikti, dan B2P2TO-OT. Petani tidak memberikan perlakuan khusus pada bibit yang akan disemai dan setelah disemai sedangkan menurut Kemenristekdikti dan B2P2TO- OT bibit yang akan disemaikan perlu diberi abu gosok terlebih dahulu untuk mencegah pembusukan bibit. Menurut Kemenristekdikti bibit hasil persemaian disemprot menggunakan pestisida sebelum dilakukan proses penanaman.
Berdasarkan hasil kroscek yang telah dilakukan, teknik penyemaian mengadaptasi prosedur dari B2P2TO-OT dan Kemeristekdikti dengan melakukan teknik penyemaian di dalam polybag dan memberi abu gosok pada bekas potongan bibit untuk mencegah terjadinya pembusukan.
Tahap pemeliharaan yang dilakukan oleh B2P2TO-OT adalah dengan menggunakan mulsa. Penggunaan mulsa adalah sebagai upaya pengganti proses penyiangan. Namun, hal tersebut tidak dapat diimplementasikan di Klaster karena harga mulsa yang dinilai tinggi oleh para petani. Oleh sebab itu, prosedur pemeliharaan mengadaptasi dari prosedur Kemenristekdikti yaitu dengan melakukan penyiangan secara manual dengan membersihkan gulma secara berkala tanpa menggunakan pestisida.
Pada gambar 5.1 dapat dilihat perbedaan antar budidaya yang dilakukan di Klaster Biofarmaka Karanganyar dan B2P2TO-OT
Gambar 5.1 Perbedaan proses budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka (kanan) dan B2P2TO-OT (kiri)
Tahap penyulaman tidak terdapat perbedaan. Pada tahap ini proses yang dilakukan Klaster, B2P2TO-OT adalah sama yaitu, dengan mengganti tanaman
V-5
yang pertumbuhannya terganggu dengan tanaman baru yang sehat dan berumur sama.
Prosedur budidaya di Klaster Biofarmaka mengadaptasi beberapa prosedur dari Kemenristekdikti dan B2P2TO-OT, yaitu prosedur pengendalian OPT. Dalam rangkaian prosedur budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka tidak terdapat prosedur pengendalian OPT secara spesifik. Pengendalian OPT hanya dilakukan pada tanaman yang sudah terserang penyakit dengan mencabut tanaman kemudian mengganti dengan tanaman yang baru yang berumur sama. Sedangkan menurut B2P2TO-OT dan Kemenristekdikti adalah dengan mengambil tanaman yang berpenyakit beserta tanah disekitarnya kemudian tanaman tersebut dibakar di tempat lain dan tanah bekas tanaman diberi kapur sebelum ditanami kembali.
Oleh sebab itu, prosedur pengendalian OPT di Klaster Biofarmaka mengadaptasi keseluruhan proses pengendalian OPT yang dilakukan Kemenristekdikti dan B2P2TO-OT.
Perbedaan terdapat pada prosedur pemupukan antara Klaster Biofarmaka dan Kemenristekdikti adalah pada dosis pupuk yang diberikan. Di Klaster Biofarmaka dosis pupuk yang diberikan tidak diseragamkan, dosis pupuk masing- masing petani berbeda dan jenis pupuk yang digunakan berasal dari pupuk organik dan anorganik. Sedangkan di Kemenristekdikti dan B2P2TO-OT adalah 0,5-1 kg per lubang tanam dan jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk organik bisa berupa pupuk kompos atau kandang atau campuran keduanya. Dosis dan jenis pupuk berpengaruh pada kualitas hasil panen yang dihasilkan, sebagai contoh penggunaan pupuk anorganik yang tidak sesuai dosis mengakibatkan warna daun tidak hijau. Oleh sebab itu, untuk menjaga kualitas hasil panen prosedur pemupukan di Klaster Biofarmaka mengadaptasi prosedur pemupukan dari B2P2TO-OT. Pemupukan dengan dosis 0,5 kg perlubang tanam dengan jenis pupuk kandang atau pupuk kompos atau campuran keduanya.
Tahap pemanenan terdapat perbedaan antara Klaster Biofarmaka Karanganyar, B2P2TO-OT, dan Kemenristekdikti. Perbedaaan terlatak pada umur panen yang pertama. Umur panen kumis kucing di Klaster adalah 8-10 minggu, sedangkan di B2P2TO-OT dan Kemenristekdikti adalah 4-6 minggu. Umur panen pertama berpengaruh pada kualitas hasil panen berikutnya. Oleh sebab itu, untuk
V-6
menjaga kualitas hasil panen prosedur pemanenan di Klaster Biofarmaka mengadaptasi prosedur pemanenan B2P2TO-OT dan Kemenristekdikti.
5.3 Analisis Prosedur Budidaya Kumis Kucing Hasil Evaluasi
Dari dokumen SOP yang telah dirancang dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah rancangan SOP budidaya kumis kucing dapat dipahami oleh petani sebagai pihak yang akan mengguanakan SOP tersebut. Evaluasi rancangan dokumen SOP dilakukan dengan cara diskusi bersama Ketua dan Seksi Usaha Klaster Biofarmaka. Dari hasil diskusi diperoleh saran dan perbaikan untuk rancangan SOP budidaya kumis kucing.
Dari hasil diskusi bersama perwakilan petani dengan menggunakan checklist.
Evaluasi dari proses budidaya yang dilakukan di Klaster yaitu proses pemilihan benih. Berdasarkan hasil diskusi, proses menyisakan tanaman induk untuk ditanam kembali diganti dengan proses menyisakan bibit untuk penyulaman dan proses tersebut termasuk dalam SOP penanaman. Pada proses memilih tanaman induk yang akan dijadikan bibit perlu ditambahkan ciri tanaman sehat, yaitu tidak ada gulma.
Berdasarkan hasil diskusi pada proses penyemaian benih ditambahkan proses menutup benih dengan jerami. Sehingga pada keterangan alat dan bahan ditambahkan jerami, gembor sebagai alat untuk menyirami benih, dan polybag sebagai media persemaian. Media polybag dipilih karena faktor kepraktisan tidak perlu melakukan proses pengolahan tanah untuk persemaian. Pada proses penyiraman bibit disesuaikan dengan kondisi cuaca. Waktu penyiraman ditentukan antara jam 06.00-10.00 WIB atau jam 15.00-17.00 WIB. Pemilihan waktu tersebut bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya penguapan air setelah tanaman disiram.
Pada proses pengolahan tanah, prosedur memberikan pupuk organik sebanyak 2 kg/lubang tanam tidak dapat dilaksanakan karena dosis tersebut terlalu banyak menurut petani yang akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan oleh petani. Sehingga proses pemupukan mengadaptasi proses pemupukan menurut Kemenristekdikti yaitu dengan mencampurkan 60-100 kg pupuk organik per 1 ha lahan.
V-7
Pada proses pengendalian OPT dilakukan secara rutin perlu ditentukan waktu rutin tersebut. Berdasarkan kesepakatan maka, inspeksi kebun dilakukan setiap 2 minggu sekali.
5.4 Analisis Formulir Kegiatan Budidaya Kumis Kucing
Formulir kegiatan disusun sebagai dokumentasi kegiatan budidaya. Formulir yang telah disusun bertujuan agar setiap proses budidaya dapat didokumentasikan dengan baik sehingga mempermudah proses penelusuran riwayat budidaya untuk dapat mengetahui informasi terkait pelaksanaan prosedur sesuai SOP. Secara keseluruhan petani dapat memahami isi dari rancangan formulir yang dibuat.
Ketentuan penggunaan dan pengguna formulir budidaya di Klaster Biofarmaka Karanganyar. Formulir budidaya digunakan dalam satu masa tanam dan diperbarui setiap pergantian masa tanam. Formulir budidaya ini digunakan di tingkat kelompok tani. Oleh sebab itu, pengisian formulir dapat dilakukan oleh petani dibawah pengawasan ketua kelompok tani yang bekerjasama dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Karanganyar melalui pertemuan yang dilakukan setiap satu bulan sekali.