PERBEDAAN PERTUMBUHAN BAYI 6 – 9 BULAN BERDASARKAN STATUS PEMBERIAN ASI (Studi Pada Bayi Usia 6 – 9 Bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya)
Widi Apriani Putri
1)Ai Sri Kosnayani, dan Lilik Hidayanti
2)Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan gizi Universitas Siliwangi
1)Dosen Pembimbing Bagian Gizi
2)Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi
ABSTRAK WIDI APRIANI PUTRI
PERBEDAAN PERTUMBUHAN BAYI 6 – 9 BULAN BERDASARKAN STATUS PEMBERIAN ASI (Studi Pada Bayi Usia 6 – 9 Bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya)
Anak balita menuju pada proses pertumbuhan sehingga memerlukan zat-zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu pemberian ASI Eksklusif merupakan makanan yang paling sempurna bagai bayi serta baik untuk pertumbuhan balitanya. Akan tetapi adanya makanan- makanan yang diberikan lainnya seperti makanan pendamping ASI, sehingga jika tidak terpenuhi gizi yang baik akan berdampak pada Status gizi buruk atau pun kurang pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10 persen. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan berdasarkan status pemberian ASI eksklusif di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah metode komparatif dengan pendakatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Wilayah Kerja Puskesmas Parungponteng yaitu sebanyak 38 orang. dengan teknik sampling adalah total sampling dengan keseluruhan populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 38 responden. Analisis univariat bahwa Pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan adalah baik dan ibu tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 20 orang (52.63%). Hasil analisa bivariat diperoleh bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan Bayi 6 – 9 Bulan Berdasarkan Status Pemberian ASI Di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Kata kunci : Pertumbuhan, Bayi, ASI Pustaka : 29 (2002 – 2013)
1. Pendahuluan
Anak balita menuju pada proses pertumbuhan sehingga memerlukan zat-zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi (Sedioetama, 2004). Pertumbuhan setelah menjadi manusia dewasa, sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa balita.
Pertumbuhan otak yang menentukan tingkat kecerdasan setelah menjadi dewasa, sangat ditentukan oleh pertumbuhan waktu balita. Kekurangan gizi pada fase pertumbuhan akan menghasilkan manusia dewasa dengan sifat- sifat berkualitas inferior (Sedioetama, 2004).
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, menyatakan pada tahun 2010 jumlah balita yang mengalami kekurangan gizi sebanyak 7.377 orang dan mengalami gizi kurang sekitar 252.255 orang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2013, balita yang beresiko gizi buruk mencapai 3.54% dari puskesmas yang berada di Kabupaten Tasikmalaya (Dinkes Kabupaten Tasikmalaya, 2013).
Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena mengandung semua bahan yang penting untuk pertumbuhan bayi, ASI lebih unggul daripada susu sapi atau pengganti lainnya. Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi yang sangat ideal, berkomposisi seimbang dan secara alami disesuaikan dengan kebutuhan masa pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik kualitas dan kuantitasnya (Danuatmaja, 2003). Kualitas dan kuantitas produksi ASI perlu dijaga agar manfaatnya dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental bayi lebih optimal.
Banyaknya balita di Wilayah Puskesmas Parungponteng yaitu 2532 balita dengan gizi baik sebanyak 1278 orang, gizi lebih sebanyak 29 orang, gizi kurang sebanyak 27 orang, dan gizi buruk sebanyak 7 orang serta masih belum tercapainya pemberian ASI Eksklusif di Desa Parungponteng.
Penelitian dilakukan di Desa Parungponteng dikarenakan desa yang mempunyai jumlah balita yang paling banyak dengan yaitu sebanyak 144 dengan gizi baik sebanyak 134, gizi lebih 2 orang, gizi buruk sebanyak 1 orang dan gizi kurang sebanyak 7 orang.
2. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan berdasarkan status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
3. Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah survey dengan metode komparatif Menurut Nazir (2005) penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab- akibat, (yang bersifat membandingkan) dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu dengan desain cross sectional. Data-data yang diteliti dan diolah merupakan data temuan di lapangan yang diperoleh dari pengisian lembar observasi.
4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan a. Analisis Univariat
1) Karakteristik Responden a) Umur ibu
Berdasarkan penelitian di Desa Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1
Frekuensi Umur Ibu di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Statistik Nilai
Mean 33.26
Median 32
Standar Deviasi 6.63
Min 19
Max 46
Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh umur ibu Desa Parungponten Kabupaten Tasikmalaya rata-rata umur adalah 32.26 tahun
b) Pekerjaan
Berdasarkan penelitian di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya jenis pekerjaan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2
Frekuensi Pekerjaan Ibu di Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pekerjaan f %
IRT 21 55.26
Wiraswasta 11 28.95
Buruh 5 13.16
PNS 1 2.63
Jumlah 38 100
Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh bahwa pekerjaan ibu di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah ibu rumah tangga sebanyak 21 orang (55.26%).
c) Tingkat pendidikan Responden
Berdasarkan penelitian di desa Parungponten Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Berdasarkan tingkat pendidikan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu di Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pendidikan f %
SD 3 7.89
SMP 19 50.00
SMA 14 36.84
PT 2 5.26
Jumlah 38 100
Berdasarkan tabel 4.3 diperoleh bahwa tingkat pendidikan Ibu di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah SMP sebanyak 19 orang (50%).
2) Karakteristik Sampel 1) Umur Bayi
Berdasarkan penelitian di Desa Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya diperoleh bahwa umur bayi rata-rata adalah 7.66.
untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini :
Tabel 4.4
Frekuensi Umur Bayi di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Statistik Nilai
Mean 7.66
Median 8
Standar Deviasi 1.15
Min 6
Max 9
Berdasarkan tabel 4.4 diperoleh umur bayi Desa Parungponten Kabupaten Tasikmalaya rata-rata umur adalah 7.66 tahun
2) Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian di Desa Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya diperoleh bahwa jenis kelamin adalah. untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini :
Tabel 4.5
Frekuensi Jenis Kelamin Bayi di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Jenis Kelamin Bayi f %
Laki-laki 14 36.84
Perempuan 24 63.16
Jumlah 38 100
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sampel dalam penelitian ini adalah bayi 6 – 9 bulan sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 24 orang (63.16).
3) Gambaran pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Untuk mengetahui gambaran pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini :
Tabel 4.6
Frekuensi hasil penelitian tentang pertumbuhan bayi 6 – 9 di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng
Kabupaten Tasikmalaya
Pertumbuhan Berat Badan f %
Berat badan naik sesuai umur 21 55.26
Berat badan tetap 12 31.58
Berat badan turun 5 13.16
Berat badan naik tapi berpindah ke
pita dibawahnya 0 0
Jumlah 38 100
Dari uraian tabel 4.5 diperoleh bahwa hasil penelitian tentang pertumbuhan bayi 6 – 9 di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar pertumbuhan berat badannya adalah berat badan naik sesuai umur yaitu sebanyak 21 orang (55.26%)
Tabel 4.7
Frekuensi pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Pertumbuhan Bayi f %
Baik 21 55.26
Tidak Baik 17 44.74
Jumlah 38 100
Berdasarkan tabel 4.7 diperoleh bahwa pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar bayi mempunyai pertumbuhan yang baik sebanyak 21 orang (55.26%).
4) Status Pemberian ASI
Untuk mengetahui status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada tabel 4.8 di bawah ini :
Tabel 4.8
Frekuensi hasil jawaban responden tentang status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng
Kabupaten Tasikmalaya
Item Pertanyaan Ya Tidak Total
f % f % f %
Apa Ibu Memberikan ASI 38 100 0 0 38 100 Apa ibu memberikan ASI
lebih dari 6 Bulan 33 86.84 5 13.16 38 100 Ibu memberikan asi
tanpa tambahan makanan
31 81.58 7 18.42 38 100 Mengalami Penyakit 24 63.16 14 36.84 38 100
tertentu sehingga tidak memberikan ASI sampai 6 Bulan
Bayi diberikan cairan
atau makanan selain ASI 19 50 19 50 38 100 Tabel 4.8 menunjukkan bahwa status pemberian ASI oleh ibu pada bayi diantaranya perolehan tertinggi yaitu mengenai apakah ibu memberikan ASI yaitu sebanyak 38 orang (100%).
Selanjutnya dilakukan atas dasar kategori dapat dibagi menjadi dua yaitu ASI eksklusif dan ASI tidak eksklusif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.9 di bawah ini :
Tabel 4.9
Frekuensi status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Status Pemberian ASI f %
ASI Eksklusif 18 47.36
ASI Tidak Eksklusif 20 52.63
Jumlah 38 100
Berdasarkan tabel 4.9 diperoleh bahwa status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya sebanyak 20 orang (52.63%).
b. Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil penelitian tentang perbedaan pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan berdasarkan status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya hasil perhitungan uji normalitas dinyatakan bahwa pertumbuhan dan status pemberian ASI adalah tidak normal dengan nilai p value sebesar 0.000 sehingga menggunakan perhitungan uji mann withney.
Dari grafik 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata dari status pemberian ASI adalah 1.52 yang berarti sebagian besar memberikan ASI eksklusif dan rata-rata pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan adalah 1.447, hal ini berarti bahwa pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan adalah baik.
Hasil perhitungan Uji Mann Whitney diperoleh bahwa nilai Asymp.Sig. sebesar 0,000, karena nilai Asymp.Sig. 0,000 < 0,05, maka
sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann Whitney dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Penolakan terhadap Ho mengandung pengertian bahwa Terdapat perbedaan pertumbuhan Bayi 6 – 9 Bulan Berdasarkan Status Pemberian ASI Di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
c. Pembahasan
1) Pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Menurut Suradi, (2004), Selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan bayi yang berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat, ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindari bayi dari berbagai penyakit infeksi. Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satu diantaranya adalah nutrisi yang tidak hanya pada pasca natal tetapi juga pada saat pra dan perinatal.
Bayi cukup bulan biasanya akan memiliki berat badan dua kali berat badan lahir pada usia 4 sampai 5 bulan dan tiga kali lipat pada usia 1 tahun. Kebanyakan bayi baru lahir akan kehilangan 5 % sampai 10 % berat badannya selama beberapa hari pertama kehidupannya karena urine, tinja, dan cairan diekskresi melalui paru- paru dan karena asupan bayi sedikit. Bayi cukup bulan akan memperoleh berat badannya seperti semula dalam waktu 10 hari (Bobak, 2005).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan bayi di Desa Parungponteng hal ini karena adanya pemberian asupan nutrisi yang baik bahkan adanya masukan dari susu formula dengan gizi yang tidak seimbang.
2) Pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Hasil penelitian diperoleh menunjukkan bahwa status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya sebanyak 20 orang (52.63%).
Hal ini dikarenakan ada yang mengatakan pada waktu itu ibu enggan untuk memberikan ASI karena sakit, ada juga ibu yang bekerja sehingga sangat sulit untuk memberikan anaknya ASI dan juga ibu harus pergi keluar kota dan bayinya tidak dibawa karena masih terlalu kecil sehingga menggunakan susu formula untuk makannya.
Dari uraian di atas, dikarenakan ibu tidak memberikan ASI secara terus menerus selama 6 bulan penuh maka hal ini sudah tidak dinyatakan pemberian ASI secara eksklusif dan juga ibu memberikan ASI secara terus menerus tetapi adanya pemberian makanan pendamping ASI sehingga sudah tidak pemberian ASI eksklusif.
3) Perbedaan pertumbuhan bayi 6 – 9 bulan berdasarkan status pemberian ASI di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai Asymp.Sig.
sebesar 0,000, karena nilai Asymp.Sig. 0,000 < 0,05, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann Whitney dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Penolakan terhadap Ho mengandung pengertian bahwa Terdapat perbedaan pertumbuhan Bayi 6 – 9 Bulan Berdasarkan Status Pemberian ASI Di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
Menurut Aimi (2010) Bahwa kebutuhan fisis-biomedis (pertumbuhan) terpenuhi dapat dilihat dari penambahan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala. Pertumbuhan normal seorang bayi sampai umur 6 bulan dapat dicapai hanya dengan pemberian ASI saja. Selanjutnya, diatas usia 6 bulan dapat diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan pemberian ASI tetap diteruskan hingga usia 2 tahun atau lebih.
d. Kesimpulan
1) Terdapat perbedaan pertumbuhan Bayi 6 – 9 Bulan Berdasarkan Status Pemberian ASI Di Desa Parungponteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak , L. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Danuatmaja, B., dan Meiliasari, M. (2008). Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit.
Jakarta : Puspa Swara.
Dinkes Kabupaten Tasikmalaya, 2013. Laporan Tahunan Dinas Kabupaten Tasikmalaya.
Hidayat, Aziz Alimul. (2008). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika
Karjalainen J, Martin J, Knip M dkk. (1992) A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin dependent diabetes mellitus. N Engl J Med 1992; 327(5): 302-307
Kodrat, Laksono. (2010). Dahsyatnya ASI & Laktasi, Yogyakarta: Media Baca Machtinger S, Moss R. Cow’s milk allergy in breast-fed infants: the role of
allergen and maternal secretory IgA antibody. J Allergy Clin Immunol.
1986;77 :341 –347
Moh. Nazir. Ph.D, 2005, Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Ilmu Kesehatan Masyarakat ed.1, Jakarta:
RinekaCipta
Nursalam, et al. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak untuk Perawat dan Bidan, Jakarta: Salemba Medika
Perry & Potter. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses, dan praktik ed.4 vol.1, Jakarta: EGC
Prasetyono, Dwi Sunar. (2009). Buku pintar ASI eksklusif: pengenalan, praktik, dan kemanfaatan- kemanfaatannya, Yogyakarta: DIVA Press
Proverawati, A. dan Siti Asfuah. 2009. Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan. Nuha.
Medika.
Roesli, Utami. (2000). Mengenal ASI eksklusif, Jakarta: Trubus Agriwidya Sacharin, r.m, 1996, Prinsip Keperawatan. Pediatrik Edisi 2, EGC, Jakarta
Santoso,S dan Ranti, A. Lies. (2004) Kesehatan dan Gizi. Jakarta : Rineka Cipta Sediaoetama.2004. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan profesi. Edisi kelima.
Jakarta:Dian
Sholeh,M,dkk. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.