84
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1. Rata-rata gain score hasil belajar siswa dengan menggunakan model TGT yaitu sebesar 47,21 lebih tinggi dibanding PBL yaitu sebesar 40,04 dengan p = 0,042 < 0,05 berarti ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata gain score hasil belajar metode TGT dengan metode PBL. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hasil belajar geografi dengan menggunakan model TGT lebih efektif dibanding PBL.
2. Rata-rata gain score hasil belajar antara model TGT yaitu sebesar 54,92 lebih tinggi dibanding PBL yaitu sebesar 41,45 pada kategori motivasi belajar tinggi dengan p = 0,000 < 0,05 berarti pada kelompok motivasi tinggi, ada perbedaan yang signifikan antara gain score hasil belajar siswa dengan menggunakan metode TGT dengan metode PBL. Secara umum dapat disimpulkan bahwa pada kelompok motivasi tinggi, model TGT lebih efektif dari model PBL.
3. Rata-rata gain score hasil belajar antara model PBL yaitu sebesar 33,93
lebih tinggi dibanding TGT yaitu sebesar 27,50 pada kategori motivasi
belajar rendah dengan p = 0,021 < 0,05 berarti pada kelompok motivasi
rendah, ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata gain score hasil
85
belajar PBL dengan TGT. Secara umum dapat disimpulkan bahwa pada kelompok motivasi rendah, meodel PBL lebih efektif dari model TGT.
4. Hasil analisis anova dua jalan menunjukkan nilai p = 0,003 < 0,05 bahwa ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi dalam mempengaruhi hasil belajar.
B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Guru dapat menggunakan model pembelajaran Team Gamen Tournament untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai sehingga dapat memotivasi belajar siswa
2. Perlunya inovasi yang dikembangkan oleh guru untuk memperbanyak variasi dalam menyusun strategi pembelajaran, salah satunya dengan model PBL
3. Guru sebaiknya tetap memperhatikan aspek motivasi belajar siswa karena
siswa dapat mengalami fluktuasi motivasi dan dikorelasikan dengan model
pembelajaran yang akan digunakan agar kebutuhan belajar siswa dapat
terpenuhi.
86
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M. Taufiq. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning : Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana
Arikunto, Suharsumi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Emzir. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ernawati, Dwi. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dan Model Pembelajaran Konvensional Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa (Studi Eksperimen Pada Kelas XI IS SMA N 5 Surakarta). Skripsi. Universitas Sebelas Maret dari
https://eprints.uns.ac.id/8981/pada tanggal 28 November 2016
Gafur, Abdul. 2012. Desain Pembelajaran: Konsep, Model, dan Aplikasinya dalam Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Ombak.
Hartaji, R. Damar Adi. Motivasi Berprestasi pada Mahasiswa yang Berkuliah dengan Jurusan Pilihan Orang Tua. Artikel. Fakultas Psikologi.
Universitas Gunadarma
Harumusrtati, Yustiana W. & Herman Yosep Sunu Endrayanto. 2014. Penilaian Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI).
Kompri. 2015. Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Kurniadin, Didin & Imam Machali. 2012. Manajemen Pendidikan: Konsep &
Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
87
Muhammad Fadlillah. Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, & SMA/MA. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Majid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nara, Hartati & Eveline Siregar. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Nugroho, Aditya. 2013. Pengaruh Motivasi dan Minat Terhadap Prestasi Siswa Pada Mata Diklat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di SMK Negeri 1 Sedayu. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta dari
https://uny.ac.idNugroho, Djawadi Hadi. 2013. Strategi Pembelajaran Geografi. Yogyakarta:
Ombak.
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses
Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
Purwanto. 2012. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Prasetya, Sukma Perdana. 2014. Media Pembelajaran Geografi. Yogyakarta:
Ombak.
88
Rukmini, Elisabeth ( 10 Oktober 2008 ). Deskripsi Singkat revisi Taksonomi Bloom, Majalah Ilmiah Pembelajaran. Diambil pada tanggal 27 Juli 2017, dari
https://journal.uny.ac.id> article > viewFile
Slavin, Robert E.. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. (Terjemah dari Cooperative Learning: Theory, Research and Practice, 2
ndEdition terbitan 1995). Bandung: Nusa Media.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2008. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sumarmi. 2015. Model-model Pembelajaran Geografi. Yogyakarta: Aditya Media Publishing.
Sunariah, Nia S. & Kasmadi. 2014. Panduan Modern Penelitian Kuantitatif.
Bandung: Alfabeta
Supardi. 2015. Sekolah Efektif Konsep Dasar & Praktiknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suparmini & Bambang Syaeful Hadi. 2009. Dasar-dasar Geografi. Yogyakarta:
UNY.
Uno, Hamzah B. 2009. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara
Triani, Wina, Zulkarnain dan Rahma Kurnia. 2015. Pengaruh Model
Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Hasil Belajar
Geografi. Jurnal. Universitas Negeri Lampung dari
jurnal.fkip.unila.ac.ic/index.php/JPG pada tanggal 28 November 2016
89
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah : SMA N 2 Ngaglik Mata Pelajaran : Geografi
Kelas/ Semester : X IIS / 2 (Dua)
Materi Pembelajaran : Karakteristik lapisan-lapisan atmosfer Bumi
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit (3 JP) untuk 3 kali pertemuan
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
90
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Pembelajaran sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan secara tidak langsung (indirect teaching) melalui keteladanan, ekosistem pendidikan, dan proses pembelajaran pengetahuan dan keterampilan. Guru mengembangkan sikap spiritual dan sikap sosial dengan memperhatikan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi peserta didik. Evaluasi terhadap sikap spiritual dan sikap sosial dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan berfungsi sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut
Kompetensi dasar Indikator
3.7 Menganalisis dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan
3.7.1 Mengidentifikasi ciri-ciri atmosfer
3.8 Menyajikan proses dinamika atmosfer menggunakan peta, bagan, gambar, tabel, grafik, video, dan/atauanimasi
Dapat memberikan contoh mengenai proses dinamika atmosfer pada kehidupan sehari-hari
C. Materi Pembelajaran (Dapat dikembangkan sesuai harapan Kompetensi Dasar)
Pertemuan pertama
1. Pengertian Atmosfer
Atmosfer bumi merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada bumi. Selubung ini membentang ke atas sejauh berates-ratus kilometer, dan akhirnya bertemu dengan medium antar planet yang berkerapatan rendah dalam sistem tata surya.
Atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.
Atmosfer terdiri atas bermacam-macam unsur gas dan di dalamnya
terjadi proses pembentukan dan perubahan cuaca dan iklim. Atmosfer
melindungi manusia dari sinar matahari yang berlebihan dan meteor-
meteor yang ada. Adanya atmosfer bumi memperkecil perbedaan
temperatur siang dan malam. Gejala yang terjadi di atmosfer sangat
91
banyak dan beragam. Pada lapisan bawah angin berhembus, angin terbentuk, hujan dan salju jatuh, dan terjadilah musim panas dan musim dingin. Semua ini merupakan gejala yang lazim terjadi yang sering disebut cuaca.
2. Lapisan Atmosfer 1. Troposfer
Troposfer merupakan lapisan terbawah dari atmosfer, yaitu pada ketinggian 0 - 18 km di atas permukaan bumi. Tebal lapisan troposfer rata-rata ± 10 km. Di daerah khatulistiwa, ketinggian lapisan troposfer sekitar 16 km dengan temperatur rata-rata 80°C.
Daerah sedang ketinggian lapisan troposfer sekitar 11 km dengan temperatur rata-rata 54°C, sedangkan di daerah kutub ketinggiannya sekitar 8 km dengan temperature rata-rata 46°C. Lapisan troposfer ini pengaruhnya sangat besar sekali terhadap kehidupan mahkluk hidup di muka bumi. Lapisan ini selainterjadi peristiwa-peristiwa seperti cuaca dan iklim, juga terdapat kira-kira 80% dari seluruh massa gas yang terkandung dalam atmosfer terdapat pada lapisan ini.
2. Stratosfer
Lapisan kedua dari atmosfer adalah stratosfer. Stratosfer terletak pada ketinggian antara 18 - 49 km dari permukaan bumi.
Lapisan ini ditandai dengan adanya proses inversi suhu, artinya suhu
udara bertambah tinggi seiring dengan kenaikan ketinggian dari
permukaan bumi. Kenaikan suhu udara berdasarkan ketinggian
mulai terhenti, yaitu pada puncak lapisan stratosfer yang disebut
stratopause dengan suhu udara sekitar 0°C.
92
3. Mesosfer
Mesosfer adalah lapisan udara ketiga, di mana suhu atmosfer akan berkurang dengan pertambahan ketinggian hingga ke lapisan keempat. Mesosfer terletak pada ketinggian antara 49 - 82 km dari permukaan bumi. Lapisan ini merupakan lapisan pelindung bumi dari jatuhan meteor atau benda-benda angkasa luar lainnya. Udara yang terdapat di sini akan mengakibatkan pergeseran berlaku dengan objek yang datang dari angkasa dan menghasilkan suhu yang tinggi. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi biasanya terbakar di lapisan ini.
4. Termosfer
Termosfer adalah lapisan udara keempat, peralihan dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 82 km.
Termosfer terletak pada ketinggian antara 82 - 800 km dari permukaan bumi. Lapisan termosfer ini disebut juga lapisan ionosfer. Lapisan ini merupakan tempat terjadinya ionisasi partikel- partikel yang dapat memberikan efek pada perambatan/refleksi gelombang radio, baik gelombang panjang maupun pendek. Disebut dengan termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 19820°C. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu.
5. Eksosfer
Eksosfer adalah lapisan udara kelima, eksosfer terletak pada
ketinggian antara 800 - 1000 km dari permukaan bumi. Pada lapisan
ini merupakan tempat terjadinya gerakan atom-atom secara tidak
beraturan. Lapisan ini merupakan lapisan paling panas dan molekul
udara dapat meninggalkan atmosfer sampai ketinggian 3.150 km
dari permukaan bumi. Lapisan ini sering disebut pula dengan ruang
93
antar planet dan geostasioner. Lapisan ini sangat berbahaya, karena merupakan tempat terjadi kehancuran meteor dari angkasa luar.
3. Pemanfaatan Penyelidikan Atmosfer
Setiap kali menghirup udara, manusia diingatkan bahwa tidak dapat hidup tanpa udara. Udara bersih adalah kebutuhan fisik manusia yang merupakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan.
Atmosfer membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia. Adanya efek rumah kaca di atmosfer, sinar matahari yang masuk ke bumi dapat diserap dan menghangatkan udara. Suhu rata-rata di permukaan bumi naik 33°C lebih tinggi menjadi 15°C dari seandainya tidak ada efek rumah kaca (-18°C), suhu yang terlalu dingin bagi kehidupan mnusia.
Efek rumah kaca disebabkan oleh gas-gas rumah kaca. Atmosfer berguna untuk melindungi makhluk hidup yang yang ada di muka bumi karena membantu menjaga stabilitas suhu udara siang dan malam, menyerap radiasi dan sinar ultraviolet yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk bumi lainnya.
Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang
angkasa, yang mencapai sekitar 270°C di bawah nol. Selain atmosfer,
sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan
magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya
yang mengancam planet ini. Radiasi yang terus-menerus dipancarkan
oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi
makhuk hidup. Apabila sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi
raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali
pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.
94
4. Sifat atmosfer
1. Merupakan selimut gas tebal yang secara menyeluruh menutupi bumi
sampai ketinggian 560 km dari permukaan bumi.
2. Atmosfer bumi tidak mempunyai batas mendadak, tetapi menipis lambat
laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer
dan angkasa luar.
3. Tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat dirasakan, tidak dapat diraba
(kecuali bergerak sebagai angin).
4. Mudah bergerak, dapat ditekan, dapat berkembang.
5. Mempunyai berat (56 x 1014 ton) dan dapat memberikan tekanan.
99% dari beratnya berada sampai ketinggian 30 km, dan separuhnya berada di bawah 6000 m.
6. Memberikan tahanan jika suatu benda melewatinya berupa panas akibat pergesekan (misalnya meteor hancur sebelum mencapai permukaan bumi).Sangat penting untuk kehidupan dan sebagai media untuk proses cuaca. Sebagai selimut yang melindungi bumi terhadap tenaga penuh dari matahari pada waktu siang, menghalangi hilangnya panas pada waktu malam. Tanpa atmosfer suhu bumi pada siang hari 93,3°C dan pada malam hari -148,9°C.
Pertemuan kedua Cuaca dan iklim
Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja.
Misalnya: pagi hari, siang hari atau sore hari, dan keadaannya bisa berbeda-
beda untuk setiap tempat serta setiap jam.
95
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama dan meliputi wilayah yang luas. Iklim dapat terbentuk karena adanya:
1. Rotasi dan revolusi bumi sehingga terjadi pergeseran semu harian matahari dan tahunan.
2. Perbedaan lintang geografi dan lingkungan fisis.
Ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi. Ada beberapa unsur yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim suatu daerah atau wilayah, yaitu: suhu atau temperatur udara, tekanan udara, angin, kelembaban udara dan curah hujan.
Unsur cuaca dan iklim 1. Suhu atau temperatur
Perbedaan suhu udara yang diterima oleh setiap tempat di permukaan bumi, dipengaruhi faktor berikut.
a. Lamanya Penyinaran Matahari
Semakin lama matahari memberikan sinarnya pada suatu tempat di permukaan bumi, makin banyak panas yang diterima, dan suhunya semakin tinggi.
Wilayah yang beriklim tropis memiliki suhu udara paling tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di permukaan bumi, karena wilayah ini mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun.
b. Ketinggian Tempat
Semakin tinggi suatu tempat di permukaan bumi, suhunya
semakin dingin. Penurunan suhu ini diperkirakan sebesar 0,5 –
0,6°C setiap kenaikan tempat 100 meter. Hubungan perbandingan
antara kenaikan dan penurunan suhu dengan ketinggian tempat,
disebut sebagai gejala gradien ketinggian. Untuk dapat mengetahui
96
suhu udara di suatu tempat, maka kita harus tahu dulu suhu rata-rata dan ketinggian tempatnya.
c. Letak Lintang Tempat
Sudut datang pancaran sinar matahari dapat mempengaruhi tingkat pemanasan permukaan bumi. Semakin tegak cahaya matahari datang di suatu daerah, semakin besar pula efek panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi di daerah itu, sehingga menyebabkan kondisi suhunya semakin tinggi. Daerah di permukaan bumi yang menerima pemanasan sinar matahari secara tegak, yaitu dengan sudut datang 90°, adalah daerah-daerah yang terletak di lintang tinggi. Daerah-daerah yang termasuk lintang tinggi, yaitu tempat-tempat yang terletak di sekitar wilayah khatulistiwa.
d. Derajat Keawanan
Awan mempunyai fungsi mengurangi radiasi dari matahari ke bumi dan mengurangi panas yang berasal dari bumi ke atmosfer.
Awan mempunyai efek seperti rumah kaca (green house effect).
Artinya, awan dapat menahan panas yang dipancarkan bumi. Oleh karena itu, daerah yang selalu berawan, suhunya rendah. Sebaliknya, daerah yang selalu cerah, suhunya tinggi.
e. Bentuk Permukaan Bumi
Bentuk-bentuk muka bumi memiliki sifat yang berbeda-beda dalam menerima panas sinar matahari. Sifat permukaan bumi daratan lebih cepat menerima panas dan memancarkan kembali panas itu dengan cepat, jika dibandingkan dengan permukaan laut.
Oleh karena itu, daerah yang terletak di pedalaman yang jauh dari
pengaruh angin laut (gurun pasir) pada siang hari suhunya sangat
tinggi.
97
2. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara pada suatu titik daerah di permukaan bumi. Mengapa udara memberikan tekanan kepada permukaan bumi? Karena udara tersebut memiliki massa dan menempati ruang. Besarnya tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Barometer ini ada yang menggunakan zat cair, disebut barometer air raksa, dan ada pula yang tanpa zat cair, disebut barometer aneroid.
Tekanan udara sangat dipengaruhi oleh kondisi suhunya. Bila kondisi suhunya rendah, maka tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, bila suhunya tinggi, kondisi tekanan udaranya rendah. Naik turunnya tekanan udara akan tergambar pada barometer dalam bentuk barogram.
Satuan yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah bar, dimana 1 bar = 1000 milibar (mb) atau setara dengan satu atmosfer (1 atm = 1013 mb).
3. Kelembapan Udara
Kelembapan udara, adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat dalam udara. Kelembapan udara sering disebut juga dengan istilah kelengasan udara atau kebasahan udara. Udara dikatakan lembap jika kandungan uap airnya banyak, dan sebaliknya, udara dikatakan kurang lembap jika kandungan airnya kurang. Kelembapan udara dapat diukur dengan menggunakan alat higrometer atau higrograf.
Untuk menyatakan kelembapan udara, dapat digunakan dua cara, yaitu kelembapan udara mutlak atau absolut dan kelembapan udara nisbi atau relatif.
Kelembapan Mutlak atau absolut, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan berat uap air dalam tiap volume udara. Berat uap air dinyatakan dalam gram dan volumenya dinyatakan dalam liter atau m³, sehingga satuannya dinyatakan dalam gram/liter atau gram/m³.
Jadi, jika dalam satu m³ udara terdapat 25 gram uap air, artinya
kelembapan mutlaknya adalah 25 gram/m³. Daerah yang
98
mempunyai kelembapan mutlak tertinggi terletak di sekitar pantai yang berdekatan dengan lautan. Kelembapan mutlak terendah di wilayah gurun pasir.
Kelembapan nisbi atau relatif, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar terdapat dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada suhu yang sama. Kelembapan ini dinyatakan dalam persen (%).
4. Angin
Pergerakan angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara.
Perbedaan tekanan udara terjadi karena adanya perbedaan suhu udara sebagai akibat dari perbedaan pemanasan matahari di permukaan bumi.
Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, makin besar pula anginnya.
Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan anemometer.
Sedangkan untuk melihat arah angin, dapat menggunakan sisip angin atau windsock.
Pemberian nama-nama angin, biasanya menurut asal datangnya, seperti angin barat, yaitu angin yang berasal dari arah barat menuju ke timur.
5. Hujan
Hujan merupakan salah satu unsur pembentuk cuaca dan iklim yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Hujan terjadi akibat adanya penguapan, yang kemudian terjadi pengembunan dan membentuk kumpulan titik-titik air di udara (awan). Setelah kandungan titik-titik air di awan tadi makin banyak dan semakin berat, maka turunlah hujan.
Besarnya curah hujan dapat diukur dengan menggunakan rain gage,
ombrometer atau ombrograf.
99
Berdasarkan cara terjadinya, hujan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Hujan Zenithal
Hujan zenithal adalah hujan yang terjadi akibat naiknya massa udara secara vertikal (massa udara bergerak secara konveksi).
Sebagaimana diketahui, semakin tinggi suatu tempat suhunya makin dingin, sehingga pada ketinggian tertentu terbentuklah awan dan menurunkan hujan zenithal. Oleh karena awan terbentuk akibat gerakan udara secara konveksi, maka hujan ini disebut juga hujan konveksi.
2) Hujan Orografis
Hujan orografis adalah hujan yang terjadi di daerah pegunungan.
Akibat gerakan udara secara horizontal terhalang oleh adanya pegunungan, menyebabkan massa udara ini dipaksa naik lereng pegunungan. Semakin tinggi pegunungan tersebut, makin rendah pula suhunya, sehingga terbentuklah awan dan menurunkan hujan di lereng pegunungan tersebut.
3) Hujan Frontal
Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front. Daerah front merupakan daerah tempat pertemuan massa udara panas dengan massa udara dingin. Pertemuan kedua massa udara tersebut menyebabkan terjadinya kondensasi sehingga terbentuk awan yang menurunkan hujan
6. Awan
Awan merupakan fenomena yang sering kita lihat sebelum terjadinya
hujan. Awan yang tebal dan hitam menunjukkan dalam waktu yang
tidak lama lagi hujan akan turun. Awan terdiri atas kumpulan titik-titik
air dalam udara akibat adanya pengembunan (kondensasi). Pada awan
terdapat muatan listrik bertegangan tinggi. Jika terjadi pertemuan dua
muatan listrik yang berlawan kutub, akan terjadi sebuah kilatan di
angkasa (kilat) yang disertai dengan suara menggelegar (guntur/petir).
100
Pertemuan ketiga
Beberapa metode penentuan Klasifikasi Iklim di Indonesia antara lain :
1. Klasifikasi Iklim Mohr
Klasifikasi iklim yang didasarkan curah hujan diajukan Mohr pada tahun 1933. Klasifikasi iklim ini didasarkan pada jumlah Bulan Kering (BK) dan jumlah Bulan Basah (BB) yang dihitung sebagai harga ratarata dalam waktu yang lama. Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan lebih dari 100 mm (jumlah curah hujan bulanan melebihi angka evaporasi). Bulan Kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm ( jumlah curah hujan lebih kecil dari jumlah penguapan).
2. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Klasifikasi Iklim menurut Schmidt-Ferguson (1951) didasarkan kepada perbandingan antara Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB). Kriteria BK dan BB yang digunakan dalam klasifikasi Schmidt-Ferguson sama dengan kriteria BK dan BB oleh Mohr, namun perbedaannya dalam cara perhitungan BK dan BB akhir selama jangka waktu data curah hujan itu dihitung. Ketentuan penetapan bulan basah dan bulan kering mengikuti aturan sebagai berikut:
Bulan Kering: bulan dengan curah hujan lebih kecil dari 60 mm.
Bulan Basah: bulan dengan curah hujan lebih besar dari 100 mm.
Bulan Lembab: bulan dengan curah hujan antara 60 – 100 mm.
Bulan Lembab (BL) tidak dimasukkan dalam rumus. Penentuan tipe curah hujan yang dinyatakan dalam nilai Q, yang dihitung dengan persamaan berikut :
Rata-rata jumlah BK
Q = x 100 %
101
Rata-rata jumlah bulan basah adalah banyaknya bulan basah dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan, demikian pula rata-rata jumlah bulan kering adalah banyaknya bulan kering dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan. Dari besarnya nilai Q ini selanjutnya ditentukan tipe curah hujan suatu tempat atau daerah dengan menggunakan tabel Q atau diagram segitiga kriteria klasifikasi tipe hujan menurut Schmidt-Ferguson.
3. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman
Klasifikasi iklim menurut Oldeman (1975) disebut juga dengan klasifikasi agroklimat. Peta cuaca pertanian ditampilkan sebagai peta agroklimat. Klasifikasi iklim ini terutama ditujukan kepada komodii pertanian tanaman pangan utama seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman palawija lainnya. Karena penggunaan air bagi tanaman-tanaman utama merupakan hal yang penting di lahan-lahan tadah hujan, maka dengan data curah hujan dalam jangka lama, peta agroklimat didasarkan pada periode kering. Curah hujan melebihi 200 mm sebulan dianggap cukup untuk padi sawah, sedangkan curah hujan paling sedikit 100 mm per bulan diperlukan untuk bertanaman di lahan kering. Dasar klasifikasi agroklimat ini ialah kriteria Bulan Basah dan Bulan Kering. Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan sama atau lebih besar dari 200 mm.
Bulan Kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan lebih kecil dari
100 mm. Kriteria penentuan BB dan BK ini didasarkan pada
besarnya evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui tanah dan
tajuk tanaman. Evapotranspirasi dianggap sebagai banyaknya air
yang yang dibutuhkan oleh tanaman.
102
D. Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran : Problem Based Learning
Metode Pembelajaran : Diskusi, tanya jawab, penugasan, dan presentasi E. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama: (3JP)
Tahap Kegiatan Belajar Alokasi
Waktu Pendahuluan Guru membuka pertemuan dengan salam
Guru dan peserta didik berdoa untuk memulai pelajaran
Guru melakukan presensi peserta didik
Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
Guru menjelaskan topik dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai pada
pertemuan ini
Apersepsi: materi dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan
Memberikan motivasi mengenai materi yang akan diajarkan dan apa manfaatnya, serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
25 menit
103
Kegiatan
Inti
Mengamati
Memahami pengertian atmosfer
menggunakan buku Geografi SMA/MA Kelas X Penerbit: Erlangga
Mengidentifikasi mengenai lapisan atmosfer berdasarkan teori.
Menanya
Setiap kelompok diminta untuk mengajukan pertanyaan terkait dengan materi yang belum dipahami dari buku pelajaran geografi yang telah tersedia dan diperbolehkan mencari lewat media internet dan lain-lain
Tanya jawab antar kelompok yang telah dibentuk, berdasarkan hasil temuan dari buku dan media internet mengenai ilmu geografi
Mengidentifikasi tentang lapisan Atmosfer berdasarkan teori.
Mengumpulan data
Setiap kelompok mengumpulkan data
tambahan yang diperoleh dari kelompok lain tentang definisi dan karakteristik lapisan atmosfer
Membandingkan data yang ada di kelompok dengan data kelompok lain.
Mengasosiasi
35 menit
10 menit
15
menit
104
Menyimpulkan dengan pendapat sendiri definisi dan karakteristik lapisan atmosfer
Membuat pertanyaan sendiri tentang
pengertian atmosfer dan karakteristik lapisan atmosfer.
Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan hasil tanya jawab
dalam bentuk laporan dan membacakan laporannya
Memberikan penegasan pada materi
perkembangan geografi dan meluruskan jika terjadi salah konsep.
15 menit
15 menit
Penutup Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi tentang karakteristik lapisan-lapisan atmosfer bumi
Guru memberikan tugas untuk mengamati
karakteristik lapisan-lapisan atmosfer Bumi untuk dikumpulkan pada pertemuan
selanjutnya
Melakukan evaluasi.
20 menit
Jumlah 135
menit
1. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Teknik Penilaian
105
a. Sikap: observasi
b. Pengetahuan: tugas berkelompok c. Keterampilan: unjuk kerja 2. Instrumen Penilaian
a. Pertemuan pertama:
1) Sikap: lembar observasi Tema : Dinamika atmosfer
No Nama Peserta didik
Aspek perilaku yang dinilai
Keterangan Bekerjasama Rasa Ingin
tahu Disipilin Peduli lIngkungan 1. ...
2. ...
3. ...
4. ...
Kolom Aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
4= sangat baik 3=bai k 2=cukup 1=kurang
2) Pengetahuan: lembar observasi terhadap diskusi, tanya jawab dan percakapan
Nama peserta didik
Pernyataan Pengungkapan konsep
litosfer secara tepat
Kebenaran konsep-konsep
pendukung
Ketepatan penggunaaan
istilah
Menjawab dengan
tepat
Ya Tida k Ya Tida k Ya Tida k Ya Tida k
….
Keterangan: Kolom pernyataan diisi dengan ceklis ( √ )
106
3) Keterampilan : lembar unjuk kerja Petunjuk:
Berilah tanda ceklis ()pada angka yang sesuai untuk setiap kemampuan yang teramati pada waktu peserta didik selama presentasi mengenai 10 konsep esensial geografi :
1. bila tidak pernah, 2. bila jarang,
3. bila kadang-kadang,
4. bila siswa selalu melakukan.
Nama peserta
didik
Keterampilan yang dinilai Menjelaskan
materi
Menjawab pertanyaan
Penambahan argumentasi
Penggunaaan bahasa
Ketepatan waktu presentasi 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
...
...
...
...
...
3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan a. Remedial
Apabila hasil penilaian kognitif dan psikomotor belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal maka dilakukan remedial dengan kriteria sebagai berikut:
1). Remedial individual dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM <20%
2). Remedial kelompok dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM 20% - 50%
3). Remedial Klasikal dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM > 50%
b. Pengayaan
Apabila hasil penilaian kognitif dan psikomotor telah mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal maka dilakukan pengayaan terkait
perluasan materi terkait
107
F. Media/Alat, Bahan dan Sumber Pembelajaran 1. Media
a. Power Point tentang dinamika atmosfer dan pengaruhnya terhada kehidupan
b. Video lapisan atmosfer (fungsi dan manfaat lapisan) c. Video dampak atau pengaruh lapisan atmosfer.
2. Alat/Bahan a. Alat
1. Laptop 2. LCD 3. Papan tulis 4. Spidol 5. Speaker
6. Lembar kegiatan siswa b. Media
1. Power point 2. Video c. Bahan
Buku geografi kelas X kurikulum 2013
3. Sumber Belajar
a. Harmanto, Gatot. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X (Peminatan). Bandung: Yrama Widya
b. Suhandini, Purwadi dan Bambang Nianto Mulyo. 2013. Geografi 1 untuk kelas X SMA dan MA kelompok peminatan ilmu-ilmu social.
Solo: PT Wangsa Jatra Lestari
c. Suparmini. 2009. Dasar-dasar Geografi. Yogyakarta: UNY
108
Ngaglik, Maret 2017 Mengetahui,
Guru Pembimbing SMA N 2 Ngaglik Mahasiswa
Kartijono S.Pd Sartika Apriyani
NIP. 19710421 199702 1 004 NIM 13405241039
109
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah : SMA N 1 Mlati Mata Pelajaran : Geografi
Kelas/ Semester : X MIPA / 2 (Dua)
Materi Pembelajaran : Karakteristik lapisan-lapisan atmosfer Bumi
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit (3 JP) untuk 3 kali pertemuan
G. Kompetensi Inti (KI)
5. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
6. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
7. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
8. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
110
H. Kompetensi Dasar dan Indikator
Pembelajaran sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan secara tidak langsung (indirect teaching) melalui keteladanan, ekosistem pendidikan, dan proses pembelajaran pengetahuan dan keterampilan. Guru mengembangkan sikap spiritual dan sikap sosial dengan memperhatikan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi peserta didik. Evaluasi terhadap sikap spiritual dan sikap sosial dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan berfungsi sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut
Kompetensi dasar Indikator
3.7 Menganalisis dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan
3.7.1 Mengidentifikasi ciri-ciri atmosfer
3.9 Menyajikan proses dinamika atmosfer menggunakan peta, bagan, gambar, tabel, grafik, video, dan/atauanimasi
Dapat memberikan contoh mengenai proses dinamika atmosfer pada kehidupan sehari-hari
I. Materi Pembelajaran (Dapat dikembangkan sesuai harapan Kompetensi Dasar)
Pertemuan pertama
5. Pengertian Atmosfer
Atmosfer bumi merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada bumi. Selubung ini membentang ke atas sejauh berates-ratus kilometer, dan akhirnya bertemu dengan medium antar planet yang berkerapatan rendah dalam sistem tata surya.
Atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.
Atmosfer terdiri atas bermacam-macam unsur gas dan di dalamnya
terjadi proses pembentukan dan perubahan cuaca dan iklim. Atmosfer
melindungi manusia dari sinar matahari yang berlebihan dan meteor-
meteor yang ada. Adanya atmosfer bumi memperkecil perbedaan
temperatur siang dan malam. Gejala yang terjadi di atmosfer sangat
111
banyak dan beragam. Pada lapisan bawah angin berhembus, angin terbentuk, hujan dan salju jatuh, dan terjadilah musim panas dan musim dingin. Semua ini merupakan gejala yang lazim terjadi yang sering disebut cuaca.
6. Lapisan Atmosfer 6. Troposfer
Troposfer merupakan lapisan terbawah dari atmosfer, yaitu pada ketinggian 0 - 18 km di atas permukaan bumi. Tebal lapisan troposfer rata-rata ± 10 km. Di daerah khatulistiwa, ketinggian lapisan troposfer sekitar 16 km dengan temperatur rata-rata 80°C.
Daerah sedang ketinggian lapisan troposfer sekitar 11 km dengan temperatur rata-rata 54°C, sedangkan di daerah kutub ketinggiannya sekitar 8 km dengan temperature rata-rata 46°C. Lapisan troposfer ini pengaruhnya sangat besar sekali terhadap kehidupan mahkluk hidup di muka bumi. Lapisan ini selainterjadi peristiwa-peristiwa seperti cuaca dan iklim, juga terdapat kira-kira 80% dari seluruh massa gas yang terkandung dalam atmosfer terdapat pada lapisan ini.
7. Stratosfer
Lapisan kedua dari atmosfer adalah stratosfer. Stratosfer terletak pada ketinggian antara 18 - 49 km dari permukaan bumi.
Lapisan ini ditandai dengan adanya proses inversi suhu, artinya suhu
udara bertambah tinggi seiring dengan kenaikan ketinggian dari
permukaan bumi. Kenaikan suhu udara berdasarkan ketinggian
mulai terhenti, yaitu pada puncak lapisan stratosfer yang disebut
stratopause dengan suhu udara sekitar 0°C.
112
8. Mesosfer
Mesosfer adalah lapisan udara ketiga, di mana suhu atmosfer akan berkurang dengan pertambahan ketinggian hingga ke lapisan keempat. Mesosfer terletak pada ketinggian antara 49 - 82 km dari permukaan bumi. Lapisan ini merupakan lapisan pelindung bumi dari jatuhan meteor atau benda-benda angkasa luar lainnya. Udara yang terdapat di sini akan mengakibatkan pergeseran berlaku dengan objek yang datang dari angkasa dan menghasilkan suhu yang tinggi. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi biasanya terbakar di lapisan ini.
9. Termosfer
Termosfer adalah lapisan udara keempat, peralihan dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 82 km.
Termosfer terletak pada ketinggian antara 82 - 800 km dari permukaan bumi. Lapisan termosfer ini disebut juga lapisan ionosfer. Lapisan ini merupakan tempat terjadinya ionisasi partikel- partikel yang dapat memberikan efek pada perambatan/refleksi gelombang radio, baik gelombang panjang maupun pendek. Disebut dengan termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 19820°C. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu.
10. Eksosfer
Eksosfer adalah lapisan udara kelima, eksosfer terletak pada
ketinggian antara 800 - 1000 km dari permukaan bumi. Pada lapisan
ini merupakan tempat terjadinya gerakan atom-atom secara tidak
beraturan. Lapisan ini merupakan lapisan paling panas dan molekul
udara dapat meninggalkan atmosfer sampai ketinggian 3.150 km
dari permukaan bumi. Lapisan ini sering disebut pula dengan ruang
113
antar planet dan geostasioner. Lapisan ini sangat berbahaya, karena merupakan tempat terjadi kehancuran meteor dari angkasa luar.
7. Pemanfaatan Penyelidikan Atmosfer
Setiap kali menghirup udara, manusia diingatkan bahwa tidak dapat hidup tanpa udara. Udara bersih adalah kebutuhan fisik manusia yang merupakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan.
Atmosfer membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia. Adanya efek rumah kaca di atmosfer, sinar matahari yang masuk ke bumi dapat diserap dan menghangatkan udara. Suhu rata-rata di permukaan bumi naik 33°C lebih tinggi menjadi 15°C dari seandainya tidak ada efek rumah kaca (-18°C), suhu yang terlalu dingin bagi kehidupan mnusia.
Efek rumah kaca disebabkan oleh gas-gas rumah kaca. Atmosfer berguna untuk melindungi makhluk hidup yang yang ada di muka bumi karena membantu menjaga stabilitas suhu udara siang dan malam, menyerap radiasi dan sinar ultraviolet yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk bumi lainnya.
Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang
angkasa, yang mencapai sekitar 270°C di bawah nol. Selain atmosfer,
sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan
magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya
yang mengancam planet ini. Radiasi yang terus-menerus dipancarkan
oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi
makhuk hidup. Apabila sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi
raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali
pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.
114
8. Sifat atmosfer
7. Merupakan selimut gas tebal yang secara menyeluruh menutupi bumi
sampai ketinggian 560 km dari permukaan bumi.
8. Atmosfer bumi tidak mempunyai batas mendadak, tetapi menipis lambat
laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer
dan angkasa luar.
9. Tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat dirasakan, tidak dapat diraba
(kecuali bergerak sebagai angin).
10. Mudah bergerak, dapat ditekan, dapat berkembang.
11. Mempunyai berat (56 x 1014 ton) dan dapat memberikan tekanan.
99% dari beratnya berada sampai ketinggian 30 km, dan separuhnya berada di bawah 6000 m.
12. Memberikan tahanan jika suatu benda melewatinya berupa panas akibat pergesekan (misalnya meteor hancur sebelum mencapai permukaan bumi).Sangat penting untuk kehidupan dan sebagai media untuk proses cuaca. Sebagai selimut yang melindungi bumi terhadap tenaga penuh dari matahari pada waktu siang, menghalangi hilangnya panas pada waktu malam. Tanpa atmosfer suhu bumi pada siang hari 93,3°C dan pada malam hari -148,9°C.
Pertemuan kedua Cuaca dan iklim
Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja.
Misalnya: pagi hari, siang hari atau sore hari, dan keadaannya bisa berbeda-
beda untuk setiap tempat serta setiap jam.
115
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama dan meliputi wilayah yang luas. Iklim dapat terbentuk karena adanya:
1. Rotasi dan revolusi bumi sehingga terjadi pergeseran semu harian matahari dan tahunan.
2. Perbedaan lintang geografi dan lingkungan fisis.
Ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi. Ada beberapa unsur yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim suatu daerah atau wilayah, yaitu: suhu atau temperatur udara, tekanan udara, angin, kelembaban udara dan curah hujan.
Unsur cuaca dan iklim 7. Suhu atau temperatur
Perbedaan suhu udara yang diterima oleh setiap tempat di permukaan bumi, dipengaruhi faktor berikut.
f. Lamanya Penyinaran Matahari
Semakin lama matahari memberikan sinarnya pada suatu tempat di permukaan bumi, makin banyak panas yang diterima, dan suhunya semakin tinggi.
Wilayah yang beriklim tropis memiliki suhu udara paling tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di permukaan bumi, karena wilayah ini mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun.
g. Ketinggian Tempat
Semakin tinggi suatu tempat di permukaan bumi, suhunya
semakin dingin. Penurunan suhu ini diperkirakan sebesar 0,5 –
0,6°C setiap kenaikan tempat 100 meter. Hubungan perbandingan
antara kenaikan dan penurunan suhu dengan ketinggian tempat,
disebut sebagai gejala gradien ketinggian. Untuk dapat mengetahui
116
suhu udara di suatu tempat, maka kita harus tahu dulu suhu rata-rata dan ketinggian tempatnya.
h. Letak Lintang Tempat
Sudut datang pancaran sinar matahari dapat mempengaruhi tingkat pemanasan permukaan bumi. Semakin tegak cahaya matahari datang di suatu daerah, semakin besar pula efek panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi di daerah itu, sehingga menyebabkan kondisi suhunya semakin tinggi. Daerah di permukaan bumi yang menerima pemanasan sinar matahari secara tegak, yaitu dengan sudut datang 90°, adalah daerah-daerah yang terletak di lintang tinggi. Daerah-daerah yang termasuk lintang tinggi, yaitu tempat-tempat yang terletak di sekitar wilayah khatulistiwa.
i. Derajat Keawanan
Awan mempunyai fungsi mengurangi radiasi dari matahari ke bumi dan mengurangi panas yang berasal dari bumi ke atmosfer.
Awan mempunyai efek seperti rumah kaca (green house effect).
Artinya, awan dapat menahan panas yang dipancarkan bumi. Oleh karena itu, daerah yang selalu berawan, suhunya rendah. Sebaliknya, daerah yang selalu cerah, suhunya tinggi.
j. Bentuk Permukaan Bumi
Bentuk-bentuk muka bumi memiliki sifat yang berbeda-beda dalam menerima panas sinar matahari. Sifat permukaan bumi daratan lebih cepat menerima panas dan memancarkan kembali panas itu dengan cepat, jika dibandingkan dengan permukaan laut.
Oleh karena itu, daerah yang terletak di pedalaman yang jauh dari
pengaruh angin laut (gurun pasir) pada siang hari suhunya sangat
tinggi.
117
8. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara pada suatu titik daerah di permukaan bumi. Mengapa udara memberikan tekanan kepada permukaan bumi? Karena udara tersebut memiliki massa dan menempati ruang. Besarnya tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Barometer ini ada yang menggunakan zat cair, disebut barometer air raksa, dan ada pula yang tanpa zat cair, disebut barometer aneroid.
Tekanan udara sangat dipengaruhi oleh kondisi suhunya. Bila kondisi suhunya rendah, maka tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, bila suhunya tinggi, kondisi tekanan udaranya rendah. Naik turunnya tekanan udara akan tergambar pada barometer dalam bentuk barogram.
Satuan yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah bar, dimana 1 bar = 1000 milibar (mb) atau setara dengan satu atmosfer (1 atm = 1013 mb).
9. Kelembapan Udara
Kelembapan udara, adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat dalam udara. Kelembapan udara sering disebut juga dengan istilah kelengasan udara atau kebasahan udara. Udara dikatakan lembap jika kandungan uap airnya banyak, dan sebaliknya, udara dikatakan kurang lembap jika kandungan airnya kurang. Kelembapan udara dapat diukur dengan menggunakan alat higrometer atau higrograf.
Untuk menyatakan kelembapan udara, dapat digunakan dua cara, yaitu kelembapan udara mutlak atau absolut dan kelembapan udara nisbi atau relatif.
Kelembapan Mutlak atau absolut, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan berat uap air dalam tiap volume udara. Berat uap air dinyatakan dalam gram dan volumenya dinyatakan dalam liter atau m³, sehingga satuannya dinyatakan dalam gram/liter atau gram/m³.
Jadi, jika dalam satu m³ udara terdapat 25 gram uap air, artinya
kelembapan mutlaknya adalah 25 gram/m³. Daerah yang
118
mempunyai kelembapan mutlak tertinggi terletak di sekitar pantai yang berdekatan dengan lautan. Kelembapan mutlak terendah di wilayah gurun pasir.
Kelembapan nisbi atau relatif, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar terdapat dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada suhu yang sama. Kelembapan ini dinyatakan dalam persen (%).
10. Angin
Pergerakan angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara.
Perbedaan tekanan udara terjadi karena adanya perbedaan suhu udara sebagai akibat dari perbedaan pemanasan matahari di permukaan bumi.
Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, makin besar pula anginnya.
Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan anemometer.
Sedangkan untuk melihat arah angin, dapat menggunakan sisip angin atau windsock.
Pemberian nama-nama angin, biasanya menurut asal datangnya, seperti angin barat, yaitu angin yang berasal dari arah barat menuju ke timur.
11. Hujan
Hujan merupakan salah satu unsur pembentuk cuaca dan iklim yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Hujan terjadi akibat adanya penguapan, yang kemudian terjadi pengembunan dan membentuk kumpulan titik-titik air di udara (awan). Setelah kandungan titik-titik air di awan tadi makin banyak dan semakin berat, maka turunlah hujan.
Besarnya curah hujan dapat diukur dengan menggunakan rain gage,
ombrometer atau ombrograf.
119
Berdasarkan cara terjadinya, hujan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
4) Hujan Zenithal
Hujan zenithal adalah hujan yang terjadi akibat naiknya massa udara secara vertikal (massa udara bergerak secara konveksi).
Sebagaimana diketahui, semakin tinggi suatu tempat suhunya makin dingin, sehingga pada ketinggian tertentu terbentuklah awan dan menurunkan hujan zenithal. Oleh karena awan terbentuk akibat gerakan udara secara konveksi, maka hujan ini disebut juga hujan konveksi.
5) Hujan Orografis
Hujan orografis adalah hujan yang terjadi di daerah pegunungan.
Akibat gerakan udara secara horizontal terhalang oleh adanya pegunungan, menyebabkan massa udara ini dipaksa naik lereng pegunungan. Semakin tinggi pegunungan tersebut, makin rendah pula suhunya, sehingga terbentuklah awan dan menurunkan hujan di lereng pegunungan tersebut.
6) Hujan Frontal
Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front. Daerah front merupakan daerah tempat pertemuan massa udara panas dengan massa udara dingin. Pertemuan kedua massa udara tersebut menyebabkan terjadinya kondensasi sehingga terbentuk awan yang menurunkan hujan
12. Awan
Awan merupakan fenomena yang sering kita lihat sebelum terjadinya
hujan. Awan yang tebal dan hitam menunjukkan dalam waktu yang
tidak lama lagi hujan akan turun. Awan terdiri atas kumpulan titik-titik
air dalam udara akibat adanya pengembunan (kondensasi). Pada awan
terdapat muatan listrik bertegangan tinggi. Jika terjadi pertemuan dua
muatan listrik yang berlawan kutub, akan terjadi sebuah kilatan di
angkasa (kilat) yang disertai dengan suara menggelegar (guntur/petir).
120
Pertemuan ketiga
Beberapa metode penentuan Klasifikasi Iklim di Indonesia antara lain :
1. Klasifikasi Iklim Mohr
Klasifikasi iklim yang didasarkan curah hujan diajukan Mohr pada tahun 1933. Klasifikasi iklim ini didasarkan pada jumlah Bulan Kering (BK) dan jumlah Bulan Basah (BB) yang dihitung sebagai harga ratarata dalam waktu yang lama. Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan lebih dari 100 mm (jumlah curah hujan bulanan melebihi angka evaporasi). Bulan Kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm ( jumlah curah hujan lebih kecil dari jumlah penguapan).
2. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Klasifikasi Iklim menurut Schmidt-Ferguson (1951) didasarkan kepada perbandingan antara Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB). Kriteria BK dan BB yang digunakan dalam klasifikasi Schmidt-Ferguson sama dengan kriteria BK dan BB oleh Mohr, namun perbedaannya dalam cara perhitungan BK dan BB akhir selama jangka waktu data curah hujan itu dihitung. Ketentuan penetapan bulan basah dan bulan kering mengikuti aturan sebagai berikut:
Bulan Kering: bulan dengan curah hujan lebih kecil dari 60 mm.
Bulan Basah: bulan dengan curah hujan lebih besar dari 100 mm.
Bulan Lembab: bulan dengan curah hujan antara 60 – 100 mm.
Bulan Lembab (BL) tidak dimasukkan dalam rumus. Penentuan tipe curah hujan yang dinyatakan dalam nilai Q, yang dihitung dengan persamaan berikut :
Rata-rata jumlah BK
Q = x 100 %
121
Rata-rata jumlah bulan basah adalah banyaknya bulan basah dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan, demikian pula rata-rata jumlah bulan kering adalah banyaknya bulan kering dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan. Dari besarnya nilai Q ini selanjutnya ditentukan tipe curah hujan suatu tempat atau daerah dengan menggunakan tabel Q atau diagram segitiga kriteria klasifikasi tipe hujan menurut Schmidt-Ferguson.
3. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman
Klasifikasi iklim menurut Oldeman (1975) disebut juga dengan klasifikasi agroklimat. Peta cuaca pertanian ditampilkan sebagai peta agroklimat. Klasifikasi iklim ini terutama ditujukan kepada komodii pertanian tanaman pangan utama seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman palawija lainnya. Karena penggunaan air bagi tanaman-tanaman utama merupakan hal yang penting di lahan-lahan tadah hujan, maka dengan data curah hujan dalam jangka lama, peta agroklimat didasarkan pada periode kering. Curah hujan melebihi 200 mm sebulan dianggap cukup untuk padi sawah, sedangkan curah hujan paling sedikit 100 mm per bulan diperlukan untuk bertanaman di lahan kering. Dasar klasifikasi agroklimat ini ialah kriteria Bulan Basah dan Bulan Kering. Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan sama atau lebih besar dari 200 mm.
Bulan Kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan lebih kecil dari
100 mm. Kriteria penentuan BB dan BK ini didasarkan pada
besarnya evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui tanah dan
tajuk tanaman. Evapotranspirasi dianggap sebagai banyaknya air
yang yang dibutuhkan oleh tanaman.
122
J. Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran : Team Game Tournament
Metode Pembelajaran : Diskusi, tanya jawab, penugasan, dan turnamen K. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama: (3JP)
Tahap Kegiatan Belajar Alokasi
Waktu Pendahuluan Guru membuka pertemuan dengan salam
Guru dan peserta didik berdoa untuk memulai pelajaran
Guru melakukan presensi peserta didik
Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
Guru menjelaskan topik dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai pada
pertemuan ini
Apersepsi: materi dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan
Memberikan motivasi mengenai materi yang akan diajarkan dan apa manfaatnya, serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
25 menit
123
Kegiatan
Inti
Mengamati
Memahami pengertian atmosfer
menggunakan buku Geografi SMA/MA Kelas X Penerbit: Erlangga
Mengidentifikasi mengenai lapisan atmosfer berdasarkan teori.
Menanya
Setiap kelompok diminta untuk mengajukan pertanyaan terkait dengan materi yang belum dipahami dari buku pelajaran geografi yang telah tersedia dan diperbolehkan mencari lewat media internet dan lain-lain
Tanya jawab antar kelompok yang telah dibentuk, berdasarkan hasil temuan dari buku dan media internet mengenai ilmu geografi
Mengidentifikasi tentang lapisan Atmosfer berdasarkan teori.
Mengumpulan data
Setiap kelompok mengumpulkan data
tambahan yang diperoleh dari kelompok lain tentang definisi dan karakteristik lapisan atmosfer
Membandingkan data yang ada di kelompok dengan data kelompok lain.
Mengasosiasi
35 menit
10 menit
15
menit
124
Menyimpulkan dengan pendapat sendiri definisi dan karakteristik lapisan atmosfer
Membuat pertanyaan sendiri tentang
pengertian atmosfer dan karakteristik lapisan atmosfer.
Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan hasil tanya jawab
dalam bentuk laporan dan membacakan laporannya
Memberikan penegasan pada materi
perkembangan geografi dan meluruskan jika terjadi salah konsep.
15 menit
15 menit
Penutup Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi tentang karakteristik lapisan-lapisan atmosfer bumi
Guru memberikan tugas untuk mengamati
karakteristik lapisan-lapisan atmosfer Bumi untuk dikumpulkan pada pertemuan
selanjutnya
Melakukan evaluasi.
20 menit
Jumlah 135
menit
4. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Teknik Penilaian
125
d. Sikap: observasi
e. Pengetahuan: tugas berkelompok f. Keterampilan: unjuk kerja 5. Instrumen Penilaian
a. Pertemuan pertama:
1) Sikap: lembar observasi Tema : Dinamika atmosfer
No Nama Peserta didik
Aspek perilaku yang dinilai
Keterangan Bekerjasama Rasa Ingin
tahu Disipilin Peduli lIngkungan 5. ...
6. ...
7. ...
8. ...
Kolom Aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
4= sangat baik 3=bai k 2=cukup 1=kurang
2) Pengetahuan: lembar observasi terhadap diskusi, tanya jawab dan percakapan
Nama peserta didik
Pernyataan Pengungkapan konsep
litosfer secara tepat
Kebenaran konsep-konsep
pendukung
Ketepatan penggunaaan
istilah
Menjawab dengan
tepat
Ya Tida k Ya Tida k Ya Tida k Ya Tida k
….
Keterangan: Kolom pernyataan diisi dengan ceklis ( √ )
126
3) Keterampilan : lembar unjuk kerja Petunjuk:
Berilah tanda ceklis ()pada angka yang sesuai untuk setiap kemampuan yang teramati pada waktu peserta didik selama presentasi mengenai 10 konsep esensial geografi :
5. bila tidak pernah, 6. bila jarang,
7. bila kadang-kadang,
8. bila siswa selalu melakukan.
Nama peserta
didik
Keterampilan yang dinilai Menjelaskan
materi
Menjawab pertanyaan
Penambahan argumentasi
Penggunaaan bahasa
Ketepatan waktu presentasi 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
...
...
...
...
...
6. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan c. Remedial
Apabila hasil penilaian kognitif dan psikomotor belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal maka dilakukan remedial dengan kriteria sebagai berikut:
1). Remedial individual dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM <20%
2). Remedial kelompok dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM 20% - 50%
3). Remedial Klasikal dilakukan apabila peserta didik tidak mencapai KKM > 50%
d. Pengayaan
Apabila hasil penilaian kognitif dan psikomotor telah mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal maka dilakukan pengayaan terkait
perluasan materi terkait
127
L. Media/Alat, Bahan dan Sumber Pembelajaran 4. Media
a. Power Point tentang dinamika atmosfer dan pengaruhnya terhada kehidupan
b. Video lapisan atmosfer (fungsi dan manfaat lapisan) c. Video dampak atau pengaruh lapisan atmosfer.
5. Alat/Bahan d. Alat
7. Laptop 8. LCD 9. Papan tulis 10. Spidol 11. Speaker
12. Lembar kegiatan siswa e. Media
3. Power point 4. Video f. Bahan
Buku geografi kelas X kurikulum 2013
6. Sumber Belajar
a. Harmanto, Gatot. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X (Peminatan). Bandung: Yrama Widya
b. Suhandini, Purwadi dan Bambang Nianto Mulyo. 2013. Geografi 1 untuk kelas X SMA dan MA kelompok peminatan ilmu-ilmu social.
Solo: PT Wangsa Jatra Lestari
c. Suparmini. 2009. Dasar-dasar Geografi. Yogyakarta: UNY
128
Mlati, Maret 2017 Mengetahui,
Guru Pembimbing SMA N 1 Mlati Mahasiswa
Sukarni S.Pd Sartika Apriyani
NIP 19700612 199702 2 002 NIM 13405241039
129
Lampiran 3
LEMBAR KEGIATAN 1 PROBLEM BASED LEARNING
Mata Pelajaran : Geografi
Kelas/Semester : X IIS 2/II (Genap) Alokasi : 3 x 45 menit Kompetensi Dasar :
3.7 Menganalisis dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan Petunjuk
1. Gambarkan lapisan atmosfer beserta keterangannya
2. Amatilah lapisan-lapisan atmosfer yang sudah Anda pelajari dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.
3. Diskusikanlah dalam kelompok untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apa yang dimaksud dengan kutub panas kota ? b. Bagaimana kutub panas itu bisa terjadi?
c. Bagaimana cara mengurangi pengaruh kutub panas ?
d. Bagaimana usaha meningkatkan RTH untuk mengurangi kutub panas ? 4. Buatlah makalah dan presentasikanlah hasil diskusi kelompok sedangkan
kelompok yang lain menanggapi.
130