MUQODDIMAH
الله الرحمن الرحيممسب
Tulisan tentang syubhat-syubhat ini ditujukan untuk :
Memperbaiki dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam jokam, baik Aqidah, Ibadah, Mu’amalah maupun Akhlaq dan Adab agar jokam ini lebih sempurna dan selalu berada di jalan yang benar, sesuai dengan tujuan awal jamaah jokam didirikan yaitu untuk mengkaji, memahami dan mengamalkan Qur’an dan Hadist dengan murni, niat mukhlis lillah karena Alloh dan tujuan ingin masuk surga selamat dari neraka.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk merusak, membubarkan, merongrong, nggembosi jamaah jokam.
Kami tulis semua ini karena kami mengemban amanat dari Alloh Rosul untuk menyampaikan ilmu dan meluruskan serta memperbaiki kesalahan-kesalahan / kemungkaran-kemungkaran yang ada didepan mata kita, sebagai praktik Ta’awun Alal Birri Wattaqwa dan kewajiban saling menasehati juga mengingatkan sesama orang Islam / orang iman yang sama-sama punya tujuan masuk surga selamat dari neraka. Secara khusus, ini juga sebagai bukti bahwa kami ingin menyampaikan amanat ilmu kepada jamaah jokam, karena kami berangkat ke Makkah mencari ilmu sampai pulang telah dibiayai oleh jamaah jokam. Kami merasa jika tidak menyampaikan ilmu dan meluruskan syubhat-syubhat serta kesalahan jamaah jokam, maka kami telah berkhianat kepada Allah Rosul dan kepada orang-orang yang telah mengamanatkan dan membiayai kami untuk mencari ilmu.
Bagi saudara-saudara yang telah membaca dan memahami tulisan ini, mohon disampaikan dengan bahasa yang baik dan santun agar bisa diterima dan sebagai bukti bahwa kita yang memahami seperti ini tidak
2 | S Y U B H A T
ingin menjatuhkan, meremehkan atau menyombongi orang lain, melainkan ini semata-mata kita ingin mewujudkan :
َأَو ْ٣ُس َفُْٙجَ
أ اْ٬ُٛ"
"اًراَ٧ ْ٣ُسْيِ٢ْ٪ . Semoga Alloh memberi aman, selamat, lancar dan barokah..يننآ
Hormat Kami
Penyusun
MENTA’DIL 30 SYUBHAT BARU YANG BERJUDUL :
“Ciri-Ciri Orang Yang Telah Berubah Kefahamannya”.
(1-16)
4 | S Y U B H A T
-Syubhat Pertama-
“Mereka mempunyai pengertian jamaah itu adalah menetapi Qur’an Hadist (Jamaah Manhajiyyah / jamaah sebagai metode atau cara) tidak harus dalam bentuk beramir, berbaiat dan bertaat”.
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Mereka kemungkinan hanya mengikuti rekaman-rekaman yang sudah di potong-potong, di edit dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Justru dalam syubhat-syubhat yang kami terangkan, kami menjelaskan bahwa istilah jamaah dalam syariat ada dua, yaitu jamaah secara manhaj dan jamaah secara bentuk (strutural kepemimpinan dan ru’yah).
Lalu kami menta’dil / meluruskan syubhat kesalahan jokam yaitu banyak dalil-dalil yang sebenarnya bermakna jamaah secara manhaj dimaknai jamaah secara bentuk dan kami juga menta’dil kesalahan anggapan bahwa bentuk jamaah jokam itu sudah benar dan sesuai dengan Qur’an Hadist (sudah diterangkan dalam syubhat kedua).
Sedikit kami mengulang tentang dalil-dalil yang bermakna jamaah secara manhaj, namun dimaknai jamaah secara bentuk, diantaranya dua hadist berikut :
1 - نِإَو...
ِهِؼَ٪
َث ٢ِ٥ْلا ُقِ َتََْٙخَـ َ َعَ
ٍث َلََذ َيِْٓتَـَو ِناَخْنِذ /
َن٬ُْٓتَـَو
،ِرا لنا ِف ٌةَػِضاَوَو ِف
٨َْ
،ِث لْا َ ِهَو ُثَْاَ٥َْ
لْا » .
دواد ٬ةأ هاور
Jamaah dalam hadist ini selalu dimaknai jamaah yang berimam, berbaiat dan bertaat sehingga meyakini penuh bahwa “Jika tidak berimam, berbaiat dan bertaat, maka termasuk sebagai 72 golongan yang pasti masuk neraka”, padahal makna jamaah yang benar dalam hadist ini adalah “Siapa saja yang menetapi kebenaran seperti yang ditetapi oleh Rosululloh dan para Shohabat”, seperti yang dijelaskan
dalam Syarah Abu Dawud dan naskah yang sangat jelas dalam Sunan Tirmidzi :
لحا حشر / ديػ
...
( ُثَْاَ٥َْ
لْا ) ْيَ
أ ُ٠ْ٪َ ِنآْؽُْٜ١ا أ ِديِػَْ
لحاَو ِ٩ِْْٜٙ١اَو
ِ٣ْ ٢ِْٓ١اَو َ٦يِلَّا ا٬َُٓ٥َخْسا
َ َعَ
ِعاَتِّتا ِهِراَذَآ ِفﷺ
ِّيِ َجَ
ِلاَ٬ْضلْاَ ْ اَ٫ِّ ُكُ
ْ٣َلَو ا٬ُِْػَخْبَي لاِة
ِٗيِؽ ْط ِيِيْٖ لاَو ْ٣َلَو
ا٬ُلِّػَتُح
ِءاَر ْ لْاِة اَْٙ
ِةَػِـ ١ا .
دواد ٬ةأ ننـ حشر د٬تٓلما ن٬ْ
Artinya : “Jamaah adalah ahli qur’an, ahli hadist, ahli fiqih, ahli ilmu yaitu orang-orang yang berijtima’ (bersepakat) mengikuti sunnah- sunnah Nabi dalam segala tingkah laku, mereka tidak mau merusak, merubah dan mengganti sunnah-sunnah Nabi dengan pendapat- pendapat yang menyimpang”.
ُقِ َتََْٙتَو...
ِت ٤ُ أ َ َعَ
ٍث َلََذ َيِْٓتَـَو
،ًث ٢ِم ْ٣ُ٫ُّ ُكُ
ِرا لنا ِف لِّإ ًث ٢ِم ًةَػِضاَو
»
، ا٬ُلاَٛ
/ ْ٦َ٤َو َ ِه
اَي َل٬ُـَر
؟ِللها َلاَٛ
/«
اَ٤ اَ٧َ ِ٩ْيَ٢َْ أ اَط ْنَ ِب أَو
».
يؼ٤تَ١ا هاور
Hadist ini memperjelas bahwa makna jamaah dalam riwayat Abu Dawud diatas adalah اَ٧َ اَ٤"
ِ٩ْيَ٢َْ أ ِباَط ْنَ
أَو
" / apa saja (kebenaran) yang Aku (Nabi) dan para Shohabatku menetapinya.
2 - ْ٦َخ ِ٦ْةا
،َؽَ٥ُخ نَ
أ َل٬ُـَر ِللها ﷺ َلاَٛ
/.
..
ُػَيَو ِللها ََّ٤ ِثَْاَ٥َلْا
، ْ٦َ٤َو ؼَك ؼَك
َلِإ
ِرا لنا "
يؼ٤تَ١ا هاور
Hadist ini sejak dulu oleh jokam dimaknai “Tangan Alloh bersama jamaah (yang berimam, berbaiat dan bertaat) siapa yang mrezel, maka mrezelnya menuju neraka”. Sedangkan makna yang benar adalah seperti yang telah diterangkan oleh Imam Tirmidzi sendiri diujung hadist ini yaitu :
6 | S Y U B H A T
... / سىيْ ٬ةأ لاٛ
ُي ِفَْٙتَو ِثَْاَ٥َلْا
َػْ٨ِْ
ِ٠ْ٪َ ِ٣ْ أ
٢ِٓ١ا ْ٣ُ٪
ُ٠ْ٪َ ِ٩ِْٜٙ١ا أ ِ٣ْ
٢ِٓ١اَو ِديِػَلحاَو
،
جِْٓ٥َـو َدوُراَلْا
َ٦ْب ٍذآَُ٤ ُل٬َُٜح ُجِْٓ٥َـ / ِلَْ
َ٦ْب
، ِ٦َفَلحا ُل٬َُٜح
/ ُجْ١َ
أَـ َػْتَخ ِللها َ٦ْب
ِكَراَتُ٥لا ِ٦َ٤ /
ُثَْاَ٥َلْا
؟ َلاََٜذ /
٬ُةَ ٍؽْسَة أ ُؽَ٥ُخَو َ٠يِر،
َ ُ ل / ْػَٛ
َتاَ٤
٬ُةَ ٍؽْسَة أ
،ُؽَ٥ُخَو َلاَٛ
/
ٌن َلَُ٘
،ٌن َلََُ٘و َ٠يِر
َ ُ ل / ْػَٛ
َتاَ٤ ٌن َلَُ٘
،ٌن َلََُ٘و َلاََٜذ
َخ ُػْت ِللها ُ٦ْب ِكَراَتُ٥لا /
٬ُةَ أ َةَؾْ َحَ
ُّيِؽ ُّٟفلا ٌثَْاَ َجَ
/
٬ُةَ أَو َةَؾْ َحَ
َ٬ُ٪
ُػ ٥َ ُمُ
ُ٦ْب ٍن٬ُ٥ْيَ٤ َن َكََو اًغْيَك
،اً ِلحا َن اَ٥ جِإَو َلاَٛ
اَؼَ٪
ِف
ِ٩ِحاَيَض اَ٧َػْ٨ِْ
.
يؼ٤تَ١ا هاور
Abu Isa (Imam Tirmidzi) berkata Penjelasan ُثَْاَ٥َلْا menurut para Ulama’ adalah “Ahli fiqih, ahli ilmu dan ahli hadist”.
Aku mendengar Jarud bin Mu’adz berkata, aku mendengar Ali bin Hasan berkata, aku bertanya kepada Abdulloh bin Mubarok berkata “Siapakah yang dimaksud ُثَْاَ٥َلْا itu ?”, dia menjawab “ ُثَْاَ٥َلْ adalah Abu Bakar dan ا Umar”. Dikatakan kepadanya “Abu Bakar dan Umar sudah mati”, dia menjawab “Si Fulan dan Si Fulan”. Dikatakan kepadanya “Fulan dan Fulan sudah mati”, dia berkata “Abu Hamzah Assukkari dia adalah ُثَْاَ٥َلْا”. Abu Hamzah adalah Muhammad bin Maimun, dia seorang syaikh yang sholih, Abdulloh bin Mubarok mengatakan hal ini pada masa hidupnya Abu Hamzah.
/ د٬ٓفلما ٦ة للها ػتْ لاٛ
َكَػْضَو َجْ٨ُٞ ْ٬َلَو َْٚ
لحا ََٚذاَو اَ٤ ُثَْاَ٥َْ َ٘ ِإ ٧ لْا
َٝ
َ أ ْ٧ َج َْ لْا َ٥ َْا ُث
ِض ْي َن ِئ ٍؼ .
ا هاور فٌلملدا ظيراح ف ؽٞافْ ٦ة
“Jamaah adalah sesuatu yang mencocoki kebenaran walaupun kamu sendirian, maka kamu disebut Jamaah”.
Catatan :
Dua hadist diatas dan sejenisnya bermakna jamaah yang berupa manhaj yaitu golongan atau perorangan yang betul-betul mengikuti manhaj (cara yang benar) dalam menetapi agama, baik aqidahnya, ibadahnya, mu’amalahnya maupun adab dan akhlaqnya. Inilah orang- orang yang mendapat jaminan surga diantara 72 golongan lain yang diancam masuk neraka.
Jokam selalu mengartikan hadist-hadist seperti ini untuk jamaah yang berimam, berbaiat dan bertaat, sehingga mereka merasa hanya mereka yang mendapat jaminan surga dan yang lain masuk neraka, padahal makna yang seperti ini salah, baik makna secara lafadz atau menurut rujukan syarah-syarah, bahkan berselisih dengan penjelasan para Imam penyusun hadist tersebut.
Sedangkan hadist-hadist yang bermakna jamaah secara bentuk, dalam himpunan Kitabul Imaroh (milik jokam) dan Kanzul Umal, makna yang benar secara umum adalah "ي٥٢فلما ثْاجَ" / jamaahnya orang-orang Islam yang dipimpin oleh seorang Imam / Raja / Sultan / Pemerintah / Penguasa, sesuai dengan lafazd-lafazd dalam hadist-hadist tersebut, diantaranya ٣٫٤ا٤إو ي٥٢فلما ثْاجَ / ثٙي٢ع / ٝلا٤ / ناٍ٢ـ.
Sangat jelas dalam lafadz-lafadz dalam hadist tersebut tidak bisa dimaknai jamaah sebagian dari ummat Islam dan Imamnya hanya sekedar imam golongan.
Pemahaman Kita (Jokam) :
“Menetapi Qur’an Hadist dan harus dalam bentuk beramir, berbaiat dan bertaat, bukan hanya Jamaah Manhajiyyah. Berdasarkan dalil :...”
8 | S Y U B H A T
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
1. Pernyataan seperti ini berarti menggabung antara jamaah secara manhaj dan jamaah secara bentuk sehingga membuat kesimpulan, jika menetapi Qur’an Hadist (jamaah secara manhaj) tapi tidak berjamaah berimam, berbaiat dan bertaat, maka tetap tidak mendapat jaminan masuk surga, berarti tetap salah dan masuk neraka. Penggabungan seperti ini tidak ada dalam rujukan-rujukan hadist, syarah-syarahnya maupun pernyataan Ulama-Ulama’ mashur dan ucapannya dijadikan hujjah. Bahkan hadist-hadist jaminan surga seperti dua hadist diatas, itu memang jaminan khusus untuk jamaah secara manhaj, tidak dikaitkan dengan jamaah secara bentuk.
Adapun jamaah secara bentuk (berimam, berbaiat dan bertaat) itu adalah salah satu kewajiban penting didalam menetapi agama / jamaah secara manhaj, namun bukan merupakan syarat mutlak yang harus menjadi gandengan orang menetai Qur’an Hadist (jamaah secara manhaj). Buktinya, ketika tidak dijumpai"ي٥٢فلما ثْاجَ" (jamaah seluruh ummat Islam) dan "٣٫٤ا٤إ" (imam tunggal mereka), maka Rosululloh memerintahkan supaya uzlah (memisahkan diri) untuk menetapi kebenaran (Qur’an Hadist / Jamaah Manhaj).
Jika menetapi Qur’an Hadist yang bisa masuk surga harus digabung dengan berimam, berbaiat dan bertaat, maka pastilah Rosululloh tidak memerintahkan untuk uzlah (memisahkan diri tanpa menetapi jamaah secara bentuk).
2. Ta’dil syubhat pengertian dalil-dalil yang digunakan untuk mendasari pernyataan diatas.
- اَي اَ٫ُّحَ َ٦يِلَّا أ ا٬ُ٨َ٤آ ا٬ُٜ تا َللها َٚض ِ٩ِحاَُٜت
َلَّو ٦ُت٬ُ٥َت لِّإ ْ٣ُخْجَ َن٬ُ٥ِ٢ْفُم أَو
۞
ا٬ُ٥ ِهَخْخاَو ِ٠ْتَ ِبِ
ِللها آًيِ َجَ
َلَّو ا٬ُٛ ؽََٙت ثيلْا ...
/ ناؽ٥ْ لآ ةر٬ـ 102
-
103
- ْ٣ُسْيَ٢َْ
ِثَْاَ٥َلْاِة َثَْٛؽُٙ١اَو ْ٣ُزا يِإَو
.
ر يؼ٤تَ١ا هاو
- ْ٣ُ٫َماَ٤ِإَو َيِ٥ِ٢ْفُ٥ْلا َثَْاَ َجَ ُمَؾْ٢َح«
» .
يراغلبا هاور
Pengertian berjamaah dalam dalil-dalil diatas (menurut jokam) adalah mengangkat imam dengan cara berbaiat, seperti yang diterangkan dalam tafsir Thobari.
- ٦ْ
ػتْ
للها ف ل٬ٛ
"/
هخْاو ا٬٥ ٠تبِ
للها آًيجَ
"،
لاٛ
/ ُ٠تض
،للها ثْا٥لْا . اوُرَؼْضا ِيَ -
أ )َثَْٛؽُْٙ
١اَو ْ٣ُزا يِإَو( ِثَ٤اَ٤ِْ
لْا ِب ْهَ٨ِة ِثَ٥َِِخْ٨ُ٥ْ لا ِيَ
أ )ِثَْاَ٥َْ
لْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ(
. َ٦َسْ٤َ
أ اَ٤ اَ٫َخَرَراَُٙ٤ َِبََْ -
لْا َ٦ِ٤ َداَؽُ٥ْلا نَ
أ ُباَ٬ هلاَو ُّيِ َبَ ٍ١ا َلاَٛ
ِ٦َ٤ ِثَْاٌَ ِف َ٦يِلَّا ِثَْاَ٥َْ
لْا ُموُؾُل
ِثَْاَ٥َلْا ِ٦َْ َجَؽَع ُ٩َخَْٓيَب َدَسَ٧ ْ٦َ٥َذ ِهِيِ٤ْ ْ
أَح َ َعَ ا٬َُٓ٥َخْسا ( ِديِػَْ
لحا ِفَِو َلاَٛ
ْنِإَ٘
ْ٣َل ْ٦ُسَي ْ٣ُ٫َل ٌثَْاَ َجَ
َلَّو ٌماَ٤ِإ َلاَٛ
ْلِ َتَْخاَ٘
َْٝ اَ٫ ُكُ َقَؽِْٙ١ا ٢ِح
ْ٬َلَو
َ أ ْن وََٓت ِ٠ ْنَ
أِة ٍةَؽَشَك تَّض ََٝكِرْػُي ُتْ٬َ٥ْلا
َجْ٧َ أَو َ َعَ
َِٝلَذ ْ٦ُسَي ْ٣َل َتَّ٤ ُ٩ ٧َ
أ ) ِنِإ َّيِ٥َْ
لْا ُلِ َتََْٓيَو ِثَْٛؽُْٙ١ا ِف اًػَضَأ َُّتْتَي َلََ٘ اًةاَؾْضَأ ُسا لنا َقَ َتَْذاَ٘ ٌماَ٤ِإ ِسا ٨٢ِل َ٦ِ٤ ًثَي ْلَع َِٝلَذ َعا ٍََخْـا .ِّ شَّلا ِف ِع٬ُُٛ٬ْلا
يؼ٤تَ١ا ننـ حشر يذ٬ضلْا ثٙتح
Mengartikan ayat, hadist, sebagian tafsir dan syarah seperti pengertian jokam diatas (mengangkat imam dengan cara berbaiat) adalah kebohongan dan kesalahan fatal, karena :
Dalil-dalil tersebut dipaksakan untuk mendalilil dan membenarkan jamaah dan imam golongan yang dibentuk oleh jokam, padahal dalil tersebut untuk ي٥٢فلما ثْاجَ / jamaahnya ummat Islam (ini kesalahan fatalnya dalam memaknai dalil).
Mengambil sebagian tafsir dari Thobari dan sebagian syarah dari Tuhfatul Ahwadzi untuk mendalili pengertian salahnya jokam. Ini adalah pembenaran dan termasuk pemalsuan serta kebohongan
10 | S Y U B H A T
atas nama Imam Thobari dan Muhammad Abdurrohman Al Mubarokfuri (penulis Tuhfatul Ahwadzi).
Sedangkan makna dan pengertian yang benar dari dalil-dalil, tafsir dan syarah diatas dengan melihat rujukannya secara utuh, tanpa pemotongan lafadz sebagai berikut :
o Ta’dil makna ِللها ِ٠ْتَض dalam tafsir thobari :
اَي اَ٫ُّحَ َ٦يِلَّا أ آ َ٤ ا٬ُ٨ ا٬ُٜ تا َللها َٚض ِ٩ِحاَُٜت
َلَّو ٦ُت٬ُ٥َت لِّإ ْ٣ُخْجَ َن٬ُ٥ِ٢ْفُم أَو ا٬ُ٥ ِهَخْخاَو۞
ِ٠ْتَ ِبِ
ِللها آًيِ َجَ
َلَّو ا٬ُٛ ؽََٙت ثيلْا ...
/ ناؽ٥ْ لآ ةر٬ـ 102
– 103
Artinya : “Wahai orang iman... Tetapilah tali Alloh dengan bersama- sama (bersatu) jangan berpecah-belah (berfirqoh-firqoh)”.
Imam Thobari dalam tafsirnya menyebutkan 5 makna untuk lafazd ِ٠ْتَ ِبِ
ِللها yaitu : Al-Jamaah, Janji dan Perintah Allah, Al Qur’an, Tauhid (ikhlas) dan Islam. Berarti jika diperinci :
“Tetapilah Al-Jamaah / Janji dan Perintah Allah / Al Qur’an / Tauhid (ikhlas) / Islam dengan bersatu, jangan berpecah-belah (berfirqoh- firqoh)”. (Naskah lengkap terlampir) !
Catatan :
Berarti jamaah ala jokam justru menyelisihi ayat ini, karena mereka telah membentuk golongan firqoh yang memecah-belah dan memisahi ummat Islam. Sementara ayat tersebut memerintahkan untuk bersatu / berkumpul / bersama-sama didalam menetapi Al-Jamaah (manhaj) / Janji dan Perintah Allah / Al Qur’an / Tauhid (ikhlas) / Islam.
o Makna ا٬ُٛ ؽََٙت dalam tafsir thobari : لَّو
- Jangan berpecah-belah dari agama Alloh, akan tetapi supaya rukun dan bersatu dalam mentaati perintah Allah dan Rosul.
- Jangan saling bermusuhan dalam menetapi tauhid.
Imam Thobari juga menyebutkan dua riwayat hadist untuk menguatkan pengertian ini yaitu :
Tentang Jamaah secara manhaj bahwa ummat ini akan berpecah- belah menjadi 73 golongan, yang satu dijamin surga yaitu jamaah (manhaj) (hadist 7577).
Tentang kewajiban taat (kepada Allah dan Rosul) dan berjamaah (secara manhaj).
Naskah lengkap terlampir ! Catatan :
Jamaah versi jokam menyelisihi larangan ا٬ُٛ ؽََٙت لَّو “Dilarang membentuk firqoh-firqoh dalam Islam”, lalu jamaah pada kenyataannya membentuk golongan diantara ummat Islam dan mengkalim (mengaku) sebagai golongan yang paling benar dan baik, dengan menamakan dirinya sebagai jamaah yang satu, yang mana dijamin surga diantara 72 golongan yang pasti masuk neraka (menurut mereka).
o Ta’dil makna al jamaah dari ucapan Abdillah bin Mas’ud dalam tafsir Thobari :
٦ْ
ػتْ
للها ف ل٬ٛ
/
"
ا٬٥هخْاو ٠تبِ
للها آًيجَ
"،
لاٛ
/ ُ٠تض
،للها ثْا٥لْا .
Yang benar adalah jamaah secara manhaj, bukan jamaah secara bentuk (seperti yang diterangkan dalam pernyataan diatas), terbukti dari hadist-hadist ucapan Abdulloh bin Mas’ud yang disitir oleh Imam Thobari dalam akhir tafsir ayat ini.
Inilah kesalahan fatal jokam, karena mengambil sebagian lafadz dari tafsir untuk pembenaran pemahannya yang salah. Tafsir ayat tidak diambil secara utuh sehingga tidak sama dengan maksud penyusun tafsir (ini namanya kebohongan).
o Ta’dil makna ثْاجَ dari hadist ِثَْاَ٥َْ
لْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ dari syarah Tuhfatul Ahwadzi.
12 | S Y U B H A T
اوُرَؼْضا ِيَ أ )َثَْٛؽُْٙ
١اَو ْ٣ُزا يِإَو( ِثَ٤اَ٤ِْ
لْا ِب ْهَ٨ِة ِثَ٥َِِخْ٨ُ٥ْ لا ِيَ
أ )ِثَْاَ٥َْ
لْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ(
. َ٦َسْ٤َ
أ اَ٤ اَ٫َخَرَراَُٙ٤
Artinya : “Tetapilah jamaah”, maksudnya yang terorginisir dengan mendirikan kepemimpinan, “Dan jauhilah perpecahan”, maksudnya berhati-hatilah, jangan memisahinya selagi memungkinkan.
Syarah hadist ini dipakasakan oleh jokam untuk dimaknai mendirikan Jamaah diantara ummat Islam dengan mengangkat Imam golongan sebagaimana jamaah mereka. Ini adalah pengambilan sebagian syarah hadist semaunya sendiri untuk mencari pembenaran dan menyelisihi maksud dari penulis syarah hadist.
Sedangkan lengkapnya syarah hadist bahwa yang dimaksud dengan jamaah yang terorganisir dengan mendirikan kepemimpinan adalah jamaahnya kaum muslimin yang terorganisir dengan mendirikan kepemimpinan tunggal, seperti diterangkan dalam lanjutan syarah berikutnya. Penulis syarah Tuhfatul Ahwadzi menyebutkan beberapa riwayat hadist yang menguatkan pengertian ini yaitu :
Barang siapa yang keluar dari ketaatan (kepada penguasa Islam) dan memisahi jamaah (kaum muslimin), maka matinya seperti kondisi kematian Jahiliyyah. (HR. Muslim)
Tetapilah jamaah kaum muslimin dan Imam mereka... (HR. Bukhori dan Muslim), Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari, yang dimaksud “Imam” dalam hadist ini adalah Amir (Pemerintah).
Dalam riwayat Abil Aswad ada tambahan lafadz “Dengarkanlah dan taatlah, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil”, begitupula dalam riwayat Kholid bin Subayyi’ dalam Thobroni “Jika kamu melihat Kholifah (penguasa tunggal) maka tetapilah dia walaupun dia memukul punggungmu, maka jika tidak ada kholifah, larilah (uzlah) !”.
o Ta’dil syarah ini :
ا٬َُٓ٥َخْسا ِ٦َ٤ ِثَْاٌَ ِف َ٦يِلَّا ِثَْاَ٥َْ
لْا ُموُؾُل ِ َبََْ
لْا َ٦ِ٤ َداَؽُ٥ْلا نَ
أ ُباَ٬ هلاَو ُّيِ َبَ ٍ١ا َلاَٛ
ِثَْاَ٥َْ
لْا ِ٦َْ َجَؽَع ُ٩َخَْٓيَب َدَسَ٧ ْ٦َ٥َذ ِهِيِ٤ْ أَح َ َعَ
( ِديِػَْ ،
لحا ِفَِو َلاَٛ
ْنِإَ٘
ْ٣َل ْ٦ُسَي ْ٣ُ٫َل
ٌثَْاَ َجَ
َلَّو ٌماَ٤ِإ َلاَٛ
ْلِ َتَْخاَ٘
َْٝ اَ٫ ُكُ َقَؽِْٙ١ا ٢ِح ْ٬َلَو
ْنَ أ وََٓت ِ٠ ْنَ
أِة ٍةَؽَشَك تَّض ََٝكِرْػُي
ُتْ٬َ٥ْلا َجْ٧َ
أَو َ َعَ
َِٝلَذ َُّتْتَي َلََ٘ اًةاَؾْضَ
أ ُسا لنا َقَ َتَْذاَ٘ ٌماَ٤ِإ ِسا ٨٢ِل ْ٦ُسَي ْ٣َل َتَّ٤ ُ٩ ٧َأ )
َْٛؽُْٙ
١ا ِف اًػَضَ ِنِإ َّيِ٥َْ أ
لْا ُلِ َتََْٓيَو ِث .ِّ شَّلا ِف ِع٬ُُٛ٬ْ
لا َ٦ِ٤ ًثَي ْلَع َِٝلَذ َعا ٍََخْـا
يذ٬ضلْا ثٙتح
يؼ٤تَ١ا ننـ حشر Syarah hadisit ini juga dipakai oleh jokam untuk pembenaran jamaah dan keimaman mereka. Ini juga termasuk kesalahan fatal, karena :
- Ucapan Imam Thobari dipotong (tidak diambil secara utuh). Imam Thobari menyebutkan 3 definisi jamaah diantara para Ulama’ :
Wajib menetapi jamaah yaitu golongan yang paling besar ُداَ٬ فلا ( )ُ٣ َِْخَ ْلْا, berdasarkan riwayat Ibnu Sirin bahwa Abi Mas’ud pada zaman terbununhnya Kholifah Ustman berpesan "Tetapilah jamaah (sawadul a’dhom) karena Alloh tidak mengumpulkan ummat Nabi dalam kesesatan”.
Jamaah adalah para Shohabat dan Ulama’-Ulama’ setelah mereka.
Jamaah adalah ahli ilmu, karena mereka adalah hujjah Alloh atas makhluk dan seluruh manusia adalah pengikut mereka dalam urusan agama.
Lalu Imam Thobari menyimpulkan bahwa definisi yang benar untuk lafadz ثْا٥لْا dalam hadist ِثَْاَ٥َْ
لْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ(
)َثَْٛؽُْٙ
١اَو ْ٣ُزا يِإَو adalah menetapi jamaah yaitu orang-orang yang mentaati seseorang yang mereka sepakat mengangkat dia sebagai Amir. Barangsiapa yang merusak baiatnya (pengukuhannya terhadap Amir) maka berarti dia keluar dari
14 | S Y U B H A T
jamaah. Dalam riwayat hadist diterangkan bahwa “Ketika manusia (ummat Islam) tidak memiliki (Imam tunggal), mereka berpecah-belah menjadi beberapa golongan (dengan pemimpin masing-masing) maka jangan kamu ikuti seorangpun dalam firqoh-firqoh tersebut, pisahilah semuanya jika kamu mampu karena dikhawatirkan jatuh dalam keburukan (kekacauan dan benturan fisiki)”.
Catatan :
Kesimpulan dari ucapan Imam Thobari dalam syarah hadist diatas adalah menetapi jamaah ummat Islam dengan kepemimpinan yang tunggal dan meninggalkan firqoh-firqoh (golongan yang berpecah-belah dengan kepemimpinan masing-masing), sementara jokam justru membuat firqoh yaitu membentuk golongan dengan keimaman tersendiri dan memisiahi jamaah ummat Islam yang sudah memiliki pemimpin tunggal yang muslim.
-Syubhat Kedua-
“Mereka mempunyai pengertian bahwa jamaah yang dilaksanakan oleh HN, HAD, HAZ ini dianggap sebagai komunitas seperti perkumpulan atau organisasi atau partai”.
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Jamaah yang dibentuk oleh jokam jelas bukan partai dan bukan organisasi kecuali organisasinya yang sengaja dibentuk untuk merahasiakan keimamannya jokam. Jamaah jokam adalah jamaah sebagian dari ummat Islam dan Imamnya juga dikukuhkan hanya khusus untuk jamaah mereka, bukan Jama’atal Muslimin dan Imamnya juga bukan imamnya semua orang Islam. Ini sungguh sesuatu yang nyata dan autentik, tidak bohong dan tidak mengada-ada. Jika kenyataannya demikian, kenapa tidak mau dikatakan sebagai sebuah komunitas atau perkumpulan ?.
Kefahaman kita :
“Jamaah yang dilaksanakan oleh bapak HN, bapak HAD, bapak HAZ ini adalah jamaah beramir, berbaiat dan bertaat dengan tujuan semata- mata ingin masuk surga selamat dari neraka. Jamaah dengan beramir, berbaiat dan bertaat adalah bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul. Jadi, jamaah bukan komunitas, bukan perkumpulan, bukan organisasi, juga bukan partai”.
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Memang jamaah dengan beramir, berbaiat dan bertaat adalah bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul, namun bukan jamaah yang dibentuk memisahi ummat Islam yang lain, lalu mengaku sebagai jamaah yang paling benar, wajib masuk surga, sedangkan muslim yang lainnya adalah firqoh wajib masuk neraka.
16 | S Y U B H A T
Perintah berjamaah dengan beramir, berbaiat dan bertaat dalam Al Qur’an dan Hadist adalah perintah kepada semua ummat Islam dan orang-orang iman agar menjadi satu jamaah dengan pemimpin yang tunggal. Pada kenyataannya, jamaah bentukan jokam justru memperbanyak firqoh didalam Islam. Mengerjakan sesuatu dengan niat semata-mata ingin masuk surga dan selamat dari neraka, itu harus. Akan tetapi jika yang dikerjakan tidak sesuai dengan sunnah, maka juga roddun (ditolak) dan bukan ibadah.
1) Adapun dalil-dalil yang menjelaskan jamaah sebagai bentuk ibadah yang diperintahkan Allah Rosul :
ا٬ُ٥ ِهَخْخاَو - ِ٠ْتَ ِبِ
ِللها آًيِ َجَ
َلَّو ا٬ُٛ ؽََٙت ثيلْا ...
/ ناؽ٥ْ لآ ةر٬ـ 102
ِثَْاَ٥َلْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ - .َثَْٛؽُٙ١اَو ْ٣ُزا يِإَو
يؼ٤تَ١ا هاور
- ْ٣ُ٫َماَ٤ِإَو َيِ٥ِ٢ْفُ٥ْلا َثَْاَ َجَ ُمَؾْ٢َح« .»
يراغلبا هاور Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Ini kesalahan yang terus-menerus dipertahankan jokam yaitu salah dalam mengambil dan mengartikan dalil, dalam mengartikan dalil tidak sesuai dengan arti dari lafadz secara bahasa, tidak sesuai dengan arti dalam syarah-syarah hadist yang disusun oleh para Ulama’ dan tidak sesuai dengan penjelasan dari para Ulama’ Salaf (Shohabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in).
- Arti yang benar dari )ا٬ُٛ ؽََٙتلَّوَ آًيِ َجَ ِللها ِ٠ْتَ ِبِ ا٬ُ٥ ِهَخْخاَو( adalah “Tetapilah Al-Jamaah / Janji dan Perintah Allah / Al Qur’an / Tauhid (ikhlas) / Islam dengan bersatu, jangan berpecah-belah (berfirqoh-firqoh)”.
- Arti yang benar dari ) َثَْٛؽُٙ١اَو ْ٣ُزا يِإَو ِثَْاَ٥َلْاِة ْ٣ُسْيَ٢َْ( adalah “Tetapilah jamaah (ummat Islam dengan kepemimpinan tunggal) dan jauhilah perpecahan (memisiahi jamaah ummat Islam yang sudah memiliki kepemimpinan tunggal).
- Arti yang benar dari .» ْ٣ُ٫ َماَ٤ِإَو َيِ٥ِ٢ْفُ٥ْلا َثَْاَ َجَ ُمَؾْ٢َح« Adalah “Tetapilah jamaahnya orang-orang Islam dan Imam (pemimpin) mereka”.
Tiga dalil diatas memang menjelaskan perintah Allah untuk menetapi jamaah dan melarang firqoh, namun bukan jamaah dan imam golongan ala jokam (jokam salah dalam mengartikan dalil-dalil tersebut). Sangat jelas dalil-dalil diatas, justru melarang bentukan jamaah ala jokam, karena pada kenyataannya jamaah ala jokam adalah firqoh dalam Islam yang dilarang oleh Allah dan Rosul-Nya, berdasarkan dalil-dalil diatas.
2) Dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban berbaiat kepada Imam adalah :
Dalil pertama :
نِإ َ٦يِ لَّا ََٝ٧٬ُِٓياَتُح اَ٥ جِإ
َن٬ُِٓياَتُح َللها
ُػَي ِللها َقْ٬َ٘
ْ٣ِ٫يِػْي َ أ ْ٦َ٥َذ
َدَسَ٧ اَ٥ جِإ َ٘
ُدُْٟ٨َح َ َعَ
ِ٩ ِفَْٙج ْ٦َ٤َو َفْو َ اَ٥ِة أ َػَ٪ َعَ
ُ٩ْيَ٢َْ
َللها ِ٩يِتْؤُيَفَ٘
اًؽْس َ اً٥يَِِْ أ .
ةر٬ـ
/ صخٙ١ا 10 Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Ayat ini menceritakan kejadian baiat ridwan yaitu baiat yang dillaksanakan oleh Rosululloh dikawasan Hudaibiyah pada tahun 6 H, ketika beliau dan para Shohabat hendak melaksanakan umroh, lalu diatahan oleh orang-orang kafir tidak boleh masuk ke Makkah. Beliau mengutus Utman bin Affan untuk menyampaikan pesan kepada pemimpin-pemimpin Makkah, bahwa beliau datang ke Makkah bukan untuk berperang, akan tetapi untuk melaksanakan umroh. Karena Ustman bin Affan tidak kunjung kembali dan dikabarkan dia telah dibunuh, maka Rosululloh membaiat para Shohabat sanggup berperang sampai mati. (tafsir, riwayat hadist dan tarikh terlampir)
Melihat makna dan kisah ayat tersebut, maka tidak benar jika ayat ini dijadikan dasar “wajibnya berbaiat kepada Imam ala jokam”, karena kejadian Baiat Ridwan bukan baiat pengukuhan Rosululloh sebagai
18 | S Y U B H A T
Imam atau janji ru’yah kepada Rosululloh "ا٨ٍٓخـاا٤ ا٨ٌٓأو ا٨ٓ٥ـ" seperti baiat yang dipraktekkan oleh jokam kepada Imamnya, akan tetapi kejadian baiat ridwan itu hanya untuk menguatkan kewajiban berperang melawan orang kafir.
Dalil kedua :
« َتاَ٤ ْ٦َ٤َو ٌثَْٓيَب ِ٩ُِٜ٨ُخ ِف َؿْيَ١َو
ِ٤ َتاَ٤ ، ًث يِ٢ِ٪اَس ًثَخي .»
٣٢فم هاور
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Hadist ini ada sababul wurudnya yaitu ketika Abdulloh bin Muti’
(tokoh Muhajirin di Madinah) mencabut baiat dari Yazid bin Muawiyyah (Kholifah / Penguasa kedua dari Bani Umayyah), pada saat itu Abdulloh bin Umar mendatangi dan menasehatinya (supaya tetap mentaati kholifah, jangan memberontak dan membatalkan kepemimpinannya).
Lalu Abdulloh bin Umar menyebutkan dasar dalil “Barangsiapa yang mencabut ketaatan, maka tidak ada alasan baginya pada saat bertemu Alloh pada hari kiamat dan barangsiapa yang mati, dilehernya tidak ada ikatan tali baiat maka matinya seperti kondisi kematian orang Jahiliyyahh”. (HR. Muslim)
اَ٤ ِة ؽَْ لحا ِؽْمَ
أ ْ٦ِ٤ َن َكَ َيِض ٍّيٍُِ٤ ِ٦ْة ِللها ِػْتَخ َ
لِإ َؽَ٥ُخ ُ٦ْب ِللها ُػْتَخ َءاَس /َلاَٛ ،ٍِّ٘اَ٧ ْ٦َخ ،َن َكَ
َثَيِوآَُ٤ ِ٦ْة َػيِؾَي َ٦َ٤َز َِٝحآ ْ٣َل ِّنِِّإ / َلاََٜذ ،ًةَداَـِو ِ٦َ ْحَ ؽلا ِػْتَخ ِبَ ِلْ ا٬ُضَؽٌْا /َلاََٜذ ،
َؿِ٢ْسَ ِللها َل٬ُـَر ُجِْٓ٥َـ اًريِػَض ََٝذِّػَضُِلْ َُٝخْيَحَأ ، ِلْ
ِللها َل٬ُـَر ُجِْٓ٥َـ /ُ ُل٬َُٜح ﷺ ﷺ
/ ُل٬َُٜح
« َتاَ٤ ْ٦َ٤َو ،َُ
ل َث شُض َ لّ ِثَ٤اَيِْٜ
١ا َمْ٬َي َللها َ ِفٌَ١ ،ٍثَْاٌَ ْ٦ِ٤ اًػَي ََّ٢َع ْ٦َ٤ ِف َؿْيَ١َو
ٌثَْٓيَب ِ٩ُِٜ٨ُخ ِ٢ِ٪اَس ًثَخيِ٤ َتاَ٤ ،
ًث ي .»
٣٢فم هاور
Melihat makna hadist diatas secara lengkap dan sababul wurudnya, maka tidak benar jika hadist ini dijadikan dasar oleh jokam untuk wajibnya berbaiat kepada Imam ala jokam, karena Ibnu Umar sendiri
(yang meriwayatkan hadist ini) menggunakan hadist ini untuk menasehati Abdulloh bin Muthi’ agar tidak mencabut ketaatan / baiat dari Yazid bin Muawiyyah sebagai kholifah / penguasa tunggal yang resmi, bukan pemimpin golongan ala jokam yang bukan penguasa dan tidak resmi (sembunyi / bithonah).
Dalil ketiga :
« ْ٦َ٤ ََّحاَة
،اً٤اَ٤ِإ ُها ٍَْخَ
أَ٘
َثَْٜٙ َن
،ِهِػَي َةَؽَ٥َثَو
،ِ٩ِتْ ُ٩ٍُِْٓيْ ٢َٛ
٢َ٘
اَ٤
،َعا ٍََخْـا ْنِإَ٘
َءاَس ُؽَعآ
،ُ٩ُِْزاَ٨ُح ا٬ُبِ ْضْاَ٘
َثَتَرَر ِؽَعْ
لْا
» .
دواد ٬ةأ هاور Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Alur cerita lengkapnya (sababul wurud) hadist ini, Abdurrohman diceritai oleh Abdulloh bin Amr tentang hadist ini :
“Barangsiapa yang telah berbaiat kepada seorang Imam, lalu dia berjabat tangan dengannya dan rela hatinya, maka hendaklah dia mentaatinya selagi mampu. Jika datang Imam lain yang akan melepasnya, maka bunuhlah Imam lain tersebut”... Aku (Abdurrohman) berkata : “Ini anak laki-laki pamanmu Muawwiyah (kholifah yang dibaiat setelah ‘Ali) memerintah kami untuk mengerjakan ini dan ini (mencabut baiat dari ‘Ali), Abdulloh bin Amr menjawab “Taatilah dia dalam hal ketaatan kepada Alloh dan tolaklah dia (jangan ditaati) dalam hal yang ma’shiat kepada Alloh”.
Melihat cerita lengkapnya hadist ini, maka hadist ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengesahkan Imam golongan ala jokam, karena Shohabat (Abdillah bin Amr) dan muridnya (Abdurrohman) memahami hadist ini untuk Imam yang berkuasa, seperti Muawwiyah dan ‘Ali, bukan untuk imam golongan yang tidak memiliki kekuasaan dan tersembunyi (bithonah). (dalil lengkap dan syarahnya terlampir) ! 3) Dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban taat, berdasarkan dalil.
20 | S Y U B H A T
Dalil pertama :
اَ٫ُّحَ َ٦يِلَّا أاَي ا٬ُ٨َ٤آ ا٬ُٓيٌَِ
أ َللها ا٬ُٓيٌَِ
أَو َل٬ُـ ؽلا
ِلوُ ِؽْمَ ْلْا أَو ْ٣ُسْ٨ِ٤ ْنِإَ٘
ْ٣ُخْخَزاَ٨َت ِف
ٍءْ َشَ
ُهوُّدُؽَ٘
َلِإ ِللها ِل٬ُـ ؽلاَو ْنِإ
ْ٣ُخْ٨ُٞ
ْؤُح َن٬ُ٨ِ٤ ِة ِللها ِمْ٬َْ
لْاَو ِؽِعْ
َِٝلَذ لْا ٌْيَع ُ٦ َفْضَ
أَو
ًلَيِوْ أَح .
/ ءافن١ا ةر٬ـ (
59 ) Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Ulil amri dalam ayat ini bermakna “Orang-orang yang berkuasa atau berhak memutuskan dan memerintahkan sesuatu”.
Dalam beberapa rujukan tafsir ma’tsur seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Thobari, dari hadist marfu’ atau dari para Ulama’ Shohabat Tabi’in atau Ulama’-Ulama’ masyhur yang lain menjelaskan bahwa yang dimaksud Ulil Amri diantaranya adalah para umaro’ (orang-orang yang berkuasa / berhak memerintah) dan para ulama’ (ahli ilmu dan ahli fiqih). Umaro’ harus ditaati karena mereka yang berkuasa dan berhak mengatur serta memerintah rakyatnya, sedangkan Ulama’ harus ditaati dalam masalah syariat agama, karena mereka yang memahami dan menguasai syariat serta Alloh memerintahkan mentaati mereka dalam hal fatwa agama :
ا٬ُلَ أْـاَ٘
َ٠ْ٪َ ِؽِّٞلَّاْ أ ْنِإ ْ٣ُخْ٨ُٞ
َلّ
َن٬ُ٥َ٢َْٓت .
/ ٠طلنا ةر٬ـ 43
Jika dalil ini dimaknai dengan benar secara bahasa dan sesuai dengan hadist-hadist marfu’ dan penjelasan dari para Ulama’ yang mu’tamad (ucapannya bisa dijadikan hujjah), maka tidak benar jika dalil ini dijadikan dasar wajibnya taat kepada Imam golongan yang bithonah.
(naskah tafsir terlampir) !
Dalil kedua :
ْ٦َ٤ ِنَْا ٌََ
أ ْػََٜذ
َعا ٌََ أ ا َلله
، ْ٦َ٤َو ِنِّا َهَْ
ْػََٜذ َصَْ
َللها
، ْ٦َ٤َو ٍُِِّي َيِ٤َ
لْا ْػََٜذ
، ِنَْا ٌََ أ ْ٦َ٤َو
ِمَْٓح َيِ٤َ
لْا ْػََٜذ ِنِّا َهَْ
.
يراغلبا هاور
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Dalam Kutubusittah seputar hadist ini terdapat tiga lafadz َيِ٤َ
لْا, يِيِ٤َ أ dan َماَ٤ِْ
لْا. Dari tiga lafadz ini tidak ada yang bermakna Imam golongan ala jokam, karena pada zaman Nabi dan Shohabat tidak terdapat Imam golongan kecuali wakil dari pemerintah / imam a’dhom (penguasa tertinggi) sehingga ketika Nabi atau para Shohabat menyebut bahasa Amir / Imam, maka pastilah yang dimaksud adalah Kholifah / Penguasa / Kepala Pemerintahan. Berikut lafadz-lafadz hadist dari Shohih Bukhori, Muslim dan Sunan Ibnu Majah :
- ةؽيؽ٪ بأ ٦ْ
/
« ْ٦َ٤ ِنَْا ٌََ
أ ْػََٜذ
َعا ٌََ أ َللها
، ْ٦َ٤َو ِنِّا َهَْ
َذ ْػَٜ
َصَْ
َللها
، ْ٦َ٤َو
ٍُِِّي َيِ٤َ
لْا ْػََٜذ
، ِنَْا ٌََ أ ْ٦َ٤َو
ِمَْٓح َيِ٤َ
لْا ْػََٜذ
، ِنِّا َهَْ
اَ٥ جِإَو ُماَ٤ِلْا ٌث ٨ُس ُ٠َحاَُٜح
ْ٦ِ٤ ِ٩ِئاَرَو َفً خُيَو
،ِ٩ِة ْنِإَ٘
َؽَمَ ىَ٬َْٜخِة أ ِللها
، َلَػََْو نِإَ٘
َ ُ َِٝلَؼِة ل اًؽْسَ ْنِإَو أ َلاَٛ
ِهِ ْيَِٖة
نِإَ٘
ِ٩ْيَ٢َْ
ُ٩ْ٨ِ٤
»
باة ،يراغلبا هاور (
ُُ لْ٬َٛ
ُباَة ُلْ٬َٛ
ِللها
َلآََت ا٬ُٓيٌَِ
أ َللها ا٬ُٓيٌَِ
أَو َل٬ُـ ؽلا ِلوُ ِؽْمَ ْلْا أَو
ْ٣ُسْ٨ِ٤ )
- ْ٦َخ ِبَ
أ
،َةَؽْيَؽُ٪
ْ٦َخ ِل٬ُـَر ِللها ﷺ ُ٩ ٧َ
أ َلاَٛ
/
« ْ٦َ٤ ِنَْا ٌََ
أ ْػََٜذ
َعا ٌََ أ َللها
، ْ٦َ٤َو
ِنِّا َهَْ
ْػََٜذ َصَْ
،َللها ْ٦َ٤َو َعا ٌََ يِيِ٤َ أ
أ ْػََٜذ
، ِنَْا ٌََ أ ْ٦َ٤َو
َصَْ
يِيِ٤َ أ ْػََٜذ
ِنِّا َهَْ
».
٣٢فم هاور
22 | S Y U B H A T
- ْ٦َخ ِبَ
أ
،َةَؽْيَؽُ٪
َلاَٛ
/ َلاَٛ
ُل٬ُـَر ِللها ﷺ /
« ْ٦َ٤
، ِنَْا ٌََ أ ْػََٜذ
َعا ٌََ أ َللها
، ْ٦َ٤َو
، ِنِّا َهَْ
ْػََٜذ َصَْ
َللها
، ْ٦َ٤َو َعا ٌََ
،َماَ٤ِْ أ لْا ْػََٜذ
، ِنَْا ٌََ أ ْ٦َ٤َو
َصَْ
،َماَ٤ِْ لْا ْػََٜذ
ِنِّا َهَْ
» .
ثسا٤ ٦ةا هاور
-Syubhat Ketiga-
“Mereka mempunyai pengertian Ulil Amri adalah Ulama’ / Ahli Ilmu bukan Keimaman”.
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Benar, memang makna Ulil Amri menurut sebagian Ulama’, Shohabat, Tabi’in dan lain-lain adalah para Ulama’ ahli ilmu, namun ini khusus dalam kaitannya dengan masalah fatwa atau syariat agama, karena Alloh memerintahkan untuk bertanya dan menataati para Ulama’. (Dasar dalilnya sudah dimuat dalam lampiran syubhat kedua nomor 3 dalil pertama) !
Dan memang, Ulil Amri bukan bermakna keimaman golongan tersembunyi seperti keimaman yang dibentuk oleh jokam. Tidak ada satu rujukanpun dari para Ulama’ yang menjelaskan demikian.
Kefahaman kita :
“Yang dimaksud Ulil Amri adalah Amir dan wakil-wakilnya beserta Ulama’”.
- Dijelasknan dalam tafsir Thobari dibawah ini : ….
- Didalam tafsir Ibnu Katsir : ...
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Pengambilan dalil dari dua tafsir diatas tidak sempurna, karena tidak diambil secara utuh dan lafazd yang diambil juga disalahartikan yaitu lafadz ءاؽملْا, ةلّ٬لا dan يي٤أ diartikan amir golongan sebagaimana amirnya jokam. Padahal, jika dibaca tafsirnya secara utuh, dimaknai dengan benar secara bahasa dan mengikuti mangkul / ma’tsur dari para Ulama’, maka makna dari lafadz-lafadz tersebut adalah Amir / pengatur (yang berkuasa) bukan amir golongan yang bithonah.
24 | S Y U B H A T
Begitupula Ulil Amri bermakna para Ulama’, ini juga benar, karena sangat jelas rujukannya dari para Ulama’.
Ada empat makna Ulil Amri yang disebutkan dalam tafsir Thobari yaitu :
- Umaro’.
- Ahlul Imi dan Fiqih.
- Shohabat Rosululloh.
- Abu Bakar dan Umar.
Pilihan yang benar menurut Imam Thobari adalah makna yang pertama yaitu Umaro’ dan Wulat. Namun, pilihan ini bukan artinya menafikan / menolak pilihan makna bagi Ulama’ lain.
Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau menyebutkan dan memilih dua makna Ulil Amri yaitu Umaro’ dan Ulama’. (naskah tafsir sudah dimuat dalam lampiran syubhat kedua no 3 dalil pertama)
-Syubhat Keempat-
“Mereka mempunyai kefahaman bahwa jamaah kita ini firqoh, karena membentuk keimaman sendiri tanpa kesepakatan seluruh ummat Islam di Indonesia”.
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Iya betul firqoh, pas, gak salah lagi, karena jamaah yang dibentuk oleh jokam adalah jamaah sebagian golongan diantara ummat Islam yang memisahkan diri dari ummat Islam, golongan seperti ini dalam bahasa arab disebut firqoh.
Sahnya keimaman diantara kaum muslimin tidak harus disepakati seluruh ummat Islam, akan tetapi cukup disepakati dan dikukuhkan oleh tokoh-tokoh Islam yang berhak memutuskan dan membatalkan suatu kebijakan untuk rakyat )ِػَْٜٓ١اَو ِّ٠َْ
لحا ُ٠ْ٪َ
أ( seperti yang dilakukan oleh Kholifah Umar dan kawan-kawannya ketika membaiat dan mengukuhkan Abu Bakar sebagai kholifah. Pada saat itu, semua tokoh- tokoh Islam )ِػَْٜٓ١اَو ِّ٠َْ
لحا ُ٠ْ٪َ
أ( baik dari golongan Muhajirdan Anshor pada akhirnya setuju dan sepakat untuk membaiat dan mengakat Abu Bakar sebagai kholifah (penguasa tunggal). Sedangkan seluruh ummat Islam yang berada diluar Madinah sudah diwakili oleh tokoh-tokoh Islam ُ٠ْ٪َ
أ(
)ِػَْٜٓ١اَو ِّ٠َْ
لحا yang berada di Madinah. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa semua ummat Islam saat itu datang berbondong-bondong ke Madinah atau didatangi satu persatu untuk berbaiat kecuali sebagian ummat Islam yang berada di Nabawi. (riwayat terlampir) !
Sedangkan keimaman jokam, pengangkatan tahun-41 hanya dilakukan oleh tiga orang dari keluarga imamnya, dengan mengacu pada dalil “kewajiban bagi tiga musafir untuk mengangkat salah satunya
26 | S Y U B H A T
sebagai amir perjalanan”. Jika dicermati betul, kejadian ini dan dasar dalil yang dipakai, jelas ini bukan pengukuhan sebagai Imam seluruh ummat Islam / kholifah / penguasa. Ini hanya sebuah komunitas / perkumpulan pengajian.
Kefahaman kita :
“Jamaah kita bukan firqoh, sebab kita mempunyai amir yang dibaiat dan ditaati, sedangkan yang dimaksud firqoh adalah golongan yang tidak mempunyai amir walaupun jumlahnya banyak”.
Berdasarkan ucapan Shohabat Umar bin Khottob dan Abu Darda’ :
- ... / باٍلْا ٦ة ؽ٥ْ لاٛ
ُ٩ ٧ِإ
َلّ
َم َلَْـِإ لِّإ
،ٍثَْاَ٥َ ِبِ
َلَّو َثَْاَ َجَ
،ٍةَراَ٤ِإِةلِّإ
َلَّو َةَراَ٤ِإ
ٍثَْا ٍَِةلِّإ .
ميرالدا هاور
- ْ٦َخ ِبَ ِءاَدْر لدا أ َلاَٛ
َلّ
َم َلَْـِإ ٍثَْا ٍَِة لِّإ
َلَّو َْيَع لِّإ ِف ِثَْاَ٥َْ
لْا ْهُّلناَو
ِص ِ ِلله
ِثَٙيِ٢َغْ ٢ِلَو َيِ٨ِ٤ْؤُ٥ْ
٢ِلَو ًث ٤ َعَ
.
بَ١ا ػتْ ٦ةلْ ػي٫٥لا
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
Pemahaman seperti ini dengan sandaran dali ucapan Kholifah Umar dan Abu Darda’ tersebut adalah kesalahan dalam beristidlal (salah dalam menggunakan dan memaknai dalil) karena :
1. Imam Ad-Dharimi meletakkan hadist ini dalam bab bahayanya
“Hilangnya Ilmu”, jika seseorang dijadikan pemimpin, sedangkan dia bukan orang yang Faqih (berilmu), maka malapetaka akan menimpa dia dan rakyatnya, bukan membicarakan masalah syarat sah nya Islam harus berjamaah.
2. Hadist ini Mauquf dan sanadnya dhoif, karena prowi Sofwan bin Rustum tidak dikenal )ل٬٫مج( dan Abdurrohman bin Maisaroh tidak bertemu dengan Tamim Ad-Dari )ٍَِّْْٜ٨ُ٤(. Hadist dhoif tidak bisa dijadikan sandaran hukum.
3. Tidak ada dari seorang Ulama’ pun yang menjelaskan bahwa syarat sah nya Islam adalah berjamaah (berimam, berbaiat dan bertaat).
Sudah menjadi Ijma’ bahwa Islam seseorang dianggap sah jika dia telah menyatakan masuk Islam / membaca syahadat lalu melaksanakan rukun Islam selanjutnya dan ke Islaman seseorang dianggap batal, jika melakukan salah satu Nawaqid Islam.
4. Seandainya kedudukan hadist ini shohih (seperti keputusan sebagian Ulama’ bahwa hadist ini tidak dhoif), itupun tidak bisa dijadikan sebagai landasan sah nya keamiran suatu golongan seperti JM, karena yang bersabda " ٍةَراَ٤ِإِةلِّإ َثَْاَ َجَ لَّوَ " itu Kholifah Umar, tentunya maksud Imaroh disini ialah yang berbentuk Khilafah, sebagaimana kekhilafahan Umar.
5. Begitupula secara bahasa )لّ( Nafil Jinsi / yang menafikan semua jenis isimnya, tidak semua diartikan bahwa isim nya dianggap hilang total, seperti kata " َم َلَْـِإ لَّ", tidak harus bermakna ke Islamannya hilang total.
Sebagai perbandingan َثَ٧اَ٤َ لَّ ْ٦َ٥ِل َناَ٥يِإلَّ( أ
َ ُ ل
َ ، َ٦يِدلَّو ْ٦َ٥ِل
َلّ
َػْ٫َخ
َ ُ ل ".
ػحَأ هاور
) .
Tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa “Orang Islam yang tidak amanat / tidak bisa menetapi janji dianggap kafir, murtad”.
6. Sababul Wurud hadist ini diucapkan oleh Kholifah Umar ketika umumnya manusia pada saat itu berlimpah harta, lalu berlomba- lomba membuat bangunan yang tinggi dan bagus, lalu beliau menyuruh memperluas atau mengurusi tanah daripada bangunan, untuk generasi yang akan datang.
28 | S Y U B H A T
Jadi kata " َم َلَْـِإ لَّ" dan seterusnya lebih menunjukkan pada kebanggaan dan kesyukuran beliau terhadap kemenangan Islam saat itu, karena adanya persatuan / jamaah dan Imaroh / ke Kholifahan serta ketaatan ru’yah.
Begitupula ucapan Abu Darda’ yang dimuat oleh Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid (syarah Al-Muwatho’). Ucapan Abu Darda’ tersebut tidak bisa dijadikan dasar sahnya jamaah dengan berimam, berbaiat dan bertaat yang dibentuk oleh jokam, karena jelas sekali lafadz riwayat tersebut adalah untuk menguatkan kewajiban taat kepada imam / kholifah / penguasa. Karena makna yang benar dari riwayat tersebut “Tidak sempurna Islam kecuali dengan ketaatan dan tidak ada kebaikan yang sempurna kecuali dengan berjamaah dan nasehat untuk Alloh, Kholifah / Penguasa dan orang-orang iman secara umum”.
Definisi firqoh diatas yaitu firqoh adalah golongan yang tidak mempunyai amir walaupun jumlahnya banyak, definisi ini juga tidak ada dasar dalil yang kuat bahwa semua golongan yang tidak beramir dan berbaiat ala jokam adalah firqoh (yang masuk neraka), buktinya Nabi bersabda ketika terjadi zaman fitnah, ummat Islam tidak menjadi satu jamaah yang memiliki imam / penguasa tunggal , maka hendaklah uzlah/
hidup sendiri walaupun tidak berjamaah, berimam, berbaiat dan bertaat justru malah selamat dan ini menunjukkan bahwa uzlah tanpa imam dan tanpa berjamaah bukan firqoh yang diancam neraka. (hadist Hudzaifah Ibnul Yaman terlampir)
Begitupula, jika jamaah diartikan secara manhaj (menetapi kemurnian Qur’an Hadist) dalam segala aspeknya, walaupun hanya satu orang, tetap dinamakan jamaah yang mendapat jaminan surga. (dalil- dalil sudah dimuat dalam syubhat pertama diatas)
“Jamaah membentuk keimaman tanpa kesepakatan seluruh ummat Islam di Indonesia karena dahulu BHN sudah menyampaikan dan mengajak untuk membentuk jamaah kepada para Kyai di pondok- pondok besar di tanah jawa selama setahun penuh, namun mereka menjawab : “Ji! Yang kamu terangkan itu benar, tetapi kami tidak berani”, ada lagi yang menjawab : “Ji!, yang kamu terangkan itu benar, tetapi kami tidak kuat”. Mereka tidak mau mengikuti ajakan tersebut, kemudian beliau mengajar mengaji al qur’an dan al hadist di mushola Dusun Santren Desa Wurumarto Kec. Purwoasri Kab. Kediri yang diikuti 4 keluarga. Dan yang terus mengikuti adalah Bp Fadhil (H. Nur Asnawi) dan Bp H. Bahran (H. Ahmad Salam). Setelah faham bab wajibnya menetapi qur’an hadist secara berjamaah, maka beliau membentuk jamaah / keimaman pada tahun 1941 dengan di baiat oleh dua orang (Bp H. Nur Asnawi dan Bp H. Bahran) supaya hidupnya halal, mendapatkan pertolongan Allah dan sewaktu-waktu mati masuk surga.
Jamaah yang dirintis oleh BHN ini sudah sah karena sahnya membentuk keimaman tidak ada persyaratan harus ada kesepakatan seluruh ummat Islam”, berdasarkan dalil dibawah ini :....
Ta’dil / Meluruskan Syubhat Ini :
“BHN membentuk jamaah (diangkat sebagai imam oleh tiga orang keluarganya) setelah mengajak untuk membentuk jamaah kepada para Kyai di pondok-pondok besar di tanah jawa selama setahun penuh”.
Hal ini bertentangan dengan hadist nya Hudzaifah jika menjumpai ummat Islam tidak berjamaah dengan imam / pemimpin tunggal, maka supaya uzlah dan bentukan keimaman seperti ini juga tidak bisa dianggap sah sebagai Imamul Muslimin serta jamaahnya juga tidak bisa dianggap paling sah diantara kaum muslimin, karena pada kenyataannya, selama 20 tahun berikutnya (tahun 1941-1960) tidak
30 | S Y U B H A T
diceritakan bahwa BHN mengajak murid-muridnya, apalagi semua ummat Islam untuk berjamaah dan berbaiat kepadanya. Baru pada tahun 1960, diadakan pembaiatan lagi di Gadingmangu, itupun baiat khusus murid-muridnya dan tidak mengajak semua ummat Islam.
Bahkan sampai sekarangpun keimaman jamaah masih dirahasiakan (bithonah).
Lebih dari itu, pernyataan bahwa BHN telah mengajak untuk membentuk jamaah kepada para Kyai selama setahun, pengakuan seperti ini juga harus dibuktikan kebenrannya, tidak hanya sekedar pengakuan tanpa bukti.
Jawaban dari para Kyai : “Ji, yang kamu terangkan itu benar, tapi kami tidak berani”, ada lagi yang menjawab “Ji, yang kamu terangkan itu benar, tapi kami tidak kuat”.
Kemungkinan besar jawaban seperti ini dari para Kyai, karena mereka memahami bahwa ajakan berjamaah dengan membaiat salah satu sebagai imam itu adalah pengangkatan Imam / Kholifah seperti yang telah dikenal dalam syariat dan dunia Islam yaitu Imam / Kholifah yang berkuasa dan menegakkan syariat Islam. Karena itulah, mereka (para Kyai) tidak berani dan merasa tidak mampu karena akan berhadapan dengan penguasa saat itu.
Seandainya mereka (para Kyai) tahu bahwa yang dimaksud berjamaah, berimam, berbaiat dan bertaat itu hanya sekedar Imam (pemimpin) sebuah golongan saja, seperti kenyataannya sampai saat ini, maka kemungkinan besar mereka (para Kyai) hanya mempertimbangakan benar dan tidaknya, bukan masalah tidak berani atau tidak kuat. Karena jika hanya sebuah Imam golongan saja, maka tidak ada bahayanya dan tidak perlu dibithonahkan.
Pernyataan membentuk jamaah dengan cara membaiat BHN sebagai Imam pada tahun 1941 supaya hidupnya halal, ini juga pemahaman yang tidak benar, karena salah dalam beristidlal (menggunakan dan
memaknai suatu dalil), hadist "... ُّ٠ِ َيَ لَّ" jika dimaknai dengan benar secara bahasa dan alur cerita hadist atau mengikuti syarah penejelasan para Ulama’, maka tidak benar jika dimaknai “Tidak halal hidupnya”. Berikut sedikit ulasannya :
- ْ٦َخ ِػْتَخ ِللها ِ٦ْة
،وٍؽْ٥َخ نَ
أ َل٬ُـَر ِللها ﷺ َلاَٛ
" /
َلّ
ُّ٠ِ َيَ
ْنَ َصِْٟ٨َح أ َةَ
أْؽَ٥ْ ِق َلٍََِة لا
،ىَؽْعُ
َ أ ُّ٠ِ َيَلَّو ٍ٠ُسَؽِل ْنَ َّيِبَي أ َ َعَ
ِّْيَب ِ٩ِتِضا َن تَّض
،ُهَرَؼَي
َلَّو ُّ٠ِ َيَ
ِثَذ َلََ ِلِ
ٍؽََٙج
َن٬ُ٧٬ُسَي ِضْرَ
أِة ٍة َلََ٘
لِّإ اوُؽ ٤َ ْ٣ِ٫ْيَ٢َْ أ
،ْ٣ُ٪َػَضَ
َ أ ُّ٠ِ َيَ لَّو ِثَذ َلََ ِلِ
ٍؽََٙج َن٬ُ٧٬ُسَي
ِضْرَ أِة ٍة َلََ٘
َجاَ٨َتَي ِناَ٨ْثا َنوُد اَ٥ِ٫ِتِضا َن "
.
ػحَأ هاور
Tidak ada lafadz hadist yang bermakna hidupnya (misalnya ةايض ثذلَذ), lafadznya ِضْرَ َن٬ُ٧٬ُسَي ٍؽََٙج ِثَذ َلََ ِلِ
أِة
ٍة َلََ٘ / tiga orang yang berada di kawasan bumi.
Secara tata bahasa, Fa’il dari َ
ُّ٠ِ َيَ adalah Mustastna setalah "لّ " لِّإ اوُؽ ٤َ(
ْ٣ِ٫ْيَ٢َْ أ ْ٣ُ٪َػَضَ
أ
) , artinya tidak halal bagi tiga orang yang berada dipermukaan bumi kecuali membuat Amir diantara salah satu mereka.
Arti ُّ٠ِ َيَ dalam bahasa Arab “Tidak boleh / haram” perbandingan لَّ lafazdnya seperti tiga ُّ٠ِ َيَ yang lain dalam matan hadist diatas. لَّ Semuanya bermakna “Tidak boleh / haram”.
Begipula perbandingan dalam ayat Al Qur’an, seperti :
اَ٫ُّحَ َ٦يِلَّا أاَي ا٬ُ٨َ٤آ
َلّ
ُّ٠ِ َيَ
ْ٣ُسَ١ ْنَ ا٬ُذِؽَح أ َءا َفِّن١ا اً٪ْؽَٞ
.
/ ءافن١ا ةر٬ـ 19
“Tidak halal / tidak boleh bagi kalian orang iman (keluarga suami) mewarisi para wanita (yang ditinggal mati suaminya) dengan paksa (tidak bebas mentukan pilihan jodohnya)”.