• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budimanta (2005) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya. Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang terencana, yang didalamnya terdapat eksploitasi sumber daya, arah investasi orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan, pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga pilar tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Idealnya, ketiga hal tersebut dapat berjalan bersama- sama dan menjadi fokus pendorong dalam pembangunan berkelanjutan.

Dalam buku “Bunga Rampai Pembangunan Kota Indonesia dalam Abad 21”

(Buku 1), Sarosa menyampaikan bahwa pada era sebelum pembangunan berkelanjutan digaungkan, pertumbuhan ekonomi merupakan satu-satunya tujuan bagi dilaksanakannya suatu pembangunan tanpa mempertimbangkan aspek lainnya.

Selanjutnya pada era pembangunan berkelanjutan saat ini ada 3 tahapan yang dilalui

oleh setiap Negara. Pada setiap tahap, tujuan pembangunan adalah pertumbuhan

ekonomi namun dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin

komprehensif dalam tiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya

pada keseimbangan lingkungan. Tahap kedua dasar pertimbangannya harus telah

memasukkan pula aspek keadilan sosial. Tahap ketiga, semestinya dasar

pertimbangan dalam pembangunan mencakup pula aspek aspirasi politis dan sosial

budaya dari masyarakat setempat.

(2)

Gambar 01.

Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan ya

UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu juga dikenal ada lingkungan dan pembangunan, sedang sebelumnya lebih popular digunakan sebagai istilah ”Pembangunan yang berwawasan lingkungan” sebagai terjemah dari “Eco-development

politik lingkungan hidup mulai dipusatkan pada para

berkelanjutan salah satunya adalah pengembangan sistem drainase yang berkelanjutan.

Sustainable Urban Drainage Systems

terdiri dari satu atau lebih struktur yang dibangun untuk mengelola limpasan permukaan air. SUDS sering digunakan dalam perancangan tapak untuk mencegah banjir dan polusi. SUDS didukung oleh berbagai struktur terbangun untuk mengontrol limpasan air. Di Jakarta drainase merupakan salah satu perma

lingkungan yang memerlukan perhatian.

Secara geografis, Jakarta terletak di pesisir pulau Jawa yang merupakan wilayah endapan. Selain berada di dataran rendah yang berbatasan lan

laut, Jakarta secara alamiah juga dilalui 13 aliran sungai yang melintas di daratannya.

Fakta ini membuat Jakarta tidak pernah terlepas dari masalah banjir, baik karena luapan air sungai, maupun karena naiknya permukaan air laut. Lebih lanjut, disampaikan pula bahwa Jakarta rentan terhadap perubahan iklim dengan kerentanan tertinggi disebabkan banjir karena peningkatan curah hujan dan naiknya muka air laut ke daratan (World Bank, 2010).

Gambar 01. Skema pembangunan berkelanjutan.

id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan, diakses tanggal 8 Maret 2015

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan digunakan dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu juga dikenal ada lingkungan dan pembangunan, sedang sebelumnya lebih popular digunakan sebagai istilah ”Pembangunan yang berwawasan lingkungan” sebagai

development” Menurut Sonny Keraf, sejak tahun 1980-

politik lingkungan hidup mulai dipusatkan pada paradigma pembangunan berkelanjutan salah satunya adalah pengembangan sistem drainase yang

Sustainable Urban Drainage Systems (SUDS) merupakan suatu sistem yang

terdiri dari satu atau lebih struktur yang dibangun untuk mengelola limpasan permukaan air. SUDS sering digunakan dalam perancangan tapak untuk mencegah banjir dan polusi. SUDS didukung oleh berbagai struktur terbangun untuk

engontrol limpasan air. Di Jakarta drainase merupakan salah satu perma lingkungan yang memerlukan perhatian.

Secara geografis, Jakarta terletak di pesisir pulau Jawa yang merupakan wilayah endapan. Selain berada di dataran rendah yang berbatasan langsung dengan laut, Jakarta secara alamiah juga dilalui 13 aliran sungai yang melintas di daratannya.

Fakta ini membuat Jakarta tidak pernah terlepas dari masalah banjir, baik karena luapan air sungai, maupun karena naiknya permukaan air laut. Lebih lanjut, disampaikan pula bahwa Jakarta rentan terhadap perubahan iklim dengan kerentanan tertinggi disebabkan banjir karena peningkatan curah hujan dan naiknya muka air

, 2010).

Maret 2015

digunakan dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu juga dikenal ada lingkungan dan pembangunan, sedang sebelumnya lebih popular digunakan sebagai istilah ”Pembangunan yang berwawasan lingkungan” sebagai -an agenda digma pembangunan berkelanjutan salah satunya adalah pengembangan sistem drainase yang

) merupakan suatu sistem yang terdiri dari satu atau lebih struktur yang dibangun untuk mengelola limpasan permukaan air. SUDS sering digunakan dalam perancangan tapak untuk mencegah banjir dan polusi. SUDS didukung oleh berbagai struktur terbangun untuk engontrol limpasan air. Di Jakarta drainase merupakan salah satu permasalahan

Secara geografis, Jakarta terletak di pesisir pulau Jawa yang merupakan gsung dengan laut, Jakarta secara alamiah juga dilalui 13 aliran sungai yang melintas di daratannya.

Fakta ini membuat Jakarta tidak pernah terlepas dari masalah banjir, baik karena

luapan air sungai, maupun karena naiknya permukaan air laut. Lebih lanjut,

disampaikan pula bahwa Jakarta rentan terhadap perubahan iklim dengan kerentanan

tertinggi disebabkan banjir karena peningkatan curah hujan dan naiknya muka air

(3)

Persoalan banjir di Jakarta sebenarnya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jakarta, 2012). Banjir besar mulai melanda Jakarta pada 1932, yang merupakan siklus 25 tahunan.

Penyebab banjir adalah turunnya hujan sepanjang malam. Hampir seluruh kota tergenang. Di jalan Sabang, sebagai daerah nomor satu paling parah, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Banyak warga tidak bisa keluar rumah, kecuali mereka yang memiliki perahu (Jakarta Tempoe Doeloe, 1989, Djulianto Susantio).

Menurut pakar air Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali dalam Kompas.com (17/1/2013), menyatakan bahwa banjir besar yang kembali terulang di Jakarta saat ini dipicu oleh kondisi tanah yang jenuh. Hal itu menyebabkan proses peresapan air menjadi tidak optimal. Selain itu, kondisi drainase di Jakarta yang burukpun memperparah keadaan. Firdaus menjelaskan, seluruh volume air di Jakarta dapat ditampung melalui dua media yaitu yang mengalir di sungai dan yang meresap ke dalam tanah. Dengan kondisi tanah Jakarta yang jenuh, akibatnya hanya 15 persen yang mampu terserap dan sisanya tumpah di permukaan.

Kepala Pusat Meteorologi Publik, Mulyono Prabowo menyatakan banjir yang menyebabkan beberapa jalan di Jakarta terendam disebabkan curah hujan dengan intensitas air yang tinggi. Selain hujan dengan intensitas tinggi, banjir di Jakarta juga dipengaruhi siklus pasang surut air laut. Mulyono Prabowo juga menjelaskan selain dua faktor utama tersebut, masih ada beberapa faktor yang menyebabkan Jakarta terendam banjir yakni penyimpangan tata ruang kota, tersumbatnya air sungai dan sistem drainase kota yang buruk.

Menteri Pekerjaan Umum terdahului, Djoko Kirmanto mengatakan salah satu penyebab banjir di Jakarta bukan karena tidak tersedianya drainase, tapi karena drainase tersebut dipenuhi sampah.

Dapat disimpulkan bahwa penyebab banjir di Jakarta saat ini yang menjadi siklus tahunan adalah intensitas curah hujan yang tinggi, luapan air sungai, siklus pasang surut air laut, kurangnya daerah resapan air, penyimpangan penggunaan tata ruang kota, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya yang mengakibatkan sungai dan drainase kota tersumbat.

Banjir yang terjadi di Jakarta juga di perparah dengan ledakan penduduk yang

terjadi di ibukota Negara ini. Beberapa pengamat meyakini bahwa salah satu

penyebab ledakan penduduk di Jakarta akibat kekeliruan adopsi paradigma

pembangunan yang menekankan pada pembangunan industrialisasi besar-besaran

(4)

yang ditempatkan di kota-kota besar yang kemudian dikenal dengan istilah AIDS (Accelerated Industrialization Development Strategy), sehingga memunculkan adanya daya tarik bagi seseorang untuk mengadu nasibnya di kota yang dianggap mampu memberikan masa depan yang lebih baik dengan penghasilan yang lebih tinggi, sementara pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki kurang memadai untuk masuk disektor formal (Yunus, 2005).

Permasalahan drainase perkotaan, khususnya kota pantai, bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain peningkatan debit, penyempitan dan pendangkalan saluran, reklamasi, amblesan tanah, limbah, sampah, dan pasang surut air laut. Hubungan timbal balik faktor-faktor tersebut terhadap permasalahan drainase perkotaan diperlihatkan pada gambar 02.

Gambar 02. Permasalahan banjir kota pantai dan elemen-elemennya.

Sumber : buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan.

(5)

Sumber permasalahan utama adalah peningkatan jumlah penduduk di perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi.

Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti dengan peningkatan infrastruktur perkotaan, seperti perumahan, sarana transportasi, air bersih, pendidikan, dan lain- lain. Disamping itu, peningkatan penduduk juga selalu diikuti peningkatan limbah, baik limbah cair maupun padat (sampah).

Di kecamatan Tebet, kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan, merupakan daerah permukiman kumuh yang menjadi lokasi penelitian. Permukiman yang terletak di bantaran sungai Ciliwung ini sangat strategis karena berada di antara pusat-pusat kegiatan di daerah Jatinegara yaitu pasar Jatinegara, stasiun Kereta Api Jatinegara, Jalan Matraman Raya (jalur perdagangan dan jasa), SDN Kampung Melayu 01 dan terminal Kampung Melayu.

Permukiman kumuh yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri disebabkan karena permukiman yang sangat padat, intensitas bangunan padat dan tidak terpola, dan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, selain itu salah satu hal yang ikut mempengaruhi pertumbuhan kawasan kumuh di Bukit Duri adalah banjir tahunan yang selalu menggenangi daerah tersebut. Menurut Badan Pusat Statistik kepadatan penduduk di Kecamatan Tebet mencapai 23.136,55 orang/km

2

dengan jumlah penduduk 209.041 jiwa.

Tabel 01. Data Kepadatan Penduduk (Sensus Penduduk 2010).

Sumber : Badan Pusat Statistik

Jika dilihat berdasarkan ketinggian permukaan laut, wilayah kelurahan Bukit

Duri memiliki 12 RW ini dapat dibagi menjadi dua yaitu daerah dataran tinggi yang

(6)

terletak di sepanjang jalan Bukit Duri Tanjakan dan daerah dataran rendah yang berada di wilayah RW 10, 12, 4, dan daerah sepanjang bantaran sungai Ciliwung.

Gambar 03. Kondisi permukiman kumuh di bantaran sungai Ciliwung.

Sumber : dokumentasi pribadi

Menurut data iklim, pada saat musim hujan, wilayah Kelurahan Bukit Duri memiliki curah hujan 1931mm/tahun ini selalu terendam akibat meluapnya sungai Ciliwung dan sistem drainase yang buruk terutama di daerah dataran rendahnya.

Wilayah kelurahan Bukit Duri yang setiap tahunnya banjir juga disebabkan oleh kiriman air dari Bogor dan membuat wilayah ini selalu terendam air dengan ketinggian lebih kurang 1,5 meter.

Gambar 04. Kondisi permukiman pada saat banjir.

Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/382497-hujan-turun-lagi--banjirdi-bukit- duri-setinggi-atap-rumah, diakses tanggal 8 Maret 2015

Kondisi lingkungan di Bukit Duri masih menggunakan saluran drainase

konvensional. Sistem drainase konvensional langsung mengalirkan limpasan air ke

selokan dan kemudian air dari selokan diarahkan ke sungai atau kali yang

(7)

selanjutnya dibuang ke laut. Saluran drainase yang terdapat di lingkungan ini juga tidak berfungsi dengan baik, banyak saluran yang tersumbat oleh sampah maupun tanah sehingga air tidak dapat mengalir dan menyebabkan banjir pada musim hujan.

Gambar 05. Kondisi saluran drainase di bantaran sungai Ciliwung.

Sumber : dokumentasi pribadi

Orientasi rumah yang membelakangi sungai membuat masyarakat tidak menjaga sungai itu menjadi view yang baik. Akibatnya sungai tersebut menjadi kotor dan meluap pada musim hujan. Kondisi permukiman yang padat juga membuat tidak adanya daerah resapan air pada kawasan ini. Banyak rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya karena terendam oleh banjir.

Gambar 06. Kondisi permukiman di Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Sumber : dokumentasi pribadi

(8)

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam dan menyeluruh mengenai kawasan di bantaran Sungai Ciliwung, kecamatan Tebet, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Khususnya mengenai permasalahan banjir yang timbul akibat dari beberapa faktor penyebab banjir, salah satunya adalah kekumuhan di wilayah ini yang selanjutnya akan dilakukan penataan kawasan kumuh dan perbaikan sistem drainase.

Lokasi ini sudah mulai ditangani oleh pemerintah setempat. Untuk permasalahan permukiman kumuh pada kawasan, peneliti akan menata permukiman menggunakan konsep kampung deret sesuai dengan program pemerintah. Namun kendala pada lokasi ini adalah banjir kiriman yang melanda kawasan ini tidak bisa diselesaikan dengan satu cara, sehingga pemerintah merencanakan pekerjaan normalisasi sungai Ciliwung untuk menangani permasalahan banjir kiriman sebelum mengatasi permasalahan permukiman kumuh di daerah aliran sungai Ciliwung.

Untuk permasalahan banjir lokal yang disebabkan oleh hujan, peneliti mencoba untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan perbaikan sistem drainase.

Perbaikan sistem drainase tersebut akan menggunakan pendekatan Sustainable Urban Drainage Systems (SUDS). SUDS atau sistem drainase yang berkelanjutan

adalah teknik pengelolaan air untuk berbagai keperluan, yang berbeda dengan sistem drainase konvensional. Metode ini difokuskan pada pengendalian aliran air di permukaan tanah (air hujan) yang dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai persediaan air baku dan kehidupan akuatik dengan melakukan peresapan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah dengan pertimbangan konservasi air sebagai sumber air, fasilitas komunitas, potensi penataan ruang luar, serta pemanfaatan air lainnya (seperti bercocok tanam, estetika, dan sebagainya).

Dengan menerapkan sistem SUDS pada penataan ulang permukiman kumuh

diharapkan dapat mengurangi dampak banjir dan resiko terjadinya banjir. Banjir

merupakan suatu permasalahan yang sangat kompleks, banyak faktor yang menjadi

penyebab banjir. Menyelesaikan permasalahan banjir di ibukota butuh penanganan

khusus dari berbagai pihak dan membutuhkan waktu yang lama. Untuk itu penelitian

ini diharapkan dapat berguna untuk membantu mengurangi dampak banjir dan

mengurangi kemungkinan terjadinya banjir di kemudian hari.

(9)

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana merancang kawasan permukiman di bantaran sungai Ciliwung di Jalan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan dengan pendekatan Sustainable Urban Drainage Systems?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk menata kembali permukiman dengan pendekatan Sustainable Urban Drainage Systems sehingga dapat mengatasi permasalahan banjir yang terjadi setiap

tahunnya akibat hujan dan dapat mengatasi permasalahan permukiman kumuh di daerah Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan.

1.4 Ruang Lingkup

1. Lokasi studi merupakan permukiman kumuh yang terletak di bantaran sungai Ciliwung, Jalan Kampung Melayu Kecil, Kecamatan Tebet, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Lokasi ini memiliki luasan ±2.4 Ha. Lokasi ini memiliki batasan-batasan wilayah yaitu :

Gambar 07. Lokasi studi.

Sumber : diolah kembali dari google map, diakses tanggal 13 Februari 2015

Utara : berbatasan dengan permukiman di Jalan Kp. Melayu Kecil 2 Timur : berbatasan dengan jalan Jatinegara Barat

Barat : berbatasan dengan permukiman di Jalan Kp. Melayu Kecil 1 Selatan : berbatasan dengan jalan K.H. Abdullah Syafi'ie

Ruang lingkup penelitian kawasan ini hanya berdasarkan dari segi arsitektural

yang bertujuan untuk menganalisa kawasan dan mencoba untuk memberikan

sebuah solusi dari segi arsitektural dalam penataan kawasan tersebut sehingga

dapat mengatasi permasalahan lingkungan kumuh pada permukiman tersebut.

(10)

2. Penelitian ini dibatasi pada penataan kawasan permukiman di Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan, dengan menganalisa lokasi berdasarkan permasalahan banjir lokal yang disebabkan oleh hujan. Penataan kawasan ini akan menggunakan pendekatan Sustainable Urban Drainage Systems.

1.5 State of the Art

Dalam penelitian ini, penulis dibantu dengan jurnal ilmiah yang berisi mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi serta metode penelitian dan penyelesaian sesuai dengan teori yang digunakan. Jurnal ilmiah juga digunakan untuk mendapatkan teori-teori yang menjadi acuan dalam menganalisa permasalahan.

Studi pustaka tersebut dilakukan pada jurnal ilmiah, disertasi, maupun tesis yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Jurnal-jurnal tersebut dapat dilihat pada Daftar Lampiran, jurnal yang digunakan adalah jurnal yang diterbitkan 5 tahun terakhir.

Dari keseluruhan jurnal, dapat diambil kesimpulan bahwa pada beberapa kawasan banjir, sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk membantu mengendalikan air. Sistem drainase berkelanjutan tersebut tidak hanya untuk mengalirkan kelebihan air dari daerah perkotaan tetapi juga mendukung konservasi tanah dan air. Penerapan sistem drainase yang berkelanjutan juga harus didukung oleh kesadaran masyarakat agar dapat diimplementasikan secara lebih luas.

Tujuan dari penerapan sistem drainase yang berkelanjutan adalah untuk membantu menanggulangi permasalahan banjir yang terjadi pada permukiman.

Berdasarkan acuan jurnal dan buku, dalam perancangan permukiman yang

didukung oleh sistem drainase yang berkelanjutan ada beberapa aspek yang perlu

diperhatikan yaitu aspek teknis, aspek ekonomi dan finansial, aspek sosial budaya,

aspek legalitas, aspek kelembagaan, dan aspek lingkungan.

Gambar

Gambar 02. Permasalahan banjir kota pantai dan elemen-elemennya.
Tabel 01. Data Kepadatan Penduduk (Sensus Penduduk 2010).
Gambar 04. Kondisi permukiman pada saat banjir.
Gambar 05. Kondisi saluran drainase di bantaran sungai Ciliwung.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

dengan menggunakan Unity 3D ini tidak hanya mudah dalam menggunakan atau mengerjakan suatu pekerjaaan, tetapi aplikasi Unity 3D ini juga dapat bekerja dengan aplikasi lainnya

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan