• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUMANISME DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI SMA: KAJIAN HUMANISME ABRAHAM MASLOW TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUMANISME DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI SMA: KAJIAN HUMANISME ABRAHAM MASLOW TESIS"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

HUMANISME DALAM NOVEL “ORANG-ORANG BIASA” KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI SMA: KAJIAN

HUMANISME ABRAHAM MASLOW

TESIS

Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Derajat Gelar S-2 Program Studi Pendidikan Bahasa Inonesia

Disusun Oleh :

YASHINTA LARAS WILUJENG 201810550211014

DIREKTORAT PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

ii

HUMANISME DALAM NOVEL “ORANG-ORANG BIASA” KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI SMA: KAJIAN

HUMANISME ABRAHAM MASLOW

TESIS

Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Derajat Gelar S-2 Program Studi Pendidikan Bahasa Inonesia

Disusun Oleh :

YASHINTA LARAS WILUJENG 201810550211014

DIREKTORAT PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(3)
(4)

iv

TESIS

YASHINTA LARAS WILUJENG

201810550211014

Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada hari/tanggal, Kamis/1 Juli 2021 dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai kelengkapan

memperoleh gelar Magister di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Ketua / Penguji : Dr. Ekarini Saraswati

Sekertaris / Penguji : Assc. Prof. Dr. Joko Widodo

Penguji : Assc. Prof. Dr. Sugiarti

(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas limpahan nikmat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan tesis penulis yang berjudul “HUMANISME DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI SMA: KAJIAN HUMANISME ABRAHAM MASLOW”

Adapun tujuan penulisan tesis ini sebagai upaya menyelesaikan tugas akhir program studi Bahasa Indonesia Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam hal ini sebagai rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Magister (S.2) di Universitas Muhammadiyah Malang.

Penulis menyadari bahwa tesis dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi dalam menyelesaikan tesis ini. Dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak sebagai berikut.

1. Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. 2. Prof. Achsanul In’am Ph.D. selaku Direktur Pascasarjana Universitas

Muhammadiyah Malang

3. Assc. Prof. Dr. Ribut Wahyu Erianti selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang

4. Dr. Ekarini Saraswati dan Assc. Prof. Dr. Joko Widodo selaku Pembimbing tesis yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, saran, semangat, saran dan nasihat dalam penulisan tesis ini.

5. Assc. Prof. Dr. Sugiarti dan Assc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini selaku dosen penguji tesis saya.

6. Kedua orang tuaku Bapak (Pitoni Nur Cahyo) dan Ibu (Ning Sri Utami) yang telah membesarkanku, mendidikku, dan mendoakanku.

7. Dosen serta Staf Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang.

8. Almamater tercinta, Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan ilmu dan berbagai pengalaman yang tidak terlupakan.

9. Teman-teman angkatan 2018 Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang.

Semoga Allah SWT membalas segala amal perbuatan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Adapun penulisan tesis ini tentu memiliki kelemahan dan kelebihan. Oleh karenanya besar harapan penulis adanya kritik dan saran yang membangun untuk hasil yang lebih baik. Semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu pendidikan bahasa Indonesia baik bagi pembaca, sekolah, maupun perguruan tinggi.

Malang, 1 Juli 2021 Yang menyatakan,

(6)

vi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

DAFTAR PENGUJI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

SURAT PERNYATAAN ... vii

ABSTRAK ... viii

PENDAHULUAN ... 1

TINJAUAN PUSTAKA ... 2

METODE PENELITIAN ... 7

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 8

Humanisme Melalui Kebutuhan Fisiologi ... 8

Humanisme Melalui Kebutuhan Rasa Aman... 10

Humanisme Melalui Kebutuhan Sosial ... 12

Humanisme Melalui Kebutuhan Penghargaan... 15

Humanisme Melalui Kebutuhan Aktualisasi Diri ... 17

Faktor Yang Melatarbelakangi Tokoh Beretika Humanisme ... 19

Implikasi Pada Pembelajaran Di SMA ... 23

KESIMPULAN ... 23

SARAN ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 25

LAMPIRAN ... 27

Tabel 1 Instrumen Penelitian ... 27

Tabel 2 Pengodean Data ... 30

Tabel 3 Korpus Data... 31

Bagan 1 Tinjauan Pustaka Kerangka Humanisme ... 32

Bagan 2 Metode Penelitian ... 33

Bagan 3 Hasil Penelitian... 34

(7)
(8)

viii ABSTRAK

Humanisme Dalam Novel “Orang-Orang Biasa” Karya Andrea Hirata Dan Implikasi Pembelajaran Di SMA: Kajian Humanisme Abraham Maslow

YASHINTA LARAS WILUJENG [email protected] Dr. Ekarini Saraswati (NIDN: 0025116301) Assc. Prof. Dr. Joko Widodo (NIDN: 0707076201)

Magister Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia

Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) aspek-aspek humanisme, (2) faktor yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme, (3) implikasi pembahasan pada pembelajaran sastra Indonesia. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa mencatat dokumen sastra. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data objektif guna menginterpretasi masalah penelitian. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa novel “Orang-Orang Biasa” terepresentasikan melalui aspek-aspek humanisme, faktor yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme dan implikasi pembahasan pada pembelajaran sastra. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) aspek humanisme melalui kebutuhan aktualisasi diri lebih memiliki kekuatan untuk mendominasi dalam penerapan humanisme, (2) terdapat faktor internal dan eksternal yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme, (3) implikasi yang dapat diterapkan pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah kompetensi dalam menganalisis unsur intriksik dan ekstrinsik dalam novel. Kata kunci: humanisme, novel, psikologi.

Abstract:

This study aims to describe (1) aspects of humanism, (2) the factors behind the character's ethical humanism, (3) the implications of the discussion on learning Indonesian literature. The method in this research is descriptive with a qualitative approach. Data collection uses documentation techniques in the form of noting literary documents. The data analysis technique uses objective data analysis techniques to interpret the research problem. Based on data analysis, it can be concluded that the novel "Ordinary People" is represented through aspects of humanism, the factors behind the character's ethical humanism, and the implications that can be applied to learning Indonesian language and literature are competence. The results of the analysis show that (1) aspects of humanism through the need for self-actualization have more power to dominate in the application of humanism, (2) there are internal and external factors that underlie the character to be ethical in humanism, (3) the implications that can be applied to learning Indonesian language and literature are competence. in analyzing the intrinsic and extrinsic elements in the novel.

(9)
(10)

1 PENDAHULUAN

Karya sastra tercipta berdasarkan fakta atau imajinasi bahkan perpaduan dari keduanya yang terjadi dalam kehidupan manusia. Menurut Mahayana (2005:219) dunia sastra adalah dunia imajinatif. Ia merupakan hasil percampuran antara pengalaman, imajinasi, kecendekiaan, dan wawasan pengarang. Keberagaman nilai estetik yang digunakan para sastrawan menunjukkan adanya keberagaman latar budaya sosial yang dimiliki sastrawan baik dari segi status sosial, pendidikan, lingkungan serta politik yang memengaruhi pandangan mereka. Karya sastra lahir disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dikarenakan latar belakang sosial pengarang dan hasrat untuk mengungkapkan pendapat mengenai kehidupan dengan berbagai persoalan di dalamnya. Hal ini juga diungkapkan oleh Semi (2012:1) bahwa sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya, menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, serta menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman.

Humanisme menjadi penting dalam kehidupan manusia. Humanisme memiliki peran yang besar untuk dihadirkan dalam masyarakat dikarenakan masyarakat sekarang memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap sesama. Hadirnya karya sastra yang berdampingan dengan kehidupan manusia serta memuat berbagai aspek di dalamnya membuat karya sastra tersebut menarik untuk dikaji, untuk melihat cerminan humanisme pada masa itu. Di dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata banyak memuat aspek humanisme yang di peroleh dari pemenuhan kebutuhan yang dilakukan para Tokoh. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori psikologi sastra. Novel ini akan dianalisis aspek humanisme yang dimiliki tokoh. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menganalisis karya ini. Penelitian terdahulu tentang humanisme pernah dilakukan oleh Agresti dkk (2018), Melati (2019), Amirudin (2019), Nazihah dkk (2020), dan Latifah dkk (2021). Dari beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa penelitian tentang aspek humanisme pada novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata belum pernah dilakukan.

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang di dapat dalam penelitan ini adalah (1) bagaimana aspek-aspek humanisme dalam novel

(11)

Orang-2

orang Biasa karya Andrea Hirata, (2) bagaimana faktor yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata, (3) bagaimana implikasi pembahasan kajian humanisme dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata pada pembelajaran sastra di SMA.

TINJAUAN PUSTAKA Humanisme

Aspek Humanisme Berdasarkan Teori Humanisme Abraham Maslow

Menurut aliran humanistik, manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat, selalu bergerak ke arah pengungkapan potensi yang dimiliki apabila lingkungan memungkinkan. Humanistik merupakan suatu gerakan yang berakar pada eksistensialisme (setiap individu memiliki kekuatan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib/wujud keberadaan serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya). Salah satu teori pada psikologi humanistik adalah teori kepribadian Abraham Maslow, yang menekankan pada hierarki kebutuhan dan motivasi. Menurut Maslow (dalam Minderop, 2011: 49) menyatakan bahwa setiap manusia adalah satu kepribadian secara keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi, yang menunjukkan eksistensi manusia memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaanya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Menurut Maslow (dalam Minderop, 2011: 49) juga menyampaikan teorinya tentang kebutuhan betingkat yang tersusun sebagai berikut: fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan dasar (fisik) yaitu kebutuhan dasar fisiologis yang meliputi kbutuhan makanan/minuman, pakaian, istrahat, seks, dan tempat tinggal harus lebih dulu dipenuhi sebelum beranjak pada pemenuhan kebutuhan psikis (cinta, rasa aman, dan harga diri). Berikut penjelasannya mengenai kebutuhan bertingkat.

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendesak sehingga paling didahulukan pemuasannya oleh individu. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan tentunya merupakan masalah yang terpenting apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi. Menurut Maslow (dalam Minderop, 2011: 49) kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan

(12)

3

kebutuhan dasar yang paling mendesak pemenuhannya karena terkait dengan kelangsungan hidup manusia, kebutuhan yang pemenuhannya tidak mungkin ditunda. Adapun kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis yang dimaksud antara lain kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, istirahat, seks, dan tempat tinggal. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka, seseorang akan cenderung bergerak untuk berusaha mencapai kebutuhan di atasnya demi untuk memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya karena besar kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.

Kebutuhan psikis merupakan kebutuhan yang akan diusahakan oleh individu setelah kebutuhan dasar fisiologisnya terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan dasar fisiologis merupakan motivasi untuk bergerak memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi lagi. Untuk mencapai kebutuhan yang lebih tinggi terlebih dahulu harus terpenuhi kebutuhan yang di bawahnya. Selain kebutuhan fisik seseorang akan mengusahakan pemenuhan sejumlah kebutuhan psikisnya agar dapat dengan mudah mencapai kebutuhan yang lebih tinggi. Ada pun kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan aktualisasi diri.

Konsep hirarki kebutuhan yang diungkapkan Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di level rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di level lebih tinggi. Maslow (2019: 11) menyatakan bahwa pada dasarnya terdapat berbagai macam kebutuhan dalam diri seseorang yang bisa dilihat secara berjenjang (hierarchical). Berbagai kebutuhan tersebut oleh Maslow dikelompokkan secara hierarki menjadi lima bentuk kebutuhan, yakni: (1) kebutuhan fisiologis; (2) kebutuhan rasa aman; (3) kepemilikan sosial; (4) kebutuhan akan penghargaan diri; dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri, seperti gambar berikut.

(13)

4

Tingkat terendah piramida terdiri dari kebutuhan paling dasar, sedangkan kebutuhan paling kompleks ada di bagian paling atas piramida. Kebutuhan dasar di piramida adalah kebutuhan fisik, termasuk kebutuhan akan makanan, air, dan tidur. Setelah kebutuhan tingkat rendah ini dipenuhi, orang dapat beralih ke tingkat kebutuhan berikutnya, yaitu kebutuhan untuk keselamatan dan keamanan. Ketika orang naik ke atas piramida, kebutuhan menjadi semakin dekat dengan unsur psikologis dan sosial. Kebutuhan sosial yang merupakan kebutuhan akan saling berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya ada, kebutuhan akan cinta, persahabatan, dan keintiman menjadi penting. Lebih jauh ke atas piramida, kebutuhan akan penghargaan pribadi dan perasaan pencapaian menjadi prioritas. Kebutuhan penghargaan merupakan kebutuhan yang menempati posisi keempat dari hierarki Maslow. Kebutuhan penghargaan meliputi harga diri, prestasi, status, pengakuan, dan perhatian. Maslow (2019: 12) menekankan pentingnya aktualisasi diri, yang merupakan proses tumbuh dan berkembang sebagai pribadi untuk mencapai potensi individu.

Humanisme dalam Karya Sastra

Humanisme merupakan paham yang menempatkan manusia sebagai pusat realitas. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia. Menurut Mangunwijaya (2015:26) manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri yang positif. Pertama, memiliki

(14)

5

rasa artistik yang tinggi sehingga mampu mengembangkan berbagai hasil kerajinan dan kesenian yang tinggi. Kedua, suka tolong-menolong dan bergotong-royong. Ketiga, berhati lembut dan suka damai, memiliki kecerdasan yang cukup baik, terutama yang menyangkut keterampilan.

Humanisme menjadi penting dalam kehidupan manusia dewasa ini, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan baik buruk pergaulan hidup manusia harus menjadi sebuah contoh bahwa sesuatu hal yang baik akan diganjar dengan perbuatan yang baik pula dan begitu pula sebaliknya. Humanisme memiliki peran yang besar untuk dihadirkan dalam masyarakat dikarenakan masyarakat sekarang memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap sesama.

Selain masalah kehidupan, karya sastra menghadirkan sisi humanisme untuk memenuhi salah satu pokok penting dalam menyajikan sebuah karya. Sisi humanisme pada suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari masalah kemanusiaan yang diambil dari pengarang. Menurut Sugiharto (2013:293) humanisme adalah sebuah kata yang mengandung sejarah sangat kompleks dan mencangkup kemungkinan konteks juga mempunyai arti yang sangat luas. Humanisme kerap dianggap awal penting oleh para sejarawan. Setiap manusia mempunyai rasa kemanusiaannya yang berbeda dalam bersosial sehingga istilah humanisme dapat mendobrak inspirasi setiap manusia melalui cara tangkapnya dalam berpikir.

Mempersoalkan nilai humanisme berkaitan erat dengan persoalan manusia dan persoalan moral. Menurut Nurgiyantoro (2010:323) jenis ajaran moral dapat mencangkup masalah yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ajaran moral itu sangat luas, dapat melingkupi hidup dan kehidupan yaitu permasalahan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Moral dalan cerita bersifat praktis dan dapat diambil melalui cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Menurut Saryono (2009:57) dalam apresiasi sastra sering juga terhidang pengalaman humanistis, pengalaman manusiawi. Meskipun penggambaran situasi dan kondisi kemanusiaan yang ditunjukkan kepada pembaca bisa bermacam-macam, namun penggambaran itu tetap berpihak pada nilai kemanusiaan dan harkat martabat manusia. Dalam karya sastra, penerapan nilai moral melalui sikap dan tingkah laku para tokoh.

(15)

6

Humanisme merupakan perjuangan untuk menjadi lebih baik lagi berdasarkan rasa kemanusiaan terhadap umat manusia. Dengan hal tersebut, humanisme tidak lepas dengan adanya komunikasi untuk memberikan kesan positif terhadap kekerabatan manusia. Menurut Sambas (2016:56) komunikasi adalah sarana untuk mengirim pesan. Manusia akan saling berkirim pesan baik pada jarak yang dekat maupun jauh. Masalah kemanusiaan yang terdapat dalam karya sastra merupakan perihal untuk mewakili perasaan yang diperankan dengan perbuatan maupun tingkah laku para tokoh yang diatur oleh pengarang. Hal tersebut digambarkan pengarang melalui sebuah novel sebagai salah satu media karya sastra sehingga novel memiliki karakteristik yang luas dan kompleks.

Pola penanaman dan penghayatan nilai humanisme bisa mengarahkan seseorang ke arah yang lebih baik dengan bentuk pembiasaan yang dilakukan oleh orang terdekatnya sebagai suatu upaya pemberian stimulus yang akan diwujudkan dengan bentuk respon yang baik. Nilai humanisme pada dasarnya menekankan pada aspek penanaman karakter yang dibangun berdasarkan sebuah kebiasaan yang terjadi dalam suatu lingkungan (Subiyantoro, 2013: 42). Saat ini, pengaplikasian nilai humanisme banyak diwujudkan dalam sebuah karya sastra yang bisa dinikmati oleh pembaca. Kehadiran sastra yang menjadikan manusia sebagai objek penceritaan dalam sebuah seni dikemas dengan berbagai macam gambaran kehidupan yang lekat dengan adanya nilai-nilai humanisme. Dorongan dasar manusiawi lah yang akan mengantarkan manusia mengungkapkan dirinya dalam sebuah sastra, menaruh perhatian terhadap manusia lain dan realitas yang ada di lingkungan sekitarnya (Semi, 2012:1).

Manusia dalam hubungan sehari-hari senantiasa melakukan hubungan antara satu dengan yang lain. Dalam hubungan seperti itu, manusia membentuk masyarakat, berkembang saling memengaruhi, saling membantu, bahkan saling bersaing. Dasar dari humanisme adalah moral yang ada dalam setiap manusia dan etika dalam setiap hubungan antar manusia untuk berbuat baik. Moral dan etika memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menuntun manusia dalam hidup kesehariannya, mengajarkan apa yang baik dan buruk, apa yang harus dilakukan dan dihindari, juga mengajarkan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita (Syariati, 1996:41).

(16)

7

Sikap rela berkorban juga menjadi bagian dari nilai humanisme. Pentingnya sikap rela berkorban karena nilai-nilai luhur budaya bangsa yang diwariskan oleh founding father telah tercabut dari akarnya (Sutarmin, 2014: 29). Dampak dari perilaku rela berkorban akan berpengaruh pada sikap dan tindakan warga negara yang dilandasi dengan kesadaran berbangsa dan bernegara, kecintaan pada keluarga dan kerelaan berkorban menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Tolong menolong dalam lingkungan sosial atau masyarakat diwujudkan dengan bentuk membantu tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan. Tindakan tersebut termasuk dalam kategori prososisi yang menguntungkan orang lain tanpa menyediakan keuntungan langsung terhadap orang yang melakukan tindakan tersebut (Baron, 2003:92).

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipandang sesuai dengan ciri penelitian yang menghasilkan data-data tertulis dari subjek yang diteliti. Menurut Ratna (2013:47) bahwa penyajian dan penafsiran metode kualitatif yakni dalam bentuk deskriptif. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam usaha pendeskripsian data secara kronologis. Metode ini menitikfokuskan segi alamiah yang berdasarkan karakter dalam data. Dalam hal ini bertujuan untuk mengungkapkan aspek-aspek humanisme pada novel karya Andrea Hirata yang berjudul “Orang-Orang Biasa”. Data berupa kata, frase, dan satuan cerita yang di dalamnya mengandung aspek humanisme.

Teknik pengumpulan data menerapkan teknik dokomentasi dengan mencatat dokumen berupa teks sastra. Arikunto (2013:275) mengungkapkan bahwa teknik dokumentasi merupakan kegiatan mencatat hal penting berdasarkan variabel yang telah ditentukan. Analisis data yang menerapkan teknik analisis objektif bertujuan untuk mengetahui isi dan maksud suatu teks sastra. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Fananie (2002:112) bahwa teknik analisis data objektif merupakan teknik analisis yang didasarkan pada karya sastra secara keseluruhan.

(17)

8 HASIL dan PEMBAHASAN

Aspek Humanisme Berdasarkan Teori Humanisme Abraham Maslow Humanisme Melalui Kebutuhan Fisiologis

Aspek humanisme melalui kebutuhan fisiologis membahas humanisme dari segi kebutuhan makan dan minum yang dialami tokoh. Secara psikologi hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat sekitar. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan makan dan minum yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (1) berikut ini.

“Kejahatan itu tidaklah serta-merta hinggap di kepala mereka saat mereka berleha-leha minum kopi susu jahe di warung kopi, namun telah lama mereka rencanakan. Semua karena teori ekonomi paling pokok: supply dan demand.” (AH/2019/OOB/HM/KF/H-53)

Data (1) di atas menunjukkan adanya kebutuhan makan dan minum yang dialami oleh tokoh kejahatan. Kebutuhan makan dan minum terwujud melalui pernyataan di dalam teks bahwa kebutuhan makan dan minum diperlukan untuk memikirkan suatu rencana tindakan. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis menjadikan Tokoh mampu menentukan sikap atau perilaku kemanusiaan yang akan dilakukan di lingkungannya.

Penanda kebutuhan makan dan minum ditunjukkan melalui tokoh penjahat yang berleha-leha minum kopi susu jahe di warung kopi untuk merencanakan tindakan. Aspek kebutuhan makan dan minum telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami kondisi harus bersantai meminum kopi sambil merencanakan suatu tindakan. Data selanjutnya tentang kebutuhan makan dan minum sebagai berikut.

“Mana ada perampok minum teh manis, yang minum teh manis itu guru honorer. Minum kopi pahit ini kopinya para perampok. Honorun adalah guru honorer dan dia suka minum teh manis. Disodori kakak itu kopi, dia tak banyak cakap.” (AH/2019/OOB/HM/KF/H-104)

Data (2) di atas menunjukkan adanya kebutuhan makan dan minum yang dialami oleh tokoh kejahatan. Kebutuhan makan dan minum terwujud melalui pernyataan di dalam teks bahwa kebutuhan makan dan minum diperlukan untuk menunjang profesi sebagai perampok. Dalam hal ini tokoh penjahat membutuhkan makan dan minum untuk memenuhi kebutuhannya. Terpenuhinya kebutuhan

(18)

9

fisiologis menjadikan Tokoh mampu menentukan sikap atau perilaku yang akan dilakukan di lingkungannya.

Penanda kebutuhan makan dan minum ditunjukkan melalui tokoh penjahat yang disuguhkan minuman kopi ketika sedang berdiskusi. Aspek kebutuhan makan dan minum telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami kondisi memikirkan sebuah langkah untuk tindakan yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Aspek humanisme tentang kebutuhan fisiologis juga mengupas humanisme dari segi kebutuhan pakaian yang dialami tokoh. Secara sosiologi hal ini untuk memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan pakaian yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (3) berikut ini.

"Bicara soal kopi ngebon, utangmu padaku belum kau lunasi Handai. Ingat kau ngutang padaku waktu kau mau beli celana pensil tempo hari." (AH/2019/OOB/HM/KF/H-131)

Berdasarkan data (3) menunjukkan adanya kebutuhan pakaian dari tokoh bernama “Handai”. Kebutuhan pakaian tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuatnya utang karena harus membeli sebuah celana pensil. Adanya kebutuhan pakaian pada tokoh Handai karena Dia merasa membutuhkan pakaian untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga situasi tersebut menjadikan ia membutuhkan pakaian. Sejalan dengan temuan tersebut, Maslow (dalam Minderop, 2011: 49) mengungkapkan bahwa kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemenuhannya karena terkait dengan kelangsungan hidup manusia, kebutuhan yang pemenuhannya tidak mungkin ditunda. Dalam hal ini tokoh Handai membutuhkan pakaian untuk memenuhi kebutuhannya.

Penanda kebutuhan pakaian ditunjukkan melalui tokoh Handai yang rela berhutang demi membeli sebuah celana pensil. Aspek kebutuhan pakaian telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami kondisi harus berhutang demi membeli sebuah celana pensil untuk memenuhi kebutuhan akan pakaian.

(19)

10

Aspek humanisme tentang kebutuhan fisiologis yang lain membahas tentang humanisme dari segi kebutuhan istirahat yang dialami tokoh. Dalam hal tersebut, biasanya tokoh merasakan kelelahan sehingga membutuhkah waktu untuk istirahat. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan istirahat yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (4) berikut ini.

“Anak Dinah yang cerdas itu, Aini akhirnya menjadi pelayan warung Kupi Kuli. Dia bekerja dari pagi hingga sore, adakalanya hingga malam. Kelelahan dia bekerja sepanjang hari. " (AH/2019/OOB/HM/KF/H-122)

Berdasarkan data (4) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan istirahat dari tokoh bernama “Aini”. Kebutuhan istirahat tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuatnya merasa kelelahan karena harus bekerja sepanjang hari. Adanya kebutuhan istirahat pada tokoh Aini karena Dia merasa kelelahan karena bekerja sepanjang hari, sehingga situasi tersebut menjadikan ia membutuhkan istirahat. Dalam hal ini tokoh Aini membutuhkan istirahat untuk mendapatkan kebutuhan perihal istirahat.

Penanda kebutuhan istirahat ditunjukkan melalui aktivitas yang dijalankan tokoh Aini yang dilakukan tanpa batas waktu mulai dari pagi hingga sore bahkan hingga malam yang menjadikan Aini merasa kelelahan karena kurang waktu untuk beristirahat. Aspek kebutuhan istirahat telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami kelelahan sehingga membutuhkan waktu istirahat di sela pekerjaannya.

Humanisme Melalui Kebutuhan Rasa Aman

Aspek humanisme melalui kebutuhan rasa aman mengupas humanisme dari segi kebutuhan rasa aman yang dialami tokoh. Secara psikologi hal ini untuk memenuhi kebutuhan hidup Tokoh di lingkungan masyarakat. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan rasa aman yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (5) berikut ini.

"Tinggallah Salud yang telah terkepung karena dia memang sasaran dan Debut yang bertekad membelanya. “Aku, aku Debut Awaludin! Pemimpin 10 sekawan! Berdiri kau di belakangku, Lud!” Salud bergeser ketakutan, lalu berlindung di belakang Debut.” (AH/2019/OOB/HM/KRA/H-18)

(20)

11

Berdasarkan data (5) di atas menunjukkan adanya kebutuhan rasa aman dari Tokoh bernama “Salud”. Kebutuhan rasa aman tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang mendesak dan mengharuskan Salud untuk mencari aman dan perlindungan dari pengeroyokan beberapa temannya yang jail. Adanya kebutuhan rasa aman pada tokoh Salud karena Dia merasa tidak mampu dan takut menghadapi lawannya, sehingga situasi tersebut mengharuskan ia untuk mencari aman dan berlindung di belakang Debut. Terjadinya kebutuhan rasa aman menjadikan Tokoh terdorong untuk bersikap kemanusiaan terhadap sesama.

Adapun penanda kebutuhan rasa aman ditunjukkan melalui permintaan tokoh Debut yang meminta Sallud untuk berlindung di belakangnya dan Sallud langsung bergeser ke belakang Debut dengan ketakutan. Aspek kebutuhan rasa aman telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami ketakutan sehingga membutuhkan rasa aman di lingkungannya. Data berikutnya tentang kebutuhan rasa aman ditunjukkan sebagai berikut.

“Setiap melihat Salud, Bastardin dan Boron selalu berteriak, “Pukul! Pukul!” Ancaman itu lambat laun menjadi trauma baginya. Kerap dia terbangun malam-malam karena bermimpi buruk mendengar Bastardin dan Boron berteriak, “Pukul! Pukul!”. (AH/2019/OOB/HM/KRA/H-19)

Berdasarkan data (6) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan rasa aman dari Tokoh bernama “Salud”. Kebutuhan rasa aman tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang menjadikan Salud merasa tidak aman dan trauma atas perlakuan Bastardin dan Boron yang merupakan anak jail, nakal, dan suka menyakiti Salud. Adanya kebutuhan rasa aman pada tokoh Salud karena Dia merasa trauma dan takut dengan temannya yang sering menyakitinya, sehingga situasi tersebut menjadikan ia membutuhkan rasa aman. Terjadinya kebutuhan rasa aman antartokoh menjadikan Tokoh melakukan sikap humanisme terhadap sesama untuk memberikan rasa aman kepada temannya.

Adapun penanda kebutuhan rasa aman yang dialami tokoh Sallud yaitu ancaman yang selalu dilakukan oleh Bastardin dan Boron yang membuatnya sampai pada titik trauma hingga terbawa mimpi sikap kejahatan yang sudah dilakukan kedua temannya. Aspek kebutuhan rasa aman telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami

(21)

12

penganiayaan sehingga membutuhkan rasa aman di lingkungannya. Data selanjutnya tentang kebutuhan rasa aman sebagai berikut.

“Inspektur mendekati seorang ibu yang wajahnya pucat. Terbata-bata ibu itu berkata bahwa motor bebeknya telah dilarikan orang. Orang itu sempat diteriaki maling tapi tetap nekat, sehingga ibu itu syok berat. Belum-belum Inspektur sudah jengkel. Prihatin dia melihat si ibu korban yang kini berurai air mata.” (AH/2019/OOB/HM/KRA/H-24

Berdasarkan data (7) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan rasa aman dari Tokoh bernama “Ibu”. Kebutuhan rasa aman tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang menjadikan Ibu merasa tidak aman dan syok berat. Adanya kebutuhan rasa aman pada tokoh Ibu karena Dia merasa syok berat dan takut dengan kejadian pencurian motornya, sehingga situasi tersebut menjadikan ia membutuhkan rasa aman. Dalam hal ini tokoh Ibu merasa ketakutan dan syok berat, sehingga membutuhkan rasa aman. Terjadinya kebutuhan rasa aman memengaruhi psikologi Tokoh untuk mendapatkan keamanan terhadap dirinya, sehingga mendorong Tokoh lain untuk bersikap kemanusiaan terhadap Tokoh yang membutuhkan bantuannya.

Adapun penanda kebutuhan rasa aman yang dialami tokoh Ibu yaitu merasa syok berat akibat dari kejadian motornya yang dibawa kabur oleh seseorang, sehingga membutuhkan rasa aman dari kejadian yang telah menimpanya. Aspek kebutuhan rasa aman telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami tekanan mental sehingga membutuhkan rasa aman di lingkungannya.

Humanisme Melalui Kebutuhan Sosial

Aspek humanisme tentang kebutuhan sosial mengupas humanisme dari segi kebutuhan sosial yang dialami tokoh. Secara psikologi hal ini untuk memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan sosial yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (8) berikut ini.

" Nihe dan Junilah wajar dibuang wali kelas ke bangku belakang karena mereka berdua sama-sama suka berdandan dan tak hiraukan pelajaran . Terutama Nihe sangat banyak tingkah dan sok cantik. Adapun Junilah ikut saja kelakuan Nihe. Nihe-lah panutan hidup Junilah dalam hal apapun.” (AH/2019/OOB/HM/KS/H-9)

(22)

13

Berdasarkan data (8) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sosial dari Tokoh bernama “Nihe dan Junilah”. Kebutuhan sosial tersebut terwujud melalui suatu kebiasaan Nihe dan Junilah yang sama sehingga menjadikan mereka saling memenuhi kebutuhan sosial mereka. Terjadinya kebutuhan sosial pada tokoh Nihe dan Junilah karena mereka memiliki kebiasaan yang sama, sehingga menjadikan menjadikan mereka saling memenuhi kebutuhan sosial dalam kehidupan mereka. Sejalan dengan temuan tersebut, Maslow (2019: 12) menyatakan bahwa kebutuhan sosial yang merupakan kebutuhan akan saling berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya ada, kebutuhan akan cinta, persahabatan, dan keintiman menjadi penting. Dalam hal ini tokoh Nihe dan Junilah saling memenuhi kebutuhan sosial mereka melalui kebiasaan yang mereka lakukan bersama.

Adapun penanda kebutuhan sosial ditunjukkan melalui kebiasaan tokoh Nihe dan Junilah yang akhirnya menjadikan mereka berdua saling melengkapi kebutuhan sosial mereka. Aspek kebutuhan sosial telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang memiliki kebiasaan yang sama dan saling melengkapi, sehingga kebutuhan sosial di lingkungannya terpenuhi. Data tentang kebutuhan sosial yang selanjutnya ditunjukkan sebagai berikut.

" Salud sendiri gembira karena akhirnya ada juga anak lain yang mau mengawaninya walaupun anak itu sering tidak naik kelas. Dekat dengan Salud, Tohirin terbawa-bawa dibulli. Salud lebih gembira lagi sebab lebih baik dipukuli berdua daripada dipukuli sendiri. Salud menulis di bukunya: Dalam keadaan apa pun, berdua lebih baik.” (AH/2019/OOB/HM/KS/H-11) Berdasarkan data (9) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sosial dari Tokoh bernama “Salud”. Kebutuhan sosial tersebut terwujud melalui suatu keadaan Salud yang selama ini merasa sendiri dan tidak pernah melakukan interaksi dengan teman-temannya hingga akhirnya ada juga teman yang mau berinteraksi dengannya, sehingga Salud mampu memenuhi kebutuhan sosialnya. Terjadinya kebutuhan sosial pada tokoh Salud karena ia tidak pernah berinteraksi dengan teman-temannya, sehingga menjadikan ia membutuhkan interaksi dengan temannya untuk memenuhi kebutuhan sosialnya dan ia sangat merasa senang ketika ada satu temannya yang mau berteman dengannya. Sejalan dengan temuan tersebut, Maslow (2019: 12) menyatakan bahwa kebutuhan sosial yang

(23)

14

merupakan kebutuhan akan saling berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya ada, kebutuhan akan cinta, persahabatan, dan keintiman menjadi penting. Dalam hal ini tokoh Salud akhirnya mampu memenuhi kebutuhan sosialnya yaitu dengan adanya teman yang mau menjadi temannya.

Adapun penanda kebutuhan sosial ditunjukkan melalui perasaan gembira yang dirasakan Salud yang selama ini ia selalu sediri tidak memiliki kawan akhirnya ada juga yang mau mengawaninya. Aspek kebutuhan sosial telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang memiliki perasaan gembira karena dapat berinteraksi dengan orang lain, sehingga kebutuhan sosial di lingkungannya terpenuhi. Data selanjutnya tentang kebutuhan sosial sebagai berikut.

" Terbirit-birit Inspektur berlari menuju motor bebek tuanya, tergopoh Sersan di belakangnya, tiba-tiba Inspektur berbalik. “Notes! Pistol! Kacamata! Semua ketinggalan!”. Kumendan mengambil barang-barang yang ketinggalan itu. Sejurus kemudian kedua polisi yang hebat itu telah melesat di atas jalan raya.” (AH/2019/OOB/HM/KS/H-22)

Berdasarkan data (10) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sosial dari Tokoh bernama “Inspektur dan Sersan”. Kebutuhan sosial tersebut terwujud melalui suatu keadaan Inspektur dan Sersan yang sama-sama bekerja sebagai polisi, sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan sosialnya. Terjadinya kebutuhan sosial pada tokoh Inspektur dan Sersan karena mereka sama-sama bekerja sebagai polisi di tempat yang sama, sehingga menjadikan mereka bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Dalam hal ini tokoh Inspektur dan Sersan akhirnya mampu memenuhi kebutuhan sosialnya yaitu dengan bekerjasama sesama profesi sebagai polisi.

Adapun penanda kebutuhan sosial ditunjukkan melalui keadaan Inspektur dan Sersan yang berprofesi sama-sama menjadi seorang polisi, sehingga mereka saling melengkapi kebutuhan sosial masing-masing. Aspek kebutuhan sosial telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang memiliki pekerjaan yang sama yaitu sebagai seorang polisi, sehingga kebutuhan sosial di lingkungannya terpenuhi.

(24)

15 Humanisme Melalui Kebutuhan Penghargaan

Aspek humanisme tentang kebutuhan penghargaan membahas humanisme dari segi kebutuhan penghargaan yang dialami tokoh. Secara psikologi hal ini untuk memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan penghargaan yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (11) berikut ini.

"Usaha kebersihan itu perlu orang-orang yang rapi! Berdisiplin! Bagaimana mau membersihkan kalau disi sendiri berantakan! Bentak Rusip. Junilah acuh tak acuh, Nihe selfie lagi. Berbagai cara dilakukan Rusip untuk memecat dua oknum tak bertanggung jawab itu tanpa harus kehilangan persahabatan tanpa harus kehilangan persahabatan tapi selalu gagal.” (AH/2019/OOB/HM/KP/H-56)

Berdasarkan data (11) di atas menunjukkan adanya kebutuhan penghargaan dari Tokoh bernama “Rusip”. Kebutuhan penghargaan tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Rusip merasa jengkel dengan sikap dua karyawannya yang juga sahabatnya yang tidak menghargainya sama sekali sebagai atasan. Adanya kebutuhan penghargaan pada tokoh Rusip karena Dia merasa tidak dihargai sebagai atasan oleh dua sahabatnya yang berposisi sebagai bawahannya, sehingga situasi tersebut menjadikan Ia merasa butuh penghargaan dari bawahannya sebagai seorang atasan.

Adapun penanda kebutuhan penghargaan ditunjukkan melalui sindiran tokoh Rusip yang mengingatkan tentang kerapian dan kedisiplinan seseorang kepada karyawannya tetapi diacuhkan oleh karyawannya. Berbagai cara sudah dilakukannya untuk memecat karyawannya tersebut tetapi selalu gagal. Aspek kebutuhan penghargaan telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami situasi tidak dihargai sebagai seorang atasan. Terjadinya kebutuhan penghargaan untuk menjadikan Tokoh menunjukkan kemartabatan dirinya di lingkungannya. Data selanjutnya tentang kebutuhan penghargaan sebagai berikut.

"Lain waktu Ibu Desi Mal, guru Matematika tak dapat menahan dirinya karena para penghuni bangku-bangku belakang itu memang sudah keterlaluan. “Mengapa kalian itu bodoh sekali?! Kalau aku tak pandai mengajar, mengapa anak-anak lain bisa, kalian tidak?!, jadi siapa yang salah sebenarnya?!”. Ibu Desi Mal itu orangnya sabar sekali, konon pernah menjadi juara guru paling sabar tingkat kabupaten. Menyesal dia harus berteriak macam orang digeladak kapal.” (AH/2019/OOB/HM/KP/H-6)

(25)

16

Berdasarkan data (12) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan penghargaan dari Tokoh bernama “Ibu Desi Mal”. Kebutuhan penghargaan tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Ibu Desi Mal membutuhkan penghargaan berupa suksesnya mengajar anak-anak didiknya, terutana anak penghuni bangku belakang. Terjadinya kebutuhan penghargaan pada tokoh Ibu Desi Mal karena Dia merasa ingin dihargai dan sukses dalam mendidik semua anak didiknya, sehingga menjadikan dirinya bersikukuh untuk mendapatkan penghargaan dari semua anak didiknya tanpa terkecuali. Kebutuhan penghargaan meliputi harga diri, prestasi, status, pengakuan, dan perhatian.. Dalam hal ini tokoh Ibu Desi Mal berupaya mencapai keinginannya untuk mendapatkan pengakuan dari seluruh anak didiknya tentang pengajarannya.

Adapun penanda kebutuhan penghargaan ditunjukkan melalui suatu keadaan yang membuat Ibu Desi Mal membutuhkan penghargaan berupa suksesnya mengajar anak-anak didiknya, terutama anak penghuni bangku belakang. Selama ini Ibu Desi merasa sukses mengajar anak-anak didiknya. Aspek kebutuhan penghargaan telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami situasi membutuhkan penghargaan dari anak didiknya atas kesuksesan ia mengajar selama ini. Terjadinya kebutuhan penghargaan untuk menjadikan Tokoh menunjukkan kemartabatan dirinya di lingkungannya. Data selanjutnya tentang kebutuhan sosial sebagai berikut.

"Dinas hari itu mereka akhiri dengan tetap meninggalkan angka 0 pada poin Pencurian Kendaraan Bermotor. Sedikit mengecewakan memang, namun Inspektur senang sebab itulah aksi terhebatnya selama 2 tahun bertugas di Belantik. Satu aksi mengandung unsur informasi dari masyarakat, pengejaran berkecepatan tinggi di jalan raya, dan curiga salah alamat. Lebih dari segalanya, Inspektur gembira karena sempat mengucapkan kata untuk membesarkan hati korban kejahatan.” (AH/2019/OOB/HM/KP/H-26) Berdasarkan data (13) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan penghargaan dari Tokoh bernama “Inspektur”. Kebutuhan penghargaan tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Inspektur memberikan penghargaan terhadap dirinya sendiri karena merasa senang sudah membantu penyelesaian tindak kejahatan. Terjadinya kebutuhan penghargaan pada tokoh Inspektur karena Dia merasa senang dan gembira dalam menangani tindak

(26)

17

kejahatan, sehingga menjadikan dirinya senang dan menghargai dirinya sendiri. Dalam hal ini tokoh Inspektur merasa senang dan gembira karena mampu menyelesaikan tindak kejahatan. Terjadinya kebutuhan penghargaan untuk menjadikan Tokoh menunjukkan kemartabatan dirinya di lingkungannya.

Adapun penanda kebutuhan penghargaan ditunjukkan melalui suatu keadaan yang membuat Inspektur memberikan penghargaan terhadap dirinya sendiri karena merasa senang sudah membantu penyelesaian tindak kejahatan. Dia merasa senang dan gembira dalam menangani tindak kejahatan, sehingga menjadikan dirinya senang dan menghargai dirinya sendiri. Aspek kebutuhan penghargaan telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami situasi merasa bangga dengan apa yang ia lakukan dan kerjakan sehingga menjadikan ia memberikan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Humanisme Melalui Kebutuhan Aktualisasi Diri

Aspek humanisme tentang kebutuhan aktualisasi diri membahas humanisme dari segi kebutuhan aktualisasi diri yang dialami tokoh. Secara sosiologi hal ini untuk memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat. Berikut aspek humanisme tentang kebutuhan aktualisasi diri yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (14) berikut ini.

"Sejak menonton film itu, aku tak pernah lagi meralat cita-citaku, Sersan. Aku ingin menjadi polisi!”. Kini Inspektur semakin bangga menjadi polisi setiap kali menonton film Shah Rukh Khan.” (AH/2019/OOB/HM/AD/H-13) Berdasarkan data (14) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan aktualisasi diri dari Tokoh bernama “Inspektur”. Aktualisasi diri tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang menjadikan tokoh memiliki sebuah cita-cita yang kuat sehingga menjadikan diri Inspektur selalu bangga dengan profesi yang dipilihnya. Terjadinya aktualisasi diri pada tokoh Inspektur karena Dia memiliki sebuah cita-cita yang termotivasi dari sebuah film, sehingga menjadikan dirinya bersikukuh untuk mencapai cita-citanya dan akhirnya dia selalu bangga dengan profesinya menjadi seorang polisi. Dalam hal ini tokoh Inspektur berupaya mencapai cita-citanya melalui aktualisasi diri yang dilakukannya. Terjadinya kebutuhan

(27)

18

aktualisasi diri menjadikan Tokoh untuk mendapatkan kemartabatan dirinya di lingkungannya.

Adapun penanda kebutuhan aktualisasi diri ditunjukkan melalui rasa kebanggaan tokoh dengan profesi yang dipilihnya karena profesi tersebut adalah cita-citanya. Aspek kebutuhan aktualisasi diri telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang memiliki sebuah cita-cita yang kuat hingga tercapainya cita-cita-cita-cita tersebut sehingga menjadikan dirinya bangga untuk melakukan aktualisasi diri. Data selanjutnya tentang kebutuhan aktualisasi diri sebagai berikut.

"Debut Awaludin duduk di muka dan hal itu jelas menunjukkan tanpa pemungutan suara atau surat penugasan dari pusat, dia telah mengangkat dirinya sebagai gembong perampok dan untuk itu wajahnya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dimohon saudara-saudara perhatikan, kalau ada pendapat atau pertanyaan disalurkan dulu melalui saya.” (AH/2019/OOB/HM/AD/H-96) Data (15) di atas menunjukkan adanya kebutuhan aktualisasi diri dari Tokoh bernama “Debut”. Aktualisasi diri tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang menjadikan tokoh memiliki sebuah keinginan untuk menjadi seorang pemimpin. Terjadinya aktualisasi diri pada tokoh Debut karena Dia secara langsung mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua atau gembong perampok yang membawahi teman-temannya. Dalam hal ini tokoh Debut berupaya mencapai keinginannya melalui aktualisasi diri yang dilakukannya.

Adapun penanda kebutuhan aktualisasi diri ditunjukkan melalui keputusan yang diambil sendiri oleh Debut yaitu mengangkat dirinya sebagai gembong perampok tanpa pemilihan terlebih dahulu. Aspek kebutuhan aktualisasi diri telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang menunjuk dirinya sendiri untuk menjadi seorang ketua dan bertindak tegas di depan teman-temannya. Data selanjutnya tentang kebutuhan aktualisasi diri sebagai berikut.

"Handai melangkah dengan gagah. Bukan main senangnya dia karena akhirnya mimpi besarnya terwujud. Akhirnya, dia bisa tampil sebagai pembicara motivasi walaupun di depan kawan-kawannya sendiri dan di rumah kakaknya sendiri. Semua berteriak mengikuti Handai.” (AH/2019/OOB/HM/AD/H-101)

Data (16) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan aktualisasi diri dari Tokoh bernama “Handai”. Aktualisasi diri tersebut terwujud melalui suatu

(28)

19

keadaan yang menjadikan tokoh memiliki sebuah perasaan bangga terhadap dirinya sendiri karena dapat mewujudkan mimpinya selama ini. Terjadinya aktualisasi diri pada tokoh Handai karena selama ini ia memiliki mimpi yang besar yaitu dapat tampil sebagai pembicara motivasi, akhirnya mimpi besarnya terwujud sehingga menjadikannya merasa bangga. Dalam hal ini tokoh Handai berupaya mencapai keinginannya melalui aktualisasi diri yang dilakukannya. Aktualisasi diri mendorong Tokoh untuk mampu mendapatkan kemartabatan dirinya di lingkungannya.

Faktor yang Melatarbelakangi Tokoh Beretika Humanisme Faktor Internal

Di dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” terdapat tokoh yang memiliki etika rela berkorban untuk orang lain. Berikut faktor internal yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme rela berkorban yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (17) berikut ini.

"Sudah terlalu banyak kegagalan dalam hidupnya. Dinah tak mau anaknya gagal seperti dirinya. Dia siap meski harus masuk penjara 1000 tahun sekalipun asal anaknya bisa kuliah di Fakultas Kedokteran itu.” (AH/2019/OOB/HM/FI/H-173)

Data (17) di atas menunjukkan adanya faktor internal yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme rela berkorban. Tokoh bernama “Dinah” rela berkorban demi mewujudkan keinginan anaknya sekalipun penjara adalah konsekuensinya. Etika rela berkorban tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Dinah merasa siap dengan segala akibat dari perbuatannya demi mewujudkan keinginan anaknya. Sejalan dengan temuan tersebut, Kuntowidjojo (2013: 16) menyatakan bahwa etika profetik berdasar pada Al-Qur’an yang terdiri atas etika humanisme (mengajak dalam kebaikan, memanusiakan manusia). Dalam hal ini tokoh Dinah menunjukkan etika humanisme yang dilakukan untuk anaknya. Selanjutnya faktor internal yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme dalam hal tolong-menolong yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (18) berikut ini.

(29)

20

"Karena dia tak punya cara lain agar anaknya bisa kuliah, karena dia adalah seorang ibu, yang akan menutup mata untuk melalui kobaran api demi menolong anaknya.” (AH/2019/OOB/HM/FI/H-173)

Data (18) di atas menunjukkan adanya faktor internal yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme dalam hal tolong-menolong. Tokoh bernama “Dinah” melalui nalurinya sebagai seorang ibu rela menembus kobaran api demi menolong anaknya. Etika tolong-menolong tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Dinah harus siap melalui kobaran api demi menolong anaknya. Sejalan dengan temuan tersebut, Abdullah (2006: 368) menyatakan bahwa di dalam nilai etika terdapat etika tolong-menolong. Etika tolong-menolong ialah sikap yang senang menolong orang lain, baik dalam bentuk material ataupun tenaga dan moral. Dalam hal ini tokoh Dinah menunjukkan etika humanisme yang dilakukan untuk anaknya. Faktor internal yang lainnya tentang etika tokoh yang rela berkorban yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (19) berikut ini.

"Susah payahnya 7 bulan penuh merawat ayahnya telah menunjukkan hasil. Dia ingin terus mengurus ayahnya sampai sembuh. Aku akan berhenti sekolah, Ayah!Akan ikut ujian persamaan saja nanti untuk dapat ijazah SMA, asalkan Ayah sembuh!” (AH/2019/OOB/HM/FI/H-33)

Berdasarkan data (19) di atas menunjukkan adanya kebutuhan rela berkorban dari Tokoh bernama “Aini”. Sikap rela berkorban tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang menjadikan Aini berpikir untuk rela berkorban berhenti sekolah demi merawat ayahnya yang sedang sakit selama berbulan-bulan. Adanya sikap rela berkorban pada tokoh Aini karena Dia merasa merawat ayahnya selama bulan telah menunjukkan hasil, sehingga situasi tersebut mengharuskan ia untuk rela berhenti sekolah demi merawat ayahnya sampai sembuh.

Adapun penanda etika rela berkorban ditunjukkan melalui perkataan Aini kepada ayahnya bahwa ia akan berhenti sekolah dan ikut ujian persamaan demi merawat ayahnya hingga sembuh. Etika rela berkorban telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami siatuasi harus rela berkorban dengan berhenti sekolah untuk kehidupan di lingkungannya.

(30)

21

Faktor internal yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme juga terlihat dari tokoh yang bertindak tolong-menolong. Berikut etika humanisme dari segi tolong-menolong yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (20) berikut ini.

"Bangga aku pada anakmu, Dinah. Daftarkan namaku nomor satu, But! Aku mau ikut merampok bank itu! Waktu sekolah dulu, bercita-cita saja kita tak berani, kini anak kawan kita diterima di Fakultas Kedokteran. Aku mendukung! Aku siap merampok!.” (AH/2019/OOB/HM/FI/H-85)

Berdasarkan data (20) di atas menunjukkan adanya etika tolong-menolong dari Tokoh bernama “Tohirin”. Rasa tolong-menolong tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Tohirin merasa bangga terhadap anak temannya untuk mewujudkan cita-cita anak tersebut. Adanya rasa tolong-menolong pada tokoh Tohirin karena Dia merasa bangga terhadap anak kawannya yang di terima di sebuah perguruan tinggi dengan jurusan yang membanggakan, sehingga situasi tersebut mengharuskan ia untuk ikut membantu mencari dana demi mewujudkan cita-cita anak kawannya itu.

Adapun penanda rasa tolong-menolong ditunjukkan melalui antusias Tohirin untuk ikut merampok bank demi menolong kawannya mencari biaya sekolah anaknya. Aspek rasa tolong-menolong telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami situasi ingin menolong seorang kawan sehingga membutuhkan rasa tolong-menolong di lingkungannya. Data selanjutnya tentang sikap tolong-menolong sebagai berikut.

"Tak terima Debut melihat ketidakadilan dimuka bumi ini. “Usah cemas, Tap, mulai sekarang Bastardin dan Boron takkan berani lagi meninju mukamu sebab aku akan membelamu, secara habis-habisan.” (AH/2019/OOB/HM/FI/H-15)

Berdasarkan data (21) tersebut menunjukkan adanya sikap saling tolong-menolong dari Tokoh bernama “Debut” kepada temannya. Sikap tolong-tolong-menolong tersebut terwujud melalui suatu keadaan Debut harus melihat temannya selalu dianiaya oleh beberapa anak yang nakal, sehingga Debut ingin menegakkan keadilan dengan melindungi dan membela temannya agar tidak dianiaya lagi. Terjadinya sikap tolong-menolong yang dilakukan oleh Debut kepada temannya karena Debut tidak suka melihat ketidakadilan, sehingga ia merasa harus menolong temannya yang sering dianiaya oleh anaknakal. Sejalan dengan temuan

(31)

22

tersebut tolong menolong dalam lingkungan sosial atau masyarakat diwujudkan dengan bentuk membantu tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan. Tindakan tersebut termasuk dalam kategori prososisi yang menguntungkan orang lain tanpa menyediakan keuntungan langsung terhadap orang yang melakukan tindakan tersebut (Baron, 2003:92). Dalam hal ini tokoh Debut berupaya untuk menolong temannya dengan cara selalu membela agar temannya tidak dianiaya lagi.

Adapun penanda rasa tolong-menolong ditunjukkan melalui sikap Debut untuk menegakkan keadilan dengan cara membela temannya yang selalu dianiaya oleh anak-anak nakal. Aspek rasa tolong-menolong telah memperlihatkan bahwa humanisme dapat diungkapkan melalui cerita tokoh yang mengalami situasi ingin menolong seorang kawannya dari penganiayaan sehingga membutuhkan rasa tolong-menolong di lingkungannya.

Faktor Eksternal

Di dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” terdapat tokoh yang memiliki etika humanisme yang dipengaruhi oleh lingkungannya dari segi kondisi masyarakat. Berikut faktor eksternal yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme yang hadir dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-orang Biasa” seperti pada data (22) berikut ini.

"Sudah terlalu banyak kegagalan dalam hidupnya. Dinah tak mau anaknya gagal seperti dirinya. Dia siap meski harus masuk penjara 1000 tahun sekalipun asal anaknya bisa kuliah di Fakultas Kedokteran itu.” (AH/2019/OOB/HM/FE/H-173)

Berdasarkan data (22) di atas menunjukkan adanya faktor internal yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme rela berkorban. Tokoh bernama “Dinah” rela berkorban demi mewujudkan keinginan anaknya sekalipun penjara adalah konsekuensinya. Etika rela berkorban tersebut terwujud melalui suatu keadaan yang membuat Dinah merasa siap dengan segala akibat dari perbuatannya demi mewujudkan keinginan anaknya. Sejalan dengan temuan tersebut Kuntowidjojo (2013: 16) menyatakan bahwa etika profetik berdasar pada Al-Qur’an yang terdiri atas etika humanisme (mengajak dalam kebaikan, memanusiakan manusia). Dalam hal ini tokoh Dinah menunjukkan etika humanisme yang dilakukan untuk anaknya.

(32)

23

Implikasi Pembahasan pada Pembelajaran Sastra

Berdasarkan kajian yang dilakukan pada novel “Orang-Orang Biasa” karya Andrea Hirata, implikasi yang dapat diterapkan pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah kompetensi dalam menganalisis unsur intriksik dan ekstrinsik dalam novel. Kegiatan ini dapat melatih aspek keterampilan membaca, mendengarkan, dan berbicara peserta didik. Membahas karya sastra secara menyeluruh dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, mengasah kegiatan menganalisis karya sastra dalam diri peserta didik untuk memahami cerita dan karakter tokoh dalam novel.

Pada novel “Orang-Orang Biasa” karya Andrea Hirata, berbagai karakter tokoh yang disajikan oleh pengarang bisa menjadi pelajaran bagi peserta didik untuk mengetahui mengapa setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter-karakter tokoh yang ada dalam novel ini dapat diamati oleh peserta didik sebagai refleksi dari karakter manusia di dunia nyata. Kegigihan dan perjuangan tokoh dalam novel ini dalam mewujudkan berbagai aspek yang berhubungan dengan humanisme bisa menjadi nilai semangat dan motivasi yang dapat diambil oleh peserta didik dalam kehidupannnya. Selain itu sikap tolong-menolong dan rela berkorban antarsesama manusia di dalam novel ini bisa menjadi implikasi yang bagus pada peserta didik dalam menghadapi perbedaan yang ada di lingkungan sekitar.

KESIMPULAN

1) Aspek humanisme novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-Orang Biasa” hadir dengan berbagai aspek humanisme yakni a) aspek kebutuhan fisiologi yang meliputi kebutuhan makan dan minum, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan istirahat, b) aspek kebutuhan psikis yang meliputi kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan rela berkorban, dan kebutuhan tolong-menolong. Dari beberapa aspek humanisme tersebut, hasil analisis menunjukkan bahwa aspek kebutuhan aktualisasi diri lebih memiliki kekuatan untuk mendominasi dalam penerapan humanisme. Kemudian disusul dengan aspek kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan sosial.

(33)

24

2) Faktor yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-Orang Biasa” meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang melatarbelakangi yaitu dari segi rela berkorban dan tolong-menolong. Sedangkan faktor eksternal yang melatarbelakangi yaitu dari segi lingkungan tokoh. Faktor tersebut hadir secara terbuka maupun tertutup untuk memberikan pelajaran efektif dengan cara menjabarkan melalui sikap yang dilakukan oleh tokoh kepada pembaca. Hasil menunjukkan bahwa faktor internal dari segi tolong-menolong lebih mendominasi sikap yang melatarbelakangi tokoh untuk beretika humanisme. Kemudian, disusul faktor eksternal. Melalui penjabaran faktor yang melatarbelakangi tokoh dalam beretika humanisme tersebut dapat memberikan wawasan, menguatkan kemampuan berpikir kritis, hingga memperkuat nilai dan moral pembaca sebagai acuan bersikap di masyarakat. 3) Implikasi yang dapat diterapkan pada pembelajaran bahasa dan sastra

Indonesia adalah kompetensi dalam menganalisis unsur intriksik dan ekstrinsik dalam novel. Kegiatan ini dapat melatih aspek keterampilan membaca, mendengarkan, dan berbicara peserta didik. Membahas karya sastra secara menyeluruh dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, mengasah kegiatan menganalisis karya sastra dalam diri peserta didik untuk memahami cerita dan karakter tokoh dalam novel. Pada novel “Orang-Orang Biasa” karya Andrea Hirata, berbagai karakter tokoh yang disajikan oleh pengarang bisa menjadi pelajaran bagi peserta didik untuk mengetahui mengapa setiaptokoh memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter-karakter tokoh yang ada dalam novel ini dapat diamati oleh peserta didik sebagai refleksi dari karakter manusia di dunia nyata. Kegigihan dan perjuangan tokoh dalam novel ini dalam mewujudkan berbagai aspek yang berhubungan dengan humanisme bisa menjadi nilai semangat dan motivasi yang dapat diambil oleh peserta didik dalam kehidupannnya. Selain itu sikap tolong-menolong dan rela berkorban antarsesama manusia di dalam novel ini bisa menjadi implikasi yang bagus pada peserta didik dalam menghadapi perbedaan yang ada di lingkungan sekitar.

(34)

25 SARAN

Saran dalam penelitian mengenai aspek humanisme dalam novel karya Andrea Hirata berjudul “Orang-Orang Biasa” di antaranya sebagai berikut. 1) Bagi pembaca, hasil penelitian ini dapat membantu mengkaji, mengapresiasi,

serta memahami aspek humanisme dalam novel karya Andrea Hirata.

2) Bagi pengajar sastra, hasil penelitian ini dapat menggunakan aspek pengungkapan humanisme sebagai bahan ajar dan referensi dalam pengajaran di sekolah menengah atas maupun perguruan tinggi terhadap peserta didik. 3) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini membahas tentang representasi

aspek pengungkapan humanisme yang relevan dalam pembelajaran sastra. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian lebih lanjut dengan kajian dalam sudut pandang berbeda yang lebih baik, luas, dan lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Baron, r.a & Byrne, d. (2003). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS.

Fananie, Zainudin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah Universitas Press.

Faruk. 2013. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hanafi, Hasan, dkk. 2007. Islam dan Humanisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Husaini, Ardian. 2015. Liberalisasi Islam di Indonesia. Bandung: Gema Insani

Press.

Haryatmoko. 2010. Dominasi Penuh Muslihat (Akar Kekerasan dan Diskriminasi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ilma, Awla Akbar. 2019. Metode Penelitian Sastra Lokal: Sebuah Rumusan Awal. Jurnal Sasindo Unpam, (Online), 7 (2). 24-36,

http://openjournal.unpam.ac.id/index.php/Sasindo/article/view/3690/2850, diakses 10 April 2020.

Jabrohim. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.

Kuntowidjojo. 2013. Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra. Yogyakarta: Multipresindo.

Latifah, Zuhra, dkk. 2021. Krisis Humanisme Dalam Novel “Al-Dhill Al-Aswad” Karya Najib Kailani (Kajian Humanisme Abraham Maslow. An-Nahdah Al-’Arabiyah, (Online), 1 (1). 8-101,

https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/nahdah/article/view/724/477, diakses 10 Februari 2021.

Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening Publishing.

(35)

26

Martono, M. 2012. Sosiologi Pendidikan MichelFouchault. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.

Maslow, Abraham. 2019. A Theory Of Human Motivation. New Delhi: GENERAL PRESS.

Minderop, Albertine. 2011. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori Dan Contoh Kasus. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Minderop, Albertine. 2016. Psikologi Sastra Karya Sastra, Metode, Teori Dan Contoh Kasus. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Mulyana. 2016. Humanisme dan Tantangan Kehidupan Beragama. Religious, (Online), 1 (1). 41—51,

https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Humanisme +Dan+Tantangan+Kehidupan+Beragama=, diakses 20 Desember 2020. Muslihah, Siti, dkk. 2018. Sisi Humanisme Tere Liye Dalam Novel “Rembulan

Tenggelam Di Wajahmu”. Parole, (Online), 1 (5). 681-690,

https://journal.ikipsiliwangi.ac.id/index.php/parole/article/view/969/pdf, diakses 10 Februari 2020.

Nurgiyantoro, B. 2010. Teori pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Cetakan 1X.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nurhuda, Alif, dkk. 2017. Kajian Sosiologi Sastra dan Pendidikan Karakter dalam Novel Simple Miracles Karya Ayu Utami. DIDAKTIKA, (Online), 18 (1). 103-117,

https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/didaktika/article/view/3090/2203, diakses 20 Desember 2020.

Ratna, N.K. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosida, Sisi. 2019. Analisis Cerpen Maryam Karya Afrion Dengan Pendekatan Ekspresif. Bahastra, (Online), 3 (2). 133-146,

https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/Bahastra/article/view/1152/916, diakses 10 Februari 2020.

Sambas, S. (n.d.). 2016. Antropologi Komunikasi. Bandung: Pustaka Setia Semi, Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Siswanto, Dr. Wahyudi. 2011.. Pengantar Teori Sastra Jakarta: Grasindo. Syari’ati, Ali. 1996. Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat. Bandung:

Pustaka Hidayah.

Taufik, Moh. 2013. Analisis Nilai-nilai Humanis dalam Cerpen Majalah Horison dengan Pendekatan Psikologi Sastra. METASASTRA, (Online), 6 (1). 34-44,

http://researchgate.net/publication/318881565_analisis_nilai_nilai_humani s_dalam_cerpen_majalah_horison_dengan_pendekatan_psikologi_sastra, diakses 20 Desember 2020.

(36)

27 LAMPIRAN

Tabel 1:

Instrumen Pengumpulan Data

Humanisme dalam Novel Orang-Orang Biasa Karya Andrea Hirata

No Rumusan

Masalah

Aspek Indikator Deskripsi Interpretasi

1 Bagaimana aspek-aspek humanisme dalam Novel Orang-Orang Biasa Karya Andrea Hirata? Fisiologis - Tokoh membutuhkan makanan - Tokoh membutuhkan tempat tinggal - Tokoh membutuhkan pakaian - Tokoh membutuhkan istirahat Rasa Aman - Tokoh

membutuhkan keamanan - Tokoh membutuhkan keteraturan - Tokoh membutuhkan stabilitas

(37)

28 Sosial - Tokoh membutuhkan relasi - Tokoh membutuhkan interaksi - Tokoh membutuhkan keluarga Penghargaan - Tokoh membutuhkan pencapaian - Tokoh membutuhkan status - Tokoh membutuhkan reputasi Aktualisasi Diri - Tokoh membutuhkan pengembangan diri - Tokoh membutuhkan pemenuhan ideologi

(38)

29 2 Bagaimana faktor yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme dalam Novel Orang-Orang Biasa Karya Andrea Hirata? Faktor Internal - Tokoh berkelakuaan mendahulukan kepentingan orang lain - Tokoh berkelakuan menolong - Tokoh memiliki jiwa berani Faktor Eksternal - Kondisi masyarakat - Kondisi tempat tinggal 3 Bagaimana implikasi pembahasan kajian humanisme dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata pada pembelajaran sastra di SMA?

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Rambah Tengah Hulu pada Kawasan Objek Wisata Air Panas Sauman didapatkan 3 famili 7 sub famili 8 genus 10

Bagi yang belum terbiasa puasa sunnah, agar dibulan suci tubuh tidak kaget karena langsung berpuasa selama 30 hari berturut-turut.. Maka lakukanlah pemanasan dari sekarang,

(Bobot RENDAH karena merupakan wujud kebijakan yang menjadi dasar penggunaan aplikasi pelaksanaan SPBE) Aplikasi KATEGORI : 5 poin 3 poin 0 poin Sistem informasi AKTIF. (Ada

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, responden terakhir kali menggunakan internet untuk pencarian informasi kesehatan paling banyak dilakukan dalam

Aplikasi Food Delivery Depok on Call juga tidak memiliki beberapa fitur yang ada pada aplikasi Pick The Food seperti fitur Order History yang memungkinkan user

Salah satu bentuk ekonomi kreatif adalah berupa produksi konten audio visual melalui platform Youtube melalui pembuatan konten video blog (vlog).. Bukan menjadi suatu hal yang tabu

Skripsi yang berjudul ”Perilaku Api dan Dampak Pembakaran terhadap Fauna Tanah pada Areal Penyiapan Lahan di Hutan Sekunder Haurbentes, Jasinga Jawa barat” yang ditulis oleh penulis

Berdasarkan hasil dari penelitian yang penulis lakukan mengenai Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Pemenang Lomba Masak Serba Ikan yang telah dirancang, penulis