• Tidak ada hasil yang ditemukan

Puji Ariani MODEL PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN GURU PRAJABATAN. Puji Ariani Universitas Muhammadiyah Aceh, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Puji Ariani MODEL PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN GURU PRAJABATAN. Puji Ariani Universitas Muhammadiyah Aceh, Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN GURU PRAJABATAN Puji Ariani

Universitas Muhammadiyah Aceh, Indonesia [email protected]

Abstrak: Tuntutan terhadap institusi pendidikan guru untuk menghasilkan guru yang berkualitas dan berkompetensi adalah prasyarat bagi terwujudnya sistem pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas program pendidikan guru, penilaian yang berkelanjutan harus selalu dilakukan. Model penilaian Konteks Input Proses Produk (KIPP) yang dikemukakan oleh Stufflebeam dapat digunakan untuk menilai keefektifan program pendidikan guru prajabatan. Penilaian dilakukan bukan hanya terhadap output program, tetapi juga penilaian kepada input dan proses. Kelengkapan hasil penilaian melalui model ini mampu memberikan dasar yang lebih baik untuk mengambil keputusan dalam memilih alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas program.

Kata kunci: Penilaian, Pendidikan guru prajabatan, Model KIPP A. Pendahuluan

Kualitas pendidikan umumnya diartikan sebagai gambaran keberhasilan pendidikan dalam mengubah tingkah laku peserta didik yang dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional. Peningkatan kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kualitas input pendidikan, kualitas sumber daya pendidikan, kualitas guru dan pelaksana pendidikan, kualitas proses pembelajaran, sistem ujian dan pengawasan, dan lain-lain. Tanpa mengabaikan pengaruh faktor-faktor yang lain, kualitas guru didapati menjadi faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Tingginya tingkat kualitas guru akanmendorong tercapainya kualitas pendidikan yang baik (Muhammad N.H., 2006).

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai penyelenggara pendidikan guru prajabatan dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasionalmempunyai peran yang sangat penting dalam memajukan kualitas pendidikan. Ini karena penyelenggaraan dan keberhasilan proses pendidikan pada semua tingkat pendidikan ditentukan oleh faktor guru.

Proses pembelajaran guru prajabatan merupakan tahap penerimaan pengetahuan dasar dan ketrampilan bagi calon guru sebelum menjadi guru di sekolah.Setelah menyelesaikan program ini, diharapkan calon guru mampu mengajar dengan baik di sekolah berdasarkan

(2)

pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya di LPTK.Namun, dalam realitasnya banyak guru baru yang berhadapan denganberbagai masalah dalam pengajarannya.Sudah tentu hal ini tidak terlepas dari tahap kecukupan dan kemahiran yang diterima oleh guru selama mengikuti program pendidikan prajabatan.

Terdapat beberapa kritikan yang disampaikan berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan guru prajabatan di Indonesia (Kodri Madang, 2007). Di antara kritikan-kritikan tersebut adalah: (i) masalah kurangnya kesesuaian di antara kurikulum program dengan kurikulum pendidikan sekolah menengah, jumlah mata kuliah yang harus diselesaikan terlalu banyak, terdapat beberapa mata kuliah yang isinya hampir sama dan berulang; (ii) Masalah suasana pembelajaran yang kurang memberikan dorongan bagi calon guru untuk belajar dengan nyaman, seperti masalah hubungan dengan staf pengajar, cara, kualitas pembimbing tugas akhir, dan program-program ilmiah yang kurang mengikutsertakan calon guru; (iii) Masalah keprofesionalan staf pengajar. Di beberapa lembaga pendidikan guru, banyak pengajar yang mengajar bukan bidangnya; (iv) Masalah metode pengajaran dan fasilitas pembelajaran yang belum mencukupi, dan masalah yang berkaitan dengan Program Pengalaman Lapangan di sekolah-sekolah, seperti kemampuan guru pamong yang belum memiliki kompetensi yang mencukupi dan calon guru kurang mendapat respon langsung setelah melaksanakan praktek mengajar.

Seterusnya dikatakan juga bahwa lembaga pendidikan guru tidak memberikan pengetahuan yang mendalam mengenai pendidikan kepada calon guru, baik dari segi filosofi maupun dari segi sosiologi pendidikan (Paulus Mujiran, 2006).Program pendidikan guru hanya menekankan pada penguasaan metode pengajaran dan kurang memberi penekanan pada penguasaan keilmuan calon guru (Antoro Billy, 2005).

Berkaitan dengan kemampuan calon guru, Arbah (Novendri, Herman. 2005) menyatakan bahwa pihak sekolah tempat praktek pengajaran dilaksanakan memberikan kritikan tentang kurangnya kemampuan calon guru dalam pengajaran di kelas.Calon guru pun merasakan kurangnya kemampuan mereka dalam pengajaran di kelas. Program Pengalaman Lapanganatau praktek mengajar hanya sekedar memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan program pendidikan guru (Azhar, 2009).Di samping itu, banyak sekolah-sekolah unggulan yang agak merasa keberatan digunakan sebagai tempat praktek mengajar. Ini karena

(3)

sekolah-sekolah tersebut merasa proses pembelajarannya terganggu dengan kedatangan calon guru yang akan praktek mengajar. Akibatnya, jika ada praktek mengajar di sekolah-sekolah tersebut, guru kelas hanya memberikan sedikit waktu saja untuk calon guru mengajar.

Berkaitan dengan peran pembimbing Program Pengalaman Lapangan, terdapat pembimbing yang kurang bersungguh-sungguh melakukan bimbingan terhadap calon guru, tidak banyak mendampingi calon guru dan hanya mempercayakan kepada guru pamong saja (Suparno Paul, 2005).

Kritikan terhadap kualitas calon guru ini memberikan satu isyarat mengenai pentingnya peningkatan efektivitas program pendidikan guru prajabatan. Ini karena kualitas guru mulai dibangun sejak mereka dididik dalam program pendidikan guru prajabatan (Hamalik Oemar, 2008).

Oleh karena itu, untuk menghasilkan guru yang profesional, lembaga penyelenggara pendidikan guru mesti mempunyaivisi yang jelas dengan didasari prinsip “good governance” dan memiliki standar yang bisa menjamin keprofesionalan calon guru yang dididik.Keefektifan pelaksanaan program pendidikan guru harus menjadi satu agenda utama yang perlu diberi penekanan dalam bidang pendidikan (Hermana Soemantri. 1995).Kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas pengajaran guru. Sejauh manakah kualitas guru dalam mengajar sangat dipengaruhi oleh kualitas program pendidikan guru prajabatan yang diterima.

Bagi melihat sejauh manakah tahap efektivitas program yang telah dan sedang dilaksanakan, penilaian secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam seluruh aspek yang terkait dengan program pendidikan guru prajabatan,menjadi satu keperluan dalam sistem pendidikan guru.

B. Definisi dan Tujuan Penilaian Program

Penilaian adalah proses mengidentifikasi, memperoleh dan menyediakan informasi yang bermanfaat untuk membuat pertimbangan nilai, kebenaran, kelayakan, keamanan dan kepentingan sesuatu program (Stufflebeam, D.L., Shinkfield, Anthony J. 2007). Penilaian juga bermaksud sebagai suatu penelitian yang sistematis berkaitan dengan nilai, kepentingan atau kesignifikanan sesuatu program sesuai dengan dimensi-dimensi yang telah didefinisikan sebelumnya (Yarbrough D.B, Shulha L.M, Hopson R.K & Caruthers F.A. 2011).Terdapat

(4)

tujuh tahapan dalam melakukan penilaian (Brinkerhoff, R.O. 1986), yaitu: (i)penentuan fokus yang akan dinilai (focusing the evaluation), (ii)penyusunan bentuk penilaian (designing the evaluation), (iii)pengumpulan informasi (collecting information), (iv)analisis dan interpretasi informasi, (v)pembuatan laporan (reporting information), (vi)pengurusan penilaian (managing evaluation), dan (vii)penilaian untuk penilaian (evaluating evaluation).

Stufflebeam (2003) menyatakan bahwa penilaian seharusnya menjadi “Pengetahuan pengumpulan informasi untuk mengambil keputusan”.Tugas para penilai adalah mengumpulkan data, merencanakan, menganalisa dan menyediakan data untuk memilih tindakan alternatif dan melaporkan hasil penilaian.

Tujuan penilaian adalah untuk memastikan efektivitas , yaitu kekuatan dan kelemahan suatu program dan juga untuk menentukan faktor-faktor yang berkaitan dengan keberhasilan program (Ahmad Shabudin Yahaya, Azizi Muda & Kartini Abdul Mutalib. 2010). Dengan perkataan lain, penilaian bertujuan untuk mengukur efektivitas program dalam mencapai tujuan yang yang telah ditetapkan.Penilaian dibuat secara sempurna untuk memberikan masukan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan program dan pembaikan program pada masa yang akan datang. Penilaian ini digunakan bagi memberikan informasi yang bermanfaat kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam program (Jabeen Fatima. 2010).Informasi tersebut boleh berkaitan dengan proses pelaksanaan program, hasil yang dicapai, dan efektivitas program.

Salah satu aspek yang paling sulit dalam penilaian program adalah menentukan model penilaian yang paling sesuai digunakan.Hal ini disetujui oleh Jamil (2002), Norasmah (2002) dan Patton (1990).Tidak ada satu pun model penilaian yang paling lengkap dan mutlak dalam sesuatu penilaian (Patton 1990).Penggunaan model dalam penilaian sesuatu program bergantung kepada tujuan penilaian tersebut.Informasi atau data yang diperlukan adalah berbeda-beda sesuai dengan ekspektasi dan standar yang digunakan.Sebelum memilih model penilaian yang paling sesuai, setiap penilai perlu melihat kepada tujuan penilaian, metodologi, penelitian yang sudah pernah dibuat, kekuatan dan kelemahan model (Norasmah 2002).Data yang komprehensif dan tepat adalah sangat diperlukan dalam menilai suatu program latihan (Tomlison 2004).

(5)

C. Model Penilaian Konteks-Input-Proses-Produk (KIPP)

Model penilaian KIPP merupakan model penilaian yang memberi penekanan penilaian terhadap aspek konteks, input, proses dan output.Model ini dipelopori oleh Daniel L. Stufflebeam pada tahun 1960-an dan direvisi pada tahun 2003 (Stufflebeam, D.L. 2003). Model ini adalah hasil dari pengalamannya dalam projek penilaian pendidikan di Ohio Public Schools District.Fokus penilaian model KIPP adalah penilaian berorientasikan pembaikan (improvement oriented evaluation), yang bertujuan untuk membuat keputusan terhadap suatu program pendidikan.

Tujuan utama penilaian ini adalah untuk menghubungkan tujuan, konteks, input dan proses, dengan hasil program. Model penilaian ini juga untuk menentukan kesesuaian lingkungan dalam membantu mencapai tujuan dan obyektif program.Penilaian dilakukan untuk memperbaiki sesuatu program dan dijalankan pada waktu program sedang berjalan.Model penilaian ini lebih menekankan kepada efektivitas program dan pengawasan kualitas program.

Penilaian konteks (context evaluation) memberi penekanan kepada lingkungan yang dihadapi.Penilaian ini merangkumi isu-isu, masalah-masalah dan keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam menjalankan program.Tujuan penilaian konteks ialah untuk mengukur dan mengesahkan perjalanan sesuatu program.Melalui penilaian ini penilai dapat mengukur kekuatan dan kelemahan dalam beberapa aspek yang berkaitan dengan sesuatu program. Biasanya penilaian konteks ini akan menyediakan garis panduan untuk perubahan.

Penilaian input (input evaluation) memberikan penekanan kepada penggunaan input dalam program secara efektif dan memberikan hasil yang maksimum. Dalam pengajaran dan pembelajaran, guru merupakan satu contoh dimensi input. Guru mempunyai keahlian, sifat dan ciri-ciri tertentu dan tersendiri. Keahlian ini jika digunakan pada tahap yang maksimum akan dapat memperoleh hasil yang maksimum.

Penilaian proses (process evaluation) memberikan penekanan bagaimana menguruskan sesebuah program. Pada peringkat ini, penilai memainkan peranan untuk mengendalikan atau melihat dengan teliti setiap proses yang telah direncanakan. Penilaian proses ini bertindak memonitoring sesuatu program yang sedang berjalan.

(6)

Penilaian produk (product evaluation) bertujuan mengaitkan tujuan, konteks, input dan proses dengan hasil program. Tahap keberhasilan sesuatu program dapat diukur melalui perubahan yang terjadi.

Menurut Stufflebeam, setiap penilaian yang dilaksanakanterdiri dari tiga aktivitas, yaitu: (i) mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang diperlukan; (ii) mengorganisasikan dan menganalisa informasi yang terkumpul dengan menggunakan metode pengukuran dan statistic; dan (iii) melaporkan informasi yang telah dianalisa kepada pihak yang berkepentingan untuk membuat suatu keputusan tentang program.

D. Model KIPP Dalam Penilaian Program Pendidikan Guru Prajabatan

Model KIPP membantu dalam memahami proses pelaksanaan program dan menyediakan informasi penting bagi pembaikan sesuatu program (Smith, J.L. 2009).Penilaiannya adalah komprehensif karena mencakup seluruh dimensi dalam program. Berdasarkan dimensi-dimensi yang diteliti dan definisi penilaian yang menjadi dasar kepada model KIPP, yaitu bahwa penilaian adalah penting dalam mendorong dan merencanakan suatu perubahan, serta penilaian adalah komponen pelengkap bagi program-program dalam suatu lembaga, maka model ini sangat sesuai digunakan bagi menilai program pendidikan guru prajabatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang ada di Indonesia.

Selain itu, model penilaian KIPP bertujuan untuk menilai suatu program yang telah dilaksanakan dalam satu jangka waktu yang panjang.Oleh karena program pendidikan guru prajabatan merupakan program yang telah dilaksanakan dalam periode waktu yang panjang dan masih diteruskan sampai sekarang, maka penulis berpendapat bahwa KIPP sangat sesuai untuk digunakan bagi tujuan penilaian.

Stufflebeam menyatakan bahwa penilaian boleh diaksanakan dengan menggunakan keempat-empat komponen penilaian yaitu konteks, input, proses dan produk.Namun demikian, Stufflebeam dan Shinkfieldmenjelaskan lagi bahwa penilaian boleh dibuat dengan menggunakan keempat-empat komponen atau mana-mana komponen tersebut secara berurutan(Stufflebeam, D.L., & Shinkfield, Anthony J. 1985). Dalam penilaian program guru prajabatan ini, penulis hanya menggunakan tiga komponen saja, yaitu input, proses dan output program. Komponen konteks tidak digunakan dalam model ini, karena elemen-elemen dalam komponen konteks, seperti visi, misi dan objektif Lembaga Pendidikan Tenaga

(7)

Kependidikan telah ditentukan oleh pihak lembaga yang bersangkutan dan diluar kuasa peringkat pelaksana program.

Dalam model ini, penilaian input terdiri dari: (i) tahap kecukupan aspek pengetahuan dan keterampilan dasar yang terdapat dalam matakuliah yang ada dalam program; (ii)fasilitas-fasilitas yang mendukung pembelajaran dalam program, dan (iii)kualitas pengajar dan pembimbing.Penilaian proses terdiri dari: (i)Pengajaran dan pembelajaran dalam program; (ii)Program Pengalaman Lapangan; dan (iii)Peran Pembimbing dan Guru Pamong. Penilaian output (produk) terdiri dari: (i)kompetensi calon guru; dan (ii)sikap positif calon guru terhadap profesi guru.

Berdasarkan model penilaian KIPP, satu model penilaian program pendidikan guru prajabatan dirangka bagi memberi arah yang sistematik untuk melaksanakan penilaian program.Diagram di bawah ini menunjukkan komponen-komponen penilaian dan alur pelaksanaan model penilaian tersebut.

Pembaikan Berkelanjutan

Pembuat Keputusan

Program Pendidikan Guru Prajabatan

INPUT PROSES PRODUK

a. Aspek pengetahuan dan a. Pengajaran dan Pembelajaran a. Kompetensi calon guru keterampilan b. Program Pengalaman Lapangan b. Sikap positif calon guru

b. Fasilitas Pembelajaran c. Peran Dosen Pembimbing dan

c. Kualitas Dosen dan Guru Pamong

(8)

Kekuatan dan Kelemahan Program

Rajah 1. Diagram Model Penilaian Program Pendidikan Guru Prajabatan Adaptasi dari Model Penilaian KIPP Stufflebeam et al. (2003)

E. Penyelidikan KIPP dalam Pendidikan

Model penilaian KIPP banyak digunakan dalam penilaian program pendidikan. Morrison (2005) menggunakan model penilaian KIPP dalam penilaian program pendidikan calon Kepala Sekolah (principal preparation programme). Hasil penelitian membuktikan bahwa model KIPP boleh digunakan untuk membuat keputusan-keputusan berhubungan dengan pelaksanaan program dan menilai fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam program.

Downes (2007) menyusun satu sistem penilaian bagi program pengembangan pengajaran profesional di sekolah dan mendapati model KIPP adalah model yang paling sesuai digunakan untuk tujuan penilaian ini. Jordan (2007) juga menggunakan model ini untuk menilai keefektifan program pengembangan kepemimpinan (leadership development programme). Anthony (2009) menggunakan KIPP bagi menilai program induksi guru dan mentor di North Carolina. Penyelidik menyatakan bahwa model KIPP bisa digunakan oleh pelaksana program untuk menilai adakah keputusan yang baik telah dibuat.Smith (2009) melakukan penelitian di lembaga “Smaller Learning Community Model” dengan menggunakan KIPP sebagai model penilaian. Hasil kajian menyatakan bahwa model KIPP membantu dalam memahami proses pelaksanaan program dan menyediakan informasi penting seperti pengaruh program terhadap prestasi akademik murid, kekerapan kehadiran, kedisiplinan dan metode pengajaran guru.

Boone (2010) menggunakan model penilaian KIPP untuk menganalisa pelaksanaan dan keefektifan redesign-initiative programme di sekolah di utara Missisippi. Kuo-Hung, et al (2010) menggunakan model KIPP untuk menilai kurikulum pendidikan calon guru tehnik.Berdasarkan hasil penelitian, terbukti bahwa penilaian KIPP boleh

(9)

digunakan sebagai satu pedoman untuk menyusun kembali kurikulum yang sesuai dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran dalam program.

Doni (2012) melakukan penilaian program praktikum industri di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Palembayan, Padang, Indonesia.Model KIPP digunakan untuk menilai keefektifan program dilihat dari segi konteks, input, proses dan output program.Nyoman (2012) menggunakan KIPP untuk menilai keefektifan pelaksanaan Pendidikan Kesetaraan Program Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Bali.Nyayu (2012) menggunakan model KIPP untuk menilai program peningkatan kualifikasi guru madrasah di Sumatera Selatan.Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah program yang dijalankan telah memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Di Indonesia penilaian program pendidikan guru prajabatan yang memberi penekanan pada semua aspek program yang terkait dengan pelaksanaan program, masih sangat kurang.Penilaian yang ada hanya memberi penekanan pada satu atau beberapa aspek saja dalam program.

F. Penutup

Program pendidikan guru prajabatan diharapkan mampu melahirkan calon guru yang berkompetensi dalam segala aspek yang diperlukan dalam pengajaran dan pembelajaran. Ini karena guru merupakan sosok yang membentuk anak didik untuk memiliki cara berfikir yang analitik, kritis dan kreatif bagi menghadapi perubahan-perubahan yang berlaku di masyarakat. Kemampuan calon guru menjalankan tugas dan tanggung jawab adalah banyak dipengaruhi oleh penguasaan guru dalam pengetahuan dan keterampilan pengajaran, yang dipelajarinya dalam program pendidikan guru prajabatan.

Peran Lembaga Pendidikan yang bertanggung jawab dalam mendidik calon guru adalah sangat menentukan dalam melahirkan guru-guru yang berkompeten.Oleh karena itu, penilaian secara berkelanjutan terhadap pelaksanaan program pendidikan guru prajabatan sangat diperlukan bagi menjamin tercapainya tujuan program.

Model penilaian program pendidikan guru prajabatan yang diadaptasi dari model KIPP dapat digunakan sebagai salah satu model penilaian.Model ini menekankan penilaian terhadap keseluruhan aspek dalam program ,yang meliputi input program, proses dan output program. Diharapkan model penilaian ini dapat digunakan untuk melakukan penilaian

(10)

terhadap pelaksanaan program pendidikan guru prajabatan sehingga dapat diketahui kekuatan dan kelemahan yang ada dalam program.Selanjutnyadilakukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan program bagi meningkatkan lagi kualitas calon guru yang dihasilkan dalam program.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Shabudin Yahaya, Azizi Muda & Kartini Abdul Mutalib. 2010. An Evaluation of Secondary School’s Solid Waste Recycling Programme in three Municipal Councils of Selangor. Jurnal Penyelidikan Dedikasi IPG Kampus Ipoh 2,12-25.

Anthony, J.B. 2009. Teacher retention: Program Evaluation of a beginning teacher and mentor program. Doctoral Dissertation.Retrieved from ProQuest Dissertation & Theses (PQDT) database. (305128403)

Antoro, Billy. Meninjau Ulang Kurikulum LPTK. Majalah Transformasi, edisi 37 Februari 2005. Jakarta: Lembaga Pers UNJ.

Azhar. 2009. Kondisi LPTK sebagai Pencetak Guru yang Profesional. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED Vol. 6 No.1 Juni 2009.

Boone, A. 2010. A formative evaluation of components of Mississipi’s 21 st century redesign initiative for grades 7,8 and 9. Doctoral Dissertation. Retrieved from ProQuest Dissertation & Theses (PQDT) database. (305128403)

Brinkerhoff, R.O. 1986. Expanding need analysis.Training and Development Journal, 40, pp. 64-65.

Doni Gustion. 2012. Evaluasi Program Praktik Kerja Industri di SMK Negeri I Palembayan. Penelitian Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.

Downes, D.M. 2007.Designing evaluation tools for the differentiated instruction staff development initiative.Doctoral Dissertation.Retrieved from ProQuest Dissertation & Theses (PQDT) database. (304860594)

(11)

Hamalik, Oemar. 2008. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.

Hermana Soemantri. 1995, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan sebagai paradigma baru pendidikan guru di Indonesia, Jurnal Pendidikan Indonesia no.3 Jabeen Fatima. 2010. A Study on Evaluation of Post-Graduate Programmes of Teacher Education in Pakistan. Tesis Doktor Falsafah. University Institute of Education and Research Pir Mehr Ali Shah Arid Agriculture University, Rawalpindi, Pakistan.

Jamil Ahmad. 2002. Pemupukan budaya penyelidikan di kalangan guru di sekolah: Satu penilaian. Tesis Doktor Falsafah, Jabatan Asas Pendidikan. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Jordan, M.A. 2007. Third-year evaluation of the University of North Texas/Dallas Independent School District/Southern Regional Education Board Leadership Development Program.Doctoral Dissertation.Retrieved from ProQuest Dissertation & Theses (PQDT) database. (304828609)

Kodri Madang. 2007. Masalah-masalah yang dialami calon guru dalam pembelajaran di LPTK dan ketika melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL),FKIP Universitas Sriwijaya,

http://yantig-unesa.blogspot.com/2007/09/masalah- masalah-yang- dialami-calon-guru-html

Kuo-Hung Tseng, C.Ray Diez, Shi-Jer Lou, Hua-Lin Tsai, Tien-Sheng Tsai. 2010. Using the Contex, Input, Proses and Product Model to Asses An Engineering Curriculum. World Transactions on Engineering and Technology Education, Vol 8, No 3.

Morrison. (2005). Trial by fire.Educational Leadership. May 2005.

Muhammad N.H. 2006. Quality Education Needs Quality Teacher: Our Education Our Thoughts. Campaign for Popular Education Bangladesh.

Norasmah Othman. 2002. Keberkesanan program keusahawanan remaja di Sekolah Menengah. Tesis Doktor Falsafah. Universiti Putra Malaysia.

(12)

Novendri, Herman. 2005. UNJ Menyiapkan Guru, Sudah Serius? Majalah Transformasi, edisi 37 Februari 2005. Jakarta: Lembaga Pers UNJ.

Nyayu Khodijah. 2012. Evaluasi Program Peningkatan Kualifikasi Guru Madrasah di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.Tahun 16, No 1. Nyoman Mursa Winata. 2012. Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan

Program Paket C (setara SMA) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Widya Sentana” Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung th pelajaran 2011/2012. Tesis Program Studi Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha.

Patton, M.Q. 1990. Qualitative evaluation and research method.Ed. ke-2. Edt.Newburny Park, C.A : SAGE

Paulus Mujiran. 2006. Atasi stagnan pemikiran pendidikan. Media Indonesia2 Nov 2006.

Smith, J.L. 2009.A case study of the implementation and outcomes of a smaller learning community.Doctoral Dissertation.Retrieved from ProQuest Dissertation & Theses (PQDT) database. (305158924)

Suparno, Paul. Calon Guru Tidak Profesional?

http://www.depdiknas.go.id/sikap/isue/sentral./F31.18-02-2005

Stufflebeam, D.L. 2003.The CIPP model for evaluation.In T.Kellaghan & D.l Stufflebeam (Eds).The International Handbook of educational evaluation (chapter 3). Boston: Kluwer

Stufflebeam, D.L., & Shinkfield, Anthony J. 1985.Systematic Evaluation: A Self-Instructional Guide to Theory and Practice. Kluwer-Nijhoff (Boston).

Stufflebeam, D.L., & Shinkfield, Anthony J. 2007. CIPP Model for Evaluation: An improvement accountability approach. In D.Stufflebeam (Ed.), Evaluation theory, models and applications (pp 325-365).San Fransisco, Jossey-Bass.

Tomlinson,H. 2004. Educational Leadership-personal growth for professional development. London: Saga Publications.

(13)

Yarbrough D.B, Shulha L.M, Hopson R.K & Caruthers F.A. 2011.The program evaluation standards: A guide for evaluators and evaluations user (3rded). Thousand Oaks, CA:Sage

Referensi

Dokumen terkait

ANALISIS MANAJEMEN WAKTU ORGANISASI DAN KULIAH AKTIVIS MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis manajemen waktu aktivis mahasiswa program studi pendidikan matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta..

Dalam kajian ini, terdapat tujuh dimensi penilaian yang perlu dijawab oleh pelajar dalam menilai reaksi pelajar terhadap program Pendidikan Luar dan penilaian pembelajaran sebelum

Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Strata Satu Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas

Pendidikan menjadi salah satu investasi jangka panjang suatu bangsa. Oleh sebab itu, langkah strategis dalam mempertahankan suatu bahasa daerah dapat dilakukan

Prioritas waktu dalam rencana aktivis mahasiswa lebih mengarah pada akademis, sehingga aktivis mahasiswa program studi pendidikan matematika Universitas Muhammadiyah

Prioritas waktu dalam rencana aktivis mahasiswa lebih mengarah pada akademis, sehingga aktivis mahasiswa program studi pendidikan matematika Universitas Muhammadiyah

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :