• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menyajikan hasil olahan data primer dan analisa data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Namun demikian sebelumnya, penulis akan menyajikan gambaran umum mengenai Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur sebagai objek dari penelitian ini.

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Taman Nasional Komodo merupakan cagar alam yang berada di ujung barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di antara Pulau Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) dan Pulau Flores (Nusa Tenggara Timur). Secara administratif, kawasan ini terletak di dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut website resmi Taman Nasional Komodo, kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977, sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO padat ahun 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada tahun 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut di tahun 2000, dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas sebesar 173.300 hektar yang meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni pulau Komodo, pulau Padar, pulau Rinca, pulau Gili Motang, dan pulau Nusa Kode serta beberapa pulau kecil lainnya. Ketiga pulau pertama adalah yang paling terkenal di kalangan para wisatawan. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman Nasional untuk melindungi habitat Komodo yang tergolong sebagai binatang langka yang terancam punah. Selain itu, Taman Nasional Komodo dibangun untuk melindungi keanekaragaman hayati di wilayah Labuan Bajo.

Taman laut di Taman Nasional Komodo dibentuk untuk melindungi biota laut dengan beragam yang terdapat di sekitar kepulauan tersebut, karena kekayaannya itu termasuk yang terkaya di bumi.

Terletak di kawasan Wallacea Indonesia yang merupakan pertemuan dua

benua yang membentuk deretan unik kepulauan gunung berapi, dan terdiri atas

campuran burung serta hewan dari dua benua yaitu Australia dan Asia, Taman

(2)

Nasional Komodo memiliki 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari benua Asia dan Australia, terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya terdapat 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi karena jumlah yang terbatas atau lokasi penyebarannya yang terbatas. Selain itu, di kawasan Taman Nasional Komodo terdapat pula terumbu karang dimana setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu yang ditemukan di sana, bersamaan dengan 1.000 spesies ikan. Berbagai perpaduan vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini.

4.2 Profil Responden 4.2.1 Partisipasi Responden

Sebagaimana dijelaskan pada bab tiga, pada mulanya penulis merencanakan untuk melakukan survey melalui penyebaran kuesioner langsung di objek penelitian yaitu Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Akan tetapi karena terhalang oleh kendala biaya, maka prosedur pengumpulan data responden dialihkan menjadi pengumpulan data secara online, dimana kuesioner dipersiapkan untuk diisi secara online menggunakan fasilitas google forms.

Penulis juga menyebarkan seratus delapan puluh kuesioner terhitung sejak tanggal

22 April 2017 kepada para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun

mancanegara melalui internet. Penulis meninggalkan komentar permohonan

pengisian kuesioner dengan cara mengirimkan surat elektronik atau e-mail kepada

para travel blogger yang telah mengunjungi Taman Nasional Komodo. Selain itu,

penulis juga melakukan pendekatan aktif pada pengguna media sosial yang

mengunggah foto-foto perjalanannya saat berwisata ke Labuan Bajo

menggunakan aplikasi Instagram melalui fitur pesan pribadi atau direct message,

yang berisi permohonan untuk berpartisipasi dalam survey. Tidak hanya

menggunakan aplikasi Instagram, namun penulis juga menggunakan aplikasi

LINE untuk menyebarkan kuesioner melalui fitur group chat serta line account

pribadi dari teman-teman dan kerabat penulis. Sesuai dengan kriteria sampel yang

(3)

adalah telah mengunjungi Taman Nasional Komodo dalam kurun waktu setahun terakhir.

Berikut rincian undangan partisipasi yang dikirim dengan total jumlah 180 kuesioner yang mulai disebarkan penulis: 83 kuesioner melalui aplikasi Instagram dengan menggunakan fitur direct message sejak 22 April 2017, 17 kuesioner melalui aplikasi LINE dengan menggunakan fitur group chat dan personal chat sejak 22 April 2017, 31 kuesioner manual yang berpartisipasi pada pre-test penulis yang disebarkan pada tanggal 12 April 2017, 35 kuesioner melalui website TripAdvisor melalui fitur message, 14 kuesioner sisanya disebarkan dengan meninggalkan comment di post yang bersangkutan dan atau mengirim email untuk travel blogger jika tidak disediakan kolom untuk comment sejak tanggal 27 April 2017. Jadi, dari semuanya itu, penulis mendapatkan jumlah total 103 responden.

Dengan demikian, response rate diperoleh adalah sebesar 57.22%. Setelah dilakukan pengecekan data dari 103 kuesioner yang terkumpul dan dilakukan uji Normalitas, ternyata ditemukan ada 2 kuesioner yang overlap dan memengaruhi hasil penelitian, sehingga penulis memutuskan untuk tidak menggunakan 2 kuesioner tersebut. Maka dari itu, jumlah total kuesioner yang siap diolah adalah sebesar 101 kuisioner.

4.2.2 Profil Demografis Responden

Tabel 4.1 Profil Demografis

Jenis Wisatawan Jumlah Tingkat Partisipasi

Wisawatan Domestik 75 74.3%

Wisawatan Mancanegara 26 25.7%

Total 101 100%

Berdasarkan tabel 4.1, dapat dilihat bahwa jumlah responden wisatawan

lokal berjumlah 75 orang dengan tingkat persentase 74.3%, dan wisatawan

mancanegara berjumlah 26 orang dengan tingkat persentase 25.7%. Jumlah

wisatawan mancanegara lebih rendah dibanding wisatawan lokal dikarenakan

kurang aktifnya respon balik pada kuesioner yang telah disebarkan oleh penulis.

(4)

Berdasarkan hasil dari tabel 4.2 di atas, diketahui bahwa pengunjung yang datang mengunjungi Taman Nasional Komodo paling banyak mengunjungi ketiga pulau tersebut dengan jumlah 35 orang dengan persentase sejumlah 34.8%.

Tabel 4.3 Profil Responden Berdasarkan Siapa yang Mengaturkan Rencana Perjalanan Wisata

Pengatur rencana perjalanan Domestik Mancanegara

Jumlah Persentase Jumlah Persentase Perusahaan tempat bekerja / organisasi sosial

tempat terlibat 3 3% 1 1%

Anggota keluarga 30 29.7% - -

Agen perjalanan wisata (Travel Agent) 21 20.8% 7 6.9%

Mencari informasi sendiri secara online di

internet 21 20.8% 18 17.8%

Total 75 74.3% 26 25.7%

Berdasarkan tabel 4.3, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden yang berwisata ke Labuan Bajo mengatur rencana perjalanannya sendiri sedangkan sebagian besar yang lain dibantu oleh anggota keluarga. Namun demikian, ada juga yang mendapatkan bantuan dari travel agent, dan atau mendapatkan bantuan dari perusahaan tempat bekerja untuk menyusun rencana perjalanan, walau dengan jumlah persentase yang cukup sedikit.

Tabel 4.2. Profil Responden Berdasarkan Pulau di Labuan Bajo yang Pernah Dikunjungi

Nama Pulau Jumlah Tingkat Partisipasi

Pulau Padar 8 7.9%

Pulau Komodo 17 16.8%

Pulau Rinca 8 7.9%

Pulau Padar dan Pulau Komodo 18 17.8%

Pulau Rinca dan Pulau Komodo 7 6.9%

Pulau Padar dan Pulau Rinca 8 7.9%

Pulau Padar, Pulau Komodo dan Pulau Rinca 35 34.8%

Total 101 100%

(5)

Tabel 4.4 Profil Responden Berdasarkan Budget Perjalanan Wisatanya

Travel Budget Domestik Mancanegara

Jumlah Persentase Jumlah Persentase Di bawah Rp 5.000.000,00

(±U$D 377) 52 51.5% 7 6.9%

Sekitar Rp 10.000.000.00 – Rp 25.000.000,00

(± U$D 753 - U$D 1,882)

23 22.8% 17 16.8%

Sekitar Rp 30.000.000,00 – Rp 45.000.000,00

(± U$D 2,260 - U$D 3,388)

- - 2 2%

Di atas Rp 50.000.000,00 (±U$D

3,765) - - - -

Total 75 74.3% 26 25.7%

Berdasarkan tabel 4.4, dapat dilihat bahwa mayoritas dari responden merupakan wisatawan yang menghabiskan budget perjalanan wisata dengan jumlah ≤ Rp 5.000.000,00. Sebagian besar responden lain menghabiskan budget sebesar Rp 10.000.000,00 hingga Rp 25.000.000,00, dan hanya sebagian kecil yang menghabiskan budget dengan kisaran Rp 30.000.000,00 hingga Rp 45.000.000,00. Dari 101 responden yang berhasil dikumpulkan oleh penulis, masih belum ditemukan satupun responden yang menghabiskan budget sebesar Rp 50.000.000,00 dalam wisata ke Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo.

Tabel 4.5 Profil Responden Berdasarkan Lamanya Masa Menginap

Masa menginap Domestik Mancanegara

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

3 hari – 1 minggu 72 71.3% 19 18.8%

1 – 2 minggu 2 2% 6 5.9%

15 hari – sebulan 1 1% 1 1%

Total 75 74.3% 26 25.7%

Berdasarkan tabel 4.5, dapat dilihat bahwa waktu menginap yang paling banyak dipilih oleh wisatawan selama berlibur ke Labuan Bajo adalah kurun waktu selama 3 hari hingga 1 minggu. Tampak dari hasil tabel di atas, bahwa hampir seluruh wisatawan domestik memutuskan untuk menginap dalam jangka waktu singkat. Untuk kurun waktu menginap selama 1 hingga 2 minggu, wisatawan mancanegara tampak lebih mendominasi dari wisatawan domestik.

Walaupun memiliki persentase yang sangat sedikit, namun tetap ada 1 wisatawan

domestik dan 1 wisatawan mancanegara yang memutuskan untuk menginap

selama 15 hari hingga 1 bulan.

(6)

Tabel 4.6 Profil Responden Berdasarkan Teman Berwisata

Teman Wisata Domestik Mancanegara

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Sendiri 1 1% 2 2%

Keluarga 38 37.6% 9 8.9%

Teman-teman 33 32.7% 15 14.8%

Tur terbuka (open trip) 3 3% - -

Total 75 74.3% 26 25.7%

Berdasarkan tabel 4.6, dapat dilihat bahwa responden wisatawan paling banyak melakukan perjalanan wisata ke Labuan Bajo bersama dengan teman- temannya, dan sebagian besar lain memilih untuk bepergian bersama keluarganya.

Ada juga wisatawan yang pergi dengan menggunakan tur terbuka (open trip) dan ada juga yang bepergian seorang diri walau dengan jumlah persentase yang paling sedikit.

4.3 Deskripsi Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata

Tanggapan responden terhadap indikator pengamatan faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor) dirangkum dalam tabel 4.7 berikut dan dikelompokkan berdasarkan range di bawah ini.

Tabel 4.7 Interval Jawaban Responden

Range Keterangan

1.00 – 1.85 Amat Sangat Tidak Setuju (ASTS) 1.86 – 2.71 Sangat Tidak Setuju (STS) 2.72 – 3.57 Tidak Setuju (TS) 3.58 – 4.43 Agak Setuju (AS) 4.44 – 5.29 Setuju (S) 5.30 – 6.15 Sangat Setuju (SS) 6.16 – 7.01 Amat Sangat Setuju (ASS)

4.3.1. Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Push Factor Tabel 4.8 Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Push Factor

No. Indikator Pengamatan Mean STD Ket.

Alasan saya mengunjungi Taman Nasional Komodo

PS1 Ingin menghabiskan waktu bersama keluarga 5.60 1.38 SS

PS2 Ingin keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari 6.17 1.09 ASS

PS3 Ingin menikmati pemandangan alam 6.66 0.65 ASS

PS4 Untuk mendapatkan pengalaman baru yang unik 6.54 0.79 ASS

PS5 Bertemu dan bersosialiasasi dengan orang baru 5.41 1.49 SS

PS6 Bertemu dan bersosialisasi dengan komunitas lokal 5.55 1.40 SS

PS7 Untuk rileks sejenak dan melepaskan diri dari stress 6.23 1.10 ASS

PS8 Untuk mencapai mencari kepuasan diri 5.73 1.46 SS

(7)

Tabel 4.8 Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Push Factor (Lanjutan)

PS9 Mencari petualangan baru 6.44 0.78 ASS

PS10 Memelajari sesuatu yang baru 6.09 1.01 SS

PS11 Memelajari budaya lokal setempat 5.52 1.29 SS

Mean Total

5.99 1.13 SS

Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa secara keseluruhan responden sangat setuju (lihat tabel 4.7 di halaman 47) dengan keterkaitan bulir-bulir faktor pendorong (push factor) yang disediakan sebagai alasan untuk berwisata ke Taman Nasional Komodo. Dipantau dari nilai tingkat kesetujuan (mean) dan nilai variasi responden (standar deviasi) pada tabel di atas, penulis menemukan 5 indikator dengan kategori ASS (Amat Sangat Setuju). Dengan berdasar kategori ASS tersebut, jika diurutkan berdasarkan tingkat kesetujuan responden (mean) dari yang tertinggi ke yang terendah, 5 indikator tersebut adalah: Ingin menikmati pemandangan alam, untuk mendapatkan pengalaman baru yang unik, untuk mencari petualangan baru, untuk rileks sejenak dan melepaskan diri dari stress, dan terakhir adalah ingin keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, dari hasil tabel di atas, mengindikasikan bahwa responden memang cenderung sangat setuju dengan alasan “ingin menikmati pemandangan alam” sebagai motivasi utama yang mendorong (push factor) wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo, dapat dikatakan demikian karena hasil variasi jawaban responden (standar deviasi) bila diukur dari skala likert yang berjumlah tujuh adalah tergolong rendah, dimana rendahnya nilai ini disebabkan oleh jawaban responden yang cenderung homogen.

4.3.2. Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Pull Factors Tabel 4.9 Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Pull Factor

No. Indikator Pengamatan Mean STD Ket.

Seberapa penting hal-hal di bawah ini memengaruhi keputusan saya mengunjungi Taman Nasional Komodo:

PL2 Festival dan events tahunan yang digelar di Labuan Bajo 4.58 1.51 S

PL3 Kesempatan mengunjungi lautnya 6.49 0.89 ASS

PL4 Jaminan keamanan lokasi wisata 5.83 1.11 S

PL5 Pemandangan alam yang menakjubkan di Labuan Bajo 6.51 1.01 ASS

PL6 Melihat fauna langka (Komodo) 6.35 1.07 ASS

PL7 Keanekaragaman biota bawah laut 6.14 1.06 SS

(8)

Berdasarkan tabel 4.9 yang dicantumkan di atas, dapat dilihat bahwa secara keseluruhan responden sangat setuju (lihat tabel 4.7 di halaman 47) dengan keterkaitan bulir-bulir faktor penarik (pull factor) yang disediakan sebagai alasan untuk berwisata ke Taman Nasional Komodo. Dipantau dari nilai tingkat kesetujuan (mean) dan nilai variasi responden (standar deviasi) pada tabel di bawah, penulis menemukan 4 indikator dengan kategori ASS (Amat Sangat Setuju). Dengan berdasar kategori ASS tersebut, jika diurutkan berdasarkan tingkat kesetujuan responden (mean) dari yang tertinggi ke yang terendah, 4 indikator tersebut adalah: Pemandangan alam yang menakjubkan di Labuan Bajo, kesempatan mengunjungi lautnya, alam bebas yang masih alami, dan terakhir adalah untuk melihat fauna langka (komodo).

Dengan kata lain, dari hasil tabel di atas, mengindikasikan bahwa responden memang cenderung sangat setuju dengan alasan “pemandangan alam yang menakjubkan di Labuan Bajo” sebagai motivasi utama yang menarik (pull factor) wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo.

4.4. Analisa Faktor (Factor Analysis)

4.4.1. Analisa Faktor Motivasi Daya Dorong Berwisata: Push Factors

Penulis menggunakan software statistic SPSS for Windows versi 23 untuk mengolah data yang didapat. Bagian berikut ini merupakan pemaparan output yang dihasilkan dari pengolahan data menggunakan teknik statistik analisa faktor terhadap indikator pengamatan push factors adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9 Tanggapan Responden Atas Motivasi Berwisata: Pull Factor (Lanjutan) PL8 Kualitas tempat wisata serta fasilitas yang baik 5.59 1.15 SS PL9 Kenyamanan iklim dan cuaca di Labuan Bajo 5.53 1.25 SS

PL10 Alam bebas yang masih alami 6.49 0.83 ASS

PL11 Budaya lokal 5.50 1.24 SS

PL12 Keramahan komunitas lokal 5.57 1.26 SS

PL13 Makanan dan minuman lokal 5.19 1.29 S

PL15 Ketersediaan akses tour dan travel ke destinasi wisata 6.14 1.00 SS

Mean Total

5.84 1.13 SS

(9)

Tabel 4.10 Nilai KMO dan Bartlet’s Test dari Push Factors

1. Nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Measure of Sampling Adequency dan Bartlett’s of Sphericity

Nilai ini menunjukkan apakah terdapat kolerasi yang cukup antara indikator- indikator dalam menunjukkan korelasi secara keseluruhan. Sampel dikatakan sudah mencukup syarat apabila nilai KMO-MSA > 0.5 dan nilai Signifikasi Chi-square < 0.05. Pada tabel di atas, terbukti bahwa hasil pengujian KMO dari indikator pengamatan push factor adalah sebesar 0.790 dengan nilai signifikansi 0.000 sehingga dapat dikatakan bahwa indikator-indikator pengamatan push factor memiliki korelasi yang cukup kuat secara keseluruhan sehingga data dapat dianalisa lebih lanjut (Ghozali, 2016).

2. Anti-image Correlation Test

Perhitungan anti-image correlation test yang bertujuan untuk melihat sejauh mana masing-masing indikator pengamatan dari push factor memiliki korelasi dengan variabel latennya. Apabila nilai MSA dari sebuah indikator pengamatan kurang dari 0.5 maka indikator tersebut harus dikeluarkan dari proses analisa data dan dilakukan perhitungan anti-image correlation test kembali (Ghozali, 2016).

Tabel 4.11 Anti-image Correlation Test

Berdasarkan tabel 4. 11 di atas dapat dilihat bahwa 11 indikator pengamatan dari push factors memiliki nilai MSA > 0.5 yang berarti semua indikator

PS1 PS2 PS3 PS4 PS5 PS6 PS7 PS8 PS9 PS10 PS11

PS1 .619a -.313 -.111 -.067 .197 -.183 -.010 -.307 .369 -.227 .153 PS2 -.313 .744a -.294 -.021 -.193 .122 -.144 -.019 -.276 .139 .100 PS3 -.111 -.294 .822a -.350 -.056 -.118 .207 .023 -.044 -.030 .015 PS4 -.067 -.021 -.350 .835a .120 -.064 -.276 .140 -.170 -.216 .003 PS5 .197 -.193 -.056 .120 .749a -.622 .009 -.343 .205 -.019 -.068 PS6 -.183 .122 -.118 -.064 -.622 .790a -.110 .139 -.046 -.109 -.393 PS7 -.010 -.144 .207 -.276 .009 -.110 820a -.436 -.030 .063 -.097 PS8 -.307 -.019 .023 .140 -.343 .139 -.436 .774a -.104 -.126 .035 PS9 .369 -.276 -.044 -.170 .205 -.046 -.030 -.104 .738a -.456 -.129 PS10 -.227 .139 -.030 -.216 -.019 -.109 .063 -.126 -.456 .847a -.222 PS11 .153 .100 .015 .003 -.068 -.393 -.097 .035 -.129 -.222 .877a

(10)

pengamatan memiliki korelasi yang kuat dengan variabel push factor sehingga data dapat dianalisa lebih lanjut (Ghozali, 2016).

3. Total Variance Explained Test

Tujuan test ini untuk melihat keragaman data dari variabel yang bisa dijelaskan oleh komponen-komponen yang terbentuk dari hasil analisa faktor.

Faktor yang mempunyai Eigenvalue > 1 dapat membentuk suatu faktor baru, sedangkan yang nilainya < 1 merupakan faktor yang tidak layak untuk dimasukkan ke dalam analisa selanjutnya (Ghozali, 2016). Pada tabel 4.12 di bawah ini, terdapat 3 komponen dengan nilai Eigenvalue > 1 sehingga dapat dikatakan bahwa ada 3 faktor pendorong (push factor) baru yang muncul dari pengelompokkan indikator pengamatan faktor pendorong (push factor).

Faktor pertama mampu menjelaskan 43.956% dari total variasi, sedangkan faktor kedua mampu menjelaskan 13.105% dari total variasi, dan faktor ketiga mampu menjelaskan 12.003% dari total variasi. Jadi, ketiga faktor keseluruhan mampu menjelaskan 69.06% variasi dari faktor-faktor yang mendorong (push factor) untuk berwisata ke Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo (Ghozali, 2016).

Tabel 4.12 Total Variance Explained

Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings Component Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative %

1 4.835 43.956 43.956 4.835 43.956 43.956

2 1.441 13.105 57.061 1.441 13.105 57.061

3 1.320 12.003 69.064 1.320 12.003 69.064

4 .855 7.773 76.837

5 .640 5.814 82.651

6 .533 4.847 87.497

7 .418 3.801 91.298

8 .319 2.901 94.199

9 .260 2.368 96.567

10 .234 2.130 98.697

11 .143 1.303 100.000

4. Communality Test

Tabel Communalities bertujuan untuk melihat indikator mana yang paling

menentukan variabel, dalam hal ini menentukan indikator mana yang paling

dominan. Indikator yang paling dominan ditunjukkan oleh nilai extraction

terbesar. (Ghozali, 2016).

(11)

Tabel 4.13 Communality Test

Initial Extraction

PUSH1 1.000 .685

PUSH2 1.000 .643

PUSH3 1.000 .598

PUSH4 1.000 .693

PUSH5 1.000 .758

PUSH6 1.000 .794

PUSH7 1.000 .542

PUSH8 1.000 .688

PUSH9 1.000 .703

PUSH10 1.000 .715

PUSH11 1.000 .776

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, meskipun seluruh indikator memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan faktor pendorong (push factor) yakni ≥ 50%, setiap indikator memiliki nilai persentase masing-masing. Korelasi terkuat berada pada indikator PUSH6 yaitu “Bertemu dan bersosialisasi dengan komunitas lokal” dengan nilai extraction sebesar 0.794, yang dimana indikator tersebut memiliki persentase korelasi sebesar 79.4%, sedangkan indikator yang memiliki korelasi terlemah dengan faktor pendorong (push factor) adalah PUSH7 yaitu “Untuk rileks sejenak dan melepaskan diri dari stress” dengan nilai extraction sebesar 0.542 dengan persentase korelasi 54.2%.

5. Component Matrix dan Rotated Component Matrix

Dalam tabel Rotated Component Matrix terdapat koefisien yang digunakan

untuk menyatakan variabel standar yang disebut loading factor. Koefisien

faktor loading menerangkan korelasi antara indikator pembentuk dengan

faktor baru yang terbentuk. Nilai korelasi yang besar menyatakan hubungan

yang erat antara faktor dan indikator pembentuk sehingga variabel dapat

digunakan untuk membentuk faktor. Berdasarkan nilai koefisien faktor

loading, indikator pengamatan push factor mengelompok ke dalam tiga faktor

baru (Tabel 4.14) sebagai berikut.

(12)

Dari hasil pengelompokkan faktor di atas selanjutnya dilakukan penamaan faktor baru berdasarkan faktor loading yang dilihat dari Rotated Compoment Matrix di halaman lampiran 97 terbentuk sebagai berikut, dengan jumlah persentase varians yang ada menerangkan seberapa besar persentase pengaruh faktor terhadap variabel yang ada:

Tabel 4.14 Nilai loading push factor Faktor Push

No. Nama Variabel Faktor

loading

% Varians

1

PS5 Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru 0.849

43.956%

PS6 Bertemu dan bersosialisasi dengan komunitas

lokal 0.820

PS11 Memelajari budaya lokal setempat 0.734 PS8 Untuk mencapai kepuasan diri 0.645 PS7 Untuk rileks sejenak dan melepaskan diri dari

stress

0.604

2

PS9 Untuk mencari petualangan baru 0.806

13.105%

PS4 Untuk mendapatkan pengalaman baru yang

unik 0.780

PS10 Memelajari sesuatu yang baru 0.684 PS3 Ingin menikmati pemandangan alam 0.635 3 PS1 Ingin menghabiskan waktu bersama keluarga 0.812

12.003%

PS2 Ingin keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari 0.727

Tabel 4.15 Pengelompokkan Push Factors yang Terbentuk Faktor Push

No. Nama Variabel loading

Nama Faktor Baru

(No.)

Faktor

loading

% Varians

1

PS5 Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru

Building Relationship

(PS1)

0.849

43.956%

PS6 Bertemu dan bersosialisasi

dengan komunitas lokal 0.820

PS11 Memelajari budaya lokal

setempat 0.734

PS8 Untuk mencapai kepuasan diri 0.645

PS7 Untuk rileks sejenak dan

melepaskan diri dari stress 0.604

2

PS9 Untuk mencari petualangan baru

Novelty in challenges

and adventure achievement

(PS2)

0.806

13.105%

PS4 Untuk mendapatkan pengalaman

baru yang unik 0.780

PS10 Memelajari sesuatu yang baru 0.684 PS3 Ingin menikmati pemandangan

alam 0.635

3

PS1 Ingin menghabiskan waktu

bersama keluarga

Escape from routine

(PS3)

0.812

12.003%

PS2 Ingin keluar dari rutinitas

kehidupan sehari-hari 0.727

(13)

a. Faktor pertama: Building Relationship.

Faktor ini terdiri dari beberapa indikator antara lain, “Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru”, “Bertemu dan bersosialisasi dengan komunitas lokal”, “Memelajari budaya lokal setempat”, “Untuk mencapai kepuasan diri” serta “Untuk rileks dan melepaskan diri dari stress”. Indikator- indikator tersebut kemudian menjadi suatu kelompok dengan fokus pada dengan aktivitas sosial atau dengan segala kegiatan yang berkaitan dengan interaksi sosial, yang mengarah pada orang baru maupun komunitas lokal.

Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 4.835 dan persentase varians sebesar 43.956%.

b. Faktor kedua: Novelty in challenges and adventure achievement.

Faktor ini terdiri dari beberapa indikator antara lain, “Untuk mencari petualangan baru”, “Untuk mendapatkan pengalaman baru yang unik”,

“Memelajari sesuatu yang baru”, dan “Ingin menikmati pemandangan alam”.

Indikator-indikator tersebut membentuk kelompok yang berkaitan dengan keinginan wisatawan untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga dapat memiliki pengalaman yang benar- benar unik. Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 1.441 dan persentase varians sebesar 13.105%.

c. Faktor ketiga: Escape from routine.

Faktor ini terdiri dari dua indikator antara lain, “Ingin menghabiskan waktu bersama keluarga” serta “Ingin keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari”.

Kedua indikator tersebut membentuk pengelompokkan yang berkaitan dengan keinginan wisatawan untuk keluar dari rutinitas keseharian seraya menikmati waktu bersama keluarga. Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 1.320 dengan persentase varians sebesar 12.003%.

6. Component Transformation Matrix

Component transformation matrix menunjukkan besarnya korelasi antar

komponen atau faktor baru yang terbentuk. Syaratnya nilai korelasi yang

berada pada garis diagonal menunjukkan di sekitar angka 0.5. (Ghozali,

2016).

(14)

Tabel 4.16 Component Transformation Matrix

Component 1 2 3

1 .701 .600 .386

2 -.219 -.333 .917

3 -.679 .728 .103

Dari tabel 4.16 di atas, angka yang dihasilkan rata-rata berada di antara 0.5, sehingga dapat dikatakan bahwa komponen atau faktor yang terbentuk sudah cukup tepat atau dapat diandalkan.

4.4.2 Analisa Faktor Motivasi Daya Tarik Berwisata: Pull Factors

Penulis menggunakan software statistic SPSS for Windows versi 23 untuk mengolah data yang didapat. Bagian berikut ini merupakan pemaparan output yang dihasilkan dari pengolahan data menggunakan teknik statistik analisa faktor terhadap indikator pengamatan pull factor adalah sebagai berikut:

Tabel 4.17 Nilai KMO dan Bartlet’s Test dari Pull Factors

1. Nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Measure of Sampling Adequency dan Bartlett’s of Sphericity

Nilai ini menunjukkan apakah terdapat kolerasi yang cukup antara indikator- indikator dalam menunjukkan korelasi secara keseluruhan. Sampel dikatakan sudah mencukup syarat apabila nilai KMO-MSA > 0.5 dan nilai Signifikasi Chi-square < 0.05. Pada tabel di atas, terbukti bahwa hasil pengujian KMO dari indikator pengamatan pull factor adalah sebesar 0.869 dengan nilai signifikansi 0.000 sehingga dapat dikatakan bahwa indikator-indikator pengamatan pull factor memiliki korelasi yang cukup kuat secara keseluruhan sehingga data dapat dianalisa lebih lanjut (Ghozali, 2016).

2. Anti-image correlation test

Perhitungan anti-image correlation test yang bertujuan untuk melihat sejauh

mana masing-masing indikator pengamatan dari pull factor memiliki korelasi

(15)

pengamatan kurang dari 0.5, maka indikator tersebut harus dikeluarkan dari proses analisa data dan dilakukan perhitungan anti-image correlation test kembali (Ghozali, 2016).

Tabel 4.18 Anti-image Correlation Test

PL2 PL3 PL4 PL5 PL6 PL7 PL8 PL9 PL10 PL11 PL12 PL13 PL15

PL2 .945a .002 .072 -.099 -.053 .023 -.194 -.011 .026 -.152 -.078 -.221 .021 PL3 .002 .857a -.152 -.266 -.087 .126 .091 .155 -.392 -.035 -.166 -.175 .080 PL4 .072 -.152 .828a .184 .066 .019 -.381 -.300 -.197 .227 -.191 .091 -.214 PL5 -.099 -.266 .184 .792a .211 .099 .206 -.254 -.174 .179 -.217 -.067 -.285 PL6 -.053 -.087 .066 .211 .819a -.271 .085 -.075 -.023 .033 -.137 .016 -.337 PL7 .023 .126 .019 .099 -.271 .842a .079 -.137 -.218 -.061 -.039 -.075 .027 PL8 -.194 .091 -.381 .206 .085 .079 873a -.142 -.052 .026 -.149 -.063 -.236 PL9 -.011 .155 -.300 -.254 -.075 -.137 -.142 .886a .068 -.190 -.014 -.386 .044 PL10 -.026 -.392 -.197 -.174 -.023 -.218 -.052 .068 .841a -.211 .166 .130 -.255 PL11 -.152 -.035 .227 .179 .033 -.061 .026 -.190 -.211 .874a -.417 -.198 -.023 PL12 -.078 -.166 -.191 -.217 -.137 -.039 -.149 -.014 .166 -.417 899a -.151 .046 PL13 -.221 -.175 .091 -.067 .016 -.075 -.063 -.386 .130 -.198 -.151 904a .010 PL15 .021 .080 -.214 -.285 -.337 .027 -.236 .044 -.255 .-.023 .046 .010 .866a

Berdasarkan tabel 4. 18 di atas dapat dilihat bahwa ketiga belas indikator pengamatan dari pull factors memiliki nilai MSA > 0.5 yang berarti semua indikator pengamatan memiliki korelasi yang kuat dengan variabel pull factor sehingga data dapat dianalisa lebih lanjut (Ghozali, 2016).

3. Total Variance explained test

Tujuan test ini untuk melihat keragaman data dari variabel yang bisa dijelaskan oleh komponen-komponen yang terbentuk dari hasil analisa faktor.

Faktor yang mempunyai Eigenvalue > 1 dapat membentuk suatu faktor baru, sedangkan yang nilainya < 1 merupakan faktor yang tidak layak untuk dimasukkan ke dalam analisa selanjutnya (Ghozali, 2016). Pada tabel 4.19 di bawah ini, terdapat 4 komponen yang memiliki nilai Eigenvalue > 1 sehingga dapat dikatakan bahwa ada 4 faktor penarik (pull factor) baru yang muncul dari pengelompokkan indikator pengamatan faktor penarik (pull factor).

Faktor pertama mampu menjelaskan 47.508% dari total variasi, sedangkan

faktor kedua mampu menjelaskan 9.812% dari total variasi, dan faktor ketiga

mampu menjelaskan 9.006% dari total variasi, serta faktor keempat mampu

menjelaskan 7.916% dari total variasi. Jadi, keempat faktor keseluruhan

mampu menjelaskan 74.242% variasi dari faktor-faktor yang menarik (pull

factor) untuk berwisata ke Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo

(Ghozali, 2016).

(16)

Tabel 4.19 Total Variance Explained

Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings

Component Total % of

Variance

Cumulative

% Total % of

Variance

Cumulative

%

2 6.176 47.508 47.508 6.176 47.508 47.508

3 1.276 9.812 57.320 1.276 9.812 57.320

4 1.171 9.006 66.326 1.171 9.006 66.326

5 1.029 7.916 74.242 1.029 7.916 74.242

6 .621 4.775 79.017

7 .558 4.290 83.307

8 .496 3.815 87.122

9 .408 3.139 90.261

10 .331 2.543 92.804

11 .290 2.228 95.032

12 .264 2.032 97.064

13 .209 1.609 98.674

15 .172 1.326 100.000

4. Communality Test

Tabel Communalities bertujuan untuk melihat indikator mana yang paling menentukan variabel, dalam hal ini menentukan indikator mana yang paling dominan. Indikator yang paling dominan ditunjukkkan oleh nilai extraction terbesar. (Ghozali, 2016).

Dilihat pada tabel 4.20 di halaman 58-59, meskipun seluruh indikator memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan faktor penarik (pull factor) yakni

≥ 50%, setiap indikator memiliki nilai persentase masing-masing. Korelasi terkuat berada pada indikator PULL8 yaitu “Kualitas tempat wisata serta fasilitas yang baik” dengan nilai extraction sebesar 0.835, yang dimana indikator tersebut memiliki persentase korelasi sebesar 83.5%, sedangkan indikator yang memiliki korelasi terlemah dengan faktor penarik (pull factor) adalah PULL2 yaitu “Festival dan events tahunan yang digelar di Labuan Bajo” dengan nilai extraction sebesar 0.615 dengan persentase korelasi sebesar 61.5%.

Tabel 4.20 Communality Test

Initial Extraction

PULL2 1.000 .615

PULL3 1.000 .738

PULL4 1.000 .813

PULL5 1.000 .737

PULL6 1.000 .683

PULL7 1.000 .727

(17)

Tabel 4.20 Communality Test (Lanjutan)

PULL9 1.000 .740

PULL10 1.000 .753

PULL11 1.000 .733

PULL12 1.000 .756

PULL13 1.000 .798

PULL15 1.000 .722

5. Component Matrix dan Rotated Component Matrix

Dalam tabel Rotated Component Matrix terdapat koefisien yang digunakan untuk menyatakan variabel standar yang disebut loading factor. Koefisien faktor loading menerangkan korelasi antara variabel asal dengan faktornya.

Nilai korelasi yang besar menyatakan hubungan yang erat antara faktor dan variabel asal sehingga variabel dapat digunakan untuk membentuk faktor.

Berdasarkan nilai koefisien faktor loading, indikator pengamatan pull factor mengelompok ke dalam empat faktor baru sebagai berikut.

Tabel 4.21 Nilai loading pull factor Faktor Pull

No. Nama variabel loading Faktor

Loading

% Varians

1

PL13 Makanan dan minuman lokal 0.842

47.508%

PL11 Budaya lokal 0.781

PL12 Keramahan komunitas lokal 0.746

PL2 Festival dan events tahunan yang digelar

di Labuan Bajo 0.735

PL9 Kenyamanan iklim dan cuaca di Labuan

Bajo 0.726

2

PL4 Jaminan keamanan lokasi wisata 0.843

9.812%

PL8 Kualitas tempat wisata serta fasilitas

yang baik 0.808

PL15 Ketersediaan akses tour dan travel ke

destinasi wisata 0.629

3

PL3 Kesempatan mengunjungi lautnya 0.784

9.006%

PL5 Pemandangan alam yang menakjubkan

di Labuan Bajo 0.765

PL10 Alam bebas yang masih alami 0.700 4 PL6 Melihat fauna yang langka (komodo) 0.772

7.916%

PL7 Keanekaragaman biota bawah laut 0.812

Dari hasil pengelompokkan faktor di atas (Tabel 4.21) selanjutnya dilakukan

penamaan faktor baru yang terbentuk sebagai yang dipaparkan di halaman

berikut:

(18)

Tabel 4.22 Pengelompokkan Pull Factors yang Terbentuk Faktor Pull

No. Nama variabel loading Nama Faktor Baru (No.)

Faktor

Loading

% Varians

1

PL13 Makanan dan minuman lokal

Local Attraction

(PL1)

0.842

47.508%

PL11 Budaya Lokal 0.781

PL12 Keramahan komunitas lokal 0.746

PL2 Festival dan events tahunan

yang digelar di Labuan Bajo 0.735

PL9 Kenyamanan iklim dan cuaca di

Labuan Bajo 0.726

2

PL4 Jaminan keamanan lokasi

wisata

Accessibility

and Transportation

(PL2)

0.843

9.812%

PL8 Kualitas tempat wisata serta

fasilitas yang baik 0.808

PL15 Ketersediaan akses tour dan

travel ke destinasi wisata 0.629

3

PL3 Kesempatan mengunjungi lautnya

Nature

(PL3)

0.784

9.006%

PL5 Pemandangan alam yang

menakjubkan di Labuan Bajo 0.765

PL10 Alam bebas yang masih alami 0.700

4

PL6 Keanekaragaman biota bawah

laut

Key Tourist

Resources

(PL4)

0.812

7.916%

PL7 Melihat fauna yang langka

(komodo) 0.772

a. Faktor pertama: Local Attraction

Faktor ini terdiri dari beberapa indikator antara lain, “Festival dan events tahunan yang digelar di Labuan Bajo”, “Kenyamanan iklim dan cuaca di Labuan Bajo”, “Budaya Lokal”, “Keramahan komunitas lokal”, serta

“Makanan dan minuman lokal”. Indikator-indikator tersebut merepresentasikan pengelompokkan dengan pesona lokal dari Labuan Bajo itu sendiri seperti atraksi pagelaran festival serta interaksi dengan budaya serta komunitas lokal. Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 6.176 dengan persentase varians sebesar 47.508%.

b. Faktor kedua: Accessibility and transportation

Faktor ini terdiri dari beberapa indikator antara lain, “Jaminan keamanan lokasi wisata”, “Kualitas tempat wisata serta fasilitas yang baik”, dan

“Ketersediaan akses tour dan travel ke destinasi wisata”. Indikator-

indikator tersebut merepresentasikan pengelompokkan dengan kemudahan

aksesibilitas serta transportasi di Labuan Bajo. Faktor ini memiliki nilai

(19)

c. Faktor ketiga: Nature

Faktor ini terdiri dari beberapa indikator antara lain, “Kesempatan mengunjungi lautnya”, “Pemandangan alam yang menakjubkan di Labuan Bajo”, serta “Alam bebas yang masih alami”. Indikator-indikator yang disebutkan di atas merepresentasikan pengelompokkan dengan tema besar alam, yang menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo. Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 1.171 dengan persentase varians sebesar 9.006%.

d. Faktor keempat: Key Tourist Resources

Faktor ini terdiri dari dua indikator antara lain adalah “Melihat fauna yang langka (komodo)” dan “Keanekaragaman biota bawah laut”. Indikator- indikator yang disebutkan di atas merepresentasikan pengelompokan dengan key tourist yang menaruh fokus pada flora/fauna dan wildlife Labuan Bajo itu sendiri. Faktor ini memiliki nilai Eigenvalue sebesar 1.029 dengan persentase varian sebesar 7.916%.

6. Component Transformation Matrix

Component transformation matrix menunjukkan besarnya korelasi antar komponen atau faktor baru yang terbentuk. Syaratnya nilai korelasi yang berada pada garis diagonal menunjukkan di sekitar angka 0.5 (Ghozali, 2016).

Tabel 4.23 Component Transformation Matrix

Component 1 2 3 4

1 .677 .478 .462 .316

2 -.722 .579 .311 .216

3 .023 .095 -.648 .755

4 -.141 -.654 .519 .532

Dari tabel 4.23 di atas, angka yang dihasilkan rata-rata berada di antara 0.5, sehingga dapat dikatakan bahwa komponen atau faktor yang terbentuk sudah cukup tepat atau dapat diandalkan.

Selanjutnya, terkait dengan manakah di antara faktor pendorong (push factor)

dan faktor penarik (pull factor) yang lebih mampu menjelaskan motivasi

wisatawan mengunjungi Taman Nasional Komodo, penulis melihat dari besarnya

total nilai variance masing-masing faktor. Total variance dari faktor pendorong

(push factor) yang tercantum pada tabel 4.12 (halaman 51) adalah sebesar

(20)

69.064%, dan total variance dari faktor penarik (pull factor) yang tercantum pada tabel 4.19 (halaman 57) adalah sebesar 74.242%. Berdasarkan total variance, faktor penarik (pull factor) memiliki kemampuan lebih besar untuk memotivasi wisatawan dalam mengunjungi Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo.

4.5 Pembahasan

Dalam melakukan sebuah kegiatan berwisata (traveling), seorang wisatawan membutuhkan motivasi yang dapat mendorong keinginan dalam dirinya untuk mengunjungi suatu tempat. Motivasi menurut Moutinho (1987) dalam Lay (2013), adalah suatu kondisi yang memberikan sebuah dorongan pada individu terhadap beberapa jenis tindakan yang dipandang sebagai kemungkinan untuk membawa kepuasan. Motivasi berwisata dapat dibagi menjadi dua, yaitu motivasi yang mendorong dari dalam (push factor) serta motivasi yang menarik wisatawan, yang biasanya berupa daya tarik destinasi yang akan dikunjungi (pull factor). Baloglu dan Uysal (1996) mengungkapkan bahwa teori push and pull factor merupakan teori yang paling banyak diadopsi untuk menjelaskan motivasi berwisata. Motivasi pendorong (push motivation) dinilai berguna untuk menjelaskan alasan kenapa seseorang melakukan perjalanan wisata, sedangkan motivasi penarik (pull motivation) berguna untuk menjelaskan daya tarik yang dimiliki oleh sebuah destinasi.

Salah satu destinasi wisata Indonesia yang menarik dengan pesona

alamnya adalah Taman Nasional Komodo. Destinasi wisata ini telah dinyatakan

secara resmi masuk ke dalam kategori 7 keajaiban dunia pada tanggal 14

September 2013 (nature.new7wonders.com). Penelitian ini ditujukan untuk

menggali faktor-faktor apa yang mendorong (push factor) dan menarik (pull

factor) motivasi wisatawan dalam mengunjungi Taman Nasional Komodo. Untuk

mencari jawaban atas pertanyaan ini, maka penulis melakukan survei kepada 101

orang responden. Dari 101 responden yang berpartisipasi, sebagian besar

responden yang melakukan perjalanan wisata ke Taman Nasional Komodo

mengunjungi tiga pulau besar yang menjadi representatifnya yakni pulau Padar,

pulau Komodo dan pulau Rinca. Kebanyakan dari para responden mencari sendiri

informasi mengenai Taman Nasional Komodo dengan melalui internet. Jumlah

(21)

biaya yang dikeluarkan oleh mayoritas responden adalah sebesar ≤ Rp 5.000.000,00. Jangka waktu menginap yang menjadi pilihan sebagian besar responden adalah kurun waktu 3 hari hingga 1 minggu, dan rata-rata terbanyak memilih untuk pergi bersama teman-teman dalam keputusannya untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo.

4.5.1 Analisa Pembahasan Motivasi Berwisata: Push Factors

Dari jurnal-jurnal yang telah dipelajari dan dikaji di bab 2 (Tabel 2.2 di halaman 23), penulis menemukan bahwa ada 11 indikator faktor yang mendorong (push factor) orang untuk bepergian. Sedangkan dari temuan penelitian ini, penulis mendapatkan 3 faktor yang mendorong (push factor) wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

Berdasarkan tabel 4.24 di halaman 65, dapat dilihat bahwa hasil penelitian yang dilakukan penulis saat ini mengkonfirmasi hasil penelitian terdahulu (tabel 4.24), hanya saja jumlah faktor motivasi pendorong sedikit lebih kecil karena ada beberapa faktor yang digabung dengan faktor lainnya.

Faktor pertama yang mendorong wisatawan untuk datang berkunjung ke

Taman Nasional Komodo diberi nama: Building Relationship. Faktor ini

mencerminkan keinginan wisatawan untuk bersosialisasi, baik dengan orang baru

yang ditemui selama perjalanan, misalnya dengan sesama wisatawan yang

tergabung dalam tur terbuka (open trip) dan atau yang bertemu di hotel. Hal ini

dimungkinkan, mengingat untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo,

wisatawan diharuskan untuk menyeberang menggunakan kapal atau speed boat,

bahkan kapal pesiar. Selama waktu perjalanan, akan muncul keinginan untuk

bersosialisasi dengan orang baru yang diawali dengan pembicaraan kecil hingga

berbagi pengalaman, bahkan mungkin berbagi pengetahuan antara wisatawan

yang satu dengan wisatawan yang lain. Selain membangun hubungan dengan

orang baru, wisatawan juga dimungkinkan untuk bertemu dengan orang lokal

yang belum pernah ditemui sebelumnya. Faktor building relationship ini mirip

dengan faktor adventure and building relationship milik Kim et al (2003) dalam

hal membangun hubungan pertemanan. Namun demikian, fokus perbedaannya

terletak pada keinginan untuk membangun hubungan dengan komunitas lokal

(22)

beserta budaya lokal yang ada, sedangkan dalam penelitian oleh Kim et al (2003) yang mengambil lokasi di Taman Nasional Korea (Korean National Park), hal-hal yang bersifat lokal ini bukan menjadi faktor utama. Faktor ini juga merupakan faktor dengan nilai variance yang kuat, yang berarti faktor ini dapat menjelaskan variabel faktor pendorong (push factor) paling dominan dibandingkan dengan ketiga faktor lainnya.

Faktor kedua yang mendorong wisatawan untuk datang berkunjung ke Taman Nasional Komodo diberi nama: Novelty in challenges and adventure achievement. Faktor ini mendukung program 10 Bali baru (halaman 3) yang sedang digencarkan oleh pemerintah Indonesia, dimana destinasi Labuan Bajo sendiri ini memang masih jarang untuk dikunjungi dan belum sepopuler Bali sebagai pilihan destinasi wisata di Indonesia. Dengan uniknya pilihan wisata yang ditawarkan oleh Labuan Bajo, terutama dengan terbuka luasnya kesempatan untuk melihat Komodo di habitatnya secara langsung, wisatawan didorong untuk memiliki peluang baru yang tidak bisa ditawarkan oleh pilihan destinasi wisata lainnya. Di faktor kedua hasil studi ini, penulis kembali menemukan kesamaan antara faktor novelty in challenges and adventure achievement milik penulis dengan faktor novelty milik Merwe dan Saayman (2008) dalam hal keinginan wisatawan untuk mengeksplorasi suatu pengalaman yang baru. Namun demikian, fokus perbedaannya adalah tidak ditemukan indikator petualangan baru yang unik dan memelajari sesuatu yang baru pada penelitian Merwe dan Saayman (2008) yang mengambil lokasi di Taman Nasional Kruger (Kruger National Park) di Afrika Selatan.

Faktor ketiga yang mendorong wisatawan untuk datang berkunjung ke Taman

Nasional Komodo diberi nama: Escape from routine. Sesuai dengan namanya,

dorongan yang diberikan faktor ini adalah berupa keinginan dari wisatawan untuk

menikmati waktu bersama keluarga (family time) dan keinginan untuk keluar dari

rutinitas sehari-hari dan kembali menyejukkan pikiran yang penat. Nama faktor

ini terdapat di ketiga jurnal penelitian yang dikaji oleh penulis. Kendati demikian,

fokus perbedaan dalam faktor ini terletak pada keinginan untuk menikmati waktu

bersama keluarga, dimana pada ketiga jurnal yang dikaji oleh penulis lebih

membahas mengenai; keinginan wisatawan untuk rekreasi dan bersenang-senang

(23)

(penelitian oleh Reihanian (2015) yang mengambil lokasi di Iran, yakni di Taman Nasional Boujagh), untuk rehat sejenak dan keluar dari rutinitas kehidupan sehari- hari (penelitian oleh Kim et al (2003) yang mengambil lokasi di Taman Nasional Korea), dan untuk routine vacation, juga untuk rileks (penelitian oleh Merwe dan Saayman (2008) yang mengambil lokasi di Taman Nasional Kruger).

Tabel 4. 24 Tabel Perbandingan Motivasi Berwisata Push Factors Berdasarkan Teori dan Hasil Penelitian

No. Indikator

Jurnal Kajian

Temuan studi ini Kim, Lee,

dan Klenosky

(2002) di Korea

Reihanian, Hin, Kahrom, Mahmood dan Porshokouh (2015)

di Iran

Merwe dan Saayman

(2008) di Afrika Selatan 1 Family

Togetherness ✓ ✓ ✓ PS3: Esc. from

routine

2

Appreciating natural resources

✓ ✓

PS2: Novelty in challenges and

adventure achievement 3

Escaping from everyday routine

✓ ✓ PS3: Esc. from

routine

4 Adventure

PS2: Novelty in challenges and

adventure achievement

5 Education

PS2: Novelty in challenges and

adventure achievement

6 Relaxation PS1: Building

relationship

7 Excitement

8 Socialisation PS1: Building

relationship 9

Social prestige/self- esteem

PS1: Building

relationship

10 Culture seeking PS1: Building

relationship

11 Health/Fitness ✓ ✓

4.5.2 Analisa Pembahasan Motivasi Berwisata: Pull Factors

Dari jurnal-jurnal yang telah dipelajari dan dikaji di bab 2 (Tabel 2.3 di

halaman 26), penulis menemukan bahwa ada 13 indikator faktor yang menarik

(pull factor) orang untuk bepergian. Sedangkan dari temuan penelitian ini, penulis

mendapatkan 4 faktor yang menarik (pull factor) wisatawan baik mancanegara

(24)

maupun domestik untuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Berdasarkan tabel 4.25, dapat dilihat bahwa hasil penelitian yang dilakukan penulis saat ini mengkonfirmasi hasil penelitian terdahulu (tabel 4.25), hanya saja jumlah faktor motivasi penarik sedikit lebih kecil karena ada beberapa faktor yang digabung dengan faktor lainnya.

Faktor pertama yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke

Taman Nasional Komodo diberi nama: Local Attraction. Berdasar pada nama

yang diberikan, faktor ini didomimasi dengan atribut lokal yang berupa budaya,

keadaan lingkungan, serta komunitas lokal dan festival yang diadakan di daerah

itu sendiri. Kepariwisataan Labuan Bajo menggelar festival tahunan Komodo

yang terjadi setahun sekali dan bisa dinikmati oleh para wisatawan. Labuan Bajo

mengadakan festival yang digelar setiap tahunnya, dengan acara lokal yang

menarik. Festival ini diadakan dengan maksud ingin menarik perhatian

wisatawan, terutama wisatawan mancanegara untuk berkunjung dan turut

menikmati kearifan budaya Indonesia dalam acara-acara yang digelar. Festival

Labuan Bajo untuk tahun 2017 digelar pada tanggal 4 Februari hingga 4 Maret

2017 yang terdiri dari tiga acara besar yakni Festival Komodo, Carnaval Budaya,

dan petualangan alam. Pentas caci, panggung hiburan, dan pameran kerajinan

tangan. Dengan mengunjungi festival tersebut, wisatawan dapat menikmati

suguhan makanan dan minuman yang ada serta kesempatan untuk berinteraksi

dengan warga sekitar. Makanan dan minuman lokal yang disediakan pada

umumnya adalah berupa hidangan laut karena letak kotanya yang bersampingan

dengan laut. Selain makanan lokal khas Labuan Bajo seperti contohnya Jawada

(kudapan manis dari campuran tepung beras, gula palem, garam dan air), makanan

lokal dari daerah lain seperti Padang, Jawa dan Bali dapat dijumpai pula di

Labuan Bajo. Salah satu minuman yang terkenal dan paling sering diminum oleh

penduduk lokal sendiri adalah Moke. Minuman tradisional ini dibuat dari hasil

penyulingan buah dan bunga pohon lontar maupun enau, proses pembuatannya

masih tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan

sampai sekarang. Jenis moke yang ada beragam dari moke biasa, moke merah,

hingga moke dengan kandungan alkohol yang tinggi. Penamaan faktor ini berbeda

(25)

attraction). Faktor ini memegang persentase variance terbesar untuk memengaruhi motivasi wisatawan dalam mengunjungi Taman Nasional Komodo dibandingkan keempat faktor lain, yang berarti faktor ini dapat menjelaskan pengaruh motivasi wisata paling dominan.

Faktor kedua yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke Taman Nasional Komodo diberi nama: Accessibility and transportation. Dengan adanya kemudahan akses dan transportasi yang mendukung kemajuan pariwisata Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, terdapat pula kemudahan bagi wisatawan untuk menemukan agen tour and travel di Labuan Bajo. Biro tour and travel ini turut membantu dalam mengaturkan perjalanan agar wisatawan memperoleh berbagai macam kemudahan untuk mengakses destinasi tujuan didukung dengan penawaran yang sesuai, misalnya penawaran untuk menginap selama 2 malam di atas kapal dan 1 malam di pulau tujuan wisata agar bisa mendapat pengalaman trekking yang terbaik, menikmati saat-saat terbaik untuk mengamati matahari terbit dan terbenam (floresxp.com), atau penawaran menginap selama 2 malam di hotel dan 2 malam di kapal pesiar (lepirate.com). Faktor kemudahan akses dan transportasi (accessibility and transportation) ini mirip dengan faktor accessibility and transportation milik Reihanian et al (2015) yang mengambil lokasi penelitian di Taman Nasional Boujagh, Iran.

Faktor ketiga yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke Taman Nasional Komodo diberi nama: Nature. Sangat sesuai dengan namanya, faktor penarik ini berbicara tentang pesona alam di objek wisata itu sendiri. Faktor ini meliputi keindahan dan keasrian alam di sekitar objek wisata dan kesempatan untuk melihat keanekaragaman biota yang ada, dimana wisatawan merasa alam adalah salah satu faktor penarik terkuat untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo. Cakupan faktor alam (nature) ini mirip dengan faktor alam (nature) dalam penelitian Merwe dan Saayman (2008) yang berlokasi di Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan.

Faktor keempat yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke

Taman Nasional Komodo diberi nama: Key Tourist Resources. Berdasar pada

penelitian oleh Kim et al (2013) yang mengambil lokasi di Taman Nasional

Korea, faktor sumber daya kunci (key tourist resources) juga dapat dikatakan

(26)

sebagai salah satu faktor penarik dalam penyebab motivasi berwisata yang menitikberatkan pengelompokannya pada daya tarik khusus dari suatu objek wisata, dimana daya tarik tersebut hanya ada di tempat itu saja dan tidak bisa ditemukan di tempat lainnya. Dalam hal ini, yang menjadi daya tarik kunci khususnya adalah pertemuan langsung hewan dengan spesies varanus komodoensis (Komodo) ini sendiri. Komodo hanya dapat ditemukan di Flores, Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa purbakala yang masih hidup.

(http://www.menlh.go.id). Wisatawan merasa tertarik melihat key tourist resources yang merupakan hewan langka varanus komodoensis Komodo di tempat aslinya sehingga memotivasi wisatawan tersebut untuk datang mengunjungi Taman Nasional Komodo ini.

Tabel 4. 25 Tabel Perbandingan Motivasi Berwisata Pull Factors Berdasarkan Teori dan Hasil Penelitian

No. Indikator

Jurnal Kajian

Temuan studi ini Kim, Lee,

dan Klenosky

(2002) di Korea

Reihanian, Hin, Kahrom, Mahmood dan Porshokouh (2015)

di Iran

Merwe dan Saayman (2008) di Afrika Selatan

1 Climate PL1 (Local

Attraction)

2 Safety PL2 (Accessibility

and Transportation)

3 Facilitation PL2 (Accessibility

and Transportation)

4 Cleanliness

5 Visiting rare

flora/fauna ✓ ✓ ✓ PL4 (Key Tourist

Resources) 6

Wilderness and undisturbed nature

PL3 (Nature)

7 Trying different

local food PL1 (Local

Attraction) 8 Historical places

9 Transportation PL2 (Accessibility

and Transportation)

10 Events ✓ ✓ PL1 (Local

Attraction) 11 Key tourist

resources PL4 (Key Tourist

Resources) 12 Going to the

beaches PL3 (Nature)

13 Outstanding

scenery PL3 (Nature)

(27)

4.5.3 Kontribusi Analisa Pembahasan Motivasi Berwisata: Push and Pull Factor

Di antara kedua faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor) yang terbentuk, kontribusi faktor penarik (pull factor) terbukti lebih besar pengaruhnya terhadap motivasi kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo. Hal ini dapat dilihat dari jumlah persentase keseluruhan variance explained faktor penarik (pull factor) yang terdapat di tabel 4.19, yakni dengan total 74.242% dibandingkan dengan jumlah persentase keseluruhan variance explained faktor pendorong (push factor) di tabel 4.12 yang berjumlah 69.064%.

Hal ini menjelaskan bahwa pesona daya tarik objek wisata dari Taman Nasional Komodo, baik itu dari segi pemandangan alam yang masih asri alami, atraksi lokal berupa budaya makanan dan minuman lokal, serta keamanan dan infrastruktur yang memadai, lebih mampu untuk memengaruhi motivasi wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo dibandingkan dengan dorongan/motivasi yang berasal dari dalam diri wisatawan itu sendiri, seperti untuk sekedar bersantai atau menghabiskan waktu bersama keluarga seperti yang tercantum dalam analisa pembahasan faktor-faktor pendorong (push factor).

4.6 Analisa Pembahasan Kepuasan secara Keseluruhan: Overall Satisfaction

Setelah melakukan pembahasan faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor), penulis hendak membahas tingkat kepuasan wisatawan dalam kunjungannya ke Taman Nasional Komodo (bagian ke-3 di kuesioner).

Bagian ini berisi tingkat kepuasan para wisatawan yang bersangkutan yang erat kaitannya dengan kesediannya untuk kembali mengunjungi Labuan Bajo di kemudian hari.

Tabel 4.26 Tanggapan Responden atas Tingkat Kepuasan secara Keseluruhan

(Overall Satisfaction)

No. Indikator Pengamatan Mean STD Ket.

Tingkat kepuasan secara keseluruhan (Overall

Satisfaction)

C1 Tingkat kepuasan Anda dengan pengalaman liburan Anda ke

Labuan Bajo: 6.61 0.73 ASS

C2 Tingkat kepuasan yang Anda dapat sesuai/sebanding dengan

biaya yang Anda keluarkan: 6.46 0.82 ASS

(28)

Berdasarkan tabel 4.26, dapat dilihat bahwa secara keseluruhan responden amat sangat setuju (ASS) (lihat tabel 4.7 di halaman 47), dengan keterkaitan bulir- bulir tingkat kepuasan yang disediakan sebagai tolak ukur kepuasan wisatawan secara keseluruhan (overall satisfaction) dari kunjungan ke Taman Nasional Komodo. Dipantau dari nilai tingkat kesetujuan (mean) dan nilai variasi responden (standar deviasi) pada tabel di atas, penulis menemukan bahwa seluruh 4 indikator berada dalam kategori ASS (Amat Sangat Setuju).

Dengan kata lain, dari hasil tabel di atas, pernyataan yang mendapat tingkat persetujuan tertinggi dari responden adalah “tingkat kepuasan Anda dengan pengalaman liburan Anda ke Labuan Bajo”, menjelaskan bahwa responden memang cenderung amat sangat puas dengan pengalaman liburan yang didapatkan sewaktu berwisata ke Labuan Bajo. Pernyataan tersebut diikuti dengan jumlah hasil variasi jawaban responden (standar deviasi) adalah tergolong rendah, dimana rendahnya nilai ini disebabkan oleh jawaban responden yang cenderung homogen.

Tabel 4.26 Tanggapan Responden atas Tingkat Kepuasan secara Keseluruhan

(Overall Satisfaction) (Lanjutan)

C3

Tingkat kemungkinan Anda akan merekomendasikan Labuan Bajo sebagai tujuan destinasi wisata ke teman atau keluarga:

6.25 1.07 ASS C4 Tingkat kesediaan Anda untuk kembali ke Labuan Bajo di

waktu yang akan datang: 6.19 1.05 ASS

Mean Total

6.38 0.92 ASS

Referensi

Dokumen terkait

Chairul dkk (2013), perusahaan tidak melakukan pengadaan bahan baku yang berlebihan sehingga dapat mengurangi biaya penyimpanan sehingga perusahaan dapat mengalokasikan

pertumbuhan tanaman kacang tunggak sangat menunjang hama untuk menyerang, selama penelitian berlangsung tanaman masih berada pada stadia pertumbuhan vegetatif untuk masuk

berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang lebih dominan dalam kemampuan kerja karyawan adalah faktor keyakinan, keterampilan,

Dengan berkunjung ke museum terbuka Candi Bahal ini maka di dalam diri peserta didik akan tertanam: pertama karakter toleransi yakni menghormati orang lain yang

Melalui lagu model yang sering dinyanyikan oleh guru dan anak pada saat proses pembelajaran, diharapkan nilai karakter yang ada pada lirik lagu tersebut akan mampu

Maksud dari penulisan ini adalah sebagi studi awal dalam membuat suatu konsep perancangan interior rumah sakit ibu dan anak kususya ruang Tunggu pada instalasi rawat

Penentuan komposisi serta pemilihan jenis dari suatu lumpur pemboran yang akan digunakan pada pemboran suatu formasi tertentu harus tepat, sehingga dapat menunjang