• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sosial Ekonomi dan Politik Volume 1 Nomor 3 Oktober 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Sosial Ekonomi dan Politik Volume 1 Nomor 3 Oktober 2020"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

Asosiasi Sarjana Sosial, Ekonomi dan Politik Indonesia (ASSEPI)

Jurnal Sosial Ekonomi dan Politik

Volume 1 Nomor 3 Oktober 2020

Available online http://www.jsep.org/index.php/jsep/index

PEMBINAAN DAN DOKTRIN BELA NEGARA DALAM TINDAKAN PREVENTIF PADA TERORISME (STUDI KASUS BOM BUNUH DIRI SURABAYA) COACHING AND DOCTRIN OF STATE DEFENSE IN PREVENTIVE MEASURES OF

TERRORISM (CASE STUDY OF SURABAYA SUICIDES BOMBING) Moch. Ali Mashuri

1*

, Irna Tri Anjani

2

, Regita Safiira Adina

3

Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Indonesia Diterima: 16 April 2020; Disetujui: 13 Mei 2020; Dipublish: 1 Oktober 2020

*Coresponding Email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembinaan dan doktrin bela negara dalam tindakan preventif pada terorisme di Kota Surabaya. Manfaat penelitian yaitu untuk mengembangkan nilai-nilai bela negara terhadap masyarakat Kota Surabaya. Sehingga diperlukan adanya penguatan pembinaan dan doktrin Bela negara dalam tindakan preventif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif pendekatan studi kasus dengan teknik pengambilan data melalui literatur review. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang didapat dari artikel yang relevan, jurnal, buku dan media berita daring (dalam jaringan). Hasil penilitian yang dilakukan membuktikan bahwa pembinaan dan doktrin bela negara dengan pengamalan nilai-nilai pancasila menunjukan hasil yang baik. Hasil tersebut dapat diketahui dari meningkatnya partisipasi masyarakat Kota Surabaya dalam Pemilu Presiden 2019 (setelah kasus bom bunuh diri), sebesar 6,91% (enam koma sembilan puluh satu persen) lebih tinggi dari pada Pemilu Presiden 2014 ( sebelum kasus bom bunuh diri). Kesadaran berbangsa dan bernegara yang ditunjukkan warga Kota Surabaya lewat ikut aktif dalam organisasi kemasyarakat, profesi maupun politik. Ikut serta dalam pemilihan umum. Serta masyarakat Surabaya berpartisipasi aktif dalam pembangunan yang dilakukan di Kota Surabaya. Dengan adanya sikap dan praktik yang telah dilakukan warga Kota Surabaya dapat menjadi sebuah kekuatan tidakan preventif yang dapat dikembangkan di dalam masyarakat dalam mencegah aksi terorisme yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Kata Kunci: Pembinaan, Doktrin, Bela Negara.

Abstract

This study aims to find out how fostering and doctrine of national defense in preventive measures against terrorism in the city of Surabaya. The benefits of research are to develop the values of state defense towards the Surabaya Citizens. So it is necessary to strengthen coaching and doctrine of the Defending the country in preventive action. The method used in this research is a qualitative case study approach with data collection techniques through literature review. The data used are secondary data obtained from relevant articles, journals, books and online news media (in the network). The results of the research carried out prove that the development and doctrine of national defense by practicing the values of Pancasila show good results. These results can be seen from the increasing participation of the Surabaya City community in the 2019 Presidential Election (after the suicide bombing case), By 6.91% (six point ninety-one percent) higher than in the 2014 Presidential Election (before the suicide bombing case).

National and state awareness shown by Surabaya citizens through active participation in community, professional and political organizations. Take part in the general election. As well as the people of Surabaya actively participating in the development carried out in the city of Surabaya. With the attitudes and practices that have been carried out by Surabaya citizens, it can become a preventive action force that can be developed within the community in preventing acts of terrorism that can occur at any time.

Keywords: Forstering, Doctrine, National Defense.

How to Cite: (2020). Pembinaan dan Doktrin Bela Negara dalam Tindakan Preventif pada Terorisme

(Studi Kasus Bom Bunuh Diri Surabaya), Jurnal Sosial, Ekonomi, dan Politik (JSEP) 1(3):

(2)

2 PENDAHULUAN

Terorisme adalah suatu tindakan yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu ketenteraman. Terorisme adalah suatu cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain, dipicu oleh banyak hal, seperti; pertentangan (pemahaman) agama, ideologi dan etnis, kesenjangan ekonomi, serta tersumbatnya komunikasi masyarakat dengan pemerintah, atau karena adanya paham separatisme dan ideologi fanatisme (Manullang, 2001). Ungkapan Manulang didukung oleh hasil riset yang dilakukan oleh Indonesian Institute for Society Empowerment yang melakukan riset tentang motif terorisme yang terjadi di Indonesia, sebagaimana dalam diagram lingkaran berikut:

Sumber : Indonesian Institut For Society Empowerment (2012)

Dalam diagram tersebut, dapat diketahui bahwa sebesar empat puluh lima persen (45%) motif tindakan terorisme dilatar belakangi oleh ideologi agama. Rasa solidaritas komunal/komunitas menempati peringkat tertinggi ke dua sebagai motif terorisme sebesar dua puluh persen (20%), kemudian diikuti oleh Mob mentality di urutan ketiga sebesar tiga belas persen (13%). Motif balas dendam dalam terorisme menempati urutan ke empat dengan persentase sebesar sebelas persen (11%), yang kemudian diikuti oleh motif situasional sebesar sembilan persen (9%).

Dan yang terakhir yaitu motif separatisme sebesar dua persen (2%). Di negara

Indonesia sendiri aksi terorisme dapat dikatan bukan hal yang baru lagi. Hal ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas terorisme di Indonesia selama kurun waktu 2016-2019 dalam tabel berikut:

Jumlah Kasus Tahun

16 2016

17 2017

19 2018

9 2019

Sumber : liputan6.com, Merdeka.com, tribunnews.com, diolah.

Pada Tahun 2016, terdapat 16 kasus terorisme yang terjadi, dengan jumlah tersangka yang ditetapkan sebanyak 72, sedangkan pada tahun 2017 terdapat kasus terorisme sejumlah 17 kasus dengan tersangka yang ditetapkan sebanyak 176 tersangka. Pada tahun 2018 terjadi peningkatan kasus terorisme sebanyak 19 kasus dan tersangka yang ditetapkan sebanyak 396 tersangka. Dan pada tahun 2019 terdapat 9 kasus terorisme, menurun 10 kasus dengan tersangka yang ditetapkan sebanyak 279 tersangka.

Selain itu, maraknya warga indonesia yang pergi ke luar negeri untuk bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Al- Syam) menjadi sebuah fenomena yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Sebagaimana diungkap oleh Tobing &

Indradjaja (2019) “As the appeal of ISIS were spreading out, Indonesian jihadists started to actually join the fight,... The number kept growing that in 2017, Indonesian authority recorded that 671 Indonesians had tried to go to Syria, 99 of them were children”.

Maraknya dukungan warga indonesia

kepada ISIS tidak hanya dilakukan dengan

pergi langsung ke negara asalnya, namun

juga dibarengi dengan beberapa aksi

terorisme yang dilakukan oleh pihak-pihak

yang mengaku menjadi kaki tangan dari

ISIS. Salah satunya adalah jaringan Jamaah

Ansarul Daulat (JAD). Seperti diungkapkan

oleh Rijal(2017) ISIS telah memiliki

jaringan di Indonesia. Jaringan tersebut

(3)

3 bernama Jamaah Ansarul Daulat (JAD) yang merupakan gabungan dari sejumlah kelompok dan gerakan revivalisme Islam yang sebelumnya telah ada di Indonesia.

JAD menjadi salah satu kelompok terorisme yang mulai aktif beberapa tahun belakangan ini. Beberapa aksi teror yang dilakukan JAD yaitu bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga (pengikut JAD) di tiga gereja di Surabaya yang terjadi pada tahun 2018. Bom bunuh diri ini dilakukan di 3 gereja Katolik di Kota Surabaya yaitu Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Gereja Kristen Indonesian (GKI) Surabaya di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna. Ketiga Gereja Katolik ini termasuk gereja besar yang ada di Surabaya dan pada saat terjadi pengeboman sedang berlangsung kegiatan ibadah didalam 3 gereja tersebut.

Kejadian pengeboman pertama dilakukan oleh 2 orang kakak beradik di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela dengan menggunakan sepeda motor memasuki kompleks gereja dan kemudian meledak di antara para jemaat yang sedang berjalan kaki. Bom bunuh diri kedua dilakukan oleh tiga orang perempuan yang terdiri ibu dan 2 anaknya dengan menggunakan rompi dan berjalan kaki.

Yang ketiga dilakukan oleh kepala keluarga dengan menggunakan mobil di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Esoknya, Senin (14/05/2018) terjadilagiaksi bom bunuh diri yang juga melibatkan satu keluarga (anggota JAD) sebagai pelaku bom bunuh diri dimana bom tersebut dipasang pada sepeda motor, namun dengan target yang berbeda yaitu kepolisian tepatnya di Mako Polrestabes Surabaya. Kejadian ini terdapat 10 korban luka yakni 4 polisi dan 6 warga sipil, namun salah satu anak pelaku bom bunuh diri ini selamat karena terlempar dari sepeda motor saat bom meledak (liputan6.com). Pemerintah tentunya perlu memberikan berbagai upaya dalam menghadapi terorisme baik dalam bentuk

pencegahan (preventif), pengendalian, maupun pembinaan. Tindak terorisme yang sukar diprediksi sebelumnya tentunya menjadi hambatan pemerintah dalam melakukan penanganan aksi terorisme.

Kurangnya tindakan pencegahan yang dilakukan akan memperbesar celah terjadinya tindak terorisme. Ditambah dengan sulitnya deteksi untuk menemukan kelompok-kelompok seperti JAD. Dari data tersebut terjadi peningkatan aktivitas terorisme keagamaan tentunya mempertanyakan bagaimana bentuk pencegahan yang seharusnya dilakukan.

Tindakan pencegahan ini penting dalam melakukan deteksi dini akan kemungkinan adanya radikalisasi yang menjerumus pada tindakan terorisme. Upaya pencegahan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pembinaan dan doktrin. Pembinaan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan untuk membantu mencapai tujuan ofrganisasi Robert & John (2002). Selain pembinaan SDM, doktin juga merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk melawan paham radikalisasi.

Doktrin adalah ajaran. Ajaran itu

juga dapat disamakan dengan doktrin,

doktrin ini merupakan tampungan dari

norma sehingga doktrin menjadi sumber

hukum. Salah satu bentuk pembinaan dan

doktin yang dapat dilakukan melalui bela

negara. Bela negara adalah sikap dan

tindakan warga negara yang dilandasi rasa

cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan

bernegara, keyakinan Pancasila sebagai

ideologi bangsa dan negara, kerelaan

berkorban guna menghadapi setiap

ancaman, tantangan, hambatan dan

gangguan (ATHG) baik yang datang dari

dalam maupun dari luar yang

membahayakan kelangsungan hidup bangsa

dan Negara, keutuhan wilayah, yuridiksi

nasional dan nilai–nilai luhur Pancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945. Bentuk

doktrin bela negara dengan pendidikan bela

negara melalui baik pendidikan formal, non

formal maupun pendidikan informal.

(4)

4 Tujuannya untuk menumbuhkan rasa cinta warga negaranya akan negaranya sendiri.

KAJIAN TEORI Bela Negara

Bela Negara menurut pasal 27 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 berbunyi “Tiap- tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara".

Sedangkan dalam UU No. 3 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat (1) tentang Pertahanan Negara, upaya bela negara didefinisikan sebagai “Sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalammenjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Upaya belanegara, selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa”. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bela negara adalah kecintaan warga negaranya akan negaranya, tidak hanya mencintai negaranya saja tetapi meyakini ideologi negara dan menunjukkan sikap taat terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku di negaranya dalam rangka menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Bela negara bisa dilakukan melalui pendidikan formal, non formal maupun pendidikan informal. Selain itu, untuk menumbuhkan rasa cinta warga negaranya akan negaranya juga harus mengamalkan nilai-nilai bela negara dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Widodo (2011) Nilai-nilai bela negara yang telah dirumuskan tersebut terdiri dari:

1) Cinta Tanah Air, memiliki indikator:

a. Menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang wilayah Indonesia;

b. Jiwa dan raganya sebagai bangsa Indonesia;

c. Memiliki jiwa patriotisme terhadap bangsa dan negara;

d. Menjaga nama baik bangsa dan negara;

e. Memberikan konstribusi pada kemajuan bangsa dan negara.

2) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, memiliki indikator:

a. Ikut aktif dalam organisasasi kemasyarakat, profesi maupun politik b. Menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku;

c. Ikut serta dalam pemilihan umum;

d. Berpikir, bersikap, dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan Negara;

e. Berpartisipasi dalam menjaga kedautan bangsa dan negara.

3) Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara, memiliki indikator:

a. Memahami nilai-nilai dalam Pancasila b. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila

dalam kehidupan sehari-hari;

c. Menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara;

d. Senantiasa mengembangkan nilai- nilai Pancasila;

e. Yakin dan percaya bahwa pancasila sebagai dasar negara.

4) Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara, memiliki indikator:

a. Bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk kemajuan bangsa dan negara;

b. Siap membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman;

c. Berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara;

d. Yakin dan percaya bahwa pengorbanan untuk bangsa dan negaranya tidak sia-sia.

5) Memiliki Kemampuan awal Bela Negara, memili indikator:

a. Memiliki kecerdasan emosional dan spiritual serta intelegensia;

b. Senantiasa memelihara jiwa dan

raganya;

(5)

5 c. Senantiasa bersyukur dan berdo’a

atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan YME;

d. Gemar berolah raga;

e. Senantiasa menjaga kesehatan.

Definisi Pembinaan Sumber Daya Manusia

Pembinaan menurut Musanef (2000) adalah segala usaha tindakan yang berhubungan langsung dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan, pengembangan, pengarahan, penggunaan serta pengendalian segala-segala suatu secara berdaya guna dan berhasil guna.

Pembinaan bisa dikatakan sebagai sebuah proses, hasil atau pertanyaan menjadi lebih baik, untuk mewujudkan adanya perubahan, kemajuan, peningkatan, pertumbuhan, evaluasi atau berbagai kemungkinan atas sesuatu yang diinginkan.

Sumber daya manusia menurut Nawawi (1997) dalam Madya (2018) adalah manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi yang bisa disebut pegawai, personil, karyawan dan tenaga kerja. SDM juga dapat dikatakan sebagai potensi manusia untuk menggerakkan organisasi untuk mewujudkan eksistensinya.

Pembinaan sumber daya manusia adalah segala sesuatu usaha untuk membuat sumber daya manusia yang ada dapat berdaya guna dan berhasil guna, sehingga dapat berhasil mewujudkan kemungkinan atas sesuatu.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia dalam setiap organisasi, meskipun telah melalui tahap seleksi yang baik tetapi dalam pelaksaan tugas dan tanggung jawabnya akan selalu menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikannya sendiri dan membutuhkan bantuan SDM lainnya. Sehingga SDM memerlukan manajemen untuk mengelola suatu SDM tersebut. Manajemen Sumber Daya Manusia menurut Priyono & Marnis (2008) adalah untuk merencanakan,

mengelola dan mengendalikan sumber daya manusia dibutuhkan suatu alat manajerial yang disebut manajemen sumber daya manusia (MSDM). Manajemen Sumber Daya Manusia juga bisa dikatakan sebagai suatu prosedur yang berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk mengisi suatu organisasi dengan orang-orang yang tepat dan untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu prosedur untuk merencanakan, mengelola dan mengdendalikan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi.

Terorisme

Terorisme adalah suatu tindakan

yang menyebabkan ketidaknyamanan dan

mengganggu ketenteraman. Terorisme

adalah suatu cara untuk merebut

kekuasaan dari kelompok lain, dipicu oleh

banyak hal, seperti; pertentangan

(pemahaman) agama, ideologi dan etnis,

kesenjangan ekonomi, serta tersumbatnya

komunikasi masyarakat dengan

pemerintah, atau karena adanya paham

separatisme dan ideologi fanatisme

(Manullang, 2001). Sekelompok teroris

selalu berpikir bahwa apa yang dilakukan

merupakan hal yang benar dan menyebut

kelompok mereka dengan jihad. Sedangkan

menurut Wardlaw (1989) dalam Mubarak

(2012) terorisme politik adalah

penggunaan, atau tercirikan oleh

penggunaan, kekerasan oleh individu atau

kelompok, baik bertindak atas nama

pemerintah atau berlawanan terhadap

pemerintah, manakala tindakan-tindakan

itu dirancang untuk menciptakan

ketakutan yang ekstrem dan atau

ketakutan-ketakutan pada sasaran yang

lebih besar daripada korban-korban yang

menjadi sasaran langsung dengan tujuan

untuk menekan kelompok-kelompok yang

menjadi sasaran itu untuk memenuhi

tuntutan-tuntutan politik pelakunya.

(6)

6 Undang-Undang (PERPU) Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 yang kemudian diperkuat menjadi Undang- Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 bahwa terorisme merupakan kejahatan lintas negara, terorganisasi, dan mempunyai jaringan luas sehingga mengancam perdamaian dan keamanan nasional maupun internasional. Terorisme tidak hanya mengancam nyawa banyak orang tetapi juga mengancam kedaulatan, perdamaian dan keamanan suatu negara.

Sedangkan menurut UU No. 5/2018 tentang Perubahan atas UU No.15/2003 tentang Penetapan PERPU No.1/2002 Menjadi UU No. 5/2018, 2018 Pasal 1 memberikan pengertian tentang terorisme yaitu :

“Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.”

Tindakan Preventif

Tindakan Preventif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tindakan preventif adalah bersifat mencegah (supaya jangan terjadi apa-apa). Tindakan preventif bisa dikatakan sebagai suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi suatu hal yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan tidak diinginkan di masa yang akan datang.

Tindakan preventif bisa dilakukan secara pribadi atau berkelompok. Tindakan preventif mempunyai tujuan untuk mencegah serta mengurangi kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan. Hanafi (2014) menjelaskan, upaya preventif ini juga diharapkan mampu mencegah hilangnya satu aliran karena dilenyapkan oleh aliran keagamaan dan menangkal arogansi aliran keagamaan arus utama

yang seringkali tergoda atau secara historis-empiris melakukan pelecehan dan penindasan aliran atau agama lain.

Kebijakan atau tindakan preventif tidak menghapus hukum pidana dan tidak diproses dengan hukum pidana, namun sebagai upaya integral ke arah penghapusan faktor-faktor potensial penyebab timbulnya aliran dan kekerasan agama di Indonesia.

METODE PENELITIAN

Masyhuri & M. Zainuddin (2008) penelitian kualitatif adalah penelitian yang pemecahan masalahnya dengan menggunakan data empiris baik pada penelitian kuantitatif maupun kualitatif desainnya sama, yang membedakan adalah kemauan dan kepentingan peneliti itu sendiri. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan suatu keadaan fenomena sosial yang memiliki kualitas atau keistimewaan sendiri.

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini melalui pendekatan studi kasus dengan teknik pengambilan data melalui literatur review. Data yang diambil merupakan data sekunder yang didapat dari artikel yang relevan, jurnal, buku dan media berita online.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Terorisme dan Memahami Nilai-nilai dalam Pancasila

Aksi bom bunuh diri yang terjadi di

Surabaya sangat memprihatinkan dan

tidak bisa untuk ditoleransi. Terorisme

merupakan sebuah ancaman yang harus

dihancurkan, karena membahayakan

kehidupan umat manusia. Terorisme

membuat orang lain tidak aman, tidak

nyaman, selalu diselimuti oleh rasa

ketakutan serta dapat mengacaukan

sistem sosial dan hukum yang telah ada di

Indonesia. Pancasila sebagai pilar bangsa

Indonesia harus mampu dipahami oleh

(7)

7 seluruh bangsa dan lapisan masyarakat Indonesia. Pancasila juga sebagai ideologi bangsa Indonesia dan diharapkan untuk mampu menjadi jawaban atas persoalan- persoalan terorisme yang ada di Indonesia.

Penyebaran paham-paham radikal yang mendorong aksi terorisme semakin mudah ditemukan melalui akses internet, hal tersebutyang dapat membuat warga Indonesia semakin goyah akan ideologi Pancasila. Selain itu, Pancasila juga sebagai petunjuk dan pandangan hidup masyarakat Indonesia agar dapat bertindak dan berbuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Munculnya aksi terorisme di Indonesia dapat disebabkan karena bangsa Indonesia melupakan nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, yang mempunyai nilai positif sebagai upaya untuk pencegahan aksi terorisme.

Pelaku terorisme saat ini menyalahi nilai- nilai yang ada di dalam Pancasila, terutama sila Pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki arti bahwa setiap warga negara yakin pada Sang Pencipta, sehingga dapat menghindari aksi terorisme dan kekerasan atas nama agama, saling menghormati dan dapat bekerjasama antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila Kedua yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Setiap warga negara harus saling menghargai harkat dan martabat orang lain, tidak menghina atau melakukan ancaman atau teror.

Harkat dan martabat manusia dijunjung dengan cara yang adil dan beradab. Sila Ketiga yaitu Persatuan Indonesia.

Persatuan Indonesia dengan cara mengimplementasikan sila ketiga pancasila dalam kehidupan berbangsa dan benegara seperti mengedepankan rasa kebangsaan bersama untuk mempersatukan warga negara Indonesia, tujuannya agar aksi terorisme dapat diatasi.

Implementasi Penguatan Nilai-nilai Bela Negara berupa Kesadaran Berbangsa dan Bernegara di Surabaya

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan bahwa terdapat beberapa kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat Kota Surabaya, adanya kesadaran berbangsa dan bernegara yang dimiliki oleh masyarakat Kota Surabaya yaitu dengan Ikut aktif dalam organisasi kemasyarakat, profesi maupun politik, Ikut serta dalam pemilihan umum. Dalam implementasinya masyarakat Kota Surabaya menunjukkan bentuk implementasi bela negara berupa kesadaran berbangsa dan bernegara dalam indikator sebagai berikut:

Berpartisipasi Aktif dalam Organisasi Kemasyarakatan

Masyarakat Kota Surabaya merupakan masyarakat yang aktif dalam mengikuti berbagai aktivitas kemasyarakatan. Sekitar 2.500 prajurit antap, prajurit siswa dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) berada di lingkungan Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut (Koduklatal) menggelar peringatan Hari Bela Negara ke- 71 tahun 2019 (harianpelita.co).

Peringatan tersebut dipimpin oleh Direktur Doktrin (Dirdok) Kodiklatat Laksma TNI Antongan Simatupang yang dilaksanakan di lapangan Laut Maluku Kesatrian Bumimoro Kodiklatal Surabaya.

Hari Bela Negara diwali saat Mr.

Syafroedin Prawiranegara mendirikan

Pemerintah Darurat Republik Indonesia

(PDRI) pada tanggal 19 Desember 1945 di

Bukittinggi yang memiliki tujuan untuk

membela kelangsungan hidup bangsa dan

negara, menunjukkan kepada dunia bahwa

Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap

dan akan terus eksis untuk selama-

lamanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa

era globalisasi saat ini dapat

mendatangkan berbagai ancaman yang

dihadapi bangsa dan negara Indonesia,

(8)

8 karena semakin hari semakin beragam bentuknya, tidak hanya perang militer tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, tidak hanya militer yang memiliki peran membangun ketahanan Negara Indonesia, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali demi kelangsungan hidup dan keuntuhan NKRI.

Ikut Serta Dalam Pemilihan Umum 2019 Di Kota Surabaya

Sumber: KPU Kota Surabaya Pemilu Tahun 2019

Dari data yang diperoleh oleh penulis bahwa adanya peningkatan partisipasi masyarakat Kota Surabaya dalam Pemilihan Umum 2019 dibandingkan Pemilihan Umum tahun 2014. Berdasarkan data yang diperoleh disebutkan bahwa pada tahun 2014 jumlah DPT pengguna hak pilih memiliki persentase Partisipasi masyarakat (Parmas) sebesar 69,80% sementara pada tahun 2019 jumlah DPT pengguna hak pilih meningkat menjadi 76,71% dan selisih Partisipasi masyarakat DPT pengguna hak adalah sebesar 6,91%. Pada pemilihan DPR RI tahun 2014 sebesar 61,6% dan pada tahun 2019 menjadi 75,93%. Pemilihan DPD pada tahun 2014 sebesar 61,61% dan pada tahun 2019 meningkat menjadi 76,21%. Sementara pada DPRDP Provinsi, DPT Pengguna hak pilih pada tahun 2014 sebesar 61,61% dan meningkat menjadi 75,90%. Terakhir pemilihan pada DPRD Kota tahun 2014 sebesar 61,58% dan meningkat menjadi

75,85%. Dan perbandingan selisih Parmas Pemilu dari tahun 2014 dan tahun 2019, yaitu DPR RI (14,33%), DPD (14,60%), DPRD Provinsi (14,29%), DPRD Kota (14,27). Sedangkan pada pemilihan Gubernur Jawa Timur pada tahun 2013, partisipasi masyarakat kota Surabaya sebesar 53,67%, dan di tahun 2018, terjadi kenaikan walaupun tidak signifikan sebesar 3,59% menjadi 57,26%. Dari data diatas dapat disimpulkan besarnya partisipasi dan harapan warga Surabaya pada pemimpin yang akan memimpin nanti. Besarnya tingkat kenaikan partisipasi masyarakat di kota Surabaya tidak lepas dari pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Pemerintah Kota Surabaya sebagai salah satu pihak yang terus berupaya dalam meningkatkan pastisipasi masyarakat dalam pemilu 2019 yang lalu.

Pemkot Surabaya berusaha memaksimalkan dengan membuka program perekaman e-KTP sampai tanggal 31 Maret 2019, ini mendorong masyarakat dapat untuk menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi 2019. Risma, Walikota Surabaya mengatakan, "Karena kami tidak ingin ada alasan lagi warga Surabaya tidak bisa mencoblos karena tidak punya e-KTP," sebagaimana dikutip dari Prastiwi (2019). Tentu saja hal ini penting untuk dilakukan dimana masyarakat akan memilih pemimpin bangsanya dan juga perwakilannya dilegislatif yang akan menentukan nasib bangsa ini selanjutnya.

Langkah pengupayaan peningkatan

partisipasi masyarakat datang dari pihak

lain, yakni masyarakat itu sendiri. Salah

satunya berasal dari Wahyu Darmawan

sebagaimana dikutip dari Meilisa (2019),

yang merupakan pemilik kedai jajanan

tradisional ketan punel. Wahyu

menyatakan bahwa ia ingin mengapresiasi

konsumennya yang menggunakan hak

pilihnya dengan memberikan ketan secara

cuma-cuma dimana konsumen tersebut

hanya perlu untuk menunjukkan jari

dengan bekas tinta sebagai tanda ikut

(9)

9 berpartisipasi dalam pemilu dan bersedia difoto dan di upload di media sosial.

Bawaslu Surabaya sebagai lembaga pengawas penyelenggaraan pemilu juga melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, seperti kegiatan #Bawaslusby_fest_2019 yang akan digelar selama Maret 2019 (Handayani, 2019). Terdapat dua kegiatan

utama dalam kegiatan

#Bawaslusby_fest_2019 meliputi “Bawaslu Goes to campus” yang akan digelar pada awal pekan Maret dan “Ngopi Bareng Bawaslu” digelar pekan ketiga Maret.

Bawaslu Surabaya menargetkan terciptanya kader pengawas Pemilu 2019 dari mahasiswa di lima Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Surabaya melalui kegiatan tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa adanya kerja sama berbagai pihak dalam melakukan pembinaan dan doktrin untuk upaya meningkatkan partisipasi masyarakat Kota Surabaya dalam pemilu 2019. Upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemilu merupakan upaya pembinaan dan doktrin akan nilai-nilai bela negara.

Implementasi Penguatan Nilai-nilai Bela Negara berupa Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara di Surabaya

Berdasarkan studi yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa pembinaan dan doktrin bela negara, menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan, antara lain masyarakat Surabaya berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Pentingnya partisipasi masyarakat Surabaya sangat dibutuhkan dalam setiap pembangunan yang terus menerus terjadi di Kota Surabaya.

Pembangunan yang dilakukan di Kota Surabaya bertujuan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan warga Surabaya. Demokrasi secara langsung telah memunculkan figur alternatif, memberdayakan, memberikan kesempatan bagi semua warga tanpa

terkecuali, transparansi dan kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan bagi warga Surabaya. Dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan kunci utama untuk menarik partisipasi masyarakat di dalam pembangunan yang dilakukan seperti adanya pendidikan gratis dan fasilitas kesehatan yang sangat memadai, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi warga Surabaya di dalam pembangunan. Adanya pemenuhan kebutuhan pokok ditunjang dengan fasilitasi teknologi IT melalui penyediaan WiFi gratis di tempat-tempat umum dan broadband centers serta adanya transparansi di dalam tatakelola keuangan pemerintah telah mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kota Surabaya.

Serta adanya kerja sama Public Private Partnership (PPP), inklusivitas pembangunan dengan mengikutsertakan kaum terpinggirkan untuk ikut aktif dalam pembangunan, dorongan bagi UKM dan sektor informal melalui akses terhadap teknologi dan keuangan. Dengan adanya kemauan politik (political will) serta adanya komitmen yang kuat para pemimpin daerah untuk memajukan berbagai kepentingan warga atau masyarakatnya merupakan faktor signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

SIMPULAN

Pembinaan dan doktrin Bela Negara

masyarakat Kota Surabaya ditunjukkan

lewat sikap dan praktik. Maka dapat

disimpulkan sebagai berikut. Pertama,

memahami nilai-nilai dalam Pancasila

yang ditunjukkan dengan menghindari

kekerasan antar agama, saling menghargai

harkat dan martabat orang lain. Hal

tersebut menunjukkan adanya sikap

persatuan masyarakat Kota Surabaya di

tengah berbagai perbedaan etnis maupun

agama. Kedua, Kesadaran berbangsa dan

bernegara yang ditunjukkan warga Kota

Surabaya lewat ikut aktif dalam organisasi

(10)

10 kemasyarakat, profesi maupun politik. Ikut serta dalam pemilihan umum. Serta masyarakat Surabaya berpartisipasi aktif dalam pembangunan yang dilakukan di Kota Surabaya. Dengan adanya sikap dan praktik yang telah dilakukan warga Kota Surabaya dapat menjadi sebuah kekuatan tidakan preventif yang dapat dikembangkan di dalam masyarakat dalam mencegah aksi terorisme yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Fathoni, M. (2019). Laporan Akhir Tahun 2019, Kapolri Nyatakan Kasus Terorisme di Indonesia Menurun 52,6 Persen. Tribun Jogya.

Hanafi. (2014). UPAYA PREVENTIF DALAM MENGANTISIPASI KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA ( ALIRAN SESAT ). Al- Ilkom, 9(2), 366–390.

Haryanto, A. (2018). 10 Korban Luka Bom Polrestabes Surabaya, 4 Polisi dan 6 Warga.

Liputan 6.

Madya, E. B. (2018). Pentingnya Pembinaan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Dakwah. Al- Idarah: Jurnal Pengkajian Dakwah Dan

Manajemen, 5(6), 1–12.

https://doi.org/10.37064/AI.V5I6.4828 Manullang, A. C. (2001). Menguak Tabu Intelijen

Teror, Motif dan Rezim. Jakarta: Panta Rhei.

Masyhuri, & M. Zainuddin. (2008). Metodologi Penelitian - Pendekatan Praktis dan Aplikatif (M. R. Arken (Ed.)). Bandung: Refika Aditama.

Mubarak, Z. (2012). Fenomena Terorisme di Indonesia : Kajian Aspek Teologi, Ideologi dan Gerakan. Jurnal Studi Masyarakat Islam, 15(2), 240–254.

Musanef. (2000). Manajemen Kepegawaian Di Indonesia. Jakarta: Haji Masagung.

Prajurit dan PNS Kodiklatal Peringati Hari Bela Negara ke-71 Tahun 2019. (2019).

Harianpelita.Co.

http://harianpelita.co/2019/12/19/prajurit- dan-pns-kodiklatal-peringati-hari-bela- negara-ke-71-tahun-2019/

Priyono, & Marnis. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia (1st ed., Issue July). Zifatama.

Putra, N. P. (2018). Kapolri Tito Sebut Aksi Teror Naik 42 Persen Sepanjang 2018, 396 Teroris Dibekuk. Merdeka.Com.

Rijal, N. K. (2017). Eksistensi dan Perkembangan ISIS: Dari Irak Hingga Indonesia. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 13(1), 45.

https://doi.org/10.26593/jihi.v13i1.2670.45 Robert, M., & John, J. (2002). Manajemen Sumber -60

Daya Manusia. Jakarta: Salemba Empat.

Tingkat Partisipasi Masyarakat Kota Surabaya Pemilu Tahun 2019. (n.d.). https://kpu- surabayakota.go.id/tingkat-partisipasi- masyarakat-kota-surabaya-pemilu-tahun- 2019/

Tobing, F. B. L., & Indradjaja, E. (2019). Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) and Its Impact in Indonesia. Global: Jurnal Politik

Internasional, 21(1), 101.

https://doi.org/10.7454/global.v21i1.365 Undang-Undang (PERPU) Republik Indonesia

Nomor 1 Tahun 2002 yang kemudian diperkuat menjadi Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003, (2003).

UU No. 5/2018 tentang Perubahan atas UU No.15/2003 tentang Penetapan PERPU No.1/2002 Menjadi UU No. 5/2018, 1 (2018).

Widodo, S. (2011). Implementasi Bela Negara Untuk Mewujudkan Nasionalisme. Jurnal Ilmiah CIVIS, I(1), 18–31.

Wursanto, I. G. (1989). Manajemen Kepegawaian.

Yogyakarta: Kanisius.

Referensi

Dokumen terkait

Hal penting yang harus pula menjadi perhatian pengambil kebijakan/pemerintah adalah bahwa semua orang (warga) mempunyai hak yang samadan tidak harus dibedakan

Sebagian besar pelaksanaan posyandu pada kegiatan preventif pada kategori baik yaitu sebanyak 22 responden (44%) dimana kader melakukan kegiatan preventif dalam

Setelah potensi arahan kawasan untuk dikembangkan menjadi TOD sudah ditentukan, tentunya diperlukan beberapa perbaikan. Perbaikan yang dimaksud yaitu terkait dengan performa

Akan tetapi mengalami penurunan nilai rata-rata kekuatan tarik sebesar 36.1 MPa atau 5.65 % dari nilai rata-rata kekuatan tarik pengelasan back chipping dengan kedalaman alur

Survey dilakukan terhadap Posyandu di wilayah Kota Surabaya yang mempunyai katagori Posyandu Merah di wilayah atau kantong kemiskinan di Kota Surabaya yang

Manfaat yang dirasakan berkaitan dengan sikap dan perilaku yang dilakukan Masyarakat Desa Mire dalam memanfaatkan sumber daya hutan, pengetahuan masyarakat

Namun, besarnya permintaan dari masyarakat di Surabaya serta keberadaan desainer furnitur atau produk olahan rotan di Surabaya yang masih sangat minim keberadaannya sehingga

Guna mengetahui tingkat efektivitas dalam pemberlakuan jam operasional yang diterapkan pada kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat mikro bagi sektor UMKM