1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan suatu kawasan metropolitan selaras dengan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur kota (Yuliani, 2019). Infrastruktur yang memiliki pengaruh erat pada suatu kota adalah infrastruktur jalan. (Putri et al., 2020). Terdapat berbagai bentuk infrastruktur jalan, salah satunya berupa infrastruktur jalan tol (Suprayitno, 2012). Pembangunan infrastruktur jalan tol dapat meningkatkan aksesibilitas antar wilayah (Hilmansyah, 2018) yang memiliki kaitan erat dengan perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi disuatu wilayah (Fitriana et al., 2017).
Perubahan kondisi sosial direpresentasikan melalui jumlah penduduk dan perubahan ekonomi direpresentasikan melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan, perubahan penggunaan lahan dapat diketahui dari data jumlah lahan terbangun berupa permukiman, perdagangan dan jasa serta industri (Hilmansyah, 2018) khususnya yang berada disekitar pintu masuk dan pintu keluar gerbang tol (Yunanto & Susetyo, 2019). Namun, seiring dengan perubahan penggunaan lahan terbangun yang terus bertambah, jumlah ketersediaan lahan tersebut tetap dan terbatas.
Sehingga dapat menimbulkan ketidaksesuaian peruntukan penggunaan lahan dengan rencana peruntukannya (Khadiyanto, 2005 dalam Eko & Rahayu, 2012). Oleh sebab itu, maka perlu diatur dengan baik peruntukan perubahan penggunaan lahan agar sesuai dengan yang telah direncanakan (Eko & Rahayu, 2012).
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan lokasi studi di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung. Pemilihan lokasi studi di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung didasari oleh urgensi bahwa Kawasan Metropolitan Patungraya Agung ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) khususnya aspek ekonomi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017.
Kawasan Strategis Nasional merupakan wilayah yang diprioritaskan dalam penataan
2
ruang karena memiliki pengaruh sangat penting dalam kedaulatan, pertahanan dan keamanan, ekonomi, sosial, budaya serta lingkungan dalan suatu negara (Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007). Selain itu, Kawasan Metropolitan Patungraya Agung menjadi salah satu kawasan metropolitan prioritas yang difokuskan untuk meningkatkan perekonomian dimasa pandemi (Cipta Karya, 2020). Penetapan Kawasan Metropolitan Patungraya Agung sebagai Kawasan Strategis Nasional dan kawasan metropolitan prioritas dapat menarik pertumbuhan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi. Hal tersebut dapat diketahui dari meningkatnya jumlah penduduk berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan yang berjumlah 96.721 jiwa dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir serta meningkatnya beberapa sektor PDRB.
Oleh sebab itu, dibutuhkan representasi yang dapat mengidentifikasi pengaruh pembangunan infrastruktur jalan tol terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi serta kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provisi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung yang meliputi Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Untuk mengetahui pengaruh infrastruktur jalan tol, maka digunakan variabel penentu berupa Jalan Tol Palindra yang meliputi Jalan Tol Palembang - Indralaya dan Jalan Tol Kayu Agung – Jakabaring yang merupakan fase pertama proyek pembangunan infrastruktur Jalan Tol Kapalbetung meliputi Jalan Tol Kayu Agung - Palembang – Betung serta menggunakan data citra landsat 8 OLI/TIRS dengan titik tahun 2013 dan 2019.
Diharapkan bahwa hasil identifikasi perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi yang telah dilakukan dapat menjadi masukan dalam merencanakan arahan kebijakan untuk mencegah adanya pelanggaran lahan terbangun yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung. Pencegahan pelanggaran lahan tersebut dilakukan agar menghasilkan pemanfaatan ruang yang berhasil dan berdaya guna, mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, menghindari terjadinya pemborosan
3
pemanfaatan ruang serta menghindari terjadinya penurunan kualitas ruang (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2007). Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi stakeholder guna mengambil keputusan dalam memantau perubahan penggunaan lahan terbangun sesuai dengan peruntukan lahan dan ketentuan yang telah direncanakan.
1.2 Rumusan Masalah
Pembangunan infrastruktur jalan tol, dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi. Sedangkan, jumlah lahan tetap namun kebutuhan akan lahan terus bertambah. Sehingga akan menimbulkan permasalahan baru berupa pelanggaran lahan terbangun jika tidak diatur sesuai dengan peruntukan yang telah direncanakan. Pengaturan peruntukan penggunaan lahan perlu dilakukan agar menghasilkan pemanfaatan ruang yang berhasil dan berdaya guna, mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, menghindari pemborosan pemanfaatan ruang serta menghindari terjadinya penurunan kualitas ruang (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2007). Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana perubahan penggunaan lahan terbangun, penduduk dan ekonomi akibat adanya pembangunan infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung?
2. Bagaimana identifikasi kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036?
1.3 Tujuan dan Sasaran
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan dan sasaran penelitian sebagai berikut:
4 1.3.1 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut “Mengidentifikasi pengaruh pembangunan infrastruktur jalan tol terhadap perubahan jumlah penduduk, ekonomi dan penggunaan lahan terbangun serta identifikasi kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung”
1.3.2 Sasaran
Adapun sasaran untuk mencapai tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk, ekonomi akibat adanya pembangunan infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
2. Mengidentifikasi kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036
1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada penelitian ini meliputi ruang lingkup materi, batasan penelitian dan ruang lingkup wilayah
1.4.1 Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup materi pada penelitian ini adalah jumlah penduduk, ekonomi dan perubahan penggunaan lahan dengan faktor pendorong berupa infrastruktur jalan tol. Berikut adalah keterangan dari ruang lingkup materi:
a. Jumlah penduduk terdiri atas jumlah penduduk per unit kecamatan b. Ekonomi terdiri atas PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010 c. Perubahan penggunaan lahan terdiri atas lahan terbangun, lahan non
terbangun dan badan air
5 1.4.2 Batasan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat batasan yang disebabkan oleh keterbatasan metode penelitian, metode analisis data, data citra satelit, hingga literatur studi.
Berikut adalah penjelasan dari batasan penelitian:
a. Fokus dalam penelitian ini untuk melihat perubahan terutama pada kecamatan yang memiliki gerbang tol
b. Titik waktu pengamatan yang digunakan pada penelitian ini pada tahun 2013 hingga tahun 2019. Titik waktu pengamatan tahun 2013 dipilih karena merupakan titik awal landsat 8 OLI/TIRS. Sedangkan, titik waktu pengamatan tahun 2019 dipilih karena titik waktu tersebut memiliki tingkat kejernihan citra landsat yang baik
c. Tujuan penelitian tidak mengidentifikasi peramalan perubahan penggunaan lahan dimasa mendatang. Namun, hanya berbatas pada kondisi eksisting berupa identifikasi infrastruktur jalan tol dan kesesuaian terhadap Rencana Pola Ruang Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 akibat keterbatasan literatur studi yang kurang memadai
1.4.3 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah pada penelitian ini adalah Kawasan Metropolitan Patungraya Agung meliputi Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin khususnya wilayah yang terletak disekitar gerbang tol
6
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Selatan, 2016 - 2036
GAMBAR 1.1 Peta Administrasi Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
7 1.5 Studi Terdahulu
Studi terdahulu berisi literatur mengenai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk mengetahui persamaan maupun perbedaan bidang kajian yang diteliti sebagai referensi kedalaman materi. Berikut adalah daftar studi terdahulu yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini
TABEL I.1 Studi Terdahulu
No Nama
Penelitian
Judul Penelitian
Metode Analisis Penelitian
Studi Kasus Penelitian
Kesimpulan Penelitian
1
Hilmi Hilmansy ah dan Iwan Pratoyo Kusumant oro, Dr., Ir., MT.
Identifikasi Dampak Akses Jalan Tol Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Tembalang
Cellular Automata (CA)
Kota Semarang Khususnya Kecamatan Tembalang
Pertumbuhan lahan terbangun di Kota Semarang dari tahun 1998-2018 berkembang pesat setelah dikaji bersamaan dengan historis pembangunan tol di Kota Semarang
2 M Pratami, D.
Susiloning tyas dan Supriatna
Modelling cellular automata for the
development of settlement area Bengkulu City
Cellular Automata (CA)
Kota Bengkulu
Permukiman perubahan tutupan lahan meningkat 1.675,74 ha. Perkembangan kawasan pemukiman pada tahun 2032 mengarah ke Utara Muara Bangkahulu dan Kecamatan Selebar Timur
3 Sidik Rahmatul Fadilah, Masita Dwi Mandini Manessa, Rudie Rachmat Atmawidj aja
Ekstraksi Data Kedalaman Menggunakan Data Citra Landsat-8
Regresi Linier Berganda
Perairan Pulau Bawean (2016, 2017, 2018)
Diketahui nilai akurasi prediksi kedalaman berdasarkan
citra Landsat-8 memiliki nilai RMSE
3.584354 s/d 4.490031 m dan R2 0.8455
s/d 0.7789. Dimana akurasi terbaik di
dapatkan saat kondisi bebas awan
8
No Nama
Penelitian
Judul Penelitian
Metode Analisis Penelitian
Studi Kasus Penelitian
Kesimpulan Penelitian
4 Ahmad Cahyadi, Dhandhun Wacano, Ardila Yananto dan Muh Sufwandi ka Wijaya
Keterbatasan dan Kendala- Kendala dalam Prediksi Penggunaan Lahan Masa Depan Menggunakan Metode Cellular Automata
Cellular Automata (CA)
Daerah Aliran Sungai (DAS) Darang (2015)
Diketahui bahwa Keterbatasan dari metode cellular automata adalah tidak dapat mengakomodasi keberadaan pusat
perkembangan kota baru, seperti berdirinya kampus, pusat pertokoan dan sebagainya dan hanya menggunakan regresi linier sehingga hasilnya akan sesuai dengan
kecenderungan dari citra multitemporal yang digunakan dalam analisis Sumber: Hasil Analisis, 2021
Berdasarkan literatur studi yang digunakan, terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan sebagai berikut
TABEL I.2 Persamaan dan Perbedaan Studi Terdahulu Persamaan Penelitian Perbedaan Penelitian 1. Penelitian dilakukan untuk
mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan
1. Metode analisis yang digunakan berupa Celullar Automata (CA) 2. Penggunaan Geographic
Information System (GIS) sebagai data analisis
2. Titik Waktu Pengamatan
3. Mengidentifikasi pengaruh infrastruktur jalan tol terhadap penggunaan lahan terbangun, kondisi kependudukan dan ekonomi
3. Dilakukan pemodelan perubahan lahan terbangun dimasa mendatang
4. Lokasi studi penelitian
Sumber: Hasil Analisis, 2021
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini ditunjukan kepada akademisi, masyarakat dan pemerintah sebagai berikut:
1. Bagi akademisi, diharapkan dapat menghasilkan informasi terkait perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi akibat
9
infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung yang dapat dikaji sebagai literatur studi maupun pemahaman bagi akademis
2. Bagi masyarakat, diharapkan dapat menghasilkan pemahaman terkait perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi akibat infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
3. Bagi pemerintah, diharapkan dapat memberikan masukan untuk melakukan tindakan monitoring dan pengambilan arahan kebijakan terkait perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi akibat infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung agar sesuai dengan kebijakan peruntukan lahan yang telah direncanakan
1.7 Kerangka Berpikir
Mengidentifikasi pengaruh infrastruktur jalan tol terhadap perubahan jumlah penduduk, ekonomi dan penggunaan lahan terbangun serta identifikasi kesesuaian perubahan lahan terbangun terhadap Rencana Pola
Ruang Provinsi Sumatera Selatah Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun 2013 - 2019 Perubahan Jumlah Penduduk
Tahun 2013 - 2019
Perubahan Ekonomi Tahun 2013 - 2019
Citra Satelit 8/OLI Kawasan Metropolitan Patungraya Agung 2013 -
2019
Klasifikasi Terbimbing
Uji Validasi Hasil Klasifikasi
>80% <80%
Ulangi Klasifikasi
Hasil Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun Tahun 2013 – 2019 Rencana Pola Ruang
Prov. Sumatera Selatan Tahun 2013 – 2019 Data Jumlah Penduduk Tahun
2013 - 2019 Data PDRB Tahun 2013 - 2019
Hasil Perubahan Jumlah Penduduk Tahun 2013 - 2019
Hasil Perubahan PDRB Tahun 2013 - 2019
Identifikasi pengaruh infrastruktur jalan tol terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi serta identifikasi kesesuaian perubahan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
Bagaimana perubahan penggunaan lahan terbangun, penduduk dan ekonomi dengan adanya infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung?
Bagaimana identifikasi kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036?
Infrastruktur jalan tol meningkatkan aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan erat dengan perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi
Perlu representasi pengaruh infrastruktur jalan tol terhadap perubahan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi untuk menjadi masukan dalam merencanakan arahan kebijakan di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung agar sesuai dengan rencana peruntukkan yang telah ditetapkan
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.2 Kerangka Berpikir
10 1.8 Metodologi Penelitian
1.8.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deduktif kualitatif. Penelitian deduktif kualitatif merupakan jenis penelitian yang digunakan untuk menemukan permasalahan dilapangan kemudian dihasilkan kerangka penelitian dan diolah secara kuantitatif untuk menentukan hasil yang kualitatif (Setyowati, 2017).
1.8.2 Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang dipilih telah disesuaikan dengan tujuan, sasaran dan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut adalah variabel penelitian yang digunakan
TABEL I.3 Variabel Penelitian
No Sasaran Variabel Sub Variabel
1
Identifikasi perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk, ekonomi akibat
adanya infrastruktur jalan tol
Lahan Terbangun
Kawasan perumahan dan permukiman, industri, kawasan pendidikan, komersial, dan campuran
2 Jumlah Penduduk Jumlah penduduk per unit
kecamatan
3 Ekonomi
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010 per
Kabupaten/Kota 4 Identifikasi kesesuaian
perubahan penggunaan lahan terbangun terhadap
Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan
Tahun 2016 – 2036
Lahan Terbangun
Tahun 2019 Luas Lahan Terbnngun
5
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 - 2036
Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 - 2036
Sumber: Hasil Analisis, 2021
11 1.8.3 Lokasi Penelitian
Lokasi pada penelitian ini terletak di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung yang meliputi 73 kecamatan yang terdapat di Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Berikut adalah pembangian kecamatan di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
TABEL I.4 Lokasi Penelitian No Kabupaten/Kota Kecamatan
1
Kota Palembang
Ilir Barat II
2 Gandus
3 Seberang Ulu I
4 Kertapati
5 Jakabaring
6 Seberang Ulu II
7 Plaju
8 Ilir Barat I
9 Bukit Kecil
10 Ilir Timur I
11 Kemuning
12 Ilir Timur II
13 Kalidoni
14 Ilir Timur Tiga
15 Sako
16 Sematang Borang
17 Sukarami
18 Alang-Alang Lebar
19
Kabupaten Ogan Ilir
Muara Kuang
20 Rambang Kuang
21 Lubuk Keliat
22 Tanjung Batu
23 Payaraman
24 Rantau Alai
25 Kandis
26 Tanjung Raja
27 Rantau Panjang
28 Sungai Pinang
29 Pemulutan
12
No Kabupaten/Kota Kecamatan
30 Pemulutan Selatan
31 Pemulutan Barat
32 Indralaya
33 Indralaya Utara
34 Indralaya Selatan
35
Kabupaten Ogan Komering Ilir
Lempuing
36 Lempuing Jaya
37 Mesuji
38 Sungai Menang
39 Mesuji Makmur
40 Mesuji Raya
41 Tulung Selapan
42 Cengal
43 Pedamaran
44 Pedamaran Timur
45 Tanjung Lubuk
46 Teluk Gelam
47 Kayu Agung
48 Sirah Pulau Padang
49 Jejawi
50 Pampangan
51 Pangkalan Lampam
52 Air Sugihan
53
Kabupaten Banyuasin
Rantau Bayur
54 Betung
55 Suak Tapeh
56 Pulau Rimau
57 Tungkal Ilir
58 Selat Penuguan
59 Banyuasin III
60 Sembawa
61 Talang Kelapa
62 Tanjung Lago
63 Banyuasin I
64 Air Kumbang
65 Rambutan
66 Muara Padang
67 Muara Sugihan
68 Makarti Jaya
13
No Kabupaten/Kota Kecamatan
69 Air Saleh
70 Banyuasin II
71 Karang Agung Ilir
72 Muara Telang
73 Sumber Marga
Telang
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2021
1.8.4 Pembagian Waktu Pengamatan
Pada penelitian ini menggunakan pembagian waktu pengamatan dalam kurun waktu tahun 6 tahun dimulai dari tahun 2013 hingga tahun 2019 untuk mengetahui perubahan jumlah penduduk, ekonomi dan penggunaan lahan terbangun. Titik tahun 2013 dipilih karena merupakan titik tahun awal diterbitkannya Citra Landsat 8 OLI/TIRS. Sedangkan, titik waktu 2019 dipilih karena memiliki data citra landsat dengan resolusi yang baik
1.8.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dipilih berperan penting untuk mengidentifikasi tujuan, sasaran dan variabel penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder. Pengumpulan data tersebut diambil dari berbagai instansi, situs web dan dokumen resmi pemerintah.
Berikut adalah berbagai data sekunder yang diambil beserta sumber pengambilan data tersebut:
1. Lahan
Pengunduhan data lahan berupa data citra landsat 8 OLI/TIRS berasal dari situs web United State Geological Survey (USGS) milik pemerintah Amerika Serikat. Citra landsat 8 OLI/TIRS dipilih karena memiliki resolusi radiometrik yang lebih baik dibandingkan dengan landsat 7 ETM+. Jika resolusi radiometrik yang dimiliki lebih baik, maka kemampuan untuk membedakan objek dipermukaan bumi juga akan lebih baik (Hernan, 2016 dalam Oktaviani & Johan, 2016)
14 2. Jumlah Penduduk
Pengunduhan data jumlah penduduk berasal dari data jumlah kependudukan yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten/Kota dengan satuan jumlah penduduk per unit kecamatan 3. Ekonomi
Pengunduhan data ekonomi berasal dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sumatera Selatan yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik
4. Jalan Tol dan Titik Gerbang Tol
Lokasi jalan tol dan titik gerbang tol diketahui dari dokumen milik PT.
Hutama Karya, Google Street View dan pengambilan titik dengan yang dilakukan secara digitasi melalui situs web Google Earth
5. Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 Data Rencana Pola Ruang didapatkan melalui permohonan data yang diberikan kepada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sumatera Selatan
1.8.6 Populasi Penelitian
Pemilihan populasi penelitian dilakukan dengan cara pengambilan data yang dapat menggambarkan subjek dari tujuan penelitian yang akan dilakukan.
Populasi penelitian yang diambil adalah data luas lahan terbangun tahun, jumlah penduduk dan PDRB di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung dalam kurun waktu 2013 – 2019 serta arahan Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 - 2036. Populasi penelitian tersebut dipilih karena dapat mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan, jumlah penduduk dan ekonomi di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung.
1.8.7 Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data berupa pengolahan citra satelit, analisis infrastruktur jalan tol terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi serta analisis
15
kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036. Analisis ini digunakan untuk mengetahui perubahan jumlah luas lahan terbangun serta ada tidaknya pelanggaran lahan terbangun terhadap kesesuaian rencana pola ruang.
1.8.7.1 Pengolahan Citra Satelit
Tahap pengolahan citra satelit dilakukan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan terbangun dengan melihat hasil nilai luasan lahan terbangun di Kawasan Metropolitan patungraya Agung.
Dalam tahapan ini, menggunakan data Citra Satelit Landsat 8 OLI/TIRS dengan titik tahun 2013 dan tahun 2019. Tahapan pengolahan citra satelit terdiri atas tahapan pra-klasifikasi citra satelit, klasifikasi terbimbing dan tahap uji akurasi hasil klasifikasi. Berikut adalah penjelasan dari tiap tahapan tersebut
A. Pra-Klasifikasi Citra Satelit
Tahap pra-klasifikasi citra satelit terdiri atas tahapan yang dilakukan sebelum citra satelit masuk dalam tahap klasifikasi dan dianalisis menjadi tutupan lahan. Dalam pengerjaan tahapan ini, menggunakan software berupa ArcGis 10.6. Berikut adalah tahapan yang dikerjakan
1. Pengunduhan Citra Satelit
Tahap awal pra-klasifikasi citra dimulai dari pengunduhan Citra Landsat 8 OLI/TIRS pada situs web earthexplorer.usgs.prov, lalu pilih lokasi citra sesuai dengan lokasi penelitian dan tahun penelitian.
16
(a) 2013
(b) 2019
Sumber: USGS, 2021
GAMBAR 1.3 Tahap Pemilihan Tahun dan Lokasi Citra Landsat (a) 2013 dan (b) 2019
Selanjutnya, pilih citra satelit yang memiliki tingkat kabut dan awan paling rendah pada titik tahun yang telah ditentukan
17 (a) 2013
Sumber: USGS, 2021
(b) 2019
GAMBAR 1. 4 Tahap Pemilihan Citra Landsat (a) 2013 dan (b) 2019
2. Konversi Citra Satelit
Data citra satelit yang diunduh masih terdiri atas beberapa band hasil rekaman citra satelit. Sehingga perlu dilakukan proses penggabungan citra (Hanindito et al., 2014). Proses Layer Stacking dilakukan dengan cara memasukan data citra satelit di Software ArcGis 10.6, klik Add Data dan pilih band 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8.
18
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.5 Tahap Memasukan Citra Landsat
Selanjutnya adalah tahapan penggabungan band 1 sampai 7 menggunakan Composite Band. Klik ArcToolBox – Data Management Tools – Raster – Raster Processing – Composite Band.
(a) (b)
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.6 Tahap Penggabungan Band (a) 2013 dan (b) 2019
19
3. Penajaman Resolusi Citra (Pan Sharpening)
Penajaman resolusi citra dilakukan untuk menajamkan kualitas citra satelit. Tahap ini dilakukan dengan menambahkan Panchromatic Image band 8 melalui tahapan Create Pan Sharpened Raster Data Set.
Klik ArcToolBox – Data Management Tools – Raster – Raster Processing – Create Pan Sharpened Raster Dataset. Lalu masukan Panchromatic Image band 8
(a) (b)
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.7 Tahap Penajaman Resolusi Citra (a) 2013 dan (b) 2019
4. Penggabungan Citra (Mosaic)
Proses Mosaic dilakukan jika terdapat lebih dari satu potongan citra dalam satu titik tahun. Mosaic adalah proses penggabungan citra satelit menjadi kesatuan untuk mempermudah tahap klasifikasi. Pada penelitian ini, menggunakan 2 citra landsat pada titik tahun yang sama. Sehingga perlu dilakukan tahapan penggabungan citra (Mosaic Raster). Selanjutnya, klik ArcToolBox –
20
Data Management Tools – Raster – Raster Dataset – Mosaic to New Raster. Lalu masukan data Citra satelit yang akan digabungkan. Selanjutnya, lakukan tahap Copy Raster untuk menghilangan grid hitam serta Scan Line Error pada citra satelit sebagai berikut klik ArcToolBox – Data Management Tools – Raster – Raster Dataset – Copy Raster.
Sumber: Hasil Analisis, 2021
(a) (b)
GAMBAR 1. 8 Tahap Penggabungan Citra Satelit (a) 2013 dan (b) 2019
5. Pemotongan Citra Satelit (Clipping)
Lalu tahap terakhir dalam tahapan pra-klasifikasi adalah pemotongan citra satelit dengan batas administrasi lokasi penelitian. Tahap Clipping atau pemotongan citra bertujuan untuk mempermudah analisis dan memfokuskan proses analisis berdasarkan lokasi penelitian yang dipilih. (Hanindito et al., 2014).
Klik ArcToolBox – Data Management Tools – Raster – Raster Processing – Clip.
21
B. Klasifikasi Terbimbing (Supervised Classification)
Klasifikasi terbimbing digunakan dalam pengolahan citra satelit dengan tujuan untuk mengetahui hasil klasifikasi citra berdasarkan unsur dan jenis tutupan lahan seperti lahan terbangun, lahan non terbangun dan badan air. (Hanindito et al., 2014).
Tahapan ini dilakukan untuk mengklasifikasikan citra satelit berdasarkan sampel yang dipilih oleh setiap tutupan lahan. Tahapan ini dilakukan dengan menggunakan software ArcGis 10.6. Berikut adalah tahapan klasifikasi terbimbing citra satelit
1. Pengambilan Sampel
Sebelum memasuki tahapan klasifikasi terbimbing, dibutuhkan untuk mengambil beberapa training area sebagai penetapan jenis tutupan lahan untuk mengetahui analisis daerah penelitian. (Purwanto
& Lukiawan, 2019). Metode ini dianalisis dengan cara ini mengidentifikasi informasi berdasarkan kelas jenis tutupan lahan. Tahapan pengambilan sampel dilakukan pada toolbar Image Classification, lalu sampel tersebut dapat dikelompokan sesuai dengan jenis penggunaan lahan pada ikon Training Sample Manager.
Setelah citra satelit berhasil digabungkan, maka langkah selanjutnya adalah pengambilan sampel (Training Area).
Sebelumnya dibutuhkan untuk mengaktifkan tools Spatial Analyst dengan cara klik ikon Customize – Extensions – Checklist Spatial Analyst – Close
22
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.9 Tahap Spatial Analyst
Untuk mengambil Training Sample, klik Customize lalu Image Classification. Selanjutnya, klik Draw Polygon kemudian pilih sampel sesuai dengan jenis tutupan lahan.
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.10 Tahap Pengambilan Sampel Klasifikasi
Jika sampel sudah selesai di pilih, maka dapat menyatukan jenis tutupan lahan dengan cara klik Training Sample Manager lalu Save. Saat muncul kotak
23
Output Feature Class, simpan sample dalam format Shapefile. Lalu ubah shapefile tersebut menjadi format .gsg dengan cara klik Create a Signature File – Save as Signature File – Save.
(a) (b)
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.11 Tahap Penyatuan Jenis Sesuai Tutupan Lahan (a) 2013 dan (b) 2019
2. Klasifikasi Terbimbing (Supervised Classification) Klasifikasi terbimbing merupakan tahapan klasifikasi citra yang dianalisis berdasarkan pengambilan sampel jenis tutupan lahan. Klasifikasi terbimbing dianalisis menggunakan tools Maximum Likelihood pada software Arcgis. Dibutuhkan pemilihan sampel yang baik sesuai dengan jenis tutupan lahan agar menghasilkan tingkat akurasi yang tinggi. Oleh sebab itu, agar hasil klasifikasi tepat dengan kondisi eksisting, perlu dilakukan uji akurasi sampel yang telah dipilih sebelum diolah pada tahap klasifikasi (Marini et al., 2014).
24
Selanjutnya untuk tahap klasifiasi terbimbing, klik Image Classification dan klik Maximum Likelihood Classification. Pilih citra satelit yang akan diklasifikasi pada kotak Input Raster Bands dan pilih hasil sampel tutupan lahan dalam format .gsg pada kotak Input Signature File Classification dan klik Ok.
Setelah semua tahapan dilakukan, maka akan menghasilkan klasifikasi tutupan lahan. Berikut adalah citra landsat yang digunakan untuk mengambil sampel pertitik tahun serta hasil klasifikasi terbimbing tutupan lahan tahun 2013 dan tahun 2019
C. Tahap Uji Akurasi Klasifikasi Terbimbing (Overall Accuracy Assessment)
Tahap uji akurasi dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan pengambilan sampel pada tahap klasifikasi. Uji ketepatan pengambilan sampel tersebut diperoleh dari perbandingan jumlah sampel benar dengan jumlah piksel pada tahap pengambilan sampel atau training area (Hendrawan, 2018). Hasil uji akurasi diketahui dari persentase kesalahan berupa perhitungan Overall Accuracy (OA), Kappa Coefficient (T), Producer Accuracy (PA) dan User Accuracy (UA). Tahap ini dilakukan dengan cara mengambil 50 titik (Random Sampling) pada hasil klasifikasi dan membandingkan hasil tersebut dengan kondisi eksisting pada Google Earth.
25
TABEL I.5 Uji Akurasi Klasifikasi Terbimbing
Data
Klasifikasi Jenis Penggunaan
Lahan User's
Accuracy
A B C
A Xy 𝑋+1
B Xy
C Xy
Producers's
Accuracy 𝑋1+ N
Sumber: (Fitriana et al., 2017)
Keterangan: Piksel Benar Piksel Salah
Maka rumus yang digunakan untuk uji akurasi adalah sebagai berikut 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑎𝑙𝑙 𝐴𝑐𝑐𝑢𝑟𝑎𝑐𝑦 (𝑂𝐴) =∑(𝑋𝑦)
N 𝑥 100 𝑈𝑠𝑒𝑟 𝐴𝑐𝑐𝑢𝑟𝑎𝑐𝑦 (𝑈𝐴) = ∑(𝑋𝑦)
∑(𝑋+1) 𝑥 100 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑟 𝐴𝑐𝑐𝑢𝑟𝑎𝑐𝑦 (𝑃𝐴) = ∑(𝑋𝑦)
∑(𝑋1+) 𝑥 100 Keterangan:
Xy : Jumlah Sampel Sampel Benar Setiap Jenis Tutupan Lahan 𝑋+1: Jumlah Sampel Benar Baris A, B, C…dst
𝑋1+ : Jumlah Sampel Benar Kolom A, B, C…dst N : Total Piksel Dalam Contoh
Setelah didapatkan hasil Overall Accuracy (OA) maka tahap selanjutnya adalah menganalisis Kappa Coefficient (KC). Analisis indeks kappa dilakukan karena nilai overall accuracy masih melebihi perkiraan uji akurasi Jaya (2010). Berikut adalah rumus overall accuracy
𝐾𝑎𝑝𝑝𝑎 𝐶𝑜𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑡 (𝐾𝐶) =𝑋𝑦 𝑥 𝑁 − ∑((𝑋1+ 𝑥 𝑋+1)
𝑁2∑ − (𝑋1+ 𝑥 𝑋+1 ) 𝑥 100
26
Jika dari hasil uji akurasi didapatkan bahwa nilai Overall Accuracy (OA) dan Kappa Coefficient ≥ 80% maka hasil klasifikasi citra dapat dianggap benar serta dapat mewakili kondisi eksisting di lokasi penelitian (Hapsary, 2020).
1.8.7.2 Analisis Infrastruktur Jalan Tol terhadap Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun, Jumlah Penduduk dan Ekonomi Tahapan analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi terhadap infrastruktur jalan tol di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung. Berikut adalah langkah yang dilakukan untuk mengetahui penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi
1. Melakukan tahap overlay data lahan terbangun tahun 2019 dengan data hasil klasifikasi lahan terbangun tahun 2013 pada software ArcGis 10.6 serta menambahkan faktor pendorong berupa jalan tol dan titik gerbang tol. Dari data tersebut dihasilkan perubahan penggunaan lahan terbangun tahun 2013 – 2019. Setelah melakukan identifikasi terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, maka dilakukan classify untuk mengetahui kategori/tingkat berdasarkan hasil perubahan penggunaan lahan. Untuk mengetahui ketegori/tingkat tersebut, menggunakan Tools Classify pada software ArcGis 10.6. Proses Classify dilakukan melalui pemetaan suatu besaran yang memiliki nilai interval tertentu berdasarkan batas kategori yang telah ditentukan (Prahasta E, 2009). Hasil perubahan lahan terbangun tersebut selanjutnya akan dikategorikan menjadi 3 tingkat yang terdiri dari tinggi, sedang dan rendah. Tools classify atau klasifikasi merupakan nilai pemetaan interval kelas yang dikategorisasi ke dalam beberapa nilai berupa tinggi, sedang dan rendah. Ketiga kelas tersebut dipilih karena dapat menjelaskan skor dari nilai yang terdistribusi (Anwar, 2012)
27
2. Untuk analisis jumlah penduduk menggunakan data jumlah penduduk per unit kecamatan yang diambil dari tahun 2013 – 2019. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui selisih jumlah penduduk dari tahun 2013 – 2019. Selanjutnya, dilakukan Classify untuk mengetahui kategori/tingkat berdasarkan hasil perubahan jumlah penduduk. Untuk mengetahui ketegori/tingkat tersebut, menggunakan Tools Classify pada software ArcGis 10.6. Proses Classify dilakukan melalui pemetaan suatu besaran yang memiliki nilai interval tertentu berdasarkan batas kategori yang telah ditentukan (Prahasta E, 2009). Hasil perubahan jumlah penduduk tersebut selanjutnya akan dikategorikan menjadi 3 tingkat yang terdiri dari tinggi, sedang dan rendah. Tools classify atau klasifikasi merupakan nilai pemetaan interval kelas yang dikategorisasi ke dalam beberapa nilai berupa tinggi, sedang dan rendah. Ketiga kelas tersebut dipilih karena dapat menjelaskan skor dari nilai yang terdistribusi (Anwar, 2012)
3. Untuk analisis perubahan ekonomi menggunakan data PDRB Kabupaten/Kota di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung dari tahun 2013 – 2019. Berdasarkan data tersebut, maka dapat dihitung selisih yang menghasilkan hasil perubahan PDRB 1.8.7.3 Analisis Kesesuaian Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036
Tahap analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi kesesuaian perubahan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung. Data yang digunakan untuk menganalisis kesesuaian perubahan penggunaan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan
28
Tahun 2016 – 2036 adalah data hasil klasifikasi jumlah lahan terbangun Tahun 2019. Berikut adalah langkah yang dilakukan untuk analisis ini
1. Hasil klasifikasi lahan terbangun tahun 2019 di overlay dengan Rencana Pola Ruang Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 2. Menghitung perbedaan jumlah perubahan penggunaan lahan
terbangun pada hasil klasifikasi dan Rencana Pola Ruang yang sudah di overlay tersebut.
3. Jika terdapat lahan terbangun pada tahun 2019 yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan pada Rencana Pola Ruang, maka lahan tersebut merupakan pelanggaran/penyimpangan lahan terbangun
1.8.8 Kerangka Metode
KAJIAN INFRASTRUKTUR JALAN TOL TERHADAP PENGGUNAAN LAHAN TERBANGUN, SOSIAL DAN EKONOMI DI KAWASAN METROPOLITAN PATUNGRAYA AGUNG
Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun 2013 - 2019 Perubahan Jumlah Penduduk
Tahun 2013 - 2019
Perubahan Ekonomi Tahun 2013 - 2019
Citra Satelit 8/OLI Kawasan Metropolitan Patungraya Agung 2013 -
2019
Klasifikasi Terbimbing
Uji Validasi Hasil Klasifikasi
>80% <80%
Ulangi Klasifikasi
Hasil Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun Tahun 2013 – 2019 Rencana Pola Ruang
Prov. Sumatera Selatan Tahun 2013 – 2019 Data Jumlah Penduduk Tahun
2013 - 2019 Data PDRB Tahun 2013 - 2019
Hasil Perubahan Jumlah Penduduk Tahun 2013 - 2019
Hasil Perubahan PDRB Tahun 2013 - 2019
Identifikasi pengaruh infrastruktur jalan tol terhadap perubahan penggunaan lahan terbangun, jumlah penduduk dan ekonomi serta identifikasi kesesuaian perubahan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036 di Kawasan Metropolitan Patungraya Agung
Sumber: Hasil Analisis, 2021
GAMBAR 1.12 Kerangka Metode 1.8.9 Matriks Ketersediaan Data
Data yang dipilih dalam penelitian ini dianggap dapat menjawab tujuan, sasaran dan variabel penelitian. Berikut adalah matriks ketersediaan data yang digunakan dalam penelitian ini
29
TABEL I.6 Matriks Ketersediaan Data
No Data Jenis
Data
Metode Pengumpulan
Data
Sumber Data Tahun
1
Citra Landsat 8 OLI/TIRS Kawasan
Metropolitan Patungraya Agung
Sekunder
Pengunduhan Melalui Situs
Web
United States Geological Survey
(USGS)
2013 dan 2019
2 Jumlah Penduduk Sekunder
Pengunduhan Melalui Situs
Web
Badan Pusat Statistik (BPS)
2013 - 2019
3
Pendapatan Domestik Regional Bruto
(PDRB)
Sekunder
Pengunduhan Melalui Situs
Web
Badan Pusat Statistik (BPS)
2013 - 2019
4 Jalan Tol dan Titik
Gerbang Tol Sekunder
Pengunduhan Melalui Situs
Web
PT. Hutama Karya dan Digitasi Melalui
Google Earth
2019
5
Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera
Selatan
Sekunder Permohonan Data
Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan
Tata Ruang Provinsi Sumatera Selatan
2016 - 2036
Sumber: Hasil Analisis, 2021
1.9 Sistematika Pembahasan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, ruang lingkup materi, batasan penelitian, ruang lingkup waktu, studi terdahulu, manfaat penelitian, kerangka pemikira, metodologi penelitian dan metode analisis data.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab ini berisi penjelasan mengenai defisini dan teori mengenai konsep yang diambil dalam penelitian.
30 BAB III GAMBARAN WILAYAH STUDI
Bab ini berisi penjelasan penelitian mengenai keadaan administrasi, keadaan topografi, penduduk, profil jalan tol Kawasan Metropolitan Patungraya Agung dan Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036.
BAB IV ANALISIS
Bab ini berisi penjelasan mengenai jenis tahapan analisis, hasil analisis, hasil identifikasi dan hasil kesesuaian penggunaan lahan terbangun terhadap Rencana Pola Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 – 2036.
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab ini berisi penjelasan mengenai temuan studi, kesimpulan, rekomendasi, keterbatasan penelitian dan saran studi lanjutan dari penelitian yang telah dilakukan.