• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Hasil SSP 2003 Jayapura (Papua) iii. iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Hasil SSP 2003 Jayapura (Papua) iii. iii"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Daftar Isi

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

iii

Daftar Gambar

v

Tabel Indikator Kunci

vii

1. Pendahuluan

1

Latar Belakang 1

Survei Surveilans Perilaku 1

Sasaran Survei 2

Metode Survei 2

Sketsa Lokasi 4

2. Karakteristik Sosial dan Demografi

5

Struktur Umur 5

Status Perkawinan 5

Tingkat Pendidikan 6

Daerah Asal 6

Mobilitas 7

Umur Pertama Kali Berhubungan Seks 7

Lama Bekerja 7

Tarif 8

Rata-rata Pendapatan 8

3. Pengetahuan tentang HIV/AIDS

11

Pernah Mendengar HIV/AIDS 11

Pengetahuan mengenai HIV/AIDS 11

Cara Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS 12

Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS 12

(4)

4. Persepsi Berisiko

17

Merasa Berisiko 17

Perasaan Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko 17

Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat Pendidikan 18

5. Pola Perilaku Berisiko

21

Penggunaan Kondom 21

Antara Pengetahuan dan Perilaku 22

Seks Anal dan Narkoba 23

6. IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan

25

Infeksi Menular Seksual (IMS) 25

Jenis Keluhan IMS 26

Tempat Berobat 26

7. Kesimpulan dan Saran

29

Pengetahuan dan Persepsi Berisiko 29

Perilaku Berisiko dan Kondom 29

Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan 30

(5)

Daftar Gambar

Gambar Judul Gambar

2.1 Struktur Umur Responden 2.2 Tingkat Pendidikan Responden 2.3 Propinsi Asal Responden

2.4 Umur WPS Pertama Kali Berhubungan Seks

2.5 Rata-rata Uang Jasa Seks Komersial pada Hubungan Seks yang Terakhir 3.1 Responden yang Pernah Mendengar HIV/AIDS

3.2 Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

3.3 Tingkat Pengetahuan tentang Cara yang Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS

3.4 Cara yang Diketahui agar Tidak Tertular HIV/AIDS

3.5 Pengetahuan yang Salah tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS 4.1 Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS

4.2 WPS yang Tidak Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Alasannya

4.3 Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Tingkat Pendidikan 5.1 Tingkat Penggunaan Kondom pada Seks Komersial

5.2 Tahu bahwa Kondom dapat Mencegah Penularan HIV/AIDS tetapi Tidak Menawarkan dan Tidak Memakainya dalam Hubungan Seks Komersial Terakhir 5.3 Alasan Tidak Menggunakan Kondom pada Seks Komersial Terakhir

5.4 Responden dan Masing-masing Pasangan Seksnya yang Pernah Menggunakan Narkoba Suntik

6.1 Pemakaian Kondom pada Responden yang Mengalami Gejala IMS 6.2 Jenis Keluhan IMS

6.3 Responden yang Pernah Mengalami Gejala IMS menurut Cara yang Dilakukan saat Mengalami Gejala IMS tersebut

6.4 Responden yang Mengalami Gejala IMS menurut Tempat Berobat/Fasilitas Kesehatan

(6)
(7)

Tabel Indikator Kunci

Indikator WPS Langsung WPS Tidak Langsung 1. Persentase yang pernah mendengar HIV/AIDS 89,7 90,4 2. Persentase yang mengetahui cara pencegahan dengan

menggunakan kondom saat berhubungan seks 83,0 77,2 3. Persentase yang pernah berhubungan seks dengan WPS

dalam setahun terakhir - -

4. Persentase yang mempunyai lebih dari satu pasangan

seks dalam setahun terakhir - -

5. Rata-rata jumlah tamu/pelanggan yang dilayani dalam

seminggu terakhir 4,1 1,8

6. Persentase yang menggunakan kondom pada seks

komersial terakhir 88,4 39,9

7. Persentase yang selalu menggunakan kondom pada seks komersial dalam setahun terakhir untuk

responden pria dan seminggu terakhir untuk WPS 55,8 25,4 8. Persentase yang pernah menggunakan narkoba suntik 0,0 0,5 9. Persentase yang mengalami gejala infeksi menular

seksual (IMS) dalam setahun terakhir 15,4 11,7

10. Persentase yang berobat ke petugas kesehatan bagi

yang mengalami gejala PMS dalam setahun terakhir 56,4 65,2

(8)
(9)

1

Pendahuluan

Latar Belakang

Epidemi HIV/AIDS telah melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat tanpa mengenal batas negara dan pada semua lapisan penduduk. Badan Dunia (PBB) menyatakan bahwa pada tahun 1999 AIDS telah merupakan penyebab kematian nomor 4 di dunia setelah penyakit jantung, hipertensi/stroke, dan infeksi pernapasan. Melihat kecenderungannya, maka bukan tidak mungkin penyakit ini nantinya akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia.

Secara nasional prevalensi HIV/AIDS di Indonesia mungkin masih tergolong rendah dibandingkan dengan banyak negara lainnya. Namun demikian, perkembangan kasus yang muncul dalam beberapa tahun terakhir sangat mengkhawatirkan, khususnya yang ditemukan pada penduduk berisiko tinggi seperti penjaja seks dan pelanggannya, pria yang berhubungan dengan pria, dan pengguna narkoba suntik.

Kecepatan penyebaran virus HIV terutama dipengaruhi oleh perilaku berisiko tinggi, dan upaya pencegahannya terutama juga diarahkan pada perubahan perilaku, antara lain mencakup peningkatan penggunaan kondom dan pengurangan jumlah pasangan seksual, serta penurunan pemakaian bersama atau bergantian alat/jarum suntik pada pemakai narkoba.

Survei Surveilans Perilaku

Survei Surveilans Perilaku (SSP) adalah suatu proses sistimatik dan kontinyu dalam pengumpulan, analisis, interpretasi, dan diseminasi informasi untuk pemantauan perilaku responden dalam masalah kesehatan, dalam hal ini perilaku berisiko terhadap tertular HIV/AIDS. SSP merupakan bagian dari Surveilans generasi kedua.

Surveilans HIV generasi kedua adalah surveilans yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologik HIV. Dalam hal ini, surveilans perilaku memperkuat surveilans serologik. Informasi hasil surveilans serologik akan semakin bermanfaat dengan adanya surveilans perilaku. Manfaat tersebut antara lain, dalam menumbuhkan perhatian, respon masyarakat terhadap pencegahan HIV, menentukan kelompok populasi sasaran, menentukan cara pencegahan, merencanakan upaya penanggulangan, dan memantau keberhasilan program.

Sampai saat ini, kegiatan surveilans HIV dibatasi hanya untuk mengetahui keberadaan virus HIV dalam sampel darah responden, yang biasa disebut surveilans serologik. Namun, bila sistem surveilans HIV hanya mencatat peningkatan prevalensi HIV, maka peluang pencegahan yang efektif telah

Meskipun prevalensi HIV/AIDS di Indonesia masih tergolong rendah, namun perkembangan-nya sudah

mengkhawatirkan

Surveilans generasi kedua yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologik akan

memberikan informasi yang lebih komprehensif sebagai dasar bagi pengembangan kebijakan penanggulangan

(10)

hilang. Menerapkan surveilans perilaku di Indonesia merupakan upaya yang sangat bermanfaat untuk pencegahan epidemi HIV, karena epidemi HIV di Indonesia relatif masih belum berkembang. Prevalensi HIV masih rendah di banyak tempat, dan peluang untuk berkembangnya epidemi HIV masih dapat dicegah. Agar pencegahan lebih efektif maka sumber daya perlu dikonsentrasikan pada perubahan perilaku penduduk berisiko. Manfaat surveilans perilaku sebagai “sistem peringatan dini” dapat memberikan informasi tentang perilaku berisiko, dan masyarakat yang berperilaku berisiko.

Surveilans generasi kedua juga menekankan pada pemanfaatan hasil surveilans untuk menunjang upaya penanggulangan HIV/AIDS. Informasi SSP dapat membantu mengidentifikasi masyarakat yang mempunyai risiko terinfeksi HIV. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu perencanaan intervensi penanggulangan, baik berupa upaya pencegahan, pengobatan maupun dukungan. Dalam perspektif yang lebih luas, surveilans HIV generasi kedua diharapkan menyediakan informasi yang dibutuhkan sebagai dasar pengembangan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS yang lebih efektif.

Sasaran Survei

Untuk wanita, kelompok berperilaku berisiko tinggi adalah wanita yang paling sering berganti pasangan seks, seperti penjaja seks komersial yang melakukan transaksi secara terbuka di tempat lokalisasi/rumah bordil atau di jalanan (wanita penjaja seks langsung) dan wanita yang melayani seks pelanggannya untuk memperoleh tambahan pendapatan di tempat ia bekerja, seperti wanita yang bekerja di panti pijat/salon/spa, bar/karaoke/ diskotek/café/restoran, dan hotel/motel/cottage (wanita penjaja seks tidak langsung).

Survei Surveilans Perilaku (SSP) 2003 di Indonesia termasuk di Kota Jayapura di Propinsi Papua yang dilaksanakan bulan Januari-Februari 2003 difokuskan pada pengukuran perilaku penduduk dengan risiko tinggi, yaitu wanita penjaja seks, dibedakan antara penjaja seks langsung dan tidak langsung.

Definisi (batasan) mengenai penduduk dengan perilaku berisiko tinggi yang dicakup dalam SSP 2002 adalah sebagai berikut:

• Wanita Penjaja Seks (WPS) Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terbuka sebagai penjaja seks komersial.

• WPS Tidak Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terselubung sebagai penjaja seks komersial, yang biasanya bekerja pada bidang-bidang pekerjaan tertentu, misalnya di salon, panti pijat.

Metode Survei

Besar sampel dirancang untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik masyarakat yang berperilaku dengan risiko tinggi, dan Sasaran survei adalah

masyarakat yang diduga berperilaku berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS, yaitu WPS

(11)

diharapkan dapat mengukur perubahan perilaku tersebut pada survei berikutnya. Perhitungan dengan menggunakan metode “cluster survey” menunjukkan bahwa besarnya sampel sekitar 200 - 400 responden pada setiap sasaran masyarakat berperilaku berisiko tinggi sudah cukup untuk mewakili populasi (representative), termasuk untuk mengukur perubahan perilaku.

Di dalam rancangan sampel ditentukan target sampel lokasi sebanyak 13 lokasi WPS langsung dan 20 lokasi WP tidak langsung, namun dalam kenyataannya di lapangan jumlah lokasi sebanyak itu tidak dapat dipenuhi, karena jumlah lokasi yang tersedia memang kurang.

Realisasi sampel lokasi dan responden untuk setiap sasaran survei di Kota Jayapura dicantumkan dalam tabel berikut ini.

Cakupan wilayah SSP di Propinsi Papua adalah Kota Jayapura, dengan sasaran survei adalah WPS langsung dan WPS tidak langsung. Untuk WPS langsung dicakup pula lokalisasi Tanjung Elmo, yang terletak di Jalan Raya Sentani.

Lokasi ini ditentukan setelah mendapatkan masukan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Propinsi Papua dan Dinas Kesehatan setempat, dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah konsentrasi kegiatan jasa pelayanan seks di Propinsi Papua, sekaligus merupakan daerah sasaran dari Survei Serologi HIV yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan. Dengan dipilihnya Kota Jayapura, maka di daerah tersebut diharapkan dapat dikembangkan Surveilans Generasi Kedua.

Perkiraan populasi WPS langsung dan WPS tidak langsung diperoleh dari listing secara independen ke setiap lokasi dengan menggunakan data dasar yang diperoleh dari lembaga pemerintah daerah setempat. Identifikasi lokasi baru beserta populasinya dilakukan dengan cara sistim putaran bola salju (snowballing system). Dalam proses listing dari suatu lokasi ke lokasi lain di lapangan, peta wilayah administratif digunakan untuk operasional lapangan dan dalam peta tersebut digambar letak setiap lokasi secara geografis. Hasil listing ini merupakan kerangka sampel untuk pemilihan lokasi dan penentuan target sampel dalam setiap lokasi.

Pemilihan acak (random sampling) digunakan untuk pemilihan sampel. Karena jumlah lokasi hasil listing WPS lebih kecil dari target yang ditentukan maka pemilihan sampel dilakukan secara acak, langsung pemilihan responden (tanpa melalui pemilihan lokasi). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka antara petugas SSP dengan responden. Bias terhadap hasil SSP telah diupayakan seminimal mungkin.

Tabel Realisasi Sampel Survei Surveilans Perilaku 2002 di Kota Jayapura

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Kota

Lokasi Responden Lokasi Responden

Kota Jayapura 5 253 10 197

Metode acak dilakukan pada pemilihan sampel

(12)
(13)

2

Karakteristik Sosial dan Demografi

Struktur Umur

Struktur umur WPS untuk Kota Jayapura menunjukkan bahwa rata-rata umur WPS langsung lebih tua dibanding WPS tidak langsung. Rata-rata usia WPS langsung 30,3 tahun sedangkan WPS tidak langsung 26,6 tahun atau di antara mereka terdapat perbedaan rata-rata umur sebesar 4 tahun. Sekitar 43 persen WPS langsung berada pada kelompok usia di bawah 30 tahun, dan sekitar 75 persen WPS tidak langsung juga mengelompok pada usia 30 tahun ke bawah.

Status Perkawinan

Sebagian besar (78,1 persen) WPS langsung berstatus cerai dan sekitar 14,3 persen berstatus belum kawin, sementara yang berstatus kawin hanya sedikit (7,6 persen).

Sedangkan pada kelompok WPS tidak langsung, 48 persen berstatus cerai, hampir 35 persen menyatakan belum kawin dan sekitar 17 persen menyatakan berstatus kawin.

Gambar 2.1. Struktur Umur Responden

Umur WPS langsung lebih tua dibanding WPS tidak langsung Sebagian besar WPS langsung berstatus cerai 5 17 28 21 34 29 11 28 15 12 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

(14)

Tingkat Pendidikan

Sebagian besar WPS berpendidikan rendah (tamat SD ke bawah). WPS yang berpendidikan rendah sangat dominan pada kelompok WPS langsung, yaitu sekitar 78 persen berpendidikan tamat SD ke bawah, sementara yang berpendidikan SLTP hanya sekitar 18 persen.

WPS tidak langsung lebih banyak yang berpendidikan lebih tinggi dibanding dengan WPS langsung. WPS tidak langsung yang berpendidikan SLTA ke atas 23,9 persen, sementara WPS langsung yang berpendidikan SLTA ke atas hanya sekitar 4 persen.

Daerah Asal

Sekitar 83 persen WPS langsung di Kota Jayapura berasal dari Propinsi Jawa Timur. WPS langsung yang berasal dari penduduk setempat hanya 9 persen, dan sisanya sebesar 8 persen berasal dari propinsi lain. Sedangkan WPS tidak langsung yang bukan penduduk setempat berasal dari Jawa Timur (43 persen) dan Sulawesi Utara (37 persen).

Gambar 2.2. Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan WPS pada umumnya rendah

Sebagian besar WPS berasal dari propinsi Jawa Timur 33 10 45 29 18 37 4 24 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

(15)

Mobilitas

Mobilitas penjaja seks ternyata cukup tinggi, yaitu berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, bahkan dari satu kota ke kota lain. Sekitar 22 persen WPS langsung menyatakan pernah bekerja sebagai WPS di kota/daerah lain. Sementara sekitar 26 persen WPS tidak langsung mengaku pernah bekerja sebagai WPS di kota/daerah lain. Ini menunjukkan bahwa mobilitas WPS, khususnya WPS tidak langsung di Jayapura cukup tinggi.

Umur Pertama Kali Berhubungan Seks

Rata-rata usia saat pertama kali berhubungan seks baik WPS langsung maupun WPS tidak langsung ternyata masih sangat muda yaitu 16,7 tahun untuk WPS langsung dan 17,6 tahun untuk WPS tidak langsung. Bila dikaitkan dengan rata-rata usia mereka sekarang yaitu 28,7 tahun, maka dapat dikatakan bahwa para WPS yang beroperasi di Kota Jayapura telah melakukan hubungan seks rata-rata selama sekitar 10 tahun (Gambar 2.4.).

Lama Bekerja

Bagi penjaja seks, lama masa kerja sebagai penjaja seks penting diketahui. Semakin lama sebagai penjaja seks semakin besar kemungkinan untuk melayani pelanggan yang telah terinfeksi HIV.

Terdapat perbedaan yang cukup tinggi dalam lama menjual seks antara WPS langsung dan tidak langsung. Secara rata-rata WPS langsung sudah menjalani pekerjaannya selama 43 bulan atau 3,5 tahun sedangkan WPS tidak langsung baru menjalaninya selama 24 bulan atau 2 tahun.

Gambar 2.3. Propinsi Asal Responden

Sekitar seperempat WPS pernah kerja di daerah lain Usia WPS ketika pertama kali berhubungan seks, masih sangat muda

Masa kerja WPS langsung satu setengah tahun lebih lama dibanding WPS tidak langsung 9 8 83 43 3 2 1 37 4 10 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

(16)

Faktor lain yang mempengaruhi risiko penularan HIV pada WPS adalah jumlah pelanggan. Rata-rata jumlah pelanggan yang dilayani dalam seminggu (seminggu terakhir) pada WPS langsung adalah 4 sampai 5 orang dan WPS tidak langsung adalah 1 sampai 2 orang. Ini berarti pelanggan WPS langsung 2 kali lebih banyak dibanding WPS tidak langsung.

Tarif

Hasil SSP ternyata menunjukkan bahwa rata-rata uang yang diterima oleh WPS tidak langsung jauh lebih tinggi dibandingkan yang diterima WPS langsung. Hal ini tercermin dari rata-rata besarnya uang yang diterima pada hubungan seks yang terakhir, yaitu sebesar Rp 125 ribu oleh WPS langsung dan Rp 491 ribu oleh WPS tidak langsung.

Pelanggan WPS tidak langsung pada umumnya mereka yang mempunyai cukup uang, dan di beberapa daerah lain mereka rata-rata berpendidikan relatif tinggi dan mempunyai pengetahuan serta kesadaran untuk membeli seks dengan cara yang sehat. Namun di Kota Jayapura tidak demikian, proporsi WPS tidak langsung yang menggunakan kondom selama seminggu terakhir masih lebih kecil daripada WPS langsung seperti ditunjukkan pada Bab 5.

Rata-rata Pendapatan

Dengan menghubungkan rata-rata banyaknya pelanggan dan besarnya uang yang diterima maka dapat diperkirakan besarnya pendapatan rata-rata WPS langsung dan WPS tidak langsung. Rata-rata-rata pendapatan WPS langsung dalam seminggu adalah sekitar Rp 512 ribu atau Rp 1,5 juta sebulan, sedangkan rata-rata pendapatan WPS tidak langsung adalah sekitar Rp 884 ribu seminggu atau Rp 2,7 juta sebulan (dengan asumsi rata-rata hari kerja sebanyak 3 minggu dalam sebulan).

Gambar 2.4. Umur WPS Pertama Kali Berhubungan Seks

Tarif WPS tidak langsung empat kali lebih mahal dari WPS langsung 17 18 0 10 20 30 40 50

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe rs en Terdapat perbedaan pendapatan yang tajam antara WPS langsung dan WPS tidak langsung, dan antara WPS dengan rata-rata upah karyawan lainnya

(17)

Besarnya pendapatan ini jauh lebih tinggi dari rata-rata upah minimum yang diterima buruh/karyawan yang bekerja di Propinsi Papua, yaitu sebesar Rp 530 ribu per bulan (BPS, 2003. “Indikator Tingkat Hidup Pekerja 2000-2002”).

Dibandingkan dengan pendapatan (upah) rata-rata karyawan sebulan dari hasil Susenas 2002 untuk Kota Jayapura, yaitu sebesar Rp 1,1 juta per bulan (BPS, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional 2002), maka rata-rata penghasilan kotor seorang WPS, terutama WPS tidak langsung memang jauh lebih besar.

Gambar 2.5. Rata-rata Uang Jasa Seks Komersial pada Hubungan Seks yang Terakhir

125 491 0 100 200 300 400 500 600 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Ribuan Rp

(18)
(19)

3

Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Pernah Mendengar HIV/AIDS

Tingkat pengetahuan tidak selalu berkorelasi dengan perilaku sehat, namun demikian mengetahui cara penularan HIV dan cara menghindarinya merupakan langkah pertama yang perlu diketahui setiap orang terutama orang-orang dengan perilaku berisiko tinggi. Pengetahuan merupakan salah satu faktor kuat yang menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku dalam melindungi diri sendiri dari ancaman HIV/AIDS. Hasil SSP menunjukkan bahwa sekitar 90 persen dari setiap kelompok berisiko baik WPS langsung maupun WPS tidak langsung, pernah mendengar tentang HIV/AIDS.

Pengetahuan mengenai HIV/AIDS

Meskipun persentase yang menyatakan pernah mendengar tentang HIV/AIDS besar, namun sebagian dari WPS tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang penyakit tersebut. Pada kelompok WPS langsung, yaitu sekitar 49 persen dapat secara cermat memberikan informasi lebih detail tentang HIV/AIDS yaitu penyakit kelamin, atau penyakit yang tidak bisa disembuhkan (56,1 persen). Di kalangan WPS langsung ada sekitar 9 persen yang menyatakan tidak mengetahui HIV/AIDS meskipun pernah mendengarnya. Sedangkan di kalangan WPS tidak langsung yang mengaku tidak mengetahui HIV/AIDS meskipun pernah mendengarnya tercatat 5 persen.

Gambar 3.1. Responden yang Pernah Mendengar HIV/AIDS

Sebagian besar WPS pernah mendengar HIV/AIDS

Pernah mendengar tidak berarti mengetahui apa itu HIV/AIDS 90 90 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

(20)

Cara Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular

HIV/AIDS

Tes darah adalah cara yang paling tepat untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Dari penelusuran lebih jauh tentang pengetahuan responden ternyata sekitar 55 persen WPS mengetahui cara yang tepat untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Dengan kata lain pengetahuan WPS langsung maupun WPS tidak langsung relatif sama. Sekitar 23 persen kelompok sasaran menyatakan tidak tahu, dan sisanya sekitar 22 persen memberi jawaban yang salah (lihat Gambar 3.3).

Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS

Pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS dapat menuntun untuk melakukan tindak pencegahan yang benar agar tidak tertular virus mematikan tersebut. Namun kenyataannya, perilaku seseorang tidak selalu sesuai dengan tingkat pengetahuannya.

Untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan “teoritis” dan pengetahuan yang dicerminkan dalam perilaku, maka dalam SSP dilakukan dua tahap pertanyaan, yaitu i) meminta responden untuk menjawab secara spontan cara melindungi diri dari HIV dan ii) menelusurinya lebih jauh melalui “probing” (dengan menyebutkan jenis-jenis cara pencegahan HIV).

Ada 4 cara untuk menghindar dari terjangkit HIV yang umum dikenal yaitu tidak melakukan hubungan seks sama sekali, menggunakan kondom saat berhubungan seks, menghindari penggunaan jarum suntik bersama, dan hanya berhubungan seks dengan satu pasangan yang belum terinfeksi

Gambar 3.2. Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Sekitar setengah dari seluruh responden tahu cara tepat untuk mengetahui seseorang telah tertular HIV/AIDS 49 41 56 64 9 5 0 10 20 30 40 50 60 70

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Mengatakan AIDS adalah penyakit kelamin

Mengatakan AIDS penyakit yg tidak bisa disembuhkan Pernah mendengar tapi tdk mengetahui apa itu HIV/AIDS Pemahaman responden tentang cara menghindari tertular HIV/AIDS masih terbatas

(21)

HIV, serta tidak punya pasangan lain. Keempat cara tersebut ditanyakan dalam dua tahapan seperti sistim bertanya di atas.

Dari keempat cara yang benar tersebut yang paling banyak diungkapkan

secara spontan oleh kalangan WPS adalah menggunakan kondom ketika

berhubungan seks. Jawaban ini diungkapkan oleh WPS langsung (82 persen) dan WPS tidak langsung (71 persen).

Ketika ditanyakan tentang cara mencegah tertular HIV, secara umum seseorang akan cenderung menjawab cara melindungi yang paling relevan dengan kebiasaannya. Ini bukan berarti bahwa ia tidak mengerti cara atau metoda lain, tetapi mungkin tidak mempertimbangkan bahwa metoda lain tersebut cocok untuk dirinya.

Penelusuran lebih jauh melalui probing telah menjadikan persentase yang menjawab benar meningkat secara berarti. Peningkatan persentase terutama terjadi untuk kategori jawaban “Menghindari penggunaan jarum suntik bersama”, yang naik dari 19 persen dari jawaban spontan menjadi 68 persen ketika dilakukan probing pada WPS langsung. Ini merupakan hal yang menarik, karena angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun kaum perempuan tersebut secara teoritis mempunyai pengetahuan, namun kenyataannya sedikit di antara mereka yang mempertimbangkannya sebagai cara perlindungan (Lihat Gambar 3.4).

Pengetahuan tentang menghindari tertular HIV/AIDS tampaknya terkait erat dengan kebiasaan

Gambar 3.3. Tingkat Pengetahuan tentang Cara yang Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS

55 55 21 25 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen Tes darah Tidak tahu

(22)

Menarik untuk dicatat bahwa lebih banyak WPS langsung dibandingkan WPS tidak langsung yang secara spontan menyatakan bahwa menggunakan kondom saat berhubungan seks merupakan salah satu cara mencegah tertular HIV.

Meski cukup banyak kelompok berisiko yang tahu tentang HIV/AIDS, namun ternyata tidak sedikit yang kurang paham tentang penyakit tersebut. Ini terlihat dari masih adanya kelompok sasaran yang menganggap seorang yang tertular HIV bisa diketahui dengan melihat saja. Pemahaman yang salah ini terungkap dari jawaban WPS langsung (14,5 persen) dan WPS tidak langsung (8,9 persen). Pemahaman yang rendah juga tercermin dari banyaknya responden yang memberi jawaban “tidak tahu”, yaitu mencapai 38,3 persen pada WPS langsung dan 44,4 persen untuk WPS tidak langsung.

Miskonsepsi tentang Cara Pencegahan HIV/AIDS

Pemahaman salah atau miskonsepsi terlihat dari besarnya proporsi jawaban kelompok berisiko terhadap cara pencegahan yang salah seperti minum obat sebelum berhubungan seks, menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain, tidak menggunakan secara bersama alat makan, dan makan makanan yang bergizi. Miskonsepsi ini terlihat lebih besar pada kalangan WPS langsung.

Gambar 3.4. Cara yang Diketahui agar Tidak Tertular HIV/AIDS

Masih ada yang menganggap seorang yang tertular HIV bisa diketahui dengan melihat saja 37 44 83 77 68 62 41 48 21 82 71 19 22 9 4 6 0 20 40 60 80 100 WP S-L WP S-TL WP S-L WP S-TL WP S-L WP S-TL WP S-L WP S-TL Pe rs en

Setelah diprobing Jaw aban Spontan Tidak melakukan hubungan seks Menggunakan kondom saat berhubungan seks Menghindari penggunaan jarum suntik bersama Berhubungan seks hanya dengan satu

(23)

Minum obat sebelum berhubungan seks merupakan cara yang diyakini dapat mencegah HIV/AIDS oleh sebagian besar WPS, baik WPS langsung (54,9 persen), maupun WPS tidak langsung (48,2 persen). Keyakinan ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Antibiotik dan obat-obatan lainnya TIDAK dapat melindungi diri kita dari HIV. Meminum obat secara rutin dapat dengan mudah membuat obat tersebut menjadi kurang efektif ketika dibutuhkan, misalnya, untuk menyembuhkan infeksi penyakit menular seksual seperti gonorrhea (GO). Lebih berbahaya lagi, jika orang berpikir bahwa mereka sudah terlindungi dari HIV atau IMS karena sudah minum antibiotik, diinjeksi, minum jamu, atau menggunakan preparat lainnya, karena mungkin kurang suka menggunakan kondom. Namun pada akhirnya, kondomlah satu satunya alat perlindungan yang paling ampuh bagi orang-orang yang berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan kawinnya. Angka-angka persentase pada Gambar 3.5 mencerminkan apa-apa yang dipercaya orang tentang cara pencegahan HIV/AIDS, padahal secara prinsip salah.

Gambar 3.5. Pengetahuan yang Salah tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS

Miskonsepsi terhadap beberapa cara pencegahan HIV/ AIDS sangatlah berbahaya 55 31 15 33 48 28 19 18 0 20 40 60 80 100

Minum obat sebelum berhubungan seks Menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain

Tidak menggunakan secara bersama alat

makan Makan makanan yang

bergizi

Persen

WPS Tidak Langsung WPS Langsung

(24)

Dari SSP juga diperoleh informasi mengenai apa yang dilakukan oleh kelompok berisiko untuk menghindari terjangkitnya IMS atau HIV. Salah satu temuan yang mencengangkan adalah tingginya proporsi penjaja seks, terutama WPS langsung di Jayapura yang secara reguler memperoleh suntikan untuk mencegah IMS atau HIV (54,2 persen WPS langsung dan 27,9 persen WPS tidak langsung). Sudah lama Departemen Kesehatan tidak melaksanakan program penyuntikan secara massal. Bila “petugas kesehatan” masih memberikan suntikan, ini adalah di luar program Departemen Kesehatan. Bila penyuntikan-penyuntikan tersebut dilaksanakan di luar kontrol tenaga kesehatan maka bahaya lain dapat muncul, yaitu apabila satu jarum suntik digunakan tidak hanya untuk satu orang (satu kali) tetapi untuk banyak orang atau berkali-kali tanpa proses pembersihan yang benar. Ini adalah media yang efektif untuk penyebaran penyakit lainnya seperti hepatitis.

Meskipun program penyuntikan massal sudah dihentikan oleh Depkes, persentase WPS yang memperoleh suntikan pencegahan IMS dan HIV masih tinggi

(25)

4

Persepsi Berisiko

Merasa Berisiko

Informasi mengenai sejauh mana kelompok sasaran merasa berisiko terhadap IMS atau HIV/AIDS merupakan informasi yang penting untuk keperluan perencanaan program intervensi. Meskipun berada dalam lingkungan dan berperilaku berisiko tinggi ternyata tidak semua kelompok sasaran merasa bahwa dirinya berisiko.

Pemahaman tentang risiko terhadap IMS atau HIV/AIDS pada WPS tidak langsung lebih besar dibandingkan pada kelompok WPS langsung. Pada kelompok WPS tidak langsung sebanyak 38,9 persen merasa berisiko tertular HIV/AIDS, sedangkan di antara WPS langsung sedikit lebih rendah yaitu sekitar 36,1 persen.

Persepsi Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko

Mereka yang merasa tidak berisiko tertular memiliki beberapa alasan yang bervariasi antar kelompok sasaran. Pada umumnya lebih dari setengah dari WPS langsung (67,9 persen) dan WPS tidak langsung (51,6 persen) yang merasa tidak berisiko memberikan alasan bahwa mereka selalu menggunakan kondom (pemahaman yang benar). Tetapi diantara WPS tidak langsung banyak juga yang berkeyakinan bahwa pelanggannya bersih (20,3 persen), ini membuat ia merasa tidak berisiko (pemahaman yang salah).

Gambar 4.1. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS

WPS langsung umumnya lebih memahami risiko dan cara menghindarinya Hampir 40 persen WPS tidak langsung merasa berisiko, sementara WPS langsung sedikit lebih rendah 36 39 47 36 17 25 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

(26)

Menariknya, persentase jawaban terhadap pemakaian yang benar lebih besar dibanding jawaban pemahaman yang salah. Data menunjukkan bahwa persentase mereka yang merasa berisiko dan berhubungan seks komersial menggunakan kondom (27,2 persen), lebih besar dari pada mereka yang punya pemahaman salah (tidak merasa berisiko karena yakin pasangannya bersih, 12,9 persen dan berobat lebih dahulu sebelum berhubungan seks 6,5 persen). Kelompok yang merasa tidak berisiko sangat penting untuk diperhatikan dalam program intervensi, khususnya di kelompok WPS langsung.

Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat

Pendidikan

Kesadaran berisiko tertular IMS termasuk HIV/AIDS diduga berkorelasi dengan tingkat pendidikan. Asumsinya adalah semakin tinggi pendidikan, semakin mengerti seseorang bahwa ia melakukan pekerjaan yang berisiko. Hasil SSP Kota Jayapura telah menggambarkan dugaan tersebut, khususnya pada WPS langsung, yaitu antara mereka yang hanya tamat SD dan jenjang pendidikan yang di atasnya. Di antara WPS langsung yang tamat SD hanya sebanyak 32,0 persen yang menyatakan berisiko tertular HIV, sementara sebanyak 16,5 persen lainnya menyatakan tidak tahu, dan 51,5 persen tidak merasa berisiko. Di antara yang berpendidikan tamat SLTA ke atas lebih dari 44 persen merasa berisiko. Menarik untuk disampaikan bahwa di kalangan WPS langsung persentase yang merasa berisiko dengan pendidikan SD ke bawah pada umumnya lebih tinggi dibandingkan WPS tidak langsung. Hal ini terjadi juga pada mereka yang pernah melakukan hubungan seks secara komersial tanpa kondom dan merasa dirinya berisiko tertular HIV/AIDS.

Gambar 4.2. Responden yang Tidak Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Alasannya

Terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin merasa berisiko 68 8 8 52 20 3 0 20 40 60 80 100

Karena selalu menggunakan kondom

Karena yakin pasangannya bersih

Karena berobat terlebih dahulu

Pe

rs

en

(27)

Perlu dikaji lebih jauh mengapa terdapat perbedaan yang besar antara WPS langsung dan WPS tidak langsung dalam hal pemahaman mengenai risiko tertular HIV. Meskipun sama-sama tidak tamat SD, kesadaran mengenai risiko tertular HIV jauh lebih tinggi di kalangan WPS langsung dibandingkan WPS tidak langung.

Gambar 4.3. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Tingkat Pendidikan

40 12 32 27 38 50 44 45 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

(28)
(29)

Penggunaan Kondom

Responden yang selalu menggunakan kondom dalam seks komersial selama seminggu terakhir untuk WPS tidak langsung masih rendah, yaitu baru sekitar 25 persen, sedangkan pada WPS langsung ternyata lebih tinggi yaitu sekitar 56 persen. Fenomena lain yang tercermin dalam pola penggunaan kondom adalah bahwa hanya sebagian saja kelompok berisiko yang secara konsisten (selalu) menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Pada WPS langsung yang tingkat penggunaan kondomnya sudah tinggi, yaitu sebanyak 88,4 persen menyatakan menggunakan kondom pada seks komersial terakhir, tetapi di antara mereka tersebut hanya 55,8 persen yang selalu menggunakannya selama seminggu terakhir.

Tidak digunakannya kondom tampaknya bukan karena ketidaktersediaan kondom di lokasi, karena dari hasil pengamatan petugas SSP diketahui bahwa kondom tersedia atau mudah diperoleh hampir di seluruh lokasi transaksi seks, yaitu di 93,3 persen di lokasi WPS langsung dan 61,4 persen di lokasi WPS tidak langsung.

5

Pola Perilaku Berisiko

Gambar 5.1. Tingkat Penggunaan Kondom pada Seks Komersial

WPS langsung lebih banyak pakai kondom pada seks komersial

88 40 56 25 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Pakai kondom dalam seks komersial terakhir

(30)

Antara Pengetahuan dan Perilaku

Data menunjukkan bahwa WPS tidak langsung, yang umumnya berusia lebih muda, lebih berpendidikan, dan mempunyai pelanggan lebih beruang ternyata lebih banyak yang tidak menggunakan kondom daripada WPS langsung.

Di antara WPS tidak langsung yang tahu bahwa pakai kondom dapat mencegah tertular HIV, sekitar 55 persen ternyata tidak menggunakan kondom pada hubungan seks komersial terakhir, sedangkan di antara WPS langsung hanya 10 persen yang tidak menggunakannya.

Tingginya persentase WPS tidak langsung yang tidak pernah menawarkan kondom kepada pelanggannya di satu sisi (25,2 persen) dan rendahnya persentase penggunaan kondom di kalangan WPS tidak langsung sangat menarik untuk disimak. Menurut pengakuan responden alasan tidak pakai kondom di kalangan WPS tidak langsung sekitar 21 persen karena pelanggan tidak mau.

Perbedaan antara pengetahuan dan perilaku (praktek) yang dapat dikaji dari hasil SSP adalah dalam penggunaan kondom. Responden yang tidak menggunakan kondom dalam seks komersial terakhir ditanyakan apa alasannya. Sangat menarik bahwa WPS menunjukkan jawaban yang tidak konsisten, yaitu sebagian besar (43,7 persen) karena kondom tidak tersedia. Padahal menurut pengamatan petugas SSP kondom tersedia/mudah diperoleh di 80 persen dari seluruh lokasi transaksi jasa seks. Alasan berikutnya pelanggan tidak menghendaki pakai kondom karena “merasa kurang enak”.

Lebarnya gap antara pengetahuan dan perilaku berisiko lebih disebabkan karena keengganan pelanggan (pria) untuk meng-gunakan kondom dalam

seks komersial

Gambar 5.2. Tahu bahwa Kondom dapat Mencegah Penularan HIV/AIDS tetapi Tidak Menawarkan dan Tidak Memakainya dalam Hubungan Seks Komersial Terakhir

Pengetahuan dan perilaku WPS langsung relatif lebih konsisten dari pada WPS tidak langsung 7 25 10 55 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Tahu pencegahan HIV pakai kondom tetapi tidak menaw arkan kepada pelanggan pada seks komersial terakhir

Tahu pencegahan HIV pakai kondom tetapi tidak memakainya pada hubungan seks komersial terakhir

(31)

Tingginya persentase hubungan seks komersial tanpa kondom karena “keengganan” kaum laki-laki untuk menggunakannya memberikan indikasi bahwa penyuluhan (promosi) penggunaan kondom tidak cukup hanya berfokus pada WPS. Penyuluhan pada WPS memang telah meningkatkan pengetahuannya mengenai bahaya HIV, dan mungkin telah meningkatkan kesadarannya untuk berperilaku seks sehat, tetapi pada akhirnya keputusan untuk menggunakan kondom atau tidak, pada umumnya tergantung pelanggan.

Seks Anal dan Narkoba

Seks komersial antara WPS dan pelanggan pria tentunya bukan satu-satunya perilaku berisiko terhadap penularan HIV. Seks anal juga mempunyai risiko tinggi untuk tertular HIV, termasuk penularan melalui penggunaan bersama jarum suntik pada pecandu narkoba.

Pengguna narkoba suntik (injecting drug users/IDU) merupakan orang yang paling rentan terinfeksi HIV. Hasil studi terakhir di Jakarta menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pengguna narkoba suntik telah terinfeksi virus penyebab AIDS (KPAN, Jakarta, 2002).∗)

∗) Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, 2002. Ancaman HIV/AIDS di Indonesia Semakin Nyata, Perlu Penanggulangan Lebih Nyata (halaman 7)

Gambar 5.3. Alasan Tidak Menggunakan Kondom pada Seks Komersial Terakhir

Prevalensi mereka yang tertular HIV lebih tinggi di antara pengguna narkoba suntik 46 18 7 7 43 21 17 5 0 20 40 60 80 100 Tidak ada/tidak tersedia Pelanggan tdk mau/terasa kurang enak

Merasa bersih Lainnya

Pe

rs

en

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

(32)

Hasil SSP untuk Kota Jayapura menunjukkan bahwa sekitar 0,5 persen WPS tidak langsung dan pasangannya pernah memakai narkoba suntik, seperti ditunjukkan pada Gambar 5.4. Sementara itu, tidak ada WPS langsung yang menggunakan narkoba suntik, namun 0,8 persen pasangan seksnya menggunakan narkoba suntik.

Gambar 5.4. Responden dan Masing-masing Pasangan Seksnya yang Pernah Menggunakan Narkoba Suntik

0 0,5 0,8 0,5 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

pe

rs

en

Pernah menggunakan narkoba suntik Pasangan seks pernah menggunakan narkoba suntik

(33)

6

IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan

Infeksi Menular Seksual (IMS)

Dari kedua kelompok berisiko yang jadi responden, cukup banyak dari kalangan WPS langsung (15,4 persen) yang pernah mengalami gejala infeksi menular seksual (IMS) dalam setahun terakhir, sedangkan dari kalangan WPS tidak langsung terdapat 11,7 persen.

Data di atas adalah dari apa yang dilaporkan oleh responden. Realitanya barangkali jauh lebih besar karena pada perempuan yang terkena IMS bisa saja tidak menunjukkan simptom atau gejala tertentu, sehingga mereka tidak menyadarinya, sementara sebagian lainnya mungkin tidak melaporkannya karena berbagai alasan.

Infeksi tersebut mereka derita terutama akibat perilaku yang tidak sehat (tidak menggunakan kondom) dalam melakukan hubungan seks. Ini terbukti dari besarnya proporsi mereka yang terkena IMS karena tidak menggunakan kondom ketika berhubungan seks komersial.

Gambar 6.1. Pemakaian Kondom pada Responden yang Mengalami Gejala IMS

Perilaku seks yang tidak sehat harus dibayar mahal dengan menderita infeksi menular seksual (IMS)

17 70 56 5 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Dari yang mengalami gejala IMS, persentase yang tidak pakai kondom dalam seks komersial terakhir

Dari yang mengalami gejala IMS, persentase yang selalu pakai kondom dalam seks komersial seminggu terakhir

(34)

Di kalangan WPS tidak langsung yang terkena gejala IMS, sekitar 70 persen tidak memakai kondom dalam seks komersial terakhir, sementara dari kelompok WPS langsung hanya sekitar 17 persen. Proporsi WPS tidak langsung yang terkena IMS adalah yang tertinggi, dan ini barangkali refleksi dari perilaku seks sebagian besar WPS tidak langsung yang tidak menggunakan kondom ketika berhubungan seks dengan pelanggannya.

Jenis Keluhan IMS

Secara umum, dari seluruh WPS yang mengalami gejala IMS keputihan disertai bau tidak sedap merupakan jenis IMS yang banyak dikeluhkan, terutama WPS langsung (92,3 persen). Di kalangan WPS tidak langsung, selain keputihan, banyak juga di antara mereka yang menderita luka/koreng di daerah alat kelamin (34,8 persen). Ini perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat luka pada alat kelamin, akan membuka pintu bagi masuknya virus HIV dari seseorang ke pasangan seksnya.

Tempat Berobat

Lebih dari 38 persen WPS langsung dan 34,8 persen WPS tidak langsung mencoba mengobati sendiri ketika mereka merasakan simptom IMS. Jelas bahwa pengobatan sendiri tidak efisien, karena 72,6 persen dari responden yang mencoba mengobati dirinya sendiri akhirnya pergi ke tempat pelayanan kesehatan juga.

Gambar 6.2. Jenis Keluhan IMS

Keputihan merupakan jenis IMS yang paling banyak diderita oleh kalangan WPS 13 35 5 9 92 83 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Luka/koreng di daerah alat kelamin

Benjolan di sekitar alat kelamin

Keputihan disertai dengan bau tak sedap

Petugas kesehatan masih merupakan pilihan utama responden untuk pengobatan keluhan IMS

(35)

Hasil SSP di Kota Jayapura menunjukkan bahwa petugas kesehatan masih merupakan tempat mencari pengobatan IMS yang dialami oleh dua kelompok sasaran.

Preferensi permintaan tolong pada petugas kesehatan untuk mengobati IMS yang diderita ternyata berbeda antar kelompok sasaran. WPS langsung mempunyai pilihan tempat berobat yang beragam dan dominan di klinik lokalisasi (45,4 persen). Sementara itu, kalangan WPS tidak langsung (60,0 persen) sangat percaya pada dokter praktek.

Gambar 6.3. Responden yang Pernah Mengalami Gejala IMS menurut Cara yang Dilakukan Saat Mengalami Gejala IMS tersebut

Gambar 6.4. Responden yang Mengalami Gejala IMS menurut Tempat Berobat/Fasilitas Kesehatan

Klinik Lokalisasi adalah tempat pelayanan kesehatan yang lebih “akrab” bagi WPS langsung, tapi WPS tidak langsung lebih menyukai dokter praktek 56 65 5 0 18 17 21 18 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Persen

Berobat ke petugas kesehatan Tidak melakukan sesuatu/tidak diobati

Melakukan pengobatan sendiri dg antibiotik Melakukan pengobatan sendiri dg jamu/obat lain

0 7 5 20 27 60 0 7 23 0 45 6 0 10 20 30 40 50 60 70

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe rs en Rumah Sakit Puskesmas/Pustu Dokter Praktek Mantri/Bidan Klinik Yayasan Klinik Lokalisasi

(36)
(37)

7

Kesimpulan dan Saran

Epidemi HIV telah berlangsung lebih dari 20 tahun dan telah merambah ke seluruh dunia. Kita telah belajar tentang bagaimana dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebarluasan HIV dan mengurangi dampaknya. Berbagai upaya ini biasanya dimulai dengan memberikan informasi dan melakukan kampanye kepedulian pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi HIV. Intervensi seperti ini di Kota Jayapura tampaknya memberikan hasil yang sangat berbeda antar kelompok responden. Lebih dari 81 persen WPS langsung pernah menghadiri pertemuan yang membahas pencegahan HIV/AIDS, sementara di kalangan WPS tidak langsung hanya 22,3 persen.

Satu hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa informasi itu sendiri tidaklah cukup. Mereka sebagai kelompok berisiko tinggi memerlukan motivasi, kepandaian/keterampilan dan pelayanan untuk menindaklanjuti informasi yang diterima. Data yang disajikan dalam laporan ini memberikan gambaran bahwa semua itu masih kurang dalam konteks Kota Jayapura. Hasil SSP di kota ini mengungkapkan adanya perilaku berisiko pada tingkat yang tinggi dan adanya ancaman yang kuat akan cepat meluasnya epidemi HIV.

Temuan Kunci

Pengetahuan dan Persepsi Risiko

• Banyak responden yang telah mendengar tentang AIDS, tetapi pengetahuan lebih rinci tentang bagaimana cara pencegahannya masih relatif rendah.

• Di antara responden ada yang mempunyai keyakinan bahwa pasangan bersih dapat melindungi atau mencegah dari tertular IMS, juga HIV. Keyakinan ini jelas membahayakan karena berangkat dari pemahaman yang salah tentang HIV/AIDS.

• Banyak responden yang tahu bagaimana HIV dapat ditularkan tetapi tidak merasa berisiko tertular penyakit tersebut, meskipun mereka melaporkan melakukan hubungan seks tanpa pelindung dengan banyak pasangan. Selain itu, terjadi ketidaksesuaian yang substansial pada responden yang merasa berisiko dengan perilaku berisiko yang mereka lakukan.

Perilaku Berisiko dan Kondom

• Terlepas dari masih rendahnya tingkat penggunaan kondom, kondom pada kenyataannya relatif mudah didapat di tempat transaksi seks.

(38)

• Alasan WPS tidak menggunakan kondom karena pelanggannya tidak suka atau tidak mau menggunakannya tercatat cukup besar.

• Proporsi responden yang menggunakan narkoba suntik memang kecil, namun aktivitas ini merupakan kegiatan yang sangat berisiko tinggi tertular HIV.

Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan

• Perilaku berisiko tinggi mempunyai konsekuensi gejala yang dapat diukur dari tingginya persentase orang-orang yang melaporkan tertular IMS. Mayoritas responden yang pernah tertular IMS adalah WPS tidak langsung yang melaporkan tidak menggunakan kondom. • Banyak responden mempunyai gejala IMS berusaha mengobati diri

mereka sendiri terlebih dahulu. Bila upaya ini gagal baru mereka pergi ke tempat pelayanan kesehatan.

• Tempat pelayanan kesehatan yang paling banyak digunakan oleh WPS tidak langsung adalah tempat praktek dokter, sementara WPS langsung lebih memilih klinik di lokalisasi.

Usulan Tindakan

• Menjamin tersedianya akses terhadap informasi yang benar, rinci, dan relevan tentang HIV, dan bagaimana pencegahannya untuk kelompok masyarakat yang berisiko tinggi.

• Menyediakan informasi rinci tentang kondom bagi kaum lelaki, termasuk demonstrasi penggunaannya, dan pengorganisasian “kampanye penggunaan kondom”. Kalau perlu berikan “insentif” bagi kaum lelaki yang tidak pernah menggunakan kondom untuk mencobanya.

• Bekerjasama dengan pemilik rumah bordil, bar, dan panti pijat untuk menganjurkan para germo/mucikari/mami, dan berbagai pihak berpengaruh yang mempunyai kontak dengan pelanggan untuk menegosiasikan penggunaan kondom dan menyediakan kondom langsung bagi para pelanggan.

• Melaksanakan penelitian kualitatif untuk memahami secara lebih baik mengapa responden yang melaporkan berperilaku berisiko tidak merasa terancam oleh HIV dan IMS, dan menggunakan hasil penelitian tersebut untuk kampanye perlindungan di masa datang. • Kampanye secara aktif untuk mengakhiri kepercayaan bahwa

meminum obat dan cara lain yang keliru merupakan cara yang benar untuk melindungi diri dari IMS dan HIV.

(39)

• Berupaya secara aktif untuk menghentikan praktek-praktek penyuntikan massal bagi pekerja seks. Mempertimbangkan sanksi hukumnya termasuk menutup atau membekukan izin praktek bagi orang-orang yang menyediakan “jasa” tersebut.

• Menjamin bahwa praktisi medis (termasuk dokter praktek) yang menyediakan pelayanan pengobatan IMS bagi kelompok berisiko tinggi telah mendapat pelatihan yang memadai tentang pengelolaan dan konseling pencegahan, serta mempunyai akses pada pelayanan jasa laboratorium yang berkualitas dan pasokan obat-obatan yang tepat.

• Bekerjasama dengan pekerja-pekerja di bidang industri seks dan yang terkait untuk merujuk skrining dan perawatan IMS kepada tenaga terlatih yang tepat. Mempertimbangkan untuk mengenalkan “kartu sehat” bagi WPS, yang mencatat kunjungan skrining dan riwayat perlakuan pengobatan yang pernah dialami.

• Melakukan penilaian secara rinci mengenai penggunaan narkoba suntik dan kaitannya dengan seks komersial, dan memulai program pengurangannya bila diperlukan.

Gambar

Gambar  Judul Gambar
Tabel Indikator Kunci  Indikator  WPS  Langsung  WPS  Tidak  Langsung    1. Persentase yang pernah mendengar HIV/AIDS  89,7  90,4    2
Tabel Realisasi Sampel Survei Surveilans Perilaku 2002 di Kota Jayapura  WPS Langsung  WPS Tidak Langsung
Gambar 2.1.  Struktur Umur Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

(5) Apabila permohonan perubahan SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditolak atau hasil pemeriksaan lapangan tidak sesuai sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Direktur

[r]

Kriteria kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari analisis terhadap hasil validasi para ahli, dimana perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh para

Hubungan antara yayasan Taman Pendidikan Kanjeng Sepuh dengan pondok-pondok tertua yang ada di Sidayu tidak hanya berupa pemberian izin dan perestuan

Hukum waris Mesir tahun 1946 menyatakan bahwa seorang anak yang lebih dahulu meninggal dunia dan meninggalkan anak, maka si cucu itu menggantikan ayahnya dalam mewarisi

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mengetahui jarak pandangan henti minimum berdasarkan kecepatan kendaraan dan jarak pandang yang

Pada indikator kebutuhan integratif sosial (social integrative needs) menunjukkan bahwa komunikasi yang terjalin antara mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan orang lain

Apabila perceived value (nilai yang dirasakan) konsumen semakin tinggi, konsumen akan semakin puas. Kepuasan yang semakin tinggi, akan mendorong konsumen menunjukkan