Bandung. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan ukuran sampel adalah 2 orang remaja madya, masih memiliki orang tua, dan ditinggalkan oleh orang tua saat menginjak usia remaja. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan teknik pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi. Alat ukur yang digunakan didasarkan pada teori forgiveness dari Robert D. Enright, PhD. Untuk validitas digunakan content validity dan jumlah item yang valid adalah 62 item. Untuk reliabilitas menggunakan interrater reliability. Data diolah dengan menggunakan teknik coding.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kedua responden telah menyadari bahwa mereka beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit 2), ada hal yang berubah secara negatif pada diri mereka (unit 7), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah berhasil (unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan dengan terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup baru mereka telah muncul (unit 19), namun mereka belum mengevaluasi defense (unit 1) dan merasa dirinya sudah mengembangkan kesehatan psikologis (unit 20). S. Pada unit 4 kedua sampel tidak menunjukkan tingkah laku menyadari emosi yang berlebihan terhadap kejadian saat dirinya ditinggalkan yang dapat menghabiskan energi. Kedua sampel mengalami feedbackloops ke unit 1 dan terjadi konflik dalam diri mereka. Terjadi pseudoforgiveness pada kedua sampel sehingga mereka dapat menemukan makna dari kejadian saat ditinggalkan namun tidak menemukan makna dari proses memaafkan. Pengalaman forgiveness pada keduanya berbeda kualitas.
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR BAGAN ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ……… 1
1.2. Identifikasi Masalah ……….. 8
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ……….. 9
1.3.1. Maksud Penelitian ………... 9
1.3.2. Tujuan Penelitian ……… 9
1.4. Kegunaan Penelitian ……….. 9
1.4.1. Kegunaan Teoritis ………... 9
1.4.2. Kegunaan Praktis ……… 9
1.5. Kerangka Pemikiran ……….. 10
1.6. Asumsi Penelitian ...……… 23
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ………. 24
2.1 Forgiveness ……… 24
2.1.1. Definisi Forgiveness ………. 24
2.1.2. Dasar Teori Forgiveness ... 25
2.1.4. 20-Unit Model ... 27
2.1.5. Fase-fase Forgiveness ... 28
2.1.6. Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness ……… 32
2.1.7. Outcomes Psikologis ………. 33
2.1.8. Hubungan Forgiveness dengan Kesehatan ………... 34
2.1.9. Forgiveness dan Keluarga ………... 35
2.2. Remaja Madya ………... 36
2.2.1. Proses Biologis, Kognitif, dan Sosial-emosional ……….. 36
2.2.2. Perkembangan Kognitif dan Sosial Kognitif ... 36
2.2.3. Pandangan Psikoanalisa ... 37
2.2.4. Pandangan Biologis dan Sosial Budaya ... 37
2.2.5. Remaja dan Keluarga ……… 38
2.3. Panti Asuhan ……….. 39
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 41
3.1. Rancangan Penelitian ... 41
3.2. Skema Prosedur Penelitian ... 41
3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 41
3.3.1. Variabel Penelitian ... 41
3.3.2. Definisi Konseptual ... 42
3.3.3. Definisi Operasional ... 42
3.4. Alat Ukur ... 45
3.4.1. Tabel Alat Ukur Forgiveness ... 45
3.4.2.1. Validitas ……….. 50
3.4.2.2. Reliabilitas ……….. 50
3.4.3. Data Pribadi dan Data Penunjang ... 50
3.4.3.1. Data Pribadi ... 50
3.4.3.2. Data Penunjang ... 51
3.5. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ... 51
3.5.1. Populasi Sasaran ... 51
3.5.2. Karakteristik Sampel ... 51
3.5.3. Teknik Penarikan Sampel ... 52
3.6 Teknik Analisis Data ……….. 52
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………... 53
4.1. Hasil Penelitian ……….. 53
4.1.1. Kasus S ……… 53
4.1.1.1. Identitas Subjek S ………... 53
4.1.1.2. Status Praesens ……… 54
4.1.1.2.1. Status Physicus ……… 54
4.1.1.2.2. Status Psychicus ……….. 54
4.1.1.3. Anamnesa S ……… 54
4.1.1.4. Tabel Fase Forgiveness S ………... 64
4.1.1.5. Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus S ... 102
4.1.2. Kasus I ………. 110
4.1.2.2. Status Praesens ... 110
4.1.2.2.1. Status Physicus ... 110
4.1.2.2.2. Status Psychicus ... 110
4.1.2.3. Anamnesa I ... 111
4.1.2.4. Tabel Fase Forgiveness I ... 120
4.1.2.5. Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus I ... 155
4.2. Pembahasan ... 162
4.2.1. Pembahasan Kasus S ... 162
4.2.2. Pembahasan Kasus I ... 175
4.2.3. Pembahasan Keseluruhan ... 187
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ……… 190
5.1. Kesimpulan ... 190
5.2. Saran ... 193
5.2.1. Saran Penelitian Lanjutan ... 193
5.2.2. Saran Praktis ... 193
DAFTAR PUSTAKA ... 195
DAFTAR RUJUKAN ... 196
Tabel 3.2 Tabel Data Penunjang ... 51
Tabel 4.1 Tabel Fase Forgiveness Kasus S ... 64
Tabel 4.2 Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus S ... 102
Tabel 4.3 Tabel Fase Forgiveness Kasus I ... 120
Lampiran 3.2 Daftar Pertanyaan Data Penunjang ... 203
Lampiran 4.1 Data Mentah Kasus S ... 205
Lampiran 4.2 Data Mentah Kasus I ... 280
Lampiran LOC Sampel S ...
Lampiran LOC Sampel I ...
Lampiran Surat Keterangan ...
1.1 Latar Belakang Masalah
Keluarga bagi anak-anak adalah tempat untuk berlindung dan mencari
solusi yang membuat anak merasa aman, namun pada kenyataannya ada keluarga
yang karena kesulitan ekonomi, atau perceraian, tidak sanggup lagi mengasuh
anak. Para orang tua tidak dapat berkumpul kembali bersama anak-anak mereka,
karena harus mencari nafkah. Akhirnya mereka memilih meninggalkan anak-anak
mereka di tempat lain, seperti di jalanan, dititipkan pada saudara, atau dimasukkan
ke panti asuhan untuk kelangsungan hidup anak-anak, terutama agar dapat
bersekolah.
Menurut konselor di Panti Asuhan ‘X’, panti asuhan pada umumnya
adalah tempat untuk anak dan remaja yang sudah tidak memiliki orang tua, tetapi
pada kenyataannya ada pula remaja yang dititipkan, karena kesulitan ekonomi
atau perceraian. Bagi remaja, orang tua adalah figur untuk menjadi teladan dalam
kehidupan sehari-hari. Walaupun peer penting bagi remaja, namun keluarga juga
penting sebagai tempat berlindung dan mencari solusi (Santrock, 2007). Menurut
Undang-undang No. 23 tahun 2007 tentang Perlindungan anak pasal 1 ayat 1,
yang dimaksud dengan anak ialah seseorang yang belum berusia 18 tahun,
termasuk yang ada dalam kandungan. Dalam Undang-undang No.4 tahun 1979
tentang Kesejahteraan anak pasal 2 ayat 1-4, dinyatakan bahwa : (1) Anak berhak
baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan
berkembang dengan wajar; (2) Anak berhak atas pelayanan untuk
mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan
kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga negara yang baik dan
berguna; (3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam
kandungan maupun sesudah dilahirkan; (4) Anak berhak atas perlindungan
terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. (www.infodokterku.com). Jika
ditinjau dari undang-undang ini, anak berhak mendapatkan perlakuan yang
menyejahterakan diri mereka dari orang tua dan lingkungan di sekitarnya.
Orang tua yang tidak dapat memenuhi kebutuhan remaja untuk merasakan
keluarga yang utuh, akan membuat remaja merasa dibuang, merasa sedih, merasa
tidak diinginkan oleh orang tua, merasa tidak aman, bahkan sakit hati. Kejadian
ini dapat dianggap sebagai suatu ketidakadilan oleh remaja, yaitu sesuatu yang
dirasakan sebagai hal yang membuat tidak bahagia dan merugikan dirinya yang
dilakukan oleh orang di sekitarnya yang kontak langsung dengannya. Hal ini
dapat membuat remaja merasa sakit hati dan tidak memaafkan orang yang
dianggap telah menyakitinya. Ketidakadilan yang dilakukan oleh orang terdekat,
terutama orang tua, akan terasa lebih menyakitkan, karena orang tua diharapkan
dapat mengasuh, merawat, dan menyayangi remaja.
Menurut Enright (2008), rasa sakit hati dan diperlakukan tidak adil dapat
memunculkan kemarahan (anger), kecemasan (anxiety), depresi, perasaan rendah
seorang penyanyi dangdut remaja yang tidak diakui oleh ibunya, A, sedari kecil.
A mengaku pada wartawan bahwa dirinya belum memiliki anak karena belum
pernah menikah. Suatu saat wartawan mendapatkan fakta bahwa A telah memiliki
anak, yaitu Ji dan Ja. A lalu meminta maaf pada kedua anaknya. Ji mau menerima
permintaan maaf A, tetapi Ja tidak mau karena merasa tidak dianggap oleh A. Ja
merasa sakit hati pada A hingga tidak ingin bertemu, bahkan Ja beranggapan
bahwa ibunya yang sesungguhnya adalah ibu tirinya yang mengasuhnya dari
kecil. Kejadian tersebut berlangsung hingga 14 tahun (www.wawasandigital.com).
Ja merasakan kemarahan pada ibu yang telah meninggalkannya. Ja juga tidak
dengan mudah memaafkan perlakuan ibunya saat meninggalkannya. Hal ini
merupakan bentuk ketidakadilan yang menimbulkan sakit hati, yang dapat dibawa
dalam jangka waktu yang lama.
Selain Ja, kasus ketidakadilan juga dialami oleh O, seorang remaja yang
mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat ia masih kecil, O sering
dihukum oleh ibunya karena kesalahan yang menurutnya wajar. Menurut O,
kesalahan sekecil apa pun yang dilakukannya akan tetap dihukum oleh ibunya,
terutama jika ibunya sedang bad mood. Hukuman yang paling sering diterima O
ialah dipukul dan dikurung di dalam gudang. Menurut O, seringkali ibunya
menghukum tanpa alasan yang jelas. Pernah suatu kali O pulang sekolah dan
ibunya tiba-tiba menghampiri dirinya, lalu tanpa alasan yang jelas, menurut O,
ibunya menghukum dirinya. Perlakuan tersebut membuat O memutuskan untuk
tidak tinggal di rumah, melainkan kost. Pada kasus-kasus di atas bentuk
diperlakukan kasar. Mereka tidak dapat merasakan keutuhan keluarga dengan
adanya orang tua. Hal tersebut juga dialami oleh remaja yang ditinggalkan orang
tuanya di Panti Asuhan ‘X’ karena berbagai alasan, seperti ibu bekerja dan tidak
dapat membagi waktu. Selain itu ada pula yang karena kelahirannya tidak
diinginkan.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan konselor Panti Asuhan ”X”
yang berbasis agama tertentu, yang tinggal dalam panti asuhan tersebut tidak
hanya anak dan remaja yang sudah tidak mempunyai orang tua, tetapi ada juga
remaja yang masih mempunyai orang tua. Anak dan remaja yang ditinggal pun
dari berbagai jenjang usia, ada yang ditinggal sejak bayi dan ada pula yang
ditinggal sejak usia remaja. Berbagai macam alasan dibuat oleh orang tua untuk
menitipkan anak mereka di panti asuhan. Panti asuhan ini menyekolahkan,
membiayai, memberi makan anak dan remaja tersebut hingga mereka mencapai
usia bekerja. Walaupun mereka hidup di panti asuhan dengan layak, tetapi mereka
merasa dalam kehidupannya ada kekurangan. Mereka merasakan kejadian
ditinggalkan di panti asuhan sebagai sebuah ketidakadilan.
Ketidakbersediaan remaja untuk memaafkan tidak hanya berdampak pada
hubungannya dengan orang lain atau dalam belajar, tetapi juga dapat berdampak
pada diri mereka sendiri, terutama pada kesehatan, sistem imun, kardiovaskular,
dan hipertensi (Fitzgibbons dalam Forgiveness is a Choice, 2008). Remaja perlu
melepaskan kebencian dan mempertimbangkan untuk tidak membenci,
memberikan penilaian yang positif, serta mengembangkan kualitas-kualitas rasa
lebih bahagia, damai, dapat bersekolah dengan baik atau menjalani minatnya serta
dapat lebih mengarahkan harapan-harapan mereka ke depan. Hal ini oleh Enright
(1998) disebut sebagai memaafkan (forgiveness). Forgiveness merupakan
kesediaan untuk menerima dan memahami ibu yang telah meninggalkannya
beserta kejadian saat ditinggalkan, berhenti marah pada ibu, dan membuat diri
merasa lebih bahagia, tenang, dapat beraktivitas dengan baik bahkan berprestasi.
Forgiveness memiliki 4 fase, yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase (Enright, 1998). Fase pertama akan tampak dari
keberhasilan remaja untuk mengolah alasannya untuk mengakui bahwa dirinya
merasa sakit hati karena ditinggalkan di panti asuhan, mengakui bahwa dirinya
marah karena telah ditinggalkan di panti asuhan, mengakui bahwa dirinya merasa
malu karena ditinggalkan ibu, menyadari bahwa ada gejala fisiologis yang
diakibatkan karena kemarahan yang berlebihan karena telah ditinggalkan, tidak
memikirkan secara terus-menerus mengenai ibu dan kejadian dirinya ditinggalkan
di panti asuhan, menyadari bahwa dirinya membandingkan keadaannya setelah
ditinggalkan dengan keadaaan ibunya setelah meninggalkannya, menyadari bahwa
tingkah lakunya setelah ditinggalkan telah ‘merusak’ dirinya dan ingin
melepaskan rasa sakit, menyadari bahwa ada pandangannya yang berubah. Fase
kedua akan tampak dari keberhasilan remaja untuk menyadari bahwa
menyalahkan ibu dan kejadian ditinggalkannya secara terus-menerus adalah hal
yang merugikan, rela memaafkan ibu yang telah meninggalkannya, dan
berkomitmen untuk memaafkan orang tua yang telah meninggalkannya. Fase
meninggalkannya, memahami dan dapat merasakan tekanan ibu saat
meninggalkannya, bersedia berbagi tiap kesulitan dan duka yang dihadapi ibu,
tidak melampiaskan rasa sakit hati pada orang lain dan mau memberi perhatian
pada ibu. Fase keempat akan tampak dari keberhasilan remaja untuk menemukan
makna bagi dirinya, menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi
masalah, mampu menetapkan harapan-harapannya, dan merasa ‘lepas’ dari beban.
Berdasarkan survei awal peneliti pada remaja, S, di Panti Asuhan ”X”,
pada saat pertama kali ditinggalkan oleh ibunya, S merasa bahwa ada sesuatu
yang hilang dalam hidupnya. Pada saat ditinggalkan, awalnya S sering menangis,
tetapi sekarang S menangis jika teringat pada kejadian saat dirinya ditinggalkan
oleh ibunya. S merasa kesal, sakit hati, dan kecewa pada ibu yang telah
meninggalkannya (uncovering-konfrontasi kemarahan). S merasa minder karena
harus tinggal di panti asuhan, karena merasa berbeda dari teman-temannya. Ketika
ada orang yang bertanya tentang tempat tinggalnya, S akan merasa risih dan
mengganggap orang itu ingin tahu saja (uncovering-mengakui rasa malu). S
pernah berpikir bahwa hidup ini tidak adil dan keberadaan dirinya di tempat ini
adalah suatu kesalahan. Menurut S, ada seorang temannya yang sudah tidak
memiliki ayah lagi seperti dirinya, tetapi ibunya tidak meninggalkannya di panti
asuhan, seperti yang dilakukan oleh ibu S (uncovering- insight ke dalam
kemungkinan perubahan pandangan ‘just world’). Ketika ibunya menelepon, S
merasa senang mendengar suara ibu karena S rindu pada ibu. S dan ibunya selalu
membicarakan mengenai sekolah. Ibu S menasihati agar ia bersekolah dengan
terkadang S ingin bercerita, terutama mengenai kondisi panti asuhan atas
inisiatifnya sendiri (work-kesadaran akan belas kasihan pada pelaku, bersedia
berbagi dalam suka dan duka).
I, remaja yang lain, juga mengalami hal serupa. I ditinggalkan oleh ibunya
di panti asuhan, sehingga ia menganggapnya sebagai ketidakadilan, terutama
setelah I mengetahui bahwa adik bungsunya tidak ditinggalkan di panti asuhan
dengan alasan untuk menemani ibunya (uncovering-insight ke dalam
kemungkinan perubahan pandangan ‘just world’). I merasa malu tinggal di panti
asuhan, terutama jika mengenai masalah mengeluarkan uang, karena panti asuhan
meminta kuitansi. I juga malu karena merasa menjadi ‘anak titipan’
(uncovering-mengakui rasa malu). Jika ibunya menelepon, I mau menerima telepon dan
menjawab pertanyaan dengan singkat, tetapi terkadang I hanya mendengarkan
cerita ibunya mengenai kondisi ibunya pada saat ini (work-kesadaran akan belas
kasihan pada pelaku, bersedia berbagi dalam suka dan duka). I juga menyadari
bahwa yang ditinggalkan di panti asuhan oleh orang tuanya tidak hanya dirinya,
sehingga I berusaha untuk menjalin relasi yang baik dengan teman-teman baru di
panti asuhan (deepening-insight bahwa dirinya tidak sendiri). I awalnya sering
menangis, tetapi I lalu berpikir bahwa menangis terus tidak ada gunanya
(decision-insight bahwa strategi resolusi lama tidak bekerja).
Dari uraian di atas terlihat bahwa banyak hal yang ingin remaja capai
dengan bimbingan ibu. Remaja di panti asuhan tidak merasakan kehadiran ibu
sebagai figur yang dapat membimbing. Mereka merasakan kemarahan yang besar
rasa marah pada ibu mereka dan dapat melangkah ke masa depan dengan tidak
dibayang-bayangi oleh masa lalu. Dari fakta-fakta tersebut dapat dilihat bahwa
remaja yang ditinggalkan di panti asuhan memiliki kesulitan dan berbagai
masalah dalam kehidupan mereka. Remaja harus beradaptasi dengan keadaan di
panti asuhan, harus mampu menjawab pertanyaan teman-temannya mengenai ibu
dan tempat tinggal, dan menahan rasa rindu pada ibu. Pembinaan yang dilakukan
pengasuh dapat mengajarkan mereka untuk memaafkan dan hal ini didukung oleh
iman agama mereka. Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa ada proses
memaafkan yang dialami remaja di panti asuhan, namun proses pencapaiannya
berbeda-beda. Hal ini tergantung pada penghayatan, sudut pandang, dan penilaian
remaja. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai forgiveness
pada remaja yang masih memiliki ibu di panti asuhan.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana fase forgiveness yang
dilalui oleh remaja di Panti Asuhan “X” Bandung.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud penelitian ini untuk memperoleh gambaran dinamika fase
1.3.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran dinamika mengenai
tahap-tahap fase forgiveness yang telah dan sedang dilalui remaja yang masih
memiliki ibu di Panti Asuhan “X” Bandung dan dihubungkan dengan faktor yang
mempengaruhi forgiveness secara lebih mendalam.
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Teoritis
- Memberi tambahan informasi bagi psikologi, terutama psikologi klinis dan
perkembangan tentang forgiveness pada remaja di panti asuhan yang
masih memiliki ibu.
- Memberi informasi pada peneliti lain yang berminat meneliti lebih lanjut
mengenai forgiveness, terutama pada remaja di panti asuhan yang masih
memiliki ibu.
1.4.2 Kegunaan Praktis
- Memberi masukan pada konselor panti asuhan mengenai cara remaja di
panti asuhan dapat memberikan maaf pada ibu (forgiveness), agar dapat
lebih melihat permasalahan remaja yang dititipkan oleh ibunya di panti
asuhan, dengan cara memberikan bimbingan dan konseling pada remaja,
seperti membantu mereka meredakan kemarahan dengan mengolah emosi
yang muncul karena ditinggalkan di panti asuhan dan membantu mereka
menyadari emosi-emosi negatif yang muncul, sehingga remaja dapat
memaafkan ibu.
- Memberi masukan bagi para remaja yang dititipkan di panti asuhan
mengenai gambaran dinamika forgiveness, agar dapat mengaktualisasikan
diri dan bersosialisasi, dengan cara mengolah emosi yang muncul karena
ditinggalkan di panti asuhan dan membuka pertahanan diri dari ketakutan
atau kecemasan (defense), dengan menyadari emosi-emosi negatif,
sehingga dapat memaafkan ibu.
1.5 Kerangka Pemikiran
Remaja di Panti Asuhan “X” usia 15-17 tahun berada pada tahap middle
adolescent (Arnett, 2000; Kagan & Coles, 1972; Keniston, 1970; Lipsitz, 1977 sit
Steinberg, 2002). Remaja membutuhkan peer yang dapat dijadikan sahabat dan
berbagi mengenai masalah yang mereka hadapi. Mereka berada dalam tahap
kebingungan karena tidak tahu harus memilih yang mana dalam mengambil
keputusan yang tepat dengan permasalahan yang dihadapi. Piaget (dalam
Santrock, 1996) menyatakan bahwa tahap perkembagan kognitif remaja berada
dalam tahap formal operasional. Ciri-ciri tahap ini adalah dapat berpikir secara
abstrak, mampu membayangkan situasi rekaan, kejadian yang semata-mata berupa
kemungkinan hipotesis atau proporsi abstrak dan mencoba mengolahnya dengan
pemikiran logis. Selain itu, remaja juga sudah mampu memecahkan masalah
walau hanya diungkapkan secara verbal, muncul pemikiran yang penuh idealisme
mereka dengan orang lain, serta mampu menyusun rencana pemecahan masalah
dan mengujinya secara sistematis.
Bila kita cermati lebih lanjut, Freud (dalam Santrock, 1996) percaya
bahwa kehidupan remaja penuh dengan konflik dan ketegangan, sehingga
perasaan dan pikiran tentang kejadian yang dialami dapat dimasukkan ke alam
bawah sadar, agar dapat lebih tenang, sehingga tingkah laku yang muncul belum
tentu menggambarkan perasaan yang sesungguhnya. Erikson (dalam Santrock,
1996) menyatakan bahwa tugas orang tua dalam tahap remaja ini adalah memberi
kebebasan pada remaja untuk mengeksplorasi dunianya. Walau diberi kebebasan,
remaja tetap harus dibimbing untuk menemukan jalan yang benar dalam
menjalankan perannya.
Selanjutnya remaja menganggap orang tua sebagai figur yang dapat
mendukung mereka dalam menjelajahi dunia yang lebih luas dan rumit. Peran
orang tua dalam kehidupan remaja adalah memfasilitasi kecakapan dan
kesejahteraan sosial yang dicerminkan dalam harga diri, penyesuaian emosi, dan
kesehatan fisik. Remaja akan merasa lebih senang jika menerima bantuan dari
orang tuanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Armsden & Greenberg
(1987, dalam Santrock, 1996), remaja akan memiliki harga diri yang lebih tinggi
saat memiliki hubungan yang aman dengan orang tua. Keluarga dengan remaja,
menurut Duvall (1977), memiliki tugas perkembangan untuk memberi kebebasan
dalam memberi tanggung jawab, mempertahankan hubungan yang intim dengan
keluarga, mempertahankan komunikasi yang terbuka, perubahan sistem peran dan
Pada remaja di Panti Asuhan “X”, mereka dapat menghayati orang tua
meninggalkan mereka pada usia remaja dan tidak menjalankan peran sebagai
orang tua dengan remajanya. Mereka dapat menghayati bahwa orang tua mereka
tidak mempertahankan hubungan yang intim, komunikasi yang terbuka, atau
menjalankan peran sebagai orang tua yang dapat membuat mereka menyalahkan
orang tua mereka bahkan tidak memaafkan. Dengan perasaan seperti itu, mereka
dapat merasa tidak bahagia dan tidak dapat mengaktualisasikan diri. Oleh karena
itu mereka perlu melakukan forgiveness.
Forgiveness adalah kesediaan melepaskan hak untuk membenci, memberi
penilaian negatif, dan perilaku yang acuh terhadap orang lain yang menyakiti
remaja secara tidak adil, serta mengembangkan kualitas-kualitas rasa belas
kasihan, kedermawanan, dan bahkan cinta bagi orang tersebut (Enright et all.,
1998). Forgiveness lebih dari menerima atau menoleransi ketidakdilan,
menghentikan kemarahan pada pelaku, membuat diri remaja merasa lebih damai,
dan forgiveness tidak sama dengan melupakan kejadian / perlakuan tidak adil.
Bila seseorang berhasil melakukan forgiveness bukan berarti mereka
mempersilakan kesalahan terjadi, bukan berarti pula mereka telah menjalani
rekonsiliasi, tetapi mereka dapat terbebas dari kemarahan.
Forgiveness memiliki empat fase, yaitu uncovering, decision, work, deepening. Dalam uncovering phase remaja melewati : (1) Remaja melakukan
evaluasi terhadap defense yang melindungi diri mereka dari perasaan yang
bertentangan seperti ketakutan atau kecemasan. Seperti remaja melakukan
yang benar dengan meninggalkan mereka di panti asuhan, karena jika tinggal
dengan ibu mereka merasa akan merepotkan ibu; (2) Remaja menghadapi dan
mengakui kemarahannya. Seperti remaja yang menangis saat teringat kembali
kejadian saat mereka ditinggalkan di panti asuhan dan merasa kecewa dengan
perlakuan ibunya; (3) Remaja mengakui rasa malu. Seperti remaja merasa minder
karena berbeda dengan teman-temannya yang masih tinggal dengan ibu mereka
dan merasa bahwa semua mata memandang kepada mereka karena perbedaan
mereka dan ingin mengejek mereka; (4) Remaja menyadari chatexis (akumulasi
energi fisik dari sebuah energi mental). Seperti remaja menjadi tiba-tiba sakit
perut saat sedang belajar; (5) Remaja memiliki kesadaran akan pengulangan
kognitif akan perlakuan yang salah. Seperti remaja sering menangis dan merasa
kesal saat teringat kembali akan kejadian saat ibunya meninggalkannya; (6)
Remaja insight (satu pemecahan yang baru, tidak berdasarkan pengalaman
sebelumnya) bahwa ‘korban’ akan membandingkan dirinya dengan pelaku.
Seperti remaja yang membandingkan diri mereka dengan ibunya yang
meninggalkannya dan merasa mereka tidak menjadi beban lagi bagi ibu; (7)
Kesadaran bahwa remaja dapat berubah secara berlawanan dan permanen. Seperti
remaja yang berpikir bahwa mereka kehilangan ‘rumah’ karena ibu mereka yang
boros; (8) Insight bahwa ada kemungkinan perubahan sudut pandang di mana
remaja, sebagai korban, merasa dunia tidak adil. Seperti remaja yang berpikir
bahwa panti asuhan bukanlah tempat yang terlalu buruk dengan remaja-remaja
Dalam decision phase remaja : (9) Remaja mengalami insight bahwa
strategi resolusi lama tidak bekerja. Seperti remaja yang berpikir bahwa menangis
tiap hari tidak ada gunanya dan akan lebih berguna bila bergaul dengan teman
sebaya di panti asuhan. (10) Kesediaan remaja mempertimbangkan forgiveness
sebagai pilihan. Seperti remaja mulai berpikir untuk memaafkan ibu. (11)
Komitmen untuk memaafkan ibu yang dianggap sebagai pelaku. Seperti remaja
memutuskan untuk memaafkan ibu.
Dalam work phase remaja melewati : (12) Remaja melakukan reframing
(membentuk kembali kerangka pemikiran) dengan mengambil sudut pandang
pelaku. Seperti remaja yang tidak mengetahui masa lalu ibunya. Remaja
memandang ibu mereka sebagai pelaku. (13) Remaja berempati pada ibu. (14)
Remaja bersedia berbagi duka yang dilalui ibu. Seperti mau mendengarkan
kesulitan yang dihadapi ibu. (15) Remaja menerima dan menyerap rasa sakit.
Seperti tidak melampiaskan rasa sakit yang muncul karena ditinggalkan di panti
asuhan pada orang lain.
Dalam deepening phase remaja : (16) Remaja menemukan makna untuk
dirinya sendiri dan orang lain. Seperti remaja mengambil hikmah dari kejadian
ditinggalkan di panti asuhan. (17) Remaja memiliki keinginan untuk dimaafkan
orang lain. Seperti remaja dapat mengingat kembali kejadian saat dirinya berbuat
salah. (18) Remaja insight bahwa dirinya tidak sendiri. Seperti remaja menghayati
bahwa di panti asuhan orang yang masih memiliki orang tua tidak hanya mereka,
tujuan hidup baru. Seperti remaja memiliki cita-cita. (20) Kesadaran akan
pengurangan afek negatif.
Fase-fase dalam forgiveness memiliki unit-unit yang akan dilewati oleh
remaja hingga mencapai forgiveness. Tahapan dalam fase tidaklah harus dilewati
semua dan bukan merupakan suatu tahapan yang kaku. Setiap remaja diciptakan
berbeda satu dengan yang lainnya dan dapat memiliki gambaran akan tahapan
forgiveness yang berbeda pula. Remaja dengan segala keunikan yang ada dalam
dirinya dapat melakukan feed forward (remaja dapat meloncati suatu tahapan) dan
feedback loops (remaja dapat kembali pada tahapan yang belum atau telah
dilewati).
Faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness adalah : (1) Seberapa dalam
luka yang dialami. Semakin dalam luka maka semakin lama waktu yang
dibutuhkan. Jika ketidakadilannya semakin spesifik maka akan semakin dapat
menyelesaikan jika dapat mengingat kejadiannya secara detail. (2) Hubungan
antara korban dengan pelaku. Jika remaja disakiti oleh anggota keluarga dan
memutuskan hubungan dengan anggota keluarga tersebut karena tidak rela
memaafkan, maka harus ada usaha untuk mengembalikan hubungan tersebut,
kecuali pelaku dapat melakukan hal yang berbahaya bagi remaja. (3) Seberapa
banyak pengalaman korban untuk memaafkan. Semakin banyak pengalaman
untuk mempraktikkan forgiveness maka akan semakin mudah bagi korban untuk
melakukan forgiveness. (4) Sudah berapa lama kejadian ketidakadilan
berlangsung. Jika seseorang disarankan untuk harus dengan segera mulai
kemarahan yang mendahului proses forgiveness telah diabaikan (Enright,
Forgiveness is A Choice). Semakin jauh rentang waktu, maka akan semakin
banyak persoalan yang dialami individu (Enright, 2010).
Remaja dapat membentuk image mengenai hal yang diinginkan di masa
mendatang dengan cara meregulasi diri, sehingga ia dapat mengembangkan
strategi tingkah laku menuju goal yang diinginkan yang dapat membuat dirinya
lebih sejahtera dan dapat mengaktualisasikan diri. Dalam melakukan forgiveness
remaja dapat mengobservasi langsung tingkah laku orang lain, mendengar
bagaimana cara orang lain memaafkan, membaca literatur mengenai forgiveness.
Ibu dapat berperan sebagai model tetapi jika ibu menjadi pelaku maka akan lebih
sulit bagi remaja untuk memaafkan, tetapi bukan tidak mungkin bagi remaja untuk
memaafkan. Remaja dapat belajar dari orang lain atau membaca literatur.
Pengalaman keberhasilan remaja dalam memaafkan orang lain juga dapat
mempengaruhi upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan (Enright, 2010).
Remaja yang memiliki hubungan yang intim dengan ibu dapat lebih
banyak menimbulkan konflik saat ibu menjadi pelaku atas ketidakadilan terhadap
dirinya, sehingga akan menimbulkan luka yang lebih dalam dan lebih sulit untuk
membuka defense tetapi dapat pula remaja yang memiliki hubungan yang intim
dengan ibu dapat membuka defense (unit 1). Jika remaja sulit membuka defense
dapat membuat remaja membutuhkan banyak energi untuk marah dan dapat
mengalami psikosomatis (unit 4). Akan tetapi jika remaja yang tidak memiliki
hubungan yang intim dengan ibunya, maka konflik yang dialami pun dapat
mudah untuk membuka defense, tetapi dapat pula sulit membuka defense (unit 1).
Jika remaja mudah membuka defense maka dapat membuat remaja tidak terlalu
banyak mengeluarkan energi untuk marah, sehingga tidak sampai mengalami
psikosomatis (unit 4). Jika remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan maka
ia dapat belajar untuk meregulasi diri, tetapi apabila kejadian ketidakadilan sudah
berlangsung lama maka akan ada kemungkinan remaja tidak menyadari dirinya
melakukan chatexis. Akan tetapi jika remaja tidak memiliki pengalaman untuk
memaafkan dan kejadian ketidakadilan baru saja berlangsung dalam waktu dekat,
maka ia tidak dapat belajar untuk meregulasi diri. (unit 4)
Remaja yang disakiti oleh ibunya akan ada kemungkinan tidak mau
menghadapi kemarahannya karena terasa menyakitkan untuk dihadapi, tetapi jika
remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan maka ada kemungkinan ia mau
mencoba menghadapi kemarahannya. Remaja yang disakiti oleh orang asing atau
orang yang tidak memiliki hubungan intim dengannya, mungkin lebih mudah
untuk menghadapi kemarahannya (unit 2).
Remaja di panti asuhan yang ditinggalkan oleh ibunya kemungkinan akan
merasa malu untuk mengakui bahwa ibunya telah meninggalkannya di panti
asuhan. Hal ini dapat membuat lebih banyak konflik muncul karena hubungan
yang intim. Jika waktu antara kejadian ketidakadilan dengan saat ini semakin jauh
dan remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka kemungkinan akan
lebih dapat mengakui rasa malunya dan tidak mendominasi orang lain atau
menyalahkan ibu atas semua kesalahan yang terjadi untuk menutupi rasa malunya.
malunya. Jika kejadian ketidakadilan baru saja terjadi dan tidak memiliki
pengalaman untuk memaafkan maka remaja kemungkinan tidak mau mengakui
rasa malunya dan dapat mendominasi orang lain atau menyalahkan pelaku atas
semua kesalahan yang terjadi (unit 3).
Remaja yang menghayati lukanya dalam, maka akan ada pengulangan
mengenai kejadian ketidakadilan dalam pikirannya, terutama jika ia menyalahkan
ibu atas semua kejadian yang menimpanya, maka ia akan semakin dihantui oleh
kejadian ketidakadilan itu atau oleh ibu sebagai pelaku dan menyembunyikannya
dengan cara yang tidak efektif. Akan tetapi remaja yang menghayati lukanya
dalam dapat pula tidak melakukan pengulangan mengenai kejadian ketidakadilan
dalam pikirannya. Jika remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka
semakin mudah untuk mengevaluasi diri bahwa strategi yang dipakai untuk
menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan memaafkan tidak efektif. Akan
tetapi jika luka yang dihayati remaja tidak terlalu dalam, maka akan lebih sedikit
pengulangan dalam pikirannya, terutama jika ia tidak menyalahkan pelaku atas
semua kejadian yang menimpanya maka ia akan semakin sedikit merasa dihantui
oleh pelaku atau kejadian ketidakadilan. Mereka pun dapat menyadari bahwa
strategi yang dipakainya untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan
memaafkan tidak efektif. Jika remaja tidak memiliki pengalaman untuk
memaafkan, maka lebih sulit untuk mengevaluasi diri bahwa strateginya tidak
efektif. (unit 5&9)
Remaja yang memiliki luka yang dalam dapat menghayati bahwa ibunya
asuhan, tetapi ada pula remaja yang tidak merasa bahwa ibunya lebih sejahtera.
Sedangkan jika luka yang dihayati oleh remaja tidak terlalu dalam, maka mereka
dapat mengira bahwa ibunya merasakan penderitaan yang mungkin sama dengan
yang mereka alami, tetapi ada pula remaja yang dapat menghayati ibunya lebih
sejahtera (unit 6). Luka yang dalam dan bersifat fisik dapat membuat remaja sulit
untuk memaafkan, tetapi jika luka tidak bersifat fisik dan remaja menghayati
lukanya tidak terlalu dalam, maka akan dapat membuat remaja lebih mudah untuk
memaafkan (unit 7). Kejadian ketidakadilan dan luka yang ditimbulkan pun dapat
membuat remaja berubah haluan, misalnya remaja yang tadinya percaya Tuhan,
dapat menjadi menyalahkan Tuhan atau menjadi semakin percaya Tuhan. Remaja
pun dapat menjadi bertolak belakang dengan ibu. Akan tetapi kejadian
ketidakadilan dan luka yang ditimbulkan mungkin saja tidak membuat remaja
berubah haluan (unit 8).
Lebih dalam luka yang dialami maka lebih banyak dukungan yang
dibutuhkan untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk
memaafkan, tetapi dapat pula tidak membutuhkan banyak dukungan. Jika luka
yang dihayati tidak terlalu dalam maka lebih sedikit dukungan yang dibutuhkan
untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan,
tetapi dapat pula lebih banyak dukungan yang dibutuhkan. Lebih intim hubungan
dengan ibu, maka akan lebih banyak usaha yang diperlukan untuk mengembalikan
hubungan. Jika remaja menghayati hubungannya dengan ibu tidak terlalu intim
maka semakin sedikit usaha yang diperlukan untuk mengembalikan hubungan.
mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan. Akan
tetapi remaja yang tidak memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka lebih sulit
untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan.
(unit 10&11)
Lebih dalam luka yang dialami dan lebih banyak konflik yang dialami
remaja, maka sulit bagi remaja untuk mau melihat latar belakang ibu dan sulit
berempati terhadap ibu, tetapi ada pula remaja yang mau melihat latar belakang
ibu. Jika luka yang dihayati tidak terlalu dalam dan konflik yang dialami tidak
terlalu banyak, maka lebih mudah bagi remaja untuk mau melihat latar belakang
pelaku dan semakin mudah berempati terhadap pelaku, tetapi ada pula remaja
yang tidak mau melihat latar belakang ibu (unit 12&13). Luka yang dalam dapat
membuat remaja melampiaskan rasa sakitnya dan semakin enggan untuk memberi
hadiah pada ibunya, tetapi ada pula remaja yang mau untuk memberi perhatian
atau melakukan hal yang diinginkan ibu. Remaja yang menghayati lukanya tidak
terlalu dalam, kemungkinan tidak melampiaskan rasa sakitnya dan mau untuk
memberi perhatian pada pelaku, tetapi ada pula remaja yang menjadi enggan
untuk memberi perhatian (unit 14&15). Remaja yang memiliki pengalaman untuk
memaafkan maka lebih mudah untuk menemukan makna, tetapi jika remaja sulit
untuk membuka diri maka akan sulit untuk menemukan makna. Remaja yang
tidak memiliki pengalaman untuk memaafkan maka lebih sulit untuk menemukan
makna tetapi jika remaja mau membuka diri maka dapat semakin mudah untuk
Remaja yang menghayati lukanya terasa dalam, dapat berpikir bahwa
dirinya seorang diri saja dan tidak ada orang lain yang memiliki luka sedalam luka
miliknya, sehingga remaja dapat sulit memikirkan bahwa dirinya pernah
membutuhkan maaf dari orang lain. Akan tetapi jika luka yang dihayati tidak
terlalu dalam, maka remaja dapat berpikir bahwa dirinya tidak sendirian dan
masih ada orang lain yang mungkin senasib dengan dirinya, sehingga remaja
dapat memikirkan bahwa dirinya pernah membutuhkan maaf dari orang lain. Di
sisi lain remaja yang menghayati lukanya dalam dapat pula berpikir bahwa dirinya
tidak seorang diri, tetapi remaja yang lukanya tidak dalam dapat berpikir bahwa
dirinya sendirian. (unit 17&18).
Remaja yang menghayati lukanya dalam dan tidak memiliki pengalaman
untuk memaafkan akan lebih sulit untuk merasa “lepas” dari bebannya dan dapat
menetapkan tujuan hidup yang baru. Jika luka yang dihayati tidak dalam dan
memiliki pengalaman memaafkan, maka akan semakin mudah untuk merasa
“lepas” dan menentukan tujuan hidup yang baru, tetapi ada pula yang dapat
Aspek-aspek perkembangan remaja madya : kognitif (formal operational), emosi (masa konflik dan ketegangan),
sosial (berorientasi pada peer)
Remaja yang masih memiliki ibu dan ditinggalkan di Panti Asuhan “X” Bandung
pada usia remaja
Forgiveness Uncovering
Decision
Work
Deepening
Faktor yang mempengaruhi :
1. Hubungan antara pelaku dengan korban
2. Seberapa dalam luka yang dialami 3. Seberapa banyak pengalaman yang
dimiliki korban
4. Sudah berapa lama kejadian tersebut berlangsung
1.6 Asumsi Penelitian
- Pada remaja di Panti Asuhan ”X” dapat memiliki fase forgiveness yang
terdiri dari uncovering, decision, work, deepening.
- Tahap forgiveness pada remaja dipengaruhi oleh hubungan antara remaja
dengan ibu, sudah berapa lama ibu meninggalkan remaja, pengalaman
remaja untuk memaafkan dan dimaafkan, dan kedalaman luka yang
dirasakan remaja akibat ketidakadilan yang dilakukan ibu.
- Faktor yang mempengaruhi proses forgiveness dapat membuat tahapan
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. S dan I telah melewati beberapa unit dalam fase forgiveness. S telah
menyadari bahwa dirinya beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan
emosi-emosi negatif (unit 2), membandingkan keadaan dirinya dengan
keadaan ibu saat ini (unit 6), ada hal yang berubah secara negatif pada
dirinya (unit 7), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang
dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah
berhasil (unit 9), mempertimbangkan forgiveness sebagai pilihan (unit 10),
mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar belakang ibu
(unit 12), mau berempati pada ibu (unit 13), rela berbagi dalam
pengalaman duka yang dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman
mengenai memaafkan dengan terlibat dalam jaringan dukungan
interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup baru telah muncul (unit 19).
Sedangkan I telah menyadari bahwa dirinya beraksi terhadap kejadian
ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit 2), mengakui rasa malu
(unit 3), menyadari adanya pengulangan akan ibu dan kejadian
ketidakadilan dalam pikirannya (unit 5), ada hal yang berubah secara
(unit 8), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang
dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah
berhasil (unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami
latar belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang
dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan
dengan terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan
tujuan hidup baru telah muncul (unit 19).
2. S dan I belum melewati beberapa unit dalam fase forgiveness. S belum
melakukan pemeriksaan defense psikologis (unit 1), rasa malu masih
mempengaruhi kehidupan S secara negatif (unit 3), belum menyadari
bahwa emosi yang berlebihan menghabiskan energinya dan mengubah
kebiasaan akan kesehatan (unit 4), belum ada penurunan frekuensi
pemikiran negatif akan pelaku dan kejadian saat ditinggalkan (unit 5),
belum menyadari bahwa dirinya membuat kesimpulan mengenai
ketidakadilan hidup (unit 8), belum menemukan makna dari proses
memaafkan (unit 16), belum mengembangkan kesehatan psikologis dan
merasa “lepas” (unit 20). I belum melakukan pemeriksaan defense
psikologis (unit 1), belum menyadari bahwa emosi yang berlebihan
menghabiskan energinya dan mengubah kebiasaan akan kesehatan (unit 4),
belum menyadari bahwa ia membandingkan kondisinya dengan kondisi
ibu setelah meninggalkannya (unit 6), tidak mempertimbangkan untuk
memaafkan ibu (unit 10), belum ada empati (unit 13), belum memberi
memaafkan (unit 16), belum mengenali bahwa dirinya pernah
membutuhkan maaf dari orang lain (unit 17), belum mengembangkan
kesehatan psikologis dan merasa “lepas” (unit 20).
3. Persamaan kedua partisipan adalah mereka telah menyadari bahwa mereka
beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit
2), ada hal yang berubah secara negatif pada diri mereka (unit 7),
mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang dipakainya
selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah berhasil
(unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar
belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang dilalui
ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan dengan
terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup
baru mereka telah muncul (unit 19), namun mereka belum mengevaluasi
defense (unit 1) dan belum mengembangkan kesehatan psikologis (unit
20), serta pada unit 4 kedua sampel tidak menunjukkan tingkah laku
menyadari emosi yang berlebihan terhadap kejadian saat dirinya
ditinggalkan yang dapat menghabiskan energi.
4. S dan I mengalami feedbackloops ke unit 1 (evaluasi defense), namun S
lebih sering mengalami feedbackloops ke unit 1 dibandingkan dengan I,
karena konflik yang dialami S lebih kuat dibandingkan dengan I. Defense
yang digunakan S adalah rasionalisasi, supresi, dan represi. Defense yang
5. Konflik yang dialami S adalah S sebenarnya masih tidak terima
ditinggalkan di panti asuhan, namun secara agama S tidak diperbolehkan
marah pada ibu, terutama karena S merasa hubungannya dengan ibu
menjadi lebih dekat. Sedangkan konflik yang dialami I adalah I masih
marah pada ibu karena meninggalkannya di panti asuhan, namun I berpikir
bahwa ibu melakukan tindakan yang benar sehingga dapat bersekolah
walaupun I merasa hubungannya dengan ibu tidak dekat karena ibu mudah
marah.
6. Kedua partisipan dapat menemukan makna dari ditinggalkannya dirinya di
panti asuhan, namun mereka belum menemukan makna dari proses
memaafkan, karena para partisipan masih menggunakan defense, yaitu
supresi, dalam memaafkan ibu, sehingga terhadi pseudoforgiveness.
7. Kedua partisipan memiliki kualitas pengalaman memaafkan yang berbeda
yang dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk memaafkan ibu. S
merasa dirinya lebih sering meminta maaf jika ada masalah dengan orang
lain, terlepas dari siapa yang bersalah. I mengetahui bahwa dirinya pernah
berbuat salah pada anggota keluarga, namun tidak pernah meminta maaf
karena gengsi.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas dan dengan menyadari adanya keterbatasan dari
hasil penelitian yang telah diperoleh, maka peneliti merasa perlu mengajukan
5.2.1 Saran Penelitian Lanjutan
1. Diadakan penelitian lanjutan yang mengkombinasikan studi kasus dan
deskriptif yang mengukur sejauh mana fase forgiveness yang dilalui dan
derajat forgiveness, sehingga dapat diketahui hubungan antara derajat
kesediaan dengan dinamika fase forgiveness yang dapat membantu peneliti
menentukan pilihan bantuan untuk partisipan dengan lebih spesifik.
2. Diadakan penelitian lanjutan yang ditujukan untuk mengetahui kontribusi
faktor yang mempengaruhi forgiveness, yaitu sudah berapa lama kejadian
tersebut berlalu, terhadap fase forgiveness agar dapat lebih memahami
faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika fase forgiveness pada remaja
di panti asuhan yang masih memiliki ibu.
5.2.2. Saran Praktis
1. Konselor Panti Asuhan “X” memberikan bimbingan dan konseling pada S
mengenai masalah yang berhubungan dengan ibu, agar S dapat melihat
permasalahannya serta melewati proses yang berhubungan dengan
memaafkan ibu dan tidak banyak menggunakan defense. Selain itu
konselor juga melatih S untuk berdiskusi dengan orang lain yang terlibat
masalah dengannya, agar mendapatkan feedback, sehingga S lebih berani
mengungkapkan pendapat.
2. Konselor Panti Asuhan”X” memberikan bimbingan dan konseling pada I
mengenai masalahnya yang berhubungan dengan ibu, agar dapat diarahkan
berdiskusi dengan orang lain yang terlibat permasalahan dengannya,
termasuk ketidaksukaan I pada orang tersebut, agar I dapat
mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih sesuai dengan harapan
lingkungan.
3. Konselor Panti Asuhan “X” memberikan masukan pada ibu dalam
berkomunikasi dengan S, agar lebih mengekspresikan kasih sayang dan
mendukung S dalam mengungkapkan pendapat, sehingga dapat membantu
S dalam proses memaafkan. Selain itu kepada ibu diberi masukan untuk
dapat mendengarkan pendapat I dan mendiskusikannya, supaya ibu lebih
Duvall, Evelyn Millis. 1977. Marriage and Family Development. J.B. Philadelphia : Lippincott Company.
Enright, Robert D. 1996. Counseling Within The Forgiveness Triad : On
Forgiving, Receiving Forgiveness, and Self-Forgiveness. Counseling and
Values Vol. 42 Issue 2.
_____. 2001. Forgiveness Is A Choice :A Step-by-Step Process for Resolving
Anger and Restoring Hope. Washington DC : American Psychological
Association.
Enright, Robert D and Joanna North, 1998. Exploring Forgiveness. Wisconsin : The University of Wisconsin Press.
Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing : Design, Analysis, and Use. Massachusetts : Allyn & Bacon.
Graziano, Anthony M., Raulin, Michael L. 2000. Research Methods : A Process
of Inquiry. A Pearson Education Company.
Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Poerwandari, Kristi E. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi UI.
Santrock, John W. 1996. Adolescence : Perkembangan Remaja, edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.
_____. 2007. Adolescence 11th edition. New York : McGraw-Hill Companies,
Inc.
Steinberg, Laurence. 2002. Adolescence 6th edition. New York : McGraw-Hill
Companies.
Strauss, Anselm and Juliet Corbin. 1990. Basics of Qualitative Research. California : Sage Publications, Inc.
DAFTAR RUJUKAN
Panti Asuhan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Panti_asuhan).
Perseteruan Juwita-Memo Sanjaya ‘jangan lupain papa sayang’.
(http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=vie
w&id=38423&Itemid=37).
Muliadi, Awi dr. 2010. Undang-undang yang berkaitan dengan hak-hak anak. (http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=arti cle&id=75%3Aundang-undang-yang-berkaitan-dengan-pemenuhan-hak-hak-anak&catid=36%3Ayang-perlu-anda-ketahui&Itemid=28).
Enright, Robert D ([email protected]). 6 November 2009. Triad, certain
outcomes. Email kepada Yolanda Wijayanti ([email protected]). _____. 4 Januari 2010. Units in forgiveness process, EFI, factors affecting
forgiveness process. Email kepada Yolanda Wijayanti
_____. 5 Februari 2010. Forgiveness phases, feedback loops and feed forward. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 7 Februari 2010. Feedback loops. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 10 April 2010. Forgiveness phases, feedback loops and feed forward. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 25 April 2010. Phases. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 3 Juli 2010. Chatexis. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 7 Juli 2010. Factors influence forgiveness. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 7 November 2010. Factor influence forgiveness (period). Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 14 December 2010. Definition of forgiveness. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 12 April 2011. Difference between unit 10 and 11. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 12 April 2011. Difference between unit 5 and 9 . Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 14 Mei 2011. Unit 3. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).
_____. 25 Mei 2011. Unit 4. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).