• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Mengenai Forgiveness Pada Remaja Yang Masih Memiliki Ibu di Panti Asuhan "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Kasus Mengenai Forgiveness Pada Remaja Yang Masih Memiliki Ibu di Panti Asuhan "X" Bandung."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Bandung. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan ukuran sampel adalah 2 orang remaja madya, masih memiliki orang tua, dan ditinggalkan oleh orang tua saat menginjak usia remaja. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan teknik pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi. Alat ukur yang digunakan didasarkan pada teori forgiveness dari Robert D. Enright, PhD. Untuk validitas digunakan content validity dan jumlah item yang valid adalah 62 item. Untuk reliabilitas menggunakan interrater reliability. Data diolah dengan menggunakan teknik coding.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kedua responden telah menyadari bahwa mereka beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit 2), ada hal yang berubah secara negatif pada diri mereka (unit 7), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah berhasil (unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan dengan terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup baru mereka telah muncul (unit 19), namun mereka belum mengevaluasi defense (unit 1) dan merasa dirinya sudah mengembangkan kesehatan psikologis (unit 20). S. Pada unit 4 kedua sampel tidak menunjukkan tingkah laku menyadari emosi yang berlebihan terhadap kejadian saat dirinya ditinggalkan yang dapat menghabiskan energi. Kedua sampel mengalami feedbackloops ke unit 1 dan terjadi konflik dalam diri mereka. Terjadi pseudoforgiveness pada kedua sampel sehingga mereka dapat menemukan makna dari kejadian saat ditinggalkan namun tidak menemukan makna dari proses memaafkan. Pengalaman forgiveness pada keduanya berbeda kualitas.

(2)

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR BAGAN ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ……… 1

1.2. Identifikasi Masalah ……….. 8

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ……….. 9

1.3.1. Maksud Penelitian ………... 9

1.3.2. Tujuan Penelitian ……… 9

1.4. Kegunaan Penelitian ……….. 9

1.4.1. Kegunaan Teoritis ………... 9

1.4.2. Kegunaan Praktis ……… 9

1.5. Kerangka Pemikiran ……….. 10

1.6. Asumsi Penelitian ...……… 23

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ………. 24

2.1 Forgiveness ……… 24

2.1.1. Definisi Forgiveness ………. 24

2.1.2. Dasar Teori Forgiveness ... 25

(3)

2.1.4. 20-Unit Model ... 27

2.1.5. Fase-fase Forgiveness ... 28

2.1.6. Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness ……… 32

2.1.7. Outcomes Psikologis ………. 33

2.1.8. Hubungan Forgiveness dengan Kesehatan ………... 34

2.1.9. Forgiveness dan Keluarga ………... 35

2.2. Remaja Madya ………... 36

2.2.1. Proses Biologis, Kognitif, dan Sosial-emosional ……….. 36

2.2.2. Perkembangan Kognitif dan Sosial Kognitif ... 36

2.2.3. Pandangan Psikoanalisa ... 37

2.2.4. Pandangan Biologis dan Sosial Budaya ... 37

2.2.5. Remaja dan Keluarga ……… 38

2.3. Panti Asuhan ……….. 39

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 41

3.1. Rancangan Penelitian ... 41

3.2. Skema Prosedur Penelitian ... 41

3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 41

3.3.1. Variabel Penelitian ... 41

3.3.2. Definisi Konseptual ... 42

3.3.3. Definisi Operasional ... 42

3.4. Alat Ukur ... 45

3.4.1. Tabel Alat Ukur Forgiveness ... 45

(4)

3.4.2.1. Validitas ……….. 50

3.4.2.2. Reliabilitas ……….. 50

3.4.3. Data Pribadi dan Data Penunjang ... 50

3.4.3.1. Data Pribadi ... 50

3.4.3.2. Data Penunjang ... 51

3.5. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ... 51

3.5.1. Populasi Sasaran ... 51

3.5.2. Karakteristik Sampel ... 51

3.5.3. Teknik Penarikan Sampel ... 52

3.6 Teknik Analisis Data ……….. 52

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………... 53

4.1. Hasil Penelitian ……….. 53

4.1.1. Kasus S ……… 53

4.1.1.1. Identitas Subjek S ………... 53

4.1.1.2. Status Praesens ……… 54

4.1.1.2.1. Status Physicus ……… 54

4.1.1.2.2. Status Psychicus ……….. 54

4.1.1.3. Anamnesa S ……… 54

4.1.1.4. Tabel Fase Forgiveness S ………... 64

4.1.1.5. Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus S ... 102

4.1.2. Kasus I ………. 110

(5)

4.1.2.2. Status Praesens ... 110

4.1.2.2.1. Status Physicus ... 110

4.1.2.2.2. Status Psychicus ... 110

4.1.2.3. Anamnesa I ... 111

4.1.2.4. Tabel Fase Forgiveness I ... 120

4.1.2.5. Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus I ... 155

4.2. Pembahasan ... 162

4.2.1. Pembahasan Kasus S ... 162

4.2.2. Pembahasan Kasus I ... 175

4.2.3. Pembahasan Keseluruhan ... 187

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ……… 190

5.1. Kesimpulan ... 190

5.2. Saran ... 193

5.2.1. Saran Penelitian Lanjutan ... 193

5.2.2. Saran Praktis ... 193

DAFTAR PUSTAKA ... 195

DAFTAR RUJUKAN ... 196

(6)
(7)

Tabel 3.2 Tabel Data Penunjang ... 51

Tabel 4.1 Tabel Fase Forgiveness Kasus S ... 64

Tabel 4.2 Tabel Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness Kasus S ... 102

Tabel 4.3 Tabel Fase Forgiveness Kasus I ... 120

(8)

Lampiran 3.2 Daftar Pertanyaan Data Penunjang ... 203

Lampiran 4.1 Data Mentah Kasus S ... 205

Lampiran 4.2 Data Mentah Kasus I ... 280

Lampiran LOC Sampel S ...

Lampiran LOC Sampel I ...

Lampiran Surat Keterangan ...

(9)

1.1 Latar Belakang Masalah

Keluarga bagi anak-anak adalah tempat untuk berlindung dan mencari

solusi yang membuat anak merasa aman, namun pada kenyataannya ada keluarga

yang karena kesulitan ekonomi, atau perceraian, tidak sanggup lagi mengasuh

anak. Para orang tua tidak dapat berkumpul kembali bersama anak-anak mereka,

karena harus mencari nafkah. Akhirnya mereka memilih meninggalkan anak-anak

mereka di tempat lain, seperti di jalanan, dititipkan pada saudara, atau dimasukkan

ke panti asuhan untuk kelangsungan hidup anak-anak, terutama agar dapat

bersekolah.

Menurut konselor di Panti Asuhan ‘X’, panti asuhan pada umumnya

adalah tempat untuk anak dan remaja yang sudah tidak memiliki orang tua, tetapi

pada kenyataannya ada pula remaja yang dititipkan, karena kesulitan ekonomi

atau perceraian. Bagi remaja, orang tua adalah figur untuk menjadi teladan dalam

kehidupan sehari-hari. Walaupun peer penting bagi remaja, namun keluarga juga

penting sebagai tempat berlindung dan mencari solusi (Santrock, 2007). Menurut

Undang-undang No. 23 tahun 2007 tentang Perlindungan anak pasal 1 ayat 1,

yang dimaksud dengan anak ialah seseorang yang belum berusia 18 tahun,

termasuk yang ada dalam kandungan. Dalam Undang-undang No.4 tahun 1979

tentang Kesejahteraan anak pasal 2 ayat 1-4, dinyatakan bahwa : (1) Anak berhak

(10)

baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan

berkembang dengan wajar; (2) Anak berhak atas pelayanan untuk

mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan

kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga negara yang baik dan

berguna; (3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam

kandungan maupun sesudah dilahirkan; (4) Anak berhak atas perlindungan

terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat

pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. (www.infodokterku.com). Jika

ditinjau dari undang-undang ini, anak berhak mendapatkan perlakuan yang

menyejahterakan diri mereka dari orang tua dan lingkungan di sekitarnya.

Orang tua yang tidak dapat memenuhi kebutuhan remaja untuk merasakan

keluarga yang utuh, akan membuat remaja merasa dibuang, merasa sedih, merasa

tidak diinginkan oleh orang tua, merasa tidak aman, bahkan sakit hati. Kejadian

ini dapat dianggap sebagai suatu ketidakadilan oleh remaja, yaitu sesuatu yang

dirasakan sebagai hal yang membuat tidak bahagia dan merugikan dirinya yang

dilakukan oleh orang di sekitarnya yang kontak langsung dengannya. Hal ini

dapat membuat remaja merasa sakit hati dan tidak memaafkan orang yang

dianggap telah menyakitinya. Ketidakadilan yang dilakukan oleh orang terdekat,

terutama orang tua, akan terasa lebih menyakitkan, karena orang tua diharapkan

dapat mengasuh, merawat, dan menyayangi remaja.

Menurut Enright (2008), rasa sakit hati dan diperlakukan tidak adil dapat

memunculkan kemarahan (anger), kecemasan (anxiety), depresi, perasaan rendah

(11)

seorang penyanyi dangdut remaja yang tidak diakui oleh ibunya, A, sedari kecil.

A mengaku pada wartawan bahwa dirinya belum memiliki anak karena belum

pernah menikah. Suatu saat wartawan mendapatkan fakta bahwa A telah memiliki

anak, yaitu Ji dan Ja. A lalu meminta maaf pada kedua anaknya. Ji mau menerima

permintaan maaf A, tetapi Ja tidak mau karena merasa tidak dianggap oleh A. Ja

merasa sakit hati pada A hingga tidak ingin bertemu, bahkan Ja beranggapan

bahwa ibunya yang sesungguhnya adalah ibu tirinya yang mengasuhnya dari

kecil. Kejadian tersebut berlangsung hingga 14 tahun (www.wawasandigital.com).

Ja merasakan kemarahan pada ibu yang telah meninggalkannya. Ja juga tidak

dengan mudah memaafkan perlakuan ibunya saat meninggalkannya. Hal ini

merupakan bentuk ketidakadilan yang menimbulkan sakit hati, yang dapat dibawa

dalam jangka waktu yang lama.

Selain Ja, kasus ketidakadilan juga dialami oleh O, seorang remaja yang

mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat ia masih kecil, O sering

dihukum oleh ibunya karena kesalahan yang menurutnya wajar. Menurut O,

kesalahan sekecil apa pun yang dilakukannya akan tetap dihukum oleh ibunya,

terutama jika ibunya sedang bad mood. Hukuman yang paling sering diterima O

ialah dipukul dan dikurung di dalam gudang. Menurut O, seringkali ibunya

menghukum tanpa alasan yang jelas. Pernah suatu kali O pulang sekolah dan

ibunya tiba-tiba menghampiri dirinya, lalu tanpa alasan yang jelas, menurut O,

ibunya menghukum dirinya. Perlakuan tersebut membuat O memutuskan untuk

tidak tinggal di rumah, melainkan kost. Pada kasus-kasus di atas bentuk

(12)

diperlakukan kasar. Mereka tidak dapat merasakan keutuhan keluarga dengan

adanya orang tua. Hal tersebut juga dialami oleh remaja yang ditinggalkan orang

tuanya di Panti Asuhan ‘X’ karena berbagai alasan, seperti ibu bekerja dan tidak

dapat membagi waktu. Selain itu ada pula yang karena kelahirannya tidak

diinginkan.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan konselor Panti Asuhan ”X”

yang berbasis agama tertentu, yang tinggal dalam panti asuhan tersebut tidak

hanya anak dan remaja yang sudah tidak mempunyai orang tua, tetapi ada juga

remaja yang masih mempunyai orang tua. Anak dan remaja yang ditinggal pun

dari berbagai jenjang usia, ada yang ditinggal sejak bayi dan ada pula yang

ditinggal sejak usia remaja. Berbagai macam alasan dibuat oleh orang tua untuk

menitipkan anak mereka di panti asuhan. Panti asuhan ini menyekolahkan,

membiayai, memberi makan anak dan remaja tersebut hingga mereka mencapai

usia bekerja. Walaupun mereka hidup di panti asuhan dengan layak, tetapi mereka

merasa dalam kehidupannya ada kekurangan. Mereka merasakan kejadian

ditinggalkan di panti asuhan sebagai sebuah ketidakadilan.

Ketidakbersediaan remaja untuk memaafkan tidak hanya berdampak pada

hubungannya dengan orang lain atau dalam belajar, tetapi juga dapat berdampak

pada diri mereka sendiri, terutama pada kesehatan, sistem imun, kardiovaskular,

dan hipertensi (Fitzgibbons dalam Forgiveness is a Choice, 2008). Remaja perlu

melepaskan kebencian dan mempertimbangkan untuk tidak membenci,

memberikan penilaian yang positif, serta mengembangkan kualitas-kualitas rasa

(13)

lebih bahagia, damai, dapat bersekolah dengan baik atau menjalani minatnya serta

dapat lebih mengarahkan harapan-harapan mereka ke depan. Hal ini oleh Enright

(1998) disebut sebagai memaafkan (forgiveness). Forgiveness merupakan

kesediaan untuk menerima dan memahami ibu yang telah meninggalkannya

beserta kejadian saat ditinggalkan, berhenti marah pada ibu, dan membuat diri

merasa lebih bahagia, tenang, dapat beraktivitas dengan baik bahkan berprestasi.

Forgiveness memiliki 4 fase, yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase (Enright, 1998). Fase pertama akan tampak dari

keberhasilan remaja untuk mengolah alasannya untuk mengakui bahwa dirinya

merasa sakit hati karena ditinggalkan di panti asuhan, mengakui bahwa dirinya

marah karena telah ditinggalkan di panti asuhan, mengakui bahwa dirinya merasa

malu karena ditinggalkan ibu, menyadari bahwa ada gejala fisiologis yang

diakibatkan karena kemarahan yang berlebihan karena telah ditinggalkan, tidak

memikirkan secara terus-menerus mengenai ibu dan kejadian dirinya ditinggalkan

di panti asuhan, menyadari bahwa dirinya membandingkan keadaannya setelah

ditinggalkan dengan keadaaan ibunya setelah meninggalkannya, menyadari bahwa

tingkah lakunya setelah ditinggalkan telah ‘merusak’ dirinya dan ingin

melepaskan rasa sakit, menyadari bahwa ada pandangannya yang berubah. Fase

kedua akan tampak dari keberhasilan remaja untuk menyadari bahwa

menyalahkan ibu dan kejadian ditinggalkannya secara terus-menerus adalah hal

yang merugikan, rela memaafkan ibu yang telah meninggalkannya, dan

berkomitmen untuk memaafkan orang tua yang telah meninggalkannya. Fase

(14)

meninggalkannya, memahami dan dapat merasakan tekanan ibu saat

meninggalkannya, bersedia berbagi tiap kesulitan dan duka yang dihadapi ibu,

tidak melampiaskan rasa sakit hati pada orang lain dan mau memberi perhatian

pada ibu. Fase keempat akan tampak dari keberhasilan remaja untuk menemukan

makna bagi dirinya, menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi

masalah, mampu menetapkan harapan-harapannya, dan merasa ‘lepas’ dari beban.

Berdasarkan survei awal peneliti pada remaja, S, di Panti Asuhan ”X”,

pada saat pertama kali ditinggalkan oleh ibunya, S merasa bahwa ada sesuatu

yang hilang dalam hidupnya. Pada saat ditinggalkan, awalnya S sering menangis,

tetapi sekarang S menangis jika teringat pada kejadian saat dirinya ditinggalkan

oleh ibunya. S merasa kesal, sakit hati, dan kecewa pada ibu yang telah

meninggalkannya (uncovering-konfrontasi kemarahan). S merasa minder karena

harus tinggal di panti asuhan, karena merasa berbeda dari teman-temannya. Ketika

ada orang yang bertanya tentang tempat tinggalnya, S akan merasa risih dan

mengganggap orang itu ingin tahu saja (uncovering-mengakui rasa malu). S

pernah berpikir bahwa hidup ini tidak adil dan keberadaan dirinya di tempat ini

adalah suatu kesalahan. Menurut S, ada seorang temannya yang sudah tidak

memiliki ayah lagi seperti dirinya, tetapi ibunya tidak meninggalkannya di panti

asuhan, seperti yang dilakukan oleh ibu S (uncovering- insight ke dalam

kemungkinan perubahan pandangan ‘just world’). Ketika ibunya menelepon, S

merasa senang mendengar suara ibu karena S rindu pada ibu. S dan ibunya selalu

membicarakan mengenai sekolah. Ibu S menasihati agar ia bersekolah dengan

(15)

terkadang S ingin bercerita, terutama mengenai kondisi panti asuhan atas

inisiatifnya sendiri (work-kesadaran akan belas kasihan pada pelaku, bersedia

berbagi dalam suka dan duka).

I, remaja yang lain, juga mengalami hal serupa. I ditinggalkan oleh ibunya

di panti asuhan, sehingga ia menganggapnya sebagai ketidakadilan, terutama

setelah I mengetahui bahwa adik bungsunya tidak ditinggalkan di panti asuhan

dengan alasan untuk menemani ibunya (uncovering-insight ke dalam

kemungkinan perubahan pandangan ‘just world’). I merasa malu tinggal di panti

asuhan, terutama jika mengenai masalah mengeluarkan uang, karena panti asuhan

meminta kuitansi. I juga malu karena merasa menjadi ‘anak titipan’

(uncovering-mengakui rasa malu). Jika ibunya menelepon, I mau menerima telepon dan

menjawab pertanyaan dengan singkat, tetapi terkadang I hanya mendengarkan

cerita ibunya mengenai kondisi ibunya pada saat ini (work-kesadaran akan belas

kasihan pada pelaku, bersedia berbagi dalam suka dan duka). I juga menyadari

bahwa yang ditinggalkan di panti asuhan oleh orang tuanya tidak hanya dirinya,

sehingga I berusaha untuk menjalin relasi yang baik dengan teman-teman baru di

panti asuhan (deepening-insight bahwa dirinya tidak sendiri). I awalnya sering

menangis, tetapi I lalu berpikir bahwa menangis terus tidak ada gunanya

(decision-insight bahwa strategi resolusi lama tidak bekerja).

Dari uraian di atas terlihat bahwa banyak hal yang ingin remaja capai

dengan bimbingan ibu. Remaja di panti asuhan tidak merasakan kehadiran ibu

sebagai figur yang dapat membimbing. Mereka merasakan kemarahan yang besar

(16)

rasa marah pada ibu mereka dan dapat melangkah ke masa depan dengan tidak

dibayang-bayangi oleh masa lalu. Dari fakta-fakta tersebut dapat dilihat bahwa

remaja yang ditinggalkan di panti asuhan memiliki kesulitan dan berbagai

masalah dalam kehidupan mereka. Remaja harus beradaptasi dengan keadaan di

panti asuhan, harus mampu menjawab pertanyaan teman-temannya mengenai ibu

dan tempat tinggal, dan menahan rasa rindu pada ibu. Pembinaan yang dilakukan

pengasuh dapat mengajarkan mereka untuk memaafkan dan hal ini didukung oleh

iman agama mereka. Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa ada proses

memaafkan yang dialami remaja di panti asuhan, namun proses pencapaiannya

berbeda-beda. Hal ini tergantung pada penghayatan, sudut pandang, dan penilaian

remaja. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai forgiveness

pada remaja yang masih memiliki ibu di panti asuhan.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana fase forgiveness yang

dilalui oleh remaja di Panti Asuhan “X” Bandung.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini untuk memperoleh gambaran dinamika fase

(17)

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran dinamika mengenai

tahap-tahap fase forgiveness yang telah dan sedang dilalui remaja yang masih

memiliki ibu di Panti Asuhan “X” Bandung dan dihubungkan dengan faktor yang

mempengaruhi forgiveness secara lebih mendalam.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

- Memberi tambahan informasi bagi psikologi, terutama psikologi klinis dan

perkembangan tentang forgiveness pada remaja di panti asuhan yang

masih memiliki ibu.

- Memberi informasi pada peneliti lain yang berminat meneliti lebih lanjut

mengenai forgiveness, terutama pada remaja di panti asuhan yang masih

memiliki ibu.

1.4.2 Kegunaan Praktis

- Memberi masukan pada konselor panti asuhan mengenai cara remaja di

panti asuhan dapat memberikan maaf pada ibu (forgiveness), agar dapat

lebih melihat permasalahan remaja yang dititipkan oleh ibunya di panti

asuhan, dengan cara memberikan bimbingan dan konseling pada remaja,

seperti membantu mereka meredakan kemarahan dengan mengolah emosi

yang muncul karena ditinggalkan di panti asuhan dan membantu mereka

(18)

menyadari emosi-emosi negatif yang muncul, sehingga remaja dapat

memaafkan ibu.

- Memberi masukan bagi para remaja yang dititipkan di panti asuhan

mengenai gambaran dinamika forgiveness, agar dapat mengaktualisasikan

diri dan bersosialisasi, dengan cara mengolah emosi yang muncul karena

ditinggalkan di panti asuhan dan membuka pertahanan diri dari ketakutan

atau kecemasan (defense), dengan menyadari emosi-emosi negatif,

sehingga dapat memaafkan ibu.

1.5 Kerangka Pemikiran

Remaja di Panti Asuhan “X” usia 15-17 tahun berada pada tahap middle

adolescent (Arnett, 2000; Kagan & Coles, 1972; Keniston, 1970; Lipsitz, 1977 sit

Steinberg, 2002). Remaja membutuhkan peer yang dapat dijadikan sahabat dan

berbagi mengenai masalah yang mereka hadapi. Mereka berada dalam tahap

kebingungan karena tidak tahu harus memilih yang mana dalam mengambil

keputusan yang tepat dengan permasalahan yang dihadapi. Piaget (dalam

Santrock, 1996) menyatakan bahwa tahap perkembagan kognitif remaja berada

dalam tahap formal operasional. Ciri-ciri tahap ini adalah dapat berpikir secara

abstrak, mampu membayangkan situasi rekaan, kejadian yang semata-mata berupa

kemungkinan hipotesis atau proporsi abstrak dan mencoba mengolahnya dengan

pemikiran logis. Selain itu, remaja juga sudah mampu memecahkan masalah

walau hanya diungkapkan secara verbal, muncul pemikiran yang penuh idealisme

(19)

mereka dengan orang lain, serta mampu menyusun rencana pemecahan masalah

dan mengujinya secara sistematis.

Bila kita cermati lebih lanjut, Freud (dalam Santrock, 1996) percaya

bahwa kehidupan remaja penuh dengan konflik dan ketegangan, sehingga

perasaan dan pikiran tentang kejadian yang dialami dapat dimasukkan ke alam

bawah sadar, agar dapat lebih tenang, sehingga tingkah laku yang muncul belum

tentu menggambarkan perasaan yang sesungguhnya. Erikson (dalam Santrock,

1996) menyatakan bahwa tugas orang tua dalam tahap remaja ini adalah memberi

kebebasan pada remaja untuk mengeksplorasi dunianya. Walau diberi kebebasan,

remaja tetap harus dibimbing untuk menemukan jalan yang benar dalam

menjalankan perannya.

Selanjutnya remaja menganggap orang tua sebagai figur yang dapat

mendukung mereka dalam menjelajahi dunia yang lebih luas dan rumit. Peran

orang tua dalam kehidupan remaja adalah memfasilitasi kecakapan dan

kesejahteraan sosial yang dicerminkan dalam harga diri, penyesuaian emosi, dan

kesehatan fisik. Remaja akan merasa lebih senang jika menerima bantuan dari

orang tuanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Armsden & Greenberg

(1987, dalam Santrock, 1996), remaja akan memiliki harga diri yang lebih tinggi

saat memiliki hubungan yang aman dengan orang tua. Keluarga dengan remaja,

menurut Duvall (1977), memiliki tugas perkembangan untuk memberi kebebasan

dalam memberi tanggung jawab, mempertahankan hubungan yang intim dengan

keluarga, mempertahankan komunikasi yang terbuka, perubahan sistem peran dan

(20)

Pada remaja di Panti Asuhan “X”, mereka dapat menghayati orang tua

meninggalkan mereka pada usia remaja dan tidak menjalankan peran sebagai

orang tua dengan remajanya. Mereka dapat menghayati bahwa orang tua mereka

tidak mempertahankan hubungan yang intim, komunikasi yang terbuka, atau

menjalankan peran sebagai orang tua yang dapat membuat mereka menyalahkan

orang tua mereka bahkan tidak memaafkan. Dengan perasaan seperti itu, mereka

dapat merasa tidak bahagia dan tidak dapat mengaktualisasikan diri. Oleh karena

itu mereka perlu melakukan forgiveness.

Forgiveness adalah kesediaan melepaskan hak untuk membenci, memberi

penilaian negatif, dan perilaku yang acuh terhadap orang lain yang menyakiti

remaja secara tidak adil, serta mengembangkan kualitas-kualitas rasa belas

kasihan, kedermawanan, dan bahkan cinta bagi orang tersebut (Enright et all.,

1998). Forgiveness lebih dari menerima atau menoleransi ketidakdilan,

menghentikan kemarahan pada pelaku, membuat diri remaja merasa lebih damai,

dan forgiveness tidak sama dengan melupakan kejadian / perlakuan tidak adil.

Bila seseorang berhasil melakukan forgiveness bukan berarti mereka

mempersilakan kesalahan terjadi, bukan berarti pula mereka telah menjalani

rekonsiliasi, tetapi mereka dapat terbebas dari kemarahan.

Forgiveness memiliki empat fase, yaitu uncovering, decision, work, deepening. Dalam uncovering phase remaja melewati : (1) Remaja melakukan

evaluasi terhadap defense yang melindungi diri mereka dari perasaan yang

bertentangan seperti ketakutan atau kecemasan. Seperti remaja melakukan

(21)

yang benar dengan meninggalkan mereka di panti asuhan, karena jika tinggal

dengan ibu mereka merasa akan merepotkan ibu; (2) Remaja menghadapi dan

mengakui kemarahannya. Seperti remaja yang menangis saat teringat kembali

kejadian saat mereka ditinggalkan di panti asuhan dan merasa kecewa dengan

perlakuan ibunya; (3) Remaja mengakui rasa malu. Seperti remaja merasa minder

karena berbeda dengan teman-temannya yang masih tinggal dengan ibu mereka

dan merasa bahwa semua mata memandang kepada mereka karena perbedaan

mereka dan ingin mengejek mereka; (4) Remaja menyadari chatexis (akumulasi

energi fisik dari sebuah energi mental). Seperti remaja menjadi tiba-tiba sakit

perut saat sedang belajar; (5) Remaja memiliki kesadaran akan pengulangan

kognitif akan perlakuan yang salah. Seperti remaja sering menangis dan merasa

kesal saat teringat kembali akan kejadian saat ibunya meninggalkannya; (6)

Remaja insight (satu pemecahan yang baru, tidak berdasarkan pengalaman

sebelumnya) bahwa ‘korban’ akan membandingkan dirinya dengan pelaku.

Seperti remaja yang membandingkan diri mereka dengan ibunya yang

meninggalkannya dan merasa mereka tidak menjadi beban lagi bagi ibu; (7)

Kesadaran bahwa remaja dapat berubah secara berlawanan dan permanen. Seperti

remaja yang berpikir bahwa mereka kehilangan ‘rumah’ karena ibu mereka yang

boros; (8) Insight bahwa ada kemungkinan perubahan sudut pandang di mana

remaja, sebagai korban, merasa dunia tidak adil. Seperti remaja yang berpikir

bahwa panti asuhan bukanlah tempat yang terlalu buruk dengan remaja-remaja

(22)

Dalam decision phase remaja : (9) Remaja mengalami insight bahwa

strategi resolusi lama tidak bekerja. Seperti remaja yang berpikir bahwa menangis

tiap hari tidak ada gunanya dan akan lebih berguna bila bergaul dengan teman

sebaya di panti asuhan. (10) Kesediaan remaja mempertimbangkan forgiveness

sebagai pilihan. Seperti remaja mulai berpikir untuk memaafkan ibu. (11)

Komitmen untuk memaafkan ibu yang dianggap sebagai pelaku. Seperti remaja

memutuskan untuk memaafkan ibu.

Dalam work phase remaja melewati : (12) Remaja melakukan reframing

(membentuk kembali kerangka pemikiran) dengan mengambil sudut pandang

pelaku. Seperti remaja yang tidak mengetahui masa lalu ibunya. Remaja

memandang ibu mereka sebagai pelaku. (13) Remaja berempati pada ibu. (14)

Remaja bersedia berbagi duka yang dilalui ibu. Seperti mau mendengarkan

kesulitan yang dihadapi ibu. (15) Remaja menerima dan menyerap rasa sakit.

Seperti tidak melampiaskan rasa sakit yang muncul karena ditinggalkan di panti

asuhan pada orang lain.

Dalam deepening phase remaja : (16) Remaja menemukan makna untuk

dirinya sendiri dan orang lain. Seperti remaja mengambil hikmah dari kejadian

ditinggalkan di panti asuhan. (17) Remaja memiliki keinginan untuk dimaafkan

orang lain. Seperti remaja dapat mengingat kembali kejadian saat dirinya berbuat

salah. (18) Remaja insight bahwa dirinya tidak sendiri. Seperti remaja menghayati

bahwa di panti asuhan orang yang masih memiliki orang tua tidak hanya mereka,

(23)

tujuan hidup baru. Seperti remaja memiliki cita-cita. (20) Kesadaran akan

pengurangan afek negatif.

Fase-fase dalam forgiveness memiliki unit-unit yang akan dilewati oleh

remaja hingga mencapai forgiveness. Tahapan dalam fase tidaklah harus dilewati

semua dan bukan merupakan suatu tahapan yang kaku. Setiap remaja diciptakan

berbeda satu dengan yang lainnya dan dapat memiliki gambaran akan tahapan

forgiveness yang berbeda pula. Remaja dengan segala keunikan yang ada dalam

dirinya dapat melakukan feed forward (remaja dapat meloncati suatu tahapan) dan

feedback loops (remaja dapat kembali pada tahapan yang belum atau telah

dilewati).

Faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness adalah : (1) Seberapa dalam

luka yang dialami. Semakin dalam luka maka semakin lama waktu yang

dibutuhkan. Jika ketidakadilannya semakin spesifik maka akan semakin dapat

menyelesaikan jika dapat mengingat kejadiannya secara detail. (2) Hubungan

antara korban dengan pelaku. Jika remaja disakiti oleh anggota keluarga dan

memutuskan hubungan dengan anggota keluarga tersebut karena tidak rela

memaafkan, maka harus ada usaha untuk mengembalikan hubungan tersebut,

kecuali pelaku dapat melakukan hal yang berbahaya bagi remaja. (3) Seberapa

banyak pengalaman korban untuk memaafkan. Semakin banyak pengalaman

untuk mempraktikkan forgiveness maka akan semakin mudah bagi korban untuk

melakukan forgiveness. (4) Sudah berapa lama kejadian ketidakadilan

berlangsung. Jika seseorang disarankan untuk harus dengan segera mulai

(24)

kemarahan yang mendahului proses forgiveness telah diabaikan (Enright,

Forgiveness is A Choice). Semakin jauh rentang waktu, maka akan semakin

banyak persoalan yang dialami individu (Enright, 2010).

Remaja dapat membentuk image mengenai hal yang diinginkan di masa

mendatang dengan cara meregulasi diri, sehingga ia dapat mengembangkan

strategi tingkah laku menuju goal yang diinginkan yang dapat membuat dirinya

lebih sejahtera dan dapat mengaktualisasikan diri. Dalam melakukan forgiveness

remaja dapat mengobservasi langsung tingkah laku orang lain, mendengar

bagaimana cara orang lain memaafkan, membaca literatur mengenai forgiveness.

Ibu dapat berperan sebagai model tetapi jika ibu menjadi pelaku maka akan lebih

sulit bagi remaja untuk memaafkan, tetapi bukan tidak mungkin bagi remaja untuk

memaafkan. Remaja dapat belajar dari orang lain atau membaca literatur.

Pengalaman keberhasilan remaja dalam memaafkan orang lain juga dapat

mempengaruhi upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan (Enright, 2010).

Remaja yang memiliki hubungan yang intim dengan ibu dapat lebih

banyak menimbulkan konflik saat ibu menjadi pelaku atas ketidakadilan terhadap

dirinya, sehingga akan menimbulkan luka yang lebih dalam dan lebih sulit untuk

membuka defense tetapi dapat pula remaja yang memiliki hubungan yang intim

dengan ibu dapat membuka defense (unit 1). Jika remaja sulit membuka defense

dapat membuat remaja membutuhkan banyak energi untuk marah dan dapat

mengalami psikosomatis (unit 4). Akan tetapi jika remaja yang tidak memiliki

hubungan yang intim dengan ibunya, maka konflik yang dialami pun dapat

(25)

mudah untuk membuka defense, tetapi dapat pula sulit membuka defense (unit 1).

Jika remaja mudah membuka defense maka dapat membuat remaja tidak terlalu

banyak mengeluarkan energi untuk marah, sehingga tidak sampai mengalami

psikosomatis (unit 4). Jika remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan maka

ia dapat belajar untuk meregulasi diri, tetapi apabila kejadian ketidakadilan sudah

berlangsung lama maka akan ada kemungkinan remaja tidak menyadari dirinya

melakukan chatexis. Akan tetapi jika remaja tidak memiliki pengalaman untuk

memaafkan dan kejadian ketidakadilan baru saja berlangsung dalam waktu dekat,

maka ia tidak dapat belajar untuk meregulasi diri. (unit 4)

Remaja yang disakiti oleh ibunya akan ada kemungkinan tidak mau

menghadapi kemarahannya karena terasa menyakitkan untuk dihadapi, tetapi jika

remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan maka ada kemungkinan ia mau

mencoba menghadapi kemarahannya. Remaja yang disakiti oleh orang asing atau

orang yang tidak memiliki hubungan intim dengannya, mungkin lebih mudah

untuk menghadapi kemarahannya (unit 2).

Remaja di panti asuhan yang ditinggalkan oleh ibunya kemungkinan akan

merasa malu untuk mengakui bahwa ibunya telah meninggalkannya di panti

asuhan. Hal ini dapat membuat lebih banyak konflik muncul karena hubungan

yang intim. Jika waktu antara kejadian ketidakadilan dengan saat ini semakin jauh

dan remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka kemungkinan akan

lebih dapat mengakui rasa malunya dan tidak mendominasi orang lain atau

menyalahkan ibu atas semua kesalahan yang terjadi untuk menutupi rasa malunya.

(26)

malunya. Jika kejadian ketidakadilan baru saja terjadi dan tidak memiliki

pengalaman untuk memaafkan maka remaja kemungkinan tidak mau mengakui

rasa malunya dan dapat mendominasi orang lain atau menyalahkan pelaku atas

semua kesalahan yang terjadi (unit 3).

Remaja yang menghayati lukanya dalam, maka akan ada pengulangan

mengenai kejadian ketidakadilan dalam pikirannya, terutama jika ia menyalahkan

ibu atas semua kejadian yang menimpanya, maka ia akan semakin dihantui oleh

kejadian ketidakadilan itu atau oleh ibu sebagai pelaku dan menyembunyikannya

dengan cara yang tidak efektif. Akan tetapi remaja yang menghayati lukanya

dalam dapat pula tidak melakukan pengulangan mengenai kejadian ketidakadilan

dalam pikirannya. Jika remaja memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka

semakin mudah untuk mengevaluasi diri bahwa strategi yang dipakai untuk

menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan memaafkan tidak efektif. Akan

tetapi jika luka yang dihayati remaja tidak terlalu dalam, maka akan lebih sedikit

pengulangan dalam pikirannya, terutama jika ia tidak menyalahkan pelaku atas

semua kejadian yang menimpanya maka ia akan semakin sedikit merasa dihantui

oleh pelaku atau kejadian ketidakadilan. Mereka pun dapat menyadari bahwa

strategi yang dipakainya untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan

memaafkan tidak efektif. Jika remaja tidak memiliki pengalaman untuk

memaafkan, maka lebih sulit untuk mengevaluasi diri bahwa strateginya tidak

efektif. (unit 5&9)

Remaja yang memiliki luka yang dalam dapat menghayati bahwa ibunya

(27)

asuhan, tetapi ada pula remaja yang tidak merasa bahwa ibunya lebih sejahtera.

Sedangkan jika luka yang dihayati oleh remaja tidak terlalu dalam, maka mereka

dapat mengira bahwa ibunya merasakan penderitaan yang mungkin sama dengan

yang mereka alami, tetapi ada pula remaja yang dapat menghayati ibunya lebih

sejahtera (unit 6). Luka yang dalam dan bersifat fisik dapat membuat remaja sulit

untuk memaafkan, tetapi jika luka tidak bersifat fisik dan remaja menghayati

lukanya tidak terlalu dalam, maka akan dapat membuat remaja lebih mudah untuk

memaafkan (unit 7). Kejadian ketidakadilan dan luka yang ditimbulkan pun dapat

membuat remaja berubah haluan, misalnya remaja yang tadinya percaya Tuhan,

dapat menjadi menyalahkan Tuhan atau menjadi semakin percaya Tuhan. Remaja

pun dapat menjadi bertolak belakang dengan ibu. Akan tetapi kejadian

ketidakadilan dan luka yang ditimbulkan mungkin saja tidak membuat remaja

berubah haluan (unit 8).

Lebih dalam luka yang dialami maka lebih banyak dukungan yang

dibutuhkan untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk

memaafkan, tetapi dapat pula tidak membutuhkan banyak dukungan. Jika luka

yang dihayati tidak terlalu dalam maka lebih sedikit dukungan yang dibutuhkan

untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan,

tetapi dapat pula lebih banyak dukungan yang dibutuhkan. Lebih intim hubungan

dengan ibu, maka akan lebih banyak usaha yang diperlukan untuk mengembalikan

hubungan. Jika remaja menghayati hubungannya dengan ibu tidak terlalu intim

maka semakin sedikit usaha yang diperlukan untuk mengembalikan hubungan.

(28)

mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan. Akan

tetapi remaja yang tidak memiliki pengalaman untuk memaafkan, maka lebih sulit

untuk mulai memikirkan proses memaafkan dan berkomitmen untuk memaafkan.

(unit 10&11)

Lebih dalam luka yang dialami dan lebih banyak konflik yang dialami

remaja, maka sulit bagi remaja untuk mau melihat latar belakang ibu dan sulit

berempati terhadap ibu, tetapi ada pula remaja yang mau melihat latar belakang

ibu. Jika luka yang dihayati tidak terlalu dalam dan konflik yang dialami tidak

terlalu banyak, maka lebih mudah bagi remaja untuk mau melihat latar belakang

pelaku dan semakin mudah berempati terhadap pelaku, tetapi ada pula remaja

yang tidak mau melihat latar belakang ibu (unit 12&13). Luka yang dalam dapat

membuat remaja melampiaskan rasa sakitnya dan semakin enggan untuk memberi

hadiah pada ibunya, tetapi ada pula remaja yang mau untuk memberi perhatian

atau melakukan hal yang diinginkan ibu. Remaja yang menghayati lukanya tidak

terlalu dalam, kemungkinan tidak melampiaskan rasa sakitnya dan mau untuk

memberi perhatian pada pelaku, tetapi ada pula remaja yang menjadi enggan

untuk memberi perhatian (unit 14&15). Remaja yang memiliki pengalaman untuk

memaafkan maka lebih mudah untuk menemukan makna, tetapi jika remaja sulit

untuk membuka diri maka akan sulit untuk menemukan makna. Remaja yang

tidak memiliki pengalaman untuk memaafkan maka lebih sulit untuk menemukan

makna tetapi jika remaja mau membuka diri maka dapat semakin mudah untuk

(29)

Remaja yang menghayati lukanya terasa dalam, dapat berpikir bahwa

dirinya seorang diri saja dan tidak ada orang lain yang memiliki luka sedalam luka

miliknya, sehingga remaja dapat sulit memikirkan bahwa dirinya pernah

membutuhkan maaf dari orang lain. Akan tetapi jika luka yang dihayati tidak

terlalu dalam, maka remaja dapat berpikir bahwa dirinya tidak sendirian dan

masih ada orang lain yang mungkin senasib dengan dirinya, sehingga remaja

dapat memikirkan bahwa dirinya pernah membutuhkan maaf dari orang lain. Di

sisi lain remaja yang menghayati lukanya dalam dapat pula berpikir bahwa dirinya

tidak seorang diri, tetapi remaja yang lukanya tidak dalam dapat berpikir bahwa

dirinya sendirian. (unit 17&18).

Remaja yang menghayati lukanya dalam dan tidak memiliki pengalaman

untuk memaafkan akan lebih sulit untuk merasa “lepas” dari bebannya dan dapat

menetapkan tujuan hidup yang baru. Jika luka yang dihayati tidak dalam dan

memiliki pengalaman memaafkan, maka akan semakin mudah untuk merasa

“lepas” dan menentukan tujuan hidup yang baru, tetapi ada pula yang dapat

(30)

Aspek-aspek perkembangan remaja madya : kognitif (formal operational), emosi (masa konflik dan ketegangan),

sosial (berorientasi pada peer)

Remaja yang masih memiliki ibu dan ditinggalkan di Panti Asuhan “X” Bandung

pada usia remaja

Forgiveness Uncovering

Decision

Work

Deepening

Faktor yang mempengaruhi :

1. Hubungan antara pelaku dengan korban

2. Seberapa dalam luka yang dialami 3. Seberapa banyak pengalaman yang

dimiliki korban

4. Sudah berapa lama kejadian tersebut berlangsung

(31)

1.6 Asumsi Penelitian

- Pada remaja di Panti Asuhan ”X” dapat memiliki fase forgiveness yang

terdiri dari uncovering, decision, work, deepening.

- Tahap forgiveness pada remaja dipengaruhi oleh hubungan antara remaja

dengan ibu, sudah berapa lama ibu meninggalkan remaja, pengalaman

remaja untuk memaafkan dan dimaafkan, dan kedalaman luka yang

dirasakan remaja akibat ketidakadilan yang dilakukan ibu.

- Faktor yang mempengaruhi proses forgiveness dapat membuat tahapan

(32)

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. S dan I telah melewati beberapa unit dalam fase forgiveness. S telah

menyadari bahwa dirinya beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan

emosi-emosi negatif (unit 2), membandingkan keadaan dirinya dengan

keadaan ibu saat ini (unit 6), ada hal yang berubah secara negatif pada

dirinya (unit 7), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang

dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah

berhasil (unit 9), mempertimbangkan forgiveness sebagai pilihan (unit 10),

mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar belakang ibu

(unit 12), mau berempati pada ibu (unit 13), rela berbagi dalam

pengalaman duka yang dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman

mengenai memaafkan dengan terlibat dalam jaringan dukungan

interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup baru telah muncul (unit 19).

Sedangkan I telah menyadari bahwa dirinya beraksi terhadap kejadian

ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit 2), mengakui rasa malu

(unit 3), menyadari adanya pengulangan akan ibu dan kejadian

ketidakadilan dalam pikirannya (unit 5), ada hal yang berubah secara

(33)

(unit 8), mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang

dipakainya selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah

berhasil (unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami

latar belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang

dilalui ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan

dengan terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan

tujuan hidup baru telah muncul (unit 19).

2. S dan I belum melewati beberapa unit dalam fase forgiveness. S belum

melakukan pemeriksaan defense psikologis (unit 1), rasa malu masih

mempengaruhi kehidupan S secara negatif (unit 3), belum menyadari

bahwa emosi yang berlebihan menghabiskan energinya dan mengubah

kebiasaan akan kesehatan (unit 4), belum ada penurunan frekuensi

pemikiran negatif akan pelaku dan kejadian saat ditinggalkan (unit 5),

belum menyadari bahwa dirinya membuat kesimpulan mengenai

ketidakadilan hidup (unit 8), belum menemukan makna dari proses

memaafkan (unit 16), belum mengembangkan kesehatan psikologis dan

merasa “lepas” (unit 20). I belum melakukan pemeriksaan defense

psikologis (unit 1), belum menyadari bahwa emosi yang berlebihan

menghabiskan energinya dan mengubah kebiasaan akan kesehatan (unit 4),

belum menyadari bahwa ia membandingkan kondisinya dengan kondisi

ibu setelah meninggalkannya (unit 6), tidak mempertimbangkan untuk

memaafkan ibu (unit 10), belum ada empati (unit 13), belum memberi

(34)

memaafkan (unit 16), belum mengenali bahwa dirinya pernah

membutuhkan maaf dari orang lain (unit 17), belum mengembangkan

kesehatan psikologis dan merasa “lepas” (unit 20).

3. Persamaan kedua partisipan adalah mereka telah menyadari bahwa mereka

beraksi terhadap kejadian ketidakadilan dengan emosi-emosi negatif (unit

2), ada hal yang berubah secara negatif pada diri mereka (unit 7),

mengakui dengan kesungguhan hati bahwa strategi yang dipakainya

selama ini untuk menyembuhkannya secara emosional tidaklah berhasil

(unit 9), mau untuk memaafkan ibu (unit 11), mampu memahami latar

belakang ibu (unit 12), rela berbagi dalam pengalaman duka yang dilalui

ibu (unit 14), mengembangkan pemahaman mengenai memaafkan dengan

terlibat dalam jaringan dukungan interpersonal (unit 18), dan tujuan hidup

baru mereka telah muncul (unit 19), namun mereka belum mengevaluasi

defense (unit 1) dan belum mengembangkan kesehatan psikologis (unit

20), serta pada unit 4 kedua sampel tidak menunjukkan tingkah laku

menyadari emosi yang berlebihan terhadap kejadian saat dirinya

ditinggalkan yang dapat menghabiskan energi.

4. S dan I mengalami feedbackloops ke unit 1 (evaluasi defense), namun S

lebih sering mengalami feedbackloops ke unit 1 dibandingkan dengan I,

karena konflik yang dialami S lebih kuat dibandingkan dengan I. Defense

yang digunakan S adalah rasionalisasi, supresi, dan represi. Defense yang

(35)

5. Konflik yang dialami S adalah S sebenarnya masih tidak terima

ditinggalkan di panti asuhan, namun secara agama S tidak diperbolehkan

marah pada ibu, terutama karena S merasa hubungannya dengan ibu

menjadi lebih dekat. Sedangkan konflik yang dialami I adalah I masih

marah pada ibu karena meninggalkannya di panti asuhan, namun I berpikir

bahwa ibu melakukan tindakan yang benar sehingga dapat bersekolah

walaupun I merasa hubungannya dengan ibu tidak dekat karena ibu mudah

marah.

6. Kedua partisipan dapat menemukan makna dari ditinggalkannya dirinya di

panti asuhan, namun mereka belum menemukan makna dari proses

memaafkan, karena para partisipan masih menggunakan defense, yaitu

supresi, dalam memaafkan ibu, sehingga terhadi pseudoforgiveness.

7. Kedua partisipan memiliki kualitas pengalaman memaafkan yang berbeda

yang dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk memaafkan ibu. S

merasa dirinya lebih sering meminta maaf jika ada masalah dengan orang

lain, terlepas dari siapa yang bersalah. I mengetahui bahwa dirinya pernah

berbuat salah pada anggota keluarga, namun tidak pernah meminta maaf

karena gengsi.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas dan dengan menyadari adanya keterbatasan dari

hasil penelitian yang telah diperoleh, maka peneliti merasa perlu mengajukan

(36)

5.2.1 Saran Penelitian Lanjutan

1. Diadakan penelitian lanjutan yang mengkombinasikan studi kasus dan

deskriptif yang mengukur sejauh mana fase forgiveness yang dilalui dan

derajat forgiveness, sehingga dapat diketahui hubungan antara derajat

kesediaan dengan dinamika fase forgiveness yang dapat membantu peneliti

menentukan pilihan bantuan untuk partisipan dengan lebih spesifik.

2. Diadakan penelitian lanjutan yang ditujukan untuk mengetahui kontribusi

faktor yang mempengaruhi forgiveness, yaitu sudah berapa lama kejadian

tersebut berlalu, terhadap fase forgiveness agar dapat lebih memahami

faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika fase forgiveness pada remaja

di panti asuhan yang masih memiliki ibu.

5.2.2. Saran Praktis

1. Konselor Panti Asuhan “X” memberikan bimbingan dan konseling pada S

mengenai masalah yang berhubungan dengan ibu, agar S dapat melihat

permasalahannya serta melewati proses yang berhubungan dengan

memaafkan ibu dan tidak banyak menggunakan defense. Selain itu

konselor juga melatih S untuk berdiskusi dengan orang lain yang terlibat

masalah dengannya, agar mendapatkan feedback, sehingga S lebih berani

mengungkapkan pendapat.

2. Konselor Panti Asuhan”X” memberikan bimbingan dan konseling pada I

mengenai masalahnya yang berhubungan dengan ibu, agar dapat diarahkan

(37)

berdiskusi dengan orang lain yang terlibat permasalahan dengannya,

termasuk ketidaksukaan I pada orang tersebut, agar I dapat

mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih sesuai dengan harapan

lingkungan.

3. Konselor Panti Asuhan “X” memberikan masukan pada ibu dalam

berkomunikasi dengan S, agar lebih mengekspresikan kasih sayang dan

mendukung S dalam mengungkapkan pendapat, sehingga dapat membantu

S dalam proses memaafkan. Selain itu kepada ibu diberi masukan untuk

dapat mendengarkan pendapat I dan mendiskusikannya, supaya ibu lebih

(38)

Duvall, Evelyn Millis. 1977. Marriage and Family Development. J.B. Philadelphia : Lippincott Company.

Enright, Robert D. 1996. Counseling Within The Forgiveness Triad : On

Forgiving, Receiving Forgiveness, and Self-Forgiveness. Counseling and

Values Vol. 42 Issue 2.

_____. 2001. Forgiveness Is A Choice :A Step-by-Step Process for Resolving

Anger and Restoring Hope. Washington DC : American Psychological

Association.

Enright, Robert D and Joanna North, 1998. Exploring Forgiveness. Wisconsin : The University of Wisconsin Press.

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing : Design, Analysis, and Use. Massachusetts : Allyn & Bacon.

Graziano, Anthony M., Raulin, Michael L. 2000. Research Methods : A Process

of Inquiry. A Pearson Education Company.

Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Poerwandari, Kristi E. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi UI.

Santrock, John W. 1996. Adolescence : Perkembangan Remaja, edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.

_____. 2007. Adolescence 11th edition. New York : McGraw-Hill Companies,

Inc.

Steinberg, Laurence. 2002. Adolescence 6th edition. New York : McGraw-Hill

Companies.

Strauss, Anselm and Juliet Corbin. 1990. Basics of Qualitative Research. California : Sage Publications, Inc.

(39)

DAFTAR RUJUKAN

Panti Asuhan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Panti_asuhan).

Perseteruan Juwita-Memo Sanjaya ‘jangan lupain papa sayang’.

(http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=vie

w&id=38423&Itemid=37).

Muliadi, Awi dr. 2010. Undang-undang yang berkaitan dengan hak-hak anak. (http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=arti cle&id=75%3Aundang-undang-yang-berkaitan-dengan-pemenuhan-hak-hak-anak&catid=36%3Ayang-perlu-anda-ketahui&Itemid=28).

Enright, Robert D ([email protected]). 6 November 2009. Triad, certain

outcomes. Email kepada Yolanda Wijayanti ([email protected]). _____. 4 Januari 2010. Units in forgiveness process, EFI, factors affecting

forgiveness process. Email kepada Yolanda Wijayanti

([email protected]).

_____. 5 Februari 2010. Forgiveness phases, feedback loops and feed forward. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 7 Februari 2010. Feedback loops. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 10 April 2010. Forgiveness phases, feedback loops and feed forward. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 25 April 2010. Phases. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 3 Juli 2010. Chatexis. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 7 Juli 2010. Factors influence forgiveness. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

(40)

_____. 7 November 2010. Factor influence forgiveness (period). Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 14 December 2010. Definition of forgiveness. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 12 April 2011. Difference between unit 10 and 11. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 12 April 2011. Difference between unit 5 and 9 . Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 14 Mei 2011. Unit 3. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

_____. 25 Mei 2011. Unit 4. Email kepada Kartika W. Ayuningtyas ([email protected]).

Referensi

Dokumen terkait

Siswa SMA di Panti Asuhan ‘ X ’ Bandung yang telah memiliki perencanaan adalah mereka yang telah memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi,

Melalui keterampilan dan pendidikan yang diperoleh di Panti sosial “X” di kota Bandung diharapkan remaja penyandang tuna netra mempunyai kemampuan yang dapat mereka andalkan

Sedangkan pensiunan Bank “X” yang memiliki personal growth rendah merasa tidak mengalami perkembangan di dalam dirinya, mereka juga kurang menyadari potensi yang ada di

Sedangkan remaja yang memiliki orientasi masa depan yang tidak jelas di bidang pendidikan tidak memiliki penggerak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih

Bagi peneliti lain yang tertarik tentang orientasi masa depan bidang pendidikan disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara

Jika seseorang memberikan perhatian, kelembutan, pemahaman, dan kesabaran terhadap kekurangan dirinya, mereka tidak akan merasa malu karena kekurangannya dan tidak akan menarik

oleh teman-teman bukan dari panti seperti ketika akan menjalin relasi lebih memilih yang bisa menerima mereka , perasaan takut ditolak ketika akan bergabung dalam

di sekolah “X”. Keempat ibu mengatakan kaget ketika mengetahui bahwa anak mereka mengalami gangguan perkembangan autism. Mereka kebingungan menghadapi anak mereka