SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh : Kiki Nur Isnaini NIM : 084141114
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2018
ُﻪَﻤﱠﻠَﻋَو َنآْﺮُﻘْﻟا َﻢﱠﻠَﻌَـﺗ ْﻦَﻣ ْﻢُﻛُﺮْـﻴَﺧ
“Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”.1
1 Imam Jalaludin Abdurrahman Ibn Abi Bakar As Suyuthi, Al-Jami’ush Shaghir Jilid III, terj.
Nadjah Ahjad (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995), 29.
Kedua orang tua ku, Bapak Imam Malik dan Ibu Umi Zuroh (Alm)
Yang selalu memberikan do’a, motivasi, dan dukungan baik moril maupun materil yang tak terhingga demi terselesaikannya penulisan skripsi ini.
Kakak kandungku, Ana Zahrotun Nafi’ah yang selalu memberikan semangat dan selalu berperan sebagai seorang ibu untukku
Kakak iparku, Fatkhur Rokhim yang telah banyak membantu dan memberikan semangat.
Teman-teman kontrakan Sakinah tercinta, Fatkhul Khasanah, Dalillatul Lutfiah, Ayu Dwi Lestari, Sri Wahyuni, dan Rosita Vilantika yang selalu memberikan motivasi untuk selalu semangat mengerjakan skripsi.
Sahabatku sekaligus teman seperjuangan
Atina Masruri Daroeni, Nur Layinatul Habibah, Aqmarina Bella Agustin, Ani Kaifa Yuliati, dan Nila Firdayanti yang selalu ada memberikan semangat tiada tara.
Alhamdulillahirabbil’alamin, Segala puja dan puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Karena atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya penyusunan skripsi yang berjudul “Perbandingan Penerapan Metode Wafa dan Metode Tajdied dalam Belajar Membaca Al-Qur’an di SDIT Harapan Umat dan TPA Nailul MaromJember Tahun 2018”ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga, dan para sahabat beliau yang telah memberikan petunjuk kepada semua umat tentang indahnya ilmu pengetahuan.
Dengan terselesaikannya penulisan skripsi ini, perlu disampaikan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak yang telah membantu, meraka adalah sebagai berikut.
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan fasilitas selama berada di IAIN Jember.
2. Bapak Dr. H. Abdullah, M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian.
3. Bapak Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah berusaha memberikan kualitas terbaik di Jurusan Pendidikan Islam
4. Bapak H. Mursalim, M.Ag selaku Ketua Prodi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah berusaha memberikan program terbaik di Program Studi Pendidikan Agama Islam
IAIN Jember yang telah mengajarkan ilmu pengetahuannya dan turut membantu kelancaran penelitian ini.
7. Kepala sekolah, guru dan segenap karyawan SDIT Harapan Umat yang telah membantu dan mengizinkan untuk pelaksanaan penelitian.
8. Segenap siswa SDIT Harapan Umat yang telah membantu memberikan informasi untuk penyusunan skripsi ini.
Mudah-mudahan segala bentuk pertolongan yang diberikan, akan diberikan balasan yang setimpal oleh Allah SWT. Dan hanya ungkapan terimakasih dan doa yang tulus dapatdipersembahkan.
Semoga Ridho Allah Swt., menyertai kemana arah langkah kita berpijak.
Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi diri penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin Yaa Robbal Alamin.
Penulis
Kiki Nur Isnaini
Membaca al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting bagi setiap muslim. Mempelajari dan membaca al-Qur’anmenjadi suatu hal yang sangat dianjurkan. Sudah banyak diterapkan metode belajar membaca al-Qur’an yang bertujuan untuk mempermudah dalam mempelajarinya, salah satunya adalah metode Wafa yang telah diterapkan di SDIT Harapan Umat.
Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah : 1) Bagaimana perencanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’andi SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018? 2) Bagaimana pelaksanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018? 3) Bagaimana evaluasi metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018?.
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perencanaan metode wafa di SDIT Harapan Umat, pelaksanaan metode wafa di SDIT Harapan Umat, dan evaluasi metode wafa di SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018.
Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan analisis kualitatif model interaktif Miles dan Huberman, menganalisis proses penerapan metode wafa dan metode tajdied dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi non partisipan, dan dokumentasi.
Keabsahan data menggunakan Triangulasi Sumber dan Teknik. Penelitian ini memperoleh kesimpulan 1) perencanaan metode wafa dalam belajar membaca al- Qur’an di SDIT Harapan Umat silabus dan RPP ada dalam metode wafa namun di SDIT Harapan Umat tidak menjadi acuan namun tetap mengikuti pedoman yang ada seperti tujuan, materi, media, metode dan alokasi waktu pembelajaran sudah terlaksana; 2) pelaksanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat menggunakan Quantum Teaching dengan metode 5P (Pembukaan, pengalaman, pengajaran, penilaian, penutup); 3) evaluasi metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat dilakukan dengan tiga tahapan yaitu penilaian harian, kenaikan buku, dan akhir (munaqosyah).
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Operasional ... 8
F. Sistematika Pembahasan ... 10
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 11
A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Teori ... 14
BAB III METODE PENELITIAN ... 47
A.
Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 47E.
Analisis Data ... 51F.
Keabsahan Data ... 53G.
Tahap-tahap Penelitian ... 53BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 55
A. Gambaran Objek Penelitian ... 55
B. Penyajian Data dan Analisis ... 64
C. Pembahasan Temuan ... 88
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 96
A. Kesimpulan ... 96
B. Saran-Saran ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 99 LAMPIRAN-LAMPIRAN
4.1 Struktur Organisasi SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018 ... 60 4.2 Data Peserta Didik SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018 ... 61 4.3 Data Guru Wafa di SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018 ... 62 4.4 Data sarana dan prasarana SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018 .. 63
4.3 Evaluasi harian metode Wafa di SDIT Harapan Umat ... 88
Membaca al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting bagi setiap muslim. Mempelajari dan membaca al-Qur’an menjadi suatu hal yang sangat dianjurkan, seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
ُﻪَﻤﱠﻠَﻋَو َنآْﺮُﻘْﻟا َﻢﱠﻠَﻌَـﺗ ْﻦَﻣ ْﻢُﻛُﺮْـﻴَﺧ
“Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”.2
Dari hadis diatas dijelaskan untuk mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya yang harus dilewati melalui proses membaca. Pembelajaran al-Qur’an meliputi pengajian membaca dengan tajwid sifat dan makhrajnya maupun kajian makna terjemahan dan tafsirannya. Sedangkan pengajaran al- Qur’an memasukkan ilmu-ilmu yang dikaji dari al-Qur’an baik umum maupun agama.3 Artianya dari hadis diatas tersirat anjuran untuk membaca al-Qur’an dan kewajiban mempelajari al-Qur’an.
Terutama mengajarkan membaca al-Qur’an pada anak merupakan sebuah keutamaan dan keharusan yang dilakukan oleh orang tua untuk dapat memahami isi kandungannya, seperti yang diungkapkan Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din yang dikutip oleh Abdul Majid Khon yaitu “hendaknya
2 Imam Jalaludin , Al-Jami’ush Shaghir Jilid III…, 29.
3 Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi, (Jakarta: KENCANA, 2014), 13.
anak kecil diajari al-Qur’an, hadis-hadis, biografi orang-orang baik dan sebagian hukum islam.4 Dijelaskan juga dalam hadis Rasulullah SAW
ﻟا ﻩاور)ِنآْﺮُﻘْﻟا ِةَءاَﺮِﻗ ﱢﺐُﺣَو ِﻪِﺘْﻴَـﺑ ِﻞْﻫَأ ﱢﺐُﺣَو ْﻢُﻜﱢﻴِﺒَﻧ ﱢﺐُﺣ ٍلﺎَﺼِﺧ ِثَﻼَﺛ ﻰَﻠَﻋ ْﻢُﻛَدَﻻْوَأ اْﻮُـﺑﱢدَأ ﻲﻤﻠﻳﺪ
(ﻲﻠﻋ ﻦﻋ
“Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : Kecintaan kepada Nabimu, Kecintaan kepada Ahlul Baitnya, dan cinta membaca Al-Qur’an”.
(HR. Al-Dailami)5
Mendidik anak cinta al-Qur’an itu dimulai dengan cinta membacanya, cinta menghafal dan mengulangnya, cinta memahami ayat- ayat-Nya, hingga cinta untuk mengamalkan dan berdakwah kepadanya. Dijelaskan bahwa salah satu kewajiban orang tua adalah mengajarkan membaca al-Qur’an pada anak. Mengajarkan membaca al-Qur’an harus dimuai sejak dini, baik di keluarga, sekolah, atau masyarakat. Seperti di masjid, langgar atau surau, di taman pendidikan al-Qur’an, di pesantren, dan sebagainya. Karena seusia dini sebagai langkah awal, tenaga daya ingat anak- anak sangat kuat, sehingga mudah baginya menghafal, membaca, dan me nulis ayat-ayat al-Qur’an.6
Realitasnya masih banyak anak-anak yang kurang tertarik untuk belajar membaca al-Qur’an, ketidaktertarikan mereka menganggap bahwa belajar membaca al-Qur’an itu membosankan. Mereka lebih senang menonton kartun, bermain gadget mereka karena hal itu lebih menarik.
4 Ibid, 13.
5 Imam Jalaludin Abdurrahman Ibn Abi Bakar As Suyuthi, Al-Jami’ush Shaghir Jilid I, terj.
Nadjah Ahjad (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995), 111.
6 Rosniati Hakim, “Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Berbasis Al- Quran”, Pendidikan Karakter. Tahun IV. No 2, 2014, 6.
Menurut Badan Pusat Statistik, terdapat kurang lebih sekitar 87,2 persen pemeluk Agama Islam di Indonesia. Namun, dari sekian banyak umat Islam di Indonesia, yang tidak bisa membaca al-Qur’an sekitar 54 persen.7 Hal itu menunjukkan masih banyak muslim di Indonesia yang belum mampu atau bisa membaca al-Qur’an, secara tidak langsung pula masih banyak anak yang belum bisa membaca al-Qur’an. Untuk itulah pendidik harus pandai menerapkan metode atau cara pembelajaran yang lebih menarik dan sesuai psikologi anak.8
Membaca al-Qur’an merupakan salah satu perintah dari al-Qur’an dan untuk bisa membaca al-Qur’an membutuhkan proses yang diperoleh dengan cara belajar, sehingga tidak ada orang yang otomatis bisa, dalam belajar diperlukan waktu, tenaga dan biaya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari al-Qur’an dengan baik dan benar termasuk dapat membacanya sesuai dengan kaidah tajwid. Seperti yang terdapat dalam surat Muzammil (73): 4 di mana ayat tersebut menjelaskan tentang perintah membaca al-Qur’an dengan tartil.
) ًﻼﻴِﺗْﺮَـﺗ َناَءْﺮُﻘْﻟا ِﻞﱢﺗَرَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْدِز ْوَأ (
4“Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.9
7 http//:Badan Pusat Statistik Indonesia : orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an di Indonesia tahun 2015 (diakses tanggal 22 Februari 2018)
8 Sa’ad Riyadh, Kiat Praktis Mengajarkan Al-Quran Pada Anak (Surakarta: Ziyad Visi Media, 2007), 26-27.
9 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Juz 1-30 Edisi Baru (Surabaya: CV Pustaka Agung Harapan,2006), 574.
Banyaknya perkembangan pemikiran dan ide mengenai cara belajar membaca al-Qur’an sehingga banyak ditemukan metode pembelajaran membaca al-Qur’an yang lebih efektif dan efisien seperti wafa, Tajdied, Qiraati, Dirosati, Iqro’, Alimna, Tartila dan lainnya, yang dapat mempermudah dalam belajar membaca al-Qur’an dengan cepat dan mudah.
Dari banyaknya metode belajar membaca al-Qur’an ini masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan, proses pembelajaran dan ciri khas, namun dari masing-masing metode mempunyai tujuan yang sama yaitu mempermudah mengajarkan membaca al-Qur’an secara efektif terutama pada anak. Seperti yang berkembang saat ini banyak metode belajar membaca al- Qur’an yang proses pembelajarannya mudah dan menarik sehingga mempermudah dalam pemahaman belajar membaca al-Qur’an pada anak, diantaranya adalah metode wafa.
Metode wafa merupakan program yang pertama kali diluncurkan dan dikemas sangat bersahabat dengan dunia anak. Metodologi pembelajaran yang digunakan merujuk kepada konsep quantum teaching dengan pola tandur. Implementasinya dibeberapa sekolah unggulan telah membuktikan kehandalan metode ini dalam menghadirkan pembelajaran al-Qur’an yang mudah, cepat, dan menyenangkan.10 Sebagai wujud dari komprehensivitas sistem ini, pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan mencakup 5T:
tilawah, tahfidz, tarjamah, tafhim, dan tafsir. Adapun tokoh pendiri dan
10 Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran Metode Otak Kanan ( Surabaya: CV. Kualita Mediatama, t.t), 1.
penyusun metode wafa diantaranya adalah KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. Dan KH. DR. Muhammad Baihaqi, Lc, MA.
Adanya metode baru dalam mengajarkan membaca al-Qur’an, orang tua akan jauh lebih terbantu karena anak mereka akan mudah dalam belajar membaca al-Qur’an dan hasilnya pun akan jauh lebih efektif dan efisien.
Seperti metode wafa yang sudah diterapkan di SDIT Harapan Umat Jember, di mana SDIT ini terletak jalan Danau Toba – Sumbersari Tegalgede kabupaten Jember. Memiliki 8 kelas dengan jumlah siswa 217. SDIT Harapan Umat merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak hanya mengedepankan pendidikan secara akademik melainkan juga non akademik yaitu penerapan pembelajaran membaca al-Qur’an dengan munggunakan metode Wafa untuk kesehariannya, sehingga siswa juga akan terbantu dan mendapatkan pengetahuan dalam hal belajar membaca al-Qur’an. Berbeda dengan sekolah dasar yang lain SDIT Harapan Umat adalah sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran membaca al-Qur’an karena merupakan sekolah dasar islam terpadu, biasanya sekolah dasar hanya terdapat materi pendidikan agama islam saja namun di SDIT Harapan Umat terdapat pembelajaran membaca al-Qur’an yang juga menjadi pembelajaran pokok.
Berdasarkan dari temuan di atas, maka peneliti mengambil judul “penerapan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka fokus penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perencanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018?
2. Bagaimana Pelaksanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018?
3. Bagaimana Evaluasi metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu pada fokus penelitian, sehingga tujuan penelian dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan perencanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018.
2. Untuk mendeskripsikan Pelaksanaan metode wafa dalam belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018.
3. Untuk mendeskripsikan Evaluasi metode wafa dalam belajar membaca al- Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember tahun 2018.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis.11
Adapun manfaaf yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan pemikiran dan pengetahuan terutama dalam belajar membaca al-Qur’an baik menggunakan metode wafa .
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan terkait dengan metode- metode belajar membaca al-Qur’an.
b. Bagi IAIN Jember
Diharapkan menambah literatur guna kepentingan akademik kepustakaan IAIN Jember serta referensi bagi mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut terkait dengan metode belajar membaca al-Qur’an.
c. Bagi SDIT Harapan Umat
Diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru dan ustadz/ustadzah dalam meningkatkan keefektifan belajar membaca al-Qur’an.
11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 45.
d. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan dalam belajar membaca al-Qur’an terutama menggunakan metode wafa .
D. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.12
1. Penerapan metode wafa
Penerapan sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berasak dari kata terap yang artinya : berukir, adapun yang dimaksud dengan penerapan adalah proses, cara, perbuatan menerapkan, pemasangan dan pemanfaatan.13
Menurut Hasan Langgulung mendefenisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.14Wafa artinya kesempurnaan. Dalam hal ini, metode wafa dapat diartikan sebagai cara atau jalan yang sempurna yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
Metodologi pembelajaran yang digunakan metode wafa menggunakan metode otak kanan yang merujuk pada konsep quantum
12 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 45
13 Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed iv (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), 1180.
14 Hasan Langgulung,Pendidikan dan Peradaban Islam (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1985), 79.
teaching dengan pola tandur (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasi, ulagi, dan rayakan). Penerapan metode wafa dalam penelitian ini mempunyai tujuan diantaranya:
a. Dapat membaca al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid
b. Dapat menulis arab dengan baik dan benar c. Dapat menghafal al-Quran juz 29 dan 30 d. Gemar membaca al-Quran
2. Belajar membaca Al-Qur’an
Belajar didefinisikan sebagai perubahan yang secara umum relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman.15Kegiatan ini akan mengakibatkan peserta didik mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien.16 Membaca adalah sebuah aktivitas melafalkan atau melisankan kata-kata yang dilihatnya dengan mengerahkan beberapa tindakan melalui pengertian dan mengingat-ingat. Sedangkan al-Quran adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk dan bimbingan hidup.17 Jadi belajar membaca al-Quran adalah mempelajari dan mengimani isi yang ada dalam al-Quran dengan menggunakan suatu cara sehigga akan menjadi lebih efektif. Dalam penelitian ini yang akan diteliti lebih terfokus pada penerapan belajar membaca al-Qur’an. Dalam penelitian ini yang
15 Fadila Suralanga, dkk, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Islam (Jakarta:UIN Press, 2005),
1660.
Muhaimin MA, Dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), 99.
17 Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadits (Yogyakarta : TERAS, 2007), 11.
dimaksud belajar al-Qur’an adalah dari mulai belajar mengenal huruf hijjaiyah sampai bisa membaca al-Qur’an dengan baik sesuai kaidah tajwid.
E. Sistematika Penelitian
Sistematika pembahasan berisi tentang deskriptif alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga penutup. Dengan tujuan agar pembaca dapat dengan mudah mengetahui gambaran isi skripsi secara global. Adapun sistematika dari proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab satu, yaitu pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah yaitu landasan penulis mengapa tertarik mengkaji topik dalam penelitian ini.
Kemudian fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.
Bab dua, yaitu kajian kepustakaan yang terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori.
Bab tiga, yaitu metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
Bab empat, yaitu terdiri dari penyajian data dan analisis, meliputi gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis data, serta pembahasan temuan yang diperoleh di lokasi penelitian.
Bab lima, yaitu penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Bab ini merupakan bagian akhir pembahasan.
Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertai dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat dilihat sampai mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.18
Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini diantaranya:
1. Skripsi yang berjudul “ Implementasi Metode Wafa dalam meningkatkan Kemampuan Belajar Al-Qur’an siswa di SDIT Nurul Fikri Tulungagung Tahun 2017/2018. oleh Gifri Nafi’ah NIM. 2811133100 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian ini adalah implementasi pembelajaran menggunakan pola TANDUR, implementasi menulis menggunakan buku panduan metode wafa, dan implementasi menghafal menggunakan pola TANDUR.
2. Skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Wafa di Sekolah Dasar Islam Terpadu Ar-Rahmah Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang Tahun Pelajaran 2016/2017” oleh Irnawati NIM Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam IAN Jember. Penelitian ini menggunakan
18 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 45
metode kualitatif. Pencarian data diperoleh dari informan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Hasil penelitian ini adalah dengan menerapkan metode wafa lebih membantu dalam meningkatkan keefektifan belajar membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an di SDIT Ar-Rahmah Kecamatan Yosowilangun Kab. Lumajang tahun pelajaran 2016/2017.
3. Skripsi yang berjudul “ Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al- Qur’an di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Qurrata A’yun Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2016/2017” oleh Selvia Noormadiyanti Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan dan Keguruan Universitas Negeri Islam Antasari Banjarmasin.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, hasil penelitian ini adalah penerapan metode wafa di SMPIT Kangdangan belum terlaksana maksimal karena kurangnya perencanaan yang matang oleh guru, namun untuk pelaksanaan sudah dilakukan cukup baik karena sudah dilakukan sesuai dengan buku panduan metode wafa.
Tabel 2.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Persamaan Perbedaan Orisinalitas
Penelitian 1 Gifri
Nafi’ah
Implementasi Metode Wafa dalam
a. Menggunaka n metode penelitian
Penelitian
terdahulu meneliti implementasi
a. Yang diteleti dalam
meningkatkan Kemampuan Belajar Al- Qur‟an siswa di SDIT Nurul Fikri Tulungagung Tahun 2017/2018
kualitatif b. Sama-sama
meneliti metode Wafa
metode Wafa dalam belajar membaca, menulis, dan menghafal al- sedangkan
penelitan sekarang adalah perencanaa n,
pelaksanaa n dan evaluasi metode Wafa b. Dalam
penelitian ini lebih difokuskan pada pembelajar an
membaca al-
Qur’annya 2 Irnawati Penerapan
Metode Wafa di Sekolah Dasar Islam Terpadu Ar-Rahmah Kecamatan Yosowilangun Kabupaten
Lumajang Tahun Pelajaran
2016/2017
a. Jenis penelitian kualitatif deskripti b. Sama-sama
meneliti penerapan metode wafa
c.
penelitian sekarang meneliti penerapan metode wafa dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Penelitian terdahulu membahas
penerapan metode wafa dalam proses belajar membaca, menulis, dan menghafal al- Qur’an sedangkan penelitian sekarang hanya proses belajar membaca al-Qur’an saja yang diteliti.
3 Selvia Noormadi yanti
Penerapan Metode Wafa dalam
Pembelajaran Al-
Qur‟an di
Sekolah Menengah
Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Qurrata A‟yun Kecamatan
a. Sama-sama menggunaka n penelitian kualitatif deskriptif.
b. Sama-sama meneliti metode Wafa.
Penelitian
terdahulu fokus penelitiannya adalah perencanaan, pelaksanaan, dan faktor yang mempengaruhi penerapan metode Wafa sedangkan penelitian sekarang
Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2016/2017
adalah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa penelitian terdahulu meneliti metode Wafa memfokuskan pada proses belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur’an. Berbeda dengan judul penelitian yang diambil oleh peneliti yaitu penerapan metode wafa belajar membaca al-Qur’an di SDIT Harapan Umat Jember Tahun 2018, yang memfokuskan penelitian pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi metode Wafa. Sehingga penelitian yang dilakukan adalah baru dan asli tidak terdapat kemiripan dan kesamaan dengan penelitian sebelumnya.
B. Kajian Teori
1. Pembelajaran membaca Al-Qur’an
Menurut Endang Poerwanti dan Nur Widodo yang mengutip pendapatnya Wuryadi menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses pengubahan status siswa dari tidak tahu menjadi tahu yang meliputi pengetahuan, sikap dan tingkah laku.19
Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.20 Sehingga dapat diambil kesimpulan pembelajaran
19 Endang Poerwanti dan Nur Widodo, Perkembangan Peserta Didik (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Pers, 2002), 4.
20 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 70.
adalah pengubahan status siswa dari tidak tahu menjadi tahu meliputi;
pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Membaca menurut Donald D. Hammill dan Nettie R. Bartel adalah
“Reading is responding orally to printed symbols” yang artinya membaca adalah reaksi secara lisan terhadap simbol-simbol tertulis.21
Menurut Sudarso, membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah meliputi orang harus menggunakan pengertian, khayalan, mengamati dan mengingat-ingat.22 Dari kedua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah sebuah aktivitas melafalkan atau melisankan kata-kata yang dilihatnya dengan mengerahkan beberapa tindakan melalui pengertian dan mengingat-ingat.
Al-Qur’an menurut pendapat para ulama’ adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir dengan perantara malaikat Jibril a.s. yang ditulis dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir dan merupakan ibadah bagi yang membacanya, yangdiawali surat al-Fatihah dan diakhiri surat an-Nas.23
Secara keseluruhan yang dimaksud pembelajaran membaca al- Qur’an adalah sebuah proses yang menghasilkan perubahan-perubahan kemampuan melafalkan kata-kata, huruf atau abjad al-Qur’an yang diawali
21 Donald D. Hammill dan Nettie R. Bartel, Teaching Children with Learning and Behavior Problem (Massachusetts: Allyn and Bacon, Inc, 1978), 23.
22 Sudarso, System Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), 4.
23 Muhammad Ali Ash-Shobuni, Tibyan fi al-Ulum al-Qur‟an (Jakarta: Dinamika BerkahUtama, 1985), 8.
dengan huruf ا sampai dengan ي yang dilihatnya dengan mengerahkan beberapa tindakan melalui pengertian dan mengingat-ingat. Dan membaca al-Qur’an merupakan keutamaan bagi setiap muslim agar selalu terhindar dari perbuatan yang buruk, seperti yang terdapat dalam firman Allah dalam surah al-Ankabut: 45
َػت َةوَلَّصلا َّفِإ َةوَلَّصلا ِمِقَأَك ِبَتِكْلا َنِم َكْيَلِا َىِح كُأ اَم ُلْتا ِءاَشْحَفْلا ِنَع ىَهْػن
َفوُعَػنْصَت اَم ُمَلْعَػي ُللهاَك ُرَػبْكَأ ِللهاا ُرْكِذَلَك ِرَكْنُمْلاَك
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al- Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Ankabut: 45 )24
Pembelajaran membaca al-Quran bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, dan menggemari al-Quran serta menanamkan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat al-Quran untuk mendorong, membina, dan membimbing akhlah dan perilaku peserta didik agar berpedoman sesuai ajaran al-Quran.25 Oleh sebab itu membaca al-Quran sangat baik jika diajarkan sejak dini, dan belajar membaca al-Quran bisa dimulai dari keluarga karena Allah selalu menyukai orang-orang yang terbiasa membaca al-Quran. Seperti yang terdapat dalam al-Quran surah Al- Ahzab: 34 yaitu tentang perintah Allah untuk selalu membaca al-Quran di dalam rumah.
24 Al-Qur’an, 29:45
25 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum Daerah (Pasuruan,2007), 3.
انرْػيِبَخ انفيِطَل َفاَك َللها َّفِإ ِةَمْكِْلْاَك ِللها ِتَياَء ْنِم َّنُكِتوُيُػب ِفِ ىَلْػتُػياَم َفْرُكْذاَك
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat- ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah maha lembut lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Ahzab: 34)26
Di dalam membaca al-Quran terdapat beberapa kualitas. Kualitas yang dimaksud di sini adalah suatu aktifitas membunyikan bahasa tulisan yang ada dalam al-Quran dengan cakap, diantaranya sebagai berikut:
a. Membaca huruf tunggal dan sambung
Membaca huruf tunggal dan sambung merupakan salah satu materi yang harus dipelajari oleh peserta didik pada tahap awal atau tingkat dasar. Karena sebelum membaca ayat al-Quran maka yang harus dielajari pertama kali dan harus dikuasai adalah huruf hijaiyah yang dibaca tunggal maupun huruf hijaiyah sambung.
b. Membaca al-Quran sesuai tajwid.
Tajwid adalah melafalkan huruf-huruf al-Quran sesuai dengan makhraj dan sifatnya serta memenuhi hukum bacaannya.27 Ilmu tajwid adalah suatu disiplin ilmu yang mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pelafalan huruf-huruf dari makhrajnya disamping harus pula diperhatikan hubungan setiap huruf dengan sebelum dan sesudahnya cara pelafalannya.28 Menurut bahasa
26 Al-Qur’an, 33:34
27 Departemen Agama RI, Pedoman Tajwid Transliterasi Al-Quran (PPTQ) Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat, 2007), 3.
28 Ummi Rif’ah Ishaq al-Hafizhah, Pedoman Tilawah al-Quran (ilmu tajwid), (Jakarta: Syukur Press), 5.
, tajwid bermakna “memperbaiki, membuat baik, membaguaskan dan memperindah. Sedang secara harfiah tajwid memiliki makna
“Pemenuhan hak-hak dan sifat-sifat bunyi huruf, terbaca makhroj aslinya dan seimbang dalam membaca lafad-nya. Secara sederhana tajwid adalah memenuhi hak-hak dan sifat – sifat setiap huruf serta memperindah, membaguskan kaidah hukum pertemuan antara huruf tersebut dan istiqomah dalam membaca panjang dan pendeknya harokat29
Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Akan tetapi membaca al-Qur‟an dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya fardhu „ain bagi setiap muslim dan muslimah.30 Tujuan ilmu tajwid adalah agar orang dapat membaca al-Qur’an dengan fasih (terang dan jelas), dan mengdari dari lisan kesalahan- kesalahan dalam membaca al-Qur‟an sesuai dengan bacaan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW:
َوُهَك ِهْيِف ُعَتْعَػتَتَػيَك َفآْرُقْلا ُأَرْقَػي لِذَّلاَك ِةَرَرَػبْلا ِـاَرَكْلا ِةَرَفَّسلا َعَم ِفآْرُقْلاِب ُرِهاَمْلا ِفاَرْجَأ ُهَل ٌّؽانش ِهْيَلَع
Artinya: “Orang yang pandai membaca al-Qur‟an bersama assafarah al kiraam al bararah (para malaikat yang mulia), dan orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata (kurang fasih bacaanya karena berat lidahnya dan sulit untuk membetulkannya. Maka ia mendapat dua pahala”(HR.Muslim)31
29 Abdul Lathif, Belajar Tajwid Untuk Pemula (Yogyakarta:Barokah Books), 10
30 Rohmattulloh dan Megah Tinambun, Praktis dan Mudah Kuasai Tajwid (Yogyakarta: Checklist, 2018), 7.
31 https:// muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-qur’an.html. (diakses 11 september 2018)
a. Ketepatan dalam makhraj
Definisi secara bahasa “makhrij” jamak dari kata makhraj yang berarti tempat keluarnya sesuatu. Sedangkan menurut istilah makharijul huruf adalah tempat keluarnya huruf yang padanya berhenti suara dari sebuah lafal (pengucapan) yang dengannya dibedakan suatu huruf dengan huruf lainnya.32
Tempat keluarnya huruf semuanya berjumlah 17. Yang terbagi menjadi 5 tempat, yaitu:
1) Rongga mulut
(ؼولجا )
, merupakan tempat keluar huruf mad.2) Tenggorokan
(قللْا ),
merupakan tempat keluar hurufع خ ح ق ء غ.
3) Lidah
(فاسللا ),
merupakan tempat keluar hurufم ش ج ؾ ؽ ز ص س ظ ذ ث ط د ت ر ف ؿ ض.
4) Bibir
(فاتفشلا ),
merupakan tempat keluar hurufؼ ب ـ ك .
5) Pangkal hidung
(ـوشيلخا)
, merupakan tempat keluar bacaan (a) Idgham bigunnah(b) Ikhfa’
(c) Iklab
(d) Idgham mimi (e) Ikhfa’ syafawi
32 Rohmattulloh, Praktis dan Mudah Kuasai Tajwid, 7.
Hokum – hokum bacaan tajwid sangatlah beragam. Secara garis besar dapat kita simpulkan kedalam 9 jenis hukum, yaitu:33
1) Hukum bacaan Mad
2) Hukum bacaan Nun sukun atau tanwin 3) Hukum mim sukun dan tanwin
4) Hukum idghom sebab huruf sejenis 5) Hukum qalqalah
6) Hukum lam dan ro’
7) Hukum alif lam
8) Hukum bacaan ghoribah 9) Hukum al- waqfu wal ibtida’
2. Kajian Teori Tentang Penerapan Metode Pengertian Metode Wafa a. Penerapan
Penerapan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara, perbuatan menerapkan.34 Dalam penerapan metode Al- Barqy itu terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1) Perencanaan Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perencanaan adalah proses, cara, perbuatan merencanakan (merancangkan).35 Yusuf Enoch dalam Zulaichah Ahmad,
33 Abdul, Belajar Tajwid……, 10
34 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: balai Pustaka, 2002), 928.
35 Ibid, 946.
menjelaskan bahwa perencanaan (planning) mengandung arti sebagai suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.36 Perencanaan merupakan langkah awal dari suatu pembelajaran. Perencanaan adalah penyusunan langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuaan yang telah ditentukan. Perencanaan tersebut disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun, yang lebih utama bahwa perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran.
Dengan adanya perencanaan yang tepat, kesalahan dapat diminimalisasi dengan baik. Perencanaan pembelajaran merupakan serangkaian langkah-langkah yang akan dilakukan ketika pembelajaran berlangsung untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ada hal-hal pokok yang harus diperhatikan, yaitu berupa elemen-elemen pokok yang diperlukan dalam pembuatan rencana pembelajaran. Menurut Aminatuz Zahroh elemen-elemen pokok tersebut adalah sebagai berikut:37
36 Zulaichah Ahmad, Perencanaan Pembelajaran PAI (Jember: Madania Center Press, 2008), 8.
37 Aminatul Zahroh, Membangun Kualitas Pembelajaran Melalui Dimensi Profesionalisme Guru, (Bandung: CV Yrama Widya, 2015), 112.
a) Penentuan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan komponen yang harus dirumuskan guru dalam proses belajar mengajar. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran akhir dari setiap kegiatan pembelajaran. Tujuan instruksional adalah tujuan perilaku yang hendak dicapai oleh peserta didik pada tingkat kompetensi tertentu.
Secara umum, tujuan isntruksional dibedakan menjadi dua yang sampai sekarang dianut oleh sebagian besar guru. Pertama, tujuan instruksional umum. Tujuan instruksional umum adalah tujuan akhir yang diperoleh dari proses belajar, latihan, atau proses pendidikan. Kedua, tujuan instruksional khusus. Tujuan instruksional khusus adalah tujuan yang ingin dicapai oleh peserta sisik pada waktu proses belajar mengajar dilakukan.
b) Penentuan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran merupakan sumber belajar yang harus digali oleh peserta didik. Lebih dari itu, materi pembelajaran juga harus dikuasai oleh peserta didik. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Selebihnya, peserta didik yang harus aktif dalam menggali berbagai macam pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang menjadi pembahasannya saat itu. Banyak sekali sumber belajar yang bisa digunakan peserta didik untuk mengakses pengetahuan, diantaranya buku, majalah, artikel,
koran, media elektronik, pendapat para tokoh, pendapat masyarakat dan sebagainya.
Sumber belajar merupakan substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pengajaran, proses belajar inilah peserta didik akan menemukan banyak pengetahuan serta melatih peserta didik untuk berfikir kritis. Disamping itu, melalui bahan pelajaran ini juga peserta didik diantarkan kepada tujuan pembelajaran yang sesungguhnya.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan materi adalah kemanfaatan, alokasi waktu, kesesuaian, kondisi lingkungan masyarakat, tingkat perkembangan peserta didik, dan fasilitas.
Apa jadinya kalau kegiatan pembelajaran tanpa menggunakan atau tanpa bantuan materi? Dan siapa juga yang menginginkan sekolah tanpa materi pembelajaran? Jika kondisinya demikian, tentu proses belajar mengajar tidak akan berjalan dan tentunya juga tidak ada yang menginginkan kegiatan belajar mengajar tanpa materi.
c) Penentuan Metode dan Media Pembelajaran
Penentuan metode dan media merupakan hal yang sangat erat hubungannya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang paling efektif dan efisien dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk membentuk kompetensi dasar. Dalam
kegiatan pembelajaran, guru bisa menggunakan berbagai variasi metode untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan aktifitas dan kreatifitas diantara peserta didik.
Tidak terbayangkan di benak kita, jika pembelajaran tanpa adanya metode atau media. Penentuan dan penggunaan metode dan media pembelajaran sangat erat kaitannya dengan pemilihan strategi pembelajaran secara tepat (efektif dan efisien). Oleh karena itu, penggunaan media dan metode pembelajaran oleh guru harus dilaksanakan secara bervariasi. Hal ini disebabkan variasi media dan metode merupakan daya tarik tersendiri bagi peserta didik. Adanya variasi media dan metode juga harus diiringi dengan penggunaan strategi. Selanjutnya, penggunaan strategi harus disesuaikan dengan materi yang hendak disampaikan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Dengan penggunaan metode, media, dan penerapan strategi secara tepat, ternyata mampu meningkatkan aktifitas dan kreatifitas peserta didik. Selain itu, motivasi dan semangat peserta didik juga akan semakin hidup. Kreatifitas memang perlu dikembangkan, karena sesungguhnya dengan kreatifitas, secara otomatis otak kita akan ikut terlatih untuk berfikir juga.
d) Penentuan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu merupakan elemen yang pokok dalam perencanaan pembelajaran. Alokasi merupakan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kompetensi dasar (KD) yang didasarkan pada minggu efektif dan alokasi mata pelajaran dalam satu minggu. Waktu yang dialokasikan seyogianya tidak melebihi ketentuan yang sudah ditetapkan.
Jangan sampai ketika menetapkan alokasi waktu, ada kesan kelebihan atau kebanyakan waktu. Alokasi waktu memang dijadikan standar dan ukuran untuk melaksanakan pembelajaran, agar terlaksana secara efektif. Meskipun waktu yang disediakan sedikit, guru tetap harus mempergukannya dengan alokasi waktu yang sedikit, diharapkan dapat meminimalisasi kesalahan dalam pembelajaran.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelaksanaan adalah proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan, keputusan, dan sebagainya). Pelaksanaan secara terminologi, beberapa ahli memberikan pengertian berbeda antara lain: George R. Terry, pelaksanaan (actuating) atau disebut juga “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang dilakukan seorang manager untuk mengawali dan
melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai.38
Pelaksanaan pembelajaran menurut Atwi Suparman seperti yang dikutip oleh Bambang Warsita39, secara garis besar, komponen dalam pelaksanaan pembelajaran dikelompokkan menjadi:
(1) Mengurutkan kegiatan pembelajaran (a) Pendahuluan dalam pembelajaran
Pendahuluan dalam pembelajaran merupakan bagian awal dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, memusatkan perhatian peserta didik agar peserta didik bisa mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran atau materi dan juga mengetahui kemampuan peserta didik atau apa yang telah dikuasai peserta didik sebelumnya dan berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
Tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam tahap pendahuluan adalah memberikan gambaran singkat tentang isi pelajaran, menjelaskan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan menjelaskan tentang tujuan pembelajaran.40
38George R. Terry, Prinsip-prinsip Manajemen (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), 17.
39 Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran;Landasan dan Aplikasinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 272.
40 Ibid
(b) Penyajian materi pembelajaran atau bahan ajar
Penyajian materi atau bahan ajar merupakan kegiatan inti dari pembelajaran. Dalam kegiatan ini peserta didik ditanami pengetahuan baru dan mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki dikembangkan pada tahap ini. Tahapan yang dilakukan adalah menguraiakan materi pelajaran, memberikan contoh atau ilustrasi, memberikan latihan yang sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan.
Pendidik harus memperhatikan beberapa hal dala menetapkan materi pembelajaran, diantaranya adalah materi pelajaran hendaknya menunjang untuk tercapainya tujuan pembelajaran, materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau perkembangan siswa, materi pembelajaran hendaknya terorganisir secara sistematik dan berkesinambungan, materi hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat faktual maupun konseptual.41
Materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga aspek, diantaranya adalah pengetahuan (knowledge) pengetahuan merujuk pada informasi yang disimpan dalam pikiran siswa dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus dihafal dan dikuasai
41 Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 102.
oleh siswa sehingga manakala diperlukan, siswa dapat mengungkapkannya kembali, keterampilan (skill) keterampilan menunjukkan pada tindakan-tindakan fisik atau non fisik yang dilakukan oleh seseorang dengan cara yang kompeten untuk mencapai tujuan tertentu, sikap (attitude) sikap menunjukkan pada kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini kebenarannya oleh siswa.42
(c) Penutup
Penutup adalah tahapan akhir dari urutan kegiatan pembelajaran. Tahapan yang dilakukan adalah memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan materi pelajaran yang telah diberikan, baik dengan mengguanakan tes formatif maupun dengan umpan balik (feedback) dan selanjutnya adalah pemberian pengayaan atau tindak lanjut (follow up).
Kegiatan penutup agar lebih mudah dalam pelaksanaannya, setiap pendidik (khususnya pemula) dapat membuat pedoman. Pedoman para pendidik berfungsi sebagai kontrol untuk mengingatkan apabila pendidik terjebak dalam diskusi yang berkepanjangan dengan peserta didik yang dapat menghabiskan waktu tanpa dapat
42 Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011), 141.
menyelesaikan urutan pembelajaran seebagaimana telah direncanakan.43
(2) Penggunaan metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendidik atau guru harus dapat memilih metode pembelajaran yang tepat disesuaikan dengan materi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran mungkin dapat dikatakan tepat untuk suatu pelajaran, tetapi belum tentu tepat untuk pelajaran yang lainnya. Untuk itu guru haruslah pandai dalam melilih dan menggunakan metode-metode pembelajaran disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan karakteristik pesetra didik. Dengan demikian, didalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
(3) Penggunaan media pembelajaran
Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi pembelajara untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Media pendidikan terdiri dari alat pengajaran, alat peraga, alat
43 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 65.
pendidikan dapat berbentuk orang atau guru, alat-alat elektronik, media cetak, media audio, media audiovisual (video), multimedia dan lain sebagainya untuk mendukung suksesnya proses pembelajaran.44
Memilih media pembelajaran juga harus diperhatikana.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran adalah ketepatan dengan tujuan pembelajaran, dukungan terhadap isi pelajaran, kemudahan memperoleh media, keterampilan guru dalam menggunakan media, ketersediaan waktu menggunakan media, sesuai dengan taraf berfikir peserta didik.
(4) Pemanfaatan alokasi waktu
Alokasi waktu adalah pembagian waktu yang digunakann dalam proses pembelajaran. Pendidik harus tahu alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembelajaran. Baik itu satu pokok bahasan atau satu kompetensi dasar didalam beberapa kali tatap muka.
Tujuannya agar proses pembelajaran sesuai dengan tujuan atau target yang ingin dicapai.45
3) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang artinya suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
44 Ibid.
45Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran;Landasan dan Aplikasinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 275.
daripada sesuatu.46 Evaluasi berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu), jadi evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai.47
Evaluasi merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan suatu program subtansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian atau asesmen serta pelaksanaanya, pengadaan dan peningkatan kemampuan pendidik, manajemen pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, membantu pertanggung jawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena.48
Dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh informasi pencapaian hasil belajar dan kemajuan belajar peserta didik serta mengefektifkan penggunaan informasi tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan suatu sistem pendidikan secara keseluruhan.49
46 Wayan Nurkancana dan Sunartana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), 1.
47 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), 3.
48 Moh. Sahlan, Evaluasi Pembelajaran (Jember: STAIN Jember Press, 2015), 8.
49Moh. Sahlan, Evaluasi Pembelajaran..., 9-10.
a) Model evaluasi formatif-summatif
Micheal Scriven yang dikutip dalam buku Suharsimi Arikunto, mengembangkan model evaluasi formatif-sumatif, model ini menunjukkan adanya tahapan dan lingkup objek yan dievaluasi, yaitu evaluasi yang dilakukan pada waktu program masih berjalan (formatif) dan ketika program sudah selesai atau berrakhir (sumatif).
Evaluasi formatif dilakukan tiap ulangan harian. Evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui sampai seberapa tinggi tingkat keberhasilan atau ketercapaian tujuan untuk masing-masing pokok bahasan. Evaluasi formatif secara prinsip merupkan evaluasi yang dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan permulaan kegiatan.
Evaluasi sumatif dilakukan setelah program berakhir.
Tujuan dari evaluasi sumatif adalah untuk mengukur ketercapaian program. Fungsi evaluasi sumatif dalam evaluasi program pembelajaran dimaksudkan sebagai sarana untuk mengetahui posisi atau kedudukan individu di dalam kompleknya.50
3. Sejarah Metode Wafa
Disaat sistem pendidikan modern berkembang dengan beragam bentuk dan metode yang ditawarkan. Pendidikan al-Quran sebagai salah satu pilar penting pembangunan masyarakat Islam Indonesia
50 Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), 42-43.
ternyata belum mendapatkan perhatian yang serius. Oleh karena itu, Yayasan Syafa’atul Qur’an Indonesia berusaha menghadirkan sistem pendidikan al-Quran “Wafa” yang bersifat komprehensif dengan metodologi yang dikemas menarik dan menyenangkan. Sebagai wujud dari komprehensivitas sistem ini, pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan mencakup 5T: tilawah, tahfidz, tarjamah, tafhim, dan tafsir. Dari program unggulan ini, program pembelajaran al-Quran metode wafa merupakan program yang pertama kali diluncurkan dan dikemas sangat bersahabat dengan dunia anak. Metodologi pembelajaran yang digunakan merujuk kepada konsep quantum teaching dengan pola tandur. Quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar melalui pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah.51 Implementasinya dibeberapa sekolah unggulan telah membuktikan kehandalan metode ini dalam menghadirkan pembelajaran Al-Quran yang mudah, cepat, dan menyenangkan.52
Adapun tokoh pendiri dan penyusun metode wafa diantaranya adalah KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. Dan KH. DR.
Muhammad Baihaqi, Lc, MA. KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc lahir di Sumenep Madura pada tanggal 10 November 1963. Tinggal di Jl. Teluk BuliI/4 Perak Utara Surabaya sekaligus menjadi Ketua
51 Bobbi Deporter Dkk, Quantum Teaching: Orchestrating Student Succes, terj. Ary Nilandari (Bandung: Kaifa, 2003), 5.
52 Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran,1.
Dewan Pembina Yayasan Ibadurrahman (Masjid Ar-Rahmah) Teluk Buli. Gelar Licence diperoleh dari Universitas Imam Muhammad bin Saud Arab Saudi. Sedangkan KH. DR. Muhammad Baihaqi, Lc, MA lahir di Sidoarjo pada tanggal 20 Februari 1974. Tinggal di Jl.
Lakarsantri No. 19 Surabaya sekaligus membina Yayasan Utsman Bin Affan Surabaya. Selain menjadi Ketua Tim Penyusun, juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan Syafa’adul Quran Indonesia (Yaqin).
c. Pokok Pembelajaran Tilawah untuk SD/ MI
1) Buku Satu : huruf tunggal dan sambung 2) Buku Dua : buku 1 dan panjang dua harakat
3) Buku Tiga : buku 1, 2 dan bacaan tekan (sukun dan tasydid) 4) Buku Empat : buku 3, bacaan, dengung dan fawatihus suwar 5) Buku Lima : buku 4, qalqalah, bacaan jelas dan tanda baca 6) Buku gharib : bacaan gharib musykilat
7) Buku Tajwid : hukum-hukum bacaan (tajwid)53 d. Standarisasi Metode Wafa
1) Quality Assurance System
Dalam upaya menjaga penjaminan mutu (quality assurance), WAFA menerapka 7 M Ssebagai kerangka standarisasi sistem yang komprehensif, yaitu meliputi:
53 Tim Wafa, Buku Pintar Guru Al-Qur‟an (Surabaya: PT. Kualita Media Tama, 2017),15.
a) Memetakan kompetensi melalui Tashnif,
(1) Pemetaan kompetensi dilakukan pada awal pembelajaran mitra WAFA.
(2) Pemetaan dilakukan oleh koordinator guru al-Qur’an (guru) yang memiliki kemampuan membaca al-Qur’an terbaik di sekolah tersebut.
(3) Pemetaan menggunakan alat tashnif yang telah ditetapkan oleh WAFA.
(4) Adapun pemetaan guru dilakukan sebelum atau pada saat pelatihan sertifikasi guru.
b) Memperbaiki kualitas guru melalui tahsin
c) Menstandarisasi proses pembelajaran al-Qur’an melalui sertifikasi
d) Membina dan mendampingi dengan coaching.
e) Meningkatkan melalui supervise, monitoring dan evaluasi.
f) Munaqosyah, mengukur ketercapaian lulusan.
g) Mengukur hasil pembelajaran dengan pemverian penghargaan berupa sertifikat dan wisuda.
2) Guru pengajar metode wafa memiliki kriteria sebagai berikut : a) Kualifikasi :
(1) Pendidikan minimal SMA atau sederajat (2) Memiliki sertifikat mengajar dari Wafa
(3) Terus-menerus melakukan continous improvement dan tahsinut tilawah
b) Kompetensi
(1) Hafal minimal juz 29 dan 30
(2) Mempunyai bacaan Al-Quran yang baik dengan martabat tartil (3) Menguasai lagu hijaz
(4) Memahami cara menulis huruf Arab
(5) Senang dengan dunia anak-anak54
e. Penerapan Pembelajaran Metode Wafa
Penerapan pembelajaran metode wafa yang digunakan merujuk pada konsep quantum teaching dengan pola Tandur. Quantum teaching merupakan salah satu metodologi yang dapat menciptakan lingkungan belajar efektif, meningkatkan minat peserta didik dalam belajar sehingga proses penyampaian materi dapat berjalan dengan baik. Pola tandur dalam Quantum Teaching dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Tumbuhkan
Tumbuhkan merupakan tahapan awal yang bertujuan untuk melibatkan atau menumbuhkan minat peserta didik. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan tahapan-tahapan berikutnya. Karena merupakan pembuka sekat antara guru dengan peserta didik. Dalam hal ini sebelum memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik terlebih dahulu Ustadz/ustadzah membuka kelas dan menjelaskan manfaat mempelajari materi tersebut.
54 Tim Wafa, Buku Pintar Guru…,3.
Supaya peserta didik termotivasi dan bertambah rasa keingintahuan terhadap materi yang akan disampaikan. Strategi pada tahapan ini antara lain: Tanya kabar, sertakan pertanyaan yang menantang, pantonim, lakon pendek yang lucu, drama, video/film, cerita, menyanyi, dan lain-lain. 55
2) Alami
Tahapan alami merupakan tahapan kedua yaitu dengan menciptakan dan memberikan pengalaman belajar yang dapat dimengerti peserta didik. Manfaat dari tahapan alami agar otak menjelajah dan menumbuhkan rasa keingintahuan. Saat peserta didik mempelajari sesuatu dalam kehidupan nyata, peserta didik memiliki pengetahuan awal, sesuatu yang dapat dikaitkan dengan konsep yang akan diajarkan. Strategi yang digunakan antara lain, permainan, simulasi, pertanyaan menantang, peragaan langsung dengan peserta didik lainnya.56
3) Namai
Setelah membuat peserta didik penasaran, penuh pertanyaan dengan pengalaman mereka. saat itulah Ustadz/ustadzah bersama peserta didik memberikan identitas, atau mendefinisikan atas dasar pengetahuan dan keingintahuan peserta didik. Namai adalah tahapan untuk mengajarkan konsep keterampilan berfikir dan strategi belajar. Tahapan ini dilakukan
55 Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran,9.
56 Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran,10.
untuk memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan dan mendefinisikan. Strategi pada tahapan ini adalah pertanyaan terstruktur, diskusi bersama, alat bantu, penjabaran konsep dengan menggunakan susunan gambar, kertas tulis, poster tulis, dan lain-lain.57
4) Demonstrasikan
Demostrasikan adalah tahapan ketika guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan atau memperagakan materi yang dipelajari. Dalam tahap ini peserta didik akan membuktikan apakah tujuan pembelajaran dapat dicapai atau tidak. Strategi pada tahapan ini adalah kerja kelompok, presentasi, Lembar Kerja Siswa, contoh-contoh penerapan dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan materi, permainan, sandiwara, dan lain-lain.58
5) Ulangi
Setelah peserta didik mendemonstrasikan materi yang dipelajari. Ustadz/ustadzah juga harus memastikan bahwa peserta didik benar-benar telah menguasai. Caranya dengan mengulangi materi yang telah disampaikan. Mengulangi mempunyai pengaruh besar dalam proses belajar karena dengan adanya pengulangan materi yang belum dikuasai akan tetap tertanam dalam otak peserta didik.
57Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran,9-10.
58Ibid, 10.
Selanjutnya dengan mengulangi sesuatu yang dipelajari kemampuan peserta didik untuk mengingat materi akan semakin bertambah. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa ”oh, ternyata saya sudah paham”. Strategi mengulangi dalam bentuk latihan, menyimpulkan isi materi, menyebutkan kembali konsep, tes tulis/lisan, mengisi lebar tugas.59
6) Rayakan
Rayakan adalah kegiatan untuk menambahsemangat belajar dengan asosiasi positif. Perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Perayaan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya, memuji peserta didik, memberikan hadiah, atau memberikan jempol saat peserta didik bisa melakukan tugas dengan baik, dan lain-lain.60
f. Metode Pembelajaran Metode Wafa
Untuk menghadirkan pembelajaran yang efektif, metode mengajar yang digunakan harus memfasilitasi modalitas belajar peserta didik. Oleh karena itu, dalam satu pertemuan ketiga modalitas tersebut (visual, auditori, kinestetik) harus mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengoptimalkan potensinya.
Metode pembelajaran Wafa menggunakan metode 5P (Pembukaan, Pengalaman, Pengajaran, Penilaian dan Penutupan) yang
59 Tim Wafa,Wafa Belajar Al-Quran,10.
60 Ibid, 10.
dipergunakan untuk semua jenjang dari KB TK/RA, SD/MI, SMP/
MTs, SMA/MA hingga orang dewasa atau umum.61 1) P1 : Pembukaan
Pembukaan merupakan awal yang bertujuan untuk melibatkan atau menyertakan diri murid, memikat dan memuaskan AMBAK (Apa Manfaat Bagiku). Tahap ini merupakan tahapan yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan tahap-tahap berikutnya, karena merupakan pembuka sekat antara guru dengan murid.
Dalam hal ini seorang guru harus melibatkan murid dalam tiga aspek yaitu fisik, pemikiran dan emosi. Seorang guru juga harus merangsang otak limbiknya agar otak neokorteks peserta menerima pelajaran. Selain itu seorang guru juga harus memperhatikan modalitas belajar murid (visual, auditori, dan kinestetik). Strateginya adalah:
a) Tanya kabar
b) Sertakan pertanyaan menantang c) Video/film
d) Cerita
e) Nasyid/menyanyi 2) P2 : Pengalaman
Pengalaman adalah rangsangan yang diberikan kepada murid untuk menggerakkan rasa ingin tahunya sebelum mereka
61 Tim Wafa, Buku Pintar…,21.