• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam perkembangan dan kemajuan di dalam perekonomian, maka semakin banyak cara untuk seseorang atau masyarakat mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu juga dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka dan komoditi, semakin banyak perusahaan berjangka, semakin banyak juga masyarakat yang berbondong-bondong mencari uang dengan cara berinvestasi di pasar uang. Hal ini menyebabkan masyarakat bergabung tanpa mengetahui risiko yang timbul akibat dari perdagangan ini. Perdagangan berjangka komoditi yang selanjutnya disebut perdagangan berjangka adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jual beli komoditi dengan penarikan margin dan penyelesaian

(2)

2

kemudian berdasarkan kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah dan atau kontrak derivatif lainnya.1

Perdagangan berjangka di Indonesia diselenggarakan pertama kali oleh suatu Bursa yang bernama PT. Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Tanggal 21 november 2000 BBJ resmi mendapatkan izin dari badan pengawas perdagangan berjangka dan komoditi (BAPPEBTI). Sesuai peraturan pemerintah No. 9 tahun 1999 tentang perdagangan berjangka komoditi dan mulai resmi melakukan perdagangan pertamanya sejak tanggal 15 Desember 2000.

Pendukung terlaksananya perdagangan berjangka antara lain:

1. Unsur pengawas, perdagangan berjangka ini diawasi oleh BAPPEBTI yang kedudukannya berada dibawah menteri perdagangan namun dibentuk oleh undang-undang

1 Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi

(3)

3 2. Unsur penyelenggara

a. Bursa berjangka, berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan fasilitas, menyelenggarakan dan mengawasi kegiatan transaksi di pasar berjangka. Bursa berjangka merupakan self regulatory organization (SRO)2 , sehingga memiliki wewenang untuk membuat aturan dalam organisasinya. Penegakan peraturan sangat penting dalam rangka mewujudkan kepercayaan nasabah terhadap pasar. Di Indonesia bursa berjangka yang tumbuh adalah Bursa Berjangka Jakarta (BBJ)

b. Lembaga kliring berjangka, berfungsi sebagai penjaminan performance atau dipenuhinya kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka. Karena hal ini lembaga kliring harus memiliki keuangan yang kuat. Lembaga

2 Berdasarkan Pasal 16 huruf (c) UU No. 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi

(4)

4

kliring merupakan badan usaha yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/ atau sarana untuk pelaksanaan kliring dan penjaminan transaksi di bursa berjangka.3

3. Unsur pelaku

a. Pialang berjangka (Broker), merupakan perantara jual beli kontrak berjangka untuk dan atas perintah/ amanat dari pihak ketiga (nasabah) dan berhak menarik uang jaminan (margin) atas setiap transaksi sesuai dengan peraturan.4

b. Pialang anggota kliring, memiliki hak menjamin pelaksanaan transaksi.5

c. Pedagang berjangka. Merupakan anggota bursa berjangka yang hanya berhak melakukan

3 Indonesia, Undang-undang Tentang Perdagangan Berjangka, UU No.

32 Tahun 1997, LN No. 93 tahun 1997, TLN No.3720, Pasal 1 angka (7). Selanjutnya disebut dengan UU Perdagangan Berjangka

4Ibid., Pasal 1 angka (13)

5Allysthia M. Renti D., Perdagangan Berjangka Komoditi Dan Kajian Hukum Kontrak Derivatif Forex Dan Indeks Saham Asing Dalam Industri Perdagangan Berjangka Di Indonesia, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-42 No.1 Januari -Maret 2012

(5)

5

transaksi kontrak berjangka di bursa berjangka untuk rekening diri sendiri dan/atau kelompok usahanya.6

4. Unsur penunjang, yang dimana dilaksanakan oleh perbankan untuk menunjang pelaksanaan perdagangan berjangka. 7

5. Unsur pengguna

a. Hedger, menggunakan transaksi kontrak berjangka untuk melindungi nilai financial dari komoditi terhadap risiko perubahan harga pasar di pasar fisik atau pasar spot. Hedger terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

- Hedger pembeli/ buying hedge/ long hedge,untuk melindungi nilainya, ia membeli kontrak berjang ka saat ini dengan posisi long(beli/buy). Tujuannya untuk

6 Ibid.,

7 Ibid.,

(6)

6

menjaga kestabilan dan keimunitasan pasokan atau persediaan.

- Hedger Penjual/selling hedge/hedge short, untuk melindungi komoditinya, ia menjual kontrak berjangka saat ini dengan posisi short(jual/Sell). Tujuannya untuk melindungi diri dari kemungkinan penurunan harga komoditi yang akan dihasilkan atau dimilikinya, seperti hasil panen.8

b. Spekulator, memiliki peran penting dalam suatu bursa, karena spekulan bisa meningkatkan likuiditas pasar dengan bertindak sebagai perantara antara penjual yang ingin mendapatkan harga setinggi tingginya dan pembeli yang ingin mendapatkan harga serendah mungkin.

8 Johanes Arifin Wijaya, “Bursa Berjangka”, Andi, Yogyakarta, 2006, Hal. 22-23

(7)

7

Perdagangan komoditi pada dasarnya menggunakan kontrak derivatif. Kontrak derivatif atas indeks saham asing berupa perjanjian untuk bertransaksi jual beli suatu indeks saham tertentu dengan harga tertentu saat kontrak memasuki masa jatuh tempo.9 Dalam kontrak derivatif atas indeks saham, tidak ada penyerahan aset atau sekuritas seperti halnya bertransaksi dengan saham.10 Permasalahan pengaturan kontrak derivatif antara mata uang asing (valuta asing/valas) dan indeks. Pada transaksi derivatif forex dan indeks saham asing banyak pialang gelap, yang cenderung mengumbar janji kepada nasabah bisa mendapatkan keuntungan dengan cepat, tanpa dijelaskan lebih lanjut mengenai risiko yang harus dipahami, dikelola dan dianalisis. Karena hal ini akhirnya banyak pihak yang dirugikan oleh pialang gelap yang tidak mendapat izin dari otoritas BAPPEBTI. Pembentukan SK SPA (Sistem Perdagangan Alternatif) sebagai ketentuan teknis yang

9Allysthia M. Renti D., Loc. Cit.,

10 Ibid.,

(8)

8

dikeluarkan oleh BAPPEBTI semestinya mendasarkan substansinya kepada UU No.32/1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Ketidaksesuaian ketentuan teknis tersebut terhadap UU No. 32 Tahun 1997 sebagai ketentuan utama pelaksanaan perdagangan berjangka terlihat dari:

a. Jenis komoditi kontrak berjangka (derivatives) dalam SPA tidak terdapat dalam keputusan presiden tentang objek kontrak berjangka. Dalam pasal 3 UU No. 32 Tahun 1997, komoditi yang dapat dijadikan objek kontrak berjangka ditetapkan oleh Keputusan Presiden. Namun hingga saat ini, belum ada keppres yang menetapkan forex dan indeks dapat dijadikan objek kontrak berjangka.

Dijadikan forex dan indeks sebagai objek kontrak derivatif, sebagaimana disebutkan dalam pasal 4 ayat (1) SK SPA bahwa11

11Allysthia M. Renti D., Loc.Cit,.,

(9)

9

Kontrak derivatif yang dapat diperdagangkan dalam sistem perdagangan alternatif adalah kontrak derivatif antar mata uang asing (Foreign cross currency) dan indeks.

Kontradiktif dengan yang dimaksud pada pasal 1 angka (2) jo. Pasal 3 UU No. 32 Tahun 1997.

Oleh karena didalamnya menyatakan bahwa komoditi dapat dijadikan objek kontrak berjangka adalah yang ditetapkan dengan keputusan presiden.

b. Posisi pedagang berjangka dan bursa berjangka dalam SPA yang tidak memenuhi amanah undang- undang. Berdasarkan UU no. 32 Tahun 1997, perdagangan berjangka12 adalah anggota bursa berjangka yang hanya berhak melakukan transaksi kontrak berjangka di bursa berjangka untuk diri

12 Pedagang berjangka terbuka bagi berbagai bentuk badan usaha dan orang perseorangan yang berkegiatan sebagai produsen, petani perseorangan, koperasi, organisasi petani, pedagang, eksportir, dan prosesor yang ingin berperan langsung atau tidak langsung dalam perdagangan berjangka (penjelasan pasal 12 ayat 4 UU No. 32 Tahun 1997)

(10)

10

sendiri atau kelompok usahanya (pasal 1 angka 14).

Dalam SK SPA

c. Mekanisme kegiatan perdagangan SPA yang diselenggarakan di luar bursa (Off Exchange/ Over the Counter) bukan di dalam bursa (On Exchange)

d. Kegiatan perdagangan melalui SPA tidak memberikan manfaat ekonomi.

e. Penarikan margin yang berbeda peruntukannya dalam kegiatan SPA

Seperti yang telah penulis jelaskan diatas banyak pialang berjangka yang cenderung mengumbar janji13 kepada nasabah untuk mendapatkan fix income dan biasanya masyarakat akan langsung berminat untuk melakukan bisnis ini dimana keuntungan yang besar yang dijanjikan dan tidak adanya risiko yang akan diterimanya dalam transaksi perdagangan berjangka ini. Akan tetapi hal ini pasti mempunyai kendala dimana investasi yang dilakukan bukan merupakan investasi yang dapat

13Allysthia M. Renti D., Loc.Cit

(11)

11

dilakukan untuk masyarakat/ individu yang perekonomiannya berada di tingkat menengah kebawah.

Kontrak berjangka dengan nilai investasi yang tinggi sebenarnya bertujuan agar masyarakat dapat memilih apakah suatu investasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ketentuan ini memiliki tujuan agar nasabah yang akan berinvestasi di perdagangan berjangka komoditi berasal dari masyarakat menengah ke atas, yang dinilai untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak berkekurangan dan memiliki kesiapan untuk berinvestasi, sehingga saat investasinya tidak menghasilkan dalam waktu dekat, membutuhkan tunjangan dana agar investasi yang dilakukan dalam perdagangan berjangka tidak mengalami kerugian (adanya margin call) atau bahkan mengalami kerugian, tidak akan berakibat pada kehidupan perekonomian dari investor. Investasi merupakan suatu kegiatan bisnis yang dapat memberikan keuntungan.

(return), tetapi juga memiliki risiko (risk). Semakin tinggi

(12)

12

risiko sebuah investasi, semakin tinggi potensi keuntungannya.14

"Di dalam investasi dikenal juga dengan prinsip "high risk, high return" artinya besarnya potensi kerugian akan sebanding dengan besarnya potensi keuntungan. Jadi semakin besar potensi keuntungan yang dapat diperoleh, maka semakin besar pula potensi kerugian yang dapat timbul dan sebaliknya."15

Menurut Philipus M Hadjon sebagaimana dikutip oleh Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani dalam bukunya: perlindungan hukum bagi rakyat. Membedakan perlindungan hukum bagi rakyat menjadi 2 macam, yaitu:16

1. Perlindungan hukum yang preventif

Rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan (inspraak) atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitive. Perlindungan hukum yang preventif sangat besar artinya bagi tindakan pemerintahan yang didasarkan kepada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang

14 Hariyani, et.al., Pasar Uang & Pasar Valas, Gramedia, Jakarta, 2013. Hal. 18

15HJ. Indah Kusuma Wardani, “Perlindungan hukum Bagi Nasabah Forex Trading Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2011 Tentang Perubahan Undang-Undang No. 32 Tahun 1997 Tentang perdagangan Berjangka Komoditi (Studi Kasus di PT. Finex Berjangka),” Jurnal Lex Librum ,Vol. III, No. 1 Desember 2016, Hal. 445-464.

16 Philipus M, Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Peradaban, Surabaya, 2007, Hal. 2

(13)

13

preventif pemerintah terdorong untuk bersikap hati- hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi.

2. Perlindungan hukum yang represif

Perlindungan ini bertujuan untuk menyelesaikan sengketa, sedangkan penanganan perlindungan hukum bagi rakyat oleh peradilan umum di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum yang represif, demikian juga halnya dengan peradilan administrasi negara andaikata satu- satunya fungsi peradilan administrasi negara adalah fungsi peradilan (justitiele Functie- Judicial Function).17

Terkait dengan perlindungan nasabah pada perdagangan kontrak berjangka perlu diteliti dikarenakan adanya kemungkinan kerugian yang besar dalam waktu singkat yang akan dialami oleh nasabah, saat nasabah mengalami kerugian yang besar tersebut nasabah akan mencari bagaimana sebuah perdagangan kontrak berjangka tersebut melindungi nasabahnya. Menurut penulis perlu adanya perlindungan hukum yang represif, dimana perlindungan ini bertujuan untuk menyelesaikan sengketa yang sedang terjadi dan tetap adanya perlindungan hukum bagi masyarakat. Penelitian ini dilakukan karena adanya

17 Ibid.,

(14)

14

kecenderungan hukum yang tidak berfungsi pada SPA (Sistem Perdagangan Alternatif) dimana hukum yang seharusnya diterapkan pada SPA yang dilakukan oleh perusahaan perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan komoditi membuat hukum yang ada menjadi semu. Dalam SPA ada perjanjian antara perusahaan komoditi dan investor dimana adanya ketentuan mengenai hukum yang berlaku saat terjadi sengketa antara investor dan perusahaan, perjanjian ini seharusnya dibuat dan ditandatangani berdasarkan ketentuan yang berlaku didalam undang-undang perdagangan berjangka komoditi.

Perlindungan investor ini menjadi penting dikarenakan untuk melindungi kepentingan dan hak investor pasar keuangan, selain melindungi perlindungan bagi investor ini menjadi penting agar perusahaan dibidang perdagangan berjangka tidak berlaku sewenang-wenang serta berjalan sesuai dengan rules yang telah dibuat oleh pemerintah, baik

(15)

15

dari BAPPEBTI maupun dari bursa berjangka, dan membangun minat masyarakat dalam berinvestasi.

Adanya ketidaksesuaian antara perusahaan perdagangan berjangka dan undang-undang yang berlaku mengenai kontrak derivatif dari sistem perdagangan alternatif ini menimbulkan masalah, diantaranya investor pialang berjangka berjangka yang tidak dapat mengklaim kerugian yang diakibat dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan tanpa izin dan/atau perintah dari investor, perjanjian antara investor dan perusahaan yang ternyata perjanjian tersebut tidak sesuai dengan perjanjian yang telah memiliki legalitas (isi perjanjian yang dibuat oleh perusahaan tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku). Kerugian yang dimaksud adalah berkurangnya dana nasabah secara signifikan dikarenakan transaksi yang dilakukan oleh broker tidak sesuai dengan kemampuan dana, keinginan nasabah dan kondisi pasar yang mengakibatkan terjadi floating minus (dana

(16)

16

mengambang rugi) dan jika ketahanan dana telah sampai di titik terendah equity, maka secara transaksi yang mengalami kerugian akan tertutup secara otomatis dan menyebabkan kerugian pada dana nasabah sesuai dengan floating minus pada laporan keuangan nasabah, akan tetapi

saat nasabah meminta pertanggungjawaban atas kelalaian yang dilakukan oleh broker pialang berjangka tersebut.

Pada penelitian sebelumnya, membahas mengenai klausula pembatasan dan pengalihan tanggung jawab pialang berjangka dalam kontrak baku pemberian amanat secara elektronik On-Line. Penelitian ini menjelaskan terkait alasan klausula pembatasan tanggung jawab pialang berjangka yang muncul dalam peraturan kepala BAPPEBTI dan mengenai kontrak standar merupakan kontrak yang mengikat bagi para pelaku perdagangan dalam perdagangan berjangka komoditi, hasil dari penelitian ini adalah klausul pembatasan tanggung jawab merupakan bentuk intervensi dari pemerintah yang

(17)

17

memberikan ketidakadilan bagi para investor lalu kontrak strandar seharusnya batal demi hukum dan mekanisme pembatalannya melalui pengajuan judicial review ke MA.18 Penelitian lain mengatakan permasalahan dalam undang- undang perdagangan berjangka muncul dikarenakan peraturan hanya dalam menempatkan multilateral (Leurs) aktivitas transaksi derivatif, sehingga perlu adanya evaluasi dan perbaikan peraturan dalam rangka mencapai likuiditas pasar yang berkaitan dengan perlindungan nilai (alat manajemen risiko) dan untuk melindungi warga Negara dan investor.19

Penulis ingin mengetahui dan menganalisis terkait perlindungan terhadap nasabah pialang berjangka yang telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan, .

18 Siti Anisah dan Catur Septiana Rakhmawati, Klausula Pembatasan dan Pengalihan Tanggung Jawab Pialang berjangka dalam Kontrak Baku Pemberian Amanat secara Elektronik On-Line, JH Ius Quia Iustum, Volume 24 Issue, January 2017, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

19 Allythia M. Renti D., Perdagangan berjangka komoditi dan kajian hukum kontrak derivatif forex dan indeks saham asing dalam industri perdagangan berjangka di Indonesia, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-42 No.1 Januari -Maret 2012, hal 122-139.

(18)

18

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaturan perdagangan berjangka di PT. Bursa Berjangka Jakarta?

2. Bagaimana sebaiknya prinsip hukum dan pengaturan perlindungan investor dalam perdagangan kontrak berjangka di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan perlindungan hukum yang tepat untuk nasabah perdagangan derivatif sesuai dengan hukum serta peraturan yang berlaku:

1. Mengetahui dan menganalisis pengaturan perdagangan kontrak berjangka di PT. Bursa Berjangka Jakarta

(19)

19

2. Mengetahui dan menganalisis prinsip hukum dan pengaturan perlindungan investor dalam kontrak perdagangan berjangka di Indonesia

3. Mengetahui dan menganalisis prospek prinsip hukum dan pengaturan perlindungan investor dalam perdagangan kontrak berjangka di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis, secara akademis diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi baru tentang perlindungan nasabah di pasar uang dan penelitian mengenai perusahaan pialang.

Manfaat praktis, diharapkan memberikan manfaat melalui analisis yang dipaparkan kepada pihak yang menjadi pelaku usaha dalam investasi di bursa berjangka, baik bagi penegakan hukum, pengawas perdagangan (BAPPEBTI), perusahaan pialang, lembaga penyimpanan dana nasabah (KBI/Kliring Berjangka Indonesia) maupun

(20)

20

yang akan berinvestasi melalui pialang berjangka (Nasabah).

E. Kerangka Teori

Kerangka pemikiran pada dasarnya merupakan arah penalaran untuk bisa memberikan jawaban sementara dan analisis atas masalah yang dirumuskan.20 Sedangkan membahas perlindungan hukum yang didapatkan oleh nasabah pialang berjangka di Indonesia masih sangat minim pengajuan penyelesaian kasus, serta apa yang telah dilindungi tetapi tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Menurut Harjono, perlindungan hukum dalam Bahasa Inggris disebut legal protection, sedangkan dalam Bahasa Belanda disebut rechtsbescherming, yang berarti bahwa perlindungan hukum sebagai perlindungan dengan

20Sugiyono., Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, Cv. Alfa Beta, Bandung, 2010, Hal. 60

(21)

21

menggunakan sarana hukum atau perlindungan yang diberikan oleh hukum untuk ditujukan kepada perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan tertentu, dengan menjadikan kepentingan-kepentingan yang perlu dilindungi tersebut sebagai sebuah hak hukum.21

Sehingga penelitian ini akan dianalisis menggunakan teori mengenai law as a tool social of engineering teori ini dikemukakan oleh Roscoe Pound yang dimana teori ini berpendapat mengenai hukum adalah alat pembaharuan di dalam masyarakat, yang dimana diharapkan berperan penting merubah nilai sosial dalam masyarakat. Konsep hukum ini beranggapan hukum dapat menjadi ata untuk merubah masyarakat atau biasa disebut dengan merekayasa sosial, hal ini digolongkan berdasarkan kepentingan sosial dan apa yang membuat suatu hukum berkembang.22 Di Indonesia konsep law as tool of social

21 Harjono. 2008. Konstitusi sebagai Rumah Bangsa. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi. Hal, 357.

22 Johanes Ibrahim kosasih, Kumpulan kertas kerja panelis, Universitas Kristen Maranatha

(22)

22

engineering diperkenalkan oleh Mochtar Kusumaatmadja

yang menyatakan bahwa, hukum di Indonesia tidak cukup berperan sebagai alat, melainkan juga sebagai sarana pembaharuan masyarakat.

F. Metode Penelitian

1. Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif yang mengacu pada norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait, bahan penelitian didapatkan melalui penelitian kepustakaan. Menghasilkan penelitian yang bersifat deskriptif, yang menggambarkan tujuan dari penelitian ini. Penelitian Hukum Normatif merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. 23 Pada penelitian hukum jenis ini, seringkali hukum dikonsepkan

23 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat, PT. Jakarta :Raja Grafindo Persada, 2003, hal.

13.

(23)

23

sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang- undangan atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.24 Penelitian ini menggunakan data sekunder dimana penelitian ini menggunakan data yang didapat dari kepustakaan. Selain itu penelitian ini meneliti hukum dari perspektif internal dengan objek penelitiannya berupa norma hukum. 25 Penelitian hukum normatif memiliki fungsi memberikan argumentasi yuridis saat terjadi kekosongan, ketidakjelasan dan konflik pada sebuah norma.

2. Jenis Pendekatan hukum,

a. Pendekatan undang-undang statute approach, dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum

24 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hal. 118.

25 I Md Pasek Diantha, Konsepsi Teoritis Penelitian Hukum Normatif, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, Denpasar, 2015, Hal. 15

(24)

24

yang sedang ditangani.26 Pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang dengan Undang-Undang Dasar atau regulasi dan undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argument untuk memecah isu yang dihadapi. 27

b. Pendekatan konseptual, conceptual approach beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin- doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum degan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian- pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas- asas hukum relevan dengan isu yang dihadapi.

Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-

26 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cetakan Ke-11 (Jakarta:

Kencana), 2011, Hal. 93

27 Ibid., Hal. 93-94

(25)

25

doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi. 28

3. Bahan Hukum

a. Bahan Hukum Primer

1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

2. Undang-undang No. 32 Tahun 1997 Tentang perdagangan berjangka komoditi

3. Undang-undang No. 10 Tahun 2011 Tentang perdagangan berjangka komoditi

4. Peraturan pemerintah No. 49 Tahun 2014 Tentang Penyelengaraan Perdagangan Berjangka Komoditi

5. Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Ketentuan Teknis Perilaku Pialang berjangka

28 Ibid., Hal. 95

(26)

26

6. Peraturan Kepala BAPPEBTI NO. 5 Tahun 2017 tentang Sistem Perdagangan Alternatif

b. Bahan Hukum Sekunder

Dalam penelitian ini menggunakan bahan hukum sekunder yang didapat dari buku-buku, jurnal ilmiah, doktrin ahli hukum yang berkaitan dengan perlindungan hukum dan hukum sebagai alat rekayasa masyarakat

4. Sub Analisis

Kualitatif, Penelitian ini menafsirkan dan menguraikan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dalam suatu masyarakat, pertentangan antara kedua keadaan atau lebih, perbedaan antar fakta yang ada serta pengaruhnya terhadap suatu kondisi dan sebagainya

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan P3 (500ml limbah pupuk kulit pisang) merupakan perlakuan yang berpengaruh pada masa vegetatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Hasil penelitian menunjukkan bahwa putaran poros maksimal yang dihasilkan oleh turbin angin vertikal darrieus tipe-H yang diteliti berada pada sudut pitch 45° dan

Permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana perancangan dan pembuatan program aplikasi simpan pinjam koperasi yang dapat membantu dalam pengolahan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume sedimen yang menjadi salah satu penyebab meluapnya saluran primer avour Sidokare, menghitung debit rancangan drainase

Kondisi yang relatif baik untuk proses hidrolisis titanyl sulfat pada pembuatan titanium dioksida (TiO 2 ) dari mineral ilmenit dengan asam sulfat adalah pH 1.5 dan suhu reaksi 95

Justeru, pengetahuan dan kemahiran mengguna serta mengintegrasikan TMK di tahap awal pendidikan adalah sangat penting dalam membentuk dan menaik taraf pendidikan dalam kalangan