• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X SAFETY, HEALTH, AND ENVIRONMENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB X SAFETY, HEALTH, AND ENVIRONMENT"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

122

Safety, Health, and Environment

BAB X

SAFETY, HEALTH, AND ENVIRONMENT A. DESKRIPSI SHE PABRIK

Dalam perancangan sebuah industri kimia, seorang chemical engineer dituntut untuk memperhatikan aspek safety, health, and environment (SHE), atau biasa disebut juga dengan aspek Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Hal ini dikarenakan sebuah industri kimia tidak pernah lepas dari adanya potensi resiko (hazard) yang cukup tinggi. Hazard merupakan sifat dasar yang tidak dapat diubah yang dimiliki oleh setiap industri kimia. Hazard yang tidak dikelola dengan baik akan memunculkan resiko terjadinya hal-hal tidak diinginkan yang disebut dengan konsekuensi. Konsekuensi tersebut meliputi aspek keselamatan dan kesehatan pekerja, serta dampak terhadap lingkungan. Sebaiknya, adanya pengelolaan hazard yang baik akan meminimalisir tingkat resiko terjadinya konsekuensi yang tidak diinginkan.

Salah satu strategi pengelolaan hazard untuk mencegah terjadinya konsekuensi adalah dengan menerapkan budaya safety. Sejak awal berdirinya pabrik, budaya safety harus diterapkan, yaitu dengan melakukan identifikasi hazard terhadap bahan dan alat proses yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap keselamatan kerja dan keselamatan lingkungan. Setiap saat selama berlangsungnya operasi pabrik, budaya safety juga harus ditanamkan, di antaranya dengan menerapkan berbagai ketentuan safety.

Beberapa kemungkinan bahaya yang timbul dalam suatu industri kimia beserta penanganannya antara lain:

1. Paparan bahan kimia

Bahan kimia yang digunakan dalam proses dapat menimbulkan bahaya baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahaya langsung adalah bahaya yang langsung terlihat dampaknya, misalnya munculnya iritasi, luka, sesak nafas, atau kerusakan pada bagian tubuh yang mengalami kontak dengan bahan kimia tersebut. Sedangkan bahaya tidak langsung tidak terlihat efeknya seketika. Bahaya tidak langsung baru akan dirasakan akibatnya setelah bahan kimia terakumulasi dalam tubuh selama beberapa lama dan menimbulkan suatu penyakit.

(2)

123 a. Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai bahaya yang mungkin

ditimbulkan oleh proses dan bahan kimia yang digunakan.

b. Memberi label secara jelas pada setiap bahan kimia yang digunakan.

c. Melengkapi pekerja dengan alat pelindung diri (APD), di antaranya safety goggles, masker, sarung tangan, wear pack, vapor respirator, helm, earplug, dan boots.

d. Melakukan medical check-up secara berkala untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerja.

Mitigasi yang perlu dilakukan bila terjadi paparan bahan kimia antara lain: a. Membersihkan diri dari bahan-bahan kimia yang mengalami kontak.

b. Memanggil tim medis untuk menanggulangi hal-hal yang mungkin terjadi terkait dengan kesehatan.

2. Kebocoran

Terjadinya kebocoran akan menyebabkan lepasnya bahan-bahan kimia berbahayaa ke lingkungan. Bocornya bahan-bahan kimia berbahaya bagi pekerja dan juga bagi lingkungan.

Mitigasi yang perlu dilakukan untuk menghindari kebocoran antara lain: a. Pengecekan rutin terhadap tangki-tangki penyimpanan.

b. Pembangunan tanggul-tanggul dan alat-alat safety lainnya pada alat. 3. Kebakaran

Kebakaran dapat terjadi apabila adanya ketiga unsur penting dari the fire triangle (segitiga api) terpenuhi, yaitu udara (oksigen), bahan bakar, dan nyala api. Pencegahan kebakaran dapat dilakukan dengan mencegah bertemunya ketiga unsur tersebut.

Mitigasi yang perlu dilakukan untuk menghindari kebakaran antara lain: a. Menetapkan Standard Operating Procedure (SOP).

b. Memberi label bahaya pada unit yang berpotensi terbakar.

c. Menyimpan bahan kimia flammable sesuai prosedur standar dengan memperhatikan flammability limitnya dan menjauhkan dari sumber nyala api. d. Melengkapi unit-unit yang berpotensi menimbulkan kebakaran dengan alat safety

dan alat kontrol.

e. Memberikan pelatihan safety kepada pekerja.

f. Memberikan sarana pemadam kebakaran (hydrant dan alat pemadam api ringan) di titik-titik yang rawan kebakaran.

(3)

124 Mitigasi yang perlu dilakukan apabila terjadi kebakaran antara lain:

a. Mematikan peralatan, aliran bahan kimia, dan sumber listrik yang masih memungkinkan untuk dimatikan untuk menghindari terjadinya kebakaran lebih lanjut.

b. Mengevakuasi seluruh pekerja di daerah kebakaran ke zona yang lebih aman. c. Memadamkan kebakaran.

4. Ledakan

Mitigasi yang perlu dilakukan untuk menghindari ledakan antara lain: a. Memberi label pada unit-unit yang berpotensi meledak.

b. Melengkapi unit-unit yang berpotensi meledak dengan alat-alat safety dan kontrol, misalnya Pressure and Temperature Indicator Control Alarm.

c. Memberikan pelatihan kepada operator.

Mitigasi yang perlu dilakukan apabila terjadi ledakan antara lain:

a. Mematikan aliran bahan kimia dan panas di sekitar unit yang meledak. b. Mengevakuasi pekerja ke zona yang lebih aman.

Dalam mendirikan dan menjalankan suatu pabrik tidak akan pernah lepas dari persoalan penanganan dan pengolahan limbah. Limbah yang dihasilkan suatu pabrik diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan warga serta pekerja yang ada di sekitar pabrik. Limbah yang dibuang ke lingkungan harus memenuhi syarat baku mutu yang kini telah banyak ditetapkan oleh pemerintah daerah, nasional maupun internasional.

Adapun beberapa peraturan pemerintah yang berkaitan dengan penanganan dan pengolahan limbah yang sudah pasti wajib untuk ditaati dan diperhatikan oleh suatu pabrik antara lain :

1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan Hidup.

3. PerMen LH Nomor 08 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/Atau Kegiatan Industri Petrokimia Hulu.

4. KepMen LH Nomor 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. 5. KepMen LH Nomor 03 Tahun 1998 Tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kawasan

(4)

125 6. KepMen LH Nomor 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Industri.

7. KepMen LH Nomor 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan. 8. KepMen LH Nomor 49 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Getaran. 9. KepMen LH Nomor 50 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan. 10.KepMen LH Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut.

11.Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

12.Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Limbah hasil dari pabrik benzaldehyde ini adalah limbah cair, gas, dan padat. Ketiganya harus diolah terlebih dahulu ke unit pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

(5)

126

B. IDENTIFIKASI HAZARD BAHAN

Jenis Bahan Hazard Keterangan Pengelolaan explos ive flamm able toxi c corros ive irr it an t oxidi zin g radi oac ti ve a. Bahan Baku 1. Padatan Kayu Manis - - - - - Solid - Combustible

- Ruang penyimpangan harus dijaga agar tetap kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik agar kualitas padatan kayu manis tetap terjaga.

- Ruang penyimpanan harus terhindar dari aktivitas yang menggunakan nyala api seperti merokok, dan kegiatan yang menggunakan api lainnya serta kegiatan yang menggunakan panas. Ruangan harus dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran yang memadai seperti alarm kebakaran dan alat penyiram air otomatis.

(6)

127 Jenis Bahan explos ive F lam mabl e Toxic corros ive irr it an t oxidi zin g R adioactive Keterangan Pengelolaan 2. NaOH - - - √ √ - - - Solid - Basa - Higroskopis - Panas pelarutan negatif

- Alat-alat yang berkontak dengan NaOH harus terbuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan NaOH seperti stainless steel dan dijaga agar suhu sekitarnya berada dalam kisaran suhu ruang. Serta diberi label potensi hazardnya.

- Tangki penyimpanan NaOH padat juga harus dijauhkan dari tangki penyimpanan acetaldehyde.

- Tangki penyimpanan harus tertutup dengan rapat dan disegel dengan baik agar tidak menyerap uap air dari udara.

- Operator harus menggunakan personal protector seperti splash goggles, vapor respirator, baju tertutup dan gloves.

(7)

128 b. Produk Jenis Bahan explos ive F lam mabl e Toxic corros ive irr it an t oxidi zin g R adioactive Keterangan Pengelolaan 1. Benzaldehyde - - √ - √ - - - Liquid - Combustible

- Alat-alat yang berkontak dengan benzaldehyde harus terhindar jauh dari sumber panas atau nyala api dan diberi label potensi hazard-nya.

- Operator harus menggunakan personal protector seperti vapor respirator, splash goggles, baju tertutup, dan gloves.

- Tangki penyimpanan harus tertutup rapat, dan terhindar dari sumber panas dan nyala api. Serta dijaga agar suhunya tetap berada dalam kisaran suhu ruangan.

(8)

129 c. Hasil Samping 1. Acetaldehyde - √ √ - - - - - Liquid - Bereaksi dengan basa kuat

- Alat-alat yang bersinggungan dengan acetaldehyde harus terhindar jauh dari sumber panas atau nyala api dan diberi label potensi hazardnya.

- Tangki penyimpanan harus tertutup rapat, dan terhindar dari sumber panas juga nyala api. Tangki penyimpanan harus berada di dalam kondisi yang sejuk dan memiliki sistem ventilasi yang baik. Tangki dilengkapi dengan sistem relieve valve untuk melepaskan uap acetaldehyde yang berlebihan agar tekanannya tetap. Selain itu, tangki juga dilengkapi dengan sistem pendingin dengan menggunakan active jacket untuk menjaga agar acetaldehyde tetap berada dalam kondisi liquid.

- Dilakukan grounding.

- Operator harus menggunakan personal protector seperti vapor respirator khusus, splash goggles, baju tertutup, dan gloves.

(9)

130 d. Bahan Penunjang Jenis Bahan explos ive F lam mabl e Toxic corros ive irr it an t oxidi zin g R adioactive Keterangan Pengelolaan 1. 2-Hydroxipropyl-β-Cyclodextrin - - √ - - - - - Solid, serbuk - Larut dalam air

- Tangki penyimpanan harus berada di tempat yang sejuk, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

- Operator harus melengkapi dirinya dengan alat perlindungan diri seperti splash goggles, gloves, masker, dan baju tertutup saat menangani material ini.

2. Ethyl Acetate - √ - - - - -

- Cairan

- Larut dalam air - Uapnya bercampur

dengan air dapat membentuk campuran yang explosive - Volatile

- Tangki penyimpanan harus berada di tempat yang sejuk, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

- Operator harus melengkapi dirinya dengan alat perlindungan diri seperti splash goggles, gloves, masker, dan baju tertutup saat menangani material ini.

- Harus dijauhkan dari sumber panas dan nyala api.

(10)

131 Jenis Bahan explos ive F lam mabl e Toxic corros ive irr it an t oxidi zin g R adioactive Keterangan Pengelolaan 2. HCl 37% - - - √ √ - - - Liquid

- Reacts with water

- Alat-alat yang berkontak dengan dengan asam klorida harus diberi label hazard-nya.

- Tangki penyimpanan harus tertutup rapat, disegel dengan baik, dijaga tetap dingin, dan dilengkapi dengan safety valve (pressure relieve valve) untuk mengantisipasi tekanan uap yang berlebihan.

- Melakukan grounding pada tangki.

- Operator harus menggunakan personal protector seperti vapor respirator, splash goggles, baju tertutup, gloves.

(11)

132

C. IDENTIFIKASI HAZARD LIMBAH

1. Identifikasi Hazard Emisi Gas Hasil Proses

EMISI SUMBER Hazard Keterangan Pengelolaan T ok sik Pe m an asan Gl ob al Pe m b en tuk an S M OG Pe n gik isan Ozon Hu jan Asam Ker u sak an E k ologi 1. CO2, SO2, dan gas hasil pembakaran lainnya Boiler - √ - - √ - Bahan bakar berupa natural gas.

Efisiensi bahan bakar dengan pengaturan flow udara dan insulasi yang baik

(12)

133

2. Identifikasi Hazard Limbah Cair Hasil Proses

Limbah Cair Sumber

Hazard Keterangan Pengelolaan M er a cu n i m an u sia M er a cu n i b iota air M en ce m a ri S u m b er Air M en d egr ad asi k u ali tas air M er u sak ek ologi

1. Benzaldehyde Dekanter - √ √ √ √ T = 50 oC Diadsorbsi dalam unit

pengolahan limbah

2. Cinnamaldehyde Dekanter - √ √ √ √ T = 50 oC Diadsorbsi dalam unit

pengolahan limbah

3. HCl Unit Demineralisasi √ √ √ √ √ Dinetralisasi dalam unit

pengolahan limbah.

4. NaOH Unit Demineralisasi

dan Dekanter √ √ √ √ √

Dinetralisasi dalam unit pengolahan limbah.

5.

2-Hydroxipropil-β-Cyclodextrin Dekanter - √ √ √ √

Diserahkan ke pabrik pengolah limbah.

(13)

134

3. Identifikasi Hazard Limbah Padat Hasil Proses

Limbah Padat Sumber

Hazard Keterangan Pengelolaan T oxic M er u sak E k ologi M en ce m a ri S u m b er Air Radi oak tif L ain -lai n Padatan Kayu

Manis SteamDistillation - - - - -

Mengandung air dan sedikit cynnamaldehyde

Dikeringkan dalam dryer kemudian disimpan untuk dijual

(14)

135

4. Material Safety Data Bahan 1. Padatan Kayu Manis

Peruntukkan : - Bahan Baku - Limbah

Diamond Hazard : (Diadopsi dari selulosa) - Health = 1

- Fire = 1

- Reactivity = 0

Data Properti :

Physical State : Solid

Berat Molekul : -

Specific Gravity : 0,6

Deskripsi :

Padatan kayu manis merupakan material yang combustible jika terkena suhu tinggi ataupun nyala api dan tidak dapat meleleh. Di dalam kulit kayu manis terdapat berbagai macam minyak atsiri yang didominasi oleh cinnamaladehyde. Untuk menanganinya, operator cukup menggunakan baju tertutup, sarung tangan yang memadai dan masker untuk menghindari debu yang berasal dari kulit kayu manis.

Dari segi dampaknya kepada lingkungan, kulit kayu manis tidak memberi dampak yang signifikan terhadap lingkungan kecuali hanya menambah limbah padatan. Untuk pengelolaannya, padatan kulit kayu manis dikeringkan dan dijual untuk dibentuk briket atau triplek.

2. Cinnamaladehyde Peruntukkan : - Bahan Baku - Limbah

(15)

136 Diamond Hazard : - Health = 2 - Fire = 2 - Reactivity = 0 Data Properti :

Physical State : Liquid (Oily Liquid)

Berat Molekul : 132,15 g/mol

Titik Didih : 252 oC Titik Leleh : -7,5 oC Specific Gravity : 1,05 Vapor Pressure : -Vapor Density : 4,6 Auto-Ignition Temperature :

-Flash Point : CLOSE CUP = 71 oC

Flammability Limit :

-Solubility in Water : Larut dalam methanol, diethyl ether. Sedikit larut dalam air dingin.

Deskripsi :

Cinnamaladehyde merupakan komponen minyak atsiri utama yang terkandung dalam kulit kayu manis. Zat ini tergolong dalam combustible material sehingga dalam penanganannya harus dijauhkan dari panas dan nyala api. Zat ini tergolong very hazardous jika tertelan dan hazardous jika terkena kulit atau jika terhirup.

Untuk menanganinya, operator diharuskan memakai alat perlindungan diri lengkap seperti splash goggles, gloves, baju tertutup, serta vapor respirator.

Dari segi dampaknya terhadap lingkungan, zat ini bersifat tidak larut dalam air sehingga akan mengganggu kehidupan perairan sehingga dalam penanganannya, harus diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan.

3. Natrium Hidroksida Peruntukkan : - Bahan Baku

(16)

137 - Unit Demineralisasi - Limbah Diamond Hazard : - Health = 3 - Fire = 0 - Reactivity = 1 Data Properti :

Physical State : Solid

Berat Molekul : 40 g/mole

Titik Didih : 1.388 oC Titik Leleh : 323 oC Suhu Kritis : - Specific Gravity : 2,13 Vapor Pressure : - Vapor Density : - Auto-Ignition Temperature : - Flash Point : - Flammability Limit : -

Solubility in Water : Sangat mudah larut dalam air.

Reactivity : Reaktif dengan air, logam, cinnamaladehyde.

Deskripsi :

Natrium hidroksida adalah material pada yang mudah larut dalam air dan bersifat basa. Selain itu natrium hidroksida bersifat higroskopis sehingga dalam penyimpanannya perlu diperhatikan baik-baik agar tidak menyerap air. Natrium hidroksida bersifat reaktif terhadap air, logam, dan material organik lainnya termasuk cinnamaladehyde dan acetaldehyde. Zat ini tergolong extremely hazardous jika terhirup dan very hazardous jika terkena kulit, mata, dan jika tertelah.

Natrium hidroksida tergolong zat yang bersifat korosif sehingga dalam penangannya dibutuhkan alat perlindungan diri yang memadai seperti splash goggles, gloves, dan vapor respirator.

(17)

138 Dari segi dampak terhadap lingkungan, natrium hidroksida dapat mencemari tanah dan air sehingga merubah pH awal menjadi basa. Keadaan yang terlalu basa ini tidak baik bagi makhluk hidup di sekitarnya, sehingga natrium hidroksida perlu dinetralkan terlebih dahulu sebelum dilepas ke alam bebas.

4. 2-Hydroxipropyl-β-Cyclodextrin Peruntukkan : - Katalis - Limbah Diamond Hazard : - Health = - - Fire = - - Reactivity = - Data Properti :

Physical State : Solid (powder)

Berat Molekul : ~1.460 g/mole

Titik Didih : -Titik Leleh : 267 – 305 oC Suhu Kritis : -Specific Gravity : -Vapor Pressure : -Vapor Density : -Auto-Ignition Temperature : -Flash Point : -Flammability Limit :

-Solubility in Water : Mudah larut dalam air.

Deskripsi :

Material ini adalah material organik yang mudah larut dalam air. Zat ini tergolong zat yang tidak berbahaya. Untuk penanganannya, operator harus menggunakan alat perlindungan diri seperti splash goggles, dust respirator, baju tertutup, dan gloves.

(18)

139 Dari segi dampaknnya terhadap lingkungan, katalis ini dapat meracuni ekosistem air sehingga dalam penanganannya, ia harus diolah secara khusus.

5. Benzaldehyde Peruntukkan : - Produk Utama - Limbah Diamond Hazard : - Health = 2 - Fire = 2 - Reactivity = 0 Data Properti :

Physical State : Liquid

Berat Molekul : 106,13 g/mole

Titik Didih : 179 oC

Titik Leleh : -26 oC

Specific Gravity : 1,04

Vapor Pressure : 0,1 kPa (@ 20 oC)

Vapor Density : 3,66

Auto-Ignition Temperature : 192 oC

Flash Point : CLOSE CUP = 64,4 oC; OPEN CUP = 73,9 oC

Flammability Limit : LOWER = 1,4%

Solubility in Water : sedikit terlarut dalam air dingin

Deskripsi :

Benzaldehyde merupakan material yang dapat terbakar (combustible). Selain itu dari segi toxicity, benzaldehyde termasuk dalam kategori slightly toxic. Benzaldehyde tergolong very hazardous jika tertelan, hazardous jika terhirup, bersifat iritan, serta slightly hazardous jika terkena kulit.

Dalam penanganannya, operator harus mengenakan alat perlindungan diri berupa gloves, baju tertutup, splash goggles, dan vapor respirator.

(19)

140 Dari segi dampak lingkungan, benzaldehyde tergolong dapat merusak ecology dan mencemari air. Sehingga limbah harus diolah terlebih dahulu untuk meminimasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh benzaldehyde.

6. Acetaldehyde Peruntukkan : - Produk Samping Diamond Hazard : - Health = 3 - Fire = 4 - Reactivity = 2 Data Properti :

Physical State : Liquid

Berat Molekul : 44,05 g/mole

Titik Didih : 21 oC

Titik Leleh : -123,5 oC

Suhu Kritis : 188 oC

Specific Gravity : 0,78

Vapor Pressure : 101,3 kPa (@ 20 oC)

Vapor Density : 1,52

Auto-Ignition Temperature : 175 oC

Flash Point : CLOSE CUP = -38 oC; OPEN CUP = -40 oC Flammability Limit : LOWER = 4%; UPPER: 55%

Solubility in Water : 1000 g/L @25 oC

Reactivity : Reaktif dengan logam, asam, basa, oxidizing agents, dan organic material.

Deskripsi :

Acetaldehyde merupakan material yang mudah menguap dan mudah menyala dengan flammability limit berkisar antara 4 – 55%. Selain itu, dilihat dari data LD50-nya, maka acetaldehyde termasuk material yang slightly toxic. Beberapa data juga

(20)

141 menyebutkan bahwa acetaldehyde adalah termasuk salah satu bahan yang dapat menyebabkan kanker. Acetaldehyde sangat reaktif dengan asam, basa, dan logam. Dari sisi kesehatan, acetaldehyde bersifat hazardous jika tertelan dan terhirup, serta slightly hazardous jika berkontak dengan kulit. Untuk penanganannya, operator harus mengenakan alat perlindungan diri seperti gloves, goggles, baju tertutup, dan untuk sistem pernapasan diharapkan mengenakan vapor respirator karena materialnya yang mudah menguap.

Dari segi dampak terhadap lingkungan, disarankan untuk tidak membuang acetaldehyde ke dalam saluran air agar tidak mencemari air tanah.

7. Asam Khlorida 37% Peruntukkan : - Unit Demineralisasi - Limbah Diamond Hazard : - Health = 3 - Fire = 0 - Reactivity = 1 Data Properti :

Physical State : Liquid

Berat Molekul : -

Titik Didih : 50,5 oC

Titik Leleh : -25,4 oC (39,17% HCl dalam air)

Suhu Kritis : -

Specific Gravity : 1,19

Vapor Pressure : 16 kPa (@ 20 oC)

Vapor Density : 1,267

Auto-Ignition Temperature : -

Flash Point : -

Flammability Limit : -

(21)

142

agents, materi organik, dan basa.

Deskripsi :

Asam klorida merupakan asam kuat yang berifat korosif terhadap metal seperti alumunium, tembaga, stainless steel. Selain korosif, asam klorida juga mudah menguap sehingga mampu membentuk uap yang bersifat korosif. Selain itu, asam klorida juga tergolong toxic. Ia tergolong very hazardous jika terkena kulit atau jika tertelan, juga hazardous jika terkena mata atau jika terhirup.

Untuk penanganannya, operator disarankan memakai alat perlindungan diri lengkap seperti splash goggles, baju tertutup, gloves, juga respirator. Disarankan menggunakan vapor respirator yang berkualitas baik untuk menghindari kerusakan paru-paru karena menghirup uap asam klorida.

Dari segi dampaknya terhadap lingkungan, asam klorida tergolong salah satu zat yang mampu merusak ekologi. Ia dapat merubah pH tanah dan air menjadi asam sehingga makhluk hidup di sekitarnya tidak akan mampu bertahan. Sehingga asam klorida harus dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke alam.

(22)

143

D. IDENTIFIKASI HAZARD ALAT PROSES 1. What-If Analysis

REAKTOR

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika suhu reaktor terlalu tinggi?

Konversi reaksi yang diperoleh tidak sesuai dengan seharusnya sehingga dapat

mengganggu kestabilan proses

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pemanas

Apa yang terjadi jika suhu reaktor terlalu rendah?

Reaksi akan berjalan lambat sehingga konversi yang diinginkan tidak terapai dan menyebabkan kerugian pada pabrik

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pemanas

Apa yang terjadi jika level cairan dalam reaktor terlalu tinggi?

Terjadi overflow Pemasangan level controller yang dapat

mengubah-ubah kecepatan arus keluar reaktor Apa yang terjadi jika level cairan dalam

reaktor terlalu rendah?

Terjadi kavitasi pada pompa yang mengalirkan produk keluar reaktor

Pemasangan level controller yang dapat mengubah-ubah kecepatan arus keluar reaktor Apayang terjadi jika rasio umpan reaktor tidak

memenuhi spesifikasi?

Konversi keluar reaktor tidak sesuai dengan yang diinginkan

Pemasangan ratio controller yang dapat mengubah-ubah kecepatan umpan masuk reaktor

Apa yang terjadi jika tekanan dalam reaktor terlalu tinggi?

Potensi terjadi overpressure yang dapat mengakibatkan reaktor pecah

Pemasangan pressurecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan acetaldehyde (gas) keluar reaktor

(23)

144

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika reaktor mengalami kebocoran?

Terjadi pelepasan bahan-bahan kimia ke lingkungan

Pemasangan alarm tanda bahaya dan water sprinkle

Apa yang terjadi jika reaktor pecah? Terjadi pelepasan bahan-bahan kimia ke lingkungan

Pemasangan alarm tanda bahaya dan water sprinkle

Apa yang terjadi jika reaktor mengalami korosi internal dan eksternal?

Terjadi penurunan kekuatan bahan reaktor sehingga berpotensi terjadi kebocoran dan pecah

Perawatan reaktor secara berkala

EVAPORATOR

What If Consequences Action

Apa yang terjadi jika suhu evaporator terlalu tinggi?

Terlalu banyak air yang menguap sehingga produk keluar evaporator terlalu pekat

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pemanas Apa yang terjadi jika suhu evaporator terlalu

rendah?

Air yang menguap kurang dari seharusnya sehingga produk keluar evaporator terlalu encer

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pemanas

Apa yang terjadi jika evaporator mengalami kebocoran?

Terjadi pelepasan bahan-bahan kimia ke lingkungan

Pemasangan alarm tanda bahaya dan water sprinkle

Apa yang terjadi jika evaporator pecah? Terjadi pelepasan bahan-bahan kimia ke lingkungan

Pemasangan alarm tanda bahaya dan water sprinkle

(24)

145

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika evaporator mengalami korosi internal dan eksternal?

Terjadi penurunan kekuatan bahan evaporator sehingga berpotensi terjadi kebocoran dan pecah

Perawatan evaporator secara berkala

MIXER

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika level cairan dalam mixer terlalu tinggi?

Terjadi overflow Pemasangan level controller yang dapat

mengubah-ubah kecepatan arus keluar mixer Apa yang terjadi jika level cairan dalam mixer

terlalu rendah?

Terjadi kavitasi pada pompa Pemasangan level controller yang dapat mengubah-ubah kecepatan arus keluar mixer

CONDENSER

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika suhu fluida keluar condenser terlalu tinggi?

Tingginya suhu dapat mengganggu proses selanjutnya

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pendingin Apa yang terjadi jika suhu fluida keluar

condenser terlalu rendah?

Rendahnya suhu dapat mengganggu proses selanjutnya

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan pendingin

(25)

146 HEAT EXCHANGER

What-If Consequences Action

Apa yang terjadi jika suhu fluida keluar heat exchanger terlalu tinggi?

Tingginya suhu dapat mengganggu proses selanjutnya

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan

pendingin/pemanas Apa yang terjadi jika suhu fluida keluar heat

exchanger terlalu rendah?

Rendahnya suhu dapat mengganggu proses selanjutnya

Pemasangan temperaturecontroller yang dapat mengubah-ubah kecepatan

(26)

147

2. Pengelolaan Hazard Peralatan

Hazard

Keterangan Pengelolaan Tekanan Suhu Putaran

Tinggi Elevasi Komposisi

Kuantitas Bahan 1. Reaktor (R) V V T = 50 o C P = 1 atm - Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu dalam reaktor dengan mengatur laju pemanas menggunakan valve. - Instalasi pressurecontroller

untuk mengontrol tekanan dalam reaktor dengan mengatur laju keluar produk samping berupa

acetaldehyde (gas) menggunakan valve. - Instalasi level controller

untuk mengontrol level cairan dalam reaktor dengan mengatur laju arus produk keluar menggunakan valve.

(27)

148 - Instalasi ratio controller

untuk mengontrol rasio bahan baku dengan mengatur laju arus masuk reaktor menggunakan valve. - Melakukan grounding pada

reaktor. 2. Evaporator (E) V V T = 100,5 o C P = 1 atm - Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu produk keluar

evaporator dengan mengatur laju steam pemanas

menggunakan valve. - Pemasangan isolasi panas

pada evaporator.

- Melakukan grounding pada evaporator.

3. Decanter-01

(D-01) V

T = 30 oC P = 1 atm

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam decanter dengan mengatur laju arus

(28)

149 keluar menggunakan valve.

4. Decanter-02

(D-02) V

T = 30 oC P = 1 atm

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam decanter dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

5. Decanter-03

(D-03) V

T = 30 oC P = 1 atm

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam decanter dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

6. Decanter-04

(D-04) V V

T = 50 oC P = 1 atm

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam decanter dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

7. Flash Drum-01

(FD-01) V

T = 100 oC P = 1 atm

- Pemasangan isolasi panas pada flash drum.

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam flash drum

(29)

150 dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

8. Flash Drum-02

(FD-02) V

T = 140 oC P = 1 atm

- Pemasangan isolasi panas pada flash drum.

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam flash drum dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

9. Flash Drum-03

(FD-03) V

T = 243 oC P = 1 atm

- Pemasangan isolasi panas pada flash drum.

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam flash drum dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

10.Flash Drum-04

(FD-04) V

T = 110 oC P = 1 atm

- Pemasangan isolasi panas pada flash drum.

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam flash drum

(30)

151 dengan mengatur laju arus keluar menggunakan valve.

11.Mixer-04 (M-04) V T = 50

o C P = 1 atm

- Instalasi level controller untuk mengontrol level cairan dalam mixer dengan mengatur laju arus produk keluar menggunakan valve. - Melakukan grounding.

12. Steam Distillator

(ST) V

T = 100 oC P = 1 atm

- Pemasangan isolasi panas pada alat.

13.Crusher (C) T = 30

o C P = 1 atm

- Melakukan grounding pada alat.

14.Belt Conveyor (BC)

T = 30 oC P = 1 atm

- Melakukan grounding pada belt conveyor. 15.Condenser-01 (C-01) V Tmaks = 100 o C - Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve - Pemasangan isolasi panas

(31)

152 16.Condenser-02

(C-02)

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve

17.Condenser-03

(C-03) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve - Pemasangan isolasi panas.

18.Condenser-04 V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve - Pemasangan isolasi panas.

(32)

153

19.Condenser-05 V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve - Pemasangan isolasi panas.

20.Condenser-06 V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu kondensat keluar kondenser dengan mengatur laju fluida pendingin

menggunakan valve - Pemasangan isolasi panas.

21.Heat Exchanger

-01 (HE--01) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan mengatur laju fluida pendingin menggunakan valve.

(33)

154 - Pemasangan isolasi panas.

22.Heat Exchanger

-02 (HE--02) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan mengatur laju fluida pemanas menggunakan valve.

- Pemasangan isolasi panas.

23.Heat Exchanger

-03 (HE--03) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan mengatur laju fluida pemanas menggunakan valve.

- Pemasangan isolasi panas.

24.Heat

Exchanger-04 (HE-Exchanger-04) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan

(34)

155 mengatur laju fluida

pemanas menggunakan valve.

- Pemasangan isolasi panas.

25.Heat Exchanger

-05 (HE--05) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan mengatur laju fluida pemanas menggunakan valve.

- Pemasangan isolasi panas.

26.Heat Exchanger

-06 (HE--06) V

- Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu fluida proses keluar heat exchanger dengan mengatur laju fluida pemanas menggunakan valve.

(35)

156 27.Tangki Penyimpanan-01 (TP-01) V T = 30 o C P = 2 atm - Instalasi temperature

controller untuk mengontrol suhu dalam tangki dengan mengatur laju fluida pendingin menggunakan valve.

- Instalasi pressure indicator untuk mengetahui tekanan dalam tangki.

- Instalasi breathe valve untuk menjaga tekanan dalam tangki konstan selama proses loading dan unloading.

- Instalasi relief valve untuk mengantisipasi terjadinya overpressure.

- Instalasi level indicator untuk mengetahui level cairan dalam tangki.

(36)

157 alarm tanda bahaya, dan alat pemadam kebakaran. - Tangki harus disegel dengan

baik agar tekanan dalam tangki dapat terjaga.

- Melakukan grounding pada tangki.

28.Tangki

Penyimpanan-02 (TP-02)

- Instalasi level indicator untuk mengetahui level cairan dalam tangki.

(37)

158 Item Hazard Keterangan Pengelolaan Ledakan Kebakaran Pelepasan Bahan Berbahaya Operability and Maintainability 1. Jarak area proses dengan gedung kantor V V V

Gedung kantor harus dibangun dengan jarak yang cukup dari area proses, minimal sejauh 500 m. Hal ini dilakukan agar ada cukup waktu untuk evakuasi apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di area proses.

2. Jarak area proses dengan jalan raya

V V V

Area proses harus dibangun jauh dari jalan raya, minimal sejauh 2 km. Hal ini dilakukan agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di area proses, aktivitas jalan raya tidak terganggu dan tidak terkena bahaya.

3. Jarak area proses dengan pemukiman penduduk

V V V

Area proses harus dibangun jauh dari rumah penduduk, minimal sejauh 5 km. Hal ini dilakukan agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di area proses tidak akan membahayakan

(38)

159 penduduk dan cukup waktu untuk evakuasi. Item Hazard Keterangan Pengelolaan Ledakan Kebakaran Pelepasan Bahan Berbahaya Operability and Maintainability 4. Kondisi geografis area pabrik (Gempa, petir, banjir, dan bencana alam lainnya) V V V V

- Konstruksi alat dan bangunan dibuat tahan dengan gempa 5 skala richter.

- Alat dan bangunan dibangun di bawah batas maksimum elevasi yang diijinkan.

- Untuk alat yang memiliki

ketinggian di atas 18 m, dipasang penangkal petir.

(39)

160

E. IDENTIFIKASI HAZARD LENGKAP (TANGKI PENYIMPANAN ACETALDEHYDE) KONDISI P = 2 atm T = 30 oC MSDS Acetaldehyde Diamond Hazard: Fire = 4 Health = 3 Reactivity = 2

Gambar 1. Tangki Penyimpanan Acetaldehyde

Tangki penyimpanan acetaldehyde digunakan untuk menyimpan acetaldehyde yang terbentuk sebagai hasil samping pada reaktor. Acetaldehyde pada suhu ruangan dan tekanan atmosferis berbentuk uap, sehingga sebelum disimpan, acetaldehyde dari reaktor harus dikondensasikan terlebih dahulu, kemudian ditekan, sehingga kondisi akhir pada penyimpanan adalah suhu 30 oC dan tekanan 2 atm. Pada kondisi penyimpanan tersebut, acetaldehyde berbentuk cair.

Acetaldehyde merupakan komponen yang bersifat flammable dengan flammability limit 4% (Lower Flammability Limit) dan 55% (Upper Flammability Limit). Acetaldehyde juga berpotensi menjadi eksplosif apabila terjadi kontak dengan asam, basa, dan panas. Dari

(40)

161 sisi kesehatan, acetaldehyde bersifat hazardous bila terjadi kontak dengan mata, terhirup, dan tertelan, serta bersifat slightly hazardous bila terjadi kontak dengan kulit. Sedangkan dilihat dari nilai LD50nya, acetaldehyde bersifat non-toxic.

ANALISIS HAZARD

Analisis hazard pada alat ini dilakukan dengan metode what-if analysis sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut:

What-If Question Consequences Action Apa yang akan terjadi

apabila suhu dalam tangki naik?

Acetaldehyde akan menguap dan menyebabkan naiknya tekanan di dalam tangki

Pemasangan temperature controller yang dapat mengatur laju pendingin untuk menurunkan suhu tangki

Apa yang akan terjadi apabila temperature controller gagal?

Acetaldehyde akan menguap sehingga tekanan tangki naik dan berpotensi

mengakibatkan overpressure

Pemasangan relief valve

Apa yang akan terjadi apabila relief valve gagal?

Akan terjadi overpressure yang dapat menyebabkan tangki pecah

Pemasangan relief valve cadangan

Apa yang akan terjadi

apabila acetaldehyde lepas ke lingkungan melalui relief valve?

Acetaldehyde dapat

membahayakan lingkungan dan kesehatan

Pemasangan water sprinkle dan alarm tanda bahaya

Apa yang akan terjadi apabila tangki pecah?

Terjadi pelepasan acetaldehyde yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan

Pemasangan water sprinkle dan alarm tanda bahaya

Apa yang akan terjadi

apabila tekanan dalam tangki turun saat unloading?

Acetaldehyde di dalam tangki akan menguap

Pemasangan breather valve untuk menaikkan tekanan tangki saat unloading Apa yang akan terjadi

apabila tekanan dalam tangki

Naiknya tekanan akan berpotensi menyebabkan

Pemasangan breather valve untuk menurunkan tekanan

(41)

162

naik saat loading? overpressure tangki saat loading

What-If Question Consequences Action Apa yang akan terjadi

apabila level cairan dalam tangki terlalu tinggi?

Akan terjadi overflow pada alat

Pemasangan level controller yang dapat mengatur laju keluar produk

Apa yang akan terjadi apabila level cairan dalam tangki terlalu rendah?

Akan terjadi kavitasi pada pompa yang mengalirkan arus keluar tangki

Pemasangan level controller yang dapat mengatur laju keluar produk

Apa yang akan terjadi apabila tangki mengalami korosi internal dan eksternal?

Terjadi penurunan kekuatan bahan tangki sehingga berpotensi mengakibatkan kebocoran dan pecahnya tangki

Perawatan tangki secara berkala

PEMASANGAN SAFETYGUARD

Berdasarkan identifikasi hazard menggunakan metode what-if analysis yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa safety guard yang harus dipasang pada tangki penyimpanan acetaldehyde antara lain:

1. TemperatureControl

Tangki penyimpanan acetaldehyde beroperasi pada suhu 30 oC dan tekanan 2 atm. Pada kondisi tersebut, acetaldehyde dapat disimpan dalam bentuk cair. Naiknya suhu dapat menyebabkan acetaldehyde menguap. Menguapnya acetaldehyde dapat menaikkan tekanan tangki yang apabila tidak segera diatasi, berpotensi menyebabkan overpressure. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada tangki penyimpanan acetaldehyde ini dipasang temperature controller yang dapat mengatur laju pendingin. Pada kondisi normal, tidak diperlukan pendingin untuk menyimpan acetaldehyde, namun apabila terjadi kenaikan suhu cairan dalam tangki, temperature controller akan membuka valve untuk mengalirkan pendingin agar suhu cairan dalam tangki kembali normal.

2. PressureControl

Tekanan dalam tangki harus dijaga tetap konstan sebesar 2 atm. Naiknya tekanan dapat mengakibatkan potensi overpressure, sedangkan turunnya tekanan akan mengakibatkan acetaldehyde menguap. Tekanan dapat mengalami perubahan saat loading dan unloading acetaldehyde. Saat loading, tekanan cenderung naik, sedangkan

(42)

163 saat unloading, tekanan akan turun. Untuk mengantisipasi hal ini, dipasang pressure indicator untuk mengukur tekanan dalam tangki serta breather valve untuk menyesuaikan tekanan tangki. Selain akibat loading dan unloading, tekanan tangki dapat naik secara drastis dalam waktu singkat apabila terjadi kenaikan suhu cairan yang menyebabkan menguapnya acetaldehyde, diikuti dengan gagalnya sistem temperaturecontroller untuk mengalirkan pendingin. Apabila hal ini terjadi, acetaldehyde dapat menguap dalam jumlah besar dan menyebabkan overpressure pada tangki. Untuk mengantisipasi hal ini, pada tangki dipasang pula relief valve untuk mengeluarkan uap acetaldehyde agar tangki terhindar dari overpressure. Relief valve cadangan juga perlu dipasang untuk mengantisipasi gagalnya relief valve utama.

3. Level Control

Level cairan dalam tangki penyimpanan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Level cairan yang terlalu tinggi akan menyebabkan terjadinya overflow, sedangkan level cairan yang terlalu rendah akan menyebabkan kurangnya volume cairan yang mengalir ke pompa sehingga dapat mengakibatkan kavitasi pada pompa. Untuk mengantisipasi hal ini, pada tangki penyimpanan dipasang level controller yang dapat mengatur laju arus keluar tangki.

4. Lain-lain

Untuk mengantisipasi lepasnya acetaldehyde ke lingkungan, baik melalui relief valve maupun akibat kebocoran dan pecahnya tangki, dipasang water sprinkle. Acetaldehyde merupakan bahan yang sangat larut dalam air, sehingga apabila terjadi pelepasan acetaldehyde keluar tangki, acetaldehyde dapat dilarutkan dengan air dari water sprinkle. Selain itu juga dipasang alarm tanda bahaya dan alat pemadam kebakaran. Untuk menjaga agar kondisi tangki tetap baik, dilakukan pemeriksaan tangki secara berkala.

Gambar

Gambar 1. Tangki Penyimpanan Acetaldehyde

Referensi

Dokumen terkait

Pokja mengadaan evaluasi kualifikasi terhadap penawaran yang telah lulus tahapan penilaian administrasi, teknis dan harga..

Serupa dengan temuan yang sudah diperoleh di lapangan terkait efektivitas pembelajaran problem solving untuk memecahkan masalah soal cerita pada mata pelajaran matematika

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan deteksi tepi canny, sobel dan prewitt yang digunakan sebelum proses CBIR bahwa tepi

Sebagian besar responden yang memanfaatkan pelayanan ANC secara lengkap yaitu pada responden yang tidak memiliki keluhan saat kehamilan dan didapatkan nilai

Atas dasar penelitian dan pemeriksaan secara seksama terhadap berkas yang diterima Mahkamah Pelayaran dalam Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan (BAPP) serta

(1) Koordinator PPK Satker Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf a dijabat oleh Kepala Badan Keuangan Tingkat II yang mempunyai kewenangan untuk menandatangani Surat

Pada wanita istilah homoseks ini lebih dikenal dengan sebutan lesbian ( berasal dari kata Lesbos yang merupakan sebuah pulau dikawasan Yunani, tempat seorang penyair

Parameter yang diamati adalah panjang total dan bobot ikan hasil tangkapan pada ikan selar (Selaroides leptolepis), ikan tembang (Sardinella fimbriata) dan ikan