• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI JURISPRUDENSIAL BERBANTUAN MEDIA VISUAL BERPENGARUH TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI JURISPRUDENSIAL BERBANTUAN MEDIA VISUAL BERPENGARUH TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SD"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI JURISPRUDENSIAL

BERBANTUAN MEDIA VISUAL BERPENGARUH

TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SD

Ni Made Yeesi

1

, I Wyn. Rinda Suardika

2

, I.G.A.A Sri Asri

3

1.2.3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Konvensional pada siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu Tahun Ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan rancangan penelitian “Nonequivalent control group design”. Populasi penelitian ini yaitu seluruh

siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus 3 Sebatu. Penentuan sampel menggunakan teknik

random sampling, di dapat kelas eksperimen yaitu SD N 2 Sebatu dengan jumlah siswa 33 orang dan kelas kontrol yaitu siswa kelas V SD N 5 Sebatu dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang. Data penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes dalam bentuk tes hasil belajar pilihan ganda. Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik statistik uji-t. Hasil perhitungan uji-t diperoleh t hitung sebesar 5,976. Sedangkan pada taraf signifikansi 5% dan dk 61 diperoleh t tabel sebesar 2,00. Nilai rata-rata hasil belajar PKn pada kelas eksperimen 84,24 dan kelompok kontrol 81,73. Dengan demikian hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Hasil analisis diperoleh nilai (t hitung = 5,976 > t tabel = 2,00). Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual berpengaruh terhadap hasil belajar PKn pada siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus 3 Sebatu Tahun Ajaran 2013/2014.

Kata-kata kunci: Model Pembelajaran, Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudensial Inquiri Model), hasil belajar dan PKn

Abstract

This experiment is aim to know the significant different of civil learning result between students who teached by Jurisprudential Inquiri Model with helped by visual media and students who teached by konvensional learning on V grape on group III in 2013/2014 study periode. This kind of experiment is a trick experiment used “Nonequivalent control group design” survey plan. The populations of this experiment are all of V grade elementry school students on group 3 Sebatu. The sample setting is using random sampling technic, it get experiment elementry school number 2 Sebatu with 33 students and the control class is grade V students on elementry school number 5 Sebatu with 30 students. The data of this experiment uses test on result of multiple chois learning test form. The continue data is analisys by using t test grafict technic. The result of t test get t count 5,976. While on signification rate 5 % and dk 61 get t table 2,00. The average value of civil learning result on experiment class is 84,24 and control class is 81,73. So the result of analisys point that is a significant defferent of civil learning result between students who teached by

(2)

Jurisprudential Inquiri Model helped by visual media with students who teached by konventional learning. The result of analisys get value (t count = 5,97 > t table = 2,00), so the conclution is the Jurisprudential Inquiri Model helped by visual media give an effect to civil learning result of grade V elementry school group 3 Sebatu 0n 2013/2014 study periode.

Key words :Theaching Model, Jurisprudential Inquiry Model, civil learning result

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha yang sengaja dilakukan oleh seorang pendidik untuk mencetak dan menghasilkan siswa yang dapat mengembangkan potensi dirinya sendiri. Dalam proses pembelajaran, pengembangan potensi yang dimiliki siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Pengembangan potensi siswa secara tidak seimbang pada gilirannya menjadikan pendidikan cenderung lebih peduli pada pengembangan satu aspek kepribadian tertentu saja. Padahal sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua sekolah dan guru, dan itu berarti sangat keliru jika guru hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran pada bidang studi saja.

Aunurrahman (2011:34) menyatakan bahwa, dalam proses pembelajaran, guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.

Untuk menciptakan hal tersebut perlu usaha yang dilakukan guru dalam merancang pembelajaran dengan memperhatikan model yang akan diterapkan, materi yang akan diberikan, penggunaan media yang sesuai dengan materi yang akan diberikan dan menentukan hasil belajar siswa. Penggunaan model pembelajaran serta media yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Dalam mengembangkan pendidikan, sudah seharusnya proses pembelajaran tidak hanya menggunakan metode ceramah sebagai metode utama dalam pembelajaran tetapi guru harus merancang

inovasi-inovasi dalam pembelajaran baik dalam penggunaan metode dan media yang relevan sehingga siswa aktif dan optimal dalam pembelajaran tersebut.

Menurut Depdikbud (1994:i) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan usaha membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenaan dengan hubungan antar warga Negara dengan Negara serta pendidikan bela Negara agar menjadi warga Negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan Negara. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga disebutkan bahwa mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, pembelajaran berlangsung dengan metode ceramah sehingga pembelajaran berlangsung kurang maksimal. Hal ini menyebabkan siswa menjadi pasif karena kurang menguasai materi yang disampaikan guru sehingga hasil belajar siswa kurang maksimal pula. Sedangkan peran guru sebagai evaluator untuk menentukan hasil belajar biasanya hanya dilihat dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Mengenai observasi tersebut, peneliti menginovasi pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudensial Inquiri Model) berbantuan media visual pada pembelajaran PKn. Penelitian ini dilakukan terhadap penerapan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial agar membantu siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya.

(3)

Menurut Wena (2012:71) Model pembelajaran inkuiri jurisprudensial adalah model pembelajaran inovatif yang membantu siswa dalam menganalisis dan berfikir secara sistematis dan kritis terhadap isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Maksud isu-isu disini yaitu suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, kematian, ataupun tentang krisis.

Menurut Herdian (2010), model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial memiliki ciri-ciri utama yaitu menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan masalah yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara sistematis, logis dan kritis dalam menanggapi isu-isu yang dikaitkan dalam proses pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran in kuiri jurisprudensial ini juga memiliki keunggulan dalam penerapannya yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, meningkatkan aktivitas siswa serta membimbing siswa dalam mengambil posisi dan pendapatnya mengenai isu yang sedang berkembang di masyarakat yang dikaitkan dengan materi pelajaran.

Lebih lanjut Wena menjelaskan tentang tahap-tahap dalam pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial yang terdiri dari enam tahap utama, yakni (a) orientasi kasus atau permasalahan; (b) identifikasi isu; (c) penetapan posisi/pendapat/sikap; (d) menyelidiki cara berpendirian, pola argumentasi; (e) memperbaiki dan mengkualifikasi posisi serta (f) melakukan pengujian asumsi-asumsi terhadap posisinya/pendapatnya.

Pada tahap orientasi kasus, guru mengajukan kasus dengan membacakan kasus yang terjadi, memperlihatkan film/video kasus, atau mendiskusikan suatu kasus yang sedang hangat di masyarakat atau kasus di sekolah. Selanjutnya pada tahap identifikasi isu, siswa dibimbing untuk mensintesis fakta-fakta yang ada ke dalam sebuah isu yang sedang dibahas kaitannya

dengan kebijakan publik dan munculnya kontroversi di masyarakan dan sebagainya.

Penetapan posisi/pendapat/sikap yaitu pengambilan posisi terhadap kasus yang ada dan siswa menyatakan posisinya terkait dengan nilai sosial atau konsekwensi dari keputusannya. Pada tahap menyelidiki cara berpendirian , pola argumentasi siswa menetapkan keputusan pada bagian mana yang terjadi pelanggaran nilai-nilai faktual.

Pada tahap memperbaiki dan mengkualifikasi posisi, siswa menyatakan posisinya dan alasannya terhadap masalah dan menguji sejumlah situasi/kondisi yang mirip terhadap permasalahannya kemudian guru membimbing siswa untuk melakukan identifikasi asumsi-asumsi faktual dan melihat relevansinya, serta menentukan konsekwensi yang diperkirakan dan melakukan pengujian validitas faktualnya.

Uno (2012:30) juga menambahkan bahwa model pembelajaran Inkuiri jurisprudensial didasarkan atas pemahaman masyarakat dimana setiap orang berbeda pandangan dan prioritas satu sama lain, dan nilai-nilai sosialnya saling berkonfrontasi satu sama lain. Memecahkan masalah yang sangat komplek dan kontroversial di dalam konteks aturan sosial yang produktif membutuhkan warga Negara yang mampu berbicara satu sama lain dan bernegosiasi tentang keberbedaan tersebut.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk peka terhadap permasalahan sosial, mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumen yang relevan dan valid. Model ini juga dapat mengajarkan siswa untuk dapat menerima atau menghargai sikap orang lain terhadap suatu masalah yang mungkinbertentangan dengan sikap yang ada pada dirinya. Atau sebaliknya, ia bahkan menerima dan mengakui kebenaran sikap yang diambil orang lain terhadap suatu isu sosial tersebut.

Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahwa yang disampaikan

(4)

dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tersebut, bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkritkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media (Djamarah, 2010:120).

Menurut Djamanah (2010:124) Media Visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Selain itu, Daryanto (1993:27) memberikan pendapatnya mengenai media visual merupakan semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca indera mata. Fathurrohman dan Wuri Wuryandani (2011:50) menyatakan bahwa macam-macam media visual yaitu berupa gambar, bagan/chart, kartun danpeta/globe.

Levie dan Lentz (dalam Arsyad, 2011:16) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran khususnya media visual antara lain Fungsi Atensi yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran, Fungsi Afektif yaitu tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar, Fungsi Kognitif yaitu temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar dan Fungsi Kompensatoris yaitu memberikan konteks untuk memahami teks dalam membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingat kembali.

Penerapan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual disesuaikan dengan materi yang diajarkan sehingga memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa.

Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional yang banyak digunakan oleh guru. Sanjaya (2006:270) menyatakan pada

pembelajaran konvensional merupakan proses pembelajaran yang sepenuhnya ada pada kendali guru. Pengalaman belajar siswa terbatas, hanya sekedar mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran konvensional terdapat pengembangan proses berpikir tetapi proses tersebut sangat terbatas dan terjadi pada pada proses berfikir taraf rendah. Dalam pembelajaran konvensional ini siswa lebih dituntut untuk menunjukkan kemampuan menghafal dan menguasai apa yang telah disampaikan oleh guru.

Penerapan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial erat hubungannya dengan materi pembelajaran PKn serta tujuan pembelajaran PKn di sekolah dasar yang meliputi berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya dan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan berkomunikasi.

Selain itu dalam penerapan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial ini siswa menjadi aktif serta harus terlibat secara langsung untuk menemukan dan menganalisis isu-isu yang sedang hangat dimasyarakat kemudian dikaitkan dengan materi yang disampaikan guru melalui pengamatan terhadap media gambar yang telah disediakan sehingga siswa menjadi termotivasi untuk mampu mencapai hasil belajar yang optimal.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka dikemukakan rumusan permasalahan yaitu: apakah terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudensial Inquiri Model) berbantuan media visual dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional

(5)

pada siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu tahun pelajaran 2013/2014?

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudensial Inquiri Model) berbantuan media visual dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD N Gugus 3 sebatu tahun pelajaran 2013/2014.

METODE

Penelitian ini termasuk pada penelitian jenis Quasi Experimental Design

(eksperimen semu) dengan Nonequivalent Control Group Design. Menurut Dantes (2012: 97) yang menyatakan “pemberian

pre test pada desain Nonequivalent Control Group Design digunakan untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok”. Dalam penelitian ini ada 2 kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (kelompok banding).

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan akhir eksperimen. Adapun tahap persiapan eksperimen, langkah-langkah yang dilakukan adalah menyusun RPP untuk 6 kali pertemuan, mempersiapkan media dan sumber belajar (gambar, LKS, silabus, dan kurikulum) yang digunakan selama pembelajaran pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, menyusun instrument penelitian berupa tes hasil belajar pada ranah kognitif untuk mengukur hasil belajar PKn siswa, mengadakan pengujian validasi instrument penelitian yaitu tes hasil belajar PKn. Pada pelaksanaan eksperimen langkah-langkah yang dilakukan yaitu menentukan sampel penelitian berupa kelas dari populasi yang tersedia, dari sampel yang telah diambil kemudian diundi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol kemudian menguji kesetaraan kedua kelompok penelitian, melaksanakan penelitian yaitu memberikan perlakuan sebanyak 6 kali pertemuan kepada kedua kelompok. Perlakuan pada kelas eksperimen berupa model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudential Inquiri Model) Berbantuan

Media Visual pada siswa kelas V SD N 2 Sebatu dan perlakuan berupa pembelajaran konvensional pada kelas kontrol di SD N 5 Sebatu. Pada akhir eksperimen langkah-langkah yang dilakukan adalah memberikan

post test pada akhir penelitian, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

Populasi adalah objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu. Terdiri dari 5 Sekolah yaitu SD N 1 Sebatu, SD N 2 Sebatu, SD N 3 Sebatu, SD N 4 Sebatu dan SD N 5 Sebatu. Informasi yang diperoleh dari ketua Gugus 3 Sebatu menyatakan bahwa kelas yang berada di SD N Gugus 3 Sebatu Tahun Ajaran 2013/2014 setara secara akademik kecuali SD N 1 Sebatu yang merupakan sekolah unggulan.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011:118). Dalam melakukan pemilihan sampel penelitian, tidak dapat dilakukan pengacakan individu karena tidak bisa mengubah kelas yang terbentuk sebelumnya dan kelas V yang dijadikan sampel berada di sekolah yang berbeda.

Berdasarkan karakteristik populasi dan tidak bisa dilakukan pengacakan individu, maka pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik

random sampling, yang dirandom adalah kelas.

Cara menentukan sampel dalam penelitian ini dari seluruh populasi yang berada di Gugus 3 Sebatu Tahun Ajaran 2013/2014 kecuali SD N 1 Sebatu karena merupakan sekolah unggulan dari sekolah-sekolah lain yang termasuk gugus 3 Sebatu. Untuk menentukan sampel tiap sekolah harus memiliki kesetaraan akademik yang sama yang kemudian diundi untuk mendapatkan dua kelas. Dari kedua kelas tersebut diundi kembali untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol.Setelah diundi terpilih kelas V SD N 2 Sebatu sebagai kelas eksperimen dan

(6)

kelas V di SD N 5 Sebatusebagai kelas kontrol.

Untuk membuktikan bahwa ke dua kelompok penelitian tersebut setara, dilakukan uji kesetaraan dengan menggunakan uji-t. Sebelum menggunakan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

Hasil uji normalitas untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dianalisis dengan menggunakan rumus Chi-Square.

Berdasarkan perhitungan hasil uji normalitas kelompok eksperimen diperoleh

X2hitung = 5,74 dan X2tabel = 11,07, karena X2hitung<X2tabel (5,74< 11,07) maka data

berdistribusi normal.

Dalam perhitungan hasil uji normalitas kelompok kontrol diperoleh X2hitung = 8,9 dan X2tabel = 11,07, karena X2hitung < X2tabel (8,9<

11,07) maka data berdistribusi normal. Uji homogenitas untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dianalisis dengan menggunakan uji F. Berdasarkan uji homogenitas diperoleh Fhitung = 1,022dan

Ftabel = 1,79, karena Fhitung < Ftabel maka data

homogen.

Karena data untuk kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan melakukan uji kesetaraan dengan uji-t.

Dari hasil analisis dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5% dan dk (n1 + n2) – 2 diperoleh thitung

=1,122 dan ttabel adalah 2,00. Sehingga thitung

kurang dari ttabel (1,122< 2,00) maka kelas V

SD N 2 Sebatu dan kelas V SD N 5 Sebatu dinyatakan setara.

Setelah kedua kelompok setara, kedua kelompok penelitian diberikan perlakuan yaitu dengan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual untuk kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional untuk kelompok kontrol.

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual pada kelompok eksperimen. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar PKn.

Dalam penelitian ini data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar PKn siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu. Untuk mengumpulkan data tersebut digunakan tes, yaitu tes hasil belajar PKn. Dilihat dari jenisnya data ini termasuk data primer, karena data secara langsung dikumpulkan oleh peneliti. Dilihat dari sifatnya data ini termasuk kuantitatif.

Data tentang hasil belajar Pkn kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh dengan menggunakan tes objektif berbentuk pilihan ganda dengan empat alternative jawaban a, b, c, dan d.

Tes hasil belajar PKn disusun oleh peneliti dan wali kelas V serta melalui bimbingan dosen pembimbing.

Pada suatu penelitian ilmiah alat pengumpul data yang digunakan harus memenuhi persyaratan. Tes hasil belajar PKn sebelum digunakan terlebih dahulu diuji cobakan untuk mengetahui uji validitas, daya beda, indeks kesukaran dan reliabilitas.

Validitas tes objektif ditentukan melalui analisis butir soal berdasarkan koefesien kolerasi point biserial (rpbi),

karena tes bersifat dikotomi. Dari perhitungan dengan rtabel = 0,4 terdapat 20 soal yang nilai rhitung kurang dari rtabel sehingga soal dinyatakan tidak valid dan 30 soal yang nilai rhitung lebih dari rtabel sehingga dinyatakan valid.

Daya pembeda (daya beda) dari sebuah butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara siswa yang mengetahui jawaban yang benar dengan siswa yang tidak menjawab soal tersebut. Dapat dikatakan daya beda merupakan kemampuan butir-butir soalitu untuk membedakan antara testee yang menjawab benar (berkemampuan tinggi) dengan

testee yang menjawab salah

(berkemampuan rendah).

Berdasarkan hasil uji daya beda, diperoleh 13 soal yang termasuk dalam kriteria cukup, 11 soal yang termasuk dalam kriteria baik, dan 6 soal yang termasuk dalam kriteria sangat baik.

Tingkat kesukaran suatu soal dapat dikatakan sebagai kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawab tes yang telah diberikan. Tingkat kesukaran

(7)

perangkat tes adalah bilangan yang menunjukan rata-rata proporsi testi yang dapat menjawab seluruh tes tersebut. Tingkat kesukaran butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut dengan indeks kesukaran (difficulty indexs).

Uji tingkat kesukaran dilakukan pada 30 soal yang telah diuji validitas dan daya pembedanya. Setelah dilakukan uji tingkat kesukaran butir tes diperoleh 16 soal dengan klasifikasi mudah, 2 soal klasifikasi sukar dan 12 soal dengan klasifikasi sedang.

Selanjutnya, berdasarkan analisis tingkat kesukaran perangkat tes diperoleh IKP = 0,70 sehingga perangkat tes termasuk dalam kategori sedang.

Uji reliabilitas hanya dilakukan pada butir soal yang valid.Uji reliabilitas tes yang bersifat dikotomi dan heterogen ditentukan dengan rumus Kuder Richardson 20 (KR 20). Uji reliabilitas dilakukan terhadap 30 soal. Menurut Sudijono (2009: 209) kriteria terhadap koefisien reliabilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut, “Apabila r11 sama dengan atau lebih besar dari 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliabel)”.

Dari perhitungan uji reliabilitas diperoleh hasil r11 = 0,83 hal tersebut menunjukkan r11 lebih dari 0,70 maka tes dinyatakan memiliki reliabilitas yang tinggi atau tergolong reliabel.

Setelah pemberian tes akhir, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Sebelum dilaksanakannya pengujian hipotesis terlebih dahulu dilaksanakan uji prsyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas pada kedua kelompok penelitian.

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah uji hipotesis dengan statistik parametrik bisa dilakukan atau tidak. Untuk mengetahui data skor hasil belajar PKn siswa masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak, maka dipergunakan analisis Chi-Square.

Kriteria pengujian uji normalitas adalah jika X2hit <X2(l-a)(k-1). Maka Ho diterima (gagal ditolak) yang berarti data berdistribusi normal. Sedangkan taraf signifikansinya adalah 5% dan derajat kebebasanya (dk) = (k-1).

Kriteria pengujian uji homogenitas adalah jika Fhitung < Ftabel, maka data

homogen. Sedangkan derajat kebebasan adalah n – 1.

Data yang telah diuji normalitas dan homogenitas kemudian diuji hipotesisnya. Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji-t dengan rumus polled varians. Setelah dilakukan uji-t, selanjutnya t hitung dibandingkan dengan t tabel dengan dk = n1 + n2 – 2 dan taraf signifikansi 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai yang diperoleh dalam penelitian ini adalah skor hasil belajar PKn siswa dari ranah kognitif. Rata-rata skor siswa kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan media visual = 82,24 sedangkan rata-rata skor siswa kelompok kontrol yang diberikan perlakuan dengan menggunakan pembelajaran konvensional = 81,73.

Data hasil belajar PKn pada kelompok eksperimen diketahui rata-rata = 82,24, standar deviasi =10,18, varians = 103,54, skor maksimum = 100, dan skor minimum = 68 sedangkan data hasil belajar PKn pada kelompok kontrol diketahui rata-rata = 81,73, standar deviasi = 8,37, varians = 70,04, skor maksimum = 95, skor minimum = 65. Dapat dikatakan bahwa hasil belajar PKn kelompok eksperimen lebih baik dari hasil belajar PKn kelompok kontrol.

Sebelum dilakukan uji hipotesis dengan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat. Uji prasyarat yang dilakukan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians.

Berdasarkan hasil uji normalitas kelompok eksperimen dengan menggunakan uji Chi-Square, ditemukan harga Chi-Square hitung X2hitung = 5,8.

Harga tersebut kemudian dibandingkan dengan harga Chi-Square tabel X2tabel

dengan dk = 5 dan taraf signifikansi 5% maka harga X2tabel = 11,07. Karena X2hitung < X2tabel = (5,8< 11,07), maka Ho diterima dan Ha ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa data hasil belajar PKn kelompok eksperimen berdistribusi normal.

(8)

Dari hasil uji normalitas dalam kelompok kontrol dengan menggunakan uji

Chi-Square, ditemukan harga Chi-Square

hitung X2hitung = 6,1 harga tersebut

kemudian dibandingkan dengan harga Chi-Square tabel X2tabel dengan dk = 5 dan taraf

signifikansi 5% maka harga X2tabel = 11,07.

Karena X2hitung < X2tabel = (6,1< 11,07), maka

Ho diterima dan Ha ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa data hasil belajar PKn kelompok kontrol berdistribusi normal.

Uji homogenitas varians dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji F. Berdasarkan hasil uji homogenitas kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol diperoleh Fhitung = 1,34

dan Ftabel = 1,82 sehingga Fhitung kurang dari

Ftabel (1,34 < 1,85) maka data homogen.

Berdasarkan hasil uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan homogenitas varians diperoleh bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t.

Hipotesis dengan uji-t, kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thitung > ttabel

dengan dk = n1 + n2 - 2 dan dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis uji-t dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel. 1 Rekapitulasi Analisis Uji-t Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

No Kelompok N Dk S thitung ttabel

1 Eksperimen 33 61 84,24

3,235

5,976

2,00

2 Kontrol 30 81,73

2,415

Dalam perhitungan uji-t dengan dk = 61 dan taraf signifikansi 5% diperoleh thitung

= 5,976 dan ttabel 2,00. Berdasarkan kriteria

pengujian, thitung > ttabel (5,976> 2,00) maka

H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu tahun pelajaran 2013/2014.

Dari hasil uji normalitas, uji homogenitas dan uji-t menunjukkan bahwa kedua kelompok setara. Kelompok eksperimen diberi perlakuan yaitu dengan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual dan kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah diberi perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol kemudian kedua kelompok diberi tes akhir (post test). Analisis dari hasil penelitian didapat bahwa nilai rata-rata post test hasil belajar PKn yang dicapai pada kelompok eksperimen 82,24 sedangkan untuk kelompok kontrol 81,73. Dengan demikian,

nilai rata-rata post test hasil belajar PKn pada kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Untuk perhitungan uji normalitas, homogenitas dan uji-t menggunakan

microsoft excel, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki data yang normal dan homogen. Perhitungan uji hipotesis dengan uji-t diperoleh thitung = 5,976 dan

dengan taraf signifikansi 5% serta derajat kebebasan 61 diperoleh ttabel = 2,00. Karena

thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu tahun pelajaran 2013/2014.

Pembelajaran PKn yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial

(Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual yang membantu siswa berfikir secara sistematis tentang isu-isu yang sedang hangat dimasyarakat yang dikaitkan dengan materi yang disampaikan guru sehingga siswa menjadi aktif dalam

(9)

mengikuti pembelajaran di sekolah. Penggunaan media visual juga sangat membantu dalam pembelajaran di sekolah dasar khususnya dengan menggunakan gambar-gambar yang menarik dan tidak terlepas dari materi yang disampaikan guru. Sehingga siswa dapat menganalisis isu yang sedang berkembang dimasyarakat yang dikaitkan dengan materi yang disampaikan guru. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wena (2012:71) yaitu dengan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial siswa dapat menganalisis dan berfikir secara sistematis dan kritis terhadap isu-isu yang sedang hangat di masyarakat.

Dalam kaitannya dengan kajian pustaka dan hasil analisis uji-t, maka disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Priananda (2011) yang menyatakan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SD N Kasreman Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan tes akhir pembelajaran (post test) diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol yaitu 82,24 > 81,73. Hal ini berarti bahwa nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual lebih baik dari kelompok kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional.

Untuk hasil uji hipotesis yang telah dilakukan yaitu dengan menggunakan uji-t diketahui bahwa thitung = 5,976 dan pada

taraf signifikansi 5% dan dk = 61 diperoleh ttabel = 2,00. Hal tersebut menunjukkan thitung

> ttabel sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran

Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu tahun pelajaran 2013/2014.

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudential Inquiri Model) berbantuan media visual berpengaruh terhadap hasil belajar Pkn siswa kelas V SD N Gugus 3 Sebatu Tahun Pelajaran 2013/2014.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh terdapat beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu bagi siswa disarankan menjadi lebih aktif dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran serta mampu membangun pengetahuannya sendiri untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Sedangkan bagi guru disarankan untuk lebih menambah wawasan atau pengetahuan tentang pembelajaran inovatif, dan mampu mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menerapkan strategi, metode, model maupun media pembelajaran sehingga memberikan kontribusi yang baik terhadap hasil belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Aunurrahman. 2011. Belajar dan

Pembelajaran. Bandung: Alfabeta CV

Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian.

Yogyakarta : Andi Offset

Daryanto.1993.http://jafar120911084.blogso

t.com/2011/10/pengertian-media-visual.html (diakses pada tanggal 26 Februari 2013)

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar.

(10)

Depdikbud.1994. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Jakarta: Ditjen Dikdasmen

Fathurrohman dan Wuri Wuryandani. 2011.

Pembelajaran PKn Di Sekolah Dasar.

Yogyakarta: Nuha Litera

Herdian.2010.http://herdy07.wordpress.com /2010/05/27/model -pembelajaran-inkuiri-jurisprudensial (diakses pada tanggal 5 Desember 2013)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2012 SD N 2 Sebatu dan SD N 5 Sebatu

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta Uno, Hamzah. 2012. Model Pembelajaran.

Jakarta : Bumi Aksara

Weda, Made. 2012. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontenporer. Jakarta: Bumi Aksara

Referensi

Dokumen terkait

dilaksanakan yang dapat mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga, karena menaati perintah ayah adalah pintu surga yang paling baik dan paling tinggi (mulia). Maka di

Tuckey test menunjukkan bahwa ada perbedaan antara satu formula dengan formula lain sehingga dapat disimpulkan bahwa CMC-Na berpengaruh terhadap stabilitas pH sirup...

Perusahaan telah memfasilitasi SMKN 2 Bekasi untuk berkunjung ke ICON+ Gandul dalam rangka membagi ilmu dan pengetahuan kepada siswa/I tentang dunia telekomunikasi terutama

Berdasarkan tabel di atas terdapat nilai Adjusted R Square adalah 0,396 atau 39,6% variabel Remunerasi, motivasi, dan Kepuasan Kerja dapat menjelaskan Kinerja

Sebab kedua hal ini memiliki aplikasi proporsi pada dunia keilmuan desain grafis, maka peneliti yakin dapat pula melakukan proses aplikasi proporsi yang juga pada

Walaupun perairan Gresik bukan jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo), tetapi terhubung melalui arus lokal yang dipengaruhi oleh angin muson, sehingga

Chevron Pacific Indonesia untuk periode Awal Tahun 2015 meliputi wilayah kerja Region Jawa, Region Sumatera, Region Kalimantan dan Region Indonesia Timur yang dilaksanakan

Dengan hasil analisis statistik dengan regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel Current Ratio (CR) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham