BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan lingkungan sudah lama menjadi isu global, meskipun baru mendapat perhatian serius sekitar tahun 1970-an, yaitu setelah diadakannya United Nation Conference on the Human Environment di Stockholm, Swedia,
pada tahun 1972.1 Perhatian terhadap pengelolaan lingkungan hidup ini kemudian
berlanjut pada evaluasi implementasi konferensi Stockholm 1972 melalui konferensi Nairobi, Kenya, pada tahun 1982, yang ditindaklanjuti dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Desember 1983 dengan
membentuk World Commission on Environment and Development (WCED)
sebagai komisi yang mengkaji agenda global bagi perubahan, yaitu tantangan
lingkungan dan pembangunan menjelang tahun 2000 dan cara
menanggulanginya.2
Kelompok ahli lingkungan yang dibentuk oleh WCED ini menghasilkan
laporan yang salah satunya merupakan Proposal for Strengthening the Legal and
Institution Framework. Laporan ini memuat pembentukan ketentuan dasar, perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, pembentukan komisi khusus PBB, memperkuat tata hukum global dan regional yang telah ada, pengembangan inisiatif baru lembaga non pemerintah, perluasan tanggung jawab lingkungan perusahaan-perusahaan swasta, penerapan tanggung jawab pidana
1 Mursid Raharjo, 2007, Memahami AMDAL, Graha Ilmu, Yogyakarta, hlm.1 2Ibid.
terhadap kerugian atau kerusakan lingkungan, pengujian risiko teknologi baru, pembentukan standar dasar keamanan dan kewajiban notifikasi dalam
pembangunan instalasi nuklir, dan lain-lain.3
Kegiatan pengelolaan lingkungan di Indonesia sendiri dituangkan dalam beberapa undang-undang yang mengatur mengenai pengelolaan lingkungan secara sektoral. Undang-undang yang mengatur mengenai lingkungan hidup secara menyeluruh baru ada melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup (UULH). Namun, karena tidak jelasnya wewenang pengawasan dan belum diaturnya sanksi administrasi, pengaturan mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan yang bersifat multitafsir, tidak diaturnya delik formal sebagai tindak pidana lingkungan, dan sanksi pidana bagi badan hukum (dalam tindak pidana korporasi) bagi perusahaan yang
mencemarkan atau merusak lingkungan,4 maka UULH diganti dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH).
Dua belas tahun berikutnya, UUPLH kemudian digantikan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) karena beberapa kelemahan yuridis dari UUPLH dan berdasarkan pertimbangan untuk melakukan penegasan dan penjabaran prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, prinsip pembangunan berkelanjutan, serta untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan
3 Muhammad Akib, 2016, Hukum Lingkungan: Perspektif Global dan Nasional, Rajawali Pers,
Jakarta, hlm. 19
lingkungan yang baik dan sehat sebagai bagian dari perlindungan terhadap seluruh
ekosistem.5
Lingkungan hidup dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan,dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Pentingnya lingkungan hidup ini ditegaskan sebagai hak asasi manusia dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Lingkungan hidup yang baik dan sehat tentunya menunjang produktivitas hidup dan tingkat kesehatan masyarakat. Sebaliknya, gangguan/penurunan kualitas lingkungan hidup akan sangat berpengaruh dan memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup masyarakat.
Secara sederhana kualitas lingkungan hidup diartikan sebagai keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung yang optimal bagi kelangsungan hidup manusia di suatu wilayah. Kualitas lingkungan itu dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang betah/kerasan tinggal ditempatnya sendiri. Berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan dasar/fisik seperti makan minum, perumahan sampai kebutuhan rohani/spiritual seperti pendidikan, rasa aman,
5Ibid. hlm. 85
ibadah dan sebagainya.6 Kualitas lingkungan hidup pada saat sekarang ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor. Pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam proses pembangunan itu tentu akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidup. Pembangunan tidak saja mendatangkan manfaat, tetapi juga membawa
resiko kerusakan lingkungan.7 Kerusakan lingkungan yang dimaksud di sini ialah
terganggunya keseimbangan ekologi.8
Dalam UUPPLH dibedakan definisi dari kerusakan lingkungan dengan pencemaran lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup dalam Pasal 1 angka 17 disebutkan sebagai perubahan langsung dan/ atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Sedangkan pencemaran lingkungan hidup dalam Pasal 1 angka 14 UUPPLH merupakan kegiatan masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan, atau dengan kata lain menjadikan lingkungan hidup tercemar.
Kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup dalam UUPPLH ini merupakan tindak pidana kejahatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 97 UUPPLH, baik perbuatan sengaja maupun karena kelalaian. Ketentuan pidana dalam UUPPLH diatur dalam Pasal 97 hingga Pasal 120. Tindak pidana
6 Kemdikbud, “Lingkungan Hidup dan Pembangunan”,
[https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=12&idmateri=106&lvl1=2& lvl2=1&lvl3=0&kl=10], diakses pada tanggal 29 September 2016 Pukul 17.42 WIB
7Ibid. 8Ibid.
lingkungan hidup, baik kerusakan lingkungan maupun pencemaran lingkungan dapat dipertanggungjawabkan terhadap subjek hukum perseorangan maupun badan hukum. Hal ini diatur dalam dalam Pasal 116 ayat (1) UUPPLH, bahwa tindak pidana lingkungan hidup yang dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, dapat dituntut kepada badan usaha itu sendiri, maupun orang yang memberi perintah melakukan tindak pidana tersebut atau pemimpin kegiatan tindak pidana tersebut. Ditambahkan lagi pada Pasal 116 ayat (2) UUPPLH, bahwa tindak pidana lingkungan hidup yang dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama-sama.
Dalam penulisan hukum ini, Penulis membahas mengenai pembuktian dan pertanggungjawaban dalam perkara yang didaftarkan dengan nomor register perkara 102/SK/2013/PN.Cms. Penulis memilih untuk membahas perkara tersebut sebagai salah satu bahan analisis untuk mengetahui perihal pembuktian dan pertanggungjawaban pidana pelaku Tindak Pidana Lingkungan Hidup. Perkara ini
merupakan perkara yang menggabungkan (voeging) dakwaan terhadap para
Terdakwa dalam perkara yang sama, yakni Terdakwa orang perorangan (Direktur PT Albasari Priangan Lestari) dan badan hukum (dalam hal ini PT Albasi Priangan Lestari). Hal ini juga menjadi salah satu alasan Penulis memilih perkara ini untuk dianalisis, agar lebih mudah dan terarah dalam pembahasannya.
Alasan Penuntut Umum menggabungkan dakwaan Terdakwa I dan Terdakwa II adalah karena tindak pidana yang didakwakan adalah sama, dan
dalam locus maupun tempus yang juga sama. Pasal yang digunakan untuk
mendakwa Terdakwa I (subjek hukum perorangan) adalah Pasal 100 ayat (1) dan ayat (2) jo. Pasal 116 ayat (1) huruf b UUPPLH sebagai orang yang bertindak memimpin kegiatan perusahaan telah melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, atau baku mutu gangguan; dan terhadap Terdakwa II (subjek hukum badan hukum) didakwa dengan Pasal 100 ayat (1) dan ayat (2) jo. Pasal 116 ayat (1) huruf a UUPPLH melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi atau baku mutu gangguan.
Pada putusan akhir nomor 155/Pid.Sus/2013/PN.Cms, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ciamis menjatuhkan putusan pemidanaan terhadap Terdakwa I berupa pidana penjara selama lima bulan dengan syarat tidak melakukan tindak pidana selama tujuh bulan, dan terhadap Terdakwa II berupa pidana denda sebesar Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) subsidair pidana kurungan selama satu bulan. Sebagai penyelesaian perkara, putusan hanya
mengikat para pihak atau terhukum saja.9 Namun, membaca putusan tidak cukup
hanya membaca amarnya saja, tetapi pertimbangan mengenai duduk perkaranya dan pertimbangan hukumnya tidak kurang pentingnya untuk dibaca, karena peristiwa konkrit merupakan dasar penemuan hukum yang harus diterjemahkan dalam bahasa hukum, kemudian dicarikan hukumnya dan akhirnya diputuskan.
Penuntut Umum selanjutnya menempuh upaya hukum banding terhadap putusan tersebut. Putusan banding nomor 344/Pid.Sus/2013/PT.Bdg pada pokoknya memperbaiki putusan PN Ciamis mengenai pemberatan pemidanaan kepada para terdakwa, sehingga terhadap Terdakwa I dijatuhkan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan pidana denda sebanyak Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 4 (empat) bulan. Sedangkan terhadap Terdakwa II dijatuhkan pidana denda sebanyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak di bayar maka sebagian asset/harta Terdakwa II disita dan dijual lelang untuk sekedar cukup membayar jumlah denda dimaksud. Selain itu, terhadap Terdakwa II dijatuhkan pula pidana tambahan sebagai berikut:
(1) Memperbaiki kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga air limbah yang dibuang ke media lingkungan sudah memenuhi ketentuan baku mutu;
(2) Memeriksa kadar parameter baku mutu alir limbah cair secara periodik, sekurangnya sekali dalam sebulan atas biaya perusahaan pada laboratorium rujukan;
(3) Menyampaikan laporan tentang debit harian kadar parameter baku mutu limbah cair, produksi dan atau bahan baku bulanan senyatanya, sekurang-kurangnya tiga bulan sekali kepada Walikota Banjar dengan tembusan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Dalam penegakan hukum pidana, proses pemeriksaan di pengadilan adalah merupakan puncak acara pada proses peradilan pidana di tingkat pertama, di mana hakim bertugas meneliti fakta yang terjadi sepanjang yang dituduhkan terhadap
terdakwa, saksi-saksi, dan barang bukti.10 Dasar dari pemeriksaan perkara tindak
pidana di sidang pengadilan adalah dakwaan penuntut umum, artinya dalam mengadili terdakwa, pembuktian dan fakta-fakta di persidangan yang menentukan pelaku tindak pidana dianggap bersalah sebagaimana didakwakan penuntut
umum.11 Penegak hukum dalam hal ini hakim yang kemudian menilai bagaimana
pembuktian suatu tindak pidana lingkungan hidup dapat memberikan keyakinan
bagi hakim bahwa Terdakwa bertanggung jawab atas tindak pidana tersebut.12
Berdasarkan hal inilah Penulis tertarik untuk meneliti mengenai pembuktian tindak pidana lingkungan hidup dan pertanggungjawaban pelaku tindak pidana lingkungan hidup, dan secara kasuistis dalam perkara tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dalam penulisan hukum ini, Penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pembuktian perkara pidana terhadap pelaku tindak pidana
lingkungan hidup dalam perkara dengan nomor register
102/SK/2013/PN.Cms?
10
Etty Utju R. Koesoemahatmadja, 2011, Hukum Korporasi, Ghalia Indonesia, Bogor, hlm. 127
11Ibid., hlm. 136
12 Lilik Mulyadi, 2012, Bunga Rampai Hukum Pidana Umum dan Khusus Dalam Teori dan
2. Bagaimana pertanggungjawaban pidana yang dibebankan pada pelaku tindak pidana lingkungan hidup dalam perkara tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan hukum ini tujuan yang hendak dicapai dibagi atas dua bagian, yakni tujuan objektif dan tujuan subjektif. Adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Objektif
Secara objektif berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dengan menjawab permasalahan dalam penelitian ini:
a. untuk mengetahui pembuktian perkara pidana terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dalam perkara dengan nomor register 102/SK/2013/PN.Cms; dan
b. untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana yang dibebankan pada pelaku tindak pidana lingkungan hidup dalam perkara tersebut.
2. Tujuan Subjektif
Secara subjektif Penulis, diadakannya penelitian ini adalah untuk memenuhi kewajiban akademik sebagai bagian dari persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
D. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan Penulis, masalah yang diteliti dalam penulisan hukum ini belum pernah diteliti oleh peneliti lain yang terdahulu. Adapun penulis terdahulu
yang juga membahas mengenai Tindak Pidana Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut:
1. Andhy Yanto Herlan, 2004, Tesis dengan judul “Dakwaan Terhadap Pelaku
Tindak Pidana Korporasi di Bidang Lingkungan Hidup”13
Dalam penelitian tersebut masalah yang dibahas adalah mengenai dakwaan terhadap pelaku tindak pidana korporasi di bidang lingkungan hidup, bagaimana kesulitan yang dihadapi, serta cara yang diambil oleh aparat penegak hukum untuk mengatasinya.
Kesimpulannya adalah berdasarkan hasil penelitian, tingkat kesulitan dalam proses pembuktian tindak pidana korporasi di bidang lingkungan hidup terjadi karena sifat komprehensif integral dari hukum lingkungan yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin ilmu, serta semakin kompleksnya perkembangan pola kejahatan lingkungan hidup. Untuk mengatasi persoalan tersebut, aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana tidak hanya harus bersikap tegas dalam penegakan hukum atas pelanggaran lingkungan hidup, namun juga harus dibarengi dengan peningkatan keprofesionalannya dalam melaksanakan setiap pekerjaannya.
Hal yang membedakan dengan penelitian tersebut adalah penelitian ini fokus pada pembahasan secara kasuistis mengenai pembuktian perkara tindak pidana lingkungan hidup dan pertanggungjawaban pidana pada pelaku dalam perkara tersebut.
13 Andhy Yanto Herlan, 2004, “Dakwaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korporasi di Bidang
Lingkungan Hidup”, Tesis, Program Pasca Sarjana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.
2. Endang Sri Lestari, 2016, Tesis dengan judul “Pertanggungjawaban Pidana
Korporasi dalam Perkara Tindak Pidana Lingkungan Hidup”14
Dalam penelitian tersebut masalah yang dibahas adalah mengenai penentuan pertanggungjawaban pidana korporasi sehingga pelaku korporasi dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana dalam perkara tindak pidana lingkungan hidup, dan pengaturan yang seharusnya mengenai pertanggungjawaban pidana
korporasi dalam perkara tindak pidana lingkungan hidup dimasa mendatang (ius
constituendum).
Kesimpulannya adalah penentuan pertanggungjawaban pidana korporasi yang melakukan tindak pidana lingkungan hidup dapat menggunakan teori atau doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi dengan kesalahan sebagai syarat dapat ditentukannya pertanggungjawaban pidana korporasi. Prospek pengaturan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam perkara tindak pidana lingkungan hidup dalam KUHP. Selain itu, dibuatkan secara khusus dalam peraturan perundang-undangan lingkungan hidup, dengan pengistilahan korporasi sebagai subyek tindak pidana, pemberian formulasi penegakan hukum pidana yang lebih bersifat primum remedium dengan menerapkan system multidoor, penggunaan teori atau doktrin strict liability untuk kasus tertentu dan pemberian sanksi pemidanaan korporasi yang memberikan kemanfaatan bagi lingkungan hidup.
Hal yang membedakan dengan penelitian tersebut adalah penelitian ini fokus pada pembahasan secara kasuistis mengenai pembuktian perkara tindak
14 Endang Sri Lestari, 2016, “Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Perkara Tindak Pidana
Lingkungan Hidup”, Tesis, Program Studi Magister Ilmu Hukum Kampus Jakarta - Konsentrasi Hukum Litigasi, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
pidana lingkungan hidup dan pertanggungjawaban pidana pada pelaku dalam perkara tersebut.
E. Kegunaan Penelitian
Faedah yang diharapkan dari penelitian dalam penulisan hukum ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Kegunaan Akademis
Untuk perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan berguna dalam hal:
a. Penulisan ini merupakan salah satu sarana bagi penulis untuk mempelajari
aspek-aspek ilmu hukum, terutama dalam bidang hukum pidana lingkungan.
b. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih bagi ilmu
pengetahuan di bidang hukum pada umumnya dan secara khusus mengenai pembuktian perkara dan pertanggungjawaban pidana pada pelaku tindak pidana lingkungan hidup.
2. Kegunaan Praktis
Untuk penegakan hukum pidana, penelitian ini diharapkan berguna sebagai:
a. Rekomendasi bagi pemerintah untuk mewujudkan regulasi yang baik terkait
penegakan hukum pidana di bidang lingkungan di Indonesia, dan sebagai rekomendasi dalam mewujudkan pedoman pembangunan yang ramah
lingkungan secara berkelanjutan (sustainable).
b. Penulisan ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat untuk menambah
wawasan mengenai kondisi penegakan hukum pidana lingkungan di Indonesia dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup di daerah setempat, serta diharapkan terjalin koordinasi maupun kerjasama yang baik antara pemerintah maupun aparat penegak hukum dengan pemangku kepentingan seperti pengusaha dan masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.