• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep, Kajian dan Kebijakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Konsep, Kajian dan Kebijakan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAYA SAING DAERAH

KONSEP, KAJIAN DAN KEBIJAKAN

(3)

Copyright © 2016 Penulis: Rina Indiastuti

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau meperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit

Cetakan ke-1, Agustus 2016 Diterbitkan oleh Unpad Press Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Lantai IV

Jl. Ir. Soekarno KM 21 Bandung 45363 Telp. (022) 84288867/ 84288812

Fax : (022) 84288896

e-mail: press@unpad.ac.id /press@unpad.ac.id http://press.unpad.ac.id

Anggota IKAPI dan APPTI Tata Letak: Yodi Izharivan Fitria Purnama Sari

Desainer Sampul: Becky Yubiliasrini

Perpustakaan Nasional: Katalag Dalam Terbitan (KDT) Rina Indiastuti

Daya Saing Daerah: Konsep, Kajian dan Kebijakan/ Rina Indiastuti -- Cet. I – Bandung; Unpad Press; 2016

xvi + 188 hlm.; 17,6 x 25 cm ISBN 978-602- 6308-26-9

I . Daya Saing Daerah: Konsep, Kajian dan Kebijakan II. Rina Indiastuti

(4)

LLL

35$.$7$

3HPHULQJNDWDQ GD\D VDLQJ QHJDUD GDHUDK GDQ LQGXVWUL UXWLQ GLODNXNDQ ROHK OHPEDJD GXQLD EHUHSXWDVL ,QWHJUDVL HNRQRPL GDQ SDVDU WHUXV EHUODQJVXQJ VHMDODQ GHQJDQ SHUVDLQJDQ \DQJ PHQLQJNDW $UWLQ\D SHPEDQJXQDQ GD\D VDLQJ PHQMDGL VDQJDW SHQWLQJ XQWXN PHQGDSDWNDQ EHQHÀW \DQJ EHUXMXQJ SDGD SHQLQJNDWDQ NHPDNPXUDQ EDQJVD (IHNWLI WDKXQ ,QGRQHVLD PHQJKDGDSL SHUGDJDQJDQ EHEDV LQWHUQDVLRQDO WLQJNDW $6($1 DWDX 0($ %HUGDVDUNDQ*OREDO &RPSHWLWLYHQHVV 5HSRUW WLQJNDW GD\D VDLQJ ,QGRQHVLD PHQHPSDWL SHULQJNDWGDULQHJDUDDWDXSHULQJNDWGL$6($17KH$VLD &RPSHWLWLYHQHVV ,QVWLWXWH$&,PHQJXNXUGDQPHPEDQGLQJNDQGD\DVDLQJGDHUDKSURYLQVLGL$VLD GDQ EHUGDVDUNDQ ODSRUDQ WDKXQ XQWXN ,QGRQHVLD PHQHPSDWNDQ '., -DNDUWD VHEDJDLXUXWDQSHUWDPDGLLNXWLROHK-DZD7LPXU.DOLPDQWDQ7LPXU-DZD7HQJDK GDQ -DZD %DUDW 'L ,QGRQHVLD /3( )DNXOWDV (NRQRPL 8QLYHUVLWDV 3DGMDGMDUDQ SHUQDKPHODNXNDQSHPHWDDQGD\DVDLQJNDEXSDWHQNRWDSDGDWDKXQ

8NXUDQ GD\D VDLQJ \DQJ GLJXQDNDQ 81,'2 \DLWX SHUWXPEXKDQ SURGXNWLYLWDV PHPDQJ SHQWLQJ QDPXQ WLGDN FXNXS 8NXUDQ SURGXNWLYLWDV WHWDS GLJXQDNDQNDUHQDGDSDWPHQJXNXUGD\DVDLQJGDULVLVLSHPDQIDDWDQVXPEHUGD\D \DQJ GLWUDQVIRUPDVLNDQ VHFDUD HÀVLHQ PHQMDGL RXWSXW 6HODLQ VLVL SHPDQIDDWDQ VXPEHU GD\D DWDX LQSXW XNXUDQRXWFRPH DWDV WXPEXKQ\D GD\D VDLQJ MXJD KDUXV GLSHUKDWLNDQ XQWXN PHUHSUHVHQWDVLNDQ WHUMDGLQ\D GLQDPLND SHPEDQJXQDQ \DQJ EHUNXDOLWDVGDODPDUWLEHUGDPSDNWHUKDGDSSHQLQJNDWDQNHVHMDKWHUDDQPDV\DUDNDW ORNDO %XNX LQL PHPEHULNDQ SHQJD\DDQ DWDV SHQJXNXUDQ GD\D VDLQJ VHFDUD NRPSRVLW \DQJ PHQFDNXS SURGXNWLYLWDV SURVHV SHQJHPEDQJDQ GD\D VDLQJ GDQ RXWFRPHSHPEDQJXQDQGD\DVDLQJ

0DWHUL SDGD EXNXLQL GLKDUDSNDQ GDSDW PHPEHULNDQ SHPDKDPDQ WHQWDQJ SHQGHNDWDQ SHQJHPEDQJDQ GD\D VDLQJ GDHUDK 3ULQVLS XWDPD DGDODK SDUD SHODNX XVDKD KDUXV PDPSX PHODNXNDQ RSWLPDVL DWDV DJUHJDVL HÀVLHQVL LQWHUQDO GDQ HNVWHUQDO \DQJ GLKDVLONDQ GDUL LQWHUDNVL SHODNX XVDKD GHQJDQ SHPLOLN IDNWRU SURGXNVLSDVDUGDQNHELMDNDQSHPHULQWDK3HQXPEXKDQGD\DVDLQJPHQJJXQDNDQ SHUVSHNWLI EDUX \DLWX WLJD SLODU DQWDUD ODLQ SLODU SHQJHORODDQ IDNWRU SURGXNVL SLODUNXDOLWDVGDQSURVHVGDQSLODURXWFRPHGD\DVDLQJ

3URGXNWLYLWDV GDQ HÀVLHQVL SHUXVDKDDQ PHUXSDNDQ NLQHUMD SHQJHORODDQ IDNWRUSURGXNVLGLWHQWXNDQEXNDQVDMDROHKNHPDPSXDQLQWHUQDOSHUXVDKDDQGDODP PHQJKDVLONDQ EDUDQJ GDQ MDVD VHFDUD HÀVLHQ PHODLQNDQ MXJD GLGXNXQJ ROHK UHDOLVDVL NHPDPSXDQ GDHUDK GDODP PHQFLSWDNDQ HÀVLHQVL HNVWHUQDO 3HPDQJNX NHSHQWLQJDQGLNDEXSDWHQNRWDGDQSURYLQVLSHUOXPHPDKDPLIDNWRUVXNVHVXQWXN

(5)

meningkatkan dan memberlanjutkan daya saing pelaku usaha dan industri unggulan daerah untuk tujuan pertumbuhan perusahaan dan kemakmuran masyarakat. Untuk menghadapi tekanan persaingan global dan praktik integrasi pasar, dibutuhkan penjalinan jaringan dan kerjasama (networking and partnership) yang dilakukan bukan hanya oleh perusahaan, melainkan juga oleh pemerintah.

Peningkatan daya saing bagi perusahaan atau industri di pasar global sama dengan kemampuan menawarkan harga yang bersaing dan direspon oleh meningkatnya penjualan. Tren penurunan harga produk industri di pasar global menjadi tantangan perusahaan domestik dan lokal untuk sepakat meningkatkan daya saing. Pembelajaran yang diperoleh adalah kemampuan untuk meningkatkan produksi belum cukup mampu menumbuhkan daya saing. Menumbuhkan daya saing perusahaan dan industri harus disertai oleh penguatan dan sektor pendukung, yaitu teknologi, manajemen, pendidikan, riset, dan inovasi. Intinya, penciptaan daya saing merupakan penciptaan nilai tambah yang tinggi bersumber dari kegiatan produksi dan kegiatan pendukungnya yang menelusuri rantai value (value chain).

Mengingat besarnya ukuran pasar domestik Indonesia sehingga menjadi sasaran produk asing, peningkatan daya saing secara jelas ditujukan agar mampu bersaing di pasar domestik sekaligus di pasar global. Guna akselerasi, diperlukan kebijakan dan intervensi pemerintah terutama pada proses akumulasi human capital melalui pendidikan, pelatihan, dan etos kerja. Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota seyogyanya memfasilitasi terjadinya upgrading skala usaha, peningkatan produktivitas, promosi produk unggulan, iklim usaha yang kondusif dan persaingan yang sehat, serta peningkatan pendapatan masyarakat dan negara. Permasalahan dalam pengembangan daya saing daerah perlu segera disolusikan. Daerah sebagai penyedia sumber daya alam harus memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah yang terus tumbuh. Aliran investasi domestik dan asing dibutuhkan untuk perbesaran skala produksi. Kinerja pertumbuhan produktivitas, ekspor, investasi, dan human capital menjadi indikator daya saing yang harus terus ditingkatkan. Efeknya terhadap pertumbuhan ekonomi, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat menjadi kinerja daya saing daerah. Pembangunan daya saing memiliki dimensi ekonomi dan sosial.

Kebijakan penumbuhan daya saing yang terus berlanjut fokus pada peningkatan nilai tambah berbasis peningkatan produktivitas dan channel value dari-dan ke global. Transmisinya akan meningkatkan dan mendistribusikan value tersebut berupa pendapatan bagi pekerja, pemilik modal, serta pajak dan devisa bagi pemerintah. Jaringan global menjadi penjamin pertumbuhan dan pendalaman daya saing yang harus direalisasikan oleh perusahaan dan pemerintah. Mengingat pemerintah juga menikmati peningkatan pajak akibat pertumbuhan daya saing, maka kebijakan fiskal dan kebijakan ketenagakerjaan harus pro-daya saing.

(6)

v Organisasi buku terdiri atas 3 bagian yang meliputi 10 bab. Bagian pertama mendiskusikan konsep, pengukuran, dan model daya saing daerah. Pemahaman konsep menggunakan perspektif teori ekonomi mikro agar dapat memahami bahwa pembangunan daya saing harus melibatkan pelaku usaha dan pihak-pihak pemangku kepentingan. Pembahasan faktor penentu daya saing dimulai dengan melakukan kajian atas hasil pengukuran yang dilakukan oleh beberapa lembaga internasional, regional, dan nasional bereputasi. Telaah teoritis dan praktik menjadi dasar penyusunan model daya saing daerah. Bagian ke-dua melaporkan sintesis atas kajian terhadap daya saing daerah Jawa Barat. Kajian dilakukan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif untuk memformulasikan kerangka pembangunan daya saing daerah Jawa Barat. Jenis data, metode, dan determinan daya saing daerah Jawa Barat dapat digunakan untuk aplikasi model daya saing di daerah lain. Hasil kajian digunakan untuk formulasi strategi dan kebijakan yang dibahas pada bagian ke-tiga.

Hasil kajian empiris terhadap daya saing daerah mampu memetakan kekuatan dan kelemahan setiap daerah. Secara geografis, daerah yang lokasinya dekat dengan Jakarta tumbuh lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya, dimana daerah tersebut telah berkembang menjadi daerah industri sekaligus jasa. Daerah ini menjadi tujuan investasi domestik dan asing serta perbankan. Kota Bandung sebagai ibukota memang mempunyai daya saing relatif tinggi, namun sayangnya belum memberikan efek sebar yang positif terhadap daerah sekitarnya. Bagian selatan mempunyai karakteristik ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian. Di daerah tersebut, tanaman bahan makanan menjadi unggulan. Daya saing seyogyanya dibangun menyesuaikan pada struktur ekonomi dan ketersediaan infrastruktur. Contoh, infrastruktur jalan tol Cipularang yang diteruskan ke Cirebon lewat tol Cipali akan memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah bagian timur, terutama Cirebon dan sekitarnya.

Analisis terhadap model daya saing daerah membawa implikasi dibutuhkannya strategi dan kebijakan pembangunan daerah berbasis penumbuhan daya saing yang berproses secara dinamis dan berkelanjutan. Pendekatan pembangunan ini sangat dibutuhkan mengingat perkembangan ekonomi global yang berjalan semakin tidak seimbang. Selain mencapai sasaran berupa ukuran peningkatan produktivitas atau perbaikan efisiensi, hal penting lain adalah memberikan perhatian terhadap kualitas proses pembangunan daya saing dan transformasi pembangunan yang lebih dinamis sejalan dengan pertumbuhan pendapatan per-kapita, inklusivitas, dan kebijakan upah yang efektif. Kreasi nilai yang progresif dan ekspansif, penumbuhan daya saing yang berkelanjutan, dan partnership berupa sinergi antar pelaku baik di dalam maupun antar daerah menjadi arah pembangunan sekaligus penumbuhan daya saing daerah.

(7)

Akhir kata, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang dalam kepada saudara Fitria Purnama Sari yang telah sangat membantu dalam penyelesaian buku ini. Buku ini dipersembahkan untuk pengayaan pengetahuan para civitas akademika Universitas Padjadjaran dan pihak-pihak yang sedang giat membangun daya saing daerah. Penulis sangat terbuka untuk menerima saran perbaikan untuk penyempurnaan buku edisi berikutnya.

Agustus, 2016 Rina Indiastuti

(8)

vii

DAFTAR ISI

PRAKATA III

BAGIAN I KONSEP, PENGUKURAN, DAN MODEL 1 BAB 1 KONSEP DAYA SAING 2 1.1 PERSPEKTIF EKONOMI MIKRO TENTANG DAYA SAING 3

PENGELOLAAN DAYA SAING 4

PENDEKATAN PEMBANGUNAN DAYA SAING 8

1.2 REVIEW KONSEP DAYA SAING 10 1.3 KERANGKA PEMBANGUNAN DAYA SAING DAERAH 15 DAFTAR PUSTAKA 19 BAB 2 PRAKTIK PENGUKURAN DAYA SAING 23 2.1.PENGUKURAN DAYA SAING NEGARA SECARA GLOBAL 23

2.2.PENGUKURAN DAYA SAING DAERAH 26

2.2.1.PENGUKURAN DAYA SAING PROVINSI SECARA REGIONAL 26 2.2.2PENGUKURAN DAYA SAING EKONOMI KABUPATEN/KOTA SECARA NASIONAL 28

2.3.PENGUKURAN DAYA SAING INDUSTRI SECARA GLOBAL 30 DAFTAR PUSTAKA 32 BAB 3 MODEL DAYA SAING DAERAH 33 3.1RELEVANSI UKURAN DAYA SAING DAERAH 33 3.2.PERSPEKTIF BARU:PILAR DAYA SAING DAERAH 35 DAFTAR PUSTAKA 37 BAGIAN II KAJIAN EMPIRIS DAYA SAING JAWA BARAT 39 4.1BAB 4 DINAMIKA PEMBANGUNAN EKONOMI JAWA BARAT PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI 42 42

(9)

4.1.1KINERJA PERTUMBUHAN SEKTORAL 43 4.1.2DOMINASI INDUSTRI PENGOLAHAN 44

4.1.3DIVERSIFIKASI EKONOMI 46 BOX 1 TRANSFORMASI MELALUI DIVERSIFIKASI EKONOMI DI DAERAH PERTANIAN 49

4.2PENGGERAK KEGIATAN EKONOMI 52

4.2.1SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI 52 4.2.2POSISI DAN PERANAN SUB-SEKTOR DAN INDUSTRI 56

4.2.3PERANAN PEMBIAYAAN PERBANKAN 59 BOX 2 DETERMINAN FINANCIAL DEEPENING DI DAERAH 63

DAFTAR PUSTAKA 64

BAB 5 POTRET DAYA SAING EKONOMI DAERAH 66

5.1UKURAN DAYA SAING EKONOMI DAERAH 66

5.1.1PERTUMBUHAN PRODUKTIVITAS 66

5.1.2ALIRAN INVESTASI 71

5.1.3 KINERJA EKSPOR 73

5.2PENCIPTAAN DAN PENGEMBANGAN KEUNGGULAN 75

5.2.1PENETAPAN INDUSTRI UNGGULAN 75 5.2.2PENGUATAN PELAKU USAHA 77 5.2.3SKALA EKONOMI MELALUI AGLOMERASI INDUSTRI 81

BOX 3HASIL REGRESI AGLOMERASI INDUSTRI JAWA BARAT 89

DAFTAR PUSTAKA 90

BAB 6 PERSPEKTIF BARU PENUMBUHAN DAYA SAING JAWA BARAT 92 6.1PILAR PENGELOLAAN FAKTOR PRODUKSI 92

6.1.1PRODUKTIVITAS 93

6.2PILAR KUALITAS PROSES DAN OUTPUT 97

6.2.1PENDAPATAN PER-KAPITA 98

6.2.2HUMAN CAPITAL 98

6.2.3STRUKTUR PRODUKSI DAN DIVERSIFIKASI 100 6.2.4STRUKTUR EKSPOR DAN RCA 104 6.2.5RISET DAN INOVASI PERUSAHAAN 106 6.2.6ALIRAN INVESTASI DAN PEMBIAYAAN 107 6.2.7INFRASTRUKTUR JALAN 109

6.3PILAR OUTCOME 109

6.3.1KUALITAS PEMBANGUNAN MANUSIA 110 6.3.2APBDPER-KAPITA 110

6.3.3KETIMPANGAN 112

6.3.4KEMISKINAN 113

6.3.5PENGANGGURAN 113

(10)

ix

DAFTAR PUSTAKA 118

BAB 7 DETERMINAN DAN PEMETAAN DAYA SAING KABUPATEN/KOTA 119 7.1DETERMINAN DAYA SAING EKONOMI DAERAH 119

7.1.1ANALISIS FAKTOR PENJELAS DAYA SAING 119

7.2PEMETAAN DAYA SAING EKONOMI KABUPATEN/KOTA 125 7.3PERKEMBANGAN DAYA SAING EKONOMI DAERAH 128 BOX 4PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA 130

DAFTAR PUSTAKA 131

BAB 8 PROSPEK PERTUMBUHAN DAYA SAING DAERAH JAWA BARAT 137

8.1LESSON LEARNED 137

8.2PROSPEK 141

8.3FOKUS INDUSTRI/SUBSEKTOR UNGGULAN 151

BAGIAN III STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENUMBUHAN DAYA SAING DAERAH 158

BAB 9 STRATEGI PENUMBUHAN DAYA SAING DAERAH 159

9.1SKALA DAN SKOP EKONOMIS INDUSTRI UNGGULAN 159

9.1.1PENINGKATAN SKALA EKONOMI MELALUI AGLOMERASI INDUSTRI 161

9.2KREASI NILAI TAMBAH DAN KEBERLANJUTAN 163

9.2.1 KETERKAITAN EKONOMIS DAN RANTAI NILAI 164

9.2.2 RANTAI PASOK PEMBIAYAAN 167 9.2.3 MEMBANGUN KEUNGGULAN KOMPETITIF MELALUI PARTNERSHIP 169

DAFTAR PUSTAKA 170

BOX 5KETERKAITAN EKONOMIS DAN RANTAI NILAI PERDAGANGAN 175 BOX 6PRODUKTIVITAS PEMBIAYAAN PERBANKAN DI JAWA BARAT 178

BAB 10 KEBIJAKAN PENUMBUHAN DAYA SAING DAERAH 180 10.1KEBIJAKAN YANG SUDAH DITERAPKAN 180 10.2KEBIJAKAN YANG DIBUTUHKAN 182 GLOSARIUM 184

Lampiran 1 Dokumen Perencanaan dan Prospek Produksi di Jawa Barat 133 Lampiran 2 Operasionalisasi Variabel Daya Saing 135

Lampiran 3 Rantai Pasok 172 Lampiran 4 Keterkaitan Ekonomis dan Rantai Nilai Perdagangan 175 Lampiran 5 Produktivitas Pembiayaan Perbankan di Jawa Barat 178

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Indikator dari Pilar Daya Saing Global Competitiveness Index ... 24

Tabel 2.2 Daya Saing Negara ASEAN secara Global ... 26

Tabel 2.3 Ukuran Daya Saing Regional ... 27

Tabel 2.4 Peringkat Daya Saing Provinsi secara Regional ... 27

Tabel 2.5 Indikator-Indikator Pembentuk Daya Saing Daerah ... 28

Tabel 2.6 Peringkat Daya Saing Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Barat secara Nasional .. 30

Tabel 2.7 Daya Saing Industri Negara ASEAN secara Global ... 31

Tabel 2.8 Daya Saing Industri Negara ASEAN secara Global ... 31

Tabel 3.1 Ukuran Daya Saing Nasional/Daerah... 34

Tabel 3.2 Ukuran Daya Saing Industri ... 34

Tabel 4.1. Penurunan Share Peranan Industri Pengolahan di Daerah Industri ... 45

Tabel 4.2 Indeks Entropy, 2013 ... 48

Tabel 4.3 Hasil Regresi Diversifikasi Ekonomi Daerah Pertanian ... 51

Tabel 4.4 Konsentrasi 10 Kabupaten/Kota Terhadap PDRB Jawa Barat (%) ... 54

Tabel 4.5 Share dan Pertumbuhan sub-sektor dengan Tingkat Pertumbuhan di atas Jawa Barat ... 56

Tabel 4.6 Share dan Pertumbuhan sub-sektor dengan Tingkat Pertumbuhan di bawah Jawa Barat ... 57

Tabel 4.7 Share dan Rata-Rata Pertumbuhan Sub-Sektoral Jawa Barat, dengan share kurang dari dua persen 2010-2014 ... 58

Tabel 4.8 Hasil Regresi Determinan Financial Deepening Jawa Barat ... 64

Tabel 5.1 Produktivitas Tenaga Kerja, 2008-2012 ... 67

Tabel 5.2 Share Nilai tambah Industri Jawa Barat dan Indeks LQ Industri, 2008-2012 ... 69

Tabel 5.3 Realisasi Investasi Sektoral Jawa Barat, 2007-2014 ... 72

Tabel 5.4 Tren Diversifikasi Ekspor Non-Migas Jawa Barat, 2010-2014 ... 74

Tabel 5.5 Ekspor Neto Non-Migas (berdasar pertumbuhan positif), 2012-2014 ... 75

Tabel 5.6 Share PDRB sub-Sektor Unggulan Jawa Barat ... 76

Tabel 5.7 Jumlah Unit Usaha Berdasarkan Skala Usaha, Jawa Barat ... 79

Tabel 5.8 Jumlah Tenaga Kerja Berdasarkan Skala Usaha, Jawa Barat ... 79

Tabel 5.9 Kelompok Industri Manufaktur yang Cenderung Terpusat ... 83

Tabel 5.10 Kelompok Industri Manufaktur yang Cenderung Menyebar ... 84

Tabel 5.11 Distribusi Spasial Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat, 2008-2012 ... 85

Tabel 5.12 Konsentrasi Geografi untuk Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat ... 86

Tabel 5.13 Hasil Regresi Aglomerasi Industri terhadap Produktivitas ... 89

(12)

[L dĂďĞůϲ͘Ϯ/ŶĚĞŬƐ,ĂƌŐĂd<ĚĂŶKƵƚƉƵƚ^ĞŬƚŽƌĂů:ĂǁĂĂƌĂƚ͕ϮϬϭϬ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϭϲ dĂďĞůϳ͘ϭWŝůĂƌWĞŵďĂŶŐƵŶĂŶĂLJĂ^ĂŝŶŐ<ĂďƵƉĂƚĞŶͬ<ŽƚĂ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϭϵ dĂďĞůϳ͘Ϯ,ĂƐŝůŶĂůŝƐŝƐ&ĂŬƚŽƌƚĞƌŚĂĚĂƉĞƚĞƌŵŝŶĂŶĂLJĂ^ĂŝŶŐ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϭϵ dĂďĞůϳ͘ϯ,ĂƐŝůŶĂůŝƐŝƐ&ĂŬƚŽƌƚĞƌŚĂĚĂƉĞƚĞƌŵŝŶĂŶĂLJĂ^ĂŝŶŐ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϮϭ dĂďĞůϳ͘ϰWĞƌŝŶŐŬĂƚ/ŶĚĞŬƐ<ŝŶĞƌũĂĂLJĂ^ĂŝŶŐϮϬϭϬͲϮϬϭϰ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϮϳ dĂďĞůϳ͘ϱ&ĂŬƚŽƌWĞŶĚŽƌŽŶŐĂLJĂ^ĂŝŶŐDĞůĞŬĂƚWĞƌ ͲĂĞƌĂŚ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϮϴ dĂďĞůϳ͘ϲ,ĂƐŝůZĞŐƌĞƐŝĞƚĞƌŵŝŶĂŶWƌŽĚƵŬƟǀŝƚĂƐdĞŶĂŐĂ<ĞƌũĂ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϮϵ dĂďĞůϴ͘ϭŶŐŬĂƚĂŶ<ĞƌũĂĚĂŶ:ƵŵůĂŚdĞŶĂŐĂ<ĞƌũĂ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϰϭ dĂďĞůϴ͘Ϯ<ĞŵĂŵƉƵĂŶWĞŶĐŝƉƚĂĂŶ<ĞƐĞŵƉĂƚĂŶ<ĞƌũĂ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϰϮ dĂďĞůϴ͘ϯ:ƵŵůĂŚhŶŝƚhƐĂŚĂĞƐĂƌ͕DĞŶĞŶŐĂŚ͕ĚĂŶ<ĞĐŝů͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϰϰ dĂďĞůϴ͘ϰWĞŶĚĂƉĂƚĂŶƉĞƌͲ<ĂƉŝƚĂĂĞƌĂŚ͕ϮϬϭϬͲϮϬϭϰ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϰϱ dĂďĞůϴ͘ϱDĂƚƌŝŬƐ^ĂƐĂƌĂŶ^ƚƌĂƚĞŐŝƐWĞŵďĂŶŐƵŶĂŶĂLJĂ^ĂŝŶŐĂĞƌĂŚ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϰϵ dĂďĞůϴ͘ϲ^ƵďƐĞŬƚŽƌWƌŝŽƌŝƚĂƐWĞŶŐŐĞƌĂŬWĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶ:ĂǁĂĂƌĂƚďĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶdĂďĞů/ŶƉƵƚ KƵƚƉƵƚϮϬϭϬ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϱϭ dĂďĞůϴ͘ϳ<ŝŶĞƌũĂĂLJĂ^ĂŝŶŐ/ŶĚƵƐƚƌŝhŶŐŐƵůĂŶ:ĂǁĂĂƌĂƚ͕ϮϬϭϰ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϱϮ dĂďĞůϴ͘ϴ^ƵďƐĞŬƚŽƌWƌŝŽƌŝƚĂƐ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϱϮ dĂďĞůϴ͘ϵ<ŽŵŽĚŝƚĂƐŬƐƉŽƌhƚĂŵĂ:ĂǁĂĂƌĂƚ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϱϯ dĂďĞůϴ͘ϭϬ^ĞďĂƌĂŶ^ƵďƐĞŬƚŽƌhŶŐŐƵůĂŶ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϱϱ dĂďĞůϵ͘ϭ^ƵŵďĞƌ<ĞƵŶŐŐƵůĂŶĞƌƐĂŝŶŐWĞŶĚŽƌŽŶŐ<ŽůĂďŽƌĂƐŝĚĂŶ<ĞƌũĂ ƐĂŵĂ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϲϴ dĂďĞů>͘ϭǀĂůƵĂƐŝ<ŝŶĞƌũĂ<ƌĞĚŝƚĚĂŶEŝůĂŝdĂŵďĂŚŬŽŶŽŵŝƉĂĚĂ^ĞŬƚŽƌWƌŝŽƌŝƚĂƐΎĚŝ:ĂǁĂ ĂƌĂƚ͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘͘ϭϳϳ

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Tingkat Produktivitas ... 5

Gambar 1.2 Skala Ekonomi dan Learning ... 6

Gambar 1.3 Model Diamond Porter ... 13

Gambar 2.1 Ukuran Daya Saing berdasar Global Competitiveness Index... 24

Gambar 3.1 Agregasi Daya Saing Industri-Daerah-Negara ... 35

Gambar 3.2 Kerangka Pembangunan Daya Saing ... 36

Gambar 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Jawa Barat (Harga Konstan 2000) ... 43

Gambar 4.2. Komposisi PDRB Sektoral Jawa Barat , 2004-2014 ... 44

Gambar 4.3 Proporsi Investasi PMA/PMDN di Jawa Barat, 2010-2014 ... 45

Gambar 4.4 Hubungan Diversifikasi Ekonomi dan Tingkat Pengangguran Terbuka Beberapa Daerah, 2013 ... 49

Gambar 4.5 Komposisi PDRB Sektoral Daerah Pertanian, 2013... 50

Gambar 4.6 Scatter Plot Pendapatan riil per kapita dan Indeks Entropy Daerah Pertanian, 2010-2014 ... 50

Gambar 4.7 Sumber Pertumbuhan Ekonomi, 2005-2014 ... 53

Gambar 4.8 Sumber Pertumbuhan Ekonomi berdasarkan Pengeluaran, 2006-2013 (Harga Konstan 2000) ... 54

Gambar 4.9 Sumber Pertumbuhan berdasarkan Kabupaten/Kota, Jawa Barat ... 55

Gambar 4.10 Share dan Rata-Rata Pertumbuhan Ekonomi Sub Sektoral, 2010-2014 ... 56

Gambar 4.11 Proporsi Kredit di Jawa Barat, 2010-2014 ... 59

Gambar 4.12 Hubungan Kredit dan Pendapatan, 2014 ... 60

Gambar 4.13 Hubungan DPK per-kapita dan Pendapatan per-kapita (Harga Berlaku, 2014) ... 61

Gambar 4.14 Komposisi Kredit Sektoral, 2014 ... 62

Gambar 5.1 Realisasi Investasi Jawa Barat, 2006-2015... 71

Gambar 5.2 Share Ekspor Komoditas terhadap Total Ekspor Non-Migas Jawa Barat, 2010 -2014 ... 73

Gambar 5.3 Share Ekspor Jawa Barat terhadap Ekspor Nasional untuk Komoditas Sejenis, 2010-2014 ... 74

Gambar 5.4 Proporsi PDRB Kab-Kota ... 76

Gambar 5.5 Share PDRB non-Migas Jawa Barat Menurut Skala Usaha 2012 ... 78

Gambar 5.6 Struktur PDRB non-Migas Sektoral Menurut Skala Usaha Jawa Barat 2011 ... 79

(14)

xiii

Gambar 6.1 Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Jawa Barat, 2005-2014 ...93

Gambar 6.2 Total Factor Productivity Sektoral Jawa Barat ...94

Gambar 6.3 Nilai Tambah Per-Tenaga Kerja Sektoral Jawa Barat ...95

Gambar 6.4 Produktivitas Tenaga Kerja Kab/Kota, Jawa Barat ...96

Gambar 6.5 Pendapatan Per-kapita 2014 dan Pertumbuhan Pendapatan per kapita 2010-2014 (juta Rp) ...97

Gambar 6.6 Indeks Perkembangan Human Capital Kabupaten/kota, relatif terhadap Provinsi Jawa Barat (basis tahun 2010 = 100) ...98

Gambar 6.7 Indeks Pendidikan Kabupaten/Kota, Jawa Barat ...99

Gambar 6.8 Perubahan Struktur Produksi Jawa Barat ...100

Gambar 6.9 Struktur Produksi Industri Pengolahan Jawa Barat ...100

Gambar 6.10 Struktur Produksi Sektor Pertanian, Kehutanan, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten/Kota ...101

Gambar 6.11 Struktur Produksi Sektor Industri Pengolahan Kabupaten/Kota ...102

Gambar 6.12 Struktur Produksi Sektor Perdagangan Besar & Eceran, Hotel, dan Restoran Kabupaten/Kota ...102

Gambar 6.13 Diversifikasi Tenaga Kerja (Indeks Entropy) Jawa Barat ...103

Gambar 6.14 Share Ekspor sub-sektor Industri pengolahan, Jawa Barat ...103

Gambar 6.15 Share Ekspor Sub-Sektor Bahan Baku Pertanian & Binatang Hidup, Jawa Barat ...104

Gambar 6.16 RCA Produk Ekspor yang Berdaya Saing ...105

Gambar 6.17 Riset dan Inovasi Perusahaan Kabupaten/Kota ...105

Gambar 6.18 Realisasi Investasi PMA dan PMDN Jawa Barat, 2008-2015 ...106

Gambar 6.19 Proporsi Realisasi Investasi Sektoral Jawa Barat, 2008-2014 ...107

Gambar 6.20 Pembiayaan Bank untuk Sektoral, Jawa Barat ...107

Gambar 6.21 Rasio Panjang Jalan terhadap Luas Wilayah, 2014 ...108

Gambar 6.22 Indeks Pembangunan Manusia, Kab/Kota ...109

Gambar 6.23 APBD Per-kapita, Kab/Kota...110

Gambar 6.24 Indeks Gini Kabupaten/Kota (Indeks Gini) ...111

Gambar 6.25 Persentase Penduduk Miskin, Kab/Kota ...112

Gambar 6.26 Tingkat Pengangguran Terbuka, Kab/Kota ...113

Gambar 6.27 Proporsi (%) Input terhadap Output, 2010 ...114

Gambar 6.28 Proporsi (%) Input Terhadap Output Industri yang Kompetitif di Pasar ASEAN ...115

Gambar 6.29 Komposisi Nilai Tambah Bruto Sektoral Jawa Barat, 2010 ...117

Gambar 7.1 Determinan Daya Saing Ekonomi Daerah ...123

Gambar 7.2 Pemetaan Daya Saing Kabupaten/Kota 2014 ...124 Gambar 7.3 Pemetaan Variabel Pendorong Daya Saing Ekonomi Kab/Kota 2014 125

(15)

Gambar 7.4 Pemetaan Daya Saing Kabupaten/Kota 2010 ... 126

Gambar 7.5 Pengembangan Daya Saing Daerah ... 128

Gambar 8.1 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan IPM ... 147

Gambar 8.2 Hubungan Human Capital dengan Pendapatan Perkapita ... 147

Gambar 9.1. Hubungan Infrastruktur Kawasan dan Pertumbuhan Industri ... 161

Gambar 9.2 Rantai Pasok Berbasis Industri Makanan & Minuman Jawa Barat ... 165

Gambar 9.3 Rantai Pasok Pembiayaan Berbasis Usaha Tanaman Bahan Makanan ... 167

Gambar 9.4 Rantai Pasok Pembiayaan Berbasis Usaha Peternakan ... 168

Gambar L.1 Rantai Pasok Industri Tekstil, Pakaian Jadi, kulit, dan Alas Kaki Jawa Barat ... 171

Gambar L.2 Rantai Pasok Industri Kimia, Karet, Plastik, dan Barang dari Bahan Kimia Jawa Barat ... 171

Gambar L.3 Rantai Pasok Industri Barang Jadi dari Logam Jawa Barat ... 172

Gambar L.4 Rantai Pasok Subsektor Listrik Jawa Barat ... 172

Gambar L.5 Rantai Pasok Subsektor Jasa Sosial Kemasyarakatan & Jasa Lainnya Jawa Barat ... 173

Gambar L.6 Rantai Pasok Subsektor Pengangkutan Jawa Barat ... 173

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumen Perencanaan dan Prospek Produksi di Jawa Barat ...132

Lampiran 2 Operasionalisasi Variabel Daya Saing ...134

Lampiran 3 Rantai Pasok ...171

Lampiran 4 Keterkaitan Ekonomis dan Rantai Nilai Perdagangan ...174

(17)
(18)

HQLQJNDWDQ NHPDNPXUDQ PHUXSDNDQ VDVDUDQ SHPEDQJXQDQ HNRQRPL GL VHPXD QHJDUD 6WUDWHJL SHQLQJNDWDQ QLODL WDPEDK DWDV VHWLDS NHJLDWDQ SURGXNVL HNVLVWLQJ PDXSXQ \DQJ EDUX PHUXSDNDQ SHPEXND MDODQ EDJL SHQLQJNDWDQ DORNDVL NXH EDJL SLKDNSLKDN \DQJ PHPEHULNDQ NRQWULEXVL DWDV SHQFLSWDDQ QLODL WDPEDK WHUVHEXW \DLWX NHSDGD SHPLOLN IDNWRU SURGXNVL \DLWX SHNHUMDSHPRGDOSHPLOLNVXPEHUGD\DDODPGDQSHQJXVDKDVHUWDNHSDGDQHJDUD \DLWX SDMDN 7DQWDQJDQ GDQ SHOXDQJ SHQLQJNDWDQ QLODL WDPEDK \DQJ EHUGDPSDN SDGD SHQLQJNDWDQ NXH DWDX NHPDNPXUDQ VDDW LQL PHQJKDGDSL GLQDPLND SHUHNRQRPLDQJOREDO\DQJPHQMDODQNDQSUDNWLNLQWHJUDVLSDVDUJOREDOGDQUHJLRQDO \DQJ EHUSHQJDUXK NHSDGD PHQLQJNDWQ\D SHUVDLQJDQ GL SDVDU GRPHVWLN 8QWXN PHPSHUEHVDU QLODL WDPEDK DQWDUD ODLQ PHODOXL SHQLQJNDWDQ GD\D VDLQJ SURGXN \DQJGLKDVLONDQVHUWDGD\DVDLQJSHUHNRQRPLDQ0HPEDQJXQGDQ PHQXPEXKNDQ GD\D VDLQJ PLNUR GDQ PDNUR PHQMDGL VDODK VDWX SHQGHNDWDQ SHPEDQJXQDQ HNRQRPLGDQVRVLDO\DQJVWUDWHJLV

5HOHYDQVL EDJL ,QGRQHVLD WHUPDVXN GDHUDK SHQJRUJDQLVDVLDQ GD\D VDLQJ GDSDW GLODNXNDQ VHFDUD VLQHUJLV SDGD WLQJNDW QDVLRQDO GDQ GDHUDK .RQVHS GDQ PRGHO GD\D VDLQJ XQWXN GDHUDK VHGLNLW EHUEHGD GHQJDQ XQWXN QDVLRQDO QHJDUD 3HPEDKDVDQ WHQWDQJ PDVDODK GDQ VROXVL WHQWDQJ SHPEDQJXQDQ GD\D VDLQJ HNRQRPL QDVLRQDO VXGDK SHQXOLV VLPSXONDQ GDQ SXEOLNDVLNDQ %DJLDQ LQL DNDQ

PHQGLVNXVLNDQ WHQWDQJ IRUPXODVL NRQVHS GDQ SHQJXNXUDQ GD\D VDLQJ XQWXN GDHUDK VHUWD SHQGHNDWDQ SHQ\XVXQDQ VWUDWHJL VHEDJDL EDVLV LPSOHPHQWDVL NHELMDNDQ ,QGLDVWXWL <XVXIGDODP'D\D6DLQJ(NRQRPL1DVLRQDO0DVDODK 6ROXVL3ULRULWDV

3

%

%$*,$1

,

.216(33(1*8.85$1'$1

02'(/

%$*,$1 , .216(3 3(1*8.85$1 '$1

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Arti lain dari Human Resources Development (Sumber Daya Manusia/SDM) adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan,

Jawaban : ILC adalah salah satu gagasan Bapak Karni Ilyas, sebagai pribadi yang masih terus bersemangat untuk tetap menjadi seorang Jurnalis, meski sudah menjadi

PT Citra Mandiri Trans merupakan perusahaan freight forwarding yang berdiri pada bulan Februari tahun 1997 dan bergerak di bidang jasa pengurusan dokumen

Jakarta-Bawas: Selasa 12 Desember 2017 pukul 10.00 WIB bertempat di ruang rapat Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI Lt.9, diadakan rapat koordinasi USAID CEGAH dengan Badan

- diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau kepada pasien hepatitis akut (Hepatitis Infeksiosa/A dan Hepatitis Serum/B) dan

 Penangkal Radikal Bebas -&gt; Buah plum dapat menangkal radikal bebas dikarenakan kandungan vitamin A dan antioksidan dalam buah plum memiliki manfaat untuk menangkal radikal

Kategori yang ketiga adalah kategori sosiolinguistik dengan cara pandang lain, yang termasuk dalam kajian ini adalah kajian-kajian empiris penggunaan bahasa dalam

Ketentuan Pasal 5 dalam Peraturan Daerah Nomor I Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dari Perusahaan Daerah (PD)