• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - B ISI BAB I,II,III,IV,V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - B ISI BAB I,II,III,IV,V"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan karya fiksi yang menggambarkan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Pada karya sastra itu, digambarkan bagaimana intraksi sosial yang terjadi antara manusia yang satu dengan yang lain (intraksi antar tokoh) yang pada akhirnya dari intraksi tersebut akan memunculkan berbagai prilaku yang positif maupun negative yang diambil hikmahnya bagi pembaca.

(2)

Tidaklah mengherankan apabila karya sastra menambah kekayaan batin setiap penikmatnya. Ia mampu menjadikan para penikmatnya lebihmengenal manusia dengan kemanusiaannya karena disampaikan karya sastratersebut tidak lain tentang manusia dengan segala macam perilakunya (Suharianto.1982:17–18).

Dalam Kurikulum (2006 : 231) karya sastra dicantumkan sebagai bahan ajar di SLTP. Amanat ini secara jelas dituangkan pada kompetensi dasar sebagai berikut:

a) Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan,

kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menimbulkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri.

b) Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesusastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.

c) Orangtua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan

program kebahasaan dan kesastraan di sekolah.

d) Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesusastraan sesuai dengan peserta didik dan sumber belajar y ang tersedia. e) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan

(3)

Dalam kurikulum butir ke-3 dan ke-6 dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan:

a) Memiliki kemampuan menikmati memanfaatkan karya sastra untuk

memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

b) Memiliki kemampuan menghargai dan membanggakan sastra Indonesia

(4)

Mata pelajaran Bahasa Indonesia termasuk kelompok mata pelajaran ilmu pegetahuan dan teknologi. Kelompok mata pelajaran ilmu pegetahuan dan teknologi pada SMP dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar kritis, kreatif dan mandiri. Muatan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah membina keterampilan berbahasa secara lisan dan tertulis serta dapat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan sarana pemahaman terhadap IPTEK.

Secara umum menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU. No.20. 2003) .

Berdasarkan pernyataan dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional diarahkan agar masyarakat menjadi cerdas, terampil dan berbudi luhur. Hal ini di antaranya dapat dilakukan melalui pembelajaran kesusastraan, karena siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk menghembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, dan meningkatkan pengetahuan serta kemampuan berbahasa (Depdikbud.1994: 4).

(5)

dibangun melalui unsur instrisik dan di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang tersirat maupun tersurat. Nilai – nilai pendidikan itulah yang dibutuhkan bagi siswa-siswi SMP untuk mendewasakan diri, menemukan jati diri, sehingga mampu membentuk sumber daya manusia yang berbudaya.

Salah seorang pengarang wanita yang terkenal adalah Mira W. termasuk wanita angkatan modern yang terkenal produktif menulis novel populer dan sudah banyak yang terbit serta digemari pembaca. Beberapa novel Mira W. antara lain: Dari Jendela SMP (1983) , Merpati Tak Pernah Ingkar Janji (1984) , Kidung

Cinta Buat Pak Guru, Luruh Kuncup Sebelum Berkembang, Cinta Bukan Cuma

Sepenggal Dusta (1985) , Ditepi Jeram Kehancuran (1986) , Satu Cermin Dua

Bayang-Bayang (1987) , Bukan Cinta Sesaat (1995)

(6)

Berdasarkan alasan seperti disebut di atas, penulis tertarik untuk membahasnya dalam skripsi dengan judul Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga Karya Mira W. dan Manfaatnya Sebagai Bahan Ajar Apresiasi Sastra

di SMP.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan di atas masalah dalam penelitian ini dapatdirumuskan sebagai berikut :

a) Bagaimanakah unsure instrinsik (Tema, alur/plot, tokoh/penokohan, latar/ setting, tegangan, suasana, pusat pengisahan, gaya bahasa) novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W . dari segi sastra.

b) Bagaimanakah manfaat analisis Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W. dijadikan bahan ajar apresiasi sastra di SMP.

C. Tujuan Penelitian

Melalui penulisan skripsi ini penulis berusaha menc apai beberapa tujuan yaitu:

a) Menunjukkan unsur instrinsik (Tema, alur/plot, tokoh/penokohan, latar/setting, tegangan, suasana, pusat pengisahan, gaya bahasa) novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W. dari segi sastra.

b) Menilai bagaimanakah manfaat analisis novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W. dijadikan sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMP.

(7)

Dengan mengetahui nilai-nilai pendidikan dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, maka para guru diharapkan bertambah wawasannya dan bertambah khasanah bahan ajar, khususnya bahan ajar Apresiasi Sastra, sehingga dapat memilah-milah mana yang sesuai diajarkan pada usia anak SMP. Diharapkan penelitian ini mampu menambah sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Para murid dapat memaknai arti pentingnya karya sastra khususnya novel. Segingga hasil penelitian ini dapat menjadi pelengkap bahan ajar dan pertimbangan dalam menyusun dan atau merencanakan pembelajaran di SMP, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan lebih khusus lagi bidang kesusastraan.

(8)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Novel

Karya fiksi dapat dibedakan dalam berbagai bentuk yaitu roman, novel, novella dan cerpen Baribin (1985 : 29). Dalam arti luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang lebih luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks, karakter yang banyak, tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya, suasana cerita yang beragam, dan latar yang beragam pula.

Dalam sastra Indonesia, istilah novel seperti yang terdapat dalam pengertian yang lebih umum selama ini adalah istilah roman, dan kemudian istilah tersebut dipergunakan dalam hal yang sama. Tarigan (1985 : 164) mengutip beberapa devenisi novel sebagai berikut :

“Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang respsentatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut”

“Novel adalah suatu cerita dengan suatu alur,cukuppanjang mengisi satu buku atau lebih, yang menggarap kehidupan pria dan wanita y ang bersifat imajinatif ”

(9)

Menurut Nurgiyantoro (1998:72), dialog lewat novel akan sanggup mengajak kepemikiran, tidak saja dengan otak, melainkan juga dengan perasaan, serta ungkapan manusiawi lainnya.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa : a. Tergantung pada tokoh novel

b. Novel menyajikan lebih dari satu impresi c. Novel menyajikan lebih dari satu efek d. Novel menyajikan lebih dari satu emosi.

Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang terasakan mendominasi novel yang ditulisnya, Suharianto (1982 : 41-44) membeda-bedakan novel atas :

a. Novel bertendens b. Novel sejarah c. Novel adat d. Novel anak-anak e. Novel politik f. Novel Psikologi g. Novel percintaan

(10)

mudah dinikmati karena ia memang semata-mata menyampaikan cerita. Oleh karena itu agar mudah dipahami,plot sengaja dibuat lancar dan sederhana.perwatakan tokoh tidak berkembang, tunduk begitu saja pada kemauan pengarang yang bertujuan memuaskan pembaca.

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa novel populer bercirikan: 1) unsur cerita menekankan pada alur

2) tema kebanyakan tentang kasih asmara 3) tersusun dengan gaya emosi

4) artifisial

5) kurang ada pembaharuan 6) bahasanya populer dan aktual 7) untuk menghibur

8) berfungsi personal 9) dibaca sekali

(11)

mengambil realitas kehidupan ini sebagai model, kemudian menciptakan sebuah “dunia baru” lewat penampilan cerita dan tokoh-tokoh dalam situasi yang khusus. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa novel serius bercirikan:

1) Unsur cerita digarap secara baik

2) Tema tantang kehidupan yang mendalam 3) Universal

4) Ada pembaharuan 5) Bahasa standar

6) Untuk penyempurnaan diri

7) Berfungsi sosial (Nurgiyantoro, 1998 : 17-21) B. Unsur-Unsur Novel

1. Unsur Instrinsik

Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara factual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Nurgiyantoro (1995:23) memberikan pengertian bahwa unsur instrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita.

(12)

untuk menyebut sebagian saja, misalnyaperistiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain. Dengan melihat pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam sebuah cerita terdapat bangun cerita atau struktur pokok yang menjadi dasar dalam pembuatan sebuah cerita. Bangun dan struktur cerita itu adalah struktur dalam cerita yang selalu berhubungan satu sama lain. Untuk memperjelas bangun dan struktur cerita yang ada dalam novel yang meliputi tema, alur atau plot, tokoh dan penokohan, latar atau setting, tegangan, suasana, pusat pengisahan, dan gaya akan penulis jelaskan sebagai berikut : a. Tema

Tema merupakan dasar cerita, yaitu pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. pada hakekatnya tema adalah permasalahan y ang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan karyannya itu ( Suharianto. 1982 : 28 ).

Menurut Nurgiyantoro ( 1998 : 67 ) Tema adalah makna yang terkandung dari sebuah cerita. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut peersamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan .

(13)

Tema, dengan demikian dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah novel.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tema merupakan ide atau gagasan utama dalam sebuah karya sastra, ide itu bisa tersamar di dalam dialog tokoh-tokohnya , jalan pikirannya, perasaannya, setting cerita untuk memperjelas atau menyarankan pada isi, sehingga seluruh unsur cerita menjadi satu arti.

b. Alur atau Plot

Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa y ang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Nurgiyantoro 1998113). Plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana. Sehingga plot adalah peristiwa- peristiwa cerita y ang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas.

Menurut Suharianto (1982 : 28), alur adalah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padat, bulat dan utuh.

(14)

menarik untuk diceritakan, dan karenanya bersifat dramatik (Nurgiyantoro 1998 :114 ).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alur atau plot adalah suatu yang menceritakan kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padat, bulat dan utuh.

c. Tokoh dan Penokohan

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro 1998 : 165). Masih menurut Nurgiantoro, tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sujiman (1998 : 16) mendefinisikan tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakunya berbagai peristiwa dalam cerita. Penokohan adalah menyajikan watak tokoh dan penciptaan citra tokoh, baik keadaan lahir maupun batinnya yang dapat berupa pandangan, sikap, keyakinan, adat istiadatnya.

(15)

1) Tokoh sentral atau tokoh utama tokoh utama atau disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan cerita itu ada.

2) Tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) Tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak sentral dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.

Dengan demikian istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh dan perwatakan, dan bagaimana masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

d. Latar atau Setting

(16)

Secara rinci latar meliputi :

(1) Penggambaran lokasi geografi, pemandangan, sampai pada rincian sebuah ruangan,

(2) Waktu terjadinya peristiwa, sejarahny a,musim terjadinya, Dan

(3 ) Lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh cerita.

Tahap awal karya fiksi pada umumnya berisipenyituasian, pengenalan terhadap berbagai hal yang akan diceritakan. Misalnya, pengenalan tokoh, pelukisan keadaan alam, lingkungan, suasana tempat, mungkin juga hubungan w aktu, dan lain-lain yang dapat menuntun pembaca secara emosional kepada situasi cerita (Nurgiy antoro 1998 : 217).

Menurut Nurgiy antoro (1998 : 227) latar dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Pengertian ketiga unur pokok tersebut adalah:

1) Latar Tempat

(17)

dan keadaan geografis tempat bersangkutan, dinamakan masing-masing tempat memiliki karakteristik sendiri yang membedakannya dengan tempat-tempat yang lain.

2) Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “ kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” bisanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktuy ang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

Masalah waktu dalam karya fiksi juga sering dihubungkan dengan lamanya waktu yang dipergunakan dalam cerita, dalam hal ini terdapat variasi pada berbagai novel yang ditulis orang.

Disamping itu latar waktu harus juga dikaitkan dengan latar tempat (juga : sosial) sebab pada kenyataannya memang saling berkaitan. Keadaan sesuatu yang diceritakan mau tidak mau harus mengacu pada waktu tertentu karena tempat itu akan berubah sejalan dengan perubahan waktu.

3) Latar Sosial

(18)

hidup, cara berfIkir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual.

e. Tegangan

Tegangan atau suspens ialah bagian cerita yang membuat kita sebagai pembacanya terangsang untuk melanjutkan pembacaannya (Suharianto 1982: 33).

Keinginan tersebut muncul karena pengarang seakan akan menjanjikan kita sebagai pembacanya akan menemukan ‘sesuatu’ yang kita harapkan atau sesuatu ‘jawaban’ atas pertanyaan yang singgah di benak kita pada waktu membaca bagian sebelumnya.

f. Suasana

Suasana atau yang sering pula disebut mood mempunyai kedudukan amat penting dalam suatu cerita. Bagian itulah yang dapat ‘menghidupkan’ suatu cerita, dan sekaligus membawa kita masuk kedalam cerita, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh cerita (Suharianto 1982 : 36). g. Pusat Pengisahan

(19)

Pusat pengisahan atau yang dalam bahasa Inggris biasa dikenal dengan istilah point ofview adalah “siapa yang bercerita”, dalam hal ini pengarang akan menentukan ‘siapa’ orangnya dan akan ‘berkedudukan’ sebagai apa pengarang dalam cerita tersebut (Suharianto 198 2 : 37). Ada beberapa jenis pusat pengisahan, yaiu: pengarang sebagai pelaku utama, pengarang ikut main tetapi bukan sebagai pelaku utama, pengarang serba hadir, dan pengarang sebagai peninjau.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pusat pengisahan atau sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan pelakunya dalam cerita yang dipaparkan.

h. Gaya Bahasa

Sehubungan dengan pembahasan ini pengertian agaya akan ditinjau melalui dua sudut, yaitu gaya bahasa dan gaya bercerita karena pengertian gaya pada umumnya dapat dirumuskan sebagai cara pengarang untuk menggambarkan cerita agar cerita lebih menarik dan berkesan. Hal tersebut erat kaitannya dengan menggunakan bahasa, karena cerita pada dasarnya bermediakan bahasa.

(20)

dengan gaya pengarang lain. Seorang pengarang selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada disekitarnya.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik ( extrinsic ) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Secara lebih khusus iadapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun ia sendiri tidak ikut menjadi bagian didalamnya (Nurgiyantoro 1995 : 23). Unsur-unsur ekstrinsik antara lain adalah :

1. Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuannya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.

2. Psikologi pengarang yang mencakup proses kratifitasnya. 3. Psikologi pembaca.

4. Pengaruh lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial yang berpengaruh terhadap karya sastra.

(21)

C. Sumber Belajar

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar sebagai materi pembelajaran. Sesuai Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar (Departemen Pendidikan Nasional 2006 : 5), terdapat prinsip-prinsip dalam pemilihan bahan materi pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1) Prinsip Relevansi

Prinsip Relevansi artinya keterkaitan. materi pembelajaran hendaknya relevan atau berkaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, sebagai misal jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa men ghafal fakta, materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau gubahan hafalan.

2) Prinsip Konsistensi

Prinsip Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai sebanyak empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.

3) Prinsip kecukupan

(22)

Sebaliknya jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. Selain terdapat prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar, selanjutnya perlu terlebih dahulu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran yang diamanatkan dalam Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar (DepartemenPendidikan Nasional. 2006 : 6) adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Berdasarkan prinsip-prinsip dan kriteria pemilihan bahan ajar tersebut maka langkah-langkah pemilihan bahan ajar adalah Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar (Departemen Pendidikan Nasional.2006 : 6- 10).

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. b. Mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar.

c. Memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dasar yang telah teridentifikasi.

D. Memilih Sumber Bahan Ajar

Pengajaran sastra adalah suatu proses interaksi antara guru dan murid tentang sastra. Di dalam interaksi tersebut terjadi proses yang memungkinkan terjadinya pengenalan, pemahaman, penghayatan.

(23)

Yang dimaksud apresiasi sastra ialah perbuatan yang dilakukan dengan sadar, dan bertujuan untuk mengenal memahami dengan tepat nilai sastra untuk menumbuhkan kegairahan kepadanya dan memperoleh kenikmatan dari padanya (Baribin 1990:16).

Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran sastra (prosa) masalah pemilihan bahan pun perlu mendapat perhatian yang cukup. Pemilihan karya sastra yang baik sebagai bahan apresiasi sastra bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh karena itu dalam memilih bahan yang akan diajarkan perlu diingatkan kriteria pemilihannya. Pemilihan bahan yang akan diajarkan tersebut juga harus memperhitungan usia sekolah anak didik, bahan ajar untuk usia SLTP akan berbeda dengan bahan ajar untuk tingkat lanjutan atas, dan bahkan sangat berbeda dengan untuk usia mahasiswa.

Menurut B.Rahmanto (1988 : 27) agar dapat memilih novel sebagai bahan ajar sastra yang tepat, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut:

1) Sudut Bahasa

(24)

diajarkan kepada siswa juga harus sesuai dengan ciri-ciri karya sastra pada waktu ditulis.

2) Psikologis

Dalam memilih bahan pengajaran sastra (novel) tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan, hal ini pengaruhnya sangat besar terhadap minat dan keengganan anak didik dalam banyak hal. Oleh karenanya karya sastra yang diplih untuk bahan ajar hendaknya yang sesuai dengan tahap psikologis pada umumnya pada satu kelas.

Untuk siswa SLTP (usia 13 sampai 16 tahun) mereka berada pada tahap realistik. Pada tahap ini anak-anak sudah benar-benar terlepas dari dunia fantasi dan sangat berminat pada realitas atas apa yang benmar-benar terjadi. Mereka terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta–fakta untuk memahami masalah- masalah kehidupan nyata.

3) Latar Belakang Budaya

Latar belakang karya sastra meliputi hampir semua faktor kehidupan manusia dan lingkungannya seperti; geografi, sejarah, topografi, iklim, mitologi, legenda pekerjaan, kepercayaan, cara berpikir, nilai-nilai masyarakat, seni, olahraga, hiburan, moral, etika dan sebagainya.

(25)

lingkungan mereka dan mempunyai kesamaan dengan mereka atau dengan orang-orang disekitar mereka.

Dengan demikian seyogyanya pemilihan bahan pengajaran sastra (novel) menggunakan prinsip mengutamakan karya-karya sastra yang latar ceritanya dikenal oleh para siswa.

a. Nilai

Pengertian nilai menurut Bustomi (1992:94) dapat bermakna apabila : 1) berguna, artinya mengandung nilai untuk orang lain;

2) baik atau benar atau indah, artinya merupakan nilai baik, benar dan indah bagi orang lain;

3) mempunyai nilai, artinya merupakan obyek keinginan mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui, atau mempunyai sifat nilai tertentu;

4) memberi nilai artinya menanggapi sesuaatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu.

(26)

Nilai adalah kualitas yang dipahami dalam estetika, moral dan pengelaman religius, bukanlah murni pandanngan pribadi terbatas pada lingkungan manusia. Nilai merupakan bagian dari keseluruhan situasi metafisik di alam semesta seluruhnya, bukan hanya bagian dari manusia Brenam (dalam Rachman 2004 : 113).

Langeveld (dalam Rachman 2004:111) menjelaskan, bahwa nilai adalah penghargaan, nilai adalah sifat suatu barang yang hanya dapat mempunyai hubungan dengan subyek yang satu tentang nilai.

Suyitno (dalam Sugito 1991:136) memberikan pengertian bahwa nilai merupakan suatu yang kita alami sebagai ajakan dari panggilan untuk dihadapi, serta mempunyai sifat-sifat penting yang berguna bagi manusia, yang mempunyai takaran angka kepandaian tertentu.

Nilai dalam suatu karya sastra dapat berupa nilai hedonik, yaitu karya sastra yang memberikan suatu seni atau keterampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan, nilai kultural yaitu bila suatu karya sastra mengandung suatu hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat atau suatu peradapan, kebudayaan, dan nilai- nilai etis moral, religius, yaitu bila suatu karya sastra terpancar ajaran- ajaran yang ada sangkutpautnya dengan etika, moral dan agama ( Tarigan 1991 : 93 ).

(27)

bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain. Serta mempunyai sifat-sifat penting pada diri manusia yang mempunyai takaran kualitas sendiri baik berupa angka maupun perubahan perilaku. Nilai dapat berupa wahana pendidikan bagi diri pribadi maupun orang lain dalam memahami suatu karya.

b. Pendidikan

Pengertian didik (KBBI. 2002 : 263) adalah akar kata mendidik yang berarti memelihara dan memberikan latihan (ajaran, tuntutan pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan juga diartikan suatu cara untuk mengembangkan keterampilan kebiasaan dan sikap–sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang dapat menjadi warga Negara yang baik dengan tujuan untuk mengembangkan atau mengubah kognitif, afektif dan konasi seseorang. ( staffsite.gunadarma.ac.id ).

Menurut Ensiklopedi Indonesia ( 1984 : 2627 ) pendidikan adalah proses membimbing manusia dari kegelapan kebodohan ke kecerahan pengetahuan dalam arti luas pendidikan baik formal maupun yang informal meliputi segala hal yang memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan tentang dunia di mana mereka hidup.

(28)

didik dengan bertatap muka, dengan menggunakan media atau kerangka yang dipergunakan dalam penyempurnaan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaaan, sikap, dan sebagainya. Pendidikan selalu berkaitan dengan nilai, karena dalam suatu pendidikan terkandung nila-nilai yang menjadi pedoman sebagai kualitas diri yang digunakan. c. Nilai Pendidikan

(29)

4) Segi pendidikan

Bahan ajar harus sanggup berperan sebagai sarana pendidikan menuju ke arah pembentukan kebulatan pribadi anak didik. Pengajaran sastra hendaklah dapat mengembangkan cipta, rasa dan karsa siswa dalam mengapresiasi karya sastra serta dapat meningkatkan semangat siwa untuk menekuni bacaan secara lebih mendalam.

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Sasaran

Identitas novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga Karya Mira W. Sebagai berikut:

1. Judul : Luruh Kuncup Sebelum Berbunga

2. Pemgarang : Mira W

3. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama

4. Cetakan : Ketiga

5/ Ukuran kertas : 10cm x 18cm 6/ Ukuran ketikan : 12

7/ Tahunm terbit : Agustus 2003 8/ Jumlah halaman : 192

9/ Bentuk penulisan : Melajur kesamping 10/ Warna sampul : Hijau tua

B. Pendekatan

(31)

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada teks novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W. Unsur-unsur yang diteliti adalah nilai-nilai pendidikannya dan menc ari kemungkinan nilai-nilai pendidikan tersebut sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMP.

D. Data dan Sumber Data 1. Data

Data dalam penelitian ini berupa kata, kalimat dan dialog yang mengandung nilai pendidikan yang terdapat dalam teks novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W. yang diteliti melalui unsur-unsur instrinsik

yang terkandung didalamnya. Menurut jenisnya data dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan data skunder.

1) Data primer

Data primer merupakan sumber data utama dalam suatu penelitian. Data primer dalam penelitian ini adalah novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga Karya Mira W.

2) Data sekunder

(32)

2. Sumber Data

Data bersumber dari data tekstual novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga Kary a Mira W. Data tersebut berupa teks-teks yang berada di dalam

novel tersebut. Adapun unsur- unsur data di maksud sebagai berikut : 1) Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik bersumber dari alur dan plot, latar dan seting, tokoh dan penokohan, gaya, dan tema yang diceritakan dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga

2) Unsur Ekstrinsik

Unsur Ekstrinsik bersumber dari pengaruh psikologis, pengaruh lingkungan, pandangan hidup dan bahasa dari teks novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga

3) Nilai-Nilai Pendidikan

Nilai-nilai pendidikan bersumber antara lain berupa frase, kalimat, dan penggalan dari novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga

E. Metode Analisa Data

(33)

Penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan caramencatat data yang ada dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga. Data dari novel ini berupa kata, frase, kalimat yang menunjukkan nilai pendidikan sastra kemungkinannya sebagai bahan ajar. Hal ini didasarkan bahwa sasaran penelitian ini adalah nilai pendidikan dan bahan ajar apresiasi sastra SMP.

Setelah data terkumpul barulah prosedur penganalisaan data dapat dilakukan, yaitu dengan metode :

1) Metode Penelusuran Unsur Intrinsik

a) Pemahaman alur atau plot kemudian mendeskripsikan kesimpulan alur atau plot

b) Penelusuran latar dan setting kemudian menyimpulkan

c) Mendata tokoh dan penokohan dengan menyimpulkan peran masing-masing tokoh kemudian menganalisis mana tokoh utama dan mana tokoh sebagai pendukung

d) Memahami gaya dan tema yang terkandung dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga.

2) Metode Penelusuran Unsur Ekstrinsik

(34)

atau plot dalam novel tersebut. Kemudian mengiventarisasi nilai-nilai moral, agama, sosial dan lainnya.

b) Aspek nilai-nilai pendidikan dalam novel tersebut setelah diiventarisir, ditentukan atau dipilih mana yang dapat dijadikan bahan ajar pada anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta mana yang sesuai dijadikan sebagai bahan ajar di SMP.

Dengan demikian data yang ada sudah mengalami prosedur yang baik, yaitu pengumpulan data, penganalisaan struktur novel (para tokoh) dan kemudian penganalisaaan aspek pendidikan.

F. Teknik dan Langkah Kerja 1. Teknik Analisis Data

Teknis analisa data yang penulis gunakan adalah teknik analisis sistesis. Teknik analisa sistesis adalah menganalisis cipta sastra bagian demi bagian (Baribin 1989:73). Teknik ini juga disebut teknik bedah karya sastra yang mengutamakan bagian-bagian dulu berulah penghayatan totalitas.

Novel dianalisis dengan cara menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, kemudian makna unsur-unsur serta nilai pendidikan karya sastra tersebut dapat dipahami dari keterkaitan suatu unsur dengan unsur yang lain sehingga merupakan keseluruhan.

2. Langkah Kerja

(35)

1) membaca novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga karya Mira W.

2) Mencatat data dan hal-hal yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik 3 ) Menganalisis unsur-unsur intrinsik novel Luruh Kuncup Sebelum

Berbunga

4 ) Berdasarkan analisis unsur demi unsur dan keterkaitan antar unsur dalam novel tersebut, penulis me ncari kejelasan tentang nilai pendidikan y ang terkandung di dalamnya.

5 ) Mengelompokkan nilai- nilai pendidikan yang ada

6 ) Menjelaskan kemungkinan novel novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga sebagai bahan ajar.

7) Menarik kesimpulan.

BAB IV

PEMBAHASAN

(36)

1). Tema

`Tema sebagai dasar cerita dalam novel luruh kuncup sebelum berbunnga terdiri atas tema mayor dan minor. Tema mayor ialah tema yang

sangat menonjol dan menjadi persoalan, sedangkan tema minor ialah tema yang tidak menonjol. Tema mayor dalam novel ini adalah terhapusnya dendam kesumat karena kasih sayang yang berawal dari seorang cucu yang berwatak lucu, polos yang dapat menghilangkan dendam antara anak dan orang tuanya. Data tema minor dalam novel ini adalah kematian dini yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan.

Tema mayor telihat pada kutipan berikut:

“--ketertarikan orang tua kris terhadap kepolosan dan kelucuan Ari “ “Mau apa kaubawa anak itu kemari? Grutu ayah Kris sengit………. “ (bab V, hal 90)

“…………., Meskipun ibu Kris masih berharap dokter salah mengdiagnosa, dia tidak dapat mengusir perasaan cemas itu dari dalam hatinya.. “ (Bab IV, hal 118)

“ Ayah Kris tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Unutk pertama kalinya kegarangan dan kesombongan luluh seperti cermin di banting ke atas batu. Berulang-ulang dia menghela nafas panjang ……” (Bab IV, hal 118-119)

“….sakit ari semakin parah ----menyadarkan orang tua Kris --- “

Tema minor terlihat pada kutipan berikut:

(37)

“Kepergiannya ternyata tidak sia-sia . Kepergiannya telah menyatukan mereka kembali. Membawa damai dihati Eyang. Menyatukan keluarga yang telah belasan tahaun terpecah belah” (Bab. VIII, hal 186)

Tema tersebut sangat beralasan. Tokoh Ari anak Kris dan Dewi berwatak lucu, polos, ramah, pandai, penuh kasih pada orang lain. Hal ini telah meluluhkan dendam orang tua tua Kris.

Ari meninggal diusia yang sangat muda karena tumor otak yang menggerogotiya. Dia telah meninggalkan nilai-nilai kehidupan yang penuh makna bagi pembaca. Nilai-nilai kehidupan itulah yang menyatukan, mendamaikan antara anak menantu dan orang tua.

Novel luruh kuncup sebelum berbunga menceritakan tentang dendam orang tua kepada anaknya bias luntur, hilang dan sadar karena danya sikap rendah hati, kepolosan, keramahan dari anak dan cucu, sehingga kebersamaan dan persatuan keluarga bisa terwujud kembali. Pesan dan nilai yanhg terkandung dari novel ini bagi pembaca diharapkan memiliki kerendahan hati, menjunjung nilai-nilai moral dan mau berkorban.

2). Alur

(38)

penanjakan, puncak atau klimak dan berakhir dengan peleraian. Dengan alur tersebut dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut :

a. Penggawatan

Tahap penggawatan yaitu; bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat dalam mengawali sebuah masalah.Tahap penggawatan menceritakan Ari yang sedang merayakan ulang tahun ke 5 (lima), tiba-tiba ada angin berhembus kencang dan halilintar menggelangar hingga lilin-lilin di kue ulang tahun mati memandamkan lilin. Sedangkan Dewi dan Kris penuh tanda Tanya dalah hati atas peristiwa tersebut dan sebuah firasat buruk terbersit di benak Kris dan Dewi tapi mereka membuang jauh-jauh firasat buruk itu. Sebagaimana kutipan berikut :

“… Ari belum sempat meniup, ada angin yang amat kencang menerobos masuk. Menghempaskan pintu yang memang belum terkunci. Dan mendahului memadamkan api lilin tang terakhir.” (bab 1, hal 8)

“berbareng dengan itu, halilintar menggelegar membelah udara memutuskan aliran listrik. Lampu dalam rumah serentak padam. Gelap langsung menyergap. Dan Ari menjadi ketakutan (bab 1, hal 8) “…Apa-apa firasat. Pertanda alamat buruk, Ah… Tidak masuk akal ! Dia hrus dapat mengusir kemuruman pada malam ulang tahun anaknya itu. Mereka harus mengembira. Harus ?” (bab 1, hal 9) b. Pemaparan

(39)

disebabkan karena persahaban kakak mereka yaitu; Tato kakaknya Dewi dan Handi kakaknya Kris. Handi meninggal disebabkan aleh Tato yang terlibat dalam perkelahian sehingga menyebabkan handi terbunuh. Oleh sebab itu pernikahan Kris dengan Dewi tidak pernah di restui, karena dewi adiknya Tato yang menyebabkan Handi kakanya Kris terbunuh. Tetapi mereka tetap melaksanakan dengan kawin lari. Dan setelah menunggu 8 (delapan) tahun baru lahirlah Ari anaknya. Terlihat dalam kutipan berikut : “tak ada jalan lain, Wi,” kata Kris sudah seratus kali lebih membincangkan hal itu. Perkawinan mereka. Masa depan mereka. Selalu tua Kris sudah sedemikian kerasnya. Tidak mungkin di cairkan dengan apa pun.” (bab II, hal 17)

“ Aku sudah memikirkannya masak-masak, keputusankum telah bulat. Aku akan menbawamu pergi.” (bab II, hal 19)

“ Dan penantian panjang itu berubah pada awal tahun perkawinan yang kedelapan. Untuk pertama kalinya, Dewi hamil. Dan mereka menjaga kandungan mahal itu seperti menjaga intan delapan pulh karat.” (bab II, hal 22)

c. Penanjakkan

(40)

“----Ari mulai sakit-sakitan---?

“Panasnya tidak tinggi,” desah Kris cemas” mengapa dia kejang, Wi’ ?”

(bab V, hal 133)

“--ketertarikan orang tua kris terhadap kepolosan dan kelucuan Ari “ “Mau apa kaubawa anak itu kemari? Grutu ayah Kris sengit………. “ (bab V, hal 90)

“cari kerjaan saja, gerutu ayah Kris pula. Tetapi suaranya sudah lebih lunak. Dia tidak menolak ketika ibu Kris mengajaknya makan bertiga dengan Ari.”(bab IV, hal 90)

“Ketika sambil makan Ari terus-menerus berceloteh, ayak Kris malah diam-diam ikut mendengarkan. Meskipun belum ikut berbicara “ (Bab IV, hal 90)

d. Puncak / klimaks

Klimaks mripakan hala yang paling penting, dalam struktur polt, yang merupakan unsur utama plot pada karya fiksi. Tahap ini menggambarkan peristiwa puncak yaitu penyakit Ari semakin parah tak bisa di obati. Digambarkan pula kepedulian. Kasedran, penyesalan orang tua Kris terhadap Kris, Dewi dan Ari.

“---orang tua Kris sangat peduli pada Ari----“

“Anak itu tidak apa-apa, kata ibu Kris tegas. Tidak terlihat seperti anak yang harus segera dioperasi ! Lebih baik kau cari dokter lain. Barang kali saja diagenosanya keliru ! “ (Bab IV, hal 116)

“…………., Meskipun ibu Kris masih berharap dokter salah mengdiagnosa, dia tidak dapat mengusir perasaan cemas itu dari dalam hatinya.. “ (Bab IV, hal 118)

(41)

“….sakit ari semakin parah ----menyadarkan orang tua Kris --- “ “Tetapi tidak dapat bertahan lebih dulu bukan fisik Ari. Melainkan mentalnya . Dalam dua bulan Saja, Ari telah jauh berbeda”

“Dia lebih pendiam, lebih pelupa, lebih pemarah. Ketika Kris masuk kekamarnya hari itu. Ari sedang menangis. (Bab VII, hal 147)

“Ketika suatu pagi Ari tidak dapat turun dari tempat tidur, Tiba-tiba saja Kris sadar, saat-saat terakhir sudah hampit tiba. Kelumpuhan mulai menyerang Ari.”(Bab. VIII, hal 161)

e. Peleraian

Peleraian merupakan tahap alur yang melukiskan pemecahanan masalah dalam suatu cerita. Tahap peleraian nya pada saat detik-detik kematian Ari, dan saat meninggalnya Ayah Kris yang lebih mendahului Ari dan tidak lama disusul oleh kematian Ari. Dan pada saat itulah dendam antara orang tua dan anak dapat dapat dicairkan dengan kasih sayang.

“…. Meninggalnya orang tua Kris dan Ari yang menyatukan keluarga ….” Kutipan………!!!

“….Begitu sedihnya dia sampai tidak menyadari inilah pertama kali ibunya memanggil namanya setelah belasan tahun berlu……..”(Bab. VIII, hal 170)

(42)

Dengan demikian alur yang dipakai dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga sangat menarik, mudah dipahami setiap peristiwanya

bagi siswa SMP.

Secara garis besar novel ini menceritakan kisah anak tunggal bernama Ari dari keluarga kecil, diamana kedua orang tuanya Dewi dan Kris tidak mendapatkan restu untuk berumah tangga. Anak semata wayang tersebut baru mulai tumbuh dan diharapkan menjadi kebahagiaan keluarga serata Ayah(Eyang kakung ) dan Ibu(Eyang putri). Ari seorang anak yang lincah, pintar dan lucu tersebut dengan mulai disenangi oleh Eyangnya dan karena Ari-lah keluarga mereka mulai dapat dipersatukan keluarga yang terpecah, dia mederita penyakit akhirnya tidak dapat disembuhkan. Kepergian Ari ternyata tidak sia-sia, dia telah menyatukan keluarganya kembali yang terpecah belah.

Ari adalah seorang anak walaupun memiliki umur yang singkat, dimasa hidupnya diceritakan didalam pergaulannya tel;ah memiliki perilaku yang dapat membangkitkan hidup dan kehodupan disekitarn menya . Karena dia tidak hanya mampu meyadarkan Eyangnya yang angkuh, tetapi juga dapat menyadarkan kita untuk menolong sesame dan tidak membedakan kelas atau strata dalam kehidupan bermasyarakat. Seerekembanghingga dia disebut gugur sebelum berkembang,dan dia gugur untuk menjadi pupuk kehidupan alam sekitarnya.

(43)

a. Tokoh Prtagonis dan Tokoh Antagonis

Tokoh Protagonis dalam novel ini adalah Ari, karena Ari anak yang berwatak lucu, polos, lincah, baik hati dan pandai. Dan karena dia dendam yang sudah belasan tahun antara anak, orang tua dan menantu dapat di cairkan dengan kasih sayang. Dapat terlihat pada kutipan berikut:

“----‘ Ari yang sudah sampai kedepan ibu Kris, langsung mencium tangannya. Entah siapa yang mengajarkannya---“

“Aduh, cucu ibu pandai sekal!,. Dengan gemas , tangannya langsung terulur mencubit pipi Ari---“ (Bab. IV, hal 64)

“Ari senang sekali melihat tingkah kakenya. Tidak sadar dia meniru-niru apa yang dilakukan eyang. Memilin-milin sambil mendengus-dengus Karena dia belummempunyai kumis, jaringan seolah-olah memilih-milih udara. ---- “ (Bab IV,hal 51)

“Dua-tiga kali ibu Kris melirik kearahnya. Walaupun dia mulai tertarik pada ulah cucunya. Dia tidak berani menyatakannya. “(Bab IV,hal 51)

“--- ’ Ari menyaksikan Eyang putrid dan ayahnya saling rangkul dan menangis--- “

“--- ’ kepergian telah menyatukan mereka kembali. Membawa damai di hati Eyang . Menyatukan keluarga yang telah belasan tahun terpecah belah.” (Bab VIII. Hal 186)

Sedangkan tokoh anatogis dalam novel ini adalah ayah Kris atau Eyang kakung dan ibu Kris atau eyang Putri yang berwatak keras hati dan gengsi. Dilihat pada kutipan berikut :

(44)

“ Kaki ayah bagaimana ? masih sering sakit ?” “kau lihat sendiri, ayah masih bisa berjalan “ kris menahan nafas. Hatinya terasa pedih. “ lho, kok baru Tanya sekarang !” ibu mengangkat sudut bibirnya denga sinis.” Sudah lima tahun lebih kau tidak pernah menengok ibu !. (bab IV, hal 50)

“Hhh, siapa bisa melarang cucu ku ikut aku ?” grutu ibu kris kesal. ----“ “ mau apa kau bawa anak itu kemari ?” grutu ayah kris sengit. “ kau kerumahnya ? (Bab V, hal 89)

b. Para tokoh cerita

Para tokoh cerita dalam novel luruh kuncup sebelum berbunga adalah sebagai

berikut :

(1) Ari berwata lucu, ploos, lincah baik hati dan pandai. “Terlihat pada kutipan berikut :“

“ari montok. Hidungnya mancung. Matanya bukat dan bening,----“ (bab II, hal 25)

“……,ari yang sudah sampai di depan ibu kris, langsung mencium tangannya. Entah siapa yang mengajarkannya…..” (bab IV, hal 64). “aduh cucu ibu pandai sekali !” dengan gemas, tangannya langsung terulur mencubit pipi ari…..” (bab IV, hal 64).

(2) Dewi berwatk ke ibuan dan kasih sayang. “ Terlihat pada kutipan berikut “

(45)

“dewi mengecup pipi anaknya dengan lembut. Dibelai-belainya pahanya. Seperti dulu. Seperti yang dilakukannya sebelum ari terlela. “

bab VIII, hal 181)

(3) Kris berwatak kebapaan, tanggung jawab dan teladan bagi anak. “Terlihat pada kutipan berikut “

“aku sudah kerja, aku sangup membiayai rumah tangga kita” “tapi aku tidak mau dibiayai istri ! aku tidak rela kamu membanting tulang untuk menghidupi rumah tangga kita.” (bab VI, hal 19)

“ ah, kris berlutut dan merangkul anaknya dengan terharu. “ papa juga tidak ingin ari masuk rumah sakit lagi. Tapi papa ingin ari sembuh.”

bab VI,hal 127)

“ah, kris tidak sampai hati. Apapun yang terjadi, dia tidak ari sedih. Ari harus tetap gembira. Sampai saat terakhir. Dia tidak boleh menderita. Kris akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya.” (bab VIII, hal 162)

(4) Pintah berwatak polos, baik , penuh perhatian. ”Terlihat pada kutipan berikut”

“kak, kenapa pinta nggak punya papa kaya ari ?” “kalua pinta punya papa, pinta nggak buta ya, kak ?” (bab III,hal 46)

“….Paras Pinta berpijar di sulut kegembiraan bercampur haru” Jika pinta bisa melihat lagi, Ari-lah yang pertama kali ingin Pinta lihat .”

(Bab. VI, hal 128)

“… Ari sakit apa sih?” gumam pinta lirih, disela-sela tangisnya.” Kenapa kepala Ari dibuka segala (Bab. VII, hal 152)

“Pinta mohon agar diperbolehkan menemani Ari. Mala mini saja….”(Bab. VIII, hal 176)

(46)

“Kris benar-benar kecewa. Sikap orang tuanya terhadap mereka masih tetap sedingin dulu. Ari yang montok dan lucu pun tidak mampu mencairkan kebekuan yang menyelimuti pertemuan mereka.” (Bab. IV, hal 49)

“Mau apa kau bawa anak itu kemari?” gerutu ayah Kris sengit ….”

(Bab. V, hal.89)

“Tentu saja bukan hanya ibu Kris yang kehilangan. Suaminya juga. Tapi ayah Kris masih dapat menyembunyikan perasaannya. Berpura-pura tidak peduli….” (Bab: VI, hal109)

“Kan sudah ada orang tuanya,” sahut ayah Kris dingin. “Anak-anak.Hhh. Tidak tahu membalas budi! Seperti ayahnya. Sejak kecil disayang-sayang. Sudah besar? Tidak tahu membalas budi orang tua!” (Bab:VI, hal. 111)

(6) Ibu Kris berwatak keras Hati Dan gengsi “Terlihat pada kutipan berikut”

“Lho, ko baru Tanya sekarang !” Ibu mengangkat sudut bibirnya dengan sinis. ”Sudah lima tahun lebih kau tidak pernah

“Dokter juga bilang mesti dilakukan dulu beberapa pemeriksaan penting pada Ari, baru menentukan dengan pasti apa penyakitnya.”(Bab:V, hal.101)

(47)

Cara penyampaian watak tokoh dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, dapat dikelompokkan menjadi dua sebagai kutipan berikut:

a. Secara langsung

Cara penyampain watak secara langsung maksudnya; cara penyampain watak antara tokoh yang satu dengan yang lain secara langsung.

“---Ari montok, hidungnya mancung, matanya bulat bening, Sementara mertuanya ? pipinya kempot, hidungnya pesek, kepalanya botak—“

(hal.52 )

“---aduh cucu ibu pandai sekali !... dengan gemas tangannya langsung mencubit pipi Ari”(hal.64)

“---Dewi tidak tega melarang anaknya yang bermain-main dengan Pinta ---“nPinta adalah anak perempuan yatim piatu yang tinggal dirumah sebelah---“ (hal.10)

“Pilih kami atau gadis ini, ancam ayahnya kemarin ketika untuk kesekiannya Kris mengajak orang tuanya berembuk ---“ (hal.17) “Ayahmu bersumpah tidak mau menginjak rumahmu….”sudahlah percuma kau membujuk dia …” (hal.53).

“…tentu saja. Dokter Rahman tersenyum sabar” (hal.99) b. Secara tidak langsung

(48)

“---ah gampang Ari selalu paling dulu, pasti dipuji guru, nggak malah dihukum---“(hal.90)

“---oh ya hari ini Ari belum bawa kue buat Pinta, ya? Roti mau? Ari punya sepotong roti dibawah bantal---“(hal. 35)

c. Deskripsi Tokoh

Secara ringkas berikut diterangkan peran para tokoh dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, sebagai berikut:

a. Ari

Ari adalah seorang tokoh cerita sebagai anak tunggal dan sekaligus cucu pertama yang pada awalnya memiliki kelincahan, keceriaan, kekaguman, dan kelucuan yang mampu mencairkan dendam yang terjadi antara orang tuanya dan eyangnya, yang sudahbelasan tahun. Akan tetapi ternyata Ari memiliki penyakit tumor otak yang merenggut nyawanya, sehingga sang anak tersebut tidak sempat tumbuh menjadi remaja atau dewasa.

“Terlihat pada kutipan berikut”

“Ari suka sekali melihat tingkah kakenya . Tidak sadar dia meniru-niru apa yang dilakukan eyangnya. Memilin-milin sambil mendengus-dengus. Karena dia belum memiliki kumis, jarinya memilin-milin udara….” (Bab:IV, hal.51) “Cucunya ya buk ?” Cetus perempuan disebelahnya. “ Lucu ya, montok”

“…..Ari yang telah sampai kedepan ibu Kris, langsung mencium tangannya …” (Bab:IV, hal. 64)

(49)

Kris adalah seorang tokoh cerita sebagai seorang Ayah dari Ari. Kris seorang Ayah yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya. Pernikahanya tidak pernah direstui oleh orang tuanya, dan akhirnya Kris memutuskan kawin lari bersama Dewi.

“Aku sudah memikirkannya masak-masak . Keputusanku telah bulat. Aku akan membawamu pergi .”

“Aku sudah kerja . Aku sanggup membiayai rumah tangga kita .” (Bab:II, hal.19)

c. Dewi

Dewi memerankan tokoh sebagai ibu dari Ari, istrinya Kris yang berwatak keibuan dan kasih sayang. Dewi sangat sabar walaupun orang tua suaminya tidak menyukainya sebagai menantu.

“… Dewi tidak mau melepaskan Ari. Dia malah mengetatkan pelukannya.”

“Selamat ulang tahun sayang ,”Bisisknya lembut. Diciumnya anaknya dengan penuh kasih sayang.” (Bab:I, hal.9)

d. Pinta

Pinta memerankan tokoh sebagai teman bermain Ari, dia seorang anak wanita dari keluarga miskin dan buta tetapi memiliki hati yang tulus dan setia kawan.

“Pinta adalah anak perempua yatim piatu yang tinggal dirumah sebelah. Teman main Ari…”

(50)

“…..Pinta mencari nafkah dengan membantu kakaknya mengorek-ngorek tempat sampah. Mencari kertas-kertas bekas …”

(Bab:I, hal.9-10) e. Tato

Tato memerankan tokoh sebagi kakak Dewi , yang dipenjara karena dituduh membunuh Handi Kakaknya Kris.

“Namun kendatipun Tato harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan kehilangan kebebasannya selama bertahun-tahun didalam penjara, orang tua handi tidak dapat memaafkannya. Mereka kehilangan Handi untuk selama-lamanya. Dan untuk selama-lamanya pula mereka tidak mau mengenal lagi keluarga Tato ” (Bab:II, hal. 16)

f. Uti

Uti memerankan sebagai kakak Pinta yang tinggal dalam gubuk sederhana. Uti sangat sayang kepada Pinta, dia bekerja sebagi pemulung.

“Uti menyusut air mata yang mengalir kepipinya. Hatinya terasa sakit. Sakit sekali. Bagaimana menjelaskan kepada adiknya bahwa dia takkan pernah punya orang tua lagi.”(Bab:III, hal. 46)

g. Eyang Putri

Eyang putrid adalah memerankan sebagai ibu dari Kris sekaligus nenek dari Ari yang pada awalnya secara diam-diam menyukai Ari dan akhirnya sangat menyayanginya.

(51)

h. Eyang Kakung

Eyang kakung memerankan ayah Kris dan sekaligus kakek Ari yang mempunyai sifat angkuah dan tidak mau merestui anaknya (Kris) menikah dengan Dewi. Tetapi akhirnya luluh oleh sikap dan perilaku Ari, Walaupun meninggal mendahului Ari.

“Dirumah neneknya, Ari langsung mengobrol, makan, mengoceh dan hal itu membuat ketertarikkan eyang kakung semakin bertambah. Tak terasa hanya dalam waktu satu hari, Ari dapat meluluhkan hati kedua eyangnya itu.” (Bab:V, hal. 90)

i. Pak Parwoto

Pak Parwoto memerankan sebagi ayah Dewi, yang sangat dibenci ayah Kris.

“Kris jatuh cinta dengan Dewi, anak pak Prawoto, orang yang paling dibenci ayahnya”(Bab: II. Hal. 15)

j. dr. Rachman

dr.Rachman memerankan dokter saraf yang meriksa Ari, dan mencurigai bahwa di otak Ari kemungkinan ada proses dan harus diperiksa secara lengkap.

(52)

usus buntu yang harus dioprasi sekarang juga. Ibu boleh membawa Ari pulang dulu…..”

“Saya mencurigai ada proses diotaknya ” (Bab:V,hal.99-100)

k. dr. Siswojo

Dokter siswojo memeranka n tokoh sebagi dokter yang memeriksa dan menangani pengoperasian otak Ari dirumah sakit Jakarta.

“takkala kris di panggil oleh dokter siswo, dia merasa bahwa kabar buruklah yang akan didegarnya, ari menderita tumor otak. Dan dokter juga menyarankan agar ari di operasi” (bab VII, hal 133-134).

”tentu saja ari boleh main-main ke sini,” potong dokter. Siswojo ramah……“

“tapi kalo ari datang kemari lagi,dokter mau ari sudah sembuh ”

(bab VIII, hal 155)

Dari penjelasan peran 12 (dua belas) took di atas, dengan melihat alur cerita dalam novel luruh kuncup sebelum berbunga, maka para tokoh tersebut dapat dikelompokan menjadi tokoh utama dan tokoh periphera atau tokoh tambahan.

(53)

Sebagai tokoh utama, aris adalah anak dari kris dan dewi. Ari tokoh anak yang lucu, polos dan baik, yang mampu meluluhkan dendam antara orang tuanya dan eyangnya yang sudah belasan tahun. Sedangkan kris dan dewi adalah orang tuanya ari. Kris seorang yang baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Dan dewi seorang ibu yang baik dan penuh kasih sayang pada keluarganya. Walaupun pernikahannya tidak pernah direstui oleh orang tuannya kris.

4) latar satyu setting

Latar adalah tempat waktu terjadinya cerita. Suatu cerita ialah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpan atau dilakukan oleh suatu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu di suatu tempat.

Latar dapat di bedakan dalam tiga unsur pokok yaitu a) tempat

b) waktu c) sosial

ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbada dan dapat di bicarakan secara sendiri, pada kenyataanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Latar dalam Novel Luruh Kuncup Sebelum berbunga secara garis besar adalah:

(54)

cerita yang menggisahkan para tokohnya dalam novel luruh kuncup sebelum berbunga bertempat di dua keluarga di se buah kota kecil dan rumah sakit di Jakarta. Keluarga pertama adalah menceritakan keluarga utama yaitu antara ari sebagai anak, dewi sebagai ibu. Dan kris sebagai ayah. Keluarga ke dua mencerikan suasana di tempat tinggal atau orang tua kris. Sedangkan rumh sakit nyang berada di Jakarta menceritakan suasan terjadinya kecemasan dan harapan kepada ari yang sedang di rawat.

“Kutipan latar tempat sebagai berikut”

“tertatih-tatih sambil meraba-raba Pinta melangkah masuk . dan Ari yang sedang bermain-main di atas tempat tidurnya langsung berseru bergembira ketika melihat Pinta. Dia sudah hendak melompat dari atsa tempat tidurnya. “(BAB III, hal 33)

“sering uti menatap adiknya jika pinta sudah tertidur di atas satu-satunya balai-balai di gubuk mereka” (bab III, hal 48)

“seperti di sambar petir Dewi mendengar teriakan anaknya . dan petir itu benar-benar menyambar ketika di lihatnya ibu mertuanya sedang duduk di depan laboratorium “ (bab IV : hal 63)

“ketika pertama mendengar betapa buruknya prognosa, Kris menangis tersedu-sedu seorang diri dalam kamarnya di hotel. Ketika itu dewi masih di rumah sakit, menjaga Ari.” (bab VII, hal 142) “malam itu Ari tertidur dengan nyeyaknya. Inilah malam pertama dia kembali kerumah. Tidur di kamarnya sendiri. Memeluk robot-robot yang disayangginya.“ (bab VII, hal 158)

“pada hari yang sama, ketika hujan turun rintik-rintik membasahi bumi, Ari dimakamkan berdampingan dengan kakeknya “ (Bab VIII, hal 156)

(55)

“mau apa kau bawa kemari ? kau kerumahnya ?” (hal 89). b. Latar waktu .

Cerita dalam novel ini mengisahkan orang di masa anak-anak yang mulai terlihat tumbuh, pintar, polos, dan lucu, namun belum sempat tumbuh lebih besar lagi dia meninggal dunia. Latar waktu dalam novel ini cerita terfokus pada cerita sewaktu ari berumur 5 sampai 8 tahun.

“kutipan latar waktu sebagai berikut”

“dia tahu betapa sayangnya Kris pada Ari. Delapan tahun mereka menunggu hadirnya seorang anak di tengah-tengah mereka …… ! (bab I, hal 14)

“….hari ini Ari belum bawa kue Buat pinta,.… ( bab III, hal 37) “beberapa malam ini aku bermimpi bertemu denga ayah, wi.” Cetus Kris ketika mereka sedang makan malam bersama …….” (bab III, hal 38)

“hamper lima belas tahun sudah,” keluh Kris lirih.” Tapi mereka belum juga memaafkan ku.” (bab IV, hal 53)

“jika sudah lima belas tahun luka itu belum sembuh juga, sampai kapan kita harus menunggu ?...

“tinggallah mala mini di sini, mas. Besok kita menengok makam ayah-ibu bersama-sama. “(bab IV, hal 58)

“………selama lima tahun, mereka harus berpisah. Ari harus tinggal di rumah sakit…….” (bab V, hal 100)

“…..gemanya memantul berulang-ulang gelindir hatinya yang paling gelap. Yang telah lima belas tahun yang tak pernah tersentuh aleh cahaya kasih sayang dan belas kasihan.”

“hamper 6 tahun Ari dibiarkan tuhan menjadi miliknya. Cucunya. Darah dagingnya. Mengapa harus di sia-siakannya waktu sesingkat itu. “

(56)

“malam –malam begini, siapa yang mengirim surat padanya ?.” meninggalkanku.” (bab VIII, hal 178)

c. Latar Sosial

Isi cerita dalam novel ini juga banyak mengisahkan latar sosial, yang menceritakan situasi dan kondisi sosial keluarga Ari, situasi dan kondisi lingkungan keluarga pak Prawoto, situasi dan kondisi pekerjaan dikantor Kris, kondisi dan situasi sosial keluarga Pinta, dan kondisi sosial kakak Dewi, Tato. Sebagaimana di ceritakan dalam novel tersebut,yaitu:

(57)

bermaksud untuk memberitahukan kepada orang tuanya bahwa Dewi sedang hamil. Tetapi, tetap saja menyambut dingin.”

“Kris bekerja di kantor swasta. Bosnya sangat baik padanya. Pada saat Kris minta cuti untuk pergi mengobati Ari ke Jakarta , bosnya langsung mengabulkan permohonannya untuk cuti. Lebih-lebih ketika rekan-rekan sekantornya datang menyodorka sebuah amplop tebal, dengan mata berkaca Kris menerima amplop berisi uang itu. Semua teman sekantornya mendoakan semoga anaknya cepat sembuh.”

“Sedangka Pinta adalh teman bermain Ari, dia seorang anak Yatim piatu yang tidak bisa melihat. Pinta anak yang baik dia tinggal bersama kakaknya yang bernama Uti, Uti bekerja sebagai pemulung, dia sangat syang kepada adiknya.”

5) Tegangan

Tegangan ialah bagian cerita yang membuat kita sebagai pembacanya terangsang untuk melanjutkan membacanya. Keinginan tersebut muncul karena pengarang seakan menjanjikan kita sebagai pembacanya akan menemukan’ sesuatu’ yang kita harapka atau sesuatu’jawaban’ atas pertanyaan-pertanyaan yang singgah dibenak kita pada waktu membaca bagian sebelumnya(Suhariyanto1982:33)

Tegangan dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga adalah sebagai mana kutipan pertanyaan”bagaimana penyakit Ari?”, “bagaimana hubungan ayah Kris dan Dewi serta Kris?”

Sebagimana terlihat dalam kutipan tersebut:

(58)

“Dokter juga bilang mesti dilakukan dulu beberapa pemeriksaan penting pada Ari, baru dapat ditentukan dengan pasti apa penyakitnnya. “(Bab:V, hal. 100-101)

“Ari sakit apa?” sergah ibu Kris kaget ketika sopirnya kembali seorang diri tanpa Ari. ‘sakit apa?”

“ Ari sakit apa ?”mengapa demikian lama? Ah, ibu kris sudah rindu. Ingin mendegar tawanya. Suaranya. Nyanyianya. Tidak enak rasanya merajut seorang diri. Tampa ari. Tampa ari dengan rajin membantu sambil asyik mendegarkan dogeng-dogengnya. Sepi nian rumah ini tampa sorakan-sorakan ari kalo dia sedang menonton video. “ (bab VI, hal 109)

“kata dokter ada semacam biji di otaknya, bu. Tepat di tengah-tengah kepala…….”

“biji ? “ketut Ibu kris tidak percaya. “penyakit apa itu ! masa ada biji di otak ?”

“itulah, bu” kris menunduk muram. “dokter Rahman menganjurkan agar Ari di bawa ke Jakarta……”

“ke Jakarta ? “ belalak ibu kris heran. “ buat apa ? “

“ di sana ada alat yang lebih canggih untuk memotret kepala ari. Kelainannya dapat lebih sempurna di diagnose. Lagi pula disini tidak ada ahli bedah saraf……”

“ahli beda ? “ hampir berhenti jantung ibu kris. Kria harus di bedah ? ” “jika nanti hasil foto di Jakarta membenarkan dignosa mereka, ada kemungkinan kepala ari akan di bedah…… biji di oatknya akan di ambil sedikit untuk diperiksa di laboratorium. Jika ternyata berbahaya …..kepaala ari harus di operasi lagi untuk mengeluarkan biji itu….” “ya tuhan ! ” (bab :VI, hal 113)

(59)

6) suasana

Suasana yang terlukis dala novel luruh kuncup sebelum berbunga adalah ada Yang mengharukan dan ada pula yang membahagiakan. Suasananya yang mengharukan di lukiskan dengan luluhan kesombongan dan kengkuhan kedua orang tua Kris. yang sudah sekian lama memebenci anak dan membantunya. Dan pada akhirnya luluhlah rasadendam itu. Sebagaimana kutipan berikut:

“ Dia sakit apa?” desak Kris penasaran. Melihat keadaan istrinya, Ayah Kris juga merasa tidak perlu lagi pura-pura acuh tak acuh.”(Bab VI, hal 118)

“ Ayah Kris tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya kegarangan dan kesombongan luluh seperti cermin dibanting di atas batu.”

(Bab : VI, hal. 119)

“ tatapan yang sayu menerawang jauh ke halaman---”(Bab: VI, hal. 119)

Suasana membahagiakan dilukiskan ketika akhirnya dapat menyatukan kembali keluarga dan membawa kedamaian antara Ibu Kris, Kris dan Dewi. Sebagaimana kutipan berikut:

“Ari menyaksikan Eyang Putrid an ayahnya saling rangkul sambil menagis. Kepergiannya telah menyatukan mereka kembali, membawa damai---“(Bab: VIII, hal. 186)

7) Pusat Pengisahan

(60)

pencerita sebagai orang pertama dan pencderita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai “aku” dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.

Dalam Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga ternyata pengarang serba hadir serta tahu pada pelaku Kris, Dewi, Ari. Pengarang tahu apa yang dilakukan pada pelaku.

“Belum pernah Dewi melihat paras suaminya semuram itu. Bahkan ketika dia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, Kris tidak sampai semurung sekarang.”(Bab:IV, hal. 53)

“Dewi hamper tidak dapat mempercayai matanya. Sejenak dia tertegun di ambang pintu. Sebelum butir-butir air mata runtuh dan bergulir ke pipinya---( Bab: IV, hal 54)

8) Gaya Bahasa

(61)

Usaha atau tindakan yang dilakukan sastrawan agar pendengar atau pembaca tertarik dan terpengaruh oleh gagasan yang disampaikan melalui tuturnya dengan pemilihan bahasa, pemakaian ulasan, dan pemanfaatan gaya bertutur. Bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa tak kaku. Bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Terdapat dalam kutipan berikut:

Gaya bahasa yang dipakai dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga adalah hiperbola, repetisi, dan perumpamaan. Sebagai kutipan

berikut:

a. Majas Hiperbola

Majas hiperbola adalah cara mengungkapkan dengan berlebih-lebihan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal. Seperti kutipan berikut:

“---halilintar menggelegar membelah udara---“(hal. 8)

“ Seperti disambar petir Dewi mendengar teriakan anaknya. Dan petir itu benar-benar menyambar ketika dilihatnya ibu mertuanya “(hal. 63)

“ segurat sesal membengkak menjadi sebongkah perasaan bersalah---“(hal. 172)

b. Majas Repetisi / Pengulangan Kata

Majas repetisi adalah majas pengulangan kata, fase, klausa, yang sama dalam suatu kalimat atau wacana.

“---ini hari, hari bahagia---(hal. 9).

(62)

“---sarung bantal Ari merah, merah sekali---“(hal. 29).

“---Mengisi paru-parunya sepenuh-penuhnya dengan udara---“(hal. 7) “---Diatasnya kue ulang tahunnya itu kuat-kuat. Hup-hup, hanya dua lilin yang padam”(hal. 7)

c. Perumpamaan

“---mereka menjaga kandungan mahal seperti menjaga sebutir intan---“(hal.22 data primer).

Ketiga gaya bahasa diatas yang paling dominan dalm Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga adalah gaya bahasa repetisi. Semua gaya bahasaa

yang dipakai lebih hidup dan dapat membuat daya tarik pembaca serta sesuai untuk seusia siswa-siswa SMP.

B. Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga sebagai Bahan Ajar

Nilai pendidikan dalam novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:

1. Bahasa

(63)

bervariasi menggunakan istilah-istilah baru yang berguna menambah pengetahuan dan wawasan pembaca khususnya usia SMP.

Bahasa tersebut sebagaimana kutipan tersebut :

---“rasanya untuk saat ini kita tidak bisa menghindari operasi, pertama-tama un tuk membuka sumbatan yang tadi saya katakana. Kemudian kita akan melakukan biopsi, mengambil sedikit jaringan otak Ari untuk diperiksa di laboratorium”

(hal. 135)

---“spontanitas kanak-kanaknya meruntuhkan hambatan tradisi dan prinsip. Dia melangkah tegap menerobos jurang antar generasi. Menggempur semua bent eng perbedaan prinsip, usia dan keangkuhan” (hal. 131)

---“kata dokter, Cuma beberapa hari”. Tetapi yang beberapa hari itu ternyata tidak menyenangkan Ari. Bukan hanya darahnya yang diambil tetapi cairan otaknya juga, dank arena sakitnya, Ari sampai jera, tidak mau diperiksa apapun”(hal. 106)

Dalam tulisan lain dapat dilihat pada kutipan berikut : “Ari telah pergi jauh” (hal. 186)

“Hampir enam tahun Ari dibiarkan Tuhan menjadi miliknya” (hal. 172) “Ari memukuli dada ayahnya sambil menangis sampai Kris kewalahan menghentikannya” (hal. 148)

2. Psikologi

Usia siswa SMP antara 13 (tiga belas) sampai 16 (enam belas) tahun adalah termasuk pada tahap realistic, maka buku-buku yang dibacapun lebih memiliki hal-hal yang realistic, sudah kurang menyukai yang bersifat fantastis.

(64)

dengan kehidupan dimasyarakat yang selama ini dihadapi. Dalam novel ini banyak hal-hal yang dibutuhkan dan dikembangkan anak sebagai modal dasar pendewasaan diri menuju manusia yang cerdas dan mandiri. Hal-hal yang perlu diketahui dan dikembangkan misalnya tentang solidaritas, etika, sosial, keagaman. Sebagaiman kutipan novel berikut.

“---seperti hendak menghindarkan kenangan itu dari ingatannya, ayah Kris bergegas bangun, tetapi dia tidak mampu berdiri. Lututnya bukan main sakitnya, seketika Ari melompat untuk membantu kakeknya. Dicobanya menarik-narik tangan ayah Kris, tetapi Eyang terlalu berat” (hal. 121)

“Kalau ingat orang tuanya, aku juga kesal Pak. Tapi kalo sudah dekat dengan Ari, aku tidak bisa marah. Habis dia lucu, tidak nakal, pintar, gemar membantu pula. Beberapa hari ini, terus terang aku betul-betul kehilangan dia, Pak.” ( hal. 112)

3. Latar Budaya

a. Nilai Pendidikan Etika

Nilai pendidikan etika banyak tercermin dalam novel Luruh KuncupSebelum Berbunga seperti kutipan berikut:

“Tetapi dia tidak mau Pinta kelaparan. Kalau harus memilih, dia tahu yang mana harus dipilihnya. “Buat Pinta saja”, katanya sampai mendorong piring kembali. “Tapi kakak lapar”! protes pinta, berkeras menyorongkan piring itu kepada kakaknya.”

“Pinta memeganglengan kakaknya dengan sedih, dia memang tidak dapat melihat tetapi dia dapat merasakan kesedihan kakaknya” (hal. 45)

(65)

Kemudian pada dialog lain tercermin nilai etika kehidupan, bahwa manusia tidak boleh tergantung pada orang lain tetapi harus usaha sendiri.

“Tapi Pinta tidak boleh mengemis padanya, selama kakak masih bisa cari makan, kamu tidak boleh menerima belas kasihan orang” (hal. 46) “Dewi bertanya pada Ari pun menjawab bahwa semuanya dari Eyang. Dewi terkejut mendengar jawaban Ari dan yang terkejut bukan hanya Dewi, tetapi Ari juga. Karena Ari baru sadar akan janjinya pada Eyangnya.” Dialaog tersebut mencerminkan adanya kode etik untuk selalu memegang janji.” (hal. 75)

Nilai pendidikan etika dalam kebiasaan kerapian dan ketertiban juga tercermin pada Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, yaitu seperti dialog berikut:

“Hati-hati dipungutnya celananya. Dikumpulkannya bersama kemeja dan sepatunya. Pakaian kotor ditaruhnya di dalam keranjang cucian yang memang telah disediakan Dewi di sudut kamar.” (hal. 81)

b. Nilai Pendidikan Moral dan atau Kasih Sayang

Nilai pendidikan moral dan atau kasih sayang banyak dimunculkan pada dialog cerita Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, diantaranya sebagai berikut:

“anak yatim piatu itu buta. Setiap kali melihat Pinta, dia merasa iba. Sudah miskin, yatim piatu, cacat pula.” Rasa belas kasihan dalam cerita novel tersebut menunjukkan bahwa ceritanya mengandung nilai pendidikan moral dan kasih sayang sesama. Seperti juga dalam dialog lain disebutkan.”

Referensi

Dokumen terkait

Jenis dan banyaknya diagram yang dibuat menggunakan metode UML pada rancangan sistem yang diusulkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan sifat sistem yang

 Penyimpanan dokumen penawaran tidak aman  Dokumen yang terlambat masih diterima.  Penyerahan

digunakan peneliti dalam siklus II ini yaitu model pembelajaran inkuiri. Siklus I ini dilakukan selama 4 jam pelajaran, dalam dua kali pertemuan. Materi yang dipelajari

Pendidikan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui kegiatan intra/ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan karakteristik, emosional,

Pemberian pendidikan menuntut anak untuk dapat menyelaraskan apa yang dilakukannya terhadap lingkungan sosialnya sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditanamkan di

Di lain pihak, rumah adat Sunda beserta tata ruang di dalamnya dibangun dan dipengaruhi oleh elemen-elemen kepercayaan / adat istiadat Sunda (aspek budaya),di mana setiap unsur

• Rincian sub unsur yang sesuai dengan jenjang jabatan mencakup seluruh kegiatan yang dapat dilakukan pada jenjang jabatan yang bersangkutan, baik yang diusulkan maupun tidak..

Terwujudnya konsep rancangan bangunan yang dapat mengkomunikasikan dan menunjukkan ekspresi budaya setempat untuk mengakomodasikan kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelestarian