• Tidak ada hasil yang ditemukan

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saham 2.1.1 Pengertian Saham

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saham 2.1.1 Pengertian Saham"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

10 2.1 Saham

2.1.1 Pengertian Saham

Untuk memperoleh modal, perusahaan menerima setoran dari para investor Sebagai bukti setoran, perusahaan mengeluarkan tanda bukti pemilik saham yang diserahkan kepada pihak yang menyetorkan modal. Pemilik perusahaan merupakan pihak yang mempunyai saham dan disebut sebagai pemegang saham. Saham adalah tanda penyertaan atau tanda kepemilikan seseorang atau badan usaha pada sebuah perusahaan. Menurut Sjahrial (2012:19) saham adalah “Surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas atau yang biasa disebut emiten”. Menurut Sunariyah (2011: 126-127) pengertian saham adalah “Sebuah surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau yang biasa disebut emiten”. Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan tersebut”.

Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011: 5), pengertian saham adalah: Saham (shares) didefinisikan sebagai tanda pernyataan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.

Ada bebarapa alasan mengapa perusahaan berkepentingan untuk menjual sahamnya, tapi pada umumnya adalah untuk menambah modal kerja atau membiayai perkembangan perusahaan. Penjualan saham biasanya dilakukan melalui bursa, dalam hal ini kepada masayarakat guna untuk menambah modal kerja, perluasan perusahaan, atau untuk produk timbal balik, dari ke semua itu pemegang saham akan menerima keuntungan dari perusahaan yang menerbitkan saham.

(2)

perusahaan sebagai tanda kepemilikan perusahaan karena telah menyetorkan sejumlah modal.

2.1.2 Manfaat Kepemilikan Saham

Investor yang melakukan pembelian saham, otomatis akan memiliki hak di dalam perusahaan yang menerbitkannya. Banyak sedikitnya jumlah saham yang dibeli akan menentukan persentase kepemilikan dari investor tersebut. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki investor maka semakin besar juga haknya atas perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.

Secara umum ada dua manfaat yang bisa diperoleh pembeli saham yaitu manfaat ekonomis dan manfaat non-ekonomis (Anorage, 2006:60).

1. Manfaat ekonomis meliputi:

a. Dividen (dividen) adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai (cash dividen), yaitu kepada setiap pemegang saham dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa dividen saham (stock dividen), yaitu kepada setiap pemegang saham dividen dalam bentuk saham, sehingga jumlah saham yang dimiliki investor akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

b. Capital Gain

Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh investor dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan nilai beli yang lebih rendah.

2. Manfaat Non-Ekonomis

Manfaat non-ekonomis yang bisa diperoleh pemegang saham adalah kepemiilikan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan jalannya perusahaan. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki investor, maka semakin besar pula hak suaranya dalam RUPS.

2.1.3 Resiko kepemilikan saham

Menurut Darmaji dan Fakhrudin (2011: 13), ada beberapa resiko yang dihadapi pemodal dengan kepemilikan sahamnya, yaitu tidak mendapat deviden dan mengalami capital loss.

1. Tidak mendapat dividen

(3)

2. Capital loss

Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya. Investor juga dihadapkan pada resiko capital gain apabila ia menjual sahamnya dengan harga jual lebih rendah dari harga belinya.

3. Perusahaan Bangkrut atau Dilikuidasi

Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi, maka pemegang saham akan menempati posisi lebih rendah dibandingkan kreditor atau pemegang obligasi. Ini berarti setelah semua aset perusahaan tersebut dijual, hasil penjualan terlebih dahulu dibagikan kepada para kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa, baru dibagikan kepada para pemegang saham.

4. Saham Dikeluarkan dari Bursa (Delisting)

Saham perusahaan di-delist dari bursa karena kinerja yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai Peraturan Efek di Bursa. Saham yang di-delist tentu saja tidak dapat lagi diperdagangkan di bursa, namun tetap dapat diperdagangkan diluar bursa dengan konsekuensi tidak terdapat patokan harga yang jelas dan jika terjual biasanya dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga sebelumnya.

5. Saham Dihentikan Sementara (Suspensi)

Saham yang di-suspend atau diberhentikan sementara diperdagangannya oleh otoritas Bursa Efek, menyebabkan investor tidak dapat menjual sahamnya hingga suspensi tersebut dicabut. Suspensi dilakukan oleh otoritas bursa jika suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipalitkan oleh kreditornya, dan berbagai kondisi lain yang mengharuskan otoritas bursa men-suspend perdagangan saham tersebut sampai perusahaan yang bersangkutan memberikan konfirmasi atau kejelasan informasi lainnya, agar informasi yang belum jelas tersebut tidak menjadi ajang spekulasi. Jika telah didapatkan suatu informasi yang jelas, maka suspensi atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa dan saham dapat diperdagangkan kembali seperti semula.

2.1.4 Harga Saham

(4)

pertimbangan terhadap maksimalisasi kekayaan para pemegang saham. Menurut Martelena dan Malinda (2011: 57) harga pasar saham adalah “Nilai suatu saham yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran yang terbentuk di bursa saham. Menurut Brigham dan Houston (2011:7) “Harga saham menentukan kekayaan pemegang saham”. Maksimalisasi kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi maksimalkan harga saham perusahaan. Harga saham pada satu waktu tertentu akan bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa depan oleh investor jika investor membeli saham. Menurut Jogiyanto (2010:167) pengertian dari harga saham adalah “Harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangutan di pasar modal”.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa harga saham adalah harga yang terbentuk sesuai permitaan dan penawaran dipasar jual beli saham dan biasanya merupakan harga penutupan. Harga saham di bursa efek akan ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Pada saat permintaan saham meningkat, maka harga saham tersebut akan cenderung meningkat. Sebaliknya, pada saat banyak orang menjual saham tersebut cenderung akan mengalami penurunan. Harga sebuah saham dapat berubah naik turun dalam hitungan yang begitu cepat. Harga tersebut dapat berubah dalam hitungan menit, bahkan dalam hitungan detik.

2.2 Investasi

(5)

Menurut Tandelilin (2010: 1) “Investasi sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan dimasa datang”.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi adalah penempatan sejumlah dana saat ini pada satu atau lebih aktiva yang dimiliki pada periode tertentu untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.

2.2.1 Tujuan Investasi

Tujuan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan. Menurut Tandelilin (2010: 4) beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, antara lain adalah:

a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.

b. Mengurangi tekanan inflansi

dengan melakukan investasi dalam pemelikan perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghondarkan diri dari resiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflansi.

c. Dorongan untuk menghemat pajak

Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang – bidang usaha tertentu.

2.3 Analisis Rasio Keuangan

(6)

periode. Analisa rasio keuangan merupakan analisis yang dilakukan dengan menghubungkan bebabagai perkiraan yang ada pada laporan keuangan dalam bentuk rasio keuangan (Hery, 2015:139). Analisa rasio keuangan, yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba rugi satu dengan yang lainnya, dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan. Analisa rasio juga memungkinkan manajer keuangan memperkirakan reaksi para kreditor dan memberikan pandangan kedalam tentang bagaimana kira-kira dana dapat diperoleh.

Agar memberikan hasil optimal, penafsiran rasio-rasio haruslah meliputi pengkajian data yang mendasarinya. Rasio merupakan pedoman yang berkaedah dalam mengevaluasi posisi dan operasi keuangan perusahaan dan mengadakan perbandingan dengan hasil dari tahun-tahun sebelumnya atau perusahaan-perusahaan lain. Analisis rasio keuangan yang dapat digunakan dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan meliputi:

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)

Rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan maupun di dalam perusahaan. Rasio likuiditas ini terdiri dari: current ratio (rasio lancar), Quick Ratio (Rasio Cepat), dan Cash Ratio (Ratio Kas). 2. Leverage Ratio (Rasio solvabilitas)

Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiyai dengan utang. Artinya besarnya jumlah utang digunakan perusahaan untuk membiyai kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan menggunakan modal sendiri. Rasio leverage ini terdiri dari: Debt To Ratio (Rasio Hutang Terhadap Total Aktiva), Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang Terhadap Ekuitas), Time Interest Earned (Rsio Berapa Kali Bunga Yang Dihasilkan), Fixed Charge Coverage (Rasio Lingkup Biaya Tetap), 3. Rasio Aktivitas (Activity Ratio)

Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini menunjukkan kemampuan serta efisiensi perusahaan didalam memanfaatkan harta-harta yang dimilikinya. Rasio aktivitas ini terdiri dari : Total Asset Turn over (Rasio Perputaran Total Aset), Fixed Asset Tur nover, Receivable Turn over (Rasio Perputaran Piutang), Inventory Turn over(Rasio perputaran Persediaan), Working Capital Turn Over (Perputaran Modal Kerja).

4. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)

(7)

keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan. Rasio profitabilitas ini terdiri dari: Profit Margin Ratio (Profit Margin On Sales), Earning per Share, Net Profit Margin (Margin Laba Bersih), Return On Invesment (Pengembalian Atas Investasi), dan Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas).

5. Rasio Pertumbuhan

Rasio pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan dalam mempertahankan posisi ekonominya ddi tengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahannya. Dalam rasio pertumbuhan yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan, laba bersih, pendapatan per saham dan deviden per saham.

6. Rasio Nilai Pasar (Market Ratio)

Rasio penilaian yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya diatas biaya investasi. Rasio ini terdiri dari: Earning Per Share (Pendapatan per Saham), Price Earning Ratio (Ratio Harga Laba), Dividend Yield, Dividend per Share, Dividend Payout Ratio, Book Value per Share, dan Price to Book value.

2.3.1 Current Ratio (CR)

Current ratio (CR) dapat dihitung dengan cara membandingkan antara

total asset lancar (Current asset) dengan total hutang lancar (current liabilities). Rasio ini merupakan salah satu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Menurut Kasmir (2014:134) “Current Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan”. Menurut Munawir (2012:72), menyatakan bahwa curret ratio adalah:

Rasio yang paling umum digunakan untuk menganalisis posisi modal kerja suatu perusahaan adalah Current ratio yaitu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukan bahwa nilai kekayaan lancar (yang segera dapat dijadikan uang) ada sekian kalinya hutang jangka pendek. Menurut Harahap (2013: 301), pengertian current ratio adalah:

Current ratio (Rasio Lancar) adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban – kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya”.

(8)

dalam likuditas dan dapat diartikan sebagai indikator ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio yang tinggi berarti bahwa likuiditas menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola money to creat money, yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan.

Semakin baiknya kondisi asset lancar dalam suatu perusahaan, maka perusahaan memiliki kemampuan yang lebih untuk meningkatkan produksi dan menghasilkan pertumbuhan penjualan dan laba yang lebih besar, kondisi yang demikian dapat meningkatkan kepercayaan investor dan meningkatkan nilai saham perusahaan tersebut. Nilai saham yang meningkat akan meningkatkan tingkat pengembalian saham perusahaan (return).

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Current ratio merupakan rasio untuk mengukur likuiditas perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki perusahaan. Rumusan untuk mencari rasio lancar atau current ratio menurut Kasmir (2014:135) yaitu:

Aset Lancar

Current Ratio = x 100%

Kewajiban Lancar

2.3.2 Debt To Equity Ratio (DER)

Salah satu aspek yang dinilai dalam mengukur kinerja perusahaan adalah aspek leverage atau utang perusahaan. Utang merupakan komponen penting perusahaan, khususnya sebagai salah satu sarana pendanaan. Penurunan kinerja sering terjadi karena perusahaan memiliki utang yang cukup besar dan kesulitan dalam memenuhi kewajiban tersebut.

(9)

perusahaan”. Menurut Fahmi (2012:128) Debt to Equity Ratio adalah “Ukuran yang dipakai dalam menganalisis laporan keuangan untuk memperlihatkan besarnya jaminan yang tersedia untuk kreditor”.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui

perbandingan antara total utang dengan modal sendiri. Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai dari utang.

Rumus untuk mencari Debt to Equity Ratio menurut Kasmir (2014: 158) dapat digunakan perbandingan antara total liabilities dengan total equity sebagai berikut :

Total Utang (ekuitas)

Debt to Equit Ratio =

Total Ekuitas (Equity)

Besarnya utang yang terdapat dalam struktur modal perusahaan sangat penting untuk memahami pertimbangan antara resiko dan laba yang didapat. Utang membawa resiko karena setiap utang pada umumnya akan menimbulkan keterikatan yang tetap bagi perusahaan berupa cicilan kewajiban pokok secara periodik. Semakin tinggi DER menunjukkan tingginya ketergantungan pemodalan perusahaan terhadap pihak luar, sehingga beban perusahaan juga semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hak pemegang saham (dalam bentuk deviden). Tingginya DER selanjutnya akan mempengaruhi minat investor terhadap saham perusahaan tertentu, karena investor lebih tertarik pada saham yang tidak menanggung terlalu banyak beban hutang.

Debt to Equity Ratio mempunyai pengaruh terhadap perubahan harga

saham. Hal ini mengindikasi bahwa semakin besar rasio hutang (DER) harga saham semakin naik yang menunjukkan bahwa sejauh mana pembayaran bunga bisa dipergunakan untuk mengurangi beban pajak maka penggunaaan hutang memberikan manfaat bagi pemilik perusahaan.

2.3.3 Total Asset Turnover (TATO)

(10)

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa jumlah penjualan yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset”. Menurut Kasmir (2014: 185) Total Asset Turnover adalah “Rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva”. Untuk mengitung Total Asset Turnover digunakan rumus sebagai berikut:

Penjualan

Total Asset Turnover = x 100%

Total Aset

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Total Asset Turnover adalah rasio yang digunakan untuk mengukur semua perputaran

aset dan jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aset.

2.4 Laporan Keuangan

Laporan keuangan dapat dengan jelas memperihatkan gambaran kondisi keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi entitas-entitas di dalam perusahaan itu sendiri maupun entitas-entitas lain di luar perusahaan.

(11)

sumber dan penggunaan atau alasan – alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan. Menurut Harahap (2013:105) “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu”. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba – rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan posisi keuangan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan untuk perusahaan terdiri dari laporan – laporan yang melaporkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang dilaporkan dalam neraca dan perhitungan laba-rugi menunjukkan jumlah aset, kewajiban dn ekuitas perusahaan. Laporan laba-rugi menunjukkan hasil operasi perusahaan selama periode tertentu. Sedangkan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan.

2.5 Penelitian Terdahulu

Berikut ini akan dilampirkan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Rasio Likuiditas ( Current Ratio ), Rasio Solvabilitas (Debt To Equity Ratio) dan Rasio Aktivitas ( Total Asset Turnover ) terhadap Harga Saham yang

dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

1 Zahroh dkk (2016) (Jurnal Adminitrasi Bisnis Vol.32 No.2 Maret 2016)

Pengaruh ROE, DER, TATO, dan PER Terhadap Harga Saham Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Go Publik Di Bursa Efek Indonesia

Menggunak an variabel dependen : Harga Saham independen : DER dan TATO

Mengguna kan variabel independen ROE dan PER

Hasil penelitian menyimpulka n bahwa ROE, dan PER mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Sedangkan secara

(12)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian dan TATO tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

2 Wardi (2015) (Jurnal Akutansi, Vol.3, No.2 April 2015 : 127-147)

Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Return On Equity dan Eranig Per Share terhadap harga saham pada perusahaan pertambangan yang terdaftar dibursa efek indonesia periode 2009-2011 Menggunak an variabel dependen : Harga Saham Independen : CR dan DER

Mengguna kan variabel independen : ROE dan EPS Hasil analisis diketahui bahwa variabel EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Sementara itu Current Ratio, Debt To Equity Ratio dan Return On Equity secara signifikan tidak berpengaruh terhadap harga saham.

3 Mangantar dkk (2015) (Jurnal emba VOL.3 No.2 Juni 2015, Hal. 749-756 Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Return On Assets, Return On Equity pengaruhnya terhadap harga saham pada indeks LQ 45 di BEI PERIODE 2010-2014 Menggunak an variabel dependen : Harga Saham Independen : CR dan DER

(13)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

4 Prianto (2015) (jurnal Ilmu dan Riset Manajemen Volume 4, Nomor 3, Maret 2015) Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan telekomunikasi di BEI Menggunak an variabel Dependen: Harga Saham Independen : CR, DER, dan TATO Mengguna kan Variabel Independe n: ROI dan PER Berdasarkan hasil analisis Dihasilkan Total asset turnover berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan current ratio, debt to equity ratio, return on invesment, dan price earning ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham.

(14)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

Retail dan variabel BV, dan ROE tidak mempengaruh i secara signifikan terhadap harga saham perusahaan ritel. 6 Setiyawan

(2014) (Jurnal Nominal/ Volume Iii Nomor 2 / Tahun 2014) Pengaruh Current Ratio, Inventory Turnover, Time Interest Earned dan Return On Equity Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Komsumsi Yang Terdaftar Di Periode 2009-2012 Menggunak an variabel dependen: Harga Saham Independen : Current Ratio Mengguna kan variabel independen : Inventory Turnover, Time Interest Earned, dan Return On Equity Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Current Ratio, Time Interst Earned, Return On Equity berpengaruh positif dan signifikan terhdap harga saham dan secara silmultan berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan Inventory Turnover berpengaruh negatif dan tidak signifkan terhadap harga saham.

(15)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013 Independen : Current Ratio (CR) Per Share (EPS), Return On Equity (ROI) dan Return On Equity (ROE) Signifikan Terhadap Harga Saham. Sementara Current Ratio, Return On Invesment dan Return On Equity Tidak Berpengaruh Signifikan Terhadap Harga Saham .

(16)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian inventory turnover berpengaruh tidak signifikan secara parsial terhadap harga saham.

9 Ariza dkk (2014) (Jurnal Dinamika Manajemen Vol. 2 No.2 April-Juni 2014)

Analisis faktor – faktor yang mempengaruhi harga saham pada industri transportation services di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 – 2012 Menggunak an variabel Dependen : Harga saham Indepeden : Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER) dan Total Asset Turnover (TATO) Mengguna kan varieabel dependen: Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS) Hasil Penelitian menunjukkan secara silmutan variabel CR, DER, TATO, ROE, dan EPS berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan secara parsial variabel DER, TATO, dan ROE berpengaruh terhadap harga saham.

(17)

No Nama dan Tahun Penelitian

Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

Profit Margin dan resiko sistematik

secara

bersama- sama berpengaruh terhadap harga saham. Secara parsial

Eraning Per Share, Price Earning Ratio, Book Value Per Share, Devidend Payout Ratio, Return On Assets, Return On Equity, Net Profit Margin dan resiko sistematik berpengaruh positif

terhadap harga saham.

2.6 Kerangka Pemikiran

(18)

H1

H2

H3

H4

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

2.7 Hipotesis Penelitian

Pengertian hipotesis penelitian menurut Sugiyono (2015: 96) adalah “Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat”. Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori serta kerangka pemikiran teoritis yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 : Diduga ada pengaruh yang signifikan Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER) dan Total Asset Turnover (TATO) secara simultan terhadap variabel dependen harga Saham pada perusahaan subsektor pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014.

H2 : Diduga ada pengaruh yang signifikan Current Ratio (CR) secara parsial terhadap variabel dependen harga Saham pada perusahaan subsektor pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014.

Harga Saham (Y) Current Ratio

(X1)

Debt To Equit Ratio (X2)

(19)

H3 : Diduga ada pengaruh yang signifikan Debt To Equity Ratio (DER) secara parsial terhadap variabel dependen harga Saham pada perusahaan subsektor pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014.

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1

Referensi

Dokumen terkait

rawat inap kelas II terhadap pelayanan keperawatan di RSUD Sanjiwani Gianyar dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut dari 86 responden secara umum sebagian besar

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda, yaitu untuk menganalisis pengaruh faktor pertumbuhan penduduk, dan tingkat inflasi terhadap

Proses flowchart pada login merupakan data yang harus di isi sesuai dengan user name dan password yang sudah melakukan registrasi sebelumnya, proses ini

Dimana apabila menunjukan status tersedia dari sebuah sarana pada suatu tanggal tertentu itu artinya sarana tersebut masih bisa untuk dilakukan pemesanan karena

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis akan meneliti pengaruh dari penerapan PSAK 24 khususnya mengenai imbalan pascakerja terhadap risiko perusahaan dan

Achmad Wardi - Badan Wakaf Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dompet Dhuafa Republika sebagai pengelola RS - Masyarakat dhuafa (gratis disubsidi dana zakat).

Namun pada neonatus dengan gejala klinis TB dan didukung oleh satu atau lebih pemeriksaan penunjang (foto toraks, patologi anatomi plasenta dan mikrobiologis darah v.umbilikalis)

Tujuan dari penulisan ini adalah membuat aplikasi yang dapat memberikan rekomendasi pemesanan iklan yang optimal, data yang saling terintegrasi, dan kalkulasi