• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum

2.1.1 Definisi Museum

Kata museum berasal dari mouseion, yang berarti kuil untuk Sembilan dewi muses, anak-anak Zeus, yang melambangkan ilmu dan kesenian. Kata museum mulai banyak digunakan pada masa Renaissance, sekitar abad ke 16 dan ke-17. Berdasarkan kamus Oxford, museum adalah sebuah bangunan dimana objek-objek sejarah, pengetahuan, seni, atau budaya disimpan dan dipamerkan. Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno.

Berdasarkan International Council of Museums pada tahun 2006, museum adalah lembaga permanen yang tidak mencari keuntungan, diabdikan untuk kepentingan masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan bukti-bukti bendawi manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi penelitian, dan kesenangan. Sedangkan dalam peraturan pemerintah daerah No.19 tahun 1995, tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum menyebutkan bahwa museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia, serta alam lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

2.1.2 Museum Yang Ideal

Museum sebagai sebuah bangunan pada dasarnya memiliki standar rancang bangun sebuah museum, tetapi dalam kasus Museum Satriamandala yang bangunan aslinya merupakan sebuah rumah tinggal, akhirnya memiliki sebuah keunikan dan sejarah

(2)

tersendiri. Sebagai pemberi informasi, museum memiliki tugas untuk merekonstruksi kisah atau sejarah melalui benda-benda milik museum tersebut, oleh karena itu sebuah museum harus bisa membangun konteks, dalam kaitannya bagaiman cara museum menyampaikan informasi tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga informasi yang dapat orang ambil dari benda tertentu tidak berhenti pada benda itu saja, tetapi dari seluruh aspek yang membangun benda tersebut. Oleh karena konteks menjadi syarat utama sebuah museum, bila museum gagal menghadirkan konteks, dapat dikatakan museum tersebut gagal.

Karena melayani informasi untuk masyarakat, idealnya informasi dari benda tersebut harus dapat diakses oleh siapapun, termasuk oleh penyandang disabilitas. Oleh karena itu penggunaan metode komunikasi yang maksimal harus bisa disampaikan secara bersamaan agar semua orang dapat mengerti.

2.1.3 Fungsi Museum

Museum memiliki empat fungsi yaitu:

- Fungsi Informatif : fungsi pertama museum adalah memberikan informasi, setiap orang yang datang ke museum adalah mendapatkan informasi, oleh karena itu museum sebagai sebuah institusi yang mewadahi benda-benda tersebut harus bisa menyampaikan kembali kepada khalayak informasi dari benda-benda tersebut. - Fungsi inspiratif : orang-orang yang datang ke museum, setelah mereka mendapat

infomasi dari benda-benda yang mereka lihat, efek yang didapatkan adalah timbulnya ide atau gagasan. Sebagai contoh, seorang seniman atau desainer saat mereka berkunjung ke museum, akan muncul di kepala mereka ide-ide baru untuk karya mereka

- Fungsi edukatif : karena museum menyampaikan informasi, secara bersamaan museum memiliki fungsi mendidik. Oleh karena itu secara otomatis, museum memiliki peran penting sebagai agen pendidikan.

- Fungsi rekreatif : museum adalah tempat rekreasi karena museum adalah tempat kita belajar di luar kelas

(3)

2.1.4 Kategori Museum

Museum dibagi dalam dua kategori, yaitu:

- Museum umum : museum yang didalamnya terdiri dari berbagai macam barang, dan cakupan nya luas, biasanya berisi barang-barang yang mewakili suatu daerah tertentu sebagai contoh Museum Nasional, benda-benda yang berada di dalam nya adalah semua kaitannya dengan sejarah Indonesia

- Museum khusus : Museum yang barang koleksi nya sudah sangat spesifik, yang berarti museum tersebut bersifat tematik, hanya berfokus pada benda-benda yang berhubungan dengan nama museum tersebut. Sebagai contoh Museum Tekstil, semua benda koleksi nya hanya terdiri dari tekstil saja.

Melihat dari dua kategori museum di atas, Museum Satriamandala termasuk dalam kategori museum khusus, sebab museum tersebut spesifik kepada sejarah TNI, yang berarti benda-benda koleksi nya hanya yang berhubungan dengan TNI.

2.1.5 Sejarah Museum Satriamandala

Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung Museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso, yaitu tempat kediaman Ir. Soekarno bersama istri nya Ratna Sari Dewi Soekarno. Bung Karno dan tempat disemayamkannya Bung Karno sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Setelah beliau wafat pada tahun 1970, para pemimpin TNI (pada saat itu masih bernama ABRI) memiliki gagasan untuk membuat sebuah museum pusat TNI, setelah meninjau beberapa lokasi, akhirnya rumah tersebut dipilih untuk dijadikan museum tersebut. Pada tanggal 5 Oktober 1972 bertepatan juga dengan HUT TNI, rumah resmi itu dibuka sebagai museum sejarah TNI dan diresmikan oleh Bapak Soeharto selaku presiden saat itu. Kemudian oleh presiden Soeharto, museum tersebut diberi nama Museum Satriamandala yang berarti Satria itu pahlawan dan Mandala adalah tempat suci atau keramat. Dari sana dapat dimaknakan bahwa Museum Satria Mandala adalah tempat suci berkumpulnya para pahlawan. Museum ini berada di bawah Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI) pada struktur organisasi.

(4)

Tujuan didirakannya museum ini adalah mewariskan nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia khusunya perjuangan TNI, oleh karena itu benda-benda yang berada di museum ini seluruhnya berkaitan dengan TNI, seperti panji-panji, senjata, seragam, hingga diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan TNI dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan dari 1945 hingga sekarang. Pada saat ini museum memiliki total 109 diorama.

2.1.6 Visi dan Misi Museum Satriamandala

VISI :

Menjadi museum yang professional sebagai penyelenggara Pembina kesejarahan dan pengembangan jiwa korsa serta semangat keprajuritan dalam rangka pembinaan kemampuan kekuatan pertahanan negara.

MISI :

1. Melaksanakan pembinaan kesejarahan dan tradisi TNI melalui museum.

2. Mewujudkan Museum Satriamandala menjadi rujukan museum di lingkungan TNI.

3. Mewujudkan Museum Satriamandala menjadi salah satu andalan destinasi kunjungan wisata di propinsi DKI Jakarta.

2.1.7 Konteks Museum Satriamandala

Konteks yang dibangun dalam museum ini adalah sejarah perjuangan TNI dari tahun 1945 hingga sekarang, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh TNI. TNI meliputi angkatan darat, laut, dan udara sehingga bila dibawa kemanapun, museum tidak boleh lepas dari salah satu komponen di atas, dan komposisi nya harus seimbang. Bila berbicara tentang, tokoh, peran senjata, dll harus selalu berkaitan dengan ketiga angkatan tersebut.

Dalam kaitannya dengan konteks sebagai cara menyampaikan informasi, sebuah koleksi senjata sebagai contoh harus bisa bercerita tentang spesifikasi, sejarah, lalu bagaimana dulu senjata itu digunakan, digunakan oleh siapa, dan sebagainya

(5)

sehingga benda tersebut dapat bercerita secara komplit dan memberikan nilai yang utuh.

2.1.8 Kondisi Saat Ini

Museum Satriamandala tidak memiliki masalah yang cukup signifikan, satu-satunya masalah yang berarti adalah penambahan koleksi. Umumnya benda koleksi didapatkan dari sumbangan, jadi cukup sulit untuk menambah koleksi, tetapi ada juga koleksi yang disumbangkan belum memiliki tema di museum sehingga belum bisa dipamerkan. Sedangkan dari segi pengunjung yang datang, Museum Satriamandala mengalami peningkatakan dari tahun 2013 yang berjumlah 32.136 ke tahun 2014 yang berjumlah 40.381, dan ini merupakan kenaikan yang paling signifikan bila dibandingkan dengan museum-museum yang berhubungan dengan TNI di DKI Jakarta meskipun seluruh museum tersebut juga mengalami kenaikan pengunjung pada tahun 2014.

Dari angka di atas, yang paling banyak menyumbang pengunjung adalah siswa Sekolah Dasar, disebabkan oleh memang umumnya Sekolah Dasar memiliki program unutk berkunjung ke museum, dan Museum Satriamandala menjadi salah satu rujukan karena konten nya yang berhubungan dengan sejarah negeri dan nasionalisme. Juga karena pada saat libur sekolah sekitar pertengahan tahun, keluarga mengajak anak-anak mereka untuk rekreasi ke museum.

Museum Satriamandala sendiri memiliki program-program pengenalan museum seperti museum keliling yaitu museum yang berjalan yang mendatangi sekolah-sekolah dengan menggunakan kendaraan, namum pada tahun belakangan ini belum berjalan kembali. Pada tanggal 18 Mei yang merupakan hari museum sedunia, Pemda DKI Jakarta mengadakan pameran museum-museum di Museum Sejarah Jakarta atau yang biasa kita kenal dengan Gedung Fatahillah. Disana Museum Satriamandala berpartisipasi dan antusiasme masyarakat sangat tinggi karena pengunjung diperbolehkan memegang benda koleksi, ini juga merupakan cara-cara untuk mendekatkan konteks benda tersebut kepada masyarakat masa kini.

(6)

2.1.9 Komparasi Dengan Museum Militer di Luar Negeri

Gambar 2.1

Mengambil contoh di atas, dapat terlihat bagaimana cara menyajikan benda-benda koleksi dengan baik sehingga mereka berada tepat pada konteksnya. Terlihat dari bagaimana mereka meletakkan sejarah dengan benda-benda terkaitnya yaitu dari mulai seragam, tas, senjata, lencana, hingga kaus tangan. Didukung pula dengan tata penyimpanan, peletakan, hingga cahaya, sehingga suasana yang dibangun semakin kuat. Contoh tersebut dapat digunakan untuk bagaimana cara membangun konteks yang tepat.

2.1.10 Sejarah Singkat Tentara Nasional Indonesia (TNI)

TNI lahir dari perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang ingin menjajah kembali melalui kekerasan senjata. TNI merupakan perkembangan dari organisasi Badan Keamanan Rakyat (BKR), selanjutnya pada 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan untuk memperbaiki susunan agar sesuai dengan dasar militer Internasional, dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Dalam perkembangannya pemerintah berusaha untuk terus menyempurnakan tentara guna mengekakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Pada tanggal 3 Juni 1947 dua kekuatan bersenjata yaitu TRI

(7)

dan badan-badan perjuangan rakyat disatukan dan presiden resmi mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada tahun 1949 dibentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Sejalan dengan itu dibentuk juga angkatan perang RIS (APRIS) yang merupakan gabungan TNI dan KNIL. Pada Agustus 1950 RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, APRIS pun berganti nama mejadi Angkata Perang RI (APRI). Pada tahun 1952 terjadi sebuah masalah yang mengakibatkan retaknya TNI, dan sebagai upaya penyatuan kembali, pada tahun 1962 organisasi angkatan perang dan kepolisian Negara digabungkan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu titik penting pada sejarah TNI terutama pada dekade enam puluhan.

2.1.11 Definisi Pameran

Pameran adalah sebuah pertunjukan (hasil karya seni, produksi, dsb). Pameran adalah upaya memperkenalkan ide atau gagasan kepada masyarakat sehingga masyarakat tertarik dan biasanya diakhiri dengan membeli Sesutu dari pameran tersebut, oleh karena itu pameran dapat termasuk dalam upaya promosi. Dalam kaitannya dengan Museum Satriamandala, pameran digunakan sebagai media unutk memperkenalkan kembali museum kepada masyarakat sekaligus dapat menjual cinderamata yang berhubungan dengan museum.

2.2 Tinjauan Khusus

2.2.1 Identitas Visual Museum

Museum Satriamandala memiliki kasus menarik yaitu tidak boleh memiliki logo, karena bagi mereka logo, lambang, atau panji yang bersifat filosofis dan semacamnya hanya dimiliki oleh kepangkatan di dalam angkatan, juga karena museum ini berada di bawah Pusat Sejarah TNI sehingga menjadi kesatuan dengannya dan tidak berdiri sendiri. Adapun tulisan di depan museum berupa “Museum Satriamandala” sifatnya tidak baku dan hanya digunakan sebagai pengenal

(8)

saja, oleh karena itu penulis dapat dengan bebas mengaplikasikan nama dengan berbagai warna dan font agar tepat dengan konteks nya.

2.2.2 Teori Warna

Karena Museum Satriamandala adalah museum TNI yang konteksnya meliputi seluruh angkatan yaitu darat, laut, dan udara, maka penggunaan warna pun harus meliputi ketiga angkatan tersebut, yaitu hijau untuk angkatan darat, abu-abu untuk angkatan laut, dan biru untuk angkatan udara.

Warna bendera Indonesia yaitu merah dan putih digunakan sebagai sebagai payung ketiga warna tersebut, sebab TNI sebagai sebuah institusi pertahanan dan keamanan Indonesia yang berjiwa nasionalis harus merefleksikan diri kepada warna dan simbol tersebut. Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis warna latar yang netral seperti hitam atau putih, umum digunakan sebagai warna pameran belakangan ini, ini juga dapat diaplikasikan kedalam warna untuk teks.

2.2.3 Teori Ilustrasi

Menurut buku Illustration karya Andrew Hall, Ilustrasi adalah sebuah gambar yang mendukung suatu teks. Oleh karena itu ilustrasi dapat diletakkan secara berdampingan dengan teks maupun tidak. Gambar memiliki kekuatan lebih dari teks, antara lain dapat mengkomunikasikan sesuatu secara langsung tanpa harus dibayangkan, tidak terkait bahasa verbal, dapat berkomunkasi secara global, memberikan pengalaman visual, merangsang imajinasi melalui mata, menghubungkan langusng dengan emosi, ingatan, dan pengalaman, juga memiliki bentuk, warna dan bidang.

Berdasarkan pengertian di atas, ilustrasi memiliki peran penting dalam menyampaikan sebuah pesan, terutama dalam membuat pameran dimana konteks harus dibangun. Ilustrasi untuk pameran Museum Satriamandala meliputi tokoh-tokoh, alat-alat perang, serta panji-panji, sehingga perasaan perjuangan, nasionalisme, dan kebanggaan dapat tersampaikan lewat ilustrasi tersebut.

(9)

Gambar 2.2

Dari contoh di atas, dapat dilihat ilustrasi-ilustrasi untuk pameran yang terkait dengan militer atau sejarah umumnya berupa foto-foto asli, peta, timeline (grafik perjalanan waktu), dan grafik-grafik yang berkaitan dengan suatu peristiwa tertentu.

2.2.4 Teori Tipografi

Penggunaan jenis huruf sans serif yang modern pada lugu bertujuan untuk tetap menunjukkan bahwa TNI dan Museum Satrimandala adal sebuah instansi yang modern yang tetap relevan dari jaman kemerdekaan hingga saat ini. Jenis huruf ini juga digunakan untuk head dan sub-head serta konten-konten yang sifatnya penting dan bukan bodytext.

Pada bodytext digunakan jenis huruf Monospace atau jenis huruf yang setiap karakter memiliki panjang dan lebar yang sama, ini mengambil referensi pada gaya penulisan dokumen-dokumen tentara pada jaman dahulu yang biasa diketik dengan mesin tik. Ini juga mengambil referensi dari visualisasi game atau film bertema perang yang juga biasa menggunakan huruf jenis ini.

(10)

2.2.6 Analisa S.W.O.T

Strenght

• Museum Satriamandala adalah museum khusus sejarah TNI, sehingga museum ini sangat menarik bagi para penyuka sejarah dan militer, juga bagi para pendidik. • Erat kaitannya dengan masa perjuangan, bisa membuat museum ini sebagai salah

satu museum yang wajib dikunjungi untuk mengenal sejarah bangsa Indonesia. • Museum Satriamandala memiliki konteks yang sangat kuat, sehingga bila

diangkat ke pameran dapat didesain dengan baik.

Weakness

• Benda-benda koleksi yang berupa senjata dalam berbagai ukuran dapat menjadi kesulitan dalam memamerkan nya, terutama bila di luar museum.

• Benda-benda berupa senjata, juga benda-benda bersejarah lainnya membutuhkan keamanan yang tinggi.

Opportunity

• Kenaikan jumlah pengunjung menunjukkan bahwa adanya peningkatan apresiasi masyarakat untuk berkunjung ke museum

• Rasa nasionalisme masyarakat yang masih cukup tinggi serta kondisi saat ini di rasa nasionalisme dirasakan mulai meluntur dalam era globalisasi menjadi kesempatan yang baik untuk menarik pengunjung.

• Pameran tentang Diponegoro yang diselenggarakan belakangan ini dan mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat bisa menjadi momen yang tepat untuk mengadakan pameran Museum Satriamandala.

• Sosial media menjadi penyebar informasi yang sangat cepat di masa kini, sehingga pengadaan sebuah pameran dapat disebarluaskan dengan cepat pula.

Threat

• Masih adanya orang-orang yang melihat keberadaan TNI atau lebih sempitnya senjata sebagai sebuah kehadiran yang tidak perlu, sehingga berpotensi menimbulkan pandangan yang negatif dari orang-orang tersebut.

(11)

• Sosial media sebagai penyebar infomasi yang cepat tidak dapat dikendalikan kontennya , sehingga informasi apapun dapat tersalurkan baik positif maupun negatif.

Referensi

Dokumen terkait

Peranan penelitian koleksi museum yang dilakukan kurator yang sangat penting, hal itu penting dilakukan untuk mendapatkan data informasi cukup tersedia yang akan

Museum Majapahit merupakan salah satu museum yang memiliki koleksi benda- benda peninggalan jaman Majapahit terbanyak di Indonesia. Akan tetapi, dalam menyajikan koleksi

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, sejak tahun 1999 Museum Sejarah Jakarta bertekad untuk menjadikan Museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat dan memamerkan benda

Dari ketiga definisi iklan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa iklan merupakan bagian dari komunikasi yang terdiri dari berbagai kegiatan untuk memberikan informasi dari

Pengertian sejarah sebagai kisah mengembangkan konsep sejarah sebagai ilmu yang disebut ilmu sejarah, istilah-istilah dalam bahasa barat seperti halnya history dalam

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurang terolahnya metode penceriteraan dan dokumentasi mengenai sejarah pahlawan perempuan dan bahasan yang disajikan dalam

Tipografi merupakan media penting yang dapat digunakan untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan nama, fungsi, serta informasi yang berkaitan dengan fakta produk

Dari sini dapat diperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan sejarah Lampung,di museum ini terdapat 4.735 koleksidi antara benda-benda yang menjadi koleksinya adalah warisan