• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di desa Sarimulyo Kecamatan Cluring.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di desa Sarimulyo Kecamatan Cluring."

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh

Moh. Bahtiyar Efendi (C72213146)

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syari’ah dan Hukum

Jurusan Hukum Perdata Islam

Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

(2)

Skripsi

Diajukan Kepada Universita Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program

Sarjana Strata Satu Ilmu Syariah Dan Hukum

Oleh

Moh. Bahtiyar Efendi (C72213146)

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syari’ah dan Hukum

Jurusan Hukum Perdata Islam

Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

ABSTRAK

Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan judul “ANALISIS

HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN

CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI”. Skripsi ini bertujuan menjawab pertanyaan diantaranya adalah: Bagaimana praktik mertelu lahan pertanian cabai merah dan bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.

Metode penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan interview. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif analisis dan metode pembahasan yang dipakai adalah deduktif. Deduktif dalam penelitian ini merupakan pola pikir yang berpijak pada teori hukum Islam yang kemudian dikaitkan dengan fakta-fakta dalam praktik jual beli dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah ini awal mula terjadinya karena pihak petani penggarap dengan pihak pemodal melakukan kesepakatan akad mertelu yang didalamnya terdapat syarat harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut kepada pihak pemodal. Jual beli tersebut terdapat syarat yang pertama pemilihan kelas dari A,B,C untuk mengetahui harga. Kedua terdapat pemotongan harga tiap kilogramnya.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Kajian Pustaka ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 11

G. \Definisi Oprasional ... 12

H. Metode Penelitian ... 12

I. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II JUAL BELI DALAM ISLAM A. Pengertian Jual Beli ... 20

B. Dasar Hukum Jual Beli ... 23

C. Rukun dan Syarat Jual Beli ... 25

D. Pembagian Jual Beli ... 30

(9)

BAB III PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH di DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI

A. Geografis dan Demografis Desa Sarimulyo ... 36

1. Keadaan Geografis ... 36

2. Keadaan Demografi... 37

B. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 38

1. Pihak Pemodal Yang melakukan Pembiayaan ... 39

a. Masalah Tanaman ... 39

b. Masalah Pengairan ... 39

c. Masalah Lahan Pertanian ... 39

2. Pihak Penggarap ... 40

3. Mekanisme Bagi Hasil Mertelu ... 40

4. Proses Pembentukan Akad ... 40

5. Praktik jual beli yang terjadi akibat syarat dari mertelu ... 42

a. Subyek Pembeli ... 42

b. Subyek Penjual ... 42

c. Obyek Jual Beli ... 44

d. Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah 45 e. Kronologi jual beli cabai merah ... 46

f. Jual beli cabai merah tanpa syarat mertelu ... 51

BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI A. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 55

B. Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 59

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66

Daftar Pustaka ... 67

(10)

Daftar Gambar

Gambar Halaman

3.1 Lahan Pertania Cabai Merah ... 44

3.2 Cabai Merah ... 44

3.3 Penimbangan Cabai Merah ... 47

3.4 Proses Pemilihan Kelas ... 48

3.5 Hasil Pemilihan ... 48

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Akad menjadi penting dalam masyarakat. Karena akad merupakan

penghubung setiap orang dalam memenuhi kebutuhan dan kepentinggannya

yang tidak dapat dipenuhinya sendiri tanpa bantuan dan jasa orang lain.

Sehingga dikatakan bahwa akad merupakan sarana sosial yang mendukung

manusia sebagai makhluk sosial.

Kata akad berasal dari kata al-‘aqd, yang berarti mengikat, menyambung

atau menghubungkan (al-rabt}). Akad merupakan keterkaitan atau pertemuan

ijab dan kabul yang berakibat timbulnya akibat hukum. Ijab adalah penawaran

yang diajukan oleh salah satu pihak, dan kabul adalah jawaban persetujuan yang

diberikan mitra akad sebagai tanggapan terhadap penawaran pihak yang

pertama. Akad tidak terjadi apabila pernyataan kehendak masing-masing pihak

tidak terkait satu sama lain karena akad adalah keterkaitan kehendak kedua

pihak yang tercermin dalam ijab dan kabul.1

Dalam mua>malah terdapat berbagai macam akad di bidang transaksi

perekonomian, salah satu bentuk akad yang sering dilakukan oleh Rasulullah

SAW adalah jual beli. Hal ini sebagaimana Rafi’ bin Khudaij bertanya kepada

Rasulullah SAW perihal usaha yang paling baik, dan beliau menjawab:

(12)

َةَعاَفِر ْنَع

ا

لا نأ ٍعِفاَر ُنْب

َو ِهْيَلَع ها ىلَص ِِ

َلاَق ؟ ُبَيْطَأ ِبْسَكْلا ىَأ َلِئُس َملَس

ُلَمَع

ٍرْوُرْ بَم ٍعَيب لُك َو ِِدَيِب ِلُجرلا

2

Artinya: “Dari Rifa>’ah ibnu Ra>fi’ bahwa Nabi saw ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab: Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabru>r. ( H.R. al-Bazzar dan al-Hakim)”

Dalam hadith di atas dijelaskan bahwasanya pekerjaan sebagai pedagang

sangatlah mulia, sebagaimana dipraktikkan oleh Rasulullah saw dan para

sahabatnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan, berdagang juga mengandung

unsur tolong menolong yakni menerima dan memberikan andil kepada orang

lain dalam mencapai kemajuan hidup. Karena itu Islam tidak menghendaki

adanya unsur kebathilan dalam memperoleh keuntungan dari berdagang.

Seperti praktik riba, penipuan, dan unsur lain yang bertentangan dengan

shari>‘ah Islam. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Quran surat

al-Nisa>’ ayat 29:

اَ ُيأٓ َيَ َنيَِٱذ ِب هكَنبيَب هكَلَٰوبمَأ آ ه هكبأَت ََ ا هنَماَء ِلِطٰ َببلٱ

ب هكنِ م لضاَرَت نَع ًةَرٰ َجِت َن هكَت نَأ َِٓإذ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (Q.S. al-Nisa>’:29)3

Saling rela dalam transaksi jual beli sangatlah diprioritaskan, sebab

keberkahan akan didapat dari kerelaan antar keduannya, dan jalan kebathilan

sangatlah dicela karena akan merugikan satu diantara keduanya. Inti dari ayat

2 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal juz IV, (Liba>nan: Da>r a1-Kutub al-Ilmiyah, 1993), 173-174.

(13)

di atas bahwa dalam memperoleh keuntungan dari jual beli, seseorang harus

paham betul terhadap aturan dan batasan yang dapat mempertahankan

kehalalan dari pekerjaan itu. Oleh karena itu wajib hukumnya berlaku jujur

dalam bertransaksi dan diharamkan untuk bermanipulasi yang mengakibatkan

unsur haram masuk di dalamnya.

Kriteria halal dalam bertransaksi dapat dicapai seseorang dengan cara

memperhatikan syarat dan rukun dari transaksi tersebut, terlebih pada objek

yang diperjualbelikan. Islam mengajarkan kepada manusia untuk berlaku adil

dalam jual beli. Hal ini perlu ditegaskan agar tidak ada pihak yang merasa

dirugikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Isra>’ ayat 35:

ا هفبوَأَو َلبيَ بلٱ ِب ا هنِزَو ب هتبِ اَذِإ ِسا َط بسِ بلٱ

ِ يِ َت بسهبلٱ َ ِلَٰذ

َخ

م

ٗيِوبأَت هن َسبحَأَو ٞ بۡ ٥

Artinya: ”Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. al-Isra>’: 35)4

Jual beli merupakan salah satu bagian mua>malah yang diperbolehkan

Allah SWT, dan keberadaanya tidak akan dapat dipungkiri dalam masyarakat,

termasuk kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dengan adanya kegiatan jual

beli inilah manusia dapat bertahan hidup. Jual beli termasuk sarana saling

tolong menolong antara sesama manusia, ketika penjual membutuhkan pembeli,

begitu juga sebaliknya pembeli juga membutuhkan penjual.

Sebagian kaum muslimin ada yang lalai mempelajari mua>malah,

sehingga tidak peduli kalau mereka memakan barang haram. Sekalipun semakin

(14)

hari usahanya kian meningkat dan keuntungan semakin banyak.5 Orang yang

terjun ke dunia usaha berkewajiban mengetahui hal-hal yang dapat

mengakibatkan jual beli itu sah atau tidak sah (fa>sid). Ini dimaksudkan agar

mu’a>malah berjalan sah, segala sikap dan tindakannya jauh dari kerusakan yang

tidak dibenarkan.

Jenis dan bentuk mua>malah akan berkembang sesuai dengan

perkembangan zaman, tempat dan kondisi sosial. Persoalan mua>malah terkait

erat dengan perubahan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.6

Terkait dengan norma jual beli yang dipaparkan, bahwa kegiatan jual beli yang

akan dibahas oleh penulis adalah kejadian yang ada di Desa Sarimulyo

Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi, yaitu berkaitan dengan jual beli

yang disyaratkan dalam praktik mertelu bidang pertanian cabai merah.

Praktik mertelu ini merupakan kerjasama dibidang usaha pertanian,

terutama yang berkaitan dengan pengolahan tanah pertanian dan

pemeliharaannya. Untuk bisa disebut mertelu ini karena dalam pembagian hasil

1/3 dan 2/3 antara pihak pemodal dan pihak penggarap sesuai kesepakatan

masing-masing7. Penulis memfokuskan terhadap jual beli dalam praktik mertelu

lahan pertanian cabai merah.

Pada awal penelitian yang dilakukan, penulis menemukan bahwa dalam

mekanisme pembentukan akad mertelu lahan pertanian cabai merah ini terjadi

5Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Alih Bahasa Kamaluddin A. Marzuki, Fikih Sunnah, (Bandung: Al

Ma’arif, 1996), 46.

(15)

tanpa adanya pencatatan formal yang disaksikan oleh perangkat desa dan

terbentuk. Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan lahan pertanian

dikarenakan lahan diperoleh dari hasil sewa-menyewa, pembiayaan pengolahan

tanah dan pemeliharaannya. Pihak penggarap sebagai pengelola yang

mengeolah dan memelihara lahan pertanian cabai merah8.

Adapun persyaratan yang diberikan pihak pemodal kepada penggarap

yaitu9: 1) Pihak penggarap harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut

kepada pihak pemodal. 2) Terdapat beberapa pemotongan dalam jual beli hasil

pertanian cabai merah tersebut antara lain, pemotongan harga per kilogram dan

Pemotongan tara, untuk normalnya tara 4 kilogram per 100 kilogram. Jika

dalam penyeleksian terdapat cabai merah yang tidak memenuhi kriteria baik,

cabai merah tersebut di masukkan kedalam tara.

3) Ada pembagian kelas dalam jual beli hasil pertanian cabai merah

tersebut antara lain, Kelas super adalah cabai merah yang berbentuk besar dan

memenuhi kriteria baik. Serta Kelas biasa adalah cabai merah yang berbentuk

kecil sampai sedang yang memenuhi kriteria baik. 4) Modal harus dikembalikan

sebelum pembagian hasil pertanian cabai merah tersebut. 5) Pembagian hasil

menggunakan sistem mertelu. 6) Apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu

atau gagal panen maka kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama

kerugian itu bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang

menurun.

(16)

Hal ini terjadi dikarenakan tidak semua masyarakat mempunyai lahan

yang cukup atau bahkan tidak mempunyai lahan sama sekali untuk digarap,

sebaliknya ada sebagian orang mempunyai lahan yang cukup luas sehingga

kalau digarap sendiri jelas mereka tidak akan sanggup. Kerjasama ini dilakukan

juga salah satunya adalah dengan maksud untuk meningkatkan mutu dari hasil

pertanian yang mana diperlukan suatu kerjasama antara pemilik lahan dan

pemodal dengan penggarap lahan yang memiliki keahlian di bidang pengelolaan

dan pemeliharaan lahan pertanian.

Berangkat dari adanya bentuk praktik jual beli dengan syarat mertelu

lahan pertanian cabai merah semacam ini, maka penulis tertarik untuk meneliti

dan mengkaji lebih dalam tentang “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik

mertelu lahan pertanian cabai merah di desa Sarimulyo kabupaten

Banyuwangi”.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Identifikasi masalah dilakukan untuk menjelaskan

kemungkinan-kemungkinan cakupan masalah yang dapat muncul dalam penelitian dengan

melakukan identifikasi sebanyak-banyaknya kemudian yang dapat diduga

sebagai masalah.10 Berdasarkan paparan latar belakang di atas, penulis

mengidentifikasi inti dari permasalahan yang terkandung di dalamnya sebagai

berikut:

10 Tim Penyusun Fakultas Syari’ah dan Hukum, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi, (Surabaya:

(17)

1. Pembentukan akad perjanjian mertelu lahan pertanian cabai merah.

2. Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.

3. Persyaratan dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah

4. Jual beli dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah

5. Persyaratan jual beli dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah

6. Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai

merah.

Dari beberapa identifikasi masalah tersebut, penulis perlu menjelaskan

batasan dan ruang lingkup persoalan yang akan dikaji dalam penelitian ini agar

terfokus dan terarah. Adapun batasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan

Cluring Kabupaten Banyuwangi

2. Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai

merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi

C.Rumusan Masalah

Rumusan masalah memuat pertanyaan yang akan dijawab melalui

penelitian.11 Melalui deskripsi di atas, maka peneliti dapat merumuskan

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa

Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi?

(18)

2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan

pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten

Banyuwangi?

D.Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian/penelitian yang

sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan ditelitisehingga terlihat

jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan pengulangan atau

duplikasi dari kajian/penelitian yang telah ada.12 Bahwa penulis menemukan

penelitian mengenai perjanjian bagi hasil dalam pertanian dan sejenisnya dari

peneliti sebelumnya yang berjudul:

1. Skripsi yang ditulis oleh Ahmad Mudrik dengan judul “Tinjauan hukum

Islam terhadap perjanjian bagi hasil sistem seton pada pohon wolo di Desa

Sumurgung Kecamatan Palang Kabupaten Tuban” tahun 2009. Skripsi ini

membahas tentang perjanjian bagi hasil dengan sistem seton yakni hasil

dari pohon wolo pada hari sabtu diberikan kepada pihak pemilik lahan dan

mulai hari minggu sampai jumat diberikan kepada penggarap atau

pengelola lahan. Dengan hasil, bahwa perjanjian bagi hasil dengan sistem

seton pada pohon wolo tersebut sesuai dengan hukum Islam, dan masuk

kategori musa>qa>h.13

12Ibid., 8.

13 Ahmad Mudrik, ”Tinjauan Hukum Islam terhadap Perjanjian Bagi Hasil Sistem Seton pada

(19)

2. Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Ridhwan dengan judul “Analisis

hukum Islam terhadap akad proliman dalam pengairan sawah di Desa

Beged Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro” tahun 2010. Skripsi ini

membahas tentang kerjasama antara pengelola pengairan/irigasi sawah

dengan pihak masyarakat petani untuk melakukan kerjasama dalam bidang

pertanian, dengan bagi hasil seperlima (proliman/parolimo) untuk pihak

irigasi sawah. Dengan hasil, bahwa praktik akad proliman tersebut tidak

bertentangan dengan hukum Islam, dan masuk kategori musya>rakah inan.14

3. Skripsi yang di tulis oleh Muhammad Arif Saifuddin dengan judul

“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Praktik Nelon Lahan Pertanian

di Desa Gelap Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan” tahun 2015.

Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan tradisi praktik nelon lahan

pertanian yang mana dalam perjanjian ini bagi hasilnya menggunkan

hukum adat sistem nelon. Tanah dari pemilik lahan, sedangkan benih, alat

penggarapan, serta pekerjaan dari pihak penggarap lahan. Dengan Hasil,

bahwa tradisi praktik nelon tersebut tidak bertentangan dengan hukum

Islam dan masuk kategori mukha>barah.15

Dari ketiga penelitian terdahulu yang telah dijelaskan di atas

masing-masing memiliki perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh

14Muhammad Ridhwan, ”Analisis Hukum Islam terhadap Akad Proliman dalam Pengairan Sawah

di Desa Beged Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro”, (Skripsi--IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2010), 77.

(20)

peneliti dalam judul “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik mertelu lahan

pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten

Banyuwangi” yang secara garis besar skripsi ini membahas tentang pelaksanaan

jual beli dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah.

Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah melibatkan beberapa pihak

diantaranya: sebagai pemodal sekaligus pembeli hasil pertanian cabai merah

yaitu bapak Susanto, dan sebagai petani penggarap sekaligus penjual hasil

pertanian cabai merah yaitu: Bapak Sugianto, Bapak Subandi, Bapak

Nurkholis.

Ada persyaratan khusus dalam praktik mertelu yaitu dalam pembagian

hasil menggunakan sistem mertelu, modal harus dikembalikan dahulu sebelum

pembagian, dan juga hasil pertanian harus dijual kepada pihak pemodal.

Sedangkan untuk masalah kerugian apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu

atau gagal panen maka kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama

kerugian itu bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang

menurun.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah rumusan tentang tujuan yang ingin dicapai oleh

peneliti melalui penelitian yang di lakukannya16. Tujuan yang ingin dicapai

dalam penelitian ini antara lain:

(21)

1. Untuk mengetahui praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa

Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.

2. Untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan

pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten

Banyuwangi.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Kegunaan hasil penelitian memuat uraian yang mempertegas bahwa

masalah penelitian itu bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis.17

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Aspek teoritis, sebagai upaya bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

khususnya yang berkaitan dengan kerjasama dalam pertanian yaitu praktik

mertelu lahan pertanian cabai merah sekaligus untuk mengetahui hukum

Islamnya.

2. Aspek praktis, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi praktisi

yang melakukan kerjasama dalam pertanian khususnya praktik mertelu

lahan pertanian cabai merah pada lahan pertanian yang diharapakan dapat

berguna sebagai pedoman transaksi di lapangan atau masyarakat.

(22)

G.Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu untuk memuat penjelasan tentang pengertian

yang bersifat operasional dari konsep atau variabel penelitian.18 Untuk

memudahkan pemahaman dalam judul penelitian ini, maka perlu penjelasan

secara operasional agar terjadi kesepahaman dalam memahami judul skripsi.

1. Hukum Islam adalah Peraturan-peraturan berdasarkan al-Quran dan Hadith

tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan

mengikat untuk semua umat yang beragama Islam19 Yang dimaksud dalam

hukum Islam adalah akad jual beli hasil pertanian cabai merah dalam praktik

mertelu.

2. Praktik mertelu adalah kerjasama dalam pengelolaan lahan pertanian antara

pemilik lahan dengan penggarap yakni pemilik lahan memberikan lahan

pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan sistem

bagi hasil separuh/sepertiga dari hasil yang keluar dari tanah tersebut.

H.Metode Penelitian

Untuk memperoleh data serta informasi yang akurat, relevan dan

obyektif, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.

Oleh karena itu, penulis memaparkan metode penelitian yang digunakan dengan

tujuan untuk memperjelas penelitian ini.

18 Ibid,. 9.

(23)

1. Jenis penelitian

Dilihat dari segi sumber data yang digunakan, maka penelitian ini

termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research). Sedangkan

jenis penelitian ini adalah kualitatif sebagai prosedur penilitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang

dan perilaku yang dapat diamati.20

2. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring

Kabupaten Banyuwangi.

3. Data yang dikumpulkan.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa primer maupun

sekunder yang berasal dari seseorang, dokumen, pustaka, barang, dan

keadaan.21 Data yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini adalah

hal-hal yang berkenaan dengan masalah yang akan dijawab sesuai dengan

rumusan masalah diantaranya sebagai berikut:

a) Data Primer

(1) Pelaku akad

(2) Akad yang dilakukan dalam transaksi

(3) Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah

(4) Persyaratan dalam praktik mertelu

(5) Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah

(24)

(6) Persyaratan dalam praktik jual beli hasil pertanian cabai merah

b) Data Sekunder

(1) Ayat suci al-Qur’an yang menjelaskan tentang jual beli

(2) Hadith yang menjelaskan tentang jual beli

(3) Pendapat para ulama yang menjelaskan tentang jual beli

4. Sumber Data

Sumber data yakni sumber dari mana data akan digali, baik primer

maupun sekunder.22

a) Sumber Primer

Sumber primer yaitu sumber yang diperoleh dari pelaku yang

diamati atau diwawancarai sebagai sumber utama.23 Diantaranya

sebagai berikut:

(1) Pemodal lahan pertanian cabai merah

(2) Penggarap lahan pertanian cabai merah

(3) Pemilik lahan pertanian

b) Sumber Sekunder.

Sumber sekunder adalah sumber yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti yang berasal dari bahan pustakaan.24 Sumber yang bersifat membantu dalam melengkapi serta memperkuat sumber primer tersebut, diantaranya sebagai berikut:

22Tim Penyusun Fakultas Syari’ah dan Hukum, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi ..., 8.

(25)

(1) al-Ima>m abi> Abdillah Muhammad bin Isma’i>l al-Bukha>ri>, S}ahi>h

al-Bukha>ri>.

(2) Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal

juz IV.

(3) Ibnu Ma>jah, Sunan Ibnu Ma>jah Juz II.

(4) Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu.

(5) Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah.

(6) Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah.

(7) Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah.

(8) Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah.

(9) Abdul Rahman Ghazaly, dkk., Fiqh Muamalat.

(10) Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah.

(11) Enang Hidayat, Fiqh Jual Beli

(12) Ahmad Mawardi Muslich, Fiqh Muamalat

5. Teknik Pengumpulan data

a) Observasi

Teknik pengamatan dengan cara mengamati (melihat,

memperhatikan, mendengarkan, dan mencatat secara sistematis objek

yang diteliti)25 yang digunakan untuk pengumpulan data tentang:

(1) Akad yang dilakukan dalam transaksi

(2) Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah

(3) Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah

(26)

b) Interview

Teknik interview yang disebut juga sebagai wawancara yaitu

suatu teknik yang bertujuan untuk mendapatkan keterangan atau data

secara lisan dari seorang responden sebagai pembantu dari teknik

observasi.26 Penulis akan mewawancarai pihak yang terlibat yaitu

Pelaku praktik mertelu lahan pertanian cabai merah tersebut, yaitu

pemodal lahan pertanian cabai merah, pemilik lahan pertanian dan

penggarap lahan pertanian cabai merah.

6. Teknik pengolahan data

Tahapan pengolahan data dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) Organizing

Merupakan suatu proses dalam pengumpulan, pencatatan, dan penyajian fakta untuk tujuan penelitian.27 Teknik ini digunakan untuk menyusun data mensistematiskan data yang telah diperoleh tentang tinjauan jual beli menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.

b) Editing

Yaitu kegiatan pemeriksaan terhadap kelengkapan data yang

akan dikumpulkan.28 Teknik ini digunakan untuk pemeriksaan kembali

terhadap semua data yang telah diperoleh terutama dari segi kejelasan

26 Koenjoroningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, cet ke 9 (Jakarta: Pengadilan Tinggi Gramedia, 1989), 129

(27)

makna dan kesesuaian antara data primer dan data sekunder tentang

tinjauan jual beli menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan

pertanian cabai merah.

c) Analizing

Analizing yaitu suatu proses pengelompokan dan

pengategorikan data yang dikumpulkan secara sistematis.29 Teknik ini

digunakan untuk memberikan analisa dari data yang telah

dideskripsikan dan menarik kesimpulan tentang tinjauan jual beli

menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.

7. Teknik Analisis Data

Analisis data, yaitu proses penyederhanaan data kebentuk yang

lebih mudah dibaca dan dipahami.30 Penulis melakukan analisis data

dengan menggunakan metode kualitatif, yakni upaya yang dilakukan

dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan

pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

memutuskan apa yang dapat disampaikan kepada orang lain.31

Metode pembahasan deskriptif dengan pola deduktif. Deduktif

dalam penelitian ini merupakan pola pikir yang berpijak pada teori hukum

Islam yang kemudian dikaitkan dengan fakta-fakta dalam praktik jual beli

29 Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek ...¸105.

(28)

dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo

Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.

I. Sistematika Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari lima bab, antara satu bab dengan

bab lainnya saling berhubungan, selanjutnya dalam setiap bab terdiri dari sub

bab. Agar dalam penyusunan skripsi dapat terarah dan teratur sesuai dengan apa

yang direncanakan penulis, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai

berikut.

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisi tentang penyusunan

panduan awal untuk memulai sebuah penelitian, agar yang direncankan oleh

penulis dalam penelitiannya bisa sistematis. Adapun pada bab pendahuluan

terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah,

rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

definisi operasional, metode penelitian, serta menggambarkan alur sistematika

pembahasan yang jelas.

Pada bab kedua merupakan landasan teori yang membahas tentang kajian

pustaka untuk menguraikan teori berkaitan dengan praktik jual beli, yang

mencakup bahasan tentang konsep jual beli dalam hukum Islam. Di antaranya

mengenai pengertian, landasan hukum, rukun dan syarat, serta bentuk-bentuk

jual beli. Yang bertujuan untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap

permasalahan tersebut. Mengenai data penelitianya akan dilanjutkan pada bab

(29)

Bab ketiga merupakan data penelitian, yang mencakup data lengkap desa

dan hasil temuan dalam penelitian terkait dengan praktik mertelu lahan

pertanian cabai merah. Sehingga di bab ketiga berisi tentang data penelitian

murni yang akan dibahas secara jelas dengan teori yang diambil dalam bab dua.

Untuk analisisnya maka dilanjutkan pada bab keempat.

Selanjutnya bab keempat berisi pembahasan yang memuat tentang

tentang analisis data dan analisis bab tiga dengan menggunakan teori dalam bab

dua. Untuk hasil analisis akan disimpulkan pada bab ke lima.

Oleh karena itu, bab kelima merupakan bab penutup, bab ini berisi

kesimpulan yang menjawab perumusan masalah yang telah dibahas dalam bab

(30)

BAB II

JUAL BELI DALAM ISLAM A.Pengertian jual beli

Lafazh al-bay‘ dalam bahasa arab menunjukkan makna jual dan beli. Yang dikutip dari Enang Hidayat, Ibnu manzhur berkata:

ِءا

َرَشلَا

دِض

ْيَ ب ُع ْلا)lafazh

ٌع ْيَ ب ْلا yang berarti jual kebalikan dari lafazh

ُءا َرَشلَا

yang berarti beli)32. Dilihat dari segi bahasa, lafazh ْيَ ب ٌع ْلا merupakan bentuk mas{dar اًعْ يِبَم - ًاعْيَ ب - ُعْيِبَي - َعاَب yang

mengandug tiga makna sebagai berikut:

ُةَل َداَبُم

َِب ٍلاَم

ٍلا

Artinya:“Tukar menukar harta dengan harta.”

َ باَقُم

ُةَل

ْيَش

ْيَشِب ِئ

ِئ

Artinya: “Tukar menukar sesuatu dengan sesuatu.”

َوِع ُعْف َد

ُع اَم ُذْخَأ و ٍض

ِو

َْع َض

ُه

Artinya: “Menyerahkan pengganti dan mengambil sesuatu yang dijadikan alat pengganti tersebut.”33

Wahbah al-Zuhaili mengartikan bay‘ yaitu “tukar menukar barang

dengan barang”34. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,

bay’ adalah jual beli antara benda dan benda atau pertukaran antara benda

dengan uang.35 Adapun definisi bay‘ secara terminologi diungkapkan oleh para

ulama yakni:

32 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, Cet. 1, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 9. 33 Ibid, 9.

34 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu, Alih Bahasa Abdul Hayyie al Kattani dkk, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid 5, (Jakarta: Gema Insani, 2011), 25.

(31)

1. H{anafiyah yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:

ِهِلْثِِب ِهْيِف ِبْوُغْرَم ِئْيَش ُةَلَداَبُم

Artinya: “Saling tukar menukar sesuatu yang disenangi dengan yang semisalnya.”

Selain itu, Ulama H{anafiyah juga mendefinisikan jual beli yang

dikutip dari buku Rachmat Syafe’i yakni:

ُةَلَداَبُم

َم

َْم ٍهْجَو ىَلَع ٍلاَِب ٍلا

ْوُص

ٍص

Artinya:“Pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang diperbolehkan).”36

Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ulama

H{anafiyah mengartikan jual beli yaitu tukar menukar harta benda atau

sesuatu yang diinginkan dengan sesuatu yang sepadan melalui cara tertentu

yang bermanfaat.37

2. Ma>liki>yah, yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:

َو اَعُم ُدْقَع

ُةَض

اََم َِْْغ ىَلَع

ُةَعْ تُم َُو ,َعِف

َذل

ِة

ُذ ,

, ِةَسَياكُم ْو

َحأ

َوِع ُد

ْيَض

ْ يَغ ِه

َذ ُر

ِبَ

َُو

ًَُْعُم , ِةَضِف

َِْْعلا ُرْ يَغ

Artinya: “Akad saling tukar menukar terhadap bukan manfaat, bukan termasuk senang-senang, adanya saling tawar menawar, salah satu yang dipertukarkan itu bukan termasuk emas dan perak, bendanya tertentu dan bukan dalam bentuk zat benda.”38

36Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, Cet.II, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 73.

(32)

3. Sha>fi’i>yah berpendapat yang dikutip dari buku Ahmad Wardi Muslich

menyatakan:

َ يٌدْقَع :اًعْرَشَو

َ باَقُم ُنَمَضَت

ِطْرَشِب ٍلاَِب ٍلاَم َةَل

آا ِه

ْوَأ ٍَْْع ِكْلِم ِةَدَافِتْسَُِ ْ ِِ

َم

ِةَعَفْ

ِةَدَبَؤُم

Artinya: “Jual beli menurut shara>’ adalah suatu akad yang mengandung tukar menukar harta dengan harta dengan syarat yang akan diuraikan untuk memperoleh kepemilikan atas benda atau manfaat untuk waktu selamanya.”39

4. Menurut H{ana>bila, yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:

ُةَل َداَبُم

ِلاِب لِاَمْل ا

َْت ِلا

ْيِل

اَك

Artinya: “Saling tukar menukar harta dengan harta dengan tujuan memindahkan kepemiliknnya”.

Dari beberapa definisi mengenai jual beli di atas, dapat ditarik

kesimpulan bahwa mereka sepakat memberikan definisi jual beli

merupakan, “ tukar menukar harta dengan harta dengan cara-cara tertentu

yang bertujuan untuk memindahkan kepemilikan.40

Sedangkan menurut Hendi suhendi bahwa inti dari jual beli adalah

suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai

secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima

benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan

yang telah dibenarkan shara>’ dan disepakati.41

39 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2013), 176. 40 Enang Hidayat, fiqh Jual Beli ..., 12.

(33)

B.Dasar hukum jual beli

Dasar hukum dibolehkannya jual beli terdapat di dalam al-Quran,

al-Hadith serta ijma>’. Sebagai berikut:

1. Al-Quran, dalam surat al-Baqarah (2) ayat 275:

ذلَحَأَو ه ذّٱ َعبيَۡٱب َمذرَحَو اٰ َبِ رلٱ

Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. al-Baqarah: 275) ”42

Dari ayat di atas dapat diartikan bahwa Allah SWT telah

menghalalkan transaksi jual beli terhadap hambanya dan melarang adanya

praktik yang mengandung unsur riba karena dapat merugikan pihak lain.

Menurut Sayyid Qut}ub yang dikutip dari buku Mustaq Ahmad, dampak

dari kejahatan riba yakni dapat menimbulkan kematian pada kesadaran dan

moralitas para pelaku bisnis karena mereka riba akan membuat ia

membutuhkan banyak keuntungan yang demikian banyak dari

sesamanya.43

Jual beli juga diatur dalam surat al-Baqarah (2) ayat 282:

هتبعَياَبَت اَذِإ آوهدِ بشَأَو ب

Artinya: “...dan dipersaksikanlah apabila kamu berjual beli...” (Q.S. al-Baqarah: 282)

(34)

Jual beli juga diatur dalam surat al-Nisa>’ (4) ayat 29, yang berbunyi: اَ ُيَأٓ َي َنيَِٱذ ِب هكَنبيَب هكَلَٰوبمَأ آ ه هكبأَت ََ ا هنَماَء بلٱ ِلِطٰ َب ِ م لضاَرَت نَع ًةَرٰ َجِت َن هكَت نَأ َِٓإذ ب هكن

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang ba>t{il, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (Q.S. al-Nisa>’: 29)”44

Firman Allah SWT di atas menerangkan mengenai larangan

memakan harta orang lain dengan jalan yang ba>t{il yang tidak dibenarkan

oleh Allah, seperti mencuri, merampok dan lain-lain, serta menyeru kepada

hambanya untuk mencari harta dari jalan perniagaan yang berprinsip saling

suka sama suka. Jadi, dalam jual beli tidak sah jika ada salah satu pihak

melakukan akad karena terdapat unsur paksaan dari pihak lain.

2. Landasan H}adith diantaranya:

َةَعاَفِر ْنَع

ا

ُلَمَع َلاَق ؟ ُبَيْطَأ ِبْسَكْلا ىَأ َلِئُس َمَلَس َو ِهْيَلَع ها ىَلَص ََِِلا َنأ ٍعِفاَر ُنْب

ٍرْوُرْ بَم ٍعَيب لُك َو ِِدَيِب ِلُجَرلا

45

Artinya: “Dari Rifa>’ah ibnu Ra>fi’ bahwa Nabi saw ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab: Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabru>r. ( H.R. al-Bazzar dan al-Hakim)”

ِنْبا ْنَع

ِجَاّتلا : َمَلَسَو ِهْيَلَع ها ىَلَص ها ُلْوُسَر َلاَق َرَمُع

ُمِلْسُمْلا ُِْْمَْْا ُقْوُدَصلا ُر

َعَم

َ ي ِءاَدَه شلا

ِةَماَيِقْلا َمْو

.

46

Artinya: "Ibnu ‘Umar ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw. Pedagang yang benar (jujur), dapat dipercaya dan muslim, beserta para shuhada’ pada hari kiamat. (HR. Ibnu Ma>jah).”

44 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan…, 83.

45 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal juz IV, (Liba>nan: Da>r a1-Kutub al-Ilmiyah, 1993), 173-174.

(35)

َع ْن

َد

ُوا َد

ْب

ِن

َص

ِلا

ِح

ْلا

َم َد

ّن

ِها ُلْوُسَر َلاَق ُلوُقَ ي يِرْدُخىلا َدْيِعَس اَبَأ ُتْعََِ :َلاَق ِهْيِبَا ْنَع ,

47

َهجام نبا اورُ ٍضاَرَ ت ْنَع ُعْيَ بْلا اَََِاَو م.ص

Artinya: “Dari Abu Dawud Ibnu Shalih Al-Maddani dari ayahnya berkata saya mendengar Abu Sa’id al-Qhudri berkata; bahwa Rasullullah Saw; jual beli atas dasar saling meridha>i”. (HR. Ibnu Ma>jah)

3. Ijma>’

Sedangkan dalil dari ijma>’ menyatakan bahwa ulama sepakat jual beli

itu hukumnya boleh dan terdapat hikmah didalamnya. Karena asal manusia

adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya kerja sama

dengan yang lain. Oleh karena itu, dengan diperbolekannya jual beli maka

dapat membantu terpenuhinya kebutuhan setiap orang dan membayar atas

kebutuhan itu.48

C.Rukun dan Syarat Jual Beli

1. Rukun jual beli

Jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’, jika rukun dan syarat

sudah dipenuhi. Mengenai rukun jual beli jumhur Ulama’ berpendapat bahwa

rukun jual beli ada empat, yaitu:49

a. Orang yang berakad atau al-muta’aqida>yn yaitu: Penjual dan Pembeli.

Pendapat ini disepakati oleh para ulama’mazhab

b. S}igha>t (lafal ijab dan kabul) yaitu: pernyataan serah terima antara penjual

dan pembeli,

47Ibnu Ma>jah, Sunan Ibnu Ma>jah Juz II, (Libana>n: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, t.t,), no 2185, 737

48 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>miy Wa Adillatuhu..., 27.

(36)

c. Ma’qud 'ala>ih (barang yang dibeli), ara ulama’ bersepakat kalau tidak ada

barang yang diperjual belikan maka tidak sah akad jual beli.

d. Ada nilai tukar atau harga pengganti barang (saman)

Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan

nilai tukar barang termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual

beli.

2. Syarat jual beli yakni:

Terdapat perbedaan pedapat mengenai syarat jual beli. Dalam transaksi

jual beli, Ulama H{anafiyah menyatakan bahwa orang yang berakad, barang

yang dibeli, dan nilai tukar barang termasuk dalam syarat jual beli.50 Adapun

syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun yang dikemukakan oleh jumhur

ulama di atas adalah:

1. Syarat-syarat orang yang berakad yakni pelaku transaksi harus orang yang

telah ba>ligh dan berakal, pelaku transaksi harus berbilang atau dilakukan

oleh orang yang berbeda, sehingga tidaklah sah akad dilakukan seorang

diri.51

2. Syarat-syarat yang berkaitan dengan ijab dan kabul.

Para ulama sepakat bahwa unsur utama yang harus ada dalam

transaksi jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak, dan kerelaan dari

kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab dan kabul yang dilangsungkan.

(37)

Dan para ulama mengemukakan bahwa syarat ijab kabul ada tiga hal

yakni: Orang yang mengucapkan akad telah ba>ligh dan berakal, sehingga

mengetahui apa yang dia katakan dan putusan secara benar.52 Hendaknya

pernyataan kabul yang sesuai dengan kandungan pernyataan ijab.53 Ijab dan

kabul itu dilakukan dalam satu majelis, artinya kedua belah pihak yang

melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.

Namun, kata “majlis” ini tidak diartikan sebagai satu tempat

sebagaimana pendapat para ulama fiqh klasik, paling tidak satu ulama fiqh

kontemporer seperti Wahbah az-Zuhayli dan Ahmad az-Zarqa sebagaimana

yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Nasrun Haroen mengatakan bahwa

majli>s itu berarti satu situasi dan kondisi sekalipun kedua belah pihak

berjauhan, tetapi topik yang dibicarakan adalah sama yaitu jual beli.54

3. Syarat ma’qu>d ‘alayh (objek akad), terdapat empat syarat dalam objek jual

beli yakni barang yang diperjualbelikan itu ada atau tidak ada ditempat,

tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan

barang itu.55 Barang yang diperjual belikan dapat dimanfaatkan dan

bermanfaat bagi manusia. Barang yang diperjualbelikan harus barang yang

sudah dimiliki oleh penjual. Barang yang diperjualbelikan harus bisa

diserahterimakan pada saat dilakukan akad jual beli.56

52 Ibid, 73.

53 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu..., 40.

54 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), 118. 55 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah..., 75.

(38)

4. Syarat-syarat nilai tukar.

Dalam transaksi jual beli, nilai tukar merupakan salah satu bagian

terpenting. Ulama fiqh mengemukakan syarat-syarat ath-thaman sebagai

berikut: Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.

Boleh diserahkan pada waktu akad, walaupun secara hukum pembayaran

menggunakan cek dan kartu kredit dibolehkan. Apabila harga barang

dibayar dikemudian hari (berhutang) maka waktu pembayaran harus jelas.

Apabila jual beli dilakukan dengan saling mempertukarkan barang, maka

barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh

shara>’.57

Disamping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas,

para ulama fiqh mengemukakan syarat yang harus ada dalam setiap jual beli

agar jual beli tersebut dianggap sah menurut shara>’. Akad jual beli harus

terhindar dari enam macam ‘ayb yakni sebagai berikut:

Ketidakjelasan (jaha>lah), yang dimaksud di sini adalah ketidakjelasan

yang serius yang mendatangkan perselisihan yang sulit untuk diselesaikan.

Ketidakjelasan ini terdapat empat macam yakni: Ketidakjelasan dalam barang

yang dijual baik dalam hal jenis, macam, atau kadarnya menurut pandangan

pembeli. Ketidakjelasan harga. Ketidakjelasan masa, seperti harga yang

diangsur, atau dalam khiya>r syarat. Ketidakjelasan dalam langkah-langkah

(39)

penjaminan. Contoh seorang penjual mensyaratkan adanya penjamin, maka

dalam hal ini seorang penjamin harus jelas.

Pemaksaan (al-ikra>h). Yakni mendorong seseorang untuk melakukan

suatu perbuatan yang tidak disukai. Paksaan dalam hal ini ada dua jenis yakni:

Paksa absolut, yaitu paksaan dengan ancaman yang sangat berat, seperi

dibunuh atau dipotong anggota badannya. Paksa relatif, yaitu paksaan dengan

ancaman yang lebih ringan seperti dipukul. Keduan ancaman tersebut

berpengaruh dalam akad jual beli. Karena menjadikan jual beli fa>sid menurut

jumhur H{ana>fi dan mauqu>f menurut Zufar.

Pembatasan dengan waktu (at-tawqi>t), yaitu jual beli dengan dibatasi

waktu. Seperti: “saya menjual baju-baju ini kepadamu untuk selama satu

bulan atau satu tahun”. Jual beli semacam ini hukumnya fa>sid kerena

kepemilihan atas barang tidak dapat dibatasi oleh waktu.58

Penipuan (al-ghara>r), yakni yang dimaksud adalah penipuan dalam sifat

barang. Seperti seseorang menjual sapi dengan pernyataan bahwa sapi itu air

susunya sehari sepuluh liter, padahal kenyataannya paling banyak lima liter.

Akan tetapi jika ia menjual dengan pernyataan bahwa kandungan air susunya

lumayan banyak tanpa menyebutkan kadarnya maka hukumnya s{ahi>h. dan

apabila ghara>r terdapat pada wujud barang maka membatalkan jual beli.

Kemudharatan (ad{-d{ara>r), yaitu barang yang diperjualbelikan tidak

mungkin dapat diserahkan kecuali penjualnya akan merasa rugi dari harganya.

(40)

Seperti seseorang menjual sebatang pohon di atas atap bangunan sedangkan

penyerahan barang seperti ini mengharuskan merusak barang disekitar batang

pohon. Dikarenakan kerusakan yang timbul menjaga hak seseorang bukan

kepentingan agama, maka para ahli fiqh menetapkan jika penjual rela

menerima kerugian bagi dirinya dan rela menyerahkannya kepada pembeli

maka jual beli akan berubah menjadi sah.59 Syarat yang merusak yakni setiap

syarat yang ada manfaatnya bagi salah satu pihak yang bertransaksi, tetapi

syarat tersebut tidak ada dalam shara>’. Seperti seseorang menjual mobilnya

dengan mensyaratkan bahwa ia akan memakai mobilnya selama satu bulan

setelah terjadinya akad jual beli.60

D.Pembagian jual beli

1. Pembagian jual beli berdasarkan objek barangnya yakni a) bay‘ al-mut{laq,

yaitu tukar menukar suatu benda dengan mata uang. b) Bay‘ al-s{arf, yaitu

tukar menukar mata uang dengan mata uang lainnya baik sama jenisnya

atau tidak, atau tukar menukar emas dengan emas atau perak dengan

perak. c) Bay’ al-muqayyadah (barter), yaitu tukar menukar harta dengan

harta selain emas dan perak.61 d) Bay‘ salam atau salaf yaitu tukar

menukar utang dengan barang atau menjual suatu barang yang

penyerahannya ditunda dengan pembayaran modal lebih awal.

59 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu..., 56. 60 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah…, 112

(41)

2. Pembagian jual beli berdasarkan batasan nilai tukar barangnya yakni:

a) Bay‘ al-musawwamah, yaitu jual beli yang dilakukan penjual tanpa

menyebutkan harga asal barang yang ia beli. b) Bay‘ al-muzayyadah,

yaitu penjual memperlihatkan harga barang di pasar kemudian pembeli

membeli barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari harga asal

sebagaimana diperlihatkan atau disebutkan penjual. c) Bay‘ al-ama>nah,

yaitu penjualan yang harganya dibatasi dengan harga awal atau ditambah

atau dikurangi.

Jual beli ini terbagi menjadi tiga macam, yakni: (1) Bay‘ al

-mura>bah{ah, yaitu penjual menjual barang tersebut dengan harga asal

ditambah keuntungan yang disepakati. (2) Bay‘ al-tauliyyah, yaitu

penjual menjual barangnya dengan harga asal tanpa menambah

(mengambil keuntungan) atau menguranginya (rugi). (3) Bay‘ al-wadi>’ah,

yaitu penjual menjual barangnya dengan harga asal dan menyebutkan

potongan harganya (diskon).62

3. Pembagian jual beli berdasarkan penyerahan nilai tukar pengganti

barangnya yakni: a) Bay‘ munjiz al-thaman, yaitu jual beli yang

didalamnya disyariatkan pembayaran secara tunai. b) Bay‘ mu’ajjal

al-thaman, yaitu jual beli yang pembayarannya dilakukan dengan secara

kedit. c) Bay‘ mu’ajjal al-muthman, yaitu jual beli yang serupa dengan

(42)

bay‘ al-salam. d) Bay‘ mu’ajjal al-‘iwad{ain, yaitu jual beli utang dengan

utang. Hal ini dilarang oleh shara>’.63

4. Pembagian jual beli berdasarkan hukumnya yakni a) Bay‘ al mun’aqid,

yaitu jual beli disyariatkan (diperbolehkan oleh syara’). b) Bay‘ al-s{ahi>h,

yaitu jual beli yang memenuhi syarat sahnya. c) Bay‘ al-na>fi>dz, yaitu jual

beli shahih yang dilakukan oleh orang yang cakap melaksanakannya. d)

Bay‘ al-la>zim, yaitu jual beli shahi>h yang sempurna dan tidak ada hak

khiya>r didalamnya.64

Ditinjau dari hukum dan sifat, para jumhur ulama membagi transaksi

jual beli menjadi dua macam yakni: Jual beli yang sah (s{ahi>h) yakni jual beli

yang memenuhi syarat dan rukun jual beli dan jual beli yang tidak sah yakni

jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukun sehingga jual beli

tersebut menjadi rusak (fa>sid) atau batal. Dengan kata lain rusak dan batal

menurut jumhur ulama memiliki arti yang sama.

Sedangkan ulama H{ana>fiyyah membagi hukum dan sifat jual beli

menjadi tiga bagian yakni sah, batal dan rusak. Menurut ulama’ H{ana>fiyyah,

jual beli rusak adalah jual beli yang sesuai dengan ketentuan shari>’ah pada

asalnya, tetapi tidak sesuai dengan shari>’ah pada sifatnya seperti jual beli yang

dilakukan oleh orang mumayyiz, tetapi bodoh sehingga menimbulkan

pertentangan.65

63 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah..., 109.

64

Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli..., 48.

(43)

E. Jual beli yang dilarang

Jual beli yang dilarang dalam Islam memiliki banyak versi. jumhur

ulama sebagaimana diterangkan di atas, tidak membedakanantara fa>sid dan

batal. Dengan kata lain, mereka menyatakan bahwa hukum jual beli ada dua,

yakni jual beli s{ahi>h dan jual beli fa>sid, sedangkan Ulama H{anafiyah

menjelaskan bahwa jual beli terbagi menjadi tiga, yaitu jual beli s{ahi>h, fa>sid

dan batal.66

1. Jual beli terlarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun.

a. Jual beli barang yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh

diperjualbelikan. Barang yang najis atau haram dimakan, haram juga

untuk diperjualbelikan.67

b. Jual beli yang belum jelas, sesuatu yang bersifat spekulasi atau

samar-samar, karena dapat merugikan salah satu pihak. Yang

dimaksud samar-samar adalah tidak jelas, baik barangnya, harganya,

kadarnya, masa pembayarannya, maupun ketidakjelasan yang

lainnya.68

c. Jual beli bersyarat. Yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan

dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual

beli atau ada unsur yang merugikan dan dilarang oleh agama. Contoh

jual beli bersyarat yang dilarang, misalnya ketika ijab kabul si

66 Ibid, 93.

(44)

pembeli berkata: “baik mobilmu akan kubeli sekian dengan syarat

anak gadismu harus menjadi istriku”. Atau sebaliknya si penjual

berkata: “ya, saya jual mobil ini kepadamu sekian asal anak gadismu

menjadi istriku”. Dalam kaitan ini Nabi SAW. Bersabda:

ْرَش لُك

َط

َع ِها ِباَتِك ِِ َسْيَل

َز

َجَو

َب َوُهَ ف َل

ِط ا

َو ٌل

ِإ

َناَك ْن

ِم

َئا َة

َش ْر

قفتمُ ٍط

َهيلع

69

Artinya: “setiap syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah maka ia batal walaupun seratus syarat”. (al-Bukha>ri>)

d. Jual beli yang menimbulkan kemadharatan. Yaitu segala sesuatu

yang dapat menimbulkan kemadharatan, kemaksiatan, bahkan

kemusyrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti jual beli patung,

salib, dan buku-buku bacaan porno.

e. Jual beli yang dilarang karena dianiaya. Yaitu segala bentuk jual beli

yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti

menjual anak binatang yang masih membutuhkan (bergantung)

kepada induknya.

f. Jual beli muh{a>laqah, yaitu menjual tanamtanaman yang masih di

ladang atau di sawah.70

g. Jual beli mukha>d{arah, yaitu menjual buah-buahan yang masih hijau

(belum pantas dipanen).71

69al-Ima>m abi> Abdillah Muhammad bin Isma’i>l al-Bukha>ri>, S}ahi>h al-Bukha>ri>, (Riyad}: Baytul

afka>r al-Dauliyah, 1998), no 2168, 406 70 Enang Hidayat, fiqh Jual Beli ..., 119.

(45)

h. Jual beli mula>masah, yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh.72

i. Jual beli muna>badhah, yaitu jual beli secara lempar-melempar.

Setelah terjadi lempar-melempar terjadilah jual beli.73

j. Jual beli muza>banah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah

yang kering. Seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah

yang diukur dengan ditimbang sehingga merugikan pemilik padi

kering.74

2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak

terkait. Yakni jual beli dari orang yang masih dalam tawar menawar, jual

beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar, membeli barang

dengan memborong untuk ditimbun, jual beli barang rampasan atau

curian.75

72 Ibid, 106.

73 Ibid, 105

74Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah ..., 80.

(46)

BAB III

PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI A.Geografis dan Demografi Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten

Banyuwangi

1. Keadaan Geografis

Desa Sarimulyo merupakan salah satu bagian dari Kecamatan

Cluring Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Menurut perdes

nomor 01 tahun 1990 dan perda nomor 79 tentang penetapan batas dan

wilayah. Yang mempunyai batas wilayah dengan desa lain yaitu:

a. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kebaman Kecamatan Srono.

b. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sraten Kecamatan Cluring.

c. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar.

d. Di sisi Timur berbatasan dengan Desa Tamanagung Kecamatan

Cluring.

Desa Sarimulyo luas tanah keseluruhan kurang lebih seluas 447

ha/m², dengan perincian, sebagai berikut: Luas Wilayah Menurut Penggunaanya (1) pemukiman: 128 ha/m2 (2) persawahan: 280 ha/m2 (3) perkebunan: 1,5 ha/m2 (4) pekarangan: 15,5 ha/m2 (5) perkantoran: 0,5 ha/m2 (6) perkantoran: 0,5 ha/m2 (7) prasarana umum lainnya: 4,8 ha/m2 dan jumlah luasannya adalah 477 ha/m2. Berdasarkan data tersebut dapat

diketahui bahwa Desa Sarimulyo areal tanahnya cukup luas dan subur

karena pengairannya sangat mudah di dapatkan. Tanah yang sudah

(47)

penduduk desa. Adapun juga jarak tempuh Desa Sarimulyo ke kecamatan

adalah 6 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit.

Sedangkan jarak tempuh ke kabupaten adalah 35 km, yang dapat ditempuh

dengan waktu sekitar 1 jam.

Wilayah Desa Sarimulyo terdiri dari 4 Dusun yaitu: Cempokosari,

Pandansari, Sempu dan Rejomulyo, yang masing-masing dipimpin oleh

seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring

banyaknya limpahan tugas desa kepada aparat ini. Dalam rangka

memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Sarimulyo,

dari keempat dusun tersebut terbagi menjadi 12 Rukun Warga ( RW ) dan

45 Rukun Tetangga ( RT ).

2. Keadaan Demografi

Sumber daya manusia yang tersedia bisa dilihat dari data jumlah

penduduk, baik menurut golongan umur, tingkat pendidikan maupun mata

pencaharian. Jumlah penduduk di desa Sarimulyo pada tahun 2016 adalah

sebanyak 8.365 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 4.232 jiwa dan perempuan

4.133 jiwa. Dari jumlah 2.865 kepala keluarga (KK).

Tingkat pendidikan penduduk antara lain: tamat SD sebanyak 333

orang, tamat SMP sebanyak 1073 orang, tamat SMA sebanyak 1136 orang,

dan tamat sarjana sebanyak 637 orang. Tingkat pendidikan berpengaruh

pada kualitas sumber daya manusia. Proses pembangunan desa akan

berjalan dengan lancar apabila masyarakat memiliki tingkat pendidikan

(48)

Mata pencaharian penduduk di desa Sarimulyo menurut buku daftar

potensi desa sebagian besar masih berada di sektor pertanian yaitu petani

berjumlah 1.374 orang, buruh tani berjumlah 912 orang, pemilik usaha

pertanian 4 orang, untuk sektor peternakan yaitu pemilik usaha peternakan

berjumlah 3 orang, buruh usaha peternakan 6 orang, dan di sektor perikanan

yaitu untuk nelayan berjumlah 2 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor

pertanian memegang peranan penting dalam bidang ekonomi masyarakat.

B. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi

Dari gambaran lokasi desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten

Banyuwangi secara umum itu kemudian penulis mengadakan penelitian karena

terdapat praktik mertelu lahan pertanian cabai merah. Praktik mertelu menurut

Arif Setiawan yaitu kerjasama dibidang usaha pertanian, terutama yang

berkaitan dengan pengolahan tanah pertanian dan pemeliharaannya. Untuk bisa

disebut mertelu karena dalam pembagian hasil 1/3 dan 2/3 antara pihak pemodal

dan pihak penggarap sesuai kesepakatan masing-masing76.

Obyek mertelu yang diteliti adalah lahan pertanian cabai merah di Desa

Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Dalam praktik mertelu

dibidang lahan pertanian cabai merah ini ada beberapa unsur yaitu:

(49)

1. Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan

Secara praktik, biaya dalam kerjasama ini seseluruhnya ditanggung

oleh pemodal mulai dari pembelian pupuk sampai biaya operasional hingga

tiba masa panen terakhir (perombakkan). Adapun hal-hal yang berkenaan

dengan pertanian dijelaskan dalam perjanjian adalah sebagai berikut:

a. Masalah tanaman.

Untuk penyediaan bibit, pembelian pupuk, dan pengadaan

obat-obatan pembasmi hama dan obat-obatan penyubur tanaman dan

lain sebagainya, seluruhnya disediakan oleh pihak pemodal.

b. Masalah pengairan.

Menggunakan pengairan sawah dengan sistem irigasi, akan

tetapi apabila pada musim kemarau maka pengairan yang digunakan

adalah pompa air, dan itupun biaya pengairan ditanggung oleh pihak

pemodal.

c. Masalah lahan pertanian.

Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan lahan pertanian

dikarenakan lahan diperoleh dari hasil sewa-menyewa. Sebab pemilik

tanah menyewakan lahan pertaniannya karena tidak mampu untuk

mengelola sendiri tanahnya dikarenakan tidak mempunyai waktu,

terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang lain, dan di samping itu terlalu

luasnya lahan yang dimiliki. Sebagian yang lain banyaknya pemilik

sawah tidak sanggup untuk mengelola sendiri tanahnya dikarenakan

(50)

2. Pihak penggarap sebagai pengelola yang mengolah lahan (pembajakan,

pemupukan, pembuatan bedengan, penanaman bibit), memelihara dan

perawatan lahan pertanian cabai merah sampai dengan pemanenan cabai

merah77. Sebab terjadinya petani penggarap melakukan mertelu karena

merasa kekurangan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,

petani penggarap juga tidak mempunyai lahan sendiri untuk digarap, dan

juga dikarenakan mahalnya harga sawah sehingga mereka tidak sanggup

untuk membelinya, kalaupun mereka bisa membeli sawah sendiri,

sangatlah jarang orang yang mau menjualnya, selain itu juga mereka tidak

mempunyai pekerjaan yang bisa dilakukan kecuali bertani.

3. Mekanisme bagi hasil mertelu lahan pertanian cabai merah ini adalah

sebagai berikut:

Pihak penggarap menjual hasil pertanian tersebut, modal

dikembalikan dahulu, hasil dibagi dengan kesepakatan pihak pemodal

mendapatkan 2/3 dan pihak penggarap mendapat 1/3.

4. Dalam proses pembentukan akad mertelu ini terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh petani penggarap yaitu:

a. Pihak penggarap harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut kepada pihak pemodal.

b. Terdapat beberapa pemotongan dalam jual beli hasil pertanian cabai merah tersebut antara lain, pemotongan harga per kilogram dan Pemotongan jenis tara, untuk normalnya tara 4 kilogram per 100

(51)

kilogram. Jika dalam penyeleksian terdapat cabai merah yang tidak memenuhi kriteria baik, cabai merah tersebut di masukkan kedalam tara. c. Ada pembagian kelas dalam jual beli hasil pertanian cabai merah

tersebut antara lain, Kelas super (A) adalah cabai merah yang berbentuk

besar dan memenuhi kriteria baik. Serta Kelas biasa (B) adalah cabai

merah yang berbentuk kecil sampai sedang yang memenuhi kriteria

baik, dan kelas (C) adalah cabai merah yang termasuk kriteria kelas tara

seperti, terkena penyakit.

d. Modal harus dikembalikan sebelum pembagian hasil pertanian cabai

merah tersebut. Untuk mengetahui modal keseluruhan prosesnya

adalah dari awal penanaman sampai dengan pemanenan yang terakhir

atau setoran cabai merah yang terakhir.

e. Pembagian hasil menggunakan sistem mertelu.

f. Apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu atau gagal panen maka

kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama kerugian itu

bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang menurun.

5. Praktik jual beli yang terjadi akibat syarat dari mertelu

Awal mula terjadinya jual beli hasil pertanian cabai merah ini karena pihak petani penggarap dengan pihak pemodal melakukan kesepakatan akad

mertelu yang didalamnya terdapat syarat harus menjual hasil pertanian cabai

merah tersebut kepada pihak pemodal.

(52)

a. Subyek pembeli

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis subyek pembeli hasil pertanian cabai merah adalah pemodal dari praktik mertelu yang bernama bapak Susanto yaitu warga Desa Sarimulyo, beliau kini sudah berusia 54 tahun, bapak Susanto menggeluti jual beli hasil pertanian cabai merah selama bertahun-tahun. Selain jual beli hasil pertanian cabai merah beliau juga memberi modal dan lahan pertanian kepada petani penggarap untuk dijadikan praktik mertelu dibidang lahan pertanian cabai merah.

Bapak tiga anak ini sudah lama menggeluti jual beli hasil pertanian cabai merah dan memberi modal praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2003. Alasan bapak tiga anak ini memilih jual beli hasil pertanian cabai merah dan memberi modal praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena cabai merah adalah jenis sayuran yang memiliki harga jual yang tinggi.

b. Subyek penjual

(53)

praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena lahan pertanian cabai merah harus berpindah-pindah untuk menghindari hama yang sudah merebak dan juga kurangnya modal untuk menyewa lahan dan modal untuk menanam cabai merah yang terlalu tinggi. Beliau berkata untuk harga sewa lahan pertanian cabai merah disini adalah Rp. 14.000.000 sampai dengan Rp. 16.000.000 untuk luas tanah 1 bau.

Kedua bernama Nurkholis yaitu warga desa Sarimulyo, beliau kini berusia 32 tahun, bapak dua anak ini sudah lama menggeluti pekerjaan dibidang pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2011. Beliau mulai melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2015. Alasan beliau melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena tidak mempunyai lahan pertanian dan juga tingginya modal untuk menanam dan merawat cabai merah ini. Beliau berkata modal rata-rata untuk pertanian cabai merah ini adalah Rp. 15.000.000 untuk luasan tanah ¼ bau. Untuk harga sewa lahan pertanian cabai merah disini adalah Rp. 3.500.000 untuk luasan tanah ¼ bau. Jadi untuk keseluruhan modal penanaman cabai merah dalam luasan tanah ¼ bau kurang lebih Rp. 18.500.000.- modal yang cukup besar untuk pertanian.

(54)

semenjak tahun 2012. Alasan beliau melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena tidak mempunyai lahan pertanian dan juga tingginya modal untuk menanam dan merawat cabai merah ini. Menurut beliau modal rata-rata untuk pertanian cabai merah ini adalah Rp 50.000.000.- sampai dengan Rp 60.000.000.- untuk luas tanah 1 bau dengan ukuran tanah di desa, 1 bau sama dengan 8750 m2.

c. Obyek jual beli

Cabai merah adalah tanaman yang buahnya berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, ketika masih muda berwarna hijau apabila sudah tua berwarna merah, berisi banyak biji yang pedas rasanya.78 Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana menggunakannya. Sebagai bumbu cabai merah digunakan untuk penguat rasa masakan dan juga digunakan untuk sambal.79 Sebagai obyek jual beli cabai merah tersebut diperoleh dari hasil praktik mertelu.

78Ebta Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”, dalam http://kbbi.web.id/cabai diakses

pada 01 januari 2017

[image:54.595.113.515.210.684.2]

79“Cabai”, dalam http://id.m.wikipedia.org/wiki/cabai diakses pada 01 januari 2017

Gambar 3.1

Lahan pertanian Cabai merah

Gambar 3.2 Cabai merah

(55)

d. Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah

Hasil penelitian lapangan yang dilakukan oleh penulis tentang praktik jual beli hasil pertanian cabai merah yang terjadi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Latar belakang praktik jua

Gambar

Gambar
Gambar 3.1 Gambar 3.2
Gambar 3.3  Penimbangan Cabai merah
Gambar 3.4 Gambar 3.5
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Pendapatan merupakan nilai yang diperoleh petani cabai merah besar dari penerimaan terhadap penjualan hasil produksi setelah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan

Tujuan penelitian adalah Untuk menganalisis perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk menganalisis karakteristik petani

6.1 Jumlah Petani Responden Cabai Merah Berdasarkan Tingkat Umur di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember

Menurut hasil wawancara dengan ibu Satonah selaku petani (wawancara pada tanggal 27 juni 2018), transaksi jual beli dengan sistem tebasan bisaanya dilakukan jika

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum mengenai karakteristik petani, khususnya dalam mendukung kegiatan kawasan cabai merah di lahan kering