SKRIPSI
Oleh
Moh. Bahtiyar Efendi (C72213146)
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syari’ah dan Hukum
Jurusan Hukum Perdata Islam
Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)
Skripsi
Diajukan Kepada Universita Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program
Sarjana Strata Satu Ilmu Syariah Dan Hukum
Oleh
Moh. Bahtiyar Efendi (C72213146)
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syari’ah dan Hukum
Jurusan Hukum Perdata Islam
Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan judul “ANALISIS
HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN
CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI”. Skripsi ini bertujuan menjawab pertanyaan diantaranya adalah: Bagaimana praktik mertelu lahan pertanian cabai merah dan bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.
Metode penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan interview. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif analisis dan metode pembahasan yang dipakai adalah deduktif. Deduktif dalam penelitian ini merupakan pola pikir yang berpijak pada teori hukum Islam yang kemudian dikaitkan dengan fakta-fakta dalam praktik jual beli dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah ini awal mula terjadinya karena pihak petani penggarap dengan pihak pemodal melakukan kesepakatan akad mertelu yang didalamnya terdapat syarat harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut kepada pihak pemodal. Jual beli tersebut terdapat syarat yang pertama pemilihan kelas dari A,B,C untuk mengetahui harga. Kedua terdapat pemotongan harga tiap kilogramnya.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TRANSLITERASI ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 7
D. Kajian Pustaka ... 8
E. Tujuan Penelitian ... 10
F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 11
G. \Definisi Oprasional ... 12
H. Metode Penelitian ... 12
I. Sistematika Penulisan ... 18
BAB II JUAL BELI DALAM ISLAM A. Pengertian Jual Beli ... 20
B. Dasar Hukum Jual Beli ... 23
C. Rukun dan Syarat Jual Beli ... 25
D. Pembagian Jual Beli ... 30
BAB III PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH di DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI
A. Geografis dan Demografis Desa Sarimulyo ... 36
1. Keadaan Geografis ... 36
2. Keadaan Demografi... 37
B. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 38
1. Pihak Pemodal Yang melakukan Pembiayaan ... 39
a. Masalah Tanaman ... 39
b. Masalah Pengairan ... 39
c. Masalah Lahan Pertanian ... 39
2. Pihak Penggarap ... 40
3. Mekanisme Bagi Hasil Mertelu ... 40
4. Proses Pembentukan Akad ... 40
5. Praktik jual beli yang terjadi akibat syarat dari mertelu ... 42
a. Subyek Pembeli ... 42
b. Subyek Penjual ... 42
c. Obyek Jual Beli ... 44
d. Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah 45 e. Kronologi jual beli cabai merah ... 46
f. Jual beli cabai merah tanpa syarat mertelu ... 51
BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI A. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 55
B. Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi ... 59
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 66
Daftar Pustaka ... 67
Daftar Gambar
Gambar Halaman
3.1 Lahan Pertania Cabai Merah ... 44
3.2 Cabai Merah ... 44
3.3 Penimbangan Cabai Merah ... 47
3.4 Proses Pemilihan Kelas ... 48
3.5 Hasil Pemilihan ... 48
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Akad menjadi penting dalam masyarakat. Karena akad merupakan
penghubung setiap orang dalam memenuhi kebutuhan dan kepentinggannya
yang tidak dapat dipenuhinya sendiri tanpa bantuan dan jasa orang lain.
Sehingga dikatakan bahwa akad merupakan sarana sosial yang mendukung
manusia sebagai makhluk sosial.
Kata akad berasal dari kata al-‘aqd, yang berarti mengikat, menyambung
atau menghubungkan (al-rabt}). Akad merupakan keterkaitan atau pertemuan
ijab dan kabul yang berakibat timbulnya akibat hukum. Ijab adalah penawaran
yang diajukan oleh salah satu pihak, dan kabul adalah jawaban persetujuan yang
diberikan mitra akad sebagai tanggapan terhadap penawaran pihak yang
pertama. Akad tidak terjadi apabila pernyataan kehendak masing-masing pihak
tidak terkait satu sama lain karena akad adalah keterkaitan kehendak kedua
pihak yang tercermin dalam ijab dan kabul.1
Dalam mua>malah terdapat berbagai macam akad di bidang transaksi
perekonomian, salah satu bentuk akad yang sering dilakukan oleh Rasulullah
SAW adalah jual beli. Hal ini sebagaimana Rafi’ bin Khudaij bertanya kepada
Rasulullah SAW perihal usaha yang paling baik, dan beliau menjawab:
َةَعاَفِر ْنَع
ا
لا نأ ٍعِفاَر ُنْب
َو ِهْيَلَع ها ىلَص ِِ
َلاَق ؟ ُبَيْطَأ ِبْسَكْلا ىَأ َلِئُس َملَس
ُلَمَع
ٍرْوُرْ بَم ٍعَيب لُك َو ِِدَيِب ِلُجرلا
2Artinya: “Dari Rifa>’ah ibnu Ra>fi’ bahwa Nabi saw ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab: Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabru>r. ( H.R. al-Bazzar dan al-Hakim)”
Dalam hadith di atas dijelaskan bahwasanya pekerjaan sebagai pedagang
sangatlah mulia, sebagaimana dipraktikkan oleh Rasulullah saw dan para
sahabatnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan, berdagang juga mengandung
unsur tolong menolong yakni menerima dan memberikan andil kepada orang
lain dalam mencapai kemajuan hidup. Karena itu Islam tidak menghendaki
adanya unsur kebathilan dalam memperoleh keuntungan dari berdagang.
Seperti praktik riba, penipuan, dan unsur lain yang bertentangan dengan
shari>‘ah Islam. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Quran surat
al-Nisa>’ ayat 29:
اَ ُيأٓ َيَ َنيَِٱذ ِب هكَنبيَب هكَلَٰوبمَأ آ ه هكبأَت ََ ا هنَماَء ِلِطٰ َببلٱ
ب هكنِ م لضاَرَت نَع ًةَرٰ َجِت َن هكَت نَأ َِٓإذ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (Q.S. al-Nisa>’:29)3
Saling rela dalam transaksi jual beli sangatlah diprioritaskan, sebab
keberkahan akan didapat dari kerelaan antar keduannya, dan jalan kebathilan
sangatlah dicela karena akan merugikan satu diantara keduanya. Inti dari ayat
2 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal juz IV, (Liba>nan: Da>r a1-Kutub al-Ilmiyah, 1993), 173-174.
di atas bahwa dalam memperoleh keuntungan dari jual beli, seseorang harus
paham betul terhadap aturan dan batasan yang dapat mempertahankan
kehalalan dari pekerjaan itu. Oleh karena itu wajib hukumnya berlaku jujur
dalam bertransaksi dan diharamkan untuk bermanipulasi yang mengakibatkan
unsur haram masuk di dalamnya.
Kriteria halal dalam bertransaksi dapat dicapai seseorang dengan cara
memperhatikan syarat dan rukun dari transaksi tersebut, terlebih pada objek
yang diperjualbelikan. Islam mengajarkan kepada manusia untuk berlaku adil
dalam jual beli. Hal ini perlu ditegaskan agar tidak ada pihak yang merasa
dirugikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Isra>’ ayat 35:
ا هفبوَأَو َلبيَ بلٱ ِب ا هنِزَو ب هتبِ اَذِإ ِسا َط بسِ بلٱ
ِ يِ َت بسهبلٱ َ ِلَٰذ
َخ
م
ٗيِوبأَت هن َسبحَأَو ٞ بۡ ٥
Artinya: ”Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. al-Isra>’: 35)4
Jual beli merupakan salah satu bagian mua>malah yang diperbolehkan
Allah SWT, dan keberadaanya tidak akan dapat dipungkiri dalam masyarakat,
termasuk kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dengan adanya kegiatan jual
beli inilah manusia dapat bertahan hidup. Jual beli termasuk sarana saling
tolong menolong antara sesama manusia, ketika penjual membutuhkan pembeli,
begitu juga sebaliknya pembeli juga membutuhkan penjual.
Sebagian kaum muslimin ada yang lalai mempelajari mua>malah,
sehingga tidak peduli kalau mereka memakan barang haram. Sekalipun semakin
hari usahanya kian meningkat dan keuntungan semakin banyak.5 Orang yang
terjun ke dunia usaha berkewajiban mengetahui hal-hal yang dapat
mengakibatkan jual beli itu sah atau tidak sah (fa>sid). Ini dimaksudkan agar
mu’a>malah berjalan sah, segala sikap dan tindakannya jauh dari kerusakan yang
tidak dibenarkan.
Jenis dan bentuk mua>malah akan berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman, tempat dan kondisi sosial. Persoalan mua>malah terkait
erat dengan perubahan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.6
Terkait dengan norma jual beli yang dipaparkan, bahwa kegiatan jual beli yang
akan dibahas oleh penulis adalah kejadian yang ada di Desa Sarimulyo
Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi, yaitu berkaitan dengan jual beli
yang disyaratkan dalam praktik mertelu bidang pertanian cabai merah.
Praktik mertelu ini merupakan kerjasama dibidang usaha pertanian,
terutama yang berkaitan dengan pengolahan tanah pertanian dan
pemeliharaannya. Untuk bisa disebut mertelu ini karena dalam pembagian hasil
1/3 dan 2/3 antara pihak pemodal dan pihak penggarap sesuai kesepakatan
masing-masing7. Penulis memfokuskan terhadap jual beli dalam praktik mertelu
lahan pertanian cabai merah.
Pada awal penelitian yang dilakukan, penulis menemukan bahwa dalam
mekanisme pembentukan akad mertelu lahan pertanian cabai merah ini terjadi
5Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Alih Bahasa Kamaluddin A. Marzuki, Fikih Sunnah, (Bandung: Al
Ma’arif, 1996), 46.
tanpa adanya pencatatan formal yang disaksikan oleh perangkat desa dan
terbentuk. Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan lahan pertanian
dikarenakan lahan diperoleh dari hasil sewa-menyewa, pembiayaan pengolahan
tanah dan pemeliharaannya. Pihak penggarap sebagai pengelola yang
mengeolah dan memelihara lahan pertanian cabai merah8.
Adapun persyaratan yang diberikan pihak pemodal kepada penggarap
yaitu9: 1) Pihak penggarap harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut
kepada pihak pemodal. 2) Terdapat beberapa pemotongan dalam jual beli hasil
pertanian cabai merah tersebut antara lain, pemotongan harga per kilogram dan
Pemotongan tara, untuk normalnya tara 4 kilogram per 100 kilogram. Jika
dalam penyeleksian terdapat cabai merah yang tidak memenuhi kriteria baik,
cabai merah tersebut di masukkan kedalam tara.
3) Ada pembagian kelas dalam jual beli hasil pertanian cabai merah
tersebut antara lain, Kelas super adalah cabai merah yang berbentuk besar dan
memenuhi kriteria baik. Serta Kelas biasa adalah cabai merah yang berbentuk
kecil sampai sedang yang memenuhi kriteria baik. 4) Modal harus dikembalikan
sebelum pembagian hasil pertanian cabai merah tersebut. 5) Pembagian hasil
menggunakan sistem mertelu. 6) Apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu
atau gagal panen maka kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama
kerugian itu bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang
menurun.
Hal ini terjadi dikarenakan tidak semua masyarakat mempunyai lahan
yang cukup atau bahkan tidak mempunyai lahan sama sekali untuk digarap,
sebaliknya ada sebagian orang mempunyai lahan yang cukup luas sehingga
kalau digarap sendiri jelas mereka tidak akan sanggup. Kerjasama ini dilakukan
juga salah satunya adalah dengan maksud untuk meningkatkan mutu dari hasil
pertanian yang mana diperlukan suatu kerjasama antara pemilik lahan dan
pemodal dengan penggarap lahan yang memiliki keahlian di bidang pengelolaan
dan pemeliharaan lahan pertanian.
Berangkat dari adanya bentuk praktik jual beli dengan syarat mertelu
lahan pertanian cabai merah semacam ini, maka penulis tertarik untuk meneliti
dan mengkaji lebih dalam tentang “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik
mertelu lahan pertanian cabai merah di desa Sarimulyo kabupaten
Banyuwangi”.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Identifikasi masalah dilakukan untuk menjelaskan
kemungkinan-kemungkinan cakupan masalah yang dapat muncul dalam penelitian dengan
melakukan identifikasi sebanyak-banyaknya kemudian yang dapat diduga
sebagai masalah.10 Berdasarkan paparan latar belakang di atas, penulis
mengidentifikasi inti dari permasalahan yang terkandung di dalamnya sebagai
berikut:
10 Tim Penyusun Fakultas Syari’ah dan Hukum, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi, (Surabaya:
1. Pembentukan akad perjanjian mertelu lahan pertanian cabai merah.
2. Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.
3. Persyaratan dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah
4. Jual beli dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah
5. Persyaratan jual beli dalam praktik mertelu lahan pertanian cabai merah
6. Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai
merah.
Dari beberapa identifikasi masalah tersebut, penulis perlu menjelaskan
batasan dan ruang lingkup persoalan yang akan dikaji dalam penelitian ini agar
terfokus dan terarah. Adapun batasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan
Cluring Kabupaten Banyuwangi
2. Analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai
merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi
C.Rumusan Masalah
Rumusan masalah memuat pertanyaan yang akan dijawab melalui
penelitian.11 Melalui deskripsi di atas, maka peneliti dapat merumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa
Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi?
2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan
pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi?
D.Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian/penelitian yang
sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan ditelitisehingga terlihat
jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan pengulangan atau
duplikasi dari kajian/penelitian yang telah ada.12 Bahwa penulis menemukan
penelitian mengenai perjanjian bagi hasil dalam pertanian dan sejenisnya dari
peneliti sebelumnya yang berjudul:
1. Skripsi yang ditulis oleh Ahmad Mudrik dengan judul “Tinjauan hukum
Islam terhadap perjanjian bagi hasil sistem seton pada pohon wolo di Desa
Sumurgung Kecamatan Palang Kabupaten Tuban” tahun 2009. Skripsi ini
membahas tentang perjanjian bagi hasil dengan sistem seton yakni hasil
dari pohon wolo pada hari sabtu diberikan kepada pihak pemilik lahan dan
mulai hari minggu sampai jumat diberikan kepada penggarap atau
pengelola lahan. Dengan hasil, bahwa perjanjian bagi hasil dengan sistem
seton pada pohon wolo tersebut sesuai dengan hukum Islam, dan masuk
kategori musa>qa>h.13
12Ibid., 8.
13 Ahmad Mudrik, ”Tinjauan Hukum Islam terhadap Perjanjian Bagi Hasil Sistem Seton pada
2. Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Ridhwan dengan judul “Analisis
hukum Islam terhadap akad proliman dalam pengairan sawah di Desa
Beged Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro” tahun 2010. Skripsi ini
membahas tentang kerjasama antara pengelola pengairan/irigasi sawah
dengan pihak masyarakat petani untuk melakukan kerjasama dalam bidang
pertanian, dengan bagi hasil seperlima (proliman/parolimo) untuk pihak
irigasi sawah. Dengan hasil, bahwa praktik akad proliman tersebut tidak
bertentangan dengan hukum Islam, dan masuk kategori musya>rakah inan.14
3. Skripsi yang di tulis oleh Muhammad Arif Saifuddin dengan judul
“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Praktik Nelon Lahan Pertanian
di Desa Gelap Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan” tahun 2015.
Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan tradisi praktik nelon lahan
pertanian yang mana dalam perjanjian ini bagi hasilnya menggunkan
hukum adat sistem nelon. Tanah dari pemilik lahan, sedangkan benih, alat
penggarapan, serta pekerjaan dari pihak penggarap lahan. Dengan Hasil,
bahwa tradisi praktik nelon tersebut tidak bertentangan dengan hukum
Islam dan masuk kategori mukha>barah.15
Dari ketiga penelitian terdahulu yang telah dijelaskan di atas
masing-masing memiliki perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh
14Muhammad Ridhwan, ”Analisis Hukum Islam terhadap Akad Proliman dalam Pengairan Sawah
di Desa Beged Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro”, (Skripsi--IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2010), 77.
peneliti dalam judul “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik mertelu lahan
pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi” yang secara garis besar skripsi ini membahas tentang pelaksanaan
jual beli dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah.
Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah melibatkan beberapa pihak
diantaranya: sebagai pemodal sekaligus pembeli hasil pertanian cabai merah
yaitu bapak Susanto, dan sebagai petani penggarap sekaligus penjual hasil
pertanian cabai merah yaitu: Bapak Sugianto, Bapak Subandi, Bapak
Nurkholis.
Ada persyaratan khusus dalam praktik mertelu yaitu dalam pembagian
hasil menggunakan sistem mertelu, modal harus dikembalikan dahulu sebelum
pembagian, dan juga hasil pertanian harus dijual kepada pihak pemodal.
Sedangkan untuk masalah kerugian apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu
atau gagal panen maka kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama
kerugian itu bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang
menurun.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah rumusan tentang tujuan yang ingin dicapai oleh
peneliti melalui penelitian yang di lakukannya16. Tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui praktik mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa
Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.
2. Untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan
pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi.
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan hasil penelitian memuat uraian yang mempertegas bahwa
masalah penelitian itu bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis.17
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Aspek teoritis, sebagai upaya bagi pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya yang berkaitan dengan kerjasama dalam pertanian yaitu praktik
mertelu lahan pertanian cabai merah sekaligus untuk mengetahui hukum
Islamnya.
2. Aspek praktis, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi praktisi
yang melakukan kerjasama dalam pertanian khususnya praktik mertelu
lahan pertanian cabai merah pada lahan pertanian yang diharapakan dapat
berguna sebagai pedoman transaksi di lapangan atau masyarakat.
G.Definisi Operasional
Definisi operasional yaitu untuk memuat penjelasan tentang pengertian
yang bersifat operasional dari konsep atau variabel penelitian.18 Untuk
memudahkan pemahaman dalam judul penelitian ini, maka perlu penjelasan
secara operasional agar terjadi kesepahaman dalam memahami judul skripsi.
1. Hukum Islam adalah Peraturan-peraturan berdasarkan al-Quran dan Hadith
tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan
mengikat untuk semua umat yang beragama Islam19 Yang dimaksud dalam
hukum Islam adalah akad jual beli hasil pertanian cabai merah dalam praktik
mertelu.
2. Praktik mertelu adalah kerjasama dalam pengelolaan lahan pertanian antara
pemilik lahan dengan penggarap yakni pemilik lahan memberikan lahan
pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan sistem
bagi hasil separuh/sepertiga dari hasil yang keluar dari tanah tersebut.
H.Metode Penelitian
Untuk memperoleh data serta informasi yang akurat, relevan dan
obyektif, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.
Oleh karena itu, penulis memaparkan metode penelitian yang digunakan dengan
tujuan untuk memperjelas penelitian ini.
18 Ibid,. 9.
1. Jenis penelitian
Dilihat dari segi sumber data yang digunakan, maka penelitian ini
termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research). Sedangkan
jenis penelitian ini adalah kualitatif sebagai prosedur penilitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang dapat diamati.20
2. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring
Kabupaten Banyuwangi.
3. Data yang dikumpulkan.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa primer maupun
sekunder yang berasal dari seseorang, dokumen, pustaka, barang, dan
keadaan.21 Data yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini adalah
hal-hal yang berkenaan dengan masalah yang akan dijawab sesuai dengan
rumusan masalah diantaranya sebagai berikut:
a) Data Primer
(1) Pelaku akad
(2) Akad yang dilakukan dalam transaksi
(3) Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah
(4) Persyaratan dalam praktik mertelu
(5) Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah
(6) Persyaratan dalam praktik jual beli hasil pertanian cabai merah
b) Data Sekunder
(1) Ayat suci al-Qur’an yang menjelaskan tentang jual beli
(2) Hadith yang menjelaskan tentang jual beli
(3) Pendapat para ulama yang menjelaskan tentang jual beli
4. Sumber Data
Sumber data yakni sumber dari mana data akan digali, baik primer
maupun sekunder.22
a) Sumber Primer
Sumber primer yaitu sumber yang diperoleh dari pelaku yang
diamati atau diwawancarai sebagai sumber utama.23 Diantaranya
sebagai berikut:
(1) Pemodal lahan pertanian cabai merah
(2) Penggarap lahan pertanian cabai merah
(3) Pemilik lahan pertanian
b) Sumber Sekunder.
Sumber sekunder adalah sumber yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti yang berasal dari bahan pustakaan.24 Sumber yang bersifat membantu dalam melengkapi serta memperkuat sumber primer tersebut, diantaranya sebagai berikut:
22Tim Penyusun Fakultas Syari’ah dan Hukum, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi ..., 8.
(1) al-Ima>m abi> Abdillah Muhammad bin Isma’i>l al-Bukha>ri>, S}ahi>h
al-Bukha>ri>.
(2) Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal
juz IV.
(3) Ibnu Ma>jah, Sunan Ibnu Ma>jah Juz II.
(4) Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu.
(5) Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah.
(6) Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah.
(7) Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah.
(8) Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah.
(9) Abdul Rahman Ghazaly, dkk., Fiqh Muamalat.
(10) Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah.
(11) Enang Hidayat, Fiqh Jual Beli
(12) Ahmad Mawardi Muslich, Fiqh Muamalat
5. Teknik Pengumpulan data
a) Observasi
Teknik pengamatan dengan cara mengamati (melihat,
memperhatikan, mendengarkan, dan mencatat secara sistematis objek
yang diteliti)25 yang digunakan untuk pengumpulan data tentang:
(1) Akad yang dilakukan dalam transaksi
(2) Praktik mertelu lahan pertanian cabai merah
(3) Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah
b) Interview
Teknik interview yang disebut juga sebagai wawancara yaitu
suatu teknik yang bertujuan untuk mendapatkan keterangan atau data
secara lisan dari seorang responden sebagai pembantu dari teknik
observasi.26 Penulis akan mewawancarai pihak yang terlibat yaitu
Pelaku praktik mertelu lahan pertanian cabai merah tersebut, yaitu
pemodal lahan pertanian cabai merah, pemilik lahan pertanian dan
penggarap lahan pertanian cabai merah.
6. Teknik pengolahan data
Tahapan pengolahan data dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a) Organizing
Merupakan suatu proses dalam pengumpulan, pencatatan, dan penyajian fakta untuk tujuan penelitian.27 Teknik ini digunakan untuk menyusun data mensistematiskan data yang telah diperoleh tentang tinjauan jual beli menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.
b) Editing
Yaitu kegiatan pemeriksaan terhadap kelengkapan data yang
akan dikumpulkan.28 Teknik ini digunakan untuk pemeriksaan kembali
terhadap semua data yang telah diperoleh terutama dari segi kejelasan
26 Koenjoroningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, cet ke 9 (Jakarta: Pengadilan Tinggi Gramedia, 1989), 129
makna dan kesesuaian antara data primer dan data sekunder tentang
tinjauan jual beli menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan
pertanian cabai merah.
c) Analizing
Analizing yaitu suatu proses pengelompokan dan
pengategorikan data yang dikumpulkan secara sistematis.29 Teknik ini
digunakan untuk memberikan analisa dari data yang telah
dideskripsikan dan menarik kesimpulan tentang tinjauan jual beli
menurut hukum Islam terhadap praktik mertelu lahan pertanian cabai merah.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data, yaitu proses penyederhanaan data kebentuk yang
lebih mudah dibaca dan dipahami.30 Penulis melakukan analisis data
dengan menggunakan metode kualitatif, yakni upaya yang dilakukan
dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang dapat disampaikan kepada orang lain.31
Metode pembahasan deskriptif dengan pola deduktif. Deduktif
dalam penelitian ini merupakan pola pikir yang berpijak pada teori hukum
Islam yang kemudian dikaitkan dengan fakta-fakta dalam praktik jual beli
29 Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek ...¸105.
dengan syarat mertelu lahan pertanian cabai merah di Desa Sarimulyo
Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi.
I. Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari lima bab, antara satu bab dengan
bab lainnya saling berhubungan, selanjutnya dalam setiap bab terdiri dari sub
bab. Agar dalam penyusunan skripsi dapat terarah dan teratur sesuai dengan apa
yang direncanakan penulis, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai
berikut.
Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisi tentang penyusunan
panduan awal untuk memulai sebuah penelitian, agar yang direncankan oleh
penulis dalam penelitiannya bisa sistematis. Adapun pada bab pendahuluan
terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah,
rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
definisi operasional, metode penelitian, serta menggambarkan alur sistematika
pembahasan yang jelas.
Pada bab kedua merupakan landasan teori yang membahas tentang kajian
pustaka untuk menguraikan teori berkaitan dengan praktik jual beli, yang
mencakup bahasan tentang konsep jual beli dalam hukum Islam. Di antaranya
mengenai pengertian, landasan hukum, rukun dan syarat, serta bentuk-bentuk
jual beli. Yang bertujuan untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap
permasalahan tersebut. Mengenai data penelitianya akan dilanjutkan pada bab
Bab ketiga merupakan data penelitian, yang mencakup data lengkap desa
dan hasil temuan dalam penelitian terkait dengan praktik mertelu lahan
pertanian cabai merah. Sehingga di bab ketiga berisi tentang data penelitian
murni yang akan dibahas secara jelas dengan teori yang diambil dalam bab dua.
Untuk analisisnya maka dilanjutkan pada bab keempat.
Selanjutnya bab keempat berisi pembahasan yang memuat tentang
tentang analisis data dan analisis bab tiga dengan menggunakan teori dalam bab
dua. Untuk hasil analisis akan disimpulkan pada bab ke lima.
Oleh karena itu, bab kelima merupakan bab penutup, bab ini berisi
kesimpulan yang menjawab perumusan masalah yang telah dibahas dalam bab
BAB II
JUAL BELI DALAM ISLAM A.Pengertian jual beli
Lafazh al-bay‘ dalam bahasa arab menunjukkan makna jual dan beli. Yang dikutip dari Enang Hidayat, Ibnu manzhur berkata:
ِءا
َرَشلَا
دِض
ْيَ ب ُع ْلا)lafazhٌع ْيَ ب ْلا yang berarti jual kebalikan dari lafazh
ُءا َرَشلَا
yang berarti beli)32. Dilihat dari segi bahasa, lafazh ْيَ ب ٌع ْلا merupakan bentuk mas{dar اًعْ يِبَم - ًاعْيَ ب - ُعْيِبَي - َعاَب yangmengandug tiga makna sebagai berikut:
ُةَل َداَبُم
َِب ٍلاَم
ٍلا
Artinya:“Tukar menukar harta dengan harta.”َ باَقُم
ُةَل
ْيَش
ْيَشِب ِئ
ِئ
Artinya: “Tukar menukar sesuatu dengan sesuatu.”
َوِع ُعْف َد
ُع اَم ُذْخَأ و ٍض
ِو
َْع َض
ُه
Artinya: “Menyerahkan pengganti dan mengambil sesuatu yang dijadikan alat pengganti tersebut.”33
Wahbah al-Zuhaili mengartikan bay‘ yaitu “tukar menukar barang
dengan barang”34. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,
bay’ adalah jual beli antara benda dan benda atau pertukaran antara benda
dengan uang.35 Adapun definisi bay‘ secara terminologi diungkapkan oleh para
ulama yakni:
32 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, Cet. 1, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 9. 33 Ibid, 9.
34 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu, Alih Bahasa Abdul Hayyie al Kattani dkk, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid 5, (Jakarta: Gema Insani, 2011), 25.
1. H{anafiyah yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:
ِهِلْثِِب ِهْيِف ِبْوُغْرَم ِئْيَش ُةَلَداَبُم
Artinya: “Saling tukar menukar sesuatu yang disenangi dengan yang semisalnya.”
Selain itu, Ulama H{anafiyah juga mendefinisikan jual beli yang
dikutip dari buku Rachmat Syafe’i yakni:
ُةَلَداَبُم
َم
َْم ٍهْجَو ىَلَع ٍلاَِب ٍلا
ْوُص
ٍص
Artinya:“Pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang diperbolehkan).”36
Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ulama
H{anafiyah mengartikan jual beli yaitu tukar menukar harta benda atau
sesuatu yang diinginkan dengan sesuatu yang sepadan melalui cara tertentu
yang bermanfaat.37
2. Ma>liki>yah, yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:
َو اَعُم ُدْقَع
ُةَض
اََم َِْْغ ىَلَع
ُةَعْ تُم َُو ,َعِف
َذل
ِة
ُذ ,
, ِةَسَياكُم ْو
َحأ
َوِع ُد
ْيَض
ْ يَغ ِه
َذ ُر
ِبَ
َُو
ًَُْعُم , ِةَضِف
َِْْعلا ُرْ يَغ
Artinya: “Akad saling tukar menukar terhadap bukan manfaat, bukan termasuk senang-senang, adanya saling tawar menawar, salah satu yang dipertukarkan itu bukan termasuk emas dan perak, bendanya tertentu dan bukan dalam bentuk zat benda.”38
36Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, Cet.II, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 73.
3. Sha>fi’i>yah berpendapat yang dikutip dari buku Ahmad Wardi Muslich
menyatakan:
َ يٌدْقَع :اًعْرَشَو
َ باَقُم ُنَمَضَت
ِطْرَشِب ٍلاَِب ٍلاَم َةَل
آا ِه
ْوَأ ٍَْْع ِكْلِم ِةَدَافِتْسَُِ ْ ِِ
َم
ِةَعَفْ
ِةَدَبَؤُم
Artinya: “Jual beli menurut shara>’ adalah suatu akad yang mengandung tukar menukar harta dengan harta dengan syarat yang akan diuraikan untuk memperoleh kepemilikan atas benda atau manfaat untuk waktu selamanya.”39
4. Menurut H{ana>bila, yang dikutip dari buku Enang Hidayat menyatakan:
ُةَل َداَبُم
ِلاِب لِاَمْل ا
َْت ِلا
ْيِل
اَك
Artinya: “Saling tukar menukar harta dengan harta dengan tujuan memindahkan kepemiliknnya”.
Dari beberapa definisi mengenai jual beli di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa mereka sepakat memberikan definisi jual beli
merupakan, “ tukar menukar harta dengan harta dengan cara-cara tertentu
yang bertujuan untuk memindahkan kepemilikan.40
Sedangkan menurut Hendi suhendi bahwa inti dari jual beli adalah
suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai
secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima
benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan
yang telah dibenarkan shara>’ dan disepakati.41
39 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2013), 176. 40 Enang Hidayat, fiqh Jual Beli ..., 12.
B.Dasar hukum jual beli
Dasar hukum dibolehkannya jual beli terdapat di dalam al-Quran,
al-Hadith serta ijma>’. Sebagai berikut:
1. Al-Quran, dalam surat al-Baqarah (2) ayat 275:
ذلَحَأَو ه ذّٱ َعبيَۡٱب َمذرَحَو اٰ َبِ رلٱ
Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. al-Baqarah: 275) ”42
Dari ayat di atas dapat diartikan bahwa Allah SWT telah
menghalalkan transaksi jual beli terhadap hambanya dan melarang adanya
praktik yang mengandung unsur riba karena dapat merugikan pihak lain.
Menurut Sayyid Qut}ub yang dikutip dari buku Mustaq Ahmad, dampak
dari kejahatan riba yakni dapat menimbulkan kematian pada kesadaran dan
moralitas para pelaku bisnis karena mereka riba akan membuat ia
membutuhkan banyak keuntungan yang demikian banyak dari
sesamanya.43
Jual beli juga diatur dalam surat al-Baqarah (2) ayat 282:
هتبعَياَبَت اَذِإ آوهدِ بشَأَو ب
Artinya: “...dan dipersaksikanlah apabila kamu berjual beli...” (Q.S. al-Baqarah: 282)
Jual beli juga diatur dalam surat al-Nisa>’ (4) ayat 29, yang berbunyi: اَ ُيَأٓ َي َنيَِٱذ ِب هكَنبيَب هكَلَٰوبمَأ آ ه هكبأَت ََ ا هنَماَء بلٱ ِلِطٰ َب ِ م لضاَرَت نَع ًةَرٰ َجِت َن هكَت نَأ َِٓإذ ب هكن
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang ba>t{il, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (Q.S. al-Nisa>’: 29)”44
Firman Allah SWT di atas menerangkan mengenai larangan
memakan harta orang lain dengan jalan yang ba>t{il yang tidak dibenarkan
oleh Allah, seperti mencuri, merampok dan lain-lain, serta menyeru kepada
hambanya untuk mencari harta dari jalan perniagaan yang berprinsip saling
suka sama suka. Jadi, dalam jual beli tidak sah jika ada salah satu pihak
melakukan akad karena terdapat unsur paksaan dari pihak lain.
2. Landasan H}adith diantaranya:
َةَعاَفِر ْنَع
ا
ُلَمَع َلاَق ؟ ُبَيْطَأ ِبْسَكْلا ىَأ َلِئُس َمَلَس َو ِهْيَلَع ها ىَلَص ََِِلا َنأ ٍعِفاَر ُنْب
ٍرْوُرْ بَم ٍعَيب لُك َو ِِدَيِب ِلُجَرلا
45
Artinya: “Dari Rifa>’ah ibnu Ra>fi’ bahwa Nabi saw ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab: Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabru>r. ( H.R. al-Bazzar dan al-Hakim)”
ِنْبا ْنَع
ِجَاّتلا : َمَلَسَو ِهْيَلَع ها ىَلَص ها ُلْوُسَر َلاَق َرَمُع
ُمِلْسُمْلا ُِْْمَْْا ُقْوُدَصلا ُر
َعَم
َ ي ِءاَدَه شلا
ِةَماَيِقْلا َمْو
.
46Artinya: "Ibnu ‘Umar ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw. Pedagang yang benar (jujur), dapat dipercaya dan muslim, beserta para shuhada’ pada hari kiamat. (HR. Ibnu Ma>jah).”
44 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan…, 83.
45 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al- Imam Ahmad bin Hanbal juz IV, (Liba>nan: Da>r a1-Kutub al-Ilmiyah, 1993), 173-174.
َع ْن
َد
ُوا َد
ْب
ِن
َص
ِلا
ِح
ْلا
َم َد
ّن
ِها ُلْوُسَر َلاَق ُلوُقَ ي يِرْدُخىلا َدْيِعَس اَبَأ ُتْعََِ :َلاَق ِهْيِبَا ْنَع ,
47
َهجام نبا اورُ ٍضاَرَ ت ْنَع ُعْيَ بْلا اَََِاَو م.ص
Artinya: “Dari Abu Dawud Ibnu Shalih Al-Maddani dari ayahnya berkata saya mendengar Abu Sa’id al-Qhudri berkata; bahwa Rasullullah Saw; jual beli atas dasar saling meridha>i”. (HR. Ibnu Ma>jah)
3. Ijma>’
Sedangkan dalil dari ijma>’ menyatakan bahwa ulama sepakat jual beli
itu hukumnya boleh dan terdapat hikmah didalamnya. Karena asal manusia
adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya kerja sama
dengan yang lain. Oleh karena itu, dengan diperbolekannya jual beli maka
dapat membantu terpenuhinya kebutuhan setiap orang dan membayar atas
kebutuhan itu.48
C.Rukun dan Syarat Jual Beli
1. Rukun jual beli
Jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’, jika rukun dan syarat
sudah dipenuhi. Mengenai rukun jual beli jumhur Ulama’ berpendapat bahwa
rukun jual beli ada empat, yaitu:49
a. Orang yang berakad atau al-muta’aqida>yn yaitu: Penjual dan Pembeli.
Pendapat ini disepakati oleh para ulama’mazhab
b. S}igha>t (lafal ijab dan kabul) yaitu: pernyataan serah terima antara penjual
dan pembeli,
47Ibnu Ma>jah, Sunan Ibnu Ma>jah Juz II, (Libana>n: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, t.t,), no 2185, 737
48 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>miy Wa Adillatuhu..., 27.
c. Ma’qud 'ala>ih (barang yang dibeli), ara ulama’ bersepakat kalau tidak ada
barang yang diperjual belikan maka tidak sah akad jual beli.
d. Ada nilai tukar atau harga pengganti barang (saman)
Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan
nilai tukar barang termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual
beli.
2. Syarat jual beli yakni:
Terdapat perbedaan pedapat mengenai syarat jual beli. Dalam transaksi
jual beli, Ulama H{anafiyah menyatakan bahwa orang yang berakad, barang
yang dibeli, dan nilai tukar barang termasuk dalam syarat jual beli.50 Adapun
syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun yang dikemukakan oleh jumhur
ulama di atas adalah:
1. Syarat-syarat orang yang berakad yakni pelaku transaksi harus orang yang
telah ba>ligh dan berakal, pelaku transaksi harus berbilang atau dilakukan
oleh orang yang berbeda, sehingga tidaklah sah akad dilakukan seorang
diri.51
2. Syarat-syarat yang berkaitan dengan ijab dan kabul.
Para ulama sepakat bahwa unsur utama yang harus ada dalam
transaksi jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak, dan kerelaan dari
kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab dan kabul yang dilangsungkan.
Dan para ulama mengemukakan bahwa syarat ijab kabul ada tiga hal
yakni: Orang yang mengucapkan akad telah ba>ligh dan berakal, sehingga
mengetahui apa yang dia katakan dan putusan secara benar.52 Hendaknya
pernyataan kabul yang sesuai dengan kandungan pernyataan ijab.53 Ijab dan
kabul itu dilakukan dalam satu majelis, artinya kedua belah pihak yang
melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.
Namun, kata “majlis” ini tidak diartikan sebagai satu tempat
sebagaimana pendapat para ulama fiqh klasik, paling tidak satu ulama fiqh
kontemporer seperti Wahbah az-Zuhayli dan Ahmad az-Zarqa sebagaimana
yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Nasrun Haroen mengatakan bahwa
majli>s itu berarti satu situasi dan kondisi sekalipun kedua belah pihak
berjauhan, tetapi topik yang dibicarakan adalah sama yaitu jual beli.54
3. Syarat ma’qu>d ‘alayh (objek akad), terdapat empat syarat dalam objek jual
beli yakni barang yang diperjualbelikan itu ada atau tidak ada ditempat,
tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan
barang itu.55 Barang yang diperjual belikan dapat dimanfaatkan dan
bermanfaat bagi manusia. Barang yang diperjualbelikan harus barang yang
sudah dimiliki oleh penjual. Barang yang diperjualbelikan harus bisa
diserahterimakan pada saat dilakukan akad jual beli.56
52 Ibid, 73.
53 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu..., 40.
54 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), 118. 55 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah..., 75.
4. Syarat-syarat nilai tukar.
Dalam transaksi jual beli, nilai tukar merupakan salah satu bagian
terpenting. Ulama fiqh mengemukakan syarat-syarat ath-thaman sebagai
berikut: Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
Boleh diserahkan pada waktu akad, walaupun secara hukum pembayaran
menggunakan cek dan kartu kredit dibolehkan. Apabila harga barang
dibayar dikemudian hari (berhutang) maka waktu pembayaran harus jelas.
Apabila jual beli dilakukan dengan saling mempertukarkan barang, maka
barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh
shara>’.57
Disamping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas,
para ulama fiqh mengemukakan syarat yang harus ada dalam setiap jual beli
agar jual beli tersebut dianggap sah menurut shara>’. Akad jual beli harus
terhindar dari enam macam ‘ayb yakni sebagai berikut:
Ketidakjelasan (jaha>lah), yang dimaksud di sini adalah ketidakjelasan
yang serius yang mendatangkan perselisihan yang sulit untuk diselesaikan.
Ketidakjelasan ini terdapat empat macam yakni: Ketidakjelasan dalam barang
yang dijual baik dalam hal jenis, macam, atau kadarnya menurut pandangan
pembeli. Ketidakjelasan harga. Ketidakjelasan masa, seperti harga yang
diangsur, atau dalam khiya>r syarat. Ketidakjelasan dalam langkah-langkah
penjaminan. Contoh seorang penjual mensyaratkan adanya penjamin, maka
dalam hal ini seorang penjamin harus jelas.
Pemaksaan (al-ikra>h). Yakni mendorong seseorang untuk melakukan
suatu perbuatan yang tidak disukai. Paksaan dalam hal ini ada dua jenis yakni:
Paksa absolut, yaitu paksaan dengan ancaman yang sangat berat, seperi
dibunuh atau dipotong anggota badannya. Paksa relatif, yaitu paksaan dengan
ancaman yang lebih ringan seperti dipukul. Keduan ancaman tersebut
berpengaruh dalam akad jual beli. Karena menjadikan jual beli fa>sid menurut
jumhur H{ana>fi dan mauqu>f menurut Zufar.
Pembatasan dengan waktu (at-tawqi>t), yaitu jual beli dengan dibatasi
waktu. Seperti: “saya menjual baju-baju ini kepadamu untuk selama satu
bulan atau satu tahun”. Jual beli semacam ini hukumnya fa>sid kerena
kepemilihan atas barang tidak dapat dibatasi oleh waktu.58
Penipuan (al-ghara>r), yakni yang dimaksud adalah penipuan dalam sifat
barang. Seperti seseorang menjual sapi dengan pernyataan bahwa sapi itu air
susunya sehari sepuluh liter, padahal kenyataannya paling banyak lima liter.
Akan tetapi jika ia menjual dengan pernyataan bahwa kandungan air susunya
lumayan banyak tanpa menyebutkan kadarnya maka hukumnya s{ahi>h. dan
apabila ghara>r terdapat pada wujud barang maka membatalkan jual beli.
Kemudharatan (ad{-d{ara>r), yaitu barang yang diperjualbelikan tidak
mungkin dapat diserahkan kecuali penjualnya akan merasa rugi dari harganya.
Seperti seseorang menjual sebatang pohon di atas atap bangunan sedangkan
penyerahan barang seperti ini mengharuskan merusak barang disekitar batang
pohon. Dikarenakan kerusakan yang timbul menjaga hak seseorang bukan
kepentingan agama, maka para ahli fiqh menetapkan jika penjual rela
menerima kerugian bagi dirinya dan rela menyerahkannya kepada pembeli
maka jual beli akan berubah menjadi sah.59 Syarat yang merusak yakni setiap
syarat yang ada manfaatnya bagi salah satu pihak yang bertransaksi, tetapi
syarat tersebut tidak ada dalam shara>’. Seperti seseorang menjual mobilnya
dengan mensyaratkan bahwa ia akan memakai mobilnya selama satu bulan
setelah terjadinya akad jual beli.60
D.Pembagian jual beli
1. Pembagian jual beli berdasarkan objek barangnya yakni a) bay‘ al-mut{laq,
yaitu tukar menukar suatu benda dengan mata uang. b) Bay‘ al-s{arf, yaitu
tukar menukar mata uang dengan mata uang lainnya baik sama jenisnya
atau tidak, atau tukar menukar emas dengan emas atau perak dengan
perak. c) Bay’ al-muqayyadah (barter), yaitu tukar menukar harta dengan
harta selain emas dan perak.61 d) Bay‘ salam atau salaf yaitu tukar
menukar utang dengan barang atau menjual suatu barang yang
penyerahannya ditunda dengan pembayaran modal lebih awal.
59 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Isla>mi>y Wa Adillatuhu..., 56. 60 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah…, 112
2. Pembagian jual beli berdasarkan batasan nilai tukar barangnya yakni:
a) Bay‘ al-musawwamah, yaitu jual beli yang dilakukan penjual tanpa
menyebutkan harga asal barang yang ia beli. b) Bay‘ al-muzayyadah,
yaitu penjual memperlihatkan harga barang di pasar kemudian pembeli
membeli barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari harga asal
sebagaimana diperlihatkan atau disebutkan penjual. c) Bay‘ al-ama>nah,
yaitu penjualan yang harganya dibatasi dengan harga awal atau ditambah
atau dikurangi.
Jual beli ini terbagi menjadi tiga macam, yakni: (1) Bay‘ al
-mura>bah{ah, yaitu penjual menjual barang tersebut dengan harga asal
ditambah keuntungan yang disepakati. (2) Bay‘ al-tauliyyah, yaitu
penjual menjual barangnya dengan harga asal tanpa menambah
(mengambil keuntungan) atau menguranginya (rugi). (3) Bay‘ al-wadi>’ah,
yaitu penjual menjual barangnya dengan harga asal dan menyebutkan
potongan harganya (diskon).62
3. Pembagian jual beli berdasarkan penyerahan nilai tukar pengganti
barangnya yakni: a) Bay‘ munjiz al-thaman, yaitu jual beli yang
didalamnya disyariatkan pembayaran secara tunai. b) Bay‘ mu’ajjal
al-thaman, yaitu jual beli yang pembayarannya dilakukan dengan secara
kedit. c) Bay‘ mu’ajjal al-muthman, yaitu jual beli yang serupa dengan
bay‘ al-salam. d) Bay‘ mu’ajjal al-‘iwad{ain, yaitu jual beli utang dengan
utang. Hal ini dilarang oleh shara>’.63
4. Pembagian jual beli berdasarkan hukumnya yakni a) Bay‘ al mun’aqid,
yaitu jual beli disyariatkan (diperbolehkan oleh syara’). b) Bay‘ al-s{ahi>h,
yaitu jual beli yang memenuhi syarat sahnya. c) Bay‘ al-na>fi>dz, yaitu jual
beli shahih yang dilakukan oleh orang yang cakap melaksanakannya. d)
Bay‘ al-la>zim, yaitu jual beli shahi>h yang sempurna dan tidak ada hak
khiya>r didalamnya.64
Ditinjau dari hukum dan sifat, para jumhur ulama membagi transaksi
jual beli menjadi dua macam yakni: Jual beli yang sah (s{ahi>h) yakni jual beli
yang memenuhi syarat dan rukun jual beli dan jual beli yang tidak sah yakni
jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukun sehingga jual beli
tersebut menjadi rusak (fa>sid) atau batal. Dengan kata lain rusak dan batal
menurut jumhur ulama memiliki arti yang sama.
Sedangkan ulama H{ana>fiyyah membagi hukum dan sifat jual beli
menjadi tiga bagian yakni sah, batal dan rusak. Menurut ulama’ H{ana>fiyyah,
jual beli rusak adalah jual beli yang sesuai dengan ketentuan shari>’ah pada
asalnya, tetapi tidak sesuai dengan shari>’ah pada sifatnya seperti jual beli yang
dilakukan oleh orang mumayyiz, tetapi bodoh sehingga menimbulkan
pertentangan.65
63 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah..., 109.
64
Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli..., 48.
E. Jual beli yang dilarang
Jual beli yang dilarang dalam Islam memiliki banyak versi. jumhur
ulama sebagaimana diterangkan di atas, tidak membedakanantara fa>sid dan
batal. Dengan kata lain, mereka menyatakan bahwa hukum jual beli ada dua,
yakni jual beli s{ahi>h dan jual beli fa>sid, sedangkan Ulama H{anafiyah
menjelaskan bahwa jual beli terbagi menjadi tiga, yaitu jual beli s{ahi>h, fa>sid
dan batal.66
1. Jual beli terlarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun.
a. Jual beli barang yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh
diperjualbelikan. Barang yang najis atau haram dimakan, haram juga
untuk diperjualbelikan.67
b. Jual beli yang belum jelas, sesuatu yang bersifat spekulasi atau
samar-samar, karena dapat merugikan salah satu pihak. Yang
dimaksud samar-samar adalah tidak jelas, baik barangnya, harganya,
kadarnya, masa pembayarannya, maupun ketidakjelasan yang
lainnya.68
c. Jual beli bersyarat. Yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan
dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual
beli atau ada unsur yang merugikan dan dilarang oleh agama. Contoh
jual beli bersyarat yang dilarang, misalnya ketika ijab kabul si
66 Ibid, 93.
pembeli berkata: “baik mobilmu akan kubeli sekian dengan syarat
anak gadismu harus menjadi istriku”. Atau sebaliknya si penjual
berkata: “ya, saya jual mobil ini kepadamu sekian asal anak gadismu
menjadi istriku”. Dalam kaitan ini Nabi SAW. Bersabda:
ْرَش لُك
َط
َع ِها ِباَتِك ِِ َسْيَل
َز
َجَو
َب َوُهَ ف َل
ِط ا
َو ٌل
ِإ
َناَك ْن
ِم
َئا َة
َش ْر
قفتمُ ٍط
َهيلع
69Artinya: “setiap syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah maka ia batal walaupun seratus syarat”. (al-Bukha>ri>)
d. Jual beli yang menimbulkan kemadharatan. Yaitu segala sesuatu
yang dapat menimbulkan kemadharatan, kemaksiatan, bahkan
kemusyrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti jual beli patung,
salib, dan buku-buku bacaan porno.
e. Jual beli yang dilarang karena dianiaya. Yaitu segala bentuk jual beli
yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti
menjual anak binatang yang masih membutuhkan (bergantung)
kepada induknya.
f. Jual beli muh{a>laqah, yaitu menjual tanamtanaman yang masih di
ladang atau di sawah.70
g. Jual beli mukha>d{arah, yaitu menjual buah-buahan yang masih hijau
(belum pantas dipanen).71
69al-Ima>m abi> Abdillah Muhammad bin Isma’i>l al-Bukha>ri>, S}ahi>h al-Bukha>ri>, (Riyad}: Baytul
afka>r al-Dauliyah, 1998), no 2168, 406 70 Enang Hidayat, fiqh Jual Beli ..., 119.
h. Jual beli mula>masah, yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh.72
i. Jual beli muna>badhah, yaitu jual beli secara lempar-melempar.
Setelah terjadi lempar-melempar terjadilah jual beli.73
j. Jual beli muza>banah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah
yang kering. Seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah
yang diukur dengan ditimbang sehingga merugikan pemilik padi
kering.74
2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak
terkait. Yakni jual beli dari orang yang masih dalam tawar menawar, jual
beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar, membeli barang
dengan memborong untuk ditimbun, jual beli barang rampasan atau
curian.75
72 Ibid, 106.
73 Ibid, 105
74Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah ..., 80.
BAB III
PRAKTIK MERTELU LAHAN PERTANIAN CABAI MERAH DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI A.Geografis dan Demografi Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi
1. Keadaan Geografis
Desa Sarimulyo merupakan salah satu bagian dari Kecamatan
Cluring Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Menurut perdes
nomor 01 tahun 1990 dan perda nomor 79 tentang penetapan batas dan
wilayah. Yang mempunyai batas wilayah dengan desa lain yaitu:
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kebaman Kecamatan Srono.
b. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sraten Kecamatan Cluring.
c. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar.
d. Di sisi Timur berbatasan dengan Desa Tamanagung Kecamatan
Cluring.
Desa Sarimulyo luas tanah keseluruhan kurang lebih seluas 447
ha/m², dengan perincian, sebagai berikut: Luas Wilayah Menurut Penggunaanya (1) pemukiman: 128 ha/m2 (2) persawahan: 280 ha/m2 (3) perkebunan: 1,5 ha/m2 (4) pekarangan: 15,5 ha/m2 (5) perkantoran: 0,5 ha/m2 (6) perkantoran: 0,5 ha/m2 (7) prasarana umum lainnya: 4,8 ha/m2 dan jumlah luasannya adalah 477 ha/m2. Berdasarkan data tersebut dapat
diketahui bahwa Desa Sarimulyo areal tanahnya cukup luas dan subur
karena pengairannya sangat mudah di dapatkan. Tanah yang sudah
penduduk desa. Adapun juga jarak tempuh Desa Sarimulyo ke kecamatan
adalah 6 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit.
Sedangkan jarak tempuh ke kabupaten adalah 35 km, yang dapat ditempuh
dengan waktu sekitar 1 jam.
Wilayah Desa Sarimulyo terdiri dari 4 Dusun yaitu: Cempokosari,
Pandansari, Sempu dan Rejomulyo, yang masing-masing dipimpin oleh
seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring
banyaknya limpahan tugas desa kepada aparat ini. Dalam rangka
memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Sarimulyo,
dari keempat dusun tersebut terbagi menjadi 12 Rukun Warga ( RW ) dan
45 Rukun Tetangga ( RT ).
2. Keadaan Demografi
Sumber daya manusia yang tersedia bisa dilihat dari data jumlah
penduduk, baik menurut golongan umur, tingkat pendidikan maupun mata
pencaharian. Jumlah penduduk di desa Sarimulyo pada tahun 2016 adalah
sebanyak 8.365 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 4.232 jiwa dan perempuan
4.133 jiwa. Dari jumlah 2.865 kepala keluarga (KK).
Tingkat pendidikan penduduk antara lain: tamat SD sebanyak 333
orang, tamat SMP sebanyak 1073 orang, tamat SMA sebanyak 1136 orang,
dan tamat sarjana sebanyak 637 orang. Tingkat pendidikan berpengaruh
pada kualitas sumber daya manusia. Proses pembangunan desa akan
berjalan dengan lancar apabila masyarakat memiliki tingkat pendidikan
Mata pencaharian penduduk di desa Sarimulyo menurut buku daftar
potensi desa sebagian besar masih berada di sektor pertanian yaitu petani
berjumlah 1.374 orang, buruh tani berjumlah 912 orang, pemilik usaha
pertanian 4 orang, untuk sektor peternakan yaitu pemilik usaha peternakan
berjumlah 3 orang, buruh usaha peternakan 6 orang, dan di sektor perikanan
yaitu untuk nelayan berjumlah 2 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor
pertanian memegang peranan penting dalam bidang ekonomi masyarakat.
B. Praktik Mertelu Lahan Pertanian Cabai Merah di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi
Dari gambaran lokasi desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi secara umum itu kemudian penulis mengadakan penelitian karena
terdapat praktik mertelu lahan pertanian cabai merah. Praktik mertelu menurut
Arif Setiawan yaitu kerjasama dibidang usaha pertanian, terutama yang
berkaitan dengan pengolahan tanah pertanian dan pemeliharaannya. Untuk bisa
disebut mertelu karena dalam pembagian hasil 1/3 dan 2/3 antara pihak pemodal
dan pihak penggarap sesuai kesepakatan masing-masing76.
Obyek mertelu yang diteliti adalah lahan pertanian cabai merah di Desa
Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Dalam praktik mertelu
dibidang lahan pertanian cabai merah ini ada beberapa unsur yaitu:
1. Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan
Secara praktik, biaya dalam kerjasama ini seseluruhnya ditanggung
oleh pemodal mulai dari pembelian pupuk sampai biaya operasional hingga
tiba masa panen terakhir (perombakkan). Adapun hal-hal yang berkenaan
dengan pertanian dijelaskan dalam perjanjian adalah sebagai berikut:
a. Masalah tanaman.
Untuk penyediaan bibit, pembelian pupuk, dan pengadaan
obat-obatan pembasmi hama dan obat-obatan penyubur tanaman dan
lain sebagainya, seluruhnya disediakan oleh pihak pemodal.
b. Masalah pengairan.
Menggunakan pengairan sawah dengan sistem irigasi, akan
tetapi apabila pada musim kemarau maka pengairan yang digunakan
adalah pompa air, dan itupun biaya pengairan ditanggung oleh pihak
pemodal.
c. Masalah lahan pertanian.
Pihak pemodal yang melakukan pembiayaan lahan pertanian
dikarenakan lahan diperoleh dari hasil sewa-menyewa. Sebab pemilik
tanah menyewakan lahan pertaniannya karena tidak mampu untuk
mengelola sendiri tanahnya dikarenakan tidak mempunyai waktu,
terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang lain, dan di samping itu terlalu
luasnya lahan yang dimiliki. Sebagian yang lain banyaknya pemilik
sawah tidak sanggup untuk mengelola sendiri tanahnya dikarenakan
2. Pihak penggarap sebagai pengelola yang mengolah lahan (pembajakan,
pemupukan, pembuatan bedengan, penanaman bibit), memelihara dan
perawatan lahan pertanian cabai merah sampai dengan pemanenan cabai
merah77. Sebab terjadinya petani penggarap melakukan mertelu karena
merasa kekurangan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
petani penggarap juga tidak mempunyai lahan sendiri untuk digarap, dan
juga dikarenakan mahalnya harga sawah sehingga mereka tidak sanggup
untuk membelinya, kalaupun mereka bisa membeli sawah sendiri,
sangatlah jarang orang yang mau menjualnya, selain itu juga mereka tidak
mempunyai pekerjaan yang bisa dilakukan kecuali bertani.
3. Mekanisme bagi hasil mertelu lahan pertanian cabai merah ini adalah
sebagai berikut:
Pihak penggarap menjual hasil pertanian tersebut, modal
dikembalikan dahulu, hasil dibagi dengan kesepakatan pihak pemodal
mendapatkan 2/3 dan pihak penggarap mendapat 1/3.
4. Dalam proses pembentukan akad mertelu ini terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh petani penggarap yaitu:
a. Pihak penggarap harus menjual hasil pertanian cabai merah tersebut kepada pihak pemodal.
b. Terdapat beberapa pemotongan dalam jual beli hasil pertanian cabai merah tersebut antara lain, pemotongan harga per kilogram dan Pemotongan jenis tara, untuk normalnya tara 4 kilogram per 100
kilogram. Jika dalam penyeleksian terdapat cabai merah yang tidak memenuhi kriteria baik, cabai merah tersebut di masukkan kedalam tara. c. Ada pembagian kelas dalam jual beli hasil pertanian cabai merah
tersebut antara lain, Kelas super (A) adalah cabai merah yang berbentuk
besar dan memenuhi kriteria baik. Serta Kelas biasa (B) adalah cabai
merah yang berbentuk kecil sampai sedang yang memenuhi kriteria
baik, dan kelas (C) adalah cabai merah yang termasuk kriteria kelas tara
seperti, terkena penyakit.
d. Modal harus dikembalikan sebelum pembagian hasil pertanian cabai
merah tersebut. Untuk mengetahui modal keseluruhan prosesnya
adalah dari awal penanaman sampai dengan pemanenan yang terakhir
atau setoran cabai merah yang terakhir.
e. Pembagian hasil menggunakan sistem mertelu.
f. Apabila tanah tidak menghasilkan sesuatu atau gagal panen maka
kerugian hanya ditanggung oleh pihak penggarap selama kerugian itu
bukan diakibatkan karena bencana alam dan harga pasar yang menurun.
5. Praktik jual beli yang terjadi akibat syarat dari mertelu
Awal mula terjadinya jual beli hasil pertanian cabai merah ini karena pihak petani penggarap dengan pihak pemodal melakukan kesepakatan akad
mertelu yang didalamnya terdapat syarat harus menjual hasil pertanian cabai
merah tersebut kepada pihak pemodal.
a. Subyek pembeli
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis subyek pembeli hasil pertanian cabai merah adalah pemodal dari praktik mertelu yang bernama bapak Susanto yaitu warga Desa Sarimulyo, beliau kini sudah berusia 54 tahun, bapak Susanto menggeluti jual beli hasil pertanian cabai merah selama bertahun-tahun. Selain jual beli hasil pertanian cabai merah beliau juga memberi modal dan lahan pertanian kepada petani penggarap untuk dijadikan praktik mertelu dibidang lahan pertanian cabai merah.
Bapak tiga anak ini sudah lama menggeluti jual beli hasil pertanian cabai merah dan memberi modal praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2003. Alasan bapak tiga anak ini memilih jual beli hasil pertanian cabai merah dan memberi modal praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena cabai merah adalah jenis sayuran yang memiliki harga jual yang tinggi.
b. Subyek penjual
praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena lahan pertanian cabai merah harus berpindah-pindah untuk menghindari hama yang sudah merebak dan juga kurangnya modal untuk menyewa lahan dan modal untuk menanam cabai merah yang terlalu tinggi. Beliau berkata untuk harga sewa lahan pertanian cabai merah disini adalah Rp. 14.000.000 sampai dengan Rp. 16.000.000 untuk luas tanah 1 bau.
Kedua bernama Nurkholis yaitu warga desa Sarimulyo, beliau kini berusia 32 tahun, bapak dua anak ini sudah lama menggeluti pekerjaan dibidang pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2011. Beliau mulai melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini semenjak tahun 2015. Alasan beliau melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena tidak mempunyai lahan pertanian dan juga tingginya modal untuk menanam dan merawat cabai merah ini. Beliau berkata modal rata-rata untuk pertanian cabai merah ini adalah Rp. 15.000.000 untuk luasan tanah ¼ bau. Untuk harga sewa lahan pertanian cabai merah disini adalah Rp. 3.500.000 untuk luasan tanah ¼ bau. Jadi untuk keseluruhan modal penanaman cabai merah dalam luasan tanah ¼ bau kurang lebih Rp. 18.500.000.- modal yang cukup besar untuk pertanian.
semenjak tahun 2012. Alasan beliau melakukan praktik mertelu lahan pertanian cabai merah ini karena tidak mempunyai lahan pertanian dan juga tingginya modal untuk menanam dan merawat cabai merah ini. Menurut beliau modal rata-rata untuk pertanian cabai merah ini adalah Rp 50.000.000.- sampai dengan Rp 60.000.000.- untuk luas tanah 1 bau dengan ukuran tanah di desa, 1 bau sama dengan 8750 m2.
c. Obyek jual beli
Cabai merah adalah tanaman yang buahnya berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, ketika masih muda berwarna hijau apabila sudah tua berwarna merah, berisi banyak biji yang pedas rasanya.78 Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana menggunakannya. Sebagai bumbu cabai merah digunakan untuk penguat rasa masakan dan juga digunakan untuk sambal.79 Sebagai obyek jual beli cabai merah tersebut diperoleh dari hasil praktik mertelu.
78Ebta Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”, dalam http://kbbi.web.id/cabai diakses
pada 01 januari 2017
[image:54.595.113.515.210.684.2]79“Cabai”, dalam http://id.m.wikipedia.org/wiki/cabai diakses pada 01 januari 2017
Gambar 3.1
Lahan pertanian Cabai merah
Gambar 3.2 Cabai merah
d. Praktik jual beli hasil pertanian cabai merah
Hasil penelitian lapangan yang dilakukan oleh penulis tentang praktik jual beli hasil pertanian cabai merah yang terjadi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Latar belakang praktik jua