sffia
Nk^.A.^W
=$;;4P
".'rJXF=|RS!^=",o
INS1RUKSI
PRESIDEN
REruBLIK
INDONESIA
NOMOR 3 TAHUN 2006
TENTANG
PAKET
KEBUAKAN
PERBAIKAN
IKTIM INVESTASI
PRESIDEN
REPUBLIK
INDONESIA
Dalam rangka memperbaiki iklim investasi untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia, dipandang perlu mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Paket
Kebij akan P erb aikan I kli m Inyestasi :
Kepada
: 1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
2. MenteriKeuangan;
3. Menteri Perdagangan;
4. Menteri DalamNegeri;
5. Menteri Energi dan SumberDayaMinerul;
6. Menteri Perhubungan;
7. Menteri Hukum danHak Azasi Manusia:
8. MenteriPerindustrianl
9. Menteri Komunikasi dan Informatikal
1 0. Mente rt T enaga Kerja dan Transmigrasil
11. Menteri Kesehatan;
7 2. Menten Kelautan dan P erikanan;
1 3 . Menteri Neg ara P er enc anaan P emb anglrn an Nasion al / Kep ala
Bappenas;
14. Menteri Negara Koperasi danlJsahaKecil dan Menengah;
15. Menteri Negara Lingkungan Hidup;
16. Menteri Sekretaris
Negara;
17. Sekretaris
Kabinetl
18. Jaksa Agung;
1.
9 . P anghma T entara Nasional Indonesia;
.d
Untuk
PERTAMA
KEDUA
KETIGA
KEEMPAT
"."rJfrf=f
R5!,u,=,o
2
20. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia;
2 1,
. Kep ala B adan Koordinas i penanaman Modal;
22. Kep ala Badan p ertanahan Nasionall
23. Para Gubernur;
2 4. P ar a Bupati / W alikota.
Mengambtl langkah-langkah yang dipedukan sesuai tugas,
fungsi
dan kewen angan masing-m asing, d,aram rungkapelaksanaur,
pult
Kebijakan perbaikan Iklim Investasi guna menciptakan
ikrim
investasi
y ang lebih kondusif.
Dalammengambilrangkah-Iangh,ahsebagaimanadimaksuddahm
Diktum 'ERTAMA, betpedoman kepad,a program_program
seb
agaimana terc antum d aram I ampfu
an In s fruksi presiden ini.
Menteri Koordinator Bidang perekonomian mengkoordinasikan
kegiatan yang dilaksanakan oleh para Menteri/Kepala I.embaga
Pemedntah Non D epartemen.
Menteri Koordinat
or Bidang perekonomian:
1. Memantau pelaksan
aanlnstruksi presiden ini dan meraporkan
sec
ar a b erkala kep ada presiden
;
2. Membentuk Tim Pemantau, yang dikefuai oleh Staf Khusus
Menteri
Koordinator
Bidang p".elenenrian
Urusan
Pemantauan Kebijakan Ekonomi dan sebagai wakil ketua
adarah
Deputi sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Direktur
J ender
al O tonomi D aer ah, D ep artemen D alam Negeri ;
3. Mengatur tugas, keanggotaan, susunan organisasi, tata kerja
dan kesekretariatan
Tim pemantau.
:
Melaksanakan Instruksi presiden ini dengan penuh tanggung
jawab.
I
j
:
t
i
I
KELIMA
W
P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
3
,=:"-T4!, Efl
Instruksi Presiden ini mulai b erlalu p ada tanggal dikeluarkan.
D ikeluarka n di J al<arta
pada tanggaI2T Eebruan 2006
PRESIDEN
REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
DR H. SUSITO
BAIVIBANG
YUDHOYONO
Salinan sesuai dengan aslinya
Sekretaris I{abinet
ng Hukum,
W
P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
I,AMPIMN
INS]RIJKSI
PRESIDEN
REPI,JBIIK
INDONESIA
NOMOR 3 TATILIN 2006
TAI{GGAI 27 Pebntari 200G
PAKET
KEBUAKAT{
PERBATKAN
rKtM rr{yEstrAsr
I. UMUM
Kebiiakan
ryqg!4rt
1 : a . l
Ttndakan
A. Memperkuat kelembagaan pelayanan investasi.
1 .Mengubah Undang-Undang (UU) Pena-naman Modal yang memuat prinsip-prinsip dasa4 anta-ra lain:- perluasan definisi modal, transparansi, perla-kuan sama investor domesfik dan asing (di luar Negative List) dan Dispute Settlement.
Finafsasi Rzncangan Undang-Undang (RW) PenanamanModal.
Penyampaian RW Penanaman Modal ke Dewan Perwakilan Rakvat
(DPR).
Maret 2006. Menteri Perdagangan (Mendag).
2. Mengubah peratur-an yang terkait dengan penanaman modal.
a. Menyusun Daftar Bi-dang Usaha Terhrtup (Negative List) dan ter-buka dengan syarat, dengan aturan yang jelas, sederhana, tegas
dantransparan.
Perataran Presiden (Perpres). Paling lambat bercamaandengan
berlakunya UU Penanaman Modal.
Mendag.
F F ] E:. l!' i:
W
P R E S I D E N R E P U A L I K I N D O N E S I A
- 2
Keluaran SasaranWalf,u Pen44ggungiawab
b. Merumuskan @ gian tugas yang jelas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk urusan Wnanaman modal sebagai penjabarart W Nomor 32 Tahrn 2OO4 tentang Pemerintahan Daerah.
Perubahan Peraturan pemerintah (PP) Nomor 23Tahun2OOO tentang Kewenangan Pemerintah Dai Kewenangan propinsi Sebagai Daetah Otonom.
Paling lambat betsamaandengan
UU Penanaman Modal.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri).
3. Revitalisasi Tim Na-sional Peningkatan Ekspor dan Pening-katan Investasi.
a. Penyempurnaan
organisasi. rerwpanan (Keppres) Nomor 87 Tahun 2OO3Kepurusan tteslden tgntang Tim Nasional peningkatan Ebpor dan Peningkatan Investasi.
Maret 2008. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
(Menko Perekonomian). b. Mengaktifkan -fomm
dialog dengan dutrta usaha dalam rangl<a pemecahan masalah di bidang ekspor dan investasi.
J:rr4n remecanan masahh. Maret 2OOG
danberlanjut. Mendag,
4. Percepatan penzin-an kegiatpenzin-an usaha dan penanaman modal serta pem-bentukan perusa-haan.
a. Peninjauan sejumlah ketentuan-ketentuan penzinan di bidang perdagangan.
Penyederha naan / peny empur.na an Wtatutan prundang-undangan yang menyangkut penzinan
dibidang p er da gangan, yai tu :
1) Surat Izin Usaha perdagangan (SIUP);
Maret 2006. Mendag.
W
r
:ffi
ru
F
P R E S I D E N
R E P U A L I K I N D O N E S I A
- 3
Kebiiakan
TindaJ@n Keluaran,P.e,rgar€Bq4giawab
2)
3)
4) 5)
6)
7)
Surat lzin Perwakilan per-usahaan Perdagangan (PBA); Surat lzin Kegiatan Usaha Surveyor (SIKUS);
Surat Izin Usaha PasarModern; Surat Izin Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba (STruW); Surat Tanda Pendaft.aran Keagenan dan Distributor; Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol
(SIUP-8)
MB);
lnn Usaha Berjenjang (IUPB); TandaDaftar Gudang
Penjualan
(TDG).
e)
b. Menyederhanakan proses pembentukan perusahaan dan izin usaha.
Berkurangnya waktu untuT pembentukan perusahaan dan penzinan usaha secara bertahap darji rata-rata 150 hari menjadi sekitar 30 hari, antara iain melalui:
1) Pendelegasian wewenang pengesahan badan hukum kepada Kantor Wilayah (Kanwil) Hukum & Hak Asasi Manusia (HAM) di propinsi.
Maret 2006. Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia (Menkum & HAM).
P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
- 4
re*#l#'
&saran Waldu 2) Perpres perubahan KeppresNomor gT tahvn Ig93 tentang Tata Cara Penanaman Modal rebagairnana telah beberupa kali diubah, terakhir dengin Keppres Nomor ll7 tahun 1998.
Paling lambat betsamaandengan
berlakunya UU PenanamanModal.
Mendag.
Merealisasil<an sistem pelayanan terpadu unfuk Wnanaman mcd.al dengan pemba-gian kewenangan antata pusat dan daerahyang jelas.
Perpres Pelayanan Terpadu. Paling lambat
bersamaan dengan berlakunya UU Penanaman Modal.
Mendag.
Mendag. d. Penyediaan informaE
mengenai peizrnan yang diperlukan.
r e r ry eq(rraarr papan rnlonnasl, media cetak dan website
fuu udepd4sseJd.
Berlanjut.
Sinkronisasi Peraturan Pusat danPeruturan Daerah (Perda).
Peninjauan Perda-Perda yang mengham-bat investasi.
Membentuk Tim Bersama untuk mengawasi pen)rusunan Rancangan Perda dan mengevaluasi Perda.
1) Tim terbentuk.
2) Penolakan Rancangan perda, penyempurnaan dan pemba-talan Perda yang menghambat investasi.
Maret 2006.
Berlanjut.
Mendagri.
qr
W
P R E S I D E N R E P U B L I K I N D O N E S I A
- 5
:r.11
.H
g
W
F
F
Ei
i F
F.
P R E S I D E N
R E P U A L I K I N D O N E S I A
- 6
tr. KEPABFAAIAI{
DAN CI.'KAI
Keqiak44
findatan Keluaran Pen4nggungiawabA. Percepatan arus barang.
Petcepatan pro-ses pemeriksaan kepabeanan.
a. Menyederh anakan prose-dur pemeriksaan kepa-beanan.
Penyempurnaan pnndang-undangan yang berkaitan dengan prosedur pemerilaaan kepa-beanan.
Jullu2006. Menkeu.
b. Pengembangan sistem
EDI di Drjen Bea Cukai. Hasil Pengembangan Dirjen Bea Cul@i sehinggasistem EDI di mengurangi Time Release Target:
1) Jalur hijau menjadi 30 menit. 2) Jalur merah menjadi 3 hari.
Juru2006. Menkeu.
c. Persiapan Wnerapan sistem aplikasi impor elspor dengan teknologi Webbase untuk men-dukung Wnerapan Na-honal Single Window (NSW) 2008.
Penambahan sistem aplikasi impoi dan ekspor dengan teknologi Webbase.
Desember 2006. Menkeu.
d. Menetapkan kriteria yang jelas dan transparan serta melalsanakan dengan konsisten Wnggvnaan jalur hijau dan jalur merah didukung dengan perulatan dan teknologi yangtepat.
Perubahan peraturan yang berkaitan dengan pengganaan jalur hijau dan jalur merah didukung dengan perulatan' dan teknologi yang tepat sehingga pemal<ai jalur merah menjadi:
1) 200/o. 2) l5o/o. 3) 7Oo/o.
Juni 2006. September 2006. Desember 2006.
Menkeu.