DI SMPN SATU ATAP 5 BATILAP KABUPATEN BARITO SELATAN
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh: HANAFI NIM: 1501112009
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 2020 M/1442 H
vi
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK
PAIR AND SHARE PADA MATA PELAJARAN PAI DI KELAS VII DI
SMPN SATU ATAP 5 BATILAP KABUPATEN BARITO SELATAN ABSTRAK
Penelitian ini bertolak dari hasil wawancara dan observasi bahwa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi Iman Kepada Malaikat, Guru masih menggunakan model pembelajaran konvesional sehingga peserta didik pada proses pembelajaran tidak terlibat aktif dan hanya menerima apa yang dijelaskan oleh guru dan kurang terlibat aktif pada proses pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Peneliti berharap dapat membuat peserta didik terlibat aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui penerepan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-And-Share di SMPN Satu atap 5 Batilap Kabupaten Barito Selatan. (2) Untuk mengetahui keaktifan peserta didik di saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Thunk Pair And Share pada materi Iman Kepada Malaikat di kelas VII.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data menggunakan observasi, Wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengurangan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian ini adalah guru PAI dan 9 peserta didik Kelas VII Di SMPN Satu atap 5 Batilap Kabupaten Barito Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah pembelajaran selama 2 kali pertemuan, (1) Pertemuan pertama hasil dari penerapan model Think Pair And Share masih menghasilkan hasil yang kurang baik. Karena masih ada beberapa aspek yang belum terlaksana dan keaktifan peserta didik juga masih tidak terlalu terlihat pada pertemuan pertama. Pertemuan kedua menunjukkan adanya perubahan dari penerapan Model Think Pair And Share. Aspek yang diamati terlaksana dengan baik dan hanya ada satu yang tidak terlaksana. (2) Pada pertemuan kedua juga menunjukkan peserta didik lebih aktif didalam kelompok ataupun bertanya kepada guru.Peserta didik juga berani menyampaikan argumennya saat persentasi berlangsung pada saat proses pembelajaran materi iman kepada malaikat.
Kata kunci : Think Pair And Share (berfikir berpasangan dan berbagi)
vii
SMPN SATU ATAP 5 BATILAP, SOUTH BARITO DISTRICT
ABSTRACT
This research is based on the results of the interview and the observation that in teaching Islamic religious education on the material of faith in angels, the teacher is still uses a conventional learning model. So, the students in the learning process are not actively involved and only accept what is explained by the teacher and are less actively involved in the learning process. Through the Think-Pair-Share type of cooperative learning in the subject of Islamic religious education, the researcher hope to make students actively involved during the learning process.
The objectives of this study were: (1) to determine the results of the implementation of the Think-Pair-And-Share cooperative learning model at SMPN Satap 5 Batilap, South Barito. (2) To determine the activeness of students when implementing the Think Pair And Share type of cooperative learning model on faith in angels in grade VII. The subjects in this research were all seventh grade students with 9 students.
This research uses qualitative research method by collecting the data using observation, interviews and documentation. The data analysis technique used was data reduction, data presentation and conclusion drawing. The subjects of this study were all grade VII students at SMPN Satap 5 Batilap, South Barito.
The results showed that after learning for 2 meetings, (1) The first meeting result from the implementation of the Think Pair and Share model still produced unfavorable results. Because there are still some aspects that have not been implemented and the activeness of students is still not very visible at the first meeting. (2) The second meeting shows a change from the implementation of the Think Pair and Share Model. All aspects were done well and there was only one thing that was not done. The second meeting also showed students were more active in the group or asked the teacher. Students also dared to convey their arguments when the presentation took place during the learning process.
viii
Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah Swt. dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui, yang telah memberikan kemudahan, taufik dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share Pada Mata Pelajaran PAI Kelas VII Di SMPN Satu atap 5 Batilap Kabupaten Barito Selatan ”. Shalawat serta salam sehingga senantiasa terlimpahkan kepada sang tauladan manusia yang mulia yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam, seluruh keluarga, kerabat, sahabat, seluruh umat beliau sampai akhir zaman. Aamiin
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya.
2. Ibu Dr. Hj. Rodhatul Jennah, M.Pd Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Palangka Raya.
3. Ibu Dr. Nurul Wahdah, M.Pd, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Palangka Raya.
4. Ibu Sri Hidayati, M.A, Ketua Jurusan Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangka Raya.
5. Bapak Drs Asmail Azmy. M.Fil.I Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Palangka Raya.
x MOTTO
َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اىُقَّتٱَو ۚ ِن َٰوْدُعْلٱَو ِمْثِ ْلْٱ ًَلَع ۟اىُوَواَعَت َلََو ۖ ٰيَىْقَّتلٱَو ِّرِبْلٱ ًَلَع ۟اىُوَواَعَتَو
ِباَقِعْلٱ ُديِدَش َ َّللَّٱ
Artinya
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah Kementrian Agama: 2)
xi
PERSEMBAHAN
Segala puji bagi Allah Swt. Dzat Yang Maha Sempurna
Atas rahmat dan pertolongan-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini Serta Sholawat dan Salam selalu Tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Kupersembahkan skripsi ini kepada:
1. Ayahanda dan ibunda tercinta ( H. Cakam dan Hj. Syamsyah), yang selalu memberikan cinta, kasih sayang dan do’a yang selalu dipanjatkan siang dan malam, ini adalah bagian dari perjuangan, cita cita, iringan doa restumu. Karena jasa dan kasih sayang serta kerja kerasmu sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan kuliah. Pengorbananmu sungguh luar biasa, Semoga selalu dirahmati Allah SWT.
2. Kakak2-ku tersayang Ancur Trisnawati, Aliansyah, Maria dan adikku Warli Yadi yang selalu menanti keberhasilan saya serta memberi dukungan secara penuh baik tenaga, pikiran maupun materi.
3. Para Guru dan Dosen yang mulia, yang telah memberikan ilmunya dengan penuh kesabaran, dengan jasamu menjadikanku menjadi manusia yang terdidik
4. Seluruh teman- temanku terutama teman seperjuangan Pendidikan agama Islam angkatan 2015, Terima kasih atas kebersamaannya selama ini yang selalu memberikan dukungan dan yang selalu siap membantu dalam kesulitan ku selama menempuh pendidikan di kampus tercinta IAIN Palangka Raya. Semoga kita semua dapat bertemu kembali di masa yang akan datang.
xii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
PERNYATAAN ORISINALITAS ...ii
PERSETUJUAN SKRIPSI ...iii
NOTA DINAS...iv PENGESAHAN SKRIPSI...v ABSTRA...vi ABSTRACT ...vii KATA PENGANTAR...viii MOTTO...x PERSEMBAHAN...xi
DAFTAR ISI ...xii
DAFTAR TABEL...xiv
DAFTAR LAMPIRAN...xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1
B. Hasil Penelitian yang Relevan/Sebelumnya...6
C. Fokus Penelitian...9 D. Rumusan Masalah...10 E. Tujuan Penelitian...10 F. Manfaat Penelitian...10 G. Definisi Operasional ...11 H. Sistematika Penulisan ...12
BAB II TELAAH TEORI A. Deskripsi Teori...14
1. Pengertian Penerapan ...14
2. Pengertian Model...14
3. Pengertian Pembelajaran kooperatif ...15
4. Pengertian Think Pair And Share...15
5. Kelebihan Think Pair And Share...16
xiii
7. Pengertian Pendidikan Gama Islam...18
8. Pengertian Keaktifan...18
9. Materi Pendidikan Agama Islam Yaitu Iman Kepada Malaikat...23
B. Kerangka Berfikir Dan Pertanyaan Penelitian...25
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian...27
B. Tempat Dan Waktu Penelitian...27
C. Sumber Data Penelitian...28
D. Instrumen Penelitian ...29
E. Teknik Pengumpulan Data...30
F. Teknik Pengabsahan Data ...31
G. Tehnik Analisis Data...31
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Hasil Penelitian...34
1. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share...34
2. Keaktifan peserta didik saat Pembelajaran Think Pair And Share ...38
BAB V PEMBAHASAN HASIL A. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share Pada Mata Pelajaran PAI...45
B. Keaktifan Peserta Didik Saat Pembelajaran Think Pair And Share...48
C. Hambatan saat Penelitian...58
D. Ayat Kerja Sama Seperti Proses Model Think Pair And Share...61
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan...63
B. Saran...64 DAFTAR PUSTAKA
xiv
DAFTAR TABEL
1.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Relevan 9
3.1 Jadwal Penelitian 28
xv
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Instrumen Penelitian
1.1 Foto dokomentasi pembelajaran...75
1.2 Lembar Observasi Penerapan...83
1.3 Lembar Observasi Keaktifan...84
1.4 Lembar Wawancara...85
1.5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)...87 LAMPIRAN 2 Administrasi Penelitian
2.1 Surat Penetapan Judul dan Pembimbing Skripsi 2.2 Berita Acara Seminar Proposal skripsi
2.3 Surat Keterangan Selesai Seminar Proposal Skripsi 2.4 Surat Keterangan Mohon Menjadi Validator 2.5 Surat Keterangan Mohon Izin Penelitian
2.6 Surat Izin Dari Dinas Pendidikan Kabupaten Barito selatan 2.7 Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar seorang guru memiliki kewajiban untuk menyampaikan pengetahuan, pengalaman, dan pandangannya terhadap bahan yang mereka pelajari. Waktu untuk menyampaikan materi pelajaran tersebut sangat terbatas, karena sebagaian besar waktu belajar digunakan oleh para siswa untuk melakukan eksplorasi dan elaborasi. Oleh karena itu, seorang guru diharapkan mampu merancang pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai jenis media yang sesuai agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.
Menurut undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Rusmaini (2011: 2).
Pendidikan secara terminologi dapat diartikan sebagai pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan, pelatihan yang ditujukan kepada semuaanak didik secara formal maupun nonformal dengan tujuan
membentuk anak didik yang cerdas, berkepribadian, memiliki keahlian atau keterampilan tertentu sebagai bekal dalam kehidupannya di Masyarakat. Secara formal, pendidikan adalah pengajaran (tarbiyah, at-ta’lim) Hasan Basri (2014: 53).
Keberhasilan pendidikan tidak lepas dari peran guru yang merupakan komponen dalam pendidikan yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Guru merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses kegiatan belajar mengajar, kepiawaian guru dalam mengajar sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar dikelas maupun efeknya diluar kelas.
Guru mempunyai peranan yang sangat penting sehubungan dengan tugasnya sebagai perencana dan pelaksana sekaligus mengevaluasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Menurut Pupuh Fathurrohman (2001: 54) setiap guru yang akan mengajar senantiasa dihadapkan pada pemilihan metode. Banyak macam metode yang bisa dipilih guru dalam kegiatan mengajar. Namun tidak semua metode bisa dikategorikan sebagai metode yang baik, dan tidak pula semua metode dikatakan jelek. Kelebihan suatu metode terletak pada ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Di bawah ini pengertian pembelajaran kooperatif menurut ahli.
Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok - kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Selanjutnya Stahl menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial.
Model adalah cara yang fungsinya sebagai alat mencapai tujuan. Semakin baik model itu, maka semakin efektif pula pencapaian tujuan. Menurut Abdul Majid (2011: 135) model merupakan proses belajar mengajar dengan adanya interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, sebuah model pembelajaran kooperatif sangatlah penting bagi seseorang untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi seseorang. Berhasilnya suatu pendidikan tentu tidak lepas dari usaha pendidik yaitu guru dan juga model yang digunakan oleh guru tersebut.
Dari observasi yang pernah saya lakukan di SMPN satu atap 5 Batilap kabupaten Bariro Selatan, Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) masih diajarkan dengan cara konvensional yakni dengan menggunakan metode ceramah sehingga peserta didik terkesan
pasif serta peserta didik sulit dikondisikan ketika pembelajaran berlangsung.
Hal ini terlihat dari masih terdapat siswa yang hanya mengobrol dengan temannya dan tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru. Terutama pada materi PAI yang pada penyampaiannya lebih banyak terfokus pada guru dan kurang melibatkan peserta didik pada proses pembelajarannya sehingga keaktifan peserta didik pada proses pembelajaran rendah.
Keaktifan peserta didik dikatakan rendah dalam proses pembelajaran karena mereka hanya diam untuk mendengarkan penjelasan dan hanya sedikit sekali dari mereka yang mengajukan pertanyaan ataupun menanggapi pertanyaan - pertanyaan yang diajukan. Sedangkan keaktifan peserta didik diperlukan agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Keaktifan peserta didik merupakan keterlibatan peserta didik dalam membentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan proses pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran.
Dari observasi yang telah dilakukan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara konvensional ini peserta didik tidak mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara maksimal karena pembelajaran tersebut tidak melibatkan aktivitas mereka secara aktif dalam menemukan sendiri pengetahuannya. Padahal penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan pada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan. Model pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan keaktifan dan kreativitas peserta didik.
Guru diharapkan mampu memilih dan menggunakan model pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya. namun yang penting bagi guru, model manapun yang digunakan harus jelas dan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, dibutuhkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang menurut peneliti dapat diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut ialah dengan menggunakan model kooperatif tipe think pair share. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti kamariah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share menyatakan bahwa hasil belajar siswa meningkat mencapai (85%).
Siswa kurang pandai dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena banyak teman yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang sebelumnya terbiasa bersikap pasif setelah menggunakan pembelajaran kooperatif akan terpaksa
berpartisipasi secara aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya Made Weda (2009: 18).
Trianto (2010: 81-82) Mengatakan bahwa, langkah - langkah utama pada model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu langkah think (befrikir secara inividual), pair (berpasangan dengan teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas).
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna menjawab dari permasalahan-permasalan pembelajaran tersebut serta untuk lebih mengaktifkan pembelajaran di kelas adalah dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share.
Berdasarkan uraian diatas maka penelitipun tertarik untuk melakukan penelitian di SMPN satap 5 Batilap tersebut dengan judul
penelitian “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMPN SATU ATAP 5 BATILAP KABUPATEN BARITO SELATAN”.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan/Sebelumnya
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan yaitu sebagai berikut:
1 . Muhammad Adib (2011) judul.“Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Think-Pair-Share Dalam Meningkatkan
Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IV SDN Manggis I gancar Kab. Kediri.” Diperoleh hasil bahwa Adanya peningkatan prestasi belajar siswa dapat di ketahui dengan meningkatnya aspek afektif, kognitif dan psikomotorik masing-masing siswa. Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan metode Think-Pair-Share (TPS) memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Ditunjukkan dengan meningkatnya aspek kognitif masing-masing siswa.
b. Penerapan Pembelajaran kooperatif dengan metode Think-Pair- Share (TPS) sangat efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa serta meningkatnya aspek afektif dan psikomotorik siswa pada setiap siklus.
2. Yosidita (2012) “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI Kelas X A SMA Negeri 1 Baturaja”
a. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas X A SMA Negeri 1 Baturaja, Tahun
Pelajaran 2012/2013. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dengan rata-rata mencapai 6,75 dan persentase rata-rata aktivitas belajar mencapai 67,5% yang tergolong pada kategori cukup aktif. Pada siklus II dengan rata-rata mencapai 8,11dan persentase rata-rata hasil belajar mencapai 81,1% yang berada pada kategori aktif.
b. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas X A SMA Negeri 1 Baturaja, Tahun Pelajaran 2012/2013. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dengan rata-rata mencapai 74,24 yang berada kategori sedang, daya serap siswa mencapai 74,24%, dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 69,4 %. Pada siklus II dengan rata-rata mencapai 81,28 yang berada pada kategori tinggi, daya serap siswa mencapai 78,51%, dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 86,1%.
3. Muhammad Arif (2007) “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Think-Pair-Share Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IV SDN 1 Desa Kijang Ulu” Menyatakan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Think Pair and Share pada mata Pelajaran Pendidikan Agama islam di kelas IV SDN 1 Desa Kijang Ulu, dapat meningkatakan prestasi belajar dengan
ditunjukkan meningkatnya nilai hasil belajar siswa. Adanya peningkatan prestasi belajar siswa dapat diketahui dengan meningkatnya aspek afektif, kognitif dan psikomotorik masing-masing siswa. Berikut persamaan dan perbedaan penelitian.
Tabel 1.1 persamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya
No Nama dan Judul Skripsi Persamaan Perbedaan 1 Muhammad Adib 2011,
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Think-Pair-Share Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IV SDN Manggis I gancar Kab. Kediri.
Menggunakan model Think Pair And Share
Meninggkatnya prestasi siswa, sedangkan penelitian dalam skripsi ini hanya melihat keaktifan peserta didik saat penerapan Think Pair And Share/
2 Yosidita 2012, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI Kelas X A SMA Negeri 1 Baturaja. Memiliki persamaan menggunakan model TPS Meningkatnya aktivitas dan hasil belajar siswa. Sedangkan skripsi saya hanya melihat keaktifan peserta didik.
3 Muhammad arif 2007, Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Think-Pair-Share Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IV SDN 1 Desa Kijang Ulu.
Menggunakan model kooperatif
Meningkatkan prestasi belajar siswa SD 1 desa kijang. Sedangkan skripsi peneliti hanya mengamati keaktifan peserta didik.
C. Fokus Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi fokus peneliti adalah baggaimana penerapan dari model Think Pair And Share dan keaktifan peserta didik saat penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share pada
materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Kelas VII SMPN Satu atap 5 Batilap.
D. Rumusam Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penelitipun dapat merumuskan rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and
Share pada mata pelajaran PAI materi tentang iman kepada malaikat Di Kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap ?
2. Bagaimana keaktifan peserta didik saat penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share pada mata pelajaran PAI materi tentang iman kepada malaikat Di Kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share pada mata pelajaran PAI materi tentang iman kepada malaikat Di Kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap.
2. Untuk mengetahui keadaan peserta didik saat penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share pada mata pelajaran PAI materi tentang iman kepada malaikat Di Kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan bacaan untuk memperkaya khazanah ilmu, khususnya yang terkait dengan penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share pada mata pelajaran PAI.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
Meningkatkan keterampilan dalam menggunakan model pembelajaran dan pengalaman dalam mengajar peserta didik. b. Bagi peserta didik
Peserta didik menjadi semangat dan aktif didalam proses pembelajaaran dan mudah memahami pelajaran serta menambah kreatifitas peserta didik.
c. Bagi guru
Memperluas pengetahuan tentang model Think Pair and Share dan memberi pengalaman tentang pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
G. Definisi Operasional
Untuk meminimalisasi kesalahan dalam memakai berbagai istilah pada penelitian ini, maka perlu dijelaskan berbagai istilah yang terkait dengan penelitian yaitu:
1. Penerapan adalah penggunaan suatu model dalam proses pembelajaran pada materi nama dan tugas malaikat.
pembelajaran PAI materi tentang iman kepada malaikat.
3. Pencapaian peserta diddik pada penelitian ini yaitu aktif saat proses pembelajaran berlangsung di kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap mata pelajaran PAI materi iman kepada malaikat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Think Pair and Share.
4. Iman kepada malaikat merupakan salah satu materi yang diajarkan oleh guru di kelas VII SMPN Sau attap 5 Batilap.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri dari enam bab yaitu:
Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang, hasil penelitian yang relevan/sebelumnya, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan sistematika penulisan.
Bab II Telaah Teori, meliputi deskripsi teoritik, dan kerangka berfikir dan pertanyaan penelitian.
Bab III Metode Penelitian, meliputi metode dan alasan menggunakan metode, tempat dan waktu penelitian, instrumen penelitian, sumber data, tehnik pengumpulan data, tehnik pengabsahan data dan tehnik analisis data.
Bab IV Deskripsi hasil penelitian, Hasil penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair And Share, Hasil lembar observasi, Hasil wawancara. Hasil keaktifan.
Bab V Pembahasan hasil penerapan model pembelajaran Think Pair And Share, Keaktifan peserta didik, Hambatan saat penelitian, Ayat yang terkait dengan langkah-langkah model Think Pair And Share.
14 BAB II TELAAH TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Penerapan
Menurut Bloom dan Krathwol dikutip oleh Usman, penerapan adalah “kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan prinsip” (Moh Uzer Usman 2001 : 35). Dalam salah satu ranah kognitif dari Taksonomi Bloom, terdapat aplikasi atau penerapan, yang artinya kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkrit Anas Sudijono (2005 : 93).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
2. Pengertian Model
Model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
di harapkan. Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain Joyce & Weil (1980:1).
Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya Rusman (2011:136).
3. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menurut ahli.Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok - kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang atau kurang dengan struktur kelompok heterogen.
4. Pengertian Think Pair Share
Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Strategi think-pair-share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997:15), menyatakan bahwa Think- Pair-Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas.
Model Think pair share adalah model pembelajaran yang diawali dengan “Thinking” yaitu guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya. Selanjutnya, “Pairing”, dimana pada tahap ini guru meminta kepada siswa untuk berpasang-pasangan dan berdiskusi.
Hasil diskusi antar anggota ditiap-tiap pasangan akan dibicarakan dengan pasangan lainnya didalam kelas tersebut. Tahap ini dikenal dengan “sharing”. Pada kegiatan ini terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara integrative. Siswa pada akhirnya dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya Trianto (2010 : 23}.
5. Kelebihan Dan Kekurangan Think Pair And Share
a. Kelebihan dari Think PairAnd Share Trianto (2010 : 133-134}. 1) Memberi siswa banyak untuk berpikir, menjawab.
2) Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat informasi dan seorang siswa dapat belajar dari siswa lain. 3) Dapat juga memperbaiki rasa percaya diri siswa dan seluruh
siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. b. Kelemahan dari Think Pair And Share
1) Model Think-Pair-Share belum banyak diterapkan disekolah. 2) Sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
3) Menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berpikir anak.
4) Mengubah kebiasaan siswa belajar dari mendengarkan ceramah. Di bawah ini merupakan sintak dari model TPS. Lie (2004: 57) menyatakan bahwa kelebihan think pair share adalah sebagai berikut.
1) Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, sertamemperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan. 2) Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah. 3) Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang dan mendapatkan hasil belajar yank baik. 4) Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar. 5) Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.
6. Langkah Pembelajaran atau Sintaks Think Pair And Share Pendahuluan, Guru menggali pengetahuan awal peserta didik dan memberi motivasi Guru memberikan motivasi, dan menggali pengetahuan awal siswa dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan materi yang akan dibelajarkan. Guru melibatkan seluruh siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Kegiatan inti, Berpikir (Think) Guru memberikan sejumlah permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang dibelajarkan. Guru menkondisikan siswa untuk
memikirkan dan menjawab permasalahan tersebut secara individual. Diskusi (Pair) Guru mengkondisikan siswauntuk mendiskusikan hasil pemikirannya di dalam suatu kelompok kecil beranggotakan 2-3 orang. Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan persamaan pendapat. Berbagi (Share) Salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, sementara itu kelompok yang lainnya memberikan tanggapan. Guru mengobservasi dan memfasilitasi kegiatan presentasi siswa.
Kegiatan penutup analisis dan evaluasi. Guru bersama siswa merefleksi hasil kegiatan pembelajaran. Kelompok yang paling aktif dan antusias diberikan penghargaan oleh guru. Siswa diberikan kuis untuk dikerjakan secara individual.
7. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Ilmu Pendidikan agama Islam adalah akumulasi pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang diajarkan, dibinakan, dan dibimbingkan kepada manusia sebagai peserta didik dengan menerapkan metode dan pendekatan yang islami dan bertujuan membentuk peserta didik yang berkepribadian muslim. Beni Ahmad Saebani (2012, 22).
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari ayat 56 surah al-Dzariyat:
ِْلْاَو َّهِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو ِنوُدُبْعَعِل َّلَِإ َ و
Artinya: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Ahmad Tafsir (2005: 46-47).
8. Pengertian Keaktifan
Keaktifan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan belajar peserta didik di kelas. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2001: 24-25), aktif adalah giat (bekerja, berusaha), sedangkan keaktifan adalah suatu keadaan atau hal dimana peserta didik aktif. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik dan relatif tetap, serta ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Penjelasan di atas dapat diartikan bahwa keaktifan belajar peserta didik adalah suatu keadaan dimana peserta didik aktif dalam belajar. Keaktifan belajar peserta didik dapat dilihat dari keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar yang beraneka ragam. Paul B. Diedrich dalam Oemar Hamalik (2005: 172) membagi kegiatan belajar peserta didik dalam 8 kelompok, yaitu:
a. Visual activeties (kegiatan-kegiatan visual) seperti membaca, mengamati eksperimen.
b. Oral Activities (kegiatan-kegiatan lisan) seperti mengemukakan suatu fakta, menghubungkan sutu kejadian.
mendengarkan uraian, percakapan, diskusi.
d. Writing activities (kegiatan-kegiatan menulis) seperti menulis cerita karangan, laporan, tes.
e. Drawing activities (kegiatan-kegiatan menggambar) seperti menggambar, membuat grafik.
f. Motor activities (kegiatan-kegiatan motorik) seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi.
g. Mental activities (kegiatan-kegiatan mental) seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah.
h. Emotional activities (kegiatan-kegiatan emosional) seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani.
Menurut Mayer dalam Jamal Ma‟mur Asmani (2011 : 67), peserta didik yang aktif tidak hanya sekedar hadir dikelas, menghafalkan, dan akhirnya mengerjakan soal di akhir pelajaran. Peserta didik dalam pembelajaran harus terlibat aktif, baik secara fisik maupun mental sehingga terjadi interaksi yang optimal antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik lainnya Meylani (2012 : 10-11). Ciri-ciri keaktifan peserta didik yaitu sering bertanya kepada guru atau peserta didik lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab pertayaan, senang diberi tugas belajar (Hariyono, 2013:8).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa keaktifan siswa secara optimal yang terjadi di dalam
proses pembelajaran adalah ketika guru menyajikan materi berperan sebagai fasilitator bukan sebagai subjek pembelajaran. Guru juga berperan sebagai moderator agar antara siswa satu dengan yang lainnya terdapat interaksi.
Guru berperan sebagai evaluator terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung, dimana guru memberikan evaluasi berupa soal kepada siswa untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang telah berlangsung. Evaluasi ini juga dapat memacu siswa untuk dapat memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru (Uzer, 2011: 26).
Menurut Gagne dan Brings dalam Martinis yamin (2007 : 84) keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, peserta didik juga dapat berlatih untuk berpikir kritis. Menurut Gagne dan Brings faktor- faktor yang dapat menumbuhkan timbulnya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran yaitu:
a. Memberikan motivasi atau menarik perhatian peserta didik sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
b. Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada peserta didik).
c. Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari).
e. Memunculkan aktivitas, partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
f. Memberi umpan balik (feed back).
g. Melakukan tagihan- tagihan terhadap peserta didik berupa tes, sehingga kemampuan peserta didik selalu terpantau dan terukur. h. Menyimpulkan setiap materi yang akan disampaikan diakhir
pembelajaran (Pemugari Meylani, 2012:11-12).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dirangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, siswa juga dapat berlatih untuk berfikir kritis dan serta dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Nana Sudjana (2007:20) menyatkan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi yaitu;
a. Stimulus belajar b. Perhatian dan motivasi c. Respon yang dipelajarinya d. Penguatan
e. Pemakaian dan pemindahan
Adapun indikator yang digunakan untuk pembuatan lembar wawancara dan lembar observasi keakatifan peserta didik menurut Martinis yamin (2007:84) adalah sebagai berikut:
a. Pemecahan Masalah
2) Bertanya pada guru ketika ada kesulitan
3) Bertanya kepada teman yang lebih faham ketika dalam mengerjakan tugas ada kesulitan
b. Kerjasama
1) Menghargai perbedaan pendapat
2) Bekerjasama dengan baik dalam kelompok
3) Aktif mengikuti kegitan kelompok dalam memecahkan masalah c. Mengemukakan gagasan
1) Merespon pertanyaan atau instruksi dari guru 2) Berani menjelaskan hasil temuan
3) Berani mengungkapkan pendapat d. Perhatian
1) Mencatat materi yang diberikan dan ditulis lengkap dan rapi 2) Serius mengikuti pembelajaran
3). Memperhatikan dan mendengarkan proses jalanya pembelajaran di kelas
Hubungan timbal balik antar warga kelas yang harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar. Dengan demikian, upaya mengaktifkan peserta didik belajar dapat dilakukan dengan mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas. Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya (Pemugari Meylani,2012: 13).
9. Materi Pendidikan Agama Islam di Kelas VII a. Iman Kepada Malaikat
Iman kepada Malaikat merupakan rukun iman yang kedua, sehingga pembahasan dalam bab ini merupakan kelanjutan dari rukun iman kepada Allah sebagai rukun iman yang pertama. Iman kepada Malaikat itu sendiri mengandung makna bahwa kita harus percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Malaikat diciptakan dari cahaya (Nur) yang diberi tugas oleh Allah dan melaksanakan tugas-tugas tersebut sebagaimana perintah-Nya. Indikator dari orang beriman adalah memiliki keyakinan yang kuat dalam hatinya bahwa di alam semesta ini terdapat Malaikat dan keyakinan tersebut diucapkan melalui lisannya.
Malaikat adalah ciptaan Allah yang berasal dari cahaya (Nur) dan senantiasa mengabdi kepada Allah serta tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya. Malaikat ini merupakan makhluk Allah yang selalu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dengan penuh ketaatan, bahkan malaikat juga bersujud kepada manusia, berbeda dengan iblis yang menentang perintah bersujud kepada manusia tersebut. Hal ini disebabkan karena iblis diciptakan Allah dari api (Naar).
Malaikat adalah makhluk Allah yang paling taat dan senantiasa menyembah serta bertasbih kepada Allah, seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur‟an surat Al-Anbiya ayat 19 dan 20 yang
berbunyi :
َنوُرِب أكَت أسَي َلَ ۥُيَدىِع أهَمَو ِۚض أرَ ألۡٱَو ِت َٰى َٰمَّسلٱ يِف هَم ۥًَُلَو َنوُرُتأفَي َلَ َراَهَّىلٱَو َلأعَّلٱ َنىُحِّبَسُي َنوُرِس أحَت أسَي َلََو ۦًِِتَداَبِع أهَع Artinya : “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya” (QS. Al-Anbiyaa’ ayat 19 dan 20 Departemen Agama, 2008 ; 322).
Dapat disimpulkan bahwa iman kepada malaikat adalah meyakini sepenuh hati tentang keberadaan, mengetahui sifat dan tugas malaikat serta bertingkah laku baik karena adanya keyakinan bahwa malaikat senantiasa mencatat amal.
B. Kerangka Berfikir dan Pertanyaan Penelitian 1. Kerangka Berfikir
Think Pair And Share adalah model pembelajaran yang diawali dengan “Thinking” yaitu guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya. Selanjutnya, “Pairing”, dimana pada tahap ini guru meminta kepada siswa untuk berpasang-pasangan dan berdiskusi. Hasil diskusi antar anggota ditiap-tiap pasangan akan dibicarakan dengan pasangan lainnya didalam kelas tersebut. Tahap ini dikenal dengan “sharing”. Pada kegiatan ini terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara integrative. Siswa pada akhirnya
dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya (Trianto, 2010 : 23).
Berdasarkan uraian di atas diharapkan setelah menggunakan model Think Pair And Share pada sebuah pembelajaran akan membuat peserta didik semangat untuk belajar dan aktif disaat proses pembelajaran berlangsung terutama pada mata pelajaran PAI materi iman kepada malaikat kelas VII di SMPN satap 5 batilap. Berikut ini kerangka berfikir
2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas maka muncul sebuah pertanyaan penelitian yaitu sebagai berikut.
a. Bagaimana penerapan dari model pembelajaran Think Pair And Share pada materi iman kepada malaikat Di Kelas VII SMPN satu atap 5 batilap ?
Think Pair And Share
Pendahuluan Guru menggali pengetahuan peserta didik
Kegiatan inti Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuh tahap Think Pair And Share
Penutup analisis dan evaluasi
b. Bagaimana keadaan peserta didik saat penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair And Share pada materi tentang iman kepada malaikat Di Kelas VII di SMPN Satu atap 5 Batilap ?
28
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana penelitian adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono 2010:1).
Berdasarkan penjelasan diatas maka metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif, alasan kenapa peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif ialah karena data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang berbentuk kata-kata bukan data yang berbentuk angka-angka.
B. Tempat Dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti bertempat di Kelas VII di SMPN Satu Atap 5 Batilap Kabupaten Barito Selata
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan oleh peneliti berlangsung selama 4 bulan. Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
NO Bulan Bulan Septe mber 2019 Nove mber 2019 Januari 2020 Maret 2020 Novem ber 2020 1. Seminar proposal √ √ 2. Validasi instrumen √ 3. Penelitian √ 4. Selesai penelitian √ 5. Tahap penyusunan skripsi √ 6. Munaqasyah skripsi
C. Sumber Data Penelitian
Menurut Kaelan dalam Ibrahim (2015:67). Sumber data adalah mereka yang disebut narasumber, informan , partisipan, teman dan guru dalam penelitian. Sumber data dalam penelitian ini ialah
1. Sumber Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah satu orang guru PAI dan 9 peserta didik kelas VII
2. Sumber data sekunder
Data sekunder adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Dapat juga dikatakan data yang tersusun dalam bentuk dokumen
D. Instrumen Penelitian
Secara umum, instrument dalam penelitian dapat dikategorikan sebagai perangkat keras (hard instrument) dan perangkat lunak (soft instrument) yang termasuk perangkat keras dalam penelitian ini yaitu: kelengkapan catatan lapangan dan yang termasuk perangkat lunak pada penelitian ini yaitu : Pedoman wawancara dan pedoman observasi (Ibrahim, 2015:135),
1.Lembar Observasi
Pelaksanaan penerapan model pembelajar Think Pair And Share dalam penerapan pada materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran PAI di SMPN satu atap 5 batilap.
2. Pedoman Wawancara
a. Bagaimana Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Think Pair And Share untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran PAI di kelas VII SMPN satu atap 5 batilap ?
b. Bagaimana suasana kelas saat proses penerapan model pembelajaran Think Pair And Share pada materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran PAI di kelas VII SMPN satu atap
5 batilap ?
c. Media apa yang digunakan dalam proses penerapan model pembelajaran Think Pair And Share pada materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran PAI di kelas VII SMPN satu atap 5 batilap ?
d. Apa yang dipersiapkan sebelum proses penerapan model pembelajaran Think Pair And Share pada materi iman kepada malaikat pada mata pelajaran PAI di kelas VII SMPN satu atap 5 batilap ?
3. Rpp
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung yaitu dimulai dari kegiatan pendahuluan sampai dengan kegiatan dan penutup. Observer melakukan penilaian pada guru secara langsung menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model tipe Think Pair and Share yang di dalamnya memuat kegiatan pembelajaran yang di mulai dari pendahuluan sampai dengan penutup.
3. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban
atas pertanyaan itu (Herdiansyah,2013: 29).
Wawancara digunakan untuk mendapatkan data yang ingin digali yang berkaitan dengan penerapan model pembelajaran Think Pair And Share.
4. Dokumentasi
Dokumentasi sebagai pencarian data mengenai hal-hal yang berupa buku, dan foto. Dokumentasi ini dapat berupa berkas dan foto terkait proses yang sedang berlangsung.
F. Teknik Pengabsahan Data
Untuk memperoleh tingkat keabsahan data penulis melakukan pengujian data dengan cara Triangulasi. Triangulasi adalah teknik memeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluaan pengecekan atau sebaagai pembanding terhadap data itu.
Teknik triangulasi ini dilakukan pemeriksaan keabsahan data melalui sumber lainnya. Triangulasi dengan sumber ini berarti kita dapat membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan atau suatu informasi yang kita peroleh. Dalam gal ini dapat penelit capai salah satunya dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara di lapangan.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah tahap dalam proses penelitian denga tujuan menginvestigais, mentranformasi, mengungkapkan pola-pola gejala sosial
agar laporan penelitian dapat menunjukkan ninformasi, simpulan, dan menyediakan rekomendasin untuk pembuatan kebijakan. Adapaun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Collection (pengumpulan data), yaitu peneliti mengumpulkan data dari sumber sebanayak mungkin untuk dapaat diproses menjadi bahasan dalam penelitian.
2. Data Reduction (pengurangan data), yaitu data yang diperoleh dari lapangan penelitian dan telaah dipaparkan apa adanya, dapt dihilangkan atau tidak dimasukkan ke dalam pembahasan hasil penelitian, karenaa data yang kurang valid akan mengurangi keilmiahan hasil penelitian.
3. Data Display (Penyajian Data) yaitu data yang diperoleh dari kancah penelitian dipaparkan secara ilmiah oleh peneliti dan tidak menutup kekurangannya. Hasil penelitian akan dipaparkan dan digambarakan apa adanya.
4. Conclusion Drawing atau Verification (penarikan kesimpulan) Kesimpulan pertama yang didapat masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang ditemukan pada tahap awal didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan pengumpulan data maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan data yang benar.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin tidak karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan kemudian akan berkembang setelah peneliti di lapangan (Sugiono,2007: 339-345).
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Penerapan Model Pembelajaran Koperatif Tipe Think Pair And Share
Penerapan model pembelajaran Think Pairr And Share dapat diketahui dengan menggunakan lembar observasi penerapan yang diisi oleh dua pengamat terhadap pengajar/peneliti yang diamati selama kegiatan pembelajaran berlangsung dari pembukaan sampai penutup. Lembar penerapan yang digunakan sudah divalidasi sebelum dipakai untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran berlangsung. Data lembar observasi penerapan model pembelajaran Think Pair And Share. digunakan untuk mengetahui keterlaksaan model pembelajaran Think Pair And Share pada saat pembelajaran berlangsung. Data lembar observasi penerapan model pembelajaran Think Pair And Share terhadap 9 peserta didik.
Iman kepada Malaikat merupakan rukun iman yang kedua, sehingga pembahasan dalam bab ini merupakan kelanjutan dari rukun iman kepada Allah sebagai rukun iman yang pertama. Iman kepada Malaikat itu sendiri mengandung makna bahwa kita harus percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Malaikat diciptakan dari cahaya (Nur) yang diberi tugas oleh Allah dan
melaksanakan tugas-tugas tersebut sebagaimana perintah-Nya. Indikator dari orang beriman adalah memiliki keyakinan yang kuat dalam hatinya bahwa di alam semesta ini terdapat Malaikat dan keyakinan tersebut diucapkan melalui lisannya.
Makna Iman Kepada Malaikat adalah percaya atau menyakini dengan sepenuh hati akan adanya Malaikat Allah SWT yang mempunyai tugas untuk melaksanakan segala perintah-Nya. Malaikat sebagai makhluk ghaib maka keberadaannya tidak tampak oleh indra manusia. Malaikat telah diciptakan Allah SWT sebelum manusia ada, yaitu diciptakan dari cahaya (Nur) dan dapat menjelma dalam berbagai bentuk sebagaimana dikehendaki oleh Allah SWT. Malaikat adalah makhluk Allah yang paling taat dan senantiasa menyembah serta bertasbih kepada Allah,
Penilaian penerapan model ini meliputi beberapa aspek yang telah diuraikan pada lembar pengamatan dapat dilihat pada lampiran. Data yang tersaji merupakan data yang telah didapat berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh pengamat atau observer.
Data yang disajikan merupakan hasil penelitian di lapangan dengan menggunakan teknik-teknik penggalian data yang telah diterapkan, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Data-data dari penelitian untuk mengetahui Penerapan pembelajaran model Think Pair And Share Adapun hasil pengamatan ini merupakan dari
lembar observasi yang menggunakan “ya” dan “tidak”. Berikut hasil yang didapat peneliti pada pertemuan pertama.
a. Pendahuluan.
1). Memberikan apersepsi pada peserta didik.
Peneliti melihat pada pertemuan pertama yang tidak terlaksana oleh guru yaitu memberikan apersepsi pada peserta didik. Karena guru tidak terbiasa dengan tahapan pembelajaran yang ada pada modl pembelajaran Think Pair And Share.(Sumber: Observasi 29 Januari 2020).
b. Kegiatan inti
1). Peserta didik fokus memperhatikan dan mendengarkan proses jalannya pembelajaran di kelas.
Peserta didik tidak fokus memperhatikan dan mendengarkan proses jalannya pembelajaran di kelas saat proses pembelajaran berlangsung dengan model Think Pair And Share. Karena peserta didik terbiasa dengan model pembelajaran ceramah (Sumber: Observasi 29 Januari 2020).
2). Peserta didik bekerja sama dengan baik didalam kelompok Pada pertemuan pertama disaat peserta didik di bentuk menjadi sebuah kelompok dan diberikan tugas oleh guru hanya ada beberapa orang saja yang bekerja sama didalam kelompoknya. Sementara yang lain hanya asik sendiri (Sumber: Observasi 29 Januari 2020).
3). Peserta didik tidak aktif mengikuti diskusi didalam sebuah kelompok untuk menemukan jawaban atas soal yang diberikan guru
Berdasarkan pengamatan peneliti pada observasi pertama, Peserta didik tidak banyak yang terlibat aktif didalam kelompoknya pada saat mencari jawaban dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Sebagian hanya duduk diam dan ada juga asik sendiri didalam kelompoknya (Sumber: Observasi 29 Januari 2020). c. Penutup
1). Memberikan latihan.
Guru tidak memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan dirumah setelah proses pembelajaran selesai karena saat pembelajaran selesai guru langsung menutup pembelajaran (Sumber: Observasi 29 Januari 2020).
Berdasarkan hasil observasi di atas dapat kita lihat bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair And Share pada pertemuan pertama masih kurang efektif karena masih ada beberapa yang belum terlaksana. Hal ini terjadi karena pengajar/peneliti tidak terbiasa menggunakan model Think Pair And Share. Pada saat proses pembelajaran peserta didik juga masih banyak yang tidak serius dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Ada yang asik sendiri dan ketika berkelompok masih
ada juga peserta didik yang tidak berkerjasama dengan baik didalam kelompoknya.
Melihat dari hasil pertemuan pertama yang kurang baik . maka guru berusaha memperbaikinya pada pertemuan kedua agar hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair And Share menjadi baik dan sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh peneliti dan menjadikan peserta didik lebih aktif lagi saat proses pembelajaran berlangsung. pertemuan kedua akan dipaparkan ole peneliti dibawah ini. Berikut observasi pada pertemuan kedua. Aspek yang tidak terlaksana pada pertemuan kedua yaitu:
a. Pendahuluan.
1). Memberikan apersepsi pada peserta didik
Pada saat memulai proses pembelajaran guru langsung memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam kemudian memeriksa kehadiran peserta didik dan lain sebagainya. Namun tidak memberikan apersepsi kepada peserta didik. Walau apersepsi tidak terlaksana namun aspek-aspek yang lain terlaksana dengan baik (Sumber: Observasi 5 Februari 2020). Bahkan saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik memperhatikan dan mendengarkan ketika proses pelajaran berlangsung. Pada observasi ke 1 hanya 4 orang dan pada observasi ke 2 didapat 8 orang (Sumber observasi 29 Januari dan 5 Februari 2020). Kemudian Peserta didik memperhatikan dan mencatat semua materi yang diberikan oleh guru.
Pada observasi ke 1 hanaya 5 yang memperhatikan dan mencatat kemudian pada observasi ke 2 terdapat 8 peserta didik (Sumber: Observasi 29 Januari dan 5 Februari 2020).
Kenudian bapak Aliansyah mengatakan bahwa pada penerapan model Think Pair And Share peserta didik yaitu:
”Untuk pertemuan pertama peserta didik masih tanpak bingung sehingga tidak begitu aktif. Tetapi pertemuan kedua tanpak semakin baik karena proses jalannya pembelajaran tanpak disukai oleh mereka” (Wawancara 5 Februari 2020).
2. Keaktifan Peserta Didik Saat Pembelajaran Think Pair And Share. Berikut ini merupakan keaktifan peserta didik yang didapat oleh peneliti disaat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model Think Pair And Share pada mata pelajaran PAI di kelas VII.
a. Pada bagian awal yaitu berpikir (Think)
1). Peserta didik dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan saat proses pembelajaran sering menggunakan buku lain sebagai literature. Pada observasi ke 1 dari 9 peserta didik yang melakukan hanya 5 peserta didik saja dan pada observasi yang ke 2 dari 9 peserta didik didapat 7 peserta didik yang melakukan aspek ini. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang terjadi dari observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada tiap pertemuan (Sumber: Lembar Observasi Keaktifan 29 Januari dan 5 Februari 2020). Seperti yang
dikatakan oleh guru mata pelajaran PAI bapa Aliansyah sebagai berikut:
“Peserta didik ketika mengerjakan tugas mereka hanya menggunakan buku paket yang ada di sekolah” (Wawancara 5 Februari 2020).
2). Peserta didik sering bertanya kepada guru ketika mendapatkan kesulitan saat pelajaran berlangsung. Pada observasi ke 1 dari 9 peserta didik yang melakukan aspek ini hanya 4 peserta didik. Pada observasi yang ke 2 didapat 8 peserta didik yang melakukan aspek ini. Pada aspek ini peserta didik lebih aktif bertanya kepada guru pada pertemuan kedua. Mereka tidak merasa takut ataupun ragu ketika bertanya kepada guru (Sumber: Observasi Keaktifan 29 Januari dan5Februari 2020). Hala ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti kepada bapak Aliansyah selaku guru PAI di kelas VII yang mana menyatakan sebagai berikut:
“Berdasarkan penglihatan kami disaat mengamati proses pembelajaran, siswa tanpak sering bertanya kepada guru” (Sumber: Wawancara 5 Februari 2020). b. Pada tahap diskusi (Pair)
1). Peserta didik bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya Pada observasi ke 1 didapat hanya 5 yang bekerjasama dengan baik Sedangkan pada observasi ke 2 didapat 8 yang bekerjasama dengan temannya. Setiap peserta didik bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya dalam mengerjakan tugas ataupun mencari sebuah jawaban dari
permasalahan yang diberikan oleh guru walau tidak semua yang terlibat aktif (Sumber: Observasi Keaktifan 29 Januari dan 5 Februari 2020). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Bapak Aliansyah yaitu sebagai berikut:
“Pertemuan pertama hanya sebagian yang bekerja sama dengan temannya dengan baik. Tapi pertemuan kedua nampak sebagian besar mereka bekerja sama dengan baik didalam kelompoknya” (Wawancara 5 Februari 2020).
2). Tiap-tiap peserta didik aktif dalam pemecahan masalah didalam sebuah kelompok Pada observasi ke 1 hanya 5 yang melakukan. Sedangkan pada observasi ke 2 terdapat 7 yang aktif. Pada saat berkelompok peserta didik aktif dalam berdiskusi didalam kelompoknya terkait pemecahan masalah yang telah diberikan oleh guru (Sumber: Observasi 29 Januari dan 5 Februari 2020). Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa peserta didik aktif pada tiap pertemuan. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Bapak Aliansyah selaku guru yang mengajar PAI yaitu sebagai berikut:
“Nampak semua siswa aktif ketika memecahkan masalah didalam kelompok mereka, walau ada beberapa siswa yang kurang kerjasamanya” (Sumber: Wawancara 5 Februari 2020).
c. Tahap tahap berbagi (Share)
1). Peserta didik berani mengemukakan hasil temuan yang didapat ketika mengerjakan tugas berkelompok Pada observasi ke 1 hanya terdapap 5 orang sedangkan observasi ke 2 didapat
9 orang. Peserta didik berani menyampaikan hasil temuan kelompoknya yaitu saat persentasi kelompok berlangsung saat proses pembelajaran menggunakan model Think Pair And Share (Sumber: Observasi Keaktifan 29 Januari dan 5 Februari 2020) Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Bapak Aliansyah yaitu sebagai berikut:
“Peserta didik berani mengemukakan hasil kerja sama mereka didalam berkelompok walau sebagian masih terlihat malu-malu” (Wawancara 5 Februari 2020). 2). Peserta didik berani mengungkapkan pendapat di saat diskusi
berlangsung. Pada observasi ke 1 hanya 3 peserta didik yang berani kemudian pada observasi ke 2 peserta didik yang berani 7 peserta didik. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa peserta didik aktif ketika diskusi kelompok berlangsung dan peserta didik berani mengungkapkan pendapat ketika diskusi berlangsung (Sumber: Observasi 29 Januari dan 5 Februari 2020). Pernyataan diatas sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh bapak Aliansyah selaku guru agama sebagai berikut:
“Setiap siswa berani mengemukakan pendapat mereka masing-masing disaat diskusi berlangsung” (Wawancara 5 Februari 2020).
Kemudian pada saat diskusi berlangsung peserta didik menerima atau menghargai pendapat orang lain. Pada aspek ini didapat hanya 4 peserta didik yang melakukan pada observasi ke 1 Kemudian pada
observasi ke 2 yang didapat 7 peserta didik (Sumber Observasi Keaktifan 29 Januari dan 5 Februari 2020).
Berdasarkan hasil observasi diatas dapat dilihat bahwa pada pertemuan kedua pembelajaran yang menggunakan model Think Pair And Share pada materi iman kepada malaikat di kelas VII mengalami perubahan yang mana pada pertemuan pertama kurang baik dan pertemuan kedua menjadi lebih baik. Peserta didik yang awalnya tidak serius mengikuti pembelajaran menjadi serius, peserta didik yang kurang aktif dalam kelompok menjadi lebih aktif ketika pertemuan kedua, dan juga yang pada pertemuan pertama pada saat diskusi yang tidak menerima pendapat temannya pada pertemuan kedua sudah bisa menerima pendapat temannya dan menerima argumen temannya seperti yang dikatakan oleh bapa Aliyansyah selaku guru yang mengajar yaitu sebagai berikut:
”Disaat pertemuan pertama siswa nampak tidak menerima pendapat temannya. Tapi ketikapertemuan kedua mereka sepertinya bisa menerima pendapat temannya walau hanya sebagian” (Wawancara 5 Februari 2020).
Berdasarkan hasil yang didapat atas penerapan model Think Pair And Share pada mata pelajaran PAI di atas. Bahwa model Think Pair And Share dapat membuat peserta didik terlibat aktif didalam proses pembelajaran tidak hanaya datang dan duduk di saat datang ke sekolah dan juga model Think Pair And Share juga membuat peserta didik berani berargumen dan mempersentasikan hasil kerja mereka.