BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah pemberian merek bermula dari adanya hukum pedagang dan hukum kebiasaan sebagai hak yang sah bagi pedagang untuk memberi ciri khas pada produknya dan menjaga agar pedangang lain tidak meniru daganganya. Praktik pemberian merek telah ada sejak jaman perniagaan kuno dengan mulai dikenal adanya pemberian nama-nama yang diukir atau dituliskan pada batu.Di era yang sama, bangsa Mesir sudah menerakan namanya untuk batu-bata yang dibuat atas perintah raja. Pada abad pertengahan para pedangang eropa telah menggunakan merek-merek dagang untuk meyakinkan konsumen dan memberikan proteksi hukum pada produsen.1Bukti sejarah ini menunjukan adanya penandaan yang dimaksudkan untuk memberikan identitas pembuat sebuah produk.Hanya saja saat itu belum berfungsi sebagai media promosi.
Meningkatnya produksi yang diikuti dengan adanya revolusi industri, membuat para pedagangmulai mengiklankan produk dagangnya dengan memperkenalkan merek produknya.Sebaliknya, para pembeli mulai mengandalkan merek barang sebagai indikasi yang baik mengenai sumber barang dan digunakan sebagai bantuan
1
Sulaksana Uyung, “Sejarah Merek”, http://uyungs.wordpress.com/2008/09/21/sejarah-merek/, 2 Januari 2013.
dalam memutuskan pembelian barang, hingga akhirnya konsumen mulai menyadari bahwa merek menunjukkan pembuat barang dan mutu barang.2
Perkembangan industri dan perdagangan yang pesat memberikan peranan tanda pengenal yang berkaitan dengan hasil industri dan bahan perdangan menjadi penting. Pada zaman modern sekarang ini, tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka dan susunan warna atau kombinasi ini akan membantu untuk menunjukan asal barang/atau jasa, serta perusahaan komersial yang bergerak dalam bidang yang menyediakan barang dan jasa.
Globalisasi perekonomian menuntut setiap negara untuk membuka pasarnya terhadap berbagai produk dari negara yang bersangkutan. Tentunya hal ini akan meningkatkan perkembangan ekonomi secara menyeluruh. Perkembangan perekonomian secara global akan diikuti dengan perkembangan Iklim usaha yang sehat, yang ditandai dengan adanya kepastian hukum bagi para pemilik modal (investor) untuk menginvestasikan dananya disuatu negara yang dapat memberikan jaminan terhadap berkembangnya dana yang diinvestasikan tersebut. Perkembangan ekonomi akan berjalan seiring dengan adanya keteraturan hukum yang diselenggarakan oleh negara yang bersangkutan. Penyelenggaraan negara yang didukung dengan penerapan hukum yang baik akan membawa dampak positif terhadap perkembangan ekonomi suatu negara.
2
Annasnurdin Ahmad, “Sejarah Merek di dunia”, http://id.shvoong.com/law-and-politics/commercial-law/2324842-sejarah-merek-di-dunia/, 2 Januari 2012.
Pesatnya perkembangan ekonomi telah melahirkan berbagai barang dan jasa yang diproduksi oleh berbagai macam produsen sesuai keahlian masing-masing. Para produsen berbagai produk dan jasa ini melakukan penetrasi pasar melalui berbagai cara seperti memproduksi barang secara masal di negara bersangkutan dengan menggunakan merek produk yang sudah cukup dikenal di tataran global. Pada umumnya suatu produk barang dan jasa yang dibuat oleh seseorang atau badan hukum diberi suatu tanda tertentu, yang berfungsi sebagai pembeda dengan produk barang dan jasa lainnya yang sejenis.Tanda tertentu disini merupakan tanda pengenal bagi produk barang dan jasa yang bersangkutan yang lazin disebut merek.
Keterkaitan erat antara produsen, pedagang dan konsumen dalam penggunaan merek maka dapat menjadikan merek diibaratkan sebagai mesin yang menggerakan roda perdagangan Dengan merek yang sudah dikenal oleh masyarakat dan dengan barang yang telah dijamin kualitasnya serta harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat tentunya perdagangan barang tersebut berjalan lancar dan mengalami kemajuan.Akhirnya kemajuan dibidang perdagangan membawa akibat pertumbuhan ekonomi masyarakat.3
Merek merupakan suatu tanda pembeda dan sering digunakan sebagai pengingat oleh konsumen berkaitan dengan barang dan jasa.Semua lapisan masyarakat saat ini menggunakan, memiliki, dan memakai perlengkapan hidupnya dengan merek-merek
3
Sayud Margono dan Amir Angkasa, 2006, Komersialisasi Aset Intelektual: Aspek Hukum Bisnis, Grassindo, Jakarta, hal 3.
baik barang ataupun jasa yang tersedia dipasar.Ketersedian barang dan jasa dengan berbagai merek mulai dari merek asli maupun merek palsu menjadikan permintaan pasar semakin melimpah.Keterjangkauan harga barang ataupun jasa dengan merek palsu ini memberi keuntungan tersendiri bagi produsen dan penjual barang palsu.Semakin terkenal suatu merek, semakin tinggi pula permintaan barang palsunya.4 Selama permintaan (demand) akan adanya barang palsu masih ada, maka pasar akan terus menyediakan (supply) barang-barang palsu untuk memenuhi permintaan pasar.
Dalam dunia bisnis, merek menjadi bagian strategis terutama dalam persaingan bisnis oleh karena itu perlu diperhatikan adanya perlindungan hukum terhadap merek.Perlindungan hukum terhadap merek diperlukan untuk membangun citra yang baik terhadap merek tersebut agar tidak disalahgunakan oleh kompetitor yang sengaja curang dan sekedar membonceng ketenaran merek yang telah lebih dulu ada.Perlindungan hukum terhadap merek sering kali kurang berjalan sebagaimana mestinya.Salah satu kendalanya adalah karena merek yang telah didaftarkan masih menjadi sengketa antara para pihak yang masih menganggap memiliki hak atas merek tersebut.
Merek (trademark) sebagai salah satu bagian dari Hak Kekayaan Intelektual (intellectual property rights) manusia yang sangat penting terutama dalam menjaga
4
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, 1999, Teori Ekonomi Mikro, Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, hal 25.
persaingan usaha yang sehat, oleh karenanya masalah merek perlu diatur dalam suatu undang-undang khusus.5Kemajuan teknologi informasi dan transportasi yang sangat pesat, juga mendorong globalisasi Hak Kekayaan Intelektual.Kebutuhan untuk melindungi Hak Kekayaan Intelektual dengan demikian tumbuh bersamaan dengan kebutuhan untuk melindungi barang atau jasa sebagai komoditi dagang.Kondisi ini juga sangat dirasakan oleh bangsa Indonesia ketika barang dan jasa sebagai komoditi dagang memerlukan perlindungan dari segi merek.Berangkat dari kesadaran ini Indonesia telah membuat undang-undang yang mengatur secara khusus tentang merek.6
Pengaturan tentang merek di Indonesia telah mengalami empat kali perubahan dengan penggantian undang-undang.Sebelumnya, Indonesia menggunakan Undang-Undang merek Kolonial tahun 1912.7Peraturan tentang merek pertama yang dibuat oleh pemerintah Indonesia adalah Undang-undang nomor 21 tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan yang kemudian diperbaharui dengan Undang-undang nomer 19 tahun 1992 tentang merek. Berkaitan dengan kepentingan reformasi merek, Indonesia turut serta meratifikasi Perjanjian Internasional Merek WIPO (World Intellectual Property Organization).Kemudian pada tahun 1997, dalam
5
Richard Burton Simatupang, 2003, Aspek Hukum dalam Bisnis, PT. RinekaCipta, Jakarta, hal 87.
6
Budi Agus Riswandi dan M. Syamsudin, 2004, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal 83.
7
Syarif Nurhidayat, “Perkembangan Pengaturan Merek di Indonesia”,
http://esenha.wordpress.com/2010/05/06/perkembangan-pengaturan-merek-di-indonesia/, 2 Januari 2013.
rangka menyesuaikan dengan perjanjian Internasioanl mengenai aspek-aspek yang terkait dengan perdagangan dari Hak Kekayaan Intelektual TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights)-GATT (General Agreement on Tariff and Trade).Pembaharuan terakhir pengaturan merek dilakukan pada tahun 2001 melalui Undang-undang nomer 15 tahun 2001.Beberapa perubahan penting yang ada adalah seputar penetapan sementara pengadilan, perubahan dari delik biasa menjadi delik aduan, peran Pengadilan Niaga dalammemutuskan sengketa merek, kemungkinan menggunakan alternatif dalam memutuskan sengketa dan ketentuan pidana yang diperberat.8
Adanya perlindungan terhadap merek melalui ketersediaan Undang-undang merek seharusnya sudah dapat mengatasi permasalahan-permasalahan merek yang muncul di Indonesia. Sayangnya, permasalahan yang terkait dengan merek justru semakin banyak dan kompleks antara lain pelanggaran merek dengan menjiplak, memalsukan, dan juga pendomplengan. Seolah-olah undang-undang merek belum mampu memberikan penyelesaian berbagai permasalahan pelanggaran hukum merek yang terjadi di Indonesia.Sesungguhnya, pelanggaran merek yang terjadi di Indonesia saat ini lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomi.Latar belakang inilah yang akhirnya menyebakan semakin tak terbendungnya usaha untuk melakukan
8
Asian Law Group Pty Ltd, 2005, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Alumni, Bandung, hal 132.
pelanggaran terhadap hukum merek. Segigih apapun upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah pelanggaran hukum merek ini akan sia-sia bila masalah dasarnya tidak ditangani terlebih dahulu, yakni masalah ekonomi yang tidak lain dikarenakan himpitan kemiskinan. Selain dilatarbelakangi motif ekonomi pelanggaran hukum merek ini terjadi karena lemahnya aparat penegak hukum dalam menjerat pelaku serta ketidakjelasan sikap yang diambil oleh polisi, jaksa, hakim.
Pelanggaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI)9 dalam hal ini merek menimbulkan kerugian yang besar bagi produsen aslinya.Hal ini tentunya juga merusak reputasi pemilik merek asli. Dalam rangka menghindari tindakan curang produsen lain maka pemilik merek mendaftarkan mereknya ke Direktorat Jenderal HAKI guna mendapatkan perlindungan, sehingga tanpa didaftarkan ke Direktorat Jenderal HAKI pemilik merek maupun merek dagang tersebut secara hukum tidak dilindungi. Berbagai kejadian pelanggaran merek menyebabkan banyak bermunculan tuntutan hak dari para pemilik merek.
Salah satu kasus pelanggaran hukum merek terjadi pada PT. Aseli Dagadu Djokdja selaku pemilik resmi merek Dagadu Djokdja. Dagadu Djokdja merupakan merek kaos dan souvenir khas kota Yogyakarta yang telah ada sejak sebelum tahun
9
Surat Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan RI No.M.03.PR.07.10 Tahun 2000 dan Persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.24/M/PAN/1/2000 menyebutkan bahwa istilah Hak Kekayaan Intelektual dapat disingkat dengan HKI atau HAKI. Lihat A. Zen purba: “Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Sistem HAKI Nasional “, dalam Jurnal Hukum Bisnis, Vol.13, April 2001. Dalam tulisan ini akan memakai singkatan HAKI, namun juga tidak menutup kemungkinan mengutip HKI atau HAKI bila asli kutipan demikian; namun pengertian yang dimaksud adalah sama.
90-an dan diminati oleh para wisatawan untuk dijadikan buah tangan dari Yogyakarta. Secara resmi PT. Aseli Dagadu Djokdja telah mendaftarkan merek Dagadu Djokdja di Direktorat Jenderal HAKI Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 1997 dengan No.IDM000181840. Setelah 17 tahun PT. Aseli Dagadu Djokdja berdiri dengan ribuan desain kaos merek Dagadu Djokdja, banyak juga produk-produk yang didipalsukan, dijiplak oleh produsen lain dengan nama merek yang sama.
Menghadapi sikap produsen lain yang melakukan pemalsuan dan menjiplak produk-produk Dagadu Djokdja, PT Aseli Dagadu Djokdja tidak tinggal diam. Sejak tahun 2000 pihak PT. Aseli Dagadu Djokjda sudah melakukan protes dan mengajak dialog para produsen pemalsu dan penjiplak untuk menyelesaikan masalah pelanggaran merek ini, namun protes yang dan ajakan tersebut berakhir tanpa tanggapan. Keadaan demikian juga tidak membuat pihak PT. Aseli Dagadu Djokdja lantas menyelesaikan pelanggaran merek ini melalui jalur hukum, dengan harapan penyelesaian pelanggaran merek ini masih dapat dilakukan melalui mediasi.
Pada tahun 2011, berangkat dari adanya pemeo bahwa Dagadu Djokdja miliknya orang Yogyakarta, Masyarakat Terelanjur Dagadu (MTD) yang terdiri dari para
produsen, pemilik kios, pedagang kaki lima penjual produk Dagadu Djokdja mengadu dan meminta perlindungan ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta untuk menyelesaikan masalah merek dengan PT. Aseli Dagadu Djokdja. Para
Aseli Dagadu Djokdja serta menyatakan menolak disebut sebagai pemalsu Dagadu Djokdja.
Kekhawatiran para produsen, pemilik kios, pedagang kaki lima ini muncul karena pihak PT. Aseli Dagadu Djokdja menyatakan bahwa pihak produsen, pemilik kios, pedagang kaki lima diharapkan untuk menghentikan perdagangan segala produk berlebel Dagadu Djokdja. Hal ini dikarenakan para produsen, pemilik kios, pedagang kaki lima menggantungkan hidupnya dari bisnis penjualan sandang dan souvenir berlebel Dagadu Djokdja berlambang mata khas Yogyakarta tersebut. Pihak Masyarakat Terlanjur Dagadu menyatakan bahwa usaha yang mereka jalankan merupakan suatu usaha yang halal tanpa mencuri hak siapapun. Selain itu pihak Masyarakat Terlanjur Dagadu juga menyampaikan bahwa barang dagangan dan produk yang mereka buat berupa kaos, tas, dan souvenir berlabel Dagadu Djokdja sudah menjadi cenderamata khas Yogyakarta jauh sebelum adanya pihak PT. Aseli Dagadu Djokdja mendaftarkannya. Menurut Masyarakat Terlanjur Dagadu karena merek Dagadu Djokdja telah menjadi milik umum maka tidak bias didaftarkan sebagai merek dagang secara sepihak oleh suatu perusahaan.
Melihat adanya sengketa merek tersebut diatas serta menimbang pentingnya perlindungan hukum bagi pemilik merek terdaftar dan dalam rangka mewujudkan penegakan hukum merek, maka peneliti dalam penelitian ini akan mengangkat isu berupa:
“Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Merek Terdaftar Atas Adanya Sengketa
Merek Berdasarkan Undang-Undang Merek Nomer 15 Tahun 2001 (Studi Kasus Merek DagaduDjokdja).”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Sejauh mana perlindungan merek di jamin oleh Undang-Undang No.15 Tahun 2001 dalam sengketa merek yang terjadi pada Dagadu Djokdja?
2. Apa akibat hukum yang terjadi pada pihak lain yang menjiplak merek Dagadu Djokdja dan menjual barang-barang sejenis diluar izin pemegang merek Dagadu Djokdja?
3. Bagaimana pengaturan yang tepat untuk memberikan perlindungan secara maksimal dalam sengketa merek Dagadu Djokdja?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Obyektif
Mengacu pada permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mencari jawaban atas masalah tentang:
a. Untuk memperoleh data konkrit mengenai perlindungan merek dalam sengketa merek Dagadu Djokdja.
b. Untuk mengetahuin akibat hukum yang akan diterima oleh penjiplak dan pengguna merek DagaduDjokdja.
c. Untuk memberikan rekomendasi peraturan yang dapat melindungi merek secara maksimal.
2. Tujuan Subyektif
Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka penyusunan tugas akhir penulisan hukum, guna memenuhi salah satu syarat kelengkapan untuk memperoleh gelar Magister Hukum Universitas Gadjah Mada.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan memberi manfaat, baik untuk kepentingan akademis maupun untuk kepentingan praktis:
1. Manfaat Akademis
Mengembangkan wacana di bidang ilmu hukum, dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual pada umumnya dan merek pada khususnya, serta menambah khasanah pengetahuan dan referensi hukum di bidang merek khususnya yang terkait dengan perlindungan hukum bagi pemegang merek atas adanya sengketa merek berdasarkan Undang-undang Merek Nomer 15 tahun 2001.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah, masyarakat, pemengang merek dan kalangan usaha dalam rangka
penanggulangan masalah-masalah Hak Kekayaan Intelektual baik dengan pendekatan sosial budaya, ekonomi dan hukum khususnya yang termasuk lingkup perlindungan merek.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan pada berbagai perpustakaan hukum baik di Fakultas Hukum maupun Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada tidak ditemukan adanya satu penelitian yang berkenaan dengan Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Merek Terdaftar Atas Adanya Sengketa Merek berdasarkan Undang-Undang Merek No 15 Tahun 2001 (Studi Kasus Merek Dagadu Djokdja). Adapun beberapa penelitian tesis yang pernah dilakuakan yang terkait dengan perlindungan merek antara lain:
1. Penelitian yang dilakuakan oleh Adi Setiani (2009) dengan judul Perlindungan Hukum Terhadap Merek Terkenal Berdasarkan Undang-Undang Merek Di Indonesia.Dalam penelitian ini penulis mengangkat isu permasalahan hukum empiris dan normatif. Permasalahan hukum empiris mengangkat isu mengenai upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi pemalsuan merek terkenal. Kemudian permasalahan hukum normatif yaitu pengaturan perlindungan terhadap merek-merek terkenal berdasarkan Undang-Undang Merek.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Ginanjar Damar Pamenang (2010) dengan judul Perlindungan Hukum Bagi pemilik Merek Terdaftar Atas Adanya Gugatan Pembatalan Merek (Studi Kasus: Merek KATOM).Dalam penelitian
ini penulis mengangkat isu permasalahan hukum empiris dan normatif. Permasalahan hukum empiris mengangkat isu mengenai perlindungan hukum terhadap merek terdaftar atas adanya gugatan pembatalan merek. Kemudian permasalahan hukum normatif yaitu menentukan ada tidaknya unsur itikad baik dalam pendaftaran merek pada putusan pengadilan atas merek KATOM. Berdasarkan penelitian judul maupun perumusan masalah dari berbagai penelitian hukum tersebut diketahui berbeda rumusan masalah yang diajukan oleh penulis. Selain itu lokasi penelitian yang berbeda tentunya akan mempunyai spesifikasi tersendiri, sehingga meski mempunyai keterkaitan dengan tesis dan penelitian di atas tetapi secara prinsipil mempunyai perbedaan yang mendasar. Sehingga penulis berpendapat bahwa penelitian yang dilakukan adalah asli dalam arti masalah tersebut belum pernah diteliti oleh peneliti lainnya.