• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRATEGI DAN KEBIJAKAN AMERIKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS STRATEGI DAN KEBIJAKAN AMERIKA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRATEGI DAN KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT DALAM KONTRA-TERORISME: PERBANDINGAN DENGAN INDONESIA

Ujian Akhir Semester Dynamic of Counter-Terrorism

Dosen Pengampu: Irjen Pol. Dr. Petrus R. Golose

Prof. Amany Lubis Dr. Rajab Ritonga

Muradi Ph.D

Disusun Oleh:

ANNISAA MUTIARA DAMAYANTI ARIOHUDOYO 120150102001

UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA PROGRAM STUDI PEPERANGAN ASIMETRIS

(2)

BAB I

Analisis Kebijakan dan Strategi Kontra-Terorisme di Amerika Serikat dan Indonesia

1. Kebijakan dan Strategi Kontra-Terorisme di Amerika Serikat 1.1 Masa Pemerintahan George W. Bush

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang sangat gencar untuk terus memerangi aksi-aksi terorisme, baik yang berskala regional maupun internasional. Terorisme telah menyerang berbagai kepentingan-kepentingan Amerika Serikat, khususnya pada peristiwa 9/11 lalu. Amerika Serikat sebagai negara yang identik dengan pusatnya kebudayaan barat dan anti Islam telah dijadikan oleh para kelompok-kelompok radikal Islam untuk terus menyerang negara tersebut. Dengan menggunakan alasan untuk melindungi diri dengan menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki olehnya, Amerika selalu berusaha untuk memaksa dunia untuk terus mendukung kepentingan atau pembalasan dendam Amerika Serikat terhadap aksi terorisme melalui semboyan “Global War on Terrorism”.

(3)

tragedi nasional bagi bangsa dan negara Amerika Serikat, serta memberikan dampak yang serius terhadap situasi pertahanan dan keamanan Amerika Serikat (Anggoro, 2007).

Kejadian 9/11 telah membuat cara pandang Amerika Serikat terhadap negara-negara lain berubah, yang akhirnya mempengaruhi pola pembuatan kebijakan dalam negeri dan luar negeri. Pada tahun 2002, di masa pemerintahan George W. Bush, telah dibuat National Security Strategy, yang hingga saat ini disebut dengan nama Bush Doctrine, yang sebagian besar berisi kebijakan dan strategi kemanana Amerika Serikat dalam upaya menjaga kepentingan nasionalnya (Ikenberry, 2007). Bush doctrine berisi kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dengan menjadikan strategi pre-emptive military strikes sebagai strategi utamanya dalam memerangi kelompok-kelompok teroris di dunia. Bush doctrine juga menyatakan zero-tolerance terhadap negara-negara yang menyatakan bahwa dirinya netral/non-aligment dari negara-negara lain dalam konteks kampanye melawan terorisme (DeYoung, 2001).

(4)

1.2 Masa Pemerintahan Barack Obama

Pada tahun 2009, George. W Bush turun dari pemerintahannya, dan digantikan oleh Barack Obama. Seiring dengan bergantinya pemerintahan di Amerika Serikat, maka terjadi perubahan-perubahan terhadap kebijakan yang terdahulu mengenai terorisme. Sejak masa kampanye Barack Obama, ia kerap kali memperkenalkan prinsip kebijakan luar negeri yang berkenaan dengan penumpasan terorisme, terutama terhadap jaringan terorisme yang terbesar di masa itu, yaitu Al-Qaeda. Salah satu kebijakan yang selalu ditekankan oleh beliau adalah dengan melakukan perbaikan dan rekonstruksi sistem aliansi dan kemitraan global dalam menghadapi tantangan dan ancaman terorisme (Gita, 2012).

Setelah Barack Obama terpilih menjadi presiden, ia bersama dengan menteri luar negeri yang ditunjuk, yaitu Hillary Clinton akhirnya membuat sebuah kebijakan luar negeri dengan memperbaiki hubungan-hubungan diplomasi dengan negara-negara Islam yang dahulu pada masa pemerintahan George W. Bush sempat rusak. Selain itu juga, Barack Obama harus membuat keputusan mengenai dilanjutkannya Bush Doctrine sebagai salah satu kebijakan dalam melawan terorisme, yang pada akhirnya ia lebih memilih untuk membuat kebijakan-kebijakan baru dengan mengedepankan smart power dibanding hard power. Salah satu pencapaian Barack Obama dalam memerangi terorisme adalah dengan terbunuhnya Osama Bin Laden dalam operasi militer yang dinamakan Neptune Spears yang langsung dilaksanakan oleh pasukan spesial Amerika Serikat, yaitu US Navy Seal, Naval Special Warfare Development Group (DEVGRU), SEAL Tim Six, serta CIA (BBC, 2011).

(5)

berniat untuk membantu Pakistan dalam menjaga keamanan nasional Pakistan dari serangan-serangan terorisme di negaranya. Dengan adanya kerjasama dengan Pakistan, diharapkan dapat mempermudah untuk memerangi terorisme, terutama karena Pakistan merupakan akarnya terorisme di Timur Tengah.

Hal lain yang dilakukan Barack Obama pada masa pemerintahannya adalah dengan menarik seluruh pasukan Amerika Serikat di Irak yang pada masa pemerintahan sebelumnya, George W. Bush mengeluarkan kebijakan untuk melakukan invasi ke Irak dengan alasan sebagai bentuk dari pre-emptive strike atas kepemilikan senjata pemusnah massal di Irak. Penutupan Penjara Guantanamo juga menjadi salah satu kebijakan sang Presiden dalam rangka memerangi terorisme.

1.3 Perbandingan Kebijakan dan Strategi Amerika Serikat Pada Masa Pemerintahan George W. Bush dan Barack Obama

Berdasarkan uraian diatas, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari kebijakan kedua pemimpin Amerika Serikat pada masa pemerintahannya. Pada masa pemerintahan George W. Bush, ia lebih condong kepada serangan militer langsung ke negara-negara yang dicurigai sebagai negara yang mengancam kepentingan dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan melakukan invasi ke Afghanistan dan Irak, yang tentunya selain menghilangkan banyak nyawa juga menghabiskan anggaran yang sangat fantanstis untuk memenuhi kebutuhan logistiknya.

(6)

diplomatik dengan Pakistan dan mendapatkan otoritas untuk memburu Osama Bin Laden pada saat itu. Kebijakan tersebut tentu saja jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan kebijakan yang telah dilakukan oleh presiden terdahulunya.

Sebagai tambahan, kebijakan yang dirancang oleh Barack Obama lebih fokus kepada perlawanan langsung kepada kelompok-kelompok teroris, bukan kepada negara-negara dimana kelompok teroris tersebut bersemayam. Pada masa pemerintahan Bush, ia secara langsung melakukan invasi ke negara yang didalamnya terdapat kelompok teroris, dimana hal itu lah yang menjadikan kebijakan-kebijakan yang dirancang oleh Bush dinilai kontroversial. Baru-baru ini, dengan ditutupnya Penjara Guantanamo juga membuktikan bahwa Barack Obama menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, mengingat bahwa dipenjara tersebut, seringkali terjadi penyiksaan yang sama sekali tidak manusiawi (Pasaribu, 2001).

2. Kebijakan dan Strategi Kontra-Terorisme di Indonesia 2.2 Pada Masa Orde Lama

(7)

sejarah, gerakan PRRI merupakan gerakan yang dihabisi oleh kekuatan militer berskala terbesar yang pernah ada di Indonesia (BNPT, 2013).

2.2 Masa Orde Baru

Sedangkan pada masa orde baru, baru mulai bermunculan gerakan-gerakan terorisme yang murni dilatarbelakangi oleh ajaran agama. Seperti pada kasus pembajakan pesawat Garuda pada tahun 1981, dan juga pengeboman Candi Borobudur pada tahun 1985. Pada masa orde baru, pendekatan yang dipakai oleh Indonesia dalam menanggulangi terorisme masih menggunakan hard approach dengan mengandalkan kekuatan militer. Pendekatan hard approach ini sesuai dengan Undang-Undang No. 11/PNPS/1963 di masa itu. Namun demikian, pada umumnya fungsi intelijen lah yang lebih sering diandalkan dalam menanggulangi terorisme, karena relatif lebih sunyi dibandingkan dengan mengerahkan kekuatan militer dan melakukan konfrontasi bersenjata (BNPT,2015)

2.3 Setelah Masa Reformasi

(8)

Sebagian besar serangan terorisme yang terjadi di Indonesia tidak ada yang bersifat insiden terorisme transnasional berskala besar. Justru, serangan terorisme di Indonesia banyak yang bersifat homegrown, dengan menjadikan polisi sebagai target penyerangan (Jones, 2012). Pada awalnya, terorisme dianggap sebagai isu keamanan dalam negeri dan masih diatasi dengan kekuatan militer dan intelijen, tetapi setelah serangan 9/11 dan Bom Bali yang sangat sejalan dengan era transisi demokrasi di Indonesia, pendekatan dan kebijakan yang dirancang oleh pemerintah Indonesia menjadi sangat bertolak belakang.

Indonesia memandang terorisme sebagai tindakan kriminalitas, tetapi dengan semakin besarnya akibat yang disebabkan oleh serangan-serangan teroris, pada akhirnya terorisme menjadi salah satu dari daftar kejahatan luar biasa dan kejahatan terhadap kemanusiaan (Soetardi, 2008). Sebelum didirikan BNPT, penanggulangan terorisme di Indonesia hanya mengandalkan kepada strategi dan kebijakan masing-masing institusi keamanan.

DPR RI melalui Komisi 1 akhirnya mendukung upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi terorisme dengan merekomendasikan pendirian BNPT, yang akhirnya didirikan berdasarkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2010 tentang BNPT. Melalui BNPT lah, metode yang digunakan dalam menanggulagi terorisme dirombak. Mulanya, penanggulangan terorisme dilakukan melalui pendekatan hard approach, yang pada akhirnya ditambah menjadi melalui pendekatan hard approach dan soft approach.

(9)

ideologi, hingga lingkungan keluarga. Pendekatan secara psikologis dinilai cukup ampuh dalam menanggulangi terorisme melalui program deradikalisasi.

Dalam hal ini, BNPT telah diberikan kewenangan oleh Pemerintah dalam menyusun kebijakan dan strategi dalam menanggulangi terorisme. Kebijakan dan strategi yang dirancang oleh BNPT secara singkat meliputi pencegahan penyebaran ideologi dan penumpasan kelompok-kelompok radikal yang melakukan aksi terorisme dengan secara berkala melakukan sosialisasi, serta mengerahkan fungsi intelijen. Dalam upaya melakukan penanggulangan terorisme, BNPT bersama dengan Polri dan juga Pemerintah, ikut merangkul masyarakat untuk sama-sama melawan terorisme (BNPT, 2014).

2.4 Perbandingan Kebijakan dan Strategi Indonesia dalam Kontra-Terorisme Pada Masa Orde Lama, Orde baru dan Pasca Reformasi

Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pada mulanya Indonesia hanya mengenal gerakan insurgensi yang disertai dengan aksi-aksi terorisme, sehingga pola penanganannya hanya terpaku pada kekuatan militer saja. Gerakan-gerakan insurgensi pada masa orde lama tidak hanya diwarnai dengan latar belakang agama saja. Baru pada masa orde baru, mulai terlihat aksi-aksi terorisme yang berlatar belakang agama. Terdapat perbedaan penanganan pada masa ini, yaitu dengan adanya fungsi intelijen dalam upaya kontra-terorisme untuk meminimalisir adanya aksi bersenjata yang dilakukan oleh militer.

(10)

serangan-serangan terorisme di Indonesia, walaupun tidak berskala besar, seperti pengeboman Gereja, Hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton, Kedutaan Besar Australia hingga terjadi lagi insiden Bom Bali II. Dengan semakin maraknya serangan terorisme pada masa itu, Polri akhirnya membuat suatu unit khusus dalam melawan aksi-aksi terorisme, yaitu dengan dibentuknya Densus 88 yang dinilai sangat efektif untuk menangani serangan-serangan terorisme.

Dengan semakin berjalannya waktu, dan pergantian pemerintahan, terjadi pula perubahan arah kebijakan dan strategi dalam kontra-terorisme di Indonesia, dari yang tadinya hanya berupa hard approach dengan didampingi fungsi intelijen sekarang menjadi 2 metode. Pendirian BNPT merupakan langkah yang sangat tepat dalam menanggulangi terorisme. Metode yang digunakan pun ditambah, yaitu melalui metode soft approach dengan tidak menghilangkan metode hard approach. Metode hard approach disini pun berubah, tidak lagi menggunakan kekuatan militer sebagai garda terdepan. Hard approach kali ini dilakukan melalui penegakkan hukum, yang akhirnya dielaborasi dengan metode soft approach melalui pendekatan secara psikis/mental.

(11)

BAB II

PERBANDINGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA DALAM UPAYA KONTRA-TERORISME

Secara umum, awal mula berkembangnya perumusan strategi dan kebijakan dalam kontra-terorisme di kedua negara ini ialah sama-sama pada masa setelah peristiwa 9/11. Amerika Serikat dengan semboyan Global War On Terrorism-nya, secara besar-besaran menyerukan keharusan dalam melawan terorisme. Indonesia, sebagai negara yang memiliki penduduk beragama muslim terbesar di dunia pun ikut terseret dalam peristiwa ini. Dengan terjadinya insiden Bom Bali I pada tahun 2002, membuat Amerika Serikat semakin ‘phobia’ terhadap agama Islam dan menilai Indonesia sebagai basis terorisme di Asia Tenggara. Selain itu, melalui Bush Doctrine yang diusung oleh George W. Bush, ia melancarkan agresinya ke negara-negara Islam seperti Afghanistan dan Irak. Selain itu juga, pada masa pemerintahannya, Amerika Serikat tidak memiliki hubungan yang cukup harmonis dengan negara-negara Islam.

(12)

terorisme. Dengan mayoritas penduduk muslim, dan tekanan politik internal yang masih anti-Amerika, Presiden Megawati (yang masih memerintah kala itu) sangat berhati-hati dalam menentukan kebijakan dalam menanggulangi terorisme supaya tidak menyinggung umat Islam di Indonesia.

Pada masa pemerintahan Megawati, Amerika Serikat selalu mengharapkan Indonesia untuk terus melawan teroris dan jaringan radikalnya secara habis-habisan. Tetapi, saat itu kekuatan hukum yang represif, mayoritas penduduk muslim serta masih lemahnya kekuatan pemerintah pusat menjadi alasan bagi Megawati untuk tidak bisa mengerahkan kekuatan penuhnya dalam melawan terorisme di masa itu (Wise, 2005). Baru setelah pemerintahan SBY, Indonesia secara terang-terangan juga ikut menyatakan Global War on Terrorism, sejalan dengan kampanye yang selama ini dilakukan oleh Amerika Serikat (Wise, 2005).

Perbedaan yang paling mencolok antara kedua negara ini dalam memerangi terorisme adalah, di Amerika Serikat, George W. Bush lebih cenderung melakukan penumpasan terorisme ke luar negeri, tidak di dalam negerinya sendiri. Seperti invasi yang ia canangkan ke Afghanistan untuk memburu Al-Qaeda. Sedangkan di Indonesia, kebijakan-kebijakan yang dibuat lebih kearah dalam negeri, dengan terus mencabut akar-akar radikalisme di tiap-tiap daerah di Indonesia. Amerika Serikat sangat aktif untuk terus melakukan upaya pre-emption strike ke negara-negara Islam dengan tuduhan-tuduhan tanpa bukti serta propaganda anti-Islamnya.

(13)

diplomasi kepada negara-negara di Timur Tengah, dan juga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, dengan bergantinya pemerintahan, maka kebijakan dan strategi yang dirancang untuk menanggulangi terorisme juga semakin berkembang. Metode hard approach dan soft approach menjadi senjata utama dalam perang melawan terorisme.

Pada masa ini pun terlihat perbedaan antara Amerika Serikat dan Indonesia. Amerika Serikat tetap mengandalkan kebijakan-kebijakan luar negerinya dalam memerangi terorisme, hanya saja, kali ini tidak dengan kekuatan militer, tetapi dengan melakukan diplomasi. Barack Obama secara berkala mengunjugi negara-negara Islam dan mengadakan pidato mengenai perang melawan terorisme dengan merangkul umat Islam dan mengajaknya untuk bersama-sama memerangi terorisme.

Inti dari kebijakan ini adalah untuk memenangkan hearts and mind dari para umat Islam di Timur Tengah sehingga Amerika Serikat dapat memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan mereka. Karena itu juga, Barack Obama berhasil menangkap dan membunuh Osama Bin Laden atas seizin pemerintah Afghanistan dengan hanya menurunkan pasukan spesial Amerika Serikat disertai dengan CIA dalam jumlah yang sedikit.

(14)
(15)

BAB III KESIMPULAN

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Abuza, Z. (2010). Indonesian Counter-Terrorism: The Great Leap Forward. Terrorism Monitor Volume: 8.

Anggoro, K. (2007). Terorisme Terhadap Amerika. Jurnal CSIS Vol. 26 No. 1. BBC. (2011, 5 11). Operasi Penyergapan Osama. Retrieved 4 25, 2016, from

www.bbc.co.uk:

http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/05/110503_osa maraidexplained.shtml

BNPT. (n.d.). Sejarah Penanggulangan Terorisme. Retrieved 4 25, 2016, from

Damailah Indonesiaku:

https://damailahindonesiaku.com/terorisme/sejarah-terorisme/

DeYoung, K. (2001, 10 16). Allies are Cautious on 'Bush Doctrine'. The Washington Post, p. A01.

Gita, I. G. (2012). Analisis Smart Power dalam Strategi Militer Amerika Serikat Melawan Al-Qaeda. Jakarta: Universitas Indonesia.

Golose, P. R. (2009). Deradikalisasi Terorisme: Humanis, Soul Approach, dan Menyentuh Akar Rumput. Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Kepolisian.

Ikenberry, G. J. (2007). America's Imperial Ambitions. New York: W.W Norton and Compagny.

Jones, S. (2012, 1 9). TNI and Counter Terrorism: Not A Good Mix. Retrieved 4 25, 2016, from Crisis Group: Sekuritisasi terorisme perbandingan kebijakan amerika serikat terhadap terorisme pada masa pemerintahan george w bush dan barack h obama tahun 2001

Muradi (Performer). (2012, 8 26). Fokus Penanggulangan Terorisme di Indonesia. Fakultas Keamanan Nasional Universitas Indonesia, Jakarta.

(17)

Soetardi, E. (2008). Kebijakan Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme dengan Hukum Pidana. Jurnal Universitas Diponegoro.

Swarson. (2003). America Unbound: the Bush Revolution in Foreign Policy. Washington: Brookings Institution Press.

Swarson. (n.d.). America Unbound: the Bush Revolution in Foreign Policy. Washington: Brookings Institution Press.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengetahuan zakat, motivasi dan sosial ekonomi terhadap kesediaan dosen Universitas Tridinanti Palembang (UTP) dalam

Berdasarkan uraian tersebut maka dalam penelitian ini akan dilakukan pemodelan regresi nonparametrik birespon polinomial lokal untuk memodelkan pengaruh tingkat suku bunga

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh. Gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas

siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR), untuk mengetahui pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang

Oleh yang demikian, kajian ini dijalankan bertujuan untuk menjelaskan konsep bandar selamat yang telah dilaksanakan serta keberkesanannya dalam mengurangkan perasaan tidak selamat

EFEK LARVISIDA EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI ( Ocimum sanctum Linn) TERHADAP LARVA INSTAR III Aedes aegypti.. Kartika F.D 1 , ,VWL¶DQDK S 2

Menandatangani perjanjian dan pernyataan penanggungan hutang yang antara lain memuat kesediaan untuk menanggung hutang debitur serta melepas hak- hak istimewa dan hak

Sementara untuk kinerja keuangan berdasarkan tingkat efektivitas dapat diketahui bahwa antara target atau anggaran Pendapatan Asli Daerah sudah banyak yang