• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KUANTITATIF DAN

KUALITATIF

METODE PENELITIAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017

(2)

PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

A.

Pendahuluan

Penyelesaian masalah penelitian pada tahap awal ditentukan paradigma dari peneliti. Paradigma merupakan suatu cara pandang, cara memahami, cara menginterpretasi, suatu kerangka berfikir, dasar keyakinan yang memberikan arahan pada tindakan. Dalam penyelesaian masalah, peneliti diharuskan melihat dari sudut pandang yang mampu dilakukan oleh peneliti tersebut.

Penelitian ilmiah merupakan proses sistematis yang dilakukan dengan urutan dan prosedur tertentu yang bersifat tetap dan benar. Peneliti mengumpulkan data dan menganalisa dari awal penemuan permasalahan dan berlanjut kepada tahap-tahap berikutnya misalnya tahap perumusan masalah, telaah teoretis, verifikasi data, dan kesimpulan.

Kerlinger dan Lee (2010:14) menyatakan bahwa “Scientific research is systematic, controlled, empirical, amoral, public, and critical investigation of natural phenomena. It is guided by theory and hypotheses about the presumed relations among such phenomena.” Definisi lainnya dikemukakan oleh Sekaran dan Bougie (2010:3) sebagai berikut: . . . “an organized, systematic, data-based, critical, objective, scientific inquiry or investigation into a specific problem, undertaken with the purpose of finding answers or solutions to it.

Dasar berfikir positivistik dalam upaya mencari kebenaran dilandaskan pada besar kecilnya frekuensi kejadian atau variasi obyek. Suatu penelitian dipandang obyektif, bila siapapun dengan prosedur kerja yang sama menghasilkan kesimpulan penelitian yang sama. Reliabilitas dapat dibedakan menjadi dua: keajegan internal dan stabilitas antar kelompok. Dengan belah dua random atau dengan pengulangan pengukuran antar waktu kita menguji keajegan internal atau consistency; sedangkan dengan memperbandingkan frekeunsi atau variansi antar kelompok kita menguji stabilitas antar kelompok atau stability. Consistency dan stability adalah ragam prosedur untuk menguji reliabilitas. Validitas adalah kebenaran. Kebenaran bagi positivisme diukur berdasar besarnya frekuensi kejadian atau berdasar berartinya (significancy) variansi obyeknya.

Dalam penelitian kualitatif kebenaran tidak diukur berdasar frekuensi dan variansi, melainkan dilandaskan pada diketemukan hal yang esensial, hal yang intrinsik benar; Untuk mengejar kebenaran positivisme mengejar lewat populasi yang luas serta sampel yang representatif, sedangkan penelitian kualitatif mengejar kebenaran lewat diketemukan sumber terpercaya sehingga hal yang hakiki, yang intrinsik, yang esensial dapat diketemukan. (Noeng Muhadjir, 2000)

B.

Pengertian Paradigma

Paradigma (Paradigm) sering juga disebut perspektif (cara pandang) atau worldview (pandangan dunia) ataupun school of tought (aliran pemikiran, mazhab). Paradigma itu sendiri dapat didefinisikan sebagai ―satu set proposisi yang menjelaskan bagaimana dunia dipahami, cara menyederhanakan kompleksitas dunia nyata, memberitahu peneliti dan para ilmuwan secara umum tentang apa yang dianggap penting, sah dan rasional. (Sarantakos, 1993).

(3)

ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

Para peneliti keilmuan akuntansi secara umum memiliki dua perspektif yang dapat dijadikan acuan dalam penelitiannya. Yaitu dari sisi kuantitatif dan sisi kualitatif. Namun kedua perspektif tersebut masih sangat luas penjabarannya. Sehingga apabila tidak diklasifikasikan, akan mempersulit dalam penggunaannya. Pada pembahasan ini, penulis merujuk pada buku yang dibuat oleh Burrell dan Morgan (1979) yang berjudul Sociological Paradigm and Oraganizational Analysis. Dalam bukunya Burrel dan Morgan membuat pemetaan perkembangan pemikiran akuntansi. Selain itu juga melibatkan karya penulis lain seperti Chua (1986), Roslender (1992), Sarantakos (1993) dan ilmu sosial secara umum.

Klasifikasi paradigma tersebut sebenarnya merupakan pemikiran-pemikiran teori organisasi yang diturunkan dari teori sosiologi. Yaitu; (1) The Functionalist Paradigm, (2) Interpretive Paradigm, (3) Radical Humanist Paradigm, dan (4) Radical Structuralist Paradigm. Masing-masing paradigma memiliki karakter sendiri-sendiri yang dapat dibedakan secara nyata. Dari paradigma tersebut kemudian munurut Chua (1986) dalam bukunya yang berjudul Radical Development in Accounting Thought memodifikasi dalam tiga paradigma, yaitu; (1) The Functionalist Paradigm (Mainstream atau Positivist Perspective), (2) The Interpretive Paradigm, dan (3) The Critical Paradigm. Pada perkembangannya, yang paling dominan menjadi dasar paradigma penelitian adalah Functionalist atau Positivist Paradigm. Pengaruh yang ditimbulkannya sangat dominan dan berkembang begitu pesat, sehingga cenderung menjadi arus utama (Mainstream). Sehingga akhirnya paradigma ini dinamakan paradigma arus utama (Mainstream Paradigm).

Sedikit berbeda dengan Burrell dan Morgan, Sarantakos (1993) cenderung mengikuti penggolongan yang dibuat oleh Chua (1986) dengan mengklasifikasikan paradigma menjadi tiga, yaitu ; (1) Positivist Paradigm, (2) Interpretivist Paradigm, dan(3) Critical Paradigm. Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

(4)

Gambar: Matrik Empat Paradigma (Burrel & Morgan, 1979)

(1) Paradigma Fungsionalis / Positivisme (Functionalist Paradigm)

Paradigma fungsionalis dicirikan oleh pandangan objektivis dari dunia organisasi dengan orientasi terhadap stabilitas atau pemeliharaan status quo; Cara pandang functionalist paradigm pada aspek ontologi, banyak dipengaruhi oleh physical realism yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang objektif, berdiri secara independen diluar ―diri manusia (Burrell dan‖ Morgan, 1979 ; Chua, 1986).

(2) Paradigma Interpretivisme (Interpretive Paradigm)

Paradigma interpretif dicirikan oleh pandangan subjektivisme, juga dengan perhatian yang jelas terhadap peraturan, atau setidaknya kurangnya perhatian dengan perubahan status quo. Paradigm ini diturunkan dari Germanic Philosopycal Interest yang menekankan pada peranan bahasa, interpretasi, dan pemahaman (Chua, 1969). Paradigma ini lebih mengutamakan pada makna atau interpretasi seseorang terhadap sebuah simbol. Menurut Burrell dan Morgan (1979), paradigma ini menggunakan cara pandang nominalis yang didasari oleh paham nominalism. Paham ini melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang berupa label, nama atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas. Pandangan nominalism menganggap bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu yang nyata. Nama-nama hanya dianggap sebagai kreasi artifisial yang kegunaannya tergantung pada kecocokannya dalam mendeskripsikan, mengartikan, dan menegosiasi sesuatu (Burrell dan Morgan, 1979).

Manusia memiliki subjektivitas yang secara sadar atau tidak akan mempengaruhi proses konstruksi ilmu pengetahuan. Jika subjektivitas tersebut menyatu dalam proses, maka dengan sendirinya ilmu pengetahuan tersebut akan sarat dengan nilai-nilai humanisme. Penamaan sesuatu atau sesuatu yang diciptakan oleh manusia merupakan produk dari pikiran yang berupa ide, konsep, gagasan dan sebagainya. Sehingga realitas sosial bukan sesuatu yang berada di luar manusia, (not “out there‟), melainkan sesuatu yang sudah inherent dalam pikiran manusia (Sarantakos, 1993). Artinya, realitas sosial adalah kenyataan yang dialami secara internal, dibangun melalui interaksi sosial dan diinterpretasi oleh manusia sebagai pihak yang aktif membangun realitas tersebut. Dengan demikian, realitas sosial bersifat subjektif, tidak objektif sebagaimana yang dialami oleh paradigma positivisme.

(5)

dari lingkungannya dan dengan subjektivitas praktisi akuntansi dan masyarakat bisnis.

Kondisi tersebut sesuai dengan metode inductive approach yang digunakan oleh interpretive paradigm. Metode tersebut menjelaskan dari sesuatu yang khusus ke yang umum atau dari sesuatu yang kongkret ke yang abstrak (Sarantakos, 1993). Maksud dan tunjuan inductive approach tersebut tidak bisa diartikan mencari generalisasi, namun sebagai sebuah bentuk pemahaman dari sesuatu yang empirik dan khusus menjadi pemahaman yang lebih abstrak melalui proses penafsiran (interpret). Proses penafsiran tidak sekedar menggunakan indera, tetapi yang lebih penting adalah pemahaman makna dan interpretasinya (Sarantakos, 1993) atas realitas sosial yang dikaji.

(3) Radical Humanist Paradigm

Paradigma humanis radikal juga ditandai oleh pandangan yang lebih subjektif, namun dengan orientasi ideologis terhadap realitas konstruktif yang berubah secara radikal;

(4) Radical Structuralist Paradigm.

Paradigma strukturalis radikal ditandai oleh sikap objektivis, dengan perhatian ideologis terhadap perubahan radikal dari kenyataan struktural.

Studi modern tentang organisasi terutama didorong oleh variasi sains sosial dari model sains alami (bandingkan Audet, Landry, & Dery, 1986; Behling, 1980). Akibatnya, perdebatan tentang pengembangan teori dan kontribusi terhadap teori telah dibatasi, sebagian besar, berada dalam batas-batas paradigma fungsionalis. Ilmu organisasi telah dipandu secara dominan oleh asumsi bahwa sifat organisasi pada dasarnya adalah tujuan yang "di luar sana" yang menunggu dilakukannya eksplorasi dan penemuan yang tidak memihak. Oleh karena itu, kita cenderung untuk beroperasi dengan menggunakan pendekatan deduktif untuk membangun teori, menetapkan hipotesis yang dianggap sesuai untuk dunia organisasi dan mengujinya terhadap data yang didorong hipotesis melalui analisis statistik. Sebuah sumbangan matriks paradigma Burrell dan Morgan yang menggambarkan dominasi relatif fungsionalisme dalam studi organisasi. (Gioia Pitre, 1990)

Asumsi-asumsi dari para ahli fungsional, bagaimanapun, menjadi problematis ketika pandangan subyektif mengenai paham sosial dan organisasi diadopsi atau bila ada kekhawatiran akan perubahan transformasional. Tiba-tiba, adanya "fakta" sosial dan asumsi stabilitas dipertanyakan. Studi tentang phe nomena seperti pembuatan rasa, yang berarti konstruksi, kekuatan, dan konflik menjadi sangat canggung untuk ditangani dengan menggunakan kerangka objektivis yang tidak dapat diubah. Apa yang "di luar sana" menjadi sangat terkait dengan interpretasi yang dibuat "di sini" (internal bagi anggota organisasi yang sedang dipelajari dan para peneliti yang melakukan penelitian). Demikian juga, ketika seseorang mengadopsi nilai untuk menantang status quo, asumsi stabilitas implisit juga menjadi tidak tepat. Apa yang stabil menjadi target perubahan.

(6)

Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi. Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas. Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan. Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan; (1) apa yang harus dipelajari; (2) persoalan-persoalan apa yang harus dijawab; (3) bagaimana metode untuk menjawabnya; dan (4) aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

C.

Paradigma Penelitian Ilmu-ilmu Sosial

Menurut Kuhn, perkembangan ilmu tidak selalu berjalan linear, karena itu tidak benar kalau dikatakan perkembangan ilmu itu bersifat kumulatif. Penolakan Kuhn didasarkan pada hasil analisisnya terhadap perkembangan ilmu itu sendiri yang ternyata sangat berkait dengan dominasi paradigma keilmuan yang muncul pada periode tertentu. Bahkan bisa terjadi dalam satu waktu, beberapa metode pengetahuan berkembang bersamaan dan masing-masing mengembangkan disiplin keilmuan yang sama dengan paradigma yang berlainan. Perbedaan paradigma dalam mengembangkan pengetahuan, menurut Kuhn, akan melahirkan pengetahuan yang berbeda pula. Sebab bila cara berpikir (mode of thought) para ilmuwan berbeda satu sama lain dalam menangkap suatu realitas, maka dengan sendirinya pemahaman mereka tentang realitas itu juga menjadi beragam. Konsekwensi terjauh dari perbedaan mode of thought ini adalah munculnya keragaman skema konseptual pengembangan pengetahuan yang kemudian berakibat pula pada keragaman teori-teori yang dihasilkan.

Mengacu pada Kuhn, dapat dikatakan bahwa paradigma ilmu itu amat beragam. Keragaman paradigma ini pada dasarnya adalah akibat dari perkembangan pemikiran filsafat yang berbeda-beda sejak zaman Yunani. Sebab sudah dapat dipastikan, bahwa pengetahuan yang didasarkan pada filsafat Rasionalisme akan berbeda dengan yang didasarkan Empirisme, dan berbeda dengan Positivisme, Marxisme dan seterusnya, karena masing-masing aliran filsafat tersebut memiliki cara pandang sendiri tentang hakikat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang kebenaran. Menurut Ritzer (1980), perbedaan aliran filsafat yang dijadikan dasar berpikir oleh para ilmuwan akan berakibat pada perbedaan paradigma yang dianut. Paling tidak terdapat tiga alasan untuk mendukung asumsi ini; (1) pandangan filsafat yang menjadi dasar ilmuwan untuk menentukan tentang hakikat apa yang harus dipelajari sudah berbeda; (2) pandangan filsafat yang berbeda akan menghasilkan obyek yang berbeda; dan (3) karena obyek berbeda, maka metode yang digunakan juga berbeda.

Perbedaan paradigma yang dianut para ilmuan ternyata tidak hanya berakibat pada perbedaan skema konseptual penelitian, melainkan juga pada perbedaan produk pengetahuan. Perbedaan dimaksud dapat terlihat terutama pada tiga level yaitu pada; penjernihan epistemologi, level “middle range” teori, khususnya dalam menguraikan pengetahuan ke dalam kerangka kerja teoritis; dan tingkat metode dan teknik.

Hampir semua disiplin ilmu menghadapi persoalan keragaman paradigma, terlebih lagi bidang ilmu-ilmu sosial. Sosiologi, misalnya, dapat didekati dari berbagai macam paradigma (multi paradigma). Dalam Sosiologi dikenal sejumlah paradigma sosiologi yang cukup dominan, antara lain Paradigma Fakta Sosial, Paradigma Definisi Sosial, dan Paradigma Perilaku Sosial. Keragaman paradigma ini sudah jelas memunculkan sejumlah pendekatan yang berlainan terhadap suatu obyek, baik dalam mendefinisikan hakikat obyek itu sendiri, maupun dalam cara menganalisisnya yang hasilnya sudah dapat dipastikan akan berbeda antara satu sama lain.

D.

Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

(7)

perspektif dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Positivisme menjadi dasar untuk penelitian kuantitatif sedangkan interpretivisme menjadi dasar untuk penelitian kualitatif.

Menurut positivisme, obyek pengetahuan ilmiah harus empiris, keberadaannya harus langsung, misalnya, diukur melalui tes psikologi sehingga inteligensi itu dapat direpresentasikan dalam bentuk data numerik. Jadi, obyek material ilmu pengetahuan harus dapat diukur sedemikian sehingga berbentuk atau direduksi menjadi data kuantitatif.

Dalam konteks ini, istilah “positivisme” didasarkan pada pengalaman, nyata, meyakinkan, empiris, bukan spekulatif. Terkait dengan ciri positivisme, obyek material dalam pengetahuan ilmiah lazim disebut sebagai variabel, bukan gejala seperti pada interpretivisme. Itu berarti bahwa obyek material ilmu pengetahuan harus dapat diukur secara obyektif.

Istilah “interpretivisme” berkaitan dengan interpretasi, pemberian makna atas pengalaman orang. Menurut interpretivisme, obyek material ilmu-ilmu sosial tidak dapat direduksi menjadi data kuantitatif. Alasannya adalah bahwa perilaku manusia, sebagai obyek materialnya, tidak dapat diperlakukan sebagai benda fisik. Manusia memiliki perasaan dan berpikir reflektif sehingga hakikat atau keberadaan perilakunya tidak dapat direduksi, tidak dapat diukur secara obyektif. Untuk memahami, bukan untuk mengetahui, perilaku seseorang, kita harus mengeksplorasi dan mengidentifikasi makna yang melatari perilaku itu. Misalnya, variabel usia dalam penelitian kuantitatif lazim diukur dalam bentuk usia kalender. Menurut interpretivisme, usia yang sama dapat memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda sehingga perilaku tiap orang dapat menjadi berbeda terkait dengan usia yang sama itu. Bagi orang-orang yang segera akan pensiun, misalnya, usianya dapat dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Mungkin ada orang yang memaknainya sebagai suatu berkah karena ia akan memiliki banyak waktu mengunjungi anak, menantu, cucu maupun tempat-tempat wisata yang selama ini tidak dapat dikunjunginya. Sebaliknya, orang lain mungkin memaknainya sebagai memperoleh hakikat dari obyek material itu. Dalam psikologi maupun penelitian dikenal juga istilah halo effect, yakni kesan pertama kita terhadap seseorang akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita selanjutnya terhadap orang itu, terlepas dari apakah pengaruhnya tergolong besar atau kecil. Hal itu manusiawi.

(8)

Berkait dengan proposisi di atas, penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar. Penelitian kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926).

1. Paradigma kuantitatif:

Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).

Neuman (2003) dan Smith (1983), misalnya, menyamakan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan positivis, sedangkan pendekatan kualitatif disamakan dengan pendekatan interpretif. Setiap pendekatan memiliki asumsi dasar yang berbeda. Asumsi dasar inilah yang kemudian memengaruhi perbedaan cara pandang peneliti terhadap sebuah fenomena dan juga proses penelitian secara keseluruhan. Asumsi yang dimaksud adalah ontologi, epistemologi, hakikat dasar manusia, serta aksiologi.

a) Ontologi

Ontologi merupakan representasi pengetahuan formal dengan seperangkat konsep dalam suatu gejala dan hubungan antara konsep-konsep yang ada dalam gejala tersebut (Gruber, 1993). Ontologi juga digunakan untuk menjelaskan sifat dari gejala tersebut. Dalam ilmu sosial, gejala yang dimaksud adalah gejala sosial yang dilihat sebagai sesuatu yang nyata.

Dalam dunia yang sebenarnya, pasti tidak akan pernah ditemukan wujud buah semangka berdaun sirih. Pohon sirih hanya akan menghasilkan buah sirih, sedangkan buah semangka hanya berasal dari pohon semangka.

Orang yang menggunakan pendekatan kuantitatif akan melihat bahwa gejala sosial adalah gejala yang nyata. Jadi, jika seseorang kehilangan uang karena isu tuyul, ini bukan dianggap sebagai sebuah gejala sosial karena sukar untuk dilihat dengan mata kepala. Akan tetapi, jika nantinya dapat ditemukan suatu alat yang dapat melihat langsung tuyul dan banyak orang menyaksikan keberadaan tuyul sedang mengambil uang, itu akan menjadi suatu gejala yang dianggap nyata.

b) Epistemologi

Epistemologi merupakan studi tentang pengetahuan dan pembenaran. Sebagai studi tentang pengetahuan, epistemologi berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan: apa syarat perlu dan cukup dari pengetahuan? Apa sumber-sumber pengetahuan? Apa struktur dan batas-batasnya? Sebagai studi tentang pembenaran, epistemologi bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana kita memahami konsep pembenaran? Apa yang membuat keyakinan dibenarkan, sedangkan yang lain tidak dibenarkan? Dalam kaitannya dengan penelitian, epistemologi berbicara mengenai hakikat ilmu pengetahuan seperti yang telah diuraikan pada kalimat awal paragraf ini. Jika dihubungkan dengan ontologi, pengetahuan yang dimaksud terkait dengan gejala yang nyata. Segala sesuatu yang dapat dipelajari oleh ilmu pengetahuan adalah sebuah objek.

Dalam epistemologi, terdapat tiga asumsi dasar yang dijelaskan berikut ini. (1) Kaitan antara Ilmu dan Nilai

(9)

orang-orang tersebut. Nilai yang ia bawa dan gunakan adalah nilai-nilai yang sifatnya universal. Ketika pada suatu pagi kita yang tinggal di Jakarta mengalami kemacetan, kita akan mengeluh mengapa macet. Kemudian, kita mengambil kesimpulan bahwa kemacetan terjadi karena hari pertama kerja dari libur panjang. Padahal, Jakarta sudah sejak lama mengalami kemacetan karena jumlah kendaraan yang semakin banyak dan tidak adanya moda transportasi massal yang memadai. Kalau tidak ingin macet, pergilah di luar jam kerja, misalnya pukul 04.00 pagi atau saat hari libur Lebaran. Jadi, keluhan kita tentang macet tidak akan pernah ada karena selalu diukur dari nilai yang berlaku secara umum. (2) Kaitan antara Ilmu dan Akal Sehat

Ilmu pengetahuan adalah cara terbaik yang dimiliki manusia. Segala sesuatu yang diperoleh dengan menggunakan cara yang ilmiah atau yang kita kenal sebagai ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang lebih baik dibandingkan akal sehat belaka. Misalnya, kita ingin mendapatkan keuntungan yang besar dalam berusaha. Menurut Hermawan Kertajaya— pakar pemasaran Indonesia—hal itu dapat melalui MOST (Marketing Oriented Selling Techniques). MOST adalah ilmu pengelolaan sumber daya penjualan dengan menyinergikan pola pikir pemasaran yang berciri strategiclong term dengan pola pikir penjualan yang tactical-short term. Intinya, jangan hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi harus dipikirkan strategi pemasaran jangka panjangnya, misalnya dengan melakukan pemasaran dengan cara-cara yang unik.

(3) Metodologi

Pola-pola yang universal dan berlaku ketat digunakan dalam pendekatan kuantitatif. Pola yang digunakan adalah baku dan bersifat linier. Setelah tahap pertama, baru masuk ke tahap kedua, sesudah tahap kedua baru masuk tahap ketiga, dan seterusnya. Proses yang dilakukan adalah sebuah proses deduktif yang mengandung pengertian berangkat dari sebuah konsep yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus. Artinya, peneliti memulai dari generalisasi yang sudah ada (teori) untuk melihat sesuatu yang khusus (kasus).

Salah satu dasar dalam pendekatan ini adalah nomotetik. Nomotetik merupakan pemikiran Immanuel Kant untuk menggambarkan kecenderungan menggeneralisasi suatu keadaan. Istilah ini selalu dipertentangkan dengan idiografik yang menggambarkan usaha untuk mengetahui atau memahami sesuatu secara spesifik. Dalam ilmu sosial, nomotetik melahirkan kecenderungan untuk melihat terjadinya suatu gejala karena adanya atau disebabkan oleh gejala lain dan mengabaikan berbagai gejala lainnya. Misalnya, kemacetan terjadi karena adanya kecelakaan. Padahal, penyebab kemacetan itu beragam, seperti ada mobil mogok, banjir, dan sebagainya.

c) Hakikat Dasar Manusia

Pada hakikatnya, manusia diatur dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Sejak kecil, seorang anak akan dipengaruhi pandangan orang tua atau gurunya. Seorang anak kecil, ketika diminta menggambar pemandangan, akan diarahkan menggambar gunung, pohon, sawah, matahari, dan awan oleh orang tua atau gurunya. Pandangan seperti ini tentu saja berpengaruh terhadap pola pikir anak bahwa yang namanya pemandangan harus terkait dengan gunung, pohon, sawah, matahari, dan awan. Bagaimana jika si anak ingin menggambar pemandangan yang hanya mencakup pot dan bunga yang ada di rumahnya. Orang tua atau guru akan memarahi si anak. Anak tidak boleh mengungkapkan kreativitasnya karena bertentangan dengan pemahaman orang tua dan guru.

d) Aksiologi

(10)

penelitian, pendekatan kuantitatif didasarkan pada nilai. Tujuan melakukan penelitian adalah menjelaskan sebuah gejala dan menemukan sebuah hukum yang universal. Pendekatan ini mencari penjelasan mengapa sebuah peristiwa terjadi dengan memakai pola-pola yang sudah ada. Jika pola yang sudah ada tidak dapat dipakai untuk menjelaskan kejadian yang ada, dicari pola baru yang lebih universal sehingga dapat digunakan untuk menerangkan kejadian tersebut.

Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason

). Secara epistemologis, dalam penelitian

kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.

Bagaimana pandangan penganut kuantitatif tentang fakta? Dalam penelitian kuantitatif diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar ontologisnya dalam melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi dimaksud adalah; (1) obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya; (2) suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu; dan (3) suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jadi diyakini adanya determinisme atau proses sebab-akibat (causalitas). Dalam kaitannya dengan poin terakhir, lebih jauh Russel Keat & John Urry, seperti dikutip oleh Tomagola, mengemukakan bahwa setiap individual event/case tidak mempunyai eksistensi sendiri yang lepas terpisah dari kendali empirical regularities. Tiap individual event/case hanyalah manifestasi atau contoh dari adanya suatu empirical regularities.

Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis, pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus; logico, hypothetico, verifikatif.

Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya, cukup banyak, karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis.

(11)

penelitian kuantitaif dari dua aspek penting, yaitu: bahwa penelitian kuantitatif menggunakan enumerative induction dan cenderung membuat generalisasi (generalization) [12]. Penekanan analisis data dari pendekatan enumerative induction adalah perhitungan secara kuantitatif, mulai dari frekuensi sampai analisa statistik. Selanjutnya pada dasarnya generalisasi adalah pemberlakuan hasil temuan dari sampel terhadap semua populasi, tetapi karena dalam paradigma kuantitatif terdapat asumsi mengenai adanya “keserupaan” antara obyek-obyek tertentu, maka generalisasi juga dapat didefinisikan sebagai universalisasi.

2.

Paradigma Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.

Sementara itu Noeng Muhadjir (1994:12) mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar brlakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih berkembang dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Banda Aceh pada tahun 1970-an), ethnometodologi lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang antara lain oleh Bogdan, interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan penelitian kuantitatif.

Secara lebih rinci Patton (1990:88) mengemukakan penamaan macam-macam penelitian kualitatif (Qualitative inquiry) berdasarkan tradisi teoritisnya yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 2.

Variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions

No

Perspektif

Akar Ilmu

Pertanyaan Utama

1 Ethnography Anthropology Apa kebudayaan masyarakat ini?

2 Phenomenology Philosophy Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut? 3 Heuristics Psikologi Humanistik

Apa pengalaman saya mengenai gejala-gejala ini dan apa pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara intens?

(12)

dengan cara yang dapat diterima secara sosial?

5 Symbolic interactionism Psikologi sosial Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat?

6 Echological Psychology Psikologi lingkungan Bagaimana orang-orang mencapai tujuan mereka melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu? 7 System theory Interdisipliner Bagaimana dan kenapa sistem ini berfungsi secara keseluruhan? 8 Chaos theory: non -linier dynamics Fisika teoritis: ilmu-ilmualam Apa yang mendasari keteraturan gejala-gejala yang tak teratur jika ada? 9 Hermeneutics Teologi, filsafat, kritiksastra Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang

memungkinkan penafsiran makna? 10 Orientaional, qualitative Ideologi, ekonomi politik Bagimana perspektif ideologi seseorang berujud dalam suatu gejala?

Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya istilah penelitian kualitatif telah menjadi istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai metodologi penelitian kualitatif.

Oleh karena itu dalam wacana metodologi penelitian, umumnya diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun dalam tataran praktis pelaksanaan penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis, namun secara esensial keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis yang sangat berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis). Untuk lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut.

1. Positivisme

Positivisme merupakan aliran filsafat yang dinisbahkan/bersumber dari pemikiran Auguste Comte seorang folosof yang lahir di Montpellier Perancis pada tahun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain dari folosof inggris John Stuart Mill (juga seorang akhli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif).

(13)

Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.

Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan tahapan-tahapan seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir).

Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika.

2. Fenomenologi

Edmund Husserl adalah filosof yang mengmbangkan metode Fenomenologi, dia lahir di Prostejov Cekoslowakia dan mengajar di berbagai Universitas besar Eropa, meninggal pada tahun 1938 di Freiburg. Hasil pemikirannya dapat diselamatkan dari kaum Nazi, dengan membawa seluruh buku dan tulisannya ke Universitas Leuven Belgia, sehingga kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut oleh murid-muridnya. Diantara tulisan-tulisan pentangnya adalah: Logische Untersuchungen (Penyelidikan-penyelidikan Logis) dan Ideen zu einer reinen Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie (gagasan-gagasan untuk suatu fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi)

(14)

antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran.

Kesadaran merupakan sesuatu yang bersifat intensionalitas (bertujuan), artinya kesadaran tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya kesadaran timbul perlu diandaikan tiga hal yaitu: ada subyek, ada obyek, dan subyek yang terbuka terhadap obyek-obyek. Kesadaran tidak bersifat pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu, kesadaran merupakan suatu tindakan, terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dan obyek kesadaran, namun yang ada hanyalah kesadaran sedang obyek kesadaran pada dasarnya diciptakan oleh kesadaran.

Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpandapat bahwa untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchauyaitu: Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin

3. Perbandingan tataran Filosofis

Kedua aliran filsafat tersebut terus berkembang dengan dukungan pengikut-pengikutnya, yang dalam wacana metodologi penelitian telah mendorong lahirnya paradigma penelitian kuantitatif (positivisme) dan paradigma penelitian kualitatif (fenomenologi). Kedua paradigma pendekatan penelitian tersebut nampak sekali mempunyai asumsi/aksioma dasar filosofis dan paradigma berbeda yang menurut Lincoln dan Guba perbedaan tersebut terletak dalam asumsi/aksioma tentang kenyataan, hubungan pencari tahu dengan tahu (yang diketahui), generalisasi, kausalitas, dan masalah nilai. untuk lebih rincinya dapat dilihat dalam tabel berikut. Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah untuk dipelajari/dipahami secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya, sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh, oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk yang terfragmentasi.

Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan Fenomenologis subyek dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai gejala. Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi penelitian itu terikat oleh nilai sehinggan hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai konteks.

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan perbandingan antara paradigma positivisme dan paradigma alamiah (fenomenologi) dengan mengacu pada pendapat Lincoln dan Guba, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.

Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah

No. Aksioma Tentang Paradigma Positivisme Paradigma Naturalistik/Kualitatif

1 Hakikat kenyatan Kenyataan adalah tunggal,

(15)

2 Hubungan pencari

Generalisasi Generalisasi atas dasar waktu dan bebas-konteks (pernyataan 5 Peranan nilai Inkuirinya bebas nilai Inkuirinya terikat nilai

(Sumber : Lexy J. Moleong : 2000 : 31)

4. Perbandingan tataran Metodologis

Memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan dalam tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif. Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut :

Tabel 4.

Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif

No.

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

1 Menggunakan hipotesis yang ditentukan sejakawal penelitian Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian 2 Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal Definisi sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung 3 Reduksi data menjadi angka-angka Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan 4 Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan 5 Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan

statistik

Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi

6 Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci) Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif 7 sampling random Sampling purposive

(16)

bagian untuk dianalisis perspektif keseluruhan 12 Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks

Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya

(diadaptasi dari Jack R. Fraenkel & Norman E. Wallen. 1993: 380)

Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemukan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku.

Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya, serta tidak dapat disederhanakan ke dalam hukum-hukum tunggal yang deterministik dan bebas konteks.

Dalam Interaksionisme simbolis, sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif, lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai obyek studi. Di sini ditekankankan perspektif pandangan sosio-psikologis, yang sasaran utamanya adalah pada individu ‘dengan kepribadian diri pribadi’ dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya.

Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.

Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.

Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma kualitatif menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan frekuensi). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk deskripsi, yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Sedangkan ekstrapolasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya, kemudian –dari proses analisis itu--dirumuskan suatu pernyataan teoritis.

E.

Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif

Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut di atas, dapat dicatat berbagai perbedaan paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Seperti dikemukakan sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal:

(17)

1. Positivistik

2. Deduktif-Hipotetis 3. Partikularistik 4. Obyektif

5. Berorientasi kepada hasil

6. Menggunakan pandangan ilmu pengetahuan alam

Kualitatif

1. Fenomenologik 2. Induktif

3. Holistik 4. Subyektif

5. Berorientasi kepada proses

6. Menggunakan pandangan ilmu sosial/antropological

Lebih lanjut perbedaan paradigma kedua jenis penelitian ini dapat dielaborasi sebagai berikut:

Paradigma Kuantitatif

1. Cenderung menggunakan metode kuantitatif, dalam pengumpulan dan analisa data, termasuk dalam penarikan sampel.

2. Lebih menenkankan pada proses berpikir positivisme-logis, yaitu suatu cara berpikir yang ingin menemukan fakta atau sebab dari sesuatu kejadian dengan mengesampingkan keadaan subyektif dari individu di dalamnya.

3. Peneliti cenderung ingin menegakkan obyektifitas yang tinggi, sehingga dalam pendekatannya menggunakan pengaturan-pengaturan secara ketat (obstrusive) dan berusaha mengendalikan stuasi (controlled).

4. Peneliti berusaha menjaga jarak dari situasi yang diteliti, sehingga peneliti tetap berposisi sebagai orang “luar” dari obyek penelitiannya.

5. Bertujuan untuk menguji suatu teori/pendapat untuk mendapatkan kesimpulan umum (generasilisasi) dari sampel yang ditetapkan.

6. Berorientasi pada hasil, yang berarti juga kegiatan pengumpulan data lebih dipercayakan pada intrumen (termasuk pengumpul data lapangan).

7. Keriteria data/informasi lebih ditekankan pada segi realibilitas dan biasanya cenderung mengambil data konkrit (hard fact).

8. Walaupun data diambil dari wakil populasi (sampel), namun selalu ditekankan pada pembuatan generalisasi.

9. Fokus yang diteliti sangat spesifik (particularistik) berupa variabel-variabel tertentu saja. Jadi tidak bersifat holistik.

Paradigma Kualitatif

1. Cenderung menggunakan metode kualitatif, baik dalam pengumpulan maupun dalam proses analisisnya.

2. Lebih mementingkan penghayat-an dan pengertian dalam menangkap gejala (fenomenologis).

3. Pendekatannya wajar, dengan menggunakan pengamatan yang bebas (tanpa pengaturan yang ketat).

(18)

5. Bertujuan untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan metode berpikir induktif. Jadi bukan untuk menguji teori atau hipotesis.

6. Berorientasi pada proses, dengan mengandalkan diri peneliti sebagai instrumen utama. Hal ini dinilai cukup penting karena dalam proses itu sendiri dapat sekaligus terjadi kegiatan analisis, dan pengambilan keputusan.

7. Keriteria data/informasi lebih menekankan pada segi validitasnya, yang tidak saja mencakup fakta konkrit saja melainkan juga informasi simbolik atau abstrak.

8. Ruang lingkup penelitian lebih dibatasi pada kasus-kasus singular, sehingga tekannya bukan pada segi generalisasinya melainkan pada segi otensitasnya.

(19)

Reference

s

Agus Salim (ed.), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001. Astley, W. G. (1985) Administrative science as socially constructed truth. Administrative Science

Quarterly, 30, 497- 513.

Astley, W. G., & Van de Ven, A. (1983) Central perspectives and debates in organization theory. Adminisfrative Science Ouarter/y, 28, 245-273.

Audet, M., Landry, M., & Dery, R. (1986) Science et resolution de probleme: Liens, difficultes et voies de depassement dans le champ des sciences de l'administration [Science and problem solving: Similarities, dissimilarities, and extensions in the field of administrative science]. Philosophy of the Sociai Sciences/Philosophie des Sciences Sociales, 16, 409-440.

Behling, O. (1980) The case for the natural science model for research in organizational behavior and organization theory. Academy of Management Review, 5, 483-490.

Benson, J. K. (1977) Organizations: A dialectical view. Administrative Science Quarterly, 22, 1-21.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966) The social construction of reality. New York: Anchor Books. Bochner, A. (1985) Perspectives on inquiry: Representation, conversation, and reflection. In M.

L. Knapp & G. R. Miller (Eds.), Handbook of interpersonal communication (pp. 27-58). Beverly Hills, CA: Sage.

Burrell, G., & Morgan, G. (1979) Sociological paradigms and organizational analysis. London: Heinemann.

Chua, Wai Fong. (1986). Radical developments in accounting thought. The Accounting Review LXI (4): 601- 32

Deetz, S. A. (1985) Critical cultural research: New sensibilities and old realities. Journal of Management, 11(2), 121- 136.

Deetz, S. A., & Kersten, A. (1983) Critical models of interpretive research. In L. L. Putnam & M. E. Pacanowsky (Eds.), Communication and organizations: An interpretive approach (pp. 147-171). Beverly Hills, CA: Sage.

Evered, R., & Louis, M. R. (1981) Alternative perspectives in the organizational sciences: "Inquiry from the inside" and "Inquiry from the outside." Academyof Management Review, 6, 385-395.

Feldman, D. C. (1976) A contingency theory of socialization. Administrative Science Quarterly, 21, 433-452.

Forester, J. (1983) Critical theory and organizational analysis. In G. Morgan (Ed.), Beyond method; Strategiesfor social research (pp. 234-246). Beverly Hills, CA: Sage.

Frost, P, (1980) Toward a radical framework for practicing organizational science. Academy of Management Review, 5, 501-507.

(20)

Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, cet. 13, bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2000

Lincoln, Yvonna S. & Guba, Egon G. (1985). Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills: Sage Publications

Holland, R. (1990) The paradigm plague: Prevention, cure, and innoculation. Human Relations, 43, 23-48.

Jermier, J. (1985) "When the sleeper wakes": A short story illustrating themes in radical organization theory. Journal of Management, 11(2), 67-80.

Jick, T. D. (1979) Mixing qualitative and quantitative methods. Administrative Science Quarterly, 24, 602-611.

Kerlinger, Fred N. (1986). Fundamentals of behavioral research. San Fransisco: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

_____ dan Lee, Howard B. (2010). Foundations of behavioral research. Australia: Wadsworth Thomson Learning.

Kirk, J. & Miller, M.I. (1986). Reability and Validity in Qualitative Research, Vol.1, Beverly Hills: Sage Publication

Kuhn, T. S. (1970) The structure of scientific revolutions. Chicago: University of Chicago Press. Layder, D. (1982) Grounded theory: A constructive critique. Journal for the Theory of Social

Behaviour, 12, 103-123.

Levi-Strauss, C. (1958) Anthropologie structurale [Structural anthropology]. Paris: Plon.

Lincoln, Y. S. (Ed.) (1985) Organizational theory and inquiry; The paradigm revolution. Beverly Hills, CA: Sage.

Malhotra, Naresh K. (1993). Marketing research. An applied orientation. New Jersey: Prentice Hall International Editions.

Mehan, H. (1978) Structuring school structure. Harvard Educational Review, 48, 32-64. Mehan, H., & Wood, H. (1975) The reality of ethnomethodology. New York: Wiley.

Meyer, J. W., & Rowan, B. (1977) Institutionalized organizations: Formal structure as myth and ceremony. American Journal of Sociology, 83, 340-363.

Mitroff, L I. (1980) Reality as a scientific strategy: Revising our concepts of science. Academy of Management Review, 5, 513-515.

Morgan, G. (1980) Paradigms, metaphors and puzzle solving in organization theory. Administrative Science Quarterly 25, 605-622.

Morgan, G., & Smircich, L. (1980) The case for qualitative research. Academy of Management Review, 5, 491-500.

Neuman, Lawrence W. (2003). Social Reseatch Methods: Qualitive and Quantitative Approanhes. Boston: Allyn & Bacon.

Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi IV, Jogjakarta, Penerbit Rake Sarasin, 2000.

(21)

Rosen, M. (1985) Breakfast at Spiro's: Dramaturgy and dominance, Journal of Management, 11(2), 31-48.

Rosenau, Pauline Marie. 1992. Post-modernism and the Social Sciences: Insights, Inroads, and Intrusions. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Sarantakos, S. (1993). Social Research. Melbourne: Macmillan Education Australia Pty., Ltd. Sekaran, Uma dan Bougie, Roger. (2010). Research methods for business. A skill building

Gambar

Tabel 2.Variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions
Tabel 3.Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah
Tabel 4.Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif

Referensi

Dokumen terkait

”Ada sedikit keseragaman (uniformity) dalam hubungannya dengan jumlah kategori jawaban, dan tidak ada keseragaman sama sekali mengenai jumlah pernyataan dalam mengukur suatu

Islamisasi ilmu pengetahuan pandangan Al-Faruqi ini haruslah mengintegrasikan konsep kebenaran yang ada pada ilmu pengetahuan yang bersumber pada akal (rasionalitas)

Kajian ontologi dalam filsafat ilmu berhubungan dengan telaah terhadap ilmu yang menyelidiki landasan suatu ilmu yang menanyakan apa asumsi ilmu terhadap objek material dan

Yang pertama adalah penelitian eksploratif yang merupakan suatu preliminary study , yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, gejala, atau realitas sosial tertentu;

Uraikan latar belakang pemilihan topik penelitian yang dilandasi oleh keingintahuan peneliti dalam mengungkapkan suatu gejala/konsep/dugaan untuk mencapai suatu

Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis 53,57% 66,67% Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep 33,33% 70,24%.. namun ada peningkatan

Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya

Metode untuk Memperoleh Pengetahuan Dalam penelitian paradigma positivis pengetahuan diperoleh secara rasional melalui penalaran dan melalui kajian empiris, sedangkan pandangan