Optimalisasi peran humas dalam menghadapi era digital
Humas Harus Siap Hadapi Era Digital Laporan sepriyono humas dari Kota Solo
Solo Tantangan Bagian Humas di era digital akan semakin berat, pasalnya personil humas harus mampu mengusai teknologi informasi dan komunikasi, oleh sebab itu pekerjaan Humas tidak bisa dianggap pekerjaan yang sepele.
"Humas juga siap menghadapi era demokrasi digital". Ujar Dirjen Kemitraan komunikasi Kemenkominfo Freddy H. Tulung saat bagian humas setda Kerinci menghadiri Bakohumas tingkat nasional di Hotel Sunan Kota solo Jawa Tengah (20/11).
Dalam menghadapi era digital tersebut, bagian humas harus mampu menguasai Multi media dan Multi Channel, sehingga pengelolaan seuai dengan Kebutuhan publik, " tindakan
komunikasi harus dirancang dengan baik agar mampu memberikan informasi yang sesuai dengan aspirasi masyarakat". tegasnya.
Dikatakannya, Profesi Humas adalah profesi yang terbuka, dan berwawasan luas yang tentu nantinya informasi yang disampaikan akan berdampak pada kehidupan masyarakat.
" Keterbukaan informasi adalah upaya untuk mewujudkan reformasi informasi yang akan membuka akses informasi secara luas". jelasnya.
Dai Juga mengakui bahwa, Sebagian besar humas belum melaksanakan fungsinya dengan baik, hal ini diakibatkan masih minimnya infrastruktur komunikasi yang dimiliki oleh humas Pemerintah daerah.
Kegiatan Humas dinilai masih belum berdaya karena kontribusi humas belum optimal, belum mampu mewujudkan image building yang positif ditengah masyarakat, selain itu, kegiatan humas juga masih bersifat parsial, monoton sehingga tidak dirasakan manfaatnya.
Ditambahkannya, untuk menghadapi hal tersebut humas harus langkah operasional yang konkrit, sehingga informasi pembagunan bisa tercapai dengan cepat dan akurat.
(http://kerincikab.go.id/baca/tulisan/1799)
Manajemen Humas Era Internet
Digital PR (Digital Public Relations) –disebut juga e-PR, Humas Online, Internet PR, atau Humas Era Digital– bisa diartikan sebagai kegiatan humas secara online dengan
memanfaatkan media internet –website, blog, media sosial, email, marketplace.
Digital PR merupakan “konsep baru” kehumasan, seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang membentuk “masyarakat digital”. Hanya dengan sentuhan jari, warga dunia kini mampu mencari dan menemukan yang mereka inginkan dan butuhkan. Hanya dengan sentuhan jari pula, praktisi humas bisa menjalankan tugasnya –membangun citra positif lembaga dengan menjangkau seluruh dunia selama 24 jam!
Era digital saat ini menuntut praktisi humas (PR Officer) yang bukan saja memiliki wawasan dan keterampilan dasar kehumasan, tapi juga yang bisa mengikuti ritme perkembangan teknologi informasi, termasuk menguasai tip dan trik blogging, media sosial,
dan menulis online (online writing).
Digitalisasi media telah mengubah bagaimana konsumen dan klien di seluruh dunia kini menghabiskan waktu mereka. Berdasarkan survei Global Web Index yang dirilis Maret 2013, rata-rata masyarakat dunia menghabiskan 57 persen waktu konsumsi medianya setiap hari untuk “berselancar” di dunia maya, unggul jauh di atas televisi (23 persen), radio (11 persen), dan media cetak (5 persen). Dari jumlah itu, hampir separuhnya (27 persen) bahkan
dihabiskan disocial media (fortunepr.com).
Website: Kantor yang Buka 24 Jam
Website atau blog resmi lembaga/perusahaan/instansi/organisasi kini menjadi kantor yang buka 24 jam setiap hari, tanpa libur! Setiap orang, kapan dan di mana pun, selama memiliki akses internet, bisa berkunjung ke “kantor maya” lembaga mana pun. Mereka pun bisa masuk ke “berbagai ruang divisi/bagian”, “ruang foto”, galeri produk, galeri jasa, bahkan –jika ada— profil dan contact person masing-masing bagian.
“Kantor Maya” itu kian “powerful” jika dilengkapi dengan “kantor cabang/perwakilan” di media sosial, terutama facebook, twitter, google plus, serta flicker (galeri foto) dan youtube (galeri video).
Media sosial penting bagi setiap perusahaan untuk membangun dan menjaga hubungan baik dengan pelanggannya, juga membangun hubungan dengan kalangan media (media
relations/press relations), termasuk menyebarkan press release (siaran pers).
direkomendasikan oleh orang yang mereka kenal. Inilah yang membuat media sosial menjadi alat yang digunakan pada era saat ini.
Digital PR Tools: Kuasai Media Online
Guna memaksimalkan kinerja, praktisi humas Digital PR “wajib” menguasai Blogging (ngeblog),Online Writing (menulis khas media online), Media Social Strategy (strategi mengelola media sosial), Search Engine Optimization (SEO), dan Social Media Monitoring (pengawasan media sosial). Tugas humas era digital akan lancar dilaksanakan jika
menguasai semua itu.
Sangat disayangkan, tampaknya masih banyak praktisi humas –terutama humas “plat merah” alias instansi pemerintah– yang belum bisa menulis, belum akrab dengan blogging, kurang menguasai strategi media sosial, dan “males” meng-update berita di websitenya tentang dinamika lembaga dan informasi publik.
Mangga… silakan cek saja website-website instansi pemerintah! Padahal, setiap lembaga pemerintah wajib menyediakan informasi berkala dan update. Menurut UU No. 14 Thn. 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), “Badan Publik berkewajiban
menyebarluaskan informasi publik disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalambahasa yang mudah dipahami.” Wasalam. (www.romeltea.com).*