• Tidak ada hasil yang ditemukan

this PDF file PENGARUH MALEIC HYDRAZIDE TERHADAP PERTUMBUHAN JUMLAH CABANG PADA KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) KULTIVAR TIGO AMPEK | Muhartati | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 1 SM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "this PDF file PENGARUH MALEIC HYDRAZIDE TERHADAP PERTUMBUHAN JUMLAH CABANG PADA KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) KULTIVAR TIGO AMPEK | Muhartati | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 1 SM"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 299

PENGARUH MALEIC HYDRAZIDE TERHADAP PERTUMBUHAN

JUMLAH CABANG PADA KACANG TANAH (

Arachis hypogaea

L.)

KULTIVAR TIGO AMPEK

Erda Muhartati

Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, 29100

Email Korespondensi: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini mengenai pengaruh maleic hydrazide terhadap pertumbuhan jumlah cabang pada kacang tanah (Arachis hypogaea L.) kultivar tigo ampek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi maleic hydrazide, waktu pemberiannya serta interaksi terhadap pertumbuhan (jumlah cabang). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dalam faktorial yaitu 18 perlakuan dengan 3 ulangan. perlakuan konsentrasi maleic hydrazide 350 ppm dengan pemberian 14 dan 14, 18, 22 hari setelah tanam jumlah cabang 2,67 dan 3,00 sedangkan kontrol 1,00. Perlakuan waktu pemberian dan interaksi (konsentrasi maleic hydrazide dan waktu pemberian) berpengaruh terhadap penurunan jumlah cabang.

Kata Kunci: Rancangan acak lengkap, konsentrasi maleic hydrazide, waktu pemberian

Pendahuluan

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu bahan pangan dan industri (Marzuki, 2009). Jumlah konsumsi kacang tanah lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi kacang jenis lainnya. Selain pertumbuhan kacang tanah relatif stabil dibanding dengan kacang jenis lainnya yang membuat kacang tanah memiliki peluang pasar yang baik bagi industri pengolahan kacang (Yuriandini, 2010).

Produksi kacang tanah di Indonesia menempati urutan kedua setelah kedelai, di antara jenis kacang-kacangan lainnya. Menurut Maesen (1993) Negara Indonesia menghasilkan 792.000 ton dari 500.000 ha. Meskipun demikian, untuk meningkatkan produksi tanaman kacang tanah masih ditemui banyak kendala, di antaranya adalah pengolahan tanah yang kurang optimal sehingga drainasenya buruk dan struktur tanahnya padat; pemeliharaan tanaman yang kurang optimal; serangan hama dan penyakit (bercak daun, karat, virus, dan layu bakteri); penanaman yang masih menggunakan kultivar yang berproduksi rendah; mutu benih yang rendah; dan kekeringan (Marzuki, 2009).

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang menghasilkan produksi kacang tanah terbesar di Indonesia, yaitu meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, D.I Yogyakarta dan Banten. Hal ini terlihat dari hasil produksi kacang tanah di pulau tersebut meningkat setiap tahunnya. Dapat diketahui bahwa hasil produksi kacang tanah lebih banyak berasal dari pulau Jawa dan hasilnya selalu meningkat pada setiap tahunnya yaitu sebesar 497.036 ton di tahun 2002 dan mencapai hasil produksi sebesar 574.714 ton pada tahun 2006. Hasil produksi kacang tanah di luar pulau Jawa pun fluktuatif setiap tahunnya, yaitu pada tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 268.305 ton dari tahun sebelumnya (2003) yang hanya mencapai 256.307 ton, akan tetapi di tahun 2005 hasil produksi turun menjadi 262.779 ton dan naik lagi di tahun 2006 yaitu mencapai 263.382 ton kacang tanah. Perbedaan hasil produksi kacang tanah ini disebabkan dari perbedaan geografis masing-masing daerah dan juga dari besarnya sumber dana yang menyebabkan suatu daerah bisa lebih berkembang dibandingkan dengan daerah lain. Selain itu dipengaruhi juga oleh tingkat pengetahuan sumber daya manusia yang menyebabkan perbedaan tingkat hasil produksi (Yuriandini, 2010).

Kacang tanah mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, bijinya merupakan sumber protein yang berkualitas tinggi, sedangkan bagian tanaman hijaunya dapat digunakan sebagai makanan ternak atau dapat digunakan sebagai pupuk hijau. Kacang tanah merupakan produk pertanian yang mudah rusak

(2)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 300 dapat bermanfaat sebagai bahan baku industri pada pengolahan pangan. Kacang tanah telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena memiliki komposisi nutrisi yang berguna bagi pemenuhan gizi masyarakat, serta dapat dijadikan sebagai bahan komplementer sumber protein. Kacang tanah mengandung kadar kalori yang cukup tinggi, akan tetapi kadar kalori yang tinggi ini tidak berbahaya bagi tubuh manusia karena kandungan lemak tak jenuhnya membantu peningkatan kadar HDL (High Density Lipoprotein atau kolesterol baik) dan menurunkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein atau kolesterol jahat), yang bisa menjadi penyumbat di pembuluh arteri). Kacang tanah dapat bermanfaat untuk mengurangi resiko terkena penyakit jantung karena kacang tanah mampu menjaga pemompa aktivitas jantung dengan teratur. Penyakit jantung terjadi akibat tingginya tingkat kolesterol darah dalam tubuh yang disebabkan oleh pola konsumsi yang kurang mengkonsumsi serat. Untuk mencegah penyakit jantung manusia harus mengkonsumsi serat sebanyak 25-30 gram perhari, dan 5 biji kacang tanah mengandung 2 gram serat atau 8 persen dari jumlah serat yang dibutuhkan perhari.

Kacang tanah dapat dikonsumsi sebagai sayur, saus, atau makanan ringan yang digoreng atau direbus. Sebagai bahan industri kacang tanah dibuat keju, sabun, dan minyak. Kacang tanah adalah polong-polongan sumber minyak goreng utama dan sumber pangan di dunia. Sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40-50%), protein (27%), karbohidrat (18%), serta vitamin (A, B, C, D, dan K) selain itu, kacang tanah mengandung bahan-bahan mineral, antara lain Ca, Cl, Fe, Mg, P, K, dan S (Marzuki, 2009).

Untuk mengatasi kendala yang ada, berbagai usaha telah banyak ditempuh. Usaha yang dilakukan antara lain perbaikan cara bercocok tanam dan penggunaan kultivar unggul (Marzuki, 2009). Beberapa kultivar unggul kacang tanah yang telah dihasilkan adalah kultivar gajah, macan, banteng, kidang, rusa, anoa, tapir, pelanduk, tupai, kelinci, jepara, landak, mahesa, badak, komodo, biawak, trenggiling, simpai, zebra, panther, singa, jerapah, sima, turangga, kancil, bima, tuban, dan bison (Suhartina, 2007). Selain itu dikenal juga kultivar lokal dari Pasaman Barat yaitu kultivar Tigo Ampek (Berita Resmi PVT, 2008). Keunggulan kultivar lokal ini adalah dapat menghasilkan 3-4 biji per polong, polong tidak mudah rontok serta tahan terhadap penyakit karat daun, sedangkan kekurangannya adalah tidak tahan terhadap penyakit layu dan penyakit bercak daun dan tidak tahan terhadap serangan Aspergilus flavus.

Tanaman kacang tanah yang sudah tersebar luas dan ditanam di Indonesia ini sebetulnya bukanlah tanaman asli, melainkan tanaman yang berasal dari benua Amerika, tepatnya dari daerah Brazilia (Amerika Selatan). Pada waktu itu di daerah tersebut sudah terdapat lebih dari 6-17 spesies

Arachis. Mula-mula kacang tanah ini dibawa dan disebarkan ke benua Eropa kemudian menyebar ke

benua Asia.

Tanaman ini diperkirakan masuk ke Indonesia antara tahun 1521-1529. Tanaman ini dibawa oleh orang-orang Spanyol yang mengadakan pelayaran dan perdagangan antara Meksiko dan kepulauan Maluku. Penanaman kacang tanah di Indonesia ini baru diberitakan pada permulaan abad ke-18 (AAK, 1989).

Kacang tanah dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe tegak (bunch type) dan tipe menjalar

(runner type) (Marzuki, 2009). Pada umumnya percabangan tanaman kacang tanah tipe tegak sedikit

banyak melurus atau hanya agak miring ke atas. Batang utama kacang tanah tipe menjalar tentu saja lebih panjang daripada batang tipe tegak. Kacang tanah tipe tegak lebih disukai karena umurnya lebih genjah, yakni antara 100-120 hari, sedangkan umur tanaman kacang tanah tipe menjalar kira-kira 150-180 hari. Disamping itu, kacang tanah tipe tegak lebih mudah dipungut hasilnya dari pada kacang tanah tipe menjalar (AAK, 1989).

Kacang tanah terdiri dari daun, bunga, buah, biji, batang, dan akar. Tanaman ini berdaun majemuk bersirip genap. Daunnya terdiri atas empat anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Helaian anak daun ini bertugas mendapatkan cahaya matahari sebanyak-banyaknya. Daun mulai gugur pada akhir masa pertumbuhan setelah tua yang dimulai dari bagian bawah. Selain berhubungan dengan umur, gugur daun ada hubungannya dengan faktor penyakit (Marzuki, 2009).

(3)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 301 ethyleneimene, dan ethyl 4-fluorooxanilate. Diantara zat tersebut, maleic hydrazide merupakan zat yang efektif dalam induksi mandul jantan pada beberapa tanaman. Pada tembakau Turki, pemberian 0,4-0,8% maleic hydrazide sudah mampu menghentikan pertumbuhan memanjang, mematikan calon bunga, menghambat pertumbuhan tunas ketiak daun dan menurunkan jumlah cabang. Pemilihan maleic hydrazide sebagai penginduksi mandul jantan dibandingkan banyak bahan kimia lain didasari atas keberhasilan maleic hydrazide dalam menginduksi mandul jantan pada berbagai tanaman terutama jagung dan gandum (Crafts, 1967). (Kusumo, 1990; Deepak et al, 2007a). Menurut Jain (1958) salah satu kelebihan penggunaan maleic hydrazide adalah umumnya efektif digunakan dalam konsentrasi rendah sehingga akan mengurangi kemungkinan terjadinya keracunan pada tanaman tersebut dan juga tidak terlalu berpengaruh terhadap keadaan kromosom tanaman.

Penggunaan maleic hydrazide pada konsentrasi tinggi akan menghambat aktivitas meristematik sehingga menghambat perpanjangan batang (Abidin, 1985). Basuki (2001) melaporkan bahwa induksi maleic hydrazide pada semangka (Citrullus vulgaris Schard) pada konsentrasi 50-300 ppm dengan waktu pemberian 2, 4, 6, 8, 12, 16 hari setelah tanam mampu mengurangi kemampuan bunga menjadi buah dan biji serta merangsang keguguran bunga betina. Kalidasu et al. (2009) melaporkan bahwa induksi maleic hydrazide pada koliander pada konsentrasi 250 ppm menyebabkan menurunnya jumlah bunga hermaprodit. Naylor (1950) melaporkan bahwa pemberian maleic hydrazide konsentrasi 0,05; 0,1; 0,2; 0,4; dan 0,8 persen dapat mengurangi jumlah bunga.

Singh (1989) melaporkan bahwa pemberian maleic hydrazide 1% pada tanaman Gossypium

arboretum (kapas merah) menghasilkan sterilitas polen 80,2%. Deepak et al. (2007a) melaporkan

bahwa penggunaan maleic hydrazide pada Abelmoschus esculentus L.pada konsentrasi 50, 100, 200 dengan waktu penyemprotan 20, 30, 40 hari setelah tanam mampu menghasilkan 31-84% jantan steril. Khan et al. (2011) melaporkan bahwa dengan tiga kali pemberian maleic hydrazide pada konsentrasi 0,2% menghasilkan sterilitas polen 88,0%. Agustin (2010) melaporkan bahwa induksi maleic hydrazide pada kacang panjang (Vigna sinensis (L.) Savi ex Haask.) pada konsentrasi 50, 100, 200 ppm dengan waktu pemberian 20, 30, dan 40 hari setelah tanam menghasilkan 72,89% jantan steril. Berdasarkan peneliti terdahulu pada penelitian akan digunakan konsentrasi maleic hydrazide yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 150, 200, 250, 300, 350 ppm dengan waktu pemberian 14, 18, 22 hari setelah tanam.

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi, waktu pemberian serta interaksi antara konsentrasi dan waktu pemberian maleic hydrazide terhadap pertumbuhan jumlah cabang pada kacang tanah kultivar tigo ampek.

Metode Penelitian

Perlakuan maleic hydrazide dilakukan dengan tahap induksi sterilitas jantan. Induksi sterilitas jantan dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dalam faktorial yaitu 18 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas:

Faktor A adalah konsentrasi Maleic Hydrazide yang terdiri dari : A0 = 0 ppm

A1 = 150 ppm

A2 = 200 ppm

A3 = 250 ppm

A4 = 300 ppm

A5 = 350 ppm

Faktor B adalah waktu pemberian Maleic hydrazide terdiri dari : B1 = 14 hari setelah tanam selanjutnya disebut (hst)

B2 = 18 dan 22 hst

B3 = 14, 18, dan 22 hst

(4)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 302 1) A0 B1 (0 ppm; 14 hst ) 10) A3 B1 (250 ppm; 14 hst)

2) A0 B2 (0 ppm; 18, 22 hst) 11) A3 B2 (250 ppm; 18, 22 hst)

3) A0 B3 (0 ppm; 14, 18 dan 22 hst) 12) A3 B3 (250 ppm; 14, 18 dan 22 hst)

4) A1 B1 (150 ppm; 14 hst) 13) A4 B1 (300 ppm; 14 hst)

5) A1 B2 (150 ppm; 18, 22 hst) 14) A4 B2 (300 ppm; 18, 22 hst)

6) A1 B3 (150 ppm; 14, 18 dan 22 hst) 15) A4 B3 (300 ppm; 14, 18 dan 22 hst)

7) A2 B1 (200 ppm; 14 hst) 16) A5 B1 (350 ppm; 14 hst)

8) A2 B2 (200 ppm; 18, 22 hst) 17) A5 B2 (350 ppm; 18, 22 hst)

9) A2 B3 (200 ppm; 14, 18 dan 22 hst) 18) A5 B3 (350 ppm; 14, 18 dan 22 hst)

Alat-alat yang digunakan adalah kertas label, plastik, polybag, kamera digital, alat tulis, tali, skop, dan penggaris. Bahan yang digunakan adalah benih kacang tanah kultivar tigo ampek, pupuk NPK, maleic hydrazide, 0,1% aniline-blue dalam laktofenol, dan akuades. Cara kerja penelitian ini adalah dengan penanaman benih dan perawatan kacang tanah. Bibit kacang tanah yang digunakan yaitu kultivar tigo ampek yang diperoleh di Balai Benih Induk Lubuk Minturun dan Balai Benih Induk Sukamenanti Pasaman Barat. Tanah yang digunakan adalah tanah kebun. Tanah tersebut dimasukkan kedalam polybag ukuran 50 x 30 cm sebanyak 1 karung. Kemudian diberi pupuk NPK merek Pak Tani 16-16-16 sebanyak 200 g pada masing-masing polybag. Keesokan harinya tiga benih ditanam sedalam 3-4 cm (masing-masing lubang satu benih) dan ditutup dengan tanah. Dilakukan penyiraman setiap hari secara rutin.

Pemberian maleic hydrazide pada kultivar tigo ampek induksi sterilitas jantan. Maleic hydrazide yang telah dilarutkan dalam akuades steril disemprotkan ke seluruh individu yang berbeda pada pagi hari sampai permukaan tanaman basah. Dilakukan terhadap tanaman percobaan yang meliputi parameter pengamatan sebagai untuk melihat pengaruh maleic hydrazide terhadap jumlah cabang (diamati setiap seminggu sekali)

Analisa data rata-rata jumlah cabang dianalisis dengan menggunakan uji F dimana jika F hitung berbeda nyata atau besar dari F tabel 5% pada data hasil pengamatan masing-masing perlakuan, maka dilakukan pengujian dengan DNMRT pada taraf 5% (Steel dan Torrie, 1995).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada Gambar 1 dapat dilihat pertumbuhan jumlah cabang selama 49 hst dari masing-masing perlakuan. Menunjukkan bahwa jumlah cabang pada perlakuan melebihi jumlah cabang pada kontrol. Pada seluruh perlakuan kecuali pada perlakuan A1B2, A1B3 (150 ppm; 18, 22 hst dan 14, 18 dan hst); perlakuan dengan konsentrasi 200 ppm dengan sekali pemberian (A2B1) dan perlakuan dengan konsentrasi 250 ppm dengan waktu pemberian sekali dan tiga kali pemberian (A3B1, A3B3) menunjukkan penurunan jumlah cabang bila dibandingkan dengan kontrol.

(5)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 303

Gambar 1. Rerata jumlah cabang pada kacang tanah setelah pemberian maleic hydrazide dari 14 hst sampai 49 hst

Tabel 1: Rerata jumlah cabang pada kacang tanah untuk analisis interaksi perlakuan dan waktu pemberian maleic hydrazide

Keterangan : - Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom dan baris (untuk faktor interaksi); dan huruf besar pada baris (untuk faktor waktu pemberian maleic hydrazide) berbeda nyata pada uji

DNMRT 5%

(6)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 304

Simpulan, Saran, dan Rekomendasi

Perlakuan konsentrasi maleic hydrazide 350 ppm dengan pemberian 14 dan 14, 18, 22 hari setelah tanam jumlah cabang 2,67 dan 3,00 sedangkan kontrol 1,00. Untuk penelitian kacang tanah dengan melihat penurunan jumlah cabang sebaiknya dengan pemberian maleic hydrazide dengan konsentrasi lebih dari 350 ppm

.

Daftar Pustaka

AAK. (1989). Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius.

Abidin, Z. (1985). Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Bandung: Angkasa.

Basuki, E. P. (2001). Induksi mandul jantan dengan maleic hydrazide pada semangka (Citrullus vulgaris Schard.). Ilmu Pertanian, 8 (2), 49-54.

Berita Resmi PVT. (2008). Pendaftaran Varietas Lokal. No. Publikasi : 057/BR/PVL/11/2008. Pasaman Barat. http://ppvt.setjen.deptan.go.id/ ppvtnew/loket/file/berita/BR-varlok-umbar. pdf.

Crafts, A. F. (1967). The Chemistry and Made of Action of Herbicides. New York: John wiley & Sons.

Deepak, K. D., V. K. Deshpande, B. S. Vyakarnahal, R. L. Ravikumar, D. S. Uppar and R. M. Hosamani. (2007a). Chemical induction of male sterility and histological studies in Okra (Abelmoschus esculentus (L.) Monech.). Karnataka J. Agric. Sci., 21 (2), 202-205.

Deepak, K. D., V. K. Deshpande, B. S. Vyakarnahal, R. L. Ravikumar, D. S. Uppar dan R. M. Hosamani. (2007b). Chemical Induction of Male Sterility and Histological Studies in Okra (Abelmoschus esculentus (L.) Monech.). Thesis. Master of Science Department of Seed Science and Technology College of Agriculture, Dharwad University of Agricultural Sciences, Dharwad - 580 005.

Frankel, R. and E. Galun. (1977). Pollination Mechanisms, Reproduction and Breeding, Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg & New York

Jain, S. K. (1958). Male Sterility in Flowering Plants. California: Department of Genetic.

Khan, S. P. Hasan., Y. Raju., G. Teggelli and S. G. Bhave. (2011). Potential Gametocides in Rice (Oryza sativa L.). Research Journal of Agricultural Sciences, 2 (1), 150-152.

Kusumo, S. (1990). Zat Pengatur Tumbuhan. Jakarta: Yasaguna.

Maesen, L. J. G. van der and Sadikin, Somaatmadja. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1 Kacang-Kacangan. Jakarta: Gramedia.

Marzuki, Rasyid. (2009). Bertanam Kacang Tanah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Meyer, B. S dan D.B. Anderson. (1952). Plant Physiology. New York: D Van Nostrdan Company. Inc.

Naylor, Aubrey. W. (1950). Observations on the Effects of maleic hydrazide on Flowering of Tobacco, Maize and Cocklebur. Osborn Botanical Laboratory, Yale University, New Haven, Connecticut

Singh, D., S. V. S. Chauhan and T. Kinoshita. (1989). Effect of some gametocides on pollen sterility and anther development in cotton Gossypium arboretum. J. Fac. Agr. Hokkaido Univ, 64 (1), 75-80.

Steel, R.G.D and J.H. Torrie. (1995). Prinsip dan Prosedur Statistika . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Gambar

Tabel 1: Rerata jumlah cabang pada kacang tanah untuk analisis interaksi perlakuan dan waktu pemberian maleic hydrazide

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,