Skripsi PGSD Lukman

139 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN EKSPERIMEN SIFAT CAHAYA PADA

PEMBELAJARAN IPA DI KELAS V SDN I UEPAI KABUPATEN KONAWE

S A R L I N A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2008

(2)

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN EKSPERIMEN SIFAT CAHAYA PADA

PEMBELAJARAN IPA DI KELAS V SDN I UEPAI KABUPATEN KONAWE

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar untuk Memenuhi

Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ( S. Pd)

S A R L I N A 064724234

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2008

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Sripsi dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Eksperimen Sifat Cahaya Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN I Uepai Kebupaten Konawe Sulawesi Tenggara”.

Atas nama:

Nama : Sarlina

Nim : 064 724 234

Jurusan/prodi : PGSD S1 Berasrama Fakultas : Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti, telah memenuhi syarat untuk diuji Makassar, 7 November 2008

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Abu Darwis, M. Pd Drs. Muliadi, M.Kes NIP. 131 475 264 NIP. 131 782 455

Disahkan:

Ketua Jurusan Program Studi Guru Sekolah Dasar

Drs. Muslimin, M. Ed NIP. 131 689 366

(4)

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Skripsi diterima oleh Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar dengan SK Dekan No. / / / . Tanggal 6 November 2008 untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Ilmu Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada hari Senin 10 Nopember 2008.

Disahkan Oleh

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan

Dr. Ismail Tolla, M. Pd NIP. 130 883 215 Panitia Ujian:

1. Ketua : Dr. H. M. Arifin Ahmad, M. A (...) 2. Sekretaris : Drs. Muh. Faisal, M. Pd (...) 3. Pembimbing I : Drs. Abu Darwis, M.Pd (...) 4. Pembimbing II: Drs. Muliad, M.Kes (...) 5. Penguji I : Drs. Abdullah Pandang, M.Pd (...) 6. Penguji II : Drs. Idris Jafar, M.Pd (...)

(5)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Jangan pernah ragu dalam mengambil keputusan karena kesempatan itu tidak akan dating dua kali

dan jagan pernah menyesal setelah menjalani keputusan

karena penyesalan tidak akan merubah keadaan menjadi semula

Jadikan hidup lebih bermakna (Uge)

Karya ini kuperuntukan sebagai

tanda bukti dan cinta kasihku

kepada Ibunda dan Ayahandaku tercinta, Saudaraku, Agama, almamater, bangsa dan Negara

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Sarlina

NIM : 064 724 234

Jurusan/Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan

Menggunakan Pendekatan Eksperimen Sifat Cahaya Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN I Uepai Kabupaten Konawe

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Watampone, 8 November 2008 Yang Membuat Pernyataan;

S A R L I N A NIM 064 724 234

(7)

ABSTRAK

Sarlina. 2008. Meningekatan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Eksperimen Sifat Cahaya Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN I Uepai Kabupaten Konawe. Skripsi, Jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar. Pembimbing: (I) Drs. Abu darwis. M. Pd (II) Drs. Muliadi M.Kes.

Berdasarkan hasil penelitian selama mengajarkan materi sifat cahaya dan hasil wawancara terhadap guru kelas dalam mengajarkan IPA di kelas V SD Negeri I Uepai Kabupaten Konawe, siswa kurang dilibatkan secara langsung pada proses pembelajaran berlangsung sehingga hasil belajar siswa kurang dalam pembelajaran sifat cahaya sehingga siswa sulit memahami konsep cahaya.

Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana penggunaan pendekatan eksperimen pada pembelajaran sifat cahaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan bagaimana tinggkat pencapaian hasil belajar siswa pada materi sifat cahaya dengan menggunakan pendekatan eksperimen?”

Sumber data dalam penelitian ini adalah personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari tes hasil belajar, hasil observasi dan hasil wawancara. Dari rumusan masalah, paparan data dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran melalui pendekatan eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Uepai Kabupaten konawe. Pembelajaran ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu (I) Tahap awal, (2) Tahap inti yang terbagi dalam tiga fase (I) fase eksplorasi, (2) fase pengenalan konsep, (3) fase aplikasi konsep, (3) Tahap akhir

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Eksperimen Pada Pembelajaran Sifat Cahaya di Kelas V SDN I Uepai Kabupaten Konawe.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu merupakan syarat untuk menyelesaikan studi dan mendapat gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. Abu Darwis, M. Pd dan Bapak Drs. Muliadi, M. Kes. selaku pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan tulus ikhlas sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Arismunandar, M. Pd selaku Rektor Universitas Negeri Makassar

2. Bapak Dr. Ismail Tolla, M. Pd selaku Dekan FIP Universitas Negeri Makassar 3. Bapak Drs. Muslimin, M. Ed selaku Ketua Progam Studi PGSD FIP Universitas

(9)

4. Bapak Drs. Nasaruddin, S. Pd, M. Pd selaku ketua UPP PGSD Watampone 5. Bapak Drs. H. Muh. Arief, S. Pd. M, Si selaku penasehat Akedemik penulis. 6. Ayahanda dan ibunda Dosen PGSD UPP Watampone

7. Ibu Surianis, A. Ma. Pd selaku kepala sekolah SD Negeri I Uepai Kabupaten Konawe dan seluruh staf dewan guru SD Negeri I Uepai yang telah memberikan banyak masukan dalam penyusunan laporan ini.

8. Ayahanda Sallo dan Ibunda Marlina tercinta selaku orang tua penulis yang selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis selama melaksanakan pendidikan.

9. Kepada Saudaraku Salmawati, Susawati, hepriyani, Salmin serta ponakanku Nanda Putra Pratama Makuasa yang selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis selama melaksanakan pendidikan.

10. Kepada sahabatku Ernawati loan (Erlo), Marwati (Waty) , Desarmini (Minces), Wa Ode Darnia (Dhar) dan Herdakospian (Phyan) yang selalu memberikan semangat dalam menempuh dan menyelesaikan pendidikan sehingga sampai pada penyelesaian pembuatan skripsi ini.

Atas bantuan dari berbagai pihak, penulis serahkan hanya kepada kebesaran Allah SWT, semoga jasa-jasa baiknya mendapat imbalan, Amin ya rabbal Alamin

Watampone, November 2008 Penulis

(10)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL i PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv PERNYATAAN SKRIPSI v ABSTRAK vi KATA PENGANTAR vii DAFTAR ISI viii DAFTAR BAGAN xi DAFTAR LAMPIRAN x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah dan Rencana Pemecahan Masalah 6

C. Tujuan Penelitian 7

D. Manfaat Penelitian 8

(11)

HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka

9

1. Hakikat Pembelajaran Sains

9

2. Pengertian Eksperimen

10 3. Pelaksanaan Ekperimen

12 4. Eksperimen IPA dan Penelitian Tindakan Kelas

14 5. Cahaya

16 6. Pembelajaran Sifat Cahaya

17 B. Kerangka Pikir

20 C. Hipotesis Tindakan

22 BAB III METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian 23

B. Subjek Penelitian 23

C. Sumber Data 24

D. Teknik Pengumpulan Data 24

(12)

F. Analisis Data 26

G. Indikator Kinerja 26

H. Prosedur Penelitian 27

BAB IV PAPARAN DATA, TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Data 31

1. Paparan Data Sebelum Tindakan

31 2. Paparan Data Tindakan I Siklus I

33 3. Paparan Data Tindakan I Siklus II

46 4. Paparan Data Tindakan II Siklus

58 B. Temuan Penelitian 70 C. Pembahasan 73 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 82 B. Saran 83 DAFTAR PUSTAKA 85 LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP DAFTAR BAGAN

(13)

Bagan Halaman 2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian Tindakan Kelas

21

3.1 Bagan Alur Penelitian Tindakan Kelas 28

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Format Tes Awal

88 2. Hasil Tes Awal

89

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tindakan I Siklus I 90

4. Lembar Kerja Siswa Tindakann I Siklus I 95

5. Format Tes Formatif Tindakan I Siklus I 97

6. Hasil Tes Formatif Tinmdakan I Siklus I 98

7. Hasil Observasi Proses Pembelajaran 99

8. Pedoman Wawancara 102

9. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tindakan I Siklus II 103

10. Lembar Kerja Siswa Tindakann I Siklus II 108

11. Tes formatif Tindakan I Siklus II 109

12. Hasil Tes Formatif Tindakan I Siklus II 110

(15)

13. Pedoman Wawancara 111

14. Hasil Wawancara Siklus II 112

15. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tindakan II Siklus II 113

16. Lembar Kerja Siswa Tindakann II Siklus II 118

17. Formant Tes Formatif Tindakan II Siklus II 119

18. Hasil Tes Formatif Tindakan II Siklus II 120

19. Pedoman Wawancara 121 20. Hasil Wawancara

122

21. Hasil Observasi Proses Pembelajaran 123

22. Tes Akhir 126

23. Hasil Tes Akhir 127

24. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian 25. Hasil Pekerjaan Siswa

26. Surat Izin Penelitian

27. Surat Keterangan Mengadakan Penelitian 28. Riwayat Hidup

(16)

BAB I PENDAHULUAN

(17)

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006) salah satu tujuan mata pelajaran IPA di SD yaitu: 1) memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaannya, 2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep ilmu pengetahuan alam yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang ada hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, 4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, 5) meningkatkan kesadaran untuk lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan tuhan.

Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik guru dituntut untuk menggunakan media pembelajaran, agar materi yang disampaikan atau disajiakan pada pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik dengan baik. Media pembelajaran yang baik berupa KIT IPA yang dipakai untuk melakukan suatu eksperimen sederhana (Hamalik: 1986).

Dalam pembelajaran IPA, memiliki ciri khas yang berbeda dengan jenis pembelajaran lainnya, di mana siswa harus dibiasakan untuk melakukan eksperimen, observasi, menggumpulkan data, menguji konsep dan membuat suatu keputusan. Tetapi tidak hanya itu, untuk melakukan suatu eksperimen atau percobaan harus disertai bimbingan seorang guru.

(18)

Namun kenyataannya pembelajaran IPA di SD masih kurang melakukan eksperimen dan melibatkan siswa untuk melakukan suatu percobaan secara langsung. Menurut Patta Bundu (1986: 5) mengatakan bahwa rendahnya pembelajaran IPA diakibatkan pengajaran fakta-fakta IPA dilakukan melalui ceramah dan kurang memberikan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk menguasai konsep IPA pana ranah kongnitif yang lebih tinggi. Dalam pembelajaran IPA di SD, guru harus lebih banyak melibatkan siswa secara langsung atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksperimen atau percobaan sehingga siswa dapat sepenuhnya terlibat dalam suatu eksperimen atau percobaan dalam pembelajaran.

Sebagian besar guru telah mengetahui pentingnya pelaksanaan eksperimen dalam pembelajaran IPA untuk membantu siswa dalam melakukan percobaan khususnya dalam menentukan sifat cahaya, bukan saja dari segi produk tetapi juga dari segi proses IPA itu sendiri. Namun kenyataan dalam proses pembelajaran sering ditemukan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan sifat cahaya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman siswa terhadap sifat cahaya, sehingga kemampuan siswa kelas V SD dalam menentukan sifat cahaya masih sangat rendah dalam pembelajaran IPA lainnya, Budi (Patta Bundu, 2006: 10)

Materi sifat cahaya dianggap sulit dibandingkan dengan materi bunyi, akan tetapi cahaya banyak memberikan manfaat besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kehidupan yang ada dipermukaan bumi ini. Menurut Lunetta, (1984: 196) mengatakan bahwa sifat cahaya merupakan pembelajaran yang sulit dibandingkan

(19)

dengan materi bunyi, karena siswa hanya mengetahui konsep dari cahaya. Kenyataan ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar IPA pada pokok bahasan sifat cahaya menjadikan tantangan bagi guru-guru di sekolah dasar sebagai tenaga pendidik.

Fakta dari rendahnya hasil belajar IPA, diakibatkan karena siswa sulit memahami konsep cahaya, sehingga menjadikan kesulitan kepada guru untuk menyampaikan materi dan kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran, pendekatan dan metode yang digunakan kurang tepat dalam proses pembelajaran dimana guru lebih banyak aktif dibandingkan dengan siswa. Sementara kebanyakan guru di SD selama ini dalam melaksanakan proses pembelajaran masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional, artinya guru masih mengajarkan pokok bahasan melalui ceramah dan pemberian tugas tanpa melibatkan siswa melakukan eksperimen, akan tetapi dalam kurikulum KTSP (2006) pembelajaran IPA dituntut untuk mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat serta dapat menerapkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar.

Sejalan dengan masalah di atas dari hasil wawancara dan observasi di SD N 1 UEPAI diperoleh keterangan bahwa: 1) Alat peraga IPA (KIT) masih sangat kurang, 2) guru mengalami kesulitan dalam merancang eksperimen sesuai dengan pokok bahasan yang diajukan tidak terarah pada kegiatan eksperimen, 3) guru tidak menuntun siswa melakukan eksperimen IPA dan tidak membuat lembar kerja siswa (LKS) yang hanya menunggu LKS dari dinas pendidikan kecamatan, 4) guru lebih

(20)

mementingkan materi secara rutin setiap semester agar target kurikulum lebih cepat tercapai, 5) guru kurang terampil membimbing siswa melakukan eksperimen sehingga siswa kesulitan menggunakan alat/mengorganisasikan bahan dan membuat laporan hasil eksperimen atau percobaan.

Masalah yang dihadapi guru dan siswa di atas disebabkan oleh faktor guru belum bisa merancang eksperimen atau percobaan IPA yang mengiringi pembelajaran IPA di kelas, kurang membimbing siswa dalam melakukan eksperimen serta mengalami kesulitan dalam menggunakan alat peraga (KIT) IPA. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Lunetta (1984: 196) bahwa masih banyak guru memberikan penekanan terlalu besar pada faktor ingatan, masih sangat kurang pelaksanaan/praktikum IPA, dan kegiatan masih terbatas karena penyajian melalui ceramah yang tidak lebih dari mendengarkan dan menyalin.

Dari permasalahan di atas, penulis mencoba menerapkan pendekatan eksperimen pada pembelajaran IPA khususnya sifat cahaya. Dimana penggunaan pendekatan eksperimen atau percobaan diharapkan dapat memperbaiki/meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien sehingga siswa tidak banyak diam dan pasif dalam proses pembelajaran IPA. Namun dalam menyajikan suatu eksperimen dalam kelas ada komponen atau tahap-tahap pelaksanaan yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu eksperimen untuk mencapai hasil yang maksimal.

(21)

Sumadji (2003: 12) mengatakan banwa langkah-langkah umum yang perlu diperhatikan dalam eksperimen; 1) identifikasi masalah, 2) pemilihan masalah dan, 3) perumusan masalah. Namun sebelum guru melakukan eksperimen atau percobaan guru sebaiknya harus mengetahui kelebihan dari penggunaan pendekatan eksperimen, menurut Syaiful (2000: 197) bahwa pendekatan eksperimen mempunyai kelebihan yaitu:

1) Membuat siswa lebih percaya diri atas kebenaran atau simpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku, 2) siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi ,3) membina siswa untuk aktif atau terlibat dalam menampilkan fakta, informasi yang diperlukan atau membuat terobosan baru dengan penemuan dari percobaannya yang dapat bermamfaat bagi kehidupan, 4) dapat menggunakan atau melaksanakan prosedur metode ilmiah dan berpikir ilmiah serta memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif dan menghilangkan verbalisme, 5) hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan ini akan selalu siswa ingat.

Dengan menggunakan pendekatan eksperimen siswa tidak begitu saja mengalami fakta yang di temukan dalam eksperimen atau percobaan yang dilakukan, tetapi juga dengan pendekatan ini siswa dapat mengembangkan keterampilannya sehingga hasil belajar dalam pembelajaran IPA lebih baik. Hal ini diungkapkan Dwijoseputro (1985: 1), pada dasarnya eksperimen adalah penghayatan dan pengamalan untuk memantapkan suatu pengertian pengetahuan, sehingga dengan eksperimen anak akan dapat melihat secara langsung apa yang ia inginkan dan dengan pengetahuannya akan langsung dari pengalaman sendiri.

(22)

Dari uraian di atas maka, peneliti mengembangakan pembelajaran untuk siswa kelas V SDN 1 UEPAI dalam menentukan sifat cahaya dengan menggunakan pendekatan eksperimen. Pendekatan eksperimen dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran IPA khususnya dalam menentukan sifat cahaya.

Berdasarkan dasar-dasar pemikiran dan kenyataan di lapangan yang dikemukakan di atas, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Esperimen Pada Pembelajaran sifat cahaya di Kelas V SDN I Uepai Kabupaten Konawe” dimana dengan menggunakan pendekatan eksperimen diharapkan siswa dapat secara langsung melakukan eksperimen atau percobaan sederhana dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. B. RUMUSAN MASALAH DAN RENCANA PEMECAHANNYA

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dalam penelitian, yang mengacu pada penelitian tindakan kelas dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki/meningkatkan hasil belajar siswa di kelas V SDN 1 UEPAI dapat dirumuskan permasalahan yaitu.

a. Bagaimana cara penggunaan Pendekatan Eksperimen pada pembelajaran sifat cahaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 1 UEPAI ?

(23)

b. Bagaimana tingkat pencapaian hasil belajar siswa kelas V SDN 1 UEPAI pada pembelaharan sifat cahaya yang diperoleh melalui Pendekatan Eksperimen ?

2. Rencana pemecahan masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka peneliti penelitian tindakan kelas (PTK) merancang pemecahan masalah melalui tindakan perbaikan melalui dua siklus dengan mengunakan pendekatan eksperimen dalam sub pokok bahasan sifat cahaya.

Pencapaian hasil belajar dapat dimulai dengan siklus pertama adalah pembelajaran cahaya dapat merambat lurus, dan cahaya dapat menembus benda bening, siklus kedua adalah pembelajaran cahaya dapat dipantulkan, cahaya dapat dibiaskan dan cahaya terdiri dari beberapa warna.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk memecahkan permaslaah yang telah dikemukakan. Secara rinci tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penggunaan pendekatan eksperimen pada pembelajaran sifat cahaya di kelas V SDN 1UEPAI.

2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada sifat cahaya melalui pendekatan eksperimen pada siswa kelas V SDN 1 UEPAI.

(24)

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Melalui hasil penelitian ini diharapkan guru SD memilki pengetahuan tentang teori pendekataan eksperimen sebagai salah satu bentuk inovasi dalam pembelajaran IPA di SD.

b. Hasil penelitian ini diharapkan guru SD memiliki teori pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam melakukan eksperimen di SD.

c. Menjadikan bahan pertimbangan bagi praktisi pendidikan lainnya dalam membuat kebijakan pendidikan.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini dapat menumbuhkan kreativitas guru dalam melakukan eksperimen/percobaan guna menarik minat siswa dalam pembelajaran IPA di SD.

b. Dapat dijadikan bahan pengalaman, khususnya guru yang mengajar sifat cahaya dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan eksperimen.

BAB II

(25)

A. KAJIAN PUSTAKA

1. Hakikat Pembelajaran Sains

Pembelajaran sains pada hakekatnya mencakup beberapa aspek antara lain: a) Faktual, b) kesemibangan antaara proses dan produk, c) akitf melakukan investigasi, d) berpikir induktif dan deduktif, e) pengembangan sikap. Dimana hakikat sains adalah sebagai produk dan proses, maka dalam pembelajarannya diharapakan tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja melaikan proses bagaimana produk sains tersebut ditemukan. Oleh karena itu, pemilihan materi dan pendekatan pembelajaran merupakan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sains. Di samping itu, bila dilihat salah satu fungsi mata pelajaran sains adalah mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan/keterkaitan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi masyarakat dalam pembelajarannya dibutuhkan wahana yang dapat memfasilitasi tumbuhnya kesadaran tersebut.

Untuk itu dalam pembelajaran Sains perlu dikaitkan dengan teknologi, karena pada dasarnya antara Sains dan teknologi memiliki hubungan timbal balik artinya pengembangan sains akan menghasilkan pengetahuan teknologi, sementara pengembangan teknologi dapat menghasilkan cara atau sarana bagaimana memecahkan masalah sains yang ada.

(26)

Sains sebagai produk berisi prisip-prisip, hukum, dan teori-teori, yang dapat menjelaskan masalah dan memahami alam sekitar serta berbagai fenomena yang terjadi didalamnya. Oleh sebab itu dikatakan pula bahwa sains merupakan suatu sistem yang dikembangkan oleh manusia untuk mengetahui diri dan lingkungannya, Sarkim ( Dalam Patta Bundu, 2006: 11).

Powler (dalam Patta Bundu, 2006: 5) mengatakan bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam yang sistematis yang tersusun teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasili observasi, sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem, tidak terdiri sendiri, satu dengan yang lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau oleh seorang atau beberapa orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.

2. Pengertian Eksperimen

Untuk mecapai era globalisasi yang sangat pesat seperti ini sekarang ini, pendidikan IPA bersama nilai-nilai etis yang terkait didalamnya sangat dibutuhkan oleh setiap masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu pendidikan IPA berpotensi untuk mengembangakan kapasitas dalam membuat keputusan tentang riset dan penerapan IPTEK, karena penerapan IPA merupakan komponen penting yang diperlukan dalam pertimbangan moral dalam konteks IPTEK. Oleh karena itu pecobaan atau eksperimen setiap saat dapat diprogramkan

(27)

pelaksanaannya dalam pembelajaran IPA di SD karena merupakan salah satu dasar pengetahuan peserta didik dalam IPTEK.

Eksperimen atau yang dikenal dengan nama percobaan merupakan suatu tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi yang setiap saat mengalami perkembangan yang sangat pesat dapat menghasilkan suatu produk yang dinikmati semua masyarakat luas secara aman dan terkendali Sumantri dan Permana (1999: 11) mengemukakan bahwa

Eksperimen mempunyai dau bentuk yaitu: eksperimen sungguhan dan eksperimen semu. Eksperimen sungguhan bertujuan ntuk membuktikan kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat, sedangkan eksperimen semu bertujuan untuk memperoleh suatu informasi yang hanya berupa pikiran belaka.

Karena itu untuk melakukan suatu eksperimen dalam pembuktian konsep-konsep pengetahuan dapat diuji kebenarannya dalam setiap pembelajaran IPA, sehingga percobaan dapat menghasilkan kepuasan yang ingin dicapai.

Sumantri dan Permana (1999: 12) mengemukakan bahwa metode ekperimen sebagai cara belajar-mengajar yang melibatkan peserta didik dengan mengalami, menguji, membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan sedangkan menurut Djumarah dan Zain (1995: 7) metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa melakukan percobaan dengan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

(28)

3. Pelaksanaan Eksperimen

Tujuan utama eksperimen/percobaan IPA menurut Isjrin Nurdin (1992: 1) adalah:

1). Sebagai ilustrasi apa yang diajarkan, 2) membuat bahan ajar lebih jelas, 3) membuat pelajaran lebih menarik, 4) membina/meningkatkan keterampilan siswa, 5) merangsang sifat keingintahuan siswa, 6) meningkatkan daya observasi siswa.

Dalam Kurikulum (2004) dijelaskan bahwa siswa dikelas 5 sebaikknya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi sepenuhnya dan yang memilih penyelidikan, dalam suatu penyelidikan yang lengkap, mencari fakta-fakta, menyusun jawaban untuk pertanyaan semula, dan menyampaikan proses penyelidikan serta hasil penyelidikan.

Lebih luas Tamir (1991: 477) menggemukakan tujan praktikum IPA sebagai berikut:

a. Mendorong dan mempertahankan minat, sikap, yang baik, kepuasan, keterbukaan dan rasa ingin tahu terhadap pembelajaran IPA dikelas.

b. Mengembangkan kreativitas untuk

memecahkan masalah.

c. Mengembangkan keterampilan proses seperti merancang dan melakukan penyelidikan, mengukur dan merekam data, menganalisis dan menafsirkan hasil eksperimen.

d. Mengembangkan keterampilan dalam menggunakan alat dan bahan eksperimen.

Tamir dan Van Den Breng (1995: 97) membagi jenis praktikum tiga macam yaitu, praktikum konsep, praktikum proses, dan praktikukm keterampilan.

(29)

Praktikum konsep menekankan perkembangan konsep siswa dan penanggulangan konsepsi. Kegiatan praktikum merupakan sederetan urutan yang jelas. Untuk itu petunjuk praktikum dan lembar kerja siswa harus ditekankan pada pemahaman konsep IPA bukan pada proses.

Praktikum proses menekankan latihan keterampilan proses, misalnya dalam praktikum tentu ditekankan rancangan praktikum untuk membuat hipotesis, prediksi dan interprestasi data. Pada praktikum lainnya difokuskan pada pengukuran, analisis dan generalisasi perlu digaris bawahi dalam praktikum proses, tetapi diperhatikan pemahaman konsep dari pada siswa.

Praktikum keterampilan difokuskan pada penggunaan alat seperti mikroskop, membaca skala, menyusun rangkaian arus listrik dan sebagainya. Keterampilan ini sangat berguna bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ketiga keterampilan tersebut menuntut pendekatan yang berbeda meskipun tidak mungkin terpisah secara penuh antara konsep, proses, dan keterampilan.

Untuk menghindari kegagalan dalam melakukan eksperimen IPA perlu persiapan yang matang seperti pemilihan alat/bahan dengan pertimbangan asas-asas didaktik. Menurut Hadidat (1976: 106) untuk memilih alat/bahan yang cocok disarankan sebagai berikut: 1) sesuai dengan tujuan pembelajaran, 2) spesipikasi alat, 3) valitas dan reabiltas alat, 4) tahan dan mudah digunakan, 5) bentuknya menarik dan mempunyai nilai pedagogis.

(30)

Efektivitas pelaksanaan eksperimen/praktikum sebagai sarana belajar sejalan yang dikatakan, R. Oktava (1991: 138) antara lain: 1) Praktikum IPA dapat membantu pemecahan masalah dalam bidang studi lain khususnya matematika, 2) membentuk sikap ilmiah, melatih ketelitian dan kesabaran, 3) mengatur dan menghargai waktu.

Kemampuan yang diprasyaratkan dalam pelaksanaan paktikum (Sumadji 1991: 81) yaitu: a) mempersiapkan, b) melakukan percobaan, c) menyempurnakan/mengolaborasi pengamatan, d) memberi penjelasan yang memuaskan dari semua kegiatan.

Dalam pelaksanaan eksperimen IPA sangat dianjurkan menyediakan alat sederhana yang dapat dirakit sendiri oleh guru atau bersama siswa sehingga konsep IPA dapat dikaitkan dengan lingkungannya dan terbatas dari rasa takut karena salah menggunakan alat atau rusak, harganya murah, dan didasarkan pada kepentingan perkembangan balajar siswa.

Pelaksanaan eksperimen IPA yang berorientasi pada tujuan eksperimen perlu mendapat perhatian paling kurang lima faktor, yaitu: 1) pengelompokan jenis eksperimen, 2) pemilihan eksperimen, 3) tujuan dan petunjuk eksperimen, 4) cara mengajar dan, 5) tujuan dan alat evaluasi. (Iskandar, 1997).

4. Eksperimen IPA Dan Penelitian Tindakan Kelas

Berdasarkan Kurikulum Sekolah Dasar (1995: 73) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan menusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasikan tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melelui

(31)

serangkai proses ilmiah antara lain: penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan. Sedangkan tujuan IPA dikemukakan sebagai berikut:

a. Menahami konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari- hari

b. Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan dan gagasan tentang alam sekitar

c. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar

d. Bersikap ingin tahu, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri.

e. Mampu menerapakan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah f. Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna

untuk memecahkan masalah

g. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagugan Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sulit jika dalam pembelajaran IPA tidak diiringi dengan eksperimen IPA yang telah banyak diuraikan manfaatnya oleh para ahli. Dalam pelaksanaannya guru dituntut untuk dapat merancang eksperimen IPA yang akan dilakukan, membuat LKS yang baik, membimbimg dalam melakukan eksperimen. Hal tersebut tentu tidak akan dapat dikuasai oleh seorang guru, khususnya guru kelas di sekolah dasar yang harus mengajar beberapa bidang studi di dalam kelas.

Sehubungan hal di atas, penelitian tindakan kelas merupakan langkah yang paling tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan pelaksanaan eksperimen IPA secara bertahap. Untuk itu Soedarsono (1997: 3) mengemukakan langkah-langka untuk penelititan tindakan kelas (PTK), sebagai berikut: a) mengidentifikasi masalah,

(32)

b) menganalisis masalah dan menentukan faktro-faktor yang diduga sebagai penyebab utama, c) merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah, d) solusi atau tindakan.

5. Cahaya

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang memilki sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh gelombang yaitu: 1) Cahaya dapat merambat lurus, 2) cahaya dapat dipantulkan, 3) cahaya dapat dibiaskan. Selain itu cahaya memberikan manfaat besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan dunia kehidupan yang ada di permukaan bumi ini. Betapa tidak tanpa cahaya mata kita tidak akan dapat melihat dan kita tidak akan merasakan manfaatnya dengan baik.

Salah satu contoh kegunaan cahaya selain untuk melihat yaitu: menentukan kadar larutan dengan melalui polaritas dan sebagai sumber energi yang dapat diubah menjadi bentuk energi lain, misalnya energi listrik.

Selain itu juga cahaya dapat mengalami difraksi bila melewati celah, difersi menjadi beberapa warna, inferferensi dan polarisasi. Sifat cahaya tersebut memberikan manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan dunia yang ada dipermukaan bumi. Dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang energi cahaya (surya) mengalami perkembangan sangat pesat dalam pemanfaatanya, diantaranya sebagai pembangkit tenaga listrik tenaga surya, masih banyak manfaat maupun kegunaan cahaya/matahari.

(33)

Mata kita melihat suatu benda karena adanya cahaya yang datang dari benda itu sendiri. Cahaya dari benda itu sendiri merupakan cahaya hasil pemantulan yang menujuh kemata, selanjutnya syaraf mengirim keotak, dan otak mengatakan yang dilihat adalah suatu benda.

Cahaya yang merambat lurus, bila cahaya mengenai benda tidak tembus cahaya maka timbulah bayang-bayang. Cahaya yang jatuh pada benda ada yang diserap dan ada pula yang dipantulkan. Pantulan cahaya bergantung pada komposisi benda, dan sudut datang cahaya. Sudut datang dan sudut pantul cahaya besarnya sama dan terletak pada suatu bidang datar.

6. Pembelajaran Sifat Cahaya

Pengetahuan cahaya anak terhadap dunia sekitar tidak hanya kemampuan tentang cahaya, tetapi kemampuan sifat cahaya dapat dikenalkan kepada anak usia sekolah dasar, asalkan melalui pendekatan yang cocok dengan perkembangan terhadap berpikir mereka.

Siswa akan lebih tertarik untuk mempelajari cahaya jika terlibat langsung secara aktif dalam kegiatan individu atua kelompok. Salah satu bentuk yang dapat diberikan kepada siswa adalah berkenaan dengan sifat cahaya, keterlibatan secara aktif anak dalam menggunakan alat peraga adalah hal yang penting dalam membantu anak memehami konsep cahaya. Oleh karena itu siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk melakukan investigasi atau penemuan dengan bantuan benda konkret di sekitar anak.

(34)

Pada tingkat sekolah dasar, guru hendaknya melibatkan siswa secara dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat, memahami konsep cahaya dan mengembangkan kemampuan dalam menggunakan alat peraga dalam menentukan sifat cahaya.

Adapun pembelajaran sifat cahaya dibagi dalam tiga fase, yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep, dan fase aplikasi konsep. Fase eksplorasi yaitu guru menyiapkan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan gagasannya yang mungkin bertentangan dan dapat menimbulkan perdebatan serta suatu analisis mengenal mengapa siswa mempuyai gagasan demikian. Di samping itu membawa siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diselidiki. Fase pengenalan konsep dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep atau yang ada hubungannya dengan fenomena yang diselidiki dan didiskusikan dalam konteks yang telah diamati selama fase eksplorasi. Fase eksplorasi menyediakan kesempatan kepada siswa unuk menggunakan konsep yang telah dikenalnya untuk melatih keterampilan dalam menentukan sifat cahaya.

Pada kegiatan eksplorasi, guru dapat melakukan penilaian awal yang berkaitan dengan materi sifat cahaya . Hal ini dapat dilakukan secara tertulis atau lisan misalnya pertanyaan yang berkaitan dengan sifat cahaya. Tujuannya yaitu untuk mengali pengetahuan awal siswa, melalui pertanyaan yang sesuai pengalaman lingkungan anak atau sesuai materi yang diajarkan.

(35)

Untuk mengali pengetahuan atau pikiran yang ada pada diri siswa, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti: Jika kita berada pada suatu ruangan yang gelap apakah kita dapat melihat?

Setelah siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut, guru dapat melanjutkan dengan mengali pengetahuan anak tentang sifat cahaya. Pada kegiatan ini guru membagikan kepada alat peraga untuk mengamati sifat cahaya.

Langkah kedua adalah fase pengenalan konsep sifat cahaya melalui kegiatan atau percobaan. Setalah paham tentang sifat cahaya, mintalah siswa untuk melakukan suatu percobaan yang menunjukkan adanya sifat cahaya. Seperti; Bagaimana cahaya dapat menembus benda bening?, Bagaimana cahaya dapat dipantulkan?, ulangi kegiatan tersebut dengan mengarahkan siswa dalam menentukan sifat cahaya.

Langkah terakhir adalah fase aplikasi konsep. Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memantapkan konsep dengan menyelesaikan soal-soal sifat cahaya dengan konsep yang telah dipelajari, siswa mengemukakan permasalahan yang muncul berkaitan dengan konsep, dan siswa menyelesaikan soal-soal yang bervariasi sesuai dengan yang dipelajarinya. Dari tiga fase kegiatan ini, keterlibatan guru dalam memberikan arahan dan bimbingan diminimalkan, bimbingan diberikan apabila siswa mengalami kesulitan.

Tiga fase yang telah dijelaskan di atas, guru memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengolah bahan, mencerna, memikirkan, menganalisa, dan yang terpenting merangkum sebagai kontribusi pengetahuan

(36)

berdasarkan pengalaman atau pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Pada kegiatan ini, siswa mengiterfasikan persepsi konsep atau pengalaman baru ke dalam skema yang cocok dengan rangsangan atau modivikasi skema sehingga cocok dengan rangsangan tersebut.

Kegiatan di atas, bertujuan untuk melacak tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajarinya. Guru dapat mengajukan pertanyaan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk ide atau pendapat, baik dalam memanipulasi benda konkret, maupun dalam menemukan jawaban. Fenomena yang dialami siswa tersebut, akan menjadi sumber penting pada diri siswa dalam mengkontruksi pengetahuan sendiri terhadap materi sifat cahaya.

Dalam kerangka ini, sangat penting bahwa siswa dimungkinkan untuk mencoba menemukan cara-cara yang cocok sesuai dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Guru tinggal mengarahkan siswa dengan cara menciptakan situasi serta memberi motivasi, agar siswa itu sendiri mengkontrusi pengetahuannya.

B. KERANGKA PIKIR

Berdasarkan kerangka teori yang melandasi pada pelaksanaan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan eksperimen Sifat cahaya pada pembelajaran IPA di kelas V SDN I Uepai yang terdiri dari tiga tahapan yaitu Tahap awal, tahap inti yang terdiri dari tiga fase (1) Fase eksplorasi (2) fase pengenalan konsep, (3) fase aplikasi konsep Dan Tahap akhir. Untuk lebih

(37)

jelasnya dapat dilhat pada kerangka pikir penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan eksperimen pada pembelajaran IPA di kelas V SDN I Uepai kabupaten konawe.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian Tindakan Kelas Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Eksperimen

Masalah Sifat Cahaya

Aspek Guru

Kurang menggunakan pendekatan eksperimen

Kurang melibatkan siswa dalam proses percobaan

Kurang mengaktifkan siswa

Kurangnya pemahaman siswa tentang materi sifat cahaya Kurang dilibatkan dalam proses

pembelajaran

Rasa ingin tahu Kreativitas Mengamati Menggolongkan Menafsirkan Merancang Meramalkan Menerapkan Mengembangkan Pendekatan Eksperimen

Penilaian Proses Dan Hasil Melalui Penerapan Pendekaan Eksperimen

(38)

Sifat Cahaya Pada Pembelajaran IPA di Kelas IV SDN 1 Uepai C. HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah ” Penerapan pendekatan eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sifat cahaya di Kelas V SDN I Uepai Kabupaten Konawe”

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian setting kelas yang dilaksanakan pada kelas V SD Negeri 1 UEPAI. Sasaran perbaikan adalah efektivitas pembelajaran IPA dikelas. Oleh sebab itu yang terlibat langsung melakukan perbaikan adalah guru kelas V dan siswa V dalam hal ini guru sebagai peneliti juga sebagai tindakan perbaikan yang dilaksanakan oleh guru.

B. Subjek Penelitian

Penelititan ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan juni Tahun 2008. Waktu tersebut dimulai dari tahap perencanaan sampai laporan dengan 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 1 UEPAI yang berjumlah 22 orang.

Memilih siswa kelas V sebagai responden dengan alasan 1) Tingkat perkembangan kongnitif usia 10-11 tahun sudah mempunyai kemampuan, 2) adanya variasi siswa, dilihat dari status sosial, pendidikan, dan pekerjaan orang tua mereka, 3) adanya masalah yang dihadapi siswa kelas V dalam melakukan suatu eksperimen/ percobaan dalam pelajaran IPA.

(40)

C. Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Data yang berupa nilai raport dan proses pembelajaran.

2. Pernyataan verbal siswa dan guru yang

diperoleh dari hasil waancara dalam lingkup seputar pemahaman siswa terhadap materi.

3. Pelaksanaan Tindakan

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Observasi ini dilakukan oleh peneliti dan satu orang teman sejawat atau berpedoman pada lembar observasi

2. Wawancara

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan ke dalam pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan guru. Wawancara ini bersifat klinis karena pada saat

(41)

wawancara pertanyaan yang diajukan kepada siswa menuju kepada arah perbaikan dalam pembelajaran.

3. Tes /Pelaksanaan Tindakan

Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes pada setiap akhir tindakan dengan tujuan untuk mengukur setiap hasil percobaan yang diperoleh dalam setiap tindakan dalam pembelajaran.

4. Pengamatan

Perekaman dalam penelitian inni melibatkan 2 orang pengamat yaitu dari teman sejawat dan guru kelas V atau guru IPA. Pengamatan ini bertujuan untuk kegiatan penelitian dan siswa dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran selama penelitian berlangsung. Pada kegiatan pengamatan ini digunakan pedoman observasi.

E. Validasi Data

Untuk mengecek keabsahan data digunakan tekinik derajat kepercahayan (Moelong, 2001: 176). Dari 7 cara pengecekan keabsahan data yang dikembangkan oleh Moelong(2001: 177-180), yang digunakan dalam penelitian ini ada 3 cara yaitu (1) ketekunan pengamatan, (2) Triangulasi, (3) pemeriksaan teman sejawat.

Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara teliti, rinci, dan terus-menerus selama penelitian. Dalam hal ini dapat diikuti

(42)

dengan pelaksanaan wawancara secara intensif aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan triagulasi dilakukan untuk membandingkan persepsi penelit dengan pihak lain, terhadap suatu data yang berupa temuan dilapangan. Triagulasi meliputi pengumpulan pendapat mengenai suatu kajian dalam proses penelitian dari tiga sudat pandang yang bebeda. Sementara pengecekn teman sejawat adalah mendiskusikan proses dan hasil penelitian dengan dosen pembimbing atau pengamat yang ikut dalam pemgumpulan data atau teman mahasiswa. Semua itu dilakukan dengan harapan peneliti mendapat masukan-masukan untuk merumuskan kegiatan selanjutnya.

F. Analisis Data

Dalam penelitian analisis data dilakukan selama dan setelah penelitian, pada saat refleksi dari setiap tindakan pembelajaran. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Kugurman (1992: 18) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu: 1) menyelidiki data, 2) menyajikan data, 3) menarik kesimpulan dan verifikasi.

G.Indikator Kerja

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu indikator tentang keterlaksanaan skenario pembelajaran dan indikator kemampuan pelaksanaan

(43)

eksperimen atau percobaan sifat cahaya. Skenario pembelajaran terlaksana dengan baik. Apabila minimal 75 – 100 % telah mencapai pembelajaran yang diharapakan.

Tabel taraf keberhasilan tindakan dalam pembelajaran sifat cahaya melalui pendekatan eksperimen.

Taraf Keberhasilan Kualitatif Nilai/Angka

85% - 100% Sangat Baik (SB) 5

70 % - 84 % Baik (B) 4

55% - 69% Cukup (C) 3

46% - 54% Kurang (K) 2

0 % - 45% Snagat Kurang (SK) 1

Sumber : Buku pedoman IKIP Malang 1999.

Setelah mengetahui keberhasilan proses dan hasil tindakan, selanjutnya diadakan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk menganilisis dan mengevaluasi tindakan yang telah dilaksanakan, baik rencana tindakan maupun pelaksanaan tindakan, kesimpulan sementara dijadikan sebagai masukan untuk tindakan selanjutnya.

H. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model Kemmis dan MC Teggart (dalam Soedarsono, 1997: 16) yaitu terdiri atas empat komponen utama yaitu: 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut.

(44)

Bagan alur penelitian pembelajaran sifat cahaya dengan menggunakan pendekatan eksperimen

Gambar 3.1 Bagan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (Tim Proyek PGSM, 1992: 27) Sudah Berhasil Ide awal Diagnosis Masalah Menyusun

Rencana Siklus Tindakan siklus 1Guru membagikan LKS melakukan Membimbing siswa melakukan eksperimen Observasi Siklus 1 Refleksi analisis dan Evaluasi Belum Berhasil Refleksi analisis dan Evaluasi Observasi

Siklus 2 Menyusun Rencana

Siklus 2 Tindakan Siklus 2 Guru membagikan LKS Membimbing siswa melakukan eksperimen

(45)

Berdasarkan bagan alur pelaksanaan penelitian tindakan yang dilaksnakan terdiri atas: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, maka keempat tahap tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

1. Tahap Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan adalah persiapan perencanaan pembelajaran sifat cahaya dengan mengunakan pendekatan eksperimen, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menyamakan persepsi antara guru dengan peneliti, guru dan teman sejawat tentang konsep dan pendekatan eksperimen dalam pembelajaran sifat cahaya. b. Secara kolaboratif menyusun perencanaan tindakan pembelajaran siklus 1 c. Menentukan bahan dan media pembelajaran yang akan digunakan

d. Menyusun rambu-rambu instrumen data keberhasilan guru maupun instrumen data keberhasilan siswa, berupa format observasi, pedoman wawancara, tes dan persiapan perekaman kegiatan tindakan.

e. Peneliti memberikan bimbingan kepada guru dan teman sejawat cara mengimplementasikan rencana pembelajaran siklus 1 sebelum dilaksanakan tindakan

(46)

Tahap pelaksanaan tindakan adalah dimana mengimplementasikan rencana tindakan yang akan disusun secara kolaboratif, sehingga pada kegiatan penelitian dengan menggunakan pendekatan eksperimen akan melalui dua siklus kegiatan. Setiap siklus terdiri dari empat fase yaitu: 1) rencana tindakan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, 4) refleksi.

3. Tahap Observasi

Tahap observasi adalah mengamati seluruh proses tindakan dan pada saat selesai tindakan. Fokus observasi adalah guru dan siswa. aktivitas guru dapat diamati mulai tahap pembelajaran , saat pembelajaran, dan akhir pembelajaran. Data aktivitas guru dan siswa diperoleh dengan menggunakan format obsevasi, pedoman wawacara.

4. Tahap Refleksi

Tahap refleksi adalah serangkaian tindakan dalam penelitian yang mencakup kegiatan menganalisis, memahami, menyelesaikan dan menyimpulkan pengamatan. Hasil dari refleksi ini menjadi informasi tentang sesuatu yang terjadi dan yang diperlukan selanjutnya informasi ini dapat menjadikan dasar perencanaan selanjutnya.

Untuk keberhasilan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek guru dan siswa. keberhasilan dari aspek guru dapat dilihat pada kemampuan mengimplementasikan perencanaan pembelajaran melalui tiga tahap yaitu tahap awal, inti, dan akhri kegiatan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan eksperimen sedangkan pada

(47)

siswa dapat dilihat pada saat pembelajaran dan hasil yang dicapai pada saat melakukan percobaan pada pembelajaran IPA.

BAB IV

PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Data

Dalam bagian ini dipaparkan data, dan pembahasan. Pembelajaran dengan mengunakan pendekatan eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Data tindakan, temuan dan refleksi diperoleh melalui pengamatan, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi hasil belajar siswa. Data setiap siklus dipaparkan secara terpisah. Adapun paparan data penelitian mencakup (1) paparan data sebelum tindakan, (2) paparan data tindakan 1 siklus 1, (3) paparan data tindakan 1 dan tindakan 2 siklus 2. Hal ini betujuan untuk melihat perkembangan alur setiap siklus.

Pembelajaran sifat cahaya dengan menggunakan pendekatan eksperimen untuk mengetahui hasil belajar siswa di kelas V sekolah dasar sebagai suatu proses yang mencakup (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan tindakan pembelajaran, (3) hasil dan temuan penelitian dan refleksi tindakan.

(48)

1. Paparan Data sebelum Tindakan

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan kunjungan pada sekolah yang akan diadakan penelitian, tujuan kegiatan tersebut untuk melakukan koordinasi dengan kepala sekolah agar diisinkan untuk melaksanakan penelitian pada sekolah yang dipimpinnya. Hasil koordinasi dengan kepala sekolah ternyata diisinkan untuk melaksanakan penelitian pada sekolah tersebut.

Selanjutnya kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya pada guru kelas V untuk selanjutnya membicarakan rencana yang akan dilakukan pada saat penelitian , berdasarkan hasil koordinasi dengan guru kelas V paada SD N 1 Uepai yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah kelas unggulan, dasar pertimbangan yang diberikan karena kelas tersebut siswanya mempunyai persaingan dalam belajar sangat baik. Disamping itu peneliti juga meminta kesediaan guru IPA untuk menjadi pengamat dan dibantu teman sejawat dan mahasiswa yang melakukan penelitian .

Sebelum melaksanakan tindakan, penelitian mengadakan tes awal, tes awal ini berisi tentang materi sifat cahaya. Pemberian tes ini dimaksudkan untuk mengetahui pemehaman siswa tentang materi yang akan diajarkan. Selain itu, dilaksanakan untuk menjaring siswa yang dijadikan subjek penelitian. Tes awal dapat dilihat pada lampiran I.

Pada hari jumat tanggal 16 Mei 2008 disepakati pelaksanaan tes awal, waktu yang digunakan untuk melakanakan tes awal 45 menit. Tes awal diikuti 22 orang siswa sesuai dengan jumlah siswa pada kelas yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Setelah tes awal selesai dilaksanakan, maka berdasarkan hasil tes awal dan

(49)

pertimbangan guru kelas masih banyak siswa melakukan kesalahan dalam menjawab soal.

Langkah selanjutnya peneliti melakukan persiapan mengajar serta memberikan lembar observasi kepada guru kelas untuk melakukan pengamatan selama penelitian berlangsung. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada guru untuk mendiskusikan hal-hal yang kurang jelas yang ada pada persiapan mengajar dan lembar pengamatan sebelum tindakan diberikan.

2. Paparan Data Tindakan I Siklus I

Pada kegiatan yang dilaksanakan pada tindakan I siklus I meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Masing-masing kegiatan diuraikan sebagai berikut

a. Perencanaan

Perencanaan pembelajaran ini mengambil pokok bahasan cahaya dengan sub pokok bahasan sifat cahaya (cahaya dapat merambat lurus dandapat menembus benda benig). Dengan alokasi waktu 2 x 35 menit, perencanaan tersebut disusun dan dikembangakan oleh peneliti serta dikonsultasikan dengan dosen pembimbing yaitu berupa (1) perencanaan pembelajaran, (2) lembar kerja siswa, (3) tes akhir

Tujuan kelas yang akan dicapai siswa adalah dapat menyerap isi materi dan dapat memberikan tanggapan materi yang diperolehnya. Berdasarkan tujuan kelas yang dirumuskan maka peneliti menetapkan tujan pembelajaran khusus setelah proses pembelajaan selesai diberikan sebagai berikut:

(50)

b. Siswa dapat membuktikan bahwa cahaya dapat menembus benda bening

c. Siswa dapat memberikan contah peristiwa yang membuktikan cahaya dapat merambat lurus dan dapat menembus benda bening

Dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, perencanaan pembelajaran dibagi tiga kegiatan, yaitu (1) kegiatan awal, (2) kegiatan inti, yang terdiri atas 3 fase yaitu (a) fase eksplorasi, (b) fase pengenalan konsep, (c) fase aplikasi konsep, dan (3) kegitan akhir. Meskipun perencanaan ini dibagi menjadi tiga kegiatan namun setiap kegiatan tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

b. Pelaksanaan.

Pelaksanaan pembelajaran sifat cahaya dengan menggunakan pendekatan eksperimen untuk mengetahui hasil belajar siswa di kelas V Sekolah Dasar Negeri I Uepai untuk siklus I dilaksanakan I x pertemuan. Pelaksanaannya dilaksanakan pada hari jumat 23 Mei 2008 pada pukul 7.30-9.30 WITA yang dihadiri 22 orang siswa

Proses pembelajaran sifat cahaya dibagi atas tiga kegiatan yaitu, kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal guru mempersiapkan fasilitas yang terkait dengan pembelajaran sifat cahaya (alat-alat peraga), selanjutnya kegiatan ini dilanjutkan dengan ,membangkitkan skemata siswa melalui pengamatan sifat cahaya, serta tanya jawab dan diskusi siswa dalam kelompok. Aktivitas tindakan guru dan siswa dalam kegiatan awal seperti tampak pada dialog I.

(51)

Guru : Anak-anak! Pagi ini pelajaran IPA. Apakah anak-anak sudah siap belajar? Siswa : Siap Bu.. (menjawab dengan serentak)

Guru : Baiklah, apakah anak-anak masih mengenal sifat cahaya? Siswa : Masih Bu…

Guru : Bagus ! siap yang bisa menyebutkan salah satu sifat cahaya? Siswa : (Semua siswa mengacungkan tangan) saya Bu…

Guru : Ayo, IK,ST,MR

Siswa : Saya Bu…(IK menjawab) cahaya dapat menembus benda bening dan cahaya dapat merambat lurus

Guru : Ayo, perhatikan alat peraga yang ada didepan kalian Siswa : IK memperhatikan alat peraga

Guru : Ayo, ST tunjukkan pada temanmu bahwa cahaya dapat menembus benda Bening

Siswa : MN membantu IK dan ST melakukan percobaan untuk membuktikan bahwa cahaya dapat menembus benda bening

Guru : Bagaimana dengan yang lainnya?

Siswa : Sudah Bu…(siswa menjawab dengan serentak)

Guru : Bagaimana dengan EL ? apa benar cahaya dapat menembus benda bening seperti yang dilakukan temanmu pada percobaan tadi ?

Siswa : Betul Bu…(,menjawab dengan serentak)

Guru : Coba EL sebutkan berapa sifat cahaya yang dapat kamu lakukan pada percobaan tadi

siswa : (menyebutkan dua sifat cahaya)

Guru : Apakah yang disebutkan EL sudah benar? Siswa : Sudah Bu… (serentak menjawab)

Dari dialog diatas, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah dapat memahami materi cahaya yang merupakan materi prasyarat untuk mengajarkan sifat cahaya, untuk memantapkan pemahamanan siswa, guru meminta siswa secara bergantian membuktikan sifat cahaya yang dapat merambat lurus dan cahaya dapat menembus benda bening, ternyata siswa dapat menunjukan sifat cahaya melalui percobaan yang dilakukan oleh siswa.

Pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan konsepsi awal siswa tentang sifat cahaya. Setelah melakukan tanya

(52)

jawab, ternyata konsepsi awal yang dimilki siswa tentang sifat cahaya bervariasi, oleh sebab itu guru meminta siswa melakukan kembali percobaan dengan mengambil senter dan kemudian disorotkan pada gelas bening yang terisi dengan air.

Tenyata dalam melakukan percobaan, sebagian siswa tidak dapat melakukan percobaaan dengan benar tanpa arahan dan bimbingan guru. Siswa hanya menyentukan pada gelas bening tanpa memperhatikan sifat cahaya. Hal ini menunjukan masih ada siswa yang belum memahami konsep cahaya. Oleh sebab itu, guru tetap membimbing siswa agar memiliki pengetahuan awal tentang pengetahuan tentang konsep sifat cahaya dengan membuktikan salah satu sifat cahaya dengan melakukan percobaan sederhana, hal ini dimaksudkan agar pengetahuan yang dimiliki siswa dapat ditransferkan untuk memahami konsep sifat cahaya. Setelah siswa memiliki pengetahuan awal sebagai materi prasyarat untuk memahami sifat cahaya dengan alat-alat peraga sederhana terlebih dahulu guru menyampaikan tujuan pelajaran dan membentuk siswa dalam bentuk kelompok.

Kegiatan inti

Sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun penyajian materi pada kegiatan ini dilakukan melalui tiga fase yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep dan aplikasi konsep.

Pada fase eksplorasi tujuan yang akan dicapai yaitu siswa dapat mengetahui sifat cahaya dengan memanifulasi benda konkret ( senter, gelas bening, buku, batu dan plastik bening). Aktivitas yang dilakukan agar siswa memperoleh pengetahuan

(53)

konseptual. Adapun aktivitas pada pembelajaran ini yaitu guru membagikan alat peraga pada masing-masing kelompok siswa berupa senter, batu, plastik bening, kertas karton dengan berbagai bentuk, kemudian siswa diminta untuk melakuan percobaan sederhana dan mengamati dan memanifulasi alat peraga tersebut diberi kesempatan mengajukan pertanyaan mengenai alat peraga yang ada pada masing kelompok.

Adapun kegiatan yang dilakukan siswa yaitu melaporkan tentang cara membuktikan sifat cahaya dengan caranya sendiri sesuai dengan kesepakatan kelompoknya. Hasil pengamatan guru, umumnya siswa dapat melakukan dengan benar

Tujuan kegiatan ini untuk mengarahkan siswa memperoleh pemahaman dan hasil belajar yang sesuai dengan konsep sifat cahaya dengan cara melakukan aktivitas yang membuat siswa dapat melaporkan hasil kegiatanya sesuai dengan pemikiran dan pengamatan yang dilakukannya. Setelah kegiatan ini selesai dilakukan, guru mengarahkan siswa untuk melanjutkan pada fase berikutnya yaitu fase pengenalan konsep.

Pada fase pengenalan konsep, guru mengarahkan siswa untuk melaporkan hasil diskusinya dan memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk memberikan tanggapan. Tujuannya agar siswa dapat mentukan sendiri sifat cahaya melalui percobaan sederhana

(54)

Pada saat diskusi semua kelompok berusaha membuktikan bahwa cahaya mempunyai sifat cahaya. Semua kelompok secara aktif mengisi format diskusi yang akan menuntun siswa untuk mengamati sifat cahaya berdasarkan alat peraga yang dibagikan oleh guru seperti senter, plastik bening, batu, gelas bening serta karton.

Peran peneliti pada tahap ini adalah sebagai pembimbing dan fasilitator . Peneliti mengelilingi setiap kelompok untuk melihat kemajuan hasil kerja siswa. Jika ada kelompok yang mengalami kesulitan, maka peneliti memberikan bimbingan dengan cara mengajukan pertanyaan yang dapat membantu arah kerja kelompok

Setelah hasil kerja kelompok diselesaikan, maka masing-masing kelompok melaporkan hasil kegiatannya dan kelompok lain memberikan tanggapan. Pelaksanaan diskusi kurang bersemangat, karena kegiatan diskusi dikuasai oleh siswa yang berkemampuan tinggi, sementara siswa yang berkemampuan rendah terlihat malu-malu menggungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Siswa yang belum memiliki keberaniaan untuk menggemukakan pendapat atau pertanyaan diberikan motivasi oleh guru untuk tidak perlu takut salah, karena semua itu adalah proses belajar. Selain itu, guru menunjuk langsung siswa dalam menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyan , dengan cara ini terlihat bahwa akan berusaha menjawab atau mengajuakan pertanyaan kepada temannya atau kepada kelompok lain. Jawaban yang diunggkapkan masing-masing kelompok bervariasi ada kelompok yang mengatakan bahwa sifat cahaya dapat dilakukan dengan percobaan yang lebih menarik dari setiap alat peraga yang dibagikan oleh guru. Selanjutnya ada siswa yang melakukan

(55)

percobaan lain dalam menentukan sifat cahaya. Kesimpulan dari hasil diskusi walaupun ada perbedaan tentang cara melakukan percobaan, akhirnya diperoleh kesimpulan secara bersama-sama untuk masing-masing kelompok dalam percobaan.

Fase aplikasi konsep bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memantapkan konsep dan menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan sifat cahaya sesuai dengan yang telah dipelajari melalui percobaan sebagaimana yang ada pada LKS. LKS ini diberikan kepada tiap-tiap kelompok dan selanjutnya siswa mendiskusikan hasil kerjanya.

Setelah masing-masing kelompok melaporkan hasil kerjanya yang ada pada LKS, kegiatan berikutnya yaitu dengan melakukan diskusikan antar kelompok yang dipandu oleh guru, anggota kelompok lainnya memberikan komentar dan mengkritisi jawaban dari kelompok lain. Hal ini tampak pada kegiatan diskusi berlangsung, siswa mulai kelihatan bersemangat dan antusias. Hal ini terlihat dari keaktivan dan tanggapan-tanggapan yang diberikan siswa berhubungan dengan pekerjaan temannya. Tidak hanya itu guru memberikan arahan dan penguatan secara verbal terhadap pendapat dan hasil kerja setiap kelompok. Setelah kegiatan diskusi selesai dilakukan, guru memberikan motivasi dan penguatan kepada seluruh siswa agar dalam mengerjakan soal harus lebih cepat, teliti dan terampil dalam mementukan sifat cahaya dengan benar. Sebelum tes formatif dilakukan, guru menanyakan kembali kepada seluruh siswa tentang sifat cahaya yang belum dipahami.

(56)

Kegiatan tes formatif ini bertujan untuk mengecek apakah siswa sudah benar-benar memahami proses pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran. Peneliti membagikan lembar tes kepada seluruh siswa sebagai akhir tindakan. Setelah membagikan tes kepada siswa peneliti, mempersilahkan kepada siswa mengerjakan tes secara individu dan tidak diperkenankan bekerjasama.

Setelah 20 menit kemudian, menyatakan bahwa waktu untuk mengerjakan tes telah selesai namun sebelum dikumpulkan, peneliti menggingatkan keadaan siswa untuk mengecek kembali jawaban yang telah dikerjakan pada lembar jawaban yang dibagikan oleh peneliti, kemudian siswa diminta mengumpulkan lembar jawabannya. Kegiatan selanjutnya guru bersama-sama dengan siswa menjawab tes formatif, setelah itu pembelajaran diakhiri dengan membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran yang telah dipelajarinya.

Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk melihat keberhasilan yang dilakukan dalam tindakan I siklus I. Pembelajaran dalam tindakan I bertujuan agar siswa dapat memahami tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang dibantu 1 orang pengamat meliputi proses evaluasi terhadap hasil pembelajaran.

Evaluasi proses pembelajaran dilaksanakan untuk menemukan beberapa fakta dari aktivitas subjek peneliti dan aktivitas guru selama proses tindakan I siklus I. Dari aktivitas subjek penelitian ini semua siswa mengerjakan tugas dengan

(57)

sungguh-sungguh, namun masih ada yang belum berani menggemukakan idenya, selain itu juga ditemukan adanya sebjek yang mengerjakan pekerjaan lain saat kegiatan diskusi sedang berlangsung (ikhsan dan marina). Hal ini menyebabkan anggota kelompoknya mengisi LKS hanya berdasarkan pada pemahaman sendiri, kenyataan seperti ini menujukan bahwa pelaksanaan pembelajaran belum memenuhi harapan yang diinginkan

Hal tersebut masih dijumpai pada kelompok lain yang menunjukan belum mengerti tentang materi yang disajikan oleh guru, hal ini terlihat dari pertanyaan yang diajukan oleh guru, sehingga siswa tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Pertanyaan dalam LKS sebagian dijawab tidak benar, Hal ini nampak siswa gusar bila didekati oleh guru. Untuk mengatasi hal tersebut guru perlu meningkatkan perhatian kepada siswa yang belum mengerti. Perhatian tersebut diharapkan dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran

Evaluasi akhir dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Jika hasil yang diperoleh siswa yang menjadi subjek penelitian pada tindakan I silklus I belum menujukan hasil yang memuaskan selama mengerjakan tes terdapat 4 (empat) siswa yang menjadi subjek masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan sifat cahaya. Selain itu juga siswa kurang memperhatikan pembelajaran pada waktu melakukan eksperimen /percobaan dalam menentukan sifat cahaya. Hasil pekerjaan siswa menunjukan bahwa siswa sebenarnya memahami konsep sifat cahaya dengan berbagai representasi yaitu dalam bentuk menggunakan

(58)

alat peraga (konkret) yang berbentuk gambar. Secara umum kesulitan yang dialami siswa yaitu setelah alat peraga sebagai jembatan untuk memahami sifat cahaya yang dilanjutkan ketahap pemahaman konsep dan aplikasi konsep. Hasil tes tindakan I siklus I dapat dilihat pada lampiran 6.

c. Hasil Observasi

Tindakan I siklus I diamati selama proses pelaksanaan tindakan dan setelah tindakan, faktor pengamatan adalah perilaku siswa dan guru dengan menggunkan lembar observasi (lembar observasi dapat dilihat pada lampiran 7). Adapun aspek yang diamati adalah aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang terdiri dari tiga fase yaitu fase eksplorasi, fase pemahaman konsep dan fase konsep. Hasil tes tindakan I siklus I dapat dilhat pada lampiran 6.

Hasil observasi yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran tindakan I adalah sebagai berikut :

1. Pada kegiatan awal pembelajaran guru memotivasi siswa dengan mengkomunikasikan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. 2. Guru menggali pengetahuan awal dimiliki siswa dengan pokok bahasan yang

akan di ajarkan, dan melacak pengetahuan siswa tentang pokok bahasan yang akan disajikan.

(59)

3. Guru membagikan alat peraga kepada seluruh siswa (kelompok) dan menjelaskan tujuan alat peraga yang dibagikan.

4. Siswa terlihat senang dan aktif dalam memanifulatif alat peraga untuk menentukan sifat cahaya sesuai tujuan yang akan dicapai.

5. Guru selalu mengamati siswa yang mengalami kesulitan dan memberikan arahan dan bimbingan.

6. Masih terdapat siswa kurang berani mengajukan pertanyaan yang belum dimengerti.

7. Siswa masih mengalami kesulitan saat alat peraga tidak lagi digunakan dalam mengerjakan soal pada LKS

8. Kerja kelompok tidak berjalan aktif, karena masih ada siswa yang kurang memperhatikan kerja kelompok pada saat melakukan percobaan.

9. Guru belum menggunakan waktu secara efisien, sehingga pembelajaran yang direncanakan tidak sesuai dengan yang dilaksanakan.

d. Hasil wawancara

Pelaksanaan wawancara bertujuan untuk mengetahui pemahanan siswa terhadap materi sifat cahaya secara eksperimen atau percobaan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Oleh kaena itu pertanyaan dalam format wawancara berorientasi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :