CATATAN RAPAT PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Temp at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Rapat Hadir I. ANGGOTA TETAP: 1. DR. A. A. Baramuli, S.H. 2. D,.qmciwar, S.H. 3. Soelaksono, S.H. 1986 - 1987 I 7

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-4 Menteri Kehakiman

Terbuka

Jum'at, 3 Oktober 1986 08.35 - 11.20 WIB

Ruang Sidang Panitia Khusus DPR-RI DR. A.A. Baramuli, S.H.

Ors. Noer Fata

Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah atas Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara antara DPR-RI dan Pemerintah.

I. PANITIA KHUSUS

26 dari 38 orang Anggota Tetap 15 dari 19 orang Anggota Pengganti. II. PEMERINTAH :

Menteri Kehakiman dan Staf.

4. Dudy Singadilaga, S.H. MPA. 5. H.M. Munasir

(2)

6. Imam Sukarsono, S.H. 7. M. Said Wijayaatmadja, S.H. 8. Harry Suwondo, S.H. 9. Drs. F. Harefa, S.H. 10. M.S. Situmorang 11. A.S.S. Tambunan, S.H.

12. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H. 13. Warsito Puspoyo, S.H .. 14. Suhadi Hardjosutamo, S.H. 15. Soeboeh Reksojoedo, S.H 16. M. Zainuddin Wasaraka 17. Muljadi Djajanegara, S.H. 18. Sugiharsojono, S.H. 19. Drs. Sawidago Wounde 20. A. Madjid Ewa, S.H. 21. J. Soedarko Prawirojoedo 22. Soetomo HR, S.H. 23. H.M. Djohan Burhanuddin A, S.H. 24. TGK. H.M. Saleh 25. Drs. H. Mustafa Hafas 26. Drs. Ruhani Abdul Hakim II. ANGGOTA PENGGANTI

1. Soeharto

2. Amir Yudowinamo 3. Sutjipto, S.H.

4. Drs. H. Samad Thaha

5. Ny. A. Roebiono Kertopati, S.H. 6. A. Latief, S.H.

7. H.R. Soedarsono 8. Ir. A. Moestahid Astari

9. Ny. Dra. H. Nasjarah M. Effendi 10. Abdul Rahim Mandji

11. Ibnu Saleh

12. Suparman Adiwidjaja, S.H. 13. Drs. H. Yahya Chumaidi Hasan 14. Ny. H. Asmah Sjahruni

(3)

III. PEMERINTAH : 1. Ismail Saleh, S.H 2. Indroharto, S.H. 3. Djoko Soegianto, S.H. 4. Roeskamdi, S.H. 5. Anton Soedjadi, S.H. 6. Zulfikar Jasid, S.H. 7. Marianna Sutadi

8. Dr. Paulus Effendi Latulung, S.H. 9. Ny. Fatimah A

IO. Ny. M. Asma Saleh 11. Wicipto Setiadi, S.H. 12. Dewi Maryun 13. Etty Rusmadi Murad 14. Hurizal Chan 15. Seti a wan 16. A. Sudjadi 17. Bambang Wiyono 18. M. Ridwan Suratman - Menteri Kehakiman Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf. Staf Staf Staf Set. Kab. Staf

- Penghubung Dep. Keh. Staf

Staf KETUA RAPAT (DR~ A. A. BARAMULI, S.H.):

Membuka rapat dan menyatakan bahwa sidang ini terbuka untuk umum. Selanjutnya mengatakan bahwa ada catatan rapat yang diterima yaitu catatan rapat hari Selasa tanggal 30 Septemer 1986 dan catatan rapat tersebut telah disampaikan kepada para Anggota. Menurut prosedur yang telah ditetapkan bersama, catatan rapat ini diperiksa masing-masing, bilamana ada yang hendak dikoreksi supaya disampaikan kepada Sekretariat dan kalau ada yang sangat perlu untuk disampaikan supaya disampaikan di dalam sidang ini.

Berikutnya menanyakan apakah ada yang sangat perlu di dalam rangka memperbaiki catatan rapat tersebut.

FKP (W ARSITO PUSPOYO, S.H.) :

Minta perhatian terhadap Peraturan Tata Tertib yaitu Pasal 118 dimana ditentukan bahwa catatan rapat sementara, jadi judulnya "Catatan Rapat Sementara" diberikan kesempatan untuk diadakan koreksi dalam waktu 4 hari sejak diterimanya catatan rapat sementara tersebut.

KETUA RAPAT :

Memang demikian halnya, jadi untuk jelasnya Pasal 118 ayat (2). Setiap anggota dan pihak yang bersangkutan diberi kesempatan untuk mengadakan koreksi terhadap catatan rapat sementara itu dalam waktu 4 hari sejak diterima dan menyampaikan kepada Sekretaris Rapat yang bersangkutan.

(4)

FKP (W ARSITO PUSPOYO, S.H.) :

Disamping itu Sekretariat Panitia Khusus diwajibkan membuat Laporan Singkat. Laporan Singkat ini yang lebih diperlukan, lebih dini daripada catatan rapat dan membuatnya memang juga lebih singkat yang memuat kesimpulan dan keputusan rapat saja. Dan ini perlu sebagai pegangan Panitia Kerja nanti.

KETUA RAPAT:

Memang demikian, jadi ada dua macam laporan yaitu laporan singkat dan · catatan rapat. Kalan di dalam laporan singkat dan risalah catatan rapat itu kalau

rapatnya terbuka ya tidak perlu dicantumkan rahasia.

Selanjutnya mengharap agar Sekretariat dapat menyusun secara pendek laporan singkat ini kalau memang itu diperlukan di samping catatan atau yang kita sebut yang dimaksud dengan catatan rapat di sini sudah dibuat, yang belum dibuat adalah laporan singkat. Laporan singkat itu isinya hanya tentunya bisa singkat sekali, misalnya di dalam ketentuan Pasal 117 di dalam ayat (3) itu dimaksudkan laporan singkat yang hanya memuat kesimpulan dan keputusan rapat.

Demikian dan Sekretariat mencatatnya untuk dilaksanakan. Pembahasan berikutnya adalah mengenai Pasal 2.

°"

Ketua mengingatkan kepada pesanan yang telah disetujui bersama kemarin supaya menyelesaikan pasal-pasal ini sampai dengan Pasal 7 pada hari ini sedapat mungkin, kecuali kalau para anggota menentukan lain lagi.

Pasal 2 tidak termasuk dalam pengertian keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Menurut undang-undang ini adalah, jadi kalau pengantamya ini dari F ABRI tidak ada, tetapi dari FKP ada.

Kemudian mempersilakan kepada FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Menyarankan mengenai butir-butir bisa sekaligus mengingat apa yang telah dikemukakan oleh Ketua mungkin kita akan bisa menghemat waktu. Karena itu FKP minta persetujuan Ketua apakah bisa secara sekaligus Pasal 2 seluruh butir ini, apakah seperti kemarin.

KETUA RAPAT :

Pimpinan bisa mengikuti seluruhnya, yang oleh Ketua khawatirkan itu fraksi-fraksi atau pun nanti ada pertanyaan bahwa tidak dimengerti atau bisa sulit untuk mengerti lain-lain masalah, sehingga mungkin sistem yang sekarang kita lakukan itu lebih baik. Karena waktu kemarin kita coba mengambil seluruhnya temyata tidak berjalan dengan baik. Bahkan Menteri sendiri menyampaikan supaya kurang mengerti apa yang dibicarakan, sehingga lebih baik satu demi satu.

(5)

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEIIARDJO,

S.H.):

Mengucapkan terima kasih dan dikatakan kalau FKP selalu taat kepada Pimpinan, apalagi pimpinannya dari FKP.

Untuk Pasal 2, sebelum memasuki butir a dan b, dari FKP ada catatan ialah bahwa disesuaikan dengan Pasal I butir 4.

Kalau kita membaca Pasal 1 butir 4, di situ sudah ada yaitu Keputusan Tata Usaha Negara. Di dalam Pasal 2 ini disebut Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Agaknya ini karena sudah ada di dalam butir 4 Pasal 1, agaknya ini bisa disingkatkan, sehingga kata-kata "badan" atau "pejabat" andaikan itu dihapus tidak mengurangi kejelasan daripada kalimat ini.

J adi bun yin ya adalah : Tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini adalah ... .

Demikian dari FKP hanya sederhana. KETUA RAPAT :

Cukup jelas dan sederhana.

Selanjutnya mempersilakan kepada FPDI. FPDI (SOETOMO..ffR, S.H.) :

Sungguhnya ini salah ketik, menurut asli yang dikirim FPDI dengan yang ditulis ini, di sana disebutkan tetap. Memang pada Pasal 2 itu FPDI menyebut juga tidak termasuk dalam pengertian keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini adalah ... Ini kata badan atau pejabat itu supaya dihapus, karenajuga sebagajmana kita ketahui pada ayat (1) butir 4 itu sudah menjelaskan mengenai keputusan itu apa, karena itu over bodig. Kalau di sini kan di bawahnya itu ada over bogid, itu rangkaiannya di situ. Oleh karena itu ini memang Pasal 2 itu tidak tetap, tetapi kata "badan" atau "pejabat" dihapus, lalu keterangan It over bodig.

KETUA RAPAT :

Baiklah diterima sebagai penjelasan untuk DIM yang sudah masuk tetapi kesalahan dari Sekretariat sehingga tidak dicantumkan, tetapi itu pun harus kita buktikan dulu. Tetapi Ketua menerima sebagai pernyataan sekarang ini, tidak ada bedanya dengan FKP.

Seterusnya mempersilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM):

Menanggapi usul FKP, FPP dapat menerima yaitu dengan menghapus kata "badan" atau "pejabat".

F ABRI (ll\fAM SUKARSONO, S.H.) :

F ABRI tidak mengusulkan apapun, dan ini berarti sama dengan apa yang tercantum .dalam undang-undang.

(6)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Untuk mengikuti ajakan Pimpinan agar lebih mempercepat pembahasan pada hari ini, maka dengan singkat Pemerintah menyatakan setuju usul yang diajukan oleh FKP.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian semuanya telah menyetujui. Selanjutnya beralih kepada : a. Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan

hukum keperdataan.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.):

Sesungguhnya DIM FKP ini menyangkut masalah yang pernah dibahas bersama dalam Pasal 1 yaitu mengenai istilah hukum keperdataan. Memang istilahnya belum begitu mantap, apakah ini perbuatan dalam bidang hukum perdata merupakan perbuatan hukum keperdataan. FKP hanya minta perhatian dari Pemerintah mengenai istilah ini, istilah yang baku apakah sudah ada. Apa bedanya dengan perbuatan dalam bidang hukum perdata. Dengan demikian jadi kalau dibandingkan istilah ini dengan nomor 7 butir 7 Pasal 1 di situ ada Badan Hukum Privat. Kemudian sekarang itu ada istilah hukum keperdataan.

Untuk ini maka FKP ingin minta perhatian, apakah ruang lingkup perbuatan hukum keperdataan. Ini FKP minta dijelaskan. Di dalam penjelasan FKP membaca:

a. Keputusan-keputusan yang menyangkut masalah jual beli yang dilakukan antara instansi Pemerintah dengan perseorangan yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan Hukum Perdata.

Istilahnya di sini Hukum Perdata.

Jadi memang FKP masih ingin memperoleh suatu pembakuan istilah. Mungkin ada kesamaannya atau mungkin ada perbedaannya.

KETUA RAPAT:

Menjelaskan bahwa FPDI tidak ada masalah, FPP tidak ada masalah dan dari FABRI juga tidak ada masalah. Walaupun demikian tetapi dipersilakan dari FPDI menyampaikan pendapatnya.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Menanggapi usul FKP, itu sifatnya adalah dimintakan penjelasan. Karena itu dalam hal ini yang patut memberikan penjelasan adalah pihak Pemerintah. Sehingga dengan demikian masalahnya menjadi jelas. Kalau tidak salah tangkap itu adalah dalam rangka pembakuan istilah.

KETUA RAPAT:

(7)

berikutnya mempersilakan FPP.

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN) :

Memang kita sedang berusaha membakukan istilah-istilah bahasa kita di dalam pengetrapan undang-undang yang memang selama ini kita usahakan di DPR-RI. FPP sama beranggapan mengenai istilah Hukum Keperdataan itu masih belum mendapatkan satu kejelasan. Apa bedanya Hukum Perdata dan Hukum Keperdataan. Apakah kalau disebutkan yang bersifat Hukum Perdata, mungkin

ini masalahnya agak terbatas. ·

Tetapi kalau Hukum Keperdataan mungkin agak luas daripada pengertian Hukum Perdata. Untuk itu semua FPP sependapat dengan FPDI untuk lebih dahulu minta penjelasan dari pihak Pemerintah tentang istilah ini.

KETUA RAPAT : Mempersilakan F ABRI.

FABRI (M.S. SITUMORANG):

FABRI dalam hal ini menyetujui dalam arti tidak memberikan tanggapan, menyetujui naskah daripada Rancangan Undang-undang. FABRI menganggap bahwa perbuatan Hukum Keperdataan ini, jadi bukan berdiri sendiri Hukum Perdataan, tetapi perbuatan Hukum Keperdataan adalah diterjemahkan daripada Civil Rechtelejk Handeling. Jadi bukan hanya Hukum Keperdataan dibandingk<m dengan Hukum Perdata di sini.

Oleh sebab itu F ABRI menganggap istilah yang baru ini adalah cocok dengan apa yang FABRI maksudkan tadi Civil Rechtelejk Handeling. Walaupun dem1kian tentunya seperti fraksi-fraksi yang lain yang dapat memberikan kejelasan lebih jauh adalah pihak Pemerintah.

KETUA RAPAT :

Civil Rechtelijk Handeling atau Civil Rechtelijke Handelingen? FABRI (M.S. SITUMORANG):

Civil Rechtelijke Handelingen. KETUA RAPAT :

Mempersilakan kepada pihak W akil Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Di dalam membahas butir a maka Menteri mengajak kembali untuk meneliti butir 4 Pasal 1 yaitu atas pertanyaan dari F ABRI ten tang apa yang dimaksud dengan Badan Hukum Privat. Pihak Pemerintah telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan Badan Hukum Privat dalam undang-undang ini

(8)

adalah Badan Hukum yang didirikan berdasarkan Hukum Perdata. Dan penjelasan Pemerintah itu dapat diterima. Di situ kita temui istilah "hukum perdata" dan telah Menteri jelaskan juga bahwa norma-norma perdata tidak hanya terdapat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Di dalam Pasal 2 butir a ini kita jumpai sekarang istilah yaitu perbuatan Hukum Keperdataan. FKP menanyakan dalam kaitannya dengan butir 7 yaitu Badan Hukum Privat. Karena itu oleh Menteri larikan juga pada butir 4 atas pertanyaan F ABRI.

Pemerintah setuju agar istilah-istilah ini dibakukan. Y aitu pertama di dalam butir 4 Badan Hukum Privat apabila dibakukan bisa juga dipergunakan istilah Badan Hukum Perdata, karena yang dimaksudkan Badan Hukum Perdata adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan Hukum Perdata. Sehingga apabila kita mempergunakan istilah Badan Hukum, jadi recht personnya, kita pakai istilah "perdata". Tetapi apabila kita mempergunakan kata "perbuatan hukum" atau recht handeling maka recht handeling ini yang ada hubungannya dengan perdata kita berikan awalan "ke" dan akhiran "kan". Jadi "keperdataan".

Singkatnya apa yang dimaksudkan atau apa ruang lingkup dari perbuatan Hukum Keperdataan itu? Perbuatan hukum keperdataan adalah suatu tindakan hukum yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban di bidang Hukum Perdata. Itu adalah perbuatan Hukum Keperdataan. Perbuatan Hukum Keperdataan adalah setiap tindakan hukum yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban di bidang Hukum Perdata.

Apabila tadi FABRI mengemukakan Civil Rechtelijke Handelingen, sesungguhnya ini apabila kita kaitkan pada atau perbandingkan dengan Arob, maka di sini ada istilah yang dipergunakan yaitu Recht Handelingen Naar Buergerlijke recht. Jadi kalau Arob mempergunakan istilah tindakan hukum Naar Bourgelijkrecht, jadi kalau burgerher berarti Hukum Perdata. Kita mempergunakan istilah perbuatan Hukum Keperdataan. Contohnya adalah sebagai berikut :

Yaitu keputusan tender. Keputusan tender itu menunjuk seorang pemborong untuk memenangkan tender, jadi ada keputusan tender menunjuk seorang pemborong dan pemborong itu menang tendemya. Ini adalah perbuatan hukum publik dan perbuatan hukum publik ini menurut Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini nanti dapat dijadikan obyek sengketa artinya dapat digugat. Tetapi hubungan hukum yang timbuVyang kemudian timbul berdasarkan kontrak setelah adanya tender tersebut yang telah diputuskan merupakan hubungan hukum menurut perdata artinya juga merupakan perbuatan Hukum Keperdataan.

Jadi jelas, keputusan menunjuk seorang pemborong, menangkan tender adalah perbuatan publik. Tetapi setelah tender dimenangkan kemudian ada langkah-langkah Iebih Ianjut yaitu kontrak, maka kontrak itu adalah perbuatan Hukum Keperdataan.

(9)

Jadi itulah yang sesungguhnya ruang lingkup dari butir a ini yang ditanyakan oleh FKP. Jadi apabila kita mempergunakan kata "badan hukum" maka yang dipakai di belakangnya adalah "perdata". Apabila kita mempergunakan "perbuatan hukum" maka di belakangnya memakai kata "keperdataan".

Pemerintah setuju andaikata di dalam butir-butir sebelumnya ada kata yang "privat" atau mungkin di dalam pasal-pasal selanjutnya itu ada kata yang tidak konsisten, seyogyanya ini semuanya diseragamkan.

KETUA RAPAT : Mempersilakan dari FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.):

Mengenai apa yang dimaksud bagi FKP memang sudah jelas dari penjelasan Pemerintah dan untuk itu FKP mengucapkan terima kasih. Hanya yang ditanyakan itu adalah pembakuan istilah perbuatan hokum keperdataan. Nanti ada perbuatan hukum kepidanaan, nanti mungkin ada perbuatan hukum keadministrasinegaraan. Asal nanti kita konsisten saja.

Sebetulnya dalam masalah ini FKP ingin nanti melihat lebih jauh di dalam ketentuan perundang-undangan yang lain, perbuatan hukum kepidanaan.

Ini memang penjelasan Pemerintah, sementara bisa diterima. Hanya FKP masih minta kepada Pemerintah kiranya nanti masih memberikan karena ada juga istilah-istilah yang sudah disusun oleh Departemen Kehakiman dan mungkin ada beberapa yang ditugaskan mengenai pembakuan istilah.

FKP menegaskan sekali lagi penjelasan dari Pemerintah sementara ini bisa diterima, cuma bilamana nanti ada betul-betul yang lebih baku mengapa misalnya dikatakan perbuatan hukum perdata ini nama sifat. Memang kalau di dalam bahasa asing itu ada tambahan jadi sipil rechtelijke, apakah dalam bahasa Indonesia juga demikian, untuk ini penjelasan Pemerintah sementara FKP bisa menerima, hanya mohon melalui ahli-ahli yang ada di departemen itu nanti agar semua nanti diberikan penjelasan. Kalau memang demikian FKP nanti akan menerima.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Mengemukakan bahwa setuju sebab nanti di dalam pembahasan Rancangan Undang-undang panitia istilah sendiri dan sebaiknya dibakukan semuanya. Ada salah satu hal kalau disepakati juga dalam kaitan dengan Pasal 2, yaitu tadi dalam Pasal 2 FKP mengusulkan mencabut badan atau pejabat dan itu disepakati bersama. Maka untuk konsistensinya ini tentunya badan atau pejabat itu dicoret sehingga bunyinya adalah : Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum keperdataan. Kedua, istilah yang dipergunakan tadi FABRI dan juga diulangi lagi oleh FKP mengenai sipil rechtelijke handeringen sesungguhnya kurang satu kata lagi yaitu sipil rechtelijke recht handelingen, jadi di sini recht handelingen tindakan

(10)

hukum.

KETUA RAPAT :

Mengemukakan rumusan dari butir a sebagai berikut: Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum keperdataan. Masuk dalam Tim Perumus yang dirumus adalah atau dicari perbuatan hukum keperdataan, jadi masuk dalam Tim Perumus. Kalau Pasal 2 batang tubuhnya yang pokok itu diterima, jadi tidak dibicarakan lagi Tim Perumus atau di Panitia Kerja. Jadi ini masuk Tim Perumus dengan catatan perbuatan hukum keperdataan dicarikan istilah yang cocok.

FADRI (M.S. SITUMORANG):

Mengemukakan bahwa FABRI minta perhatian semua Anggota Panitia Khusus terhadap pembacaan daripada Pasal 2 ini yaitu dikatakan : tidak termasuk keputusan Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini adalah Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum keperdataan. Dan dikatakan ini perlu didalami mengenai isinya dan diucapkan kembali sebagai berikut : tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara. Menurut undang-undang ini adalah Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum keperdataan, jadi dikaitkan dengan pengantar dan point a nya itu.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengemukakan bahwa di dalam sistematik undang-undang ini apa yang disebut dengan Keputusan Tata Usaha.Negara ditemukan dalam butir 4. Apabila dibaca nanti tidak sesuai dengan butir 4 tentu hams disesuaikan, jadi butir 4 itu yang menjadi inti dan seterusnya. lni FKP mengusulkan agar disederhanakan dan dipersingkat. Ini alasan sesungguhnya.

KETUA RAPAT :

Jadi dengan demikian apa yang tercantum di sini sudah sesuai tapi hams dibaca dengan butir 4 Pasal 1 atau dengan seluruh Rancangan Undang-undang ini.

FADRI (M.S. SITUMORANG):

Mengatakan bahwa sebenarnya waktu membaca agak ada keganjilan sedikit tidak termasuk di dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara dalam undang-undangnya ialah Keputusan Tata Usaha Negara. Apakah tidak ada perbedaan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara di sini dengan apa yang diartikan dalam pengantar itu. Apakah tidak ada perbedaan Pejabat Tata Usaha Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang termaktub di dalam pengantar itu dengan Pejabat Tata Usaha Negara yang termaktub di dalam point a, kalau menurut FABRI ada bedanya.

KETUA RAPAT :

Menanggapi FABRI kalau tidak salah tangkap supaya butir a keputusan badan atau pejabat tidak dihapus.

(11)

Kemudian ditanyakan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Pemerintah itu melihat dari Pasal 2, Pasal 2 itu badan atau pejabat dicoret, Pemerintah setuju. Kalau sekarang FABRI mengusulkan Badan atau Pejabat Tata U saha Negara dihapuskan, ten tu harus ditanyakan lebih dahulu apa alasannya tetap dipertahankan. Jadi FABRI tidak setuju badan atau pejabat itu dihapuskan.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

Mengemukakan bahwa dari FABRI tadi meminta perhatian semua Anggota Panitia Khusus untuk membaca secara arif dan bijaksana dan secara pelan-pelan kaitan daripada pengantar ini dengan point a. Dimana Keputusan Pejabat Tata Us~a Negara yang dimaksud di sana itu dengan keputusan Pejabat Tata Usaha Negara yang dimaksud dipoint a. Kalau secara teliti dibaca dengan bahasa Indo-nesia yang baik, kecuali ini ada bahasa IndoIndo-nesia yang lain atau salah penafsiran ini yang dimintakan perhatian bersama. Tapi kalau diputuskan bersama demikian, hanya ini supaya dicatat saja.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Tapi kalau badan atau pejabat itu dihapuskan itu tidak akan menimbulkan sesuatu salah pengertian.

KETUA RAPAT :

Menyatakan bahwa butir a ini diterima oleh Tim Perumus dan nanti disusun oleh Tim Istilah bersama Tim Perumus mengenai soal seluruh kalimat ini, dengan ketentuan bahwa yang dicarikan istilah bilamana cocok dengan pengertian hukumnya perbuatan hukum keperdataan. Kalau tidak maka tetap istilah ini.

Ditanyakan masuk di dalam Tim Perumus setuju. (RAP AT SETUJU)

Selanjutnya beralih ke butir b : keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

Mengemukakan bahwa di dalam butir b ini menurut Rancangan Undang-undang diterangkan keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum. Ini menurut pendapat daripada FPP kata-kata yang bersifat umum itu kurang jelas. Jadi untuk perlu ditambah dengan kata-kata menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan supaya lebih jelas. Tapi meskipun demikian kalau nanti barangkali Pemerintah memberikan keterangan apa yang dimaksud umum itu kemungkinan FPP bisa merobah pendirian dan mengikuti yang dikehendaki Pemerintah. Tetapi untuk sementara kata-kata yang

(12)

bersifat umum itu tidak menjadi jelas sebab menurut pengertian FPP yaitu Keputusan Tata Usaha Negara itu mestinya mempunyai bidang tersendiri, tapi ada lagi yang merupakan pengaturan umum. Jadi ini perlu dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan pengaturan yang bersifat umum.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Mengemukakan bahwa dari FPDI mengusulkan point b itu dihapus. Yang alasannya : Kita telah membahas juga Pasal 1 berempat yang secara tegas disebutkan, bahwa keputusan Tata Usaha Negara adalah bersifat konkret, indi-vidual dan final. Indiindi-vidual dan final yang dirasakan bahwa kata sifat umum itu tidak diperlukan lagi. Karena sudah jelas bahwa yang bisa yang artinya yang dimaksudkan Keputusan Tata Usaha Negara itu yang dimaksud dalam Rancangan Undang-undang ini adalah konkret sifatnya, individual dan final. Karena nu pengaturan bersifat umum menurut pendapat FPDI tidak perlu dicantumkan.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengemukakan bahwa mengenai masalah ini sesungguhnya kemarin sudah dibahas bersama. Namun demikian di sini diberikan ketentuan-ketentuan yang nanti akan bersifat mengikat, ditentukan di dalam ketentuan pasal yang bersangkutan.

Dikemukakan, karena itu mengenai istilah yang bersifat umum dalam pembahasan-pembahasan kemarin sudah ada tetapi juga masih mungkin perlu adanya suatu kejelasan.

Dikemukakan bahwa di dalam penjelasan pasal Rancangan Undang-undang ini diberikan contoh antara lain keputusan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah mengenai penggusuran atau pelebaran jalan.

Kemarin FKP menanyakan mengenai individual, yaitu apakah orang acau kelompok orang. Oleh Pemerintah dijelaskan bahwa bisa saja, karena mengena· suatu keputusan itu ada daftar nama-nama, jadi banyak orang dan itu bersita'. individual tapi tidak bersifat umum.

Dengan penjelasan-penjelasan kemarin itu memang bisa timbul sifac yanf sangat progresif, karena sudah jelas supaya dihapus saja. Memang juga bisa kearar itu, tetapi walaupun demikian FKP me~anyakan atau mengusulkan saJa supav. yang bersifat umum itu lebih jelas, itu tidak mengenai seseorang atau beoeram orang tertentu yang disebut di dalam keputusan itu dalam bahasa asmgnva var algemenestreking. Streking itu adalah jangkauan, algemen nu umum, yanf jangkauannya itu umum. Artinya tidak menjangkau seseorang atau sekelomoo; orang tertentu, apabila pengertian dari FKP dianggap bena:

Tadi FKP memang masih cenderung untuk mencantumkan ini taoi d1sen<>· dengan penjelasan. Supaya lebih jelas lagi lawan kata yaitu lawan kata istiiar. individual dan istilah yang bersifat umum

(13)

Jadi FKP di dalam DIM-nya perlu penjelasan mengenai bersifat umum, dan belum sejauh dengan usul dari FPDI walaupun FKP dapat mengerti. Mengemukakan mengenai usul dari FPP merupakan tambahan sepanjang memenuhi ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Dikemukakan baltwa semua ketentuan itu hams demikian. Tetapi kalau semua ketentuan itu ada tambahan seperti itu FKP memang menanyakan apakah perlu. Bagi FKP yang penting adalah penjelasan yang bersifat umum supaya tidak digugat, karena masih bersifat umum karena mengenai penggugat seseorang tertentu, sesudah barang tentu sepanjang memenuhi ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Ini pendapat dari FKP atas saran dari FPP walaupun itu benar tapi apakah perlu dengan tambahan tersebut.

FADRI (M.S. SITUMORANG):

Mengemukakan bahwa FABRI hanya menanggapi karena prinsipnya FABRI adalah sesuai dengan Rancangan Undang-undang dan menyetujui Rancangan Undang-undang. Karena ini dikclitkan dengan Pasal 1 point 4. Sehingga dengan demikian kalau membaca sebenarnya Pasal 2 ini keseluruhan harus dikaitkan dengan butir · 4 daripada Pasal 1.

Jadi yang bersifat umum di sini menurut F ABRI adalah sebagai tidak indi-vidual dan pengaturan yang bersifat umum di sini apalagi setelah dijelaskan oleh Pemerintah kemarin adalah berisikan algemenestreking dan algemene regeling kalau menurut pendapat FABRI setelah penjelasan kemarin oleh Pemerintah untuk lebih menegaskan pendirian F ABRI.

Sehubungan dengan itu FABRI tanggapi dari FKP, kalau memang FKP yang bersifat ini masih kurang jelas kiranya ini perlu diperjelas di dalam penjelasan. Sedangkan mengenai FPDI yang mengatakan tidak perlu lagi karena sudah · ada konkret individual dan final itu, sebenamya karena sudah dibuat butir a. Seyogyanya juga butir b ini harus secara konsekwen dibuat semuanya, karenanya pengecualian di dalam hal-hal yang termaktub di dalam Pasal 1 butir 4.

Kemudian untuk menanggapi FPP, FABRI mengatakan bahwa ditambahkan untuk sepanjang memenuhi ketentuan Peraturan Perundang-undangan, karena prinsip yang dianut FABRI sudah dikaitkan dengan Pasal 1 butir 4 di mana dalam Pasal 1 butir 4 itu sudah terkandung Peraturan Undang-undang yang berlaku, sehingga dengan demikian menurut hemat FABRI tidak perlu lagi.

Walaupun demikian FABRI menyerahkan kepada kemufakatan bersama. KETUA RAPAT:

Mengemukakan bahwa dari F ABRI sudah jelas, dan ini memang masalah, tentunya keputusan lalu ... Badan atau Pejabat itu ... kalau konsisten menjadi hilang ... Tata Usaha Negara yang merupakan peraturan bersifat umum.

(14)

Sela~j•1\0y.i rl-ikemu:kaka.• bahwa memang ada masalah dalam penjelasan kalau diperhatikan penjelasan ini halaman 91 disebui: di dalam penjelasan b, keputusan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah mengenai penggusuran atau pelebaran jalan. Jadi ini semua keputusan, tapi mungkin terjadi keputusan untuk individual. Kalau ini diartikan demikian maka dengan butir 4 itu tidak ada masalah. Tapi kalau diberikan contoh begini memang perlu diperbaiki dan dipertajam. Ini kira-kira pendapatnya.

Mempersilakan Menteri.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Mengemukakan bahwa memang benar apa yang dikemukakan oleh FKP bahwa di dalam membahas Pasal 2 butir b Pemerintah kemarin sudah memberikan penjelasan tentang keputusan yang bersifat give konkret individual dan final. Pemerintah setuju apabila dipenjelasan itu nanti diperjelas lagi apa yang bersifat umum itu. Jadi pengaturan yang bersifat umum itu apa saja. Jadi ini terjemahan dari agemene streking mungkin bahasa Belandanya bisa ~iterima, tetapi bahasa Indonesianya kurang pas. Ini bisa diatasi dengan contoh-contoh dengan kalirnat-kalimat yang bisa memberikan suatu pengertian yang baik.

Jadi keputusan-keputusan yang bersifat abstrak, keputusan-keputusan yang merupakan pengaturan umum, jadi mempunyai sesuatu yang bersifat regelijk, abstrak, bersifat umum dan yang juga rnempunyai fungsi regelijk mengatur seperti Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, ini sifat umum, ini abstrak, ini belum konkret, belum individual. Jadi adanya Pasal 2 butir b ini justru untuk lebih memberikan imbangan terhadap apa yang tercantum dalam butir 4 Pasal 1. Butir 4 keputusan yang give. Pasal 2 itu memberikan suatu sorotan yang lain bahwa yang tidak termasuk di dalarn Keputusan Tata Usaha Negara ini adala)l keputusan yang algemene streking berarti tidak konkret individual dan final, yang mempunyai sifat yang relegelek mengatur, abstrak, : Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden yang bersifat mengatur ini semuanya termasuk ruang lingkup pengaturan yang bersifat umum.

Kita bisa memberikan penjelasan nanti bahwa pengaturan yang bersifat umum itu bisa dilihat dari segi ruang, dari segi waktu, segi orang, jadi singkatnya mungkin personel gebitnya dan sagen gebitnya dijelaskan di situ. Umum artinya yang bersifat mengatur yang regelijk yang mempunyai jangkauan umum tidak tertuju kepada perorangan. Jadi contohnya Peraturan Daerah menggusur tanah merupakan keputusan yang bersifat umum dan jika menimbulkan kerugian bagi seseorang itu dapat digugat diperadilan umum karena masih bersifat umum. Tetapi jika keputusan-keputusan penggusuran tanah itu dituangkan dalarn suatu beschiking tersendiri apakah itu orang atau an bendel beschiking suatu himpunan dari putusan kepada masing-masing orang masing-masing penghuni maka itu menjadi obyek sengketa dari Peradilan Tata Usaha Negara ini dan dapat digugat di muka Pengadilan Tata Usaha Negara.

(15)

Jadi singkatnya setuju agar diperjelas di dalam penjelasan. Apa yang kami uraikan ini juga dapat diambil butir-butimya untuk bahan penjelasan dari Rancangan Undang-undang ini.

Oleh karena itu maka Pemerintah tidak sependapat dengan usul dari FPDI agar hal ini dihapus, oleh karena itu Pemerintah ingin mempertahankan butir b ini.

Dari FPP maafkan Pemerintah meminjam kata yang dipergunakan oleh FPDI yaitu kalau ditambahkan dengan sepanjang Peraturan Perundang-undangan yang berlaku maka ini over bodig jadi artinya tidak usah ditambah. Tentunya segala sesuatunya itu harus memenuhi Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Adakalanya memang perlu kita pertegas lagi, tambahan itu ada tambahan yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, itu sengaja ditambahkan karena memang untuk menghilangkan salah tafsir, tapi kalau butir b ini peraturan bersifat umum itu memang sesuai dan sepanjang peraturan perundangan yang berlaku.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

Mengemukakam bahwa timbulnya apa yang terdapat di FPP ini memang ada sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat, tapi prinsipnya FPP sudah menerima cuma ini ingin menjelaskan. Umpamanya dalam satu desa, Kepala desa memerintahkan supaya bambu ini ditebang karena akan dilalui jalur listrik, tetapi temyata hanya ini peraturan di desa itu saja dan tidak seluruhnya, apakah ini termasuk umum atau tidak, ini timbulnya pertanyaan FPP, jadi ada aturan-aturannya. Sebab kalau tidak ada aturan-aturannya orang sudah dirugikan dan sudah ditebangi sampai empat tahun namun listriknya ini belum kunjung datang, dan kalau itu pelebaran untuk jalan dan jalan itu sebenamya sudah cukup luas ini ditemukan di salah satu desa, ini diinginkan supaya rakyat itu jangan sampai dirugikan. Tapi FPP mengucapkan terima kasih karena tadi sudah diterangkan akan diberikan keterangan di dalam penjelasan. Jadi ini yang dimaksudkan oleh FPP agar supaya lebih jelas. Satu Desa karena ingin Lurahnya mendapatkan pujian atau kondite yang baik daripada Bapak Bupati, pagar itu harus di pagar dengan batu bata semuanya, ini banyak merugikan, ada pohon kelapa, ada pohon anu. Ini semuanya dibebankan kepada rakyat yang rakyat itu rumahnya dari pada gedeg, daripada dinding bambu, tetapi ini pagamya harus sama, ini terjadi seperti di daerah Pacitan (Jawa Tengah) di daerah pelosok juga diharuskan membuat itu, sehingga dia terpaksa menjual sapi untuk membuat pagar, tetapi rumahnya masih sangat jelek. Jadi seperti cerita Abunawas, ada pintu gerbang yang besar, gemboknya juga besar tetapi pagamya tidak ada. Ini terjadi di dalam masyarakat, supaya petinggi-petinggi di dalam masalah kehakiman dapat menyerap keadaan yang timbul di dalam masyarakat.

(16)

KETUA RAPAT :

Jadi ini masuk dalam catatan/risalah, bahwa demikian contoh-contoh yang dikemukakan, saya kira tidak ada perbedaan.

Dari FPDI masih ada, silakan. FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Ketua, Saudara-saudara sekalian, setelah mendapat penjelasan yang luas sejak kemarin, isinya kan sejak kemarin kita membahas masalah ini dan diulang hari ini. Bagi FPDI makin yakin bahwa memang apa yang kami cantumkan dalam DIM ini perlu diadakan revisi, artinya supaya "dihapus" tetap saja, begitu. Masalahnya Saudara-saudara, setelah kami juga berfikir ulang, bahwa ini adalah algemene streking memang kami sadari bahwa ini patut ditempatkan atau dimasukan ke dalam Pasal 2 ini. Oleh karena itu, dengan ini supaya DIM FPDI yang kata-kata "supaya dihapus" itu yah dihapus. Bagi kami tidak ada permasalahan Saudara-saudara, bukan lalu harga ini, gengsinya jatuh tidak ada urusan gengsi ini kita memang mengadakan diskusi, mengadakan permusyawaratan, mana yang baik untuk kepentingan rakyat, FPDI mesti mendukung. Oleh karena itu, kalau toh kami pandang setelah dari berbagai fihak demikian apalagi keterangan Pemerintah sejak kemarin. Sebab DIM ini sudah lama kemarin muncul. Baiklah jadi dengan ini anggap supaya "dihapus" ya di hapus. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Jadi saya perbaiki supaya di hapus dalam arti pengertiannya sudah sama dengan Pemerintah. Jadi dengan demikian tidak ada masalah lagi, masih ada dari FKP? Tetapi ini sudah hampir pukul 10.00 kurang 20 menit. Silakan FKP.

FKP· (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Terima kasih, sebetulnya pikiran FKP itu searah dengan FPDI, tapi tidak sejauh sama. Terima kasih kepada FPDI, tapi ada konsekwensinya karena searah jadi butir b dan nanti butir c yang tadi saya harapkan, saya bisa menjelaskan sekaligus, tapi oleh Saudara Ketua itu jangan sekaligus tapi satu demi satu. Butir b dan butir c ini posisinya tidak sama dengan butir a, butir d dan butir e, tidak sama. Sebab kalau FPDI itu konsekwen minta butir b dihapus, yang tadi umum yah. Semestinya nanti butir c itu FPDI juga minta dihapus.

Tapi begini saya ambil sebagai titik tolak karena mempunyai posisi yang sebetulnya itu dihapus tapi tidak dihapus. FKP cenderung untuk tidak dihapus, tapi mengambil suatu posisi yang lain. Posisi di sini kalau Pemerintah tadi itu didasarkan pada Pasal 2 sesuai dengan permintaan FKP atau usul dari FKP istilah "badan" atau "pejabat" itu dihapus itu. Kemudian dalam butir a "badan" dan "pejabat" itutidak dihapus itu menerima dan setuju. Tetapi dalam butir b dan nantinya juga butir c itu jangan. Jadi tetap Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara itu masih ada. Sebab setiap Keputusan Tata Usaha Negara itu mesti

(17)

berdasarkan Pasal 1 butir 4 itu namanya beschiking .

Jadi kalau itu namanya beschiking yang tidak masuk beschiking yaitu im a, d, dan e, itu yang beschiking sedangkan yang b dan yang c itu bukan beschiking , memang itu keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bukan beschiking , menurut butir 4. Justru untuk memperjelas posisi, bahwa ini tidak sama maka FKP mengusulkan butir b ini istilah "badan dan pejabat" tidak dihilangkan, tetapi mungkin ke arah itu tadi FABRI itu saya kira. Tapi saya mungkin terlalu jauh untuk mengambil pendapat mungkin belum tentu benar. Tapi di sinilah kami hanya ingin mendudukan dalam posisi, supaya butir b istilah "badan dan pejabat" tetap dicantumkan, demikian Saudara Ketua.

KETUA RAPAT :

Dari Pemerintah masih ada? Silakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Mengikuti pendapat dari FKP agar kata "badan" dan "pejabat" itu tetap dipertahankan, oleh karena apabila dihapus, maka berbunyi Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan umum itu nanti bertentangan dengan Pasal I butir 4, karena Pasal 1 butir 4 adalah Keputusan Tata Usaha Negara bersifat beschiking yang KIF tadi itu. Jadi ini bisa dimengerti dan bisa diterima. Tapi apabila itu kita terima kata "badan" dan "pejabat", maka bagaimana butir 2 dan butir 3 dalam Pasal I yang di dalam rancangan ini ada pengertian badan ada pengertian pejabat yang dalam pembahasan-pembahasan kemarin FKP dan kita semuanya juga ingin agar itu disatukan menjadi satu perumusan, yang masih akan dicari kalimat yang saya sebut sebagai perangkat segala macam, sehingga andaikata ini dipertahankan, maka harus ada sebelumnya di dalam Pasal 1 itu harus ada ketentuan. Jadi harus kita kembalikan lagi kepada Pasal 1 butir 2 dan butir 3, Badan serta Pejabat Tata Usaha Negara. Dan apa hasilnya butir 2 dan butir 3 itu nanti juga akan mempengaruhi kecuali apabila tidak jadi disatukan butir 2 dan butir 3. J adi ada Badan tetap Pejabat tetap karena di sini juga muncul badan dan pejabat, di samping itu juga nanti ada butir c, suatu hal yang perlu kita beri kesempatan untuk memberikan tanggapan pada fraksi-fraksi lagi. Terima kasih Saudara Pimpinan.

KETUA RAPAT :

Jadi kalau Pasal l butir 2 dan 3 sudah disetujui. Jadi untuk dimasukkan dalam Panitia Kerja dengan perumusan seperti yang diusulkan oleh Menteri; kira-kira seperti itu. Jadi sudah disetujui, jadi kita tidak kembali lagi. Konsekwensi daripada persetujuan ini harus di teruskan yang diteruskan itu menurut Pemerintah berarti istilah "badan dan pejabat" itu harus dihapus di dalam butir a Pasal 2 atau lain silakan.

(18)

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Bukan begitu, kalau itu dihapus yang dikhawatirkan oleh FKP itu lalu nanti menjadi beschiking padahal kalau beschiking itu keliru bukan beschiking harusnya memang Peraturan Pemerintah, Keputusan Pt:esiden, Peraturan Menteri, itu bukan beschiking . Jadi dipertahankannya Badan atau Pejabat itu memang benar tetap hanya kata badan atau pejabat itu sebagaimana dengan kaitannya dengan Pasal 1 butir 2 dan 3 apakah tetap seperti kesepakatan kita kemarin dijadikan satu, ataukah dipertahankan tetap yang lama. Ini bisa saja meninjau kembali, karena kita ini mulai memasuki lebih dalam sehingga apa yang kita putuskan kemarin bisa atau tidak mustahil kita tinjau kembali.

Jadi ini dibuka lagi, karena muncul di sini badan atau pejabat. Tetapi reason-ing FKP memang benar kalau dihapuskan itu nanti menjadi beschikreason-ing karena butir 4 Keputusan Tata U saha Negara itu adalah beschikking.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian kalau kita satukan saja apa yang diputuskan untuk butir 2 dan 3 istilah yang akan dipakai di sini dipakai "perangkat", tentu harus sesuai dengan butir-butir yang berikut atau pasal-pasal yang berikut.

Pengertian ini bisa diberikan, lalu nanti oleh Panitia Kerja dan Tim Perumus diselesaikan.

Silakan Pak Menteri.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Ada juga kesulitan tehnis yuridis lagi, oleh karena butir b ini adalah perincian dari Pasal 2. Kalau Pasal 2 badan atau pejabat itu dihapus yaitu tidak termasuk dalam pengertian Tata Usaha Negara, menurut undang-undang ini, lalu sekonyong-konyong muncul b badan atau pejabat. Jadi a dan b juga perincian dari Pasal 2, jadi kepalanya ini. Jadi kalau kepalanya badan atau pejabat dihapus tetapi kalau b dihapus juga menimbulkan masalah.

KETUA RAPAT :

Baik, jadi apa usul Pemerintah?

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Kita kembalikan pada FKP Pemerintah setuju badan atau pejabat tetap dipertahankan. Tetapi perlu kita hubungkan, maafkan Saudara Pimpinan, baca Pasal 2.

Pasal 2 kata Badan dan Pejabat dihapus.

Pasal 2 kepalanya itu. Tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Badan atau Pejabat. "Badan atau Pejabat" kita sepakat dihapus. Kemudian b Badan atau Pejabat dipertahankan di situ. Apakah ini tidak menimbulkan masalah?

(19)

KETUA RAPAT :

Silakan kalau Saudara Menteri sudah selesai. Silakan FKP. FKP (W ARSITO PUSPOYO, S.H.) :

Saudara Ketua, bahwa tadi di kepala Pasal 2 kata-kata badan atau dihapus dihubungkan dengan Pasal 1 butir 4, yaitu dengan adanya istilah yang muat di situ ialah keputusan Tata Usaha Negara. Dan apa itu Keputusan Tata Usaha Negara itu kita sudah mengetahui semua dijelaskan dalam Pasal 1 butir 4 itu. Lalu meningkat kepada Pasal 2 huruf b, di mana tadi karni usulkan agar supaya badan atau pejabat tetap. Lalu oleh pihak Pemerintah dimasalahkan, sekonyong-konyong timbul kata-kata badan dan pejabat. Sebaiknya hal ini kita sinkronkan dengan Keputusan yang nanti kita ambil secara definitif mengenai Pasal 1 butir 2 dan butir 3. Kemarin atas usul atau saran Pemerintah Pasal 1 butir 2 dan 3 itu satukan dan kira-kira yang akan kita gunakan adalah istilah "perangkat". Kalau nanti istilah "perangkat" itu kita setujui, maka kata-kata "badan atau pejabat" dalam Pasal 2 butir b, kata-kata badan atau pejabat juga diganti "perangkat". Jadi jangan dihilangkan tapi tetap ditulis "badan atau pejabat" istilah "badan atau pejabat" ini sesuai dengan Pasal 2 butir 2 dan 3 disatukan, maka badan atau pejabai: itu berubah istilahnya menjadi perangkat, sehingga berbunyi "keputusan perangkat Tata Usaha Negara" dan seterusnya.

Sekian.

KETUA RAPAT:

Ini usul dari FKP memang begitu tadi saya bawa ke sana disambung dengan butir 2 dan 3 jadi bagaimana Pemerintah. Silakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALE~ S.H.): Pemerintah bisa mengerti bahwa maksudnya adalah perangkat, hanya masalahnya kalau butir b itu disebut perangkat padahal dalam Pasal 2 nya itu badan atau pejabat dihapus, sehingga bunyinya tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara, padahal Keputusan Tata Usaha Negara itu adalah beschiking Padahal butir b ini bukan beschiking , tapi perangkat.

ltu tidak cocok pada Pasal 2 kepalanya.

Bahwa hal ini akan disesuaikan nanti dengan perumusan butir 2 dan butir 3 Pasal 1 betul, tapi dalam konteks Pasal 2 ini karena di atas badan atau pejabat dicoret, karena dilarikan ke butir 4, maka butir 4 ini, lalu kaitannya dengan butir b daripada Pasal 2 ini yang jadi masalah. Karena terlanjur badan atau pejabat di atas itu dicoret.

KETUA RAPAT: Kalau dikembalikan.

(20)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H. l : Karena mungkin sudah pukul I 0.00 WIB jadi kita pendingkan atau kita Panja-kan begitu, kita lihat bagaimana. Tapi maknanya sudah kita tangkap, bahwa yang bersifat umum itu bukan beschiking , tapi Peraturan Pemerintah bukan beschiking , Peraturan Menteri bukan berschikking. Tapi Peraturan ini dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat. Perangkat istilah nanti yang kita cari sementara ini adalah Badan atau Pejabat. Kata pengantar kita di dalam Panitia Kerja. Jadi Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Keputusan Presiden itu dikeluarkan oleh Sadan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Jadi butir b ini kalau dihapuskan lalu jatuhnya ke beschiking tidak cocok. Tetapi di dalam Pasal 2 sebelum mulai a dan b itu adalah beschiking

KETUA RAPAT :

Baiklah Saudara Menteri dan Saudara-saudara apa masih ada? Saya kira sudah jelas usulnya adalah begini. Keputusan jadi Pasal 2 butir b ini, kita baca penuh "Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum" dirangkaian pada Pasal 2 di atas.

Lcilu kemudian yang disetujui seluruhnya masuk di dalam Panitia Kerja dimana dipermasalahkan istilah "badan atau pejabat" dan pengertian dan juga dalam penjelasan pasal hams diatur dan dibedakan secara tajam hal-hal yang memberikan pengertian ten tang yang bersifat umum. Bagaimana kalau demikian?

ltu sudah cepat dan demikian boleh saya katakan diterima Saudara-saudara masuk Panitia Kerja diterima. Tidak ada yang lain. Semua usul sudah masuk, usu I FPDI sudah masuk, usul FPP sudah masuk. Masih ada dari FPDI, silakan?

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Ketua, Saudara-saudara telah berkembang diskusi lebih mendalam. Kita hams juga berfikir tenang. Masalahnya kita atur dalam Rancangan Undang-undang adalah saya pinjam kata-kata Pak Menteri, "beschiking " bukan yang Iain, sehingga kalau begitu saya pikir lagi ulang usul saya tadi, karena ini toh merupakan yang bukan beschiking , yang saya usulkan supaya dihapus bukan berschikking, sehingga dengan begitu tidak merepotkan kita, wong kolomnya beschiking kok kita campur dengan yang bukan beschiking . Karena itulah reasoning pertama ya ini sorangan wal, begitu sesungguhnya, berkembang-kembang karena demokrat itu biasanya yah begitu.

Tapi setelah makin mendalam, saya menyadari bahwa reasoning yang saya pakai adalah benar, bahwa kelompok ini adalah kelompok berschikking, mengapa kok yang bukan berschikking di campur, ini masalahnya.

Karena itu apa tidak seyogyanya b ini tidak ada saja ini masalahnya. Demikian Saudara Ketua, ini lebih memudahkan tidak confuse kita, wong ini masalah beschiking kok dicampur, ini masalahnya. Terima kasih.

(21)

KETUA RAPAT :

Baik kalau begitu bagaimana kalau saya beralih ke sub c dulu, dus ini dianggap bukan beschiking sebenamya b dan e dari Pasal 2 ini. Bagaimana kalau saya berpindah ke situ, baru kita jadikan satu pandangan ini b dan e, supaya nanti bisa tuntas atau Saudara Menteri masih ada pendapat lain. Silakan.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Sesungguhnya a dan b ini kita juga mengambil dari Arob, hanya urut-urutannya Arob itu yang b didahulukan dari pada a. Jadi a dan b dari Arob kita ambit over di sini, hanya urut-urutannya kalau kita yang a nya Arob kita jadikan b, b nya Arob kita jadikan 2, jadi kita ini ambil dari Arob. FPDI tadi usulkan dihapuskan saja karena sudah ada Pasal 1 butir 4. Tetapi di sini menunjukkan bahwa tidak termasuk dalam Keputusan menurut undang-undang ini adalah besluit van algemene strekking itu tidak termasuk beschiking atau tidak termasuk keputusan Tata U saha Negara menurut undang-undang.

Demikian sekedar bahan saja. KETUA RAPAT :

Jadi kalau demikian Pasal 2 yang kita terima, kita kaitkan lagi, pokoknya yang di atas kita kaitkan lagi dengan setiap butir ini, kecuali butir a yang sudah kita sepakat tadinya. Jadi butir b dikaitkan dengan pokok dari Pasal 2, mungkin Pasal 2 seperti Saudara Menteri katakan itu, ada tambahan lagi tidak termasuk dalam pengertian keputusan, apa tambahannya "besluit" atau apa itu "Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini adalah ... " seterusnya. Kira-kira begitu. Dengan demikian apa yang dimaksudkan oleh FPDI sudah masuk, bukan saja beschiking , tetapi juga besluit.

Ini cuma rumusan tapi·Saudara-saudara yang punya kok, kecuali bila Saudara tidak mengikuti petunjuk Ketua, Ketua bisa mengembalikan arahnya lagi.

Masih ada yang hendak menyampaikan sesuatu?. Jadi saya mengusulkan lagi menyampaikan sesuatu, jadi saya mengusulkan tadinya saya pikir kalau butir 4 Pasal 1 ada kaitan dengan c tetap yang kita masukkan ketetapan tertulis, tapi yang kita permasalahkan sekarang adalah b. Tapi harus dikaitkan dengan pokok dari Pasal 2 di atas. Jadi tugas dari Panitia Kerja, pokok-pokok daripada Pasal 2 di atas dan sub b. Kira-kira begitu saya kira. Menteri sudah mangguk-mangguk setuju, jadi memang Ketua ini merumus bijaksana. Bagaimana Saudara-saudara?, setuju?

(RAPAT SETUJU)

Sekarang kita beralih kepada butir c "Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara" yang masih memerlukan suatu persetujuan; dari FABRI tidak ada masalah, dari FKP ada masalah.

(22)

Silakan.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Terima kasih. Saudara Ketua, sesungguhnya masalah ini kemarin juga sudah dibahas, dan kemarin kita lihat sudah memberikan contoh-contoh yang sudah ditanggapi. Jadi kalau melihat penjelasan Rancangan Undang-undang memang sudah diberikan penjelasan di dalam Pasal 2 c yaitu, Keputusan-keputusan belum bersifat final. Oleh karena itu, FKP mengusulkan di dalam ketentuan ini, diberikan penjelasan yang lebih memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan final itu. Dikatakan bahwa sesungguhnya masalah ini kemarin sudah dibahas dengan contoh-contoh dari FKP bagaimana mengenai masalah an sechkking dan sebagainya dan sudah ditanggapi.

Kalau melihat dari penjelasan Rancangan Undang-undang memang sudah diberikan penjelasan di dalam Pasal 2 butir c yaitu keputusan-keputusan yang belum bersifat final. Oleh karena itu FKP mengusulkan di dalam ketentuan ini diberikan penjelasan yang lebih memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan final, dan disesuaikan dengan apa yang telah dijelaskan oleh Pemerintah kemarin. Dan sekali lagi bahwa posisi daripada butir c sama dengan posisi dari butir b.

KETUA RAPAT :

Jadi jelas FKP hanya minta perluasan penjelasan, dari FPDI ada masalah dan kami persilakan.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

FPDI, melihat permasalahan sub (d) dari Rancangan Undang-undang dianggap masih memerlukan penjelasan dari Pemerintah. Kalau melihat atau membaca redaksinya memang sudah jelas Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan, berarti keputusan ini belum final, sebagairriana penjelasan dalam undang-undang sendiri keputusan yang belum bersifat final.

Kemarin FPDI pemah mendapatkan penjelasan dari Wakil Pemerintah, bahwa karena atas usul dari rekan FKP semacam Peraturan Daerah, Peraturan Daerah harus minta persetujuan, kemudian sudah dilaksanakan akibatnya merugikan penduduk. Menurut undang-undang ini jelas tidak bisa diajukan gugatan, katakanlah mempunyai sifat sebagaimana keputusan yang konkret individual, tetapi belum final, namun sudah dilaksanakan. Dan hal ini mengakibatkan kerugian.

Pemerintah menjawab ini tidak bisa kepada Tata Usaha Negara. tetapi kepada Peradilan Umum. Nanti Peradilan Umum, karena melihat persoalan adalah persoalan Peradilan Tata Usaha Negara, maka akan langsir lagi itu harus ke Tata Usaha Negara, kira-kira akan menjadi begitu.

Kedua, FPDI mengharapkan dan FPDI tidak menolak sesungguhnya mengenai rumusan ini, tetapi bagaimana berupaya supaya mencegah yang mestinya

(23)

Undang-undang belum berlaku itu sudah dilaksanakan. Dan hal ini sering terjadi · bukan hanya 1 sampai dengan 2 kali dan banyak sekali terjadi. FPDI selanjutnya minta penjelasan dari Pemerintah mengenai point c dari pada Rancangan Undang-undang. Kalau mengenai materi FPDI sudah jelas, tetapi akibat dari ini nanti akan luas, sebab kalau sudah diberlakukan sekalipun belum final, lalu mengakibatkan kerugian-kerugian materi, sekalipun Pemerintah menjawab ke Pengadilan nanti pengadilan kami rasa juga belum mendapatkan pelayanan sebagaimana yang diharapkan oleh kita, karena sudah ada Peradilan Tata Usaha Negara.

KETUA RAPAT :

~enjelaskan bahwa, kalau melihat keputusan-keputusannya belum bersifat final. jadi apa itu keputusan yang memerlukan sesuatu persetujuan, yaitu keputusan-keputusan yang belum bersifat final, tetapi nanti dirumus yang lebih baik lagi.

Dari FPP kami persilakan.

FPP (DRS. H. MUSTAFA BARAS) :

Dikatakan bahwa mengenai pembahasan Pasal 1 butir 4 kemarin FKP memang mempermasalahkan final yang memang belum ada suatu kebu Iatan pendapat. FPP bisa memahami dicantumkannya butir c dalam Rancangan Undang-undang, tetapi kekhawatiran-kekhawatiran FPDI dalam praktek perkiraan semacam itu sama dengan FPP, sehingga pe~lu mendalami bagaimana perumusan sebaiknya, supaya dalam praktek nanti tidak menimbulkan hal-hal yang justru merugikan masyarakat. Selanjutnya FPP menyerahkan kepada sidang dan Pemerintah, apakah putusan kemarin diserahkan kepada Panitia Kerja supaya masalahnya dikaitkan Pasal 1 butir 4.

KETUA RAPAT :

Dikatakan bahwa, ·kalau melihat kedepan Pasal 1 menyebut dalam undang-undang yang dimaksud dengan : lalu Pasal 2, menyatakan tidak termasuk, yang satu dinyatakan yang dimaksud, di Pasal 2 dinyatakan tidak termasuk. Jadi ini spesialis dari Pasal 1 apa tidak kita mesti rumuskan. Dan sekarang Pemerintah sudah mulai menyetujui pikiran-pikiran yang Saudara-saudara kemukakan. Dan kita lebih mempertegas.

Kami persilakan Saudara dari FABRI. F ABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

FABRI menyatakan sudah memahami apa yang dimaksudkan di dalam rancangan Pemerintah hanya nanti yang lebih diperlukan ialah di dalam penjelasan dan diberikan suatu contoh-contoh yang lebih jelas dan agak panjang lebar.

KETUA RAPAT :

(24)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Dijelaskan bahwa mengenai butir c ini di dalam penjelasan memang disebut keputusan yang belum final, jadi apa sesungguhnya pengertian final ini? Pengertian final adalah keputusan yang merupakan keputusan akhir yang dapat dilaksanakan. Jadi keputusan yang masih memerlukan suatu persetujuan belum merupakan keputusan akhir. Ini yang kita pegang dulu, apakah ada dan apakah ada contoh-contohnya, hal ini ditanyakan F ABRI. Say a kira ada baiknya oleh karena ini sesuatu hal yang baru, jadi kita elaborir di dalam penjelasan itu contoh-contohnya. Contoh yang pertama dapat saya kemukakan dalam bidang kepegawaian, seorang pegawai negeri diberhentikan tidak dengan hormat oleh Menteri, keputusan ini belum merupakan keputusan final, karena atas Keputusan Menteri yang memberhentikan dengan tidak hormat masih ada suatu upaya banding administratif, sehingga Keputusan Menteri ini dapat kita kategorikan sebagai belum final, masih ada suatu upaya lagi dan masih memerlukan persetujuan kepada suatu badan lagi yaitu Badan Pertimbangan Kepegawaian yang memberikan keputusan yang final, itu dalam bidang kepegawaian.

· Contoh yang kedua, sekedar untuk menyesuaikan dengan sifat kegiatan Saudara Baramuli, yaitu dalam dunia usaha. Ada Undang-undang tentang Wajib Daftar Perusahaan, di dalam Pasal 28 Undang-undang Wajib Daftar Perusahaan yaitu Undang-undang Nomor 3 Tahon J 982, ada ketentuan dalam hal perusahaan yang telah terdaftar temyata menjalankan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan ijin usahanya, maka pejabat kantor pendaftaran perusahaan setelah memberikan peringatan dapat membatalkan pendaftaran ini. Dan mewajibkan pengusaha tersebut untuk melakukan pendaftaran uJang. Jadi pejabat ini sudah mengeluarkan keputusan. Pengusaha itu mungkin rugi karena disuruh mengulang dan pajak Iagi. Tetapi apakah ini dapat dikategorikan sebagai keputusan final, belum. Karena ada suatu upaya lagi yang perlu dilakukan, yaitu pengusaha itu apabila tidak puas dapat mengajukan keberatan kepada Menteri dengan menyebutkan alasan. Tetapi apabila pengusaha itu tidak mengajukan keberatan, maka itu termasuk keputusan final.

Jadi ada keputusan yang menurut undang-undang yang bersangkutan rumusannya ada yang menyatakan terhadap keputusan itu dapat mengajukan keberatan terhadap keputusan yang masih mendapat persetujuan lebih lanjut. Hal-hal/butir-butir ini mungkin dapat dijadikan butir-butir rumusan nanti di dalam penjelasan Rancangan Undang-undang itu.

Jadi keputusan yang masih memerlukan persetujuan dari pihak lain bukan merupakan Keputusan Tata Usaha Negara menurut Rancangan Undang-undang ini.

Selanjutnya menanggapi FPDI yang sesungguhnya rumusan FPDI hampir sama dengan FKP, hanya kata bagaimana dari FKP ditempatkan di belakang dari FPDI, ini menunjukkan FKP pun searah dengan FPDI walaupun tidak sejauh.

(25)

Perlu kami jelaskan bahwa kalau memang menimbulkan kerugian dan masih memerlukan persetujuan, maka dapat diajukan ke peradilan umum (pengadilan negeri). Dan apabila FPDI mengatakan tidak yakin, nanti kita yakinkan dengan suatu ketentuan bahwa itu termasuk kompetensi dari peradilan umum dan itu sudah berjalan di praktek, gugatan-gugatan perdata yang diajukan ke pengadilan umum.

KETUA RAPAT :

Dinyatakan bahwa apakah ada usul-usul?, kalau tidak ada usul kami rumuskan sebagai berikut : Bahwa butir (c), ini Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang masih memerlukan pada suatu persetujuan diselesaikan melalui Panja, dikaitkan dengan butir (b) dan Pasal 2 Pokok.

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Jadi kita kembali lagi ke kata Badan atau Pejabat perlu nanti putuskan lagi di tingkat Panitia Kerja, sebab di sini (c) adalah beschiking , beschiking yang masih memerlukan persetujuan.

KETUA RAPAT :

Dikatakan bahwa butir c dengan butir b itu sama beschiking , istilah badan atau pejabat perlu dibicarakan lagi, dan seluruh kalimatnya diserahkan kepada Panitia Kerja ditambah penjelasan butir c harus lebih jelas daripada yang ada sekarang. Begitu saudara-saudara?

(RAPA T SETUJU)

Butir d Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan KUHP atau Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat hukum pidana, dan yang ada permasalahan FPP kami persilakan.

FKP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM)

Dikemukakan bahwa usul dari fraksinya kelihatannya memang tidak begitu prinsipiil yaitu minta supaya kata-kata KUHP dan KUHAP itu ditulis lengkap. Alasannya buat orang-orang yang bersifat awam kadang-kadang membedakan antara KUHAP dan KUHP itu kadang-kadang sukar, maka perlu dijelaskan.

Demikian FPP melihat daripada Undang-undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kepolisian umpamanya mengenai kata-kata Undang-undang Hukum Acara Pidana itu juga ditulis lengkap. Jadi itulah alasannya, untuk memudahkan orang aw am.

KETUA RAPAT :

(26)

FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Dijelaskan bahwa dalam hal ini FPDI meminta penjelasan dari Pemerintah mengenai ayat (d) mengenai yang dimaksud di dalam persoalan Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan KUHP atau KUHAP atau Peraturan Perundang-undangan lainnya yang bersifat hukum pidana dan mohon lebih dijelaskan saja. Bukan FPDI menolak, mohon penjelasan. Kedua, dikatakan bahwa untuk merechten kesimpulan daripada Ketua bahwa sub d itu bukan beshikking, sedangkan tadi disebutkan beschiking b dan c.

KETUA RAPAT:

Menjawab pertanyaan FPDI bahwa bukan beschiking , yang lain beschiking, dan butir c saya kira nanti saja dibicarakan di Panitia Kerja, dan untuk selanjutnya kami persilakan FKP.

FKP (A.S.S. TAMBUNAN, S.H.) :

Memberikan keterangannya bahwa FPDI sejalan dengan FKP yang pertanyaannya mirip dan mungkin sama masalahnya. Mungkin perlu diberikan contoh yang konkret supaya permasalahannya lebih jelas. Apa yang dimaksud dengan keputusan yang didasarkan kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat Hukum Pidana.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian, banyak sekali mengandung pasal-pasal pidana. Apakah suatu keputusan Tata Usaha Negara yang berdasarkan Undang-undang tentang Perindustrian ini nanti termasuk pengertian butir d ini? Karena Undang-undang itu juga mengandung ketentuan-ketentuan yang bersifat pidana. Oleh karena itulah demi penjelasan supaya dapat dihindarkan penafsiran yang bukan-bukan FKP ingin menerima penjelasan lebih lanjut dari pihak Pemerintah. FKP yakin bahwa bukan demikianlah yang dimaksud oleh Pemerintah. Namun kita di sini dalam membahas Rancangan Undang-undang sudah ada yang timbul penafsiran yang demikian, apalagi nanti dalam praktek orang lain tentu penafsiran yang demikian itu tidak tertutup kemungkinan akan timbul juga.

KETUA RAPAT :

Kami persilakan kepada FABRI. FADRI (M.S. SITUMORANG):

Menyatakan bahwa F ABRI tidak mempunyai catatan dalam persandingan dan menyetujui Rancangan Undang-undang. Sedang untuk menanggapi yang lain F ABRI berpendapat bahwa mengenai FPP saya rasa tidak ada salahnya, sedang mengenai FKP dan FPDI yang dikatakan serupa tapi tidak sama untuk memberi penjelasan kiranya tidak ada salahnya.

(27)

KETUA RAPAT :

Demikian, jadi dari FPP supaya ditulis penuh, kemudian dari FPDI meminta penjelasan demikian pula dari FKP meminta penjelasan dan juga dari F ABRI. Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Dikatakan bahwa, Pemerintah setuju dengan usul dari FPP, yaitu agar ditulis lengkap demikian juga dalam pasal-pasal lainnya apabila kita temui hal yang serupa.

Mengenai FPDI, FKP dan F ABRI, sekaligus dijawab bahwa yang pertama tentang masalah KUHP atau KUHAP. Alasan utama bagi Pemerintah untuk tidak memasukkannya sebagai obyek sengketa, oleh karena termasuk dalam Pasal 2, dan Pasal 2 tidak termasuk obyek sengketa, adalah karena sudah tersedia, jalur upaya hukum.

Menurut undang-undang bagi sengketa tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Umpama saja pra peradilan, yaitu melalui prosedur pra peradilan, itu masalah KUHP atau KUHAP.

Sedangkan dari FKP perlu ada penjelasan lebih lanjut. Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat Hukum Pidana bagaimana sesungguhnya? Kita ketahui bahwa di dalam undang-undang lain di luar KUHP, ada ketentuan-ketentuan yang bersifat pidana. Saya ambil contoh saja .undang-undang tindak pidana ekonomi, ketentuan-ketentuan yang bersifat Hukum Pidana yang jalur penyelesaian hukumnya sudah jelas itu bukan ke Peradilan Tata Usaha Negara ini, karena bersifat hukum pidana.

Contoh lain umpama saja Undang-undang Imigrasi ada keputusan untuk mengeluarkan seseorang. Jadi ini jalurnya bukan jalur Tata Usaha Negara, tetapi Peradilan Pidana atau Peradilan Negeri, jadi bukan kompetensi. Arah dari pasal ini pada burtir d adalah untuk memberikan sesuatu batasan-batasan yang tegas bahwa masih ada Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat Hukum Pidana yang tidak termasuk obyek sengketa dalam Peradilan Tata Usaha Negara ini. Undang-undang Imigrasi, Tindak Pidana Ekonomi, Bea Cukai, Undang-undang tentang Narkotika, Undang-undang Lingkungan Hidup ini pidana semuanya, tetapi tidak ada dalam KUHP. Jadi sifatnya adalah hukum pidana.

Memang bisa juga di dalam penjelasan nanti kita berikan contoh-contoh antara lain itu. Ini apabila disepakati dalam penjelasan nanti ditambahkan, contoh-contohnya undang-undang apa saja yang termasuk peraturan perundangan lain yang bersifat Hukum Pidana ini.

KETUA RAPAT :

Dengan uraian dari Pemerintah, maka telah menjadi jelas bagi kita sekalian bagaimana kalau kita rmnus sebagai berikut :

(28)

Butir d. Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana atau Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana atau Peraturan Perundang-undangan yang lain yang bersifat Hukum Pidana.

Itu diterima seluruhnya? Tidak ada perubahan dengan penambahan dari FPP, lalu kemudian penjelasan supaya diberikan lebih luas apakah kepada Panitia Kerja atau kepada Tim Perumus.

Memang Panitia Kerja dulu, dari Panitia Kerja barn ke Tim Perumus, tapi kalau kita mau singkat bisa kita bagi-bagikan keputusan kita ini atas beberapa kategori. Diterima, tidak dipersoalkan lagi. Kategori lain Panitia Kerja dan kategori yang lain lagi Tim Kecil dan yang lain lagi Tim Perumus.

FKP (A.S.S. TAMBUNAN, S.H.) :

Apa yang telah diusulkan oleh FKP telah mendapat tanggapan dari Pemerintah untuk sebagian besar dari apa yang diuraikan pihak Pemerintah bagi FKP dapat menerimanya. Tetapi ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan kembali, umpamanya tadi dikatakan oleh Pemerintah bahwa atau sebagai contoh pengusiran orang asing berdasarkan Undang-undang Imigrasi. Kalau pengusiran itu berdasarkan ketentuan atau putusan pengadilan itu memang benar, itu putusan tidak dapat diganggu gugat. Tetapi kalau hanya putusan berdasarkan wewenang yang diberikan oleh pihak Pemerintah untuk mengawasi dan menyatakan seseorang itu tidak boleh berada di wilayah Indonesia, kiranya hat ini merupakan keputusan (beschiking ) Keputusan Tata Usaha Negara dan tentu terbuka upaya administratif terhadap keputusan ini. Jadi contoh yang diberikan oleh Pemerintah ini menggaris bawahi pertanyaan FKP, apa yang sebenamya dimaksud dengan peraturan perundangan yang bersifat hukum pidana. Karena umpamanya contoh yang FKP tadi berikan, Undang-undang Perindustrian itu hanya satu bah saja yang memuat ketentuan-ketentuan mengenai sangsi pidana. FKP belum berani inenggunakan yang bersifat hukum pidana tetapi membuat sangsi-sangsi pidana di dalamnya. Apakah dengan demikian suatu Keputusan Pejabat Tata Usaha Negara yang didasarkan kepada pasal-pasal atau ketentuan-ketentuan lain di luar bah tadi itu terkena oleh rumusan ini dan menurut hemat FKP tidak terkena. Tetapi belum tentu pendapat FKP ini benar, oleh karena itu FKP ajukan pertanyaan itu. ·

Yang pasti adalah kalau Keputusan Tata Usaha Negara didasarkan kepada ketentuan-ketentuan atau sangsi pidana dalam arti pelaksanaan sangsi pidana ini, kiranya FKP sependapat dengan pihak Pemerintah bahwa terhadap itu tidak ada terbuka jalan dan tidak merupakan keputusan atau sebagaimana dimaksud dalam Rancangan Undang-undang.

FKP dapat menerima rumusan secara umum, hanya mengenai yang akhir ini saja yang masih timbul keragu-raguan pada pihak FKP yaitu Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat hukum pidana. Jadi yang bersifat hukum pidana ini apa saja. Mungkin kurang tepat istilah ini atau peraturan-peraturan lain yang

(29)

memuat sangsi pidana umpamanya, itu beda. Peraturan-peraturan yang bersifat Hukum Pidana dengan demikian masih belum jelas.

Memang pihak Pemerintah mengusulkan supaya dapat diberikan penjelasan dalam penjelasannya. Namun kalau istilah ini sudah baku jelas, FKP dapat menerima usul Pemerintah itu. Tetapi FKP mengusulkan supaya istilah ini pun masih direnungkan kembali.

KETUA RAPAT :

Jadi FKP minta penjelasan yang bersifat Hukum Pidana itu apa, kalau hukum pidana sudah jelas.

Kemudian mempersilakan pihak Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Pemerintah dapat menangkap apa yang dikemukakan oleh FKP.

Jadi intinya adalah apabila ini ketentuan-ketentuan yang bersifat pelaks::maan sangsi pidana, jadi titik beratnya pada sangsi pidana, FKP setuju. Jadi runmsan Peraturan Perundang-undangan lain yang bersifat Hukum Pidana itu mungkin diganti sangsi pidana. Tetapi ada suatu beschiking lagi yang tak secara tegas-tegas dinyatakan melaksanakan suatu sangsi pidana, tetapi pleb Pemerintah ingin dimasukkan di sini. Jadi sifat strachrechtleijknya ini, sifat Hukum Pidana, barangkali kata hukum pidana kurang pas. Jadi mer_npunyai en strachrenhtilejk karakter. Jadi umpama saja Menteri Kehak1man mengeluarkan beschiking terhadap seseorang yang ilegal ada di Indonesia. Jadi suatu imigran gelap. Imigran gelap di Indonesia dan apapun juga perlu kita tetap waspada terhadap imigran gelap-imigran gelap. Beschiking -beschiking yang dikeluarkan Menteri, keputusan-keputusan yang dikeluarkan selaku Pejabat Tata Usaha Negara, itu juga dimasukan di sini sebagai kategori yang tidak bisa digugat oleh Peradilan Tata Usaha Negara. Nah, apa enaknya rumusan itu? Mempunyai strachrechtelijk karakter itu. Jadi tidak hanya sangsi pidana, tetapi juga yang melaksanakan suatu basis regeling.

J adi ada suatu basis regeling yang memberikan wewenang kepada Menteri Kehakiman mengusir seseorang karena dia secara tidak sah memasuki negara Indonesia. Beschiking demikian, itu juga termasuk di sini yang tidak dapat digugat. Jadi baik mengenai pelaksanaan suatu sangsi pidana, maupun yang merupakan pelaksanaan dari suatu undang-undang yang mempunyai suatu sifat atau strachrechtelijk karakter, suatu sifat yang bersifat pemidanaan. Jadi mungkin Hukum Pidana kurang pas yang pemidanaan umpamanya, yang mempunyai sifat pemidanaan. Jadi menghukum seseorang untuk diusir, diusir itu dihukum. Itu sesungguhnya. Sebab katau keputusan Menteri Kehakiman menjadi obyek sengketa, mengusir seseorang, wah kemana ini nanti negara kita, bisa digugat oleh sekian banyak orang asing.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di